Anda di halaman 1dari 9

Studi Kasus Colibacillosis pada Anak Babi

MAKALAH FARMAKOTERAPI VETERINER


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakoterapi Veteriner oleh dosen Drh.
Pambangun M.

Disusun oleh:
Gabriela Hendra F. (145130100111043)
Melinda Puspita S. (145130101111070)
Dena Setyo Arum P. (145130107111019)
Bay Abdul Wahab (145130107111021)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas rahmat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah dari Nya-lah
akhirnya tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Studi Kasus Colibacillosis
pada Anak Babi dalam rangka memenuhi tugas dari dosen Farmakoterapi Veteriner FKH
UB. Setelah melalui beberapa proses pembuatan, pengeditan, dan pencetakan, syukur
Alhamdulillah saat ini makalah telah dikerjakan dengan sukses dan lancar.
Sesuai dengan tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing, maka makalah ini
berisikan segala materi tentang Studi Kasus Colibacillosis pada Anak Babimulai dari
tujuan, pengertian, penerapan dari sub-bab yang dibahas di dalam makalah ini. Pada
dasarnya, makalah ini memang khusus diperuntukkan oleh mahasiswa Kedokteran Hewan
yang sedang ataupun telah melakukan studi kuliahnya.
Demikian sekilas tentang penulis, kami pun juga tak lepas dari berbagai kesalahan
yang telah dilakukan selama pembuatan makalah ini. Apabila selama penyampian makalah
ini masih terdapat kesalahan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi salah satu referensi dalam
pengambilan info Kedokteran Hewan.

Malang, 30 November 2016

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha peternakan babi berkembang cukup pesat seiring dengan meningkatnya
kebutuhan akan nilai gizi masyarakat khususnya yang berasal dari protein hewani. Ternak
babi juga memberikan banyak keuntungan seperti cepat tumbuh, cepat berkembang biak dan
dan hasil ikutannya berupa pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian.
Keberadaan ternak babi tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Salah satu masalah yang
menjadi faktor penghambat peternakan babi adalah serangan penyakit. Seperti halnya ternak
lain, babi rentan terhadap serangan penyakit baikyang berasal dari bakteri, virus, parasit,
maupun jamur. Beberapa penyakit bakteri dapat menginfeksi ternak babi seperti
Kolibasilosis, Streptokokosis, danSeptichaemia Epizootica (SE). Kerentanan terhadap
penyakit ini sangat beragam tergantung dari umur ternak babi (Nengah, 2010).
Kolibasilosis adalah penyakit yang disebabkan oleh E. coli. Penyakit inisering
menyerang babi, khususnya pada babi yang baru lahir sampai sesaatsetelah disapih. Gejala
yang khas adalah mencret berwarna putih. Sehingga penyakit ini sering disebut dengan white
scours atau diare putih. Kerugian yangtimbul akibat kolibasilosis yaitu menurunnya berat
badan, pertumbuhan terhambat, dan jika tidak segera ditangani menimbulkan kematian
(Francis, 1999). Disamping menimbulkan kerugian pada babi, E. coli menimbulkan penyakit
pada manusia. E. coli yang bersumber dari babi dapat menghasilkan verotoksin yang
berakibat diare berdarah pada manusia, gejala kencing darah, dan kematian (Eriksson, 2009).
Kejadian kolibasilosis selalu menghantui peternak babi di Indonesia. Kejadiannya
akan meningkat pada musim hujan. Kejadian kolibasilosis pada anak babi di Bali periode
2003 2007 mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Tahun 2003 tercatat sebanyak 5.307
ekor terserang kolibasilosis dengan 81 ekor mengalami kematian. Di tahun 2004, 2005, 2006
dan 2007 ditemukan kejadian penyakit berturut-turut sebanyak 6.582 ekor, 8.607 ekor,
10.940 ekor, 14.302 ekor dengan angka kematian berturut-turut 101 ekor, 124 ekor, 121 ekor,
dan 489 ekor (Disnak, 2008).
Pemberian antibiotika merupakan salah satu pilihan dalam menangani infeksi
kolibasilosis. Pemberian infus sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang akibat diare sangat
sulit diberikan pada babi, sehingga pemberian antibiotika tanpa diikuti dengan pemberian
cairan tubuh akan menjadi tidak maksimal(Charbonneau, 2004). Akibatnya, pengobatan
kolibasilosis membutuhkan waktu yang lama. Biaya pengobatan yang mahal dan turunnya
berat badan ternak merupakan kerugian besar bagi setiap peternakan babi.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja obat yang dapat diberikan pada kasus Colibacillosis anak babi?
1.2.2 Bagaimana pengobatan pada kasus Colibacillosis pada anak babi?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui obat yang dapat diberikan pada kasus Colibacillosis anak
babi.
1.3.2 Untuk mengetahui pengobatan pada kasus Colibacillosis pada anak babi.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Penetapan masalah/ Diagnosa


