Anda di halaman 1dari 30

I.

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki potensi ekonomi dari bidang pertanian yang


sangat besar. Hal ini karena Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan
yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan
kondisi biofisik lahan (fisiografi, bentuk wilayah, lereng dan iklim), luas
potensi lahan basah yang belum digarap adalah 16,7 juta hektar. Sedangkan
untuk lahan kering masih tersisa lahan potensial seluas 22,3 juta hektar
(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2005). Namun, potensi
yang besar tersebut tidak
dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
Sebagai negara agraris, Indonesia mengimport beras, sayur-sayuran dan
buah-buahan dalam jumlah yang sangat besar. Pada tahun 2011, Indonesia
mengimpor beras sebanyak 800.000 ton, dari Vietnam sebanyak 500.000
ton dan dari Thailand sebanyak 300.000 ton (bisniskeuangan.kompas.com,
2012). Hal ini adalah tantangan bagi semua pihak untuk dapat
memanfaatkan potensi ketersediaan lahan yang sangat luas tersebut sebagai
salah satu upaya untuk meningkatkan
produksi pertanian dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Balitbang Pertanian dalam Bachrein (2006) mengatakan bahwa
usaha tani haruslah dipandang sebagai suatu komersial yang otonom,
berorientasi pasar dan bertujuan untuk meraih hasil usaha (laba). Oleh
karena itu, petani adalah manajer yang bebas mengelola usaha taninya. Pada
kenyataannya, petani saat ini hanyalah menjadi objek dari bisnis pertanian
tersebut. Hal ini disebabkan karena berbagai keterbatasan yang dimiliki
petani dan semakin meningkatnya sistem kapitalisme di bidang pertanian
(Sitepu, 2008). Menurut Muhammad (2009), menempatkan bisnis dan nilai
etika serta moralitas agama sebagai dua kutub yang binary opposition tidak
lain adalah cara pandang sistem kapitalisme. Hal ini diperparah oleh mitos
masyarakat modern yang mengamini bahwa ekonomi dan bisnis adalah
kegiatan yang harus dijauhkan dari nilai etika atau moral. Padahal Syariah
Islam telah mengatur cara pemenuhan kebutuhan manusia (usaha bisnis)
sesuai dengan tuntutan garis-garis maqshid asy syariah.
Menurut Beik dan Hafiduddin (2008) salah satu permasalahan
mendasar yang dihadapi oleh sektor pertanian di Indonesia adalah
ketersediaan kredit (pembiayaan). Marsden et al. dalam Kaleem (2008)
mengatakan bahwa sektor pertanian memiliki permintaan yang meningkat
untuk kredit selama periode waktu tertentu karena meningkatnya
penggunaanpupuk, pestisida, benih unggul dan mekanisasi. Menurut Syukur
dalam Kurnia (2009)segementasi pelaku usaha agribisnis ditinjau dari sisi
perbankan adaempat segmentasi yaitu, pertama kelompok usaha agribisnis
yang feasible dan bankable, kedua kelompok usaha agribisnis yang feasible

1
tapi tidak bankable, ketiga kelompok usaha agribisnis yang tidak feasible
tapi bankable dan keempat kelompok usaha agribisnis yang tidak feasible
dan tidak bankable. Sehingga pembiayaan perbankan bagi sektor pertanian
sangat terbatas. Hal ini
diperparah dengan adanya bunga pada pembiayaan konvensional (non-
syariah), dimana pendanaan kegiatan agribisnis di Indonesia masih
memberlakukan tingkat bunga yang sangat tinggi yang hampir sama dengan
tingkat bunga komersial (Wulandari dan Suroso, 2004).
Salah satu pembiayaan syariah yang dapat digunakan untuk sektor
pertanian adalah akad Bai Salam. Menurut Kaleem (2008) kontrak Bai
Salam sepenuhnya telah dapat diterima oleh perbankan modern. Masalah
dapat diselesaikan melalui kontrak Salam paralel dimana bank masuk ke
dalam dua kontrak yang terpisah - pertama dengan penjual (produsen) dan
kedua dengan pembeli komoditas. Kerjanya sebagai penengah antara kedua
pihak. Satusatunya syarat adalah bahwa kontrak-kontrak dengan kedua
pihak harus sepenuhnya independen satu sama lain. Namun, aplikasi akad
Bai Salam sangat ditentukan oleh penerimaan dari para petani. Sehingga
diperlukan suatu penelitian terhadap penerimaan akad Bai Salam di
kalangan para petani. Menurut Amin, et al. (2010) yang melakukan riset
terhadap penerimaan pembiayaan syariah dengan menggunakan akad
Qardhul Hassan menemukan bahwa penerimaan akad Qardhul Hassan
dipengaruhi oleh Sikap, Norma Subjektif dan Harga. Dengan analogi
penerimaan pembiayaan Qardhul Hasan tersebut, maka perlu dilakukan
penelitian dengan menggunakan variabel Sikap, Norma Subjektif dan Harga
sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan petani terhadap akad
Bai Salam.
Tujuan penelitian ini adalah : untuk mengidentifikasi masalah
(pembiayaan dan pemasaran serta produktivitas) yang dihadapi oleh petani
di Kabupaten Bogor pada saat penanaman dan pemanenan, untuk
mengetahui kontribusi lembaga pembiayaan formal dan informal pada
sektor pertanian di Kabupaten Bogor, untuk mengetahui metode
pembiayaan syariah dengan akad Bai Salam dapat digunakan sebagai
alternatif untuk pembiayaan sektor pertanian di Kabupaten Bogor, untuk
mengukur profitabilitas yang dihasilkan dari usaha pertanian di Kabupaten
Bogor, dan untuk menganalisis pengaruh Sikap, Norma Subjektif,
Harga dari akad Bai Salam relatif terhadap pinjam modal dan Harga
dari akad Bai Salam relatif terhadap sistem ijon terhadap Penerimaan
(Acceptance) untuk menggunakan akad Bai Salam sebagai metode
pembiayaan syariah bagi sektor pertanian.

2
I. TINJAUAN TEORITIS

Konsep pembiayaan syariah pada dasarnya menerapkan konsep


berdasarkan perjanjian bagi hasil, yaitu kedua belah pihak sama-sama
menanggung resiko proyek yang dijalankan, jika untung mereka sama-sama
memperoleh keuntungan dengan cara pembagian yang disetujui dan jika
rugi sama-sama menanggung kerugian (Wulandari dan Suroso, 2004).
Perbedaan antara prinsip bank syariah dengan bank umum (konvensional)
adalah terletak
pada pola pembiayaan dan pemberian balas jasa, baik yang diterima oleh
bank maupun investor. Jika dilihat pada bank umum (konvensional),
pembiayaan disebut loan atau pinjaman, sementara di bank syariah disebut
financing atau pembiayaan (Nasution dalam Fajarningtyas, 2008). Akad
pada pembiayaan syariah adalah sangat penting, menurut Basri dalam
Santoso (2005), menurut bahasa akad adalah ikatan (al-rabthu), kaitan (al-
akadah) atau janji (al-ahdu). Sedangkan Pasaribu dan Lubis dalam
Santoso (2005) mengatakan bahwa akad atau perjanjian adalah janji setia
kepada Allah SWT dan juga meliputi perjanjian yang dibuat oleh manusia
dengan sesama manusia dalam pergaulan hidupnya sehari-hari.
Akad Bai Salam merupakan akad jual beli antara bank dengan
nasabahnya atas suatu barang, dimana harganya dibayar oleh bank dengan
segera, sedangkan barangnya akan diserahkan kemudian oleh nasabah
(produsen) kepada bank dalam jangka waktu yang telah disepakati.
Selanjutnya, bank dapat menjual kembali barang tersebut kepada
nasabah/pihak
lain (pembeli). Syarat utama dari BaiSalam adalah jenis, macam, ukuran,
mutu dan jumlah barang yang dijual harus jelas dan menguntungkan.
Keuntungan diperoleh oleh bank dari selisih harga jual barang antara bank
kepada pihak lain (pembeli) dan nasabah (produsen) kepada bank. Pada
umumnya banyak dilakukan untuk pembiayaan sektor pertanian
(Kristiyanto, 2008). Akad Bai Salam merupakan bentuk jual beli sesuatu
dalam tanggungan yang dijelaskan dengan harga yang dibayar dimuka.
Ulama fiqh menyebutnya dengan istilah
baiu al-mawij, karena Bai Salam termasuk jenis jual beli yang tidak
nyata dan atas dasar tuntutan kebutuhan orang yang bertransaksi. Bagi yang
memiliki uang, dia membutuhkan pembelian barang. Sementara orang yang
memiliki barang, dia membutuhkan uang sebelum barang tersebut ada
ditangannya, untuk dibelanjakannya baik untuk dirinya sendiri dan bagi
tanamannya sampai panen. Untuk orang yang membeli disebut muslim atau
rabbu as-silm. Sementara pembeli disebut muslam ilaih. Barang yang dijual
dinamakan muslam fh. Dan, alat penukarnya disebut dengan rasu as-
salam (Sabiq, 2009).

