Anda di halaman 1dari 15

TUGAS BAHASA INDONESIA

LEGENDA
Dosen Pembimbing

Saefudin

Disusun Oleh :

Rosalina

P07131215119

POLITEKNIK KESEHATAN BANJARMASIN

JURUSAN GIZI 2015/2016


Senin, 20 Februari 2012

"Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak", Cerita Rakyat Kabupaten Kotabaru, Kalimantan
Selatan

HIKAYAT SA-IJAAN DAN IKAN TODAK


Cerita Rakyat Kabupaten Kotabaru
Kalimantan Selatan

M. Sulaiman Najam
M. Syukri Munas
Eko Suryadi WS

Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak
Kalimantan Selatan: Pemerintah Kabupaten Kotabaru
bekerja sama dengan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kotabaru
82 halaman, 14 x 21 cm
ISBN: 979175624-4

Editor: Y.S. Agus Suseno


Desain isi & cover: Hery S.
Sampul & ilustrasi: M. Syahriel M. Noor

Cetakan Pertama: Agustus 2008


Diterbitkan oleh:
Pemerintah Kabupaten Kotabaru
bekerja sama dengan
Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Kotabaru

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Pengantar Penerbit

Pelestarian sastra daerah penting, sebab merupakan warisan budaya nenek moyang
yang tinggi nilainya. Upaya pelestarian itu bukan hanya akan memperluas wawasan terhadap
sastra dan budaya daerah, tapi juga memperkaya khazanah sastra dan budaya Indonesia.
Upaya itu dapat menjadi dialog antarbudaya antardaerah, salah satu unsur penting dalam
mewujudkan wawasan keindonesiaan.
Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari, oleh, hidup dan berkembang, di
masyarakat. Ada dua jenis cerita rakyat: berbentuk puisi dan prosa. Cerita rakyat berbentuk
prosa terdiri dari mitos, dongeng dan legenda.
Buku ini berisi cerita rakyat dari daerah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Disajikan dengan bahasa sederhana, karena memang untuk bacaan anak-anak, remaja, guru
dan orangtua.
Buku ini diterbitkan untuk mengisi ketiadaan bahan pelajaran muatan lokal. Sebelum
ini, tidak ada buku cerita rakyat yang berasal dari daerah Kabupaten Kotabaru. Tidak heran
jika guru-guru di tingkat pendidikan dasar dan menengah di Bumi Sa-ijaan mengalami
kesulitan ketika menyampaikan mata pelajaran muatan lokal. Karena tidak ada bahan,
langkah yang ditempuh para pendidik biasanya adalah dengan menjadikan cerita rakyat dari
daerah lain sebagai bahan ajar. Hal ironis pun terjadi: anak didik lebih mengenal cerita rakyat
dari daerah lain daripada yang berasal dari daerahnya sendiri.
Sebagai langkah awal, buku ini dapat menjadi salah satu pilihan bahan ajar untuk
mata pelajaran muatan lokal. Agar anak didik kita tidak terasing dari khazanah budaya
daerahnya sendiri. Seperti kata pepatah Melayu lama, Di mana bumi dipijak, di situ langit
dijunjung.
Terima kasih kepada penyusun yang telah menghimpun cerita rakyat ini, juga
berbagai pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu. Secara khusus, juga terima kasih
kepada narasumber utama cerita Hilangnya Kota Sebelimbingan, Hj. Sumirah.

Sekapur Sirih

Penyusun memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
merampungkan sembilan cerita rakyat daerah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Cerita rakyat ini, dengan beragam versi, pernah hidup, berkembang dan dipelihara
masyarakat pendukungnya, diturunkan dari generasi ke generasi, dari mulut ke mulut. Upaya
membukukan cerita rakyat ini dimaksudkan agar generasi muda mengenali khazanah budaya
daerahnya sendiri.
Kotabaru adalah kabupaten yang memiliki wilayah terluas di Kalimantan Selatan,
terdiri dari 109 pulau besar-kecil (79 pulau belum berpenghuni). Kalau ditarik garis
melintang, posisinya persis berada di tengah wilayah Nusantara. Dihuni beragam suku
bangsa, dengan sendirinya banyak cerita rakyat, mitos, dongeng dan legenda yang hidup di
masyarakat. Ironisnya, selama ini belum ada yang menggali dan membukukannya.
Melalui buku ini, diharapkan warga negara Indonesia lainnya di Nusantara,
sekurangnya di provinsi Kalimantan Selatan, mengenal dan mengetahui cerita rakyat dari
Kabupaten Kotabaru. Barangkali ada beberapa kemiripan dengan cerita rakyat di daerah lain.
Hal itu menunjukkan, dalam kebhinekaan kita, di manapun kita berada, selalu ada benang
merah yang menghubungkannya.
Sudah barang tentu ada pihak-pihak yang kurang sependapat dengan versi yang kami
susun. Andaikan demikian, dipersilakan bagi pihak lain untuk menggali, menyusun dan
memperkaya lagi, sesuai dengan versinya. Untuk masyarakat, hal itu akan memperbanyak
pilihan, menambah pustaka cerita rakyat Kabupaten Kotabaru, penting diwariskan kepada
generasi muda dan memperkaya khazanah budaya leluhur kita.
Setiap cerita rakyat berisi pesan-pesan luhur dan ajaran yang dapat dijadikan pedoman
kehidupan. Mudah-mudahan buku ini dapat memberikan manfaat.

