Anda di halaman 1dari 30

TOKSIKOLOGI SO DAN SO2

( disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Toksikologi Industri kelas A)

Oleh:
Dyah Rizka Dwi Andari (142110101079)
Ayun Hafisyah Wafi (142110101159)

BAGIAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JEMBER
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karuniaNya sehingga
tugas Toksikologi SO dan SO2 untuk memenuhi tugas mata kuliah toksikologi
industri dapat terselesaikan. Terima kasih kami ucapkan pada dosen dan teman-
teman yang membantu menyelesaikan tugas makalah Toksikologi Industri terkait
toksikologi SO dan SO2.

Penulis tugas Toksikologi SO dan SO2 ini bertujuan untuk berbagi


informasi terkait sifat umum, sumber, penggunaan di industri, bahaya,
penanganan dan penyimpanan, pencegahan bahya, bahan pemadam kebakaran dan
toksisitas dari SO dan SO2. Selain itu, penulisan makalah ini juga dilegnkapai
beberapa kasus terkait keberadaan SO dan SO2 yang merugikan kesehatan
manusia.

Akhir kata semoga dengan adanya makalah toksikologi industri terkait SO


dan SO2, diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak. Tiada gading yang tak
retak, begitu pula dengan makalah ini. Maka dari itulah kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan.

Jember, 27 Februari 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB 1. PENDAHULUAN.....................................................................................1

1.1 Latar Belakang.......................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................2

1.3 Tujuan.....................................................................................................................2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3

2.1 Definisi...................................................................................................................3

2.2 Sifat-sifat umum....................................................................................................3

2.2.1 Sifat-sifat umum sulfur monoksida (SO)..............................................3

2.2.2 Sifat-sifat umum sulfur dioksida(SO2)..................................................4

2.3 Sumber-sumber pencemaran udara akibat gas SOX...........................................5

2.4 Penggunaan di industri.........................................................................................7

2.4.1 Penggunaan SO dan SO2.........................................................................7

2.5 Bahaya SO dan SO2 pada industri dan tenaga kerja..........................................8

2.6 Pertolongan Pertama pada Orang yang Keracunan SO2.................................13

2.7 Penanganan dan Penyimpanan SO dan SO2.....................................................14

2.8 Pencegahan dari adanya bahaya yang dapat ditimbulkan dengan penggunaan
SO dan SO2.....................................................................................................................14

2.8.1 Tindakan pencegahan kebakaran..........................................................14

2.8.2 Tindakan pencegahan terhadap tumpahan dan bocoran....................14

2.8.3 Penyediaan alat pelindung diri.............................................................15

2.8.4 Ventilasi...................................................................................................15

2.8.5 Cara pencegahan dan pengendalian.....................................................15

2.9 Bahan pemadam kebakaran................................................................................17

2.10 Toksisitas SO dan SO2........................................................................................18

iii
BAB 3. PEMBAHASAN......................................................................................21

3.1 Studi Kasus Terkait Sulfur Dioksida....................................................................21

3.2 Analisis Studi Kasus..........................................................................................22

BAB 4. PENUTUP................................................................................................25

4.1 Kesimpulan..........................................................................................................25

4.2 Saran.....................................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................27

iv
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Udara di daerah perkotaan yang mempunyai kegiatan industry,


tehnologi dan lalu-lintas yang padat relative sudah tidak bersih lagi. Dari
beberapa macam komponen pencemaran udara, maka yang paling banyak
berpengaruh dalam pencemaran udara adalah carbon monoksida (CO),
nitrogen oksida (NO x), sulfur oksida (SO x ), hydrocarbon (HC) dan
partikulat. Komponen tersebut dapat mencemari udara secara
sendirisendiri atau bersamaan. Jumlah komponen pencemar udara
tergantung pada
sumbernya. Seperti halnya di Indonesia, sumber pencemar terbesar berasal
dari transportasi (Fardiaz, 1992).
Menurut Babcock (1971) bahwa polutan yang paling berbahaya bagi
kesehatan adalah partikel-partikel diikuti berturut-turut dengan NO x , SO x,
Hidrocarbon, dan yang paling rendah toksisitasnya adalah carbon oksida.
Dalam hal ini, bahwa nitrogen oksida (NO x ) mempunyai toksisitas relative
pada urutan kedua setelah partikel-partikel.
Pembangunan yang berkembang pesat dewasa ini, khususnya di sekitar industri
dan teknologi meningkatkan gangguan terhadap kualitas udara akibat emisi dari
proses dan pembakaran bahan bakar. Secara umum penyebab gangguan ter- hadap
kualitas udara ada 2 macam. Pertama, karena faktor internal (secara alamiah), seperti
debu yang beterbangan akibat tiupan angin, abu (debu) yang dikeluarkan dari
letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkaniknya, gas yang dihasilkan dari
proses pembusukan sampah organik, dan lain-lain. Kedua, karena faktor
eksternal (karena ulah manusia), seperti hasil pembakaran bahan bakar fosil,
debu/serbuk dari kegiatan industri, dan pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan
ke udara. Komponen pencemar udara yang paling berpengaruh dalam pencemaran
udara di lingkungan biosfer adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida, sulfur
dioksida (SO2), hidrokarbon, dan partikel-partikel kecil lainnya.
Seiring dengan meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil, konsen- trasi
sulfur dioksida terus meningkat. Di Asia, jumlah emisi SO2 terus mengalami

1
peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 1970, emisi SO2 sekitar 11,25
juta ton dan meningkat menjadi 20 juta ton SO2 pada tahun 1986 (Hameed and
Dignon, 1992 dalam Dewi, 2007). Sedangkan di Indonesia, jumlah emisi SO2
terus mengalami peningkatan mencapai 797 ribu metrik ton pada tahun 1995
(Earth Trends Country Profiles, 2003 dalam Dewi, 2007). Oleh karena itu, akan
dikaji seberapa besar emisi SO2 dari sektor industri dari beberapa studi kasus
yang telah dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sifat-sifat umum dari sulfur oksida dan sulfur dioksida?
2. Bagaimana penggunaan sulfur monoksidadan sulfur dioksida pada sebuah
industri?
3. Bagaimana bahaya sulfur monoksida dan sulfur dioksida terhadap industri
dan tenaga kerja?
4. Bagaimana penanganan dan penyimpanan sulfur oksida dan sulfur dioksida?
5. Bagaiamana pencegahan dari adanya bahaya yang dapat ditimbulkan dengan
penggunaan sulfur oksida dan sulfur dioksida?
6. Bahan pemadam kebakaran apa yang digunakan untuk mengendalikan
terjadinya kebakaran akibat penggunaan sulfur oksida dan sulfur dioksida?
7. Bagaimana toksisitas dari sulfur oksida dan sulfur dioksida?
1.3 Tujuan