3
Fishbein dan Ajzen dalam Blue (1995), menyatakan bahwa menurut
Theory of Reasoned Action (TRA), Niat berperilaku (Behavioral Intention),
adalah prediktor tunggal terbaik dari Perilaku (Behavioral) seseorang. Niat
perilaku merupakan fungsi dari sikap terhadap perilaku (Atttitude toward
Behavior) dan Norma Subjektif (Subjective Norm). Dalam diagram dapat
dilihat pada Gambar 1. Berikut ini.

Behavioral Beliefs and Attitude Toward


Outcomes Evaluations Behavior
Behavioral Actual
Normative Beliefs and Intention Behavioral
Subjective Norm
Motivation to Comply
Gambar 1.
Theory of Reasoned Action
(Sumber: Fishbein dan Ajzen dalam Amin et al, 2010. p. 3).
Schiffman dan Kanuk (2004) menyatakan bahwa sikap terdiri dari 3
(tiga) komponen yang saling menunjang (tricomponent attitude models).
Tiga komponen sikap tersebut yaitu:
1) Komponen kognitif, yaitu pengetahuan dan persepsi yang diperoleh
berdasarkan pengalaman langsung dengan objek sikap.
2) Komponen afektif mengacu pada emosi atau perasaan terhadap suatu
objek. Seperti perasaan suka terhadap suatu iklan.
3) Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku
tertentu sesuai dengan sikap yaang dimiliki subyek.
Fishbein dan Ajzen dalam Wijaya (2008) menyatakan bahwa Norma
subjektif, yaitu keyakinan individu akan norma, orang sekitarnya dan
motivasi individu untuk mengikuti norma tersebut. Di dalam norma
subjektif terdapat dua aspek pokok yaitu : keyakinan akan harapan, harapan
norma referensi, merupakan pandangan pihak lain yang dianggap penting
oleh individu yang menyarankan individu untuk menampilkan atau tidak
menampilkan perilaku tertentu serta motivasi kesediaan individu untuk
melaksanakan atau tidak melaksanakan pendapat atau pikiran pihak lain
yang dianggap penting bahwa individu harus atau tidak harus berperilaku.
Menurut Wulandari dan Suroso (2004), Alternatif pendanaan
sebagai pemecahan masalah dalam sistem agribisnis pada kegiatan
pemasaran adalah dengan Bai Salam bertujuan untuk mengatasi kendala
kepastian harga. Menurut Mujahidin (2010), biasanya harga pada
pembiayaan dengan akad Bai Salam yang disepakati lebih rendah dari
harga pasar. Hal tersebut dimaksudkan agar kepentingan pembeli tidak
terabaikan dan petani juga dapat terpenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan
modal untuk berproduksi (penanaman kembali), maupun kebutuhan untuk

4
kehidupan keluarganya sehari-hari. Sesungguhnya, ajaran Islam sangat
memperhatikan masalah pertanian.
Amin, et al. (2010), menyimpulkan variabel Sikap dan Norma
Subjektif berpengaruh positif terhadap penerimaan pembiayaan Qardhul
Hassan, artinya semakin tinggi Sikap dan Norma Subjektif nasabah
maka semakin tinggi penerimaan nasabah terhadap pembiayaan Qardhul
Hassan. Variabel Harga dari pembiayaan Qardhul Hassan berpengaruh
negatif terhadap penerimaan pembiayaan Qardhul Hassan, yang artinya
semakin
rendah harga dari pembiayaan Qardhul Hassan maka semakin tinggi
penerimaan nasabah terhadap pembiayaan Qardhul Hassan. Senada dengan
Amin et al. (2010), dalam penelitiannya Lada et al. (2009) menyimpulkan
bahwa Niat untuk menggunakan produk halal dipengaruhi oleh Sikap dan
Norma Subjektif. Rahim dan Amin (2011) dalam penelitiannya
menyimpulkan bahwa faktor-faktor penentu yang mempengaruhi
penerimaan penggunaan
asuransi syariah (takaful) adalah Sikap, Norma Subjektif dan Jumlah
Informasi. Amin dan Chong (2011), menyimpulkan bahwa Sikap dan
Norma Subjektif berhubungan secara positif terhadap Niat untuk
menggunakan Gadai Syariah (Ar-Rahnu).

5
II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan satu


kali dalam satu periode (single cross sectional design). Penelitian deskriptif
merupakan tipe riset konklusif (Cooper dan Schindler, 2008). Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dengan cara membuat kuisioner yang akan dibagikan
kepada responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil riset
kepustakaan
(library research) berupa penelitian terdahulu, buku-buku yang terkait,
jurnal dan informasi valid yang diperoleh dari internet.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani di Kabupaten
Bogor, sedangkan sampel yang direncanakan dalam penelitian ini adalah
petani dari Kecamatan Tenjo, Kecamatan Parung Panjang, Kecamatan
Cibungbulang dan Kecamatan Pamijahan. Jumlah sampel yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 100 responden. Metode pengambilan sampel
dalam penelitian ini adalah non-probability sampling dengan teknik
convinience sampling.
Untuk mengetahui masalah (pembiayaan dan pemasaran serta
produktivitas) yang dihadapi oleh petani pada saat penanaman dan
pemanenan, kontribusi lembaga pembiayaan formal dan informal pada
sektor pertanian dan metode pembiayaan syariah dengan akad Bai Salam
dapat digunakan sebagai alternatif untuk pembiayaan sektor pertanian di
Kabupaten Bogor, serta profitabilitas yang dihasilkan dari usaha pertanian
di Kabupaten Bogor, maka
peneliti menggunakan Analisis Deskriptif. Digunakan Microsoft Office
Excel 2003 untuk menguji Analisis Deskriptif.
Untuk menganalisis pengaruh Sikap (Attitudes), Norma
Subjektif (Subjective Norm), Harga dari akad Bai Salam relatif terhadap
pinjam modal dan Harga dari akad Bai Salam relatif terhadap sistem
ijon terhadap Penerimaan (Acceptance) untuk menggunakan akad Bai
Salam sebagai metode pembiayaan syariah bagi sektor pertanian digunakan
Regresi Logistik, karena variabel terikat bersifat dikotomi (bersedia atau
tidak bersedia untuk menggunakan akad Bai Salam). Menurut Ghozali
(2011) Regresi Logistik
bertujuan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat
dapat diprediksi dengan variabel bebasnya. Untuk melakukan analisis
Regresi Logistik digunakan software SPSS 15.0 for Windows. Dalam
diagram, Model Penelitian dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.

6
Variabel Bebas Variabel Terikat

SIKAP
PENERIMAAN UNTUK
NORMA SUBJEKTIF MENGGUNAKAN AKAD BAI
SALAM

HARGA DARI AKAD BAI SALAM


RELATIF TERHADAP PINJAM
MODAL

HARGA DARI AKAD BAI SALAM


RELATIF TERHADAP SISTEM
IJON

Gambar 2. Model Penelitian


(Sumber : Amin et al., 2010)
Ghozali (2011) menyatakan bahwa, tahapan dalam pengujian dengan
menggunakan uji Rergresi Logistik dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Langkah pertama adalah menilai overall fit model terhadap data.
Beberapa test statistik diberikan untuk menilai hal ini. Statistik yang
digunakan berdasarkan pada fungsi likelihood. Penurunan likelihood
(-2LogL) menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan
kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.
2) Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square). Merupakan ukuran
yang mencoba meniru ukuran R2 pada multiple regression.
3) Kelayakan Model Regresi, dinilai dengan menggunakan Hosmer and
Lemeshows Goodness of Fit Test. Jika nilai statistik Hosmer and
Lemeshows Goodness of Fit Test lebih besar dari 0,05, berarti
model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.
4) Matriks Klasifikasi, Tabel Klasifikasi 2X2 menghitung nilai estimasi
yang benar (correct) dan salah (incorrect) . Pada model yang
sempurna, maka semua kasus akan berada pada diagonal dengan
tingkat ketepatan peramalam 100%.
5) Estimasi Parameter dan Interpretasinya, Estimasi maksimum
likelihood parameter dari model dapat dilihat pada tampilan output
variable in the equation.

