Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN

TENTANG DIARE PADA ANAK

Untuk memenuhi tugas kelompok Sistem Pencernaan

Dosen Pengampu : Ns. Wahyuningsih Safitri M.Kep

Disusun Oleh : Kelompok 5 / S15B

1. Agung Purwantoro (S150xx)


2. Febriani Martanti (S150xx)
3. Ike Wulandari (S150xx)
4. Neni Budi Purwaningsih (S15077)
5. Niko Beni (S15078)
6. Rizky Nur Prasetyo (S150xx)
7. Ruth Maya Sagala (S150xx)
8. Tutut Anggraini (S15091)
9. Widia Wulandari (S15093)
10. Winda Fitriyani (S15094)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN
DIARE PADA ANAK

Topik : Penyakit Diare

Sasaran : Pasien Dan Keluarga Yang Berkunjung ke RS Husada

Tempat : Aula RS Husada

Hari/ tanggal : Sabtu, 20 Mei 2017

Waktu : 08.00 08.30

A. Latar Belakang
Diare sering kali dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global
dan nasional fakta menunjukkan sebaliknya. Menurut catatan WHO, diare
membunuh dua juta anak di dunia setiap tahun (Syam, A.F, 2008).
Menurut Soegijanto (2002), banyak orang yang secara langsung maupun
tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare. Penyebab
tidak langsung atau faktor-faktor yang mempermudah atau mempercepat
terjadinya diare seperti : status gizi, pemberian ASI eksklusif, lingkungan,
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan sosial ekonomi. Penyebab
langsung antara lain infeksi bakteri virus dan parasit, malabsorbsi, alergi,
keracunan bahan kimia maupun keracunan oleh racun yang diproduksi oleh
jasad renik, ikan, buah, dan sayur-sayuran. Keadaan gizi anak juga
berpengaruh terhadap diare.
Pada anak yang kurang gizi karena pemberian makanan yang kurang
mengakibatkan diare akut yang lebih berat, yang berakhir lebih lama dan lebih
sering terjadi pada diare persisten dan disentri lebih berat. Resiko meninggal
akibat diare persisten atau diate sangat meningkat, apabila anak sudah
kekurangan gizi (Depkes,2005).
B. Tujuan lnstruksional
1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan pasien dan keluarga di Puskesmas Pakis
memahami tentang penyakit Diare.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga mampu:
a. Menyebutkan pengertian penyakit diare
b. Menyebutkan klasifikasi (pembagian) penyakit diare
c. Menyebutkan penyebab diare
d. Menyebutkan tanda dan gejala diare
e. Menjelaskan penanganan diare
f. Menyebutkan komplikasi diare
g. Menjelaskan pencegahan diare

C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

D. Media Alat Bantu


1. Laptop
2. LCD
3. Power Point
4. Leaflet

E. Organisasi Kegiatan
1. Pembimbing akademik : Ns. Wahyuningsih Safitri M.Kep
2. Penyaji : Neni Budi Purwaningsih
3. Moderator : Niko Beni
4. Operator : Winda Fitriani
5. Observer : Tutut Anggraini
5. Fasilitator : Ike Wulancari
6. Notulen : Widia Wulandari

F. Job Deskripsi
1. Moderator
Uraian Tugas :
a. Membuka acara penyuluhan, memperkenalkan diri dan tim kepada
peserta
b. Mengatur proses dan lama penyuluhan
c. Memotivasi peserta agar bertanya
d. Memimpin jalannya diskusi dan evaluasi
e. Menutup acara penyuluhan
2. Penyuluh
Uraian Tugas :
a. Menjelaskan materi penyuluhan dengan jelas dan bahasa yang mudah
dipahami oleh pasien
b. Menjawab pertanyaan peserta
3. Fasilitator
Uraian Tugas :
a. Membagikan kuesioner pretest dan posttest pada peserta
b. Ikut bergabung dan duduk diantara peserta
c. Mengevaluasi peserta tentang kejelasan materi penyuluhan
d. Memotivasi peserta untuk tetap aktif dan memperhatikan penyuluhan
e. Membagikan leaflet kepada peserta
4. Observer
Uraian Tugas :
a. Mengamati perilaku verbal dan non verbal peserta selama proses
penyuluhan.
b. Mengamati jalannya penyuluhan dari awal hingga akhir penyuluhan.
c. Mengevaluasi hasil penyuluhan dengan rencana penyuluhan.
5. Notulen
Uraian Tugas :
a. Menulis pertanyaan yang diajukan oleh peserta
b. Membagikan daftar hadir kepada peserta
c. Membacakan kesimpulan

