Anda di halaman 1dari 24

Tugas Ilmu Lingkungan

Hubungan Antara Sanitasi Fisik Rumah Dengan


Kejadian Penyakit ISPA

Nama : Baiq Isti Hijriani


NPM : 173112620120112

FAKULTAS BIOLOGI
UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA
TAHUN 2017
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Tak pula saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah tentang Hubungan Antara Sanitasi Fisik Rumah Dengan
Kejadian Penyakit ISPA.
Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu
saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata Bahasa dalam makalah ini. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala kritik dan saran yang
membangun dari pembaca agar saya dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata saya berharap semoga makalah ilmiah tentang Hubungan Antara
Sanitasi Fisik Rumah Dengan Kejadian Penyakit ISPA ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta, November 2017

Penyusun
Daftar Isi

Kata Pengantar ............................................................................................................... 2


Daftar Isi .......................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 6
C. Tujuan ................................................................................................................ 6
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 7
A. ISPA ...................................................................................................................... 7
1. Pengertian ISPA................................................................................................. 7
2. Klasifikasi ISPA .................................................................................................. 7
3. Etiologi ISPA ...................................................................................................... 9
4. Gejala ISPA...................................................................................................... 10
5. Cara penularan penyakit ISPA ......................................................................... 10
6. Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA ..................................................... 10
B. Rumah dan Sanitasi Rumah................................................................................ 14
1. Pengertian Rumah ........................................................................................... 14
2. Sanitasi rumah ................................................................................................. 15
3. Syarat rumah sehat .......................................................................................... 15
C. Hubungan Kualitas Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Penyakit ISPA ................ 18
BAB III PENUTUP...................................................................................................... 23
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 23
B. Saran ............................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 24
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu komponen pembangunan manusia yang
vital, dan dalam mendapatkan hal tersebut maka tidak terlepas dari ketersediaan
sarana prasarana kesehatan yang memadahi. Bahkan kesehatan merupakan
tolak ukur keberhasilan pembangunan dimana akan memberikan dampak positif
dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat (Feraa, 2012).
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat memiliki keterkaitan yang erat
dalam pembangunan. Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
terwujud kesehatan yang optimal melalui terciptanya Masyarakat, Bangsa dan
Negara yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan berperilaku dan
dalam lingkungan yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
Kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memilki derajat kesehatan
yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia (Indonesia Sehat, 2010).
Dalam Indonesia Sehat 2010, keadaan lingkungan yang diharapkan adalah
lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang
bebas polusi, serta dapat mengurangi akibat buruk dari penyakit terutama penyakit
menular. Salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih tinggi angka
kejadiannya dan penanganan belum sepenuhnya berhasil adalah ISPA (Infeksi
Saluran Pernafasan Akut), meliputi infeksi akut saluran pernafasan bagian atas
dan infeksi akut saluran pernafasan bagian bawah. Sebagian besar dari infeksi
saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk-pilek, disebabkan oleh
virus, dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Infeksi saluran
pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada
semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.
Masalah kesehatan paru dan pernapasan memang merupakan salah satu
