Anda di halaman 1dari 15

Studi Kasus Ascariasis pada Unggas

MAKALAH FARMAKOTERAPI VETERINER


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakoterapi Veteriner oleh
dosen Drh. Pambangun M

Disusun oleh:
Gabriela Hendra F. (145130100111043)
Melinda Puspita S. (145130101111070)
Dena Setyo Arum P. (145130107111019)
Bay Abdul Wahab (145130107111021)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas rahmat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah dari Nya-lah
akhirnya tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Studi Kasus Ascariasis
pada Unggas dalam rangka memenuhi tugas dari dosen Farmakoterapi Veteriner FKH UB.
Setelah melalui beberapa proses pembuatan, pengeditan, dan pencetakan, syukur
Alhamdulillah saat ini makalah telah dikerjakan dengan sukses dan lancar.
Sesuai dengan tugas yang telah diberikan oleh dosen pembimbing, maka makalah ini
berisikan segala materi tentang Studi Kasus Ascariasis pada Unggas mulai dari tujuan,
pengertian, penerapan dari sub-bab yang dibahas di dalam makalah ini. Pada dasarnya,
makalah ini memang khusus diperuntukkan oleh mahasiswa Kedokteran Hewan yang sedang
ataupun telah melakukan studi kuliahnya.
Demikian sekilas tentang penulis, kami pun juga tak lepas dari berbagai kesalahan
yang telah dilakukan selama pembuatan makalah ini. Apabila selama penyampian makalah
ini masih terdapat kesalahan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi salah satu referensi dalam
pengambilan info Kedokteran Hewan.

Malang, 7 Desember 2016

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Komoditas ternak unggas memegang peranan yang sangat penting dalam penyediaan
protein hewani di Indonesia. Pada tahun 2004 produksi daging unggas diperkirakan mencapai
1.164,40 ribu ton akan memberi kontribusi sebanyak 60,29 persen terhadap produksi daging
secara nasional. Ayang pedaging merupakan produsen utama daging unggas yaitu mencapai
67,04 persen disusul berturutturut ayam kampung, ayam petelur yang sudah diafkir dan itik
sebesar 27,01; 4,04 dan 1,91 persen. Selain itu unggas juga memberi kontribusi yang sangat
berguna dalam bentuk telur. Produksi telur pada tahun 2004 diperkirakan mencapai 666,40
ribu ton akan memberi kontribusi sebanyak 63,38 persen dari total produksi telur secara
nasional yaitu mencapai 1051,40 ribu ton (DEPTAN, 2004).
Ascariasis adalah penyakit cacing yang menyerang unggas dan disebabkan oleh
cacing Ascaridia galli dengan sinonim A. lineata, A. perspicillum. Cacing ini terdapat di usus
dan duodenum semua jenis unggas, Guinea fowl, Turkey, angsa dan beberapa jenis burung
liar di semua bagian di dunia. Unggas ini kemungkinan tertular cacing ascariasis lebih besar
apabila unggas ini tidak dikandangkan. Selain itu iklim tropis dan kelembaban yang tinggi
memberi kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan telur cacing dan ketahan hidup
larva dan telur infektif di alam. Cacing ini merupakan cacing nematode yang ukurannya
paling besar diantara jenis cacing pada unggas. Cacing jantan berukuran 50-76 mm, sedang
yang betina 72-112 mm, mempunyai 3 bibir yang besar. Telurnya berbentuk oval, berukuran
73-92 sampai 45-57 (Soulsby, 1982).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1 Apakah pengertian dari Ascariasis ?
1.2.2 Apakah penyebab dari Ascariasis pada unggas?
1.2.3 Bagaimana cara diagnosa Ascariasis ?
1.2.4 Bagaimana gejala klinis yang tampak pada unggas yang mengalami Ascariasis?
1.2.5 Bagaimana cara penanganan konstipasi pada unggas yang mengalami Ascariasis?

