Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas kasih dan penyertaanNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas yang terkait dengan mata kuliah Estimasi Biaya.
Dalam tugas Estimasi Biaya penulis ditugaskan untuk membuat Makalah yang terkait dengan
Estimasi Biaya Proyek Konstruksi dalam penyusunan makalah ini penulis mengucapkan banyak
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini
kepada :
1. Ibu Esterlita Waney, ST.,M.Eng.,Mgmt selaku dosen pengajar mata kuliah Estimasi Biaya
2. Orang Tua penulis yang selalu memberikan semangat serta dukungan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini
3. Kepada teman-teman yang sudah memberikan saran dan kritik yang bisa dituangkan dalam
penyusunan makalah ini.
Dalam makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan. untuk itu saran dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan, akhir kata penulis mengucapkan Terimakasih.

Manado, Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulisan............................................................................. 1
1.3 Rumusan Masalah........................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 pengertian estimasi biaya................................................................ 2
2.2 Kegunaan estimasi biaya bagi pihak pihak terkait
(pemilik proyek):............................................................................... 2
2.3 Kegunaan estimasi biaya bagi pihak pihak terkait
(konsultan):....................................................................................... 2
2.4 Kegunaan estimasi biaya bagi pihak pihak terkait
(kontraktor)........................................................................................... 3
2.5 Teknik-Teknik Penjadwalan .......................................................... 3
2.6 Rencana Anggaran Biaya (RAB) .................................................. 4
2.7 Analisis Harga Satuan Pekerjaan ................................................... 5
2.8 Metode Pengumpulan Data............................................................ 6
2.9 analisis dan pembahasan...................................................................6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 7
3.2 Saran............................................................................................... 7
Daftar pustaka ........................................................................................8

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Estimasi, dalam arti umum merupakan usaha untuk menilai atau memperkirakan suatu nilai
melalui analisis perhitungan dan berlandaskan pada pengalaman. Demikian halnya dengan
estimasi biaya dalam pada suatu proyek kontruksi, tentunya dimaksudkan guna memperkirakan
nilai pembiayaan suatu proyek.
Estimasi biaya konstruksi merupakan hal penting dalam dunia industri konstruksi. Ketidak
akuratan estimasi dapat memberikan efek negatif pada seluruh proses konstruksi dan semua pihak
yang terlibat. Estimasi biaya berdasarkan spesifikasi dan gambar kerja yang disiapkan owner harus
menjamin bahwa pekerjaan akan terlaksana dengan tepat dan kontraktor dapat menerima
keuntungan yang layak Estimasi biaya konstruksi dikerjakan sebelum pelaksanaan fisik dilakukan
dan memerlukan analisis detail dan kompilasi dokumen penawaran dan lainnya.
Estimasi biaya mempunyai dampak pada kesuksesan proyek dan perusahaan pada umumnya.
Keakuratan dalam estimasi biaya tergantung pada keahlian dan ketelitian estimator dalam
mengikuti seluruh proses pekerjaan dan sesuai dengan informasi terbaru.

1.2 Tujuan Penulisan


Untuk memmbantu memahami tentang Estimasi Biaya Proyek Konstruksi sekaligus
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah manajemen konstruksi .

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan estimasi biaya proyek konstruksi?
2. Apa yang mendasar dari estimasi biaya proyek konstruksi?
3. Bagaimana perhitungan dari suatu proyek konstruksi?
4. Bagaimana struktur dari estimasi Biaya?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Estimasi Anggaran Biaya Tahap Desain


Desain merupakan proses pembuatan deskripsi atau gambaran dari suatu fasilitas, dan
biasanya dilengkapi dengan detail perencanaan dan spesifikasi, yang kemudian di
implementasikan pada tahap kontruksi. Tahap desain merupakan tahap berikutnya setelah tahap
perencanaan konseptual, namun masih termasuk di dalam tahap prakontruksi. Tahap desain ini ada
2 (dua) bagian, yaitu : Desain Skematik dan Detail Desain. Pada tahap Desain Skematik, tim desain
(yang terdiri dari arsitek dan engineer) menginvestigasikan alternatif desain, material, dan sistem.
Sedangkan pada tahap Detail Desain, tim desain mengevaluasi, memilih, menyelesaikan sistem
utama dan komponen proyek. Jadwal proyek dan anggaran terus dikembangkan dan dimonitor
selama tahap ini.

