Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Di negara berkembang seperti Indonesia, masalah trauma pada
ekstremitas masih sering ditemukan. Hal ini disebabkan karena jumlah
kendaraan bermotor yang terus meningkat terutama sepeda motor. Hal ini
tidak disertai dengan kesadaran berlalu lintas yang baik sehingga jumlah
kecelakaan yang tinggi. Menurut data Departemen Perhubungan Republik
Indonesia, sepanjang tahun 2006 untuk setiap hari terjadi kasus yang
menyebabkan 3 orang meninggal dunia per hari akibat kecelakaan. Dalam hal
itu di tunjukan juga pada periode yang sama pada tahun 2007, kasus
kecelakaan sampai bulan Agustus mengalami peningkatan, rata-rata
kecelakaan lalu lintas sebanyak 9 kasus per hari dan menyebabkan 4 (empat)
orang meninggal dunia. Data DISHUB juga menyebutkan, kerugian akibat
kecelakaan di Indonesia mencapai 2,17 persen. Akibat dari kecelakaan
kendaraan bermotor maka akan timbul suatu trauma. Trauma yang timbul
dapat menyebabkan fraktur salah satunya dapat terjadi pada ekstremitas
bawah, diantaranya adalah fraktur pada tibia plateau. Patah tulang tibia
plateau disebabkan oleh gaya varus atau valgus yang dikombinasikan dengan
gaya axial. Hal ini sering disebabkan karena kecelakaan pada pejalan kaki
yang tertabrak mobil, kecelakaan motor, selain itu bisa juga disebabkan
karena jatuh dari ketinggian.Sendi lutut adalah satu dari tiga sendi utama
yang menopang berat badan pada ektremitas bawah. Untuk itu refrat ini kan
membahas hal tersebut1.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui mengenai tibial plateau
2. Mengetahui penatalaksanaan rehabilitasi medik pada kasus tibial plateau.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi
Tibia terdiri dari : akhir proksimal disebut sebagai plateau
(terbagi menjadi medial yang berbentuk konkaf dan lateral yang
berbentuk konvex), tubercle,akhir distal disebut sebagai pilon (sendi dan
medial maleolus). Tibial plateau merupakan penopang massa tubuh
bagian proksimal dari tibia dan melakukan artikulasi dengan condylus
femoralis untuk membentuk sendi lutut.3,4
Sebuah os longum, mempunyai corpus, ujung proximal dan
ujung distal, berada di sisi medial dan anterior dari cruris. Pada posisi
berdiri, tibia meneruskan gaya berat badan menuju ke pedis.
Ujung proximal lebar, berhubungan persendian dengan os femur
membentuk articulatio genu, membentuk condylus medialis dan
condylus lateralis tibiae, facies proximalis membentuk facies articularis
superior, bentuk besar, oval, permukaan licin5.
Facies articularis ini dibagi menjadi dua bagian, dari anterior ke
posterior, oleh fossa intercondyloidea anterior, eminentia
intercondyloidea dan fossa intercondyloidea posterior5.
Facies articularis dari condylus medialis berbentuk oval,
sedangkan facies articularis condylus lateralis hampir bundar. Condylus
lateralis lebih menonjol daripada condylus medialis. Pada facies inferior
dari permukaan dorsalnya terdapat facies articularis, berbentuk
lingkaran, dinamakan facies articularis fibularis, mengadakan persendian
dengan capitulum fibulae. Di sebelah inferior dari condylus tibiae
terdapat tonjolan ke arah anterior, disebut tuberositas tibiae. Di bagian
distalnya melekat ligamentum patellae5.
Corpus tibiae mempunyai tiga buah permukaan, yaitu (1) facies
medialis, (2) facies lateralis dan (3) facies posterior. Mempunyai tiga
buah tepi, yaitu (1) margo anterior, (2) margo medialis dan (3) margo

2
interosseus. Fossa medialis datar, agak konveks, ditutupi langsung kulit
dan dapat dipalpasi secara keseluruhan. Facies lateralis konkaf,
ditempati oleh banyak otot. Bagian distalnya menjadi konveks, berputar
ke arah ventral, melanjutkan diri menjadi bagian ventral ujung distal
tibia. Facies posterior berada di antara margo medialis dan margo
interosseus. Pada sepertiga bagian proximal terdapat linea poplitea, suatu
garis yang oblique dari facies articularis menuju ke margo medialis5.
Margo anterior disebut crista anterior, sangat menonjol, di bagian
proximal mulai dari tepi lateral tuberositas tibiae, dan di bagian distal
menjadi tepi anterior dari malleolus medialis ujung distal tibia
membentuk malleolus medialis. Malleolus 5.

.Gambar 1. Anatomi Tibia Fibula


(dikutip dari Netters Concise Orthopaedic Anatomy)9

3
Gambar 2. Anatomi sendi
(dikutip dari Netters Concise Orthopaedic Anatomy)9

B. Epidemiologi
Fraktur tibial plateau terjadi pada 1% kasus dari semua fraktur
dan 8% kasus terjadi pada pasien yang tua. Fraktur yang terjadi pada
pasien tua merupakan hasil dari trauma dengan energi rendah. Fraktur
pada medial plateau terjadi pada 23% kasus fraktur plateau sedangkan
fraktur lateral plateau terjadi pada 70% kasus, dan kombinasi antara
keduanya terjadi pada 31% kasus4.

4
C. Mekanisme Cedera
Patah tulang tibia plateau disebabkan oleh gaya varus atau valgus
yang dikombinasikan dengan gaya axial. Hal ini sering disebabkan
karena kecelakaan pada pejalan kaki yang tertabrak mobil, kecelakaan
sepeda motor, selain itu bisa juga disebabkan karena jatuh dari
ketinggian. Sendi lutut adalah satu dari tiga sendi utama yang menopang
berat badan pada ektremitas bawah. Fraktur yang mengenai tibia
proksimal mempengaruhi fungsi dan stabilitas sendi. Fraktur ini bisa
intra artikular (tibia plateau) atau ekstra artikular, yaitu fraktur pada 1/3
proksimal tibia. Secara umum sebab dari fraktur tibia 1/3 proksimal
dikategorikan menjadi dua yaitu akibat energi lemah dan energi kuat.

D. Definisi Frakture
Fraktur adalah hilanganya kontinuitias tulang, tulang rawan
sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial1.