DAFTAR ISI
Pengantar Penerbit
Sekapur Sirih
Daftar Isi
1. Hikayat Sa-ijaan dan Ikan Todak
2. Legenda Kerajaan Pulau Halimun
3. Riwayat Gunung Jambangan
4. Mencari Putri Papu Dari Kerajaan Bajau
5. Naga Partala di Goa Temuluang
6. Asal Mula Sumur Manggurak di Desa Sigam
7. Hilangnya Kota Sebelimbingan
8. Legenda Tanjung Pangga dan Tanjung Dewa
9. Koyaknya Halimun Pulau Laut

Riwayat Gunung Jambangan

Setelah bekerja keras semalam suntuk, Datu Mabrur melepas lelah sejenak di lepas
pantai Kerajaan Pagatan. Matahari pagi telah terbit di ufuk timur, menyinari lautan dan pasir
pantai tempat Datu Mabrur duduk mengaso.
Dalam satu malam, ia telah menyelesaikan tugasnya, mengantarkan empat puluh satu
batang pohon kayu ulin ke Kerajaan Banjar.
Beberapa hari lalu, Patih Balit dari Kerajaan Banjar datang menemuinya. Utusan yang
dikawal sejumlah prajurit itu menyampaikan amanat sultan mereka. Sultan Suriansyah ingin
membeli batang pohon kayu ulin.
Kata Patih Balit, Sultan Suriansyah ingin agar batang-batang pohon kayu ulin itu
dikirimkan ke Kerajaan Banjar dalam tempo tiga hari.
Batang-batang kayu besi itu akan digunakan sebagai tiang guru untuk membangun
masjid, tempat ibadah bagi rakyat Kerajaan Banjar yang baru memeluk agama Islam, di
Muara Kuin.
Karena batang pohon kayu ulin yang terbaik di dunia berasal dari Pulau Halimun,
Sultan Suriansyah sanggup membelinya, berapa pun harganya.
Patih Balit memperlihatkan pundi-pundi berisi intan, berlian, jamrut, yakut, nilam
biduri dan emas murni yang mereka bawa, sebagai alat pembayarannya.
Melihat itu, Datu Mabrur cuma tersenyum. Ia meminta utusan itu menyimpan
kembali harta bendanya dan menyanggupi permintaan Sultan Suriansyah. Tanpa syarat
apapun. Itu dilakukannya semata-mata sebagai sahabat.
Datu Mabrur meminta utusan itu segera pulang dan menunggu. Ia berjanji akan
mengantarkan sendiri batang-batang pohon kayu ulin itu.
Setelah utusan itu pulang dan matahari terbenam di ufuk barat, seorang diri Datu
Mabrur mencabut batang-batang pohon ulin yang sudah tua di hutan. Setelah itu, ia langsung
menggotong dan mengantarkannya ke Kerajaan Banjar.
Setiap kali, ia menggotong tiga batang. Batang pohon yang besarnya rata-rata
sepelukan orang dewasa dan panjang sembilan meter itu, dua diletakkannya di bahu, satu di
kepala. Dengan kesaktiannya, Datu Mabrur melesat secepat kilat ke Kerajaan Banjar. Hal itu
dikerjakannya berulang kali, hingga empat puluh satu batang pohon kayu ulin itu selesai
diantarkannya sebelum terbit fajar.
Namun, setiap kali pulang dari Kerajaan Banjar dan kembali ke Pulau Halimun, selalu
ada pemandangan yang membuatnya tidak enak. Itulah yang kini membebani pikirannya.
Sambil berdiri di pasir pantai Kerajaan Pagatan, ia memandangi Pulau Halimun. Di
kejauhan, ia melihat ada sesuatu yang kurang. Di sebelah utara, Gunung Sebatung tampak
berdiri kokoh. Tetapi, di sebelah selatan tidak ada gunung yang menjulang. Pemandangan
yang tidak seimbang.
Datu Mabrur teringat Datu Pujung.
Datu Mabrur ingin merundingkan masalah itu dengan Datu Pujung, yang tengah
bersamadi di goa pertapaannya di Pulau Halimun.
Dengan kesaktiannya, mereka melakukan pembicaraan jarak jauh.
Duduk bersila di atas ombak laut di tepian pantai, Datu Mabrur bersamadi. Dalam
samadinya, ia menyampaikan pemandangan yang dilihatnya dari tempat itu dan meminta
pendapat Datu Pujung.
Aku pun sudah lama melihatnya! sahut Datu Pujung dalam samadinya. Di Pulau
Halimun ini tidak ada gunung yang tinggi! Padahal itu penting sekali! Sebagai rambu bagi
nelayan dan petunjuk dalam pelayaran!
Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Datu Mabrur sebenarnya ingin
mengusulkan sesuatu, tapi ragu-ragu. Ia tahu, tidak ada yang dapat memerintah Datu Pujung.
Tidak ada yang berani menguji kesaktiannya. Orang yang kulitnya sehitam jelaga dan buruk
rupa itu sulit ditebak. Kalau bicara, suaranya sekeras halilintar, meledak-ledak. Datu Pujung
mudah tersinggung.
Kau punya usul, Mabrur?!
Ya... Datu Mabrur gembira, tak menduga Datu Pujung meminta sarannya.
Apa usulmu, heh?!
Bagaimana kalau kita mencari satu gunung lagi, dan meletakkannya di sana, di
sebelah selatan?
Di mana mencarinya?! Siapa yang mengerjakannya?! Apakah kita kerjakan bersama-
sama?!
Siapa lagi yang sanggup mengerjakannya selain Datu Pujung? Aku akan menunggu
di pantai Pulau Halimun. Bagi datu, mudah saja mencari gunung berapi yang sudah mati di
Jawadwipa, lalu mengangkutnya. Bagaimana?
