Anda di halaman 1dari 5

1.

Pendahuluan
Potensi panasbumi di Indonesia sangat besar, dikarenakan berada
dalam jalur subduksi yang membentuk cincin pegunungan api, yang
memanjang dari sebelah baratlaut Indonesia (Pulau Sumatera sampai ke
Indonesia bagian timur) (USGS, 2001). Sejauh ini, prospek panas bumi di
Indonesia banyak dilakukan penelitian didaerah Indonesia bagian barat yaitu
Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Dan potensi panas bumi terbesar di
Indonesia berada di kawasan Jawa Barat yaitu Kamojang dengan potensi 300
MWe (Sudarman, et al 1995). Namun, skala panasbumi in tidak bisa
menjangkau untuk mengaliri seluruh Indonesia dan sifatnya hanya bersifat
lokal. Oleh karena itu, perlunya dikembangkan tahapan pengkajian potensi
panas bumi di Indonesia terutama, daerah yang berada di Indonesia bagian
timur seperti daerah Akesahu Kepulauan Maluku. Pengkajian ini meliputi
tahapan pra-lapangan dianalisis dari geomorfologi dan geologi regional
daerah yang akan diteliti. Kemudian ketika dilapangan mencari sistem
panasbumi atau geothermal system berdasarkan keadaan geologi dan
diperkuat dengan data geofisika. Sistem panasbumi terdiri dari sumber panas
reservoar, batuan penudung untuk menjebak, jebakan struktur seperti patahan,
fluida panas dan manifestasi dipermukaan seperti fumarol, mud pools, geyser,
batuan teralterasi, silisifikasi (ARMSTEAD, 1983).
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap sistem panas bumi
atau geothermal system didaerah Akesahu berdasarkan data geologi, geofisika
dan geomorfologi.
2. Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis interpretatif dari data
kondisi geologi, struktur geologi, geofisika, dan geokimia sehingga dapat dibuatnya suatu
pemodelan menggunakan perangkat lunak mengenai sistem panasbumi daerah Akesahu.
3. Studi Pustaka
a. Geologi Regional Akesahu
Pulau Tidore merupakan daerah yang termasuk kedalam peta geologi
lembar Ternate. Berdasarkan geologinya, lembar Ternate dibagi menjadi
beberapa Mendala Geologi yaitu Halmahera Barat, Halmahera Timur, serta
Busur Kepulauan Gunungapi Kuarter. Ketiga Mendala Geologi memiliki
perbedaan dalam jenis litologi serta proses tektoniknya. Di Pulau Kayoa
terdapat Formasi Bacan berupa batuan gunungapi Oligo-Meosen dan tertindih
oleh batugamping koral (Ql). Stratigrafi lembar Ternate dibagi menjadi
beberapa batuan, diantaranya yaitu Formasi Dodaga (Kd), Batugamping
(Tpel), Formasi Dorosagu (Tped), Konglomerat (Tpec), Formasi Tutuli
(Tomt), Konglomerat (Tmpc), Formasi Tingteng (Tmpt), Formasi Weda
(Tmpw), Batugamping Terumbu (Ql). Endapan permukaan berupa aluvium
dan Endapan Pantai. Batuan Gunungapi berupa Formasi Bacan (Tomb),
Formasi Kayasa (Qpk), Tufa (Qht), Batuan Gunungapi Holosen (Qhv) dan
Batuan Beku, yaitu: Komplek Batuan Ultrabasa (Ub), Gabro (Gb) serta Diorit
(Di).
b. Struktur geologi
Berdasarkan cerminan struktur geologi dan citra landsat dari peta
Geologi Regional, maka struktur geologi di Pulau Tidore diantaranya yaitu
kelurusan gunungapi (lineament), kerucut gunungapi G. Matubu, kubah
Gulili, kaldera Talaga serta 4 struktur sesar normal.
c. Geomorfologi
Satuan geomorfologi di daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi 7
satuan morfologi diantaranya yaitu satuan pedataran (SP), satuan perbukitan
bergelombang sedang (SD), satuan kerucut gunungapi Matubu (SGM), satuan
tubuh gunungapi Tagafura (SGT), satuan kubah Gunung Gulili (SKG), satuan
kaldera Talaga (SKT), serta satuan lantai kaldera Talaga (SLK). Pembagian
satuan morfologi tersebut berdasarkan dari pola pengaliran sungai, bentuk
bentang alam, tingkat erosi, jenis litologi, struktur geologi dan kemiringan
lereng.
d. Geofisika
Penyelidikan panas bumi menggunakan metode geolistrik didaerah
Akesahu telah dilakukan sebelumnya. Menurut Bakrun dan Imanuel LF
(2005), hasil pengukuran sounding pada kedalaman 250 meter, didominasi
oleh lava gunung api dengan tahanan jenis 50 150 ohm- m, dan 200 400
ohm-m. Hal ini diinterpretasikan sebagai, batuan penjebaknya yaitu batuan
lava (andesit). Kemudian tahanan jenis rendah sebagai batuan piroklastik
