Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara harfiah autisme berasal dari kata autos (diri) sedangkan isme
(paham/aliran). Autisme secara etimologi adalah anak yang memiliki
gangguan perkembangan dalam dunianya sendiri. Autisme merupakan suatu
jenis gangguan perkembangan pada anak, mengalami kesendirian,
kecenderungan menyendiri. (Leo kanker handojo, 2003)
Autisme adalah adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial,
komunikasi, perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan
perkembangan terlambat atau tidak normal. Autisme mulai tampak sejak lahir
atau saat masi bayi ( biasanya sebulum usia 3 tahun). Sumber dari Pedoman
Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa (PPDGJ III)
Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir
ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk
hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan anak
tersebut terisolasi dari anak yang lain. (Baron-Cohen, 1993).
Anak autisme merupakan anak yang mengalami gangguan
perkembangan yang sangat kompleks yang dapat diketahui sejak umur
sebelum 3 tahun mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial serta
perilakunya.
Hingga saat ini belum dapat ditemukan penyebab pasti dari gangguan
autisme ini, sehingga belum dapat dikembangkan cara pencegahan dan
penanganan yang tepat. Pada awalnya autisme dipandang sebagai gangguan
yang disebabkan oleh faktor psikologis yaitu pola pengasuhan orangtua yang
tidak hangat secara emosional, tetapi barulah sekitar tahun 1960 dimulai
penelitian neurologis yang membuktikan bahwa autisme disebabkan oleh
adanya abnormalitas pada otak (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).
Autisme dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat kaya, miskin,
di desa di kota, berpendidikan maupun tidak serta pada semua kelompok etnis
dan budaya di dunia. Jumlah anak yang terkena autisme semakin meningkat
pesat di berbagai belahan dunia, kondisi ini menyebabkan banyak orangtua
menjadi was-was sehingga sedikit saja anak menunjukkan gejala yang dirasa
kurang normal selalu dikaitkan dengan gangguan autisme.

1
Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autisme
per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autisme terjadi pada 15.000-
60.000 anak dibawah 15 tahun. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta lebih,
hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun
diperkirakan jumlah anak autisme dapat mencapai 150-200 ribu orang.
Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4 : 1, namun anak
perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat (Yeni,
Murni, & Oktora, 2009).
Autisme termasuk kasus yang jarang, biasanya identifikasinya melalui
pemeriksaan yang teliti di rumah sakit, dokter atau sekolah khusus. Dewasa
ini terdapat kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak
(autisme infantil) yang datang pada praktek neurologi dan praktek dokter
lainnya. Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah
terlambatan bicara, perilaku aneh dan acuh tak acuh, atau cemas apakah
anaknya tuli (Yeni, Murni, & Oktora, 2009).
Terapi anak autisme membutuhkan deteksi dini, intervensi edukasi
yang intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih
baik, dan peran serta orang tua sehingga melibatkan banyak bidang, baik
bidang kedokteran, pendidikan, psikologi maupun bidang sosial. Dalam
bidang kedokteran, untuk menangani masalah autisme dengan pengobatan
khususnya medika mentosa, di bidang pendidikan dapat dilakukan dengan
memberikan latihan pada orang tua penderita. Terapi perkembangan perilaku
dapat dilakukan dalam bidang psikologi, sedangkan mendirikan yayasan
autisme sebagai lembaga yang mampu secara professional menangani masalah
autisme adalah salah satu contoh yang dilakukan dalam bidang sosial
(Yeni,Murni, & Oktora, 2009).
Autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi,
perilaku dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi. Sejauh ini masih
belum terdapat kejelasan secara pasti mengenai penyebab dan faktor risikonya
sehingga strategi pencegahan yang dilakukan masih belum optimal. Saat ini
tujuan pencegahan mungkin hanya sebatas untuk mencegah agar gangguan

2
yang terjadi tidak lebih berat lagi, bukan untuk menghindari kejadian autisme
(Yeni, Murni, & Oktora, 2009).
Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman mengenai penyakit Autis,
pengertian tentang autis, etiologi dan faktor risiko, manifestasi klinis,
patofisiologi, pathway, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan
penatalaksanaan (medis, keperawatan, diet) serta asuhan keperawatan bagi
penderita autis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perjalanan penyakit Autisme?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Autisme?

1.3 Tujuan
1. Megetahui perjalanan penyakit Autisme.
2. Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Autisme.

BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

2.1 Pengertian Penyakit

3
Secara harfiah autisme berasal dari kata autos (diri) sedangkan isme
(paham/aliran). Autisme secara etimologi adalah anak yang memiliki
gangguan perkembangan dalam dunianya sendiri. Autisme merupakan suatu
jenis gangguan perkembangan pada anak, mengalami kesendirian,
kecenderungan menyendiri. (Leo kanker handojo, 2003)
Autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang
mengalami kondisi menutup diri. Dimana gangguan ini mengakibatkan anak
mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku
Sumber dari Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austistik.
(American Psychiatic Association 2000)
Autisme adalah adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial,
komunikasi, perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan
perkembangan terlambat atau tidak normal. Autisme mulai tampak sejak lahir
atau saat masi bayi ( biasanya sebulum usia 3 tahun). Sumber dari Pedoman
Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa (PPDGJ III)
Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir
ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk
hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan anak
tersebut terisolasi dari anak yang lain. (Baron-Cohen, 1993).
Anak autisme merupakan anak yang mengalami gangguan
perkembangan yang sangat kompleks yang dapat diketahui sejak umur
sebelum 3 tahun mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial serta
perilakunya.