masalah kesehatan penting di dunia dan juga di Indonesia. Setidaknya ada 8
penyakit atau masalah kesehatan paru yang kini ada dalam ruang lingkup program
pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan Kementerian Kesehatan RI,
artinya merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yaitu:
Tuberkulosis, ISPA, Penyakit Emerging dan New Emerging, seperti SARS, Avian
Influenza, H1N1, Asma Bronkial, Penyakit Paru Obstruktif Kronik, Kanker Paru,
Polusi Udara dan Climate Change, Penanggulangan Masalah Merokok
(Kementerian Kesehatan RI, 2011).
Keadaan badan yang tidak sehat dapat menurunkan produktivitas
seseorang sehingga akan berpengaruh pada keadaan sosial-ekonomi dan mutu
sumber daya manusia itu sendiri (Ferra, 2012).
Kejadian ISPA bisa terjadi karena pencemaran kualitas udara di luar
maupun di dalam ruangan. Sumber pencemaran udara di luar ruangan antara lain
pembakaran untuk pemanasan, lalu lintas transportasi, pembangkit tenaga listrik
dan lain-lain. Sedangkan pencemaran udara di dalam ruangan bersumber dari
bahan-bahan sintesis dan beberapa bahan alamiah yang dipergunakan untuk
karpet, busa, pelapis dinding dan bahan perabot rumah tangga (asbestos,
formahdehyde, VOC), pembakaran bahan bakar dalam rumah yang digunakan
untuk memasak dan memanaskan ruangan (nitrogen oksida, karbon monoksida,
sulfur dioksida, hidrokarbon, partikulat), gas-gas yang bersifat toksik yang terlepas
ke dalam ruangan rumah yang berasal dari dalam tanah dibawah rumah (radon),
produk konsumsi (pengkilap prabot, perekat, kosmetik, pestisida/insektisida), asap
rokok dan mikroorganisme (Kusnoputranto, 2000).
Penyakit ISPA merupakan suatu kelompok penyakit menular. Adapun
beberapa penyebabnya adalah penebangan hutan yang meluas dan
pembangunan irigasi, program pengendalian vektor penyakit seperti serangga dan
tikus yang terbengkalai, kepadatan penduduk secara berlebihan, disertai kondisi
sanitasi rumah yang jelek. Penularan penyakit ISPA ini sangat dipengaruhi oleh
kepadatan hunian, kualitas udara yang terkait dengan sistem perhawaan dan
pencahayaan, perilaku dan higine perorangan, masuknya sinar matahari pagi dan
lainnya. Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia termasuk golongan
ekonomi menengah ke bawah yang kurang mampu membuat/membeli rumah
yang memenuhi syarat kesehatan, maka penularan penyakit pernafasan mudah
terjadi dalam rumah yang terlalu padat penghuninya (Soewasti,dkk. 2000).
Menurut Notoatmojo (2003), rumah yang luas ventilasinya tidak memenuhi
syarat kesehatan akan mempengaruhi kesehatan penghuni rumah, hal ini
disebabkan karena proses pertukaran aliran udara dari luar ke dalam rumah tidak
lancer, sehingga bakteri penyebab penyakit ISPA yang ada di dalam rumah tidak
dapat keluar. Ventilasi juga menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan
karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit, oleh karena itu kelembaban
ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk perkembangbiakan
bakteri penyebab ISPA.
Sanitasi rumah dan lingkungan erat kaitannya dengan angka kejadian
penyakit menular, terutama ISPA. Kepadatan penduduk yang tinggi dalam suatu
wilayah mempengaruhi tingkat prevalensi ISPA. Semakin tinggi tingkat penduduk
di suatu daerah, maka semakin tinggi pula prevalensi ISPA. Hal ini dikarenakan
inhalasi yang terjadi akan semakin intens, sehingga virus akan lebih mudah
menyebar melalui udara untuk menularkan kepada orang lain. Selain dari itu,
akibat lain dari kepadatan penduduk yang tinggi dan pemukiman yang rapat, yaitu
menumpukkan sampah rumah tangga di sekitar lingkungan tempat tinggal,
sehingga kesan kumuh dan kotor tercipta (Ferra, 2012).
B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara sanitasi fisik rumah dengan kejadian penyakit ISPA?
C. Tujuan
Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi fisik rumah dengan kejadian penyakit
ISPA.
BAB II
PEMBAHASAN
A. ISPA
1. Pengertian ISPA
ISPA adalah penyakit infeksi saluran pernafasan atas yang meliputi
infeksi mulai dari rongga hidung sampai dengan epiglottis dan laring seperti
demam, batuk, pilek, infeksi telinga (otitis media), dan radang tenggorokan
(faringitis).
Menurut Depkes RI (2005), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
adalah penyakit Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran napas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga
telinga tengah dan pleura.
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai
14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai
dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya
seperti: sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru. Sebagian besar dari
infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan
tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak
akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik
dapat mengakibat kematian (Rahmaliah, 2004).

