Anda di halaman 1dari 12

PENELITIAN KORELASIONAL

Ditulis oleh :
1. Evy Erlinawati NIM. 201620240211028
2. Nuris Syarifatul I. NIM. 201620240211030
3. Nanda Farah B. NIM. 201620240211032

Tugas Mata Kuliah :


METODOLOGI KUANTITATIF PENELITIAN PENDIDIKAN

Pembina :
Dr. Ainur Rofieq, M.Kes

DIREKTORAT PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Desember 2017
BAB I
PENDAHULUAN

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada suatu masalah


yang memerlukan solusi yang tepat. Kegiatan penyelesaian masalah dalam
penelitian dapat dilakukan secara sistematis dengan mengikuti metodologi,
dikontrol dan didasarkan teori, serta diperkuat dengan gejala yang ada (Sukardi,
2004:3)
Dalam ranah penelitian kuantitatif, pendekatan korelasional adalah suatu
pendekatan umum untuk penelitian yang berfokus pada penaksiran kovariasi
antara variabel yang muncul secara alami. Kata korelasional berasal dari sebuah
kata dalam bahasa Inggris correlation dan menjadi correlational artinya saling
berhubungan atau hubungan timbal balik. Sebuah correlation atau korelasi adalah
suatu uji statistik untuk menentukan tendensi atau pola dari dua variable atau lebih
atau dua set data yang bervariasi secara konsisten. Dalam ilmu statistika istilah
korelasi diberi pengertian sebagai hubungan antara dua variable atau lebih.
Hubungan antara dua variabel dikenal dengan istilah bivariate correlation,
sedangkan hubungan antar lebih dari dua variabel dikenal dengan istilah
multivariate correlation (Creswell, 2008). Dalam kasus yang hanya memiliki dua
variabel, ini berarti bahwa dua variabel berbagi varian yang sama, atau mereka
bervariasi bersama-sama(co-vary). Untuk menentukan bahwa dua variabel
bervariasi-bersama (co-vary), memiliki dasar matematika yang agak rumit
(Damin, 2002; Creswell, 2008, Johnson, 1996).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Menurut Gay dalam Sukardi (2004) penelitian korelasi merupakan salah
satu bagian penelitian ex-post facto karena pada umumnya peneliti tidak
memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan
hubungan dan tingkat hubungannya. Penelitian ini termasuk dalam penelitian
deskripsi karena penelitiannya menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam
penelitian ini, peneliti menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks
kuantitatif yang direfleksikan dalam variabel.
Penelitian korelasional merupakan kajian deskriptif dimana penelitinya
tidak hanya mendeskripsikan variabel-variabel, tetapi juga menguji sifat
hubungan diantara variabel kuantitatif tersebut. Peneliti menggunakan teknik
analisis statistik, seperti koefisiensi korelasi untuk menguji hubungan dua atau
lebih variabel tanpa memberikan generalisasi atau menarik kesimpulan umum
berkenaan dengan hubungan kausalitas. Dalam ilmu statistika, istilah korelasi
diartikan sebagai hubungan antara dua variabel atau lebih. Hubungan antara dua
variabel disebut sebagai bivariate correlation, sedangkan penyebutan multivariate
correlation untuk hubungan antara lebih dari dua variabel.
Peneliti korelasi meneliti hubungan antara variabel-variabel karena penelitian
korelasional memerlukan penelitian analisis dengan cermat yang harus dibedakan
dari penelitian eksperimental, di mana variabel-variabel dan kondisi dimanipulasi
dan dikendalikan, sehingga efek dari satu variabel pada variabel lain dapat
diidentifikasi.
Dalam penelitian di bidang pendidikan, biasanya yang terjadi adalah sejumlah
variabel berkontribusi terhadap hasil tertentu. Untuk alasan ini, peneliti
korelasional berurusan dengan data yang merujuk kepada peristiwa-peristiwa dan
kegiatan yang telah terjadi, dan akan terjadi tanpa adanya intervensi dari peneliti.
Lebih jauh, peneliti korelasional menggunakan desain ini untuk
menghubungkan antara dua variabel atau lebih untuk melihat apakah keduanya
mempunyai pengaruh satu sama lain. Desain penelitian ini juga memungkinkan
peneliti untuk meramalkan suatu hasil, seperti prediksi bahwa kemampuan,
kualitas sekolah, motivasi siswa, dan akademik mempengaruhi pencapaian murid,
dan sebagainya.
Dalam bidang pendidikan, studi korelasi umumnya digunakan guna
melakukan penelitian terhadap sejumlah variabel yang diperkirakan memiliki
peranan yang signifikan dalam mencapai proses pembelajaran. Sebagai contoh,
misalnya mengenai pencapaian hasil belajar dengan motivasi internal, intensitas
kehadiran mengikuti kuliah, belajar strategi, dan lain sebagainya.

