Anda di halaman 1dari 18

MENGANALISIS KONSEP VARIABEL

DAN PENERAPANNYA
DALAM PENELITIAN KUANTITATIF

Ditulis oleh :
1. ThomasLeba Lulu NIM. 201510240211027
2. Evy Erlinawati NIM. 201620240211028

Tugas Mata Kuliah :


METODOLOGI KUANTITATIF PENELITIAN PENDIDIKAN

Pembina :
Dr. Ainur Rofieg, M.Kes

DIREKTORAT PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Oktober 2017
BAB I
PENDAHULUAN

Jika ada pertanyaan tentang apa yang kita teliti, maka jawabannya
berkenaan dengan variabel penelitian. Jadi variabel penelitian pada dasarnya
adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya.
Secara teoritis variabel penelitian juga dapat diartikan sebagai suatu atribut
atau sifat nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya.
Variabel ini menjadi sangat penting karena tidak mungkin peneliti
melakukan penelitian tanpa adanya variabel. Namun terkadang banyak hal juga
yang menyebabkan kita lupa mengenai apa dan seperti apa variabel serta apa saja
jenis variabel dalam penelitian itu. Banyak hal yang menjadi pertanyaan dan
itulah sebabnya mengupas dengan benar variabel akan menjadi suatu hal yang
sangat penting.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN VARIABEL
Variabel adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 2015).Variabel penelitian adalah objek penelitian atau
apa yang menjadi perhatian suatu titik perhatian suatu penelitian. (Suharsimi
Arikunto, 2002).
Secara teoritis Variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau
obyek, yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lainnya atau satu
obyek tertentu dengan obyek yang lainnya (Hatch dan Farhady, 1981).Variabel
dapat berupa atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat
badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut- atribut
dari setiap orang. Berat ukuran, bentuk, warna, merupakan atribut dari obyek.
Struktur organisasi, model pendelegasian, kepemimpinan, pengawasan,
koordinasi, prosedur dan mekanisme kerja, deskripsi pekerjaan, kebijakan,
merupakan contoh Variabel dalam kegiatan administrasi pendidikan.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa variabel adalah
suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, atau obyek atau kegiatan yang
mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya.

B. PEMBAGIAN ATAU JENIS VARIABEL


1. Variabel Independen.
Variabel independen sering disebut sebagai variabel pengaruh, karena
berfungsi mempengaruhi variabel lain, yang secara bebas berpengaruh
terhadap variabel lain atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel dependen.
Variabel ini merupakan variabel yang menjadi sebab terjadinya perubahan
atau mempengaruhi timbulnya variabel terikat (dependen). Oleh karena itu,
variabel ini disebut variabel bebas (independent). Dalam Structural Equation

2
Modelling (SEM) atau Permodelan Persamaan Struktural sebagai variabel
independen disebut sebagai variabel eksogen.
Variabel ini juga sering disebut sebagai variabel predictor, kausa, variabel
perlakuan, treatment, variabel risiko, stimulus, dan juga dikenal sebagai
variabel bebas dan variabel predictor.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain,
karena itu sering disebut sebagai variabel yang dipengaruhi atau variabel
terpengaruhi karena variabel ini
Variabel ini sering disebut sebagai variabel konsekuen, variabel kriteria,
variabel pengaruh, terikat, tergantung, dan variabel output. Dalam SEM,
variabel ini juga dikenal sebagai variabel indogen.
Alasan variabel dependen disebut variabel terikat adalah karena setiap
variabel independen akan mempengaruhi variabel terikat / independen

MOTVASI BELAJAR PRESTASI BELAJAR


( Variable Independent) (Variable Dependent)

3. Variabel Moderator
Variabel moderator adalah variabel yang ikut mempengaruhi variabel terikat
dan variabel bebas, baik itu memperkuat maupun memperlemah hubungan
(relation) antara variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel independen kedua merupakan nama lain untuk variabel moderator.
Contohnya adalah:
Hubungan Perilaku suami dan istri akan semakin baik ( kuat ) kalau
mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada pihak ke tiga.

