Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sehat adalah suatu keadaan yang masih termasuk dalam variasi normal dalam
standar yang diterima untuk kriteria tertentu berdasarkan jenis kelamin,
kelompok penduduk dan wilayah ( WHO, 2015). Dalam era globalisasi segala
upaya ditujukan untuk dapat meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Peningkatan kesehatan masyarakat harus dimulai dari peningkatan kesehatan
keluarga. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa perbaikan dan
peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia, maka dibutuhkan petugas
kesehatan yang memiliki keterampilan ketelitian dan kecakapan dalam merawat
klien dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dalam kesempatan
ini, penulis membahas tentang perawatan pasien dengan retensio urine,karena
pasien dengan retensio urine merupakan hal penting yang harus ditangani dan
dibutuhkan keterampilan, ketelitian serta kecakapan dalam merespon keluhan-
keluhan yang dialami oleh pasien.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan retensi urin?
1.2.2 Apa saja jenis retensi urin?
1.2.3 Apa saja penyebab retensi urin?
1.2.4 Apa saja tanda dan gejala retensi urin?
1.2.5 Apa saja yang harus dikaji pada pasien dengan retensi urin?
1.2.6 Apa saja masalah keperawatan yang mucul pada pasien dengan retensi
urin?
1.2.7 Apa saja tidakan keperawatan yang bisa dilakukan pada pasien dengan
retensi urin?

1.3 Tujuan
1.3.1 untuk mengetahui
1.3.2 untuk mengetahui
1.3.3 untuk mengetahui
1.3.4 untuk mengetahui
1.3.5 untuk mengetahui
1.3.6 untuk mengetahui
1.3.7 untuk mengetahui

BAB 2
LAPORAN PENDAHULUAN

2.1 Pengertian
Retensi urin adalah ketidakmampuan untuk mengosongkan isi kandung kemih
sepenuhnya selama proses pengeluaran urin (Brunner & Suddarth,
2010). Retensi urin adalah suatu keadaan penumpukan urin di kandung kemih
dan tidak mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya secara sempurna.
Retensi urin adalah kesulitan miksi karena kegagalan urin dari fesika urinaria
(Arif, 2001). Retensi urin adalah tertahannya urin di dalam kandung kemih,
dapat terjadi secara akut maupun kronis (Depkes RI, 2008).

2.2 Klasifikasi
Retensi urin dapat terjadi secara akut, yaitu : penderita secara tiba-tiba tidak
dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik
dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan, seringkali urin belum
menetes atau sedikit-sedikit; dapat pula terjadi secara kronis, yaitu penderita
secara perlahan-lahan dan dalam waktu yang lama tidak dapat miksi,
merasakan nyeri di daerah suprapubik hanya sedikit/tidak ada sama sekali
walaupun buli-buli penuh. Retensi urin dapat terjadi sebagian, yaitu penderita
masih bisa mengeluarkan urin, tetapi terdapat sisa kencing yang cukup banyak
di kandung kemih ; pada retensi urin total, penderita sama sekali tidak dapat
mengeluarkan urin (Arif, 2007).