7
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk mengetahui masalah pembiayaan dan pemasaran yang


dihadapi oleh petani di Kabupaten Bogor pada saat penanaman dan
pemanenan, dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1.
Metode Pengadaan Input Pertanian dan Penjualan Hasil Pertanian
Sumber Pengadaan Input Sumber Penjualan
Pertanian (%) Hasil
Pertanian
(%)
Tunai 30 Tunai (setelah panen) 62
Tunai(sebelum 1
Kredit 4 panen) 9
Keduanya 66 Kredit 28
Total 100 Keduanya 100
Total
(Sumber : Data Primer, 2012)
Hasil yang diperoleh memberikan informasi bahwa mayoritas petani
atau sebanyak 70% responden membutuhkan pembiayaan untuk pengadaan
input pertanian, hal ini dikarenakan keterbatasan modal yang dimiliki
petani. Hasil ini senada dengan pendapat Beik dan Hafiduddin (2008) yang
menyatakan bahwa salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi oleh
sektor pertanian di Indonesia yaitu ketersediaan kredit (pembiayaan).
Aburaida
(2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa permintaan kredit (pada
sektor pertanian) muncul untuk modal kerja jangka pendek. Sedangkan
untuk pemasaran hasil pertanian, memberikan informasi bahwa petani
memiliki daya tawar yang baik dalam hal penjualan, karena mayoritas
pembeli membayar secara tunai.
Menurut Ashari dan Saptana dalam Rahmita (2011), pemerintah
telah berusaha mengatasi permasalahan lemahnya permodalan petani
dengan meluncurkan berbagai program kredit untuk sektor pertanian. Kredit
untuk petani tersebut memakai sistem bunga yang menunjukkan hasil
kurang memuaskan, bahkan menimbulkan permasalahan baru yaitu
membengkaknya hutang petani dan kredit macet. Berdasarkan hal tersebut
model pembiayaan
dengan skema sesuai syariah merupakan model pembiayaan alternatif untuk
sektor pertanian.
Untuk mengetahui masalah produktivitas petani di Kabupaten Bogor
pada saat pemanenan, maka responden ditanyakan tentang masalah utama

8
yang dapat menyebabkan hasil panen rendah (Tabel 2), masalah utama yang
yang dihadapi ketika menjual hasil panen (Tabel 3), dan siapa pembeli yang
paling sering membeli hasil panen.
Tabel 2.
Masalah Utama yang Menyebabkan Hasil Panen Rendah
Masalah Utama (%) Ranking

Kualitas benih, pupuk dan pestisida yang tidak bagus 46 1


Tidak tersedia pengairan yang cukup untuk lahan pertanian 29 2
Hama dan Penyakit tanaman 20 3
Tidak tersedia mesin dan alat pertanian yang dibutuhkan 3 4
Tidak tersedia kendaraan untuk transportasi 2 5
Rendahnya penyuluhan tentang tata cara pertanian yang 0 6
baik 100
Total
(Sumber : Data Primer, 2012)
Menurut pengamatan peneliti di lapangan, menemukan bahwa
sebagian besar petani menggunakan benih dari menyisihkan sebagian dari
hasil panen sebelumnya, hal ini mengindikasikan ketiadaan modal petani
untuk membeli benih kualitas unggul hasil penelitian terkini. Selain itu,
pemupukan dengan jenis, dosis dan waktu yang tepat merupakan faktor
penting yang dapat meningkatkan produktivitas, karena keterbatasan modal
petani, menyebabkan petani seringkali memberikan pemupukan dengan
dosis yang kurang dan jadwal yang seringkali terlambat.
Tabel 3.
Masalah Utama yang Dihadapi Ketika Menjual Hasil Panen
Masalah Utama (%) Ranking

Terpaksa menjual ke tengkulak dengan harga yang rendah, 44 1


karena harus segera bayar hutang
Hasil panen rusak karena banjir dan cuaca buruk 27 2
(kekeringan) 12 3
Tidak ada kendaraan untuk menjualnya ke kota atau ke 17 4
pasar 7 5
Tidak menerima uang tunai pada waktu penjualan hasil
panen 3 6
Pemerintah tidak perduli terhadap hasil panen petani karena 100
membeli dengan harga yang rendah
Tertipu oleh pembeli
Total
(Sumber : Data Primer, 2012)

9
Senada dengan temuan yang ditunjukkan pada Tabel 3. diatas, ketika
responden ditanyakan tentang siapa yang paling sering membeli hasil panen,
sebanyak 43% responden menyatakan bahwa tengkulak adalah pembeli
yang paling sering membeli hasil panen dan juga sebesar 43% responden
menyatakan pemilik penggilingan padi atau pemilik pengolahan hasil panen
merupakan pembeli yang paling sering membeli hasil panen. Dan hanya
14%
responden yang menyatakan bahwa pembeli besar dari pasar di kota yang
merupakan pembeli hasil panen.
Untuk mengetahui kontribusi lembaga pembiayaan formal dan
informal pada sektor pertanian di Kabupaten Bogor, responden ditanyakan
mengenai bagaimana mereka mendapatkan modal untuk membiayai
penanaman dalam satu musim. Sebesar 29% responden menyatakan
memakai tabungan sendiri, 24% responden menyatakan bahwa mereka
meminjam ke tengkulak, 19% responden meminjam ke teman/tetangga,
17% pinjam ke toko pertanian, 6% responden menjual hasil pertanian
sebelum panen, dan hanya 5% pinjam ke
Bank atau Koperasi. Dari hasil tersebut diperoleh informasi bahwa 60%
petani mendapatkan modal dari sumber informal. Hasil ini sejalan dengan
temuan dari Aburaida (2011) yang menyatakan bahwa di area pedesaan
Sudan, petani kecil lebih senang dengan institusi keuangan informal dengan
alasan: hubungan yang lebih erat dengan pemberi pinjaman, elastisitas
waktu pembayaran dan kondisi sosial petani. Selain itu, adanya keterbatasan
petani untuk mengakses sumber keuangan formal. Tingginya margin
keuntungan yang diinginkan oleh perbankan dan tidak adanya jaminan serta
batas waktu yang singkat adalah beberapa alasan petani tidak menggunakan
sumber pembiayaan formal (Aburaida, 2011).
Untuk mendapatkan pembiayaan dari sumber formal, seperti
Perbankan atau Koperasi, biasanya diperlukan jaminan (collateral). Ketika
responden ditanyakan mengenai jaminan apa yang akan diserahkan untuk
meminjam uang, sebesar 52% responden menyatakan tidak ada jaminan
sama sekali, sedangkan 43% responden menawarkan jaminan diri
pribadi/nama baik
dan hanya 5% responden yang menyatakan memberikan jaminan barang
berharga. Hal ini senada dengan penelitian Aburaida (2011) dan Kaleem
(2008) yang menemukan bahwa tipe jaminan yang diserahkan sebagian
besar petani adalah jaminan diri pribadi. Dari hasil penelitian juga diperoleh
bahwa 56% responden membayar pinjaman mereka setelah panen,
sedangkan 17% dan 27% responden membayar pinjaman mereka setelah
mendapatkan uang dari hasil usaha selain pertanian dan sesuai perjanjian
kapan akan dilunasi. Menurut Aburaida (2011), Petani biasanya meminjam
kepada toko tani, toko hasil pertanian, petani yang lebih mampu, pemilik

10
traktor, dan lain sebagainya, dimana petani berjanji akan membayarnya
setelah panen.
Untuk mengetahui apakah metode pembiayaan syariah dengan akad
Bai Salam dapat digunakan sebagai alternatif untuk pembiayaan sektor
pertanian di Kabupaten Bogor, maka responden diminta menyatakan
pendapatnya tentang cara jual beli Salam.
Tabel 4.
Pendapat Petani terhadap Cara Jual Beli Salam
Pendapat terhadap cara jual beli Salam (%)

