Anda di halaman 1dari 2

Gejala Penyakit

Gejala penyakit layu bakteri pada jahe diawali dengan helaian-helaian daun yang melipat atau
menggulung pada bagian bawah dan menjalar sampai ke pucuk tanaman. Daun yang mulanya
berwarna hijau berubah menjadi kuning lalu kecoklatan dan akhirnya mengering. Gejala daun
menguning diawali dai daun yang lebih muda lalu diikuti oleh daun yang lebih muda. Pengeringan
daun akan menjalar ke semua daun, tunas dan batang akan membusuk dan menyebabkan kematian
tanaman. Batang yang sudah mengalami gejala membusuk akan mudah lepas atau dicabut dari
rimpangnya. Pada pangkal batang akan terjadi gejala busuk kebasahan, pada batang yang sakit kadang
akan terlihat garis-garis membujur berwarna abu-abu atau hitam yang merupakan jaringan rusak.
Rimpang jahe yang terserang akan membusuk dan berwarna hitam, ketika rimpang dipotong akan
mengeluarkan oose bakteri yang berupa lendir berwarna putih susu hingga kecoklatan yang
merupakan massa bakteri (Setyaningrum, dan Saparino, 2013). Pada umumnya gejala penyakit layu
bakteri muncul pada saat tanaman berumur 3-4 bulan.

Pengendalian penyakit

1. Penggunaan rimpang bebas penyakit


Sebelum ditanam rimpang yang digunakan sebagai bibit harus dipilih yang sehat dan bebas
penyakit. Rimpang dapat diberikan perlakuan kimia untuk menghilangkan patogen. Rimpang
direndam dalam larutan antibiotik streoromycin ditambah oxytetracyclin-HCl 0,1 %.
Rimpang direndam dalam larutan selama 25 menit. Selain itu dapat dilakukan perendaman
dalam air panas 40oC selama setengah jam (Setyaningrum, dan Saparino, 2013).
2. Pengelolaan lahan dan pempupukan
Pengelolaan lahan dilakukan dengan pembuatan drainase yang baik dan pembersihan atau
sanitasi dari sisa-sisa tumbuhan yang dapat menjadi sumber inokulum. Drainase yang baik
diperlukan karena bakteri dapat ditularkan melalui air. Dapat juga dilakukan pergiliran
dengan tanaman bukan inang dan bero untuk memutus rantai hidup penyakit. Menurut
Ruhnayat dan Hartati (2014) pemberian hara berimbang akan meningkatkan ketahanan
tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri, jahe yang sehat dan tercukupi kebutuhan hara
makro dan mikronya memiliki kutikula yang lebih tebal dan kemampuan penyembuhan luka
yang baik sehingga terlindung dari infeksi bakteri.
3. Pengendalian nematoda dan lalat rimpang
Nematoda dapat membuat luka pada akar dan rimpang yang memudahkan bakteri
untuk menginfeksi tanaman. Disamping nematoda, lalat rimpang (Mimegralla
coeruleifrons) dapat membuat luka pada tanaman jahe, sehingga membantu bakteri
untuk menginfeksi dan masuk kedalam jaringan tanaman jahe.
4. Pengendalian hayati
Pengendalian hayati dapat menggunakan pupuk kandang yang mengandung mikrobia yang
bersifat antagonis terhadap bakteri penyebab penyakit sehingga dapat menekan populasi
bakteri penyebab penyakit di dalam tanah.
5. Pengendalian kimia
Penyakit ini dapat dikendalikan dengan aplikasi bakterisida sesuai dengan dosis yang
dianjurkan.

DAFTAR PUSTAKA

Setyaningrum, H. D. dan C. Saparino. 2013.Jahe. Depok, Penebar Swadaya

Ruhnayat, A. dan S. Y.Hartati. 2014. Peningkatan produksi dan ketahanan jahe terhadap
penyakit layu bakteri melalui imbangan hara dan kompos tanaman elisitor. Buletin Littro
25(1): 27-36