Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FENOMENA DASAR


BIDANG KONSTRUKSI

MODUL 2
DEFLEKSI

Nama : Kenichi Okta Herwanto


NIM : 1507117561
Kelompok : A5

LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN PERANCANGAN


PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum ini
tepat waktu.
Penulis mengucapkan terima kasih pada kedua orang tua yang sampai
sekarang ini masih sudi membiayai seluruh keperluan penulis dalam pembuatan
laporan ini. Penulis jugamengucapkan terima kasihpada Bapak Feblil Huda, ST.,
MT., Ph. D sebagai dosen pengampu mata kuliah Fenomena Dasar bidang
konstruksi dan pada paraasisten yang membantu penulis dalam proses praktikum
dan penulisan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih memiliki
banyak kekurangan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca untuk menyempurnakan laporan ini guna
untukdunia pendidikan dan penulis sendiri.

Pekanbaru, November 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iv
DAFTAR NOTASI...................................................................................................v
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan Percobaan 1
1.3 Manfaat 2
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar 3
2.2 Teori Dasar Alat Uji 9
BAB IIIMETODOLOGI
3.1Alat dan Bahan 11
3.2 Prosedur Percobaan 13
BAB IVPEMBAHASAN
4.1 Data Pengujian 14
4.2 Pengolahan Data 15
4.3 Analisa Data 18
BAB VPENUTUP
5.1 Kesimpulan 21
5.2 Saran 21
DAFATAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Balok sebelum terjadi deformasi dan konfigurasi terdeformasi........3


Gambar 2. 2 Defleksi vertikal.................................................................................4
Gambar 2. 3 Defleksi horizontal.............................................................................4
Gambar 2. 4 Tumpuan engsel.................................................................................6
Gambar 2. 5 Tumpuan rol.......................................................................................6
Gambar 2. 6 Tumpuan jepit....................................................................................7
Gambar 2. 7 Beban terpusat...................................................................................7
Gambar 2. 8 Beban terdistribusi.............................................................................8
Gambar 2. 9 Beban bervariasi (uniform)................................................................8
Gambar 2. 10 Batang tumpuan sederhana..............................................................8
Gambar 2. 11 Batang kantilever.............................................................................9
Gambar 2. 12 Batang overhang..............................................................................9
Gambar 2. 13 Batang menerus...............................................................................9
Gambar 3. 1Dial indikator............................................11
Gambar 3. 2 Massa...............................................................................................11
Gambar 3. 3 Alat uji.............................................................................................12
Gambar 3. 4 Kunci pas.........................................................................................12
Gambar 3. 5 Mistar...............................................................................................12
Gambar 3. 6 Batang uji.........................................................................................13
Gambar 4. 1 Grafik tumpuan jepit-rol beban di tengah........................................18
Gambar 4. 2 Grafik tumpuan jepit-rol beban di ujung.........................................19
Gambar 4. 3 Grafik tumpuan engsl-rol beban di tengah......................................19

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 4. 1 Data dimensi benda uji.........................................................................14


Tabel 4. 2 Data pengujian tumpuan jepit-rol beban di tengah batang uji..............14
Tabel 4. 3 Data pengujian tumpuan jepit-rol beban di ujung batang uji...............14
Tabel 4. 4 Data pengujian tumpuan engsel-rol beban di tengah batang uji...........14
Tabel 4. 5 Hasil perhitungan tumpuan jepit-rol beban di tengah batang uji..........17
Tabel 4. 6 Hasil perhitungan tumpuan jepit-rol beban di ujung batang uji...........17
Tabel 4. 7 Hasil perhitungan tumpuan engsel-rol beban di tengah batang uji......18

iv
DAFTAR NOTASI

Simbol Keterangan Satuan


panjang poros mm
m massa kg
P gaya N
g percepatan gravitasi m/s2
I inersia mm4
defleksi mm
x jarak tumpuan ke beban mm
E modulus elastisitas N/mm2

