Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Perilaku menyimpang tumbuh di kalangan masyarakat akibat kurang
seimbangnya masalah ekonomi, terutama terhadap para remaja Indonesia yang
sering menggunakan minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang. Bahkan
beberapa obat-obatan medis yang sering kita jumpai pun saat ini sudah banyak
disalahgunakan oleh para remaja untuk memberikan efek yang sama seperti
halnya saat menggunakan narkoba. Mereka menyalahgunakan obat-obatan medis
tersebut karena obat tersebut dapat dijumpai dengan mudah di lingkungannya
sendiri dan harganya pun lebih murah jika dibandingkan dengan narkoba itu
sendiri.
Hal ini terjadi Mungkin dikarenakan kurang perhatian dari orang tua
mereka atau mungkin juga karena ajakan para pemakai atau teman-temannya.
Orang-orang yang menyalahgunakan obat-obatan mengalami kerugian yang
sangat besar karenanya hubungan pribadi yang dekat sering kali hancur, dan
performa kerja sangat menurun. Kerugian karena penyalahgunaan obat termasuk
kematian dini para penyalahguna, penanganan para penyalahguna, kriminalitas,
dan penyakit medis yang sering kali ditimbulkan oleh penyalahgunaan obat.
Untuk itu, berdasarkan latar belakang ini, kami akan mencoba membahas
tentang penyalahgunaan obat-obat dan dampak dari penyalahgunaan tersebut baik
untuk masyarakat umum ataupun remaja.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Untuk menghindari adanya kesimpang siuran dalam makalah ini, maka kami
membatasi masalah-masalah yang akan dibahas diantaranya :
1.2.1 Apa definisi, Syarat, Faktor-faktor dan Proses dari persepsi ?
1.2.2 Apa definisi dari Penyalahgunaan obat ?
1.2.3 Apa Ciri-ciri Proses, Penyebab dan Faktor-faktor yang menyebabkan
penyalahgunaan obat ?
1.2.4 Apa saja jenis-jenis dan contoh obat-obatan yang sering disalahgunakan ?

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 1


1.2.5 Apa yang dimaksud dengan masa remaja ?
1.2.6 Apa yang dimaksud dengan kepercayaan diri pada remaja dan
hubungannya dengan penyalahgunaan obat ?
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT
Dalam penyusunan makalah ini saya memiliki beberapa tujuan dan
manfaat :
1.3.1 Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami definisi,
Syarat, Faktor-faktor dan Proses dari persepsi.
1.3.2 Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mngetahui dan memahami definisi dari
Penyalahgunaan obat.
1.3.3 Agar mahasiswa/mahasiswi dapat mengetahui dan memahami Ciri-ciri
Proses, Penyebab dan Faktor-faktor yang menyebabkan penyalahgunaan
obat.
1.3.4 Agar mahasiswa/mahasiswi dapa mngetahui dan memahami jenis-jenis
dan contoh obat-obatan yang sering disalahgunakan.
1.3.5 Agar mahasiswa/mahasiswi dapa mngetahui dan memahami dengan Apa
yang dimaksud masa remaja.
1.3.6 Agar mahasiswa/mahasiswi dapa mngetahui dan memahami Apa yang
dimaksud dengan kepercayaan diri pada remaja dan hubungannya dengan
penyalahgunaan obat.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 2


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 TEORI PERSEPSI


2.1.1 DEFINSI PERSEPSI

Sugihartono, dkk (2007) mengemukakan bahwa persepsi adalah


kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk
menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi
manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang
mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi
negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.

Bimo Walgito (2004) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu


proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh
organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti, dan merupakan
aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi
dapat diambil oleh individu dengan berbagai macam bentuk. Stimulus mana yang
akan mendapatkan respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang
bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, perasaan, kemampuan berfikir,
pengalaman-pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam
mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar
individu satu dengan individu lain.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa


persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk
tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala
sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.

2.1.2 SYARAT TERJADINYA PERSEPSI

Menurut Sunaryo (2004) syarat-syarat terjadinya persepsi adalah sebagai


berikut:

a. Adanya objek yang dipersepsi

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 3


b. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan
dalam mengadakan persepsi.
c. Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima stimulus
d. Saraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak, yang
kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon
2.1.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI

Menurut Miftah Toha (2003), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi


seseorang adalah sebagai berikut :

a. Faktor internal: perasaan, sikap dan kepribadian individu, prasangka,


keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik,
gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat, dan motivasi.
b. Faktor eksternal: latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh,
pengetahuan dan kebutuhan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan,
pengulangan gerak, hal-hal baru dan familiar atau ketidak asingan suatu objek.
2.1.4 PROSES PERSEPSI

Menurut Miftah Toha (2003), proses terbentuknya persepsi didasari pada


beberapa tahapan, yaitu:

a. Stimulus atau Rangsangan Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang


dihadapkan pada suatu stimulus/rangsangan yang hadir dari lingkungannya.
b. Registrasi Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah
mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat seseorang berpengaruh
melalui alat indera yang dimilikinya. Seseorang dapat mendengarkan atau
melihat informasi yang terkirim kepadanya, kemudian mendaftar semua
informasi yang terkirim kepadanya tersebut.
c. Interpretasi Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang
sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang
diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada cara pendalaman,
motivasi, dan kepribadian seseorang.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 4


2.2 PENYALAHGUNAAN OBAT
2.2.1 DEFENISI PENYALAHGUNAAN OBAT

Penyalahgunaan obat adalah pemakaian obat di luar indikasi medik, tanpa


petunjuk resep dokter, pemakaian sendiri secara relatif teratur atau berkala
sekurangkurangnya selama satu bulan (Hawaii, 1999). Penyalahgunaan obat
adalah suatu pemakaian obat secara tetap akan tetapi bukan merupakan
pengobatan, atau penggunaan obat melebihi takaran atau tidak mengikuti aturan
pemakaian. Kecenderungan penyalahgunaan obat adalah keinginan untuk
merencanakan dan mencoba melakukan suatu pemakaian obat secara tetap akan
tetapi bukan merupakan pengobatan, atau penggunaan obat melebihi takaran atau
tidak mengikuti aturan pemakaian (Maslim, 1994; Hawari, 1999; Hadjam, 1988;
Yatim, 1991).

