Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Ketahanan Dan Keamanan Negara Laos, Myanmar
Dan Kamboja

Disusun oleh
Feny Anggraeni (165040200111059)
Achmad Rizal Novia Afandi (165040200111184)
Nilam Kinanti (165040207111087)
Kelas :G

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
MALANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat yang
diberikan-Nya sehingga penulisan makalah tentang Ketahanan dan Keamanan
Negara Laos, Myanmar dan Kamboja ini dapat terselesaikan. Pada kesempatan ini,
penulis menghaturkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
menyumbangkan ide dan pikiran demi terwujudnya makalah ini. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen yang telah membimbing kami selama
kuliah berlangsung dan beserta serta teman-teman atas kerjasamanya. Makalah ini
dibuat sebagai tugas kuliah pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan .
Semoga penulisan laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan kritik
serta saran yang penulis terima dapat dijadikan perbaikan dalam penulisan makalah
selanjutnya.
Malang, 12 Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
1. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................................ 1
2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 2
2.1 Pengertian Ketahanan dan Keamanan Negara ............................................. 2
2.2 Pengaruh Aspek Ketahanan Nasional Pada Kehidupan Berbangsa dan
Bernegara............................................................................................................. 2
2.3 Unsur Ketahanan Negara.............................................................................. 3
2.4 Ketahanan dan Keamanan Negara Laos ........................................................ 9
2.5 Ketahanan dan Keamanan Negara Myanmar .............................................. 12
2.6 Ketahanan dan Keamanan Negara Kamboja ............................................... 16
3. PENUTUP..................................................................................................... 24
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 25

iii
1

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ketahanan nasional membutuhkan sistem politik dan demokrasi yang
mapan. ketahanan nasional tidak bisa dihangun di atas otoritarianisme, karena
sudah terhukti otoritarianisme justru merapuhkan ketahanan nasional itu sendiri.
runtuhnya otoritarianisnie uni soviet, jerman timur, dan beberapa negara eropa
timur lainnya membuktikan bahwa ketahanan nasional membutuhkan sistem
politik dan demokrasi yang mapan. Saat ini, di dunia hanya ada beberapa negara
yang membangun ketahanan nasionalnya di atas pilar otoritarianisme, di antaranya
korea utara dan myanmar. kedua negara itu selalu dikucilkan secara internasional
sehingga menjadi negara rertutup. hal iru sangat merugikan masyarakar di kedua
negara, terutama secara ekonomi dan kebebasan berekreasi. Oleh karena itu ,
kemampuan, kekuatan, ketangguhan dan keuletan sebuah bangsa melemahkan dan
atau menghancurkan setiap tantangan, ancaman, rintangan dan gangguan itulah
yang yang disebut dengan Ketahanan Negara . Oleh karena itu, ketahanan negara
mutlak senantiasa untuk dibina dan dibangun serta ditumbuh kembangkan secara
terus-menerus dengan simultan dalam upaya mempertahankan hidup dan
kehidupan bangsa. Lebih jauh dari itu adalah makin tinggi tingkat ketahanan suatu
bangsa maka makin kuat pula posisi bangsa itu dalam pergaulan dunia. Pada
makalah ini akan membahas tentang ketahanan dan keamanan negara Laos,
Myanmar dan Kamboja
1.2 Tujuan
Memahami tentang sistem ketahanan dan keamanan pada negara Laos,
Myanmar dan Kamboja. serta agar mampu memahami unsur ketahanan yang dianut
negara tersebut sehingga dapat memecahkan masalah yang ada.
2

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ketahanan dan Keamanan Negara
Ketahanan negara pastinya mempunyai rumusan dengan pengertian yang
baku dalam upayanya menghadapi dinamika perkembangan dunia dari masa ke
masa. Kepastian itu menjadi keharusan karena dipakai sebagai titik dasar atau titik
tolak untuk gerak implemetasi/penerapan di dalam hidup dan kehidupan
masyarakat berbangsa dan bernegara. Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia
adalah konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras
dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh, menyeluruh dan terpadu berlandaskan
Pancasila, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Dengan kata lain, konsepsi .
Ketahanan Nasional Indonesia merupakan pedoman (sarana) untuk meningkatkan
(metode) keuletan dan ketangguhan bangsa yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional, dengan pendekatan kesejahteraan dan
keamanan (Gatot, 2009).
Ketahanan pertahanan dan keamanan diartikan sebagai kondisi dinamik
kehidupan pertahanan dan keamanan negara yang berisi keuletan dan ketangguhan
yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan negara didalam
menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang datang dari luar
maupun dari dalam baik langsung maupun tidak langsung yang membahayakan
identitas, integritas dan kelangsungan hidup bangsa. Wujud ketahanan pertahanan
dan keamanan tercermin dalam kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi
kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung kemampuan memelihara
stabilitas pertahanan dan keamanan yang dinamis, mengamankan pembangunan
dan hasil-hasilnya, serta kemampuan mempertahankan kedaulatan negara

2.2 Pengaruh Aspek Ketahanan Nasional Pada Kehidupan Berbangsa dan


Bernegara
Berdasarkan rumusan pengertian ketahanan nasional dan kondisi kehidupan
nasional Indonesia sesungguhnya ketahanan nasional dalam pernyataan Gatot
(2009) merupakan gambaran dari kondisi sistem (tata) kehidupan nasional dalam
berbagai aspek pada saat tertentu. Tiap aspek didalam tata kehidupan nasional
relatif berubah menurut waktu, ruang dan lingkungan terutama pada aspek-aspek
3

dinamis sehingga interaksinya menciptakan kondisi umum yang amat sulit


dipantau, karena sangat kompleks. Dalam rangka pemahaman dan pembinaan tata
kehidupan nasional itu diperlukan penyederhanaan tertentu dari berbagai aspek
kehidupan nasional dalam bentuk model yang merupakan hasil pemetaan dari
keadaan nyata, melalui suatu kesepakatan dari hasil analisa mendalam yang
dilandasi teori hubungan antara manusia dengan Tuhan, dengan
manusia/masyarakat dan dengan lingkungan. Berdasarkan pemahaman tentang
hubungan tersebut diperoleh gambaran bahwa konsepsi ketahanan nasional akan
menyangkut hubungan antar aspek yang mendukung kehidupan yaitu :
a. aspek yang berkaitan dengan alamiah bersifat statis meliputi aspek geografi,
kependudukan, dan sumber daya alam
b. aspek yang berkaitan dengan sosial bersifat dinamis meliputi aspek
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.