G. Setting Tempat

Keterangan :
A B
A = Moderator
F D
C B = Penyuluh

C = Peserta

D E D = Fasilitator

E = Observer

F = Notulen

H. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan Perawat Kegiatan peserta Waktu
Kegiatan

Pembukaan Memperkenalkan diri Memperhatikan dan


(moderator) Mengadakan kontrak waktu mendengarkan penyaji 5 menit
Menjelaskan tujuan
penyuluhan
Menyampaikan pokok-
pokok materi yang akan
dijelaskan
Pengembangan Menjelaskan materi Memperhatikan 20
dengan seksama
(Penyaji) meliputi: menit
Menyampaikan
pertanyaan setelah
1. Pengertian penyakit penyampaian
materi
diare
2. Klasifikasi penyakit
diare
3. Penyebab diare
4. Tanda dan gejala diare
5. Penanganan diare
6. Komplikasi diare
7. Pencegahan penyakit
diare
Diskusi dan tanya jawab
Penutup Melakukan evaluasi dengan Memperhatikan dan
(Moderator) menanyakan kembali menjawab pertanyaan 5 menit
materi-materi yang telah dari penyaji
disampaikan
Menyampaikan kesimpulan
Membagikan leaflet
Ucapan terima kasih

I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktural
a. Kesiapan Peserta Penyuluhan
Kontrak waktu dengan peserta 1 hari sebelum penyuluhan, peserta
siap menerima materi dengan fokus
b. Kesiapan tempat pelaksanaan
Ruang perawatan bersih, rapi, luas dan kondusif
c. Kesiapan tim penyaji
Persiapan penyuluhan dan pembagian tugas dua hari sebelum
penyuluhan diadakan
d. Kesiapan materi penyaji
Membuat materi diare yang berisi pengertian, penyebab, tanda dan
gejala, pencegahan, komplikasi dan penatalaksanaan diare dua hari
sebelum penyuluhan diadakan
e. Kesiapan media
Menyiapkan alat dan bahan seperti Laptop, LCD, Power Point dan
Leaflet satu hari sebelum penyuluhan dimulai
2. Evaluasi Proses :
a. Peserta mengikuti kegiatan penyuluhan dengan baik dan antusias
b. Peserta terlibat aktif dalam penyuluhan
c. Peserta aktif bertanya
3. Evaluasi hasil :
a. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali
pengertian penyakit diare
b. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali
klasifikasi dari (pembagian) penyakit diare.
c. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali etiologi
atau penyebab dari diare.
d. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali tanda
dan gejala dari diare.
e. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali cara
penanganan diare.
f. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali
komplikasi diare.
g. 75% peserta dapat memahami dan dapat menjelaskan kembali
pencegahan dari diare.

J. Materi Penyuluhan
Terlampir
K. Referensi
Lusiana. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Gastrointestinal.
Jakarta : TIM

Marcellus Simadibrata dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V
jilid II. Jakarta: Interna Publising

Smeltzer, Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah


Brunner & Suddart vol.2. Jakarta: EGC

Suraatmaja, Sudaryat. 2005. Gastroenterologi Anak. Jakarta: Agung Seto

OTC DIGEST. 2011. Diare dan Obatnya edisi 61 halaman 27. Jakarta: PT
Triprakarsa Media Utama
Materi Penyuluhan
Diare

A. Pengertian Diare
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang
abnormal (lebih dari 3 kali sehari) dan konsistensi feces cair (Smeltzer,
2001:1093).
Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan
dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang
terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk
encer atau cair.

