Anda di halaman 1dari 13

PAJAK PENGHASILAN UMUM

Pajak Penghasilan Pasal 26

Oleh:

Kelompok 12:

Yosefa Katu Seno (1607341083 / 34)


Ida Ayu Dwita Nila Paramesti (1607341084 / 35)
Putu Bella Suandewi Putri Subrata (1607341085 / 36)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III PERPAJAKAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2017
SAP 13
PAJAK PENGHASILAN PASAL 26

1.1 Pengertian PPh Pasal 26

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia,
selain penghasilan usaha yang diperoleh melalui bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong
PPh Pasal 26. Seperti diketahui bahwa pengenaan Pajak Penghasilan menurut Undang-
Undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut dua sistem, yaitu:
1. pemenuhan sendiri kewajiban perpajakannya bagi Wajib Pajak luar negeri yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di
Indonesia; dan
2. pemotongan oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak luar negeri lainnya.

Pajak Penghasilan Pasal 26 merupakan Pajak Penghasilan yang dikenakan/dipotong


atas penghasilan yang bersumber dari Indonesia yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia yang pemenuhannya seperti disebutkan
diatas. Dasar hukum pemotongannya bersumber pada Pasal 26 Undang-Undang Pajak
Penghasilan yang diikuti dengan aturan pelaksanaannya.

SUBJEK PAJAK PPh PASAL 26

Penerima penghasilan sebagai subjek pajak yang dipotong PPh Pasal 26 yaitu orang
pribadi dengan status sebagai Subjek Pajak luar negeri yang menerima atau memperoleh
penghasilan dengan nama dalam bentuk apa pun, sepanjang tidak dikecualikan dalam
Peraturan Direktur Jenderal Pajak, dari Pemotong PPh Pasal 26 sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan baik dalam hubungannya sebagai
pegawai maupun bukan pegawai, termasuk penerima pensiun.

1
1.2 Tarif, Objek, dan Sifat Pengenaannya

Tarif dan Objek Pajak Penghasilan Pasal 26 pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu sebagai berikut.

1. Sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak luar negeri dan bersifat final atas penghasilan berupa:
a. dividen;
b. bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan
pengembalian utang;
c. royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
d. imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, atau kegiatan;
e. hadiah dan penghargaan;
f. pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
g. premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
h. keuntungan karena pembebasan utang.

2. Sebesar 20% (dua puluh persen) dari perkiraan penghasilan neto, dan bersifat final atas
penghasilan berupa:
a. penghasilan dari penjualan harta di Indonesia kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat
(2) yaitu penghasilan yang pengenaan pajaknya diatur dalam peraturan pemerintah
sebagai contoh bunga deposito dan tabungan lainnya, pengalihan harta berupa tanah
dan/atau bangunan, transaksi, saham dan sekuritas lainnya di bursa efek dan
penghasilan tertentu lainnya;
b. premi asuransi dan premi reasuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar
negeri.
Penghasilan tersebut sebagai objek PPh Pasal 26, dengan nama dan dalam bentuk apa
pun, yang dibayarkan atau terutang oleh Badan Pemerintah, subjek pajak dalam
negeri, penyelenggara kegiatan, badan usaha tetap atau perwakilan usaha luar negeri
lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri. Ketentuan ini tidak diterapkan dalam hal
Wajib Pajak luar negeri tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui

2
suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, atau apabila penghasilan dari penjualan harta
tersebut telah dikenai pajak berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (2).

3. Sebesar 20% (dua puluh persen) bersifat final dari Penghasilan Kena Pajak sesudah
dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan
kembali di Indonesia maka tidak dipotong PPh Pasal 26.