Tunggu aku di Pulau Halimun! Sebelum bintang pertama terbit malam ini, aku akan
kembali!
Baiklah, sahut Datu Mabrur.
Tanpa bicara lagi, Datu Pujung mengambil galah saktinya. Galah itu panjang sekali.
Ujungnya menggapai awan. Dengan galah itu, Datu Pujung melompat dengan cepat dari satu
tempat ke tempat lain, dari sungai ke laut, dari laut ke samudera, dari satu pulau ke pulau
lainnya.
Sebelum matahari terbenam, Datu Mabrur sudah kembali berada di Pulau Halimun.
Sekilas, dalam cahaya jingga matahari senja, ia melihat bayangan Datu Pujung berkelebat di
kejauhan. Ayunan ujung galahnya menjolok angkasa. Menghamburkan awan, menjadi hujan.
Janggut dan jubahnya berkibaran.
Di pantai Pulau Halimun, sebelum bintang malam terbit, Datu Mabrur mendengar
desir angin dan suara ombak yang aneh. Seakan topan dan badai akan menjelma prahara.
Tetapi, tidak. Ternyata, suara itu berasal dari riak dan kecipak ombak yang timbul dari
langkah Datu Pujung yang datang memanggul gunung!
Di atas riak ombak lautan, Datu Pujung berjalan sambil memanggul sebuah gunung
yang tinggi dan besar sekali. Gunung itu diikatkan di ujung galahnya. Ia letih sekali, tapi tak
mau ditampakkannya. Saat berhadapan dengan Datu Mabrur, ia berusaha keras tersenyum.
Karena wajahnya jelek sekali, yang tampak bukannya senyum yang sedap dipandang,
tapi seringai yang aneh dan menyeramkan.
Engkau benar-benar hebat! sambut Datu Mabrur. Engkau telah menepati janji.
Engkau kembali, sebelum bintang terbit malam ini. Istirahatlah dahulu, datu.
Datu Pujung tidak mempedulikan sambutan dan pujian Datu Mabrur.
Diempaskannya galah saktinya dengan serampangan. Empasan itu membuat gunung
di ujung galahnya jatuh berdebur di tengah lautan.
Gelombang pasang yang terjadi akibat jatuhnya gunung itu menenggelamkan pulau-
pulau kecil di sekitar Pulau Halimun. Air laut yang membuncah ke udara dan jatuh berderai
membuat Pulau Halimun sesaat bagai dilanda hujan badai.
Aku masih kuat, tidak perlu istirahat! Kita segera bekerja! kata Datu Pujung sambil
menggerak-gerakkan otot leher dan bahunya yang pegal-pegal.
Bagaimana caranya, datu?
Dengan galahku, kita panggul gunung ini berdua! Aku di ujung sini, engkau di ujung
sana! Gunungnya kita ikat di tengah!
Baiklah, sahut Datu Mabrur.
Keduanya berjalan di atas air laut dan mengikatkan gunung itu di tengah galah.
Setelah terikat, mereka memanggulnya. Datu Pujung di depan, Datu Mabrur di belakang.
Dalam temaram cahaya bintang, tubuh keduanya membesar, seakan raksasa, hampir sebesar
gunung yang mereka panggul.
Ketika keduanya tengah berada di sebelah barat Pulau Halimun, tiba-tiba tali pengikat
gunung itu putus. Gunung itu jatuh berdebum. Melesak ke bumi. Tanah, debu, pasir, batu,
ranting, daun-daun dan pepohonan beterbangan ke udara. Sesaat, langit menjadi gelap gulita.
Datu Pujung langsung melesat menemui Datu Mabrur. Aduh, kenapa bisa begini?!
katanya dengan wajah cemberut. Kesal dan marah.
Tenanglah, datu. Kita istirahat dulu.... Datu Mabrur berusaha menyabarkan.
Engkau tunggu saja di sini! Aku akan mencari tali! Aku akan minta bantuan
siluman-siluman di Pulau Sembilan, Pulau Kerayaan dan Kerajaan Pagatan! Kita harus
menyelesaikannya malam ini juga! Tidak bisa ditunda!
Tanpa menunggu jawaban lagi, Datu Pujung melesat dengan galahnya.
Datu Mabrur tercenung. Bintang-bintang terbit dan bertaburan di langit, ditemani
bulan sabit. Ia mengamati gunung itu dari segala sudut. Dari sisi timur, barat, utara dan
selatan. Didakinya gunung itu dan dengan cermat mengukur ketinggiannya.
Saat itulah Datu Mabrur melihat: puncak gunung itu sudah tidak ada lagi. Rompal.
Robek. Bagian yang rompal itu persis di bekas tempat tali pengikat. Rupanya, ketika putus,
talinya langsung memapas puncak gunung. Kalau dilihat dari kejauhan, bentuknya seperti
jambangan bunga.
Datu Mabrur! Gunung ini tidak usah dipindahkan lagi! Kita biarkan saja di sini!
Tiba-tiba, entah lewat mana, Datu Pujung sudah ada lagi di samping Datu Mabrur.
Mengapa? Bukankah kita akan meletakkannya di sebelah selatan?
Aku sudah memandangnya dari segala sudut, dari luar Pulau Halimun! Dari pantai
Kerajaan Pagatan, Pulau Kerayaan dan Pulau Sembilan! Letak gunung ini sudah tepat,
meskipun berada di sebelah barat!
Kalau begitu, baiklah.
Jangan hanya baiklah, baiklah! Engkau setuju, tidak?! Jangan sampai terpaksa!
Kalau memang tidak setuju, bilang saja!
Aku setuju sekali. Sekarang, izinkan aku yang memberi nama gunung ini.
Pilih yang sesuai dengan bentuknya! Apa namanya?!
Gunung Jambangan.

