Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

Gambaran Radiologi Ileus

Pembimbing:
dr. Abdul Aziz, Sp.Rad

Oleh:

Adjeng Retno Bintari, S.Ked J 510165040

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
REFERAT
Gambaran Radiologi Ileus

Diajukan Oleh :

Adjeng Retno Bintari, S.Ked J 510165040

Telah disetujui dan disahkan oleh bagian Program Pendidikan Fakultas


Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pembimbing:
dr. Abdul Aziz, Sp.Rad (...............................)

Dipresentasikan dihadapan:
dr. Abdul Aziz, Sp.Rad (...............................)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Ileus ditimbulkan oleh hipomotilitas dari traktus gastrointestinal karena


tidak adanya gerakan mekanis usus ataupun akibat adanya obstruksi, walaupun
patogenesis ileus masih belum diketahui secara pasti, multifaktorial dan
kompleks, gambaran klinis berupa gerak tidak sempurna isi usus sementara.
Interaksi kompleks antara sistem saraf otonom dan sistem saraf pusat begitu juga
substansi lokal dapat mempengaruhi ekuilibrium yang berujung disorganisasi
aktifitas elektris dan paralisis dari segmen usus. Kurangnya gerak usus ini
mengakibatkan akumulasi gas dan cairan.3
Ileus dibagi menjadi dua yaitu ileus obstruktif dan ileus paralitik. Pada
obstruksi usus harus dibedakan lagi obstruksi sederhana dan obstruksi strangulata.
Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi dan volvulus
mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau
askariasis adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi. 1
Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, adalah hernia, baik
sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi
(63%). Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan
jaringan, sebagai akibat insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya.
Dari laporan terakhir pasien yang telah menjalani sedikitnya sekali operasi
intraabdomen, akan berkembang adhesi satu hingga lebih dari sepuluh kali.
Obstruksi usus merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di negara
maju, adhesi intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi
usus. Pada pasien digestif yang memerlukan tindakan reoperasi, 30-41%
disebabkanobstruksi usus akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini
meningkat hingga 65-75%.1
Dalam bidang radiologi baik ileus obstruktif maupun ileus paralitik
keduanya mempunyai perbedaan yang cukup berarti namun masih sulit untuk
dibedakan. Karena itu penting juga untuk diketahui keadaan klinis pasien dan
riwayat operasi untuk membedakan keduanya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI USUS


Usus halus merupakan tabung yang kompleks, berlipat-lipat yang
membentang dari pilorus sampai katup ileosekal. Pada orang hidup panjang usus
halus sekitar 12 kaki (22 kaki pada kadaver akibat relaksasi). Usus ini mengisi
bagian tengah dan bawah abdomen. Ujung proksimalnya bergaris tengah sekitar
3,8 cm, tetapi semakin kebawah lambat laun garis tengahnya berkurang sampai
menjadi sekitar 2,5 cm. Usus halus dibagi menjadi duodenum, jejenum, dan
ileum. Pembagian ini agak tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan
struktur, dan yang relatif lebih penting berdasarkan perbedaan fungsi.
Duodenum panjangnya sekitar 25 cm, mulai dari pilorus sampai kepada
jejenum. Pemisahan duodenum dan jejenum ditandai oleh ligamentum treitz,
suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada krus dekstra, diafragma dekat hiatus
esofagus dan berinsersio pada perbatasan duodenum dan jejenum. Ligamentum ini
berperan sebagai ligamentum suspensorium (penggantung). Kira-kira duaperlima
dari sisa usus halus adalah jejenum, dan tiga perlima terminalnya adalah ileum.
Jejenum terletak di regio abdominalis media sebelah kiri, sedangkan ileum
cenderung terletak di region abdominalis bawah kanan. Jejunum mulai pada
juncture denojejunalis dan ileum berakhir pada junctura ileocaecalis. Lekukan-
lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding posterior abdomen dengan
perantaraan lipatan peritoneum yang berbentuk kipas yang dikenal sebagai
messenterium usus halus. Pangkal lipatan yang pendek melanjutkan diri sebagai
peritoneum parietal pada dinding posterior abdomen sepanjang garis berjalan ke
bawah dan ke
kenan dari kiri vertebra lumbalis kedua ke daerah articulatio sacroiliaca kanan.
Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabangcabang arteri vena
mesenterica superior antara kedua lapisan peritoneum yang membentuk
messenterium.
Usus besar merupakan tabung muskular berongga dengan panjang sekitar
5 kaki (sekitar 1,5 m) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter
usus besar sudah pasti lebih besar daripada usus kecil. Rata-rata sekitar 2,5 inci
(sekitar 6,5 cm), tetapi makin dekat anus
semakin kecil. Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon dan rektum. Pada sekum
terdapat katup ileocaecaal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum
menempati dekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup ileocaecaal
mengontrol aliran kimus dari ileum ke sekum. Kolon dibagi lagi menjadi kolon
asendens, transversum, desendens dan sigmoid. Kolon
ascendens berjalan ke atas dari sekum ke permukaan inferior lobus kanan hati,
menduduki regio iliaca dan lumbalis kanan. Setelah mencapai hati, kolon
ascendens membelok ke kiri membentuk fleksura koli dekstra (fleksura hepatik).
Kolon transversum menyilang abdomen pada regio umbilikalis dari fleksura koli
dekstra sampai fleksura koli sinistra.