E. Proses Terjadinya Fraktur


Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami
kepatahan, kita harus mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan
trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal
mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan
memutar (shearing). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang
menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan
tarikan1. Trauma bisa bersifat10,12, :
a. Trauma langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung
pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang
terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut
mengalami kerusakan.
b. Trauma tidak langsung. Disebut trauma tidak langsung apabila trauma
dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya

5
jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada
klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Tekanan pada tulang dapat berupa :
a) Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau
oblik
b) Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
c) Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur
impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi
d) Kompresi vertical dapat menyebabkan fraktur komunitif atay
memecah misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle
pada anak-anak
e) Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu
akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z
f) Fraktur oleh karena remuk
g) Trauma karena tarikan pada ligament atau tendo akan menarik
sebagian tulang

Gambar 4. Mekanisme Trauma


(a) berputar (b) kompresi (c) fragmen triangular butterfly (d) tension
(dikutip dari kepustakaan 2)

F. Klasifikasi Fraktur
Fraktur dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologis, klinis, dan
radiologis. Klasifikasi Etiologi:
a) Fraktur traumatik. Terjadi karena trauma yang tiba-tiba

6
b) Fraktur patologis. Terjadi kerana kelemahan tulang sebelumnya
akibat kelainan patologis di dalam tulang
c) Fraktur stress. Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus
pada suatu tempat tertentu
Klasifikasi Klinis
a) Fraktur tertutup (simple fraktur). Fraktur tertutup adalah suatu
fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.
b) Fraktur terbuka (compound fracture). Fraktur terbuka adalah fraktur
yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada
kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam)
atau from without (dari luar)
c) Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture). Fraktur dengan
komplikasi adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya
malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang.
Klasifikasi Radiologis
1. Berdasarkan lokalisasi :
a) Diafisal
b) Metafisal
c) Intra-artikuler
d) Fraktur dengan dislokasi
2. Berdasarkan konfigurasi :
a) Fraktur transversal
b) Fraktur oblik
c) Fraktur spiral
d) Fraktur Z
e) Fraktur segmental
f) Fraktus komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
g) Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
h) Fraktur avulse, fragmen kecil oleh otot atau tendo misalnya
fraktur epikondilus humeri
i) Fraktur depresi, karena trauma langsung

7
j) Fraktur impaksi
k) Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah
misalnya pada fraktur vertebra, patella, talus, kalkaneus
l) Fraktur epifisis
3. Menurut ekstensi
a) Fraktur total
b) Fraktur tidak total
c) Fraktur buckle
d) Fraktur garis rambut
e) Fraktur green stick
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
a) Tidak bergeser (undisplaced)
b) Bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :
A. Bersampingan
B. Angulasi
C. Rotasi
D. Distraksi
E. Over-riding
F. Impaksi

Gambar 5. Klasifikasi Fraktur

8
G. Penyembuhan Fraktur
Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima
fase yaitu1 :
1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh
darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian
mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk
hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi
oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami
robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi
ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter
dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan
menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada
sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.

2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal


Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur
sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi
karena adanya sel-sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum
untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum
membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis
medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka
penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang
tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari
penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel
osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada jaringan
osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Pembentukan
jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma
suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan
membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada

9
pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga
merupakan suatu daerah radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari
setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian
pada kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast
diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlengketan
polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang yang
imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada
pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone sudah terlihat dan
merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan
fraktur.
4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara
perlahan-lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh
aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus
akan diresorpsi secara bertahap.
5. Fase remodeling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru
membentuk bagian yang menyerupai bulbus yang meliputi tulang
tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini, perlahan-
lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses
osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan
menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak
dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami
peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.

10
Gambar 5. Proses penyembuhan fraktur.
(a) hematom. Kerusakan jaringan dan perdarahan pada daerah fraktur.
(b) inflamasi. Sel-sel inflamasi tampak pada daerah hematom. (c) callus.
Populasi sel akan berubah menjadi osteoblast dan osteoclast. (d)
konsolidasi. Woven bonediganti oleh tulang lamellar dan fraktur
menyatu secara sempurna. (e) Remodelling. Terjadi perubahan struktur
tulang sehingga akan tampak seperti struktur normalnya.

I. KLASIFIKASI FRAKTUR TIBIA PLATEAU


Fraktur tibia plateau melibatkan aspek proksimal atau metaphysis dari
tibia. Mereka dibagi menjadienam jenis dengan klasifikasi schatkzer
1. Tipe I adalah fraktur baji atau split dari aspek lateral dataran
proximal tibia, biasanya sebagai akibat dari kekuatan valgus dan
aksial. Pada pola ini, fragmen baji tidak terkompresi (depresi) karena
tulang calcaneus yang mendasari kuat. Pola ini biasanya terlihat
pada pasien dengan usia muda.

Gambar 6. Fraktur tibia plateu tipe I


(dikutip dari The Orthopaedic Group)16

2. Tipe II adalah fraktur yang terjadi terkait kompresi yang membagi


fraktur dengan irisan lateral dan melibatkan cedera artikular.
Mekanisme cedera hampir sama dengan fraktur tipe I, tapi biasanya
tulang yang mendasari mungkin tulang yang telah osteoporosis yang
tidak mampu melawan tekanan yang lebih besar.

11
Gambar 7. Fraktur tibia plateu tipe II
(dikutip dari The Orthopaedic Group)16

3. Tipe III adalah fraktur kompresi murni dataran tinggi lateral.Sebagai


karena gaya aksial, depresi biasanya terletak lateral atau terpusat,
tetapi mungkin juga dapat melibatkan bagian manapun dari
permukaan artikular.

Gambar 8. Fraktur tibia plateu tipe III


(dikutip dari The Orthopaedic Group)16

4. Tipe IV adalah fraktur yang melibatkan medial dataran tinggi.


Sebagai dari gaya kompresi baik varus atau aksial, pola dapat
berupa pecahan atau split dengan kompresi. Karena fraktur ini
melibatkan medial dataran tinggi yang lebih besar.

12
Gambar 8. Fraktur tibia plateu tipe IV
(dikutip dari The Orthopaedic Group)16

5. Fraktur tipe V meliputi unsur-unsur perpecahan kedua kondilus


medial dan lateral dan mungkin termasuk kompresi artikular medial
atau lateral, biasanya disebabkan karena hasil dari gaya aksial murni
terjadi sementara ketika lutut dalam keadaan ekstensi.

Gambar 9. Fraktur tibia plateu tipe V


(dikutip dari The Orthopaedic Group)16

6. Tipe VI adalah fraktur, kompleks bicondylar dimana komponen


condylar terpisah dari diaphysis. Depresi dan fragmen fraktur
impaksi. Biasanya disebabkan karena tekanan trauma yang tinggi.

13
Gambar 10. Fraktur tibia plateu tipe VI
(dikutip dari The Orthopaedic Group)16

J. TANDA DAN GEJALA


Pada tibial plateau fracture akan didapatkan gejala yaitu5,6 :
a. nyeri lutut
b. nyeri sumbu
c. hemartrosis (yaitu berupa edem, nyeri pada lutut dimana pasien tidak
dapat memikul berat tubuh)

K. DIAGNOSIS
Adapaun cara mendiagnosis fraktur adalah ditemukannya tanda tanda
sebagai berikut6,7:
a. Anamnesis : didapatkan adanya keluhan nyeri, bengkak, ataupun
deformitas. Keluhan lain yang dipaparkan oleh pasien adalah tidak
mampu untuk menggerakkan lutut secara seluruhan ataupun
sebagian. Anmnesis penting untuk mengetahui apakah pasien
mengalami trauma dengan energy besar atau tidak. Kecelakan motor,
jatuh dari ketinggian lebih dari 10 kaki, dan ditabrak dengan
kendaraan sementara berjalan merupakan contoh mekanisme trauma
dengan energi tinggi. Anamnesis lainnya yang pertu ditanyakan
adalah factor-faktor komorbid dari pasien yang akan berpengaruh
pada terapi ataupun prognosis. Pasien dengan penyakit penyerta
seperti penyakit arteri koroner, emfisema, perokok, ataupun diabetes

