Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM PENGUKURAN HF

Nomor Percobaan : 04
Judul Percobaan : Distortion Analyzer

Kelas / Group
: TT-5D / 02
Nama Kelompok
: 1. Kurniawan
Finsa Ardianto
(1315030054)

2. Lello Nella Rossa (1315030103)


3. Maulida Widha Azmal (1315030059)
4. Mikha Libert Hasudungan (1315030060)
5. Nadiah Nur Atikah (1315030066)
6. Nisrina Puspita Sari (1315030110)
7. Rahmah Fadillah Septiani (1315030072)
8. Riza Fahlevi (1315030076)
9. Sarah Fadillah (1315030078)
Tanggal Praktikum : 11 Oktober 2017& 18 Oktober 2017
Tgl. Penyerahan Laporan : 25 Oktober 2017
Nilai :
Dosen : Sukma Wibowo
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2017
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL 1
DAFTAR ISI 2
PERCOBAAN 4 3
1. TUJUAN 3
2. DASAR TEORI 3
3. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN 8
4. LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN 8
5. DATA HASIL PERCOBAAN 9
6. ANALISA DAN PEMBAHASAN 16

KESIMPULAN 17
LAMPIRAN 18

2
PERCOBAAN 4
DISTORTION ANALYZER

1. TUJUAN
Tujuan percobaan ini adalah :
Mampu mengoperasikan Distortion Analyzer HP 334 A
Mampu mengukur distorsi dan Amplitudo sinyal menggunakan Distortion Analyzer

2. DASAR TEORI

Distorsi

Penerimaan sinyal dalam suatu sistem komunikasi dapat dirusak oleh adanya
kontaminasi sinyal transmisi. Sinyal ini akan mengakibatkan rusaknya sinyal yang diterima
tidak sesuai dengan yang dikirim. Atau dengan kata lain perubahan yang tak diinginkan
didalam bentuk gelombang yang terjadi diantara dua titik dalam sistem transmisi. Distorsi
adalah sebuah perubahan suara yang terjadi ketika amplitudo sinyal melebihi range yang
tersedia. Hasilnya adalah timbulnya artifact harmonis tambahan seiring bentuk waveform
berubah. Contoh distorsi adalah suara berisik yang dikeluarkan oleh speaker yang rusak.
Distorsi biasanya ingin dihindari, namun untuk beberapa tujuan, distorsi justru diinginkan,
terutama dalam bidang musik. Suara gitar cenderung bersih, menambah efek distorsi
menghasilkan suara yang lebih menarik Penggunaan efek ini tentu saja tidak harus untuk
keperluan musik, untuk game pun, efek ini bisa menghasikan suasana tertentu, misal suara
radio yang agak rusak.

Sinyal Distorsi pada Transmisi

Suatu sinyal yang terkontaminasi distorsi adalah sinyal yang diterima mengalami
kecacatan. Gelombang sinyal akan mengalami distorsi berasal dari sumber transmisi yang
diakibatkan adanya komponen-komponen sinyal yang tidak diharapkan ikut serta diterima
pada pesawat penerima. Distorsi bisa diakibatkan dari adanya cacat amplitudo dan cacat
harmonik Prototipe yang untuk memperbaiki distorsi ini dikenal dengan filter. Terdapat tiga
kalsifikasi distorsi yaitu :

1. Distorsi Frekuensi (Frequency Distortion)


Bertindak sebagai peredam yang selektif terhadap berbagai macam
frekuensi.
Terlihat jelas pada komunikasi voice.