2.2 Pembiayaan Pembangunan Bangunan Gedung Negara


Pembiayaan pembangunan bangunan gedung digolongkan pembiayaan pembangunan
untuk pekerjaan standar (yang ada standar harga satuan tertingginya) dan pembiayaan
pembangunan untuk pekerjaan non-standar (yang belum tersedia standar harga satua tertingginya).
Pembiayaan pembangunan bangunan gedung dituangkan dalam Dokumen Pembiayaan yang
terdiri atas komponenkomponen biaya untuk kegiatan pelaksanaan konstruksi, kegiatan
pengawasan konstruksi atau manajemen konstruksi, kegiatan perencanaan konstruksi, dan
kegiatan pengelolaan proyek.

2.3.1 Harga Satuan Tertinggi Rata-Rata Per M2 Bangunan Bertingkat Untuk Bangunan Gedung.
Harga satuan tertinggi rata-rata per-m2 bangunan gedung bertingkat adalah didasarkan
pada harga satuan lantai dasar tertinggi per m2 untuk bangunan gedung bertingkat, kemudian
dikalikan dengan koefisien atau faktor pengali untuk jumlah lantai yang bersangkutan, sebagai
berikut:

Koefisien/ faktor pengali Bagunan gedung bertingkat


Jumlah lantai Bangunan Harga satuan per m2 tertinggi

2 lantai 1,090 standard harga gedung bertingkat


3 lantai 1,120 standard harga gedung bertingkat
4 lantai 1,135 standard harga gedung bertingkat
5 lantai 1,162 standard harga gedung bertingkat
6 lantai 1,197 standard harga gedung bertingkat
7 lantai 1,236 standard harga gedung bertingkat
8 lantai 1,265 standard harga gedung bertingkat

2.3.2 Prosentase Komponen Pekerjaan Bangunan Gedung


Untuk pekerjaan standar bangunan gedung,sebagai pedoman penyusunan anggaran
pembangunan yang lebih dari satu tahun anggaran dan peningkatan mutu dapat berpedoman pada
prosentase komponenkomponen pekerjaan sebagai berikut :

Komponen Gedung Negara

Pondasi 5% - 10 %
struktur 25% - 35 %
lantai 5 % - 10 %
Dinding 7% -10 %
Plafond 6% - 8 %
Atap 8 % -10 %
Utilitas 5%-8%
finishing 10 % - 15 %

2.4 Rencana Anggaran Biaya


Rencana anggaran biaya merupakan perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk
bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek
pembangunan.
RAB = ( Volume x Harga Satuan Pekerjaan )

Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah,
hal ini disebabkan perbedaan harga satuan bahan dan upah tenaga kerja. Ada dua faktor yang
berpengaruh terhadap penyusunan anggaran biaya suatu bangunan yaitu faktor teknis dan non
teknis. Faktor teknis antara lain berupa ketentuan-ketentuan dan persyaratan yang harus dipenuhi
dalam pelaksanaan pembangunan serta gambargambar kontruksi bangunan. Sedangkan factor non
teknis berupa harga-harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja. Dalam melakukan anggaran
biaya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu anggaran biaya kasar (taksiran) dan anggaran biaya
teliti.

2.5 Time Sceduleh ( rencana kerja )


Yang dimaksud dengan Penjadwalan ( Time Schedule ) adalah mengatur rencana kerja
dari satu bagian atau unit pekerjaan.
Kegiatan ini meliputi :

1. Kebutuhan tenaga kerja


2. Kebutuhan material atau bahan
3. Kebutuhan waktu
4. dan Transportasiataupengangkutan
Dari time schedule kita akan mendapatkan gambaran lamanya pekerjaan dapat di selesaikan,
serta bagian-bagian pekerjaan yang saling terkait antara satu dan lainnya.

