Anda di halaman 1dari 8

PEMICU 1 BLOK 11

1. Jelaskan klasifikasi bahan cetak !


Jawab :
American National Standart Institute (ANSI-ADA) mengklasifikasikan bahwa bahan cetak
harus memiliki kekuatan kompresi setidaknya 3570 gm/cm ketika material dilepaskan
dari dalam mulut, aman (tidak toksik atau mengiritasi jaringan mulut), tidak ada
degradasi desinfeksi secara signifikan, kompatibel dengan seluruh bahan cetak,
kualitasnya terjaga dengan baik serta tidak mudah rusak oleh pengaruh lingkungan,
dimensi akurasi baik. Penguapan air pada hasil cetakan akan mengkerutkan dimensi,
sehingga nantinya akan terjadi perubahan akurasi pada cetakan positifnya (Mc.Cabe and
Walls, 2008). ADA menetapkan bahawa standar akurasi bahan cetak adalah 0,75 mm
(Craig et al., 2004).

Klasifikasi Bahan Cetak


Bahan cetak dapat dikelompokkan menjadi :
1. Reversibel
2. Irreversibel

Berdasarkan cara bahan tersebut mengeras. Istilah reversibel menunjukkan bahwa


terjadi reaksi kimia selama proses setting time berlangsung. Bahan tidak dapat diubah
dan kembali ke keadaan semula pada klinik dokter gigi. Misalnya hidrokoloid alginat,
pasta cetak oksida seng eugenol (OSE), plaster of Paris,mengeras dengan reaksi kimia,
sedang bahan cetak elastomerik mengeras dengan polimerisasi. Sebaliknya, reversibel
berartibahan tersebut melunak dengan pemanasan dan memadat dengan pendinginan,
tanpa terjadi perubahan kimia. Hidrokoloid reversibel dan kompoun cetak termasuk
dalam kategori ini (Anusavice, 2004) Gladwin & Bagby (2009) menggolongkan tipe bahan
cetak sebagai berikut :

1) Inelastic impression material :


a. Plaster of Paris
b.Wax
c. Compound
d. Zinc oxide - eugenol (OSE)
2) Nonaqueous elastomeric impression material :
a. Polisulfid
b. Silikon terkondensasi
c. Poliester
3) Aqueous elastomeric impression material (hidrokoloid) Hidrokoloid terdiri atas 2,
yaitu :
a. Hidrokoloid reversibel (agar)
Hidrokolid reversibel (agar) adalah polimer karbohidrat. Agar merupakan bahan yang
sama yang digunakan dalam bidang mikrobiologi sebagai media pembiakan.
Hidrokolid reversibel bekerja dengan baik pada lingkungan yang basah (Gladwyn &
Bagby, 2004). Fase cair agar berada pada suhu 710 C dan 1000 C dan mejadi gel
kembali pada suhu antara 300 C dan 500 C. Manipulasi ke mulut pasien adalah
dengan memanaskan agar di waterbath, hingga bentuknya menjadi cair. Setelah cair,
agar dimasukkan ke dalam sendok cetak plastik khusus yang memungkinkan air akan
melewati sendok cetak dan membentuk gigi dan jaringan lunak rongga mulut pasien.
Setelah mengalami setting time agar cair akan kembali ke bentuk gel dan mencetak
bentuk anatomis gigi dan jaringan lunak rongga mulut (Van Noort, 2006).
b. Hidrokolid ireversibel (alginat)
Hidrokolid ireversibel (alginat) adalah bahan cetak elastis. Komponen aktif utama
dari bahan cetak hidrokoloid irreversible adalah salah satu alginat yang larut air,
seperti natrium, kalium atau alginat trietanolamin. Bila alginat larut air dicampur
dengan air, bahan tersebut dapat membentuk sol. Sol sangat kental meskipun dalam
konsentrasi rendah, alginat yang dapat larut membentuk sol dengan cepat bila
bubuk alginat dan air dicampur dengan kuat. Berat melekul dari campuran alginat
amat bervariasi, bergantung pada buatan pabrik. Semakin besar berat molekul,
semakin kental sol yang terjadi (Anusavice, 2003).

