Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Geografi Budaya

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.


Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu
yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki
oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-
Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun
temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut
sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung
keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan
intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat (Djoesmantho,
2013).
2.1.1 Pengertian Geografi Budaya
Geografi budaya yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan
kehidupanya, mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita
konsumsi, pakaian yang kita gunakan, rumah yang kita huni dan tempat
rekreasi yang kita amati.
Geografi budaya dipelajari karena adanya masalah budaya, khususnya
hubungan antara pertumbuhan penduduk, konsumsi sumberdaya, dan
peningkatan intensitas masalah akibat ekploitasi sumberdaya yang
berlebihan.dengan kata lain bahwa geografi budaya dapat memberikan
kombinasi yang kuat perangkat konseptual untuk memahami masalah budaya
yang kompleks.
Geografi budaya merupakan cabang geografi yang objek kajiannya
keruangan manusia. Aspek-aspek yang dikaji dalam cabang ini termasuk
kependudukan (geografi penduduk) aktivitas atau perilaku manusia yang
meliputi aktivitas ekonomi, aktivitas social (geografi social)dan aktivitas
budayanya.

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 3


Geografi budaya merupakan cabang dari geografi manusia. Cabang
lain dari geografi manusia yaitu geografi ekonomi dan geografi politik.
Geografi berpengaruh terhadap budaya apabila lingkungan mempengaruhi
perubahan budaya. Lingkungan budaya membentuk ekosistem budaya,
ekosistem budaya menciptakan ekologi budaya yang dinamis. Ekologi budaya
sangat dipengaruhi oleh political space dan cultural agency (Sagara, 2011).

2.1.2 Unsur-Unsur Kebudayaan


Kebudayaan umat manusia mempunyai unsur unsur yang bersifat
universal. Unsur unsur kebudayaan tersebut dianggap universal karena dapat
ditemukan pada semua kebudayaan bangsa bangsa di dunia. Menurut
Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
1. Bahasa
Bahasa adalah suatu pengucapan yang indah dalam elemen
kebudayaan dan sekaligus menjadi alat perantara yang utama bagi
manusia untuk meneruskan atau mengadaptasi kan kebudayaan. Bentuk
bahasa ada dua yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan.
2. Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan itu berkisar pada pegetahuan tentang kondisi
alam sekelilingnya dan sifat sifat peralatan yang dipakainya. Sistem
pengetahuan meliputi ruang pengatahuan tentang alam sekitar, flora dan
fauna, waktu, ruang dan bilangan, sifat sifat dan tingkah laku sesama
manusia, tubuh manusia.
3. Sistem Kemasyarakatan atau Organisasi Sosial
Organisasi Sosial adalah sekelompok masyarakat yang anggotanya
merasa satu dengan sesamanya. Sistem kemasyarakatan atau organisasi
sosial yang meliputi: kekerabatan (garis Keturunan), asosiasi dan
perkumpulan, sistem kenegaraan, sistem kesatuan hidup, perkumpulan.
4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Yang dimaksud dengan teknologi adalah jumlah keseluruhan
teknik yang dimiliki oleh para nggota suatu masyarakat, meliputi

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 4


keseluruhan cara bertindak dan berbuat dalam hubungannya degnan
pengumpulan bahan bahan menta, pemrosesan bahan bahan itu untuk
dibuat menjadi alat kerja, penyimpanan, pakaian, perumahan, alat
trasportasi dan kebutuhan lain yang berupa benda material. Unsur
teknologi yang paling menonjol adalah kebudayaan fisik yang meliputi,
alat alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan
perhiasan, tempat berlindung dan perumahan serta alat alat transportasi.
5. Sistem mata pencaharian hidup
Sistem mata pencaharian hidup merupakan segala usaha manusia
untuk mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan. Sistem mata
pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi, berburu dan
mengumpulkan makanan, bercocok tanam, peternakan, perikanan,
perdagangan.
6. Sistem Religi
Sistem religi dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang terpadu
antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal
hal suci dan tidak terjangkau oleh akal. Sistem religi yang meliputi, sistem
kepercayaan, sistem nilai dan pandangan hidup, komunikasi keagamaan,
upacara keagamaan.
7. Kesenian
Secara sederhana kesenian dapat diartikan sebagai segala hasrat
manusia terhadap keindahan. Bentuk kendahan yang beraneka ragam itu
timbul dari permainan imajinasi kreatif yang dapat memberikan kepuasan
batin bagi manusia. Secara garis besar, kita dapat memetakan bentuk
kesenian dalam tiga garis besar, yaitu seni rupa, seni suara dan seni tari
(Ibnudin, 2017).
2.1.3 Pengaruh Faktor Geografi terhadap Terbentuknya Daerah
Kebudayaan
Faktor Geografis Pedesaan mempengaruhi unsur budaya seperti
bahasa, sistem teknologi, mata pencaharian, organisasi social,pengetahuan,
sistem kepercayaan dan kesenian yang membentuk daerah kebudayaan.