2.5.1 Metode Penjadwalan Proyek

2.5.1.1 Barchard ( Diagrama Balok )


Metode ini mula-mula dipakai dan diperkenalkan oleh Hendri Lawrence Gantt pada tahun
1917. Metode ini bertujuan mengidentifikasikan unsur waktu dan urutan dalam merencanakan
suatu kegiatan, yang terdiri dari waktu mulai, waktu selesai dan pada saat
pelaporan. Barchart (Diagram Balok) sangat bermanfaat sebagai alat perencanaan dan
komunikasi. Bila digabungkan dengan metode lain, misalnya grafik S dapat dipakai untuk aspek
yang lebih luas. Kelemahan Barchart (Diagram Balok) adalah kurang dapat menjelaskan
keterkaitan antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya. misalnya kegiatan pondasi terjadi
perubahan atau terlambat. Perubahan yang terjadi tersebut tidak terlihat secara langsung
mempengaruhi kegiatan lainnya, hal tersebut disebabkan tidak jelasnya hubungan (relationship)
antar kegiatan.

2.5.1.2 Jalur Kritis (CMP)


Teknik Metode Jalur Kritis (CPM) dikembangkan oleh James E. Kelly, Jr darI Remington
Rand dan Morgan Walker dari Du Pond. Metode jaringan kerja CPM(Critical Path Method) atau
metode I-J ialah sebuah activity on arrow (AOA) terdiri dari panah dan lingkaran. Panah
merepresentasikan aktifitas, lingkaran atau nodal merepresentasikan even.

2.5.1.3 Metode Network


Metode Network (Network Analisys) adalah perbaikan dari metode diagram batang.
Metode ini menyajikan secara jelas hubungan ketergantungan antara bagian kegiatan
dengan kegiatan lainnya yang digambarkan dalam diagram network. Dengan metode ini dapat
diketahui bagian - bagian kegiatan yang harus didahulukan, yang harus menunggu selesainya
kegiatan lain, dan kegiatan yang tak perlu tergesa-gesa. MetodeNetwork Analisys ini mengalami
penyempurnaan secara bertahap, yaitu Barchart, PERT, CPM, PDM dan terakhir adalah
penjadwalan dengan komputer. Salah satu alat yang paling menyolok dalam penggunan alat bantu
komputer adalah kemampuan mengolah data dalam jumlah besar dan dengan kemungkinan
kesalahan yang kecil. Dengan demikian penyusunan jadwal dapat lebih cepat dan teliti. Setiap saat
situasi proyek mengalami perubahan, komputer dapat melakukan perubahan tersebut dalam waktu
singkat. Saat ini telah banyak program penjadwalan dengan menggunakan komputer. Pada
dasarnya program-program tersebut berprinsip pada perhitungan CPM, PDM, dan dengan
penampilan gantt chart yang disempurnakan sehingga hubungan keterkaitan tiap kegiatan
tergambar dengan jelas. Dengan penggunaan komputer, penjadwalan dapat dilakukan secara
terpadu (waktu, material, tenaga kerja serta biaya), cepat, tepat, memudahkan dalam pengambilan
keputusan serta kunci-kunci pokok permasalahan pelaksanaan proyek.
2.6 Penyusunan Anggaran Biaya
Dalam penyusunan anggaran biaya, terlebih dahulu perlu diketahui untuk keperluan apa dan
kapan anggaran biaya tersebut dibuat. Hal ini akan berpengaruh pada cara/sistem penyusunan dan
hasil yang diharapkan. Penyusun anggaran biaya terdiri dari instansi/dinas/jawatan (khusus
bangunan negara), perencana dan kontraktor. Cara/sistem penyusunan berbeda-beda meskipun
berdasarkan pada prinsip yang sama.Ada 2 (dua) macam jenis penyusunan anggaran biaya, yaitu :
1. Anggaran biaya kasar / taksiran( cost estimate )
2. Anggaran biaya teliti ( definitif )

2.6.1 Anggaran Biaya Kasar/Taksiran


Penyusunan anggaran biaya kasar memerlukan bahan-bahan antara lain gambar
prarencana, keterangan singkat mengenai bahan-bahan bangunan yang digunakan, cara
pembuatannya dan persyaratan pokok yang ditentukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam
penyusunan anggaran biaya kasar antara lain :
1. Jenis dan ukuran bangunan
2. Jenis kontruksi (berat atau ringan)
3. Lokasi bangunan