v
vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Didalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat fenomena defleksi,baik
defleksi pada logam maupun non-logam. Oleh sebab itu seorangengineer harus
mampu memperhitungkan defleksi atau lendutan yang akan terjadi,contohnya saja
pada jembatan. Jika seorangengineer tidak memperhitungkan dengan benarmaka
akan berakibat fatal bagi pengguna jembatan tersebut, karena lendutan yang lebih
besar akan mengurangi faktor safety pada struktur tersebut.
Defleksi merupakan suatu fenomena perubahan bentuk pada balok dalam
arah vertikal dan horizontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok
atau batang. Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila
benda dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang yang
mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi
merata akan mengalami defleksi.
Salah satu persoalan yang sangat penting diperhatikan adalah perhitungan
defleksi atau lendutan dan tegangan pada elemen-elemen ketika mengalami suatu
pembebanan. Hal ini sangat penting terutama dari segi kekuatan (strength) dan
kekakuan (stiffness), dimana pada batang horizontal yang diberi beban secara
lateral akan mengalami defleksi. Oleh sebab itu kita harus mengetahui fenomena
apa saja yang akan terjadi padadefleksi ini.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari praktikum defleksi ini adalah:
1. Mengetahui fenomena lendutan batang prismatik dan pemanfaatannya dalam
eksperimen dengan konstruksi sederhana.
2. Membandingkan solusi teoritik dengan hasil eksperimen.

1
2

1.3 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh pada praktikum defleksi ini diantaranya adalah
mengetahui fenomena defleksi (lendutan) yang terjadi pada batang ataupun balok,
dan mampu menghitung besarnya defleksi yang terjadi.
3

1.1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar


2.1.1 Pengertian defleksi
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah vertikal atau
horizontal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang.
Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda
dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatu batang yang mengalami
pembebanan transversal baik itu beban terpusat maupun terbagi merata akan
mengalami defleksi.
Deformasi pada balok secara sangat mudah dapat dijelaskan berdasarkan
defleksi balok dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur
dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi
yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva
elastis dari balok.

Gambar 2. 1Balok sebelum terjadi deformasi dan konfigurasi terdeformasi

Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Dalam penerapan,


kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang balok.
Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut
persamaan defleksi kurva atau kurva elastis dari balok.

2.1.2 Jenis-jenis defleksi

4
5

1. Deflkesi vertikal (w)


Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal baik tarik
atau tekan hingga membentuk sudut defleksi, dan posisi batang vertikal,
kemudian kembali ke posisi semula.

Gambar 2. 2Defleksi vertikal

2. Defleksi horizontal (p)


Perubahan bentuk suatu batang akibat pembebanan arah vertikal (bending)
posisi batang horizontal, hingga membentuk sudut defleksi, kemudian
kembali ke posisi semula.

Gambar 2. 3Defleksi horizontal

Suatu batang kontinu yang ditumpu akan melendut apabila mengalami


beban lentur. Defleksi berdasarkan pembebanan yang terjadi pada batang terdiri
atas:
1. Defleksi aksial
Defleksi aksial adalah defleksi yang terjadi jika terjadi pembebanan pada
luas penampang.
2. Defleksi lateral
Defleksi lateral adalah defleksi yang terjadi jika pembebanan tegak lurus
pada luas penampang.
6

3. Defleksi yang disebabkan oleh gaya geser pada batang.

2.1.3 Faktor Penentu Defleksi


1. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada
batang akan semakin kecil.
2. Besar-kecilnya pembebanan yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan
besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang
dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin besar.
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Oleh karena
itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda tidaklah
sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari beban
maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin
(pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan
jepit.
4. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titikkeduanya memiliki kurva
defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope yang
terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik.Ini
karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban titik
hanya terjadi pada beban titik tertentu saja. Sedangkan untuk faktor yang
mempengaruhi nilai defleksi yaitu :
a. Besar pembebanan (P)
b. Panjang batang (l)
c. Dimensi penampang batang (I)
d. Jenis material batang (E)
2.1.4 Jenis-jenis tumpuan
1. Tumpuan engsel
Tumpuan engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertikal dan gaya reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu
melawan gaya yang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada
umumnya reaksi pada suatu tumpuan seperti ini mempunyai dua komponen
yang satu dalam arah horizontal dan yang lainnya dalam arah vertikal. Tidak
seperti pada perbandingan tumpuan rol atau penghubung,maka
perbandingan antara komponen-komponen reaksi pada tumpuan yang
7

terpasak tidaklah tetap. Untuk menentukan kedua komponen ini dua buah
komponen statika harus digunakan.