2. Klasifikasi ISPA
Klasifikasi berdasarkan umur (Kemenkes RI, 2011), sebagai berikut :
1) Kelompok umur < 2 bulan, diklasifikasikan atas :
a. Pneumonia berat: bila disertai dengan tanda-tanda klinis seperti
berhenti menyusu (jika sebelumnya menyusu dengan baik), kejang,
rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun, stridor pada anak
yang tenang, mengigil, demam (38C atau lebih) atau suhu tubuh
yang rendah (di bawah 35,5 C), pernapasan cepat 60 kali atau lebih
per menit, penarikan dinding dada berat, sianosis sentral (pada
lidah), serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang.
b. Bukan pneumonia: jika anak bernapas dengan frekuensi kurang dari
60 kali per menit dan tidak terdapat tanda pneumonia seperti di atas.

2) Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun, diklasifikasikan atas :


a. Pneumonia sangat berat: batuk atau kesulitan bernapas yang
disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat minum, adanya
penarikan dinding dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.
b. Pneumonia berat: batuk atau kesulitan bernapas dan penarikan
dinding dada, tetapi tidak disertai sianosis sentral dan dapat minum.
c. Pneumonia: batuk (atau kesulitan bernapas) dan pernapasan cepat
tanpa penarikan dinding dada.
d. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa): batuk (atau kesulitan
bernapas) tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.
e. Pneumonia persisten: anak dengan diagnosis pneumonia tetap sakit
walaupun telah diobati selama 10-14 hari dengan dosis antibiotik
yang adekuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya terdapat
penarikan dinding dada, frekuensi pernapasan yang tinggi, dan
demam ringan.
3) Kelompok umur dewasa yang mempunyai faktor risiko lebih tinggi untuk
terkena pneumonia yaitu :
a. Usia lebih dari 65 tahun
b. Merokok
c. Malnutrisi baik karena kurangnya asupan makan ataupun
dikarenakan penyakit kronis lain.
d. Kelompok dengan penyakit paru, termasuk kista fibrosis, asma,
PPOK, dan emfisema.
e. Kelompok dengan masalah-masalah medis lain, termasuk diabetes
dan penyakit jantung.
f. Kelompok dengan sistem imunitas dikarenakan HIV, transplantasi
organ, kemoterapi atau penggunaan steroid lama.
g. Kelompok dengan ketidakmampuan untuk batuk karena stroke,
obat-obatan sedatif atau alkohol, atau mobilitas yang terbatas.
h. Kelompok yang sedang menderita infeksi traktus respiratorius atas
oleh virus.

3. Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia .
Bakteri penyebab ISPA seperti : Diplococcus pneumonia, Pneumococcus,
Streptococcus hemolyticus, Streptococcus aureus, Hemophilus influenza,
Bacillus Friedlander. Virus penyebabnya seperti : Respiratory syncytial
virus, virus influenza, adenovirus, cytomegalovirus. Jamur seperti :
Mycoplasma pneumoces dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus,
Candida albicans (Depkes RI, 2000).

Gambar 2. 1 Etiologi ISPA


4. Gejala ISPA
Menurut WHO (2007), penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat
menular, hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya
tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal,
gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang
kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus
encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak
merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi
kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi,
gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin
terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba
eustachii, hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). Secara umum
gejala ISPA meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza
(pilek), sesak napas, mengi atau kesulitan bernapas).

5. Cara penularan penyakit ISPA


Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah
tercemar, bibit penyakit masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, oleh
karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease.
Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi
tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi.
Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak
langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya
adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau
mikroorganisme penyebab (WHO, 2007).

6. Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA


A. Agent
Infeksinya dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya
bisa secara akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks,
faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal
sebagai selesma/ common cold/ koriza/ flu/ pilek, merupakan penyakit
virus yang paling sering (WHO, 2007). Berdasarkan hasil penelitian
mendapatkan bahwa bakteri Streptococcus pneumonie adalah bakteri
yang menyebabkan sebagian besar kematian 4 juta balita setiap tahun
di negara berkembang.
B. Karakteristik Balita
1. Umur
Risiko untuk terkena ISPA pada anak yang lebih muda
umurnya lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua
umurnya. Dari hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh umur
terhadap kejadian ISPA pada anak Balita.
Anak berusai di bawah 2 tahun mempunyai risiko mendapat
ISPA lebih besar daripada anak yang lebih tua. Keadaan ini mungkin
dan lumen saluran saluran nafasnya relatif sempit. Terjadinya ISPA
terutama pneumonia pada bayi dan pada anak balita dipengaruhi
oleh usia anak. Bayi yang berumur kurang dari 2 bulan mempunyai
risiko yang lebih tinggi untuk terkena pneumonia dibandingkan
dengan anak umur 2 bulan sampai dengan 5 tahun.
2. Jenis Kelamin
Tidak terdapat perbedaan prevalensi, insiden maupun lama
ISPA pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Namun
menurut beberapa penelitian kejadian ISPA lebih sering didapatkan
pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, terutama anak
usia muda, di bawah 6 tahun.
3. Status Gizi
Balita yang status gizinya kurang menyebabkan ISPA
sebesar 29,91 kali lebih tinggi dibandingkan dengan balita yang
mempunyai status gizi baik. Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi
buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit
penyakit dalam tubuh.
4. Berat Badan Lahir
Bahwa balita dengan berat badan lahir rendah, yaitu <2.500
gram, menderita pneumonia berulang sebesar 35%. Terdapat
hubungan antara berat badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian
pneumonia. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat
infeksi pada bayi baru lahir.
5. Status ASI eksklusif
Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang
bayi kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri
dan virus, terutama selama minggu pertama (4-6 hari) payudara
akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal mengandung zat
kekebalan (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus faktor dan
sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari
infeksi.
Frekuensi kejadian ISPA sering lebih banyak terjadi pada
anak yang tidak diberikan ASI, sementara yang tidak mengalami
kejadian ISPA terjadi pada anak dengan pola pemberian ASI secara
eksklusif. Namun tidak ada hubungan antara pola pemberian ASI
secara eksklusif dengan frekuensi kejadian ISPA yang sering pada
anak usia 6-12 bulan.
6. Status imunisasi
Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang
terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan terhindar dari
penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan pada
pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting
dalam pemeliharaan kesehatan anak.
Terdapat hubungan yang bermakna antara status imunisasi
dengan kejadian penyakit ISPA pada balita. Balita yang status
imunisasinya tidak lengkap memiliki risiko lebih besar untuk
menderita penyakit ISPA dibandingkan dengan balita dengan status
imunisasi lengkap (Resti, 2009).
C. Karakteristik Keluarga
1. Status Sosioekonomi, Budaya dan Pendidikan
Keterbatasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan
merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan,
serta upaya pencegahan penyakit. Pada kelompok masyarakat
dengan tingkat pendidikan yang rendah pada umumnya status
ekonominya juga rendah. Pendidikan yang rendah menyebabkan
masyarakat tidak mengerti untuk memilih makanan yang bergizi dan
pangadaan sarana sanitasi yang diperlukan.
Tingkat pendidikan yang rendah merupakan faktor risiko
meningkatkan kematian akibat ISPA terutama pneumonia.
Keterbatasan pengetahuan ini menyebabkan para orangtua
terlambat membawa anak mereka yang sakit ke tenaga kesehatan
atau tempat pelayanan kesehatan. Ibu dengan pendidikan lebih
tinggi, akan lebih banyak membawa anak berobat ke fasilitas
kesehatan, sedangkan ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak
mengobati sendiri ketika anak sakit ataupun berobat ke dukun (Ayu,
2009).

