Anda di halaman 1dari 3

Abstrak terdiri dari:

1. Context (background, problem)


2. Main Question and sub-question (problematic)
3. Statement (either thesis, or hypothesis, or antithesis, or synthesis), answering the
main question)
4. Theoritical Framework
5. Methodological Framework (procedure of research)
6. Analysis (answer the question)
7. Conclusion

Materi: Multikulturalisme dan Gender

Gender merupakan sebuah konsep modern tentang perbedaan jenis kelamin dan hak-hak dan
kewajiban yang mengikutinya. Pandangan tradisional berpendapat bahwa perbedaan jenis
kelamin berimplikasi kepada hak-hak sosial, budaya, dan politik. Sementara itu pandangan
modern meyakini bahwa perbedaan jenis kelamin hanya berkenaan dengan system reproduksi
yang berbeda yang tidak berimplikasi pada perbedaan dalam kehidupan sosial, budaya, dan
politik. Apakah konsep gender merupakan bagian dari wacana multikulturalisme? Jika
memang gender merupakan bagian tak terpisahkan dari multikulturalisme bagaimana relasi
antara keduanya?

ABSTRAK
MULTIKULTRALISME DAN GENDER
oleh Riska Hariyana (11150541000001)
Kesejahteraan Sosial 5A

Tulisan ini membahas dan mendiskusikan tentang bagaimana kesetaraan gender dalam
konteks keragaman budaya dan nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat mengenai
pandangan perbedaan antara peran laki-laki dan perempuan.

Perbedaan Konsep Gender dan Jenis Kelamin

Gender Jenis Kelamin


Menyangkut pembedaan peran, sikap, perilaku, Menyangkut perbedaan organ biologis
fungsi, hak, dan tanggung jawab laki-laki dan laki-laki dan perempuan, khususnya
perempuan sebagai hasil kesepakatan atau hasil pada bagian-bagian alat reproduksi.
bentukan masyarakat
Sebagai konsekuensi dari fungsi alat-
Sebagai konsekuensi dari hasil kesepakatan alat reproduksi, maka perempuan
masyarakat, maka pembagian peran laki-laki adalah mempunyai fungsi reproduksi seperti
mencari nafkah dan bekerja di sektor publik, menstruasi, hamil, melahirkan dan
sedangkan peran perempuan di sektor domestik dan menyusui; sedangkan laki-Iaki
bertanggung jawab masalah rumah tangga mempunyai fungsi membuahi.

Peran reproduksi tidak dapat berubah:


Peran sosial dapat berubah: Peran istri sebagai ibu Sekali menjadi perempuan dan
rumah tangga dapat berubah menjadi pencari nafkah, mempunyai rahim, maka selamanya
disamping menjadi istri juga akan menjadi perempuan dan
sebaliknya.
Peran sosial dapat dipertukarkan: Untuk saat-saat
Peran reproduksi tidak dapat
tertentu, bisa saja suami tidak memiliki pekerjaan
dipertukarkan: tidak mungkin laki-
sehingga tinggal di rumah mengurus rumah tangga,
laki melahirkan dan perempuan
sementara istri bertukar peran untuk bekerja mencari
membuahi.
nafkah bahkan sampai ke luar negeri.

Apakah kesetaraan gender merupakan bagian dari multikulturalisme? Multikulturalisme


sendiri berarti pandangan seseorang tentang penerimaan terhadap adanya keragaman,
dan berbagai macam budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut
nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut. Jadi, kesetaraan
gender merupakan bagian dari multikulturalisme dimana seseorang memiliki pandangan yang
berbeda-beda terhadap peran laki-laki dan perempuan didalam masyarakat, bergantung
terhadap nilai yang diterapkan di masyarakat tersebut. Terdapat banyak permasalahan tentang
penerimaan kaum perempuan terhadap suatu bidang pekerjaan yang dipandang tidak mampu
dikerjakan oleh mereka. Maka dari itu, kesetaraan gender merupakan suatu isu yang harus
tetap diperjuangkan karena masih banyaknya diskriminasi dan kesenjangan yang terjadi
antara perempuan dan laki-laki. Faktor stereotype juga merupakan faktor yang sampai
sekarang masih melekat dalam pandangan masyarakat terhadap perempuan yang selalu
dianggap lemah oleh laki-laki yang hanya mampu bekerja dirumah.