2.3 Unsur Ketahanan Negara


1. Gatra dalam Ketahanan Nasional
Unsur, elemen atau faktor yang mempengaruhi kekuatan/ketahanan
nasional suatu Negara terdiri atas beberapa aspek. Para ahli memberikan
pendapatnya mengenai unsur-unsur kekuatan nasional suatu Negara.
a. Unsur kekuatan nasional
Unsur ketahanan nasional menurut Hans J. Morgenthou,negara terbagi
menjadi beberapa faktor, yaitu :
- Faktor tetap (stable factors) terdiri atas geografi dan sumber daya alam,
- Faktor berubah (dynamic factors) terdiri atas kemampuan industri,
militer, demografi, karakter nasional, modal nasional, moral nasional,
dan kualitas diplomasi.
b. Unsur kekuatan nasional
Unsur kekuatan nasional menurut James Lee Ray, negara terbagi
menjadi dua faktor, yaitu
- Tangible factors terdiri atas penduduk, kemampuan industry, dan
militer.
- Intangible factors terdiri atas karakter nasional, moral nasional, dan
kualitas kepemimpinan.
4

c. Unsur kekuatan nasional


Unsur-unsur kekuatan nasional menurut Parakhas Chandra,terdiri atas
tiga, yaitu :
- Alamiah terdiri atas geografi, sumberdaya, dan penduduk;
- Sosial terdiri atas perkembangan ekonomi, struktur politik, budaya dan
moral nasional;
- Lain-lain: ide, inteligensi, dan diplomasi, kebijakan kepemimpinan.
d. Unsur kekuatan nasional model Indonesia
Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia diistilahkan dengan gatra
dalam ketahanan nasional Indonesia. Pemikiran tentang gatra dalam ketahanan
nasional dirumuskan dan dikembangkan oleh Lemhanas. Unsur-unsur
kekuatan nasional Indonesia dikenal dengan nama Astagatra yang terdiri atas
Trigatra dan Pancagatra.
- Trigatra adalah aspek alamiah (tangible) yang terdiri atas penduduk,
sumber daya alam, dan wilayah.
- Pancagatra adalah aspek social (intangible) yang terdiri atas idiologi,
politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Bila dibandingkan perumusan unsur-unsur ketahanan nasional di atas,
pada hakikatnya dapat dilihat adanya persamaan. Unsur-unsur demikian
dianggap mempengaruhi Negara dalam mengembangkan kekuatan
nasionalnya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang
bersangkutan.
2. Penjelasan Atas Tiap Gatra dalam Ketahanan Nasional
a. Unsur atau Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional
negara yang bersangkutan, faktor yang berkaitan dengan penduduk negara
meliputi dua hal berikut.
- Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja,
dan kepribadian.
- Aspek kualitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan,
persebaran; perataan dan perimbangan penduduk di tiap wilayah negara.
Terkait dengan unsur penduduk adalah faktor moral nasional dan
5

karakter nasional. Moral nasional menunjukan pada dukungan rakyat


secara penuh terhadap negaranya kita menghadapi ancaman. Karakter
nasional menunjukan pada ciri-ciri khusus yang dimiliki suatu bangsa
sehingga bias dibedakan dengan bangsa lain. Moral dan karakter
nasional mempengaruhi ketahanan suatu bangsa.
b. Unsur atau Gatra Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional negara. Hal yang
terkait dengan wilayah negara meliputi:
- Bentuk wilayah negara dapat berupa negara pantai, negara kepulawan
atau negara kontinental;
- Luas wilayah negara; ada negara dengan wilayah yang luas dan negara
dengan wilayah yang sempit (kecil);
- Posisi geografis, astronomi dan geologis negara;
- Daya dukung wilayah negara; ada wilayah yang habitable dan ada
wilayah yang unhabitable.
Dalam kaitannya dengan wilayah negara, pada masa sekarang ini perlu
dipertimbangkan adanya kemajuan teknologi, kemajuan informasi dan
komunikasi. Suatu wilayah yang pada awalnya sama sekali tidak mendukung
kekuatan nasional, karena penggunaan teknologi maka wilayah itu kemudian
menjadi unsur kekuatan nasional negara. Misalnya, wilayah kering dibuat
saluran atau sungai buatan.
c. Unsur atau Gatra Sumber Daya Alam
Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen
ketahanan nasional, meliputi:
- Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup
sumber daya alam hewani, nabati dan tambang;
- Kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam;
- Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan
dan lingkungan hidup;
- Kontrol sumber daya alam.
6

d. Unsur atau gatra di Bidang Ideologi


Ideologi adalah seperangkat gagasan, ide, cita dari sebuah masyarakat
tentang kebaikan bersama yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang harus
dicapai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. (Ramlan
Surbakti, 1999). Ideologi itu berisikan serangkaian nilai (norma) atau sistem
dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang oleh
suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka.
Ideologi mengandung ketahanan suatu bangsa oleh karena idiologi bagi suatu
bangsa memiliki dua fungsi pokok, yaitu
- Sebagai tujuan atau cinta-cinta dari kelompok masyarakat yang
bersangkutan, artinya nilai-nilai yang terkandung dalam idiologi itu
menjadi cita-cita yang hendak dituju secara bersama;
- Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan, artinya
masyarakat yang banyak dan beragam itu bersedia menjadikan idiologi
sebagai milik bersama dan menjadikannya bersatu.
e. Unsur atau Gatra di Bidang Politik
Politik penyelenggaraan bernegara amat memengaruhi kekuatan
nasional suatu negara. Penyelenggara bernegara dapat ditinjau dari beberapa
aspek, seperti:
- Sistem politik yang dipakai yaitu apakah sistem demokrasi atau
nondemokrasi;
- Sistem pemerintahan yang dijalankan apakah sistem presidensiil atau
parlementer;
- Bentuk pemerintah yang dipilih apakah republik atau kerajaan;
- Suatu negara yang dibentuk apakah sebagai negara kesatuan atau negara
serikat.
Pemilihan suatu bangsa atas politik penyelenggaraan bernegara tertentu
saja tergantung pada nilai-nilai dan aspirasi bangsa yang bersangkutan. Dalam
realitasnya, sebuah bangsa bias mengalami beberapa kali perubahan dan
pergantian politik penyelenggaraan bernegara. Misalnya negara Prancis dari
bentuk kerajaan menjadi republik. Bangsa Indonesia sekarang ini telah
berketetapan untuk mewujudkan negara Indonesia yang bersusunan kesatuan,
7

berbentuk republik dengan sistem pemerintahan presidensiil. Adapun sistem


politik yang dijalankan adalah sistem politik demokrasi (Pasal 1 ayat (2) UUD
1945).
f. Unsur atau Gatra di Bidang Ekonomi
Ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan
nasional negara yang bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang
ekonomi berperan langsung dalam upaya pemberian dan distribusi kebutuhan
warga negara. Kemajuan pusat di bidang ekonomi tertentu saja menjadikan
negara yang bersangkutan tumbuh sebagai kesatuan dunia. Contoh, Jepang dan
Cina. Setiap negara memiliki sistem ekonomi dalam rangka mendukung
kekuatan ekonomi bangsanya. Sistem ekonomi secara garis besar
dikelompokan menjadi dua macam yaitu sistem ekonomi liberal dan sistem
ekonomi sosialis. Suatu negara dapat pula mengembangkan sistem ekonomi
yang dianggap sebagai cerminan dari nilai dan idiologi bangsa yang
bersangkutan. Contoh, bangsa Indonesia menyatakan sistem ekonomi Pancasila
yang bercorak kekeluargaan.
g. Unsur atau Gatra di Bidang Sosial Budaya
Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu
negara. Hal-hal yang dialami sebuah bangsa yang homogen tentu saja akan
berbeda dengan yang dihadapi bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial
budaya nasyarakatnya. Contohnya, bangsa Indonesia yang heterogen berbeda
dengan bangsa Israel atau bangsa Jepang yang relatif homogen. Pengembangan
integrasi nasional menjadi hal yang amat penting sehingga dapat memperkuat
kekuatan nasionalnya. Integrasi bangsa dapat dilakukan dengan 2 (dua) strategi
kebijakan, yaitu assimilationist policy dan bhinneka tunggal ika policy
(Winarno, 2002). Strategi pertama dengan cara penghapusan sifat-sifat cultural
utama dari komunitas kecil yang berbeda menjadi sebuah kebudayaan nasional.
Strategi kedua dengan cara penciptaan kesetiaan nasional tanpa menghapuskan
kebudayaan lokal, Tidak dapat ditentukan strategi mana yang paling benar.
Negara dapat pula melakukan kombinasi dari keduanya. Kesalahan dalam
strategi dapat mengantarkan bangsa yang bersangkutan ke perpecahan bahkan
perang saudara. Misal, perpecahan etnis di Yugoslavia, pertentangan antara
8