2.2 Klasifikasi
Berdasarkan waktu munculnya gangguan, Kurniasih (2002) membagi autisme
menjadi dua yaitu:
1. Autisme sejak bayi (Autisme Infantil)
Anak sudah menunjukkan perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan
anak non autistik, dan biasanya baru bisa terdeteksi sekitar usia bayi 6
bulan.
2. Autisme Regresif
Ditandai dengan regresif (kemudian kembali) perkembangan kemampuan
yang sebelumnya jadi hilang. Yang awalnya sudah sempat menunjukkan

4
perkembangan ini berhenti. Kontak mata yang tadinya sudah bagus,
lenyap. Dan jika awalnya sudah bisa mulai mengucapkan beberapa patah
kata, hilang kemampuan bicaranya. (Kurniasih, 2002).
Sedangkan Yatim, Faisal Yatim (dalam buku karangan purwati, 2007)
mengelompokkan autisme menjadi :
1. Autisme Persepsi
Autisme ini dianggap sebagai autisme asli dan disebut autisme internal
karena kelainan sudah timbul sebelum lahir
2. Autisme Reaksi
Autisme ini biasanya mulai terlihat pada anak anak usia lebih besar (6
7 tahun) sebelum anak memasuki tahap berfikir logis. Tetapi bisa juga
terjadi sejak usia minggu minggu pertama. Penderita autisme reaktif ini
bisa membuat gerakan gerakan tertentu berulang ulang dan kadang
kadang disertai kejang kejang.

2.3 Etiologi
Penyebab autisme menurut beberapa pakar telah disepakati bahwa
pada otak anak autisme dijumpai suatu kelainan pada otaknya. Apa sebabnya
sampai timbul kelainan tersebut memang belum dapat dipastikan. Banyak
teori yang diajukan oleh para pakar, kekurangan nutrisi dan oksigenasi, serta
akibat polusi udara, air dan makanan. Diyakini bahwa ganguan tersebut
terjadi pada fase pempentukan organ (organogenesis) yaitu pada usia
kehamilan antara 0 4 bulan. Organ otak sendiri baru terbentuk pada usia
kehamilan setelah 15 minggu.
Dari penelitian yang dilakukan oleh para pakar dari banyak negara
diketemukan beberapa fakta yaitu 43% penyandang autisme mempunyai
kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan anak cuek
terhadap lingkungannya. Kelainan juga ditemukan pada otak kecil
(cerebellum), terutama pada lobus ke VI dan VII. Otak kecil bertanggung
jawab atas proses sensoris, daya ingat, berfikir, belajar berbahasa dan proses
atensi (perhatian). Juga didapatkan jumlah sel Purkinye di otak kecil yang

5
sangat sedikit, sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan
dopamine, akibatnya terjadi gangguan atau kekacauan impuls di otak.
Ditemukan pula kelainan yang khas di daerah sistem limbik yang
disebut hippocampus. Akibatnya terjadi gangguan fungsi control terahadap
agresi dan emosi yang disebabkan oleh keracunan logam berat seperti
mercury yang banyak terdapat dalam makanan yang dikonsumsi ibu yang
sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi.
Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis terkandung
timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi.
Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, seringkali terlalu agresif
atau sangat pasif. Hippocampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar
dan daya ingat. Terjadilah kesulitan penyimpanan informasi baru. Perilaku
yang diulang-ulang yang aneh dan hiperaktif juga disebabkan gangguan
hippocampus. Faktor genetika dapat menyebabkan abnormalitas pertumbuhan
sel sel saraf dan sel otak, namun diperkirakan menjadi penyebab utama
dari kelainan autisme, walaupun bukti-bukti yang konkrit masih sulit
ditemukan.
Diperkirakan masih banyak faktor pemicu yang berperan dalam
timbulnya gejala autisme. Pada proses kelahiran yang lama (partus lama)
dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin dapat memicu
terjadinya austisme. Bahkan sesudah lahir (post partum) juga dapat terjadi
pengaruh dari berbagai pemicu, misalnya : infeksi ringan sampai berat pada
bayi. Pemakaian antibiotika yang berlebihan dapat menimbulkan
tumbuhnya jamur yang berlebihan dan menyebabkan terjadinya kebocoran
usus (leaky get syndrome) dan tidak sempurnanya pencernaan protein
kasein dan gluten. Kedua protein ini hanya terpecah sampai polipeptida.
Polipeptida yang timbul dari kedua pro tein tersebut terserap kedalam aliran
darah dan menimbulkan efek morfin pada otak anak. Dan terjadi kegagalan
pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak
tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur dalam
lambungnya, atau nutrisi tidak terpenuhi karena faktor ekonomi.
2.4 Manifestasi Klinis