Penelitian korelasi bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antar


variabel. Lebih khusus lagi, tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mencari bukti
terdapat tidaknya hubungan (korelasi) antarvariabel, (2) bila terdapat hubungan,
kemudian untuk melihat tingkat keeratan antarvariabel, dan (3) untuk memperoleh
kejelasan dan kepastian apakah hubungan tersebut significant atau tidak (Muhidin
dan Abdurrahman. 2007:105)

B. Ciri-Ciri Penelitian Korelasional


Menurut Creswell (2008), ciri utama penelitian adalah :
1) Variabel yang diteliti relatif rumit; tidak dapat dieksperimentasikan dan
dimanipulasikan,
2) Mengukur variabel yang berhubungan secara serentak dalam situasi
realistik
3) Koefisien korelasi yang ingin dicari adalah positif atau negatif, sigifikan
atau tidak signifikan
4) Satu atau lebih variabel disebut variabel bebas (independent variabel/s)
dan satu atau lebih variabel terikat (dependent variabel/s).
5) Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan
variabel bebas.

C. Kapan menggunakan Penelitian Korelasional


Beberapa hal yang menjadi alasan penting, terkait kapan menggunakan
penelitian korelasional ini, adalah :
Adanya kebutuhan akan informasi bahwa ada hubungan antar variabel
dan kuat lemahnya suatu hubungan variabel yang berkaitan dalam suatu
objek atau subjek yang diteliti.
Penelitian korelasi harus memperhitungkan manfaatnya jika variabel
yang muncul tersebut kompleks, dan peneliti tidak mungkin bisa
melakukan kontrol dan memanipulasi variabel-variabel itu.
Apabila dalam penelitian memungkinkan untuk melakukan pengukuran
beberapa variabel dan hubungan yang ada dalam setting yang realistis.
Apabila salah satu tujuan penelitian adalah untuk mencapai formula
prediksi, yaitu keadaan yang menunjukkan terdapatnya asumsi
hubungan antar variabel.

E. Jenis-jenis Desain Penelitian Korelasional


Creswell (2008) menyatakan ada dua desain utama dalam penelitian
korelasional yaitu: a) eksplanatori (explanatory) dan b) prediksi (prediction).
Dalam penamaannya berbagai ahli merujuk penelitian ini sebagai penelitian
"relasional" (hubungan) (Cohen & Manion, 1994 dalam Creswell, 2008), "studi
accounting-for-variance" (Punch, 1998 dalam Creswell, 2008) atau penelitian
"explanatory" (Frankel & Wallen, 2000 dalam Creswell, 2008).
Salah satu tujuan dasar dari penelitian korelasi ini adalah untuk menjelaskan
hubungan antara atau di antara variabel, maka akan digunakan istilah penelitian
eksplanatori. Desain penelitian eksplanatori adalah desain korelasional di mana
peneliti tertarik pada sejauh mana dua variabel (atau lebih) bersama-bervariasi/co-
vary, yaitu, di mana perubahan dalam satu variabel tercermin dalam perubahan
yang lain. Desain penelitian eksplanatori terdiri dari asosiasi yang sederhana
antara dua variabel (misalnya, rasa humor dan kinerja dalam bidang drama) atau
lebih dari dua (misalnya, tekanan dari teman atau perasaan isolasi yang
berkontribusi terhadap pesta).
Karakteristik yang umum untuk kedua desain ini adalah:

a) Desain Explanatory
Desain eksplanatori adalah penelitian korelasional yang bertujuan untuk
mengetahui sejauhmana dua variable atau lebih berkovariasi/ berhubungan artinya
perubahan yang terjadi pada salah satu variabel itu terefleksi dalam perubahan
pada variabel yang lainnya. Rancangan Eksplanatorik terdiri atas hubungan
sederhana antara dua variabel ( ex: selera humor dan penampilan dalam drama)
atau lebih dari dua variabel (ex: tekanan dari teman atau perasaan terasing yang
berkontribusi pada binge drinking ( minum-minuman keras secara berlebih).

