Anda di halaman 1dari 13

1.

Latar belakang
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Kata wacana
adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan
lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa
tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada yang
mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada juga yang
mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan
mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya.
Pembahasan wacana berkaitan erat dengan pembahasan keterampilan berbahasa terutama
keterampilan berbahasa yang bersifat produktif, yaitu berbicara dan menulis. Baik wacana
maupun keterampilan berbahasa, sama-sama menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.

Wacana berkaitan dengan unsur intralinguistik (internal bahasa) dan unsur ekstralinguistik yang
berkaitan dengan proses komunikasi seperti interaksi sosial (konversasi dan pertukaran) dan
pengembangan tema (monolog dan paragraf). Realitas wacana dalam hal ini adalah eksistensi
wacana yang berupa verbal dan nonverbal. Rangkaian kebahasaan verbal atau language exist
(kehadiran kebahasaan) dengan kelengkapan struktur bahasa, mengacu pada struktur apa adanya;
nonverbal atau language likes mengacu pada wacana sebagai rangkaian nonbahasa (rangkaian
isyarat atau tanda-tanda yang bermakna).

Wujud wacana sebagai media komunikasi berupa rangkaian ujaran lisan dan tulis. Sebagai media
komunikasi wacana lisan, wujudnya dapat berupa sebuah percakapan atau dialog lengkap dan
penggalan percakapan. Wacana dengan media komunikasi tulis dapat berwujud sebuah teks,
sebuah alinea, dan sebuah wacana.

Berdasarkan uraian di atas, betapa pentingnya apa itu wacana dan memahaminya supaya tidak
terjadinya kesalah pahaman dalam pengertian wacana, maka dari itu kami menbahas topik
wacana.
1. Rumusan Masalah
Untuk menghindari adanya kesimpangsiuran dalam makalah ini, maka kami membatasi masalah-
masalah yang akan dibahas diantaranya:

1. Untuk mengetahui pengertian wacana?


2. Kedudukan Wacana?
3. Macam macam Wacana?

1. Pengertian Wacana
Istilah Wacana secara etimologi, wacana berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, artinya
berkata, berucap (Douglas, 1976:266). Bila dilihat dari jenisnya, maka kata wacdalam
lingkup morfologi bahasa Sansekerta, termasuk kata kerja golongan IIIparasmaepada(m) yang
bersifat aktif, yaitu melakukan tindakan ujaran. Kata tersebut kemudian mengalami perubahan
menjadi wacana. Bentuk ana yang muncul dibelakang adalah sufiks (akhiran), yang bermakna
membedakan (nominalisasi). Jadi kata wacanadapat diartikan sebagai perkataan atau
tuturan.
Dalam Kamus Bahasa Jawa Kuno-Indonesia karangan Wojowasito (1989:651), terdapat
katawaca yang berarti baca, kata u/amaca yang artinya
membaca, pamacan (pembacaan),ang/mawacana (berkata), wacaka (mengucapkan),
dan wacana yang artinya perkataan. Kata yang disebut terakhir digunakan dalam konteks
kalimat bahasa Jawa Kuno berikut:Nahan wuwus sang tapa sama madhura wacana
dhara (Demikian sabda sang pandita, ramah sikap dan perkataananya).
Kata wacana secara umum mengacu pada artikel, percakapan, atau dialog, karangan, pernyataan.
Jika kita membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia maka wacana adalah bahan bacaan,
percakapan atau tuturan. Kata wacana digunakan sebagai istilah yang merupakan padangan dari
istilah discourse dalam bahasa Inggris.
Wacana, Discourse, Discursus
Oleh para ahli linguis Indonesia dan negara-negara berbahasa Melayu lainya, istilah wacana
sebagai mana diuraikan diatas, dikenalkan dan digunakan sebagai bentuk terjemahan dari istilah
bahas Inggris discourse (Dede Oetomo, 1993:3). Kata discourse sendiri berasal dari bahasa
Latin discursus yang berarti lari ke sana kemari, lari bolak-balik. Kata ini dituturkan
dari dis (dari/dalam arah yang berbeda) dan currere (lari). Jadi discursus berarti lari dari arah
yang berbeda. Perkembangan asal usul kata itu dapat digambarkan sebagai berikut.
Dis + curere discursus discourse (wacana)
Webster (1983:522) memperluas makna discourse sebagai berikut: (1) Komunikasi kata-kata, (2)
ekspresi gagasan-gagasan, (3) risalah tulis, ceramah dan sebagainya. Penjelasan itu
mengisyaratkan bahwa discourse berkaitan dengan kata, kalimat, atau ungkapan komunikatif,
baik secara lisan maupun tulisan.
Unsur pembeda antara bentuk wacana dengan bentuk bukan wacana adalah pada ada
tindakanya kesatuan makna (organisasi semantis) yang dimilikinya. Oleh karenanya, kriteria
yang relatif paling menentukan dalam wacana adalah keutuhan maknanya. Ketika seseorang di
suatu warung makan mengatakan:

1. Soto, es jeruk, dua.


Ucapan itu dapat dimaknai sebagai wacana karena mengandung keutuhan makna yang lengkap.
Keutuhan itu tersirat dalam hal-hal berikut: 1) urutan kata ditata secara teratur, 2) makna dan
amanatnya berkesinambungan, 3) diucapkan ditempat yang sesuai (kontekstual), dan 4) antara
penyapa dan pesapa saling dapat memahami makna tuturan singkat tersebut (mutual
intelligibility).
Selanjutnya, mari kita perhatikan kalimat-kalimat berikut ini.

2. Jaman sekarang disebut sebagai jaman modern. Sekarang ini banyak orang bingung tidak
tahu jalan. Kendaraan di jalan tol sangat padat.
Makna dan amanat setiap kalimat pada bentuk (2) di atas sangat jelas dan mudah dipahami.
Bahkan, terdapat alat kohesi (repetisi) antar kalimat. Misalnya jaman sekarang sekarang ini,
tidak tahu jalan jalan tol. Akan tetapi bentuk tersebut bukan wacana. Hal itu disebabkan,
secara keseluruhan bentuk tadi tidak memiliki hubungan makna antar kalimat. Tiap-tiap kalimat
berdiri sendiri. Artinya, makna kalimat tersebut satu sama lain terputus. Bentuk tersebut sama
sekali tidak komunikatif, sehingga sulit dimengerti kaitan makna antar kalimat yang satu dengan
kalimat lainnya.
Contoh tersebut kiranya menjelaskan apa yang dikatan para ahli bahasa tentang wacana. Anton
M. Moeliono (1988:334), mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan,
yang menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya dalam kesatuan makna. Disamping itu,
wacana juga berarti satuan bahasa terlengkap, yang dalam hirarki kebahasaan merupakan satuan
gramatikal tertinggi dan terbesar.

Menurut Harimurti Kridalaksana (1985:184), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam
hirarki gramatikal, merupakan satuan gramatikal atau satuan bahas tertinggi dan terbesar.
Wacana ini direalisasikan dalam bentuk kata, karangan utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan
sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap. Adapun Samsuri
(1988:1) memandang wacana dari segi komunikasi. Menurutnya dalam sebuah wacana, terdapat
konteks wacana, topik, kohesi dan koherensi. Kohesi adalah adanya keterkaitan antar kalimat.
Sedangkan Koherensi adalah adanya keterkaitan antar ide-ide atau gagaan-gagasan kalimat.

HG Tarigan (1987:27) mengemukakan wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih
tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan
akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis. Jadi, suatu
kalimat atau rangkaian kalimat, misalnya, dapat disebut sebagai wacana atau bukan wacana
tergantung pada keutuhan unsur-unsur makna dan konteks yang melingkupinya.

Jadi, wacana adalah susunan ujaran yang merupakan satuan bahasa terlengkap dan tertinggi,
saling berkaitan dengan koherensi dan kohesi berkesinambungan membentuk satu kesatuan
untuk tujuan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Kedudukan Wacana Dalam Satuan Kebahasaan


Dalam satuan kebahasaan atau hirarki kebahasaan, kedudukan wacana berada pada posisi paling
besar dan paling tinggi (Harimurti Kridalaksana, 1984:334). Hal ini disebabkan wacana
sebagai satuan gramatikal dan sekaligus objek kajian linguistik mengandung semua unsur
kebahasaan yang diperlukan dalam segala bentuk komunikasi.