6
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal
Meliputi kemampuan berbahasa dan mengalami keterlambatan
atau sama sekali tidak dapat bicara. Menggunakan kata-kata tanpa
menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam
waktu singkat. Kata-katanya tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Tidak
mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
Ekolalia (meniru atau membeo), meniru kata, kalimat atau lagu tanpa tahu
artinya. Bicara monoton seperti robot.
3. Gangguan dalam bidang interaksi social
Meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka.
Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak
senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan
orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu
untuknnya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain
bila didekati malah menjauh.
4. Gangguan dalam bermain
Diantaranya bermain sangat monoton dan aneh, misalnya menderetkan
sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mobil dan
mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kedekatan
dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus
dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak
mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, gelang karet, baterai atau
benda lainnya. Tidak spontan, reflaks dan tidak berimajinasi dalam
bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai
permainan yang bersifat pura-pura. Sering memperhatikan jari-jarinya
sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang
ritualistik sering terjadi, sulit mengubah rutinitas sehari-hari, misalnya bila
bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus
melalui rute yang sama.
4. Gangguan perilaku
Dilihat dari gejala sering dianggap sebagi anak yang senang kerapian
harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat
hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia
datangi, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari dan

7
berlari-lari tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan
tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti dirinya sendiri
seperti memukul kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau
sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong denagn tatap mata kosong.
Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada
satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal
sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri.Gangguan
kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.
5. Gangguan perasaan dan emosi
Dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah
tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum),
terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, bahkan bisa
menjadi agresif dan merusak. Tidak dapt berbagi perasaan (empati) dengan
anak lain.
6. Gangguan dalam persepsi sensori
Meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya (penglihata), pendengaran,
sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila
mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci
rambutnya. Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak
menyukai pelukan, bila digendong sering merosot atau melepaskan diri
dari pelukan.
7. Intelegensi
Dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara
fungsional. Kecerdasan sering diukur melalui perkembangan nonverbal,
karena terdapat gangguan bahasa. Didapatkan IQ dibawah 70 dari 70%
penderita, dan dibawah 50 dari 50%. Namun sekitar 5% mempunyai IQ
diatas 100. Anak autis sulit melakukan tugas yang melibatkan pemikiran
simbolis atau empati. Namun ada yang mempunyai kemampuan yang
menonjol di suatu bidang, misalnya matematika atau kemampuan memori.
2.5 Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk
mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls
listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu

8
(korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak
berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.

Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada
trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan
akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua
tahun.

Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa


bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini
dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai
brain growth factors dan proses belajar anak. Makin banyak sinaps terbentuk,
anak makin cerdas. Pembentukan akson, dendrit, dan sinaps sangat
tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak yang digunakan
dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps.
Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel,
berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam
berat, dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan
pada proses proses tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas
pertumbuhan sel saraf.

Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan


abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan
neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor, neurotrophin-4,
vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide) yang
merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur
penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan
jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.

Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan


pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autisme terjadi
kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan
mati secara tak beraturan. Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu
menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan

9
berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera
dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye
diduga merangsang pertumbuhan akson, glia (jaringan penunjang pada sistem
saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal
atau sebaliknya, pertumbuhan akson secara abnormal mematikan sel
Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain derived neurotrophic factor dan
neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel
Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan
faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang
terjadi sejak awal masa kehamilan karena ibu mengkomsumsi makanan yang
mengandung logam berat.

Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang,


kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye.
Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan
atau obat seperti thalidomide. Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak
kecil anak normal mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik,
belajar sensori-motorik, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa.
Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan
memproses persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan
kegagalan mengeksplorasi lingkungan.

Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian
depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Menurut kemper dan Bauman
menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan
otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan
amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses
memori).

Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain


kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng,
yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.

10
Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak antara
lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri, infeksi
yang diderita ibu pada masa kehamilan.

11
2.6 WOC

Partus lama Genetic Keracunan Logam MK: Resti Infeksi Pemakaian Anti
Biotik berlebihan

Gangguan nutrisi dan > Neurotropin Dan Infeksi Jamur


oksigenasi Neuropaptida

Kebocoran usus dan


tidak sempurna
pencernaan kasein
Gangguan pada otak Kerusakan pada sel dan gluten
purkinye dan hippocampus

Protein terpecah
Abnormalitas sampai Polipeptida
pertumbuhan sel saraf Gg keseimbangan
serotonin dan dopamin

Kasein dan gluten terserap


kedalam aliran darah
Peningkatan Gangguan pada otak
neurokimia secara kecil
abnormal
MK : perubahan Menimbulkan efek
persepsi sensori morfin pada otak
Growth without Reaksi atensi lebih
guidance lambat

12
AUTIS

Gangguan Gangguan Ganggaun prilaku Gangguan presepsi


komunikasi interaksi sosial sensori

Hiperaktif
Keterlambatan Bicara monoton dan tidak Mengabaikan Acuh tak Perilaku
Penglihatan pendengaran
dalam berbahasa dimengerti orang lain dan acuh yang aneh
menghindari terhadap
orang lain lingkungan
dan orang Sangat agresif
Sensitive
terhadap orang lain Menutup
lain terhadap
dan dirinya sendiri telinga bila
MK: Gangguan komunikasi cahaya
mendengar
verbal dan Non Verbal suara

