Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pati adalah karbohidrat yang merupakan polimer glukosa, yang terdiri atas
amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan bagian polimer linier dengan ikatan
-(14) unit glukosa. Derajat polimerisasi (DP) amilosa berkisar antara
5006.000 unit glukosa, bergantung pada sumbernya. Adapun amilopektin
merupakan polimer -(14) unit glukosa dengan rantai samping -(16) unit
glukosa. Ikatan -(16) unit glukosa ini jumlahnya sangat sedikit dalam suatu
molekul pati, berkisar antara 45%. Namun, jumlah molekul dengan rantai
cabang, yaitu amilopektin, sangat banyak dengan DP berkisar antara 10 5 dan 3x106
unit glukosa (Jacobs dan Delcour 1998).
Pati dapat di hidrolisa menjadi glukosa. Glukosa dapat dibuat dengan
jalan fermentasi dan hidrolisa. Pada reaksi hidrolisa biasanya dilakukan
dengan menggunakan katalisator asam seperti HCl (asam klorida). Bahan yang
digunakan untuk proses hidrolisis adalah pati. Di indonesia banyak dijumpai
tanaman yang menghasilkan pati. Tanaman-tanaman itu seperti seperti padi,
jagung, ketela pohon, umbi-umbian, aren dan sebagainya.
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia, selama ini
kebutuhan gula dipenuhi oleh industri gula (penggiling tebu) dan beberapa
industri kecil seperti gula merah dan gula aren. Gula dapat berupa glukosa,
sukrosa, fraktosa, sakrosa dll. Glukosa dapat digunakan sebagai pemanis dalam
makanan, minuman, es krim dll.
1.2 Tujuan Percobaan
1. Mempelajari pengaruh variable suhu terhadap reaksi hidrolisa pati.
2. Menghitung konstanta kecepatan reaksi dan menganalisa pengaruh
variable terhadap konstanta kecepatan reaksi.
1.3 Manfaat Percobaan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh variable suhu terhadap reaksi
hidrolisa pati.
2. Mahasiswa dapat menghitung konstanta kecepatan reaksi dan
menganalisa pengaruh variable terhadap konstanta kecepatan reaksi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Hidrolisa Pati


Hidrolisa merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu
senyawa. Gugus OH dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis dapat
digolongkan menjadi hidrolisis murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis
basa, hidrolisis gabungan alkali dengan air dan hidrolisis dengan katalis enzim.
Sedangkan berdaasarkan fase reaksi yang terjadi diklasifikasikan menjadi
hidrolisis fase cair dan hidrolisis fase uap.
Hidrolisis pati terjadi antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi
ini adalah orde satu, karena reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan
reaktan dapat diabaikan. Reaksi hidrolisis pati dapat dilakukan menggunakan
katalisator H+ yang dapat diambil dari asam. Reaksi yang terjadi pada hidrolisis
pati adalah sebagai berikut :
(C6H10O5)x + H2O x C6H12O6
Berdasarkan teori kecepatan
reaksi :
-rA = k. C pati. C air ...(1)
karena volume air cukup besar, maka dapat dianggap konsentrasi air selama
perubahan reaksi
sama dengan k, dengan
besarnya k :
k = k . Cair ...(2)
sehingga persamaan 1 dapat ditulis sebagai berikut -rA = k. C pati dari
persamaan kecepatan reaksi ini, reaksi hidroisis merupakan reaksi orde satu.
Jika harga rA = -dCA/dt maka persamaan 2 menjadi :

...(3)

(4)
Apabila CA = CA0 (1-xA) dan diselesaikan dengan integral dan batas kondisi t 1 ,
CA0 dan t2 : CA akan diperoleh persamaan :
(5)

(6)
(7)

Dimana xA = konversi reaksi setelah satu detik.