Bagus 59
Tidak Bagus 12
Tidak Tahu 20
Total 100
(Sumber : Data Primer, 2012)
Tabel 4. diatas memberikan informasi bahwa, sesuai dengan
kebutuhan petani akan modal awal untuk penanaman, maka opini responden
terhadap cara jual beli Salam menunjukkan sebanyak 59% responden
menyatakan bagus, sisanya sebanyak 29% tidak tahu dan 12% tidak bagus.
Ada berbagai alasan yang diperoleh oleh peneliti yang menyebutkan cara
jual beli Salam bagus, diantaranya petani telah memiliki kepastian pembeli
dan kepastian harga yang telah ditetapkan diawal, serta adanya kepastian
modal diawal penanaman. Argumentasi petani tersebut dikuatkan dengan
pernyataan Wulandari dan Suroso (2004) bahwa untuk aktivitas pemasaran
hasil pertanian, Bai Salam merupakan solusi pembiayaan secara syariah
untuk mengatasi kendala kepastian harga bagi petani.
Argumentasi yang menyebutkan cara jual beli Salam tidak bagus dan
tidak tahu, diantaranya yaitu ketidakpastian kuantitas dan kualitas hasil
panen yang disebabkan ketidakpastian kondisi cuaca dan iklim, hasil panen
yang terlalu sedikit, tidak ingin menjual hasil panen karena untuk digunakan
sebagai keperluan sehari-hari dan telah terbiasa dengan cara pinjam modal
ke tengkulak dan menjual hasil panen kepada tengkulak serta penawaran
harga jual hasil panen yang dianggap reponden dapat memangkas
keuntungan mereka.
Penelitian ini mengungkapkan persentase margin untuk pembeli
hasil panen dengan cara jual beli Salam. Hasil penelitian dapat dilihat pada
Tabel 5. berikut ini.
Tabel 5.
Persentase Margin untuk Pembeli dengan Cara Jual Beli Salam
Persentase Margin (%)

11
0% - 3% 23
4% - 6% 13
7% - 9% 16
10% - 12% 21
13% - 15% 22
>15% 5
Total 100

(Sumber : Data Primer, 2012)


Tabel 5. diatas menunjukkan bahwa sebagian besar petani yaitu
hampir 50% responden bersedia memberikan harga jual dengan persentase
margin untuk pembeli sebesar lebih dari 10%. Hal ini senada dengan
pendapat Mujahidin (2010) yang menyebutkan, biasanya harga pada
pembiayaan dengan akad Bai Salam yang disepakati lebih rendah dari
harga pasar. Namun, dalam penentuan harga Salam, tidak diperbolehkan
menggunakan harga pasar di masa yang akan datang (Al Zaabi, 2010). Hal
tersebut dimaksudkan agar kepentingan
pembeli tidak terabaikan dan petani juga dapat terpenuhi kebutuhannya.
Demi terwujudnya pemenuhan kebutuhan pokok (hjat al dhruriyat)
manusia dalam perspektif maqshid asy syariah, maka cara jual beli Salam
dapat digunakan sebagai pembiayaan syariah pada sektor pertanian.
Menurut Uthman dalam Putri dan Dewi (2011) mengatakan bahwa,
Salam adalah kombinasi dari pembiayaan, produksi dan penjualan. Oleh
karena itu, untuk mendorong terpenuhinya cita-cita luhur untuk
mensejahterakan petani dan meningkatkan produksi hasil pertanian, maka
Perbankan Syariah sebagai lembaga intermediary dapat menyalurkan
pembiayaan dengan cara jual beli Salam dengan kisaran persentase margin
antara 10-15%. Peneliti menyadari, bahwa untuk meningkatkan
kesejahteraan petani dan memberikan
keuntungan bagi Perbankan Syariah sebagai pembeli dalam akad Bai
Salam, maka persentase margin yang disarankan adalah sebesar 12,5%
dengan maksimal jangka waktu pembiayaan adalah 6 (enam) bulan. Namun,
bila jangka waktu pembiayaan untuk hasil pertanian lebih dari 6 (enam)
bulan, maka disarankan dilakukan negosiasi dengan kenaikan persentase
margin
sebesar 0,5% setiap bulan. Misalkan, untuk panen hasil pertanian yang
memerlukan waktu 7 (tujuh) bulan, maka persentase margin yang digunakan
adalah sebesar 13%.
Walaupun, persentase margin sebesar 12,5% tersebut lebih rendah
1,5% dibanding persentase margin yang mengacu pada Margin program
Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk Segmen

12
Ritel yaitu sebesar 14% (syariahmandiri.co.id., 2012). Namun, persentase
margin sebesar 12,5% dengan maksimal jangka waktu pembiayaan adalah 6
(enam) bulan, secara kumulatif diharapkan akan memberikan keuntungan
bagi pihak
Perbankan Syariah. Hal ini tentunya masih memerlukan kajian lebih lanjut
untuk menghitung profitabilitas Perbankan Syariah. Dibawah ini disajikan
simulasi cara jual beli Salam dengan persentase margin untuk pembeli
sebesar 12,5% untuk komoditi Gabah Kering:
Harga pasar Gabah Kering pada saat akad : Rp 4,000,000/ton
Persentase Margin untuk pembeli sebesar 12,5% : Rp 500,000/ton
Harga beli Salam dengan margin sebesar 12,5% : Rp 3,500,000/ton
Dari simulasi diatas, Perbankan Syariah (sebagai pembeli) akan
membayar harga beli gabah kering dari petani sebesar Rp 3.500.000,- per
ton atau lebih rendah 12,5% dari harga pasar gabah kering pada saat akad.
Hal ini dimaksudkan agar kepentingan pihak Perbankan Syariah sebagai
pembeli tidak terabaikan. Pada kondisi ini Perbankan Syariah melakukan
pembayaran kepada petani secara tunai dan penyerahan gabah kering oleh
petani akan dilakukan 4 (empat) bulan kemudian.
Perbankan Syariah sebagai pembeli akan menanggung resiko gagal
serah hasil pertanian dari petani sebagai pihak penjual. Terdapat 3 (tiga)
solusi yang ditawarkan untuk meminimalkan resiko tersebut. Pertama,
apabila petani hanya mampu menyerahkan setengah (1/2) dari perjanjian
quantity transaksi jual beli Salam, maka petani diharuskan mengembalikan
uang kepada pembeli sejumlah dari setengah quantity hasil panen yang tidak
dapat diserahkan. Misalnya perjanjian quanitity adalah 4 ton dengan harga
Rp 3.500.000,- per
ton, pada saat penyerahan hasil panen 4 (empat) bulan kemudian, Petani
hanya menyerahkan sebanyak 2 (dua) ton, maka petani berkewajiban
mengembalikannya dalam bentuk uang sebesar 2 (dua) ton dikali Rp
3.500.000,- per ton adalah Rp 7.000.000,-. Kedua, petani dapat meminta
kepada Perbankan Syariah sebagai pembeli untuk ditunda penyerahan
setengah
quantity yang gagal serah tersebut hingga saat panen berikutnya, dengan
syarat bahwa gagal serah disebabkan gagal panen karena kondisi cuaca
(kekeringan atau banjir) bukan disebabkan karena kelalaian petani dalam
melakukan pemeliharaan tanaman. Ketiga, petani sebagai penjual dapat
membeli kekurangan setengah quantity dari petani lain yang kemudian
diserahkan kepada Perbankan Syariah sebagai pembeli.
Selanjutnya dengan skema akad Bai Salam Paralel, Perbankan
Syariah dapat menjualnya kembali kepada pemilik penggilingan padi
dengan harga jual adalah harga pokok ditambah margin penjualan. Pemilik
penggilingan padi juga akan diuntungkan oleh akad Bai Salam Paralel,

13
karena pemilik penggilingan padi akan mendapatkan jaminan kontinuitas
ketersediaan bahan baku gabah kering. Dalam grafik, Model skema
pembiayaan syariah bagi sektor pertanian dengan menggunakan akad Bai
Salam Paralel dapat dilihat pada Gambar 3. berikut ini.