2.6.1.1 Cara Perhitungan Anggaran Biaya Kasar


Untuk menghitung anggaran biaya terlebih dahulu perlu disiapkan bahan-bahanyang telah
diuraikan termasuk data/catatancatatan mengenai harga bangunan sejenisyang ada. Selanjutnya
perlu ditetapkan ukuran pokok berdasarkan gambar prarencana yang akan dipakai sebagai
dasar perhitungan untuk menentukan harga satuan pekerjaan. Yang dimaksud dengan
ukuran pokok dalam penulisan disini adalah untuk bangunan gedung, yang dipakai sebagai ukuran
pokok adalah luas lantai per m2, luas atap per m2 atau sisi bangunan per m3 (jarang digunakan).
Perkiraan harga satuan yang digunakan baik untuk perhitungan luas lantai, maupun isi bangunan,
tergantung pada :
1. Sifat atau bentuk bangunan yang meliputi : bangunan sederhana, bangunan sedang atau baik,
bangunan megah atau monumental.
2. Jenis bangunan yang meliputi : bangunan gedung, rumah tinggal, kantor, sekolah, gedung
pertemuan dan sebagainya.
3. Jenis Kontruksi yang meliputi : berat atau ringan dari kontruksi, gedung bertingkat/tidak
bertingkat
4. Jenis Bahan-bahan bangunan pokok yang digunakan Untuk menentukan ukuran pokok dapat
ditempuh beberapa cara, yaitu :
a. Luas lantai (ukuran dalam, ukuran sumbu dan ukuran luar).
b. Luas atap (ukuran berdasarkan denah bangunan termasuk tritisan)
c. Isi bangunan, dihitung berdasarkan uas lantai dikalikan tinggi gedung.
Ukuran tinggi gedung dihitung dari tenggah-tengah kedalaman fondasi (separuh tinggi pondasi
dari alas pondasi sampai lantai) dengan tengah-tengah jarak antara talang atau tritisan dan puncak
bangunan. Ruang bawah (basement) dihitung penuh.
2.6.2 Anggaran Biaya Teliti
Bahan-bahan yang diperlukan dalam penyusunan anggaran biaya teliti, antara lain :
a. Peraturan dan syarat-syarat ( Bestek )
b. Gambar rencana atau Gambar Bestek
c. Buku analisa BOW.
d. Peraturan-peraturan normalisasi yang bersangkutan
e. Peraturan-peraturan bangunan Negara dan bangunan setempat.
f. Syarat-syarat lain yang diperlukan.

2.6.2.1 Cara Menyusun Anggaran Biaya Teliti


Perhitungan yang dibuat untuk menyusun anggaran biaya teliti akan menghasilkan suatu
biaya atau harga bangunan dan dengan biaya atau harga tersebut untuk pelaksanaan, bangunan
akan terwujud sesuai dengan yang direncanakan. Oleh karena itu anggaran biaya teliti harus
disusun dengan teliti, rinci dan selengkaplengkapnya. Sebelum mulai menghitung anggaran biaya
teliti perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
Semua bahan untuk menyusun anggaran biaya teliti supaya dikumpulkan dan diatur
dengan rapi.
1. Gambar-gambar rencana atau gambar bestek dan penjelasan atau keterangan yang tercantum
dalam peraturan dan syarat-syarat atau bestek, berita acara atau risalah penjelasan pekerjaan harus
selalu dicocokan satu sama lain.
2. Membuat catatan sebanyak mungkin yang perlu, baik mengenai gambar bestek ataupun bestek.
3. Menentukan sistim yang tepat dan teratur yang akan dipakai dalam perhitungan

2.6.2.2 Harga Satuan Pekerjaan


Harga satuan pekerjaan adalah jumlah harga bahan dan upah tenaga kerja atau harga yang
harus dibayar untuk menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi berdasarkan perhitungan analisis..
Analisis disini adalah ketentuan umum yang ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Depok.
Dalam Analisis Satuan Komponen, telah ditetapkan koefisien (indeks) jumlah tenaga kerja, bahan
dan alat untuk satu satuan pekerjaan.

2.7 Perhitungan Rencana Anggaran Biaya


Secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut :
RAB = ( Volume x Harga satuan pekerjaan )
Dalam Penyusunan RAB diperlukan Jumlah volume per satuan pekerjaan dan analisa harga
satuan pekerjaan berdasarkan gambar bestek serta syarat-syarat analisa pembangunan konstruksi
berlaku.