2.2.2 CIRI-CIRI OBAT

Ciri-ciri obat yang dapat menimbulkan adiksi dan dependensi (Hawari,


1999) adalah :
a. Keinginan yang tak tertahankan (an overpowering desire) tcrhadap zat yang
dimaksud, dan kalau perlu dengan jalan apapun untuk memperolehnya.
b. Kecenderungan untuk menambah takaran (dosis) sesuai dengan toleransi
tubuh.
c. Ketergantungan psikis (psychological dependence), apabila pemakaian zat
dihentikan akan menimbulkan kecemasan, kegelisahan, depresi, dan lain-lain
gejala psikis.
d. Ketergantungan fisik (psysical dependence), apabila pemakaian zat ini
dihentikan, akan menimbulkan gejala fisik yang dinamakan gejala putus
NAZA (withdrawal symptom).
2.2.3 JENIS OBAT

Jenis obat-obat terlarang menurut Hawari (1999) adalah :


1. Golongan analgetik
Contohnya : Parasetamol

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 5


Obat demam atau panas yang tergolong populer saat ini adalah paracetamol
atau acetaminophen. Obat ini tergolong antipyretic (penurun panas). Untuk
dewasa biasanya 500 mg per tablet, 3x sehari jika perlu. Selain
paracetamol, terdapat juga golongan senyawa obat lain yang juga bisa berfungsi
menurunkan panas yakni dari golongan anti-radang non-steroid (NSAIDs, Non
Steroidal AntiInflammatory Drugs). Contoh obat-obatan golongan ini adalah dari
jenis salicylates (seperti : acetyl salicylic acid atau aspirin, sodium salicylate,
choline salicylate, dll), ibuprofen, ketoprofen, naproxen. Obat jenis ini juga
berfungsi menghilangkan rasa sakit (terutama akibat peradangan).

Paracetamol pada saat ini sering disalahgunakan oleh kalangan remaja


menjadi obat yang memberikan rasa tenang (seperti narkotik). Karena penjualan
obat yang sekarang sangat bebas serta beredar pula di apotik dimana mana dan
tanpa pengawasan yang ketat, bermacam obat pereda demam seperti paracetamol
ini juga sering disalahgunakan oleh kalangan remaja maupun dewasa. Apabila
obat ini disalahgunakan, tentunya akan menyebabkan kerusakan hati dan ginjal.

2. Golongan ansiolitika dan zat lain yang khasiatnya serupa.


Forum pemuda peduli masalah NAPZA (2000) juga mengemukakan beberapa
jenis NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain):
a. Solvents atau sering disebut dengan uap gas biasa digunakan dengan cara
dihirup. Cara kerja solvents sangat mempengaruhi susunan syaraf pusat
atau otak. Jenis zat adiktif yang ini tidak ilegal dan dapat diperoleh dimana
saja. Biasanya mereka yang memakai zat adiktif ini adalah orang yang
hanya mau mencoba dari kalangan bawah dan senng ditemukan pada usia
dibawah umur. Misalnya Semprotan aerosol, isi korek api gas, uap bensin,
tiner dari cairan penghapus.
b. Poppers termasuk dalam kelompok chemical yang sering disebut A/kil
Nitrite yang peredarannya sangat ilegal dan termasuk dalam kategori
solvents. Jenis ini biasanya didapatkan pada toko seks, karena banyak
digunakan oleh sekelompok orang yang mempunyai penyimpangan pada
kehidupan seksualnya seperti pada kalangan homoseksual.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 6


c. Tranquiliser termasuk sebagai zat adiktif ringan bila digunakan dengan
dosis yang tepat misalnya sebagai obat penenang atau obat tidur. Biasanya
para dokter mettiberikan obat ini pada pasien yang mengalami depresi
berat, susah tidur atau gangguan kejiwaannva ringan lainnya seperti
Valium, Ativan, Librum, dll.
d. Anabolic Steroid dikategorikan sebagai obat perangsang, terutama untuk
merangsang pertumbuhan dan pembentukan otot secara stimulan,
digunakan untuk pengobatan kelumpuhan pasien oleh para medis, sebagai
dopping bagi para atlet. Pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan dan kerusakan pada hati.
e. Magic Mushrooms digolongkan dalam hallucinogens. Zat adiktif ini
sangat unik karena tumbuh pada kotoran sapi yang mengenng. Biasanya
jenis ini dikonsumsikan setelah diolah dengan berbagai jenis makanan dan
efek yang timbul bergantung pada suasana hati si pemakai.
f. LSD (Lysergic Acid Diethylamide) termasuk dalam golongan
hallucinogens. Nama populer zat ini adalah Acid, trips, tabs dan kertas.
Efek zat ini biasa disebut sebagai triping seperti timbulnya halusinasi yang
lama kelamaan menjadi paranoid atau rasa ketakutan yang berlebihan.
g. Amphetamines. Nama lain zat ini adalah speed, uppers, whizz, billy dan
sulphate. Jenis ini merangsang rasa gelisah dan membuat si pemakai susah
tidur, bernafas cepat,membuat sangat energik dan menimbulkan rasa
percaya diri.
h. Shabu-shabu. Zat ini mengandung methyl amphetamine yang menyerang
syaraf, menimbulkan rasa gelisah, tidak dapat tidur, pernafasan menjadi
pendek, jantung berdebar, energik, hilang nafsu makan.
i. Kcstacy mengandung amphetamine. Nama lainnya ialah xtc, fantacy pils,
ineks, cece, ceiin. Si pemakai mengkonsumsi ecstacy dengan cara
mendengarkan jenis music "house music".
j. Cocaine. Nama populernya adalah putih, koka, coke, charlie, srepet salju.
Bentuknya berupa bubuk putih. Efeknya si pemakai merasa segar,