MK : Perubahan Interaksi
Sosial

13
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat menjadi bukti dari
berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes secara behavioral maupun
komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya autisme, maka beberapa instrumen screening
yang saat ini telah berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
1. Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa kanak-
kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang didasarkan pada
pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15; anak dievaluasi
berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan gerakan tubuh, adaptasi
terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan komunikasi verbal
2. The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar pemeriksaan
autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi anak berumur 18
bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal tahun 1990-an.
3. The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang terdiri dari 40
skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun untuk mengevaluasi
kemampuan komunikasi dan sosial mereka
4. The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme bagi
anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt
didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor dan
konsentrasi.
2.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Manajemen yang efektif dapat mempengaruhi outcome. Intervensi
farmakologi, yang saat ini dievaluasi, mencakup obat fenfluramine, lithium,
haloperidol dan naltrexone. Terhadap gejala yang menyertai. Terapi anak dengan
autisme membutuhkan identifikasi diri. Intervensi edukasi yang intensif, lingkungan
yang terstruktur, atensi individual, staf yang terlatih baik, peran serta orang tua dapat
meningkat prognosis. Terapi perilaku sangat penting untuk membantu para anak autis
untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan saja guru yang harus
menerapkan terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap anggota keluarga di rumah
harus bersikap sama dan konsisten dalam menghadapi anak autis. Terapi peilaku
terdiri dari tetapi wicara, terapi okupasi, dan menghilangkan perilaku yang asosial.
Dalam terapi farmakologi dinyatakan belum ada obat atau terapi khusus yang
menyembuhkan kelainan ini. Medikasi (terapi obat) berguna terhadap gejala yang
menyertai, misalnya haloperidol, risperidone dan obat anti-psikotik teradap perilaku

14
agresif, ledakan-ledakan perilaku, instabilitas mood (suasana hati). Obat antidepresi
jenis SSRI dapat digunakan terhadap ansietas, kecemasan, mengurangi stereotip dan
perilaku perseveratif dan mengurangi ansietas dan fluktuasi mood. Perilaku
mencederai diri sendiri dan mengamuk kadang dapat diatasi dengan obat naltrexone.
2. Penatalaksanaan Nonmedis
Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling
penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah
metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis
(ABA). Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan
menjadi enam kemampuan dasar, yaitu:
1. Kemampuan memperhatikan
Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa
memfokuskan pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau disebut
dengan kontak mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan
atau objek yang ada disekelilingnya.
2. Kemampuan menirukan
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik kasar
dan halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar sederhana atau meniru
tindakan yang disertai bunyi-bunyian.
3. Bahasa reseptif
Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik
dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.
4. Bahasa ekspresif
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari
komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan
ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata
atau berkomunikasi verbal.
5. Kemampuan pra-akademis
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan yang
mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan stimulus-
stimulus di lingkungannya seperti bunyi-bunyian serta melatih anak untuk
mengembangkan imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-
benda yang ada di sekitarnya.
6. Kemampuan mengurus diri sendiri
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan
dirinya sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua,
anak dilatih untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet traning.

15
Kemudian tahap selanjutnya melatih mengenakan pakaian, menyisir rambut,
dan menggosok gigi.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS SEMU

Kasus

Pada tanggal 13 November 2017, jam 08.00 WIB, An.B diantar oleh ayah dan ibunya ke
RSUD Mawar dengan keluhan anak tidak bisa berbicara dan asik dengan dirinya sendiri
seperti teriak-teriak jika lapar atau menginginkan sesuatu serta bersikap acuh tak acuh
terhadap lingkungan. Dari hasil pemeriksaan didapatkan TD : 90/60 mmHg , Nadi : 116
X/menit, Suhu : 36,7 0C, RR : 22 X/menit.

A. IDENTITAS
Pasien

16
Nama : An. B

Umur : 3 tahun

Jenis Kelamin : Laki laki

Agama : Islam

Suku : Jawa

Alamat : Sidomuncul RT01/RW02, Sayung, Demak

Penangguang Jawab

Nama Ayah : Tn. K Nama Ibu : Ny. I

Umur : 35 Umur : 32

Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

B. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama
Anak tidak bisa berbicara dengan jelas
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD Mawar pada tanggal 13 November 2017 diantar ayah
dan ibunya dengan keluhan pasien tidak bisa berbicara, hanya mengerang dan asik
pada dirinya sendiri, hanya memainkan jari-jari tanganya, menghindarai kontak
mata dengan lawan bicara, lebih senang menyendiri dari pada diajak bermain
dengan teman-temanya, kadang-kadang diam dan berteriak,serta bersikap acuh tak
acuh terhadap lingkungan dan seluruh Activity Daily Living (ADL) dibantu oleh
kedua orang tuanya.
3. Riwayat kehamilan dan kelahiran

a. Prenatal : Ibu klien mengatakan tidak mengalami penyakit atau


gangguan yang dapat menyebabkan kelainan pada kehamilanya.

