Anda di halaman 1dari 4

Nama : Nurhasanah

NIM : 14304241011
Prodi : Pendidikan Biologi A

POLA-POLA MIGRASI
Hewan melakukan migrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kepadatan
populasi dan faktor kondisi fisik lingkungan, seperti adanya perubahan suhu dan persediaan
sumber makanan (Hasudungan, 2005). Berikut merupakan pola-pola migrasi secara umum.

1. Migrasi Harian
Migrasi harian adalah migrasi yang dilakukan dalam waktu satu hari atau kurang
untuk pergi dan kembali.
Contoh:
a. Plankton bergerak ke permukaan air pada siang hari dan turun ke tempat yang lebih
dalam pada malam hari. Pada saat di permukaan, plankton dapat menyerap sinar
matahari sebanyak-banyaknya untuk fotosintesis dan di tempat yang dalam dapat
menyerap unsur-unsur mineral.
b. Kelelawar meninggalkan sarang untuk mencari makan pada malam hari, dan kembali
pada pagi hari.
c. Ketam pantai bergerak sesuai dengan gerakan air laut pada waktu pasang naik dan
pasang surut.

2. Migrasi Musiman (Migrasi Annual)


Waktu yang diperlukan hewan untuk pergi dan kembali, atau untuk menetap
sementara kurang lebih satu musim, sehingga dalam tahun yang sama hewan berada di dua
tempat yang berbeda. Migrasi musiman banyak dijumpai pada hewan yang kondisi
lingkungan habitatnya berubah secara musiman. Berdasarkan lokasinya, migrasi musiman
dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
a. Migrasi Altitudinal
Migrasi altitudinal yaitu perpindahan antara dua lokasi yang memiliki
ketinggian diatas permukaan laut yang cukup berbeda, misalnya perpindahan ke tempat
yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hewan-hewan pemakan rumput yang hidup di
daerah beriklim sedang melakukan migrasi naik ke lereng gunung atau turun ke lembah
secara musiman. Biasanya migrasi jenis ini dilakukan pada lokasi yang tidak berjauhan
dengan tujuan untuk menghindari tekanan alam yang datang sewaktu-waktu.
Contoh:
Rusa Amerika bergerak naik gunung pada musim panas dan turun gunung pada musim
dingin. Perpindahan itu dilakukan untuk menghindari cuaca dingin di tempat tinggi
pada musim dingin dan cuaca panas di dataran rendah pada musim panas. Migrasi
tersebut juga berhubungan dengan persediaan makanan.
b. Migrasi Lalitudinal
Migrasi lalitudinal yaitu hewan berpindah dari satu tempat ke tempat lain
dengan melintasi garis lintang bumi, dimana ketinggian lokasi asal dan lokasi tujuan
tidak menjadi faktor utama. Migrasi ini sering kali dapat menempuh jarak yang sangat
jauh dan memiliki perbedaan kondisi alam yang ektstrim, misalnya dari daerah kutub
utara ke belahan bumi bagian selatan dengan melewati garis khatulistiwa.
Contoh:
Burung-burung yang hidup secara terrestrial di belahan bumi utara sering bermigrasi ke
arah utara ke daerah yang persediaan makanan berlimpah pada musim panas, dan pergi
ke daerah savanna di selatan pada musim dingin. Di antara burung-burung tersebut ada
yang mengalami musim kawin di daerah paleartik selama musim dingin. Di samping
itu, ada burung-burung yang dapat mencapai Afrika. Burung-burung tersebut
menghabiskan waktunya selama musim dingin di daerah hutan pohon berduri dan
savanna. Kedatangan burung-burung tersebut bertepatan dengan masaknya buah-
buahan yang hidup di daerah tersebut.