14
tidak terkontrol memiliki resiko besar untuk timbulnya komplikasi
dari cedera yang terjadi adakah cidera khas.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Look : inspeksiapakah pasien nampak kesakitan, mencoba
melindungi anggotabadan yang patah. Bandingkan kiri
dengan kanan apakah terdapat pembengkakan, bengkok,
terputar, pemendekan, dan gerakan yang tidak normal.
2. Feel
Dilakukan analisis nyeri :
a. nyeri subjektif : tanyakan pada pasien
b. nyeri objektif : dilakukan palpasi pada tempat yang sakit
c. nyeri lingkar/ nyeri tekan yang sifatnya sirkuler, atau
d. nyeri sumbu pada tarikan dan atau penekanan anggota
badan yang patah searah dengan sumbunya
Keempat sifat nyeri ini didapatkan pada lokalisasi yang tepat
sama.
3. Move
pemeriksaan gerak sendi lutut aktif dan/pasif.
- Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
- Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi
tidak pada sendinya.
4. Pemeriksan trauma di tempat lain seperti kepala, thorak,
abdomen, tractus urinarius dan pelvis.
5. Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskular bagian
distal fraktur yang berupa pulsus arteri, warna kulit,
temperatur kulit, pengembalian darah ke kapiler (Capillary
refil test), sensasi motorik dan sensorik. Pada fraktur tibial
plateau, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap arteri popliteal
yaitu diantara proksimal dari adductor hiatus dan distal dari
soleus serta pemeriksaan nervus peroneal.

15
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan standar untuk trauma pada lutut adalah foto Xray
dengan posisi anteroposterior (AP), lateral, dan dua oblik. Foto X-
ray digunakan untuk mengidentifikasi garis fraktur dan pergeseran
yang terjadi tetapi tingkat kominusi atau depresi dataran mungkin
tidak terlihat jelas. Foto tekanan (dibawah anestesi) kadang-kadang
bermanfaat untuk menilai tingkat ketidakstabilan sendi. Bila
kondilus lateral remuk, ligamen medial sering utuh, tetapi bila
kondilus medial remuk, ligament lateral biasanya robek.8

Gambar 11. X-Ray dari fraktur tibial plateau.

CT-scan digunakan untuk mengidentifikasi adanya pergeseran dari


fraktur tibial plateau. CT-scan potongan sagital meningkatkan akurasi
diagnosis dari fraktur tibial plateau dan diindikasikan pada kasus dengan
depresi artikular. Magnetic resonance imaging (MRI) digunakan untuk
mengevaluasi trauma ataupun sebagai alternative dari CT-scan atau
arthroscopy. MRI dapat mengevaluasi tulang serta komponen jaringan lunak
dari lokasi trauma. Namun, tidak ada indikasi yang jelas untuk penggunaan
MRI pada fraktur tibial plateau.

16
Gambar 12. CT-scan Posisi AP, sagital, serta arthtroscopy menunjukkan
fraktur kompres lateral.

L. PENATALAKSANAAN

1) Range of Motion
a) Mengembalikan full ROM kneebaik secara normal (fleksi
1300-1400 ekstensi 0-50) maupun fungsional (00-
1100)sesegera mungkin untuk mencegah disability
b) Mengembalikan dan mempertahankan full ROM ankle dan hip joint
2) Kekuatan Otot
Mempertahankan dan mengembalikan kekuatan otot-otot berikut :

17
Muskulus Fungsi
m. quadriceps femoris Knee extensor
m. rectus femoris Fleksi hip
Hamstring muscles (m. semimembranosus Knee flexor, merentangkan dua
m. semitendinosus, m. biceps femoris) sendi, ekstensi hip
m. sartorius & m. gracilis Mencegah deformitas valgus
m. gastroenemius Plantar fleksor pedis
Tabel 1.Kekuatan Otot dan fungsinya
Dikutip dari Treatment & Rehabilitation of Fracture

3) Pengembalian fungsi
Mengembalikan gaya bejalan seperti sedia kala dan mengembalikan
stabilitas knee selama fase pemulihan.

3) Penatalaksanaan operatif dan konservatif Operatif


a) Konservatif : Reposisi tertutup dgn anestesi umum Cast
immobilization dg Long leg cast (LLC)
1. Perawatan post LLC :
a. Edukasi keluarga ( perawatan cast & komplikasi yang
mungkin terjadi )
b. Kontrol hari II => evaluasi kemungkinan sindroma
kompartemen
c. Kontrol hari VII - X => LLC skin tight
d. Ganti PTB setelah clinical union ( 6 mgg )
e. Pembukaan cast 12 mgg => evaluasi radiologi
b) Fiksasi eksternal
Indikasi : standar dilakukan pada pasien dengan cidera multipel
yang hemodinamiknya tidak stabil, dan dapat juga digunakan pada
fraktur terbuka dengan luka terkontaminasi. Dengan cara ini, luka
operasi yang dibuat bisa lebih kecil, sehingga menghindari

18
kemungkinan trauma tambahan yang dapat memperlambat
kemungkinan penyembuhan.
1. Fiksasi internal
a. Open reduction with internal fixation (ORIF)
Indikasi : pada fraktur dengan adanya pergeseran lebih dari 3 mm
pada daerah persendian, pada fraktur yang berhubungan dengan
terperangkapnya meniscus, dan fraktur yang melibatkan sisi medial
plateau, ORIF sangat dibutuhkan upaya untuk menjaga permukaan
sendi dan apabila mampu dilakukakn koreksi reposisi meniskus yang
terjadi. Tekhnik-tekhnik yang digunakan pada reknostruksi
permukaan sendi tersebut biasanya melibatkan penanaman tukang
pada daerah metafisis serta menempatkan beberapa screw untuk
menjaga supaya upaya tersebut berhasil.
Cara ini biasanya digunakan pada fraktur diafisis tibia yang
mencapai ke metafisis. Keuntungan penatalaksanaan fraktur dengan
cara ini yaitu gerakan sendinya menjadi lebih stabil. Kerugian cara
ini adalah mudahnya terjadi komplikasi pada penyembuhan luka
operasi. Berikut ini merupakan gambar penatalaksanaan fraktur
dengan ORIF.
1. Biomechanics: Alat pelindung tekanan
2. Gaya untuk penyembuhan tulang : Primernya, walaupun tidak
terjadi penyembuhan tukang secara primer, pada kasus-kasus
tersebut lebih sering terjadi penyembuhan sekunder.
3. Penatalaksanaan rehabilitasi medic pada pasien post op
a. Fase 1 (0-6 minggu)
1) Hari pertama hingga minggu pertama
Pada hari ke 0-7 : ROM antara 400-600, setelah seminggu
ditingkatkan ROM menjadi fleksi 900, Mobilisasi patella
(mesial, lateral, superior, inferior). Mulai active atau active
assisted ROM exercise (non-weightbearing pada ekstremitas
yang terkena) serta ambulasi menggunakan kruk.