Gambar 2. 4Tumpuan engsel

2. Tumpuan rol
Tumpuan rolmerupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi
vertikal. Alat ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang
spesifik. Penghubung yang terlihat pada gambar dibawah ini dapat melawan
gaya hanya dalam arah AB rol. Pada gambar dibawah hanya dapat melawan
beban vertikal. Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu tegak lurus pada
bidang cp.

Gambar 2. 5Tumpuan rol

3. Tumpuan jepit
Tumpuan jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertikal, gaya reaksi horizontal dan momen akibat jepitan dua penampang.
Tumpuan jepit ini mampu melawan gaya dalam setiap arah dan juga mampu
melawan suatu kopel atau momen. Secara fisik, tumpuan ini diperoleh
dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding batu bata.
Mengecornya ke dalam beton atau mengelas ke dalam bangunan utama.
8

Gambar 2. 6Tumpuan jepit

2.1.5 Jenis-jenis pembebanan


Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batangadalah
jenis beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembebanan:
1. Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas kontaknya
kecil.

Gambar 2. 7Beban terpusat

2. Beban terbagi merata


Disebut beban terbagi merata karena merata sepanjang batang dinyatakan
dalam N/m atau kN/m.

Gambar 2. 8Beban terdistribusi


9

3. Beban bervariasi (uniform)


Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batang besarnya
tidak merata.

Gambar 2. 9Beban bervariasi (uniform)

2.1.6 Jenis-jenis batang


1. Batang tumpuan sederhana
Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol.

Gambar 2. 10Batang tumpuan sederhana

2. Batang kantilever
Bila salah satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas.

Gambar 2. 11Batang kantilever

3. Batang overhang
Bila balok dibangun melewati tumpuan sederhana.
10

Gambar 2. 12Batang overhang

4. Batang menerus
Bila tumpuan-tumpuan terdapat pada balok continue secara fisik.

Gambar 2. 13Batang menerus

2.2 Teori Dasar Alat Uji


Alat ukur yang digunakan pada percobaan defleksi ini adalah dial
gaugeatau jam ukur. Jam ukur merupakan alat ukur pembanding yang banyak
digunakan dalam industri pemesinan pada bagian produksi maupun bagian
pengukuran. Prinsip kerjanya secara mekanik, dimana gerak linear dari sensor
diubah menjadi gerak putaran pada jarum penunjuk pada piringan berskala dengan
perantara batang bergigi dan susunan roda gigi. Kecermatan pembacaan skala
pada jam ukur yaitu 0.01; 0.05; atau 0.002 dengan kapasitas ukuran yang berbeda-
beda misalnya 20, 10, 5, 2, atau 1 mm. Untuk kapasitas ukuran yang besar
biasanya dilengkapi dengan jarum jam penunjuk kecil pada piringan jam besar,
dimana satu putaran penuh jarum jam yang besar sesuai dengan satu angka pada
jarum kecil.

Ujung sensor dapat diganti dengan berbagai bentuk yang dibuat dari baja
karbida atau sapphire.Ujung sensor disesuaikan dengan kondisi benda ukur dan
frekuensi penggunaannya. Toleransi kesalahan putarnya dapat diperiksa dengan
11

cara menempatkan jam ukur pada posisi yang tetap dan benda ukur diputar pada
sumbu tertentu.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


1. Dial indikator
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur defleksi.

Gambar 3. 1Dial indikator


2. Massa
Beban yang diberikan agar batang mengalami lendutan.

Gambar 3. 2Massa

12
13

3. Perangkat alat uji

Gambar 3. 3Alat uji


4. Kunci pas
Kunci pas berfungsi untuk mengunci dan membuka pemasangan tumpuan
pada alat uji.

Gambar 3. 4Kunci pas


5. Mistar
Mistar berfungsi untuk mengukur jarak antar titik pengukuran.

Gambar 3. 5Mistar
6. Batang uji
Batang uji digunakan sebagai sampel pada pengujian defleksi ini.
14