Tiap kajian wacana akan selalu mengaitkan unsur-unsur satuan kebahasaan yang ada
dibawahnya, seperti fonem, morfem, frasa, klausa, atau kalimat disamping itu, kajian wacana
juga menganalisis makna dan konteks pemakaiannya. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan
bagan dibawah ini.

Bagan Kedudukan Wacana Dalam Satuan Kebahasaan


Bagan di atas menujukan bahwa semakin ke atas, satuan kebahasaan akan semakin besar
(melebar). Artinya, satuan kebahasaan yang ada di bawah akan mencakup dan menjadi bagian
dari satuan bahasa yang berada di atasnya. Demikian seterusnya, hingga mencapai unit wacana
sebagai satuan kebahasaan yang paling besar.

2. Ragam Wacana
Pengelompokan wacana bergantung pada sudut pandang yang digunakan. Dilihat dari jumlah
peserta yang terlibat dalam komunikasi dikenal ada wacana monolog, dialog dan poligon.
Sedangkan dilihat dari tujuan komunikasi, ada wacana deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi
dan narasi. Sedangkan dari bentuk saluran yang digunakan, dikenal wacana lisan dan tulisan.
Berikut, penjelasan mengenai jenis-jenis atau ragam wacana yang telah disebutkan tadi.

1. Jenis wacana dilihat berdasarkan jumlah peserta


Dalam wacana ini yang terlibat pembicaraan dalam berkomunikasi. Ada tiga jenis wacana
berdasarkan wacana jumlah peserta yang ikut ambil bagian sebagai pembicaraan, yaitu monolog,
dialog, dan polilog.

Wacana Monolog
Pada wacana monolog, pendengar tidak memberikan tanggapan secara langsung atas ucapan
pembicara. Pembicara mempunyai kebebasan untuk menggunakan waktunya, tanpa diselingi
oleh mitra tuturnya. Contoh dari wacana monolog adalah ceramah, pidato.

Wacana Dialog
Kemudian, apabila peserta dalam komunikasi itu ada dua orang dan terjadi pergantian peran (dari
pembicaraan menjadi pendengar atau sebaliknya), wacana yang dibentuknya disebut dialog.
Contoh dari wacana dialog, adalah antara dua orang yang sedang mengadakan perbincangan di
sekolah. Situasinya bisa resmi dan tidak resmi.

Wacana Polilog
Adapun apabila peserta dalam komunikasi itu lebih dari dua orang dan terjadi pergantian peran,
wacana yang dihasilkan disebut polilog. Contohnya adalah perbincangan antara beberapa orang
dan mereka memiliki peran pembicaraan dan pendengar. Situasinya pun bisa resmi dan tidak
resmi.

1. Jenis wacana ditinjau dari tujuan berkomunikasi


Wacana berdasarkan tujuan berkomunikasi, diantaranya wacana argumentasi, persuasi, eksposisi,
deskripsi, dan narasi. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan kelima wacana tersebut.

Wacana Argumentasi
Karangan argumentasi merupakan salah satu bentuk wacana yang berusaha mempengaruhi
pembaca atau pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan
pada pertimbangan logis dan emosional (Rottenberg, 1988:9). Argumentasi adalah semacam
bentuk wacana yang berusaha membuktikan suatu kebenaran. Lebih jauh sebuah argumentasi
berusaha mempengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk menerima suatu
kebenaran dengan mengajukan bukti-bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu. (Gorys
Keraf, 1995:10) dilihat dari sudut proses berfikir adalah suatu tindakan untuk membentuk
penalaran dan menurunkan kesimpulan. Contoh wacana argumentasi adalah :

Namun, yang menjadi kekawatiran adalah adanya efek negatif akibat dosis vitamin dan mineral
yang dikonsumsi secara berlebihan, terutama oleh mereka yang memiliki kondisi tubuh yang
sehat. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa multivitamin tidak terbukti dapat mencegah
timbulnya suatu penyakit dan suplemen vitamin juga tiadak bisa memperbaiki gizi yang buruk
akibat pola makan yang sembarangan. Bahkan meminum jenis vitamin dan mineral dalam dosis
tinggi dalam jangka waktu panjang bisa memicu resiko timbulnya penyakit tertentu. (Readers
Digest Indonesia, Oktober 2004).
Wacana Eksposisi
Wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (pembaca) agar
bersangkutan memahaminya. Eksposisi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan
suatu objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Wacana ini digunakan
untuk menjelaskan wujud dan hakikat suatu objek, misalnya menjelaskan pengertian
kebudayaan, komunikasi, perkebangan teknologi, pertumbuhan ekonomi kepada pembaca.