Tentang Penyusun

M. Sulaiman Najam dilahirkan di Pulau Lontar, Kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten
Kotabaru, 1 Agustus 1935. Mantan guru Sekolah Rakyat dan Penilik Kebudayaan ini pensiun
sebagai Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat di Kandepdikbud Kabupaten Kotabaru (1991).
Setelah itu, sempat dua periode menjadi anggota DPRD Kabupaten Kotabaru (1992-1997 dan
1997-1999). Berkesenian sejak 1960-an dengan bermain musik, menulis puisi, cerpen,
menulis naskah dan sutradara drama dan menjadi pengurus sejumlah organisasi kesenian.
Anggota Orkes Keroncong Tunas Mekar Kotabaru (1954-1955), penasihat BKKNI Kotabaru
(1980-an), MPS DKD Kotabaru (1995-1998, 1998-2004) dan pembina KSI Kotabaru (2006-
sekarang). Menerima Penghargaan Seni Bupati Kotabaru (1999 dan 2004) dan Abdi Wisata
dan Budaya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kotabaru (2006).
M. Syukri Munas adalah pencipta lagu daerah Banjar yang terkenal, Halin. Dilahirkan di
Kabupaten Kotabaru, 4 Juni 1949. Sejak anak-anak menekuni seni musik, menyanyi dan
mencipta lagu, memainkan akordeon dan biola. Ia juga menulis puisi, berdeklamasi, menari
dan main teater. Pimpinan Orkes Melayu Rindang Sebatung (1964), pengurus Lesbumi
Kotabaru (1965), Sanggar Rima Sarfira (1977), BKKNI Kotabaru (1980) dan DKD Kotabaru
(1995-sekarang). Menerima Penghargaan Seni Bupati Kotabaru (1997), Penghargaan Seni
Kanwil Depdikbud Kalsel (2000) dan Hadiah Seni Gubernur Kalsel (2005). Sering diminta
sebagai juri berbagai lomba kesenian di Kabupaten Kotabaru dan di provinsi Kalimantan
Selatan.

Eko Suryadi WS dilahirkan di Kabupaten Kotabaru, 12 April 1959. Menulis puisi dan esai
sastra sejak di sekolah lanjutan, dipublikasikan di Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin,
Terbit, Pelita, Sinar Harapan dan lain-lain. Puisinya dimuat dalam antologi tunggal maupun
bersama, antara lain Sebelum Tidur Berangkat (1982), Dahaga B.Post 81 (1982), Tamu
Malam (1992), Wasi (1999), Kasidah Kota (2000), Jembatan Tiga Kota (2000), Reportase
(2004), Di Batas Laut (2005) dan Seribu Sungai Paris Barantai (2006), semuanya terbit di
Kotabaru, Banjarmasin dan Yogyakarta. Aktif di organisasi kesenian, kemasyarakatan dan
pemuda, di antaranya ketua Sanggar Bamega 88, ketua Himpunan Sastrawan Indonesia
(HIMSI) Kabupaten Kotabaru (1985), ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten
Kotabaru dua periode (1995-1998 dan 1998-2004) dan ketua Komunitas Sastra Indonesia
(KSI) Kotabaru (2006-sekarang). Sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Kotabaru
(1997-1999). Menerima Hadiah Seni Gubernur Kalsel (2006).

***

Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari, oleh, hidup dan berkembang, di masyarakat.
Ada dua jenis cerita rakyat: berbentuk puisi dan prosa. Cerita rakyat berbentuk prosa terdiri
dari mitos, dongeng dan legenda.
Buku ini memuat sembilan cerita rakyat dari Kabupaten Kotabaru, Kalimantan
Selatan. Disajikan dalam bahasa sederhana, karena memang untuk bacaan anak-anak,
remaja, guru dan orangtua.
Kotabaru adalah kabupaten yang memiliki wilayah terluas di provinsi Kalimantan
Selatan, terdiri dari 109 pulau besar-kecil (79 pulau belum berpenghuni). Kalau ditarik garis
melintang, posisinya persis berada di tengah wilayah Nusantara. Dihuni beragam suku
bangsa, dengan sendirinya banyak cerita rakyat, mitos, dongeng dan legenda yang hidup di
masyarakat.
Melalui buku ini, diharapkan warga negara Indonesia lainnya, sekurangnya di
Kalimantan Selatan, mengenal dan mengetahui cerita rakyat dari Kabupaten Kotabaru;
kabupaten yang dikenal dengan julukan Gunung Bamega dalam lagu daerah Banjar
tersohor, Paris Barantai.
RIWAYAT GUNUNG JAMBANGAN
( Dalam bahasa indonesia )