1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari Ascariasis.
1.3.2 Untuk mengetahui penyebab dari Ascariasis pada unggas.
1.3.3 Untuk mengetahui cara diagnosa Ascariasis pada unggas.
1.3.4 Untuk mengetahui gejala klinis yang tampak pada unggas yang mengalami
Ascariasis.
1.3.5 Untuk mengetahui cara penangan Ascariasis pada unggas.
BAB II
KASUS

Dari hasil pemeriksaan rutin feses di sebuah peternakan ayam petelur di daerah
Blitar ditemukan adanya peningkatan signifikan dari total jumlah telur cacing Ascaridia galli.
Peternakan tersebut memiliki ayam sebanyak 3000 ekor dengan berat rata-rata 2 kg. Dokter
hewan mendiagnosis ascaridiasis.
BAB III
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Ascariasis pada unggas adalah penyakit disebabkan oleh Ascaridia galli. Dimana
penyakit ini dapat menyerang ternak ayam, mentog, angsa, itik dan berbagai burung liar di
seluruh dunia. Cacing ini berperasit pada usus halus dari unggas. Cacing secara alami sering
ditemukan pada berbagai unggas liar maupun unggas peliharaan. Pada unggas terdapat dua
golongan utama cacing yaitu Nematoda (cacing gilig) dan Cestoda (cacing pipih). Nematoda
termasuk kelompok parasit yang terpenting pada unggas sehubungan dengan kerusakan yang
ditimbulkan. Kelompok cacing ini memiliki siklus hidup langsung tanpa membutuhkan
hospes intermediar.
Nematoda disebut juga cacing gilig karena bentuknya bulat, tidak bersegmen dan
dilengkapi dengan kutikula yang halus. Nematoda yang mempunyai siklus hidup langsung
melewati 4 tahap perkembangan sebelum dewasa. Nematoda dewasa yang hidup dalam tubuh
unggas yang terinfeksi akan menghasilkan telur yang dikeluarkan bersama feses. Didalam
lingkungan, jika telur berembrio ditelan oleh ayam maka telur akan menetas didalam
proventriculus hospes dan berkembang menjadi larva yang akan tumbuh menjadi cacing
dewasa didalam tubuh hospes.

2.2 Faktor-faktor yang menyebabkan ascariasis


Infeksi Ascaridia disebabkan oleh Ascaridia galli, Ascaridia dissimilis, Ascaridia
numidae, Ascaridia columbae dan Ascaridia bonase. Ascaridia galli selain berparasit pada
ayam juga pada kalkun, burung dara, itik dan angsa. Ascaridia galli merupakan cacing yang
sering ditemukan pada unggas dan menimbulkan kerugian ekonomik yang tinggi karena
menimbulkan kerusakan yang parah selama bermigrasi pada fase jaringan dari stadium
perkembangan larva. Migrasi terjadi dalam lapisan mukosa usus dan menyebabkan
pendarahan, apabila lesi yang ditimbulkan parah mak kinerja ayam akan turun drastic. Ayam
yang terserang akan mengalami gangguan proses digesti dan penyerapan nutrient sehingga
dapat menghambat pertumbuhan.
Siklus hidup Ascaridia galli tidak memerlukan hospes intermediar, penularan melalui
pakan, air minum, litter, atau bahan lain yang tercemar oleh feses yang mengandung telur
infektif.
Faktor yang menyebabkan unggas mudah tercemar infeksi cacing A. galli adalah
unggas yang dibiarkan bebas berkeliaran. Beberapa data menunjukkan bahwa di daerah
Zimbabwe, prevalen pada ayam yang bebas berkeliaran adalah 48% pada yang muda dan
24% pada yang dewasa (Permin et al., 2002). Data yang hampir sama juga dilaporkan di
Tanzania, prevalen pada yang muda adalah 69% dan pada yang dewasa 29%.
Selain itu pemeriksaan pasca mati pada 456 ayam kampung dari beberapa kota di
Kenya menunjukkan infeksi oleh cacing A. galli sebesar 10% (Irungu et al., 2004). Data ini
menunjukkan walau angka prevalennya lebih rendah tetapi tidak berarti ayam tersebut sehat
karena ayam yang sama juga terinfeksi dengan beberapa jenis cacing yang lain. Data tahun
1994/1995 pada peternakan ayam di Denmark juga menunjukkan bahwa ayam dewasa
terinfeksi cacing A. galli sebesar 63.8% (Permin et al., 1999). Data ini menunjukkan bahwa
resiko terbesar terhadap infeksi cacing terdapat pada peternakan ayam dengan sistem dilepas
dipekarangan, tetapi resiko yang besar juga terdapat pada sistem kandang litter yang dalam.
Kejadian akut ascaridiosis merupakan problema pada peternakan ayam yang dapat
menimbulkan kerugian yang cukup besar (Ghosh dan Singh, 1994; Akoso, 1993).
Akumulasi infeksi cacing A. galli terjadi pada unggas yang dipelihara dalam kandang
liter (sekam) yang tebal terutama karena terjadi peningkatan kelembaban (Soulsby, 1982).
Infeksi berat A. galli menyebabkan penurunan produksi telur pada kandang litter di breeder
dan layer komersial.