2.7.1 Porsentase Bobot Pekerjaan


Prosentase bobot pekerjaan merupakan besarnya nilai prosentase tiap item-item
pekerjaan, berdasarkan perbandingan antara anggaran biaya pekerjaan dengan harga bangunan.
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
Persentase Bobot Pekerjaan (PBP) = Volume x Harga satuan x 100 %

Harga Bangunan
2.8 Analisis Data
2.8.1 Komponen Biaya Standard dan Non standar
1. Luas Bangunan 5 Lantai :
( 4 x 400 ) + 455 + 64 = 2.119 m2

2. Harga Satuan Bangunan Kotip Depok (type A)


= Rp. 1,982,000.00 / m2
Faktor Pengali = 1.162

3. Harga Satuan Per m2 Bangunan x Luas Lantai


= 1.162 x 1,982,000.00 x 2.119
= Rp 4,880,234,996.00

Bedasarkan pengalaman dan penelitian di lapangan dari beberapa macam proyek


pekerjaan konstruksi yang telah dilakukan oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah,
maka diperoleh komponen biaya standar dan non standar sebagai berikut :

KOMPONEN BIAYA STANDAR


No Komponen Estimasi Harga (Rp)
1. Pondasi 0.10 488,023,499.60
2. Struktur 0.35 1,708,082,248.60
3. Lantai 0.08 390,418,799.68
4. Dinding 0.08 390,418,799.68
5. Plafond 0.07 341,616,449.60
6. Atap 0.10 488,023,499.60
7. Utilitas 0.07 341,616,449.72
8. Finishing 0.15 732,035,249.40
TOTAL 1.00 4,880,234,996.00

KOMPONEN BIAYA NON STANDAR


No Komponen Estimasi Harga (Rp)
1. Tata Udara AC 0.08 390,418,799.68
2. Tata suara 0.02 97,604,699.92
3. Telepon 0.03 146,407,049.88
4. Genset 0.05 244,011,749.80

5. Sist.Deteksi & 0.05 244,011,749.80


Penc.Kebakaran
6. Furniture 0.05 244,011,749.80
7. Penangkal Petir 0.01 48,802,349.96

8. Peningkatan Mutu 0.06 292,814,099.76


TOTAL 0.35 1,708,082,248.60

BAB II
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas penulis menarik suatu kesimpulan bahwa Anggaran biaya
konstruksi pembangunan gedung bertingkat didapat dari hasil penjumlahan biaya standar dan non
standar yang berdasarkan pada syarat teknis bangunan gedung, maka didapat perkiraan total biaya-
biaya komponen kegiatan pembangunan bangunan gedung sebesar Rp 6,588,317,244.60.
Nilai Proyek yang didapat dari hasil estimasi anggaran biaya konstruksi pada
Pembanguna lebih kecil dibandingkan anggaran biaya konstruksi berdasarkan syarat teknis
bangunan gedung. Artinya estimasi anggaran biaya konstruksi pada Pembangunan dapat
digunakan dala pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Oleh karena itu proyek pembangunan bangunan
gedung dilaksanakan dan dapat memenuhi syarat teknis pembangunan bangunan gedung.

3.2 Saran
Hal yang penting dalam pemilihan metode estimasi biaya proyek konstruksi mudah dan
tidak mahal dalam penggunaannya. Parameter yang digunakan dalam estimasi anggaran biaya
konstruksi untuk bangunan gedung adalah luas lantai dan jumlah lantai. Langkah awal yang harus
diperhatikan adalah menentukan klasifikasi bangunan baik berdasarkan kegunaan bangunan
ataupun kompleksitas. Parameter yang lebih penting adalah indeks harga bangunan gedung
permeter persegi berdasarkan perencanaan program dan anggaran bangunan gedung yang
dikeluarkan sesuai dengan daerah pelaksanaan proyek.