PERILAKU SUAMI PERILAKU ISTRI


( Variabel independent) (Variabel Dependent)

JUMLAH ANAK
(Variabel Moderator )

3
4. Variabel Intervening
Pengertian variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis
mempengaruhi hubungan (relation) antara variabel bebas dengan variabel
terikat, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.
Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak diantara
variabel bebas dan variabel terikat, sehingga variabel bebas tidak secara
langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat.
Contoh :
Tinggi rendahnya pendapatan akan mempengaruhi secara tidak langsung
terhadap umur harapan hidup. Di sini ada variabel antaranya yaitu yang
berupa gaya hidup seseorang. Antara variabel penghasilan dan gaya hidup
terdapat variabel moderator yaitu Budaya Lingkungan Tempat Tinggal.

PENGHASILAN GAYA HIDUP HARAPAN HIDUP


( Variable ( Variable (VariableDependent
Independent) Intervening) )

LINGKUNGAN
TEMPAT TINGGAL
( Variabel Moderator)

5. Pengertian variabel control


Pengertian variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat
konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak
dipengaruhi oleh faktor dari luar yang tidak diteliti.
Variabel kontrol sering dipakai oleh peneliti dalam penelitian yang bersifat
membandingkan, melalui penelitian eksperimental.
Contoh: pengaruh jenis pendidikan terhadap ketrampilan dan mengetik.
Varibale independennya pendidikan ( SMU dan SMK ), variabel control yang
ditetapkan sama misalnya naskah, mesin tik, ruang mengetik dibuat sama.
Dengan adanya variabel control tersebut, maka besarnya pengaruh jenis
pendidikan terhadap pendidikan terhadap ketrampilan mengetik dapat
diketahui lebih pasti.

4
PENDIDIKAN SMA & SMK Ketrampilan Mengetik
( variabel independent) (Variable Dependent)

NASKAH, TEMPAT, MESIN TIK SAMA


(Variable Kontrol )

C. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL


Definisi operasional merupakan definisi yang dirumuskan oleh peneliti
mengenai istilah-istilah yang ada pada masalah peneliti yang mempunyai tujuan
untuk menyamakan persepsi antara peneliti dengan orang-orang yang terkait
dengan penelitian (Sanjaya, 2013). Dalam merumuskan definisi operasional,
peneliti boleh saja mengutip pendapat ahli, tetapi yang harus diperhatikan adalah
pendapat mana yang lebih mendekati pada pendapat dari peneliti sendiri.
Kerlinger (2006) dalam bukunya asas-asas penelitian behavioral
menyebutkan bahwa definisi operasional melekatkan arti pada suatu variabel
dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu
untuk mengukur konstruk atau variabel itu. Konstruk adalah sifat-sifat yang
melekat pada suatu variabel. Sementara, Sumanto (2014) mendefinisikan konstruk
sebagai konsep-konsep yang sangat abstrak dari suatu variabel.
Kemungkinan lainnya, suatu definisi operasional merupakan spesifikasi
kegiatan peneliti dalam mengukur suatu variabel atau memanipulasikannya. Suatu
definisi operasional merupakan semacam buku pegangan yang berisi petunjuk
bagi peneliti.
Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi
atau petunjuk tentang bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Informasi
ilmiah yang dijelaskan dalam definisi operasional sangat membantu peneliti lain
yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama,
karena berdasarkan informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya
melakukan pengukuran terhadap variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang
sama. Dengan demikian, ia dapat menentukan apakah tetap menggunakan
prosedur pengukuran yang sama atau diperlukan pengukuran yang baru.