17
b. Intranatal: Ibu klien mengatakan tidak terjadi kelainan yang dapat
menyebabkan gangguan pada kehamilannya.
c. Postnatal : Ibu Klien mengatakan kehamilanya normal dan tidak terjadi
gangguan saat melahirkan
4. Riwayat Kesehatan dahulu
Orang tuanya mengatakan bahwa pada waktu bayi anaknya mengalami panas
tinggi dan mengalami kejang, saat usia anaknya 3 tahun dia selalu menyendiri dan
suka bermain air dikamar mandi berjam-jam bahkan air di bak sering diminum,
dan ketika BAB dan BAK digosokkan ke rambut dan anggota tubuh lainya.
5. Riwayat Perumbuhan dan Perkembangan
a. Gizi
Selera mkan An.B baik, dapat menghabiskan 1 porsi makanan yang
diberikan dengan baik
b. Kemandirian dalam bergaul
An.B tidak mampu beraktivitas/bermain dengan temanya, selalu asik
dengan dirinya sendiri dan saat dipanggil namanya tidak ada respon.
c. Motorik halus
An.B hanya mampu memainkan jari-jari tanganya
d. Motorik kasar
An.B tidak mampu melakukan aktivitas seperti menulis, melempar dan
saat berdiri maupun berjalan harus dibantu untuk menjaga
keseimbanganya.
e. Kognitif dan bahasa
An.B tidak mampu berbicara, hanya mengerang saja
f. Psikososial
An.B tidak mampu berinteraksi dengan orang lain, hanya mampu
berteriak.
6. Riwayat Kesehatan keluarga
Tidak ada anggota keluarga baik dari keluarga ayah maupun ibu yang
menderita keluhan yang serupa, mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan, atau mengalami gangguan mental lainnya.

C. Data Obyektif
1. Keadaan umum : Apatis
2. Kesadaran : Composmentis
3. TTV
TD : 90/60 mmHg

N : 116 X/menit,
S : 36.7 0C
RR : 22 X/menit.
4. Pemeriksaan fisik persistem

18
1. Sistem pernafasan
Anamnesa : Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan

1) Hidung
Inspeksi : Sputum : tidak ada

Cuping hidung : tidak ada

Kebersihan : bersih

Palpasi : Nyeri tekan : tidak ada

2) Mulut
Inspeksi : Mukosa bibir : lembab

Alat bantu nafas : tidak ada

3) Leher
Inspeksi : Trakheostomi : tidak ada

Palpasi : Nyeri tekan : tidak ada

Massa : tidak ada

Pembesaran kelenjar limfe : tidak ada

4) Faring
Inspeksi : Odem : tidak ada

Tanda infeksi : tidak ada

5) Area Dada
Inspeksi : Pola nafas : Reguler

Pergerakan dada : simetris

Bentuk dada : simetris

Palpasi : Nyeri dada : tidak ada

Kelainan dinding thorak : tidak ada

Perkusi : Lapang paru : resonan / pekak

19
Auskultasi : Suara nafas : Vesikuler

2. Sistem Kardiovaskuler dan Limfe


Anamnesa: Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan

1) Wajah
Inspeksi : Konjungtiva : merah muda
2) Leher
Inspeksi : Bendungan Vena Jugularis : tidak ada
Palpasi : Arteri Carotis Comunis Kekuatannya: kuat
3) Dada
Inspeksi : Bentuk : simetris
Palpasi : CRT : 2 detik
Akral : hangat
Perkusi: Pembesaran Jantung : tidak ada pembesaran
Batas Kanan Atas : ICS 2 linea parasentralis dextra
Batas Kanan Bawah : ICS 4/5 linea parasternalis dextra
Batas Kiri Atas : ICS 2/3 linea parasternalis sinistra
Batas Kiri Bawah : ICS 4 medial linea midklavikula sinistra
Auskultasi: Bunyi Jantun : normal (BJ 1 dan BJ 2 tunggal)
4) Ekstrimitas Atas dan Bawah
Inspeksi: Clubbing Finger : tidak ada
Perfusi (kulit, kuku, bibir) : tidak ada
Odem : tidak ada

3. Sistem Persyarafan
Anamnesa: Ibu pasein mengatakan bahwa anaknya tidak bisa berbicara
1) Uji nervus I olfaktorius (pembau) : Baik dapat mencium bau antara
balsam dan minyak kayu putih
2) Uji nervus II opticus (penglihatan) : tidak ada katarak, tidak ada
infeksi konjungtiva atau infeksi lainnya
3) Uji nervus III oculomotorius : tidak ada edema pada kelopak mata
dan bola mata menonjol (exophtalamus)
4) Nervus IV toklearis : ukuran pupil normal, reflek cahaya positif
5) Nervus V trigeminus (sensasi kulit wajah) : pasien dapat membuka
dan menutup mulut
6) Nervus VI abdusen : tidak ada strabismus (juling), gerakan mata
normal
7) Uji nervus VII facialis : pasien dapat menggembungkan pipi,
menaikkan dan menurunkan alis mata
8) Nervus VIII auditorius/AKUSTIKUS : Kemampuan mendengarkan
kata-kata baik
9) Nervus IX glosoparingeal : terdapat reflek muntah