2. Jelaskan bahan cetak yang dapat dipergunakan untuk melakukan pengambilan cetakan
anatomis dan alasannya!
Jawab :
Pencetakan anatomis adalah pencetakan untuk mendapatkan suatu bentuk negatif
dari suatu permukaan objek yang menghasilkan bentuk struktur gigi dan jaringan gigi
disekitarnya (The Glossary of Prostodontics terms).
Bahan Cetak untuk Pencetakan Anatomis Bahan cetak yang dipergunakan untuk
menghasilkan replika yang akurat dari jaringan intraoral dan ekstraoral harus
memenuhi kriteria untuk mendapatkan cetakan yang akurat sebagai berikut :
1. Harus cukup cair untuk beradaptasi dengan jaringan mulut dan cukup kental untuk
diisikan pada sendok cetak agar dapat ditempatkan di dalam mulut.
2. Di dalam mulut harus mengeras dalam waktu yang layak ,idealnya total waktu
pengerasan harus kurang dari tujuh menit.
3. Cetakan yang telah mengeras tidak boleh berubah bentuk atau rusak sewaktu
dikeluarkan dari mulut pasien.
4. Cetakan yang didapat dari bahan cetak harus stabil dimensinya sampai cetakan diisi
untuk mendapatkan model dan harus dapat mempertahankan kestabilan
dimensinya setelah pelepasan model sehingga model kedua atau ketiga dapat
diperoleh dari cetakan yang sama.
5. Bahan cetak harus biokompatibel dengan jaringan. Bahan cetak yang akan
dipergunakan mempunyai karakteristik masingmasing sesuai dengan sifat-sifat fisis,
kemis dan mekanis yang ada padanya dan memerlukan perhatian dalam hal
efeknya pada perubahan dimensi hasil cetakan. Kekentalan bahan, sifat flow
(rheology), elastisitas, fleksibilitas mempunyai pengaruh pada keakuratan hasil
cetakan. Salah satu bahan cetak yang mempunyai katakteristik diatas adalah
bahan cetak alginat, yang telah dipergunakan secara luas baik untuk membuat
model studi maupun model kerja (Haralur SB dkk.,2012)

Alginat Alginat adalah polisakarida alam yang banyak terdapat pada dinding sel dari
spesies ganggang coklat. Alginat yang terdapat diganggang coklat ini kebanyakan dalam
bentuk asam karboksilat yang disebut asam alginik dan garam anorganik yang tidak larut
dalam air (Gambar 2.1), sehingga sering digunakan untuk keperluan industri yaitu garam
natrium maupun kalium alginat (Situngkir J, 2008). Di bidang kedokteran gigi alginat
digunakan sebagai bahan cetak untuk pencetakan anatomis atau pencetakan awal, bahan
cetak yang dapat dipergunakan untuk pengambilan cetakan anatomis selain alginat adalah :
Wax, Gips, Compound, namun alginat adalah bahan cetak yang paling sering digunakan
pada saat pencetakan awal di bidang prostodonsia, penggunaan bahan cetak ini jauh
melampaui bahan cetak yang lain karena beberapa faktor, yaitu: manipulasi mudah,
nyaman bagi pasien, relatif tidak mahal, tidak memerlukan banyak peralatan, fleksibel,
akurat dan murah (Annusavice KJ, 2004).

3. Jelaskan bahan cetak yang dapat dipergunakan untuk melakukan pengambilan cetakan
fisiologis!
Jawab :
Soelarko dan Herman (1980), membagi dua macam cetakan, yaitu:
1. Cetakan anatomis (dalam keadaan tidak berfungsi), yaitu pencetakan tidak
menghiraukan tertekan atau tidaknya mukosa. Cetakan dilakukan dengan sendok
cetak biasa (stock tray), bahan yang dipakai adalah compound, alginat.
2. Cetakan fisiologis (dalam keadaan berfungsi), yaitu dalam pencetakan ini
memperhatikan jaringan bergerak dan tidak bergerak juga memperhatikan
tertekannya mukosa. Digunakan sendok cetak individual yang dibuat dari bahan
shellac atau self curing acrilic resin. Hasil cetakannya digunakan sebagai work
model.
Kedua jenis cetakan tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil cetakan seakurat
mungkin, dikenal sebagai double impression.