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 5


Hal itu berpengaruh karena adanya keterkaitan antara aspek alam(faktor
geografi) dengan aspek manusia (kebudayaan). Unsur budaya yang paling
terkena pengaruh adalah :
1. Sistem Teknologi
Pedesaan umumnya masih bersifat tradisional.misalnya untuk
memanggil masyarakat yang jauh masyarakat pedesaan menggunakan
kentongan.
2. Mata Pencaharian
Apabila muncul kata pedesaan , mata pencaharianya pasti terkait
dengan petani dan nelayan.
3. Organisasi Sosial
Organisasi sosial yang menonjol adalah bersifat gotong royong.
Adapun untuk kaum muda yaitu karang taruna.
2.1.4 Bentuk-Bentuk Kebudayaan
1. Peralatan dan Perlengkapan Hidup (Sistem Teknologi)
Peralatan dan Perlengkapan Hidup merupakan semua sarana dan
prasarana yang digunakan oleh manusia/masyarakat dalam setiap proses
kehidupan terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
Teknologi merupakan cara/teknik memproduksi, memakai, serta
memelihara segala peralatan dan perlengkapan.
Teknologi yang berkembang di masyarakat dan berfungsi sebagai
peralatan dan perlengkapan hidup diantarannya adalah:
a. Alat-Alat Produktif
b. Senjata
c. Wadah
d. Alat-Alat menyalakan api
e. Makanan
f. Pakaian
g. Tempat Berlindung dan Perumahan
h. Alat-Alat Transportasi

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 6


2. Sistem Mata Pencaharian Hidup ( Sistem Ekonomi )
Sistem Mata Pencaharian Hidup yang termasuk dalam unsure
budaya universal terfokus pada mata pencaharian masyarakat tradisional,
diantaranya:
a. Berburu dan Meramu
b. Beternak
c. Bercocok tanam di Ladang
d. Menangkap Ikan
3. Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
a. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting
dalam struktur sosial. Sistem kekerabatan adalah system menghitung
garis keturunan atas dasar hubungan perkawinan dan hubungan darah.
Dapat pula disebutkan bahwa kekerabatan adalah unit-unit
sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang mimiliki hubungan
darah dan hubungan perkawinan.
Ada beberapa system kekerabatan yang dimiliki/dijalani oleh
masyarakat di Indonesia, yaitu:
1) Sistem Kekerabatan Bilateral
Sistem Kekerabatan Bilateral, adalah system kekerabatan
yang menghitung garis keturunan dari dua pihak, yaitu dari pihak
ayah dan ibu secara seimbang/bersama-sama.
2) Sistem Kekerabatan Unilateral
Sistem kekerabatan Unilateral, adalah system kekerabatan
yang menghitung garis keturunan dari satu pihak, yaitu dari pihak
ibu saja yang disebut system matrilineal atau dari pihak ayah saja
yang disebut system patrilineal.
3) Sistem Kekerabatan Ambilineal
Sistem Kekerabatan Ambilineal, adalah system kekerabatan
yang menghitung garis keturunan dari pihak ayah dan pihak ibu

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 7


secara bergantian, atau bisa dikatakan menghitung garis keturunan
sebagian dari pihak ayah sebagian dari pihak ibu.
b. Organisasi Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu hidup bersama
dengan orang lain untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Untuk
mencapai tujuan-tujuan hidup tertentu yang tidak dapat dicapai
sendiri, manusia bersama-sama dengan manusia lain dalam
masyarakat akan membentuk perkumpulan/organisasi sosial.
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk
masyarakat baik formal maupun non formal (berbadan hokum
maupun tidak berbadan hokum). Berdasarkan bidang kegiatannya,
organisasi sosial di masyarakat dibedakan menjadi:
1) Organisasi Sosial di bidang Pendidikan, misalnya sekolah,
lembaga pelatihan, LPK, dll.
2) Organisasi Sosial di bidang Kesejahteraan Sosial, misalnya Panti
Asuhan, Panti Jumpo, dan sebagainya.
3) Organisasi Sosial di bidang Kesehatan, misalnya Rumah Sakit,
Balai Pengobatan.
4) Organisasi Sosial di bidang Keadilan, misalnya LBH.
4. Bahasa
Bahasa merupakan wujud budaya yang digunakan manusia untuk
saling berkomunikasi atau berinteraksi, baik secara lisan, tulisan maupun
bahasa isyarat.
Secara umum bahasa berfungsi sebagai:
a. Alat berekspresi
b. Alat komunikasi
c. Alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial
Secara khusus bahasa berfungsi untuk:
a. Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari (fungsi praktis)
b. Mewujudkan seni (fungsi artistic)
c. Mempelajari naskah-naskah kuno (fungsi filosofis)