Ciri-ciri khusus desain eksplanatori adalah:


1. Peneliti mengkorelasikan dua variabel atau lebih. Peneliti melaporkan
uji statistik korelasi dan menyebutkan penggunaan beberapa variabel.
Variabel ini secara khusus disebutkan dalam pernyataan tujuan,
pertanyaan penelitian, atau tabel prosedur pelaporan statistik.
2. Peneliti mengumpulkan data pada satu titik waktu. Bukti untuk prosedur
ini akan ditemukan dalam administrasi instrumen "in one sitting" kepada
siswa. Dalam penelitian explanatory, para peneliti tidak tertarik baik di
masa lalu atau kinerja peserta.
3. Peneliti menganalisis semua peserta sebagai satu kelompok.
Dibandingkan dengan sebuah eksperimen yang melibatkan kelompok-
kelompok atau perlakuan beberapa kondisi, peneliti mengumpulkan skor
dari hanya satu kelompok dan tidak membagi kelompok menjadi kategori
(atau faktor).
4. Peneliti memperoleh setidaknya dua nilai untuk setiap individu dalam
kelompok-satu untuk setiap variabel. Dalam metode diskusi, peneliti
korelasi akan menyebutkan berapa banyak skor yang dikumpulkan dari
masing-masing peserta.
5. Peneliti melaporkan penggunaan uji statistik korelasi (atau merupakan
perpanjangan) dalam analisis data. Ini adalah fitur dasar dari jenis
penelitian ini. Peneliti memasukkan laporan tentang kekuatan dan arah
uji korelasionalnya untuk membeikan informasi tambahan.
6. Peneliti membuat interpretasi atau menarik kesimpulan dari hasil uji
statistik. Penting untuk dicatat bahwa kesimpulan tidak menetapkan
hubungan sebab-akibat (atau inferensi kausal) karena peneliti hanya
dapat menggunakan kontrol statistik (misalnya, kontrol atas variabel
dengan menggunakan prosedur statistik) daripada kontrol yang lebih
ketat secara fisik mengubah kondisi (yaitu, seperti dalam percobaan).
Penerapan Korelasi dalam Penelitian Bahasa (Kawasan Penelitian Bahasa)
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, penelitian korelasional secara tradisonal
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu penelitian eksplanatori (explanatory studies)
dan penelitian prediksi (prediction studies). Para peneliti bahasa kedua telah
mengembangkan teknik-teknik korelasional untuk menyelidiki berbagai macam
hubungan. Berikut ini contoh hubungan-hubungan yang bisa diteliti dengan
menggunakan teknik korelasi.
Penelitian Eksplanatory (Relationship Studies)
Variabel I Variabel II
Interaksi verbal Kemahiran lisan / Berbicara
Sikap kultural yang integratif Kemahiran global atau menyeluruh
Kompetensi Sintaksis Kompetensi Sosiolinguistik
Penggunaan strategi pembelajaran Prestasi yang didapatkan
Kebenaran mengeja bahasa kedua Kesukaan membaca bahasa kedua
Perhatian pada bentuk Kecemasan dalam menulis/mengarang
Modifikasi input wacana Pemahaman pendengaran
Terhadap masing-masing pasangan variabel di atas, akan muncul pertanyaan:
Bagaimana hubungan antara (variabel I) dengan (variabel II). Terhadap pasangan
masing-masing variabel di atas, pertanyaannya adalah, "Bagaimana hubungan
antara (variabel I) dengan (variabel II). Hasil dari penelitian hubungan seringkali
digunakan untuk membuat pernyataan atau menilai seputar persoalan-persoalan
teoritis dalam pembelajaran bahasa kedua. Salah satu contoh penggunaan
penelitian hubungan adalah penelitian tentang faktor-faktor/komponen yang
membentuk suatu fenomena yang kompleks seperti kompetensi komunikatif atau
motivasi belajar bahasa.
HUBUNGAN PENGUASAAN GRAMATIKAL, PEMAHAMAN BUDAYA
PRANCIS, DAN KOMPETENSI KOMUNIKATIF DENGAN KINERJA
MENGAJAR GURU BAHASA PRANCIS SMA
R. EKO DJUNIARTO
No. Reg: 7317030501
Program Studi: Pendidikan Bahasa
Masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Apakah terdapat hubungan penguasaan gramatikal dengan kinerja
mengajar guru bahasa Prancis SMA?
2. Apakah terdapat hubungan pemahaman budaya Prancis dengan kinerja
mengajar guru bahasa Prancis SMA?
3. Apakah terdapat hubungan kompetensi komunikatif dengan kineija
mengajar guru bahasa Prancis SMA?
4. Apakah terdapat hubungan penguasaan gramatikal, pemahaman budaya,
dan kompetensi komunikatif dengan kinerja mengajar guru bahasa Prancis
SMA?
Hasil
Melalui pengujian keempat hipotesis yang diajukan, baik dalam pengujian regresi
maupun pengujian korelasi dapat disimpulkan baflWai terdapat hubungan positif
dan signifikan antara kemampuan berpikir kritis (X ), kemampuan analisis wacana
(X ), penguasaan sintaksis bahasa Inggris (X3) dengan keterampilan menulis
akademik bahasa Inggris (Y) baik secara sendiri- sendiri, maupun secara
bersama- sama.
Keempat variabel yang diuji dengan analisis regresi menunjukkan garis regresi
linier dan signifikan. Hal demikian berdasarkan hasil uji linieritas yang
menunjukkan Fhitung < Ftabel. Demikian pula, uji signifikansi di mana
Pengujian hipotesis keempat variabel pula menunjukkan hasil positif dan sangat
signifikan. Korelasi positif dan signifikansi korelasi di mana hasil analisis melalui
korelasi Product Moment dengan koefisien (R) rh >"tebal