Wacana ini juga menyajikan penjelasan yang akurat dan padu mengenai topik-topik yang rumit,
seperti struktur negara atau pemerintahan, teori tentang timbulnya suatu penyakit. Ia juga
digunakan untuk menjelaskan terjadinya sesuatu, beroprasinya sebuah alat dan sebagainya.
Contoh wacana eksposisi:

Agar diperoleh hasil maksimal, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Sebelum melakukan pemutihan gigi, pasien perlu terlebih dahulu didiagnosis kondisi giginya,
seperti enamel gigi harus bagus karena proses pemutihan berlangsung pada enamel gigi.
2. Selain itu juga diperhatikan apakah gigi tersebut masih aktif atau tidak.
3. Setelah melakukan pembersihan gigi, baru dokter akan mengarahkan untuk memilih produk
yang sesuai untuk dipakai (Tampilkan Gigi Putih Berseri, Majalah Dewi No.5/XIII).
Wacana Persuasi
Wacana persuasi adalah wacana yang bertujuan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan
perbuatan sesuai yang diharapkan penuturnya. Untuk mempengaruhi pembacanya, biasanya
digunakan segala daya upaya yang membuat mitra tutur terpengaruh. Untuk mencapai tujuan
tersebut, wacana persuasi kadang menggunakan alasan yang tidak rasional. Persuasi
sesungguhnya merupakan penyimpangan dari argumentasi, dan khusus berusaha mempengaruhi
orang lain atau para pembaca. Agar pendengar atau pembaca melakukan sesuatu bagi orang yang
mengadakan persuasi, walaupun yang dipersuasi sebenarnya tidak terlalu percaya akan apa yang
dikatakannya itu. Persuasi lebih mengutamakan untuk menggunakan atau memanfaatkan aspek-
aspek pesikologis untuk mempengaruhi orang lain. Jenis wacana persuasi yang paling sering kita
temui adalah kampanye dan iklan. Contoh wacana iklan sebagai berikut.

pakai Daia, lupakan yang lain. Dengan harga yang semurah ini, membersihkan tumpukan
pakaian kotor Anda, menjadi lebih bersih cemerlang.

Wacana Deskripsi
Wacana deskripsi adalah bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal
sedemikian rupa sehingga objek itu, sepertinya dapat dilihat, dibayangkan oleh pembaca, seakan-
akan pembaca dapar melihat sendiri. Deskripsi memiliki fungsi membuat para pembacanya
seolah melihat barang-barang atau objeknya. Sebuah diskripsi mengenai rumah diharapkan
menyajikan banyak penampilan individu dan karakteristik dari rumah itu, dan beberapa aspek
yang dapat dianalisis, seperti besarnya, materi konstruksinya, dan rancangan arsitekturnya.

Secara singkat deskripsi bertujuan membuat para pembaca menyadari apa yang diserap penulis
melalui panca indranya, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkan,
menyajikan suatu kualitas pengalaman langsung. Objek yang dideskripsikan mungkin sesuatu
yang bisa ditangkap dengan panca indra kita, sebuah hamparan sawah yang hijau dan
pemandangan yang indah, jalan-jalan kota, tikus-tikus selokan, wajah seorang yang cantik molek
atau seseorang yang bersedih hati, alunan musik atau gelegar guntur dan sebagainya. Contoh:

Pada jeram pertama perahu besar berbalik arah, lalu memasuki jeram ketiga dengan bagian
buritan terlebih dahulu, sampai akhirnya brak! Perahu menghantam batu besar seukuran 4 x 3
meter, dan menempel pada batu dalam keadaan miring. (Jeram Maut, Readers Digest
IndonesiaOktober 2004).
Wacana Narasi
Wacana narasi merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. Pada wacana narasi terdapat
unsur-unsur cerita yang penting, seperti waktu, pelaku, peristiwa. Adanya aspek emosi yang
dirasakan oleh pembaca atau penerima. Melalui narasi, pembaca atau penerima pesan dapat
membentuk citra atau imajinasi. Contoh wacana narasi:

Sewaktu aku duduk di ruang pengadilan yang penuh sesak itu, menunggu perkaraku disidangkan,
dalam hatiku bertanya-tanya berapa banyak orang-orang hari ini di sini yang merasa, seperti apa
yang kurasakan bingung, patah hati, dan sangat kesepian. Aku merasa seolah-olah aku memikul
beban berat seluruh dunia di pundaku.

