Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

LAPORAN KASUS
SUBDIVISI BEDAH SARAF

I.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. RP
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 34 tahun
Rekam Medis : 708719
MRS : 17 / 04 / 2015
Ruangan : lontara 3 bawah depan

I.2 ANAMNESIS
Keluhan utama :
Nyeri kepala
Anamnesis terpimpin :
Dialami +/- 6 bulan yang lalu, awalnya nyeri kepala dirasakan hilang-timbul
kemudian terus-menerus. Keluhan disertai dengan mual, muntah, pandangan kabur,
dan perasaan lemah pada tungkai bawah.
Nyeri kepala memberat +/- 2 bulan, kemudian pasien berobat di RS Hasan
Sadikin didiagnosis dengan meningioma. Dan dilakukan tindakan operasi
pengangkatan tumor.
Setelah operasi, pasien kemudian melanjutkan pengobatan di RS Wahidin
Sudirohusodo dengan keluhan demam, penurunan kesadaran, ada kejang, dan
perubahan kepribadian.
Riwayat Penyakit Dahulu:
-Pasien belum pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya
-Riwayat trauma kepala tidak ada
-Riwayat epilepsy tidak ada

1
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama

I.3. PEMERIKSAAN FISIS


A. KEADAAN UMUM
Status Generalisata : sakit sedang / gizi cukup / compos mentis
Status Vitalis : Tekanan darah : 110 / 70 mmHg
Nadi : 80 x/ menit; regular
Pernapasan : 16x/menit; thoracoabdominal
Suhu : 36,9C
B. STATUS LOKALIS
Kepala
- Ukuran : Normocephal
- Konjungtiva : Anemis (+/+)
- Bibir : Tidak ada Sianosis
- Gusi : Perdarahan tidak ada
Leher
- Inspeksi : Tidak tampak massa tumor, warna kulit sama dengan warna
sekitar, tidak ada ulkus
- Palpasi : Tidak teraba massa tumor, tidak ada nyeri tekan

Thorax
- Inspeksi : Pengembangan dada simetris kiri=kanan, tidak ada
hematom, tidak ada retraksi dinding dada.
- Palpasi : Pergerakan dada simetris, krepitasi tidak ada, nyeri tekan
tidak ada, massa tidak ada.
- Perkusi : Sonor, simetris pada kedua lapangan paru.
- Auskultasi : Bunyi pernafasan vesikuler, Ronchi dan wheezing tidak
ditemukan.

2
Jantung
- Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V midclavicularis sinistra.
- Perkusi : batas atas jantung ICS II linea parasternalis sinistra
batas kanan jantung ICS III linea parasternalis dextra
batas kiri jantung ICS V linea midclavicularis sinistra
- Auskultasi : S1/S2 murni, reguler, tidak ada murmur
Abdomen
- Inspeksi : datar, ikut gerak napas, tidak tampak massa tumor,
- Auscultasi : peristaltik (+) kesan normal
- Perkusi : timpani
- Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba, hepar dan
lien tidak teraba
C.STATUS NEUROLOGIK
1) KESADARAN : compos mentis
GCS : 15 (E4M6 V5)
2) TANDA RANGSANG MENINGEAL :
Kaku kuduk : (+)
Brudzinski I : (+)
Brudzinski II : (-)
Lasegue : (-)
Kernig : (+)
3) SARAF KRANIAL
1. N. I (Olfactorius ): Sulit Dinilai

2. N.II (Opticus) : Sulit dinilai

3. N.III (Oculomotorius)

3
Kanan Kiri
Ptosis (-) (+)
Pupil
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 2,5 mm 2,5 mm
Gerak bola mata N (N)
Refleks pupil
Langsung (+) (N)
Tidak langsung (+) (N)

4. N. IV (Trokhlearis)
Kanan Kiri
Gerak bola mata N (-)

5. N. V (Trigeminus) : Sulit dinilai

6. N. VI (Abduscens) : Sulit dinilai

7. N. VII (Facialis)

Kanan Kiri

Motorik
Kerutkan dahi
Menutup mata N N
Lipatan nasolabial N (-)
Sudut mulut N N
Meringis N N

