Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

PINDAH PANAS

ACARA I
PENGARUH KALOR TERHADAP SUHU ZAT

Disusun Oleh

Nama : Zohratul Fitri


NIM : J1B 015102
Kelompok :V
Nama Co.Assisten : Sas putra

LABORATORIUM TEKNIK BIOPROSES


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Untuk mendeteksi pengaruh kalor terhadap benda-benda yang dapat menghantar panas
(kalor) kami melakukan praktikum tentang kalor, perpindahan kalor, wujud zat, dan perubahan
kimia serta fisika. Panas (kalor) adalah suatu bentuk energi yang dipindahkan melalui perbedaan
suhu. Panas berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah.
Suhu adalah ukuran dari panas suatu zat. Semakin panas suatu zat maka suhunya akan
tinggi. Sedangkan semakin dingin suhunya maka suhunya akan rendah. Perpindahan kalor ada 3
yaitu, koduksi, konveksi, dan radiasi. Pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat yaitu
perubahan termodinamika dari satu fase benda ke keadaan wujud zat lain. Perubahan wujud zat
benda sendiri digolongkan menjadi 3 jenis yaitu padat, gas dan cair.
Berbicara mengenai kalor, maka sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai energi,
karena kalor itu sendiri merupakan salah satu bentuk energi. Sebagai energi, kalor dapat
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Energi
bersifat kekal, energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi energi dapat
berubah bentuk atau berpindah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Oleh karena itu perlu
dilakukan praktikum mengenai pengaruh kalor terhadap suhu zat.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat menentukan pengaruh kalor
terhadap perubahan suhu benda dan menemukan pengaruh massa benda terhadap perubahan
suhu jika suatu zat mendapatkan kalor.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kalor merupakan salah satu bentuk energi, maka kalor merupakan besaran fisika yang
memiliki satuan. Kalor tidak dapat terlihat oleh mata, tetapi pengaruhnya dapat kita rasakan atau
kita ketahui. Pengukuran-pengukuran kalor sangat berkaitan dengan kalor jenis zat. Pengukuran
kalor menggunakan alat yang dinamakan kalorimeter. Ada pula yang menyatakan kalorimeter
adalah alat untuk menentukan kalor jenis dari suatu zat. Kalorimeter teerdiri dari sebuah bejana
logam yang kalor jenisnya sudah diketahui (Tazi, 2011).
Pengaruh kalor terhadap benda berbeda-beda sesuai dengan benda tersebut. Besarnya
kalor yang diterima atau dilepaskan oleh sebuah benda bergantung pada beberapa faktor. Antara
lain massa benda, jenis benda, dan perubahan suhu pada benda tersebut. Hubungan kalor dengan
ketiga faktor tersebut adalah: kalor yang diperlukan sebanding dengan massa benda. Semakin
besar massa benda semakin besar kalor yang diperlukan, kalor yang diperlukan sebanding
dengan kalor jenis benda. Untuk jenis benda yang berbeda tetapi massanya sama, kalor yang
diperlukan untuk menaikkan suhu yang sama ternyata besarnya berbeda bergantung pada jenis
bendanya, kalor yang diberikan sebanding dengan kenaikan suhu benda. Untuk jenis dan massa
benda yang sama, jumlah kalor yang diberikan besarnya mempengaruhi kenaikan suhu
benda. Makin banyak kalor yang diberikan kepada benda, semakin besar kenaikan suhu benda
(Puji Dwiyantoro, 2012).
Banyaknya kalor (Q) yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda bergantung pada
massa benda(m), kalor jenis benda ( c ), dan perubahan suhu (T). dapat dirumuskan :
Q = m.c.T
Keterangan:
Q = kalor yang diperlukan, satuannya Joule (J)
m = massa benda, satuannya Kg
C = kalor jenis benda, satuannya J/KgC atau J/KgK
t = perubahan suhu, satuannya C atau K (Pantur, 2010).
Kalor dapat berpindah karena adanya perbedaan suhu. Kalor pada suatu benda dapat
berpindah dari suatu benda yang suhunya tinggi ke benda lain yang suhunya rendah. Fenomena
perpindahan kalor ini dapat dengan mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada
saat memasak, api yang mengenai bagian dasar panci akan menyebar ke seluruh bagian
permukaan panci dan bahan makanan yang ada di dalamnya. Contoh lainnya yaitu kalor (panas)
matahari yang sampai ke permukaan bumi. Berbicara mengenai perpindahan kalor, maka kita
mengenal setidaknya ada tiga cara terjadinya perpindahan kalor, yaitu melalui cara konduksi,
cara konveksi, dan cara radiasi (Muslim, 2006).
Suhu merupakan ukuran atau derajat panas atau dinginnya suatu benda atau sistem. Suhu
didefinisikan sebagai suatu besaran fisika yang dimiliki bersama antara dua benda atau lebih
yang berada dalam kesetimbangan termal. Suatu benda yang dalam keadaan panas dikatakan
memiliki suhu yang tinggi, dan sebaliknya, suatu benda yang dalam keadaan dingin dikatakan
memiliki suhu yang rendah. Perubahan suhu benda, baik menjadi lebih panas atau menjadi lebih
dingin biasanya diikuti dengan perubahan bentuk atau wujudnya. Misalnya, perubahan wujud air
menjadi es batu atau uap air karena pengaruh panas atau dingin. Selain perubahan wujud yang
dialami benda, perubahan panas juga dapat menyebabkan pemuaian. Pemuaian merupakan
peristiwa perubahan ukuran (penambahan panjang, luas, atau volume) suatu benda karena
pengaruh suhu. Pemuaian pada zat padat bisa berupa pemuaian panjang, pemuaian luas, maupun
pemuaian volume. Pemuaian pada zat cair dan pemuaian pada gas hanya terjadi pemuaian
volume (Ramliyana, 2013).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Desember 2016 di Laboratorium Teknik
Bioproses Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.