suku Huttu dan Tutsi di Rwanda, perang saudara antara bangsa Sinhala dan
Tamil di Sri Lanka.
h. Unsur atau Gatra di bidang Pertahanan Keamanan
Pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok terutama
dalam menghadapi ancaman militer negara lain. Oleh karena itu, unsur utama
pertahanan keamanan berada di tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan
negara juga merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara. Negara dapat
melibatkan rakyatnya dalam upaya pertahanan negara sebagai bentuk dari hak
dan kewajiban warga negara dalam membela negara. Upaya melibatkan rakyat
menggunakan cara yang berbeda-beda sesuai dengan sistem dan politik
pertahanan yang dianut oleh negara. Politik pertahanan negara disesuaikan
dengan nilai filosofis bangsa, kepentingan nasional dan konteks zamannya.
Bangsa Indonesia dewasa ini menetapkan politik pertahanan sesuai
dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara.
Pertahanan negara Indonesia bersifat semesta dengan menempatkan tentara
sebagai komponen utama pertahanan.
Ketahanan Nasional Indonesai dikelola berdasarkan unsur Astagrata
yang meliputi unsur-unsur (1) geografi, (2) kekayaan alam, (3) kependudukan,
(4) idiologi, (5) politik, (6) ekonomi, (7) sosial budaya, dan (8) pertahanan
keamana. Unsur (1) geografi, (2) kekayaan alam, (3) kependudukan disebut
Trigatra. Unsur keamanan disebut Pancagatra. Kebutuhan Nasional adalah
suatu pengertian holistik, dimana terdapat saling hubungan antara gatra dalam
keseluruhan kehidupan nasional (Astagrata). Kualitas Pancasila dalam
kehidupan nasional Indonesai tersebut terintegrasi dan dalam integrasinya
dengan Trigrata. Keadaaan kedelapan unsur tersebut mencerminkan kondisi
Ketahanan Nasional Indonesia, apabila ketahanan nasional kita kuat atau lemah.
Kelemahan disalah satu gatra dapat mengakibatkan kelemahan di gatra lain dan
memengaruhi kondisi secara keseluruhan. Ketahanan Nasional Indonesia
bahkan merupakan suatu penjumlahan ketahanan segenap gatranya, melainkan
suatu hasil keterkaitan yang integrative dari kondisi dinamik kehidupan bangsa
di seluruh aspek kehidupan.
9

2.4 Ketahanan dan Keamanan Negara Laos


Laos adalah sebuah Negara Republik yang dikelilingi oleh daratan dan
terletak di bagian utara Semenanjung Indochina. Laos berasal dari kata Lan Xang
yang artinya kerajaan gajah. Negara ini adalah satu-satunya Negara di kawasan
Asia Tenggara yang tidak memiliki pantai. Laos pernah dijajah oleh Prancis dan
memperoleh kemerdekaan pada 22 Oktober 1953 dalam bentuk kerajaan. Sejak 3
Desember 1975 kerajan Laos berubah menjadi Republik Laos. Laos adalah salah
satu negara komunis dengan kepala pemerintahan berupa presiden dan dibantu oleh
perdana menteri. Jika dilihat dari sudut pandang Geografi Politik, letak wilayah
negara Laos yang tidak memiliki wilayah laut atau pantai dikenal dengan sebutan
kawasan land-lock. Kondisi ini dianggap kurang menguntungkan dari segi
pertahanan dan keamanan, khususnya dari serangan atau invasi bangsa lain.
Sejarah Laos tidak pernah lepas dari konflik berkepanjangan, dari konflik
menentang penjajah hingga konflik pertikaian saudara. Perancis, Jepang, Amerika,
China, dan Vietnam pernah ikut mencelupkan tangan mereka dalam kobar api
peperangan di Laos. Sebagaimana kedatangan kedua Belanda di Indonesia, pasca
perang dunia kedua Perancis juga ingin mendirikan kembali negara protektoratnya
di Laos. Masuknya Vietnam Utara untuk membantu gerilyawan lokal, operasi
clandestine Amerika untuk menghalangi masuknya komunis di Laos, perang
saudara untuk memperebutkan kekuasaan. Itulah sederet panjang konflik yang
terjadi semenjak awal abad kedua puluh hingga membentuk wajah Laos yang
sekarang. Bisa dikatakan Laos adalah salah satu negara terakhir di ASEAN yang
merasakan kedamaian setelah perjuangan yang panjang, dan entah sampai kapan
lagi mereka dapat menikmati itu.
Dalam masa kekinian Laos seolah tidak terpengaruh dengan gegap gempita
LCS dan tetap tenang menjalani kehidupannya seperti biasa. Secara geografis Laos
memang tidak memiliki wilayah laut, sebagian besar berupa rangkaian pegunungan
sehingga kurang memiliki pengaruh politis. Semenjak 1977 ketika kelas kelas
terdidik berduyun duyun meninggalkan Laos, praktis ekonomi Laos hanya
bertumpu pada sektor agraria dan harus bekerja keras mengejar ketertinggalannya
dengan negara kawasan. Dan ketika Laos mulai membuka diri pada 2004
pertumbuhan ekonomi Laos terus meningkat didorong oleh mengalirnya arus
10

