Anda di halaman 1dari 12

kebijakan publik islam

Friday, 15 January 2016

Kebijakan publik Islam merupakan bagian dari ekonomi makro yang bertujuan
untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat (fallah). Peningkatan kesejahteraan
masyarakat mencakup perlindungan keimanan (dien), jiwa (nafs), akal (aqal), keturunan
(nasl), dan kekayaan (maal). Perlindungan kelima hal tersebut menjamin kepentingan
sosial. Dalam konsep Islam, pemenuhan kepentingan sosial merupakan tanggung jawab
pemerintah. Pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam menyediakan, memelihara,
dan mengoperasikan public utilities untuk menjamin terpenuhinya kepentingan sosial.[1]

Sektor publik merupakan hal yang sangat penting. Pentingnya sektor publik tersebut
dapat dilihat dari beberapa kriteria. Kriteria pertama yaitu komposisi output pengeluaran
publik harus sesuai dengan keinginan konsumen. Kriteria kedua yaitu adanya preferensi
pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Selanjutnya kriteria yang ketiga yaitu tidak
menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar, karena mekanisme pasar tidak dapat
menjalankan semua fungsi ekonomi. Dengan demikian karakteristik kebijakan publik
memiliki sifat mengarahkan, mengoreksi, dan melengkapi peranan mekanisme pasar.
Secara lebih terperinci karakteristik-karakteristik tersebut dijelaskan sebagai berikut:[2]

1. Untuk mencapai esiensi pasar. Suatu kondisi dimana produksi barang sama dengan
keinginan pasar. Kondisi ini mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai
pasar, baik bagi produsen maupun konsumen dan peraturan pemerintah yang
diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi tersebut.
2. Peraturan pemerintah. Hal ini diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang
terjadi apabila terdapat kondisi persaingan yang tidak esien.

3. Pertukaran barang dan jasa tertentu. Dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari
pemerintah untuk melindungi pelaku pasar.

4. Timbulnya masalah eksternalitas yang perlu dipecahkan oleh pemerintah melalui


anggaran, subsidi, dan pajak.

5. Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk distribusi
pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar.
6. Untuk menjamin kesempatan kerja, stabilitas harga, dan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan publik yang dianut suatu negara tentu tidak terlepas dari peranan negara
itu sendiri dalam mengelolanya. Dalam Islam, peranan negara merupakan bagian yang
sangat penting. Tujuan dari negara Islam adalah mewujudkan maslahah kepada seluruh
masyarakat tanpa terkecuali. Dengan demikian, pemerintahan negara Islam harus
mengimplementasikan orientasi material dan spiritual sehingga negara akan mampu
berbuat adil terhadap seluruh anggota masyarakat. Secara umum fungsi negara dalam
sektor publik terbagi menjadi tiga yaitu fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi.[3]

Kebijakan Fiskal
Kebijakan skal merupakan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam
rangka mendapatkan dan membelanjakan dana untuk melaksanakan pembangunan atau
dengan kata lain kebijakan skal ini berkaitan dengan strategi penerimaan dan
pengeluaran keuangan negara. [4] Kebijakan skal bertujuan untuk mengarahkan kondisi
perekonomian suatu negara menjadi lebih baik dimana menekankan pada pengaturan
pada pendapatan dan belanja negara.
Dalam skal ekonomi islam, kebijaksanaan skal merupakan salah satu perangkat
untuk mencapai tujuan syariah yang di jelaskan oleh Imam Al-Ghazali,
termasuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap menjaga keimanan,
kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan. Jadi, bukan hanya untuk
mencapai keberlangsungan (pembagian) ekonomi untuk masyarakat yang paling
besar jumlahnya, tapi juga membantu meningkatkan spiritual dan menyebarkan pesan
dan ajaran islam seluas mungkin.Beberapa hal penting dalam ekonomi islam yang
berimplikasi bagi penentuan kebijakan skal adalah sebagai berikut:
1. Mengabaikan keadaan ekonomi dalam ekonomi islam, pemerintah muslim harus menjamin
bahwa zakat dikumpulkan dari orang-orang muslim yang memiliki harta melebihi nisab dan
yang digunakan untuk maksud yang dikhususkan dalam kitab suci Al-Quran.
2. Tingkat bunga tidak berperan dalam system ekonomi islam.
3. Ketika semua pinjaman dalam islam adalah bebas bunga, pengeluaran pemerintah akan
dibiayai dari pengumpulan pajak atau dari bagi hasil.
4. Ekonomi islam diupayakan untuk membantu ekonomi masyarakat muslim terbelakang
danmenyebarkan pesan-pesan ajaran islam.
5. Negara Islam adalah Negara yang sejahtera, kesejahteraan meliputi aspek material dan
spiritual.
6. Pada saat perang, islam berharap orang-orang itu memberikan tidak hanya kehidupannya, tapi
juga hartanya untuk menjaga agama.
7. Hak perpajakan dalam islam tidak tak terbatas.[5]