3.2 Alat dan Bahan Praktikum


Adapun alat-alat yang digunakan yaitu gelas beker, pemanas/kompor listrik, stopwatch,
termometer, neraca, kaki tiga, dan statif.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu air dan minyak.

3.3 Prosedur Kerja

Disiapkan alat dan bahan

Ditimbang berat kosong gelas beker Diamati dan Dicatat

Dituang 450 ml air kedalam gelas beker Dicatat suhu awal


air

Ditimbang berat air dalam gelas beker

Dinyalakan kompor listrik dan diatur


pada mode 600 watt

Dituang 450 ml air dalam panci letakkan


diatas kompor listrik

Diukur suhu air setiap 1 menit Diamati dan Dicatat

Diamati kenaikan suhu air hingga suhu Diamati dan Dicatat


air mencapai 90C

Diulangi langkah 2 hingga 6 untuk


volume air dan minyak 250 ml
Gambar 1. Diagram alir pemberian kalor terhadap minyak dan air
Langkah Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditimbang berat kosong gelas beker, lalu dituang 450 ml air ke dalam gelas beker dan
dicatat suhu awal air.
3. Ditimbang berat air dalam gelas beker.
4. Dinyalakan kompor listrik dan diatur pada mode 600 Watt.
5. Dituang 450 ml air dalam panci dan diletakkan diatas kompor listrik.
6. Diukur suhu air setiap 1 menit. Diamati kenaikan suhu air hingga suhu air mencapai
90oC.
7. Diulangi langkah 2 hingga 6 untuk volume air dan minyak masing-masing 250 ml.
Dimasukkan data yang diperoleh.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Pemberian kalor Terhadap Minyak Dan Air
Bahan Massa (g) Menit-ke Suhu Perubahan
(oC) suhu (oC)
0 27
1 30
2 34
Air 3 41
(250 ml) 24,68 4 27 45
5 51
6 56
7 62
0 29
1 31
2 32
Air 3 34
(450 ml) 444,74 4 29 36
5 40
6 44
7 48
0 29
1 36
2 47
Minyak 204,4 3 62
(250 ml) 4 29 72
5 91
6 15
7 115
4.2 Pembahasan
Kalor adalah salah satu bentuk energi yang dapat berpindah dari satu benda ke benda
lainnya karena adanya perbedaan suhu. Ketika dua benda yang memiliki perbedaan suhu
bertemu maka kalor akan mengalir (berpindah) dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang
bersuhu rendah. Kalor merupakan salah satu bentuk energi maka satuan kalor pun sama dengan
satuan energi, yaitu joule atau kalori. Kalor dapat menaikkan suhu suatu zat dan dapat mengubah
wujud zat. Benda yang mendapat kalor suhunya naik, sedang yang melepas kalor suhunya turun.
Kalor yang digunakan untuk mengubah wujud zat dinamakan kalor laten dan kalor uap. Kalor
laten adalah banyaknya kalor yang diperlukan dan dilepaskan oleh 1 kg atau 1 g zat agar dapat
mengubah wujudnya sedangkan kalor uap yaitu banyaknya kalor per satuan massa yang
diberikan pada zat di titik didihnya agar wujud zat cair berubah menjadi wujud gas seluruhnya
pada titik didih tersebut. Menguap dan melebur adalah peristiwa perubahan wujud yang
membutuhkan kalor.
Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat. Secara umum untuk
mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan mengukur suhu benda
tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga
sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung sedikit. Besar kecilnya kalor yang
dibutuhkan suatu benda (zat) bergantung pada 3 faktor yaitu:
Massa zat
Jenis zat (kalor jenis)
Perubahan suhu
Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda yang menyebabkan benda
tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor berbeda dengan suhu, karena suhu adalah
ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik
yang diserap maupun dilepaskan oleh suatu benda. Jika suatu benda menerima / melepaskan
kalor maka suhu benda itu akan naik/turun atau wujud benda berubah.
Banyaknya kalor (Q) yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda bergantung pada
massa benda(m), kalor jenis benda ( c ), dan perubahan suhu (T). dapat dirumuskan :
Q = m.c.T
Keterangan:
Q = kalor yang diperlukan, satuannya Joule (J)
m = massa benda, satuannya Kg
C = kalor jenis benda, satuannya J/KgC atau J/KgK
t = perubahan suhu, satuannya C atau K
Suatu zat apabila diberi kalor terus-menerus dan mencapai suhu maksimum, maka zat
akan mengalami perubahan wujud. Peristiwa ini juga berlaku jika suatu zat melepaskan kalor
terus-menerus dan mencapai suhu minimumnya. Oleh karena itu, selain kalor dapat digunakan
untuk mengubah suhu zat, juga dapat digunakan untuk mengubah wujud zat.
Pada percobaan terdapat grafik seperti:

150

100
suhu C

Air 250 ml
50
Minyak 250
0 ml
(C) 1 3 5 7
waktu(menit)

Grafik Air 250 ml dan Minyak 450 ml

Chart Title
80
60
suhu C

40
Air 250 ml
20
Air 450 ml
0
(C) 1 3 5 7
waktu(menit)

Grafik Air 250 ml dan Air 450 ml


Grafik air 250 ml dan minyak 250 ml serta air 250 ml dan air 450 ml menunjukkan bahwa
pada percobaan 1 kalor terus meningkat linear dan percobaan kedua kalor mengalami penurunan
dan peningatan. Pada minyak yang dipanaskan kalor nya akan lebih meningkat dibandingkan
dengan air. Kalor dapat berpindah karena adanya perbedaan suhu. Sehingga ada peningkatan
yang sangat besar pada saat dipanaskan begitujuga dengan air.
Kalor merupakan suatu bentuk energi yang dapat berpindah dari benda yang suhunya lebih
tinggi menuju benda yang suhunya lebih rendah ketika bersinggungan. Kalor berbeda dengan
suhu. Kalor merupakan suatu bentuk energi, sedangkan suhu merupakan derajat panas suatu
benda. Besarnya kalor yang diterima atau dilepaskan suatu benda pada kenyataannya sebanding
dengan kenaikan atau penurunan suhu benda, sehingga terkadang ada yang menganggapnya
sama. Air yang dipanaskan akan mendapat energi dari api yang menyala di bawah air
tersebut. energi yang dihasilkan oleh nyala api akan berpindah ke air dan beruba h
menjadi panas dalam air. Bentuk energi yang berpindah karena perbedaan suhu disebut
sebagai energi kalor. Perpindahan energi kalor selalu terjadi dari benda bersuhu tinggi
ke benda yang bersuhu rendah. Tidak hanya zat cair yang dapat melepas dan menerima
kalor, semua benda dapat melepas dan menerima kalor. Benda -benda yang bersuhu
lebih tinggi dari lingkungannya akan cenderung melepaskan kalor, demikian juga
sebaliknya benda- benda yang bersuhu lebih rendah dari lingkungannya akan cenderung
menerima kalor untuk menstabilkan kondisinya dengan lingkungan di sekitarnya.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan
antara lain: Kalor dapat berpindah karena adanya perbedaan suhu. Kalor pada suatu benda dapat
berpindah dari suatu benda yang suhunya tinggi ke benda lain yang suhunya rendah. Rumus dari
kalor adalah Q = m.c.T.
Pada pengamatan setiap bahan seperti air dan minyak mengalami peningkatan suhu setelah
dipanaskan. Peningkatan suhu disebabkan karena adanya perpindahan energi dari bersuhu tinggi
menuju ke rendah begitu sebaliknya.

5.2 Saran

Dalam melaksanakan praktikum sebaiknya harus berhati-hati dan harus teliti terhadap
pengukuran suhu.
DAFTAR PUSTAKA

Muslim, dkk. 2006. Konsep Dasar Fisika. UPI Press: Bandung

Pantur, Silaban. 2010. fisika.jilid 1. Erlangga: Bandung

Puji Dwiyantoro. 2012. fisika itu mudah dan menyenangkan. Cerdas Interaktif: Cet.2.Jakarta

Ramliyana. 2013. Perubahan Wujud Pada Benda.


http://ramliyana-fisika.blogspot.com (Diakses 05 Januari 2017).

Tazi, Imam dan Suliastiana. 2011. Uji Kalor Bahan Bakar Campuran Bioetanol dan Minyak
Goreng Bekas. Universitas Brawijaya Malang. Jurnal Neutrino Vol.3 No.2 : 163-174.