investasi asing, dimana antara China dan Jepang bersaing ketat menyumbang porsi
investasi di Laos.
Berbeda dengan negara kawasan, Laos masih mempertahankan postur
militernya tidak jauh berbeda dari dulu, selama beberapa dekade kebelakang tidak
ada pembelian alut sista baru oleh Laos. Dengan tidak adanya lagi konflik internal
dan potensi konflik eksternal penguasa Laos masih merasa nyaman dengan postur
militernya yang sekarang. Secara politik Laos banyak dipengaruhi oleh Vietnam,
demikian karena Vietnam telah berjasa membantu perjuangan kemerdekaan Laos.
Dan disaat yang sama Laos juga medan kepentingan politik antara China dan
Jepang melalui jalur investasi yang ditanamkan di Laos, dimana tujuan utamanya
adalah mengamankan SDA Laos dalam monopoli perdagangan eksklusif. Selain
berkepentingan ekonomis Jepang juga menyimpan kepentingan untuk menjaga
Laos agar tidak jatuh ketangan China sepenuhnya, dengan tujuan untuk
mengamankan sisi barat Vietnam bilamana konflik dengan RRC meletus. Sebab
Vietnam sendiri adalah relasi di selatan yang lebih penting bagi Jepang daripada
Laos yang terisolasi daratan. Sementara itu hubungan Laos dengan RRC lebih
terfokus pada masalah ekonomi, jalinan hubungan militer antara Laos dan China
dilakukan secara terbatas dan sembunyi sembunyi dibawah hidung Vietnam.
Keberadaan Vietnam disebelahnya dan bagaimana peran serta Vietnam dalam
sejarah Laos tidak dapat serta merta dikesampingkan begitu saja. Mendekat dalam
poros militer RRC akan sama dengan mengundang api peperangan dari sahabat
lama. Namun disaat yang sama Laos juga sadar diri bahwa mereka juga butuh
pembangunan ekonomi, dan RRC datang membawa paket madu yang lebih manis
dari pada tawaran Jepang atau Vietnam. Hubungan Indonesia dengan Laos baru
sebatas kerja sama perdagangan dengan nilai yang masih relativ kecil serta kerja
sama militer dalam hal pengadaan senjata bagi angkatan darat Vietnam.
Sebagaimana dengan Kamboja dan Vietnam, kedekatan khusus antara Indonesia
Laos terletak dibawah permukaan dan bagaimana fungsi Laos bagi Indonesia masih
dipertanyakan. Terlihat juga Laos hanya memfokuskan hubungan militernya
dengan Vietnam, RRC dan Indonesia. Kemungkinan besar langkah ini adalah
strategi Laos untuk mengejar ketertinggalannya dalam ekonomi dengan
menggandeng negara negara rising tides yang sejalan, dan disaat yang sama
11

berusaha menjamin keamanan dalam negerinya melalui kerjasama bilateral. Fakta


tentang Kekuatan Militer Negara Laos
1. Jumlah Tentara Laos Sangat Sedikit tapi Banyak
Kalau dilihat dari jumlah tentaranya, Laos adalah yang paling sedikit se-
Asia Tenggara. Jumlahnya hanya sekitar 30 ribu saja untuk personel aktifnya.
Tapi, mereka punya tentara lapis kedua sebanyak 100 ribu orang yang terdiri
dari pemuda wajib militer. Meskipun jadi yang paling sedikit di Asia Tenggara,
tapi untuk skala dunia jumlah tentara Laos boleh dibilang lumayan. Masih
banyak negara-negara lain yang tentaranya lebih sedikit, termasuk di antaranya
adalah Republik Ceko, Kroasia, dan Denmark.
2. Profile Kekuatan Darat Laos
Berbicara soal kekuatan darat, Laos cukup terpuruk. Negara ini hanya
memiliki beberapa gelintir mesin perang darat. Tank misalnya, Laos hanya
memiliki sekitar 55 buah saja. Jumlah ini bisa dibilang sangat sedikit kalau
dibandingkan negara tetangganya. Misalnya Kamboja yang memiliki sekitar
525 tank. Meskipun tanknya cukup sedikit, Laos memiliki jumlah kendaraan
tempur yang lumayan banyak meskipun bisa dibilang sedikit kalau
dibandingkan dengan negara lain. Soal kendaraan taktis, negara ini hanya
memiliki 185 buah saja. Hanya tank dan kendaraan tempur saja yang jadi
andalan mereka untuk menjaga daerah seluas 236 ribu kilometer.
3. Kekuatan Udara Laos yang juga lemah
Tidak hanya mempunyai kelemahan di darat, di ranah udara Laos pun
juga sangat lemah. Negara ini tidak memiliki alutsista yang benar-benar
memadai untuk sektor udara. Global Fire Power menuliskan jika negara ini
hanya punya 31 pesawat saja. Cukup miris kalau dibandingkan dengan negara
tetangga. 31 pesawat ini pun terdiri dari armada pengangkut dan helikopter saja.
Laos tidak memiliki satu pesawat penyerang pun. Tidak hanya di Asia
Tenggara, di skala dunia pun Laos sangat terpuruk soal alutsista udara.
4. Kekuatan Kelautan yang Lemah
Beralih dari ranah udara, menuju ke kekuatan laut mereka. Tidak perlu
mengharapkan kejutan apa pun karena di laut Laos juga lemah. Hal ini terbukti
dari jumlah alutsista laut yang mereka miliki. Laos tercatat hanya memiliki
12

kapal pantai saja. Jumlahnya pun tidak banyak cuma 52 buah. Kalau dilihat dari
letak geografisnya, sepertinya Laos memang tidak perlu memperkuat kelautan
mereka. Pasalnya, negara ini bisa dibilang tidak berbatasan dengan laut secara
langsung. Kalau dilihat petanya, Laos memang seolah dikepung oleh banyak
negara di semua sisinya, mulai dari Kamboja, Thailand, Vietnam, dan
Tiongkok.

2.5 Ketahanan dan Keamanan Negara Myanmar


Myanmar merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang bergabung
tahun 1997. Negara yang beribu kotakan Yangon ini memiliki nama resmi
internasional The Union of Myanmar, atau Republik Persatuan Myanmar. Namun
negara ini juga dikenal dengan nama Burma. Dan dikepalai oleh seorang Presiden.
Myanmar merupakan salah satu negara yang memiliki pengalaman pahit mengenai
pemerintahan yang dikuasai oleh militer. Polemik kekuasaan di Myanmar sedikit
banyak memengaruhi kondisi ekonomi dan pembangunan dinegaranya. (Kramer,
2012).
Semenjak adanya peralihan kekuasaan kepada militer, seluruh aspek
kehidupan yang ada di Myanmar diambil alih oleh militer baik dari segi politik,
pemerintahan dan ekonomi. Pendapat ini dikemukakan oleh Davis I. Steinberg yang
menyebut Myanmar sebagai the most monolithically military-controlled in the
world. Hal ini disebabkan kondisi pemerintahan Myanmar yang sangat
dikendalikan oleh militer sejak tahun 1962 Walaupun di awal kemerdekaannya,
konsitusi 1947 mengisyaratkan pendirian sebuah sistem pemerintahan demokratis,
namun peran militer berangsur-angsur mulai meluas dalam perpolitikan, dimulai
dengan keberhasilan militer menyelesaikan konflik etnik dan meredam
pemberontakan komunis yang disertai dengan modernisasi dalam kekuatan militer.
Pengendalian penuh militer dalam segala aspek kehidupan yang banyak merugikan
masyarakat, pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah junta militer dan
penangkapan tokoh-tokoh pro demokrasi akibat pemilu tahun 1990 menimbulkan
kemarahan dunia internasional. Berlakukannya hukum darurat militer guna
menangani aksi protes besar- besaran dari rakyatnya pada tahun 1989. Dimana
ratusan junta militer dan polisi dikerahkan untuk menghentikan aksi protes tersebut
secara brutal hingga menewaskan sebanyak 3000 masyarakat sipil. Selain
13