1. Mengetahui perbedaan sifat-sifat umum dari sulfur oksida dan sulfur


dioksida
2. Mengetahui penggunaan sulfur oksida dan sulfur dioksida di industri
3. Mengetahui bahaya sulfur oksida dan sulfur dioksida terhadap industri dan
tenaga kerja
4. Mengetahui penanganan dan penyimpanan sulfur oksida dan sulfur dioksida
5. Mengetahui pencegahan dari adanya bahaya yang dapat ditimbulkan dengan
penggunaan sulfur oksida dan sulfur dioksida
6. Mengetahui jenis bahan pemadam kebakaran yang digunakan untuk
mengendalikan terjadinya kebakaran
7. Mengetahui toksisitas dari sulfur oksida dan sulfur dioksida

2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
1.4 Definisi
Sulfur dioksida adalah gas tak terlihat yang berbau sangat tajam,
mempunyai sifat tidak mudah terbakar, tidak mudah meledak, menyerang sistem
pernafasan manusia dan dapat membunuh penderita asma. Senyawa ini terdiri
dari molekul sederhana SO2.
Sulfur menggunakan empat elektron terluarnya untuk membentuk ikatan
rangkap dengan oksigen, menyisakan dua elektron yang tidak berpasangan pada
sulfur. Bentuk bengkok dari SO2 adalah akibat dari adanya pasangan elektron
bebas tersebut.
Senyawa ini (SO2) terbentuk dari proses pembakaran (batubara atau
diesel), asap dari kegiatan industri, proses metalurgi atau ketika sulfur bubuk
bewarna kuning keemasan yang terdapat di batubara atau minyak terbakar.
Setelah berjam-jam atau berhari-hari tercampur di udara, sulfur dioksida
membentuk partikel sangat halus yang disebut sulfat, yang dapat menembus
bagian terdalam dari paru-paru. Sulfat kemudian bereaksi dengan air di
awan untuk membentuk asam belerang, yang sering disebut hujan asam. Hujan
asam atau penurunan pH air hujan dapat mengakibatkan kerusakan pada
bangunan, kendaraan, tumbuh-tumbuhan, juga dapat menyebabkan air danau
atau sungai terlalu asam. Akibatnya kehidupan biota air akan terganggu bahkan
terancam punah.

1.5 Sifat-sifat umum


1.5.1 Sifat-sifat umum sulfur monoksida (SO)

Sulfur monoksida (SO) mempunyai ciri bau yang tajam, bersifat korosif
(penyebab karat), beracun karena selalu mengikat oksigen untuk mencapai
kestabilan fase gasnya. Gas belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri
atas gas SO2 dan gas SO3 yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Gas SO2
berbau tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat
reaktif. Gas SO3 mudah bereaksi dengan uap air yang ada di udara untuk
membentuk asam sulfat atau H2SO4.

3
Pencemaran SO diudara terutama berasal dari pemakaian baru bara yang
digunakan pada kegiatan industri, transportasi, dan lain sebagainya. Belerang
dalam batu bara berupa mineral besi peritis atau FeS2 dan dapat pula berbentuk
mineral logam sulfida lainnya seperti PbS, HgS, ZnS, CuFeS2 dan Cu2S. Dalam
proses industri besi dan baja (tanur logam) banyak dihasilkan SOx karena
mineral-mineral logam banyak terikat dalam bentuk sulfida. Pada proses
peleburan sulfida logam diubah menjadi oksida logam. Proses ini juga sekaligus
menghilangkan belerang dari kandungan logam karena belerang merupakan
pengotor logam.
Selain tergantung dari pemecahan batu bara yang dipakai sebagai bahan
bakar, penyebaran gas SO ke lingkungan juga tergantung dari keadaan
meteorologi dan geografi setempat. Kelembaban udara juga mempengaruhi
kecepatan perubahan SOx menjadi asam sulfat maupun asam sulfit yang akan
berkumpul bersama awan yang akhirnya akan jatuh sebagai hujan asam. Hujan
asam inilah yang menyebabkan kerusakan hutan di Eropa (terutama di Jerman)
karena banyak industri peleburan besi dan baja yang melibatkan pemakaian batu
bara maupun minyak bumi di negeri itu.

1.5.2 Sifat-sifat umum sulfur dioksida(SO2)

Berdasarkan sifat kimia, sulfur dioksida adalah gas yang tidak dapat
terbakar, berbau tajam, dan tidak berwarna. Konsentrasi untuk deteksi indera
perasa adalah 0.3-1 ppm di udara dan ambang bau adalah 0.5 ppm. Gas ini
merangsang pedas (pudgent) dan bersifat iritan (Sarudji, 2010). Sulfur dioksida
merupakan senyawa kimia dengan rumus kimia SO2 yang tersusun dari 1 atom
sulfur dan 2 atom oksigen. Sulfur dioksida merupakan ikatan yang tidak stabil dan
sangat reaktif terhadap gas yang lain (Sunu, 2001). Berdasarkan sifat fisika sulfur
dioksida memiliki titik didih - 10oC, titik lebur -75,5oC, berat jenis relatif (air =1)
1,4. Kelarutannya dalam air adalah 8,5 dalam 100 ml air pada suhu 25 oC. Gas ini
lebih berat dari udara, berat jenis uap relatif di udara 2,25 sedangkan berat jenis
relatif udara adalah 1 (NIOSH, 2013).
Gas SO2 berbau tajam dan tidak mudah terbakar. Cairan SO 2 melarutkan
banyak senyawaan organik dan anorganik dan digunakan sebagai pelarut dalam

4
pembuatan reaksi. Cairannya tidak melakukan pengionan-diri dan hantarannya
terutama merupakan cermin bagi kemurniannya.
Sulfur dioksida mempunyai pasangan-pasangan menyendiri dan dapat
bertindak sebagai basa lewis. Meskipun demikian, ia juga bertindak sebagai asam
Lewis menghasilkan kompleks, misalnya dengan amina seperti Me 3HSO2, dan
dengan kompleks logam transisi yang kaya elektron. Dalam senyawa kristal
SbF5SO, yang menarik karena penggunaan SO2 sebagai pelarut bagi sistem super-
asam. SO2 sangat larut dalam air; suatu larutan yang memiliki sifat asam, telah
lama dikenal sebagai larutan asam sulfit, H2SO3. Gas SO2 diudara bereaksi dengan
uap air atau larut pada tetesan air membentuk H2SO4 yang merupakan komponen
utama dari hujan asam.
Pencemaran SO2 diudara berasal dari sumber alamiah maupun sumber
buatan. Sumber alamiah adalah gunung-gunung berapi, pembusukan bahan
organik olehmikroba, dan reduksi sulfat secara biologis. Proses pembusukan akan
menghasilkan H2S yang akan cepat berubah menjadi SO2.
Sumber SO2 buatan adalah pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan
terutama batubara yang mengandung sulfur tinggi. Sumber-sumber buatan ini
diperkirakan memberi kontribusi sebanyak sepertiganya saja dari seluruh SO 2
atmosfir/tahun. Akan tetapi, karena hampir seluruhnya berasal dari buangan
industri, maka hal ini bertambah di kemudian hari, maka dalam waktu singkat
sumer-sumber ini akan dapat memproduksi lebih banyak SO 2 daripada sumber
alamiah.