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 7


kehilangan nafsu makan,menambah rasa percaya diri, menghilangkan rasa
sakit dan lelah.
k. Cannabis. Nama yang sering digunakan grass, cimenk, ganja dan gelek.
Penggunaannya dengan cara diisap menyerupai rokok. Pada si pemakai
terlihat ciri-ciri mata yang memerah dan bola mata yang turun.
l. Heroin biasa disebut putauw. Zat ini dihasilkan dari cairan getah opium
poppy yang diolah menjadi morfin. Para dokter menggunakan opiad untuk
menghilangkan rasa sakit yang sangat seperti pethidine, methadone,
talwin, codeine.
3. Golongan Analgesik Opiat / Narkotika
Menurut UU RI No 22 tahun 1997 Narkotika adalah zat atau obat yang
berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang
dapaqt menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Contohnya : adalah codein, oxycodon, morfin.
Kodein adalah salah satu turunan morfin, bisa juga diubah menjadi
narkotik yang lebih kuat seperti heroin. Kodein sebenarnya adalah obat yang
sering diresepkan dokter, bisa digunakan sebagai analgetika (penghilang rasa
sakit), anti diare dan antitusive (penekan batuk). Apoteker/pharmacist harus
berhati-hati, karena kodein dapat juga disalahgunakan, jika diminum langsung
ternyata ada sekian persen yang diubah menjadi morfin di saluran pencernaan.
Lebih parah lagi bila ternyata pembeli memang sengaja membeli kodein untuk di
ubah menjadi morfin atau heroin.
Jika kodein disalahgunakan menjadi morfin, maka akan menyebabkan
hilangnya rasa nyeri, ketegangan berkurang dan adanya rasa nyaman diikuti
perasaan seperti mimpi dan rasa mengantuk. Jika terus menerus disalahgunakan,
tentunya akan menyebabkan ketergantungan dan meninggal karena overdosis.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 8


4. Golongan depressan sistem saraf pusat untuk mengatasi kecemasan dan
gangguan tidur.
Menurut UU RI No 5 tahun 1997 Psikotropika adalah suatu zat atau obat baik
alamiah atau sintesis, bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada SSP yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku. Contohnya barbiturat (luminal) dan golongan benzodiazepin
(diazepam/valium, klordiazepoksid, klonazepam, alprazolam, dll).
Contoh :
Obat flunitrazepam digunakan untuk pengobatan seperti gangguan kecemasan
dan insomnia. Tapi efek kuat dari obat ini yang membuat orang tertidur panjang
hingga 2-8 jam. Jika obat ini dikombinasikan dengan alkohol, maka efeknya
terhadap memori dan kemampuan menilai sesuatu akan lebih besar. Dilaporkan
kombinasi ini bisa menyebabkan seseorang tidak sadar selama 8-12 jam setelah
dikonsumsi.

Efek samping dari penggunaan obat ini termasuk penurunan tekanan darah,
gangguan memori, mengantuk, gangguan penglihatan, pusing, merasa bingung,
gangguan pencernaan dan gangguan pada retensi urine.

5. Golongan stimulan sistem saraf pusat.


Obat-obat ini bekerja pada sistem saraf, dan umumnya menyebabkan
ketergantungan atau kecanduan.
Selain itu, ada pula golongan obat lain yang digunakan dengan
memanfaatkan efek sampingnya, bukan berdasarkan indikasi yang resmi
dituliskan. Contohnya dekstroamfetamin, amfetamin.
1. Misoprostol / Cytotec

Misoprostol yang efektif digunakan untuk mencegah penyakit maag dan


radang lambung, belakangan ini semakin banyak disalahgunakan untuk
menggugurkan kandungan. Cytotec sebetulnya untuk mengobati maag dan
dilarang keras digunakan untuk perempuan hamil dan ibu menyusui. Cytotec
sebetulnya mempunyai indikasi untuk mengobati maag kronis. Tetapi efek

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 9


samping dari obat ini yaitu memacu kontraksi sel otot polos di mulut rahim wanita
yang dapat menyebabkan keguguran (pada wanita hamil). Oleh sebab itu, obat ini
tidak disarankan bagi wanita hamil.

Jika obat ini disalahgunakan oleh wanita hamil untuk melakukan aborsi,
maka Pelaku aborsi bisa mengalami pendarahan terus menerus. Kalau pendarahan
terjadi tanpa bisa dicegah, bisa saja pelaku aborsi meninggal dunia.

2. Dextromethorpan

Dextromethorpan (atau biasa disebut pil dekstro) adalah suatu obat


penekan batuk (anti tusif) yang dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai
pada sediaan obat batuk maupun flu. Dosis dewasa adalah 15-30 mg, diminum 3-4
kali sehari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral.
Jika digunakan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti.

Sebelum FDA (Food and Drug Administration) mengganti narcotic


codeine dengan dextromethorpan sebagai obat penekan batuk yang dijual bebas
sekitar tahun 1970-an, remaja dengan mudah mendapatkannya untuk
disalahgunakan. Bertahun-tahun, remaja membuat penemuan bahwa mereka dapat
merasa high/mabuk dengan mengkonsumsi obat-obatan bebas yang mengandung
dextromethorpan (juga disebut DXM). Ditemukan pada tablet, kapsul, dan gel.
seperti juga sirup, dextromethorpan ini terkandung di obat-obatan yang diberi
label DM, batuk, penekan batuk atau Tuss (mengandung tuss pada nama
obatnya).