melakukan aksi pembungkaman hak masyarakat untuk berpendapat, praktik


pemerintahan yang otoriter kembali mewarnai Myanmar.Dengan berbagai kasus
terkait aksi keji junta militer, pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap
media massa, dimana kebebasan pers sangat dibatasi serta menutup hampir seluruh
akses wartawan asing untuk meliput berita. Akan tetapi, segelintir berita yang
berhasil dipublikasi kemudian menjadi permasalahan internasional dan Myanmar
menuai reaksi keras dari berbagai pihak dunia. Banyak sanksi yang diberikan oleh
dunia internasional sejak tahun 1998 kepada Myanmar. Sanksi tersebut misalnya
berupa penghentian semua bantuan dan pinjaman kepada pemerintah Myanmar
yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Embargo senjata dan ekonomi juga
dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa. Bahkan Uni Eropa melakukan
isolasi politik melalui pelarangan pemberian visa terhadap penjabat-penjabat
pemerintah Myanmar untuk melakukan kunjungan ke Uni Eropa. Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) dan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) juga
melakukan tekanan melalui pendekatan diplomatik agar pemerintah Myanmar mau
menyadari kekejaman yang telah mereka lakukan terhadap rakyatnya sehingga
ingin membuka diri untuk menerapkan demokrasi di negaranya. ASEAN memulai
dengan sebuah kebijakan yang bernama constructive engagement dan PBB
melakukan kunjungan ke Myanmar yang diwakili oleh Profesor Sadako Ogata,
seorang sarjana dan diplomat dari Jepang yang dikirim pada tahun 1990 sebagai
perwakilan Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) PBB yang melakukan pendekatan
diplomatik agar pemerintah Myanmar bersedia untuk lebih menghormati HAM dan
memberikan kebebasan dasar bagi rakyatnya. (Firnas, 2003)
Dunia internasional menginginkan agar Myanmar merubah sistem
pemerintahannya menuju pemerintahan demokratis. Hal ini karena dengan sistem
demokrasi , dianggap sebagai sistem yang paling baik dan merupakan solusi terbaik
bagi sistem sosial dan politik yang ada di dalam masyarakat karena meletakkan
rakyat sebagai komponen penting dalam proses dan praktek-praktek demokrasi.
Sistem demokrasi juga mengakui adanya hak dasar kewarganegaraan untuk
mendapatkan kebebasan, persamaan, transparansi, tanggung jawab dan saling
menghormati perbedaan pendapat yang ada dalam masyarakat demi
keberlangsungan pemerintahan. Lalu pada tanggal 30 Agustus 2003 di gedung
14

Pyithu Hluttaw, Perdana Menteri Khin Nyut mengumumkan sebuah kebijakan


bernama seven steps roadmap to discipline-flourishing democracy dalam upaya
mewujudkan demokrasi di Myanmar. Hal ini tentu mengejutkan dan banyak pihak
yang berpendapat kalau ini hanya sebagai upaya militer untuk tetap memegang
kekuasaan dalam pemerintahan Myanmar. Tatmadaw (militer Myanmar) telah
terlibat dalam politik sejak kemerdekaan Myanmar dari negara Inggris. Militer
Myanmar dianggap sebagai sebuah kekuatan yang memperjuangkan kemerdekaan
Myanmar dan berperan sebagai penjaga dan benteng pertahanan negara. Absennya
peran masyarakat untuk turutterlibat dalam usaha demokratisasi partisipatoris
menunjukkan bahwa kedaulatan di Myanmar berada di tangan junta militer.
Harapan untuk menuju negara yang berdaulat seutuhnya mengalami stagnansi
berkepanjangan. Pada akhirnya, penerapan asas-asas demokrasi yang minim dan
penekanan terhadap supremasi sipil adalah bukti nyata langgengnya rezim junta
militer di Myanmar. Maka hal ini tidaklah sejalan dengan langgengnya rezim
militer membuktikan bahwa negara telah gagal untuk mengakomodir kepentingan
rakyat.Myanmar sebagai salah satu contoh dimana kedaulatan yang utuh
seharusnya berada ditangan rakyat, demi terselenggaranya sistem politik dan sosial
yang adil dan damai (Ausi ,2015).
Bentrok Bersenjata Warga Sipil dan Militer Myanmar Pemerintah junta
militer Myanmar masih menerapkan politik diskriminasi terhadap suku-suku
minoritas di Myanmar. Diskriminasi tersebut dilakukan termasuk kepada etnis
Rohingya sejak tahun 1990 sampai saat ini. Situasi tersebut masih terjadi, namun
kali ini pelariannya dipicu oleh bentrok bersenjata dengan tentara pemerintah. Atas
apa yang terjadi, Myanmar diharapkan peduli dengan etnis Rohingya dengan
mendorong demokrasi di negaranya, sehingga hak etnis Rohingya di negaranya
sendiri dapat dipulihkan. Berbagai kendala harus dihadapi mengingat kompleksnya
konflik tersebut karena mencakup permasalahan agama, politik, dan ekonomi. Pada
bulan Maret 2015, pemerintah Myanmar mencabut kartu identitas penduduk bagi
orang-orang Rohingya yang menyebabkan mereka kehilangan
kewarganegaraannya dan tidak mendapatkan hak-hak politiknya. Hal inilah yang
menyebabkan etnis Rohingya mengungsi ke Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
15

Respons Internasional Negara-negara Barat semakin khawatir dengan cara


pemerintah Suu Kyi mengatasi kekerasan di Myanmar. Utusan Amerika Serikat
(AS) untuk Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa
penyelenggara negara tidak bisa sendiri dalam menangani krisis sosial. Sementara
Duta Besar AS untuk PBB, Samantha Power, menyampaikan kepeduliannya pada
pertemuan tertutup Dewan Keamanan PBB yang diadakan atas permintaan AS, di
markas PBB di New York pada 17 November 2016. Selain respons dari PBB, LSM-
LSM Malaysia mendesak organisasi internasional seperti PBB dan ASEAN, untuk
memainkan peran yang lebih aktif dalam menangani kekerasan dan kekejaman
yang dialami etnis Rohingya. Presiden Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Malay Islamic World, Mohd Ali Rustam mengatakan bahwa pemerintah Myanmar
bertanggung jawab untuk melindungi rakyat mereka, tak peduli muslim atau bukan.
Sementara dari pemerintah Malaysia sendiri telah menyerukan protes besar
terhadap Myanmar yang digelar pada 4 Desember 2016 dan dihadiri Perdana
Menteri Malaysia, Najib Razak. Indonesia turut merespons adanya kasus kekerasan
etnis Rohingya. Pada 21 November 2016, Pemerintah Indonesia melalui
Kementerian Luar Negeri (Kemlu), memanggil Duta Besar Myanmar di Jakarta.
Menlu Retno yang telah berkomunikasi dengan mitranya, Menteri Muda Urusan
Luar Negeri Myanmar berbagi pengalaman sekaligus mendorong untuk
menyelesaikan persoalan kekerasan di Rakhine dan pengembangan serta
pembangunan yang inklusif di Rakhine (Hidriyah, 2016).
Secara umum, dapat dikatakan bahwa perubahan yang terjadi di Myanmar
sangat signifikan, khususnya dalam perspektif ekonomi dan sosial budaya. Kota
Yangon telah berkembang secara dinamis yang ditandai dengan berbagai kegiatan
pembangunan infrastruktur serta roda ekonomi yang bergerak positif. Perubahan di
bidang politik masih dilakukan secara bertahap dan terlihat berhati-hati. Beberapa
perubahan penting di bidang politik dan dalam beberapa waktu terakhir antara lain
diterbitkannya UU mengenai Kebebasan Pers. Dengan diberlakukannya UU
tersebut, maka Myanmar memasuki babak baru dari transisi demokrasi, khususnya
dalam mendorong pemajuan hak asasi manusia (HAM) untuk memperoleh akses
terhadap informasi yang disampaikan kalangan pers (Siamuruk,2015).
16

