Anda di halaman 1dari 10

TUGAS

PNEUMOTHORAKS, BLEB, BULA

Disusun Oleh :
Della Amanda Putri

Pembimbing :
dr. Nunu Heryana E, Sp. Rad

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU RADIOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas dengan judul Pneumothoraks, Bleb, Bula. Tugas ini
diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti kepaniteraan klinik pada ilmu radiologi di
RSUD Banjar.

Selain itu saya juga mengucapkan Terima kasih kepada dr.Nunu Heryana E, Sp. Rad dan
segenap staff bagian Radiologi RSUD Banjar atas bimbingan dan pertolongannya selama
menjalani kepanitraan klinik bagian radiologi dan dapat menyelesaikan penulisan dan
pembahasan tugas ini.

Dalam penulisan ini, penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan,
penulis mohon maaf atas segala kesalahan, sehingga kritik dan saran dari pembaca yang
bersifat membangun sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan penulisan referat berikutnya.

Banjar, 6 November 2017

Penulis

Della Amanda Putri


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

DAFTAR GAMBAR 4

BAB I : TINJAUAN PUSTAKA 5

1.1 PNEUMOTHORAKS 5
1.1.1 definisi 5
1.1.2 patofisiologi 5
1.1.3 gambaran radiologi 6
1.2 BLEB 7
1.2.1 Definisi.............................................................................................7
1.2.2 Patofisiologi......................................................................................7
1.2.3 Gambaran radiologi ..........................................................................8
1.3 BULA 8
1.3.1 Definisi ............................................................................................8
1.3.2 Patofisiologi .....................................................................................8
1.3.3 Gambaran radiologi...........................................................................9
BAB III : DAFTAR PUSTAKA 10
DAFTAR GAMBAR

1.1 Gambaran radiologi pneumothoraks ..............................................................6

1.2 gambaran radiologi bleb paru ........................................................................7

1.3 gambaran radiologi bula paru ........................................................................8


BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 PNEUMOTHORAK

1.1.1 Definisi

Pneumothorax adalah keadaan terdapatnya udara pada rongga pleura (berasal dari
perlukaan paru atau traktus trakheobronkhial, atau berasal dari perlukaan dinding dada), yang
mengakibatkan hilang atau meningkatnya tekanan negatif dalam rongga pleura.
Pneumotoraks dapat dibagi spontan atau traumatik. Pneumitoraks spontan dibagi menjadi
primer dan sekunder, primer jika sebabnya tidak diketahui sedangkan sekunder jika terdapt
latar belakang penyakit paru. Pneumotoraks traumatik dibagi menjadi pneumotoraks
traumatik iatrogenik dan bukan iatrogenic.

1.1.2 Patofisiologi

Beberapa pneumotoraks terjadi karena :

- Destruksi paru-paru. Infeksi Staphylococcus atau tuberkolosis dapat menyebabkan


destruksi paru. Infeksi oleh P. cranii dapat menyebabkan pneumocyst intrapulmonary
yang dapat ruptur.

- Segala hal yang dapat menyebabkan obstruksi bronchial khususnya emfisema dan asma
dapat menyebabkan penumpukan gas dan akhirnya ruptur bersama bulla. Mekanisme
yang sama berlaku pada penyakit paru fibrosis, fibrosis kistik dan
lymphangioleiomyomatosis.

Alveoli disangga oleh kapiler yang mempunyai dinding lemah dan mudah robek,
apabila alveol tersebut melebar dan tekanan di dalam alveol meningkat maka udara dengan
mudah menuju ke jaringan peribronkovaskular. Gerakan nafas yang kuat, infeksi dan
obstruksi endobronkial merupakan beberapa faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya
robekan. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveol dapat mengoyak jaringan fibrotik
peribronkovaskular. Robekan pleura ke arah yang berlawanan dengan hilus akan
menimbulkan pneumotorak sedangkan robekan yang mengarah ke hilus dapat menimbulkan
pneumomediastinum. Dari mediastinum udara mencari jalan menuju ke atas, ke jaringan ikat
yang longgar sehingga mudah ditembus oleh udara. Dari leher udara menyebar merata ke
bawah kulit leher dan dada yang akhirnya menimbulkan emfisema subkutis. Emfisema
subkutis dapat meluas ke arah perut hingga mencapai skrotum.

Tekanan intrabronkial akan meningkat apabila ada tahanan pada saluran pernafasan dan
akan meningkat lebih besar lagi pada permulaan batuk, bersin dan mengejan. Peningkatan
tekanan intrabronkial akan mencapai puncak sesaat sebelum batuk, bersin, mengejan, pada
keadaan ini, glotis tertutup. Apabila di bagian perifer bronki atau alveol ada bagian yang
lemah, maka kemungkinan terjadi robekan bronki atau alveol akan sangat mudah.