Gambar 3. 6Batang uji


Prosedur Percobaan
1. Ukur dimensi semua benda uji dengan alat ukur yang tersedia.
2. Susunlah perangkat pengujian defleksi untuk tumpuan jepit-rol untuk masing-
masing spesimen batang uji.
3. Set posisi jam ukur pada posisi nol ketika batang uji sebelum diberikan
pembebanan.
4. Berikan pembebanan pada setiap batang uji dibagian tengah dari panjang
batang uji.
5. Ukurlah besar nilai simpangan lendutan pada posisi tertentu dari posisi
pembebanan (lakukan pengukuran lendutan pada tiga titik)
6. Ulangi langkah percobaan 2-5, akan tetapi pindahkan posisi pembabanan pad
ujung batang uji dan tumpuan rol berada ditengah-tengah panjang batang uji
(overhang).
7. Ganti jenis tumpuan pada perangkat pengujian menjadi tumpual engsel-rol.
Berikan pembebanan pada bagian tengah dari setiap batang uji dan ukur besar
simpangan yang terjadi.
8. Catat hasil pengujian pada tabel yang telah disediakan.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Data Pengujian


Tabel 4. 1 Data dimensi benda uji

Batang Panjang Lebar Tebal Diameter


Keterangan
uji no. (mm) (mm) (mm) (mm)
1 600 53 5 0 Plat pendek
2 600 48 3,1 0 Plat panjang
3 600 0 0 6,3 Silindris

Tabel 4. 2 Data pengujian tumpuan jepit-rol beban di tengah batang uji

Batang Uji Posisi Pengujian (mm) Defleksi Pengujian (mm)


No. X1 X2 X3 X1 X2 X3
1 150 280 450 1,43 1,65 1,06
2 150 360 470 1,51 1,95 1,10
3 150 280 450 0,34 0,45 0,31

Tabel 4. 3 Data pengujian tumpuan jepit-rol beban di ujung batang uji

Batang Uji Posisi Pengujian (mm) Defleksi Pengujian (mm)


No. X1 X2 X3 X1 X2 X3
1 150 280 450 -8,11 1,80 0,96
2 150 360 470 -9,57 2,29 0,54
3 150 280 450 -2,02 0,44 0,19

Tabel 4. 4 Data pengujian tumpuan engsel-rol beban di tengah batang uji

Batang Uji Posisi Pengujian (mm) Defleksi Pengujian (mm)


No. X1 X2 X3 X1 X2 X3
1 150 280 450 2,16 2,90 2,13
2 150 360 470 1,94 2,85 1,93
3 150 280 450 0,52 0,62 0,55

15
16

4.2 Pengolahan Data

=
17

4.2.1 Batang uji tumpuan jepit-rol beban di tengah batang uji

4.2.2 Batang uji tumpuan jepit-rol beban di ujung batang uji(overhang)


18

4.2.3 Batang uji tumpuan engsel-rol beban di tengah batang uji

4.2.4 Hasil Perhitungan dan Grafik batang 1


Tabel 4. 5Hasil perhitungan tumpuan jepit-rol beban di tengah batang uji
19

Posisi Pengujian Defleksi Pengujian


Batang Defleksi Teoritis (mm)
(mm) (mm)
Uji No.
X1 X2 X3 X1 X2 X3 X1 X2 X3
1 150 280 450 8,11 1,80 0,96 0,6247 1,3468 0,6747
2 150 360 470 9,57 2,29 0,54 0,4051 0,8734 0,4375
3 150 280 450 2,02 0,44 0,19 0,0874 0,1885 0,0944

Tabel 4. 6Hasil perhitungan tumpuan jepit-rol beban di ujung batang uji


Posisi Pengujian Defleksi Pengujian
Batang Defleksi Teoritis (mm)
(mm) (mm)
Uji No.
X1 X2 X3 X1 X2 X3 X1 X2 X3
1 150 280 450 -8,11 1,8 0,96 12,3005 5,5276 0,3998
2 150 360 470 -9,57 2,29 0,54 7,9771 3,5847 0,2593
3 150 280 450 -2,02 0,44 0,19 0,0944 0,1885 0,0559
Tabel 4. 7Hasil perhitungan tumpuan engsel-rol beban di tengah batang uji
Posisi Pengujian Defleksi Pengujian
Defleksi Teoritis (mm)
Batang (mm) (mm)
Uji No.
X1 X2 X3 X1 X2 X3 X1 X2 X3