3
Jika frekuensi rendah diredam maka suara akan terdengar lembut.
Jika frekuensi tinggi diredam maka suara kana terdengar keras.
2. Distorsi Phase (Delay Distortion)
Distorsi phase atau lebih dikenal dengan delay distortion merupakan
distorsi yang terjadi akibat kecepatan sinyal yang melalui medium
berbeda-beda sehingga tiba pada penerima dengan waktu yang berbeda.
Tidak begitu berpengaruh pada komunikasi voice tapi merugikan pada
komunikasi data.
3. Distorsi Non Linear (Amplitude Distortion)
Disebabkan oleh ketidaklinearan rangkaian.
Ditandai oleh pemunculan harmonis (timbulnya frekuensi lain yang
besarnya kelipatan dari frekuensi semula) yang memperbanyak frekuensi
pembicaraan yang dikirim.
Bisa muncul sebagai crosstalk, bergantung di mana ketidaklinearan itu
muncul.

Walaupun telah memakai peralatan tambahan, seperti amplifier, repeter dan


switch, medium transmisi itu sendiri merupakan sumber utama dari distorsi, bahan
peralatanperalatan itu yang akan mungkin dapat mengahasilkan distorsi bagi sinyal.
Resonansi dalam medium transmisi dapat menguatkan beberpa bagian sinyal
kompleks.

Distortion Analyzer
Model HP334A Distortion Analyzer dipergunakan untuk mengukur Total
Harmonik Distorsi (THD) hingga dibawah 0.1% dari fundamental frekuensi antara 5
Hz hingga 600 kHz dengan harmonik mencapai frekuensi 3 MHz. HP334A
mempunyai automotik null dan Amplitudo Modulation (AM) detector dari frekuensi
550 KHz hingga 65 MHz.
Selain daripada itu HP334A mampu sebagai Voltmeter (RMS Voltmeter)
dengan range frekuensi 3 Hz hingga 3 MHz dan voltase yang dapat diukur dari 300
uV hingga 300 V.
Aplikasi.
Peralatan ini banyak digunakan untuk menganalisa distorsi daripada :
1. Amplifier
2. Filter
3. Signal Amplitudo Modulation, dll.

5
3 6 8
1 2 4 7

4
Keterangan Panel Depan

1. Power ON switch dan lampu indikator ON pada HP 334A.


2. Meter penunjuk distorsi dan level voltase dari input signal.
3. Switch MODE untuk memilih Manual atau Automatik operasi dari Wien bridge
tuning.
4. FREKUENSI RANGE switch untuk memilih frekuensi range yang sesuai dengan
frekuensi fundamental dari signal input.
5. COARSE BALANCE digunakan sebagai pengatur kasar dari Wien Brigde sirkuit
agar seimbang.
6. FINE BALANCE digunakan sebagai pengatur halus dari Wien Brigde sirkuit agar
seimbang.
7. Pemutar frekuensi untuk men-tuning Wien Bridge ke fundamental frekuensi dari
input signal.
8. Switch HIGH PASS FILTER digunakaan pada saat input signal diatas 1 kHz dan
peralatam disetting pada SET LEVEL dan DISTORTION FUNCTION. Pada saat
filter digunakan (IN) memberikan redaman (attenuation) sebesar 40 dB pada
frekuensi 50 60 Hz, tetapi tidak berpengaruh terhadap frekuensi diatas 1 kHz.

5
10

9 11 12

Keterangan Panel Belakang.

9. Konektor RF INPUT digunakan sebagai terminal input dari AM RF carrier signal.


10. FUSE sebagai peralatam pembatas arus listrik dari instrument.
11. Line Voltage switch sets instrument to operate from 100V/120 V/220 V/240 V.
12. AC Power connector provides input connection for AC Power.

HANDS ON LAB (Praktek) :

Distortion Measurement.

Signal input tidak lebih dari : 300 V diatas 100 Hz.