B. Klasifikasi Diare
1. Diare Akut
Diare akut adalah buang air besar dengan frekuensi yang meningkat
dari biasannya atau lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi tinja
yang lebih lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnnya serta
berlangsungnya dalam waktu seminggu (Marcellus Simadibrata, 2009).
Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung
singkat, dalam beberapa jam atau hari dan berlangsung dalam waktu
kurang dari 2 minggu , dan disebut diare persisten. Diare akut adalah
diare yang serangan nya tiba tiba dan berlangsung dari 14 hari diare
akut infeksi diklasifikasikan secara klinis menjadi ( lusiana, 2010 ) :
a. Diare non inflamasi,diare ini disebabkan oleh eteroktosin dan
menyebabkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan
darah.keluhan abdomen jarang terjadi atau bahkan tidak ada sama
sekali. Dehidrasi cepat terjadi apabila tidak mendapat kan cairan
pengganti . Tidak di temukan likosit pada pemeriksaan feses rutin.
b. Diare inflamasi di sebabkan bakteri pengeluaran sitotoksin di
kolon,gejala klinis mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah,
demam, tenesmus, gejala dan tanda dehidrasi. Secara makroskopis
terdapat lendir dan darah pada pemeriksaan feses rutin.
2. Diare Kronik
Kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan
konsistensi cair dengan durasi 14 hari atau lebih ( Wholey & Wong's,
1994). Diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
Mekanisme tarjadi nya diare yang kronik dapat di bagi menjadi diare
sekresi, diare osmotik, diare aksudatif dan gangguan mutilitas (
Lusiana, 2010 ).
a. Diare sekreasi, diare dengan volume feses banyak biasanya di
sebabkan oleh gangguan transpot elektrolit akibat peningkatan
produksi dan dan sekresi air dan elektrolit namun kemampuan
absorbsi mukosa usus kedalam lumen usus menurun. penyebabnya
dalah toksin bakteri (seperti toksin kolera),pengaruh garam
empedu,asam lemak rantai pendek,laksatif non osmotic dan hormon
intenstinal (gastrin vasoactive intestinal polypeptide)
b. Diare osmotic,terjadi bila terdapat partikel yang tidak dapat
diapsorpasi sehingga osmolitas lume meningkat dan air tertarik dari
plasma ke usus sehingga terjadi diare. Sebagai contoh malabsorpasi
karbohidrat akibat defisiensi laktase atau akibat garam magnesium.
c. Diare eksudatif inflamasi akan akan mengakibat kan mukosa baik
usus halus mau pun usus besar.
d. Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibat
kan waktu transit makan/minum di usus menjadi lebih cepat.pada
kondisi tirotoksikosis,sindroma usus iri tabel atau diabetes melitus
dapat muncul diare ini.
C. Penyebab Diare
Faktor penyebab terjadinya diare, adalah sebagai berikut:
1. Faktor infeksi (Cecily Lynn 2009:185)
a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak, meliputi
1) infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, ShiDiarella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb),
2) infeksi virus : Enterovirus ( virus ECHO, coxsackie,
poliomyelitis) Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll)
3) infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichiuris, oxyuris,
strongyloideus), protozoa (entamoeba histolitica, giardia
lamblia, trichomonas hominis)
b. Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang
dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

Kuman masuk dn berkembang dalam usus adanya toksin dalam dinding


usus halus hipersekresi air elektrolit (isi rongga) usus meningkat
DIARE

2. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada
bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan
protein.

Tekanan osmotik meningkat pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus


isi rongga usus meningkat DIARE

a. Faktor makanan

Toksin tidak dapat diserap hiperperistaltik kemampuan absorbsi


menurun DIARE
b. Faktor psikologis

Psikologis hiperperistaltik kemampuan absorbs menurun


DIARE

D. Tanda dan Gejala Diare


1. BAB encer lebih dari 3x atau anak sering buang air besar dengan
konsistensi tinja cair atau encer (Vade, 2003: 34).
2. Muntah (Vade, 2003: 34).
3. Demam (Vade, 2003: 34).
4. Nyeri abdomen (Vade, 2003: 34).
5. Badan terasa lemah.
6. Anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan
berkurang.
7. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur
empedu.
8. Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya defekasi dan
tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
9. Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elastisitas kulit
menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan
bibir kering serta penurunan berat badan.
10. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun,
denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan
kesadaran menurun.
11. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). (Suraatmaja, 2005:8).