20
10) Nervus X vagus : dapat menggerakkan lidah
11) Nervus XI aksesorius : dapat menggeleng dan menoleh kiri kanan
12) Nervus XII hypoglosal/hipoglosum : dapat menjulurkan lidah
Reflek fisiologis : normal, tidak ada gangguan
Pemeriksaan reflek patologis : normal, tidak ada gangguan
GCS (Glasgow Coma Scale) :
Eye/membuka mata(E) :4
Motorik (M) :6
Verbal/bicara (V) :5

4. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen


Anamnesa: Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan
Inspeksi: Fraktur : tidak ada
Luka : tidak ada
Odem : tidak ada
Palpasi: Turgor Kulit : kembali <2 detik
Suhu Akral : hangat

Kekuatan otot
4 4

3 3

Keterangan:

0: Tidak ada kontraksi

1: Kontaksi (gerakan minimal)

2: Gerakan aktif namun tidak dapat melawan gravitasi

3: Gerakan aktif, dapat melawan gravitasi

4:Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan


ringan

5:Gerakan aktif,dapat melawan gravitasi serta mampu menahan tahanan


penuh

5. Sistem Perkemihan
Anamnesa :Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan
Inspeksi : Penis bersih, tidak ada odem, tidak ada tanda-tanda infeksi
Palpasi : tidak ada benjolan atau massa dan tidak ada nyeri tekan

6. Sistem Pencernaan

21
Anamnesa: Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan
1) Mulut
Inspeksi : Lembab
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
2) Lidah
Inspeksi : tidak ada tremor
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
3) Faring
Inspeksi : tidak ada kemerahan
Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar faring
4) Abdomen
Inspeksi : Tidak ada pembesaran / datar
Perkusi : Timpani diseluruh kuadran
Auskultasi : gerakan peristaltik 18 x/menit
Palpasi: Kuadran I : hepar tidak ada hepatomegali, tidak ada nyeri tekan
Kuadran II : gaster tidak ada nyeri tekan abdomen
lien tidak ada splenomegali
Kuadran III: tidak ada masa (skibala, tumor), tidak ada nyeri tekan
Kuadran IV : tidak ada nyeri tekan pada titik MC Burney.

7. Sistem Endokrin dan Eksokrin


Anamnesa: Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan
1) Kepala
Inspeksi : rambut berwarna hitam, distribusi rambut merata, ketebalan
normal, tidak ada kerontokkan (hirsutisme), tidak ada benjolan.
2) Leher
Inspeksi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Palpasi : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak ada nyeri
tekan
3) Payudara
Inspeksi : tidak ada pembesaran mamae
4) Genetalia
Inspeksi: : penis bersih, tidak ada odem, tidak ada tanda-tanda infeksi
Palpasi: tidak ada benjolan atau massa dan tidak ada nyeri tekan
5) Ekstermitas Bawah
Inspeksi : tidak ada odem

8. Sistem Reproduksi
Anamnesa: Ibu pasien mengatakan tidak ada keluhan
1) Payudara
Inspeksi : bentuk simetris
Palpasi: : tidak ada benjolan
2) Axila
Inspeksi : tidak ada benjolan
Palpasi : tidak ada benjolan
3) Abdomen
Inspeksi : datar

22
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
4) Genetalia
Inspeksi : Penis bersih, tidak ada odem, tidak ada tanda-tanda infeksi
Palpasi : tidak ada benjolan atau massa dan tidak ada nyeri tekan

9. Persepsi Sensori
Anamnesa: Ibu pasien mengatkan tidak ada keluhan
1) Mata
Inspeksi : mata simetris
Palpasi : tidak ada nyeri
2) Penciuman
Palpasi: tidak ada nyeri tekan

D. Analisis data

NS. Hambatan Komunikasi Verbal ( 00052 )

DIAGNOSIS : Domain 5 : Persepsi/Kognisi

(NANDA-I) Kelas 5 : Komunikasi

Penurunan, perlambatan, tau ketiadaan kemampuan untuk


DEFINITION: menerima, memproses, mengirim dan / atau menggunkan sistem
tubuh.

DEFINING Deficit penglihatan total


CHARACTERI Deficit visual parsial
Disorientasi orang
STICS Disorientasi ruang
Disorientasi waktu
Dispnea
Gagap
Kesulitan daam kehadiran tertentu
Kesulitan dalam memahami komunikasi
Kesulitan mempertahankan komunikasi
Kesulitan mengekspresikan pikiran secara verbal (mis,
afasia,disfasia, apraksia, disleksia)
Kesulitan menggunakan ekspresi tubuh
Kesulitan mengguanakan ekspresi wajah
Kesulitan menyusun kalimat
Kesulitan menyusun kata-kata (mis, afonia, dislalia,disartria)
Ketidakmampuan bicara dalam bahsa pemberi asuhan
Ketidakmampuan menggunakan ekspresi wajah
Ketidkteptan verbalisasi
Menolak bicara
Pelo
Sulit bicara