19
2) Pada minggu ke dua tidak dilakukan stress verus/valgus pada
knee dan tidak dilakukan ROM pasif. ROM dilakukan aktif
dan aktif dengan
bantuan hingga mencapai fleksi 900. Strengthening dilakukan
isometric exercise pada m. quadriceps femoris dan hamstring
muscle dengan straightleg raises Aktivitas pindah non weight
bearing dan ambulasimenggunakan kruk. Pada ekstremitas
yang terkena masih tetap non weight bearing.
3) Pada minggu ke empat hingga keenam stressor vagus dan
varus dihentikan dan ROM pasif dihentikan, hanya dilakukan
ROM aktif dan aktif dengan bantuan. Belum dilakukan
strengthening pada knee, dalam menjalankan aktivitas cara
berpindah dengan Non-weight bearing menggunakan kruk.
Pada ekstremitas yang terkena tetap Non-Wight Bearing
b. Fase 2
Pada fase yang kedua (6 12 minggu) dilakukan beberapa
tahapan antara lain : memulai sebuah perubahan weight-bearing
secara progresif tetapi hal ini tergantung dari stabilitas fraktur
yang didapat dari gejala klinis yang muncul dan yang terpeting
dari gambaran radiologis setelah dilakukan ORIF, kemudian
melakukan latihan-latihan closed chain dengan beban yang tidak
terlalu berpengaruh pada ekstremitas yang terkena. Pada fase
ketiga (3-6 bulan) melakukan program untuk full weight bearing
dan menurunkan keterbatasan gerak dengan menggunakan kruk,
melanjutkan latihan-latihan closed chain, kemudian latihan
menaiki anak tangga dan dapat kembali beraktivitas seperti
semula. Fase keempat atau merupakan fase yang terakhir adalah
dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan
maksimal, namun masih diperlukan evaluasi lebih lanjut terhadap
kegiatan-kegiatan yang cukup berat sperti olahraga.
c. Fase 3 (3-6 bulan)

20
Mulai menggunakan full weight bearing dan ketergantungan
penuh pada alat bantu untuk rawat jalan dengan mode bertahap
(cructhes- satukruk-cane).
1. Lanjutkan latihan open dan closed chain sampai paha dan
betis lingkar yang sama dengan kaki yang berbeda
2. Naik tanggatanpa bantuan
3. Kembali melakukan tugas dan pekerjaan
d. Fase 4 ( 6 bulan)
1. Kemajuan aktivitas pekerjaan yang ditoleransi. mungkin
memerlukan evaluasi kemampuan fungsional untuk dapat
melakukan pekerjaan berat.
2. Lanjutkan rekreasi ringan. tidak ada aktifitas fisik yang
direkomendasikan untuk 1 tahun.

L. KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling berat dari tibial plateau ini adalah
kekakuan sendi lutut akibat perlekatan intra dan periartikuler. Kekakuan
yang berlangsung hingga 6 bulan pasca injury memrupakan sebuah
indikasi silakukannya manipulasi knee dengan anestesi dan diteruskan
dengan Continue Passive Movement/ CPM.
Terjadinya trauma nervus popliteal lateralis dapat terjadi baik akibat
cidera langsung ataupu karena penggunaan plester. Artrosis degenerative
juga dapat terjadi dikemudian hari.

M. PROGNOSIS
Bagian proksimal tibia dengan korteks yang tipis mudah terkena
cedera, terutama pada orang yang berusia lebih dari 50 tahun dengan
kondisi tulang yang porotic. Mekanisme cedera biasanya trauma
abduksi, atau juga biasanya trauma langsung di bagian lateral tungkai
dengan kaki terfiksasi pada permukaan tanah.

21
Patah tulang plato tibia akan sembuh dalam waktu singkat tanpa
gangguan proses pertautan yang tidak bergantung pada ada atau tidak
adanya dislokasi. Penyembuhan patah tulang plato tibia dengan dislokasi
pada letak varus atau valgus dapat mengakibatkan gangguan faal dan
artrosis degeneratif.

22
BAB III
REHABILITASI MEDIK PADA FRAKTUR TIBIAL PLATEAU

A. Definisi
Rehabilitasi medik adalah ilmu pengetahuan kedokteran yang
mempelajari masalah atau semua tindakan yang ditujukan untuk
mengurangi/menghilangkan dampak keadaan sakit/nyeri/cacat dan atau
halangan serta meningkatkan kemampuan pasien mencapai integrasi
sosial. Rehabilitasi medik pada fraktur yaitu berupa latihan untuk
meningkatkan ambulasi, mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak
sendi-sendi di sekitar fraktur maupun daerah yang berjauhan dari daerah
fraktur pada anggota gerak yang sama, dan memulihkan kekuatan otot.
Latihan dilakukan segera untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat
tirah baring yang lama, mencegah disabilitas, penderita dapat kembali
ke tingkat fungsional sebelum terjadinya fraktur.13

B. Masalah Rehabilitasi Medik Jangka Pendek dan Panjang pada


Fraktur Tibial Plateau
Problematika rehabilitasi medik yang sering muncul jangka
pendek yaitu nyeri pada sendi engkel dan lutut, keterbatasan ROM pada
sendi engkel dan lutut, dan ADL. Jangka panjang yaitu fraktur
transversal dan fraktur terbuka memiliki insidensi tinggi non union,
terganggunya distrofi reflex simpatis, dapat terjadi disuse atrofi pada
kaki yang cedera, dan tulang non union. Masalah pada fraktur
crurismeliputi impairment, functional limitation dan disability.18
1. Impairment
Problematika yang muncul adalah (1) adanya edemapada kaki atas
terjadi karena suatu reaksi radang atau respon tubuh terhadap cedera
jaringan, (2) adanya nyerigerak akibat luka sayatan operasi yang
menyebabkan ujung -ujung saraf sensoris teriritasi dan karena adanya
edema pada daerah sekitar fraktur, (3) penurunan luas gerak sendi

23
karena adanya nyeri dan oedem pada daerah sekitar fraktur, (4) adanya
penurunan kekuatan otot karena nyeri.
2. Functional limitation
Terdapat keterbatasan aktifitas fungsional terutama aktifitas yang
menggunakan tangan
3. Disability
Disability merupakan ketidakmampuan dalam melaksanakan
kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan disekitarnya yaitu
kesulitan dalam melakukan aktivitasnya.13

C. Goal Rehabilitasi Medik pada Fraktur Tibial Plateau


Goal rehabilitasi medik pada fraktur Tibial Plateau adalah
mengatasi nyeri, memperbaiki deformitas, melindungi jaringan yang
cedera, mencegah komplikasi, mengembalikan gerakan sendi (ROM),
dan memperbaiki kekuatan otot.13

D. Modalitas Rehabilitasi Medik pada Fraktur Tibial Plateau


Terapi latihan merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang
pelaksanaannya menggunakan gerak tubuh baik secara aktif maupun
pasif untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan, ketahanan dan
kemampuan kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas, stabilitas,
rileksasi, koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional.19
a. Latihan fisiologis otot
Mengikuti imobilisasi, otot disekitar bagian yang fraktur akan
kehilangan volume, panjang dan kekuatannya. Perlu penentuan program
latihan yang aman untuk mengembalikan panjang dan fisiologis otot dan
mencegah komplikasi sekunder yang biasanya mengikuti.
b. Mobilisasi sendi
Kekakuan sendi sering terjadi dan menjadi masalah utama ketika
anggota gerak badan tidak digerakkan dalam beberapa minggu. Fokus
rehabilitasi adalah melatih dengan teknik dimana dapat menambah dan