Selesai bekerja satu malam penuh, Datu mabrur beristirahat dipinggir pantai Kerajaan
Pagatan. Matahari terbit disebelah timur, menerangi lautan dan pasir pantai dimana Datu
Mabrur istirahat.
Hanya satu malam saja Datu Mabrur menyelesaikan tugasnya untuk mengantarkan empat
puluh satu batang kayu ulin ke Kerajaan Banjar.
Kemarin Patih Balit dari Kerajaan Banjar mendatangi Datu Mabrur. Path Balit
mendatangi Datu Mabrur dengan dikawal oleh beberapa prajurit dari kerajaan untuk
menyampaikan pesan dari sultan Sultan Suriansyah bahwa beliau ingin membeli batan pohon
kayu ulin.
Kata Patih Balit, Sultan berpesan bahwa beliau ingin batang kayu ulin tersebut
dikirim dalam waktu tiga hari.
Batang kayu ulin itu hendak digunakan untuk dijadikan tiang mesjid yang akan
dibangun oleh Sultan Suriansyah untuk rakyat Kerajaan Banjar yang menganut agama islam
di Muara Kuin.
Karna Sultan Suriansya percaya bahwa btang pohon kayu ulin yang sangat bagus
berasal dari Pulau halimun, Sultan berkata bahwa beliau sanggup membeli berapa saja
harganya.
Patih Balit memperlihatkan wadah yang isinya intan, berlian, jamrut, yakut, nilam
biduri dan emas murni yang dibawa oleh mereka yang akan digunakan untuk membayar.
Setelah Patih Balit memperlihatkan semua isinya Datu Mabrur hanya tersenyum. Datu
Mabrur minta supaya Patih Balit menyiman kembali harta bawaan mereka dan Datu Mabrur
menyanggupi permintaan Sultan Suriansyah. Datu Mabrur tidak meminta balasan apapun itu
dilakukannya hanya untuk persahabatan mereka.
Datu Mabrur meminta agar prajurit kembali ke Kerajaan dan menunggu batang kayu
ulin tersebut, karna beliau akan membawakan batang-batang kayu itu sendiri.
Sepulangnya para prajurit Datu Mabrur langsung beranjak pergi ke hutan untuk
mencabut batang-batang pohon kayu ulin yang dipesan oleh Sultan Suriansyah. Setelah Datu
Mabrur selesai mencabut batang pohon kayu ulin yang dipesan beliau langsung
mengantarkannya ke Kerajaan Banjar.
Berulang kali beliau membawa tiga batang batang kayu ulin, yang besarnya rata-rata
sebesar pelukan orang dewasa dan panjangnya sembilan meter, dua batang di panggul satu
batang diletakkan diatas kepala. Dengan kesaktian Datu Mabrur beliau berjalan sangat cepat
seperti angin menuju ke Kerajaan Banjar, beliau melakukan ini berulang kali hingga batang
pohon kayu ulin selesai diantar ke Kerajaan Banjar sebelum matahari terbit.
Tapi setiap perjalanan pulang dari Kerajaan Banjar datu mabrur merasa ada hal yang
tidak biasa dilihatnya. Itulah hal yang membuat Datu Mabrur merasa gelisah.
Sembari berdiri dipasir pantai Kerajaan Pagatan beliau memandangi Pulau Halimun
dari kejauhan, beliau merasa ada yang kurang dari Pulau Halimun. Diseblah utara terlihat
Gunung Sebatung yang berdiri kokoh tapi disebelah selatan tidak ada gunung yang berdiri
itulah yang menyebabkan pemandangan yang tidak nyaman.
Sekilas Datu Mabrur teringat Datu Pujung.
Datu Mabrur hendak membicarakan hal tersebut dengan Datu Pujung yang sedang
bertapa di Pulau Halimun.
Dengan kesaktian mereka berbicara jarak jauh.
Datu Mabrur bersemedi diatas ombak laut ditepian pantai. Dalam semedianya Datu Mabrur
menyampaikan hal yang ia gelisahkan saat itu dan ia meminta pendapat Datu Pujung.
Aku juga sudah lama melihatnya! Kata Datu Pujung . Dipulau Halimun ini
seharusnya ada gunung yang tinggi untuk petunju nelayan berlayar!.
Kemudian, apa yang harus kita lakukan? Datu Mabrur hendak mengeluarkan
pedapat tpi ia ragu-ragu karna yang ia tau tidak ada yang berani memeerintah Datu Pujung.
Tidak ada seorangpun yang berani menguji kesktiannya. Datu Pujung yang memiliki kulit
hitam dan berwajah jelek itu susah ditebak. Suaranya juga seperti petir dan menggelegar ia
orang nya mudah tersinggung.
Apa kamu ada usul Mabrur?!
Iya.. Datu Mabrur sangat senang tidak disangka Datu Pujung meminta pendapat
kepadanya.
Apa yang hendak kamu usulkan Mabrur?!
Bagaimana jika kita mencari satu buah gunung lagi dan meletakkannya disana?
Dimana mencarinya?! Apakah ada ?! Kemudian siapa yang mengerjakan?! Apa kita
yang mengerjakan bersama?!
Siapa lagi yang mampu dan sanggup mengerjakan selain Engkau Datu Pujung? Aku
akan menunggumu di Pulau Halimun. Menurut saya mudah saja bagi datu untuk
mendapatkan gunung berapi yang sudah mati di Jawadwipa ( Kerajaan kuno yang terletak
dipulau jawa ) Kemudian bagaimana aku mengangkutnya?
Tunggu saja aku di Pulau Halimu! Sebelum bintang pertama muncul malam ini, aku
akan sampai di sana! Kata Datu Pujung