50 V diatas 1 kHz.

6
1. MANUAL MODE
a. Nyalakan Instrument (1).
b. Atur NORM-R.FDET SIWTCH ke posisi NORM (18).
c. Putar FUNCTION switch ke SET LEVEL (15).
d. Switch MODE (3) ke MANUAL.
e. Apabila input signal lebih besar dari 1 kHz, switch HIGH PASS FILTER di posisi
IN.
f. Putar SENSITIVITY (12) ke posisi MIN dan aturlah VERNIER keposisi
maksimum berlawanan arah jarum jam (CCW).
g. Putar METER RANGE switch ke SET LEVEL dan atur BALANCE COARSE
serta FINE tuning ke posisi tengah.
h. Hubungkan signal input dari Function Generator HP3312A dengan frekuensi 50,
1000, 10000 Hz.
i. Putar SENSITIVITY switch sedemikian sehingga meter penunjuk lebih 1/3 dari
skala maksimum.
j. Atur SENSITIVITY VERNIER untuk maksimum skala pada meter bila
pengukuran distorsi dalam persentase, apabila pengukuran distorsi dalam
prersentase, apabila pengukuran distorsi diinginkan dalam dB atur SENSITIVITY
VENIER sehingga meter penunjuk pada 0 dB.
k. Atur FREKUENSI dial ke fundamental frekuensi signal input.
l. Putar FUFNCTION switch ke posisi DISTORTION.
m. Aturlah FREQUENCY DIAL VERNIER dan BALANCE COARSE serta FINE
sedemikian sehingga penunjukan meter minimum. Turunkan METER RANGE
switch sedemikian hingga meter penunjuk berada ditengah skala meter.
n. Ulangi step m. Hingga diperoleh hasil penunjukkan meter yang terkecil.
o. Hasil pembacaan distorsi didalam prosantase atau dB dapat diukur berdasarkan
penyimpangan penunjuk meter dengan METER RANGE switch. Suatu contoh,
apabila penunjuk meter 0.4 dan METER RANGE sitch pada posisi 1% maka
distorsi adalah sebesar 0.4% dari fundamental signal input. Pada kondisi yang
sama, apabila meter penunjuk -6 dB dan METER RANGE sitch pada posisi -40
dB, maka hasil pengukuran adalah -46 dB dari fundamental signal input.
p. Signal input dapat langsung diukur rms voltage-nya dengan cara merubah switch
FUNCTION keposisi VOLTMETER dan ubah METER RANGE sedemikian
jarum penunjuk terbaca dengan baik.

2. AUTOMATIC MODE
a. Lakukan praktek pengukuran seperti diatas mulai dengan a. Sampai dengan l.
b. Aturlah FREQUENCY DIAL VERNIER dan BALANCE COARSE serta FINE
sehingga penunjukkan meter minimum.

7
c. Pada saat meter menunjukkan 10% dari SET LEVEL, kemudian ubah posisi
MODE ke AUTOMATIC.
d. Putar METER RANGE sedemikian hingga jarum penunjuk terlihat ditengah skala
meter.
e. Hasil pembacaan distorsi didalam presentase atau dB dapat diukur berdasarkan
penyimpangan penunjuk meter dengan METER RANGE switch. Suatu contoh,
apabila penunjuk meter 0.4 dan METER RANGE switch pada posisi 1 % maka
distorsi adalah sebesar 0.4 % dari fundamental signal input. Pada kondisi yang
sama, apabila meter penunjuk -6 dB dan METER RANGE switch pada posisi -40
dB, maka hasil pengukuran adalah -46 dB dari fundamental signal input.
f. Signal input dapat langsung diukur rms voltage-nya dengan cara merubah switch
FUNCTION keposisi VOLTMETER dan ubah METER RANGE sedemikian
jarum penunjuk terbaca dengan baik.

PENGUKURAN DISTORISI DARI AM RF CARRIER

DISTORTION MEASUREMENT
Signal R.F input tidak lebih dari : 40 Vpp AC.
a. Nyalakan instrument (1).
b. Atur NORM-R.F DET SWITCH ke posisi R.F DET (18).
c. Hubungkan signal input ke R.F INPUT (19) terminal yang ada di Panel Belakang.
d. Selanjutnya ikuti prosedur pengukuran seperti DISTORTION MEASUREMENT.