23
Sulit mengungkapkan kata-kata
Tidak ada kontak mata
Tidak bicara
Tidak adap bicara
Defek orofaring
Gangguan emosi
Gangguan fisologis (mis, tumor otak, penurunan sirkulasi ke
otak, system muskoloskeletal melemah)
Gangguan perkembangan
Gangguan persepsi
Gangguan psikotik
RELATED Gangguan konsep diri
FACTORS: Gangguan system saraf pusat
Hambatan fisik (mis, trakeostomi, intubasi)
Hambatn lingkungan
Kerentanan
Ketiadaan orang terdekat
Ketidakcukupan informasi
Katidakcukupan stimuli
Ketidaksesuaian budaya
Program pengobatan

24
ASSESSMENT
Subjective data entry Objective data entry

Ibu pasien mengatakan pasien tidak - Keadaan umum : Apatis (Acuh tak
bisa berbicara, hanya mengerang acuh terhadap lingkungan)
- Kesadaran :Composmentis
dan asik pada dirinya sendiri, hanya
- TTV :
memainkan jari-jari tanganya,
menghindarai kontak mata dengan TD : 90/60 mmHg
lawan bicara, lebih senang
N : 116 X/menit,
menyendiri dari pada diajak
S : 36.7 0C
bermain dengan teman-temanya, RR : 22 X/menit.
kadang-kadang diam dan berteriak,
seluruh Activity Daily Living
(ADL) dibantu
DIAGNOSIS SESSMENT

Client Ns. Diagnosis (Specify):


Diagnos Hambatan Komunikasi Verbal
tic
Stateme Related to:
Gangguan Perkembangan (Autisme)
nt:

25
E. Intervensi Keperawatan
Inisial Nama : An.B
Tanggal : 13 November 2017
Dx.Kep : Hambatan Komunikasi Verbal b.d Gangguan Perkembangan (Autisme)
Definisi : Penurunan, perlambatan, tau ketiadaan kemampuan untuk menerima, memproses, mengirim dan / atau
menggunkan sistem tubuh.

NIC NOC

Intervensi Aktivitas Outcome Indikator

Peningkatan Observasi: Komunikasi (0902) 1. Menggunakan


komunikasi : bahasa tertulis (2)
1. Monitor proses kognitif, anatomis dan DEFINISI:
Kurang Bicara menjadi (3)
fisiologis terkait dengan kemampuan berbicara 2. Menggunakan
(4976) Penerimaan
(mis, memori, pendengaran,dan bahasa) bahasa lisan (2)
R : untuk mengetahui proses perkembangan interpretasi,ekspresi
DEFINISI : menjadi (3)
proses kognitif, anatomis dan fisiologis terkait lisan, tertulis dan
penggunaan 3. Menggunakan
dengan kemampuan berbicara (mis, memori, pesan non-verbal
strategi bahasa non verbal
pendengaran,dan bahasa) (3) menjadi (4)
peningkatan
2. Monitor pasien terkait dengan perasaan 4. Mengenali pesan
kemampuan
frustasi, kemarahan, depresi atau respon- TUJUAN : Setelah yang diterima (2)
komunikasi bagi
respon lain disebabkan karena adanya dilakukan tindakan menjadi (3)
orang yang
gangguan kemampuan bicara keperawatan 5 x 24

26
memiliki gangguan R : untuk mengidentifikasi penyebab dan jam Komunikasi
bicara perasaan marah, depresi, frustasi klien pasien adekuat

Action:

1. Kenali emosi dan perilaku fisik pasien sebagai


bentuk komunikasi
R : untuk mengetahui tindakan pasien ketika
marah, frustasi dan depresi sehingga kita
mampu menentukan tindakan mengajari cara
mengontrol marah

2. Sediakan metode alternative untuk


berkomunikasi dengan berbicara (mis, menulis
dimeja, menggunakan kartu, kedip mata,
papan komunikasi dengan gambar dan huruf
dll)
R : agar klien lebih mudah berkomunikasi
dengan orang lain atau masyarakat

3. Buat jadwal kegiatan harian untuk mengajari

27
klien berbicara (mis, menulis dimeja,
menggunakan kartu, kedip mata, papan
komunikasi dengan gambar dan huruf dll)
R : Agar klien dapat mengatur waktu untuk
melakukan kegiatan proses belajar berbicara
secara verbal maupun non verbal

Kolaborasi:

1. Instruksikan pasien
bicara pelan
R : untuk menghindari rasa tidak nyaman atau
mengganggu orang lain dan menenangkan
sikap emosi klien

2. Kolaborasi bersama
keluarga dan ahli/ terapis bahasa patologis
untuk mengembangkan rencana agar bisa
berkomunikasi secara efektiv
R : agar klien bisa berkomunikasi secara

28
efektiv

Health Education:

1. Ajarkan keluarga dalam antisipasi dan


pemenuhan kebutuhan-kebutuhan anak sampai
kepuasan pola komunikasi terbentuk
Rasional : Pemenuhan kebutuhan pasien akan
dapat mengurangi kecemasan anak sehingga
anak akan dapat mulai menjalin komunikasi
dengan orang lain dengan asertif

29
F. Implementasi Keperawatan
Inisial Nama : An.B
Tanggal : 13 November 2017
Dx.Kep :Hambatan Komunikasi Verbal b.d Gangguan
Perkembangan (Autisme)
Definisi : Penurunan, perlambatan, tau ketiadaan kemampuan untuk
menerima, memproses, mengirim dan / atau menggunkan sistem tubuh.