4
Menggembungkan pipi N N
Menaikkan alis N N
N N

8. N. VIII (Akustikus) : Tidak dilakukan Pemeriksaaan

9. N. IX (Glossofaringeus) : Tidak dilakukan Pemeriksaan

10. N. X (Vagus) : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

11. N. XI (Assesorius) : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

12. N. XII (Hipoglossus) : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

I.4. SISTEM MOTORIK

P K T
3 3
3 3

I.5. SISTEM SENSORIK : Sulit Dinilai

I.6. REFLEKS

+ +
+ +
RF

5
I.7. FUNGSI KORDINASI

Kanan Kiri Keterangan


Test tunjuk hidung
Test tumit lutut
Gait Tidak Dilakukan
Tandem Pemeriksaan
Romberg

I.8. SISTEM OTONOM


Miksi : Normal
Defekasi : Normal

I.9. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. LABORATORIUM (21/04/2015)
Normal Unit
WBC 11.2 4.0-10.0 10/mm
RBC 4.23 4.50-6.50 10^6/mm
HB 12.4 13.0-17.0 gr/dL
HCT 36 40.0-54.0 %
PLT 487 150-400 10/mm
GDS 60 140 mg/dL
Ureum 3 10-50 mg/dL
Kreatinin 0.50 <1.3 mg/dL
SGOT 36 <38 U/L
SGPT 30 <41 U/L
Natrium 128 136-145 mmol/l

6
Kalium 2.8 3.5-5.1 mmol/l
Klorida 96 97-111 Mmol/l

B. FOTO THORAX

- Corakan bronkovaskular dalam batas normal


- Tidak tampak proses specific aktif maupun lesi-lesi noduler pada kedua lapangan
paru
- Cor: CTI dalam batas normal
- Kedua sinus dan diafragma baik
- Tulang-tulang intak
-
Kesan: Pulmo dan cor normal
Tidak tampak tanda metastasis pada foto thorax ini.

7
C. MSCT Kepala (dengan kontras) (27/04/2015)

-Tampak massa (33HU) yang menyangat post kontras (53HU) bentuk bulat, batas
tegas, tepi regular pada basis sellar dengan dural tail, ukuran 2x2 cm.

-midline tidak shift.

-Sulci dan gyri dalam batas normal

-sistem ventrikel dan ruang subarachnoid dalam batas normal

-Kedua orbita dan ruang retrobulbar dalam batas normal

-Perselubungan pada sinus sphenoidalis bilateral dan ethmoidalis kanan

8
-Air cell mastoid yang terscan dalam batas normal

Tulang-tulang yang terscan kesan intak

Kesan: Massa pada basis sellar sugestif meningioma

Malsinusitis

D. PATOLOGI ANATOMI (30/03/2015)


Sediaan massa tumor terdiri dari sel-sel bentuk bulat oval sampai spindle yang
tumbuh hiperplastis memadat,membentuk struktur whoris. Bentuk sel bulat, oval,
hiperkromatis,. Di antaranya tampak proliferasi pembuluh darah, struma jaringan ikat
fibrokolagen di sekitarnya, bersebukan sel darah limfosit disertai daerah perdarahan.
Kesimpulan: angiomatous meningioma (WHO GRADE I) a/r supratentorial

I.10. RESUME

Perempuan usia 34 tahun dengan keluhan nyeri kepala. Dialami +/- 6 bulan yang
lalu. Awalnya hilang-timbul kemudian terus menerus. Keluhan disertai mual-muntah,
penurunan visus, dan pada pasien ditemukan paraparese. Nyeri kepala kemudian
memberat +/- 2 bulan. Dan pasien berobat di RS Hasan Sadikin didiagnosis
meningioma, kemudian dilakukan operasi removal tumor.

Setelah operasi, pasien berobat di RS Wahidin Sudirohusodo dengan keluhan


demam disertai penurunan kesadaran, ada kejang. Tanda vital dalam batas normal,
pada pemeriksaan neurologis diperoleh kaku kuduk (+), kernigs sign (+), brudzinsky
(+). Pada pemeriksaan foto thorax,pulmo dan cor dalam batas normal, tidak tampak
metastasis. Dan hasil MSCT kepala terdapat mssa pada basis sellar sugestif
meningioma dan mallsinusitis. Hasil pemeriksaan patologi anatomi diperoleh
kesimpulan angiomatous meningioma (WHO GRADE I) a/r supratentorial.