b) Desain Prediksi
Penelitian prediksi adalah penelitian yang dilakukan untuk memprediksi suatu
fenomena yang terjadi di masa yang akan datang, sehingga hasil penelitian bisa
digunakan untuk mengantisipasi suatu persoalan sejak dini. Penelitian prediktif
didasarkan dari hasil penelaahan terhadap gejala yang diamati melalui evaluasi
atau penyelidikan saat ini. Penelitian prediktif dilakukan menurut kecenderungan,
dalam perkembangan selama jangka waktu tertentu. Misalnya prediksi tentang
jumlah penduduk lima atau sepuluh tahun yang akan datang bisa dihitung
berdasarkan perkembangan penduduk.
Penelitian korelasi jenis ini memfokuskan pada pengukuran terhadap satu
variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal kejadian
di masa yang akan datang atau variabel lain (Borg & Gall dalam Hadjar;
1999:285). Penelitian ini sebagaimana penelitian relasional, melibatkan
penghitungan korelasi antara suatu pola tingkah laku yang kompleks, yakni
variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang diramalkan kejadiannya (disebut
kriteria), dan variabel lain yang diperkirakan berhubungan dengan kriteria, yakni
variabel yang dipakai untuk memprediksi (disebut prediktor).
Perbedaan yang utama antara penelitian relasional dan penelitian jenis in
terletak pada asumsi yang mendasari hubungan antar variabel yang diteliti. Dalam
penelitian relasional, peneliti berasumsi bahwa hubungan antar kedua variabel
terjadi secara dua arah atau dengan kata lain, ia hanya ingin menyelidiki apakah
kedua variabel mempunyai hubungan, tanpa mempunyai anggapan bahwa
variabel yang muncul lebih awal dari yang lain. Oleh karena itu, kedua variabel
biasanya diukur dalam waktu yang bersamaan.
Sedang dalam penelitian prediktif, di samping ingin menyelidiki hubungan
antara dua variabel, peneliti juga mempunyai anggapan bahwa salah satu variabel
muncul lebih dahulu dari yang lain, atau hubungan satu arah. Oleh karena itu,
tidak seperti penelitian relasional, kedua variabel diukur dalam waktu yang
berurutan, yakni variabel prediktor diukur sebelum variabel kriteria terjadi, dan
tidak dapat sebaliknya.
Dalam sebuah desain prediksi, peneliti berusaha untuk mengantisipasi hasil-
hasil dengan menggunakan variabel-variabel tertentu sebagai alat prediksi, bukan
hanya berkaitan dengan dua variabel pada suatu waktu atau kompleks. Sebagai
contoh, pengawas dan kepala sekolah perlu untuk mengidentifikasi guru yang
akan berhasil di sekolah mereka. Untuk memilih guru yang memiliki peluang
bagus untuk sukses, para administrator dapat mengidentifikasi prediktor
keberhasilan dengan menggunakan penelitian korelasi. Desain prediksi, oleh
karena itu, berguna karena membantu mengantisipasi atau meramalkan perilaku
masa depan.
Tujuan dari desain prediksi adalah untuk mengidentifikasi variabel yang akan
memprediksi hasil atau kriteria. Dalam bentuk penelitian, penyelidik
mengidentifikasi satu atau lebih variabel prediktor dan kriteria (atau hasil)
variabel. Sebuah variabel prediksi adalah variabel yang digunakan untuk membuat