24
mengembalikan lingkup gerak sendi yang terpengaruh ketika fraktur
sudah sembuh. Bila di gips, mobilisasi sendi mulai diberikan secara
hati-hati pada minggu kedua. Sedangkan bila dengan internal fixasi, bisa
diberikan sedini mungkin.20
c. Massage
Pelepasan keketatan otot dan trigger points yang terjadi pada otot
yang mengikuti pembidaian dan penge-gips-an akan mengurangi nyeri
dan mengembalikan panjang otot.
d. Pemanasan dan Terapi listrik
Sangat umum terjadi kekakuan jaringan lunak bila imobilisasi
lama. Pemanasan dan terapi listrik menunjukkan manfaat tambahan bagi
terapi manual dan terapi latihan dalam mengurangi nyeri dan
mengembalikan panjang otot.
Sedangkan terapi latihan dapat berupa:
1) Range of Motion (ROM)
Gerakan sebuah sendi dengan jangkauan parsial atau penuh yang
bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan jangkauan gerak sendi.
1. ROM penuh (full ROM)
ROM penuh artinya ROM yang sesuai dengan dasar anatomi dari
sendi itu sendiri.
2. ROM fungsional
ROM fungsional adalah gerakan sendi yang diperlukan dalam
melakukan aktifitas sehari-hari atau kegiatan pasien yang spesifik.
Contohnya: ROM lutut dari ekstensi penuh (00) sampai fleksi 900
merupakan ROM yang tidak penuh, tetapi ROM ini fungsional
untuk duduk.
3. ROM aktif
Pasien disuruh melakukan gerakan sendi secar parsial atau penuh
tanpa bantuan orang lain. Tujuannya untuk memelihara ROM dan
kekuatan minimal akibat kurang aktifitas dan menstimulasi system

25
kardiopulmoner, Sasarannya otot dengan kekuatan poor sampai
dengan good (2 sampai dengan 4).
4. ROM aktif assistive
Pada latihan ini pasien disuruh kontraksikan ototnya untuk
menggerakkan sendi, dan ahli terapi membantu pasien dalam
melakukannya.
5. ROM pasif
Latihan ini dengan menggerakkan sendi tanpa kontraksi otot pasien.
Seluruh gerakan dilakukan oleh dokter atau terapis. Tujuannya
memelihara mobilitas sendi ketika kontrol dari otot-otot volunter/
sendi hilang atau pasien tidak sadar/ tidak ada respon. Sasarannya
otot dengan kekuatan zerro-trace (0-1).
2) Static contraction
Static contraction merupakan suatu terapi latihan dengan cara
mengkontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maipin
pergerakan sendi. Tujuan kontraksi isometris ini adalah pumping
action pembuluh darah balik, yaitu terjadinya peningkatan perifer
resistance of blood vessel. Dengan adanya hambatan pada perifer
maka akan didapatkan peningkatan tekanan darah dan secara
otomatis caridiac output akan meningkat sehingga mekanisme
metabolisme menjadi landar dan udem menjadi menurun, dan
akhirnya nyeri berkurang.
3) Relaxed passive exercise
Gerakan murni berasal dari luar atau terapis tanpa disertai gerakan
dari anggota tubuh pasien. Gerakan ini bertujuan untuk melatih otot
secara pasif, oleh karena itu gerakan berasal dariluar atau terapis
sehingga dengan gerak Relaxed passive exercise ini diharapkan otot
menjadi rileks dan menyebabkan efek penguranangan atau
penurunan nyeri akibat insisi serta mencegah terjadinya keterbatasan
gerak serta menjaga elastisitas otot.
4) Hold Relax

26
Hold Relax merupakan teknik latihan yang menggunakan kontraksi
otot secara isometrik kelompok antagonis yang diikuti rileksasi otot
tersebut.
5) Aktive exercise
Aktif exercise merupakan gerakan yang dilakukan oleh adanya
kekuatan otot dan anggota tubuh itu sendiri tanpa bantuan, gerakan
yang dilakukan melawan grafitasi penuh.
6) Latihan kekuatan (strengthening exercise)
Syarat melakukan latihan ini adalah (1) kekuatan otot di atas fair
(50%) dam (2) beban di atas 35% dari kemampuan otot
1. Isometric exercise
Pada latihan ini panjang otot tidak bertambah, terjadi kontraksi otot
tanpa pergerakan sendi. Kontraksi optimal enam detik, 1 kali
perhari. Bertujuan untuk meningkatkan penguatan oto ketika ada
kontraksi lain seperti fraktur yang tidak stabil atau adanya nyeri.
2. Isotonic exercise
Merupakan latihan dinamis menggunakan beban statis, tetapi
kesepakatan gerak otot tidak dikontrol. Kontraksi bersamaan dengan
gerak sendi. Latihan ini sering digunakan untuk meningkatkan
kekuatan otot pada tahap pertengahan dan tahap akhir dari
rehabilitasi medik.13

E. Program Rehabilitasi Medik Konservatif dan Operatif pada


Fraktur Tibial Plateau
c. Fase 1 (0-6 minggu)
1) Hari pertama hingga minggu pertama
Pada hari ke 0-7 : ROM antara 400-600, setelah seminggu
ditingkatkan ROM menjadi fleksi 900, Mobilisasi patella
(mesial, lateral, superior, inferior). Mulai active atau active
assisted ROM exercise (non-weightbearing pada ekstremitas
yang terkena) serta ambulasi menggunakan kruk.

27
2) Pada minggu ke dua tidak dilakukan stress verus/valgus pada
knee dan tidak dilakukan ROM pasif. ROM dilakukan aktif
dan aktif dengan
bantuan hingga mencapai fleksi 900. Strengthening dilakukan
isometric exercise pada m. quadriceps femoris dan hamstring
muscle dengan straightleg raises Aktivitas pindah non
weight bearing dan ambulasimenggunakan kruk. Pada
ekstremitas yang terkena masih tetap non weight bearing.
3) Pada minggu ke empat hingga keenam stressor vagus dan
varus dihentikan dan ROM pasif dihentikan, hanya
dilakukan ROM aktif dan aktif dengan bantuan. Belum
dilakukan strengthening pada knee, dalam menjalankan
aktivitas cara berpindah dengan Non-weight bearing
menggunakan kruk. Pada ekstremitas yang terkena tetap
Non-Wight Bearing
d. Fase 2
Pada fase yang kedua (6 12 minggu) dilakukan beberapa
tahapan antara lain : memulai sebuah perubahan weight-bearing
secara progresif tetapi hal ini tergantung dari stabilitas fraktur
yang didapat dari gejala klinis yang muncul dan yang terpeting
dari gambaran radiologis setelah dilakukan ORIF, kemudian
melakukan latihan-latihan closed chain dengan beban yang tidak
terlalu berpengaruh pada ekstremitas yang terkena. Pada fase
ketiga (3-6 bulan) melakukan program untuk full weight bearing
dan menurunkan keterbatasan gerak dengan menggunakan kruk,
melanjutkan latihan-latihan closed chain, kemudian latihan
menaiki anak tangga dan dapat kembali beraktivitas seperti
semula. Fase keempat atau merupakan fase yang terakhir adalah
dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari dengan
maksimal, namun masih diperlukan evaluasi lebih lanjut
terhadap kegiatan-kegiatan yang cukup berat sperti olahraga.