Perubahan fisiologis yang terjadi akibat pneumotoraks adalah gangguan ventilasi,


penurunan nilai kapasitas vital paru, dan tekanan oksigen darah (PO 2) sehingga terjadi
hipoventilasi dan menimbulkan asidosis respiratorik. Evakuasi udara dari rongga pleura
sesegera mungkin akan memperbaiki gangguan ventilasi dan kapasitas vital paru, sehingga
akan membantu peningkatan PO2.

1.1.3 Gambaran radiologi

1. Tampak bayangan HYPERLUSCENT baik bersifat local maupun general.


2. Pada gambaran hyperluscent ini tidak tampak jaringan paru (avaskuler)
3. Bila pneumothoraxnya hebat sekali, dapat menyebabkan terjadinya collapse dari paru-paru
disekitarnya, sehingga jaringan paru-paru yang terdesak ini lebih padat dengan densitas
seperti bayangan tumor.
4. Biasanya arah kolaps ke medial.
5. Bila hebat sekali dapat menyebabkan pendorongan pada jantung, misalnya pada ventil
pneumothorax atau apa yang kita kenal sebagai tension pneumothorax.
6. Juga mediastinum dan trachea dapat terdorong ke sisi yang berlawanan
1.1 gambaran radiologi pneumothoraks

1.2. BLEB

1.2.1 Definisi

suatu ruang interstitial subpleural yang berisi udara, dengan ukuran diameter tidak
lebih dari 1-2 cm. Dindingnya tebal kurang dari 1 mm. Jika pecah, dapat menyebabkan udara
masuk ke ruang pleura sehingga menghasilkan pneumotoraks spontan.

2.2.2 Patofisiologi

Bleb dianggap terjadi sebagai akibat pecahnya alveolar subpleural, karena kelebihan
serat elastis. Bullae paru mirip seperti blebs, berupa ruang udara kistik yang memiliki dinding
tipis (kurang dari 1 mm). Perbedaan antara blebs dan bullae umumnya dianggap ukurannya.
Jika blebs menjadi lebih besar atau bersatu membentuk kista yang lebih besar, maka
dapatmenjadi bulla. Jika pneumotoraks tidak terjadi, atau bulla menjadi sangat besar,
biasanya tidak ada gejala. Pasien dengan blebs biasanya memiliki emfisema.
1.2.3 Gambaran radiologi

1.2 gambaran radiologi bleb paru

1.3 BULA

1.3.1 Definisi

Bula merupakan rongga berisi udara di dalam parenkim paru yang disebabkan oleh
penyatuan alveoli yang berdekatan akibat kerusakan septa jaringan ikat

1.3.2 Patofisiologi

terjadinya degradasi serat elastik paru yang dipicu oleh peningkatan masuknyaa
neutrofil dan makrofag terkait dengan kebiasaan merokok.Degradasi inimenyebabkan
ketidakseimbangan sistem protease-antiprotease dan oksidan-antioksidan. Setelahterbentuk
bulla atau bleb, terjadi obstruksi saluran napas kecil yang disebabkan oleh proses
inflamasiberkepanjangan sehingga terjadi peningkatan tekanan alveolar, yang menyebabkan
udaramerembes ke ruang instertitial paru-paru. Kemudian udara akan bergerak ke hilus,
terjadilahpneumomediastinum. Dengan meningkatkan tekanan intra-mediastinum, timbul
ruptur pleuraparietal di daerah mediastinum dan mengakibatkan terjadinya pneumotoraks.
1.3.3 Gambaran radiologi

Penunjang Pada foto polos toraks, diagnosis bula paru-paru dapat ditegakkan apabila
ditemukan daerah hiperlusens, avaskular, berbatas tegasdengan dinding tipis. Dinding bula
menunjukkan gambaran khasseperti helai rambut, tetapi terkadang hanya sebagian dinding
sajayang dapat terlihat.Karena bula akan memerangkap udara padasaat ekpirasi, ukurannya
akan relatif lebih membesar selama ekspirasi.

1.3 gambaran radiologi bula paru


BAB II

DAFTAR PUSTAKA

1. Sahn SA, Heffner JE. Spontaneuos pneumothorax. N Eng J Med 2000; 342: 868-74
2. http://www.dokterirga.com/pneumotoraks (Updated: October 8, 2012 at 1:33 pm)

3. Soeparman, Sarwono Waspadji, Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai penerbit FKUI,
1998
4. Hood Alsagaff, M. Jusuf Wibisono, Winariani, Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2004,
LAB/SMF Ilmu Penyakit Paru dan Saluran Nafas FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo,
Surabaya, 2004
5. Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson, Patofisiologi, EGC, Jakarta, 1995