Persamaan 7 dapat diselesaikan dengan menggunakan pendekatan regresi y =

mx+ c, dengan dan x = t2

II.2 Variabel- variabel yang berpengaruh terhadap reaksi hidrolsa


1. Katalisator
Hampir sama semua reaksi hidrolisa membutuhkan katalisator untuk
mempercepat jalannya reaksi. Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim
atau asam karena kinerjanya lebih cepat. Asam yang dipakai beraneka
jenisnya mulai dari HCl (Agra dkk, 1973; Stout & Rydberg Jr, 1939),
H 2SO4 sampai HNO3. Yang mempengaruhi kecapatan reaksi adalah
konsentrasi ion H + bukan jenis asamnya. Meskipun demikian, didalam
industri umumnya diakai asam klorida (HCl).
Pemilihan ini didasarkan atas sifat garam yang terbentuk pada
penetralan tidak menimbulkan gangguan apa-apa selain rasa asin jika
konsentrasinya tinggi. Oleh karena itu, konsentrasi asam dalam air
penghidrolisa ditekan sekecil mungkin. Umumnya dipergunakan larutan
asam yang mempunya konsentrasi asam yang lebih tinggi daripada
pembuatan sirup. Hidrolisa pada tekanan 1 atm memerlukan asam yang jauh
lebih pekat.

2. Suhu dan Tekanan


Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi mengikuti persamaan
Arrhenius, dimana semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju
reaksinya. Untuk mencapai konversi tertentu, diperlukan waktu sekitar 3
jam untuk menghidrolisa pati ketela rambat pada suhu 100C. Tetapi jika
suhunya dinaikkan hingga 135C, konversi yang sama dapat dicapai dalam
waktu 40 menit (Agra dkk, 1973). Hidrolisis pati gandum dan jagung dengan
katalisator H2SO4 memerlukan suhu 160C. Karena panas reaksi
mendekati nol dan reaksi berjalan dalam fase cair maka suhu dan tekanan
tidak banyak mempengaruhi keseimbangan.

3. Pencampuran (pengadukan)
Supaya zat pereaksi dapat saling bertumbukan dengan sebaik-baiknya
perlu adanya pencampuran. Untuk proses Batch, hal ini dapat dicapai dengan
bantuan pengaduk atau alat pengocok (Agra dkk, 1973). Apabila prosesnya
berupa proses alir (kontinyu), maka pecampuran dilakukan dengan cara
mengatur aliran didalam reaktor supaya terbentuk olakan.
4. Perbandingan zat pereaksi
Jika salah satu zat pereaksi dibuat berlebihan jumlahnya maka
keseimbangan dapat bergeser kearah kanan dengan baik. Oleh karena itu,
suspensi pati yang kadarnya rendah memberi hasil yang lebih baik
dibandingkan dengan yang kadarnya tinggi. Bila kadar suspensi pati
diturunkan dari 40% menjadi 20% atau 1% maka konversi akan bertambah
dari 80% menjadi 87 atau 99 % (Groggis, 1958). Pada permukaan, kadar
suspensi pati yang tinggi sehingga molekul-molekul zat pereaksi akan sulit
bergerak. Untuk menghasilkan glukosa biasanya dipergunakan suspensi pati
sekitar20%.

II.3 Mekanisme Titrasi


Konsentrasi gula pereduksi(glukosa) dalam sampel dapat ditentukan
berdasarkan kemampuannya untuk mereduksi pereaksi lain. Analisis metode ini
dilakukan secara volumetri dengan titrasi. Metode ini didasarkan pada reaksi
reduksi pereaksi fehling oleh gula-gula perduksi. Penetapan gula pereduksi adalah
pengukuran volume larutan pereduksi standar yang dibutuhkan untuk mereduksi
pereaksi tembaga (III) oksida (Cu2O). Udara yang mempengaruhi reaksi
dikeluarkan dari campuran reaktan dengan cara mendidihkan selama titrasi. Titik
akhir titrasi ditunjukkan dengam metilen blue yang warnanya akan hilang karena
adanya kelebihan gula.

Reaksi kimia yang terjadi selama analisis


2Cu2+ + 2OH- + 2e Cu2O ( merah bata) + H2O
R-CHO + 2OH- R-COOH + H2O + 2e
R-CHO (gula pereduksi) +2Cu2+ Cu2O + R-COOH (gula teroksidasi)
Fehling A berisi tembaga (III) yaitu CuSO4 . 5H2O dan H2SO4
Fehling B adalah larutan garam K-Na-tartrat dan NaOH dalam air mereduksi