Penjual Salam (Petani) Pembeli (Penggilingan Padi)

Penyerahan
Komoditas
Jual Beli Salam Jual Beli Komoditas
Bank Syariah
(Pembeli /
Penjual)3.
Gambar
Skema
Akad Bai Salam Paralel
Terdapat perbedaan mendasar antara sistem ijon dengan Bai Salam
ditinjau dari perhitungan margin. Dibawah ini disajikan simulasi
perhitungan margin yang diperoleh oleh petani (penjual) dan perbankan
syariah (pembeli).
Tabel 6.
Simulasi Perhitungan Perbandingan Margin Antara Sistem Ijon
Dengan Bai Salam
Petani (Penjual) Penyedia pembiayaan
Penjual
(Pembeli)
Perhitungan Margin Sistem Bai' Salam Perhitungan Margin Sistem Bai' Salam
Ijon Ijon
Revenue 2.000.000 15.000.000 Revenue 20.000.000 20.000.000
Cost 0 11.000.000 Cost 13.000.000 15.000.000
Margin 2.000.000 4.000.000 Margin 7.000.000 5.000.000

Berdasarkan simulasi pada Tabel 6. diatas, dapat diketahui bahwa di


sisi Petani (penjual), pada sistem jual beli ijon, diperoleh margin hanya
Rp2.000.000,- yang diperoleh dari harga penawaran pada sistem jual beli
ijon, dimana pembeli dengan leluasa membeli hasil panen petani dengan
harga yang sangat rendah karena posisi tawar pembeli yang sangat kuat
dihadapan petani. Sedangkan pada sistem jual beli Salam, petani
memperoleh margin sebesar Rp 4.000.000,-. Hasil ini diperoleh dari selisih
antara pendapatan yaitu Rp 15.000.000,- (harga penawaran dengan jual beli
Salam sebesar Rp 3000,- per kilogram dikali 5 ton atau 5000 kilogram
gabah kering) dengan biaya yang harus dikeluarkan yaitu Rp 11.000.000,-

14
(biaya produksi sekitar Rp 2200 per kilogram dikali hasil panen sebesar 5
ton).
Di sisi penyedia pembiayaan (pembeli), pada sistem jual beli ijon,
diperoleh margin sebesar Rp 7.000.000,- diperoleh dari selisih pendapatan
yaitu Rp 20.000.000,- (Rp 4000 per kilogram dikali 5 ton gabah kering)
dengan biaya Rp 13.000.000,- (untuk membayar petani sebesar Rp
2.000.000,- dan pemeliharaan tanaman sebesar Rp 11.000.000,-).
Sedangkan dengan sistem jual beli Salam, penyedia pembiayaan (pembeli)
mendapatkan margin sebesar
Rp 5.000.000,- diperoleh dari selisih pendapatan Rp 20.000.000,- (Harga
pasar gabah kering Rp 4000,- per kilogram dikali hasil panen gabah kering
sebanyak 5 ton) dengan biaya sebesar Rp 15.000.000,- (Harga penawaran
jual beli Salam Rp 3000 per kilogram dikali 5 ton gabah kering).
Berdasarkan Simulasi pada Tabel 6. diatas, maka dapat diketahui
bahwa manfaat dengan menggunakan akad Bai Salam bagi petani adalah
petani memperoleh margin yang lebih besar yaitu Rp 4.000.000,-
dibandingkan dengan menggunakan sistem ijon yaitu Rp 2.000.000,-. Oleh
karena itu, diharapkan dengan menggunakan akad Bai Salam dapat
meningkatkan kesejateraan petani. Kemudian secara makro akan
meningkatkan daya beli
petani. Di lain sisi, pihak penyedia pembiayaan dengan menggunakan akad
Bai Salam juga memperoleh margin yang menarik yaitu Rp 5.000.000,-,
secara kumulatif akan memberikan keuntungan bagi penyedia pembiayaan.
Keseimbangan (equilibrium) margin antara sistem jual beli ijon
dengan jual beli Salam dapat diperoleh bila penyedia pembiayaan (pembeli)
menaikkan harga penawaran pada sistem jual beli ijon sebesar Rp
4.000.000,-. Simulasi perhitungan perbandingan margin dapat dilihat pada
Tabel 7 berikut ini.
Tabel 7.
Equilibrium Margin Sistem Ijon dengan Bai' Salam bagi Petani
(Penjual) dan Penyedia Pembiayaan (Pembeli)
Petani (Penjual) Penyedia pembiayaan
Penjual
(Pembeli)
Perhitungan Margin Sistem Bai' Salam Perhitungan Margin Sistem Bai' Salam
Ijon Ijon
Revenue 4.000.000 15.000.000 Revenue 20.000.000 20.000.000
Cost 0 11.000.000 Cost 15.000.000 15.000.000
Margin 4.000.000 4.000.000 Margin 5.000.000 5.000.000

Dengan demikian, juga dapat diketahui perbedaan perhitungan


margin bagi petani dan penyedia pembiayaan antara pembiayaan dengan

15
cara pinjam modal dan pembiayaan dengan akad Bai Salam. Dibawah ini
disajikan simulasi perhitungan margin antara pembiayaan dengan pinjam
modal dan pembiayaan dengan akad Bai Salam bagi petani dan penyedia
pembiayaan.
Tabel 8.
Simulasi Perhitungan Perbandingan Margin Antara Pinjam Modal
Dengan Bai Salam
Petani (Penjual) Penyedia pembiayaan
Penjual
(Pembeli)
Perhitungan Margin Sistem Bai' Salam Perhitungan Margin Sistem Bai' Salam
Ijon Ijon
Revenue 20.000.000 15.000.000 Revenue 2.800.000 20.000.000
Cost 13.800.000 11.000.000 Cost 500.000 15.000.000
Margin 6.200.000 4.000.000 Margin 2.300.000 5.000.000

Berdasarkan Tabel 8 diatas, diketahui bahwa pada pembiayaan


pinjam modal, petani memperoleh margin sebesar Rp 6.200.000,- diperoleh
dari selisih antara pendapatan dari hasil menjual hasil panen sebesar Rp
20.000.000,- (Rp 4000 per kilogram dikali 5 ton gabah kering) dengan biaya
penanaman dan membayar bunga sebesar Rp 13.800.000,- (biaya
penanaman Rp 11.000.000,- ditambah membayar bunga dengan persentase
14% sebesar Rp 2.800.000,-). Sedangkan pada pembiayaan akad Bai
Salam, petani mendapatkan margin
sebesar Rp 4,000.000,-. Sehingga dapat dikatakan bahwa di sisi petani,
margin pada pembiayaan dengan akad Bai Salam lebih kecil dibandingkan
dengan margin pada pembiayaan dengan pinjam modal. Oleh karena itu,
sebagian besar petani tentunya akan lebih memilih pinjam modal atau
berbasis hutang sebagai sumber pembiayaan usaha pertanian mereka.
Hal ini sesuai dengan pendapat Akerlof dalam Ross et al. (2002)
dalam Teori Ketidaksimetrisan Informasi, menyatakan bahwa sebuah usaha
yang sehat akan lebih memilih instrumen berbasis hutang, karena pemilik
usaha tidak akan pernah mau berbagi keuntungan dengan orang lain dan
memilih membayar biaya modal. Menguatkan pendapat Akerlof diatas,
Harris dan Raviv dalam Ross et al. (2002) dalam Teori Signaling
menyatakan bahwa, sebuah usaha akan lebih memilih untuk
mengoptimalkan sumber pendanaan berbasis
hutang, dibandingkan dengan menggunakan dana internal atau ekuitas.
Lebih lanjut Harris dan Raviv dalam Ross et al. (2002) menyatakan bahwa
sebuah usaha menggunakan instrumen berbasis hutang untuk membiayai
ekspansi bisnis atau investasi produktif lainnya. Teori ini sesuai untuk usaha
yang diekspektasikan dalam fase tumbuh.