Kolibasilosis adalah penyakit yang disebabkan oleh E. coli. Penyakit ini sering
menyerang babi, khususnya pada babi yang baru lahir sampai sesaat setelah disapih.
Gejala yang khas adalah mencret berwarna putih. sehingga penyakit ini sering disebut
dengan white scours atau diare putih. Kerugian yang timbul akibat kolibasilosis yaitu
menurunnya berat badan, pertumbuhan terhambat, dan jika tidak segera ditangani
menimbulkan kematian (Francis, 1999). Disamping menimbulkan kerugian pada babi, E. coli
menimbulkan penyakit pada manusia. E. coli yang bersumber dari babi dapat
menghasilkan verotoksin yang berakibat diare berdarah pada manusia, gejala kencing
darah, dan kematian (Eriksson, 2009).
Cotral (1978) mengatakan bahwa
gejala klinis yang muncul antara lain
diare dan dehidrasi. Selain itu gejala yang
terlihat berupa diare berwarna putih
terjadi pada anak babi (Gillespie dan
Timoney, 1981). Diare pada hewan
muncul akibat dilepaskannya enterotoksin
yang mengakibatkan menurunnya absorbsi
NaCl sedangkan sekresi Chlorida meningkat.
Dengan adanya enterotoksin akan berakibat
menurunnya absorbsi natrium pada usus dan lumen usus meregang yang diikuti dengan
peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare. Patologi kolibasilosis dapat diamati
pada bagian usus, terutama usus halus. Perubahan patologi anatomi yang terlihat pada
usus halus adalah adanya distensi usus halus. Kongesti maupun hiperemi akan teramati pada
saluran pencernaan hewan yang terinfeksi.

2.2 Penentuan tujuan terapi


Kolibasilosis pada babi perlu mendapatkan perhatian. Bila terjadi wabah maka
peternak babi dapat mengalami kerugian ekonomi yang cukup besar (Zhang et al, 2007).
Penyakit ini dapat menyerang babi segala umur (Jorgensen et al, 2007). Kolibasilosis
yang menyerang anak babi dapat mengakibatkan menurunnya berat badan, pertumbuhan
terhambat, dan jika tidak segera ditangani akan mengakibatkan kematian. Oleh karena itu
terapi diberikan dengan tujuan untuk mengurangi angka kematian anak babi yang
dikarenakan oleh kolibasilosis

2.3 Penentuan intervensi terapi


2.3.1 Advis
Colibacillosis pada anak ternak dapat dikendalikan dengan manajemen kandang dan
hygiene yang baik. Lantai kandang terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan. Tempat
pakan dan air minum diletakkan sedemikian rupa sehingga terhindar dari pencemaran feses.
Ternak baru harus dilakukan tindakan karantina dan lebih baik lagi disertai pengobatan
profilaktik pada saat kedatangan. Sebaiknya dihindari pembelian ternak baru umur muda.
Bagi peternakan yang sering mengalami kejadian colibacillosis dapat dianjurkan untuk
melakukan vaksinasi pada induk 2-4 minggu menjelang partus yang bertujuan untuk
mengurangi jumlah kematian yang biasanya tinggi dan mendadak.
2.3.2 Non-drug
- Kunyit merupakan salah satu obat tradisional yang sering dipakai untuk menangani
mules, mencret, mual dan masuk angin. Kandungan kurkuminoid pada kunyit mampu
membunuh bakteri E. coli. Kurkuminoid merupakan senyawa fenolik, oleh sebab itu
diduga mempunyai mekanisme yang sama dengan senyawa fenol lainnya dalam
fungsinya sebagai antibakteri (Parvathy et al., 2009).
- Pemberian infus (NaCl fisiologis) sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang akibat
diare (Charbonneau, 2004).

