Anda di halaman 1dari 5

DRAFT PENELITIAN

Judul Penelitian : Studi Fenomenologi Pengalaman Perawat Dalam Memberikan RJP


(Resusitasi Jantung Paru) Pada Pasien Henti Jantung Di Ruang IGD
RS Wahidin Sudirohusodo Makassar
Identitas Peneliti : A. Fatimah

1. LATAR BELAKANG

Menurut World Health Organization (WHO), rumah sakit merupakan suatu

bagian yang berkesinambungan antara organisasi sosial dan kesehatan yang bertugas

memberikan pelayanan yang paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit

(kuratif) serta pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga

merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik.

Berdasarkan Permenkes No. 147 tahun 2010 mendefinisikan rumah sakit adalah suatu

badan pelayanan yang memberikan pelayanan berupa pelayanan kesehatan perorangan

secara paripurna yang memberikan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat

darurat. Salah satu instalasi di rumah sakit yang memberikan pelayanan adalah

Instalasi Gawat Darurat (IGD).

IGD merupakan gerbang utama jalan masuknya pasien gawat darurat sehingga

di IGD perawat harus memiliki kemampuan untuk mengatasi klien gawat darurat

karena kondisi klien yang datang ke IGD harus segera di berikan pelayanan kesehatan

agar dapat menyelamatkan nyawa klien dan mencegah terjadinya kecacatan pada klien

(Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 tentang rumah sakit, 2009)

Kegawatdaruratan merupakan salah satu masalah dalam dunia kesehatan.

Keadaan ini dapat terjadi pada kecelakaan, konflik, manusia, maupun bencana.

Kedaruratan dapat terjadi kapan saja, dapat menimpa siapa saja,dapat muncul dimana

saja, tidak mengenal waktu, tempat, atau objek. Kondisi kegawatdaruratan diantaranya
adalah serangan jantung. Angka kejadian kasus yang memerlukan resusitasi jantung

paru (RJP) sebagian besar adalah akibat henti jantung mendadak (cardiac arrest).

Jantung, paru, dan otak merupakan organ-organ vital, gangguan atau hilangnya

fungsi dari salah satu organ ini dapat berakibat kematian. Proses kematian pada cardiac

arrest berlangsung dengan mulai berhentinya jantung dan diikuti dengan hilangnya

fungsi sirkulasi yang berakibat pada kematian jaringan (Panacea, 2013).

Basic Life Support (BLS) adalah intervensi awal yang dapat diberikan dalam

penganan pasien henti jantung, dapat dilakukan oleh semua orang dari golongan

ataupun tingkat masyarakat yang sudah memiliki kemampuan dasar dalam melakukan

pemberian basic life support. Pada dasarnya komponen yang sangat erat kaitannya

dengan bantuan hidup dasar adalah tingkat kesadaran dari korban membuka dan

mempertahankan jalan nafas, pemeriksaan fungsi pernapasan, dan pemeriksaan

sirkulasi (Gloe, 2005).

Selama bertahun-tahun gangguan sistem kardiovaskuler menjadi masalah

utama dan menjadi pembunuh nomor satu di Amerika. Miocardium infractions

penyebab utamanya, yang diperkirakan setiap hari orang meninggal dunia, dengan

angka kematian mencapai 200,000 sampai 300,000 setiap tahunnya. Sedangkan

penderita jantung di Indonesia pada tahun 2013 yang lalu diperkirakan mencapai 20

juta atau sekitar 10% dari penduduk di Indonesia (Depkes, 2013).Menurut konsesus

yang dibuat America Heart Association (AHA) pada tahun 2010, kebanyakan kasus

tidak sadar adalah kasus kardiogenik (misalnya: henti jantung) sehingga jika sudah

dapat dipastikan penyebabnya adalah jantung, atau disaksikannya tanda-tanda serangan

jantung (witnessed cardiogenic) maka penanganannya diutamakan kompresi

(circulation), kemudian jalan napas (airway) dan napas (breathing). Namun, jika tanda

serangan jantung tidak disaksikan atau penyebab tidak sadar belum dapat diketahui
secara pasti (notwitnessed) atau sudah pasti bukan jantung (non-kardiogenik) pada

assessment yang dilakukan tetap diutamakan untuk membebaskan jalan nafas.