2.3 Etiologi
Penyebab dari retensi urine antara lain diabetes, pembesaran kelenjar prostat,
kelainan uretra ( tumor, infeksi, kalkulus), trauma, melahirkan atau gangguan
persyarafan ( stroke, cidera tulang belakang, multiple sklerosis dan parkinson).
Beberapa pengobatan dapat menyebabkan retensi urine baik dengan
menghambat kontraksi kandung kemih atau peningkatan resistensi kandung
kemih. (Karch, 2008). Penyebab lain dari retesi urin adalah :
2.3.1 Kelemahan otot detrusor :
2.3.1.1 Kelainan medulla spinalis.
2.3.1.2 Kelainan saraf perifer.
2.3.2 Hambatan / obstruksi uretra :
2.3.2.1 Batu uretra.
2.3.2.2 Klep uretra.
2.3.2.3 Striktura uretra.
2.3.2.4 Stenosis meatus uretra.
2.3.2.5 Tumor uretra.
2.3.2.6 Fimosis.
2.3.2.7 Parafimosis.
2.3.2.8 Gumpalan darah.
2.3.2.9 Hiperplasia prostat.
2.3.2.10 Karsinoma prostat.
2.3.2.11 Sklerosis leher buli-buli.
2.3.3 Inkoordinasi antara Detrusor-Uretra :
2.3.3.1 Cedera kauda ekuina.
Menurut lokasi, penyebab retensi urin :
a. Supravesikal :
Kerusakan terjadi pada pusat miksi di Medula Spinalis setinggi Th12-L1;
kerusakan saraf simpatis dan parasimpatis, baik sebagian atau seluruhnya.
b. Vesikal :
Berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang, atoni pada pasien
DM atau penyakit neurologis.
c. Infravesikal (distal kandung kemih) :
Berupa pembesaran prostat (kanker, prostatitis), tumor pada leher vesika,
fimosis, stenosis meatus uretra, tumor penis, striktur uretra, trauma uretra,
batu uretra, sklerosis leher kandung kemih (bladder neck sclerosis).
Pada retensi urin kronik, disebabkan oleh: obstruksi uretra yang semakin
berat, sehingga kandung kemih mengalami dilatasi. Pada keadaan ini, urin
keluar terus menerus karena kapasitas kandung kemih terlampaui.
Penderita tidak mampu berkemih lagi, tetapi urin keluar terus tanpa kendali

2.4 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala dari retensi urin meliputi:
2.4.1 Rasa tidak nyaman hingga rasa nyeri yang hebat pada perut bagian bawah
hingga daerah genital.
2.4.2 Tumor pada perut bagian bawah.
2.4.3 Tidak dapat kencing.
2.4.4 Kadang-kadang urin keluar sedikit-sedikit, sering, tanpa disadari, tanpa
bisa ditahan (inkontinensi paradoksa).
Pada retensi urin akut, penderita akan merasa nyeri yang hebat di daerah
suprapubik, dan bila penderita tidak terlalu gemuk, akan terlihat/teraba
benjolan di daerah suprapubik. Pada retensi urin totalis, penderita sama sekali
tidak bisa miksi, gelisah, mengedan bila ingin miksi, dan terjadi inkontinensia
paradoksal. Pada anamnesa, pasien akan mengeluh sulit buang air kecil. Pada
inspeksi, palpasi dan perkusi, akan didapatkan buli-buli yang mengembang.
Pada perkusi akan terdengar pekak, yang menentukan adanya buli-buli yang
penuh pada penderita yang gemuk (Uliyah & Hidayat, 2006).

2.5 Anatomi Fisiologi


Alat-alat kemih terdiri dari : ginjal, pelvis renalis (pielum), ureter, buli-buli
(vesika urinaria), dan uretra. Dinding alat-alat saluran kemih mempunyai
lapisan otot yang mampu menghasilkan gerakan peristaltik. Gambaran anatomi
saluran kemih sebagai berikut :

2.2.1 Ginjal
Ginjal menghasilkan air seni dengan membuang air dan berbagai bahan
metabolik yang berbahaya yang mayoritas dihasilkan oleh alat-alat lain.
2.2.2 Pelvis Renalis (Pielum)
Mengumpulkan air seni yang datang dari apeks papilla. Mengecil menjadi
ureter yang dilalui air seni dalam porsi-porsi kecil sampai ke dalam
kandung kemih. Kapasitas rata-rata 3-8 ml. Air seni mula-mula terkumpul
di kaliks, saat sfingter kaliks berkontraksi. Kemudian, otot-otot dinding
kaliks, sfingter forniks, berkontraksi dan pada waktu yang bersamaan
sfingter kaliks berelaksasi. Lalu air seni terdorong ke dalam pelvis renalis.
Air seni dibuang dengan cepat oleh penutupan bergantian dari sfingter
pelvis dan kaliks.
2.2.3 Ureter
Berbentuk seperti pipa yang sedikit memipih, berdiameter 4-7 mm.
Panjang bervariasi + 30 cm pada laki-laki dan + 1 cm lebih pendek dari
wanita. Kedua ureter menembus dinding kandung kemih pada fundusnya,
terpisah dalam jarak antara 4-5 cm, miring dari arah lateral, dari belakang
atas ke medial depan bawah.
Ureter berjalan sepanjang 2 cm di dalam kandung kemih dan berakhir pada
suatu celah sempit (ostium ureter).