9
I.11. DIAGNOSIS

Suspek meningitis ec post removal meningioma

I.12. PENATALAKSANAAN

Ceftriaxone 1 gr/12jam/intravena

Omeprazole 40 mg/12 jam/intravena

Paracetamol 500 mg

10
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Meningitis


Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter
(lapisan dalam selaput otak) dan arakhnoid serta dalam derajat yang lebih ringan
mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial. 1
Meningitis dibagi menjadi dua golongan berdasarkan perubahan yang terjadi
pada cairan otak yaitu meningitis serosa dan meningitis purulenta. Meningitis serosa
ditandai dengan jumlah sel dan protein yang meninggi disertai cairan serebrospinal
yang jernih. Penyebab yang paling sering dijumpai adalah kuman Tuberculosis dan
virus. Meningitis purulenta atau meningitis bakteri adalah meningitis yang bersifat
akut dan menghasilkan eksudat berupa pus serta bukan disebabkan oleh bakteri
spesifik maupun virus. Meningitis Meningococcus merupakan meningitis purulenta
yang paling sering terjadi.2
Penularan kuman dapat terjadi secara kontak langsung dengan penderita dan
droplet infection yaitu terkena percikan ludah, dahak, ingus, cairan bersin dan cairan
tenggorok penderita.3 Saluran nafas merupakan port dentree utama pada penularan
penyakit ini. Bakteri-bakteri ini disebarkan pada orang lain melalui pertukaran udara
dari pernafasan dan sekresi-sekresi tenggorokan yang masuk secara hematogen
(melalui aliran darah) ke dalam cairan serebrospinal dan memperbanyak diri
didalamnya sehingga menimbulkan peradangan pada selaput otak dan otak.4

2.2 Epidemilogi Meningitis


a. Orang/ Manusia
Umur dan daya tahan tubuh sangat mempengaruhi terjadinya meningitis.
Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan
distribusi terlihat lebih nyata pada bayi. Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada
bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna.5

11
Puncak insidensi kasus meningitis karena Haemophilus influenzae di negara
berkembang adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan, sedangkan di Amerika
Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan. Sebelum tahun 1990 atau sebelum adanya
vaksin untuk Haemophilus influenzae tipe b di Amerika Serikat, kira-kira 12.000
kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada umur < 5 tahun. Insidens Rate pada usia
< 5 tahun sebesar 40-100 per 100.000. Setelah 10 tahun penggunaan vaksin, Insidens
Rate menjadi 2,2 per 100.000. Di Uganda (2001-2002) Insidens Rate meningitis Hib
pada usia < 5 tahun sebesar 88 per 100.000.5
b. Tempat
Risiko penularan meningitis umumnya terjadi pada keadaan sosio-ekonomi
rendah, lingkungan yang padat (seperti asrama, tentara dan jemaah haji), dan penyakit
ISPA. Penyakit meningitis banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang
dibandingkan pada negara maju.5
Insidensi tertinggi terjadi di daerah yang disebut dengan the African Meningitis
belt, yang luas wilayahnya membentang dari Senegal sampai ke Ethiopia meliputi 21
negara. Kejadian penyakit ini terjadi secara sporadis dengan Insidens Rate 1-20 per
100.000 penduduk dan diselingi dengan KLB besar secara periodik. Di daerah
Malawi, Afrika pada tahun 2002 Insidens Rate meningitis yang disebabkan oleh
Haemophilus influenzae 20-40 per 100.000 penduduk.5
c. Waktu
Kejadian meningitis lebih sering terjadi pada musim panas dimana kasus- kasus
infeksi saluran pernafasan juga meningkat. Di Eropa dan Amerika utara insidensi
infeksi Meningococcus lebih tinggi pada musim dingin dan musim semi sedangkan di
daerah Sub-Sahara puncaknya terjadi pada musim kering. 5
Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi
selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar
virus.21 Di Amerika Serikat pada tahun 1981 Insidens Rate meningitis virus sebesar
10,9 per 100.000 Penduduk dan sebagian besar kasus terjadi pada musim panas. 6