5
Sedangkan cara menyusun definisi operasional dapat dikelompokkan
menjadi tiga macam, yaitu:
1) Definisi Pola I
Disusun berdasarkan atas kegiatan-kegiatan (operations) yang harus
dilakukan agar hal yang didefinisikan itu terjadi. Contoh :
Frustasi adalah keadaan yang timbul sebgai akibat tercegahnya
pencapaian hal yang sangat diinginkan yang sudah hampir tercapai.
Lapar adalah keadaan dalam individu yang timbul setelah dia tidak
makan selama 24 jam
Garam Dapur adalah hasil kombinasi kimiawi antara natrium dan
Clorida.
Definisi Pola I ini, yang menekankan Operasi atau manipulasi apa yang
harus dilakukan untuk menghasilkan keadaan atau hal yang
didefinisikan, terutama berguna untuk mendefinisikan variabel bebas.
2) Definisi Pola II
Definisi yang disusun atas dasar bagaimana hal yang didefinisikan itu
beroperasi. Contoh :
Orang cerdas adalah orang yang tinggi kemampuannya dalam
memecahkan masalah, tinggi kemampuannya dalam menggunakan
bahasa dan bilangan.
Orang Lapar adalah orang yang mulai menyantap makanan kurang
dari satu menit setelah makanan dihidangkan, dan
menghabiskannya dalam waktu kurang dari 10 menit.
3) Definisi Pola III
Definisi yang dibuat berdasarkan atas bagaimana hal yang didefinisikan
itu nampaknnya. Contoh :
Mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang mempunyai
ingatan baik, mempunyai perbendaharaan kata luas, mempunyai
kemampuan berpikir baik, mempunyai kemampuan berhitung
baik.
Ekstraversi adalah kecenderungan lebih suka ada dalam kelompok
daripada seorang diri.

6
Seringkali dalam membuat definisi operasional pola III ini peneliti
menunjuk kepada alat yang digunakan untuk mengambil datanya.
Setelah definisi operasonal variabel-variabel penelitian selesai dirumuskan,
maka prediksi yang terkandung dalam hipotesis telah dioperasionalkan. Jadi
peneliti telah menyusun prediksi tentang kaitan berbagai variabel penelitiannya
secara operasional dan siap diuji melalui data empiris. (Suryabrata, 2012)

D. MODEL HUBUNGAN VARIABEL


Sesungguhnya yang dikemukakan di dalam inti penelitian ilmiah adalah
mencari hubungan antara berbagai variabel. Hubungan yang paling dasar adalah
hubungan antara dua variabel, variabel bebas dan variabel terikat ( Independent
variabel dengan dependent variabel).
a) Hubungan Simetris
Variabel-variabel dikatakan mempunyai hubungan simetris apabila variabel
yang satu tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel lainnya. Terdapat
4 kelompok hubungan simetris :
1) Kedua variabel merupakan indikator sebuah konsep yang sama.
Misalnya : Kualifikasi guru yang baik adalah tingkat pendidikan dan
pengalaman mengajarnnya. Variabel tingkat pendidikan dan variabel
pengalaman mengajar merupakan hubungan simetris, sebab kedua
variabel tidak saling mempengaruhi. Tingkat pendidikan tidak
dipengaruhi oleh tingkat mengajar, demikian pula sebaliknya.
2) Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.
Misalnya : Tes seleksi masuk universitas yang ketat menyebabkan
banyak calon yang jatuh, tetapi juga dapat meningkatkan prestasi
mahasiswa.
Hubungan tersebut adalah simetris, karena tidak ada hubungan antara
calon mahasiswa yang jatuh dengan kenaikan prestasi mahasiswa.
3) Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, dimana yang satu
berada yang lainnya pun pasti disana.
Misalnya : Kekuasaan mengalami kaitan fungsi dengan tugas dan
tanggung jawab. Akan tetapi tidak berarti kekuasaan dipengaruhi oleh
tugas dan tanggung jawab.