28
d. Fase 3 (3-6 bulan)
Mulai menggunakan full weight bearing dan ketergantungan
penuh pada alat bantu untuk rawat jalan dengan mode bertahap
(cructhes- satukruk-cane).
1. Lanjutkan latihan open dan closed chain sampai paha dan
betis lingkar yang sama dengan kaki yang berbeda
2. Naik tanggatanpa bantuan
3. Kembali melakukan tugas dan pekerjaan
e. Fase 4 ( 6 bulan)
1. Kemajuan aktivitas pekerjaan yang ditoleransi. mungkin
memerlukan evaluasi kemampuan fungsional untuk dapat
melakukan pekerjaan berat.
2. Lanjutkan rekreasi ringan. tidak ada aktifitas fisik yang
direkomendasikan untuk 1 tahun.

F. Okupasi Terapi
Tujuan Okupasi terapi (OT) adalah membantu seseorang
menjadi mandiri dalam beraktifitas baik dengan alat bantu ataupun tanpa
alat bantu terutama untuk aktivitas kesehariannya.
Jenis-jenis aktifitas yang dilakukan dalan terapi okupasi:
1.) Aktifitas sehari-hari
Okupasi terapis melatih aktifitas-aktifitas sehari-hari seperti
memakai / melepas celana,berjalan, berlari, naik tangga dll.
2.) Aktifitas rumah tangga
Okupasi terapis melatih untuk dapat melakukan kegiatan rumah
tangga
3.) Aktifitas di waktu luang
Aktifitas ini lebih dikenal dengan Program Box system. Selain
berfungsi untuk mengisi waktu luang, juga berfungsi untuk
menstimulasi fungsi kognitif serta meningkatkan fungsi motorik halus.13

29
BAB IV
KESIMPULAN

1. Tibial Plateau adalah fraktur yang mengenai tibia proksimal mempengaruhi


fungsi danstabilitas sendi. Fraktur ini bisa intraartikular (tibia plateau) atau
ekstra artikular, yaitu fraktur pada 1/3 proksimal tibia.
2. Rehabilitasi pada tibial plateau terdiri dari 4 fase yang keberhasilannya
akan menentukan juga dalam prognosis.
3. Problematika fisioterapi yang sering muncul pada pasca operasi fraktur
crurismeliputi impairment, functional limitation dan disability.
4. Penanganan rehabilitasi medik seperti fisioterapi harus segera dilakukan
sehingga komplikasi yang sifatnya menetap dapat dicegah.
5. Penanganan rehabilitasi medik berupa meningkatkan kekuatan otot,
menambah lingkup gerak sendi dengan modalitas terapi berupa latihan.
Dimulai dari gerakan isometric, dilanjutkan gerakan isotonic secara
bertahap berupa ROM exercise dan latihan gerak fungsional.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Perhubungan Republik Indonesia,tahun 2006


2. Hoppenfeld S, Treatment and Rehabilitation of Fractures. New York:
Lippincott Williams & Wilkins (2008)
3. Brotzman SB, Clinical Orthopaedic Rehabilitation, berlin,2009
4. Rasjad C. dkk, 2005, Sistem Muskuloskeletal dalam : Buku Ajar Ilmu
Bedah. Editor Syamsuhidayat R.Jong WB, Edisi Revisi, EGC,Jakarta,
1997 : 829 949.
5. http://arthritis.about.com/od/arthritisbyanatomy/ss/causejointpain.htm
6. Gardner E. Gray DJ. Orahilly R, Anatomy A Regional Study of Human
Structure. Philadelphia : W.B. Saunders Company
7. Chairuddin, Rasjad Prof, MD, PhD.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.
2003. Makasar
8. Alan Graham Aplpley. Appleys System of Orthopedics and Fracture 9th
edition. Butterworths Medical Publications. 2010.
9. Netter, Frank H. Netters Concise Orthopaedic Anatomy 2nd edition.
Saunders Elseiver.

10. Frassica, Frank dkk. The 5-Minute Orthopaedic Consult 2nd edition.
Lippuncolt William & Wilkins. 2007

11. Luhulima JW. Musculoskeletal. Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran


Universitas Hasanuddin. Makassar. Indonesia. 2002.
12. Chapman, Michael W. Chapmans Orthopaedic Surgery 3rd edition.
Lippincolt William & Wilkins. 2001.
13. Koval, Kenneth J. Handbook of Fractures 3rd edition. Lippincolt
William & Wilkins. 2006
14. Kingsley Chin, dkk. Orthopaedic Key Review Concept, 1st edition.
Lippincolt William & Wilkins. 2008
15. Dirchsl Douglas, dkk. Staged Management of Tibial Plateau. American
Journal of Orthopaedic. 2007

31
16. Reznik, Alan M. Tibial Plateau Fractures. The Orthopaedic Group. 2011
17. Cluet Jonathan. Tibial Plateau Fracture. 2005.
18. Emedicine. 2017. Cruris Fracture. Accessed: 2ndMarch 2017. Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/825488-overview
19. Kisner C., ColbyL.A.2012. TherapeuticExercise: Foundations and
Techniques, 6th Edition. Philadelphia: F. A. Davis Company.
20. Wang, E.D. & Hurst, L.C. Netters Orthopaedics 1st Edition.
Philadelphia: Elsevier, 2006, Chapter 15; Elbow and Forearm.

32
LAPORAN KASUS
STATUS KASUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.K
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 46 Tahun
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Boyolali
Agama : Islam
Tanggal Masuk RS : 18 Juli 2017
Tanggal ppemeriksaan :10 Oktober 2017
No RM : xxxxxx

ANAMNESIS
Anamnesis bersifat autoanamnesis.
1) Keluhan Utama :
Nyeri lutut kiri bawah
2) Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli rehabilitasi medik pada tanggal 10 Oktober
2017 untuk kontrol dan terapi. Pasien mengeluhkan nyeri pada kaki kiri
bawah dan lutut yang susah di tekuk. Nyeri dan susah di tekuk sudah
dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. Sebelumnya pasien mengaku telah
operasi ORIF pada kaki kirinya pada tanggal 18 Juli 2017. Pasien dapat
berjalan menggunakan kruk, untuk ke tolet masih di bantu oleh istrinya.
Pasien dapat menggunakan baju serta celana sendiri. Pasien sudah sering
terapi sejak 3 bulan yang lalu terapi masih merasakan nyeri dan kaku
pada kakinya. Riwayat penyakit pasein datang ke Rumah Sakit Prof. Dr.
R. Soeharso Surakarta (18 Juli 2017) dengan keluhan nyeri lutut kiri
bawah setelah kecelakaan sejak 2 jam SMRS (Sebelum Masuk Rumah
Sakit) dengan posisi saat pasien terjatuh yaitu membentur tanah terlebih
dahulu. Pasien mengaku jatuh terpeleset setelah melewati rel kereta api

33
di daerah Mayang, Boyolali. Setelah jatuh pasien masih dalam keadaan
sadar, tidak ada mual muntah dan pasien merasa kesakitan bagian lutut
kiri bawah serta kulitnya terkelupasdan pasien melihat tulang kaki
keluar dan berdarah.Pasien setelah terjatuh langsung dibawa ke Rumah
Sakit Prof. DR. R. Soeharso Surakarta oleh keluarganya.Sesampainya di
IGD pasien dilakukan pemasangan spalk dulu karena harus menunggu
jadwal operasi. Pasien sebelumnya belum pernah mengalami patah
tulang dan operasi pada tulang, dan ini merupakan operasi tulang
pertama untuk pasien.