II.4 Fungsi Reagen


1. Glukosa anhidris
mereduksi larutan fehling dan menunjukan dan untuk standarisasi larutan
fehling.
2. Fehling A dan Fehling B :
Fehling A berisi tembaga (III) yaitu CuSO 4 . 5H2O dan H2SO4 Fehling B
berisi larutan garam K-Na-tartrat dan KOH dalam air. Fehling A dan B
yang bereaksi dengan fehling A akan membentuk Cu 2O yang dapat akan
direduksi oleh aldehid dalam monsakarida. Cu 2O akan bereaksi dengan
dengan monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida
(laktosa dan maltosa) yang memiliki gugus aldehida dan keton bebas.
Akan membentuk endapan merah bata.
3. Metilen Blue
Indikator titrasi yang menunjukkan adanya kelebihan gula
4. NaOH
Menetralkan sampel sebelum dititrasi
5. H2SO4
Katalis dalam hidrolisa pati
BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN

3.1 Bahan dan Alat yang digunakan


3.1.1 Bahan
Glukosa Indikator MB
standar Fehling A dan B
Tepung
Maizena Aquades
NaOH 1 N
H2SO4 0,075
N Buret
3.1.2 Alat Labu leher tiga
Gelas ukur
Labu takar
Termometer
Erlenmeyer
Statif dan klem

3.2 Gambar Alat Utama

6
5
7

4
3
2
1

Gambar 1. Rangkaian alat hidrolisa

Keterangan:
1. Magnetic stirer + heater
2. Waterbatch
3. Labu leher tiga
4. Termometer
5. Pendingin balik
6. Klem
7. Statif
3.3 Variabel Percobaan
Variabel berubah : Suhu operasi
40C dan 65C
Variabel terikat : volume total = 425 ml
Katalis = H2SO4 0,75 N
% suspensi = 5%
Jenis tepung = tepung maizena

3.4 Prosedur percobaan


1. Persiapan awal
a. Menghitung densitas pati
Kedalam gelas ukur, 5 ml aquades dimasukkan 1 gr pati, catat
penambahan volume.

b. Menghitung densitas HCl/H2SO4


Timbang berat picnometer kosong (m1), masukkan HCl/H2SO4
kedalam picnometer yang telah diketahui volumenya (v), timbang
beratnya (m2), hitung densitas HCl/H2SO4.

c. Membuat glukosa standar


Glukosa anhidrit sebanyak 2 gram dilarutkan dalam 1000 ml
aquades.

2. Penentuan kadar pati


a. Standarisasi larutan fehling
5 ml fehling A + 5 ml fehling B + 15 ml glukosa standar,
dipanaskan sampai mendidih. Setelah mendidih ditambahkan 3
tetes MB,kemudian larutan dititrasi dengan glukosa standard
hingga warna berubah menjadi merah bata. Catat Volume titran
(F) yang diperlukan, proses titrasi dilakukan dalam keadaan
mendidih (diatas kompor).

b. Penentuan kadar pati awal


Sebanyak 20,56 gram pati , 0,875 ml katalis H2SO4 dan 390,74
ml aquadest yang telah ditentukan sesuai variabel dimasukkan ke
dalam labu leher tiga dan dipanaskan hingga suhu operasi 40 C,
selama 1 jam. Setelah itu larutan didinginkan, diencerkan
dengan aquades sampai 500 ml lalu diambil 20 ml dan
dinetralkan dengan NaOH (PH = 7). Larutan diambil 5 ml
diencerkan sampai 100 ml, diambil 5 ml. Ke dalam
Erlenmeyer dimasukkan 5 ml larutan + 5 ml Fehling A + 5 ml
fehling B + 15 ml glukosa standard, kemudian dipanaskan
sampai mendidih. Lalu ditambahkan 3 tetes indikator
MB.Kemudian larutan dititrasi dengan glukosa standard sehingga
berubah warna menjadi warna merah bata. Catat volum titran
yang dibutuhkan (M). Yang perlu diperhatikan, proses titrasi
dilakukan dalam keadaan mendidih diatas kompor.

