Anda di halaman 1dari 11

Referat

Peranan Imaging pada Ileus Obstruktif

Pembimbing:
dr. Lisa Haryanto, Sp. Rad

Disusun oleh:
Jordan Sugiarto
11.2015.385

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 12 SEPTEMBER 24 SEPTEMBER 2016
RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
2016
Pendahuluan

Ileus obstruktif terjadi bila terdapat interupsi dari aliran isi usus. Interupsi ini
dapat terjadi pada setiap titik sepanjang traktus gastrointestinal, dan gejala klinis yang
tampak tergantung pada tingkat obstruksi yang terjadi. Tempat obstruksi menyebabkan
dilatasi usus bagian proksimal dan kolapsnya usus bagian distal.1,2
Ileus obstruktif merupakan penyebab dari 15% kasus bedah karena akut
abdomen. Penyebab ileus obstruktif dapat dibagi menjadi kongenital, ekstrinsik,
intrinsik, dan luminal. Penyebab tersering dari ileus obstruktif di negara berkembang
adalah hernia, yang meliputi sekitar 75% dari kasus. Sedangkan ileus obstruktif akibat
adhesi pasca operasi hanya berkisar sekitar 10%. Morbiditas dan mortalitas terkait ileus
obstruktif telah menurun sejak adanya tes diagnostik yang lebih canggih, namun kondisi
ini tetap membutuhkan ketepatan diagnosa untuk menentukan tatalaksana.1,2
Berbagai modalitas radiografi mutakhir telah merubah pemakaian radiografi
konvensional dalam menegakkan diagnosis ileus obstruktif. Meskipun demikian, foto
polos abdomen tetap memiliki peran penting dalam penegakan diagnosis. Selain itu,
pemakaian ultrasound juga dapat digunakan dengan terintegrasi pada foto polos
abdomen. 2

Gejala klinis

Meskipun obstruksi usus halus dan usus besar memiliki gambaran klinis yang
serupa yaitu nyeri perut kolik, muntah, konstipasi dan distensi abdomen, keduanya
memiliki etiologi dan penanganan yang berbeda. Gejala yang mendominasi tergantung
pada tingkat letak obstruksi. Obstruksi usus halus memberikan gambaran nyeri
abdomen kolik dan muntah yang terjadi lebih awal pada obstruksi yang lebih
proksimal, dan lebih lambat pada obstruksi yang terletak pada bagian distal. Usus yang
terletak distal dari obstruksi menjadi kosong karena absorpsi dan evakuasi dari isinya,
sedangkan yang terletak proksimal dari titik obstruksi menjadi terdistensi dengan udara
dan cairan. Hal ini mengakibatkan perubahan cairan pada usus dan menyebabkan
hipovolemia dan ketidakseimbangan elektrolit. Jika obstruksi tidak diperbaiki maka
dapat terjadi strangulasi dengan keterlibatan dari arteri dinding usus dengan resiko
terjadinya perforasi dan peritonitis.

2
Obstruksi open-loop pada usus halus bagian proksimal memberikan gambaran
klinis muntah yang sering dan banyak. Nyeri abdomen biasanya sangat berat namun
kadang dapat berkurang dengan adanya muntah. Distensi abdomen biasanya tidak
terlalu berat. Pada obstruksi open-loop usus halus bagian distal, cairan memenuhi
lengkung usus yang terdistensi. Sebagai hasilnya, muntah lebih jarang dan volumenya
tidak terlalu banyak.3
Pada obstruksi closed-loop, refleks muntah tetap dapat timbul. Distensi abdomen
seringkali tidak didapatkan, nyeri abdomen yang terjadi berlangsung progresif dan dapat
memburuk dengan cepat jika iskemia usus menjadi infark dan perforasi. Foto polos
abdomen biasanya merupakan pemeriksaan utama pada kasus kecurigaan obstruksi.3,4

Gambar 1. Gambaran obstruksi usus5

Gambaran Radiologi

#Gambaran Radiologi Konvensional


A. Obstruksi Usus Halus
Foto polos abdomen biasanya merupakan pemeriksaan utama pada kasus
kecurigaan obstruksi. Diagnosis obstruksi ditegakkan dengan adanya distensi usus halus
sampai pada level obstruksi, disertai adanya cairan dan tidak adanya udara pada bagian
distal. Lengkungan usus halus yang terutama berisi cairan akan tampak sebagai