Anggaran Biaya Kasar


Sebagai pedoman dalam menyusun anggaran biaya kasar digunakan harga satuan tiap meter persegi
(m2) luas lantai. Anggaran biaya kasar dipakai sebagai pedoman terhadap anggaran biaya yang
dihitung secara teliti. Walaupun namanya anggaran biaya kasar, namun harga satuan tiap m2 luas
lantai tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti di dalam manajemen proyek.

Anggaran Biaya Teliti


Anggaran biaya teliti adalah anggaran biaya bangunan atau proyek yang dihitung dengan teliti dan
cermat, sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat penyusunan anggaran biaya. Pada anggaran
biaya kasar sebagaimana diuraikan terdahulu, harga satuan dihitung berdasarkan harga taksiran
setiap luas lantai m2. Taksiran tersebut haruslah berdasarkan harga yang wajar dan tidak terlalu jauh
berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti di dalam manajemen proyek. Sedangkan
penyusunan anggaran biaya yang dihitung dengan teliti, didasarkan atau didukung oleh: bestek,
gunanya untuk menentukan spesifikasi bahan dan syarat-syarat teknis, gambar bestek, gunanya
untuk menentukan/menghitung besarnya masing-masing volume pekerjaan, harga satuan pekerjaan,
harga satuan pekerjaan diperoleh dari harga satuan bahan dan harga satuan upah berdasarkan
perhitungan BOW. BOW (Burgerlijke Openbare Werken) adalah suatu ketentuan dan ketetapan
umum yang ditetapkan oleh Dir. BOW tanggal 28 Februari 1921 Nomor 5372 A pada zaman
pemerintahan Hindia Belanda di dalam manajemen proyek.

Karateristik Data Biaya


Data biaya dengan beragam kecermatan diperlukan pada industri ini untuk teori dan praktek ekonomi
bangunan. Data-data ini diperlukan selama tahap permulaan proses desain, guna memberikan iklim
suatu indikasi biaya yang mungkin berkenaan dengan proyek konstruksi yang diusulkan tersebut.
Data-data tersebut mungkin juga diperlukan pada tingkat ketelitian tertentu bilamana proyek berlanjut
ke tahap desain dan konstruksi di dalam manajemen proyek.

Data biaya selama tahap awal proses desain dapat dikaitkan dengan fungsi dan desain. Akan tetapi,
tingkat kelayakan sangat diragukan dan memerlukan penilaian atas beberapa faktor variabel. Dalam
tahap akhir dari proses desain, aspek biaya lebih berkaitan dengan kuantitas dan spesifikasi. Kedua
hal diatas merupakan pendekatan tradisional. Suatu pandangan alternatif menyatakan bahwa biaya
ditentukan oleh proses, yaitu metode, peralatan, dan sarana yang dipilih oleh kontraktor dalam
menentukan biaya di dalam manajemen proyek.

Keakuratan dan Kekonsistenan


Penyusunan semua jenis informasi biaya selalu tidak menyatakan data tersebut akurat. Barangkali
satu-satunya kekecualian adalah daftar harga pedagang bahan bangunan, tetapi ini pun dapat
sewaktu-waktu berubah tanpa pemberitahuan. Oleh karenanya, data yang tersedia tidak lebih hanya
pedoman umum, tetapi sampai seberapa jauh? Hal ini dapat diukur dalam dua cara yang berbeda
yaitu keakuratan dan konsistensi. Keakuratan menyatakan kesamaan terhadap nilai aktual, apa pun
nilai itu di dalam manajemen proyek. Sebaliknya konsistensi merupakan suatu ukuran sampai berapa
lama keakuratan ini dapat dipercaya. Menurut Asworth, A., (1994) menunjukkan bahwa keakuratan
kontraktor dalam memberikan estimasi rata-rata berkisar 10% dan ini merupakan masalah. Dalam
keadaan tertentu estimator dapat melakukan 50-60% ketidakakuratan. Hal ini disebabkan oleh adanya
masalah dalam pemakain data biaya, karena informasi tersebut sampai taraf tertentu kurang dapat
dipercaya. Berikut ini contoh beberapa perbedaan penggunaan koefisien sebagai dasar untuk
menentukan biaya konstruksi di dalam manajemen proyek.
KEGIATAN ESTIMASI
Kegiatan estimasi merupakan salah satu proses utama dalam proyek konstruksi untuk menjawab
pertanyaan, "Berapa besar dana yang harus disediakan untuk sebuah bangunan?". Hal ini
diperlukan bagi investor apabila hendak membuat keputusan investasi. Berbeda dengan penyedia
jasa, kegiatan estimasi diperlukan untuk proses mendapatkan pekerjaan melalui tender / lelang.