4. Jelaskan prosedur pengambilan cetakan rahang atas dan rahang bawah pada kasus!
5. Jelaskan bahan desinfeksi yang dapat digunakan pada cetakan!
Jawab :
Tambahan :
Prosedur kontrol infeksi dibidang kedokteran gigi meliputi (Sunoto, 2011; Kohli,
2007; Samaranayake, 2006): a) Evaluasi pasien b) Perlindungan diri c) Sterilisasi d)
Pembuangan sampah bekas praktek e) Desinfeksi.
- Desinfeksi adalah suatu upaya kontrol infeksi dengan mengeliminasi semua
mikroorganisme patogen dari tiap benda/substansi yang bertujuan untuk
menyingkirkan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi. Desinfeksi
terhadap pencetakan harus dilakukan dengan berbagai alasan yang sudah
dijelaskan (Kumar dkk., 2010; Solichati, 2013; Rahayu, 2009). Desinfeksi
bertujuan untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan
kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya
infeksi. Dibidang kedokteran gigi diantaranya alkohol, aldehid, biguanid,
senyawa halogen, fenol dan klorosilenol (Sastrodihardjo S, 2010). FDI
(Federation Dentaire International) menyatakan semua hasil cetakan dan gigi
tiruan pasien harus dibersihkan dan didesinfeksi sebelum dikirim ke
laboratorium. Bila hasil cetakan dan gigi tiruan terinfeksi dikirim langsung ke
laboratorium tanpa proses desinfeksi maka siklus infeksi silang akan terjadi
(Munagapati dkk, 2011)
- Metode Desinfeksi Metode dan lamanya perendaman atau penyemprotan
cairan desinfektan pada hasil cetakan tergantung kepada kadar penyerapan air
hasil cetakan tersebut dan waktu setelah dibuat. Lama perendaman hasil
cetakan dengan larutan desinfektan dianjurkan tidak lebih dari 10 menit
(Haralur, 2012, Malone, 2005). Berbagai penelitian tentang waktu desinfeksi
hasil cetakan alginat dengan metode perendaman selama 10 menit dengan
desinfektan yang berbeda-beda yaitu: Kaplan dkk (1994) dengan glutaraldehyde
2%, Jhonson et al ( 1998) menggunakan iodophor dan phenol glutaraldehyde,
Taylor dkk (2002) dengan NaOCl 1%. Namun ada juga beberapa petunjuk pabrik
yang merekomendasikan antara 5 dan10 menit
a. Desinfektan berasal dari kata desinfektansia yaitu zat-zat kimia yang digunakan untuk
menghilangkan mikroorganisme dipelbagai macam permukaan jaringan hidup atau
benda mati dengan jalan mematikan atau menghentikan pertumbuhan
mikroorganisme patogen yang terdapat padanya. Desinfektan sering disebut
antiseptik, sebelumnya sering digunakan pengertian desinfektan untuk benda mati
sedangkan antiseptik untuk jaringan hidup tetapi dewasa ini kedua istilah tersebut
dapat digunakan tanpa perbedaan lagi jadi cukup dengan sebutan desinfektan (Tjay
TH, Rahardja K, 2010). Sifat sifat desinfektan yang ideal.
b. Berdasarkan spektrum aktivitasnya desinfektan diklasifikasikan atas 3 tingkatan yaitu
(A Guide to Selection and Use of Disinfectants, 2003) :
1. Desinfektan tingkat rendah (Low level disinfectant) Desinfektan ini mengeliminasi
hampir semua mikroorganisme patogen tetapitidak dapat mengeliminasi spora.
Contohnya golongan Alkohol,Quaternary ammonium compounds, dan lain-lain.
2. Desinfektan tingkat sedang (Intermediate level disinfectant) Universitas Sumatera
Utara Desinfektan ini mengeliminasi semua mikrooganisme patogen tetapi tidak
dapat mengeliminasi spora. Contohnya golongan fenol yaitu halogen fenol, dan
lain-lain.
3. Desinfektan tingkat tinggi (High level disinfectant) Desinfektan ini mengeliminasi
semua mikrooganisme patogen dan mengurangi spora tetapi untuk jumlah yang
besar tidak dapat mengeliminasi sempurna. Contohnya golongan Ethylene
Oxoide,Gluteraldehyde,Formaldehyde dan lain- lain.
Banyak penelitian telah memaparkan tentang penggunaan bahan desinfektan yang
dapat digunakan sebagai desinfeksi hasil cetakan dalam bentuk spray maupun
cairan rendam seperti (Sastrodihardjo S, 2010) : a. Chlorine solution,. b. Aldehyde