12
2.3. Infectious Agent Meningitis
Meningitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, riketsia, jamur, cacing dan
protozoa. Penyebab paling sering adalah virus dan bakteri. Meningitis yang
disebabkan oleh bakteri berakibat lebih fatal dibandingkan meningitis penyebab lain
karena mekanisme kerusakan dan gangguan otak yang disebabkan oleh bakteri
maupun produk bakteri lebih berat.1 Infectious Agent meningitis purulenta
mempunyai kecenderungan pada golongan umur tertentu, yaitu golongan neonatus
paling banyak disebabkan oleh E.Coli, S.beta hemolitikus dan Listeria
monositogenes. Golongan umur dibawah 5 tahun (balita) disebabkan oleh
H.influenzae, Meningococcus dan Pneumococcus. Golongan umur 5-20 tahun
disebabkan oleh Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis dan Streptococcus
Pneumococcus, dan pada usia dewasa (>20 tahun) disebabkan oleh Meningococcus,
Pneumococcus, Stafilocccus, Streptococcus dan Listeria.20 Penyebab meningitis
serosa yang paling banyak ditemukan adalah kuman Tuberculosis dan virus.5
Meningitis yang disebabkan oleh virus mempunyai prognosis yang lebih baik,
cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Penyebab meningitis virus yang paling
sering ditemukan yaitu Mumpsvirus, Echovirus, dan Coxsackie virus , sedangkan
Herpes simplex , Herpes zooster, dan enterovirus jarang menjadi penyebab meningitis
aseptik(viral).6

2.4. Anatomi dan Fisiologi Selaput Otak7


Otak dan sum-sum tulang belakang diselimuti meningea yang melindungi
struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan sekresi cairan
serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
2.4.1. Lapisan Luar (Durameter)
Durameter merupakan tempat yang tidak kenyal yang membungkus otak,
sumsum tulang belakang, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Durameter
terbagi lagi atas durameter bagian luar yang disebut selaput tulang tengkorak
(periosteum) dan durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak

13
untuk membentuk falks serebrum, tentorium serebelum dan diafragma sella.
2.4.2. Lapisan Tengah (Arakhnoid)
Disebut juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan
durameter dengan piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi cairan otak
yang meliputi seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara durameter dan
arakhnoid disebut ruangan subdural yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai
getah bening. Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan vena yang
menghubungkan sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh cairan
serebrospinal.
2.4.3. Lapisan Dalam (Piameter)
Lapisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah
kecil yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Lapisan ini melekat
erat dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. Ruangan diantara arakhnoid
dan piameter disebut sub arakhnoid. Pada reaksi radang ruangan ini berisi sel radang.
Disini mengalir cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang.

2.5. Patofisiologi Meningitis


Meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran penyakit di organ
atau jaringan tubuh yang lain. Virus / bakteri menyebar secara hematogen sampai ke
selaput otak, misalnya pada penyakit Faringitis, Tonsilitis, Pneumonia,
Bronchopneumonia dan Endokarditis. Penyebaran bakteri/virus dapat pula secara
perkontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan yang ada di dekat selaput otak,
misalnya Abses otak, Otitis Media, Mastoiditis, Trombosis sinus kavernosus dan
Sinusitis. Penyebaran kuman bisa juga terjadi akibat trauma kepala dengan fraktur
terbuka atau komplikasi bedah otak. Invasi kuman-kuman ke dalam ruang
subaraknoid menyebabkan reaksi radang pada pia dan araknoid, CSS (Cairan
Serebrospinal) dan sistem ventrikulus.7
Mula-mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami
hiperemi; dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit

14
polimorfonuklear ke dalam ruang subarakhnoid, kemudian terbentuk eksudat. Dalam
beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua sel-
sel plasma. Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan, bagian luar mengandung
leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisaan dalam terdapat makrofag.7
Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan
dapat menyebabkan trombosis, infark otak, edema otak dan degenerasi neuron-
neuron. Trombosis serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen
menyebabkan kelainan kraniales. Pada Meningitis yang disebabkan oleh virus, cairan
serebrospinal tampak jernih dibandingkan Meningitis yang disebabkan oleh bakteri. 7