Baiklah kalu begitu Sahut Datu Mabrur
Datu Pujung mengambil tongkat saktinya yang sangat panjang unjungnyapun sampai
mencapai awan, dengan tongkat itu Datu Pujung melompat secepat mungkin dari pulau satu
ke pulau lainnya meninggalkan Datu Mabrur tanpa berbicara sepatahpun.
Sebelum matahari menghilang Datu Mabrur kembali ke Pulau Halimun. Sekilas
sewaktu senja ia melihat bayangan Datu Pujung melintas ujung tombaknya sampai ke
angkasa menyebarkan awan menjadikannya hujan turun. Janggut dan jubahnya berkibaran.
Sebelum bintang malam muncul Datu Mabrur mendengar desir angin dan suara
ombak yang tidak seperti biasanya dipantai Pulau Halimun seperti akan ada angin topan.
Namun dugaan Datu Mabrur salah, ternyata suara tersebut adalah suara langkah Datu Pujung
yang sedang memanggul gunung!
Datu Pujung memanggul sebuah gunung yang besar dan tinggi diatas besarnya ombak
lautan. Gunung itu diikat diujung tongkatnya Datu Pujung sebenarnya sangat lelah, namun ia
tidak ingin memperlihatkannya dihadapan Datu Mabrur ia sangat berusaha untu tersenyum
dihadapannya.
Karena wajahnya jelek bukan senyum yang terlihat melainkan wajah yang aneh dan
menyeramkan.
Engkau sangat hebat! Kata Datu Mabrur sembari menyambut kedatangan Datu
Pujung. Engkau sudah menepati janji mu engkau akan kembali sebelum bintang pertma
muncul malam ini. Istirahat saja dahulu,datu.
Tapi Datu Pujung tidak perduli dengan sambutan dan pujian yang diberikan Datu
Mabrur.
Dihempaskannya tongkat saktinya dengan sembarangan membuat gunung diujung
tongkatnya jatuh berderbur ditengan lautan.
Lautan menjadi pasang akibat kejadian tersebut dan menenggelamkan pulau-pulau
kecil yang berada disekitar Pulau Halimun. Karna air yang meloncat sangat tinggi
mengakibatkan semburan di Pulau Halimun.
Tidak usah aku masih kuat kita langsung saja bekerja! Kata Datu Pujung sembari
menggerak-gerakkan otot-ototnya yang sangat pegal
Bagaimana caranya,datu?
Dengan tongkatku, kita panggul gunung ini berdua! Aku diujung sini engkau diujung
sana! Gunungnya nanti kita ikat ditengah!
Baiklah, Sahut datu mabrur.
Mereka berjalan diatas laut dan mengikat gunung itu ditengah tongkat. Sesudah
mereka ikat kemudian mereka panggul. Datu Pujung didepan, Datu Mabrur dibelakang.
Tubuh mereka terlihat besar sebesar gunung yang mereka panggul karena cahaya bintang.
Ketika mereka sudah sampai disebelah barat Pulau Halimun tanpa diduga tali
pengikat itu putus. Gunung itu jatuh kebumi membuat tanah, pasir, batu, ranting daun-daun
dan pepohonan beterbangan ke udara. Seketika langit menjadi sangat gelap.
Datu Pujung langsung lari sekencang mungkin menemui Datu Mabrur. Aduh kenapa
bisa seperti ini? Katanya dengan diikuti wajah yang tidak enak dipandang
Sabarlah datu mari kita istirahat saja dulu Datu Mabrur berusaha menenangkan
Engkau tunggu disini jangan keman-mana aku hendak mencari tali! Aku hendak
meminta bantuan makhluk-makhluk di Pulau Sembilan, Pulau Kerayaan dan Kerajaan
Pagatan! Kita harus mengerjakannya dan menyelesaikannya malam ini juga! Tidak bisa
ditunda!
Tanpa menunggu jawaban Datu Mabrur ia langsung melesat dengan tongkatnya
Datu Mabrur tercengang. Bintang-bintang muncul dan terbang dilangit, ditemani
dengan hadirnya bulan sabit. Lalu ia mengamati gunung itu dari semua titik sudut. Dan
didakinya gunung itu dengan tujuan untuk mengukur ketinggian gunung tersebut.
Saat itu juga baru ia sadari bahwa pucuk gunung tersebut sudah tidak ada lagi. Bagian
yang rompal itu tepat ditli pengikatnya, sepertinya saat talinya putus tali tersebut lagsung
memapas pucuk gunung itu. Kalau dilihat dari jauh bentuknya mirip dengan jambangan
bunga.
Datu Mabrur! Gunung ini dipindah lagi kita biarkan saja disini! Entah kapan
datangnya Datu Pujung tiba-tiba ada disamping Datu Mabrur.
Kenapa? Bukannya kita hendak meletakkan diselatan?
Aku sudah melihatinya dari segala sisi dari luar Pulau Halimun! Aku melihatnya dari
pantai Kerajaan Pagatan, Pulau Kerayaan dan Pulau Sembilan! Letak gunung ini sudah pas
meski tidak sesuai dengan rencana kita yang hendak meltakkan disebelah selatan!.
Kalau seperti itu, Baiklah.
Jangan Cuma baiklah-baiklah! Engkau setuju apa tidak?! Jangan sampai engkau
terpaksa, jika engkau tidak setuju dengan pendapat ku bilang saja tidak apa-apa!.
Aku sangat setuju. Sekarang biarkan aku yang memberi nama gunung ini.
Baiklah berilah nama yang sesuai dengan bentuk gunung ini, apa namanya?!
Gunung Jambangan.
RIWAYAT GUNUNG JAMBANGAN
( Dalam bahasa banjar )