Efek samping lainnya yang mungkin terjadi dari penyalahgunaan DXM


yaitu: bingung, sulit mengambil keputusan, penglihatan yang buram, pusing,
paranoia, keringat berlebihan, bicara mencerca, mual, muntah-muntah, sakit perut,
detak jantung yang tidak normal, tekanan darah tinggi, pusing, lesu, mati rasa
pada jari kaki dan tangan, pucat, kulit yang kering dan gatal, hilang kesadaran,
demam, kerusakan pada otak dan bahkan kematian.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 10


Ketika mengkonsumsi dalam jumlah banyak, DXM juga dapat
menyebabkan hyperthermia, atau demam tinggi.

3. Dexametasone

Dexametasone (micronized) 0.5 mg dan clorpeniramina maleat 2 mg


adalah obat-obatan yang lazim dipakai untuk mengobati alergi Sehingga sering
diberikan pada penyakit alergi menahun seperti asma bronchiale, urticaria dan
berbagai penyakit alergi lainnya. Obat yang mengandung komponen
ini sering disalahgunakan untuk menggemukkan badan karena dampak menahan
airnya, atau untuk meningkatkan kualitas tidur pemakainya. Efek sampingnya
adalah timbulnya penyakit pencernaan seperti penyakit maag, luka di lambung,
kelainan pencernaan lainnya.

Karena sifatnya yang menahan air, menyebabkan penderita meningkat


nafsu makannya dan bertambah berat. Selain itu obat yang mengandung
Dexamethasone merupakan pemicu timbulnya penyakit kencing manis, apalagi
kalau pemakai mempunyai riwayat penyakit kencing manis di keluarga. Obat ini
juga menyebabkan timbulnya beberapa penyakit kejiwaan bila dipakai secara
berkesinambungan.

Karena dampaknya imunosupresif, pemakai mudah menderita penyakit


infeksi virus dan jamur pada tubuhnya. Pemakai jangka panjang juga akan
menderita pengeroposan tulang yang disebut sebagai osteoporosis. Bila penderita
terlalu sensitive, dapat pula terjadi shok, yang berujung dengan kematian.

2.2.4 PROSES PENYALAHGUNAAN OBAT

Untuk menjadi pecandu obat tidak teijadi begitu saja, namun akan
melewati beberapa tahapan yaitu dimulai dengan tahap coba-coba; hal demikian
akan terjadi pada kelompok remaja yang tergolong memiliki resiko tinggi, yaitu
mereka yang sedang menghadapi problema berat, baik fisik atau internal maupun
eksternal. Dari mereka yang pernah coba-coba ada kemungkinan berhenti atau
menjadi pemakai okasional/kadang-kadang, misalnya jika ada acara ulang tahun,

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 11


dan sebagainya. Proses selanjutnya bisa berubah menjadi ketagihan secara fisik
ataupun mental, besar kemungkinan dari mereka ini akan menyalahgunakan
pemakaian obat-obat yang bersangkutan.

Yatim (1991) dan Hadjam (1988) mengelompokkan individu terlibat


dengan obat-obatan menjadi lima golongan:

1. Bukan pemakai
2. Pemakai coba-coba
3. Pemakai iseng
4. Pemakai tetap
5. Pemakai tergantung Kelompok ini bila digambarkan dapat berbentuk
piramida, yang dapat dilihat pada.

Pendekatan kesehatan jiwa membagi pemakaian obat menjadi beberapa


golongan (Joewana, 1989)

a. Experimental use, yaitu pemakaian zat yang tujuannya ingin mencoba, sekedar
memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian besar mereka yang coba-coba ini tidak
meneruskan menggunakan zat. Tetapi, sebagian kecil meneruskannya menjadi
social use.
b. Social use, atau disebut juga recreational use yaitu penggunaan zat-zat tertentu
pada waktu resepsi (minum whisky) atau untuk mengisi waktu senggang
(merokok) atau pada waktu pesta ulang tahun atau waktu berkemah (mengisap
ganja bersama-sama teman). Sebagian besar mereka yang tergolong social
user ini akan tetap mempertahankan kebiasaan ini. Tetapi ada pula social user
atau experimental user yang kemudian menjadi situasional use.
c. Situasional use, yaitu penggunaan zat pada saat mengalami ketegangan,
kekecewaan, kesedihan, dan sebagainya dengan maksud menghilangkan
perasaan-perasaan tersebut.
d. Abuse atau penyalahgunaan, yaitu suatu pola penggunaan zat sesuai dengan
kriteria yang sudah ditetapkan.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 12


e. Dependent use, yaitu bila sudah dijumpai toleransi dan gejala putus zat bila
pemakaian zat dihentikan atau dikurangi dosisnya.

Gambar 1. Konstruksi Penyalahgunaan Obat (Hadjam, 1988)

2.2.5 FAKTOR PENYEBAB PENYALAHGUNAAN OBAT

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa alasan remaja menyalahgunakan


narkotika sangatlah bervariasi dan ditentukan pula bahwa korban penyalahgunaan
obat sebagian besar adalah remaja atau dengan kata lain remaja merupakan
kelompok beresiko tinggi terhadap penyalahgunaan obat. Faktor penyebab
ketergantungan obat di kalangan remaja dapat dilihat dari dua sisi (Haryanto,
1996)

A. Faktor internal
1. Kondisi fisiologik individu yang bersangkutan
2. Kondisi psikologik individu, yang meliputi pola kepnbadian atau tingkah laku,
dan pola emosional atau perasaan individu yang bersangkutan.
B. Faktor eksternal
1. Nilai sosial obat yang digunakan bagi individu pemakai
2. Kondisi lingkungan individu remaja itu berada (keluarga runyam, pendidikan
putus, ekonomi kocar kacir, teman sebaya banyak penganggur dan
bermasalah)

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 13


Haryanto (2000) meninjau penyebab penyalahgunaan obat salah satunya
adalah kepribadian penyalahguna yaitu mereka yang mempunyai kepribadian
"beresiko tinggi" yaitu:

1. Tidak masak (immature) atau kekanak-kanakan.


2. Tidak dapat menunda suatu keinginan atau perbuatan atau tidak sabaran.
3. Mempunyai toleransi frustrasi yang rendah.
4. Senang mengambil resiko yang berlebihan (over risk-talking behavior).
5. Cenderung memiliki kepnbadian yang tertutup (introvert).
6. Kepercayaan din dan harga dirinya rendah serta konsep dirinya lemah (low
self confidence / self esteem / self concept).
7. Religiusitasnya kurang terutama aspek pengalaman atau perasaan beragama
2.2.6 CARA MENDAPATKAN OBAT-OBAT YANG
DISALAHGUNAKAN

Obat-obat tadi harus diperoleh dengan resep dokter. Namun untuk


penyalahgunaan ini, banyak cara yang bisa dilakukan orang untuk memperoleh
obat. Antara lain adalah :

Multiple doctor shopping maksudnya, ia pergi ke banyak dokter, sehingga


mendapatkan banyak resep untuk mendapatkan obat yang dimaksud
Memalsukan resep, memalsukan angka untuk iterasi.
Mencuri atau meminta paksa.
Over prescribing by physicians dokter sendiri yang meresepkan dalam
jumlah berlebihan.
Pembelian melalui internet sekarang banyak online pharmacies, terutama di
luar negeri.
Penjualan langsung oleh dokter atau apoteker yang memang tidak
mengindahkan moral dan etika profesi.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 14


2.3 REMAJA DAN KECENDERUNGAN PENYALAHGUNAAN OBAT
2.3.1 KETERLIBATAN REMAJA DALAM PENYALAHGUNAAN OBAT

Masa remaja sering juga dinamai dengan masa transisi vaitu dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa sering menimbulkan konflik baik konflik terhadap
dirinya sendiri maupun konflik terhadap lingkungan sekitarnya. Kebanyakan
remaja menyalahgunakan obat ini karena ingin melarikan diri, melupakan atau
mengatasi meski hanya sekejap terhadap konflik-konflik kehidupannya.

Pada masa remaja yang berlangsung antara umur 12 sampai 24 tahun


teijadi berbagai perubahan menurut Hurlock (1996) yang mencakup tiga aspek
perkembangan yaitu perkembangan fisik, perkembangan psikis, dan
perkembangan sosial. Pada masa perkembangan fisik baik remaja putra maupun
remaja putri ltiengalami kecemasan, kebingungan, karena adanya perubahan-
perubahan bentuk tubuh, badan dan perubahan fisik yang di sebabkan karena
pengaruh perkembangan dari organ-organ dan fungsi seks.

Pada masa perkembangan psikis dan perkembangan sosial yaitu masa


pencarian identitas diri. (Hadjam, 1988) menyatakan di dalam pencarian identitas
ini remaja ingin tahu kedudukan, peranan didalam lingkungannya di samping
keingin tahuan tentang dirinya yang menyangkut soal apa dan siapakah dirinya
atau dengan kata lain segala sesuatunya yang menyangkut 'Aku' ingin
diketahuinya, dan dikenalnya. Pada masa remaja sering nampak tingkah laku
sesuai dengan kelompoknya (merokok, minum-minum, menggunakan obat-obat
terlarang, dll) yang sebenarnya mempunyai tujuan hanya ingin menunjukkan
bahwa dirinya dapat diterima dalam kelompoknya.

Jika didalam perkembangan remaja menuju dewasa terjadi suatu hambatan


baik fisik, psikologis, sosial serta intelektual ada kemungkinan remaja akan lari
dari dunia nyata, agresif atau menarik diri dari lingkungannya. Hal inilah yang
dapat menyebabkan timbulnya pelarian para remaja pada penyalahgunaan obat
narkotika sebagai cara penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 15


Remaja menyalahgunakan obat disebabkan oleh beberapa faktor, salah
satunya penyebab penyalahgunaan obat adalah kepribadian penyalahguna. Karena
variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah salah satu variabel dari
kepnbadian tersebut yaitu variabel kepercayaan diri maka selanjutnya akan
dibahas mengenai variabel tersebut.

2.3.2 KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA

Hurlock (1996) mengatakan bahwa pada permulaan usianya, remaja


mengalami rasa kurang percaya diri. Kepercayaan diri seseorang akan sangat
dipengaruhi oleh masa perkembangan yang sedang dilalui, bagi remaja
kepercayaan diri akan mudah berubah (Afiatin dan Andayani, 1996). Hal ini
tergantung pada pengalaman-pengalaman dalam hubungan interpersonalnya.

Selama perkembangan masa remaja, seseorang akan mengalami


pertumbuhan dan perkembangan yang dalam prosesnya melibatkan dimensi-
dimensi biologik, psikologik, sosiologik, kebudayaan dan sejarah (Lerner dan
Spanier dalam Afiatin 1996).

Bila ditinjau hubungan antara perkembangan psikososial dan


perkembangan fisik (Monks dkk. 1996) mengatakan bahwa perkembangan fisik
memberikan lmpulsimpuls baru pada perkembangan psikososial, dimana reaksi
individu terhadap perkenlbangan fisik tergantung lagi dari pengaruh
lingkungannya dan dari sifat pribadinya sendiri yaitu, interpretasi yang diberikan
terhadap lingkungan itu. Salah sdtiinyd kepefcayaan diri pada remaja akan
tumbuh berhubungan dengan adanya ititeraksi sosial (Walgito, 2000), berupa
kompetisi, yaitu adanya semangat remaja berkom{3etitif/bersaing masuk
kejenjang pendidikan tingkat atau mencari pekerjaan (Redenbach, 1998), prestasi
membuat seseorang lebih berpengalaman dan memungkinkan mental yang
bertentangan menjadi lebih dewasa yaitu lebih percaya diri.