2.3.3 Drug
- Pemberian antibiotika juga merupakan salah satu pilihan dalam menangani infeksi
kolibasilosis. Kolibasilosis pada babi dapat diobati dengan antibiotik yang bersifat
bakteriostatik atau bakteriosidal. Antibakteri yang efektip untuk mengobati diare yang
disebabkan oleh bakteri ini adalah tetrasiklin, streptomisin, polimiksin, sulfanamida,
dan golongan penisilin beserta derivatnya seperti ampisilin, karbenisilin, gentamicin
dan sefalosporin. Sulfonamida adalah agen antibakteri yang dibuat secara sintetis.

2.3.4 Rujukan
Tidak diperlukan rujukan untuk penanganan penyakit ini

2.3.5 Prognosa
Prognosa untuk kasus colibasillosis ini adalah fausta atau dapat disembuhkan
apabila dengan penanganan yang tepat.

2.4 Penentuan Regimen dosis dan penulisan resep obat


- Colibact inj. Sediaan cair, tiap 1 ml mengandung sulfadiazine 200 mg, trimethoprim
40 mg. Untuk mengatasi infeksi bakteri pada (saluran pencernaan, nafas,
kemih,radang sendi, mastitis, septikemia dll) sapi, domba, kambing dan babi.
Pemberian secara injeksi IM. Dosis babi 2,5 5 ml / 40 80 kg bb. Kemasan 20, 50
dan 100 ml. Sanbe Farma.
- Gentamycin Inj. Sediaan cair, mengandung gentamycin sulfat. Untuk mengatasi
infeksi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (termasuk infeksi colibacilosis,
Fowl cholera (Pasteurella multocida), coryza Coryza / Snot / pilek (Haemophilus
paragallinarum), staphylococcosis, streptococosis. Pemberian secara injeksi IM, dosis
babi 2 ml / kg bb 2 kali sehari. Kemasan 100 ml. Titebarn limited, Inggris / Ekasapta
wijaya tangguh.
PENULISAN RESEP
Drh. Murtadji
SIP: 6758/SIP/VIII/2016
Praktek: Jl. Dewandaru No. 4 Malang
No. Telp: 0341 564777

Malang, 29 November 2016


R/ Colibact 2,5ml
s.i.m.m
pro. Inj.

Pro: Boni (Babi)


Pemilik: Nn. Ani
Alamat: Jl. Bunga Andong No.11

Drh. Murtadji
SIP: 6758/SIP/VIII/2016
Praktek: Jl. Dewandaru No. 4 Malang
No. Telp: 0341 564777

Malang, 29 November 2016


R/ Gentamycin 2ml
s.i.m.m
pro. Inj.

Pro: Boni (Babi)