Dalam keuangan, negara ada perbedaan antara penerimaan dan pendapatan negara.
Penerimaan negara adalah uang yang masuk ke kas negara yakni segala bentuk setoran
yang diterima dan masuk ke rekening kas negara sedangkan pendapatan negara adalah
hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih, artinya semua
penerimaan negara menjadi hak pemerintah pusat yang berkaitan dengan pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi kantor kementerian negara. Kali ini yang akan dibahas mengenai
penerimaan negara. Sistem penerimaan negara adalah serangkaian prosedur mulai dari
penerimaan, penyetoran, pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai
pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara.[6] Sumber penerimaan negara
pada kebijakan skal yang diterapkan oleh negara-negara umum adalah :

1. Pajak, yaitu pembayaran iuran oleh rakyat kepada pemerintah dengan tanpa balas jasa
yang langsung dapat ditunjuk.

2. Retribusi, yaitu suatu pemabyaran dari rakyat kepada pemerintah di mana kita dapat
melihat adanya hubungan antara balas jasa langsung diterima dengan adanya
pemabayaran tersebut.

3. Keuntungan dari perusahaan-perusahaan negara, yaitu penerimaan yang berasal dari


hasil penjualan barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan negara.

4. Denda-denda dan permpasan yang dilakukan pemerintah.

5. Sumbangan masyarakat untuk jasa yang diberikan oleh pemerintah, seperti


pembayaran biaya perizinan, atau pungutan lainnya.

6. Percetakan uang, merupakan kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah dan tudak
dimiliki oleh para individu dalam masyarakat.

7. Pinjaman negara

8. Sumber daya alam.

Selanjutnya pada keuangan Islam, kebijakan skal harus disesuaikan dengan


sasaran yang harus di capai oleh pemerintah islam. Ada perbedaan tujuan antara kegiatan
ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam. Tujuan ekonomi konvensional lebih bersifat
material dan tidak mempertimbangkan aspek immaterial. Sedangkan ekonomi Islam
memiliki tujuan yang sangat komprehensif tentang aspek-aspek material dan spiritual
untuk kehidupan di dunia dan di akhirat. Pada awal pemerintahan negara Islam, keuangan
publik Islam dan kebijakan skal belum banyak berperan dalam kegiatan ekonomi karena
pada saat itu, sitem penerimaan negara belum ada dan pendapatan pemerintah hanya dari
sumbangan publik. Dalam Islam juga terdapat sejumlah alternatif sumber penerimaan
negara yang dapat diambil. Salah satu sumber penerimaan utama dalam Islam adalah
zakat. Namun pengalokasiannya terbatas hanya delapan asnaf. Adapun seumber
penerimaan lainnya dipenuhi dari sumber penerimaan negara dari nonzakat.

Instrumen Kebijakan Fiskal Islam


Penerimaan Negara
Ibn Taimiyyah secara umum membagi instrumen penerimaan skal Islam menjadi
tiga bagian, yaitu[7]:

1. Ghanimah
Ghanimah adalah pendapatan negara yang didapatkan dari kaum non-muslim yang
merupakan hasil kemenangan perang.[8] Pendapatan ini tidak rutin atau bersifat
musiman, sehingga ghanimah digolongkan sebagai pemasukan yang tidak tetap bagi
negara. Dalam Al-Quran disebutkan tiga hal utama yang menjadi kekayaan publik dalam
Islam dimana diantaranya adalah ghanimah. Allah swt. berrman dalam Surah Al-Anfal
ayat 41 yang artinya:
Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang,
Maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-
orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami
turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua
pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dengan berpatokan pada ayat diatas, Ibn Taimiyyah berpendapat bahwa penentuan
ghanimah dapat dibagi menjadi sebagai berikut:
a. Seperlima ditujukan bagi kelompok-kelompok yang disebutkan dalam surah Al-Anfal:
41 yaitu untuk kepentingan Rasul dan sanak kerabatnya, anak yatim, orang miskin dan
ibn sabil.
b. Sisanya dibagikan di antara anggota pasukan yang turut berperang.
c. Untuk harta ghanimah yang berupa harta bergerak, dibagi menjadi lima bagian. Empat
bagian pertama dibagikan secara merata untuk mereka yang ikut berperang, baik yang
ikut terjun langsung dalam perang maupun tidak. Setelah dibagikan keada para
pasukan, sisanya yaitu seperlima dibagikan untuk negara.

2. Zakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi salah satu pilar dalam
membangun perekonomian umat. Zakat merupakan salah satu ciri sistem ekonomi Islam
karena merupakan implementasi asas keadilan dalam sistem ekonomi Islam. Menurut M.A
Mannan, zakat mempunyai enam prinsip:[9]
a. Prinsip keyakinan keagamaan, yaitu bahwa orang yang membayar zakat merupakan
salah satu manifestasi dari keyakinan agamanya.
b. Prinsip pemerataan dan keadilan, yaitu membagi kekayaan yang diberikan Allah swt.
lebih merata dan adil kepada manusia.
c. Prinsip produktivitas, yaitu menekankan bahwa zakat memang harus dibayar karena
milik tertentu telah menghasilkan produk tertentu setelah melewati jangka waktu
tertentu.
d. Prinsip nalar, sangat rasional bahwa zakat harta yang menghasilkan itu harus
dikeluarkan.
e. Prinsip kebebasan, zakat hanya dibayar oleh orang yang bebas.
f. Prinsip etika dan kewajaran, yaitu zakat tidak dipungut secara semena-mena.

Zakat diwajibkan bagi kaum muslimin yang telah memiliki harta satu nisab. Zakat
telah diatur sedemikian rupa sehingga sangat jelas siapa subjek zakat, apa yang menjadi
objek zakat, siapa saja yang berhak menerima zakat dan kapan zakat harus dikeluarkan
serta juga telah jelas aturan pelaksanaannya. Dalam surah At-Taubah ayat 60 dijelaskan
bahwa pengalokasian zakat ditujukan untuk delapan asnaf yaitu fakir, miskin, amil,
mualaf, hamba sahaya, yatim piatu, sabilillah, dan ibnu sabil. Dalam perkembangannya
dalam mengatur penerimaan zakat agar dapat terkelola dengan baik maka muncul
pelembagaan zakat. Dengan pelembagaan ini, zakat dapat dikelola secara lebih
terorganisir dan lebih produktif dengan tanggung jawab yang lebih baik.
Zakat merupakan konsep ajaran Islam yang mengandung nilai perbaikan ekonomi
umat dalam memerangi kemiskinan. Kemiskinan sering diartikan sebagai
ketidakmampuan dalam mendapatkan penghasilan yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan pokok. Sejak berakhirnya perang Dunia II, negara non-muslim telah mengalami
perubahan yang diawali dengan reformasi institusi, pemerintahan yang bersih,
pembangunan berkapasitas besar, investasi modal serta partisipasi dan kemerdekaan
rakyatnya. Namun, kebanyakan negara Muslim tidak ikut mengalami perubahan tersebut,
sehingga menjadikan negara Muslim menderita karena keterbelakangan ekonomi,
kekurangan pengetahuan, tingkat kemiskinan dan penderitaan yang amat parah. Dalam
pandangan Islam, sebenarnya kemiskinan bermula dari kegagalan kaum Muslim dalam
mengelola sumber penghasilan. Islam tidak menyukai kemiskinan dan sangat mendorong
umatnya untuk bekerja keras dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Dari hal inilah
Islam telah membentuk mekanisme support sosial untuk mengatasi masalah kemiskinan
yaitu dengan mendorong setiap Muslim agar menolong saudaranya yang membutuhkan.
Dalam harta setiap Muslim terdapat hak orang miskin yang harus dipenuhi. Oleh karena
itu, Islam mensyariatkan zakat dan amal sosial lainnya. Dengan berfungsinya pelaksanaan
zakat tersebut diharapkan dapat terwujud pemerataan distribusi pendatan sehingga
kebutuhan dasar orang-orang miskin dapat terpenuhi.