2.3 Gejala klinis ascariasis pada ayam


Ayam muda lebih sensitif terhadap kerusakan yang ditimbulkan Ascaridia galli.
Sejumlah kecil cacing Ascaridia galli yang berparasit pada ayam dewasa biasanya dapat
ditolerir tanpa adnya kerusakan tertentu pada usus. Infeksi Ascaridia galli dapat
menimbulkan penurunan berat badan, pada kondisi yang berat dapat terjadi penyumbatan
pada usus. Ayam yang terinfeksi Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan darah,
mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan
pertumbuhan, dan peningkatan mortalitas.
Gejala yang utama dari infeksi cacing ini terlihat selama masa prepaten, ketika larva
berada di dalam mukosa dan menyebabkan enteritis yang kataral, tetapi pada infeksi berat
dapat terjadi hemoragi (URQUHART et al., 1987; SOULSBY, 1982). Unggas akan menjadi
anaemia, diare, lesu, kurus, kelemahan secara umum dan produksi telur menurun. Selain itu
infeksi berat juga dapat menyebabkan kematian karena terjadi penyumbatan usus
(URQUHART et al., 1987).
Umur hospes dan derajat keparahan infeksi oleh Ascaridia galli memegang peranan
penting dalam kekebalan terhadap cacing tersebut. Pada pemeriksaan pasca mati terlihat
peradangan usus yang hemoragik dan larva yang panjangnya 7 mm ditemukan dalam mukosa
usus. Selain itu kadang-kadang ditemukan parasit yang sudah berkapur dalam bagian albumin
dari telur.
BAB IV
PENANGANAN