E. Penanganan Diare
1. Mengganti cairan-cairan tubuh yang hilang melalui tinja dan muntah
dengan oralit. Cairan oralit diberikan sedikit demi sedikit dengan
sendok, dengan frekuensi sesering mungkin. Oralit sudah dilengkapi
dengan elektrolit sehingga dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang
bersama cairan.
Minum oralit caranya :
a. Siapkan 1 gelas air matang 200 ml
b. Kemudian masukan 1 bungkus bubuk oralit
c. Aduk sampai larut benar
Umur Setiap Mencret Dalam waktu 4
jam

< 1tahun gelas air 400 ml (2


matang bungkus)
1-4 tahun 1 gelas air 600-800 ml (3-4
matang bungkus)
5-12 tahun 1 gelas air 800-1000 ml (4-5
matang bungkus)
Dewasa 3 gelas air 1200-2000ml (6-
matang 10 bungkus)
2. Berikan zinc selama 10-14 hari. Zinc berfungsi untuk memperbaiki
epitel usus supaya tidak sering diare. Caranya zinc dilarutkan dalam 1
sendok air. Pemberian zinc untuk anak <6 bulan tablet dan >6 bulan
1 tablet.
3. Segera ke fasilitas kesehatan, jika kondisi tidak membaik dalam 3 hari
atau buang air besar cair bertambah sering, muntah berulang-ulang,
makan atau minum sedikit, demam dan tinja berdarah, sehingga bisa
mendaptkan obat antibiotic selektif dari dokter (OTC DIGEST,
2011:27).
4. Nasihat yang meliputi makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan
serta cara menjaga kebersihan perseorangan. Sebaiknya makanlah
makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim),
makanan rendah serat (tanpa buah, tanpa sayur) dan rendah lemak.
5. Pemberian obat antidiare sebaiknya jangan karena dapat beresiko
dapat menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya seperti mual,
muntah bahkan yang cukup berat timbul illeus paralitik (OTC
DIGEST, 2011:27).

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi diare (Nelson, 2000:1820 dan Cecily,
2009:190)
1. Syok hipovolomik yang terdekompensasi (hipotensi, asidosis
metabolok, perfusi sistemik buruk)
2. Dehidrasi
Ringan Sedang Berat
BB 4-5 6-9 7-10
( % kehilangan )
Keadaan Umum Haus, sadar Haus, Diarelisah, Mengantuk,
letargi dingin,
berkeringat
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Turgor jaringan Kembali cepat/ Kembali lambat Kembali sangat
normal lambat
Membran mukosa Basah Kering Sangat kering
Tekanan darah Normal Normal / rendah < 90mmHg,
mungkin tidak
dapat diukur
BAK Normal Menurun / keruh Oliguria (50-
500cc/24jam)
Nadi Normal Cepat Cepat,lemah,
mungkin tidak
teraba
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Fontanela anterior Normal Cekung Sangat cekung
Defisit cairan (ml/ 40-50 60-90 >100
kg)

Komplikasi pada penderita diare diakibatkan karena dehidrasi,


antara lain (Suraatmaja, 2005:12-14):