Gambar 1.1 setelah operasi


3) Riwayat Penyakit Dahulu :

34
Pasien belum pernah mengalami patah tulang sebelumnya, dan
pasien baru pertama melakukan tindakan operasi pada tulang. Pasien
menyangkal memiliki penyakit lain seperti penyakit Kejang, Asma,
Jantung, Paru, Alergi, dan lain-lain. Penyakit diabetes diakui dan
menggunakan insulin teratur.
4) Riwayat Fungsional :
a. Mobilitas : Terganggu
b. Aktifitas kehidupan sehari hari : Pasien tidak dapat melakukan
pekerjaan dan kegiatan seharihari dengan normal. Kegiatan
tersebut bersifat ringan sampai berat. Pasien masih susah untuk
ketoilet sendiri dan masih susah untuk bekerja karena pasien
bekerja sebagai pedagang took di rumah sehingga susah untuk
leluasa karena menggunakan kruk.
c. Kognisi : Baik
d. Komunikasi : Baik
e. Pekerjaan : Pasien merupakan seorang pekerja Swasta
5) Riwayat Psikososial :
a. Dukungan keluarga : Baik
b. Situasi lingkungan : Pasien tinggal di rumah bersama dengan
istri dan 2 orang anaknya
c. Riwayat pekerjaan : Pasien merupakan seorang pekerja Swasta
d. Riwayat psikiatri : Tidak ada gangguan mental
6) Riwayat Pengobatan Dan Alergi :
Pasien tidak memiliki riwayat alergi dan tidak pernah mondok di
rumah sakit.

RINGKASAN ANAMNESIS
Pasien bernama Tn.K (46 tahun) datang ke poli Pasien datang ke poli
rehabilitasi medik pada tanggal 10 Oktober 2017 untuk kontrol dan terapi.
Keluhan utama pasien adalah nyeri lutut kiri bawah. Pasien mengeluhkan nyeri
pada kaki kiri bawah dan lutut yang susah di tekuk. Nyeri dan susah di tekuk

35
sudah dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. Sebelumnya pasien mengaku telah
operasi ORIF pada kaki kirinya pada tanggal 18 Juli 2017. Pasien dapat berjalan
menggunakan kruk, untuk ke tolet masih di bantu oleh istrinya. Pasien dapat
menggunakan baju serta celana sendiri. Pasien sudah sering terapi sejak 3 bulan
yang lalu terapi masih merasakan nyeri dan kaku pada kakinya.
Untuk riwayat penyakit pasien menggakui penyakit diabetes dan
menggunakan insulin teratur. Untuk riwayat fungsional mobilitas terganggu dan
aktifitas kehidupan sehari hari pasien tidak dapat melakukan pekerjaan dan
kegiatan seharihari dengan normal. Kegiatan tersebut bersifat ringan sampai
berat. Pasien masih susah untuk ketoilet sendiri dan masih susah untuk bekerja
karena pasien bekerja sebagai pedagang took di rumah sehingga susah untuk
leluasa karena menggunakan kruk. Untuk riwayat psikososial baik.

PEMERIKSAAN FISIK
1) Status Generalis:
a. Keadaan Umum
Baik, compos mentis GCS E4V5M6, gizi kesan lebih (berat badan
64 kg, tinggi badan 165 cm)
b. Tanda Vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi :92 kali/ mnt, isi cukup, irama teratur, simetris
Respirasi : 22 kali/ mnt, irama teratur, tipe
thorakoabdominal
Suhu : 36,5C peraksiler
c. Kulit
Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-), venectasi (-),
spider naevi (-), striae(-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)
d. Kepala
Bentuk kepala normochepal, kedudukan kepala simetris, luka (-),
rambut hitam, tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut, atrofi otot
(-).

36
e. Mata
Conjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan
palpebra (-/-), pupil isokor dengan diameter (3mm/3mm), reflek
cahaya (+/+), edema palpebra (-/-).
f. Telinga
Sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoideus (-).
g. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), fungsi pembau
baik
h. Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), pucat (-), lidah kotor (-),
papil lidah atrofi (-), stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-), gigi
caries (-), karang gigi (-).
i. Leher
JVP tidak meningkat , trachea ditengah, simetris, pembesaran tiroid
(-), pembesaran limfonodi cervical (-).
j. Limfonodi
Kelenjar limfe retroaurikuler, submandibuler, servikalis,
supraklavikularis, aksilaris dan inguinalis tidak membesar.
k. Thorax
Bentuk simetris, retraksi intercostal (-), spider naevi (-), pernafasan
toracoabdominal, sela iga melebar (-), muskulus pektoralis atrofi (-),
pembesaran KGB axilla (-/-).
l. Jantung
- Inspeksi :ictus cordis tampak
- Palpasi :ictus cordis kuat angkat
- Perkusi :batas jantung kesan tidak membesar
- Auskultasi :bunyi jantung I-II murni, intensitas
normal, reguler, bising (-), gallop (-)
m. Pulmo
- Inspeksi : pengembangan dada kanan=kiri

37
- Palpasi : fremitus raba kanan=kiri
- Perkusi : sonor/sonor
- Auskultasi : SDV(+/+), Suara tambahan (-/-)
n. Punggung
Kifosis (-), lordosis (-), skoliosis(-), nyeri ketok kostovertebra (-)
o. Abdomen
- Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
- Auskultasi : bising usus (+) normal
- Perkusi : timpani, pekak alih (-). Liver span : 6 cm
- Palpasi : supel, nyeri tekan (-). Hepar dan lien
tidak membesar.
p. Genitourinarius
Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-).
q. Ekstremitas
Extremitas superior Extremitas inferior
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Edema - - - -
Sianosis - - - -
Pucat - - - -
Akral dingin - - - -
Pitting edema - - - -
Ekskoriasi - - - -
Hematoma - - - -

2) Status Neurologik:
Tidak terdapat kelainan
3) Status Lokalis
Tibial Plateu Plateau
a. Look : - Oedem (-)
- Eritema (-)
- Deformitas (-)

38
b. Feel : - Nyeri Tekan (NT) (+) , NVD (-)
c. Move : - Nyeri Gerak (NG) (+)
- Gerak engkel (+), nyeri (-)
- Gerak jari jari (+), nyeri (-)