7
Atau sebaliknya, tugas dan tanggung jawab ditentukan dan dipengaruhi
kekuasaan.
4) Hubungan yang bersifat kebetulan semata-mata.
Misalnya : Anak pandai tidak lulus, tetapi anak bodoh lulus dengan
baik. Jadi, tidak ada hubungan antara bodoh dengan kelulusan, dan
pandai dengan kegagalan.

c) Hubungan Asimetris (tidak simetri)


Satu variabel atau lebih mempengaruhi variabel yang lainnya.
Ada empat tipe hubungan tidak simetris, yakni :
1) Hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan yang demikian itulah
merupakan salah satu hubungan kausal yang lazim dipergunakan oleh
para ahli. Misalnya : Pengaruh metode belajar terhadap hasil belajar,
pengaruh bimbingan kelompok terhadap kesanggupan menyesuaikan
diri, pengaruh kepemimpinan demokratis terhadap kepuasan kerja.
2) Hubungan antara disposisi dan respons. Disposisi adalah
kecenderungan untuk menunjukkkan respons tertentu dalam situasi
tertentu. Bila Stimulus datangnya pengaruh dari luar dirinya,
sedangkan Disposisi berada dalam diri seseorang. Misalnya :
Hubungan antara kebiasaan membaca dengan kemampuan berbahasa,
hubungan antar sikap antara profesi keguruan dengan kemampuan
mengajar, hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar
yang dicapainya.
3) Hubungan karakteristik individu. Artinya karakteristik di sini adalah
sifat atau sikap individu yang relatif tidak berubah (menetap) dan tidak
dipengaruhi lingkungan, misalnya jenis kalamin, tingkat pendidikan,
agama, usia, pengalaman kerja, keahlian atau jurusan. Misalnya :
Pengaruh kompetisi guru terhadap prestasi belajar siswa ditinjau dari
tingkat pendidikan dan jenis kelamin.
4) Hubungan antara tujuan (ends) dan cara (means)
Misalnya : Hubungan antara lamanya belajar dengan hasil belajar yang
dicapainya, hubungan antara banyaknya pekerjaan rumah dengan
prestasi belajar di sekolah.

8
Penelitian di bidang ilmu sosial dan pendidikan pada umumnya
menggunakan hubungan tak simetris, seperti disposisi-respons,
karakteristik individu dengan perilaku, stimulus-respons, dan dalam hal
tertentu hubungan antara tujuan dengan cara.
c) Hubungan Timbal Balik
Hubungan timbal balik adalah hubungan di mana suatu variabel dapat
menjadi sebab dan akibat dari variabel lainnya. Perlu diketahui bahwa
hubungan timbal balik bukanlah hubungan, dimana tidak dapat ditentukan
variabel yang menjadi sebab dan variabel yang menjadi akibat.
Misalnya : Siswa yang biasanya belajar teratur ternyata berprestasi tinggi.
Pada suatu saat tiba giliran bahwa suatu siswa yang berprestasi tinggi
menyebabkan belajar teratur.

C. MERUMUSKAN HIPOTESIS
1. Pengertian
Hipotesis berasal dari perkataan hipo (hypo) dan tesis (thesis). Hipo
berarti kurang dari, sedang tesis berarti pendapat. Jadi hipotesis adalah suatu
pendapat atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara, belum benar-benar
berstatus sebagai suatu tesis. Hipotesis memang baru merupakan suatu
kemungkinan jawaban dari masalah yang diajukan.
Menurut Creswell (2015), hipotesis adalah pernyataan dalam penelitian
kuantitatif yang penelitinya membuat prediksi atau dugaan tentang hasil hubungan
diantara atribut atau ciri khusus. Dari pendapat Creswell diatas dapat disimpulkan
bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang
secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya.
Di dalam hipotesis itu terkandung suatu ramalan.Ketepatan ramalan itu tentu
tergantung pada penguasaan peneliti atas ketepatan landasan teoritis dan
generalisasi yang telah dibacakan pada sumber-sumber acuan ketika melakukan
telaah pustaka. (Margono, 2004)
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan
penelitian, yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan
hubungan apa yang kita cari atau yang ingin kita pelajari. Hipotesis adalah
pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana

9
adanya, pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta panduan
dalam verifikasi. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-
fenomena yang kompleks. (Nazir, 2005)
Sedangkan Koentjaraningrat (1986) menyatakan bahwa hipotesis adalah
rumusan sementara yang menyatakan harapan adanya hubungan tertentu antara
dua fakta atau lebih.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis :
(a) merupakan jawaban sementara atas permasalahan yang diteliti, oleh
karenanya masih memerlukan pengujian secara empirik;
(b) memerlukan pengujian empirik lebih lanjut, yang hasilnya (yaitu tesis) dapat
berupa penerimaan atau penolakan hipotesis; dan
(c) dapat menunjukkan hubungan antara 2 fakta atau lebih, apabila permasalahan
yang diteliti juga bersifat relasional atau kausal.
Hipotesis bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan
dengan masalah yang akan diteliti. Pernyataan hubungan antara variabel,
sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, hanya merupakan dugaan sementara
atas suatu masalah yang didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam
kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab,
teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai
jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian.
Agar teori yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat
diamati dan diukur dalam kenyataan sebenarnya, teori tersebut harus dijabarkan
ke dalam bentuk yang nyata yang dapat diamati dan diukur.Cara yang umum
digunakan ialah melalui proses operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat
keabstrakan suatu teori menjadi tingkat yang lebih konkret yang menunjuk
fenomena empiris atau ke dalam bentuk proposisi yang dapat diamati atau dapat
diukur. Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang
menyatakan hubungan antar-variabel. Proposisi inilah yang dinamakan hipoesis.
Teori merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-konsep
(pada tingkat abstrak atau teoritis), sedangkan hipotesis merupakan pernyataan
yang menunjukkan hubungan antar-variabel (dalam tingkat yang konkret atau
empiris). Hipotesis menghubungkan teori dengan realitas sehingga melalui

10
hipotesis dimungkinkan dilakukan pengujian atas teori dan bahkan membantu
pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan
penelitian. Oleh sebab itu, hipotesis sering disebut sebagai pernyataan tentang
teori dalam bentuk yang dapat diuji (statement of theory in testable form), atau
sebagai pernyataan tentatif tentang realitas (tentative statements about reality).

2. Ciri-Ciri Hipotesis
Untuk menilai kelaikan hipotesis, ada beberapa kriteria atau ciri hipotesis
yang baik yang dapat dijadikan acuan penilaian. Kriteria atau ciri hipotesis yang
baik menurut Nazir (2005: 152) adalah sebagai berikut:
1. Hipotesis harus menyatakan hubungan.
Hipotesis harus merupakan pernyataan terkaan tentang hubungan-hubungan
antar variabel. Ini berarti bahwa hipotesis mengandung dua atau lebih
variabel-variabel yang dapat diukur ataupun secara potensial dapat diukur.
Hipotesis menspesifikasikan bagaimana variabel-variabel tersebut
berhubungan. Hipotesis yang tidak mempunyai ciri di atas, samasekali bukan
hipotesis dalam pengertian metode ilmiah.
2. Hipotesis harus sesuai dengan fakta.
Hipotesis harus cocok dengan fakta. Artinya, hipotesis harus terang.
Kandungan konsep dan variabel harus jelas. Hipotesis harus dapat
dimengerti, dan tidak mengandung hal-hal yang metafisik.
3. Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya
ilmu pengetahuan.
Hipotesis juga harus tumbuh dari dan ada hubunganya dengan ilmu
pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan. Jika
tidak, maka hipotesis bukan lagi terkaan, tetapi merupakan suatu pertanyaan
yang tidak berfungsi sama sekali.
4. Hipotesis harus dapat diuji.
Hipotesis harus dapat diuji, baik dengan nalar dan kekuatan memberi alasan
ataupun dengan menggunakan alat-alat statistika. Sehubungan dengan ini,
maka supaya dapat diuji, hipotesis harus spesifik. Pernyataan hubungan antar
variabel yang terlalu umum biasanya akan memperoleh banyak kesulitan
dalam pengujian kelak.