2.2.4 Kandung kemih (Buli-buli)


Pada dasar buli-buli, kedua muara ureter dan meatus uretra internum
membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli-buli. Buli-buli
berfungsi menampung urin dari ureter dan kemudian mengeluarkannya
melalui uretra dalam mekanisme berkemih. Kapasitas maksimal (volume)
untuk orang dewasa + 350-450 ml; kapasitas buli-buli pada anak menurut
Koff :
Kapasitas buli-buli = [ Umur (tahun) + 2] x 30 ml
Bila buli-buli terisi penuh, verteks dan dinding atas terangkat dan
membentuk suatu bantal yang lonjong dan pipih, yang dapat meluas
sampai tepi atas simfisis pubis. Selama kontraksi otot kandung kemih,
ketika dikosongkan selama berkemih, bentuknya menjadi bulat.
2.2.5 Uretra
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin keluar dari buli-buli
melalui proses miksi. Secara anatomis, uretra dibagi menjadi 2 bagian,
yaitu : uretra posterior dan uretra anterior. Uretra diperlengkapi dengan
sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra,
serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior
dan uretra posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang
dipersarafi oleh saraf simpatik sehingga saat buli-buli penuh, sfingter
terbuka. Sfingter ani eksterna terdiri atas otot bergaris yang dipersarafi
oleh sistem somatik yang dapat diperintah sesuai keinginan seseorang;
pada saat kencing, sfingter ini terbuka dan tetap menutup pada saat
menahan kencing.
Panjang uretra wanita + 3-5 cm dengan diameter 8 mm, berada di bawah
simfisis pubis dan bermuara di sebelah anterior vagina. + 1/3 medial uretra
terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot bergaris. Tonus otot
sfingter uretra eksterna dan tonus otot Levator ani berfungsi
mempertahankan agar urin tetap berada di dalam buli-buli pada saat
perasaan ingin miksi. Miksi terjadi bila tekanan intra vesika melebihi
tekanan intrauretra akibat kontraksi otot detrusor, dan relaksasi sfingter
uretra eksterna.
Panjang uretra pria dewasa + 23-25 cm. Uretra posterior pria terdiri atas
uretra pars prostatika yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar
prostat, dan uretra pars membranasea. Uretra anterior adalah bagian uretra
yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis; uretra anterior terdiri atas:

2.2.5.1 Pars bulbosa


2.2.5.2 Pars pendularis
2.2.5.3 Fossa navikularis
2.2.5.4 Meatus uretra eksterna.
Pada pengisian kandung kencing, distensi yang timbul ditandai dengan adanya
aktivitas sensor regang pada dinding kandung kencing. Pada kandung kencing
normal, tekanan intravesikal tidak meningkat selama pengisian sebab terdapat
inhibisi dari aktivitas detrusor dan active compliance dari kandung kencing.
Inhibisi dari aktivitas motorik detrusor memerlukan jaras yang utuh antara pusat
miksi pons dengan medula spinalis bagian sakral. Mekanisme active
compliance kandung kencing kurang diketahui namun proses ini juga
memerlukan inervasi yang utuh mengingat mekanisme ini hilang pada
kerusakan radiks S2-S4. Selain akomodasi kandung kencing, kontinens selama
pengisian memerlukan fasilitasi aktifitas otot lurik dari sfingter uretra, sehingga
tekanan uretra lebih tinggi dibandingkan tekanan intravesikal dan urin tidak
mengalir keluar
Pada orang dewasa yang normal, rangsangan untuk miksi timbul dari distensi
kandung kencing yang sinyalnya diperoleh dari aferen yang bersifat sensitif
terhadap regangan. Mekanisme normal dari miksi volunter tidak diketahui
dengan jelas tetapi diperoleh dari relaksasi otot lurik dari sfingter uretra dan
lantai pelvis yang diikuti dengan kontraksi kandung kencing. Inhibisi tonus
simpatis pada leher kandung kencing juga ditemukan sehingga tekanan
intravesikal diatas/melebihi tekanan intra uretral dan urin akan keluar.
Pengosongan kandung kemih yang lengkap tergantung dari refleks yang
menghambat aktifitas sfingter dan mempertahankan kontraksi detrusor selama
miksi.