1.6 Sumber-sumber pencemaran udara akibat gas SOX

Sumber - sumber yang membebaskan pencemaran primer SO2 itu adalah


industri pemurnian logam ( Cu, Zn dan lain lain ). Serta Pusat pusat
penyulingan minyak .
Pencemaran SOx di udara terutama berasal dari pemakaian batubara yang
digunakan pada kegiatan industry, transportasi air dan lain sebagainya. Tetapi
dalam hal ini transportasi bukan merupakan sumber utama polutan SOx.
Bagaimana peranan batubara dalam menyumbang pencemaran SOx telah banyak
diteliti di negara-negara industry seperti yang tampak pada table 1 yang
merupakan data hasil penelitian di Amerika pada tahun 1968.

5
Berdasarkan table 1 dapat diketahui bahwa sumber utama pencemaran Sox
bukanlah dari transportasi, akan tetapi dari pembakaran stationer (generator listrik
dan mesin-mesin) yang memakai bahan bakar batubara. Sumber pencemaran SOx
yang kedua adalah dari proses industry, seperti industry pemurnian petroleum,
industry asam sulfat, industry peleburan baja, dan sebagainya.

Sumber Pencemaran % bagian % total


Transportasi 2,4
Mobil mesin 0,6
Mobil diesel 0,3
Pesawat 0,0
Kereta api 1,9
Kapal laut 1,0
Sepeda motor 1,5
Pembakaran stationer 73,5
Batu bara 60,5
Minyak (distilasi) 1,2
Minyak (residu) 11,8
Gas alam 0,0
Kayu 0,0
Proses industry 22,5
Pembuangan limbah padat 0,3
Lain-lain 1,8
Pembakaran hutan 0,0
Pembakaran batu bara sisa 1,8
TOTAL 100,0 100,0
Tabel 1: Sumber pencemaran SOx

Belerang dalam batubara berupa mineral besi pirit atau FeS2 dan dapat
pula berbentuk mineral logam sulfide lainnya seperti PbS, HgS, ZnS, CuFeS2 dan
Cu2S.Mdalam proses industry besi dan baja (tanur logam) banyak dihasilkan SOx
karena mineral-mineral logam banya terikat dalam bentuk sulfide. Pada proses
peleburan logam sulfide logam diubah menjadi oksida logam. Proses ini juga
sekaligus menghilangkan belerang dari kandungan logam karena belerang
merupakan pengotor logam. Pada suhu tinggi sulfide logam mudah dioksidasi
menjadi oksida logam melalui reaksi berikut ini:

6
2 Zn + 3 O2 2 ZnO + 2 SO2
2 PbS + 3 O2 2 PbO + 2 SO2
Selain terbentuk oksida logam, ada kemungkinan pula untuk terbentuk
logamnya secara langsung seperti yang terjadi pada tembaga. Reaksinya adalah:
Cu2S + 2 O2 2 CuO + SO2
Cu2S + O2 2 Cu + SO2
Melihat reaksi oksidasi tersebut di atas mudah dipahami kalau pada proses
industry besi dan baja (tanur peleburan logam) akan banyak dihasilkan gas SOx
yang akan menyebar ke lingkungan sekitarnya. Selain tergantung dari pemecahan
batubara yang dipakai sebagai bahan bakar, penyebaran gas SOx ke lingkungan
juga tergantung dari keadaan meteorology dan geografi setempat. Kelembaban
udara akan mempengaruhi kecepatan perubahan SOx menjadi asam sulfat maupun
asam sulfit yanga akan berkumpul bersama awan yang akhirnya akan jatuh
sebagai hujan asam. Hujan asam inilah yang menyebabkan terjadinya kerusakan
hutan di Eropa (terutama di Jerman) karena banyak industri peleburan besi dan
baja yang melibatkan pemakaian batubara maupun minyak bumi di negara itu.

1.7 Penggunaan di industri


1.7.1 Penggunaan SO dan SO2

Belerang adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua
asam amino. Penggunaan komersiilnya terutama dalam fertilizer namun juga
dalam bubuk mesiu, korek api, insektisida, dan fungisida. Digunakan sebagai
bleaching, reagen, pendingin serta pelarut dan proses dalam industri makanan
Penyerapan gas SO2 merupakan proses penghilangan setelah pembakaran.
Gas dikontakkan dengan cairan penyerap yang mengandung bahan penyerap
kalsium hidroksida. Reaksi akan terjadi antara gas SO2 dengan kalsium
hidroksida dan oksigen dari udara yang ditekan masuk ke dalam tangki sulfit.
Endapan yang terbentuk adalah kalsium sulfat atau gibsun yang digunakan untuk
keperluan bangunan.

1.8 Bahaya SO dan SO2 pada industri dan tenaga kerja

7
Pencemaran SO menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan,
kerusakan pada tanaman terjadi pada kadar sebesar 0,5 ppm. Pengaruh utama
polutan SO terhadap manusia adalah iritasi sistim pernafasan. Jika kadar 400-500
ppm akan sangat berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi mata, 3-5 ppm
menimbulkan bau.
Gas SO2 telah lama dikenal sebagai gas yang dapat menyebabkan iritasi
pada system pernapasan, seperti pada selapurt lender hidung, tenggorokan dan
saluran udara di paru paru. Efek kesehatan ini menjadi lebih buruk pada
penderitas asma.
Akibat utama polutan SO2 terhadap manusia adalah terjadinya iritasi pada
sistem pernafasan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi pada
tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada
beberapa individu yang sensitif, iritasi terjadi pada konsentrasi 1-2 ppm. SO 2
dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap manusia usia
lanjut dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan
kardiovaskular (Depkes, 2007) dalam (Cahyono, 2011). Individu dengan gejala
tersebut sangat sensitif jika kontak dengan SO2 walaupun dengan konsentrasi yang
relatif rendah, misalnya 0,2 ppm atau lebih. SO 2 adalah gas yang bersifat iritasi
kuat bagi kulit dan selaput lender pada konsentrasi 6-12 ppm. Dalam kadar rendah
SO2 dapat menimbulkan spasme temporer otot-otot polos pada bronchioli. Bila
kadar SO2 rendah, akan tetapi terpapar dalam kadar yang berulangkali, dapat
menimbulkan iritasi selaput lendir (Slamet, J. S., 1994) dalam (Cahyono, 2011).