D. Karakteristik Lingkungan Rumah


Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap kejadian
penyakit ISPA. Faktor lingkungan tersebut dapat berasal dari dalam
maupun luar rumah. Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok
manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan. Keadaan
perumahan merupakan salah satu faktor yang menentukan kondisi
hygine dan sanitasi lingkungan. Sanitasi rumah adalah usaha
kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada penguasaan
terhadap faktor fisik yang mempengarhi derajat kesehatan manusia.
Kondisi bangunan rumah dan lingkungannya yang kurang
memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko dan sumber
penularan berbagai jenis penyakit khususnya penyakit berbasis
lingkungan. Penyakit ISPA dan tuberculosis yang erat kaitannya dengan
kondisi hygine bangunan perumahan (Depkes RI, 2007). Penyakit
gangguan saluran pernafasan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang
buruk. Lingkungan yang buruk tersebut dapat berupa kondisi fisik
perumahan yang tidak mempunyai syarat seperti ventilasi, kepadatan
penghuni, penerangan dan pencemaran udara dalam rumah.
Lingkungan perumahan sangat berpengaruh terhadap terjadinya ISPA.
Kondisi fisik rumah seperti ventilasi, kelembaban udara, suhu ruangan,
pencahayaan, kepadatan hunian rumah, penggunaan obat anti nyamuk,
penggunaan bahan bakar untuk memasak, keberadaan perokok, dan
lain sebagainya mempengaruhi tingkat kejadian ISPA (Ayu, 2009).