3. Migrasi Lokal
Migrasi lokal tidak melibatkan perubahan ketinggian tempat dan tidak sampai
melintasi garis lintang. Jarak yang ditempuh sangat terbatas. Migrasi ini banyak dijumpai
di daerah padang rumput daerah tropis yang musim penghujan dan kemaraunya
berpengaruh terhadap persediaan air, misalnya pada Taman Nasional Baluran. Pada
Taman Nasional Baluran tersebut, persediaan air minum pada musim kemarau untuk
hewan liar hanya ada di daerah pantai, yaitu di rawa atau sumber air.
Contoh:
Pada sore hari dan malam hari hewan (kijang, babi hutan, kerbau, dan banteng) pergi ke
rawa dan sumber air lain untuk minum. Hewan-hewan tersebut berada di daerah pantai
yang tertutup oleh hutan pantai selama malam hari. Pada pagi hari, hewan-hewan pergi ke
arah kaki gunung Baluran sambil merumput di savanna.
Selain itu, ada pula yang disebut vagran, yaitu spesies yang bermigrasi di luar jadwal
migrasi atau di luar jangkauan jalur migrasi. Ini sering disebut sebagai jenis migran tersasar.
Misalnya, spesies tersebut mempunyai waktu migrasi Oktober-Desember, tetapi spesies
vagran tersebut berkunjung di wilayah migrasinya pada bulan Mei atau Agustus, atau spesies
tersebut memiliki jalur wilayah Malaysia, tetapi beberapa jenis melakukan perjalanan soliter
ke Sumatera atau Jawa.

Berdasarkan waktunya migrasi dibagi atas 3 yaitu:


1. Jenis migrasi balik (return migration), yaitu perpindahan yang dilakukan ke suatu tujuan
tertentu dan kemudian kembali lagi ke lokasi asal secara teratur.
2. Migrasi balik tunda (re-migration), yaitu perjalanan ke suatu tujuan tertentu yang
dilakukan oleh suatu generasi mahluk hidup, dan kemudian kembali ke lokasi asal
dilakukan oleh generasi berikutnya, dan demikian seterusnya.
3. Migrasi searah (removal migration), yaitu perjalanan yang dilakukan ke suatu tujuan dan
tidak bermaksud untuk kembali lagi secara tetap ke lokasi asal. (Howes et al, 2003).

Selain hewan-hewan pada umumnya, terdapat suatu biota yaitu zooplankton yang
memiliki pola migrasi tertentu. Zooplankton bermigrasi kearah permukaan saat matahari
terbenam dan bermigrasi ke perairan yang lebih dalam saat matahari terbit. Pergerakan ini
disebut diel vertical migration (DVM). Migrasi vertikal ini dilakukan karena faktor cahaya,
suhu dan juga untuk menghindari predator.
Pola yang dibentuk oleh DVM dapat berubah-ubah, baik antarspesies maupun
intraspesies dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan perairan. Perbedaan pola migrasi
intraspesies disebabkan oleh faktor ukuran, umur, dan jenis kelamin. Setiap spesies memiliki
pola kedalaman migrasi tersendiri yang akan berubah setara dengan pertumbuhan, masa
reproduksi dan waktu setiap tahun. Variasi penyusun organisme seperti ukuran tubuh,
pigmen, serta faktor lingkungan seperti kesediaan makanan, penetrasi cahaya, kedalaman
dasar perairan, dan topografi dasar perairan menyebabkan perbedaan tingkah laku migrasi.
Terdapat 3 pola DVM yaitu:
1. Migrasi Nocturnal
Migrasi ini paling umum terjadi, dimana pola migrasi kearah permukaan pada
waktu petang dan bermigrasi ke lapisan yang lebih dalam sebelum fajar. Organisme yang
memiliki pola migrasi nocturnal maupun twilight berlindung di perairan yang lebih dalam
dari predator karena pengaruh cahaya matahari, aktif pada malam hari di daerah
permukaan yang kaya akan makanan.
2. Migrasi Twilight
Migarasi twilight merupakan pola migrasi kearah permukaan menjelang petang dan
bermigrasi ke perairan yang lebih dalam saat tengah malam, diikuti migrasi kembali
kearah permukaan kemudian kembali bermigrasi ke perairan yang lebih dalam pada saat
fajar. Saat tengah malam sebagian dari hewan tersebut bergerak kearah yang lebih dalam,
disebabkan komposisi zooplankton lebih padat daripada air maka ketika aktivitas
berkurang, menyebabkan cenderung tenggelam.
3. Migrasi Reverse
Migrasi reverse yaitu pola migrasi kea rah permukaan pada saat siang hari dan ke
arah yang lebih dalam pada malam hari. Migrasi ini dapat dicirikan oleh spesies copepoda
dengan ukuran yang besar maupun yang berwarna. Penyebab utama pergerakan individu
copepoda untuk DVM disebabkan oleh kondisi tubuh. Berdasarkan hal tersebut dan juga
diindikasi oleh faktor lingkungan, maka copepoda memodifikasi pola gerakan migrasi
sebagai reaksi terhadap predator.