Contoh 1:

Suatu badan subjek pajak dalam negeri membayarkan royalti sebesar Rp 100.000.000.00
kepada Wajib Pajak luar negeri, maka subjek pajak dalam negeri tersebut berkewajiban
untuk memotong Pajak Penghasilan sebesar:

20% x Rp 100.000.000,00 = Rp 20.000.000,00

Contoh 2:

Seorang atlet dari luar negeri yang ikut mengambil bagian dalam perlombaan lari marathon
di Indonesia, dan kemudian merebut hadiah uang sebesar Rp 10.000.000,00, maka atas
hadiah tersebut dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan sebesar:

20% x Rp 10.000.000,00 = Rp 2.000.000,00

Contoh 3:

Pegawai dengan status Wajib Pajak luar negeri adalah orang pribadi yang tidak bertempat
tinggal di lndonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga)
hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan yang menerima atau memperoleh gaji,
honorarium dan/atau imbalan lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan.

3
Sebagai contoh Sahota adalah pegawai asing yang berada di Indonesia kurang dari 183
(seratus delapan puluh tiga) hari, status kawin mempunyai dua orang anak. Ia memperoleh
gaji pada bulan Maret 2011 sebesar US$2,500 sebulan. Kurs yang berlaku adalah Rp
8.500,00 per US$1,00

Penghitungan PPh Pasal 26:

Penghasilan bruto berupa gaji sebulan:


2,5 x Rp 8500,00 = Rp 21.250.000,00

Penerapan tarif:
20% x Rp 21.250.000,00 = Rp 4.250.000,00
PPh Pasal 26 atas gaji US$2,500 = Rp 4.250.000,00

Atas Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari bentuk usaha tetap di Indonesia
dipotong pajak sebesar 20 % (dua puluh persen). Sebagai contoh: Penghasilan Kena Pajak
bentuk usaha tetap di Indonesia dalam tahun 2011 sebesar Rp 17.500.000.000,00 Pajak
Penghasilan Terutang: 25% x Rp 17.500.000.000,00 = Rp 4.375.000.000,00.

Penghasilan Kena Pajak setelah pajak Rp 13.125.000.000,00

Pajak Penghasilan Pasal 26 yang terutang: 20% x Rp 13.125.000.000,00 = Rp


2.625.000.000,00 Namun, apabila penghasilan setelah pajak sebesar Rp 13.125.000.000,00
tersebut ditanamkan kembali di Indonesia sesuai dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan, maka atas penghasilan tersebut tidak dipotong pajak.

1.3 Pemotong Pajak

Pajak Penghasilan Pasal 26 dipotong oleh pihak yang wajib membayarkan


penghasilan tersebut, yaitu:

1. badan pemerintah;

4
2. subjek pajak dalam negeri;
3. penyelenggara kegiatan;
4. bentuk usaha tetap; atau
5. perwakilan perusahaan luar negeri lainnya yang melakukan pembayaran kepada
Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia.

Dikecualikan sebagai pemotong pajak PPh Pasal 26 atas imbalan dengan nama dan
dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh
Wajib Pajak Orang Pribadi luar negeri dan organisasi internasional.

1.4 Penyetoran dan Pelaporan Pajak

1. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 Terutang pada akhir bulan dilakukannya


pembayaran atau terutangnya penghasilan yang bersangkutan, atas penghasilan berupa:

a. penghasilan yang bersumber dari modal dalam bentuk dividen, bunga, termasuk
premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang,
royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta; imbalan
sehubungan dengan jasa, pekerjaan, atau kegiatan; hadiah dan penghargaan dengan
nama dan dalam bentuk apa pun; pensiun dan pembayaran berkala lainnya;
b. penghasilan dari penjualan harta di Indonesia;
c. premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri;

2. Pajak Penghasilan Pasal 26 yang telah dipotong harus disetorkan selambat-lambatnya


tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak;

3. Pemotong pajak PPh Pasal 26 diwajibkan untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan


Masa selambat-lambatnya 20 (dua puluh) hari setelah masa pajak berakhir.

4. Pemotong pajak PPh Pasal 26 harus memberikan tanda bukti pemotongan PPh 26 kepada
orang pribadi atau badan yang dibebani membayar Pajak Penghasilan dipotong.

5. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas penghasilan berupa Penghasilan Kena Pajak
sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia, terutang dan harus

5
dibayar lunas selambat-lambatnya tanggal 25 (dua puluh lima) bulan ketiga setelah tahun
pajak atau bagian tahun pajak berakhir, sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan
disampaikan. Namun, apabila bentuk usaha tetap tersebut meminta perpanangan jangka
waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, pemotongan Pajak Penghasilan Pasal
26 berdasarkan penghitungan sementara, terutang pajak dan harus dibayar lunas pada saat
surat permohonan perpanjangan disampaikan, akan tetapi tidak melampaui tanggal dua
puluh lima bulan ketiga setelah tahun pajak atau bagian tahun pajak berakhir.

1.5 Premi Asuransi dan Premi Reasuransi

Pembayaran premi asuransi dan premi reasuransi kepada perusahaan asuransi di luar
negeri dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 sebesar 20% (dua puluh persen)
dari Perkiraan penghasilan neto. Besarnya perkiraan penghasilan neto tersebut adalah:

1. Atas premi yang dibayar tertanggung kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik
Secara langsung maupun melalui pialang, sebesar 50% (lima puluh persen) dari
jumlah Premi yang dibayar;
2. Atas premi yang dibayar oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di lndonesia
kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui
pialang Sebesar 10% (sepuluh persen) dari jumlah premi yang dibayar;
3. Atas premi yang dibayar oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan di
lndonesia kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun
melalui pialang. Sebesar 5% (lima persen) dari jumlah premi yang dibayar.

Contoh:

1. Perusahaan penyewaan gedung kantor, PT Ananda, mengasuransikan bangunan


bertingkat langsung ke perusahaan asuransi di luar negeri dengan membayar jumlah
Premi selama tahun 2002 sebesar Rp 1 miliar. Besarnya perkiraan penghasilan nelp
Perusahaan asuransi luar negeri adalah 50% x Rp 1 miliar = Rp 500.000.000.00.
Besar PPh Pasal 26 yang harus dipotong oleh PT Ananda selama tahun 2002 adalah 20%
x Rp 500.000.000,00 = Rp 100.000.000,00 (10% x Rp l miliar).

6
2. Jika PT Ananda mengasuransikan kepada perusahaan asuransi dalam negeri; PT
Bagaswara, dengan membayar jumlah premi yang sama besar Rp 1 miliar dan kemudian
PT Bagaswara mereasuransikan sebagian polis asuransi tersebut kepada perusahaan
asuransi luar negeri dengan membayar premi sebesar Rp 500.000.000,00. maka besar
perkiraan penghasilan neto perusahaan asuransi di luar negeri adalah 10% x Rp
500.000.000,00 = Rp 50.000.000,00 dan PPh Pasal 26 yang wajib dipotong oleh PT
Bagaswara adalah 20% x Rp 50.000.000,00 = Rp 10.000.000,00 (2% x Rp
500.000.000,00).

Pembayaran premi asuransi atau premi reasuransi dapat dilakukan oleh pembayar
premi di Indonesia secara langsung kepada perusahaan asuransi di luar negeri atau melalui
pialang. Pihak pembayar premi atau pemotong pajak di Indonesia wajib melakukan
pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas premi asuransi atau premi reasuransi yang
dibayarkan kepada perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi di luar negeri. Dengan
demikian, pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 tersebut dilakukan oleh:
1. tertanggung, dalam hal dilakukan pembayaran premi oleh tertanggung kepada
perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang;
2. perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia, dalam hal dilakukan
pembayaran premi oleh perusahaan asuransi yang berkedudukan di Indonesia kepada
perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui pialang;
3. perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia, dalam hal dilakukan
pembayaran premi oleh perusahaan reasuransi yang berkedudukan di Indonesia
kepada perusahaan asuransi di luar negeri baik secara langsung maupun melalui
pialang.