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 8


d. Usaha mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi
5. Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari
ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata
ataupun telinga. Kesenian secara umum dapat dibedakan menjadi:
a. Seni Rupa, yaitu kesenian yang dapat dinikmati secara visual (melalui
mata).
b. Seni Suara, yaitu kesenian yang dapat dinikmati melalui
telinga/didengar.
c. Seni Drama, yaitu kesenian yang dapat dinikmati melalui mata dan
telinga (dilihat dan didengarkan). Seni drama mengandung unsure-
unsur dari seni lukis, seni musik, sastra, dan tari,
6. Sistem Ilmu dan Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang
benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan merupakan
segala sesuatu yang dapat diketahui, diterima dan dipahami oleh manusia
dalam penggunaan panca indranya.
Setiap masyarakat, tidak mungkin dapat hidup tanpa pengetahuan
tentang alam sekitarnya dan sifat-sifat dari peralatan hidup yang mereka
pakai. Sistem Pengetahuan dapat dibedakan menjadi:
a. Pengetahuan tentang alam
b. Pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan
c. Pengetahuan tentang tubuh manusia
d. Pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia
e. Pengetahuan tentang ruang dan waktu
7. Sistem Religi (Kepercayaan)
Kepercayaan/Religi adadalah suatu keyakinan bahwa hal-hal yang
dipercayai itu benar dan nyata (Tuhan, manusia, benda-benda, hewan, dll);
ada harapan dan keyakinan (akan kejujuran, kebaikan); ada orang-orang
yang dipercaya(diserahi tugas); dan sebutan untuk system religi/agama
yang ada di Indonesia. Semua aktivitas manusia yang berkaitan dengan

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 9


kepercayaan atau agama didasarkan pada suatu getaran jiwa, yang disebut
emosi keagamaan (religius emotion). Emosi keagamaan inilah yang
membuat manusia melakukan tindakan yang bersifat keagamaan
(Anonim1, 2015).
2.2. Deskripsi Wilayah Kabupaten Tana Toraja
2.2.1 Letak Geografis
0 0
Letak permukiman suku Toraja berada di antara 119 -120 Bujur
0 0
Timur dan 2 -3 Lintang Selatan (Said, 2004). Pusat permukiman suku Toraja
terletak di Tana Toraja. Sementara secara administratif, suku Toraja
bermukim disebagian daerah Enrekang, sebagian daerah Pinrang, dalam
daerah Polmas, Mamuju dan Luwu. Letak permukiman Tana Toraja di
kelilingi oleh daerah-daerah yang di sebutkan diatas tadi. Di daerah utara
Provinsi Sulawesi Tengah, di sebelah selatan daerah Enrekang, di sebelah
timur daerah Luwu, dan di sebelah barat daerah Polmas, Mameje, serta
Mamuju (Wijaya dkk, 2015).
2.2.2 Wilaah Geografis
Wilayah etnis Toraja pada umumnya terletak di sekitar pegunungan
Latimojong dan pegunungan Quarles. Wilayahnya memilki tinggi rata-rata
150 hingga 2000 meter dari permukaan air laut dengan beberapa sungai yang
mengalirinya seperti, Sungai Saddang, Sungai Karama, Sungai Rongkong,
Sungai Massuppu dan Sungai Mamasa. Di wilayah Tana Toraja terdapat dua
pusat berupa kota kembar, yang pertama Makele berfungsi untuk pusat
Adminstrasi berada di selatan, kedua Rantapeo yang lebih berfungsi sebagai
pelayanan dan jasa berada di utara (Wijaya dkk, 2015).
2.2.3 Populasi Penduduk
Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara
Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa,
dengan 500.000 di antaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja,
Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Sisanya hidup merantau
dan bekerja di luar wilayah Tana Toraja. Mayoritas suku Toraja memeluk