LAPORAN PRAKTIKUM
PINDAH PANAS
ACARA II
MENENTUKAN KAPASITAS KALORIMETER

Disusun Oleh

Nama : Zohratul Fitri


Nim : J1B 015102
Kelompok :V
Nama Co.Assisten : Alfin Fajar

LABORATORIUM TEKNIK BIOPROSES


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu
dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi, maka kalor yang dikandung oleh
benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah maka kalor yang dikandung
sedikit. Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor atau energi panas.
Pertukaran energi kalor merupakan dasar teknik yang dikenal dengan nama kalorimetri, yang
merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor.
Kalorimetri adalah pengukuran kalor yang menggunakan alat kalorimeter. Kalorimeter
ada dua jenis yaitu kalorimeter bom dan kalorimeter sederhana. Yang mendasari percobaan
kalorimeter ini adalah teori asas Black.
Oleh karena itu dilakukan percobaan tentang tetapan kalorimetri agar dapat mempelajari tentang
kalor atau pengukuran energi panas serta mengetahui sifat-sifat dari kalorimeter.

1.2 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah mahasiswa dapat menentukan


kapasitas kalorimeter berdasarkan Asas Black.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kalorimeter adalah sebuah alat yang digunakan untuk menentukan (mengukur) kalor.
Pengukuran itu dilakukan untuk mengetahui kalor jenis suatu zat. Jika kalor jenis suatu zat sudah
diketahui, kalor yang diserap atau dilepaskan dapat dihitung dengan mengukur perubahan
suhunya. Kalorimeter terdirir atas sebuah bejana logam yang kalor jenisnya sudah diketahui
sebelumnya. Bejana itu ditempatkan dalam suatu wadah bejana lain dengan cara dipisahkan
(tidak terdapat kemungkinan bersinggungan secara langsung) diantara kedua bejana tadi diberi
isolator yang mencegah terjadinya pertukaran kalor dengan udara luar (Purwoko, 2007).
Seorang ilmuwan Inggris yaitu Joseph Balck yang hidup pada 1720-1799 mengadakan
pengamatan mengenai kalor. Azas Black berbunyi sebagai berikut : Jumlah kalor yang diterima
ama dengan jumlah kalor yang dilepaskan. Prinsip kerja kalorimeter didasarkan pada Azas Black
yang dinyatakan sebagai berikut : Jika dua benda yang mempunyai suhu berbeda didekatkan
sehingga terjadi kontak maka temperatur akhir kedua benda yang mempunyai suhu berbeda
setelah keseimbangan termis tercapai akan sama, Jumlah kalor yang diterima = jumlah kalor
yang diberikan,
Qlepas Qterima (Wahyuni, 2010).
Jika sebuah benda melepas kalor, maka akan terjadi perubahan wujud pada zat tersebut
selain itu juga terjadi perubahan ukuran. Misalnya air jika didinginkan akan berubah menjadi es.
Dari pertama air yang berbentuk cair, berubah bentuk menjadi es. Dari cair menjadi padat.
Begitu pula yang terjadi pada benda cair yang menguap menjadi gas. Ada beberapa hal yang
terkait dengan kalor, yaitu : Kalor jenis, adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk
menaikkan 1 gram atau1 kg zat sebesar 1C, kalor lebur, menyatakan banyaknya kalor yang
dibutuhkan oleh satu satuan massa zat padat untuk merubah seluruh wujudnya menjadi cair,
kalor beku adalah banyaknya kalor yang dilepaskan untuk mengubah 1 kg zat dari wujud cair
menjadi padat pada titik bekuya, titik lebur normal suatu zat atau partikel, dapat diketahui atau
ditentukan oleh gaya tarik antar partikel-partikel di dalamnya, kalor uap adalah banyaknya kalor
yang diserap untuk mengubah 1 kg zat dari wujud cair menjadi uap pada titik didihnya, kalor
embun adalah banyaknya kalor yang dibebaskan untuk mengubah 1 kg zat dari wujud uap
menjadi cair pada titik embunnya, titik didih normal dari sebuah cairan merupakan kasus di
mana tekanan uap cairan sama dengan tekanan atmosphere dipermukaan laut (Sunaryono, 2010).
Jumlah kalor yang dilepaskan tersebut akan diserap oleh zat yang suhunya lebih rendah.
Persamaan yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain adalah :kalor jenis bahan yang
akan dicari (kal/groC). adalah kalor jenis kalorimeter dan pengaduknya. adalah kalor jenis air.
merupakan massa air, dan berturut-turut adalh massa bahan dan massa es. adalah suhu air mula-
mula. Dan adalah suhu campuran setimbang. merupakan suhu bahan awal. dan adalah massa
kalorimeter dan massa campuran. Sedangkan adalah kalor lebur es (Purwandari, 2013).
Kalorimetri yang lebih teliti adalah yang lebih terisolasi serta memperhitungkan kalor
yang diserap oleh perangkat kalorimeter (wadah, pengaduk, termometer). Jumlah kalor yang
diserap/dibebaskan kalorimeter dapat ditentukan jika kapasiatas kalor dari kalorimeter diketahui.
Dalam hal ini jumlah kalor yang dibebaskan /diserap oleh reaksi sama dengan jumlah kalor yang
diserap/dibebaskan oleh kalorimeter ditambah dengan jumlah kalor yang diserap/dibebaskan
oleh larutan di dalam kalorimeter. Oleh karena energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan,
maka
Qreaksi= (-Qkalorimeter- Qlarutan) (Halliday, 2011)
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Desember 2016 di Laboratorium Teknik
Bioproses Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.