ramalan tentang hasil penelitian di penelitian korelasi. Dalam kasus
memprediksikan keberhasilan guru dalam sekolah, alat tes yang mungkin dipakai
"mentoring" selama pelatihan guru atau "bertahun-tahun dari pengalaman
mengajar". Dalam banyak penelitian prediksi, para peneliti sering menggunakan
lebih dari satu variabel prediktor. Hasil yang diprediksikan dalam penelitian
korelasi disebut variabel kriteria. Sebagai contoh, keberhasilan guru adalah
variabel kriteria.
Dalam pelaksanaan di bidang pendidikan, banyak situasi yang menghendaki
dilakukannya prediksi atau peramalan. Misalnya pada awal tahun ajaran baru,
setiap sekolah karena keterbatasan fasilitas, seringkali harus menyeleksi para
pendaftar yang akan diterima menjadi calon siswa baru.
Contoh lain dari penelitian prediksi adalah hasil studi prediksi yang
digunakan untuk memprediksikan level keberhasilan yang kemungkinan diperoleh
individu pada mata pelajaran tertentu, misalnya aljabar pada tahun pertama untuk
memprediksikan individu mana yang kemungkinan sukses di perguruan tinggi
atau untuk memprediksikan dalam bidang studi mana seseorang individu mungkin
yang paling sukses.
Bila beberapa variabel prediktor masing-masing mempunyai hubungan
dengan suatu variabel kriteria, prediksi yang didasarkan pada kombinasi dari
beberapa variabel tersebut akan lebih akurat daripada didasarkan hanya pada salah
satu darinya. Sebagai contoh, prediksi kesuksesan di perguruan tinggi umumnya
didasarkan pada kombinasi beberapa faktor, seperti rangking dalam peringkat
kelas, peringkat SMA, dan skor pada ujian masuk perguruan tinggi.
Karakteristik penelitian dengan desain prediksi, adalah sebagai berikut:
Penulis akan mengikutkan kata prediksi dalam judulnya
Peneliti akan mengukur variable predictor secara khusus pada satu
waktu, dan variable criteria pada kesempatan lain
Penulis akan memprediksikan performansi di masa datang
Bila beberapa variabel prediktor masing-masing mempunyai hubungan
dengan suatu variabel kriteria, prediksi yang didasarkan pada kombinasi dari
beberapa variabel tersebut akan lebih akurat daripada didasarkan hanya pada salah
satu darinya. Sebagai contoh, prediksi kesuksesan di perguruan tinggi umumnya
didasarkan pada kombinasi beberapa faktor, seperti rangking dalam peringkat
kelas, peringkat SMA, dan skor pada ujian masuk perguruan tinggi. Meskipun
terdapat beberapa perbedaan utama antara studi prediksi dengan studi hubungan,
keduanya melibatkan penentuan hubungan antara sejumlah variabel yang
diidentifikasi dan variabel kompleks.
DAFTAR PUSTAKA
Creswell, J., W., (2008). Educational Research, planning, conducting, and
evaluating quantitive and qualitative research. New Jersey: Pearson
Education, Inc.
Fraenkel, J.R dan Wellen, N.E. 2008. How to Design and Evaluate Research in
Education. New York: McGraw-Hill.
Prasetyo, Bambang. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif Teori dan
Aplikasi.Jakarta: Rajawali Pers.
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi
Aksara.