Pada masa awal Islam, zakat merupakan salah satu sumber pendapatan negara dan
berperan dalam memberdayakan serta membangun kesejahteraan umat terutama dalam
bidang ekonomi. Oleh karena itu setidaknya ada tiga aspek yang terkait dengan
pelaksanaan kewajiban zakat. Pertama aspek moral dan psikologis, dalam hal ini zakat
diharapkan dapat mengikis habis ketamakan dan keserakahan orang-orang kaya yang
memiliki kecenderungan cinta harta. Kedua aspek sosial, dalam hal ini zakat bertindak
sebagai alat khas yang diberikan Islam untuk menghapus taraf kemiskinan masyarakat
dan sekaligus menyadarkan orang-orang kaya akan tanggung jawab sosial yang
dibebankan agama kepada mereka. Ketiga aspek ekonomi, dalam hal ini zakat difungsikan
untuk mencegah penumpukan harta pada sebagian kecil orang dan mempersempit
kesenjangan ekonomi dalam masyarakat.[10]

Dalam konteks kebijakan skal, zakat mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan
sumber pendapatan negara lainnya. Zakat merupakan komponen utama dalam sistem
keuangan publik dan kebijakan skal utama dalam ekonomi Islam. Zakat merupakan
ketentuan wajib dalam sistem ekonomi sehingga pelaksanaannya dilakukan melalui
institusi resmi negara yang memiliki ketentuan hukum seghingga pengumpulan,
pengelolaan, dan pendistribusiannya dapat terarah.
3. Fai
Fai merupakan harta yang diperoleh dari rampasan orang-orang non-muslim tanpa
melalui adanya peperangan. Penggunaan fai secara umum telah diatur oleh Rasulullah
yaitu sebagai harta negara dan dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan
masyarakat umum. Menurut Ibn Taimiyah, alokasi dari pembagian fai dapat berbeda-
beda dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain, tergantung kepada kebijaksanaan
masing-masing kepala negara dengan memperhatikan kondisi sosial yang melingkupinya.
Ibn Taimiyah menggolongkan seluruh penerimaan negara selain ghanimah dan zakat
sebagai fai. Berikut merupakan jenis penerimaan negara yang dikategorikan sebagai fai:
[11]
a. Jizyah
Jizyah merupakan pajak yang dibebankan kepada kaum non-muslim sebagai imbalan
untuk jaminan kehidupan yang diberikan oleh negara Islam. Jizyah dipungut oleh
negara dari warga non-muslim yang membuat perjanjian dengan pemerintah sebagai
wujud loyalitas mereka kepada pemerintahan Islam, konsekuensi dari perlindungan,
jaminan keamanan jiwa dan harta, fasilitas ekonomi, sosial yang diberikan
pemerintahan Islam kepada mereka, dan sebagai kompensasi dibebaskan dari
kewajiban ikut perang.[12] Dalam surah At-Taubah ayat 29 Allah berrman yang
artinya:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari
Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-
Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang)
yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh
sedang mereka dalam keadaan tunduk.

Al-Quran tidak menetapkan jumlah yang baku mengenai penarikan jizyah. Sementara
itu as-Sunnah menyebutkan berbagai besaran yang bervariasi. Pada prinsipnya,
besarnya pungutan didasarkan pada kemampuan untuk membayar atau tidak
memberatkan bagi wajib pajak (ahl al-dzimmah). Salah satu wujud penerapan prinsip
tersebut adalah bahwa anak-anak dan wanita tidak diwajibkan membayar jizyah.[13]
Pada masa Rasulullah besarnya jizyah yang dipungut adalah satu dinar/tahun untuk
laki-laki dewasa yang mampu. Pada masa Umar bin Khattab, daerah kekuasaan Islam
semakin luas dan di berbagai wilayah tersebut banyak kaum Nasrani dan kar dzimmy
yang belum masuk Islam, sementara mereka wajib membayar jizyah, maka khalifah
Umar bin Khattab membuat sistem dan aturan baru tentang jizyah. Hal ini bertujuan
untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh warga negara. Umar menetapkan tarif jizyah
bervariasi tergantung kondisi ekonomi dan kemampuan para wajib jizyah tersebut.
Adapun rate of jizyah per tahun yang diterapkan pada masa Umar adalah sebagai
berikut:[14]
Bagi warga non-muslim yang kaya dipungut jizyah sebesar 48 dirham.
Bagi warga non-muslim ekonomi menengah sebesar 24 dirham.
Bagi petani, buruh, rakyat miskin dipungut jizyah sebesar 12 dirham.
Dalam pemungutan jizyah Umar memberikan kelonggaran dan keringanan bagi warga
negara yang miskin yang tidak mempunyai pekerjaan dan keahlian, penjaga kuil, para
pendeta yang hanya menetap di tempat, laki-laki yang tidak mampu bekerja dan tidak
memiliki harta serta orang yang hilang ingatan. Jizyah merupakan bentuk dari dakwah
islamiah dalam rangka mengajak umat non-muslim masuk Islam secara persuasif, bila
mereka masuk militer mereka dibebaskan dari kewajiban jizyah, dan kewajiban jizyah
berakhir bagi mereka yang masuk Islam. Hal ini berdasarkan hadits Nabi:
Tidak ada kewajiban membayar jizyah bagi orang yang telah masuk Islam.