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 10


agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan
animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah
mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma (Wijaya
dkk, 2015).
2.3. Kebudayaan Masyarakat Toraja
2.3.1 Asal Usul dan Perkembangan Suku Toraja
Bentuk Pulau Sulawesi memilki empat semenanjung yang
disebabkan oleh deretan pegunungan yang membujur ke empat jurusan dari
pusat pulai tersebut. Semenanjung selatan secara geigrafis terdiri dari suatu
rangkaian gunung berapi yang sudah mati yang dikelilingi oleh daratan-
daratan sepanjang pantai. Gunung yang tertinggi kurang lebih 3000 m dan
jarak antara garis pantai dan timur kira-kira 150 KM. Suku Toraja adalah
suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan,
Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 650.000 jiwa, dengan 450.000
diantaranya masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja. Kata Toraja dibentuk
dari dua kata yang berasal dari bahasa daerah, yaitu To yang berarti orang
dan Ri Aja berarti dari gunung.
Berdasarkan mitologi, orang Toraja meyakini bahwa mereka berasal
dari 2 (dua) nenek moyang yaitu To Lembang dan To Manurung. To
Lembang artinya orang perahu yaitu orang yang datang dengan
menggunakan perahu lalu berkembang dan beranakpinak di daerah Toraja,
sedangkan To Manurung artinya orang yang diturunkan dari langit untuk
mengatur tata kehidupan To Lembang yaitu digunakan sebagai pengganti
kata Desa meskipun pada prinsipnya aturan-aturan yang berlaku di
Lembang sama persis dengan tata pemerintahan yang berlaku untuk Desa
(Hetty Nooy-Palm dalam Hans J.Daeng, 2000). To Manurung kemudian
menikah dengan seorang Dewi Air (Sundiwai) yang melahirkan anak
bernama Padada. Dari sinilah asal usul kelas bangsawan Toraja muncul dan
melahirkan berbagai adat istiadat, termasuk Rambu Solo.
Sistem orang Toraja didominasi oleh kelompok kekerabatan yang
disebut Marapuan atau Parapuan yang berorientasi kepada satu kakek

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 11


moyang pendiri Tongkonan, yaitu rumah komunal sekaligus menjadi pusat
kekerabatan dan kehidupan sosial serta religi para anggotanya. Kelompok
Marapuan terdiri atas kerabat dari 3-5 generasi. Karena orang Toraja
menganut pola kekerabatan yang bilateral sifatnya, maka seseorang bisa
menjadi anggota dari beberapa buah Tongkonan.
Sebelum abad ke-20, suku Toraja belum tersentuh oleh dunia luar
sehingga masih menganut kepercayaan animisme yang dikenal sebagai
Aluk To Dolo yaitu Kepercayaan yang disertai dengan perilaku-perilaku
tertentu. Misalnya ; seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya,
maka pantang baginya untuk makan nasi dan lauk pauk (hanya makanan
tertentu yang boleh) hingga suaminya dipestakan. Pemerintah Indonesia
telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu
Dharma. Baik mereka yang masih memegang kepercayaan animisme
maupun telah memiliki keyakinan beragama, ada prinsip dasar yang masih
dipegang teguh untuk mengatur tata kehidupan (hubungan antar sesama
manusia) orang Toraja yaitu prinsip penggarontosan ; Misa Ada Dipotuo
Pantan Kada Dipomate (Bersatu Kita Teguh Bercerai Kita Mati),
Sipakaele-Disirapai (Saling Menghargai dan Musyawarah) serta Hidup
Bagaikan Ikan Masapi (Hidup Bersama Bagaikan Ikan dan Air yang Saling
Membutuhkan) merupakan semboyan hidup orang Toraja yang
mencerminkan hubungan antar sesama manusia yang harus dijunjung
tinggi.
Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda datang dan
menyebarkan agama Kristen. Mayoritas suku Toraja kini telah memeluk
agama Kristen (Protestan, Katolik & Advent), sementara sebagian
menganut Islam dan sebagian kecil lagi masih tetap pada kepercayaan
animismenya. Sejak tahun 1990-an itulah masyarakat Toraja mengalami
transformasi budaya yang ditandai dengan pergeseran mata pencaharian
dari bercocok tanam (hortikultura) sederhana menuju agraris lalu
berkembang ke sektor pariwisata yang terus meningkat dari masa ke masa
(Maulidin, 2010).