Perkembangan fisik yang teijadi menurut Monks (1996) mengatakan


bahwa masa remaja merupakan suatu fase saat individu memiliki perhatian yang
sangat besar terhadap penampilan diri. Berpenampilan prima (Suardiman, 1995)

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 16


adalah penampilan tidak hanya mencakup tampil dengan kerapian berpakaian;
daya tarik fisik sesuai dengan seksnya, tetapi juga mencakup perhiasan pribadi
seperti muka berseri dan bersinar, perilaku dan sikapnya serta tutur katanya
mencenninkan sopan santun dan penuh percaya diri.

Perkembangan sosial remaja bisa dikatakan yang paling menonjol diantara


perkembangan lain. Monks dkk. (1996) mengatakan sebelum masa remaja sudah
ada saling hubungan yang lebih erat antara anak-anak yang sebaya. Monks
mengatakan juga dalam perkembangan sosial remaja dapat dilihat adanya dua
macam gerak, yaitu memisahkan diri dari orang tua dan yang lain adalah menuju
kearah teman-teman sebaya. Gerak pertama tanpa adanya gerak yang kedua dapat
menyebabkan rasa kesepian.

Coleman menyatakan bahwa dari interaksi langsung dengan orang lain


akan diperoleh informasi tentang diri dan dengan komparasi sosial remaja dapat
memlai dirinya sendiri bila dibandingkan dengan orang lain, hal ini disebut
sebagai evaluasi diri dan selanjutnya akan diperoleh pemahaman tentang diri
sendiri dan akan tahu siapa dirinya yang kemudian akan berkembang menjadi
kepercayaan diri (Afiatin, 1996).

Redenbach (1998) menyatakan lingkungan sangat mempengaruhi


seseorang, dengan siapa seseorang itu bergaul, apa yang dibaca, dengar dan
perhatikan yang secara terus menerus akan menyerap data dari lingkungan dan
sebagai makhluk yang beradaptasi dan berevaluasi akan mulai untuk
merefleksikan apa yang diserap.

Jadi dapat disimpulkan kepercayaan diri pada remaja akan sangat


dipengaruhi oleh masa perkembangan yang sedang dilalui di antaranya yaitu
perkembangan fisik dan perkembangan sosial. Walaupun perkembangan sosial
paling menonjol namun perkembangan fisik merupakan hal yang sangat penting
yang mempengaruhi perkembangan sosial yaitu dalam melakukan penyesuaian
dalam berinteraksi dengan teman. Salah satu contoh jika seseorang remaja
memiliki penampilan yang menarik maka cenderung disukai oleh banyak orang

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 17


sehingga kepercayaan dirinya semakin bertambah dan dengan mudahnya dapat
berinteraksi karena lingkungan sangat menyukainya.

2.3.3 HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN


KECENDERUNGAN PENYALAHGUNAAN OBAT PADA
REMAJA

Pada masa remaja ketidakpastian yang sedang dialami akan cepat


membawa remaja pada pengaruh-pengaruh negatif terutama bila remaja tersebut
kurang memiliki kepercayaan diri. Dengan kata lain masalah yang dihadapi
remaja salah satunya bersumber pada kepercayaan diri yang rendah. Afiatin dan
Andayani (1996) berpendapat dengan kepercayaan diri yang cukup seseorang
individu akan dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya dengan yakin
dan mantap, sehingga tidak mudah teijerumus terhadap hal-hal yang negatif.
Remaja yang tidak memiliki kepastian tentang masa depan ini dapat menyebabkan
remaja kesulitan dalam menetapkan identitas pribadi yang akhirnya menyebabkan
mereka mengalami frustrasi dan rasa tak percaya diri.

Hurlock (1973) mengatakan bahwa penyelesaian suatu permasalahan tidak


selamanya mudah dan kesulitan akan dialami oleh individu yang selalu
tergantung. Remaja yang gagal dalam menyelesaikan masalah, lingkungan yang
tidak menerima mereka, merasa tidak berguna akan cenderung memiliki
kepercayaan diri rendah. Kondisi demikian inilah yang akan mempermudah
remaja mudah sekali terpengaruh dan mencari kompensasi untuk mendapatkan
kembali rasa percaya diri tersebut.

Keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan obat menurut Monks dkk.


(1996) yaitu: karena ingin tahu, tekanan teman sebaya, menentang orang tua,
pelarian (menolak masalah, tugas atau pertanggung jawab) memberontak terhadap
otoritas dan masyarakat yang dirasa asing. Individu yang memiliki kepercayaan
diri rendah tidak yakin ataupun mampu dalam menghadapi permasalahan yang
dialaminya sehingga rasa ketergantungan terhadap orang lain sangat dominan dan
juga tidak mempunyai rencana masa depan, tidak bertanggung jawab sehingga

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 18


menyebabkan mereka mudah terpengaruh orang lain. Mereka tidak memiliki
kepercayaan diri terhadap keyakinan sendiri dan lebih mudah berubah karena
pengaruh lingkungan, untuk mengejar penerimaan dari lingkungannya karena
takut terhadap pendapat yang bertentangan dengan dirinya (Brocker dalam
Prasetya, 1998).

Sebaliknya remaja yang memiliki kepercayaan diri tinggi cenderung


bersikap optimis dan akan menghadapi persoalan-persoalan yang ada, dengan hati
yang tenang, sehingga analisisnya terhadap persoalan dapat rasional dan objektif
sehingga tidak membawa mereka untuk melakukan sesuatu yang akan
menjerumuskan mereka untuk menggunakan obat terlarang. Mereka juga
memiliki rasa aman dan tahu apa yang dibutuhkan. Hal ini memungkinkan mereka
untuk menolak dengan tegas hal-hal yang tidak mereka butuhkan. Mempunyai
rencana masa depan, sehingga ketika ada penawaran pemakaian obat, mereka
akan menolak dengan tegas karena akan menghancurkan rencana-rencana yang
telah mereka susun dengan matang dimasa yang akan datang.