2.6 Patofisiologi
Penderita retensi urin mengeluhkan tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai
rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat
disertai mengejan. Retensi urin dapat terjadi menurut lokasi, faktor obat dan
faktor lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain
sebagainya. Berdasarkan lokasi bisa dibagi menjadi supra vesikal berupa
kerusakan pusat miksi di medulla spinalsi menyebabkan kerusaan simpatis dan
parasimpatis sebagian atau seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan
otot detrusor yang mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot
spinkter internal, vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang,
intravesikal berupa hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika,
striktur, batu kecil menyebabkan obstruksi urethra sehingga urin sisa meningkat
dan terjadi dilatasi bladder kemudian distensi abdomen.
Faktor obat dapat mempengaruhi proses BAK, menurunkan tekanan darah,
menurunkan filtrasi glumerolus sehingga menyebabkan produksi urin menurun.
Faktor lain berupa kecemasan, kelainan patologi urethra, trauma dan lain
sebagainya yang dapat meningkatkan tensi otot perut, perianal, spinkter anal
eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik. Dari semua faktor di atas
menyebabkan urin mengalir lambat kemudian terjadi poliuria karena
pengosongan kandung kemih tidak efisien, sehingga terjadi distensi bladder dan
distensi abdomen.
Patofisiologi penyebab retensi urin dapat dibedakan berdasarkan sumber
penyebabnya antara lain :
2.6.1 Gangguan supravesikal adalah gangguan inervasi saraf motorik dan
sensorik. Misalnya DM berat sehingga terjadi neuropati yang
mengakibatkan otot tidak mau berkontraksi.
2.6.2 Gangguan vesikal adalah kondisi lokal seperti batu di kandung kemih,
obat antimuskarinik/antikolinergik (tekanan kandung kemih yang
rendah) menyebabkan kelemahan pada otot detrusor.
2.6.3 Gangguan infravesikal adalah berupa pembesaran prostat (kanker,
prostatitis), tumor pada leher vesika, fimosis, stenosis meatus uretra,
tumor penis, striktur uretra, trauma uretra, batu uretra, sklerosis leher
kandung kemih (bladder neck sclerosis).

2.7 Pathway
2.8 Pemeriksaan Penunjang
2.8.1 Foto polos abdomen menunjukkan bayangan buli-buli penuh,
mungkin terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli-buli.
2.8.2 Uretrografi akan tampak adanya striktur uretra.
2.8.3 Pemeriksaan darah rutin : Hb, leukosit, LED, Trombosit.
2.8.4 Pemeriksaan Faal Ginjal : kreatinin, ureum, klirens kreatinin.
2.8.5 Pemeriksaan urinalisa : warna, berat jenis, pH
(Purnomo, 2011).

2.9 Penatalaksanaan
Urin dapat dikeluarkan dengan cara kateterisasi atau sistostomi. Penanganan
pada retensi urin akut berupa : kateterisasi bila gagal dilakukan Sistostomi.
2.9.1 Kateterisasi uretra
Kateterisasi uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli-buli
melalui uretra.
2.9.1.1 Indikasi kateterisasi :
a. Mengeluarkan urin dari buli-buli pada keadaan obstruksi
infravesikal, baik yang disebabkan oleh hiperplasia prostat
maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang menyumbat
uretra.
b. Mengeluarkan urin pada disfungsi buli-buli.
c. Diversi urin setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian
bawah, yaitu pada operasi prostatektomi, vesikolitektomi.
d. Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk
tujuan stabilisasi uretra.
e. Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain sitostatika
atau antiseptik untuk buli-buli.
2.9.1.2 Kontraindikasi kateterisasi : Ruptur uretra, ruptur buli-buli,
bekuan darah pada buli-buli.