3.2 Alat dan Bahan Praktikum


Adapun alat yang digunakan yaitu kalorimeter, termometer, neraca, gelas beker, kompor
listrik, stopwatch, dan statif.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu air dan plastisin.

3.3 Prosedur Kerja

A
Dibersihkan kalorimeter dari debu atau
kotoran Ditimbang

Diisi kalorimeter sebanyak 100 ml air


Ditimbang
dingin

Diukur suhu air dingin dalam


kalorimeter Diamati dan Dicatat

Dipanaskan hingga
Disiapkan air secukupnya 90oC

Dimasukkan sebagian air panas pada


kalorimeter berisi air dingin

Diaduk hingga air dingin bercampur rata


dengan air panas
Diukur suhu air campuran setiap 1 menit
Diamati dan Dicatat
hingga konstan

Ditimbang kembali kalorimeter dan Ditentukan massa air


isinya panas

Gambar 1. Diagram alir penentuan kapasitas kalorimeter

Langkah Kerja
1. Dibersihkan kalorimeter dari debu atau kotoran, lalu ditimbang kalorimeter kosong
tersebut.
2. Diisi kalorimeter 100 ml air dingin, lalu ditimbang.
3. Diukur suhu air dingin dalam kalorimeter.
4. Disiapkan air secukupnya, lalu dipanaskan hingga 90 C.
5. Dimasukkan sebagian air panas ke dalam kalorimeter berisi air dingin. Dilakukan dengan
cepat untuk menghindari adanya perubahan suhu air panas.
6. Diaduk secara perlahan-lahan agar air dingin bercampur rata dengan air panas.
7. Diukur suhu campuran setiap 1 menit hingga dicapai suhu konstan.
8. Ditimbang kembali kalorimeter dengan semua isinya. Massa air panas yang dimasukkan
ke dalam kalorimeter kemudian dapat ditentukan.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Penentuan kapasitas Kalorimeter
Massa Massa Kalorometer Waktu Suhu (oC)
Kalorimeter Diisi Air (gram) (menit)
(gram)
Dingin Campuran Dingin Campur
an
1 54oC
2 54oC
92,63 184,64 291,97 3 29oC 54oC
4 53oC
5 53oC
6 53oC

Analisis Data
Perhitungan
Diketahui : Mp = 291,97 gram = 0,29197 kg
Md = 184,64 gram = 0.18464 kg
Tp = 90 oC
Tcp = TC = 53oC
Td = Tk = 29oC
Cpp = 4,194 KJ/KgoC
Cpd = 4,176 KJ/KgoC
Ditanyakan : C =.........??
Jawab :
Q lepas = Qterima
Mp Cpp (Tp Tcp) = Md Cpd (Tc Td) + C (Tc Tk)
( ) ( )
C=

{0,29197Kg 4,194 KJ/Kgo C(90o C- 53oC) } {0,18464Kg 4,194 KJ/Kgo C(53o C-29oC}
C=
53o C-29o C
{1,224KJ/Kgo C(37o C)}- {0,774 KJ/Kgo C(24o C)}
C=
24o C
45,28KJ-18,576KJ
C=
240 C
26,712KJ
=
240 C
= 1,113KJ/oC

4.2. Pembahasan
Kalor jenis : yang dibutuhkan untuk menaikan suhu 1 gram suatu zat sebesar 1derajat C
= Q / (m t)
atau
Q = m c t

C = kapasitas jenis
...= kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu suatu zat sebesar 1 C
...= Q / t
atau
Q = C t