Gambar 1. Sistem saluran pencernaan


Sumber : http://www.medicinenet.com/the_digestion_process_organs_and_functions/page2.htm
Kolon transversum, waktu mencapai daerah limpa, membengkok ke bawah,
membentuk fleksura kolisinistra (fleksura lienalis) untuk kemudian menjadi kolon
descendens. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas panggul. Kolon sigmoid
merupakan lanjutan kolon descendens. Ia tergantung kebawah dalam rongga
pelvis dalam bentuk lengkungan. Kolon sigmoid bersatu dengan rektum di depan
sakrum. Rektum menduduki bagian posterior rongga pelvis. Rektum ke atas
dilanjutkan oleh kolon sigmoid dan berjalan turun di depan sekum, meninggalkan
pelvis dengan menembus dasar pelvis. Disisni rektum melanjutkan diri sebagai
anus dalan perineum.

2.2 ILEUS
Ileus adalah gangguan/hambatan pasase isi usus yang merupakan tanda
adanya obstruksi usus akut yang segera membutuhkan pertolongan atau tindakan.
Ileus ada 2 macam yaitu ileus obstruktif dan ileus paralitik 1

2.2.1 ILEUS OBSTRUKTIF


A . Definisi
Ileus obstruktif atau disebut juga ileus mekanik adalah keadaan dimana isi
lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena adanya
sumbatan/hambatan mekanik yang disebabkan kelainan dalam lumen usus,
dinding usus atau luar usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi pada
suatu segmen usus yang menyebabkan nekrose segmen usus tersebut.1
B. Klasifikasi1
1. Ileus obstruktif letak tinggi : obstruksi mengenai usus halus (dari gaster
sampai ileum terminal).
2. Ileus obstruktif letak rendah : obstruksi mengenai usus besar (dari ileum
terminal sampai rectum).
Selain itu, ileus obstruktif dapat dibedakan menjadi 3 berdasarkan
stadiumnya,
antara lain :
1) Obstruksi sebagian (partial obstruction) : obstruksi terjadi sebagian
sehingga makanan masih bisa sedikit lewat, dapat flatus dan defekasi
sedikit.
2) Obstruksi sederhana ( simple obstruction) : obstruksi / sumbatan yang
tidak disertai terjepitnya pembuluh darah (tidak disertai gangguan aliran
darah).
3) Obstruksi strangulasi (strangulated obstruction) : obstruksi disertai
dengan terjepitnya pembuluh darah sehingga

C. Etiologi

Gambar 2. Etiologi ileus obstruktif


Sumber:http://www.merckmanuals.com/professional/gastrointestinal-disorders/acute-abdomen-and-surgical
gastroenterology/intestinal-obstruction