RANGE OF MOTION (ROM) PADA EKSTREMITAS INFERIOR

Gerak ROM Dextra ROM Sinistra

Ankle
Dorsoflexsi FULL FULL

Plantarflexi FULL FULL

Knee
Ekstensi 0 10

Flexi 0-135 10-55

Hip
Ekstensi 5-20 5-20

Fleksi 0-120 0-120

Abduksi 0-40 0-40

Adduksi 0-25 0-25

Endo Rotasi 0-35 0-35

Ekso Rotasi 0-45 0-45

Kesimpulan : ROM pada Knee sinistra pada posisi ekstensi adalah 10 dan
pada posisi fleksi adalah 10-55

39
MANUAL MUSCLE TESTING (MMT) PADA EKSTREMITAS INFERIOR
EKSTREMITAS INFERIOR DEXTRA SINISTRA

ANKLE Dorsoflexsi 5 5
Plantarflexi 5 5

KNEE Ekstensi 5 4
Flexi 5 4

HIP Ekstensi 5 5
Fleksi 5 5
Abduksi 5 5
Adduksi 5 5

SENSIBILITAS

Sensibilitas Dextra Sinistra

Sensorik protopatik N N

Sensorik proprioseptik N N

REFLEK FISIOLOGIS

Reflek fisiologis Dextra Sinistra

Patella N N

Plantar N Tidak bisa dinilai

40
LEG LENGTH DISCREPANCY
Dextra Sinistra

Apparent 92,5 cm 92,5 cm

Cinical 87,5 cm 82,5 cm

Anatomical 72 cm 72 cm

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto Rontgen
a. Sebelum operasi

Kesan: Fraktur Tibia Plateau sinistra Schatzker V

b. Setelah operasi

Kesan: foto setelah pemasangan ORIF

41
2. Laboratorium
Hasil Laboratorium :
a. Sebelum OP (Tanggal pemeriksaan 8Juli 2017)
Hb 10,2 Normal
Hematokrit 32 Normal
Leukosit 18.200 Meningkat (Normal 4000-10.000)
Eritrosit 3,8 Normal
Trombosit 434.000 Normal
Prothrombin (PT) 18,7 Normal
APTT 28,4 Normal
HbsAg Negatif Normal
GDS 223 Meningkat
Kesan: Pemeriksaan darah rutin didapatkan Leukositosis dan peningkatan
GDS

b. Setelah OP (Tanggal Pemeriksaan 17 Juli 2017)


Hb 10.6 Anemia (11,5 14,5)
Hematokrit 32 Normal
Leukosit 11.900 Meningkat (Normal 4000-10.000)
Eritrosit 3.6 Normal
Meningkat (Normal 150.000-
Trombosit 536.000
500.000)
GDS 172 Meningkat
Kesan: Pemeriksaan darah rutin didapatkan Leukositosis, Trombosistosis
dan peningkatan GDS

DIAGNOSIS
Diagnosis Medis :
Open Fraktur Tibial Plateu sinistra Post ORIF bulan ke 4
Diagnosis Fungsional :
Impairment : Pain,Stiffness

42
- Disability : ADL (Activity Daily Living)
Limited ROM knee joint sinistra
Gangguan mobilisasi
Nyeri
- Handicap : keterbatasan dalam aktivitas sosial (tidak bisa ikut pengajian
dan tidak bisa bekerja, dll).

PROBLEM REHABILITASI MEDIK


Nyeri
ADL Terganggu
Limited ROM knee sinistra
Ganguan mobilisasi
Ganguan dalam aktivitas sosial (beraktivitas, bekerja)

PENATALAKSANAAN REHABILITASI MEDIK


Fisioterapi : -ROM excercise knee sinistra
-Balance gait training dengan cruches PWB
Okupasi terapi : -Latihan Aktivitas sehari-hari (ADL)
Psikologi : tidak Diperlukan
Ortotik prostetik : Axilar cruches bilateral
PSM : Tidak diperlukan

PROGNOSIS
a.Quo ad vitam : ad bonam
b. Quo ad sanationam : ad bonam
c. Quo ad funcionam : ad bonam

43
PROYEKSI KASUS

Pasien bernama Tn.K (46 tahun) datang ke poli Pasien datang ke poli
rehabilitasi medik pada tanggal 10 Oktober 2017 untuk kontrol dan terapi.
Keluhan utama pasien adalah nyeri lutut kiri bawah. Pasien mengeluhkan nyeri
pada kaki kiri bawah dan lutut yang susah di tekuk. Nyeri dan susah di tekuk
sudah dirasakan sejak 4 bulan yang lalu. Sebelumnya pasien mengaku telah
operasi ORIF pada kaki kirinya pada tanggal 18 Juli 2017. Pasien dapat berjalan
menggunakan kruk, untuk ke tolet masih di bantu oleh istrinya. Pasien dapat
menggunakan baju serta celana sendiri. Pasien sudah sering terapi sejak 3 bulan
yang lalu terapi masih merasakan nyeri dan kaku pada kakinya.
Untuk riwayat penyakit pasien menggakui penyakit diabetes dan
menggunakan insulin teratur. Untuk riwayat fungsional mobilitas terganggu dan
aktifitas kehidupan sehari hari pasien tidak dapat melakukan pekerjaan dan
kegiatan seharihari dengan normal. Kegiatan tersebut bersifat ringan sampai
berat. Pasien masih susah untuk ketoilet sendiri dan masih susah untuk bekerja
karena pasien bekerja sebagai pedagang toko di rumah sehingga susah untuk
leluasa karena menggunakan kruk. Untuk riwayat psikososial baik.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum: Baik, kesadaran
compos mentis. Vital sign:TD: 110/80mmHg, Rr: 22x/menit, N: 92x/menit,
Suhu: 36,50C. Kepala, Leher, Paru- paru, Jantung, Abdomen, dan ekstremitas
semua dalam batas normal. Pada status lokalis pada pemeriksaan ROM Knee
sinistra pada posisi ekstensi adalah 10 dan pada posisi fleksi adalah 10-55.
Pada pemeriksaan MMT pada knee sinistra didapatkan nilai ektensi dan fleksi
adalah 4. Pemeriksaan sensibilitas dan LLD dalam batas normal.
Problem rehabilitasi medik yang di dapatkan adalah nyeri, ADL
terganggu, limited ROM knee sinistra, gangguan mobilisasi dan gangguan
aktivitas sosial. Pasien diberikan edukasi agar menjalankan fisioterapi dengan
ROM exercise knee sinistra dan balance gait training dengan kruk PBW.
Latihan okupasi terapi berupa : Latihan Aktivitas sehari-hari (ADL). Pekerjaan
pasien adalah pekerja swasta yaitu pedagang toko.Pasien mengaku sehari untuk

44
ketoilet dengan bantuan orang lain. Hal yang paling penting adalah pemberian
edukasi yang tepat pada pasien agar rasa nyeri yang didapatkan dari fraktur
dapat diminimalisir. Pasien dapat diminta untuk mengurangi kegiatan yang
dapat membebani sakit pada kaki bawah kari. Pasien juga harus diberikan
pengetahuan yang baik mengenai cara melatih kekuatan otot pasca operasi.
Dapat diberikan terapi okupasi pada pasien tersebut, yaitu ADL (activity daily
living).

45
46