solution c. Iodine solution atau iodophors 1% d. Phenols.
Beberapa kekurangan dari bahan tersebut cenderung berbahaya untuk kulit,mata
dan lain sebagainya,mempunyai bau yang kurang sedap dan sangat korosif
terhadap logam, bersifat karsinogenik,toksisitas yang tinggi tetapi memiliki banyak
kerugian ditinjau dari berbagai aspek seperti toksis, bau yang menyengat, bersifat
karsinogenik, iritatif dan lain-lain.
c. Bahan Desinfektan
Desinfektan chloroxylenol merupakan golongan fenol yaitu senyawa halogen fenol,
sehingga masuk dalam desinfektan tingkat sedang, senyawa ini mengandung halogen
terutama chlor dengan nama lain p-klor-xilenol (4-klor-3,5- dimetil-fenol), senyawa ini
bekerja terutama terhadap bakteri gram positif (Mahmood dkk., 2008; Schunack
dkk.,1990). Choloroxylenol dengan rumus molekul (4-kloro-3,5dimethylphenol) adalah
senyawa kimia antimikroba yang digunakan untuk membunuh bakteri, alga dan jamur.
Hal ini juga umum digunakan dalam bentuk sabun antibakteri. Chloroxylenol adalah
senyawa modifikasi xilena diklorinasi dengan rumus struktur C8H9ClO adalah antiseptik
kuat yang memiliki spektrum yang sangat luas dan rentan,terhadap bakteri dan jamur.
Chloroxylenol telah digunakan di Amerika Serikat sejak awal 1950-an, dan pertama kali
terdaftar sebagai fungisida pada tahun 1959 (US EPA 2009). Chloroxylenol adalah bahan
aktif dalam dettol yang digunakan sebagai desinfektan rumah tangga, banyak digunakan
di Inggris dan di sejumlah negara persemakmuran. Kemampuan chloroxylenol sebagai
antimikroba sama seperti turunan fenol lainnya yaitu merusak membran sel
(cytoplasmic) bakteri dan jamur, sedangkan aktifitasnya sebagai antivirus masih belum
diketahui (Goddard dan McCue 2001). Namun chloroxylenol dapat menonaktifkan virus
telah dilaporkan (Butcher dan Ulaeto, 2005; Maes dkk, 2007).
Rekomendasi ACI (American Cleaning Institute) tahun 2014 , menyatakan bahwa:
Chloroxylenol tidak bersifat karsinogenik, tidak menimbulkan efek hormonal pada
manusia baik sistemik maupun topikal.
Chloroxylenol (C8H9ClO) dapat membunuh bakteri dengan mengganggu membran sel
bakteri yang akan menurunkan kemampuan membran sel untuk memproduksi ATP
sebagai sumber energi.
Chloroxylenol telah terbukti efektif dalam mengurangi jumlah bakteri patogen di
lingkungan rumah sakit (Messager dkk, 2001;Messager dkk, 2004)
Menurut Agung (Haffandi , 2011), Chloroxylenol mempunyai spektrum antimikroba
yang luas, sehingga efektif digunakan untuk bakteri gram positif dan gram negatif,
jamur, ragi dan lumut, Chloroxylenol memiliki keunggulan dalam hal toksisitas dan sifat
korosif yang rendah.
Salah satu contoh cairan yang mengandung desinfektan chloroxylenol (C8H9ClO) yang
mudah di dapatkan dipasaran adalah cairan dettol yang biasanya berwarna kuning
muda, cairan dettol terdiri dari 4,8% chloroxylenol sedangkan sisanya: minyak pinus, iso
propanol, minyak jarak, sabun, caramel dan air. Chloroxylenol yang terkandung didalam
cairan dettol memiliki sifat antimikroba dengan spektrum luas baik secara in vitro
maupun in vivo terhadap sejumlah bakteri Gram positif dan Bakteri Gram negatif, jamur
dan virus , meskipun aktivitas spesifik tergantung konsentrasinya. Menurut Rutala
(1996) dettol digunakan secara meluas di rumah, fasilitas kesehatan untuk desinfeksi
dengan tujuan mengurangi jumlah mikroorganisme baik pada kulit, peralatan maupun
sanitasi lingkungan. Penelitian ElKholy dan Sedky (2012) menunjukkan bahwa
desinfektan dettol, lysoformin 3000 dan sodium hipoklorit memiliki efektifitas yang
sama dalam mendesinfeksi hasil cetakan dengan teknik penyemprotan dan berhasil
menghilangkan 100 % mikroorganisme dari permukaan cetakan. Penelitian Chimezie
dkk (2013) melaporkan desinfeksi cairan dettol pada permukaan keyboard dan mouse
computer sangat efektif dan menyarankan penggunaan secara rutin setiap hari.