c. Hidrolisa pati
Sebanyak 20,56 gram pati , 0,875 ml katalis H2SO4 dan 390,74
ml aquadest yang telah ditentukan sesuai variabel dimasukkan
dalam labu leher tiga. Dipanaskan.Pada saat suhu operasi
tercapai 40 C anggap sebagai t0 diambil sampel sebanyak 20 ml.
Kemudian sampel dinetralkan dengan NaOH (PH = 7). Larutan
diambil 5 ml diencerkan sampai 100 ml, diambil 5 ml. Kedalam
Erlenmeyer dimasukkan 5 ml larutan +5 ml Fehling A + 5 ml
fehling B + 15 ml glukosa standard, kemudian dipanaskan sampai
mendidih. Lalu ditambahkan3 tetes indikator MB.Kemudian
larutan dititrasi dengan glukosa standard sehingga berubah warna
menjadi warna merah bata. Catat V titran yang dibutuhkan (M).
Yang perlu diperhatikan, proses titrasi dilakukan dalam keadaan
mendidih diatas kompor. Pengambilan sampel dilakukan setiap
selang waktu 5 menit sebanyak 5 kali yaitu 20 menit. (t0=menit ke-
0 ,t1=menit ke-5, t2=menit ke-10, t3=menit ke-15, t4=menit ke-20)

Rumus penentuan kadar pati awal =

Dimana : Nglukosa = 0,002 gr/ml


W = berat pati
Perhitungan kebutuhan reagen
a) Menghitung kebutuhan H2SO4

N H 2 SO 4 BM H 2 SO 4 V larutan
V H 2 SO 4=
H 2 SO 4 kadar H 2 SO 4 1000 grek

Dimana :
kadar
H2SO4 = 0,98untuk98%

grek H2SO4 =2

b) Menghitung kebutuhan pati


Xp Wpati
%suspensi=
Wpati +W H 2 SO 4+W air

Dimana :

W H2SO4 = H2SO4 x V H2SO4


W air = air x (Vlarutan-Vpati-V H2SO4)
Prosedur titrasi
5 ml fehling A + 5 ml fehling B + 5 ml
glukosa standar
(jika ada hasil hidrolisa, prosedur diatas ditambah 5 ml sampel
hasil hidrolisa)

Dipanaskan sampai
mendidih

100 detik dari mendidih ditambah 3 tetes
indikator MB


2 menit kemudian dititrasi dengan glukosa standar, catat volume titran (titrasi
dijalankan maks 1 menit)

Catatan : titrasi dilakukan di atas kompor dalam keadaan mendidih


DAFTAR PUSTAKA

Abu Khalaf, A.M., Chemical Engineering Education, 28 (1), 48. 1994


Bej, Barnali, RK Basu and S N Ash.2008.Journal of Scientific & Indusrtial Research Kinetic
studies on acid catalysed hydrolysis of starch.Departement of Chemical
Engineering.University of Calcutta.
Charles, E. R, Harold, SM and Thomas K.S., Applied Mathematics in Chemical Engineering
2nd end.,Mc. Graw Hill Book Ltd. 1987, New York
Enny, K Artati; Novia, margaret dan Widhie, Vissia. 2010. Konstanta kecepatan reaksi sebagai
fungsi suhu pada hidrolisa selulosa dari ampas tebu dengan katalisator asam sulfat. Vol 9.
No 1. Hal 1-4.
Fatmawati, A., soeseno, N., Cpitadi, dan Natali. 2008. Hidrolisis Batang Padi Dengan
Menggunakan Asam Sulfat Encer. Jurnal Teknik Kimia, Vol.3, No 1
Herawati, Heny. 2012. Teknologi Proses Produksi Food Ingredient Dari Tapioka Termodifikasi.
Jurnal litbang pertanian 31(2),2012
Hill, G.C., An Introduction to Chemical Engineering Kinetika and Reactor Design. 1nd ed,
John Willey, New York, N.Y, 1977
Indra, A. 2010. Modifikasi palisakarida dengan metode cross link. http://core.ac.uk diakses 9 mei
2015
Levenspiel. O., Chemical Reaction Engineering 2nd ed, Mc. Graw Hill Book Kogakusha
Ltd, Tokyo, 1970
Suri, A. 2013. Karbohidrat. http://repository.usu.ac.id diakses 14 april 2015
Wahyuni, Nunik; Mastusti, endang dan Wibowo, Wusono. 2009. Konstanta kecepatan reaksi
hidrolisa dami Nangka (Artocarpus Heterophillus). http://kimia.ft.uns.ac.id diakses 1 mei
2015 pukul 15.20