Anda di halaman 1dari 15

TEKNOLOGI PENGENDALIAN

PENCEMAR UDARA
Semester Ganjil 2010-2011

COMBUSTION

Joni Hermana
Rachmat Boedisantoso
Jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS
Kampus Sukolilo, Surabaya 60111
Pembakaran didefinisikan sebagai proses
oksidasi senyawa baik organic maupun
anorganik dengan adanya oksigen
membentuk CO2 dan air (H2O).
Pembakaran dapat digunakan sebagai
kontrol pencemaran udara dengan tujuan
mengubah bentuk kontaminan. Misalnya,
pembakaran CO menjadi CO2 dan air.
Tujuan dari pembakaran adalah sebagai
berikut :
Mengurangi emisi gas
Pengendalian terhadap bau
Mengurangi opasitas
Mengurangi resiko kebakaran dari bahan
mudah terbakar
Terdapat 2 kategori proses pembakaran,
yaitu :
After burner
Flare
Dalam proses pembakaran terdapat tiga (3)
komponen yang harus diperhatikan, yaitu :
Fuel (bahan bakar), merupakan senyawa yang
apabila dibakar akan melepaskan energi, yang
berasal dari ikatan kimia yang pecah/ terurai.
Misalnya CH4 (metana), dengan reaksi : CH4 + O2
CO2 + H2O + Energi
Oksigen (O2), proses pembakaran dapat dilakukan
apabila terdapat oksigen (O2). Sumber utama
oksigen berasal dari udara ambient (sekitar 21%
oksigen terdapat di udara bebas).
Pengencer (dilusent), umumnya dalam proses
pembakaran oksigen diambil dari udara bebas,
dimana di udara bebas ini terdapat gas-gas lain,
misalnya N2 yang besarnya sekitar 79% dari udara
bebas. Udara pengencer ini tidak ikut dalam proses
pembakaran, tetapi bereaksi sendiri. (N2 membentuk
gas NO).
Agar terjadi pembakaran yang efisien,
ditentukan oleh beberapa factor, yaitu :
Suhu/ temperatur,
oksigen,
turbulen dan
waktu.
Temperatur pembakaran
H R / m f
h2 = h1 +
1 + AF
dengan :
hi = enthalpy specific gas yang
masuk chamber
h2 = enthalpy specific gas yang keluar
chamber
HR/mf = panas pembakaran (MJ/kg)
AF = air-fuel ratio
Waktu Pembakaran
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O ,
pembentukan reaksi ini tidak sederhana dan
menyangkut banyak tahapan reaksi.
Waktu pembakaran rata-rata = 0,2 0,5 detik
Waktu pembakaran mempengaruhi dimensi
kamar pembakaran, yang dirumuskan :
V = Q x t atau
Volume = flow rate x waktu
Turbulensi
Mempengaruhi proses pencampuran antara
fuel dan oksigen. Supaya terjadi pecampuran
sempurna, kecepatan gas berkisar antara 4,5
7,5 m/detik.
Oksigen
Oksigen menentukan hasil pembakaran,
turbulen diperlukan agar oksigen tercampur
merata, suhu harus dipertahankan pada suhu
pembakaran (untuk CO kira-kira 610-657oC).
Tungku pembakaran dirancang agar turbulen
dan waktu cukup selama pembakaran
Beberapa parameter yang penting dalam
proses pembakaran adalah :
Air Fuel ratio (A/F ratio) = AF, dirumuskan
sebagai :
BeratUdara
AF =
Beratbahanbakar
M a N a 28,97 N a
AF = =
M f Nf M f Nf
dimana :
Ma = berat molekul udara = 28,97
Na = banyaknya molekul udara
Mf = berat molekul bahan bakar (fuel)
Nf = banyaknya molekul bahan bakar
(fuel)
Combustable Limit, dibagi menjadi :
Upper limit
Lower limit
Stoichiometri
Sebagai contoh apabila ada suatu reaksi :
CH4 + 2O2 + N2 CO2 + 2H2O +
..N2
Stoichiometri :
Darireaksi diatas : 1 mol CH4 2 mol O2
Udara ambient : 21% O2, 79% N2
maka O2 : N2 = 1 : 3,76
reaksi menjadi :
CH4 + 2O2 + 2 (3,76) N2 CO2 + 2H2O + 7,52 N2
Berdasarkan rumus

M a N a 28,97 x(2 + 7,52)


AF = = = 17,24
M f Nf 16 x1
Upper Limit :
Bila kondisi kelebihan udara 50% (150%
stoichiometri), maka reaksi menjadi:
CH4 + 3O2 + 3 (3,76) N2 CO2
+ 2H2O + O2 + 11,3
N2
M a N a 28,97 x(3 + 11,3)
AF = =
M f Nf 16 x1
= 25,89
Selain after burner proses pembakaran dapat
dikategorikan juga sebagai Flare, yaitu proses
pembakaran langsung.
Pada prose pembakaran langsung ini (flare)
selain dipergunakan Fuel, juga dipergunakan
Steam yang berfungsi untuk membasahi jelaga
agar dapat turun.
Flare dapat dipergunakan untuk proses
pembakaran :
Intermiten
Continue
Untuk fuel yang berkualitas rendah (mudah terbakar)
Guna menghitung tinggi flare dipergunakan
rumus :
Q
H= 20 D
e
dimana :
H = tinggi flare (m)
Q = energi (watt)
D = diameter flare
E = konstanta tergantung umpan,
untuk pemaparan intermiten W
dalam periode s.d. 20 menit = 550
m

untuk pemaparan kontinu = 320 W


m