Pemilik: Nn. Ani
Alamat: Jl. Bunga Andong No.11

2.5 Komunikasi Resep


2.5.1 Efek obat dan efek samping obat
- Mursito (2001) menyatakan bahwa kandungan kurkumin pada kunyit berkhasiat
membunuh bakteri dan mengobati diare serta dapat mengurangi peristaltik usus.
Penurunan peristaltik usus ini akan menekan gejala mencret. kunyit dan sulfonamida
mempunyai kemampuan yang sama dalam menekan terjadinya mencret serta
menurunkan jumlah bakteri E. coli pada feses anak babi yang menderita kolibasilosis.
Dengan demikian kunyit dapat dipakai sebagai obat alternatif dalam menangani
kolibasilosis pada anak babi. dalam sitoplasma sel bakteri dan merusak sistem kerja
sel dan berakibat lisisnya. Disamping efektip membunuh E. coli,kurkuminoid juga
mampu membunuh Staphylococcus aureus, Bacillus cereus dan Listeria
monocytogenes. Antibakteri ini sering dipakai sebagai obat pilihan untuk menangani
kolibasilosis pada anak babi. Disamping karena efektifitasnya yang tinggi, antibakteri
ini daya kerjanya cepat dan efeksampingnya minimal. Dengan kemampuan yang sama
antara kunyit dengan sulfonamida dalam hal mencegah diare, maka kunyit dapat
sebagai alternatif mengobati kolibasilosis pada anak babi.
- Pengobatan dengan menggunakan non drug yaitu dapat dengan pemberian infus
(NaCl fisiologis) sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang akibat diare. Namun
treatment tersebut sangat sulit diberikan pada babi sehingga pemberian antibiotika
tanpa dibarengi dengan pemberian cairan tubuh akan menjadi tidak maksimal
(Charbonneau, 2004).
2.5.2 Antibakteri yang efektip untuk mengobati diare yang disebabkan oleh bakteri ini
adalah tetrasiklin, streptomisin, polimiksin, sulfanamida, dan golongan penisilin
beserta derivatnya seperti ampisilin, karbenisilin, dan sefalosporin. Sulfonamida
adalah agen antibakteri yang dibuat secara sintetis. Obat ini berfungsi sebagai
penghambat kompetitif dengan menghalangi penyatuan PABA (asam para amino
benzoat) ke dalam asam folat. Karena efektifitasnya sangat tinggi, maka antibakteri
ini sering digunakan dalam menangani kolibasilosis pada babi. Pemakaian antibakteri
untuk menangani kolibasilosis mempunyaikelamahan yaitu resiko timbulnya
resistensi (Samuilov et al., 2007). Adanya resistensi terhadap antibakteri merupakan
persoalan utama dalam menangani kolibasilosis (Burch, 2005).
2.5.3 Intruksi aturan pakai
- Colibact inj. Pemberian secara injeksi IM. Dosis babi 2,5 5 ml / 40 80 kg bb.
Kemasan 20, 50 dan 100 ml.
- Gentamycin Inj. Pemberian secara injeksi IM, dosis babi 2 ml / kg bb 2 kali sehari.
Kemasan 100 ml.

2.6 Monitoring dan evaluasi hasil terapi


Kontrol diambil langkah-langkah untuk mencegah infeksi di babi dengan vaksin
terhadap colibacillosis. E. coli adalah rentan terhadap disinfektan dan suhu lebih dari 80 o C,
sehingga pembersihan menyeluruh dari kandang, sehingga dapat membantu mengurangi
eksposur ke patogen dari jenis E. coli. Memastikan benar chlorination dari ventilasi dan air
minum juga akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan. Perawatan colibacillosis
bergantung pada antimicrobial therapy, namun dengan isolates E. coli semakin tahan
terhadap antibiotik yang sering digunakan.
Pencegahan kolibasilosis dengan vaksin ETEC menjadi penting artinya dengan
semakin meluasnya multipel resistensi ETEC terhadap antibiotika yang sering dipakai pada
peternakan. Aplikasi vaksin ETEC untuk pengendalian kolibasilosis makin terbuka setelah
diketahui berbagai macam antigen perlekatan E. coli yang berkaitan dengan sifat
imunogenisitas dan imunoproteksinya. Pada tahap pertama tiap induk babi bunting diinjeksi
vaksin ETEC pada umur kebuntingan 70-75 hari dengan dosis 2 ml per ekor. Pada umur
kebuntingan 100-105 hari diinjeksi vaksin ke dua dengan dosis seperti yang pertama. Vaksin
diinjeksikan di daerah leher di belakang telinga. Anak babi yang baru lahir diusahakan dapat
menyusu induknya segera setelah dilahirkan. Kolostrum merupakan maternal antibodi yang
dapat mencegah infeksi pada periode neonatal, dan daya proteksi antibodi dalam susu babi
dapat mencapai 3-4 minggu (Supar, 1993).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kolibasilosis adalah penyakit yang disebabkan oleh E. coli. Penyakit inisering
menyerang babi, khususnya pada babi yang baru lahir sampai sesaatsetelah disapih. Gejala
klinis yang muncul antara lain diare dan dehidrasi. Selain itu gejala yang terlihat
berupa diare berwarna putih (White Scours). Pengobatan non drug dapat menggunakan
kunyit dan dengan pemberian infuse. Sedangkan dengan drugs dapat digunakan antibiotika
diantaranya adalah tetrasiklin, streptomisin, polimiksin, sulfanamida, dan golongan penisilin
beserta derivatnya seperti ampisilin, karbenisilin, gentamicin dan sefalosporin. Pencegahan
kolibasilosis dengan vaksin ETEC. Vaksin diinjeksikan di daerah leher di belakang telinga.
Anak babi yang baru lahir diusahakan dapat menyusu induknya segera setelah dilahirkan.
Kolostrum merupakan maternal antibodi yang dapat mencegah infeksi pada periode neonatal,
dan daya proteksi antibodi dalam susu babi dapat mencapai 3-4 minggu