Konsentrasi (ppm) Pengaruh


3-5 Jumlah minimum yang dapat dideteksi dari
baunya
8-12 Jumlah minimum yang segera mengakibatkan
iritasi pada tenggorokan

8
20 - Jumlah minimum yang mengakibatkan
iritasi pada mata
- Jumlah yang segera mengakibatkan batuk
- Jumlah maksimum yang diperkenankan
untuk kontak dalam waktu yang lama.
50 100 - Jumlah maksimum yang dibolehkan
untuk paparan yang singkat ( + 30 menit)

400-500 - Sudah berbahaya walaupun dalam


paparan yang singkat
Tabel 1.1 Pengaruh SO2 terhadap kesehatan manusia
Sumber : Philip Kristanto, Ekologi Industri, Edisi Pertama cetakan
pertama, 2002

Gas SO2 masuk ke dalam tubuh manusia dapat melalui hidung dan mulut
dengan cara bernapas dalam. Berhubung dengan kelarutan gas SO2
Laju korosi beberapa jenis logam terutama besi, baja dan seng dirangsang pada
kondisi lingkungan yang terkontaminasi SO cukup tinggi, maka dapat
dengan cepat menyebabkan iritasi bronchus, bronchiole dan alveoli
sehingga
produksi selaput dan lendir (mucosa) meningkat. Hal ini akan menyebabkan
resistensi saluran udara pernapasan meningkat dan akan menyebabkan
konstriksi
bronchus (Mukono, 2005)

Gas SO2 masuk melalui hidung dan mulut


dengan bernafas dalam

Laju korosi beberapa jenis logam terutama besi, baja dan seng dirangsang
pada kondisi lingkungan yangKelarutan cukup tinggi
terkontaminasi SO2 di samping beberapa jenis
partikel dan kelembaban udara yang tinggi. Suhu juga berperan penting dalam
proses korosi. Iritasi

Dinding bronkus, bronkiolus dan alveolus

Resistensi meningkat
9

Bronco konstriksi
Gambar Efek gas SO2 terhadap saluran pernapasan
Sumber : Mukono, 2005
Senyawa H2SO dan H2SO4 juga menyerang setiap permukaan logam,
termasuk rel kereta api dan kendaraan sampai agar halaman. Bahkan akan
merusak batu-batuan, candi, genting, bahkan granit. Belerang dioksida
menyebabkan warna barang menjadi berubah dan mudah rapuh. Misalnya barang-
barang dari plastic, karet, kertas dan sebagainya.
Pemakaian batubara sebagai bahan bakar pada beberapa kegiatan industri
seperti yang terjadi dibeberapa negara Eropa Barat dan Amerika, menyebabkan
kadar gas SOx dengan uap air yang terdapat di udara akan membentuk asam sulfit
maupun asam sulfat. Apabila asam sulfit dan asam sulfat turun ke bumi bersama-
sama dengan jatuhnya hujan, terjadilah apa yang dikenal dengan Acid Rain atau
hujan asam. Hujan asam sangat merugikan karena dapat merusak tanaman
maupun kesuburan tanah. Pada beberapa negara industri, hujan asam sudah
menjadi persoalan yang sangat serius karena sifatnya yang merusak. Hutan yang
gundul akibat jatuhnya hujan asam akan mengakibatkan lingkungan menjadi
semakin parah.
Gambar di atas menunjukkan bagaimana terjadinya hujan asam yang
menyebabkan kerusakan lingkungan (Wardhana, 1995).
Dampak Hujan Asam Bagi Kehidupan :
a. Bagi tumbuhan kadar SOx kurang lebih 0.5 ppm dapat menyebabkan
timbulnya bintik pada daun. Jika terlalu lama, daun menjadi berguguran.
b. Bagi manusia, SOx menimbulkan gangguan pernafasan. Jika SOx berubah
menjadi asam akan menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan
saluran nafas yang lain sampai ke paru-paru. SO2 dapat menimbulkan iritasi
tenggorokan tergantung daya tahan masing-masing. SO2 berbahaya bagi
anakanak, orang tua, dan orang yang menderita kardiovasculer. Otot saluran

10
pernafasan akan mengalami kejang (spasma). Akan lebih berat lagi jika
konsentrasi SO2 tinggi dan suhu udara rendah. Jika terlalu lama, akan
terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti Paralicys
cilia (kelumpuhan system pernafasan), kerusakan lapisan ephitelium,
akhirnya kematian. Pada konsentrasi 6-12 ppm dengan jangga waktu pendek
yang berulang-ulang dapat menyebabkan hyperplasia dan metaplasma sel-
sel epitel yang akhirnya menjadi kanker
c. Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan gedung
warnanya menjadi kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan
SOx menghasilkan PbS. Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat
pengkaratan.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi pada tenggorokan
terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa
individu yang sensitif, iritasi terjadi pada konsentrasi 1-2 ppm. SO 2 dianggap
polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap manusia usia lanjut dan
penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan
kardiovaskular. Individu dengan gejala tersebut sangat sensitif jika kontak dengan
SO2 walaupun dengan konsentrasi yang relatif rendah, misalnya 0.2 ppm atau
lebih (Kristanto, 2002).
Standar kandungan SO2 di udara untuk daerah perindustrian dan pemukiman
perlu dibedakan, seperti pada tabel 4 yang menggambarkan konsentrasi
maksimum SO2 dengan waktu :
Tabel Konsentrasi Maksimum SO2 dengan Waktu
Konsentrasi maksimum SO 2
Periode rata-rata
Pemukiman Industri
1 jam 0,025 ppm 0,40 ppm
24 jam 0,10 ppm 0,20 ppm
1 tahun 0,02 ppm 0,05 ppm
Sumber : Sastrawijaya, 2000
Jika konsentrasi SO2 naik, manusia akan merasa terganggu. Kadar 6 ppm
SO2 akan melumpuhkan dan merusak organ pernafasan (Sastrawijaya, 2000).
Menurut Canadian Centre of Occupational Health and Safety (CCOHS),
rute utama dari masuknya SO2 ke dalam tubuh manusia adalah melalui inhalasi
dengan efek :
1. Inhalasi (toksisitas tinggi)
Dapat menyebabkan kematian, iritasi parah pada hidung dan tenggorokan.
Pada dosis yang tinggi, dapat terjadi penumpukan cairan pada paru. Gejala yang

11
tampak dapat berupa batuk, sesak nafas, nafas pendek dan nyeri dada. Pajanan
dalam jangka lama dapat menyebabkan penyakit jangka panjang seperti asma.
2. Kontak kulit (korosif)
Gas dapat mengiritasi kulit bahkan dapat membentuk jaringan parut. Kontak
langsung dengan gas cair dapat memberikan gejala radang dingin, mati rasa dan
gatal-gatal. Kematian jaringan dan infeksi dapat berkembang pada kasus yang
berat.
3. Kontak mata (korosif)
SO2 dapat menyebabkan iritasi pada mata dan terasa panas, bahkan kebutaan
dapat terjadi.
4. Pajanan jangka panjang
Dapat membahayakan system pernafasan.
Organisasi internasional International Agency for Research on Cancer (IARC) dan
American Conference for Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) tidak
mengklasifikasikan SO2 kedalam golongan zat karsinogenik.