1. Jenis wacana dilihat dari bentuk saluran yang digunakan


Saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, bisa dibedakan menjadi wacana lisan dan wacana
tulisan. Wacana tulisan adalah rangkaian kalimat yang ditranskripkan dari rekaman bahasa lisan.
Adapun wacana tulis adalah teks yang berupa rangkaian kalimat yang menggunakan ragam tulis.
Adapun contoh wacana lisan, misalnya percakapan, khotbah (spontan), dan siaran langsung di
radio atau TV. Sedangkan wacana tulis dapat kita temukan dalam bentuk buku, berita koran,
artikel, makalah.

1. ALAT-ALAT PEMBENTUK WACANA


Alat-alat pembentuk wacana merupakan unsur-unsur yang membangun atau membentuk wacana.
Alat-alat pembentuk wacana itu juga disebut elemen-elemen wacana. Perhatikan contoh wacana
berikut.

Cara Mudah Melawan Sters


1. Kalau pikiran sedang jenuh, cobalah berjalan-jalan di taman. Jika anda suka, berkebunlah.
Hasil penelitian menunjukan bahwa bercengkraman dengan bunga-bunga dan tanaman akan
mampu meredam stres, rasa cemas, dan kegelisahan, serta membangkitkan rasa bahagia.
2. Tidur, merupakan kesempatan terbaik bagi otak dan tubuh untuk beristirahat. Pastikan anda
cukup tidur malam, apabila tidak bisa coba penuhi dengan tidur siang atau sekedar beristirahat
di meja kerja anda. Tutup pintu, matikan lampu, dan pejamkan mata, bayangkan anda berada
di tempat yang tenang, damai, dan indah.
3. Setelah itu hadapi setres dengan belajar dan belajar. Mungkin saat sekolah kita sering merasa
pusing belajar, tetapi ternyata jika Anda sudah bekerja, kegiatan belajar bisa jadi pelarian
yang menyenangkan. Menurut American Jurnal of Health Promotion, mengambil kursus-
kursus selain memperluas wawasan berfikir juga meningkatkan kesehatan jiwa.
4. Dari pada mengeluh, lebih baik Anda melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Mereka yang
percaya pada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan manusia, biasanya mampu melewati
badai dalam hidupnya dengan lebih baik (diambil dari Majalah Fit9/VII/September 2003).
Elemen-elemen yang terdapat dalam teks wacana contoh diatas, elemen yang pertama adalah
judul teks. Elemen kedua adalah tubuh teks. Tubuh teks terdiri dari 4 elemen, yaitu paragraf 1,
paragraf 2, paragraf 3, dan paragraf 4.
Adapun persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi atau dalam wacana itu sudah
terbina yang di sebut adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana
tersebut. Bila wacana itu kohesif, akan terciptalah kekoherensian yaitu isi wacana yang apik dan
benar.

Kekohensifan wacana itu dilakukan dengan mengulang kata pembaruan pada kalimat (1) dengan
kata pembaruan pada kalimat (2); serta mengulang frase perubahan jiwa pada kalimat (2)
perubahan kalimat (3). Adanya pengulangan unsur yang sama itu menyebabkan wacana itu
menjadi koherens dan apik. Namun, pengulangan-pengulangan seperti di atas yang tampak
kohesif, belum tentu menjamin terciptanya kekoherensian. Jadi syarat terbentunya wacana
apabila adanya kohesif dan koherensi.

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif
antara lain.