b. Kharaj
Kharaj merupakan pajak yang dibebankan kepada tanah-tanah yang ditaklukkan oleh
kaum Muslim yang dibiarkan tetap dimiliki oleh pemilik sebelumnya atau secara
singkat dapat dikatakan kharaj adalah pajak negara yang diambil dari pemilik tanah.
Dalam ekonomi konvensional kharaj ini dikenal dengan Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB).
Pemungutan kharaj terhadap setiap lahan pertanian tidak sama karena jumlah pajak
setiap lahan ditentukan kualitas tanah dan kemampuan dalam menanggung pajak.
Pemungutan kharaj pada masa Rasulullah bersifat tidak tetap tergantung pada jenis
tanaman dan tingkat kesuburan tanah. Rasul memungut pajak kebun anggur dan
kebun kurma jumlahnya lebih besar dari lahan gandum. Pada masa Umar pun
pemungutan kharaj didasarkan pada tingkat kesuburan tanah, lokasi, dan lingkungan
tempat tanah itu berada. Dengan demikian ada tiga faktor yang diperhatikan dalam
pemungutan kharaj, yaitu:[15]
Karakteristik kesuburan tanah. Tanah yang subur akan dapat menghasilkan tanaman yang
baik dan dengan jumlah yang besar, sebaliknya tanah yang tidak subur sulit untuk diolah
dan menghasilkan tanaman yang baik.
Karakteristik jenis tanaman yang dihasilkan baik dari segi jumlah yang dihasilkan

maupun dari segi kualitas tanamannya. Hal ini berkaitan erat dengan mutu dan daya jual
tanaman yang dihasilkan.
Karakteristik jenis pengairan. Pengairan ini terbagi atas empat kategori, yaitu tanah yang
diairi oleh sungai maupun mata air, tanah yang diairi tenaga manusia maupun hewan,
tanah yang diairi oleh air hujan dan tanah yang tidak mebutuhkan pengairan dan
kesuburannya didapatkan secara alamiah. Untuk setiap kategori pengairan tersebut akan
berbeda beban kharajnya. Abu Yusuf berpendapat bahwa sistem irigasilah yang paling
utama untuk diperhatikan dalam menetapkan tarif kharaj sedangkan faktor kualitas tanah
dan jenis tanaman merupakan faktor terakhir.
Dalam melakukan pemungutan kharaj bisa dilakukan dengan dua cara yaitu kharaj
muqassimah (perbandingan) dan kharaj wazhifah (tetap).[16] Kharaj muqassimah
dilakukan berdasarkan hasil tanah misalnya seperdua atau sepertiga dari hasil
tanaman yang dipungut pada setiap kali panen. Sedangkan kharaj wazhifah yaitu
beban khusus yang diberikan pada lahan pertanian sebanyak hasil panen atau
persatuan lahan yang kewajibannya dikenakan setelah lewat satu tahun.
c. Ushr
Ushr merupakan pajak yang harus dibayar oleh para pedagang muslim maupun
non-muslim atau dikenal dengan bea cukai. Ushr merupakan salah satu sumber
pendapatan negara. Pada awalnya ushr ini hanya diterapkan bagi pedagang non-
muslim yang melakukan perdagangan di negara Islam tetapi pada perkembangannya
ushr ini juga turut diterapkan bagi pedagang muslim. Dalam pemungutan ushr ini,
Umar bin Khattab selalu mempertimbangkan dua hal yaitu barang-barang yang
dikenakan bea cukai hanya barang-barang perdagangan dan nilai barang tersebut telah
mencapai 200 dirham. Dengan kata lain barang kebutuhan pokok tidak dikenakan ushr.
Abu Yusuf dalam kitab kharajnya menjelaskan mengenai ketentuan-ketentuan ushr:[17]
Barang-barang wajib pajak adalah yang dimaksudkan sebagai komoditas
perdagangan.
Bila pedagang adalah seorang Muslim, maka besarnya pajak adalah 2,5 persen
(pajak dihitung berdasarkan jumlah total komoditas).
Bila pedagang adalah seorang dzimmy, besarnya pajak adalah 5 persen.
Bila pedagang adalah orang asing, besarnya pajak adalah 10 persen.
Pajak boleh dibayarkan dalam bentuk uang cash maupun barang.
Batas minimal barang wajib pajak adalah sama dengan ketentuan nishab dalam
zakat, yaitu senilai dengan 200 dirham.
Bila pedagang tinggal selama lebih dari satu tahun, maka komoditasnya akan
dikenakan pajak lagi.
Pedagang Muslim dan dzimmy hanya dikenakan sekali pajak untuk komoditas
yang sama.
Bila pedagang asing telah pulang ke negaranya dan kemudian kembali lagi, maka
dikenakan pajak lagi.
Bukti pembayaran pajak harus menyebutkan jumlah pajak yang dibayarkan, nilai
barang kena pajak, dan tanggal.
Pajak dikenakan untuk perdagangan antar propinsi di negara Islam.
Besar kecilnya beban pajak mempertimbangkan kebijakan yang berlaku di negara
lain.
Barang-barang yang dinilai hanya sedikit dibebaskan dari pajak atau dibebani
pajak dengan pertimbangan lain.
Dari ketentuan-ketentuan diatas, dapat diketahui bahwa salah satu faktor penentu
tingkat pajak adalah status para pedagang yakni status kewarganegaraan dan
agamanya.