1. Hipernatremia
a. Sering terjadi pada bayi baru lahir sampai umur 1 tahun
(khususnya bayi berumur < 6 bulan). Biasanya terjadi pada
diare yang disertai muntah dengan intake cairan /makanan
kurang, atau cairan yang diminum mengandung terlalu banyak
Na. Pada bayi juga dapat terjadi jika setelah diare sembuh
diberi oralit dalam jumlah berlebihan.
b. Pengobatan : dapat diobati dengan pemberian oralit, atasi
kejang sebaik baiknya.
2. Hiponatremia
a. Dapat terjadi pada penderita diare yang minum cairan yang
sedikit/tidak mengandung Na. Penderita gizi buruk
mempunyai kecenderungan mengalami hiponatremia.
b. Pengobatan : beri oralit dalam jumlah yang cukup.
3. Demam
a. Demam sering terjadi pada infeksi Shigella disentriae dan
Rotavirus. Pada umunya demam akan timbul jika penyebab
diare mengadakan invasi ke dalam sel epitel usus. Demam juga
dapat terjadi karena dehidrasi. Demam yang timbul akibat
dehidrasi pada umumnya tidak tinggi dan akan menurun
setelah mendapat hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi
mungkin diikuti kejang demam.
b. Pengobatan : kompres dan/atau antipiretika. Antibiotika jika
ada infeksi.
4. Edema/overhidrasi
a. Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda
dan gejala : edema kelopak mata. Kejang kejang jika terjadi
edema otak. Edema paru paru dapat terjadi pada penderita
dehidrasi berat yang diberi larutan Garam Faali.
b. Pengobatan : pemberian cairan intravena dan/oral dihentikan.
Kortikosteroid (jika ada kejang).
5. Asidosis metabolik
a. Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau
hilangnya basa cairan ekstraseluler. Sebagai kompensasi
terjadi alkalosis respiratorik, yang ditandai dengan pernafasan
yang dalam dan cepat (kuszmaull).
b. Pemberian oralit yang cukup mengandung bikarbonas atau
sitras dapat memperbaiki asidosis.
6. Hipokalemia (serum K < 3.0 mMol/L)
a. Jika penggantian K selama dehidarsi tidak cukup, akan terjadi
kekurangan K yang ditandai dengan kelemahan pada tungkai,
ileus, kerusakan ginjal, dan aritmia jantung. Kekurangan K
dapat diperbaiki dengan pemberian oralit (mengandung 20
mMol K/L) dan dengan meneruskan pemberian makanan yang
banyak mengandung K selama dan sesudah diare. Komplikasi
yang penting dan sering fatal, terutama terjadi pada anak kecil
sebagai akibat penggunaaan obat antimotilitas.
b. Tanda/gejala : perut kembung, muntah, peristaltik usus
berkurang atau tidak ada.
c. Pengobatan : cairan per oral dihentikan, beri cairan parenteral
yang mengandung banyak K
7. Muntah
a. Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau
gastritis karena infeksi, ileus yang menyebabkan gangguan
fungsi usus atau mual yang berhubungan dengan infeksi
sistemik. Muntah dapat juga disebabkan karena pemberian
cairan oral terlalu cepat.
b. Tindakan : berikan oralit sedikit sedikit tetapi sering (1
sendok makan tiap 2 3 menit). Antimetik sebaiknya tidak
diberikan karena sering menyebabkan penurunan kesadaran.
8. GGA
a. Mungkin terjadi pada penderita diare dengan dehidrasi berat
dan syok.
b. Didiagnosis sebagai GGA bila pengeluaran urine belum terjadi
dalam waktu 12 jam setelah hidrasi cukup.
G. Pencegahan Diare
Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar yaitu setelah buang air
besar, sebelum & sesudah menyiapkan makanan atau minuman.
2. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain
dengan cara merebus sampai mendidih 10-15 menit.
3. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya
menggunakan jamban dengan tangki septik.
4. Mencuci makanan/sayuran sebelum dimasak dibawah air mengalir.
5. Mencuci botol susu dan tempat makan anak dengan cara mencuci di
bawah air mengalir lalu rendam dengan air panas 5 menit baru
digunakan lagi.
6. Menjaga kebersihan diri.
Menjaga kebersihan lingkungan: rumah, saluran air, pengelolaan
sampah yang baik yaitu sampah dibuang pada tempatnya dan tempat
sampah selalu ditutup agar makanan tidak tercemar serangga (lalat,
kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain), membuang tinja termasuk tinja bayi
pada jamban/WC.