2.2.2 ILEUS PARALITIK


A. Definisi
Ileus paralitik atau adynamic ileus adalah keadaan dimana usus gagal
atau tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan
isinya. Ileus paralitik ini bukan suatu penyakit primer usus melainkan
akibat dari berbagai penyakit primer, tindakan (operasi) yang berhubungan
dengan rongga perut, toksin dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi
kontraksi otot polos usus.Ileus paralitik merupakan kondisi dimana terjadi
kegagalan neurogenik atau hilangnya peristaltic usus tanpa adanya
obstruksi mekanik.6
B. Etiologi7
Ileus paralitik dapat disebabkan oleh beberapa kondisi berikut:
Obat-obatan: e.g. opioid
Metabolik: e.g. ggn elektrolit (hiponatremia)
Sepsis: terutama disebabkan oleh bakteri gram-negatif
Trauma Abdomen
Bedah Abdomen
Infark miokard / gagal jantung kongestif
Trauma kepala / bedah otak
Inflamasi intraabdomen / peritonitis
hematoma retroperitoneal
Penyebab ileus masih dianggap kompleks dan multifaktorial dimana
melibatkan inflamasi, inhibisi rekleks neural dan peptida dari
neurohormon.
C. Ileus posoperatif vs. Ileus paralitik
beberapa tingkatan dari ileus dianggap normal dan biasa didapatkan
setelah tindakan operatif, perbaikan secara konvensional / tanpa terapi
tercatat sebagai berikut
Usus halus: 0-24 hours
lambung: 24-48 hours
Usus Besar : 48-72 hours
Prolong ileus posoperatif (>72 jam) telah dikategorikan sebagai ileus
paralitik oleh beberapa ahli dan perlu dievaluasi lebih lanjut terhadap
adanya obstruksi usus halus, perforeasi usus, peritonitis dan abses
intraabdomen. Perbaikan terhadap ileus posoperatif dapat digambarkan
secara klinis dan radiografik, dimana secara klinis dapat dinilai dari asupan
oral dan flatus

2.3 PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


Patogenesis ileus masih belum jelas, pada keadaan postoperatif ileus
mungkin dimediasi oleh aktivasi dari inhibisi reflek arkus spinal, secara anatomis,
3 refleks terlibat yaitu refleks sangat pendek terbatas di dinding usus, refleks
pendek yan melibatkan ganglia paravertebra dan yang paling sering pada reflek
panjang yang melibatkan medula spinalis. Stres akibat post operatif menyebabkan
timbulnya mediator inflamasi yang berperan dalam timbulnya ileus, pada
penelitian terhadap tikus ditemukan peningatan makrofag, monosit, sel dendrit,
NK cell dan sel mast. Calcitonin generelated peptide, nitric oxide, vasoactive
intestinal peptide, dan substansi P berfungsi sebagai inhibisi neurotransmiter di
sistem nervus usus.3
Proses terjadinya ileus mekanik maupun non mekanik memiliki kemiripan
setelah terjadinya obstruksi, tanpa memandang penyebab obstruksi tersebut
apakah karena penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan yang tampak adalah
bila ileus tersebut disebabkan oleh penyebab non mekanik maka peristaltik usus
dihambat dari permulaan, sedangkan pada ileus karena penyebab mekanik maka
peristaltik mula-mula kuat kemudian bertambah pelan sampai akhirnya hilang.
Semua etiologi ileus menyebabkan usus di bagian distal kolaps, sementara bagian
proksimal berdilatasi. Usus yang tersumbat awalnya berperistaltik lebih keras
sebagai usaha alamiah dan akhirnya pasase usus jadi melemah dan hilang. Usus
yang berdilatasi menampung cairan dan gas yang merupakan hasil akumulasi
cairan dan gas yang menyebabkan distensi usus. Distensi usus tidak hanya pada
daerah sumbatan tapi dapat menjalar ke daerah proksimal. Distensi yang
menyeluruh menyebabkan pembuluh darah tertekan sehingga suplai darah
berkurang (iskemik) dan dapat terjadi perforasi.5
Usaha usus untuk berperistaltik disaat adanya sumbatan menghasilkan
nyeri kolik abdomen dan penumpukan kuman dalam usus merangsang muntah.
Pada obstruksi usus dengan stranguasi, terdapat penjepitan yang menyebabkan
gangguan peredaran darah sehingga terjadi iskemia, nekrosis kemudian gangren.
Gangren ini kemudian menyebabkan tanda toksis yang terjadi pada sepsis yaitu
takikardia, syok septik dengan leukositosis.
Pengaruh obstruksi kolon tidak sehebat pengaruh pada obstruksi usus
halus karena pada obstruksi kolon, kecuali pada volvulus, hampir tidak pernah
terjadi strangulasi. Kolon merupakan alat penyimpanan feses sehingga secara
relatif fungsi kolon sebagai alat penyerap sedikit sekali. Oleh karena itu
kehilangan cairan dan elektrolit berjalan lambat pada obstruksi kolon distal.
Dinding usus halus kuat dan tebal, karena itu tidak timbul distensi berlebihan atau
ruptur sedangkan dinding usus besar tipis, sehingga mudah distensi. Dinding
caecum merupakan bagian kolon yang paling tipis, karena itu dapat terjadi ruptur
bila terlalu tegang. Bila terjadi ruptur maka akan timbul perforasi yang
memperberat keadaan pasien.