B. Rumah dan Sanitasi Rumah


1. Pengertian Rumah
Menurut Notoatmodjo (2003), rumah adalah bangunan yang
berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan
keluarga. Menurut Dinkes (2005), rumah sehat adalah proporsi rumah
yang memenuhi kriteria sehat minimum komponen rumah dan sarana
sanitasi dari tiga komponen (rumah, sarana sanitasi dan perilaku) di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Minimum yang memenuhi kriteria
sehat pada masing-masing parameter adalah sebagai berikut :
a) Minimum dari kelompok komponen rumah adalah langit-langit, dinding,
lantai, jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga, ventilasi, sarana
pembuangan asap dapur, dan pencahayaan.
b) Minimum dari kelompok sarana sanitasi adalah sarana air bersih,
jamban (sarana pembuangan kotoran), sarana pembuangan air limbah
(SPAL), dan sarana pembuangan sampah.
c) Perilaku
Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang
menitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik yang
digunakan sebagai tempat berlindung yang mempengaruhi derajat
kesehatan manusia. Sarana sanitasi tersebut antara lain ventilasi,
suhu, kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi
bangunan rumah, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan
kotoran manusia, dan penyediaan air. Sanitasi rumah sangat erat
kaitannya dengan angka kesakitan penyakit menular, terutama ISPA.
Lingkungan perumahan sangat berpengaruh pada terjadinya dan
tersebarnya ISPA. Rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari
rendahnya taraf kesehatan jasmani dan rohani yang memudahkan
terjangkitnya penyakit dan mengurangi daya kerja atau daya produktif
seseorang. Rumah tidak sehat ini dapat menjadi reservoir penyakit bagi
seluruh lingkungan, jika kondisi tidak sehat bukan hanya pada satu
rumah tetapi pada kumpulan rumah (lingkungan pemukiman).
Timbulnya permasalahan kesehatan di lingkungan pemukiman pada
dasarnya disebabkan karena tingkat kemampuan ekonomi masyarakat
yang rendah, karena rumah dibangun berdasarkan kemampuan
keuangan penghuninya (Notoatmodjo, 2003).
2. Sanitasi rumah
Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan
pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Dalam hal ini istilah sanitasi
sering dikaitkan dengan kesehatan lingkungan. Sedangkan sanitasi rumah
adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada
pengawasan terhadap struktur fisik, dimana orang yang menggunakannya
untuk tempat tinggal atau berlindung tidak terpengaruh derajat
kesehatannya. Sanitasi rumah tersebut antara lain ventilasi, suhu,
kelembaban, kepadatan hunian, penerangan alami, konstruksi bangunan,
sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan kotoran manusia dan
penyediaan air bersih (Irwan, 2012).
3. Syarat rumah sehat
Sehat tidaknya rumah sangat erat kaitannya dengan angka kesakitan
penyakit menular, terutama ISPA. Aspek kesehatan dari rumah harus
menjamin kesehatan penghuninya dalam arti luas. Oleh karena itu
diperlukan syarat perumahan, sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis.
Secara fisik kebutuhan fisiologis meliputi kebutuhan suhu,
pencahayaan, perlindungan terhadap kebisingan, ventilasi, dan
tersedianya ruang yang optimal untuk bermain anak.
b. Memenuhi kebutuhan psikologis.
Kebutuhan psikologis berfungsi untuk menjamin privacy bagi
penghuni yang tinggal di rumah tersebut secara normal, memberi
rasa keindahan dan memungkinkan hubungan yang serasi antara
orang tua dan anak. Adanya ruangan tersendiri bagi remaja dan
ruangan untuk berkumpulnya anggota keluarga serta ruang tamu
sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis dalam
rumah.
c. Perlindungan terhadap penularan penyakit.
Untuk mencegah penularan penyakit diperlukan sarana air
bersih, fasilitas pembuangan air kotor, fasilitas penyimpanan
makanan, menghindari adanya intervensi dari serangga dan hama
atau hewan lain yang dapat menularkan penyakit.
d. Perlindungan/pencegahan terhadap bahaya kecelakaan dalam
rumah.
Agar terhindar dari kecelakaan maka konstruksi rumah harus
kuat dan memenuhi syarat bangunan, desain pencegahan terjadinya
kebakaran dan tersedianya alat pemadam kebakaran, pencegahan
kecelakaan jatuh, dan kecelakaan mekanis lainnya (Irwan, 2012).
Menurut Kepmenkes RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang
persyaratan kesehatan perumahan (Depkes RI, 1999), syarat rumah
sehat adalah sebagai berikut :
a. Bahan bangunan
1) Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang
dapat membahayakan kesehatan, antara lain : debu total kurang
dari 150 g/m2, asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 per 24 jam,
plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan.
2) Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan
berkembangnya mikroorganisme pathogen.
b. Komponen dan penataan ruang
1) Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
2) Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar
cuci kedap air dan mudah dibersihkan
3) Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan
kecelakaan
4) Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir
5) Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya
6) Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.
c. Pencahayaan
Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak
langsung dapat menerangi seluruh ruangan dengan intensitas
penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata.
d. Kualitas udara
1) Suhu udara nyaman antara 180 300C
2) Kelembaban udara 40 70 %
3) Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam
4) Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam
5) Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3.
e. Ventilasi
Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas
lantai.
f. Vektor penyakit
Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di dalam
rumah.
g. Penyediaan air
1) Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas
minimal 60 liter/ orang/hari.
2) Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan.
h. Sarana penyimpanan makanan
Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman.
i. Pembuangan limbah
1) Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari
sumber air, tidak menimbulkan bau, dan tidak mencemari
permukaan tanah.
2) Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak
menimbulkan bau, tidak mencemari permukaan tanah dan air
tanah.
j. Kepadatan hunian
Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari
2 orang tidur.
C. Hubungan Kualitas Sanitasi Rumah Dengan Kejadian Penyakit ISPA
Faktor kualitas sanitasi/kesehatan lingkungan rumah yang terdiri dari
ventilasi, kelembaban, suhu, pencahayaan alami rumah, kepadatan hunian
rumah serta pencemaran udara dalam rumah berhubungan erat dengan
kejadian penyakit ISPA. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :
a) Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini
berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut
tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di
dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya
menjadi meningkat. Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan
mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai ventilasi minimal 10%
dari luas lantai.
Didapatkan bahwa prevalensi rate ISPA pada bayi yang memiliki
ventilasi kamar tidur yang tidak memenuhi syarat kesehatan lebih besar
dengan yang memenuhi syarat kesehatan. Hasil uji statistik diperoleh
bahwa ada hubungan yang bermakna antara kondisi ventilasi dengan
kejadian penyakit ISPA.
b) Kelembaban ruangan
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1077/Menkes/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam
Ruang Rumah menetapkan bahwa kelembaban yang sesuai untuk rumah
sehat adalah 40- 60%. Kelembaban yang terlalu tinggi maupun rendah
dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikrorganisme, termasuk
mikroorganisme penyebab ISPA (Kemenkes RI, 2011).
Terdapat hubungan sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada anak
balita yang didapatkan bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap
ISPA pada balita.
c) Suhu ruangan
Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum
180 - 300C. Hal ini berarti, jika suhu ruangan rumah di bawah 18 0C atau di
atas 300C, keadaan rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Suhu ruangan
yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya
ISPA pada balita sebesar 4 kali (Kemenkes RI, 2011).
d) Pencahayaan
Rumah yang sehat adalah rumah yang tersedia cahaya yang cukup.
Suatu rumah atau ruangan yang tidak mempunyai cahaya, dapat
menimbulkan perasaan kurang nyaman, juga dapat mendatangkan
penyakit. Sebaliknya suatu ruangan yang terlalu banyak mendapatkan
cahaya akan menimbulkan rasa silau, sehingga ruangan menjadi tidak
sehat. Agar rumah atau ruangan mempunyai sistem cahaya yang baik,
dapat dipergunakan dua cara (Kemenkes RI, 2011), yaitu :
1) Cahaya alamiah, yakni mempergunakan sumber cahaya yang
terdapat di alam, seperti matahari. Cahaya matahari sangat penting,
karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah.
Pencahayaan alami dianggap baik jika besarnya minimal 60 lux . Hal
yang perlu diperhatikan dalam membuat jendela, perlu diusahakan
agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, dan
tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela di sini, di samping
sebagai ventilasi juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi
penempatan jendela pun harus diperhatikan dan diusahakan agar
sinar matahari lebih lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding).
2) Cahaya buatan adalah menggunakan sumber cahaya yang bukan
alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.
Pencahayaan alami dan/atau buatan langsung maupun tidak
langsung dapat menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60
lux, dan tidak menyilaukan.