2.6 Ketahanan dan Keamanan Negara Kamboja


Kamboja dalam proses pembentukan kekuatan militernya memiliki proses
yang panjang hingga era 90-an Kamboja masih dilanda konflik dengan beberapa
negara, sehingga mempersulit proses pembentukan kekuatan militer. Kamboja
diminta untuk merumuskan institusi militer yang profesional. Meskipun upaya yang
kuat pada tahap awal, proses ini terhambat oleh sejumlah krisis. Perluasan krisis
tentara hantu dan kecenderungan politik dalam RCAF adalah beberapa hambatan
utama yang menyebabkan sejumlah langkah yang ditujukan untuk gagal.
Angkatan Darat Kerajaan Kamboja (bahasa Khmer: ,
Kangtorp Cheung Kork) adalah sebuah bagian dari Pasukan Bersenjata Kerajaan
Kamboja. Angkatan tersebut memiliki pasukan darat yang berjumlah 85,000 orang
yang terbagi dalam sebelas divisi infantri, dengan dukungan
artileri dan armour terintegrasi. Angkatan Darat Kerajaan tersebut berada di bawah
naungan Kementerian Pertahanan Nasional. The Royal Cambodian Armed
Forces atau disingkat RCAF) adalah angkatan bersenjata dari negara Kamboja.
RCAF saat ini beroperasi di bawah yurisdiksi Kementerian Pertahanan Nasional.
Angkatan Bersenjata Kamboja terdiri dari tiga cabang utama yaitu Angkatan
Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Polisi Militer.
RCAF didirikan pada tahun 1993 melalui penggabungan dari Angkatan
Bersenjata Revolusioner Rakyat Kamboja dan dua tentara perlawanan non
komunis. Pada saat itu, ada juga pasukan perlawanan penentang pemerintah, yang
terdiri dari Khmer Merah dan gerakan perlawanan separatis pendukung raja (juga
dikenal sebagai Tentara Persatuan Nasional). Pelopor Angkatan Bersenjata
Kamboja adalah Divisi 125 yang didirikan pada tahun 1978 oleh Hun
Sen (sekarang Perdana Menteri) dan dukungan dari Angkatan Bersenjata Vietnam.
Pasukan payung The Royal Kamboja Angkatan Bersenjata (RCAF) tetap
merupakan kekuatan efektif yang menderita menjadi warisan rekonsiliasi faksi
yang mengakhiri perang saudara di awal 90-an. Ini diciptakan untuk
menggabungkan angkatan bersenjata dari semua kelompok bersaing dan
memungkinkan demobilisasi berikutnya. Beberapa demobilisasi terjadi di tahun 90-
an. RCAF telah memulai kembali upaya ini, demobilisasi 7.000 personil dalam
tahun kalender 2006 yang didanai oleh sumber daya internal pemerintah. Namun,
17

masih atas berat, dengan lebih dari 700 jenderal kekuatan nominal dari sekitar
107.000 [pada 2007], dan benar-benar (diskon tentara hantu dan usia / kesehatan
tentara tidak efektif) kurang dari 60.000 pada waktu itu [dengan perkiraan
Govenment AS] . Dalam kekuatan nominal, Angkatan Darat adalah sangat
dominan, diikuti oleh Gendarmerie, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Peralatannya terutama penuaan bahan Pakta Warsawa, banyak yang non-
operasional.
Unit dan lokasi dari RCAF harus terus ditata ulang. Menurut rencana
demobilisasi, jumlah semua jenis unit akan berkurang. Namun, ukuran tertinggi unit
untuk mempertahankan tingkat Brigade adalah; dan itu sangat tepat untuk berpikir
tentang peralatan militer, mobilitas, komando dan kontrol. Dari jumlah keseluruhan
kekuatan untuk terus berkurang, 80 persen atau empat-perlima adalah kekuatan
operasional, dan 20 persen atau seperlima tersisa adalah komando dan kontrol
pasukan di markas pusat dan di daerah militer dan beberapa pasukan khusus
lainnya. Sebuah kualitas yang sesuai harus dipertimbangkan untuk mempersiapkan
pasukan militer di setiap Service (Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan
Udara).
Dalam hal kegiatan militer yang lebih signifikan di daerah perbatasan,
respon awal akan berasal dari pasukan yang ditugaskan ke daerah militer. Ini akan
diperkuat seperti yang dipersyaratkan oleh unit tambahan dan daya tembak yang
tersedia dari Angkatan Darat dan Komando Tinggi Markas. Haruskah ancaman
yang lebih luas muncul, Markas Komando Tinggi akan mengkoordinasikan
kampanye dan mampu mengarahkan unit dan pasokan dari daerah lain negara
sesuai. Tugas dari para insinyur RCAF tidak hanya memenuhi kebutuhan
pertahanan nasional, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan sambungan
telepon komunikasi, pembangunan ekonomi dan mendukung bisnis provinsi.
Bekerjasama dengan Kamboja Tambang Aksi Pusat (CMAC), insinyur RCAF
membantu ranjau darat yang jelas sehingga meningkatkan kondisi hidup
masyarakat setempat. Insinyur RCAF membangun kembali dan memperbaiki jalan
dan jembatan, sehingga meningkatkan garis tanah komunikasi bagi orang-orang
yang tinggal di daerah perbatasan terpencil. Perbaikan ini membantu RCAF dalam
mengendalikan daerah perbatasan dan membantu mencegah penyelundupan ilegal.
18

Kamboja berada diurutan 53 dari 58 negara. Budget militer negara Kamboja sebesar
0,11 US$BN pada tahun 2014.
1. Jumlah Pasukan Militer Kamboja
Cabang militer: Kerajaan Kamboja Kerajaan Kamboja Angkatan Bersenjata:
Angkatan Bersenjata: Royal Royal Cambodian Army, Royal Khmer
Cambodian Army, Royal Khmer Angkatan Laut, Angkatan Udara
Angkatan Laut, Angkatan Udara Kerajaan Kamboja (2013)
Kerajaan Kamboja (2013)
Usia wajib militer dan kewajiban 18 adalah usia minimum wajib militer
dan sukarela (2012)
Tenaga kerja yang tersedia untuk laki-laki usia 16-49: 3883724
layanan militer perempuan usia 16-49: 4003585 (2010
est.)
Tenaga kerja yang tersedia untuk laki-laki usia 16-49: 3883724
layanan militer perempuan usia 16-49: 4003585 (2010
est.)
SDM yang sesuai untuk tugas laki-laki usia 16-49: 2638167
militer perempuan usia 16-49: 2965328 (2010
est.)
SDM yang mendekati usia militer laki-laki: 151.143
yang signifikan setiap tahun perempuan: 154.542 (2010 est.)
Pengeluaran militer 1,54% dari PDB (2012)
Sumber : www.nationmaster.com/country-info/stats/Military/Paramilitary-
personnel
Kamboja berada di urutan 22 dari 114 negara, dengan jumlah 67.000
personil paramiliter pada tahun 2014
2. Persenjataan Militer Negara Kamboja
TOTAL NAVAL STRENGHT (ANGKATAN LAUT) : 27
Aircraft carriers :0
Frigates :0
Destroyers :0
Corvetters :0
19

Submarines :0
Coasta defens craft : 26
Mine warefare :0
TOTAL AIR POWER (KEKUATAN UDARA)
Total aircraft : 21
Fighters/interceptors :0
Fixed-wing attack air craft :0
Transport air craft : 21
Trainer air craft :0
Helicopter 16
Attack helicopters :0
TOTAL LAND SYSTEM
Tanks : 525
Armored fighting vehicles (AFCS) : 300
Self propelled guns (SPGS) :0
Towed-artilerry : 600
Multiple- launch rocket systems (MCRS) :0

Sebagian besar senjata-senjata Kamboja di pasok dari China dan Rusia.