Jadi hubungan antara kalor jenis dengan kapasitas kalor


C=mc
. Prinsip kerja kalorimeter didasarkan pada Azas Black yang dinyatakan sebagai berikut :
Jika dua benda yang mempunyai suhu berbeda didekatkan sehingga terjadi kontak maka
temperatur akhir kedua benda yang mempunyai suhu berbeda setelah keseimbangan termis
tercapai akan sama, Jumlah kalor yang diterima = jumlah kalor yang diberikan
Qlepas Qterima
Kapasitas kalor adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh zat untuk menaikkan suhu
1C atau per satuan perubahan suhu. Kalor jenis zat adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan
untuk menaikkan 1 gram atau 1 kg zat sebesar 1C/ per satuan perubahan waktu. Termometer
digunakan dalam pengukuran temperatur (derajat panas dinginnya suatu benda). Kalor yang
didapatkan pada praktikum adalah 0,45 Kj / Kg, pada suhu dingin dan campuran konstan yaitu
pada suhu dingin dari setiap menit dalam 5 kali percobaan adalah 29 C kemudian pada suhu
campuran yaitu 58 kemudian turun menjadi 55 sampai percobaan menit kelima konstan. Pada
percobaan ini diperoleh kesimpulan bahwa pada suhu normal atau suhu ruangan tidak terdapat
perubahan suhu oleh kalorimeter. Sedangkan pada suhu campuran terdapat penurunan perubahan
suhu yaitu dari 58 ke 55 C. Perubahan tersebut terjadi karena ketika dua benda yang
mempunyai suhu berbeda didekatkan sehingga terjadi kontak maka temperatur akhir kedua
benda yang mempunyai suhu berbeda setelah keseimbangan termis tercapai akan sama, Jumlah
kalor yang diterima = jumlah kalor yang diberikan menurut Wahyuni, 2010. Dalam suatu sistem,
jumlah kalor yang diberikan oleh suatu zat yang mempunyai suhu lebih tinggi sama dengan
jumlah kalor yang diterima zat lain yang bersuhu lebih rendah. Hukum azas Black dapat
dibuktikan dengan percobaan ini.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan
antara lain: Kalorimeter adalah sebuah alat yang digunakan untuk menentukan (mengukur kalor).
Pengukuran itu dilakukan untuk mengetahui kalor jenis suatu zat. Jika kalor jenis suatu zat sudah
diketahui, kalor yang diserap atau dilepaskan dapat dihitung dengan mengukur perubahan
suhunya. Prinsip kerja kalorimeter didasarkan pada Azas Black. Kapasitas kalor adalah
banyaknya kalor yang diperlukan oleh zat untuk menaikkan suhu 1C atau per satuan perubahan
suhu. Kalor yang didapatkan pada praktikum adalah 0,45 KJ / Kg, pada suhu dingin dan
campuran konstan yaitu pada suhu dingin dari setiap menit dalam 5 kali percobaan adalah 29 C
kemudian pada suhu campuran yaitu 58 kemudian turun menjadi 55 sampai percobaan menit
kelima konstan.

5.2 Saran
Sebaiknya di dalam percobaan ini menggunakan suhu yang berbeda-beda agar praktikan
lebih memahami tentang sifat dari kalorimeter.
DAFTAR PUSTAKA

Halliday, David. 2011. Fisika Jilid 1. Erlangga: Jakarta.

Purwandari, Endhah. 2013. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Universitas Jember: Jember.

Purwoko dan Fendi. 2007. Fisika Dasar. Yudhistira: Jakarta.


Tim fisika dasar. 2012. Modul Praktikum Fisika Untuk Kimia. Universitas Negeri
Malang: Malang.

Sunaryono dan Ahmad Taufiq. 2010. Super Tips dan Trik Fisika. Kawah Media: Jakarta.

Wahyuni, Sri. 2010. Modul Termodinamika FKIP Universitas Jember. Universitas Jember:
Jember.
LAPORAN PRAKTIKUM
PINDAH PANAS

ACARA III
MENENTUKAN KALOR JENIS ZAT DENGAN KALORIMETER

Disusun Oleh

Nama : Zohratul Fitri


Nim : J1B 015102
Kelompok :V
Nama Co.Assisten : Wayan Eko Widianto

LABORATORIUM TEKNIK BIOPROSES


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kita menggunakan istilah kalor dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan kita tahu apa
yang kita maksud. Tetapi istilah tersebut tetap digunakan secara tidak konsisten, sehingga perlu
bagi kita untuk mendefinisikan kalor secara jelas, serta menerangkan fenomena dan konsep yang
berhubungan dengan kalor tersebut(Glancoli, 1997).
Kalor adalah energy yang ditransfer karena tinggi ke benda bersuhu rendah, merupakan
energy yang ditransfer dari benda yang panas ke benda yang dingin, maka kalor merupakan
energy yang ditransfer dari suatu benda ke benda yang lain karena perbedaan suhu.
Bila energi panas ditambahkan pada suatu zat, maka temperature zat itu biasanya naik.
Jumlah energy panas Q yang dibutuhkan untuk menaikkan temperature suatu zat adalah
sebanding dengan perubahan temperature dan massa zat itu (Q=C T = mc T) dengan C
adalah kapasitas panas zat, yang didefinisikan sebagai energi panas yang dibutuhkan untuk
menaikkan temperatur suatu zat dengan satu derajat. Panas jenis C adalah kapasitas panas
persatuan massa(Tipler, 1991).