Tingkat ketepatan biaya sebuah bangunan ditentukan oleh berbagai faktor yang datangnya bisa
dari dalam maupun dari luar proyek. Berbagai faktor yang datang dari dalam antara lain : tingkat
kompleksitas bangunan, lokasi proyek, ketersediaan alat, sistem dalam perusahaan, analisis yang
digunakan, dan masih banyak lagi. Sedangkan faktor yang berasal dari luar proyek antara lain :
faktor ekonomi, keamanan publik, kebijakan pemerintah, faktor sosial dan politik, serta yang
lainnya.
Estimasi Biaya Konstruksi
(sumber : beritahariini.blogspot.com)

Kegiatan estimasi merupakan dasar untuk membuat sistem pembiayaan dan jadwal pelaksanaan
konstruksi serta merupakan "peramalan kejadian" pada proses pelaksanaan dan memberi "nilai"
pada masing-masing kejadian tersebut.

Estimasi dilakukan dengan terlebih dahulu mempelajari gambar rencana dan spesifikasi.
Berdasarkan gambar rencana dapat diketahui kebutuhan material, baik jenis maupun kuantitas
material yang natinya akan digunakan. Perhitungan kebutuhan jenis dan kuantitas material harus
dilakukan secara teliti dan setiap jenis material itu harus ditentukan harganya. Sedangkan
spesifikasi dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan mutu / kualitas setiap jenis material.

Dalam melakukan kegiatan estimasi, seorang estimator harus memahami proses konstruksi secara
menyeluruh, termasuk jenis dan kebutuhan alat karena faktor tersebut dapat mempengaruhi biaya
konstruksi. Perbedaan metode konstruksi berpengaruh terhadap perencanaan anggaran biaya.
Pihak yang menguasai berbagai metode konstruksi dan mampu memilih dan memutuskan untuk
menggunakan metode yang tepat dalam merealisasikan proyek akan dapat membuat rencana
anggaran biaya yang efisien.

Berbagai hal yang ikut berkontribusi dalam rencana anggaran biaya adalah antara lain :
Produktivitas tenaga kerja.
Ketersediaan material.
Ketersediaan peralatan.
Cuaca
Jenis kontrak
Masalah kualitas.
Etika.
Sistem pengendalian.
Kemampuan manajemen.

JENIS-JENIS ESTIMASI
Estimasi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu antara lain :

Estimasi Kelayakan
Estimasi kelayakan digunakan untuk menentukan apakah proyek tersebut layak dibangun. Biaya
yang diperhitungkan dalam estimasi ini mencakup biaya untuk akuisisi tanah, perancangan,
depresiasi, pajak, bunga modal, pemeliharaan dan perbaikan tahunan dan lain-lain.
Estimasi Konseptual
Estimasi konseptual dilakukan selama proses perancangan berlangsung, setiap terjadi revisi
estimasi maka tingkat ketelitian atau akurasi biaya akan meningkat sesuai tahap perancangan.
Jenis-jenis estimasi konseptual adalah :
1. Estimasi harga satuan fungsional, yang menggunakan fungsi dari fasilitas sebagai dasar
penetapan biaya.
2. Estimasi biaya satuan per meter persegi, di mana metode ini mengandalkan data dari
proyek sejenis yang pernah dibangun. Metode ini mempunyai ketelitian rendah.
3. Estimasi biaya satuan per meter kubik, dapat digunakan dalam bangunan di mana volume
sangat dipentingkan. Metode ini hanya dapat diandalkan untuk fase awal perencanaan dan
perancangan.
4. Estimas faktorial, digunakan pada proyek yang mempunyai tipe sama. Metode ini sangat
berguna untuk proyek-proyek yang mempunyai komponen utama yang sama. Biaya
komponen utama ini akan berfungsi sebagai faktor dasar 1,00 dan harga semua komponen
yang lain merupakan fungsi dari komponen utama.
5. Estimasi sistematis, dalam hal ini proyek dibagi atas sistem fungsional kemudian harga
satuan ditentukan dari penjumlahan tiap harga satuan elemen dalam setiap sistem atau
mengalikan dengan faktor pengali yang ada.