Data diatas merupakan data yang diunggah pada januari 2015 pada situs tersebut
Kamboja berada pada urutan ke-96 dari 126 negara berdasarkan jumlah
persenjataan yang dimilikinya (Administrator ,2015).
Di kamboja pernah terjadi konflik antar negara yaitu dengan negara
Thailand. Kedua negara ini awalnya merupakan dua negara Asia Tenggara yang
memiliki hubungan yang baik. Keduanya sangat jarang terlibat pertikaian. Hal ini
mungkin dikarenakan kedua negara tersebut memiliki banyak persamaan dari
beberapa Negara yang ada di ASEAN. Salah satu persamaan tersebut adalah
persamaan agama, yaitu agama Buddha yang merupakan agama mayoritas di kedua
negara tersebut. Persamaan kedua adalah dari sistem pemerintahan mereka, yang
sama-sama mengadopsi system monarki absolut. Namun hubungan yang baik itu
lantas menjadi merenggang selepas konflik Perang Indochina pada 1975, Perang
20

Indochina tersebut hubungan kedua negara terus-menerus terjadi konflik, berlanjut


dengan persoalan Kuil Preah Vihear dan wilayah yang ada di sekitar Kuil itu.
Menurut Irewati et al. (2015) memburuknya hubungan Thailand dan
Kamboja diperparah dengan konflik antara kedua negara yang semakin memanas
belakangan ini, Penyebab konflik kedua Negara adalah:
1. Wilayah Kuil Preah Vihear
Permasalahannya terletak pada satu tempat yaitu Kuil Preah Vihear. Sebuah
kuil berusia kurang-lebih 900 tahun tersebut kini sedang ramai-ramainya
diperbincangkan. Penyebabnya adalah sala satu diantara kedua Negara menguasai
Kuil maka wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar kuil tersebut kini akan di kuasai oleh
Negara yang telah merebut Kuil tersebut. Tetapi sedang diperebutkan dua negara
ASEAN, Thailand dan Kamboja. Kedua negara itu sama-sama mengklaim wilayah
tersebut sebagai wilayahnya, dan kedua Negara tersebut sama-sama berpendapat
penempatan tentara dari negara lainnya di wilayah tersebut merupakan bukti
pelanggaran kedaulatan nasional mereka. Juli 2008 lalu kedua negara yang bertikai
tersebut sama-sama menempatkan tentaranya yang keseluruhannya berjumlah lebih
dari 4000 pasukan di kawasan Kuil Preah Vihear tersebut.
2. Keputusan UNESCO Tentang Kepemilikan Kuil
Sebenarnya sejak dahulu, wilayah seluas 4,6 km2 ini memang sudah
menjadi perdebatan. Akan tetapi, perdebatan semakin memanas sejak
dikeluarkannya keputusan UNESCO yang memasukkan kuil itu ke dalam daftar
warisan sejarah dunia. Keputusan UNESCO ini kemudian mengundang dua reaksi
yang berbeda, reaksi gembira dari rakyat Kamboja, serta reaksi negatif dari rakyat
Thailand. Sebenarnya, masalah kepemilikan kuil tersebut sudah diatur oleh
Mahkamah Internasional tahun 1962, yang menyatakan kuil tersebut adalah milik
rakyat Kamboja, namun Thailand tidak menerimah keputusan UNESCO karena
Thailand mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu, apabilah Kuil itu di
tangan Kamboja maka Thailand akan terancam sebagai Negara tetangga. Akan
tetapi, sebenarnya ada satu masalah lagi yang mendorong Kamboja maupun
Thailand untuk memiliki wilayah sekitar Kuil Preah Vihear tersebut. Alasan
tersebut adalah karena wilayah sekitar Kuil Preah Vihear adalah wilayah yang kaya
akan sumber daya mineral-minyak bumi dan gas alam. Kepemilikan akan wilayah
21

sekitar Kuil Preah Vihear itu berarti akan menjamin terpenuhinya kebutuhan energi
negara pemiliknya, juga sekaligus akan meningkatkan pemasukan negara tersebut
dari sisi penjualan sumber energi. Hal ini menambah alasan mengapa wilayah
sekitar Kuil Preah Vihear merupakan wilayah yang layak untuk diperebutkan, baik
oleh Thailand dan Kamboja.
3. Wilayah Di Sekitar Kuil
Dalam konflik kamboja Thailand yang menjadi masalah di sini adalah
wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar kuil tersebut yang tidak dijelaskan
kepemilikannya oleh Mahkamah Internasional. Masalah kepemilikan yang tidak
jelas inilah yang menyebabkan terjadinya sengketa yang kemudian berlanjut
dengan konflik bersenjata di wilayah itu. Konflik bersenjata yang terjadi pada
tanggal 15 Oktober yang lalu tersebut dikabarkan telah menewaskan tiga tentara
Kamboja dan membuat empat tentara Thailand luka-luka. Kemarahan warga
Kamboja itu menyebabkan kedutaan Thailand dan beberapa usaha milik warga
Thailand dibakar.
4. Sama-sama Menggunakan Peta Yang Berbeda
Perdebatan mengenai wilayah sekitar Kuil Preah Vihear itu sebenarnya
sudah dimulai sejak lama. Perdebatan ini muncul karena Kamboja, sebagai negara
bekas jajahan Perancis, dan Thailand menggunakan peta berbeda yang
menunjukkan teritori masing-masing negara. Dan karena peta yang digunakan
kedua negara tersebut berbeda (Kamboja menggunakan peta dari mantan
penjajahnya, Perancis sementara Thailand menggunakan petanya sendiri), tentu
saja banyak terjadi salah penafsiran mengenai besar wilayah masing-masing. Salah
satu wilayah yang disalahtafsirkan itu adalah wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar Kuil
Preah Vihear tersebut. Dan apabila, misalnya klaim Kamboja tentang wilayah 4,6
km2 ini lantas dikabulkan Thailand, Thailand khawatir Kamboja akan semakin
merajalela dan mencaplok pula wilayah-wilayah lain yang juga disalahtafsirkan.
Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Karena itu, tidak heran wilayah yang hanya
seluas 4,6 km2 itu begitu diperebutkan, baik oleh Kamboja maupun Thailand.
5. Peningkatan Power
Kepemilikan akan sumber energy-terutama di masa-masa di mana energy
dipandang sebagai sesuatu yang langka dan diperjuangkan oleh setiap negara
22