2.4 GAMBARAN KLINIS


Gambaran klinik obstruksi ileus sangat mudah dikenal, tidak tergantung
kepada penyebab obstruksinya. Hanya pada keadaan strangulasi, nyeri biasanya
lebih hebat dan menetap. Obstruksi ileus ditandai dengan gambaran klinik, berupa
nyeri abdomen yang bersifat kolik, muntah-muntah dan obstipasi, distensi
intestinalis, dan tidak adanya flatus. Rasa nyeri perut dirasakan seperti menusuk-
nusuk atau rasa mulas yang hebat, umumnya nyeri tidak menjalar. Pada saat
datang serangan, biasanya disertai perasaan perut yang melilit. Bila obstruksi
tinggi, muntah hebat bersifat proyektil dengan cairan muntah yang berwarna
kehijauan. Pada obstruksi rendah, muntah biasanya timbul sesudah distensi usus
yang jelas sekali, muntah tidak proyektil dan berbau feculent, warna cairan
muntah kecoklatan.
Gambaran klinis ileus paralitik pada umumnya sama dengan ileus
obstruktif terdapat juga perbedaannya:
Ileus paralitik Ileus obstruktif
Nyeri Kontinu Kolik
Darm contour + +
Darm steifung - +
Bunyi bising usus menghilang Meningkat
Rectal toucher terowongan Kolaps

2.5 PEMERIKSAAN RADIOLOGI


1. Foto Polos Abdomen
Ileus merupakan penyakit abdomen akut yang dapat muncul secara
mendadak yang memerlukan tindakan sesegera mungkin. Maka dari itu
pemeriksaan abdomen harus dilakukan secara segera. Sebaiknya
pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup
seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu dipersiapkan ukuran kaset dan
film ukuran 35x 45cm.
Pada kasus abdomen akut diperlukan pemeriksaan 3 posisi, yaitu :
A. Posisi terlentang (supine): sinar dari arah vertical, dengan proyeksi
antero-posterior (AP) Hal hal yang dapat dinilai antaralain:
- Dinding abdomen, yang penting yaitu: lemak preperitoneal kanan
dan kiri baik atau menghilang.
- Garis psoas kanan dan kiri: baik, menghilang atau adanya
pelembungan (bulging).
- Batu yang radioopak, kalsifikasi atau benda asing yang radioopak.
- Kontur ginjal kanan dan kiri.
- Gambaran udara usus :
Normal
Pelebaran lambung, usus halus, kolon
Penyebaran dari usus usus yang melebar
Keadaan dinding usus
Jarak antara dua dinding usus yang berdampingan
B. Duduk atau setengah duduk atau berdiri (erect), bila
memungkinkan, dengan sinar horizontal proyeksi AP dinilai
gambaran udara bebas di bawah diafragma
C. Tiduran miring ke kiri ( left lateral decubitus ), dengan arah
horizontal, proyeksi AP Hampir sama seperti posisi duduk coba
nilai udara bebas letaknya antara hati dengan dinding abdomen

Gambar 3 : gambaran usus normal dari kiri ke kanan


merupakan gambaran LLD, erect dan supine
Sumber:
http://www.learningradiology.com/medstudents/recognizingseries/recogobstructflash.swf

RADIOLOGI ILEUS
Untuk radiologi ileus perlu diperhatikan beberapa hal :
1. Posisi terlentang (supine). Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus
di proksimal daerah obstruksi, penebalan dinding usus, gambaran seperti
duri ikan (Herring Bone Appearance). Penebalan dinding usus halus yang
terdilatasi memberikan gambaran tersebut karena dua dinding usus halus
yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra (dari ikan),
dan muskulus yang sirkular menyerupai kostanya
2. Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis didapatkan
adanya air fluid level jika gambaran air fluid level tampak pendek-pendek
yang berbentuk seperti tangga disebut juga step ladder appearance karena
cairan transudasi berada dalam usus halus yang mengalami distensi.
3. Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus.
Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level
pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedangkan jika panjang-panjang
kemungkinan gangguan di kolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya
udara bebas infra diafragma dan air fluid level.