Data World Health Organization (WHO) juga menyebutkan bahwa serangan

jantung masih menjadi pembunuh manusia nomor satu di negara maju dan berkembang

dengan menyumbang 60% dari seluruh kematian. WHO juga menyebutkan rasio

penderita gagal jantung di dunia satu sampai lima orang setiap 1000 penduduk. Selain

diakibatkan oleh penyakit henti jantung, juga dapat terjadi karena beberapa kecelakaan

contohnya terkena arus listrik, tenggelam, tercekik, tersambar petir dan lain sebagainya

(jurnal keperawatan : 2014). Komunitas Cardiopulmonary resuscitation (CPR),

mencoba pengembangan jutaan penduduk dengan pengembangan kemampuan dasar

untuk mempertahankan hidup dalam menit pertama dari suatu keadaan kritis sampai

petugas professional datang dan menanganinya. Bahkan harus diusahakan dalam

pembuatan percobaan kepada semua orang untuk menjadi anggota kesehatan dalam

bantuan hidup dasar. Program ini bermaksud menangani pasien henti jantung baik di

rumah sakit ataupun di luar rumah sakit (Gloe, 2005).

Oleh sebab itu,pada fase gawat darurat (golden period) untuk korban yang

mengalami henti jantung sangatlah penting baik itu pre ataupun post hospital. Sedini

mungkin kita memberikan pertolongan pertama semakin tinggi pula angka keselamatan

korban tersebut. Untuk memastikan jantung korban tidak berdetak atau tidak,anda dapat

meraba pada arteri karotisnya yang letaknya pada leher.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk

meneliti lebih lanjut mengenai pengalaman perawat dalam memberikan RJP pada

pasien dengan henti jantung di IGD RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar.


2. RUMUSAN MASALAH

Pemberian pelayanan gawat darurat yang bertujuan untuk menurunkan angka

kesakitan dan angka kematian memerlukan kemampuan perawat untuk melakukan RJP.

Di butuhkan perawat yang mampu melakukan RJP dengan baik pada setiap pasien henti

jantung yang datang ke IGD. Peneliti menggali pengalaman dan pemahaman

perawat dalam melaksanakan RJP pada pasien yang datang ke IGD.

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini merumuskan pertanyaan

penelitian sebagai berikut : bagaimana pengalaman perawat dalam memberikan RJP

(Resusitasi Jantung Paru) pada pasien dengan henti jantung di ruang IGD RS Wahidin

Sudirohusodo Makassar.

3. TUJUAN

a. Tujuan umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplotasi pengalaman perawat dalam

memberikan RJP (Resusitasi Jantung Paru) pada pasien dengan henti jantung di

RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar

b. Tujuan khusus

1) Untuk memperoleh gambaran teentang keterampilan tekhnikal perawat

dalam melakukan RJP

2) Untuk memperoleh gambaran tentang kepuasan dan tantangan perawat

dalam melakukan RJP

3) Untuk memperoleh gambaran tentang sarana prasarana dan motivasi

perawat dalam melakukan RJP


4. MANFAAT

a. Untuk dijadikan salah satu konsep dasar yang dapat dikembangkan lebih lanjut

bagi perawat dalam memberikan intervensi keperawatan pada pasien henti

jantung

b. Untuk menjadi salah satu sumber informasi bagi caregiver baik keluarga

ataupun tenaga kesehatan lainnya dalam pemberian intervensi bagi pasien

henti jantung.

c. Untuk menjadi salah satu bahan rujukan bagi peneliti selanjutya

5. METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain kualitatif, yaitu penelitian yang

menggunakan pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pengertian atau

pemahaman tentang fenomena apa yang dialami oleh si peneliti, dengan cara deskripsi.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi yaitu suatu strategi

penelitian yang mana di daamnya peneliti mendefinisi hakikat pengalaman manusia

tentang fenomena tertentu.

6. HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah dilakukan penelitian diharapkan dapat mengeksplotasi penglamn

perawat dalam memberikan RJP pada pasien henti jantung di RSUP Dr Wahidin

Sudirohusodo Makassar.