Imbah tuntung begawian semalam, Datu Mabrur istirahat dipinggir pantai Kerajaan
Pagatan . Matahari cungul di sebelah timur, menyinari lautan dan pasir pantai yang di ulah
Datu Mambrur istirahat .
Semalaman sidin menuntung akan tugas sidin, tugasnya meantrar ampat puluh satu
batang pohon kayu ulin wadah Kerajaan Banjar.

Semalam Patih Balit dartang Kerajaan Banjar menamui sidin. Dipasani lawan Sultan
Suriansyah bahwa sidin handak menukari bilahan-bilahan kayu ulin ngitu dikirim ka
Karajaan Banjar dibarii waktu tiga hari

Bilahan-bilahan kayu besi tu handak diulah gasan tihang masjid nang handak diulah
gasan wadah ibadah urang-uarang Kerajaan Banjar yang hanyar haja masuk islam, di Muara
Kuin.

Sebabnya bilahan kayu ulin nang paling baik didunia matan Pulau Halimun, Sultan
Suriansyah hakun menukari berapa haja haraganya.

Patih Balit melihat akan wadah bawaan sidin nang isinya intan, belian, jamrut, yakut,
nilam biduri lawan amas murni nang dibawanya gasan membayar kayu tadi.

Malihat ngitu Datu Mabrur senyum haja. Sidin menyuruh pesuruh sultan tadi
manyimpani barang nang di bawanya tadi sidin handak melakukannya tapi kada handak
dibayar apa-apa sebab sidin bedua besahabat.

Datu Mabrur menyuruh buhannya bulik supaya kada lapah menungu disitu jadi Datu
Mabrur manyuruh nunggui kayu nya dirumah haja. Sidin bepadah kayunya pasti diantar sidin
sorang kena.

Imbah pesuruh sultan tadi bulikan wan jua matahari tenggalam di sebelah barat, Datu
Mabrur sorangan turun ke hutan handak mencabut pohon kayu ulin nang dipasan tadi. Imbah
tu sidin langsung mehambin bilahan kayu tadi wan meantar akan ka Karajaan Banjar.

Sidin bulang bulik membawa tiga bilah kayu ulin nang ganalnya seragapan oarang
tuha wan panjangnya sambilan meter ngitu diandaknya dibahu duabuting diatas kepala
sebuting. Lawan kesaktian sidin hancap banar membawa. Nang itu digawinya beulang-ulang
sampai ampat puluh satu bilah kayu ulin tu tuntung digawinya sebalum matahari cungul.

Tapi setiap kali bulik matan Kerajaan Banjar ada haja pemandangan nang kada
nyaman dilihat oleh mata sidin rasa ada yang kurang kada tau apa jua nang kurang itu haja
nang maulah sidin tapikir tarus.

Sambil badiri dipinggir pantai Kerajaan Pagatan sidin melihati Pulau Halimun. Matan
jauh sidin merasa ada nang kurang. Di sabalah utara utara talihat Gunung Sebatung badiri
nahap. Tapi disabalah barat kadada gunung nang tinggi banar. Jadi maulah kada baik dilihat.
Laluan Datu Mabrur taingat Datu Pujung.

Datu Mabrur handak memandir akan ngitu lawan Datu Pujung, nang lagi basamedi di
gua pertapaan sidin diPulau Halimun.

Dibantu kesaktian sidin bedua, bepandiran jarak jauh.

Duduk besila dipinggir-pinggir pantai, Datu Mabrur besemedi. Dalam semedi sidin
bepadah lawan Datu Pujung kalo sidin merasa ada nang kada nyman malihat Pulau Halimun
tadih rasa ada nang kurang. Na jadi sidin handak mainta pendapat Dau Pujung nang kaya apa
baiknya.

Aku gin sudah lawas malihat! ujar Datu Pujung Di Pulau Halimun ni kadada
gunung nang tinggi! Padahal ngitu panting ku rasa gasan patokan buhan nelayan amunnya
berlayar.

Imbah pang apa nang sebaiknya kita laku akan?. Datu Mabrur sebujurnya handak
meusul akan sesuatu tapi sidin kada yakin. Sidin tahu kadada nang wani menyuruh Datu
Pujung. Kadada jua nang wani mauji kesaktian sidin. Urang nang kulitnya hirang banar
lawan kadada bungas-bungasnya lalu. Kalonya bepandir suaranya nyaring nang kaya patir
bedaguman. Datu Pujung kada kawa salah pandir sidin penyinggungan.

Ikam ada usulkah Mabrur?

Inggih.. Datu Mabruru himung kda menyangka Datu Pujung mainta pendapat sidin.

Apa usul ikam?

Kaya apa kalonya kita mencari gunung sebuting lagi imabh tu kita andak disana

Dimana mencarinya?! Siapa jua nang hakun menggawi ?! apa kita gawi beimbaian
kah?.

Siapa pang lagi nang kawa menggawi selain pian ? Aku kena menunggu diPulau
Halimun, Bagi pian nyaman aja mencari gunung berapi yang sudah mati di jawadwipa,
habistu membawanya kaya apa?

Tunggui ja aku diPulau Halimun, kena sebelum cungul bintang malam ni aku
bebulik lagi.