VOLTAGE MEASUREMENT

a. Nyalakan instrument (1).


b. Atur NORM-R.F DET SWITCH ke posisi R.F DET (18).
c. Putar FUNCTION switch ke VOLTMETER (15).
d. Atur METER RANGE pada level diatas dari pada signal input yang akan diukur.
e. Hubungkan signal yang akan diukur ke INPUT terminal.
f. Putar METER RANGE sedemikian hingga penunjuk meter mendekati maksimum
dari skala meter.

NOTE :

Skala dB dari HP 334A terkalibrasi pada dB meter yaitu pada saat 0 dBm = 1 mW dengan
terminasi 600 ohm, dengan demikian disaat melakukan pengukuran perlu dipasang terminasi
600 ohm. Apabila kita menghendaki pengukuran dB dengan terminasi yang lain, maka hasil
pengukuran dapat dikoreksi dengan grafik. Suatu contoh hasil pengukuran adalah -30 dB

8
dengan beban 200 ohm, kita lihat grafik koreksi untuk beban 200 ohm mempunyai koreksi
sebesar +5dBm. Sehingga hasil pengukuran adalah -25 dBm.

3. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN

No. Nama Komponen Jumlah


1 Distortion Analyzer HP 334 A 1
2 Osiloskop 1
3 BNC to Banana Cable 3
4 Function Generator 1

4. LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN

1.1 Rangkaian peralatan seperti gambar diatas.


1.2 Tentukan besarnya distorsi dalam (%) dan (dB) serta amplitudo menggunakan
distortion analyzer dengan teknik MANUAL MODE sesuai dengan tabel yang ada.
1.3 Kemudian isi data percobaan pada tabel hasil percobaan.
1.3 Buat grafik Frekuensi vs Distortion (%) dan (dB) serta berikan penjelasan.

9
5. DATA HASIL PERCOBAAN

1. Bentuk Gelombang : Sinus


A. Contoh Gambar Hasil Percobaan
Gambar 5.1. Contoh gelombang input dan output untuk
percobaan gelombang Sinus untuk 50 Hz

Gambar 5.2. Contoh pembacaan nilai distorsi tegangan


dan persen pada distortion analyzer

B. Tabel Data Hasil Percobaan untuk Gelombang Sinus

Function Generator Distortion Analyzer Osiloskop

Bentuk Distortion Tegangan Tegangan


Amplitudo Frekuensi
Gelombang % dB (mV) rms (mV) rms
1 Vpp 50 Hz 2,5 -28,8 27 29,6
100 Hz 2,8 -28,6 27 29,7

10
500 Hz 2,8 -28,6 27 29,9
1 KHz 2,9 -28,6 27 29,9
100 KHz 2,8 -28,8 27 28,7
500 KHz 2,6 -29,2 25,5 21,3

50 Hz 29,5 -8,6 285 29,9


100 Hz 29,5 -8,6 285 30,2
500 Hz 29,5 -8,6 285 30,3
10 Vpp
1 KHz 30 -8,4 285 30,5
100 KHz 28 -8,8 270 28,9
500 KHz 26,4 -9 280 68,1

C. Gambar Grafik Hasil Percobaan untuk Gelombang Sinus

2. Bentuk

Gelombang : Segitiga

A. Contoh Gambar Hasil Percobaan

11
Gambar 5.3. Contoh gelombang input dan output untuk
percobaan gelombang Segitiga untuk 50 Hz

Gambar 5.4. Contoh pembacaan


nilai distorsi tegangan
dan persen pada distortion
analyzer

B. Tabel Data Hasil


Percobaan untuk Gelombang Segitiga

Function Generator Distortion Analyzer Osiloskop


Bentuk Amplitudo Frekuensi Distortion Tegangan Tegangan
Gelombang
% dB (mV) rms (mV) rms
1 Vpp 50 Hz 1,8 -33 16,5 18,8
100 Hz 1,8 -33 19 16,5

12
500 Hz 1,8 -33 19 19
1 KHz 1,8 -33 16,5 19,2
100 KHz 1,7 -33 16,5 18,1
500 KHz 1,6 -34 15 13,3