2.9.2 Kateterisasi Suprapubik


Kateterisasi Suprapubik adalah memasukkan kateter dengan membuat
lubang pada buli-buli melalui insisi suprapubik dengan tujuan
mengeluarkan urin.
Kateterisasi suprapubik ini biasanya dilakukan pada :
2.9.2.1 Kegagalan pada saat melakukan kateterisasi uretra.
2.9.2.2 Ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan transuretra,
misalkan pada ruptur uretra atau dugaan adanya ruptur uretra.
2.9.2.3 Untuk mengukur tekanan intravesikal pada studi sistotonometri.
2.9.2.4 Mengurangi penyulit timbulnya sindroma intoksikasi air pada
saat TUR Prostat.
2.9.3 Sistostomi Trokar
Tindakan ini dikerjakan dengan anestesi lokal dan mempergunakan alat
trokar. Kontraindikasi Sistostomi Trokar : tumor buli-buli, hematuria
yang belum jelas penyebabnya, riwayat pernah menjalani operasi daerah
abdomen/pelvis, buli-buli yang ukurannya kecil (contracted bladder),
atau pasien yang mempergunakan alat prostesis pada abdomen sebelah
bawah.

Langkah-langkah Sistostomi Trokar :


2.9.3.1 Desinfeksi lapangan operasi.
2.9.3.2 Mempersempit lapangan operasi dengan kain steril.
2.9.3.3 Injeksi (infiltrasi) anestesi lokal dengan Lidokain 2% mulai dari
kulit, subkutis hingga ke fasia.
2.9.3.4 Insisi kulit suprapubik di garis tengah pada tempat yang paling
cembung + 1 cm, kemudian diperdalam sampai ke fasia.
2.9.3.5 Dilakukan pungsi percobaan melalui tempat insisi dengan
semprit 10 cc untuk memastikan tempat kedudukan buli-buli.
2.9.3.6 Alat trokar ditusukkan melalui luka operasi hingga terasa
hilangnya tahanan dari fasia dan otot-otot detrusor.
2.9.3.7 Alat obturator dibuka dan jika alat itu sudah masuk ke dalam
buli-buli akan keluar urin memancar melalui sheath trokar.
2.9.3.8 Selanjutnya bagian alat trokar yang berfungsi sebagai obturator
(penusuk) dan sheath dikeluarkan melalui buli-buli sedangkan
bagian slot kateter setengah lingkaran tetap ditinggalkan.
2.9.3.9 Kateter Foley dimasukkan melalui penuntun slot kateter
setengah lingkaran, kemudian balon dikembangkan dengan
memakai aquadest 10 cc. Setelah balon dipastikan berada di
buli-buli, slot kateter setengah lingkaran dikeluarkan dari buli-
buli dan kateter dihubungkan dengan kantong penampung urin
(urinbag).
2.9.3.10 Kateter difiksasikan pada kulit dengan benang sutra dan luka
operasi ditutup dengan kain kasa steril.

2.9.3.11 Menusukkan alat trokar ke dalam buli-buli

2.9.3.12 Setelah yakin trokar masuk ke buli-buli, obturator dilepas dan


hanya slot kateter setengah lingkaran ditinggalkan. Jika tidak
tersedia alat trokar dari Campbell, dapat pula digunakan alat
trokar konvensional, hanya saja pada langkah ke-8, karena alat
ini tidak dilengkapi dengan slot kateter setengah lingkaran maka
kateter yang digunakan adalah NG tube nomer 12 F. Kateter ini
setelah dimasukkan ke dalam buli-buli pangkalnya harus
dipotong untuk mengeluarkan alat trokar dari buli-buli.
Beberapa penyulit yang mungkin terjadi pada saat tindakan maupun
setelah pemasangan kateter sistotomi adalah :

a. Bila tusukan terlalu mengarah ke kaudal dapat mencederai prostat.