11
5. Hipotesisharus sederhana.
Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dan terbatas untuk
mengurangi timbulnya kesalahpahaman pengertian. Semakin spesifik atau
khas sebuah hipotesis dirumuskan, semakin kecil pula kemungkinan terdapat
salah pengertian dan semakin kecil pula kemungkinan memasukkan hal-hal
yang tidak relevan ke dalam hipotesis.
6. Hipotesis harus bisa menerangkan fakta.
Hipotesis juga harus dinyatakan daam bentuk yang dapat menerangkan
hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat dikaitkan dengan teknik pengujian
yang dapat dikuasai. Hipotesis harus dirumuskan sesuai dengan kemampuan
teknologi serta keterampilan menguji dari si peneliti.

3. Kegunaan Hipotesis
Furchan (2004: 115) mengungkapkan kegunaan hipotesis penelitian, yaitu:
1. Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta
memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang
Untuk dapat sampai pada pengetahuan yang dapat dipercaya, orang harus
melangkah lebih jauh daripada sekedar mengumpulkan fakta-fakta yang
berserakan, untuk mencari generalisasi dan antar hubungan yang ada di antara
fakta-fakta itu. Antar-hubungan dan generalisasi ini akan memberikan
gambaran pola, yang penting bagi pemahaman persoalan. Pola semacam itu
tidak mungkin menjadi jelas selama pengumpulan data dilakukan tanpa arah.
Hipotesis yang telah terencana dengan baik akan memberikan arah dan
mengemukakan penjelasan-penjelasan. Karena hipotesis itu dapat diuji dan
divalidasi (diuji keshahihannya) melalui penyelidikan ilmiah, maka hipotesis
dapat membantu kita memperluas pengetahuan.
2. Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang berlangsung dapat
diuji dalam penelitian.
Pertanyaan tidak dapat diuji secara langsung. Penelitian memang dimulai
dengan suatu pertanyaan, tatapi hanya hubungan antara variabel-variabel
sajalah yang dapat diuji. Misalnya, orang tidak akan menguji pertanyaan
Apakah komentar guru terhadap pekerjaan murid menyebabkan peningkatan

12
hasil belajar secara nyata? Akan tetapi orang dapat menguji hipotesis yang
tersirat dalam pertanyaan tersebut:
Komentar guru terhadap hasil pekerjaan murid menyebabkan meningkatnya
hasil belajar hasil belajar murid secara nyata. Atau yang lebih spesifik lagi,
Skor hasil belajar siswa yang menerima komentar guru atas pekerjaan
mereka sebelumnya akan lebih tinggi daripada skor siswa yang tidak
menerima komentar guru atas pekerjaan mereka sebelumnya. Selanjutnya
orang dapat meneliti hubungan antara kedua variabel itu, yaitu komentar guru
dan prestasi siswa.
3. Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
Hipotesis merupakan tujuan khusus. Dengan demikian hipotesis juga
menentukan sifat-sifat data yang diperlukan guna menguji pernyataan
tersebut. Secara sangat sederhana, hipotesis menunjukkan kepada peneliti apa
yang harus dilakukan. Fakta-fakta yang harus dipilih dan diamati adalah fakta
yang ada hubungannya dengan pertanyaan tertentu. Hipotesislah yang
menentukan relevansi fakta-fakta itu. Hipotesis dapat memberikan dasar bagi
pemilihan sampel serta prosedur penelitian yang harus dipakai. Hipotesis juga
dapat menunjukkan analisis statistik yang diperlukan agar ruang lingkup studi
tersebut tetap terbatas, dengan mencegahnya menjadi terlalu sarat.
4. Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan
Hipotesis akan sangat memudahkan peneliti kalau ia mengambil setiap
hipotesis secara terpisah dan menyatakan kesimpulan yang relevan dengan
hipotesis itu. Artinya, peneliti dapat menyusun bagian
laporan tertulis ini di seputar jawaban-jawaban terhadap hipotesi semula,
sehingga membuat penyajian itu lebih berarti dan mudah dibaca.