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 12


2.3.2 Upacara Adat Kesukacitaan (Rambu Tuka)
Upacara Rambu Tuka adalah bentuk upacara syukuran menyembah
kepada Deata (dalam aluk todolo) atau Puang Matua dengan memotong
ayam,babi atau ayam di bawah pimpinan upacara adat atau tominaa. Di
upacara ini, tidak akan ditemukan kesedihan atau pun ratapan tangis.
Hanya anda kegembiraan dan suka cita. Upacara ini biasanya diadakan di
acara acara seperti pernikahan, syukur atas hasil panen, atau peresmian
rumah Tongkonan. Di acara ini, semua rumpun keluarga akan berkumpul
dan sekaligus menjadi ajang mempererat hubungan antar keluarga.
Beberapa upacara yang sering dilaksanakan adalah MaBua,
Meroek, atau Mangrara Banua Sura. MaBua sendiri adalah acara syukur
atas rumah atau pun berkah yang didapatkan dan dalam pelaksanaannya
melibatkan rumpun keluarga. Meroek juga merupakan acara syukur atas
rumah baru dan berkat lain namun pelaksanaannya melibatkan banyak
orang, tidak hanya dari rumpun keluarga. Sementara Mangrara Banua
Sura merupakan acara syukur atas rumah baru yang hanya dilakukan oleh
lingkup keluarga penghuni rumah baru tersebut.
Untuk waktu pelaksanaanya, upacara RambuTuka dilakukan di pagi
atau sebelum siang tiba dan bertempat di sebelah timur Tongkonan. Hal ini
tentu berbeda dengan Rambu Solo yang diadakan di siang hari dan
bertempat di sebelah barat Tongkonan.
Di setiap acara syukuran ini, akan dilengkapi dengan tari tarian
khas Tana Toraja seperti Pa Gellu, Pa Bonabella, Gellu Tungga, Ondo
Samalele, Pa Dao Bulan, Pa Burake, Memanna, Maluya, Pa Tirra,
Panimbong, dan masih banyak lagi. Akan ditampilkan juga musik musik
adat seperti Pa Pompang, Pa Barrung, dan Pa Pelle. Jenis tarian dan
musik yang ditampilkan hanya khusus untuk acara Rambu Tuka. Pada
acara Rambu Solo, anda tidak akan menemukan hal tersebut. Adapun
tingkatan upacara Rambu Tuka sebagai berikut :
1. Kapuran Pangngan
2. Piong Sanglampa

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 13


3. Mapallin atau Manglika Biang
4. Matadoran atau Menammu
5. Mapakande Deata do Banua
6. Mapakande Deata diong padang
7. Massura Tallnag
8. Merok
9. Mabua atau Lapa
10. Mangrara banua (Malaisa, 2016).
2.3.3 Upacara Adat Kedukaan (Rambu Solo)
Rambu Solo adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang
mewajibkan keluarga almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda
penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi dan dilakukan pada
tengah hari. Tujuan diadakannya upacara rambu solo adalah untuk
menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju
alam roh,yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di
sebuah tempat peristirahatan terakhir.
Secara garis besar upacara pemakaman terbagi kedalam 2 prosesi,
yaitu Prosesi Pemakaman (Rante) dan Pertunjukan Kesenian. Prosesi-prosesi
tersebut tidak dilangsungkan secara terpisah, namun saling melengkapi dalam
keseluruhan upacara pemakaman. Prosesi Pemakaman atau Rante tersusun
dari acara-acara yang berurutan. Prosesi Pemakaman (Rante) ini diadakan di
lapangan yang terletak di tengah kompleks Rumah Adat Tongkonan, antara
lain:
1. MaTudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jasad
2. MaRoto, yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan
benang emas dan benang perak.
3. MaPopengkalo Alang, yaitu proses perarakan jasad yang telah
dibungkus ke sebuah lumbung untuk disemayamkan.
4. MaPalao atau MaPasonglo, yaitu proses perarakan jasad dari area
Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 14


Prosesi yang kedua adalah Pertunjukan Kesenian. Prosesi ini
dilaksanakan tidak hanya untuk memeriahkan tetapi juga sebagai bentuk
penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Dalam Prosesi
Pertunjukan kesenian Anda bisa menyaksikan:
1. Perarakan kerbau yang akan menjadi kurban
2. Pertunjukan beberapa musik daerah, yaitu PaPompan, PaDali-dali, dan
Unnosong.
3. Pertunjukan beberapa tarian adat, antara lain PaBadong, PaDondi,
PaRanding, Pakatia, PaPapanggan, Passailo dan PaSilaga Tedong.
4. Pertunjukan Adu Kerbau, sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.
5. Penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.
6. MaPalao atau MaPasonglo, yaitu proses perarakan jasad dari area
Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian
(Wijaya dkk, 2015)

Laporan Praktikum Lapangan Geografi Budaya | 15