3.1 Tujuan terapi


Untuk membasmi cacing Ascaridia galli yang menyebabkan ascariasis

3.2 Advice/saran
3.2.1 P-nondrug
Terapi non drug digunakan untuk menanggulangi Ascariasis dapat dilakukan
dengan melakukan pembersihan rutin terhadap kandang agar penularan dapat
diminimalisir. Selain itu Ayam yang dipelihara dalam kandang litter dan harus cukup
ventilasi. Secara periodik litter di tempat pakan dan minum harus sering dicampur
dengan litter yang kering dari tempat lain. Infeksi yang berat dari cacing Ascaridia
galli umumnya terjadi pada kandang litter yang dalam dan sangat lembab.
Unggas muda lebih peka terhadap infeksi dibanding unggas dewasa atau
unggas yang pernah menderita infeksi cacing A. galli sebelumnya. Defisiensi
beberapa vitamin seperti A dan B terutama vitamin B 12, beberapa mineral dan
protein merupakan predisposisi terhadap infeksi yang berat. Pemberian mangan (Mn)
yang berlebih akan meningkatkan bobot badan dan level Mn dalam darah tetapi tidak
berpengaruh terhadap mortalitas dan banyaknya cacing A. galli dalam usus ayam
(Gabrashanska et al., 1999).
Selain itu pemberian Cobalt (Co) yang berlebih dalam dosis yang kecil akan
meningkatkan bobot badan dan menurunkan mortalitas terhadap ascariasis
(Gabrashanska et al., 2002). Pemberian kombinasi antara Zn-Co-Mn akan
menurunkan jumlah cacing sebesar 20.4% dibanding ayam yang terinfeksi cacing
tanpa pemberian kombinasi tersebut (Gabrashanska et al., 2004a). Pemberian
kombinasi tersebut juga akan mempengaruhi rasio kelamin cacing dimana cacing
jantan menjadi lebih banyak, penurunan daya estabilishment larva cacing,
peningkatan daya hidup ayam dan berat badan (Gabrashanska et al., 2004b).
Teodorova dan Gabrashanska (2002) dalam penelitian membandingkan antara
pemberian ketiga elemen Cu, Co dan Mn menyimpulkan bahwa terapi yang optimal
berisi bentuk garam murni dari Cu (Cu2(OH)3 Cl) dan ikatan organik dari Mn
(2Gly.MnCl2.2H2O) untuk memperbaiki defisiensi mineral dan perubahan patologi,
serta mengurangi angka kematian dan meningkatkan berat badan.

3.2.2 P-drug
Antelmintika adalah obat untuk membunuh cacing atau mengurangi jumlah
cacing dalam tubuh. Berdasarkan cara kerjanya maka antelmintik dibagi dalam 5
kelompok, Benzimidazole dan pro-benzimidazoles. Antelmintik ini bekerja
menghambat fungsi mikrotubuli sehingga fungsi seluler cacing rusak dan mati.
Antelmintik kelompok ini adalah albendazole, thiabendazole, fenbendazole,
parbendazole, flubendazole, febantel dan thiophanat. Obat anti cacing yang paling
sering digunakn untuk membasmi Ascaridia galli adalah piperazin. Selain itu dapat
digunakan juga higromisin B dan kumafos melalui pakan untuk mengendalikan
cacing tersebut. Piperazin memiliki efek narkotika sehingga cacing dapat dikeluarkan
dalam keadaan hidup oleh adanya peristaltic usus. Pengobatan pencegahan pada pullet
biasanya diberikan sekitar umur 5 minggu yang diulang pada interval 4 minggu
sampai ayam mencapai umur 21 minggu. Pemberian vitamin A selama 5 7 hari
dapat membantu kesembuhan mukosa usus yang rusak akibat cacing tersebut.

3.2.3 Rujukan
Tidak diperlukan rujukan untuk penanganan penyakit ini

3.2.4 Prognosa
Prognosa untuk kasus ascariasis ini adalah fausta atau dapat disembuhkan
apabila dengan penanganan yang tepat.