4. Jenis-jenis Hipotesis
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian:
1. Hipotesis kerja atau alternatif, disingkat H1 atau Ha.
Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y,
atau adanya perbedaan antara dua kelompok.
Rumusan hipotesis kerja:
a. Jika... maka...

13
b. Ada perbedaan antara... dan... dalam...
c. Ada pengaruh... terhadap...
2. Hipotesis nol (null hypotheses) atau hipotesis statistik disingkat Ho.
Hipotesis ini menyatakan tidak ada perbedaan antara dua variabel, atau
tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
Dengan kata lain, selisih variabel pertama dengan variabel kedua adalah
nol atau nihil.
Hipotesis nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya
dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan
perhitungan statistik.Rumusan hipotesis nol:
a. Tidak ada perbedaan antara... dengan... dalam...
b. Tidak ada pengaruh... terhadap...
Dalam pembuktian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi Ho, agar
peneliti tidak mempunyai prasangka. Jadi, peneliti diharapkan jujur, tidak
terpengaruh pernyataan Ha. Kemudian dikembangkan lagi ke Ha pada rumusan
akhir pengetesan hipotesis.

5. Karakteristik Hipotesis yang Baik


a. Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan
keadaan variabel pada berbagai sampel dan dugaan tentang hubungan
antara dua variabel atau lebih. (pada umumnya hipotesis deskriptif tidak
dirumuskan)
b. Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan
berbagai penafsiran
c. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.

6. Rumusan Hipotesis
Beberapa hal yang harus diperhatikan peneliti dalam merumuskan hipotesis
(Suryabrata, 2012), yaitu :
a. Hipotesis harus menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih
(dalam satu rumusan hipotesis minimal terdapat dua variabel).
b. Hipotesis hendaknya dinyatakan secara deklaratif (kalimat pernyataan).
c. Hipotesis hendaknya dirumuskan dengan jelas.
d. Hipotesis harus dapat diuji kebenarannya.

14
7. Tahap Pembentukan Hipotesis
Tahap pembentukan hipotesis pada umumnya sebagai berikut:
1. Penentuan masalah.
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yangbiasanya
timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihattidak atau tidak
dapat diterangkanberdasarkan hukumatau teori atau dalil-dalil ilmu yang
sudahdiketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan
sadardengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiahtersebut,
penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
2. Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua
kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesis
preliminer, pengamatan tidak akan terarah. bFaktayang terkumpul mungkin
tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak
relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara
eksplisit, dalampenelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis
keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya
digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya
dilaksanakan.
3. Pengumpulan fakta.
Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu
hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis preliminer yang
perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
4. Formulasi hipotesis.
Pembentukan hipotesis dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak
dapat berkata apa-apa tentang hal ini hipotesis diciptakan saat terdapat
hubungan tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai contoh
sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesis,
diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika newton tidur di
bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika
itu pula dilihat hipotesisnya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.

15
5. Pengujian hipotesis
Artinya, mencocokkan hipotesis dengan keadaan yang dapat diamati, dalam
istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran). Apabila hipotesis
terbukti cocok dengan fakta maka disebutkonfirmasi. Falsifikasi(penyalahan)
terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesis tidak sesuai
dengan hipotesis. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesis
tidakterbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration).
Hipotesis yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat
disebut teori.
6. Aplikasi/penerapan.
Apabila hipotesis itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam
istilah ilmiah disebutprediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan
fakta. Kemudian harus dapatdiverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arikuto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT


Rineka Cipta.
Creswell (2016).Research Design (edisi 4). Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Furchan, A., (2004).Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Margono, (2004).Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Nazir, (2005).Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Koentjaraningrat, (1986).Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT
Gramedia.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D). Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, S. (2012). Metode Penelitian. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.
Sumanto, W. (1995).Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Aplikasi
Metode Kuantitatif dan statistik dalam Penelitian. Yogyakarta:Andi
Offset.

17