Pajak Penghasilan Pasal 26 atas penghasilan berupa premi asuransi dan premi
reasuransi yang diterima/diperoleh perusahaan asuransi di luar negeri tersebut, terutang pada
akhir bulan dilakukannya pembayaran premi atau pada akhir bulan terutangnya premi
asuransi tersebut. Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 26 tersebut wajib dilakukan oleh
pemotong pajak setiap bulan selambat-lambatnya tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim
berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak dengan menggunakan Surat Setoran Pajak
(SSP) ke Bank Persepsi atau Kantor Pos.

7
Selanjutnya Pemotong Pajak wajib melaporkan pemotongan serta penyetoran Pajak
Penghasilan Pasal 26 yang telah dilakukan selambat-lambatnya tanggal 20 (dua puluh) bulan
takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak.

1.6 PPh Pasal 26 yang Tidak Bersifat Final

Pemotongan pajak atas Wajib Pajak luar negeri adalah bersifat final, namun atas
penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b dan huruf c, dan atas
penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi
Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, pemotongan pajaknya tidak bersifat final
sehingga potongan pajak tersebut dapat dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan. Sebagai contoh:
A sebagai tenaga asing orang pribadi membuat perjanjian kerja dengan PT B sebagai
wajib pajak dalam negeri untuk bekerja di Indonesia untuk jangka waktu 5 (lima)
bulan terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009. Pada tanggal 20 April 2009 perjanjian
kerja tersebut diperpanjang menjadi 8 (delapan) bulan sehingga akan berakhir pada
tanggal 31 Agustus 2009.
Apabila perjanjian kerja tersebut tidak diperpanjang maka status A adalah tetap
sebagai Wajib Pajak luar negeri. Dengan diperpanjangnya perjanjian kerja tersebut
maka status A berubah dari Wajib Pajak luar negeri menjadi Wajib Pajak dalam
negeri terhitung sejak 1 Januari sampai dengan Maret 2010 atas penghasilan bruto A
telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 26 oleh PT B.
Berdasarkan ketentuan ini, maka untuk menghitung Pajak Penghasilan yang terhutang
atas Penghasilan A untuk masa Januari sampai dengan Agustus 2010, Pajak
Penghasilan Pasal 26 yang telah dipotong dan disetor PT B atas penghasilan A
sampai dengan Maret tersebut dapat dikreditkan terhadap pajak A sebagai Wajib
Pajak dalam negeri.

Penghasilan-penghasilan tertentu dipotong Pajak Penghasilan Pasal 26 yang tidak


bersifat final, yaitu sebagai berikut:
1. pemotongan atas penghasilan sebagai berikut.

8
a. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau pemberian
jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau dilakukan oleh
bentuk usaha tetap di Indonesia.
Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau pemberian
jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau dilakukan oleh bentuk
usaha tetap di indonesia, dianggap sebagai penghasilan bentuk usaha tetap, karena
pada hakikatnya usaha atau kegiatan tersebut termasuk dalam ruang lingkup usaha
atau kegiatan dan dapat dilakukan oleh bentuk usaha tetap.
Usaha atau kegiatan yang sejenis dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap,
misalnya terjadi apabila sebuah bank di luar Indonesia yang mempunyai bentuk usaha
tetap di Indonesia, memberikan pinjaman secara langsung tanpa melalui bentuk usaha
tetapnya kepada perusahaan di Indonesia.
Penjualan barang yang sejenis dengan yang dijual oleh bentuk usaha tetap,
misalnya kantor pusat di luar negeri yang mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia
menjual produk yang sama dengan produk yang dijual oleh bentuk usaha tetap
tersebut secara langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya kepada pembeli di
Indonesia. Pemberian jasa oleh kantor pusat yang sejenis dengan jasa yang diberikan
oleh bentuk usaha tetap, misalnya kantor pusat perusahaan konsultan di luar
Indonesia yang sama dengan jenis jasa yang dilakukan oleh bentuk usaha tetapnya,
secara langsung tanpa melalui bentuk usaha tetapnya kepada klien di Indonesia.
b. Penghasilan berupa dividen; bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan
sehubungan dengan jaminan pengembalian utang; royalti, sewa, dan penghasilan lain
sehubungan dengan penggunaan harta; imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan,
dan kegiatan; hadiah dan penghargaan; pensiun dan pembayaran berkala lainnya,
yang diterima atau diperoleh kantor pusat, dengan syarat terdapat hubungan efektif
antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan
yang dimaksud.