6. Jelaskan metode desinfeksi cetakan dan metode apa yang dianjurkan pda kasus di
atas!
Jawab :
Metode desinfeksi secara kimia ada dua yaitu: (Power JM, 2006; Collins FM, 2013,
Palenik C, 2004; Sousa CJ, 2013):
a) Perendaman
Metode perendaman dapat dilakukan dengan cara merendam hasil cetakan alginat
pada cairan desinfektan yang disediakan dengan konsentrasi dan waktu tertentu,
perendaman merupakan metode yang efektif dan paling banyak dipilih oleh karena :
Memungkinkan cairan desinfektan dapat mencakup seluruh permukaan terutama
daerah undercut pada hasil cetakan alginat.
Mengurangi resiko terhirupnya partikel-partikel larutan desinfektan Sedangkan
kerugiannya dapat menyebabkan distorsi pada hasil cetakan jika desinfektan
dilakukan terlalu lama (Ahila S dkk., 2012; Badrian dkk., 2012; Hiraguchi dkk., 2012)

b) Penyemprotan
Metode penyemprotan dapat dilakukan dengan cara menyemprot cairan
desinfektan pada hasil cetakan alginat yang akan didesinfeksi kemudian dimasukkan
kedalam tempat yang tertutup dan dibiarkan dalam waktu yang tertentu.
Keuntungannya :
Lebih sederhana dan cepat
Kemungkinan terjadinya distorsi lebih rendah terutama pada bahan cetak alginat
dan polyeter
Kerugiannya :
Tidak semua permukaan hasil cetakan tercakup dengan sempurna
Partikel-partikel dari cairan desinfektan yang ada diudara dapat terhirup oleh
operator maupun pasien Lamanya perendaman maupun penyemprotan tergantung
pada jenis desinfektan yang digunakan. Waktu dan metode penggunaan desinfektan
tergantung kepada potensi bahan cetak dalam mengabsorbsi air (Hiraguchi dkk,
2012; Amin dkk., 2009).
Keefektifan dari perendaman dan penyemprotan tergantung pada beberapa faktor
(Cottone dkk., 2010):
Konsentrasi dan sifat mikroorganisme yang menyebabkan kontaminasi
Konsentrasi larutan kimia
Lamanya waktu perendaman
Jumlah eksudat yang terkontaminasi Seluruh operator kedokteran gigi harus
meningkatkan kesadaran tentang adanya potensi jalur infeksi silang yang berasal dari
darah, saliva daneksudat lainnya yang menempel pada alat-alat kedokteran gigi tak
terkecuali pada pencetakan. Semua hasil cetakan harus dicuci dengan air mengalir
setelah dikeluarkan dari mulut untuk membersihkan hasil cetakan dari sisa saliva dan
darah pasien dan untuk mencegahnya harus dilakukan suatu kontrol infeksi yaitu
dibersihkan dengan menggunakan air mengalir dan didesinfeksi. Sampai saat ini
menurut beberapa literatur solusi untuk pencegahan infeksi silang pada pencetakan
alginat yang masih memungkinkan adalah desinfeksi kimia dengan cairan
desinfektan (Kumar dkk., 2010).

7. Jelaskan Klasifikasi dental wax!


8. Jelaskan jenis dental wax yang diguakan untuk pembuatan bite rim!
Jawab :

Yang perlu diperhatikan dalam membuat bite rim :


a. Bite rim anterior atas harus sejajar dengan garis pupil (garis yang menghubungkan kedua
pupil dan jalannya sejajar dengan garis incisal).
Bite rim posterior sejajar dengan garis Chamfer, yaitu garis yang berjalan dari ala nasi
sampai tragus
b. Bite rim atas harus kelihatan kira-kira 2 mm dibawah garis bibir pada saat rest position.
c. Median line pasien diambil sebagai terusan dari tengah lekuk bibir atas (philtrum) untuk
menentukan garis tengah yang memisahkan incisivus kanan dan kiri.
d. Garis caninus, tepat pada sudut mulut dalam keadaan rest position
e. Garis ketawa, yaitu pada saat tertawa gusi tidak terlihat.

9. Jelaskan sifat-sifat dental wax!