1. Konjungsi, yakni alat untuk menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat atau


menghubungkan paragraf dengan paragraf. Dengan penggunaan konjungsi ini, hubungan itu
menjadi lebih eksplisit, dan akan menjadi lebih jelas bila dibandingkan dengan hubungan yang
tanpa konjungsi. Contohnya: Raja sakit. Permaisuri meninggal.
Pada contoh diatas, hubungan antar kalimat pertama dengan kalimat kedua itu tidak jelas: apakah
hubungan penambahan, apakah hubungan sebab dan akibat, atau hubungan kewaktuan.
Hubungan menjadi jelas, misal diberi konjungsi, dan menjadi kalimat sebagai berikut:

1. Raja sakit dan permaisuri meninggal.


2. Raja sakit karena permaisuri meninggal.
3. Raja sakit ketika permaisuri meninggal.
4. Raja sakit sebelum permaisuri meninggal.
5. Raja sakit. Oleh karena itu, permaisuri meninggal.
6. Raja sakit, sedangkan permaisuri meninggal
7. Mengunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforsis. Dengan
menggunakan kata ganti sebagai rujukan anaforsis, maka bagian kalimat yang sama tidak
perlu di ulang, melainkan diganti dengan kata ganti itu. Maka oleh karena itu juga, kalimat-
kalimat tersebut saling berhubungan.
8. Mengunakan ellipsis, yaitu penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat
yang lain. Dengan ellipsis, karena tidak di ulangnya bagian yang sama, maka wacana itu
tampak menjadi lebih efektif, dan penghilangan itu sendiri menjadi alat penghubung kalimat
di dalam wacana itu.
Selain dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koherens dapat juga dibuat
dengan baebagai aspek semantik. Caranya, antara lain:
1. Menggunakan hubungan pertentangan pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam
wacana. Misalnya:
2. Kemarin hujan turun lebat sekali. Hari ini cerahnya bukan main.
3. Saya datang anda pergi. Saya hadir, anda absen. Maka, mana mungkin kita bisa berbicara.
4. Menggunakan hubungan generik spesifik; atau sebaliknya spesifik generik. Misalnya:
5. Pemerintah berusaha menyediakan kendaraan umum sebanyak-banyaknya dan akan berupaya
mengurangi mobil-mobil pribadi.
6. Kuda itu jangan kau pacu terus. Binatang juga perlu istirahat.
7. Menggunakan hubungan perbandingan antara isi kedua bagian kalimat; atau isi antara dua
buah kalimat dalam satu wacana. Misalnya:
8. Dengan cepat di sambarnya tas wanita pejalan kaki itu. Bagai elang menyambar anak ayam.
9. Lahap benar makanannya. Seperti orang yang sudah satu minggu tidak ketemu nasi.
10. Menggunakan hubungan sebab-akibat di antara kedua bagian kalimat; atau isi antara dua buah
kalimat dalam satu wacana. Misalnya:
11. Dia malas, dan sering kali bolos sekolah. Wajarlah kalau tidak naik kelas.
12. Pada pagi hari bus selalu penuh sesak. Bernafas pun susah di dalam bus itu.
13. Menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana. Misalnya:
14. Semua anaknya disekolahkan. Agar kelak tidak seperti dirinya.
15. Banyak jembatan layang di bangun di Jakarta. Supaya kemacetan lalu lintas teratasi.
16. Menggunakan hubungan rujukan yang sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat
dalam satu wacana. Misalnya:
17. Becak sudah tidak ada lagi di Jakarta. Kendaraan roda tiga itu sering di tuduh memacetkan
lalulintas.
18. Kebakaran sering melanda Jakarta. Kalau dia datang si jago merah itu tidak kenal waktu, siang
atau pun malam.
1. ANALISIS WACANA
Seperti dikatakan Stubbs (1983:1), analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau
menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan.
Penggunaan bahasa secara alamiah adalah bahwa penggunaan bahasa, seperti dalam komunikasi
sehari-hari. Data dalam wacana dapat berupa teks, baik teks lisan, maupun teks tulis. Teks
merujuk pada bentuk rangkaian kalimat atau ujaran. Istilah kalimat digunakan dalam ragam
bahasa tulis, sedangkan ujara digunakan untuk mangacu pada kalimat dalam ragam bahasa lisan.
Dalam analisi wacana berlaku dua prinsip, yakni prinsip interpretasi lokal dan prinsip
analogi. Prinsip interpretasi lokal adalah interpretasi berdasarkan konteks, baik konteks
linguistik maupun konteks nonlinguistik. Konteks non linguistik yang erupakan koteks lokal
tidak hanya berupa tempat, tetapi juga dapat berupa waktu, ranah penggunaan wacana, dan
partisipan.
Prinsip interpretasi analogi adalah prinsip interpretasi suatu wacana berdasarkan pengalaman
terdahulu yang sama atau yang sesuai. Konteks yang diperhatikan adalah yang paling relevan
saja dengan situasi yang sedang berlangsung karena pengalaman terdahulu sudah cukup
membantu untuk memahami wacana.
Dalam analisis wacana juga terdapat istilah kohesi dan koherensi. Istilah tersebut telah dibahas
secara sekilas di awal. Kohesi mengacu pada hubungan antar bagian dalam sebuah teks yang
ditandai oleh penggunaan unsur bahasa sebagai pengikatnya. Untuk menghubungkan informasi
antar kalimat. Contoh kata yang digunakan, seperti kata selain, sebab, ini, itu,
dan. Koherensi adalah kepaduan gagasan antar bagian dalam wacana. Dalam sebuah wacana
pada tiap kalimatnya terdapat gagasan.
1. PENYUSUNAN WACANA SEDERHANA DENGAN MEMPERHATIKAN KAIDAH
BAHASA
Perhatikan contoh wacana berikut ini!