No. Diagnosa Tanggal / Tindakan Paraf


Jam

Hambatan 13 1. Memonitor proses kognitif, P


Komunikasi November anatomis dan fisiologis
Verbal ( 00052 2017/ 08.00 terkait dengan kemampuan
) WIB
berbicara (mis, memori,
pendengaran,dan bahasa)
Respons : adanya gangguan
komunikasi
Hasil : pasien hanya bisa
merespon dengan berteriak-
teriak dengan bahasa non
verbal
2. Memonitor pasien terkait
dengan perasaan frustasi,
kemarahan, depresi atau
respon-respon lain
disebabkan karena adanya
gangguan kemampuan
bicara
3. Mengenali emosi dan
perilaku fisik pasien sebagai
bentuk komunikasi
Respon : adanya gangguan
perilaku
Hasil : pasien hanya asik

30
bermain sendiri dan tidak
merespon lingkungan
sekitarnya
4. Membuat jadwal kegiatan
harian untuk mengajari klien
berbicara (mis, menulis
13 November / dimeja, menggunakan kartu,
18.00 WIB kedip mata, papan
komunikasi dengan gambar
dan huruf dll)
Respons : pasien kooperatif
dan bersedia saat tindakan di
lakukan

Hasil : pasien dapat mengatur


waktu untuk belajar
berkomunikasi dengan
gambar, huruf maupun
menulis di meja

5. Menginstruksikan pasien
bicara pelan
Respons : pasien bersedia saat
tindakan di lakukan
Hasil : pasien mampu
berbicara pelan dan
mengontrol suara
6. Berkolaborasi bersama
keluarga dan ahli/ terapis
bahasa patologis untuk
13 November / mengembangkan rencana
19.00 WIB
agar bisa berkomunikasi
secara efektiv
Respons : pasien bersedia
saat tindakan di lakukan

31
Hasil : pasien mampu
berkomunikasi secara efektif
walaupun lambat
7. Mengajarkan keluarga
dalam antisipasi dan
pemenuhan kebutuhan-
kebutuhan anak sampai
kepuasan pola komunikasi
terbentuk.
Respons : keluarga pasien
bersedia melakukan
tindakan dengan baik
Hasil : keluarga mampu
memberikan pemenuhan
kebutuhan untuk pasien

G. Evaluasi Keperawatan

Tgl/Jam Diagnosa Catatan Perkembagan Para


f

16 Hambatan S : Ibu pasien mengatakan pasien P


November Komunikasi
2017 / Verbal ( 00052 ) sudah dapat sedikit berbicara dan
10.00 WIB sedikit bisa membuka diri untuk
bergaul dengan temannya

32
O:

TD : 90/60 mmHg
N : 116 X/menit,
S : 36.7 0C
RR : 22 X/menit.
Pasien mulai tidak
menundukkan wajah ketika
berinteraksi
Pasien mulai belajar
membaca dan berkomunikasi
lewat gambar, huruf dan
belajar membaca huruf
walau lambat
Mampu mengendalikan
perasaan dengan adanya
gangguan berbicara
Pasien masih sering
berbicara keras
A : masalah teratasi sebagian

P :lanjutkan intervensi

Membuat jadwal kegiatan


harian untuk mengajari klien
berbicara (mis, menulis
dimeja, menggunakan kartu,
kedip mata, papan
komunikasi dengan gambar
dan huruf dll)

Kolaborasi bersama keluarga


dan ahli/ terapis bahasa
patologis untuk
mengembangkan rencana
agar bisa berkomunikasi

33
secara efektiv

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak dimana
adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial, komunikasi, perilaku, emosi,
dan pola bermain serta gangguan sensoris. Autis diklasifikasikan menjadi 5
gangguan perkembangan, antara lain : Autistic Disorder (Autism) , Aspergers
Syndrome, Pervasive Developmental DisorderNot Otherwise Specified ,
Retts Syndrome, Childhood Disintegrative Disorder. Sampai saat ini
penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu
adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang
berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak

34
normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan
pada neurotransmitter, dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan
perilaku pada penderita. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak
mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan sosial dan respon anak
terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan
dunianya sendiri.
Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan
normal seperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
4.2 Saran
Dengan makalah asuhan keperawatan pada pasien dengan Autis ini diharapkan
peserta didik lebih mampu mengaplikasikannya dalam merawat pasien khususnya
Autis.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Aris, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta


Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit. Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Carpenitto Linda Jual. 2000. Asuhan Keperawatan. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Doengoes Marillyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi3. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI,
Wiknjosastro, Hanifa. 1999. Ilmu Kandungan. EdisiII. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
Isaac, A., (2005). Panduan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa & Psikiatrik
(terjemahan). Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

35
36
37