1.9 Pertolongan Pertama pada Orang yang Keracunan SO2


2 Inhalasi
Ambil tindakan pencegahan untuk meyakinkan keselamatan diri sebelum
melakukan pertolongan (contoh : memakai APD lengkap). Pindahkan korban ke
tempat yang memiliki sirkulasi baik dan berudara bersih. Apabila pasien
mengalami kesulitan bernafas, berikan bantuan pernafasan dengan tabung
oksigen. Jangan membiarkan pasien untuk berpindah tempat jika tidak benar-
benar dibutuhkan. Panggil dokter sesegera mungkin untuk mendapatkan tindakan
lebih lanjut.
3 Kontak kulit
Gas : Siram dengan air mengalir sehangat kuku selama 5 menit. Panggil dokter
dengan segera untuk mendapatkan penaganan lebih lanjut.
Gas cair : pindahkan korban dari sumber kontaminasi. Jangan coba memberikan
kompres atau menyiram dengan air hangat. Longgarkan pakaian atau ikat
pinggang atau perhiasan yang menyebabkan korban susah bernafas.
Guntinglah baju yang menghalangi atau menutupi area yang terkena SO2.
Korban dilarang meminum alkhol atau merokok. Panggil dokter dengan
segera.
4 Kontak mata

12
Gas : pindahkan korban menuju tempat yang memiliki udara bersih. Bilas mata
yang terkontaminasi dengan air hangat yang mengalir selama 5 menit.
Gas cair : hindari kontak langsung. Gunakan sarung tangan jika diperlukan.
Segera siram dengan air mengalir yang hangat. Tutup kedua mata dengan
pembalut steril. Korban diarang mengkonsumsi alcohol dan merokok.
Hubungi dokter sesegera mungkin.

4.1 Penanganan dan Penyimpanan SO dan SO2

Hindari kontak langsung dengan asam, hirup uap atau kabut, bekerja pada
tempat kerja dengan ventilasi yang baik. Simpan pada wadah yang kuat ditempat
berventilasi dan dingin, jauhkan dari air, zat organic mudah terbakar dan logam.
Gas ini bersifat reaktif pada tekanan dan temperatur tinggi. Oleh karena itu tabung
gas SO2 harus ditempatkan pada tempat dengan temperatur < 71 o C dengan
ventilasi yang baik. Memisahkan dari bahan-bahan pengoksida seperti klorat,
nitrat dan oksidator lainnya. Batasi akses masuk bagi orang yang tidak
berkepentingan. Simpan secara terpisah dari bahan lain. Kondisikan agar wadah
tetap tertutu rapat.

4.2 Pencegahan dari adanya bahaya yang dapat ditimbulkan dengan


penggunaan SO dan SO2
4.2.1 Tindakan pencegahan kebakaran

Pindahkan tabung gas SO2 menjauh dari api (jika memungkinkan) dan
segera siram dengan air kecuali terjadi kebocoran gas

4.2.2 Tindakan pencegahan terhadap tumpahan dan bocoran

Kontrol sumber tumpahan atau kebocoran jika memungkinkan sehingga


lebih aman. Isolasi area tumpahan atau kebocoran dan jangan perbolehkan
personel selain yang berhak untuk masuk ke dalam area kebocoran atau

13
tumpahan. Jangan menyentuh tumpahan atau bocoran karena dapat merusak kulit,
pakaian dan dapat merusak lantai. Netralkan dengan larutan soda atau kapur
sebelum disiram dengan air. Bersihkan tumpahan atau kebocoran dengan segera
dan cari penyebab kebocoran. Kembalikan material yang belum terkontaminasi ke
dalam proses jika memungkinkan. Letakkan material yang sudah terkontaminasi
ke dalam container terpisah.

4.2.3 Penyediaan alat pelindung diri


a) Pakaian pelindung
Sarung tangan (gloves) dan pakaian serta acid respirator sangat
direkomendasikan bagi operator yang terkena debu dan gas sulfur.
Diusahakan menutupi semua anggota badan untuk menghindari kontak kulit
dengan gas atau debu belerang.
b) Kacamata pelindung dan masker juga dibutuhkan untuk menghindarkan
karyawan menghisap gas atau debu. Sepatu boot juga sebaiknya dipakai
sehingga seluruh badan dapat terlindungi.
4.2.4 Ventilasi

Gunakan ventilasi yang baik untuk mengatur konsentrasi dari das SO2.
Graunded ventilation system diusahakan terpisah dengan exhaust ventilation
system. Letakkan dust collector di luar ruangan jika memungkinkan. Berikan
udara yang cukup untuk menggantikan udara yang sudah terhisap oleh exhaust
system.

4.2.5 Cara pencegahan dan pengendalian


a) Pencegahan
Sumber Bergerak
1. Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik
2. Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
3. Memasang filter pada knalpot
4. Menggunakan bahan bakar bersulfur rendah
Sumber Tidak Bergerak

14
1. Memasang scruber pada cerobong asap.
2. Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara
berkala.
3. Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur
rendah.
4. Bahan Baku, pengelolaan bahan baku SO2 sesuai dengan prosedur
pengamanan.
5. Manusia, apabila kadar SO2 dalam udara ambien telah melebihi Baku Mutu
(365mg/Nm3 udara dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam) maka untuk
mencegah dampak kesehatan, dilakukan upaya-upaya :
a) Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker gas.
b) Mengurangi aktifitas diluar rumah.
Terjadinya pencemaran udara, tentu harus segera ditanggulangi dengan
melakukan pencegahan sedini mungkin agar tidak terjadi kesakitan pada manusia.
Dalam melakukan pencegahan secara tepat tergantung pada sifat dan sumber polut
an udara. Pada dasarnya caranya dibedakan menjadi mengurangi polutan dengan
alat-alat, mengubah polutan,melarutkan polutan, dan mendispersikan
polutan.Menurut dr.drh. Mangku Sitepoe (1997), ada lima dasar dalam mencegah
atau memperbaiki pencemaran udara berbentuk gas
1) Absorbsi.
Melakukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan
konsentrasi yang cukup tinggi. Biasanya absorbennya air, tetapi kadang-kadang
dapat juga tidak menggunakan air (dry absorben).
2) Adsorbsi.
Mempergunakan kekuatan tarik-menarik antara molekul polutan dan zat
adsorben. Dalam proses adsorbsi dipergunakan bahan padat yang dapat
menyerap polutan.
Berbagai tipe adsorben antara lain Karbon Aktif dan Silikat.
3) Kondensasi.
Dengan kondensasi dimaksudkan agar polutan gas diarahkan mencapai titik
kondensasi, terutama dikerjakan pada polutan gas yang bertitik kondensasi
tinggi dan penguapan yang rendah (Hidrokarbon dan gas organik lain).
4) Pembakaran.
Mempergunakan proses oksidasi panas untuk menghancurkan gas