3.3 Proses terapi (P-treatment)


NAMA OBAT KEAMANAN EFIKASI DOSIS HARGA
Semisintetik Efek samping : Farmakokinetik : Indikasi :
Metilselulosa Obstruksi usus Diberikan per oral, Melembekkan
dan oesophagus tidak diabsorpsi tinja pada
disaluran cerna, pasien yang
diekskresi melalui tinja tidak boleh
Farmakodinamik : mengejan
Mengikat air dan ion
dalam lumen colon,
sebagian komponennya
dicerna oleh bakteri
colon dan metaboliknya
meningkatkan efek
pencahar melalui
peningkatan osmotik
cairan lumen
Bisakodil Efek samping : Farmakokinetik : Indikasi : Contoh :
Kolik usus, Pemberian per oral atau Konstipasi Kl: Dulcolax
perasaan per rectal. Dihidrolisis penderita (supositorin) =
terbakar pada diusus halus menjadi construksi usus Rp10.800/kapsul;
penggunaan difenol yang kemudian Cat : 5mg PO tablet
rectal, dikonjugasi di hepar sid PRN Rp3.600/strip (isi
hipokalemia dan dan dinding usus. Dog : 10mg 4 tablet)
atonia kolon Diekskresi melalui PO sid PRN
pada empedu. Dihidrolisis
penggunaan menjadi difenol
jangka panjang kembali yang akan
merangsang motilitas
usus besar.
Menginduksi defekasi
dengan merangsang
aktrifitas peristaltik
usus yang bersifat
mendorong (propulsif)
melalui iritasi lokal
mukosa atau kerja yang
lebih selektif pada
plexus saraf
intramuscular dari otot
halus usus sehingga
meningkatkan motilitas.
Efek pencahar terlihat
setelah 6-12 jam.
Farmakodinamik :
Merangsang mukosa
saraf intramural atau
otot polos sehingga
menigkatkan peristaltik
dan sekresi lendir usus
melalui penghambatan
Na-K ATP-ase
Katul Farmakokinetik : Pemberian
Efek tampak dalam 24 dicampur
jam dengan
Farmakodinamik : makanan
Mengikat air dan ion
dalam lumen colon

PEMAKAIAN
1 botol : 20 ml
NAMA PRODUCT VERMIXON HARGA Rp 5.000/botol
Aturan pakai:
Ayam umur 4-6 minggu : 15 ml tiap 3 liter air, untuk 50 ekor ayam
Ayam umur lebih dari 6 minggu 30 ml untuk 4 liter air, untuk 50 ekor ayam

1 sachset : 10 kapsul
NAMA PRODUCT CACING EXITOR KILLWORM DETAIL
Aturan pakai:
Umur 4-6 minggu : 1 kapsul
lebih dari 6 minggu : 2 kapsul; berikan pada pagi hari