d. Denda
Denda merupakan bagian dalam peningkatan kedisiplinan. Denda dimaksudkan
sebagai upaya preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran. Ibn Taimiyah
berpendapat bahwa denda ditujukan untuk mengurangi kejahatan bukan untuk
menambah pemasukan negara. Artinya, denda tidak masuk dalam primary scal policy
sehingga tidak menjadi bagian utama yang diperhitungkan dalam kebijakan
penerimaan negara. Hal itu karena apabila denda digunakan untuk meningkatkan
anggaran maka dikhawatirkan justru akan menaikkan tingkat kejahatan. Denda ini
lebih dekat kepada denda yang tujuan utamanya adalah sebagai punishment.

e. Sumber pendapatan lain


Pendapatan lain yang dijadikan sumber penerimaan negara adalah upeti yang
dibayar oleh musuh, harta benda atau simpanan atau barang rampasan yang pemilik
sebenarnya tidak diketahui lagi, dan karena itu tidak bisa dikembalikan dan harta
benda pewaris yang tidak memiliki ahli waris.

Selain dari yang dijelaskan oleh Ibn Taimiyah di atas, sumber penerimaan negara
dapat berupa:

a. Rikazh

Rikazh dan barang tambang, rikaz adalah harta terpendam di dalam perut bumi, baik
berupa emas, perak, mutiara dan permata lainnya berupa perhiasan atau senjata. Harta
ini wajib diambil seperlimanya (1/5 bagian/khums) untuk dimasukkan ke baitulmal.
Adapun 4/5 bagiannya dikembalikan ke pemiliknya.

b. Harta yang tidak ada pewarisnya

Harta yang tidak ada pewarisnya, setiap harta bergerak ataupun tidak bergerak dan
pemiliknya telah meninggal dan tidak ada ahli warisnya berdasarkan hukum faraid,
maka harta tersebut dimasukkan ke dalam baitulmal.
c. Wakaf

Wakaf, adalah menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya tanpa menghabiskan
atau merusakkan benda lainnya dan digunakan kebaikannya. Benda wakaf tidak dapat
dimiliki secara pribadi atau perorangan, benda wakaf adalah milik Allah SWT dan
dibahasakan sebagai milik umum dengan tujuan yang spesik. Wakaf bersifat terus-
menerus dan abadi.