2.6. Gejala Klinis Meningitis


Meningitis ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti panas mendadak,
letargi, muntah dan kejang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan cairan
serebrospinal (CSS) melalui pungsi lumbal.8
Meningitis karena virus ditandai dengan cairan serebrospinal yang jernih serta
rasa sakit penderita tidak terlalu berat. Pada umumnya, meningitis yang disebabkan
oleh Mumpsvirus ditandai dengan gejala anoreksia dan malaise, kemudian diikuti
oleh pembesaran kelenjer parotid sebelum invasi kuman ke susunan saraf pusat. Pada
meningitis yang disebabkan oleh Echovirus ditandai dengan keluhan sakit kepala,
muntah, sakit tenggorok, nyeri otot, demam, dan disertai dengan timbulnya ruam
makopapular yang tidak gatal di daerah wajah, leher, dada, badan, dan ekstremitas.
Gejala yang tampak pada meningitis Coxsackie virus yaitu tampak lesi vasikuler pada
palatum, uvula, tonsil, dan lidah dan pada tahap lanjut timbul keluhan berupa sakit
kepala, muntah, demam, kaku leher, dan nyeri punggung.8
Meningitis bakteri biasanya didahului oleh gejala gangguan alat pernafasan dan
gastrointestinal. Meningitis bakteri pada neonatus terjadi secara akut dengan gejala
panas tinggi, mual, muntah, gangguan pernafasan, kejang, nafsu makan berkurang,
dehidrasi dan konstipasi, biasanya selalu ditandai dengan fontanella yang
mencembung. Kejang dialami lebih kurang 44 % anak dengan penyebab

15
Haemophilus influenzae, 25 % oleh Streptococcus pneumoniae, 21 % oleh
Streptococcus, dan 10 % oleh infeksi Meningococcus. Pada anak-anak dan dewasa
biasanya dimulai dengan gangguan saluran pernafasan bagian atas, penyakit juga
bersifat akut dengan gejala panas tinggi, nyeri kepala hebat, malaise, nyeri otot dan
nyeri punggung. Cairan serebrospinal tampak kabur, keruh atau purulen.9
Meningitis Tuberkulosa terdiri dari tiga stadium, yaitu stadium I atau stadium
prodormal selama 2-3 minggu dengan gejala ringan dan nampak seperti gejala infeksi
biasa. Pada anak-anak, permulaan penyakit bersifat subakut, sering tanpa demam,
muntah-muntah, nafsu makan berkurang, murung, berat badan turun, mudah
tersinggung, cengeng, opstipasi, pola tidur terganggu dan gangguan kesadaran berupa
apatis. Pada orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala,
konstipasi, kurang nafsu makan, fotofobia, nyeri punggung, halusinasi, dan sangat
gelisah.8
Stadium II atau stadium transisi berlangsung selama 1 3 minggu dengan
gejala penyakit lebih berat dimana penderita mengalami nyeri kepala yang hebat dan
kadang disertai kejang terutama pada bayi dan anak-anak. Tanda-tanda rangsangan
meningeal mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku, terdapat tanda-tanda
peningkatan intrakranial, ubun-ubun menonjol dan muntah lebih hebat. Stadium III
atau stadium terminal ditandai dengan kelumpuhan dan gangguan kesadaran sampai
koma. Pada stadium ini penderita dapat meninggal dunia dalam waktu tiga minggu
bila tidak mendapat pengobatan sebagaimana mestinya.8

2.7. Pemeriksaan Rangsangan Meningeal 9


2.7.1. Pemeriksaan Kaku Kuduk
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan pergerakan pasif berupa fleksi dan
rotasi kepala. Tanda kaku kuduk positif (+) bila didapatkan kekakuan dan tahanan
pada pergerakan fleksi kepala disertai rasa nyeri dan spasme otot. Dagu tidak dapat
disentuhkan ke dada dan juga didapatkan tahanan pada hiperekstensi dan rotasi
kepala.

16
2.7.2. Pemeriksaan Tanda Kernig
Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendi
panggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa
nyeri. Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135
(kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti
rasa nyeri.
2.7.3. Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)
Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya dibawah
kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi kepala dengan
cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada
pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.
2.7.4. Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)
Pasien berbaring terlentang dan dilakukan fleksi pasif paha pada sendi panggul
(seperti pada pemeriksaan Kernig). Tanda Brudzinski II positif (+) bila pada
pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada sendi panggul dan lutut kontralateral.