1.2 Tujuan praktikum


Adapun tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui cara
menggunakan kalorimeter dengan baik dan benar dan dapat menentukan kalor jenis suatu benda.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kalorimeter adalah sebuah alat yang digunakan untuk menentukan (mengukur) kalor.
Pengukuran itu dilakukan untuk mengetahui kalor jenis suatu zat. Jika kalor jenis suatu zat sudah
diketahui, kalor yang diserap atau dilepaskan dapat dihitung dengan mengukur perubahan
suhunya. Kalorimeter terdirir atas sebuah bejana logam yang kalor jenisnya sudah diketahui
sebelumnya. Bejana itu ditempatkan dalam suatu wadah bejana lain dengan cara dipisahkan
(tidak terdapat kemungkinan bersinggungan secara langsung) diantara kedua bejana tadi diberi
isolator yang mencegah terjadinya pertukaran kalor dengan udara luar (Bueche,2006).
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia
dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hukum Hess, kalor reaksi suatu
reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi pembentukan standar, energi
ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimetri berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak
ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter (Giancoli. 2000).
Kalor yag dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar 10oC pada air dengan
massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri.
Dalam proses ini berlaku azas Black, yaitu:
Qlepas=Qterima
Qair panas= Qair dingin+ Qkalorimetri
m1 c (Tp-Tc)= m2 c (Tc-Td)+ C (Tc-Td)
Keterangan:
m1= massa air panas
m2= massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas kalorimeter
Tp = suhu air panas
Tc = suhu air campuran
Td = suhu air dingin (Kardiawarman, 2010).
Kalor reaksi dapat diperoleh dari hubungan maka zat (m), kalor jenis zat (c) dan
perubahan suhu (T), yang dinyatakan dengan persamaan berikut

q = m.c.T
Keterangan:
q= jumlah kalor (Joule)
m= massa zat (gram)
T= perubahan suhu (takhir-tawal)
C= kalor jenis

Sebelum zat-zat pereaksi direaksikan di dalam kalorimeter, terlebih dahulu suhunya diukur, dan
usahakan agar masing-masing pereaksi ini memiliki suhu yang sama. Setelah suhunya diukur
kedua larutan tersebut dimasukkan ke dalam kalorimeter sambil diaduk agar zat-zat bereaksi
dengan baik, kemudian suhu akhir diukur (Muran, 2004) .
Jika reaksi dalam kalorimeter berlangsung secara eksoterm maka kalor yang timbul akan
dibebaskan ke dalam larutan itu sehingga suhu larutan akan naik, dan jika reaksi dalam
kalorimeter berlangsung secara endoterm maka reaksi itu akan menyerap kalor dari larutan itu
sendiri, sehingga suhu larutan akan turun. Besarnya kalor yang diserap atau dibebaskan reaksi itu
adalah sebanding dengan perubahan suhu dan massa larutan jadi,
Qreaksi= mlarutan. Clarutan. T (Tipler, 2002).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 28 Desember 2016 di Laboratorium Teknik
Bioproses Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri Universitas Mataram.

3.2 Alat dan Bahan Praktikum


Adapun alat yang digunakan yaitu bejana kalorimeter dan kelengkapannya, termometer,
pemanas/kompor, gelas beker, dan kaki tiga.
bahan yang digunakan yaitu air, logam kuningan, dan logam stainless steel.

3.3 Prosedur Kerja

Ditimbang kalorimeter kosong Diisi dengan air


hingga penuh
Ditimbang lagi setelah kalorimeter terisi
air

Diukur suhu air dan suhu awal Diamati dan Dicatat

Disiapkan pemanas( untuk logam) Stainless steel dan


kuningan

Dimasukkan logam dalam gelas beker


Dipanaskan

Diukur suhu air (suhu awal logam)

Dipindahkan logam (stainless steel / Ditutup rapat dan


kuningan) diaduk

Dicatat suhu air campuran

Diulangi langkah 1-5 sebanyak 3 kali


Gambar 1. Diagram alir pengukuran kalor jenis zat

Langkah Kerja
1. Ditimbang bejana kalorimeter kosong beserta pengaduknya. Diisi bejana tersebut dengan
air hingga hampir penuh. Ditimbang lagi kalorimeter setelah terisi air.
2. Diukur suhu air didalam kalorimeter. Dicatat sebagai suhu awal air dan suhu awal
kalorimeter.
3. Disiapkan pemanas, gelas beker yang diisi air dan logam stainless steel dan kuningan
yang akan diukur. Dimasukkan dalam gelas beker kemudian dipanaskan hingga mendidih.
4. Diukur suhu air didalam gelas beker pada saat mendidih sebagai suhu awal logam (tb).
5. Dipindahkan logam secepatnya kedalam kalorimeter dan ditutup rapat-rapat sambil diaduk
aduk.
6. Dicatat suhu air campuran.
7. Diulangi langkah 1-5 sebanyak 3 kali.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Pengukuran Kalor Jenis Zat
Jenis Massa Massa Massa Tk Ta Tb Tc Cpk Cpa Cpb
o o o o
Logam Kalori air logam C C C C KJ/ KJ/ KJ/
meter (gram (gram) Kg Kg Kg
o o o
(gram ) C C C
)
Stainles 99,82 95.62 59.24 27 27 27 32 0,91 4,17 8.41
s Steel 6 6
Kuning 96,84 89.47 55,30 28 28 26 31 0,91 4,17
an 6 8.37