Ileus Obstruktif Letak Tinggi (Small Bowel Obstruction)


Pada ileus obstruktif letak tinggi tampak dilatasi usus di proksimal
sumbatan (sumbatan paling distal di iliocecal junction) dan kolaps usus
dibagian distal sumbatan. Pada foto polos akan terlihat beberapa seri
ladderlike appearance dari lipatan usus yang meleba dimana hal tersebut
merupakan ciri khas dari obstruksi letak tinggi namun juga dapat terlihat
pada obstruksi dari usus besar asenden. Fluid level dapat terlihat pada foto
dengan posisi tegak lurus. Dilatasi lebih dari 3cm dari usus halus sudah
dikategorikan tidak normal, semakin panjang bagian usus yang terdilatasi,
semakin memunginkan adanya obstruksi. Beberapa ciri berikut juga dapat
menunjukan adanya obstruksi usus halus3,4,8:this is small bowel
o Multiple air-fluid levels pada lipatan usus yang melebar secara
sentral
o Terlihatnya lipatan sirkular mukosa usus (valvula koniventes)
o Tidak terdapat gas pada usus besar atau sangat sedikit
Gambar 4: gambaran small bowel obstruction, kanan menunjukan
fluid level pada posisi tegak lurus, gambar kiri menunjukan usus yang
melebar dengan valvula konvinentes
Sumber:http://www.merckmanuals.com/professional/gastrointestinal-disorders/acute-abdomen-and-
surgical-gastroenterology/intestinal-obstruction

Ileus Obstruksi Letak Rendah (Large Bowel Obsruction)

Penampakan radiologi dari obstruksi letak rendah dapat dibedakan dari


obstruksi letak tinggi namun obstrusi letak rendah seringkali disertai
dilatasi usus halus karena letaknya yang lebih proksimal dibanding usus
besar. Pada usus besar akan terlihat distensi kolon yang letaknya
proksimal dari letak obstruksi, dikatakan dilatasi sekum jika ukuran
melebihi 9 cm dan untuk usus besar dikatakan dilatasi abnormal jika
ukuran melebihi 6 cm selain itu beberapa ciri berikut dapat menandakan
adanya obstruksi kolon3,4,8:

o gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi
abdomen dengan haustral markings .
o terkadang dapat terlihat massa / penyebab obstruksi
o Sedikit bahkan tidak ada udara pada rektum / sigmoid
o Sedikit atau bahkan tidak ada gas pada usus kecil jika katup ileosekal
masih kompeten
o kolaps usus di bagian distal sumbatan / tidak terdapat udarapada bagian
distal sumbatan
o air fluid level yang panjang-panjang di kolon.

Gambar 5: Terdapat sedikit udara di rektum sehingga


obstruksi tidak absolut namun setelah diperiksa dengan CT
terdapat obstruksi dari colon carcinoma
Sumber:http://radiologymasterclass.co.uk/tutorials/abdo/abdomen_xray_abnormalities/pathology_lar
ge_bowel_obstruction.html

Ileus Paralitik
Pada ileus paralitik terdapat dilatasi usus secara menyeluruh dari gaster
sampai rektum. Penebalan dinding usus halus yang mengalami dilatasi
memberikan gambaran herring bone appearance, karena dua dinding usus halus
yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan muskulus yang
sirkuler menyerupai kosta dan gambaran penebalan usus besar yang juga distensi
tampak pada tepi abdomen. Tampak gambaran air fluid level yang pendek-pendek
yang berbentuk seperti tangga atau disebut juga step ladder appearance di usus
halus dan air fluid level yang panjang-panjang di kolon.
Pada pasien dengan ileus generalisata perlu diperhatikan juga keadaan
klinis pasien, apakah pasien baru saja menjalani operasi? Apakah bising usus
menghilang? Karena pasien dengan ileus generalisata seringkali tidak sampai
datang ke IGD.3

Gambar 6 : gambaran Ileus menyeluruh


Sumber:http://www.learningradiology.com/medstudents/recognizingseries/recogobstructflash
.swf

Ileus paralitik terlokalisir akan menghasilkan gambaran sentinel


loop, dimana gambaranya dapat menyerupai obstruksi pada usus halus,
maka perlu diketahui keadaan klinisnya dan pemantauan lebih lanjut,
dimana letak sentinel loop sering menggambarkan letak kelainan yang
mendasari timbulnya ileus7

Gambar 7 : Gambaran sentinel loop dan kemungkinan penyebab


berdasarkan lokasi sentinel loop
Sumber: http://www.learningradiology.com/medstudents/recognizingseries/recogobstructflash.swf