Inggih ayu aja ujar Datu Mabrur

Kada banyak pandir lagi Datu Pujung langsung maambil tongkat saktinya.
Tongkatnya tu panjang banar. Ujungnya haja samapai awan. Lawan tongkatnya tadi tu Datu
Pujung langsung beloncat liwar lakas. Datang pulau ini kepulau lainnya, mulai sungai ka
laut,mulai laut ka samudra, mulai pulau satu ka pulau lainnya.

Sebalum matahari tenggalam, Datu Mabrur sudah bebulik ke Pulau Halimun.


Sekibasan cahaya matahari sanja, sidin malihat bayangan Datu Pujung mengibas datang
kejauhan. Ayunan ujung tongkatnya sampai kelangit. Mehambur awan diulah jadi hujan.
Janggut wan jubahnya terabang-terabang.

Di pantai Pulau Halimun, sebalum bintang malam cungul Datu Mabrur mendangar
ada suara yang kada biasanya. Nang kaya angin topan wan badai. Tapi kada, sekalinya suara
tu berasal datang langkah batis Datu Pujung nang datang memanggul gunung!.

Diatas ombak ganal,Datu pujung bejalan sambil memanggul gunung nang tinggi wan
ganal-ganalnya. Gunung ngitu diikat diujung tongkatnya. Sidin uyuh banar sebujurnya tapi
sidin kada mau menampak akan. Pas behadapan lawan Datu Mabrur sidin berusaha supaya
talihat senyum haja .

Sebab muhanya kada bungas nang kelihatan lainnya senyum malahan muha nang
aneh wan serem.

Pian dasar bujur hebat!ujar Datu Mabrur. Pian menepati janji kalonya pian handak
bebulik sebalum bintang pertama malam ini cungul. Isirahat haja dahulu.

Tapi Datu Pujung kada memepeduli akan ucapan wan pujian yang di padah akan oleh
Datu Mabrur.

Diandaknya haja tongkat saktinya bebarangan sampai meulah ujung gunungnya gugur
ke teangah laut.

Banyu laut pasang gara-gara gunung ngitu gugur sampai menenggelam akan pulau-
pulau halus nang ada di sekitaran Pulau Halimun. Banyu laut nang meloncat tinggi tadi
sampai menyimbur Pulau Halimun sampai nang kaya diterpa badai.

Kuat ay aku masih kada parlu istirahat! Kita behancap begawian! ujar Datu Pujung
sambil menggarak-garak akan otot leher lawan bahunya nang pegal-pegal.

Kaya apa cranya,datu?.

Lawan tongkat ku, kita panggul gunung ngini bedua! Aku ujung sini ikam ujung
sana! Gunungnnya kita ikat ditangah.

Inggih dah ujar Datu Mabrur

Bedua tadi bejalan diatas banyu wan meikat gunung ngitu ditangah tongkatnya. Imbah
sudah tuntung meikat buhannya langsung membawa. Datu Pujung dimuka Datu Mabrur
dbelakang. Sebab di sinari oleh cahaya matahari awak buhannya telihat ganal nang kaya
gunung nang dibawanya. Pas buhannya masih desebalah barat kada menyangka talinya pagat.
Gunung ngitu gugur bedabur gugut kebumi. Tanah, debu, pasir, ratik, daun-daun wan pohon
terabangan ke udara. Satumat langit jadi kadap banar.

Datu Pujung langsung bukah menamui Datu Mabrur. Aduh kenapa jadi kaya
ini?ujar sidin lawan muha merangut kada nyaman dilihat

Santai haja datu. Kita istirahat aja dahulu... Datu Mabrur berusaha menenangkan
Ikam tunggu haja disini! Aku handak mencari tali! Aku handak minta tolon siluman-
siluman di Pulau Sembilan, Pulau Kerayaan lawan Kerajaan Pagatan! Kita harus menuntung
akan mlam ni jua! Kada kawa ditunda!.

Kada mehadangi jawaban lagi Datu Pujung langsung tulak lawan tongkatnya.

Datu Mabrur tenganga malihat. Bintang-bintang cungul wan behamburan dilangit


dikawani bulan sabit. Sidin meliahati gunung ngitu datang semuaan sudut. Mulai sisi timur,
barat, utara wan selatan. Dinaikinya gunung ngitu wan jua meukur tingginya.

Pas itu hanyar Datu Mabrur malihat puncak gunung ngitu sudah kadada lagi. Rompal,
rabit. Bagian nang rabit tu pas banar lawan bagian tali nang maikat tadi. Kayanya pas talinya
pagat tadi langsung memapas pucuk gunung ngitu. Kalonya dilihat datang kejauhan nang
kaya jambangan bunga.

Datu Mabrur! Gunung ngini kada usah dipindah lagi! Kita biar akan haja disini!
kada tahu lewat mana tadi tu Datu Pujung tiba-tiba ja langsung ada dihiga sidin.

Kenapa? Mka kita handak meandak disebelah selatan?

Aku sudah melihati mulai dari segala sudut, mulai luar Pulau Halimun!
Datang pantai Kerajaan Pagatan, Pulau Kerayaan wan Pulau Sembilan! Keandakan gunung
ngisi sudah pas, biar inya di sebelah barat!.

Kalonya kaya itu inggih dah

Jangan cuma inggihdah-inggihdah! Ikam setuju kada?! Jangan sampai tepaksa


kalonya kada setuju bepadah haja!

Aku setuju banar, nah mun nya aku nang membari ngaran gunung ngini boleh lah?

Inggih boleh haja pilih nang sesuai lawan bentuknya! Apa ngarannya?

Gunung Jambangan