50 Hz 19 -12 180 19,1


100 Hz 19 -12 180 19,5
500 Hz 19 -12 180 19,5
10 Vpp
1 KHz 18 -12,5 180 19,9
100 KHz 18 -13 165 18,5
500 KHz 15,6 -13,4 165 42,2

C. Gambar Grafik Hasil Percobaan untuk Gelombang Segitiga

13
3. Bentuk Gelombang : Persegi

A. Contoh Gambar Hasil Percobaan

Gambar 5.5. Contoh gelombang input dan output untuk

percobaan gelombang Persegi untuk 50 Hz

Gambar 5.6. Contoh pembacaan


nilai distorsi, tegangan
dan persen pada distortion
analyzer

B. Tabel Data Hasil Percobaan untuk Gelombang Persegi

Function Generator Distortion Analyzer Osiloskop


Bentuk Amplitudo Frekuensi Distortion Tegangan Tegangan

14
Gelombang % dB (mV) rms (mV) rms
1 Vpp 50 Hz 3,5 -27 33 33
100 Hz 3,5 -27 33 33,1
500 Hz 3,6 -26,9 34,5 33,2
1 KHz 3,6 -26,5 34,5 33,2
100 KHz 3,4 -27,2 33 30,5
500 KHz 3,4 -27,3 31,5 22,6

50 Hz 36 -6,6 330 33,8


100 Hz 36 -6,6 330 33,8
500 Hz 36 -6,6 330 34
10 Vpp
1 KHz 36 -6,6 330 34
100 KHz 36 -6,8 330 30,7
500 KHz 36 -6,8 330 22,9