Deskripsi Produk : Obat cacing untuk mengendalikan Ascaris pada unggas


Komposisi : Setiap g Cocciten mengandung Piperazine citrate 170 mg
Indikasi : Membasmi cacing Ascaris sp pada ayam dan babi
Dosis dan Aturan Pakai :
Ayam umur 4 6 minggu : 30 ml Killworm / 2.5 L air minum untuk 100 ekor
Ayam umur 6 minggu ke atas : 60 ml Killworm / 4 10 L air minum untuk
100 ekor
Kemasan : Botol 100 ml dan 1 L
Spesifikasi Produk : Cairan jernih, berwarna kuning, bau khas Ph (5,0 - 6,0).
Piperazine Citrate
Piperazine Citrate mengandung tidak kurang dari 98% C12H30N6, 2C6H8O7,
dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Piperazine terdapat sebagai heksahidrat
yang mengandung 44% basa. Juga terdapat sebagai garam sitrat, kalsium edetat dan
tartrat. Piperazine cepat diabsobsi dari bagian proksimal tractus gastrointestinal.
Piperazine mengalami metabolisme dalam jaringan dan sekitar 30 40 %
diekskresikan ke dalam urine, ini dpat dideteksi dalam waktu 30 menit setelah
pemberian. Ekskresi maksimal dalam waktu 1 8 jam, dan ekskresi tuntas dalam
waktu 24 jam (Nicholas et al., 1988).
Penyerapan piperazine melalui saluran pencernaan, baik. Sebagian obat yang
diserap mengalami metabolisme, sisanya diekskresikan melalui urin. Menurut Rogers
(1958) tidak ada perbedaan yang berarti antara garam sitrat, fosfat dan adipat dalam
kecepatan ekskresinya melalui urin. Tetapi ditemukan variasi yang besar pada
kecepatan ekskresi antar individu.
Cara kerja piperazine pada otot cacing adalah dengan mengganggu
permeabilitas membran sel terhadap ion-ion yang berperan dalam mempertahankan
potensial istirahat, sehingga menyebabkan hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan
disertai paralisis. Piperazine menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap
asetilkolin sehingga terjadi paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik
usus (Branders, 1991).
Aktivitas kerja piperazine juga dipengaruhi oleh aksi antikolinergik pada
myoneural junction cacing, yang menghasilkan blokade neuromuskuler. Asam
succinic yang dihasilkan cacing mengalami diblokade sehingga terjadi paralisa.
Cacing kehilangan motilitas dan kemampuannya untuk menempel pada tractus
intestinum. Karena adanya gerakan peristaltik usus, cacing akhirnya terbawa keluar
bersama feses (Nicholas et al., 1988).
Cacing biasanya keluar 1 3 hari setelah pengobatan dan tidak diperlukan
pencahar untuk mengeluarkan cacing. Piperazine efektif untuk cacing Ascaris,
Strongyloides dan Oxyuris, juga efektif untuk cacing kait seperti Uncinaria. Pada sapi
dan domba piperazine digunakan untuk membasmi cacing Ascaris sp seperti :
Neoascaris vitulorum dan Oesophagostomum sp. Pada babi untuk membasmi Ascaris
lumbricoides dan Oesophagostomum. Pada Ayam untuk Ascaridia galli. Piperazine
memiliki safety of margin / daerah aman yang luas pada semua hewan. Piperazine
dapat digunakan untuk hewan bunting dan hewan yang mengalami gangguan
pencernaan (Branders, 1991). Terapi dengan piperazine citrate pada ayam layer tidak
akan menimbulkan efek samping terhadap produksi telur.
Dosis Piperazine :
Untuk Ascaris pada unggas (tidak untuk psittaci) : 100 500 mg / kg PO,
diulang dalam 10 14 hari
Untuk cacing nematoda : 45 100 mg / kg single dose atau 6 10 g / gallon
selama 14 hari
Untuk Ascaridia galli pada unggas : 32 mg / kg selama 2 hari dalam air minum

TRIWORM
Obat Cacing Untuk Unggas
Indikasi :
Gangguan cacing pada usus
Cacing Gelang (Ascaridia Galli)
Cacing Caeca (Heterakis Gallinae)
Komposisi :
Pipirazine Citrat 570mg
Phenothiazine 230mg
Keterangan :
1 Box isi 6 Botol
1 Botol isi 100 Kaplet

TRIWORM Adalah obat cacing untuk unggas yang mengandung Piperazine Citrate
dan Phenotiazine yang efektif membasmi cacing gelang (Ascarida Galli) dan Caecum
(Heterakis Gallinea). Cacingan pada unggas pada umumnya tidak menimbulkan
kematian, tetapi menimbulkan kerugian ekonomis yang sangat besar, karena
menyebabkan penurunan berat badan atau keterlambatan pertumbuhan, penurunan
produksi telur dan penurunan kondisi tubuh. Gejala cacingan pada ayam umumnya
dapat dilihat dengan penurunan produksi, walaupun ayam terlihat sehat. Pada infestasi
cacing dalam jumlah banyak akan tampak pertumbuhan terhambat, kurus, pucat ,
produksi telur menurun dan kadang-kadang diare bercampur darah. Pada kondisi
cacingan parah, jika usus ayam dipotong maka akan ditemukan cacing pada usus, usus
menebal, radang, berdarah, dan kadang-kadang terjadi perobekan dinding usus.
Penggunaan TRIWORM sangat di anjurkan untuk peternak, baik ternak ayam
pedaging, ayam petelur ataupun ternak bebek. TRIWORM bagus juga diberikan
kepada ayam laga atau ayam aduan untuk menjaga kesehatan ayam