16
Senada dengan pernyataan Akerlof dan Harris dan Raviv diatas,
Myers dalam Ross et al. (2002) dalam Teori Pecking Order, menyatakan
bahwa terdapat hubungan negatif antara arus kas saat ini dan utilisasi
instrumen berbasis hutang, artinya dengan menggunakan instrumen berbasis
hutang maka arus kas usaha saat ini akan semakin meningkat. Lebih lanjut
Myers dalam Ross et al. (2002) berpendapat bahwa, suatu usaha memiliki
preferensi pemilihan sumber pembiayaan berasal dari dana eksternal yaitu
hutang dan ekuitas. Suatu usaha yang membutuhkan dana eksternal
mengindikasikan adanya masalah kesulitan keuangan. Dalam kondisi ini,
posisi tawar (bargaining position) perusahaan menjadi kurang
menguntungkan.
Penelitian ini juga melakukan pengukuran terhadap profitabilitas
dari usaha pertanian di Kabupaten Bogor. Menurut Hyuha et al. (2011),
untuk mengukur profitability petani, diperlukan informasi struktur biaya
(cost structure) yang digunakan. Tabel 9. Menunjukkan informasi rata-rata
biaya produksi pertanian.
Tabel 9.
Rata-rata Biaya Produksi untuk Penanaman dalam Satu Musim
Tipe Biaya (Cost Type) Rata-rata Biaya Persentase (%)
(Rupiah)
Beli Benih dan pestisida 1,219,500 16
Bayar sewa mesin dan alat pertanian 689,000 9
Bayar buruh tani (bagi hasil) / buruh 3,138,000 40
angkut 5,046,500 64
Total Variable Costs (TVC) 2,780,500 36
Total Fixed Costs (TFC) 7,827,000
Total Costs (TVC+TFC)

(Sumber : Data Primer, 2012)


Berdasarkan Tabel 9. diatas, rata-rata biaya yang dibutuhkan oleh
petani untuk penanaman dalam satu musim yaitu sekitar Rp 7.827.000,-.
Dengan komposisi struktur biaya untuk variable costs sebesar 64% dan
untuk fixed costs sebesar 36%. Tingginya komponen fixed costs disebabkan
karena mayoritas petani tidak memiliki lahan sendiri atau mengelola lahan
milik orang lain.
Dari hasil perhitungan total biaya, maka selanjutnya dapat dilakukan
pengukuran profitability. Menurut Langemeier (1996), pengukuran
profitability dapat menjelaskan efisiensi antara sumberdaya yang digunakan
oleh petani untuk menghasilkan keuntungan (profit). Tabel 10. berikut ini
akan menyajikan informasi profitability petani untuk satu siklus atau satu
musim penanaman, khususnya petani di Kabupaten Bogor yang menjadi
objek pada penelitian ini.

17
Tabel 10.
Hasil Perhitungan Profitabilitas Petani di Kabupaten Bogor
Variabel Rupiah
Total Cost (TVC+TFC) 7,827,000
Total Revenue (TR) 10,882,500
Gross Margin (TR-TVC) 5,836,000
Net Farm Income (TR-TC) 3,055,500
Net Return on Investment atau Net Farm Income/Total Cost 39%
(%) 28%
Profit Margin Ratio atau Net Farm Income/Total Revenue(%)

(Sumber : Data Primer, 2012)


Hasil perhitungan profitabilitas petani yang disajikan dalam Tabel
10. Diatas mengindikasikan bahwa rata-rata pendapatan kotor (gross
margin) yang dapat dihasilkan petani di Kabupaten Bogor adalah Rp
5.836.000,- dan rata-rata pendapatan bersih (net farm income) adalah Rp
3.055.500,-. Nilai positif pada net farm income berarti usaha pertanian
menguntungkan (profitable) dan layak untuk dijalankan. Hasil ini
menunjukkan usaha pertanian yang dijalankan oleh petani di Kabupaten
Bogor adalah usaha yang dapat terus hidup (viable enterprises). Net return
on investment yang diperoleh yaitu 39% atau 0,39, mengindikasikan bahwa
setiap Rp 1.000.000,- yang diinvestasikan dalam usaha pertanian dapat
menghasilkan imbal hasil (return) sebesar Rp 390.000,-. Nilai net return on
investment yang dihasilkan ini menunjukkan nilai yang sangat menarik bagi
investor potensial, khususnya perbankan syariah. Sejalan dengan hasil net
return on investment, nilai profit margin ratio juga menunjukkan nilai yang
sangat menarik bagi investor potensial dengan nilai 28%. Sehingga dapat
dikatakan usaha pertanian adalah usaha yang menguntungkan, baik bagi
petani yang menjalankan maupun bagi investor.

18
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan


sebagai berikut :
1. Untuk tujuan identifikasi masalah pembiayaan dan pemasaran yang
dihadapi oleh petani di Kabupaten Bogor, dapat disimpulkan bahwa
mayoritas petani atau 70% responden membutuhkan pembiayaan
untuk pengadaan input pertanian. Sedangkan untuk pemasaran hasil
pertanian, 43% responden menyatakan bahwa tengkulak adalah
pembeli yang paling sering membeli hasil panen. Untuk tujuan
identifikasi masalah produktivitas petani di Kabupaten Bogor, dapat
disimpulkan bahwa kualitas benih, pupuk dan pestisida yang tidak
bagus merupakan masalah utama (rangking pertama) yang
menyebabkan hasil panen rendah.
2. Untuk tujuan mengetahui kontribusi lembaga pembiayaan formal
dan informal pada sektor pertanian di Kabupaten Bogor, dapat
disimpulkan bahwa sebanyak 60% petani mendapatkan modal dari
sumber informal.
3. Mayoritas petani (59% responden) menyatakan cara jual beli Salam
bagus. Sehingga disimpulkan bahwa metode pembiayaan syariah
dengan akad Bai Salam dapat digunakan sebagai alternatif untuk
pembiayaan sektor pertanian di Kabupaten Bogor.
4. Untuk tujuan pengukuran profitabilitas usaha pertanian di Kabupaten
Bogor. Dapat disimpulkan bahwa, rata-rata pendapatan bersih petani
(net farm income) adalah Rp3.055.500,-. Dengan nilai Net Return on
Investment (Net ROI) yang diperoleh yaitu 39%, ini menunjukkan
nilai yang sangat menarik bagi investor potensial, khususnya
perbankan syariah sebagai penyedia pembiayaan syariah.
5. Dari hasil analisis regresi dapat disimpulkan bahwa Sikap, Norma
Subjektif dan Harga dari akad Bai Salam relatif terhadap sistem ijon
berpengaruh signifikan positif terhadap Penerimaan untuk
menggunakan akad Bai Salam. Sedangkan Harga dari akad Bai
Salam relatif terhadap pinjam modal tidak berpengaruh terhadap
Penerimaan untuk menggunakan akad Bai Salam.
6. Nilai Koefisien Determinasi (nilai Nagelkerkes R2) sebesar 0,632
yang berarti variabilitas variabel terikat yang dapat dijelaskan oleh
variabilitas variabel bebas adalah sebesar 63,2% dan sisanya sebesar
36,8% dijelaskan oleh faktor lain. Dengan melihat matriks
klasifikasi, maka dapat dikatakan persamaan pada model ini
memiliki tingkat ketepatan peramalan sebesar 86%.