C. Gambar Grafik Hasil Percobaan untuk Gelombang Sinus

15
D. Perbandingan Nilai-Nilai Hasil Pengukuran untuk Gelombang Sinusoidal, Segitiga,
dan Persegi

Function Generator Distortion Analyzer Osiloskop

Bentuk Distortion Tegangan Tegangan


Amplitudo Frekuensi
Gelombang % dB (mV) rms (mV) rms

50 Hz 2,5 -28,8 27 29,6

100 Hz 2,8 -28,6 27 29,7

500 Hz 2,8 -28,6 27 29,9


1 Vpp
1 KHz 2,9 -28,6 27 29,9

100 KHz 2,8 -28,8 27 28,7

500 KHz 2,6 -29,2 25,5 21,3

10 Vpp 50 Hz 29,5 -8,6 285 29,9

100 Hz 29,5 -8,6 285 30,2

500 Hz 29,5 -8,6 285 30,3

1 KHz 30 -8,4 285 30,5

100 KHz 28 -8,8 270 28,9

500 KHz 26,4 -9 280 68,1

16
50 Hz 1,8 -33 16,5 18,8

100 Hz 1,8 -33 19 16,5

500 Hz 1,8 -33 19 19


1 Vpp
1 KHz 1,8 -33 16,5 19,2

100 KHz 1,7 -33 16,5 18,1

500 KHz 1,6 -34 15 13,3

50 Hz 19 -12 180 19,1

100 Hz 19 -12 180 19,5

500 Hz 19 -12 180 19,5


10 Vpp
1 KHz 18 -12,5 180 19,9

100 KHz 18 -13 165 18,5

500 KHz 15,6 -13,4 165 42,2

50 Hz 3,5 -27 33 33

100 Hz 3,5 -27 33 33,1

500 Hz 3,6 -26,9 34,5 33,2


1 Vpp
1 KHz 3,6 -26,5 34,5 33,2

100 KHz 3,4 -27,2 33 30,5

500 KHz 3,4 -27,3 31,5 22,6

50 Hz 36 -6,6 330 33,8

100 Hz 36 -6,6 330 33,8

500 Hz 36 -6,6 330 34


10 Vpp
1 KHz 36 -6,6 330 34

100 KHz 36 -6,8 330 30,7

500 KHz 36 -6,8 330 22,9

17
6. ANALISA DAN PEMBAHASAN
Distorsi mengakibatkan rusaknya sinyal yang diterima tidak sesuai dengan
yang dikirim. Atau dengan kata lain perubahan yang tak diinginkan didalam bentuk
gelombang yang terjadi diantara dua titik dalam sistem transmisi.
Pada praktik kali ini dilakukan percobaan mengenai analisa sinyal output yang
sudah terpengaruh oleh Distortion Analyzer. Pada data hasil percobaan, dapat dilihat
bahwa ada beberapa faktor yang nantinya dapat mempengaruhi nilai distorsi dan nilai
tegangan keluaran. Berdasarkan tabel hasil percobaan, dapat dilihat bahwa jika nilai
amplitudo dinaikkan 10 kali dari nilai amplitudo awal (1 Vpp menjadi 10 Vpp), maka
nilai distorsinya juga akan lebih besar 10 kalinya. Semakin besar nilai frekuensi maka
semakin besar persentase distorsi dan nilai distorsinya, walaupun kenaikan dari nilai
distorsinya tidak terlalu jauh namun dapat mempengaruhi nilai tegangan yang
didapat. Dapat terlihat bahwa semakin besar nilai distorsi, maka semakin kecil nilai
tegangan yang didapat. Hal tersebut menandakan bahwa kerja tegangan akan menjadi
tidak baik jika nilai distorsinya semakin besar.

Berdasarkan data hasil percobaan dapat terlihat distorsi terkecil dihasilkan


pada gelombang persegi, kemudian gelombang sinusoidal, dan yang terakhir adalah
gelombang segitiga. Gelombang distorsi meningkat seiring semakin besarnya
gelombang input. Sedangkan distorsi cenderung stabil (tidak berubah banyak)
walupun frekuensi ditingkatkan.

Pada praktik ini, dapat dilihat juga bahwa nilai - nilai distorsi, persentase
distorsi, tegangan juga berbeda-beda tergangtung pada jenis gelombangnya.
Berdasarkan hasil percobaan, dapat dilihat bahwa gelombang persegi memiliki nilai-
nilai hasil pengukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan gelombang sinus
dan gelombang segitiga. Hal tersebut dikarenakan amplitudo rms gelombang kotak
lebih besar dari amplitudo rms gelombang sinus. Gelombang kotak dapat berubah
dengan cepat dari posisi minimum ke posisi maksimum, perubahan ini tetap
memerlukan waktu. Didefinisikan rise time (waktu naik) suatu sinyal adalah waktu
yang dibutuhkan nilai tegangan berubah dari 10% ke 90% nilai maksimumnya.
Sehingga, distorsi tidak begitu mempengaruhi kerja gelombang kotak atau persegi
karena perubahan amplitudo gelombang yang sangat cepat membuat kemungkinan
terganggunya sinyal menjadi lebih kecil. Itu mengapa pengiriman data sinyal digital
akan lebih aman jika dibandingkan dengan pengiriman informasi data sinyal analog.

18
Lalu, gelombang segitiga merupakan gelombang yang mempunyai nilai-nilai hasil
pengukuran paling kecil.

KESIMPULAN

Dari praktik ini dapat disimpulkan bahwa :


1. Nilai atau besar amplitudo tegangan sumber dapat mempengaruhi nilai presentase
distorsi, nilai distorsi dan nilai tegangan output.
2. Besar nilai frekuensi juga dapat mempengaruhi nilai distorsi. Semakin besar nilai
frekuensi maka semakin besar persentase distorsi dan nilai distorsinya, walaupun
kenaikan dari nilai distorsinya tidak terlalu jauh namun dapat mempengaruhi nilai
tegangan yang didapat.
3. Semakin besar nilai distorsi, maka semakin kecil nilai tegangan yang didapat. Hal
tersebut menandakan bahwa kerja tegangan akan menjadi tidak baik jika nilai
distorsinya semakin besar.
4. Nilai - nilai distorsi, persentase distorsi, tegangan juga berbeda-beda tergangtung
pada jenis gelombangnya

LAMPIRAN

19
20
21