seperti sekarang merupakan hal yang dapat menaikkan bargaining position/posisi


tawar suatu negara dalam dunia internasional, yang kemudian akan meningkatkan
power suatu negara. Kepemilikan sumber energi tersebut juga kemudian akan
membawa angin segar bagi perekonomian negara (dalam hal ini bagi Thailand atau
Kamboja, tergantung wilayah itu akan jatuh ke tangan siapa), karena setiap negara
akan berebut untuk membeli energi dari negara pemilik sumber energi tersebut.
Penaikkan bargaining position yang kemudian berdampak pada peningkatan power
yang dimiliki, serta kemajuan dalam bidang ekonomi; ketiga-tiganya merupakan
unsur yang penting untuk mencapai kepentingan nasional setiap negara, dan ketiga
unsur tersebut akan dapat dicapai dengan penguasaan wilayah seluas 4,6 km2 di
sekitar Kuil Preah Vihear.
Mengutip dari artikel oleh Ali (2013) Mahkamah Internasional atau
International Court of Justice (ICJ) memutuskan areal sekitar kuil Preah Vihear
milik Kamboja, dan Thailand harus menarik pasukannya dari daerah itu.
Mahkamah secara bulat menyatakan bahwa Kamboja memiliki kedaulatan
di areal sekitar Preah Vihear, dan sebagai konsekuensinya, Thailand berkewajiban
menarik pasukan militer dan polisinya dari daerah tersebut, demikian bunyi amar
putusan yang dibacakan di Den Haag, Senin (11/11), sebagaimana dilansir dalam
siaran pers ICJ.
Putusan Mahkamah Internasional ini sebenarnya hanya menafsirkan dan
menegaskan putusan dalam kasus yang sama pada 1962. Kala itu, Thailand menilai
putusan tersebut hanya menyangkut kepemilikan kuil, bukan kepemilikan areal di
sekitar kuil tersebut. Sengketa ini menimbulkan konflik antar dua negara.
Karenanya, Kamboja meminta agar Mahkamah Internasional menafsirkan putusan
pada 1962 itu. Dalam putusannya yang terbaru, Mahkamah menegaskan bahwa
Kuil Preah Vihear merupakan tempat relijius dan budaya yang sangat penting bagi
masyarakat di region tersebut. Kuil itu bahkan sudah terdaftar sebagai salah satu
tempat warisan dunia.
Karena itu, Mahkamah menyatakan berdasarkan Pasal 6 World Heritage
Convention, dua belah pihak baik Kamboja dan Thailand- harus bekerja sama
dengan masyarakat internasional untuk melindungi warisan dunia itu. Selain itu,
23

dua negara ini juga berkewajiban untuk tidak mengambil langkah-langkah yang
dapat merusak kuil itu secara langsung maupun tidak langsung.
Sesuai dengan konteks kewajiban itu, Mahkamah ingin menekankan
pentingnya akses ke kuil itu dari daratan Kamboja, demikian bunyi pertimbangan
Mahkamah.
Putusan ini dibuat oleh Ketua Mahkamah Internasional Tomka, wakilnya
Sepulveda-Amor, dan para hakim Owada, Abraham, Keith, Bennouna, Stotnikov,
Concado Trandade, Yusuf, Greenwood, Xue, Donoghue, Gaja, Sebutinde,
Bhandari dan hakim ad hoc Guillaume.
Sebagaimana dilansir Bangkok Post, Menteri Informasi Kamboja Khie
Kanharith menyambut baik kemenangan ini. Ini adalah kemenangan seluruh
bangsa dan penghargaan bagi kematangan berpolitik pemerintah Kamboja
sekarang, ujarnya dalam facebook page-nya.
Sedangkan, Menteri Luar Negeri Thailand Surapong Tovichakchaikul
menilai putusan Mahkamah ini telah memuaskan dua belah pihak. Setelah ini,
lanjutnya, kedua negara akan menggelar diskusi untuk bersama-sama membangun
area tersebut.
24

3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ketahanan dibutuhkan sebuah bangsa untuk menjamin serta memperkuat
kemampuan bangsa yang bersangkutan. Untuk menjamin terjadinya pola pikir, pola
sikap, pola tindak, dan pola kerja dalam menyatukan langkah bangsa, sebagai pola
dasar pembangunan negara tersebut sehingga lebih terarah, sebagai metode
pembinaan kehidupan yang mencakup seluruh aspek dalam kehidupan beregara .
Namun nyatanya masih belum sepenuhnya ketahanan dan keamanan yang dianut
oleh suatu negara dapat membangun, memperkuat bangsa serta menjamun hak
hak rakyatnya. Seperti banyaknya konflik yang terjadi sampai dunia internasional
ikut dalam memperbaiki dan membantu dalam konflik konflik yang terjadi di
negara- negara yang telah dibahas sebelumnya yaitu Laos, Myanmar dan Kamboja.
Kejadian-kejadian yang telah terjadi memunculkan hambatan besar bagi ASEAN
untuk menjadikan kawasan regional ini sebagai kawasan yang aman, terintegrasi,
serta saling mendukung.
25

DAFTAR PUSTAKA

Administrator.2015. Cambodia Military Strength diakses melalui


www.globalfirepower.com (11 Desember 2017)
Ali. 2013 Sengketa Kuil, Kamboja Kalahkan Thailand di Mahkamah Internasional
diakses melalui. http://www.hukumonline.com/ (11 Desember 2017)
Ausi. 2015. Penerapan Prinsip Asean Way Dalam Penanganan Krisis Kemanusiaan
Terhadap Etnis Rohingya Di Myanmar Thesis Diakses Melalui.
http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/2643
Darmadi, Hamid, 2014, Urgensi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di
Perguruan Tinggi, Bandung: Alfabeta.
Firnas, M.A., 2003. Prospek Demokrasi di Myanmar. Jurnal Universitas
Paramadina, Vol.2(.2) : 130-131
Gatot. 2009. Bab III : Ketahanan Nasional Fakultas Hukum Universitas Gunadarma
. Jakarta
Hidriyah, S., 2016. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis : Respons
Internasional Pada Pelarian Etnis Rohingya Ke Bangladesh. Pusat
Penelitian Badan Keahlian DPR RI Vol. 8(23) diakses melalui
http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VIII-23-I-
P3DI-Desember-2016-60.pdf (12 Desember 2017)
Irewati, A., Luhulima, C. P. F., Sitohang, J., Rahman, A. R., Dewi, R. dan Raharjo,
S. N. I. 2015. Sengketa Wilayah Perbatasan Thailand-Kamboja.
Yogyakarta: Andi Offset
Kramer ,T. 2012. Ending 50 years of Military Rule? Prospects for Peace,
Democracy and Development in Burma. (Norwegian Peacebuilding
Resource Centre (NOREF) : hal 1-4
Siamuruk,W.R. 2015. Peran The Institute For Peace And Democracy (Ipd) Dalam
Demokratisasi Di Myanmar . Jom Fisip Volume 2(1) :1-13
Subagyo dkk, 2009, Pendidikan Kewarganegaraan, Semarang: UPT UNNES
PRESS.
Winarno. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta: PT. Bumi Aksara.