dengan tahanan jenisnya < 5 ohm-m kedalamannya diperkirakan 1100 meter.
Dan > 6 ohm-m diinterpretasikan seabagai batuan reservoar dengan
kedalaman lebih dari 900 meter. Data ini dikombinasikan dengan hasil
pengukuran geolistrik mapping AB/2 = 750 m, dan AB/2 = 1000 m
bertahanan jenis rendah < 5 ohm-m. Perhitungan luas daerahnya sekitar 2
km. Dengan dikombinasikannya dari data antara pengukuran sounding dan
mapping dapat ditentukan geothermal sistem didaerah ini heat source berupa
batuan piroklastik dan batuan lava pra kaldera, dan batuan penjebaknya
berupa batuan lava andesit.
e. Geokimia
Manifestasi permukaan yang ditemukan di Daerah Akesahu, Kota Tidore
Kepulauan, Provinsi Maluku Utara berupa mata air panas yang teletak
dibatuan piroklastik dan aluvium dengan suhu permukaan rata-rata 40,7
45,10C. Mata air panas yang ditemukan sebanyak lima mata air, yaitu; Mata
air panas Akesahu, Mata air panas Gulohi Sufera, Mata air panas Tanjung
Putus, Mata air panas Tomadou, dan Mata air panas Gamgao.
4. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan data-data dari penelitian sebelumnya sistem panasbumi secara
geologi daerah ini terdapat di zona subduksi dan berada pada kerucut gunung api
dengan persebaran litologi berasal erupsi gunung api, seperti lava andesit, tuff,
piroklastik. Secara geomorfologi daerah penelitian berada di satuan tubuh gunung api
gunungapi Tagafura (SGT). Untuk penentuan sistem panas bumi didapatkan dari data
geofisika hasil pengukuran sounding pada kedalaman 250 meter, didominasi oleh lava
gunung api dengan tahanan jenis 50 150 ohm- m, dan 200 400 ohm-m.
Kemudian, tahanan jenis rendah sebagai batuan piroklastik dengan tahanan jenisnya <
5 ohm-m kedalamannya diperkirakan 1100 meter. Dan > 6 ohm-m diinterpretasikan
seabagai batuan reservoar dengan kedalaman lebih dari 900 meter. Sehingga, dengan
dikombinasikannya dari data antara pengukuran sounding dan mapping dapat
diinterpretasikan sistem panasbumi didaerah ini heat source nya berupa batuan
piroklastik dan batuan lava pra kaldera, dan batuan penjebaknya berupa batuan lava
andesit. Sistem panasbumi yang lainnya berupa jebakan struktur berupa struktur sesar
yang memisahkan Gunung Gulili dan Gunung Tagafura dengan kelurusannya
Tagafura dengan kemiringannya lebih dari 80. Ini, dapat diinterpretasikan sebagai
jalur rekahan meteoric water yang masuk kebawah permukaan kemudian terkamulasi
dengan sumber panasbumi. Lalu, yang menjadi perangkap sebenarnya supaya
terakumulasi heat source nya tidak keluar yaitu struktur Sesar Akesahu Gulili N 280-
310 E yang didukung dengan dengan kehadirannya hot spring dan pada batuan
piroklastik dan aluvium dengan suhu permukaan 40,7 45,10C. Analisis geokimia
diperoleh kandungan unsur dan senyawa dari kandungan air panas berupa , data yang
diperoleh di plotkan dalan segitiga Cl-SO4--HCO3, Na-K-Mg, B-Li-Cl untuk
mengetahui tipe air panas, kesetimbangan serta asosiasi air panas dengan lingkungan
sekitarnya. Interpretasinya bahwa, tipe air kloridanya dalam tahapan immature waters
dipengaruhi oleh meteoric water, selain itu ditemukannya endapan air panas seperti
oksida besi berwarna coklat, serta sinter silika dapat diinterpretasikan sistem air panas
yang muncul di daerah panasbumi Akesahu terletak pada zona Up flow.
5. Kesimpulan
1)
Referensi
ARMSTEAD, H.C.H., 1983. Geothermal Energy. E. & F. N. Spon, London, 404 pp
https://www.usgs.gov/science-explorer-results?es=volcanic+arc+in+indonesia
(diakses 9/11/2017 23:30)
Sudarman, S., Boedihardi, M., Pudyastuti, K., and Bardan (1995) Kamojang
Geothermal Field: 10 Year Operation Experience. Proc. of The World Geothermal
Congress (Florence) Vol. 2, pp 1773-1777.
L, F Immanuel dan Bakrun. (2005). Penyelidikan Geolistrik Di Daerah Panas Bumi
Akesahu, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Bandung : Pemaparan Hasil
Kegiatan Lapangan Subdit Panas Bumi.
Gambar 2. Lokasi daerah penelitian

Gambar 3. Lokasi penelitian dan struktur sesar yang berkembang


Gambar 1. Rangkaian Gunung Api di Indonesia

http://psdg.bgl.esdm.go.id/buletin_pdf_file/Bul%20Vol%204%20no.%203%20thn%202009/3
.%20Sistem%20panas%20bumi%20p.%20Kasbani.pdf