3
gambaran berdensitas jaringan lunak. Jarak lebar intraluminal yang lebih dari 3cm
dianggap abnormal. Pada obstruksi komplit, lengkungan usus halus akan terdistensi
dalam 3 sampai 5 jam dan biasanya terletak pada abdomen bagian tengah. Meskipun
demikian, dibutuhkan beberapa jam supaya usus terdilatasi dan gas distal dapat
diresorpsi. Kesulitan juga dapat ditemukan pada obstruksi letak tinggi yang
diperlihatkan oleh hanya beberapa lengkungan yang terdilatasi atau lengkungan usus
sepenuhnya berisi cairan dan menghasilkan gambaran abdomen yang dapat menyerupai
asites. Residu gas yang berjumlah sedikit akan tampak sebagai gambaran string of
beads. 4,6
Level obstruksi pada foto polos abdomen sulit dinilai. Perkecualian dalam hal
ini adalah adanya gambaran klasik dari volvulus sigmoid atau adanya benda asing
radioopak yang dengan mudah dapat dikenali. Distensi usus halus kadang sulit
dibedakan dari kolon.4
Foto pasien dalam keadaan telentang (supine) biasanya cukup untuk
menegakkan diagnosis pada pasien dengan kecurigaan obstruksi usus halus. Namun bila
secara radiologis tidak ditemukan kelainan dan terdapat kecurigaan kuat obstruksi
secara klinis, maka foto posisi tegak dapat membantu dengan menunjukkan adanya
gambaran air-fluid level pada usus halus yang terdistensi. Foto dengan proyeksi lateral
diindikasikan jika proyeksi tegak tidak dapat dilakukan.4

Gambar 2. Gambaran obstruksi usus halus pada foto polos abdomen 7

4
Gambar 3. Gambaran string of beads pada obstruksi usus halus 8

B. Obstruksi Usus Besar


Gambaran radiologis obstruksi usus besar bergantung pada kompetensi katup
ileosekal. Terdapat 3 tipe obstruksi kolon. Pada tipe IA, katup ileosekal masih kompeten
dan gambaran radiologis yang tampak berupa dilatasi kolon dengan sekum yang
terdistensi dan berdinding tipis tanpa adanya distensi usus halus. Bila obstruksi terus
berlangsung akan terjadi distensi usus halus (tipe IB). Pada kedua tipe I dapat terjadi
distensi sekum yang masif dan dapat berujung pada perforasi sekum akibat iskemia.
Pada obstruksi tipe II, katup ileosekal inkompeten sehingga sekum dan kolon asendens
tidak terdistensi namun tekanan dari kolon bergerak menuju ke usus halus dan terdapat
dilatasi usus halus sehingga menyerupai obstruksi usus halus.6

Gambar 4. Ilustrasi tipe obstruksi usus besar.6

Kolon yang terdistensi terletak pada abdomen bagian perifer dan dapat dibedakan dari usus halus dengan adanya gambaran haustra yang

tidak melintasi seluruh lumen usus. Dilatasi sekum yang melebihi 9 cm dan dilatasi bagian kolon lain yang melebihi 6 cm dianggap abnormal. Bagian

usus yang terletak distal dari obstruksi akan kolaps dan bagian rektum tidak terisi oleh udara. 4

5
Gambar 5. Gambaran obstruksi usus besar pada foto polos abdomen4

Pemeriksaan dengan menggunakan kontras larut air lebih dipilih dibandingkan


dengan menggunakan barium karena adanya resiko kontaminasi intraperitoneal jika
terdapat perforasi. Pemeriksaan dengan menggunakan enema dapat memastikan
diagnosis dan menunjukkan level obstruksi. Pada beberapa fasilitas kesehatan,
penggunaan kontras enema telah digantikan dengan penggunaan CT abdomen dan
pelvis.4

#Gambaran USG
A. Obstruksi Usus Halus
Gambaran normal usus berupa lapisan sirkular tunggal hipoekoik yang
mengelilingi gambaran hiperekoik isi usus. Ketebalan normal lapisan ini pada keadaan
kontraksi sekitar 2-3 mm. Dinding usus yang hipoekoik menjadi lebih tipis ketika
peristalsis usus tidak berkontraksi. Gambaran sonografi pada obstruksi usus berupa
lengkung usus yang terdilatasi dengan gambaran gas yang hiperekoik di antara cairan.
Diameter usus halus berkisar antara 3-4 cm sementara diameter usus besar normal
sekitar 4-5 cm. Lengkung usus yang terdilatasi dapat menunjukkan dinding yang
menebal (sampai 3mm), valvula conniventes yang menebal (sampai 2mm) dan
peningkatan pergerakan isi usus.9
Lengkung usus yang terdistensi dan berisi cairan tampak jelas pada
ultrasonografi dan gerakan peristaltiknya dapat dilihat. Bagian distal usus kehilangan