19
SARAN

Berdasarkan analisis dan pembahasan serta kesimpulan yang telah


dikemukakan diatas, maka saran atau rekomendasi dari penelitian ini yang
mungkin dapat ditindaklanjuti adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa mayoritas petani
memerlukan pembiayaan untuk usaha pertanian mereka, dapat
menjadi perhatian dan pertimbangan dari perbankan syariah atau
pemerintah melalui berbagai program pembiayaan. Hal ini tentunya
sudah banyak dilakukan, namun demi peningkatan produktivitas dan
kesejahteraan petani, disarankan agar program pembiayaan adalah
program yang pro kepada petani, salah satunya pembiayaan dengan
akad Bai Salam.
2. Hasil penelitian ini menemukan bahwa mayoritas petani menyatakan
akad Bai Salam bagus. Walaupun demikian, diperlukan adanya
sosialisasi kepada petani bahwa pembiayaan dengan cara jual beli
Salam memberikan konsekuensi pelunasan hasil komoditas
pertanian yang harus diserahkan sesuai dengan jumlah dan kualitas
yang telah disepakati diawal kontrak dan penyerahan hasil agar
sesuai dengan tempo penyerahan yang telah disepakati.
3. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa profitabilitas yang
dihasilkan dari usaha pertanian di Kabupaten Bogor sudah layak dan
menguntungkan (profitable), peneliti menyarankan agar dapat
dipertahankan oleh petani. Walaupun demikian, peningkatan
kuantitas dan kualitas masih sangat diperlukan untuk tujuan yang
lebih luas, misalnya untuk tujuan ketahanan pangan nasional.
4. Berdasarkan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa hampir 50%
petani bersedia memberikan harga jual dengan persentase margin
untuk pembeli yaitu lebih dari 10%, dapat menjadi perhatian
perbankan syariah. Oleh karena itu, disarankan kisaran persentase
margin yaitu antara 10% - 15%. Namun, untuk mencapai tujuan
bersama, peneliti menyarankan pada persentase sebesar 12,5%
dengan maksimal jangka waktu pembiayaan adalah 6 (enam) bulan.
5. Sikap dan Norma Subjektif merupakan faktor utama yang
mempengaruhi penerimaan petani untuk menggunakan akad Bai
Salam, hasil ini menunjukkan bahwa penelitian ini mengaplikasikan
model klasik Theory of Reasoned Action (TRA). Sehingga dapat
disarankan penggunaan model TRA untuk riset-riset akad keuangan
syariah lainnya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa,
variabel harga dari akad Bai Salam relatif terhadap sistem ijon
berpengaruh signifikan positif terhadap penerimaan untuk
menggunakan akad Bai Salam, dan variabel harga dari akad Bai

20
Salam relatif terhadap pinjam modal tidak berpengaruh terhadap
penerimaan untuk menggunakan akad Bai Salam, sehingga
disarankan agar petani lebih memilih akad Bai Salam sebagai
pembiayaan bagi usaha pertanian mereka, karena lebih
menguntungkan daripada dengan sistem ijon dan tidak akan terjerat
oleh sistem bunga pada pinjam modal.

21
LAMPIRAN

A. Ilustrasi Akuntansi Salam Paralel


Transaksi salam pertama.
PT. Sinar Kencana, membutuhkan 100 ton biji jagung hibryda untuk
keperluan ekspor 6 bulan yang akan datang. Pada tanggal 1 Juni 2014, PT.
Sinar Kencana melakukan pembelian jagung dengan skema salam kepada
Bank Syariah Makmur. Adapun informasi tentang pembelian tersebut
adalah sebagai berikut:

Spesifikasi barang : Biji jagung manis hybrida kualitas no 2


Kuantitas : 100 ton
Harga : Rp 300.000.000 ( Rp 3.000.000 per ton)
Waktu penyerahan : dua tahap setiap tiga bulan sebanyak 50 ton
(2 September dan 2 Desember 2014)
Syarat pembayaran : dilunasi pada saat akad ditandatangani
Transaksi salam kedua.
Untuk pengadaan produk salam sebagaimana diinginkan oleh PT. Sinar
Kencana, bank syariah selanjutnya pada tanggal 2 Juni 2014 mengadakan
transaksi salam dengan petani yang bergabung dalam KUD. Tunas Mulia
dengan kesepakatan sebagai berikut:
Spesifikasi barang : Biji jagung manis hybrida kualitas kualitas
no 2
Kuantitas : 100 ton
Harga : Rp 550.000.000 (Rp 5.500.000 per ton)
Penyerahan modal : uang tunai sejumlah Rp 550.000.000
Waktu penyerahan barang : dua tahap setiap tiga bulan sebanyak 50 ton
(1 September dan 1 Desember 2014)
Agunan : Tanah dan kendaraan senilai Rp
300.000.000
Syarat pembayaran : dilunasi pada saat akad ditandatangani

22
Denda kegagalan penyerahan karena kelalaian atau kesengajaan: 2% dari
nilai produk yang belum diserahkan

Penjurnalan Transaksi Salam Paralel

A. Penerimaan dana dari nasabah pembeli.


Pada saat akad disepakati, pembeli disyaratkan untuk sudah
membayar produk salam secara lunas. Berdasarkan PSAK 103
disebutkan bahwa kewajiban salam diakui pada saat penjual
menerima modal usaha sebesar modal usaha salam yang diterima.
Berdasarkan kasus diatas, pada saat bank syariah Makmur
melakukan akad salam dengan PT. Sinar Kencana dan menerima
dana salam, maka jurnal transaksi tersebut adalah sebagai berikut:
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
5/6/14 Kas 300.000.000
Utang Salam 300.000.000

Jurnal untuk bagian Pembeli (PT Sinar Kencana):


Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
5/6/14 Piutang Salam 300.000.000
Kas 300.000.000

B. Penyerahan modal salam dari bank syariah kepada pemasok


atau petani.
Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 11 disebutkan bahwa piutang
salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan
kepada penjual. Modal usaha salam dalam bentuk kas diukur sebesar
jumlah yang dibayarkan (PSAK no 103 paragraf 12).
Misalkan pada tanggal 1 Juni, bank syariah menyerahkan modal
berupa uang tunai sebesar Rp 550.000.000,- ke rekening KUD di
bank maka jurnal saat penyerahan modal salam oleh bank syariah
kepada KUD adalah sebagai berikut:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

23
6/6/14 Piutang Salam 550.000.000
Kas/nasabah penjual- 550.000.000
KUD

C. Penerimaan barang pesanan dari pemasok atau petani.


Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 16 disebutkan bahwa barang
pesanan yang diterima diakui sebagai persediaan. Adapun waktu
penerimaan produk salam dari pemasok atau petani, dilakukan sesuai
dengan tanggal kesepakatan. Pada saat penerimaan produk salam,
sangat mungkin terjadi perbedaan antara kualitas dan nilai wajar
barang dengan kualitas dan nilai kontrak. Perbedaan tersebut antara
lain berupa;
Kualitas barang dan nilai wajar barang, sama dengan nilai
kontrak
Kualitas barang lebih rendah dan nilai wajar barang lebih rendah
dari nilai kontrak
Kualitas barang dan nilai wajar barang, lebih tinggi dari nilai
kontrak
Berdasarkan PSAK 103, disebutkan bahwa jika barang pesanan
sesuai dengan akad, maka dinilai sesuai dengan nilai yang
disepakati.
Misalkan pada tanggal 1 September 2014 dan 1 Desember 2014,
KUD menyerahkan masing-masing 50 ton biji jagung manis
hybrida kualitas terbaik sebagaimana yang disepakati dalam
perjanjian salam. Adapun nilai wajar produk tersebut pada saat
penyerahan sama dengan nilai kontrak yaitu Rp 275.000.000 (50 ton
x Rp 5.500.000 per ton). Jurnal untuk saat penyerahan produk salam
dari KUD ke bank syariah adalah sebagai berikut: Pihak Bank
Syariah Makmur
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/9/14 Aset salam 275.000.000
Piutang Salam 275.000.000

(Penyerahan tahap

24
pertama sebanyak 50 ton
biji jagung kualitas
terbaik dengan kualitas
barang dan nilai wajar
barang sama dengan
nilai kontrak)
1/12/14 Aset Salam 275.000.000
Piutang Salam 275.000.000

(Penyerahan tahap kedua


sebanyak 50 ton biji
jagung kualitas terbaik
dengan kualitas barang
dan nilai wajar barang
sama dengan nilai
kontrak)

D. Kualitas barang lebih rendah dan nilai wajar barang lebih


rendah dari nilai kontrak.
Misalkan pada tanggal 1 September 2014, KUD hanya bisa
menyerahkan 50 ton biji jagung manis hybrida kualitas rendah
Adapun nilai wajar produk tersebut adalah Rp 250.000.000 (50 ton x
Rp 5.000.000). Jurnal untuk saat penyerahan produk salam dari KUD
ke bank syariah makmur adalah sebagai berikut: Pihak Pembeli.
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/9/14 Aset Salam 250.000.000
Kerugian 25.000.000
Piutang Salam 275.000.000

Jurnal Untuk bagian Penjual (Bank Syariah Makmur);


Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/9/14 Utang Salam 275.000.000
Penjualan 275.000.000

E. Kualitas barang dan nilai wajar barang, lebih tinggi dari nilai
kontrak.
Misalkan pada tanggal 1 September 2014, KUD menyerahkan 50 ton
biji jagung manis hybrida kualitas Super Adapun nilai wajar produk

25
tersebut adalah Rp 287.500.000 (50 ton x Rp 5.750.000). Jurnal saat
penyerahan produk salam dari KUD ke bank syariah Makmur adalah
sebagai berikut: Pihak Pembeli
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/9/14 Aset Salam 275.000.000
Piutang Salam 275.000.000

Jurnal Untuk bagian Penjual (Bank Syariah Makmur);


Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/9/14 Utang Salam 275.000.000
Penjualan 275.000.000

F. Pembeli membatalkan pembelian barang yang belum dikirim.


Berdasarkan PSAK 103, disebutkan bahwa jika akad salam dibatalkan
sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam berubah menjadi piutang
yang harus dilunasi oleh penjual sebesar bagian yang tidak dapat
dipenuhi. Dengan demikian, jika pembeli membatalkan pembelian
barang yang belum dikirim, maka diperlukan jurnal untuk mengakui
pembatalan tersebut.
Dari kasus di atas, KUD gagal menyerahkan sisa produk salam yang
disepakati dan bank memilih untuk membatalkan pembelian barang
yang belum dikirim, maka jurnal untuk mengakui pembatalan tersebut
adalah sebagai berikut: Pihak Pembeli.
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/12/14 Piutang Lain-lain 275.000.000
Piutang Salam 275.000.000

Jurnal Untuk Pihak Penjual (Bank Syariah Makmur).


Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/12/14 Utang Salam 275.000.000
Utang Lain-lain 275.000.000

Selanjutnya untuk melunasi piutang KUD, terdapat beberapa


alternatif yaitu kualitas rendah dilunasi dengan dana kas KUD,

26
kualitas terbaik dilunasi dengan penjualan jaminan. Adapun jurnalnya
adalah sebagai berikut: Pihak Pembeli.
Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
Kas 275.000.000
Piutang KUD 275.000.000

Jurnal Untuk Pihak Penjual (Bank Syariah Makmur);


Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
Utang Lain-lain 275.000.000
Kas 275.000.00

G. Pengenaan denda kepada penjual yang gagal menyerahkan


produk salam.
Misalkan dari kasus diatas KUD gagal menyerahkan produk salam
kepada bank syariah Makmur senilai Rp 275.000.000 pada waktu
jatuh tempo. Sesuai dengan kesepakatan KUD dikenakan denda 2%
dari nilai produk yang belum direalisir atau sebesar Rp 5.500.000.
Adapun jurnal penerimaan denda adalah sebagai berikut:
Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/12/14 Dana Kebajikan-Kas 5.500.000
Dana Kebajikan- 5.500.00
denda

Jurnal Untuk Pihak Penjual (Bank Syariah Makmur);


Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
1/12/14 Kerugian 5.500.000
Kas 5.500.000

Penyajian
Berdasarkan PSAK no 103 paragraf 20 s/d 22, penyajian rekening yang
terkait transaksi salam dan salam paralel antara lain:
a. Piutang salam, yang timbul karena pemberian modal usaha salam oleh
bank syariah.

27
b. Piutang, yang timbul karena penjual tidak dapat memenuhi
kewajibannya dalam transaksi salam. Rekening ini disajikan terpisah
dari piutang salam.
c. Hutang salam, timbul karena bank menjadi penjual produk salam yang
dipesan oleh nasabah pembeli.

Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkap dalam catatan atas laporan keuangan tentang
transaksi salam dan salam paralel antara lain:
a. Rincian piutang salam (kepada pemasok) dan hutang salam (kepada
pembeli) berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis valuta, kualitas
piutang dan penyisihan kerugian piutang salam.
b. Piutang salam dan hutang salam yang memiliki hubungan istimewa
c. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri oleh bank
maupun yang dibiayai secara bersama-sama dengan bank atau pihak
lain
d. Jenis dan kuantitas barang pesanan.

28
KEPUSTAKAAN

Aburaida, Khalid. M. Mustafa. 2011. Rural Finance As a Mechanism For


Poverty Alleviation in Sudan, With an Emphasis on Salam Mode.
European Scientific Journal. December Edition Vol. 7 No.26.
Ajzen, Icek. 1991. The Theory of Planned Behavior. University of
Massachusets. AcademicPress, Inc.
Amin, Hanudin et al. 2010. Determinants of Qardhul Hassan Financing
Acceptance Among Malaysian Bank Customers: An Empirical
Analysis. International Journal of Business and Society Vol 11. No. 1
2010 p. 1-
Amin, Hanudin dan Rosita Chong. 2011. Determinants for Ar-Rahnu Usage
Intentions : An Empirical Investigation. African Journal of Business
Management Vol. 5 (20), pp. 8181-8191.
Anugrah, Iwan S. 2009. Mendudukkan Komoditas Mangga Sebagai
Unggulan Daerah Dalam Suatu Kebijakan Sistem Agribisnis. Analisis
Kebijakan Pertanian. Vol. 7 No. 2. Juni 2009: 189-211.
Bachrein, Saeful. 2006. Penelitian Sistem Usaha Pertanian di Indonesia.
Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 4 No. 2 : 109-130. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Prospek dan Arah
Pengembangan Agribisnis : Tinjauan Aspek Kesesuaian Lahan.
Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta.
Beik, Irfan Syauqi dan Didin Hafiduddin. 2008. Enhancing The Role of
Sukuk on Agriculture Sector Financing in Indonesia : Proposed Model.
Islamic Research and Training Institute- Islamic Development Bank.
Saudi Arabia.
Bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/09/07/17260926/Beras.Impor.Thail
an .akan.Masuk. Oktober. Diakses pada tanggal 17 Maret 2012.
Bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/08/17023953/Impor.Say
ur n.Meningkat. Diakses pada tanggal 17 Maret 2012.
Blue, C.L. 1995. The Predictive Capacity Of The Theory Of Reasoned
Action and The Theory Of Planned Behavior In Exercise Behavior: An
Integrated Literature Review. Research in Nursing & Health, 18,
105 -
Cooper, Donald R dan Pamela S. Schindler. 2008. Business Research
Methods. Tenth Edition. Mc Graw Hill. Fajarningtyas, Liza et al. 2008.
Pemodelan Sistem Pembiayaan Syariah di Bank Syariah dengan
Pendekatan Metodologi Sistem Dinamik. Departemen Teknik
Industri. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Aplikasi IBM
SPSS versi 19. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Semarang.

29
Hyuha, T., James O. B., Julius T., dan Joseph. M. 2011. Profitability
Analysis of Small Scale Aquaculture Enterprises in Central Uganda.
International Journal of Fisheries and Aquculture. Vol. 2 (15). pp.
271- 278.
Kaleem, Ahmad. 2008. Application of Islamic Banking Instrument (Bay
Salam) For Agriculture Financing in Pakistan. British Food Journal,
Vol. 111 Issue : 3, pp.275 - 292.
Kristiyanto, Rahadi. 2008. Konsep Pembiayaan Dengan Prinsip Syariah
dan Aspek Hukum dalam Pemberian Pembiayaan Pada PT BRI, Tbk.
Kantor Cabang Semarang. Tesis. Univeritas Dipenogoro. Semarang.
Kurnia, Fahmi. 2009. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pembiayaan Syariah pada Sektor Agribisnis. Skripsi. Institut Pertanian
Bogor. Bogor. Lada, S., Tanakinjal, H. G. dan Amin, H. 2009.
Predicting Intention to Choose Ha1al Products Using Theory Of
Reasoned Action. International Journal of Islamic and Middle Eastern
Finance and Management, Vol 2 Issue 1, p. 66-76.
Langemeier, M. R. 1996. Financial Performance Measures For Kansan
Beef Cow Farms. Cattlemens Day. 1996. Muhammad. 2009. Label
Halal dan Spiritualitas Bisnis : Interpretasi atas Bisnis Home
Industry. Jurnal Salam Volume 12 No. 2. Mujahidin, Akhmad.
2010. Penguatan Usaha Ekonomi Umat Melalui Perbankan
Syariah.Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10. 1-4
November 2010.
Putri, M. Andhita dan Miranti Kartika Dewi. 2011. Developing Salam
Based Financing Product : Indonesian Islamic Rural Bank. Business and
Management Quarterly Review. 2(4). 103-112. 2011.
Rahim, Fitriah AB dan Hanudin Amin. 2011. Determinants of Islamic
Insurance Acceptance :An Empirical Analysis. International Journal
of Business and Society, Vol 12 No. 2 2011 p. 37-54.

30