Contoh:
Jersey Inc. menutup perjanjian lisensi dengan PT Yamato untuk mempergunakan
merek dagang Jersey Inc. Atas penggunaan hak tersebut Jersey Inc. menerima imbalan

9
berupa royalti dari PT Yamato. Sehubungan dengan perjanjian tersebut Jersey Inc. juga
memberikan jasa manajemen kepada PT Yamato melalui suatu Bentuk Usaha Tetap di
Indonesia, dalam rangka pemasaran produk PT Yamato yang mempergunakan merek
dagang tersebut. Dalam hal demikian, penggunaan merek dagang oleh PT Yamato
mempunyai hubungan efektif dengan bentuk usaha tetap di Indonesia, dan oleh karena itu
penghasilan Jersey Inc. yang berupa royalti tersebut diperlakukan sebagai penghasilan
bentuk usaha tetap. Penghasilan tersebut pada huruf a dan huruf b, digabungkan dengan
penghasilan lainnya dari bentuk usaha tetap untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak
sebagai dasar penghitungan pajak yang terutang dalam Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak.
Penghasilan sedangkan Pajak Penghasilan Pasal 26 yang dipotong atas
penghasilan tersebut tidak bersifat final dan dapat dijadikan sebagai kredit pajak bagi
bentuk usaha tetap tersebut dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.

2. Pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan luar
negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.
Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas penghasilan yang diterima atau diperoleh
orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam
negeri atau bentuk usaha tetap, tidak bersifat final sehingga potongan pajak tersebut dapat
dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.

Contoh:
John sebagai tenaga kerja asing membuat perjanjian kerja dengan PT Bahana
sebagai Wajib Pajak Dalam Negeri untuk bekerja di Indonesia untuk jangka waktu 5
(lima) bulan terhitung mulai tanggal 1 Januari 1999. Pada tanggal 20 April 1999
perjanjian kerja tersebut diperpanjang menjadi 8 (delapan) bulan sehingga akan berakhir
pada tanggal 31 Agustus 1999. Jika perjanjian kerja tersebut tidak diperpanjang maka
status John adalah tetap sebagai Wajib Pajak luar negeri. Dengan diperpanjangnya
perjanjian kerjc'i tersebut maka status John berubah dari Wajib Pajak luar negeri menjadi
Wajib Pajak dalam negeri terhitung sejak tanggal 1 Januari 1999. Selama bulan Januari
sampai dengan Maret 1999 atas penghasilan bruto John telah dipotong Pajak Penghasilan

10
Pasal 26 oleh PT Bahana. Berdasarkan ketentuan ini, maka untuk menghitung Pajak
Penghasilan yang terutang atas penghasilan John untuk masa Januari sampai dengan
Agustus 1999, Pajak Penghasilan Pasal 26 yang telah dipotong dan disetor oleh PT
Bahana atas penghasilan John sampai dengan Maret tersebut, dapat dikreditkan terhadap
pajak John sebagai Wajib Pajak dalam negeri.

11
DAFTAR PUSTAKA

Waluyo. 2011. Perpajakan Indonesia: Edisi 10 Buku 1. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

Mardiasmo. 2016. Perpajakan, Edisi Terbaru. 2016. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Direktorat Jenderal Pajak Kementrian Keuangan. 2012. Seri PPh - Pajak Penghasilan 26.

http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilan-pasal-26 (diakses tanggal 04

Desember 2017)

Puspa, Dian. 2016. Pajak Penghasilan Pasal 26 (PPh Pasal 26). https://www.online-

pajak.com/id/pph-pajak-penghasilan-pasal-26 (diakses pada tanggal 04 Desember 2017)

12