2.8. Pemeriksaan Penunjang Meningitis9


2.8.1. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Lumbal pungsi biasanya dilakukan untuk menganalisa jumlah sel dan protein
cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak ditemukan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
a. Pada Meningitis Serosa terdapat tekanan yang bervariasi, cairan jernih, sel
darah putih meningkat, glukosa dan protein normal, kultur (-).
b. Pada Meningitis Purulenta terdapat tekanan meningkat, cairan keruh, jumlah
sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun, kultur (+) beberapa jenis
bakteri.
2.8.2. Pemeriksaan darah
Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, Laju Endap Darah
(LED), kadar glukosa, kadar ureum, elektrolit dan kultur.

17
a. Pada Meningitis Serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Disamping
itu, pada Meningitis Tuberkulosa didapatkan juga peningkatan LED.
b. Pada Meningitis Purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
2.8.3. Pemeriksaan Radiologis
a. Pada Meningitis Serosa dilakukan foto dada, foto kepala, bila mungkin
dilakukan CT Scan.
b. Pada Meningitis Purulenta dilakukan foto kepala (periksa mastoid, sinus
paranasal, gigi geligi) dan foto dada.

2.9. Penatalaksanaan

Tujuan terapi adalah menghilangkan infeksi dengan menurunkan tanda-tanda


dan gejala serta mencegah kerusakan neurologik seperti kejang, tuli, koma dan
kematian. 9

2.9.1 Prinsip umum terapi

1. Pemberian cairan, eletrolit, antipiretik, analgesik, dan terapi


penunjang lain yang penting untuk pasien penderita meningitis akut
2. Terapi antibiotika empirik harus diberikan sesegera mungkin
untuk menghilangkan mikroba penyebab. Terapi antibiotik harus paling tidak
selama 48-72 jam atau sampai diagnosa ditegakkan
3. Meningitis yang disebabkan oleh S pneumonia, N
meningitidis, H influenza dapat sukses diterapi dengan antibiotik selama 7-14
hari. Pemberian lbih lama, 14-21 hari direkomendasikan untuk pasien yang
terinfeksi L monocytgees, Group B streptococci dan basil G enterik. Terapi
seharusnya secara idividu dan beberapa pasien mungkin memerlukan terapi
antibiotik lebih lama. 9
2.9.2 Terapi Farmakologi

18
1. Peningkatan inflamasi selaput otak akan meningkatkan
penetrasi antibiotik. Masalah penetrasi AB dapat diatasi dengan pemberian
AB langsung secara intratekal, intrasisternal, atau intraventrikuler.
2. Faktor2 yang memperkuat penetrasi ke CSS adalah BM yang
rendah, molekul yang tidak terion, kearutan dalam lemak, dan ikatan protein
yang kecil.
3. Deksametason sebagai terapi adjuvan, juga sering digunakan
pada kasus meningitis anak, karena dapat menyebabkan perbaikan yang nyata
pada konsentrasi glukosa dan laktat CSS serta juga mnurunkan dengan nyata
kejadian gangguan neurologi yang umum berkaitan dengan meningitis
4. The american academy of pediatric menyarankan penggunaan
deksa untuk bayi dan anak berusia 2 bulan atau lebih tua yang menderita
meningitis pneumokokus dan meningitis H influenza. Dosis umum deksa Iv
adalah 0,15 mg/kg setiap 6jam selama 4 hari. Atau deksa 0,15 mg/kg setiap
6jam untuk 2 hari atau 0,4 mg/kg setiap 12 jam untuk 2 hari, efektifitasnya
sebandig dan kurang menimbulkan toksisitas potensial.
5. Deksa harus diberikan sebelum dosis pertama AB dan Hb dan
tinja guaiak (pucat) harus dimonitor untuk mengethui pendarahan saluran
cerna.
Pada jam-jam pertama, penderita harus diamati secara intensif karena shock
dapat terjadi setelah penderita mendapat antibiotika. Perlu diingat bahwa mengikuti
perkembangan (monitor) tekanan darah sistolik pada penderita anak-anak tidaklah
memadai untuk dapat mengawasi terjadinya shock. Indikator yang lebih baik adalah:
tekanan darah diastolik yang rendah, pengisian kapiler yang terlambat, ekstrimitas
yang dingin, dan takikardia. Terapi antibiotika harus dimulai sedini mungkin.
Keprihatinan bahwa pemberian antibiotika yang dini menyebabkan bertambah
buruknya keadaan klinik penderita karena antibiotika (terutama dari golongan -
lactam) menginduksi pelepasan endotoksin belum pernah terbukti secara klinis.
Sebaliknya, penundaan terapi antibiotika dapat berakibat meningkatnya proses-proses