Remaja yang memiliki kepercayaan diri, berpenampilan prima dan


mendapatkan kebahagiaan, pada taraf yang manapun dicapainya, dapat
menjauhkan dirinya dari masalah-masalah serius atau menjauhkan dirinya dari
predikat berprilaku menyimpang yang serius (Suardiman, 1995).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki


kepercayaan diri yang rendah akan cenderung menyalahgunakan obat dari pada
remaja yang memiliki kepercayaan din tinggi. Hal ini disebabkan karena remaja
yang memiliki kepercayaan diri tinggi lebih memiliki sikap positif dalam
menghadapi kehidupannya, sehingga mereka tidak mudah putus asa yang bisa
menyebabkan menyalahgunakan obat. Sebaliknya remaja yang memiliki
kepercayaan diri rendah akan cenderung menggunakan obat terlarang

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 19


2.4 PERAN FARMASIS DALAM MENCEGAH PENYALAHGUNAAN
OBAT

Sebagai bagian dari tenaga kesehatan bagi akses masyarakat terhadap


obat, maka farmasis dapat berkontribusi secara signifikan dalam mengidentifikasi
dan mencegah penyalahgunaan obat. Melihat berbagai kemungkinan akses
masyarakat terhadap obat yang bisa disalah-gunakan, ada beberapa hal yang dapat
dilakukan:
1. Aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahayanya
penyalahgunaan obat, lebih baik dengan cara yang sistematik dan terstruktur.
2. Mewaspadai adanya kemungkinan resep-resep yang palsu dan ganjil, terutama
resep - resep yang mengandung obat psikotropika/narkotika. Hal ini
memerlukan pengalaman yang cukup dan pengamatan yang kuat. Jika terdapat
hal-hal mencurigakan, dapat berkomunikasi dengan dokter penulis resep yang
tertera dalam resep tersebut untuk konfirmasi.
3. Mengedepankan etika profesi dan mengutamakan keselamatan pasien dengan
tidak memberikan kemudahan akses terhadap obat-obat yang mudah disalah
gunakan.
Kondisi yang perlu diatasi secara farmakoterapi pada keadaan
ketergantungan obat ada dua, yaitu kondisi Intoksikasi dan kejadian munculnya
Gejala putus obat (sakaw). Dengan demikian, sasaran terapinya bervariasi
tergantung tujuannya:

1. Terapi pada intoksikasi/over dosis tujuannya untuk mengeliminasi obat dari


tubuh, menjaga fungsi vital tubuh.

Kelas obat Terapi obat Terapi non- Komentar


obat
Benzodiazepin Flumazenil 0,2 Support Kontraindikasi jika
mg/min IV, ulangi fungsi vital ada penggunaan TCA
sampai max 3 mg resiko kejang
Alkohol, Tidak ada Support

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 20


barbiturat, sedatif fungsi vital
hipnotik non-
benzodiazepin
Opiat Naloxone 0,4-2,0 Support Jika pasien tidak
mg IV setiap 3 min fungsi vital responsif sampai dosis
10 mg mungkin ada
OD selain opiat
Kokain dan Lorazepam 2-4 mg -Support - digunakan jika pasien
stimulan CNS lain IM setiap 30 min fungsi vital agitasi
sampai 6 jam jika - Monitor - digunakan jika pasien
perlu fungsi psikotik
Haloperidol 2-5 mg jantung - komplikasi
(atau antipsikotik kardiovaskuler diatasi
lain) setiap 30 min scr simptomatis
sampai 6 jam
Halusinogen, Sama dgn di atas Support
marijuana fungsi vital,
talk-down
therapy
Tabel 1. Ringkasan tentang terapi intoksikasi

2. Terapi pada gejala putus obat tujuannya untuk mencegah perkembangan gejala
supaya tidak semakin parah, sehingga pasien tetap nyaman dalam menjalani
program penghentian obat.

Obat Terapi obat Komentar


Benzodiazepin Klordiazepoksid 50 mg 3 x sehari
(short acting) atau lorazepam 2 mg 3 x sehari,
jaga dosis utk 5 hari, kmd tapering
Long acting BZD Sama, tapi tambah 5-7 hari utk Alprazolam paling sulit
tappering dan butuh wkt lebih

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 21


lama
Opiat Methadon 20-80 mg p.o, taper - jika metadon gagal
dengan 5-10 mg sehari, atau metadon maintanance
klonidin 2 mg/kg tid x 7 hari, program
taper untuk 3 hari berikutnya - Klonidin menyebabkan
hipotensi pantau BP
Barbiturat Test toleransi pentobarbital,
gunakan dosis pada batas atas test,
turunkan dosis 100 mg setiap 2-3
hari
Mixed-substance Lakukan spt pada long acting BZD
Stimulan CNS Terapi supportif saja, bisa gunakan
bromokriptin 2,5 mg jika pasien
benar-benar kecanduan, terutama
pada kokain

Tabel 2. Ringkasan tentang terapi untuk mengatasi gejala putus obat withdrawal
syndrome (DiPiro, 2008)

2.5 PENANGANAN PENYALAHGUNAAN OBAT OLEH KAMI


MAHASISWA FARMASI

MENGADAKAN PENYULUHAN KE SEKOLAH-SEKOLAH

1. Mengadakan kesepakatan dengan pihak sekolah untuk mengadakan


penyuluhan.
2. Tema penyuluhan yang akan dilakukan adalah Dampak penyalahgunaan
obat-obatan dikalangan remaja/anak muda.
3. Penyuluhan akan dilakukan selama kurang lebih 3 jam.
4. Selama kegiatan penyuluhan dilakukan, diselingi dengan tanya jawab
dengan para siswa/siswi tentang seberapa jauh mereka mengenal obat-
obatan terlarang di sekitarnya .