1 150 280 450 2,16 2,9 2,13 2,1992 3,1780 1,7993


2 150 360 470 1,94 2,85 1,93 1,4262 2,0609 1,1669
3 150 280 450 0,52 0,62 0,55 0,3078 0,4448 0,2518

4.3 Analisa Data


Dari hasil perhitungan data pengujian maka diperoleh grafik sebagai berikut:
20

Gambar 4.1 Grafik tumpuan jepit-rol beban di tengah


Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa defleksi meningkat dari posisi pertama
ke posisi kedua kemudian menurun pada posisi ketiga. Defleksi terbesar terjadi
saat posisi pengukuran tepat di tengah batang uji dimana beban diletakkan.Hal
ini disebabkan karena pembebanan dilakukan tepat di tengah panjang batang uji.
Defleksi terbesar akan selalu terjadi pada saat pembebanan dilakukan tepat di
tengah batang uji pada kasus kedua ujungnya ditumpu.

Gambar 4.2 Grafik tumpuan jepit-rol beban di ujung


Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa defleksi meningkat seiring
meningkatnya posisi pengukuran dan defleksi terbesar terjadi pada posisi
21

pengukuran ketiga yaitu pada posisi pembebanan pada ujung batang uji.Hal ini
disebabkan karena ujung batang uji yang dilakukan pembebanan bebas tanpa
tumpuan sehingga defleksi maksimum terjadi pada posisi ini. Apabila
dibandingkan dengan defleksi yang terjadi pada jenis tumpuan yang lain, dfleksi
terbesar terjadi pada tumpuan overhang karena pada pengujian dengan tumpuan
overhang ini pembebanan dilakukan pada ujung batang uji yang tidak ditumpu.

Gambar 4.3 Grafik tumpuan engsl-rol beban di tengah


Perbedaan pengujian pada grafik di atas dengan grafik pertama adalah salah
satu tumpuan yang digunakan sementara tumpuan yang lain sama. Namun
defleksi terbesar terjadi pada tumpuan engsel-rol.Hal ini disebabkan karena
tumpuan jepit mampu menahan momen yang terjadi akibat pembebanan sehingga
defleksi yang terjadi lebih kecil.
Besarnya defleksi dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu besarnya
pembebanan (P),panjang batang (l), dimensi penampang batang (I), dan jenis
material batang (E). Defleksi berbanding lurus dengan besarnya pembebanan dan
panjang batang namun berbanding terbalik dengan dimensi penampang batang
dan modulus elastisitas bahan.
22

Gambar 4.4 Grafik Jepit Rol Beban Tengah Batang 1

Gambar 4.5 Grafik Jepit Rol Beban Ujung Batang 1


23

Gambar 4.6 Grafik Engsel Rol Beban Tengah Batang 1


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum defleksi ini antara
lain sebagai berikut:
1. Pada kasus kedua ujung batang uji ditumpu, lendutan terbesar akan terjadi
pada saaat pembebanan dilakukan tepat di tengah panjang batang uji. Namun
pada kasus tumpuan overhangdefleksi terbesar terjadi pada ujung batang uji
dimana pembebanan dilakukan.
2. Pada umumnya hasil percobaan dengan teoritik relatif sama, namun akan
terjadi perbedaan apabila mengalami kesalahan dalam pengukuran atau
pengkalibrasian alat.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan saat melakukan praktikum defleksi antara lain
sebagai berikut.
1. Pada saat praktikum ikutilah sesuai prosedur.
2. Pada saat pengukuruan pastikan dial indicator pada posisi yang tepat.
3. Pada saat pengukuran titik yang akan diukur harus tepat dan batang harus
dipasang dengan baik.

DAFATAR PUSTAKA

24
Spotts, M.F. 1998. Design of Machine Elements 7th. New Jersey : Prentice-Hall,
Inc.
Team Penyusun LKM. 2017. Penuntun Praktikum Fenomena Dasar Mesin
Bidang Konstruksi Jurusan Mesin FT-UR : Pekanbaru

25
LAMPIRAN