3.2 Saran
Disarankan agar dalam pemeliharaan babi, sanitasi dapat lebih diperbaiki dan
pemberian vaksin serta pemberian kolostrum untuk bayi babi yang baru lahir harus
diperhatikan agar terhindar dari penyakit kolibasilosis pada bayi babi
DAFTAR PUSTAKA
Burch. D., 2005. Problems of antibiotic resistance. in pigs in the UK. Farm animalPractice. In
Practice. 27, 37-43
Charbonneau. G., 2004. Controlling E. coli in the Weaned Pig. London SwineConference
Building Blocks for the Future 1-2 April 2004. Pp: 141-148
Cotral, G.E. 1978. Manual of Standart Methode for Veterinary Mikrobiology. Coms
Stock. Publishing Associates. Cornell University Press. London : 349 357.
Disnak. 2008. Laporan Dinas Peternakan Propinsi Bali. Dinas Peternakan Propinsi Daerah
Tingkat I Bali. Denpasar, hal 1 5.
Eriksson. E, 2009. Verotoxinogenic Escherichia coli O157:H7 in Swedish Cattle and Pigs.
Doctoral Thesis. Swedish University of Agricultural Sciences. Uppsala 2009. Pp. 11-
30
Francis, 1999, D.H.Colibacillosis in Pigs and its Diagnosis. Swine Health
Production.Volume 7 No. 5: 241-244
Gellespie, J. H and Timoney J.F. 1981. Hagans and Bruners Infections Disease of Domestic
Animals, 7th ed. Cornell University Press. Ithaca London : 74 80.
Jorgensen, C.J, Cavaco L.M, Hasman H, Emborg H.D. and Guardabassi.L. 2007.
Occurrence of CTX-M-1-producing Escherichia coli in pigs treated with
ceftiofur. Journal of Antimicrobial Chemotherapy. 59(5):1040-1042.
Mursito, B. 2001. Ramuan Tradisional untuk Kesehatan Anak. PT Penebar Swadaya Jakarta.
Nengah, I Kerta Besung. 2010. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kunyit pada Anak Babi yang
Menderita Colibacillosis. Laboratorium Mikrobiologi FKH UNUD: Bali
Parvathy, K.S., Negi, P.S. and Srinivas, P. 2009. Antioxidant, antimutagenic andantibacterial
activities of curcumin--diglucoside. Food Chemistry. Volume 115, Issue 1, Pp 265-
271.
Samuilov, V. D., Bulakhov, A. V.. Kiselevsky, D. B Kuznetsova, Yu. E.Molchanova, D. V.
Sinitsyn S. V., and Shestak A. A.. 2007. Tolerance to Antimicrobial Agents and
Persistence of Escherichia coli andCyanobacteria.Biological Faculty, Lomonosov
Moscow State University,Moscow, Russia; p : 1-2
Supar. 1993. Prospek pengendalian kolibasilosis neonatal dengan vaksin Escherichia coli
multivalen pada peternakan babi intensif di Tangerang, Jawa Barat. Penyakit
Hewan XXV (46): 114-119.
Zhang W, Zhao M, Ruescj L, Omot A, Francis D. 2007. Prevalence of Virolence genes in
Escherichia coli Strain Recently Isolated from Young Pigs with Diarrhea in the US. J.
Vet. Mic. 123:1-3(145-152).