HARGA :
1 Botol isi 100 kaplet : Rp. 20.000
Min Order : 6 Botol
PENULISAN RESEP
Drh. Murtadji
SIP: 6758/SIP/VIII/2016
Praktek: Jl. Dewandaru No. 4 Malang
No. Telp: 0341 564777

Malang, 29 November 2016


R/ Piperazine Citrate 250mg
m.f.pulv.dtd.no.X
da in caps
s.1.d.d caps I

Pro: Dena (Unggas)


Pemilik: Nn. Melinda
Alamat: Jl. Bunga Andong No.11

Drh. Murtadji
SIP: 6758/SIP/VIII/2016
Praktek: Jl. Dewandaru No. 4 Malang
No. Telp: 0341 564777

Malang, 29 November 2016


R/ Vermixon fls no.I
s.1.d.d 15 ml

Pro: Bay (Unggas)


Pemilik: Nn. Gabi
Alamat: Jl. Bunga Andong No.11
3.4 Monitoring dan evaluasi hasil terapi
Pengendalian penyakit cacingan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan hasil
yang optimal. Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari penyakit cacingan adalah
dengan dilakukannya pencegahan yaitu:
Pemberian obat cacing. Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah.
Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing.
Seperti cacing nematoda dengan siklus hidup kurang lebih satu setengah bulan, maka
diberikan pengobatan dua bulan sekali, begitu juga dengan cestoda. Pemberian obat
cacing pada ayam layer sebaiknya diberikan pada umur 8 minggu dan diulang.
Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang dibersihkan,
dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong rumput disekitar area
kandang.
Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi
infestasi cacing.
Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk menjaga
daya tahan tubuh tetap baik.
Mencegah kandang becek, seperti menjaga kandang tetap kering, tidak menggumpal
dan tidak lembab.
Ketika unggas ditaruh diluar kandang, unggas muda harus dipisahkan dari unggas
dewasa dan tempat unggas berkeliaran harus mempunyai saluran iar yang baik
sehingga tidak terjadi penumpukan cairan di tanah dan tanah tidak menjadi lembab.
Rotasi tempat unggas dilepas harus sering dilakukan. Ayam yang dipelihara dalam
kandang litter dan harus cukup ventilasi. Secara periodik litter di tempat pakan dan
minum harus sering dicampur dengan litter yang kering dari tempat lain. Infeksi yang
berat dari cacing A. Galli umumnya terjadi pada kandang litter yang dalam dan sangat
lembab.
Setiap akan memasukkan ayam baru dalam partai besar dalam kandang litter, maka
litter harus dibiarkan selama beberapa hari untuk penyuci hamaan dan pemanasan
sehingga diharapkan litter menjadi kering dan telur yang mengandung larva infektif
juga ikut mati.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Ascariasis adalah penyakit cacing yang menyerang unggas dan disebabkan oleh
cacing Ascaridia galli dengan sinonim A. lineata, A. perspicillum. Cacing ini terdapat di usus
dan duodenum semua jenis unggas. Gejala yang utama dari infeksi cacing ini terlihat selama
masa prepaten, ketika larva berada di dalam mukosa dan menyebabkan enteritis yang kataral,
tetapi pada infeksi berat dapat terjadi hemoragi. Terapi non drug digunakan untuk
menanggulangi Ascariasis dapat dilakukan dengan melakukan pembersihan rutin terhadap
kandang agar penularan dapat diminimalisir. Terapi drug dengan obat anti cacing yang paling
sering digunakn untuk membasmi Ascaridia galli adalah piperazin. Cara kerja piperazine
pada otot cacing adalah dengan mengganggu permeabilitas membran sel terhadap ion-ion
yang berperan dalam mempertahankan potensial istirahat, sehingga menyebabkan
hiperpolarisasi dan supresi impuls spontan disertai paralisis.