b. Mencederai rongga/organ peritoneum.
c. Menimbulkan perdarahan.
d. Pemakaian kateter yang terlalu lama dan perawatan yang kurang baik
akan menimbulkan infeksi, ekskrutasi kateter, timbul batu saluran
kemih, degenerasi maligna mukosa buli-buli, dan terjadi refluks
vesiko-ureter.
2.9.4 Sistostomi Terbuka
Sistostomi terbuka dikerjakan bila terdapat kontraindikasi pada tindakan
sistostomi trokar atau bila tidak tersedia alat trokar. Dianjurkan untuk
melakukan sistostomi terbuka jika terdapat jaringan sikatriks / bekas
operasi di daerah suprasimfisis, sehabis mengalami trauma di daerah
panggul yang mencederai uretra atau buli-buli, dan adanya bekuan darah
pada buli-buli yang tidak mungkin dilakukan tindakan per uretram.
Tindakan ini sebaiknya dikerjakan dengan memakai anestesi umum.
Langkah-langkah dalam sistostomi terbuka
2.9.4.1 Desinfeksi seluruh lapangan operasi.
2.9.4.2 Mempersempit daerah operasi dengan kain steril.
2.9.4.3 Injeksi anestesi lokal, jika tidak mempergunakan anestesi
umum.
2.9.4.4 Insisi vertikal pada garis tengah + 3-5 cm diantara pertengahan
simfisis dan umbilicus.
2.9.4.5 Insisi diperdalam sampai lemak subkutan hingga terlihat linea
alba yang merupakan pertemuan fasia yang membungkus
muskulus rektus kiri dan kanan. Muskulus rektus kiri dan kanan
dipisahkan sehingga terlihat jaringan lemak, buli-buli dan
peritoneum. Buli-buli dapat dikenali karena warnanya putih dan
banyak terdapat pembuluh darah.
2.9.4.6 Jaringan lemak dan peritoneum disisihkan ke kranial untuk
memudahkan memegang buli-buli.
2.9.4.7 Dilakukan fiksasi pada buli-buli dengan benang pada 2 tempat.
2.9.4.8 Dilakukan pungsi percobaan pada buli-buli diantara 2 tempat
yang telah difiksasi.
2.9.4.9 Dilakukan pungsi dan sekaligus insisi dinding buli-buli dengan
pisau tajam hingga keluar urin, yang kemudian (jika perlu)
diperlebar dengan klem. Urin yang keluar dihisap dengan mesin
penghisap.
2.9.4.10 Eksplorasi dinding buli-buli untuk melihat adanya : tumor, batu,
adanya perdarahan, muara ureter atau penyempitan leher buli-
buli.
2.9.4.11 Pasang kateter Foley ukuran 20F-24F pada lokasi yang berbeda
dengan luka operasi.
2.9.4.12 Buli-buli dijahit 2 lapis yaitu muskularis-mukosa dan sero-
muskularis.
2.9.4.13 Tinggalkan drain redon kemudian luka operasi dijahit lapis demi
lapis. Balon kateter dikembangkan dengan aquadest 10 cc dan
difiksasikan ke kulit dengan benang sutra.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Pasien
3.1.2 Riwayat Kesehatan Umum
3.1.3 Riwayat kesehatan keluarga
3.1.4 Riwayat kesehatan pasien
3.1.4.1 Bagaimana frekuensi miksi
3.1.4.2 Adakah kelainan waktu miksi
3.1.4.3 Apakah rasa sakit terdapat pada daerah setempat atau secara
umum
3.1.4.4 Apakah penyakit timbul setelah adanya penyakit lain
3.1.4.5 Apakah terdapat mual mutah atau edema
3.1.4.6 Bagaimana keadaan urinnya
3.1.4.7 Adakah secret atau darah yang keluar
3.1.4.8 Adakah hambatan seksual
3.1.4.9 Bagaimana riwayat menstruasi
3.1.4.10 Bagaimana riwayat kehamilan
3.1.4.11 Adakah rasa nyeri
3.1.5 Pengumpulan Data
3.1.5.1 Aktifitas/Istrahat
Gejala : Tidak bisa tidur/istrahat dengan tenang jika
rasa nyeri timbul
Tanda : Gelisah
3.1.5.2 Eliminasi
Gejala : Penurunan dorongan aliran urine, keragu-
raguan pada awal berkemih, kandung
kemih terasa penuh, tidak dapat berkemih
kecuali dengan cara mengejan, urin keluar
sedikit-sedikit.
Tanda : Distensi vesika urinaria, pengeluaran urin <
1500 ml/hari, pengeluaran urin sedikit,
nampak pemasangan kateter
3.1.5.3 Makanan/cairan
Gejala : Klien mengeluh tidak nafsu makan, klien
mengeluh mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, porsi makan tidak
dihabiskan
3.1.5.4 Seksualitas
Gejala : Penurunan kemampuan dalam melakukan
hubungan seksual
3.1.5.5 Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Klien mengeluh nyeri saat berkemih
Tanda : Ekspresi wajah nampak meringis bila nyeri
timbul, nampak memegang area yang sakit.
Nyeri tekan daerah daerah suprapubik,
distensi abdomen
3.1.5.6 Integritas Ego
Gejala : Klien mengeluh tentang penyakitnya, klien
mengeluh khawatir dengan penyakitnya
Tanda : Nampak ketakutan, gelisah
3.1.6 Data fisik Inpeksi
3.1.6.1 Seluruh tubuh dan daerah genital Palpasi
3.1.6.2 Pada daerah abdomen Auskultasi : kuadran atas abdomen
dilakukan untuk mendeteksi.
3.1.6.3 Tingkat kesadaran
3.1.6.4 Tinggi Badan
3.1.6.5 Berat Badan
3.1.6.6 Tanda-tanda Vital
3.1.7 Data Psikologis
3.1.7.1 Keluhan dan reaksi pasien terhadap penyakit Tingkat adaptasi
pasien terhadap penyakit Persepsi pasien terhadap penyakit.
3.1.7.2 Data social, budaya, spiritual Umum :
a. Hubungan dengan orang lain
b. Kepercayaan yang dianut dan keaktifanya dalam kegiatan
Pengkajian keperawatan Tanda-tanda dan gejala retensi urine
mudah terlewatkan kecuali bila perawat melakukan
pengkajian secara sadar terhadap tanda dan gejala tersebut.
Oleh karna itu ,pengkajian keperawatan harus
memperhatikan masalah berikut:
1. Kapan urinasi terakhir dilakukan dan berapa banyak
urine yang dieliminasikan?
2. Apakah pasien mengeluarkan urine sedikit-sedikit
dengan sering?
3. Apakah urine yang keluar itu menetes?
4. Apakah pasien mengeluh adanya rasa nyeri atau
gangguan rasa nyaman pada abdomen bagian bawah?
5. Apakah ada massa bulat yang muncul dari pelvis?
6. Apakah perkusi didaerah suprapubik menghasilkan
suara yang pekak?
7. Adakah indikator lain yang menunjukan retensi kandung
kemih seperti kegelisahan dan agitasi?
3.2 Diagnosa Keperawatan