Di negara-negara maju, makanan untuk kebutuhan-kebutuhan khusus, seperti untuk diet


penurunan berat badan atau diet diabetes, sudah lazim dan bisa dengan mudah diperoleh
sehingga mereka yang tidak berdiet, tetapi sudah peduli pada kesehatannya pun bisa
memanfaatkan produk semacam ini. Mungkin sekarang ini sudah saatnya pula anda
memanfaatkan dengan cara mengkonsumsi produk sejenis. Anda ingin sehat, bukan ? (diambil
dari Majalah Fit No.9/VII/September 2003).
Dalam wacana tersebut, terdapat hubungan kohesi, misalnya terdapat kata makanan untuk
kebutuhan khusus seperti diet (kalimat 1). Pada kalimat-kalimat berikutnya juga terdapat
pengulangan-pengulangan kata tersebut, dengan mengunakan kata produk macam ini(kalimat 3)
atau produk sejenis (kalimat 4). Pada wacana ini pun terdapat hubungan koherensi, yaitu terdapat
kaitan makna atau ide antara kalimat pertama dengan kalimat-kalimat berikutnya. Kalimat (2),
merupakan penjelasan dari kalimat (1), dan kalimat (3), merupakan penjelasan dari kalimat (2).
Begitu seterusnya.
Pada wacana tersebut, juga terdapat prinsip interpretasi lokal, misalnya terdapat kata,negara-
negara maju, sekarang. Sedangkan untuk prinsip interpretasi analogi, pembaca wacana tersebut
tentunya dapat meng interpretasi isi wacana tersebut sesuai dengan pengalamannya dalam
mengetahui tentang baiknya mengonsumsi makanan berkalori rendah demi kesehatanya.
Demikianlah contoh wacana yang memiliki kohesi, koherensi, prinsip interpretasi lokal dan
prinsip interpretasi analogi didalamnya. Semoga anda dapat membuat sebuah wacana yang
memiliki kaidah-kaidah yang telah di jelaskan sebelumnya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Kata wacana
adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan
lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa
tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada yang
mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada juga yang
mengartikan sebagai pembicaraan.

Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi,
sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya. Wacana merupakan satuan bahasa di atas
tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu
dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis.

DAFTAR PUSTAKA
Anton M. Moeliono (ed). 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Douglas, Mc. 1976. Sanskrit Dictionary. New York: Columbia University.
Keraf, Gorys. 1995. Eksposisi: Komposisi Lanjutan II. Jakarta: Grasindo.
Kridaklaksana, Harimurti. 1978. Keutuhan Wacana dalam Bahasa dan Sastra th. IV No.1.
Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
-. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
-. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis
Wacana.Yogyakarta: Tiara Wacana.
Oetomo, Dede. 1993. Pelahiran dan Perkembangan Analisis Wacana, dalam PELLBA
6.Yogyakarta: Kanisius.
Rosdiana, Yusi., dkk. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Rottenberg, Annette T. 1988. Elements of Arguments: A Text and Reader. New York: A Bedford
Books ST. Martins Press
Samsuri. 1988. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Stubbs, Michael. 1983. Discourse Analysis. Chichago: The University at Chichago Press.
Tarigan, H.G. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Webster. 1983. New Tweentieth Century Dictionary. USA: The World Publishing Company.
Wojowasito. 1989. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.