e) Kepadatan hunian rumah


Kepadatan penghuni rumah merupakan perbandingan luas lantai dalam
rumah dengan jumlah anggota keluarga penghuni rumah tersebut.
Kepadatan hunian ruang tidur menurut Permenkes RI Nomor
829/MENKES/SK/VII/1999 adalah minimal 8 m 2, dan tidak dianjurkan
digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak di
bawah umur lima tahun (Depkes RI, 1999).
Kasus kejadian pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang
tinggal di rumah yang padat dibandingkan dengan anak yang tinggal di
rumah yang tidak padat. Kepadatan hunian rumah dapat memberikan risiko
terjadinya ISPA sebesar 9 kali.
f) Pencemaran udara dalam rumah
Bahan pencemar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian
ISPA pada Balita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pencemaran udara
dalam rumah berpengaruh terhadap kejadian ISPA. Didapatkan pula
hubungan yang bermakna antara pajanan asap rokok dengan kejadian
ISPA pada Balita.
g) Keberadaan Perokok
Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif.
Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan
racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic
Hydrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Didapatkan hubungan yang bermakna
antara pajanan asap rokok dengan kejadian ISPA pada Balita.
h) Lantai
Lantai rumah dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA karena
lantai yang tidak memenuhi standar merupakan media yang baik untuk
perkembangbiakan bakteri atau virus penyebab ISPA. Lantai yang baik
adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Bahan lantai
harus kedap air dan mudah dibersihkan, jadi paling tidak lantai perlu
diplester dan akan lebih baik kalau dilapisi ubin atau keramik yang mudah
dibersihkan.
i) Dinding
Dinding rumah yang baik menggunakan tembok, tetapi dinding rumah
di daerah tropis khususnya di pedesaan banyak yang berdinding papan,
kayu dan bambu. Hal ini disebabkan masyarakat pedesaan
perekonomiannya kurang. Rumah yang berdinding tidak rapat seperti
papan, kayu dan bambu dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang
berkelanjutan seperti ISPA, karena angin malam yang langsung masuk ke
dalam rumah. Jenis dinding mempengaruhi terjadinya ISPA, karena dinding
yang sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga
akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman.
j) Atap
Salah satu fungsi atap rumah yaitu melindungi masuknya debu dalam
rumah. Atap sebaiknya diberi plafon atau langit-langit, agar debu tidak
langsung masuk ke dalam rumah. Atap juga berfungsi sebagai jalan
masuknya cahaya alamiah dengan menggunakan genteng kaca. Genteng
kaca pun dapat dibuat secara sederhana, yaitu dengan melubangi genteng,
biasanya dilakukan pada waktu pembuatannya, kemudian lubang pada
genteng ditutup dengan pecahan kaca (Suryanto, 2003).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Lingkungan rumah yang tidak sehat merupakan penyebab dari rendahnya
taraf kesehatan jasmani dan rohani yang memudahkan terjangkitnya penyakit dan
mengurangi daya kerja atau daya produktif seseorang. Lingkungan rumah dan
sanitasi rumah memiliki pengaruh terhadap penularan dan penyebaran penyakit
ISPA. Faktor kualitas sanitasi atau kesehatan lingkungan rumah yang terdiri dari
ventilasi, kelembaban, suhu, pencahayaan alami rumah, kepadatan hunian rumah
serta pencemaran udara dalam rumah berhubungan erat dengan kejadian
penyakit ISPA.

B. Saran
Masyarakat sebaiknya tetap menjaga kesehatan lingkungan dan menjaga
kesehatan rumah agar terhindar dari penyakit menular seperti ISPA dan penyakit
menular lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ferra, F. 2012. Pengaruh Kondisi Sanitasi Rumah Terhadap Kejadian ISPA Di
Kecamatan Wiyung Kota Surabaya. Pendidikan Geografi
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2010.
Kusnoputranto. 2000. Kesehatan Lingkungan. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Indonesia. Jakarta
Soewasti. 2000. Pengaruh Lingkungan Pemukiman Dalam Penyebaran Tuberkulosis.
Media Litbangkes
Notoadmojo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
Depkes RI. 2005. Rencana Strategi Departemen Kesehatan. Jakarta: Depkes RI
Rasmaliah. 2004. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Dan Penanggulangannya.
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara
Resti, R. 2009. Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di
Kelurahan Ilir Gunungsitoli Kabupaten Nias. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Sumatera Utara
WHO. 2007. Pencegahan dan Pengendalian ISPA Yang Cenderung Menjadi Epidemi
dan Pandemi Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Pedoman Interim WHO. Alih
Bahasa: Trust Indonesia. Jakarta
Ayu, V. 2009. Hubungan Antara Sanitasi Fisik Rumah Dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. Fakultas Kesehatan.
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Irwan, A. 2012. Hubungan Lingkungan Fisik Rumah Dengan Kejadian ISPA Pada Anak
Balita Di Kabupaten Wonosobo. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Suryanto, 2003. Hubungan Sanitasi Rumah Dan Faktor Intern Anak Balita Dengan
Kejadian ISPA Pada Anak Balita. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas
Airlangga Surabaya