3.3 Intervesi
3.4 Implemetasi
3.5 Evaluasi

BAB 4
PENUTUP
4.1 Simpulan
Retensi urine adalah kesulitan miksi karena kegagalan urine dari fesikaurinaria.
(Kapita Selekta Kedokteran). Retensio urine adalah tertahannya urine di
dalamakndung kemih, dapat terjadi secara akut maupun kronis. Retensi urine
didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih. Retensi urine akut adalah
ketidakmampuan berkemih tiba-tiba pada keadaan kandung kemih yang nyeri.
Retensi urine kronis adalah keadaan kandung kemih yang membesar, penuh,
tidak nyeri dengan atau tanpa kesulitan berkemih

4.2 Saran
4.2.1 Bagi Masyarakat

4.2.2 Bagi Dinas Kesehatan

Untuk Dinas kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan


penyuluhan kepada masyarakat mengenai faktor penyebab retensi urin,
tanda dan gejala, pencegahan dan pengobatan retensi urin.

4.2.3 Bagi Rumah Sakit


Untuk di rumah sakit sebagai acuan mengetahui angka kejadian retensi
urin dan hendaknya memperhatikan berbagai aspek yang dapat
mempengaruhi kejadian retensi urin.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th
Edition. China : LWW.

Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.

Nanda International, 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-


2017 Edisi 10. Jakarta, penerbit: Buku Kedokteran EGC

Perry & potter. (2006). Fundamental keperawatan. Jakarta: EGC.