Analisis Data
Diketahui : a. Stainless Steel
Mk = 99,82gram = 0,09982 Kg
Ma = 95.62gram = 0,09562Kg
Mb = 59.24gram = 0,05924 Kg
Cpk = 0,91 KJ/Kg oC
Cpa = 4,176 KJ/Kg oC
Tk = Ta = 27 oC
Tb = 27 oC
Tc = 32 oC
b. Kuningan
Mk = 96,84gram = 0,0984 Kg
Ma = 89.47gram = 0,08947 Kg
Mb = 55,30gram = 0,05530 Kg
Cpk = 0,91 KJ/Kg oC
Cpa = 4,176 KJ/Kg oC
Tk = Ta = 27 oC
Tb = 27 oC
Tc = 31 oC
Ditanya : Cpb = ..?
Jawab :
a. Stainless steel
Qlepas = Qterima
Mb x Cpb (Tc Tb) = Ma x Cpa (Tc Ta) + Mk x Cpk (Tc Tk)
()+ ()
Cpb =
( )
( + )( )
=
( )

=
(0,08947 4,176 / +0,09982 0,91/ )(32 27)
0,05913 (3227)

2,491
= 0,296
Cpb = 8.416 KJ/Kg oC

b. Kuningan

Qlepas = Qterima
Mb x Cpb (Tc Tb) = Ma x Cpa (Tc Ta) + Mk x Cpk (Tc Tk)
()+ ()
Cpb =
( )
( + )( )
=
( )

(0,08947 4,176 / +0,0984 0,91/ )(31 27)


= 0,05530 (3127)

1,8524
= 0,2212
Cpb = 8.37 KJ/Kg oC

4.2. Pembahasan
Untuk mempercepat reaksi berlangsung. ketika pengadukan kuat maka molekul-molekul
atau atom-atom dalam kalorimeter tersebuut akan bertubrukan sehingga dapat mempercepat
reaksi. Semakin cepat dan kuat maka reaksi akan semakin cepat berlangsung sehingga produk
terbentuk atau semakin banyak jumlahnya
Prinsip dari kalorimeter adalah memanfaatkan perubahan fase dari sifat fisik suatu zat
untuk membandingkan kapasitas penerimaan kalor dari zat-zat yang berbeda.
Teori yang dikemukakan oleh Joseph Black atau lebih dikenal dengan azas Balck. Yaitu,
apabila dua benda yang suhunya berbeda dan dicampur, maka benda yang lebih panas melepas
kalor kepada benda yang lebih dingin sampai suhu keduanya sama. Banyaknya kalor yang
dilepas benda yang lebih panas sama dengan banyaknya kalor yang diterima benda yang lebih
dingin. Sebuah benda untuk menurunkan T akan melepaskan kalor yang sama besarnya dengan
banyaknya kalor yang dibutuhkan benda itu untuk menaikkan suhunya sebesar T juga.
Teorinya adalah Qlepas=Qterima, m1 c1 (T1-Ta)= m2 c2 (Ta-T2).
Dari percobaan diatas dapat diketahui bahwa Cpb kuningan lebih besar dibandingkan
dengan Cpb stainless steel yaitu 6,32 dan kuningan 7,418
. Ini disebabkan karena

kalor pada kuningan lebih cepat mengalami peningkatan dibandingkan pada logam stainlees
steel. Jadi jika ada dua buah benda A dan B mempunyai suhu yang berbeda, dan suhu A
lebih dari suhu B kemudian kedua benda tersebut disentuhkan maka suhu A akan
menurun dan suhu B akan naik hingga suhu kedua benda tersebut setimbang. Suhu air
yang tadinya panas sekarang menjadi lebih dingin dan suhu air yang tadinya dingin
menjadi lebih panas hal ini menunjukkan bahwa air panas melepaskan kalor dan air
dingin menerima kalor dari air panas untuk menaikkan suhunya.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan
antara lain :
1. Semakin cepat dan kuat maka reaksi akan semakin cepat berlangsung sehingga produk
terbentuk atau semakin banyak jumlahnya.
2. Prinsip dari kalorimeter adalah memanfaatkan perubahan fase dari sifat fisik suatu zat untuk
membandingkan kapasitas penerimaan kalor dari zat-zat yang berbeda.
3. Teori pada percobaan ini menggunakan Azas Black.
4. Dari percobaan diatas dapat diketahui bahwa Cpb kuningan lebih besar dibandingkan dengan
Cpb stainless steel yaitu 6,32 dan kuningan 7,418
.

5. Pengamatan diatas disebabkan kalor pada kuningan lebih cepat mengalami peningkatan
dibandingkan pada logam stainlees steel.

5.2 Saran
Sebaiknya di dalam percobaan ini menggunakan suhu yang berbeda-beda agar praktikan
lebih memahami tentang sifat dari kalorimeter.
DAFTAR PUSTAKA

Bueche, Frederick dan Eugene Hectil. 2006. Fisika Universitas Edisi Kesepuluh. Erlangga:
Jakarta.

Giancoli. 2000. Fisika. Erlangga: Jakarta.

Kardiawarman. 2010. Fisika Dasar II. Universitas Terbuka: Jakarta.

Muran, Michael J dan Howard N Shapiro. 2004. Termodinamika Teknik Jilid I. Erlangga:
Jakarta.

Tipler, Paul A. 2002. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga: Jakarta.