6
aktivitas ototnya pada letak obstruksi dan pada bagian proksimal terdapat peningkatan
peristalsis sebagai usaha untuk mengatasi obstruksi. Penyebab obstruksi tidak selalu
dapat terlihat dengan ultrasonografi. Tumor atau batu atau stenosis seperti pada penyakit
Crohn dapat diperlihatkan. Namun penyebab tersering dari obstruksi yaitu adhesi hanya
bisa ditentukan setelah penyebab lain tereksklusi. 4,10,11

Gambar 6. Gambaran sonografi abdomen bawah menunjukkan usus halus yang


terdilatasi dengan mukosa yang menebal (M) and lumen yang terisi cairan (L).
Gambaran hiperekoik pada dinding usus mengindikasikan iskemia usus. 11

B. Obstruksi Usus Besar


Ultrasonografi mungkin dapat menunjukkan usus besar yang berisi cairan dan
dinding usus yang menebal namun seringkali gambaran yang ditemukan tidak spesifik
dan biasanya kurang membantu. Identifikasi kolon pada sonografi seringkali sulit karena
kolon dipenuhi dengan gas dan feses. Gas dan feses tersebut secara normal berada di
dalam kolon sehingga diagnosis obstruksi seringkali hanya berdasarkan dilatasi sampai
pada level obstruksi dan kolon yang terletak distal tidak berisi udara.4,12
Penyebab obstruksi kolon dapat diidentifikasi dan memiliki sensitivitas sebesar
81%. Mayoritas obstruksi kolon disebabkan oleh kanker kolon atau intususepsi
ileosekal dan dapat ditunjukkan oleh ultrasonografi sebagai massa yang mengobstruksi
atau penebalan segmen dinding kolon pada akhir kolon yang terdilatasi. Intususepsi
memiliki gambaran karakteristik lingkaran konsentris seperti sosis. Sonografi terutama
berguna pada intususepsi pada anak.

7
Gambar 8. Sonogram abdomen kanan atas menunjukkan penebalan sirkumferensial
dinding usus dan kolon bagian proksimal yang terdilatasi dan berisi cairan.12

#Gambaran CT Scan
A. Obstruksi Usus Halus
Identifikasi dari dilatasi usus bagian proksimal dan usus distal yang kolaps
merupakan tanda diagnostik bagi ileus obstruktif. Secara umum, usus halus dengan
kaliber lebih dari 2,5cm dianggap terdilatasi. Jika didapatkan zona transisi antara usus
yang berdilatasi dan kolaps, diagnosis obstruksi akan lebih dapat dipastikan. Meskipun
demikian, derajat dilatasi usus sendiri tidak dapat dipakai sebagai satu satunya kriteria
yang diandalkan untuk membedakan ileus obstruktif dan ileus paralitik. Gambaran
small-bowel feces adalah indikator lain yang jarang tetapi dapat diandalkan.
Gambaran ini merupakan gelembung udara yang bercampur dengan gambaran solid
pada usus yang terdilatasi bagian proksimal dari obstruksi. Zona transisi yang
merupakan terjadinya perubahan kaliber usus dari dilatasi ke kolaps mengindikasikan
level obstruksi. CT juga berguna untuk mendeteksi adanya strangulasi. Dinding usus
akan terlihat menebal, dengan edema dan perdarahan pada mesenterium. Penyebab ileus
(misalnya abses, pankreatitis, peritonitis, iskemia mesenterium) dapat diperlihatkan
pada CT. 4,13,14