d. Nawaib, Amwal Fadhla, Infak, dan sedekah

Nawaib merupakan pajak yang dibebankan kepada orang kaya muslim dikarenakan
negara kekurangan dana akibat perang yang panjang dan menghabiskan kas negara.
Amwal Fadhla berasal dari harta benda kaum muslim yang meninggala tanpa ahli
waris, atau berasal dari barang-barang seorang muslim yang meninggalkan negerinya.
Infak sedekah merupakan pemberian sukarela dari rakyat demi kepentingan umat
untuk mengharapkan ridha Allah SWT semata. Oleh negara dapat dimanfaatkan untuk
melancarkan proyek pembangunan negara

Sementara itu, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, beliau membagi
penerimaan negara menjadi penerimaan periodik dan non periodik sebagai berikut:
Penerimaan periodik adalah penerimaan yang berlangsung terus menerus dalam
periode tertentu, dan non periodik penerimaan pada waktu tertentu saja.

Pengeluaran Negara
Setiap pos pemasukan dalam baitul mal mempunyai mekanime masing-masing
untuk dikeluarkan atau dibelanjakan oleh negara. Pos penerimaan baitul mal dari bagian
fai dan kharaj harus dikeluarkan negara untuk pos pengeluaran dar al-khilafah, mashalih
ad-Daulah, santunan, jihad, urusan darurat/bencana alam (ath-thawaari), dan anggaran
belanja negara (al-Muwazanah al-Ammah), pengendali umum (al-Muhasabah al-Ammah),
dan badan pengawas (al-Muraqabah). Kemudian pos penerimaan dari bagian pemilikan
umum dan urusan darurat/bencana alam. Adapun pos penerimaan dari bagian sedekah
harus dikeluarkan hanya untuk penyimpanan harta zakat dan jihad.[18] Pengeluaran
negara dilakukan berdasarkan peringkat prioritas mulai dari primer, sekunder, dan
seterusnya demi kepentingan (maslahah) kaum muslim secara umum. Menurut Ibn
Taimiyah target-target alokasi pendistribusian keuangan publik antara lain:[19]
Biaya pertahanan dan keamanan
Gaji pembesar, pegawai negara, dan pelaksana tugas yudisial dan keagamaan
Pembangunan sarana dan fasilitas umum seperti benteng, jalan, jembatan dan
pelabuhan.
Pembangunan sarana dan fasilitas penunjang pendidikan.

[1] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 1.
[2] Ibid, hlm. 4.
[3] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 53.
[4] Minarni, Falsikasi Kebijakan Fiskal di Indonesia Perspektif Islam; Menemukan
Relevansi Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Keuangan Publik sebagai Potret Khazanah
Kebijakan Fiskal Periode Klasik Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015), hlm. 21.
[5] https://makro4d.wordpress.com/2012/05/18/kebijakan-skal-menurut-konsep-ekonomi-islam-2/,
Diakses pada tanggal 9 Januari 2016 pukul 19.46 WIB.
[6] PMK No.99/PMK.06/2006 tentang MPN pasal 1 ayat 1
[7] Ibid, hlm. 26.

Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah (Jakarta:
[8] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 137.
[9] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 89.
[10] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 111.
[11] Minarni, Falsikasi Kebijakan Fiskal di Indonesia Perspektif Islam; Menemukan
Relevansi Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Keuangan Publik sebagai Potret Khazanah
Kebijakan Fiskal Periode Klasik Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015), hlm. 33.
[12] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 138.
[13] Minarni, Falsikasi Kebijakan Fiskal di Indonesia Perspektif Islam; Menemukan
Relevansi Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Keuangan Publik sebagai Potret Khazanah
Kebijakan Fiskal Periode Klasik Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015), hlm. 34.
[14] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 139.
[15] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 130
[16] Ibid, hlm. 131.
[17] Minarni, Falsikasi Kebijakan Fiskal di Indonesia Perspektif Islam; Menemukan
Relevansi Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Keuangan Publik sebagai Potret Khazanah
Kebijakan Fiskal Periode Klasik Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015), hlm. 37.
[18] Nurul Huda dkk., Keuangan Publik Islami Pendekatan Teoritis dan Sejarah
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 223.
[19] Minarni, Falsikasi Kebijakan Fiskal di Indonesia Perspektif Islam; Menemukan
Relevansi Pemikiran Ibnu Taimiyah Tentang Keuangan Publik sebagai Potret Khazanah
Kebijakan Fiskal Periode Klasik Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2015), hlm. 80.

diani lestari at 06:13

Share

No comments:

Post a Comment

Home

View web version

About Me

diani lestari
Follow 1

View my complete prole


Powered by Blogger.