Estimasi Detail
Estimasi detail umumnya dilakukan kontraktor umum. Langkah awal yang dilakukan adalah
dengan membuat quantity take off berdasarkan gambar kerja dan spesifikasi kemudian
menyatukan biaya material, tenaga kerja, peralatan, sub-kontraktor dan biaya lain
seperti overhead dan keuntungan.

Sistem Estimasi Sub-Kontraktor


Sistem estimasi sub kontraktor dipakai pada bagian konstruksi khusus yang disub-kontrakkan.

Estimasi Pekerjaan Tambah Kurang


Dimana pekerjaan tambah kurang dapat terjadi karena kebutuhan pemilik, kesalahan dalam
dokumen kontrak, atau perubahan kondisi lokasi proyek.

Estimasi Kemajuan
Estimasi kemajuan bertujuan sebagai dasar permintaan pembayaran, sebagai pembanding terhadap
keuntungan dan kerugian yang telah diramalkan sebelumnya.

SUMBER INFORMASI UNTUK ESTIMASI


Sumber informasi terbaik untuk estimasi biaya adalah pengalaman perusahaan. Informasi
mengenai jumlah material terpakai, tenaga kerja atau jam kerja yang dikeluarkan, jam peralatan
yang dibutuhkan untuk melakukan setiap pekerjaan dari proyek-proyek terdahulu akan sangat
berguna.
ESTIMATOR
Estimator adalah seseorang yang mempunyai profesi khusus dalam pembuatan anggaran biaya
suatu proyek. Seorang estimator tidak hanya mampu melakukan kuantifikasi atas semua yang
disajikan dalam gambar kerja dan spesifikasi, akan tetapi juga harus mampu mengantisipasi semua
kegiatan konstruksi yang akan terjadi. Gambar kerja dan spesifikasi tidak dapat mencerminkan
metode konstruksi dan seluruh proses yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek, melainkan
hanya menyatakan hasil akhir yang diharapkan dari proses konstruksi. Sebelum menentukan
keputusannya seorang estimator harus melakukan analisis terhadap semua faktor yang
berhubungan dengan proyek.

Seorang estimator harus mempunyai kualifikasi sebagai seorang yang melakukan kegiatan
estimasi, kualifikasi seorang estimatortor dapat ditentukan oleh kemampuannya, dimana estimator
diharapkan mampu ddalam hal-hal berikut ini :
Seorang estimator harus mampu membaca / menginterpretasikan sebuah gambar kerja dan spesifikasi
yang digunakan, serta memvisualisasikan gambar bentuk tiga dimensi dari sebuah desain proyek.
Seorang estimator harus berpikir kreatif dan mampu mencari alternatif-alternatif metode konstruksi,
serta mengetahui produktivitas tenaga kerja dan kinerja dari setiap peralatan yang digunakan.
Seorang estimator harus mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik, sabar dan teliti dalam
melakukan pekerjaannya.
Seorang estimator harus mempunyai dasar pengetahuan tentang matematika dasar dan pengetahuan
tentang operasi serta prosedur di lapangan.
Seorang estimator harus mampu mengidentifikasi dan menetralisasi segala resiko yang ada, dan dapat
berorganisasi dengan baik guna menyampaikan estimasi secara logis dan jelas.
Seorang estimator harus mampu membuat jadwal konstruksi, mengerti dan mampu menggunakan
sistem biaya pekerjaan perusahaan serta memahami hubungan kontraktual yang ada.
Seorang estimator harus mampu membangun strategi sukses dalam fase pelelangan dan negoisasi
proyek, mampu mengatasi batas waktu dan yang paling penting adalah mempunyai standar kode etik
yang tinggi sebagai seorang estimator.
MAKALAH
MANAJEMEN KONSTRUKSI
ESTIMASI BIAYA PROYEK
DOSEN : ANJAS HANDAYANI, ST, MT

Penyusun :
Apria Kresna Rahayu 41115210021
Fanisya Putri Andrian 41115210026

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS MERCU BUANA
BEKASI