Bagaimanakah konsep keadilan dalam kesetaraan gender?


Gender merupakan indikator penting dalam sebuah identitas. Penting bagi seseorang untuk
mendapatkan kesetaraan baik sebagai laki-lakididalam lingkungan sosialnya.
Kesetaraan dan Keadilan Gender
Kesetaraan gender merupakan kondisi dimana perempuan dan laki-laki menikmati
status yang setara dan memiliki kondisi yang sarna untuk mewujudkan secara penuh hak-hak
asasi dan potensinya bagi pembangunan di segala bidang kehidupan. Kesetaraan gender
memiliki kaitan dengan keadilan gender. Sebagaimana ditegaskan oleh ILO (2000) bahwa
keadilan gender sebagai keadilan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki, berdasarkan
kebutuhan masing-masing. Ini mencakup perlakuan sama atau perlakuan yang berbeda tapi
dianggap setara dalam hal hak, keuntungan, kewajiban dan kesempatan. Dengan keadilan
gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan
kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.
Dalam beberapa situasi, masih ada sekelompok orang yang berpikir bahwa kedudukan
perempuan dan laki-laki dalam keluarga maupun dalam masyarakat memang harus berbeda.
Misalnya anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh nantinya akan
kembali juga masuk dapur. Dari ungkapan tersebut sudah dapat dilihat ada dua hal yang
mencerminkan tidak adanya kesetaraan gender dimana perempuan tidak diberikan
kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Pemikiran
seperti ini umumnya muncul terutama pada kelompok masyarakat yang masih
menganggap bahwa sudah kodratnya perempuan untuk melakukan pekerjaan di dapur. Perlu
ingat bahwa bukan kodratnya perempuan untuk masuk dapur, karena kegiatan memasak
di dapur tidak ada kaitannya dengan ciri-ciri biologis yang ada pada perempuan. Kegiatan
memasak di dapur atau kegiatan rumah tangga lainnya adalah suatu bentuk pilihan
pekerjaan dari sekian banyak jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh perempuan ataupun
laki-laki. Selain itu, terminologi kesetaraan gender seringkali disalahartikan dengan
mengambil alih pekerjaan dan tanggung jawab laki-laki. Misalnya bekerja untuk mengangkat
barang-barang yang berat, mengganti atap rumah, menjadi nelayan atau berburu di hutan dan
lainnya. Kesetaraan Gender bukan berarti memindahkan semua pekerjaan laki-laki ke
tangan perempuan, bukan pula mengambil alih tugas dan kewajiban seorang suami oleh
istrinya. Jika hal ini yang terjadi, bukan kesetaraan yang tercipta melainkan penambahan
beban dan penderitaan pada perempuan.
Jika peran gender dianggap sebagai sesuatu yang bisa berubah dan bisa
disesuaikan dengan kondisi yang dialami seseorang, maka tidak ada alasan lagi bagi kita
untuk menganggap aneh seorang suami yang pekerjaan sehari-harinya memasak dan
mengasuh anak-anaknya, sementara istrinya bekerja di luar rumah. Karena di lain waktu dan
kondisi, ketika sang suami memilih bekerja di luar rumah dan istrinya memilih untuk
melakukan tugas-tugas rumah tangga, juga bukan hal yang dianggap aneh.

Kata kunci: multikulturalisme, kesetaraan, keadilan, gender, peran, laki-laki, perempuan

Anda mungkin juga menyukai