15
Hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan. Hasil pembakaran berupa
KarbonDioksida dan air. Adapun proses pemisahannya secara fisik dikerjakan
bersama-samadengan proses pembakaran secara kimia.
5) Reaksi kimia.
Banyak dipergunakan pada emisi golongan Nitrogen dan Belerang.
Membersihkan gas golongan Nitrogen, caranya dengan diinjeksikan Amoniak
yang akan bereaksi kimia dengan NOx dan membentuk bahan padat yang
mengendap.
Pengendalian Sulfur dioksida (SO2) terutama dilakukan dengan mengurangi
penggunaan bahan bakar bersulfur tinggi atau menukarnya dengan bahan bakar
yang lebih bersih lingkungan. Sebagai contoh penggunaan batubara yang
mengandung konsentrasi sulfur tinggi diganti dengan menggunakan gas alam
yang lebih bersih lingkungan.
Namun tidak selamanya pegurangan bahan bakar mengandung Sulfur dapat
dilakukan. Bila hal ini terjadi, harus dilakukan pemisahan Sulfur dioksida dari gas
buang. Absorber dan Stripper merupakan contoh unit yang dapat memisahkan
SO2 dari gas buang. Gas buang dilewatkan melalui absorber, yang merupakan
tabung vertical dimana gas lewat dari bawah keatas sedangkan cairan penyerap
(absorbent) lewat dari atas kebawah. Untuk menjamin kontak antara gas buang
dan absorbent, didalam absorber dilengkapi dengan packing. Setelah terjadi
kontak antara absorbent dengan gas buang, SO2 dalam gas buang akan terikat di
absorbent dan dibawa ke bawah sedangkan gas yang sudah bersih akan keluar
melalui puncak absorber. Selanjutnya absorbent yang sudah mengandung SO2
dimasukkan kedalam stripper untuk pengolahan selanjutnya. Selain itu, pemisahan
gas SO2 dari gas buang dapat juga dilakukan dengan menggunakan scrubber.

4.3 Bahan pemadam kebakaran

Alat pemadam kebakaran akibat SO2 maupun SO adalah jenis Dry


Chemical Powder. Dry Chemical Powder merupakan alat pemadam api yang
mengandung serbuk kering yang bersifat inert seperti serbuk silica yang dicampur
dengan serbuk sodium bikarbonat. Serbuk dipompa keluar tabung dengan bantuan
gas karbon dioksida yang berasal dari catridge. Serbuk yang dikeluarkan akan

16
menyelimuti bahan yang terbakar sehingga memisahkan oksigen yang merupakan
salah satu kompenen kebakaran. Adanya karbon dioksida juga akan
menyingkirkan oksigen sehingga dapat memadamkan api. Sangat tidak disarankan
untuk digunakan pada area yang terdapat peralatan produksi atau instrument
produksi yang sangat bernilai, karena serbuk-serbuk pemadam dapat merusak
komponen-komponen peralatan tersebut.
Dry Chemical Powder Merupakan kombinasi dari fosfat Mono-amonium
dan ammonium sulphate. Yang berfungsi mengganggu reaksi kimia yang terjadi
pada zona pembakaran, sehingga api padam. Dry Chemical powder juga memiliki
titik lebur yang rendah dan pada partikel yang sangat kering serta membengkak
untuk membentuk penghalang yang hingga oksigen tidak dapat masuk sehingga
dapat menutupi area kebakaran (api), akhirnya api tidak akan menyala
dikarenakan pijakannya ditutupi oleh Dry Chemical powder.
Merupakan media pemadam api serbaguna, aman dan luas pemakaiannya
karena dapat mematikan api kelas A, B, dan C. Sangat efektif dalam
mengendalikan kebakaran yang melibatkan cairan, dan sangat efisien dalam
memadamkan kebakaran gas pada kelas C dimana terdiri dari gas yang mudah
terbakar seperti metana, propana, butana termasuk juga gas SO maupun SO2
a. Dapat menahan radiasi panas dengan kabut (serbuk) partikelnya.
b. Tidak menghantarkan listrik (Non Konduktif).
c. Kimia kering tidak beracun (Non Toxic).
d. Tidak berbahaya terhadap tumbuhan, hewan terutama manusia.
Tabung Pemadam Api adalah salah satu produk yang menggunakan bahan
dry chemical powder, karena memiliki tingkat kelas kebakaran A, B, dan C.

4.4 Toksisitas SO dan SO2

SO 2 mempunyai pengaruh yang kuat terhadap kesehatan yang akut


dan kronis, dalam bentuk gas SO 2 dapat mengiritasi sistem pernafasan,
pada paparan yang tinggi (waktu singkat) mempengaruhi fungsi paru-paru
(Istantinova, 2012).
Udara yang telah tercemar SO x menyebabkan manusia akan mengalami
gangguan pada sistem pernafasan. Hal ini karena SO x yang mudah menjadi
asam

17
tersebut menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan saluran
nafas yang lain sampai ke paru-paru. Iritasi pada saluran pernafasan dapat
menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat terhenti,
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan, hal ini dapat
meningkatkan produksi lendir dan penyempitan saluran pernafasan.
Akibatnya terjadi kesulitan bernafas, sehingga benda asing termasuk
bakteri/ mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran
pernafasan dan hal ini memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan
(Mukono, 2000).
Secara Umum : Sulfur murni padat sebenarnya tidak berbahaya.
Sedangkan sulfur cair berbahaya jika berada pada temperature lebih dari 122 oC.
Kombinasi dari panas dan sulfur padat atau sulfur kering bisa mengakibatkan
terbentuknya gas SO2. Gas ini bisa mengakibatkan iritasi pada mata dan sesak
nafas. Jika gas sudah mencapai level tinggi bisa mengakibatkan terjadinya pingsan
atau bahkan kematian.
Mata/Kulit : Kontak dengan sulfur kering bisa mengakibatkan iritasi
sedangkan kontak sulfur cair bisa mengakibatkan kulit terasa panas dan terbakar.
Inhalation : Debu sulfur bisa mengiritasi tenggorokan, penderita asma juga
bisa meninggal jika sedikit saja menghirup gas SO2 ini.
Pencernaan : Tertelan sulfur kering mengakibatkan iritasi pada mulut dan
kerongkongan sakit.