5.2 Saran
Diharapkan makalah studi kasus ini dapat bermanfaat khususnya kepada mahasiswa
kedokteran hewan.
DAFTAR PUSTAKA
Akoso, B.T. 1993. Manual Kesehatan Unggas Bagi Petugas Teknis Penyuluh Dan Peternak.
Kanisius. Yogyakarta.
Departemen Pertanian. 2004. Buku Saku Peternakan. Direktorat Jenderal Bina Produksi
Peternakan. Departemen Pertanian.
Gabrashanska, M., S. Tepavitcharova, C. Balarew, M.M. Galvez-Morros And P. Arambarri.
1999. The Effect Of Excess Dietary Manganese On Uninfected And Ascaridia
Galli Infected Chicks. J. Helminthol. 73(4):313-316.
Gabrashanska, M., S.E. Teodorova And M. Mitov. 2002. The Effect Of Cobalt Compounds
On Uninfected And Ascaridia Galli-Infected Chickens: A Kinetic Model For
Ascaridia Galli Populations And Chicken Growth. J. Helminthol. 76(4): 303-310.
Gabrashanska, M., S.E. Teodorova, M..M. Galvez-Morros, N. Tsochevagaytandzhieva And
M. Mitov. 2004a. Administration Of Zn-Co-Mn Basic Salt To Chickens With
Ascaridiosis. I. A Mathematical Model For Ascaridia Galli Populations And Host
Growth With And Without Treatment. Parasitol. Res. 93(3): 235-41.
Gabrashanska, M., S.E. Teodorova, M..M. Galvez-Morros, N. Tsochevagaytandzhieva,
M.Mitov, S. Ermidoupollet And S. Pollet. 2004b. Administration Of Zn-Co-Mn
Basic Salt To Chickens With Ascaridiosis. Ii. Sex Ratio And Microelement Levels
In Ascaridia Galli And In Treated And Untreated Chickens. Parasitol. Res. 93(3):
242-247.
Ghosh, J.D. And J. Singh. 1994. Acute Ascaridiosis In Chickens. A Report. Indian Vet. J. 71:
717-719. He, S. 1990. Imunologi Parasit. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor.
Irungu, L.W., R.N. Kimani And S.M. Kisia. 2004. Helminth Parasites In The Intestinal Tract
Of Indigenous Poultry In Parts Of Kenya. J. S. Afr. Vet. Assoc. 75(1): 58-59.
Permin A. 1997. Helminths And Helminthosis In Poultry With Special Emphasis On
Ascaridia Galli In Chickens. Phd Thesis. Denmark: The Lokakarya Nasional
Inovasi Teknologi Dalam Mendukung Usahaternak Unggas Berdayasaing 200
Royal Veterinary And Agricultural University, Copenhagen.
Permin A. And J.W. Hansen. 1998. Epidemiology, Diagnosis And Control Of Poultry
Parasites. Fao Animal Health Manual No.4. Rome.
Permin A., P. Nansen, M. Bisgaard And F. Frandsen. 1998. Ascaridia Galli Infection In The
Free Range Layers Fed On Diets With Different Protein Content. Br. Poult. Sci.
39: 441-445.
Permin, A. And H. Ranvig. 2001. Genetic Resistance To Ascaridia Galli Infections In
Chickens. Vet. Parasitol. 102: 101-111.
Permin, A., J.B. Esmann, C.H. Hoj, T. Hove And S. Mukaratirwa. 2002. Ecto-, Endo- And
Haemoparasites In Free-Range Chickens In The Goromonzi District In Zimbabwe.
Prev.Vet. Med. 54(3): 213-224.
Soulsby, E. J. L. 1982. Helminths, Arthropods And Protozoa Of Domesticated Animals. 7th
Ed. Bailliere, Tindall, London.
Urquhart, G.M., J. Armour, J.L. Duncan, A.M. Dunn And F.W. Jenning. 1987. Veterinary
Parasitology. Second Ed. England: Longman Scientific And Technical.