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 22


5. Sebelum kegiatan penyuluhan dilakukan, terlebih dahulu di bagikan brosur
yang telah disiapkan mengenai penyalahgunaan penggunaan obat-obatan
dikalangan remaja/anak muda.
6. Kegiatan penyuluhan diawali dengan penjelasan mengenai masa remaja/
masa pubertas, Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan perilaku
remaja menjadi menyimpang/buruk.
7. Memberikan penjelasan mengenai kemungkinan-kemungkinan anak-anak
muda/remaja mulai menggunakan obat-obat terlarang dan juga
menyalahgunakan penggunaan obat-obatan .
8. Memaparkan jenis obat-obat yang biasanya sering digunakan dikalangan
remaja/anak muda yang biasanya disalahgunakan bukan untuk tujuan
terapi/pengobatan.
9. Menjelaskan bagaimana dampak apa saja yang ditimbulkan dari
penggunaan obat-obatan yang disalahgunakan.
10. Memberikan penjelasan pada siswa/siswi bagaimana tindakan yang harus
dilakukan untuk menghindari penggunaan penyalahgunaan obat-obatan
yang marak dilakukan dikalangan remaja/anak muda saat ini.
11. Di akhir acara penyuluhan memberikan motivasi-motivasi yang
membangun, dan membangkitkan semangat para siswa/siswi dalam belajar
untuk mewujudkan masa depan yang cemerlang dengan tidak
menyalahgunakan dan menghindari penggunaan obat-obatan.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 23


Gambar 2. Lembaran ajakan

Gambar 3. Tampak depan belakang brosur

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 24


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga
terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar
akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang
dimilikinya.
Penyalahgunaan obat adalah pemakaian obat di luar indikasi medik, tanpa
petunjuk resep dokter, pemakaian sendiri secara relatif teratur atau berkala
sekurangkurangnya selama satu bulan.
Obat-obat yang sering disalahgunakan oleh masyarakat saat ini adalah : Obat
golongan Narkotika, Paracetamol, Obat penghilang rasa nyeri, Misoprostol /
Cytotec, Flunitrazepam, Kodein yang disalahgunakan sebagai morfin, Obat
anti-cemas, Dextromethorpan, Dexametasone
Motivasi dan penyebabnya seseorang menyalahgunakan obat bisa bermacam-
macam, antara lain:
o Ada orang-orang yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan rasa
tertekan (stres dan ketegangan hidup).
o Ada orang-orang yang bertujuan untuk sekadar mendapatkan perasaan
nyaman, menyenangkan.
o Ada orang-orang yang memakainya untuk lari dari realita dan tanggung
jawab kehidupan.
o Faktor-faktor Lingkungan.
o Faktor kontribusi : Hubungan interpersonal yang terganggu, atau keadaan
orang tua yang patologis/kacau.
o Faktor pencetus : Pengaruh teman kelompok, dan tersedianya obat/zat.
Remaja adalah masa dimana terjadinya peralihan dari masa kanak-kanak
kemasa dewasa yang mengalami perubahan emosi dan prilaku yang sangat
rentan mengalami konflik baik konflik terhadap dirinya maupun terhadap
lingkungan sekitarnya.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 25


Jika didalam perkembangan remaja menuju dewasa terjadi suatu hambatan
baik fisik, psikologis, sosial serta intelektual ada kemungkinan remaja akan
lari dari dunia nyata, agresif atau menarik diri dari lingkungannya. Hal inilah
yang dapat menyebabkan timbulnya pelarian para remaja pada
penyalahgunaan obat narkotika sebagai cara penyesuaian diri terhadap
masalah yang dihadapinya.
Untuk mewaspadai/mencegah meningkatnya dampak buruk akibat
penyalahgunaan obat-obatan diperlukan peran tenaga kesehatan (termasuk
apoteker), orang tua, guru, masyarakat dan instansi keamanan/kepolisian
secara bersama dan berkesinambungan.
3.2 SARAN

Dari makalah ini kami mengharapkan agar para pembaca bisa


membacanya, memahaminya dan membuat makalah ini menjadi referensi para
pembaca dalam mengetahui dan memahami tentang penyalahgunaan obat. Demi
sempurnanya makalah ini kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari para pembaca agar makalah ini bisa menjadi lebih baik untuk selanjutnya.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 26


DAFTAR PUSTAKA
Andayani, B dan Afiatin, T. 1996. Konsep diri, harga diri dan kepercayaan diri
remaja. Jurnal 4 No. 2 Hal 23-30. Fakultas Psikologi UGM :
Yogyakarta.
Bimo Walgito. (2004). Pengantar psikologi Umum. Penerbit Andi : Jakarta.

Drs. Yatim Wildan. 1991. Genetika. Edisi IV, Cetak Ulang, Penerbit TARSITO :
Bandung
Hadjam, Noor Rochman , Atamimi, Nuryati , Sofia Retnowati, Utami, Muhana
Sofiati , and Subandi, Tes Kepribadian Universitas Gadjah
Mada Penelitian Jurusan Psikologi Klinis dan Konseling
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, -, vol. -, pp. -,
1988
Hawari, Dadang. 1999. Al-Quran; Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa,
PT. Dana Bhakti Prima Yasa: Yogyakarta.
Haryanto. 1996. Perencanaan Pengajaran. Rineka Cipta: Jakarta.
Haryanto.2000. Kamus B. Indonesia Lengkap Jilid 1. Karya Agung: Surabaya.
Hurlock. E. B. 1973. Adolescent Development. (Edisi, 4). Macgrow- Hill.Inc:
Japan.
Hurlock, Elizabeth., 1996. Psikologi Perkembangan: Suatu Kehidupan Sepanjang
Rentang
Joewana, S., 1989, Gangguan Penggunaan Zat Narkotika, Alkohol, dan Zat
Adiktif lain. Gramedia: Jakarta.
Miftah Thoha. 2003, Kepemimpinan Dalam Manajemen. PT. Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Monks (1996). Psikologi Perkembangan, Pengantar dalam Berbagai
Bagiannya.Yogyakarta: UGM Press
Redenbach, R. 1998. Tampil penuh dengan percaya diri. PT. Handal Niaga
Pustaka: Jakarta.
Sugihartono dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. UNY Press: Yogyakarta.

Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. EGC: Jakarta.

KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI 27