Konsentrasi (ppm) Pengaruh


3-5 dapat dideteksi dari baunya
8-12 dapat mengakibatkan iritasi tenggorokan
20 dapat mengakibatkan iritasi mata dan batuk
maksimum yang diperbolehkan untuk konsentrasi dalam
waktu lama
50-100 hanya diperbolehkan kontak dalam waktu singkat (30
menit)
400-500 berbahaya meskipun kontak secara singkat (Fardiaz,
1992)

18
Keberadaan paparan jangka pendek menurut National Research Council (NRC
1984) Emergency Exposure Guidance Levels (EEGLs):
10-minute EEGL: 30 ppm
30-minute EEGL: 20 ppm
60-minute EEGL: 10 ppm
24-hour EEGL: 5 ppm
Data Toksisitas SO2 (LD50)

Spesies Referensi LC50 LCLO Waktu


(ppm) (ppm)
Tikus Flury & Zernik 1935 - 993 20 menit
Tikus Flury & Zernik 1935 - 611 5 jam
Mencit Flury & Zernik 1935 - 764 20 menit
Mencit Hilado & Machado 3.000 - 30 menit
1977
Tikus Kinkead & Einhaus 2.520 - 1 jam
1984
Manusia Shupe et al. 1972 - 1.000 10 menit
Manusia Tab Biol Per 1933 - 1.000 5 menit

19
BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Studi Kasus Terkait Sulfur Dioksida


Sekampung Keracunan Gas, Perusahaan Minta Maaf
Kamis, 29 Maret 2012 21:08 WIB
PURWAKARTA (Pos Kota) PT South Pasific Viscose (SPV) mengakui musibah
keracunan yang menimpa masyarakat sekampung di Ciroyom, Desa Cicadas, Kec
Babakan Cikao, Purwakarta, karena terjadi abnormal di lokasi pengolahan limbah
gas.

Kami mengakui kesalahan. Untuk itu, kami meminta maaf kepada masyarakat
Ciroyom dan berjanji akan memperbaiki instalasi pengolahan limbah gas di SPV
ini, ujar Senior Manager General Affair PT SPV, Hemawan,Kamis (29/3) sore.

Hemawan menolak telah terjadi kebocoran gas. Ia lebih setuju menyebut, musibah
menimbulkan keracunan warga di sekitar pabriknya karena proses pembuangan
gas di instalasi pengolahan limbah gas yang abnormal. Pembuangan emisi SO2
atau sulfur dioksida tak berjalan sempurna atau abnormal. Kami kini tengah
menyelidiki abnormalnya ini, terangnya.

Ia menjelaskan, PT SPV merupakan satu satunya perusahaan di Indonesia yang


mengolah limbah gas. Pasca kejadian itu, lanjut dia, pihaknya total
memberhentikan aktifitas di pabrik reproduksi limbah gas. Pasca kejadian itu,
instalasi reproduksi yang dibangun tahun 1985 sudah kita stop sementara selama
40 hari kedepan, katanya.

Hemawan mengaku tak menyangka insiden ketidaksempurnaan pembuangan


limbah gas terjadi. Pasalnya, kata dia, musibah ini terjadi dikala SPV hendak
melakukan pemasangan filter di pabrik pengolahan limbah gas. Bahkan SPV telah
menyediakan dana 1,7 juta dollar AS untuk pembuatan filter diinstalasi reproduksi
SO2. Rencananya kami mulai melakukan pemasangan filter bulan Mei 2012
depan. Kosentrasi kami saat ini tengah fokus kepada perluasan PT SPV, ucapnya.

21
Hermawan memastikan, perusahaan menanggung biaya pengobatan warga yang
dilarikan ke RS Etaham. Ia pun menambahkan, sebanyak 43 warga Ciroyom
dilarikan ke RS Etaham kondisinya berangsur membaik dan sudah ada yang
pulang ke rumah. Sebagai kompensasi kami akan memberi uang kadeudeuh buat
warga Ciroyom, tambahnya.

Di tempat terpisah, Kapolres Purwakarta AKBP Bahtiar UP menyatakan, pihaknya


masih menyelidiki kasus dugaan kebocoran tempat reproduksi SO2 SPV
mengakibatkan keluarnya gas dan mengepung udara diatas pemukiman warga
Ciroyom. Kita sedang menginvetarisir data dari internal. Kita belum dapat
menyimpulkan adanya kelalaian atau kecerobohan dalam kasus ini karena harus
dilihat dulu hasil penyelidikan nanti, jelas Kapolres Purwakarta. (dadan/b)

4.5 Analisis Studi Kasus

Kasus yang terjadi adalah kejadian keracunan masyarakat yang terjadi


karena abnormal di lokasi pengolahan limbah gas. Pembuangan emisi SO2 atau
sulfur dioksida tidak berjalan dengan sempurna atau abnormal. Musibah tersebut
terjadi ketika SPV akan melakukan pemasangan filter di pabrik pengolahan
limbah gas. Pihak dari SPV masih menyelidiki kasus tersebut dengan
mengintevarisir data dari internal.
Masalah tersebut tidak seharusnya terjadi apabila pemasangan filter SO 2
telah dilakukan sejak lama. Kebocoran gas SO2 tentunya sangat membahayakan
bagi masyarakat setempat. Gas SO2 telah lama dikenal sebagai gas yang dapat
menyebabkan iritasi pada system pernapasan, seperti pada selapurt lender
hidung, tenggorokan dan saluran udara di paru paru. Efek kesehatan ini
menjadi lebih buruk pada penderitas asma. Apalagi jika masyarakat sekitar
ada yang berusia lanjut, tentu hal tersebut memiliki tingkat bahaya yang lebih
tinggi. SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap
manusia usia lanjut dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem
pernafasan dan kardiovaskular (Depkes, 2007).
Dalam berita juga tidak diberikan berapa ppm kadar SO 2 yang mengudara.
Jumlah kadar perlu diketahui untuk memudahkan upaya penanggulangan akibat
kebocoran gas tersebut.

22
Berdasarkan studi kasus diatas, rute masuk gas SO 2 ke dalam tubuh melalui
inhalasi, kulit dan mata. Dimana pada dosis yang tinggi dapat menyebabkan
penumpukan cairan pada paru bahkan kematian, pada kulit dapat membentuk
jaringan parut, dan pada mata dapat menyebabkan iritasi bahkan kebutaan.