B. Obstruksi Usus Besar

8
Penggunaan CT dinilai lebih menguntungkan dibanding kontras enema terutama
pada pasien usia tua dan keadaan umum yang kurang baik. CT biasanya dilakukan
dengan pemberian kontras intravena. CT dapat mengkonfirmasi adanya obstruksi,
dengan diameter kolon lebih dari 6 cm (9cm di sekum) yang dianggap abnormal.
Adanya zona transisi menunjukkan level obstruksi dan juga dapat menunjukkan
penyebab obstruksi. CT juga dapat menunjukkan adanya komplikasi seperti strangulasi
yang ditunjukkan adanya kongesti maupun perdarahan pada mesenterium, penebalan
dinding usus dan gas intramural. Salah satu keterbatasan pada CT adalah sulitnya
membedakan divertikulitis dengan kanker kolon pada beberapa pasien.4

Gambar 9. Gambaran kolon transversal yang terdilatasi pada obstruksi usus besar15

Penutup
Ileus obstruktif adalah keadaan yang sering ditemui, dan mencakup 15% dari
seluruh kasus abdomen akut yang datang dalam keadaan gawat darurat. Penyebab
tersering obstruksi usus halus pada negara berkembang adalah hernia (75%), adhesi
(10%) dan keganasan (5%). Sedangkan penyebab tersering obstruksi usus besar adalah
karsinoma kolon, diikuti dengan volvulus (11%) dan divertikulitis (9%). Ileus obstruktif
ditegakkan berdasarkan anamnesis, keadaan klinis dan gambaran radiografis. Gambaran
klinis pada ileus obstruktif bergantung pada letak obstruksi yang mendasarinya. 3,4,15
Berbagai modalitas radiologi terbaru telah mempebarui peran radiologi
konvensional dalam penegakan diagnosis ileus obstruktif. Meskipun demikian,
pemeriksaan foto polos abdomen tetap memiliki peran dalam penegakan awal diagnosis
ileus obstruktif. Pemakaian CT tetap direkomendasikan pada pasien dengan hasil
negatif tetapi dengan kecurigaan ileus obstruktif.1,2

9
Daftar Pustaka

1. Jackson P, Raiji M. Evaluation and Management of Intestinal Obstruction.


American Family Physician. 2011 Jan 15;83(2):159-165
2. Di Mizio R, Scaglione M. Small Bowel Obstruction-CT Features With Plain
Film and US Correlation. Springer 2007.
3. Gore R, Levine MS. Textbook of Gastrointestinal radiology. 3rd edition.
Volume 1. Elsevier. 2008
4. Conder G, Rendle J, Kidd S, Misra RR. A-Z of Abdominal Radiology.
Cambridge University Press. 2009
5. Intestinal Obstruction. Diunduh dari :
http://studynursing.blogspot.com/2011/01/intestinal-obstruction.html. Diakses
tanggal 14 September 2016.
6. Conder G, Rendle J, Kidd S, Misra RR. A-Z of Abdominal Radiology.
Cambridge University Press. 2009
7. Bowel Obstruction/Ileus. Diunduh dari :
http://www.meddean.luc.edu/lumen/meded/Radio/curriculum/Mechanisms/MH
D/iBowel_obstruction.htm Diakses tanggal : 14 September 2016.
8. String of beads. Diunduh dari: https://www.google.co.id/search?
q=ct+scan+kolon&hl=en&tbm=isch&source=lnms&sa=X&ved=0ahUKEwjqh_
_98pHPAhVGkZQKHaCyDq8Q_AUICCgB&biw=1517&bih=741&dpr=0.9#hl
=en&tbm=isch&q=string+of+beads+radiology&imgrc=MX8XUyNFbpRq_M
%3A. Diakses tanggal 16 september 2016.
9. Hefny AF, Corr P, Abu-Zidan FM. The role of ultrasound in the management of
intestinal obstruction. J Emerg Trauma Shock. 2012 Jan-Mar; 5(1): 8486.
10. Schmidt G. Clinical Companions Ultrasound. Thieme. 2nd ed. 2007
11. Lutz HT, Deuerling J. Manual of Diagnostic Ultrasound. WHO. Vol 1. 2nd ed.
Gutenberg Press. 2011
12. Maconi G, Porro GB. Ultrasound of The Gastrointestinal Tract. Springer.
Germany. 2007
13. Herring W. Learning Radiology. 2nd ed. 2012. Mosby Inc.

10
14. Furukawa A, et al. Helical CT in The Diagnosis of Small Bowel Obstruction.
RadioGraphics 2001; 21:341-355
15. Khurana B, etal. Bowel Obstruction Revealed by Multidetector CT. AJR:178,
May 2002

11

Anda mungkin juga menyukai