2. Barium Enema
Barium enema adalah sebuah pemeriksaan radiologi dengan
menggunakan kontras positif. Kontras positif yang biasanya digunakan
dalam pemeriksaan radiologi alat cerna adalah barium sulfat (BaSO4).
Bahan ini adalah suatu garam berwarna putih, berat dan tidak mudah larut
dalam air. Garam tersebut diaduk dengan air dalam perbandingan tertentu
sehingga menjadi suspensi. Suspensi tersebut diminum oleh pasien pada
pemeriksaan esophagus, lambung dan usus halus atau dimasukkan lewat
kliasma pada pemeriksaan kolon (lazim disebut enema).
Sinar rontgen tidak dapat menembus barium sulfat tersebut,
sehingga menimbulkan bayangan dalam foto rontgen. Setelah pasien
meminum suspensi barium dan air, dengan fluroskopi diikuti kontrasnya
sampai masuk ke dalam lambung, kemudian dibuat foto foto dalam
posisi yang di perlukan. Pemeriksaan radiologi dengan Barium Enema
mempunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi usus halus.
Pengujian Enema Barium terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi
letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto polos abdomen.5

3. CT-Scan Abdomen
CT ( Computed Tomograhy) merupakan metode body imaging
dimana sinar X yang sangat tipis mengitari pasien. Detektor kecil akan
mengatur jumlah sinar x yang diteruskan kepada pasien untuk menyinari
targetnya. Komputer akan segera menganalisa data dan mengumpulkan
dalam bentuk potongan cross sectional. Foto ini juga dapat disimpan,
diperbesar maupun di cetak dalam bentuk film. Pemeriksaan ini dikerjakan
jika secara klinis dan foto polos abdomen dicurigai adanya strangulasi.
CTScan akan mempertunjukkan secara lebih teliti adanya kelainan-
kelainan dinding usus, mesenterikus, dan peritoneum. CTScan harus
dilakukan dengan memasukkan zat kontras kedalam pembuluh darah. Pada
pemeriksaan ini dapat diketahui derajat dan lokasi dari obstruksi.5
BAB III
PENUTUP

Ileus ditimbulkan oleh hipomotilitas dari traktus gastrointestinal


karena tidak adanya gerakan mekanis usus ataupun akibat adanya obstruksi,
walaupun patogenesis ileus masih belum diketahui secara pasti, multifaktorial dan
kompleks, gambaran klinis berupa gerak tidak sempurna isi usus sementara. Ileus
merupakan penyakit abdomen akut yang dapat muncul secara mendadak yang
memerlukan tindakan sesegera mungkin. Maka dari itu pemeriksaan abdomen
harus dilakukan secara segera. Pada kasus abdomen akut diperlukan pemeriksaan
3 posisi, yaitu :
o Posisi terlentang (supine)
o Duduk atau setengah duduk atau berdiri (erect)
o Tiduran miring ke kiri ( left lateral decubitus )
Dalam bidang radiologi baik ileus obstruktif maupun ileus paralitik
keduanya mempunyai perbedaan yang cukup berarti namun masih sulit untuk
dibedakan. Karena itu penting juga untuk diketahui keadaan klinis pasien dan
riwayat operasi untuk membedakan keduanya. Dimana ileus paralitik dan
obstruksi letak tinggi sering terjadi paskaoperasi sementara penyebab tersering
obstruksi letak rendah adalah adanya karsinoma kolon.
DAFTAR PUSTAKA

1. Indrayani M N. Diagnosis dan Tata Laksana Ileus Obstruktif. FK Udayana.


Denpasar
2. http://emedicine.medscape.com/article/2242141-overview
3. http://www.learningradiology.com/archives06/COW%20216-
SBO/sbocorrect.htm
4. http://www.stritch.luc.edu/lumen/meded/radio/curriculum/surgery/sbo_list1.
htm
5. https://www.scribd.com/document_downloads/direct/244336381?extension
=doc&ft=1441423165&lt=1441426775&user_id=41740203&uahk=Cmu++
aA9bKMlK/GG9Zd9IwnZJts
6. Samsuhidajat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC. 2004
7. http://radiopaedia.org/articles/adynamic-ileus
8. http://www.merckmanuals.com/professional/gastrointestinal-
disorders/acute-abdomen-and-surgical-gastroenterology/intestinal-
obstruction