Rekomendasi pertolongan pertama pada korban


5 Inhalasi
Ambil tindakan pencegahan untuk meyakinkan keselamatan diri sebelum
melakukan pertolongan (contoh : memakai APD lengkap). Pindahkan
korban ke tempat yang memiliki sirkulasi baik dan berudara bersih. Apabila
pasien mengalami kesulitan bernafas, berikan bantuan pernafasan dengan
tabung oksigen. Jangan membiarkan pasien untuk berpindah tempat jika
tidak benar-benar dibutuhkan. Panggil dokter sesegera mungkin untuk
mendapatkan tindakan lebih lanjut.
6 Kontak kulit
Gas : Siram dengan air mengalir sehangat kuku selama 5 menit. Panggil
dokter dengan segera untuk mendapatkan penaganan lebih lanjut.
Gas cair : pindahkan korban dari sumber kontaminasi. Jangan coba
memberikan kompres atau menyiram dengan air hangat. Longgarkan
pakaian atau ikat pinggang atau perhiasan yang menyebabkan korban susah
bernafas. Guntinglah baju yang menghalangi atau menutupi area yang
terkena SO2. Korban dilarang meminum alkhol atau merokok. Panggil
dokter dengan segera.
7 Kontak mata
Gas : pindahkan korban menuju tempat yang memiliki udara bersih. Bilas
mata yang terkontaminasi dengan air hangat yang mengalir selama 5 menit.
Gas cair : hindari kontak langsung. Gunakan sarung tangan jika diperlukan.
Segera siram dengan air mengalir yang hangat. Tutup kedua mata dengan
pembalut steril. Korban diarang mengkonsumsi alcohol dan merokok.
Hubungi dokter sesegera mungkin.

23
Rekomendasi penanganan kebocoran
8 Tindakan penaganan kebocoran
Kontrol sumber tumpahan atau kebocoran jika memungkinkan sehingga
lebih aman. Isolasi area tumpahan atau kebocoran dan jangan perbolehkan
personel selain yang berhak untuk masuk ke dalam area kebocoran atau
tumpahan. Jangan menyentuh tumpahan atau bocoran karena dapat
merusak kulit, pakaian dan dapat merusak lantai. Netralkan dengan larutan
soda atau kapur sebelum disiram dengan air. Bersihkan tumpahan atau
kebocoran dengan segera dan cari penyebab kebocoran. Kembalikan
material yang belum terkontaminasi ke dalam proses jika memungkinkan.
Letakkan material yang sudah terkontaminasi ke dalam container terpisah.
9 Penggunaan APD
10 Sirkulasi lancer

Rekomendasi pencegahan untuk menghindari kebocoran


Sumber Bergerak
1. Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik
2. Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
3. Memasang filter pada knalpot
4. Menggunakan bahan bakar bersulfur rendah

Sumber Tidak Bergerak


1. Memasang scruber pada cerobong asap.
2. Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara
berkala.
3. Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur
rendah.
4. Bahan Baku, pengelolaan bahan baku SO2 sesuai dengan prosedur
pengamanan.

BAB 4. PENUTUP

10.1Kesimpulan

Sulfur dioksida adalah gas tak terlihat yang berbau sangat tajam,
mempunyai sifat tidak mudah terbakar, tidak mudah meledak, menyerang sistem

24
pernafasan manusia dan dapat membunuh penderita asma. Senyawa ini terdiri
dari molekul sederhana SO2. Senyawa ini (SO2) terbentuk dari proses
pembakaran (batubara atau diesel), asap dari kegiatan industri, proses metalurgi
atau ketika sulfur bubuk bewarna kuning keemasan yang terdapat di batubara
atau minyak terbakar.
Di Indonesia, jumlah emisi SO2 mengalami peningkatan secara terus-
menerus mencapai 797 ribu metrik ton pada tahun 1995 (Earth Trends Country
Profiles, 2003 dalam Dewi, 2007). Oleh karena itu, akan dikaji seberapa besar
emisi SO2 dari sektor industri dari beberapa studi kasus yang telah dilakukan.
Pencemaran SO menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan,
kerusakan pada tanaman terjadi pada kadar sebesar 0,5 ppm. Pengaruh utama
polutan SO terhadap manusia adalah iritasi sistim pernafasan. Jika kadar 400-500
ppm akan sangat berbahaya, 8-12 ppm menimbulkan iritasi mata, 3-5 ppm
menimbulkan bau.

10.2Saran

Melihat bahaya yang ditimbulkan oleh SO dan SO2 sangat berbahaya, maka
diperlukan tindakan-tindakan untuk mencegah, menanggulangi, dan menangani
bahayanya yang telah disarankan oleh WHO atau yang dikerjakan oleh negara-
negara lain, antara lain :
1. Menghindari kontak langsung dengan asam, hirup uap atau kabut, bekerja
pada tempat dengan ventilasi yang baik
2. Kesadaran para pekerja untuk melindungi dari paparan SO dan SO2
sangatlah penting dengan menggunakan alat pelindung diri, antara lain
masker dan baju kerja.
3. Mengurangi penggunaan bahan bakar bersulfur tinggi atau menukarnya
dengan bahan bakar yang lebih bersih lingkungan.
4. Pemeriksaan secara berkala sangatlah penting untuk mengetahui dan
memantau keadaan industri dan juga tenaga kerja.

25
DAFTAR PUSTAKA

Siswanto. 1994. Toksikologi Industri. Surabaya: Balai Hiperkes dan Keselamatan


Kerja Jawa Timur.
Arlinda Novitasari, E. L. (2012). Pencemaran Udara Akibat Gas SOx. Yogyakarta:
Politeknik Kesehatan Yogyakarta Jurusan Kesehatan
Lingkungan.dokumen.tips_makalah-penyehatan-udara-55c10fa8e7b49.pdf
(diakses tanggal 26 Februari 2017)

26
Cahyono, W. E. (2011, Desember). Kajian TIngkat Pencemaran Sulfur Dioksida
dari Industri di Beberapa Daerah di Indonesia. Berita Dirgantara vol. 12
no.4 .

Karliana, R. K. ( 2008). Pengenalan MSDS Bahan Kimia dalam Proses Reaksi


Bunsen untuk Menunjang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Sigma
Epsilon Vol.12
No.4 .http://www.batan.go.id/ptrkn/file/Epsilon/vol_12_04/4.Rahayu.pdf
(diakses tanggal 26 Februari 2017)

Sukarsono. (2010). Kajian Pengurangan SO2 dan NO dari Gas Buang Hasil `
Pembakaran dengan Akselerator. Ganendra vol.III, No.1 .

Yusriani Sapta Dewi, T. B. (2010, September). Pengaruh Campuran Kadar


Kerosin dalam Premium terhadap Emisi Gas Sulfur Oksida dan Nitrogen
Oksida pada Kendaraan Bermotor. Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik LIMIT'S
VOL.6 No.2 . http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-7052-
2502100090-bab5.pdf (diakses tanggal 27 Februari 2017)

ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/348oleh W Wiharja - 2011 (diakses


tanggal 25 Februari 2017)
http://www.alatpemadamkebakaran.co/alat-pemadam-api-jenis-dry-chemical-
powder/ (diakses tanggal 25 Februari 2017)

Mukono. 2014. Pencemaran Udara dalam Ruangan. Surabaya : Airlangga


University Press.

Nugroho, Edi. 1995. Toksikologi Dasar. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

27

Beri Nilai