19
bakteriologis dan menyebabkan response peradangan yang berakibat buruk. Bilamana
pemberian antibiotika dilakukan pada waktu penyakit telah berjalan lanjut misalnya
pada saat lesi iskemik telah berjalan, lebih banyak kuman yang dapat lolos dari efek
antibiotika. 9

Penanganan shock perlu dilakukan sebaik-baiknya dan secepatnya. Oleh karena


disamping terjadi kebocoran kapiler secara ekstensif, stadium awal FMS juga diikuti
oleh depresi kardiac yang berat sehingga dapat timbul kongesti pulmonal, maka
jumlah pemberian cairan perlu diperhatikan. Secara umum, suport inotropik dan
vasopresif dibutuhkan sejak awal penyakit. Hipoglikemia mungkin ditemukan pada
bayi, dan ini perlu segera dikoreksi. Penggunaan glukokortikoid pada pengobatan
FMS masih bersifat kontroversial. Sampai awal tahun 1980-an, pemakaian
glukokortikoid secara luas diterima sebagai terapi baku yang dapat menurunkan
angka kematian pada infeksi meningokok .

Pada keadaan di mana tidak ada ancaman untuk terjadinya hernia serebral atau
shock, pengobatan meningitis meningokok secara relatif lebih sederhana dan hanya
membutuhkan antibiotik parenteral serta pengawasan yang intensif dari penderita.

Penanganan penderita meningitis bakterial akut harus segera diberikan begitu


diagnosa ditegakkan. Penatalaksanaan meningitis bakterial akut terbagi dua yakni
penatalaksanaan konservatif/ medikal dan operatif. 9

1. Terapi Konservatif/Medikal

a. Antibiotika

Pemilihan obat-obatan antibiotika, harus terlebih dahulu dilakukan kultur darah


dan Lumbal Punksi guna pembrian antibiotika disesuaikan dengan kuman penyebab.

20
Pemilihan antimikrobial pada meningitis otogenik tergantung pada pemilihan
antibiotika yang dapat menembus sawar darah otak, bakteri penyebab serta perubahan
dari sumber dasar infeksi. Bakteriologikal dan respons gejala klinis kemungkinan
akan menjadi lambat, dan pengobatan akan dilanjutkan paling sedikit 14 hari setelah
hasil kultur CSF akan menjadi negatif. 9

b. Kortikosteroid

Efek anti inflamasi dari terapi steroid dapat menurunkan edema serebri,
mengurangi tekanan intrakranial, akan tetapi pemberian steroid dapat menurunkan
penetrasi antibiotika ke dalam abses dan dapat memperlambat pengkapsulan abses,
oleh karena itu penggunaaan secara rutin tidak dianjurkan. Oleh karena itu
kortikosteroid sebaiknya hanya digunakan untuk tujuan mengurangi efek masa atau
edema pada herniasi yang mengancam dan menimbulkan defisit neurologik fokal. 9

Lebel et al (1988) melakukan penelitian pada 200 bayi dan anak yang
menderita meningitis bacterial karena H. influenzae dan mendapat terapi
deksamethason 0,15 mg/kgBB/x tiap 6 jam selama 4 hari, 20 menit sebelum
pemberian antibiotika. Ternyata pada pemeriksaan 24 jam kemudian didapatkan
penurunan tekanan CSF, peningkatan kadar glukosa CSF dan penurunan kadar
protein CSF. Yang mengesankan dari penelitian ini bahwa gejala sisa berupa
gangguan pendengaran pada kelompok yang mendapatkan deksamethason adalah
lebih rendah dibandingkan kontrol. Tunkel dan Scheld (1995) menganjurkan
pemberian deksamethason hanya pada penderita dengan resiko tinggi, atau pada
penderita dengan status mental sangat terganggu, edema otak atau tekanan
intrakranial tinggi. Hal ini mengingat efek samping penggunaan deksamethason yang
cukup banyak seperti perdarahan traktus gastrointestinal, penurunan fungsi imun
seluler sehingga menjadi peka terhadap patogen lain dan mengurangi penetrasi
antibiotika kedalam CSF. 9

21
2.10. Prognosis Meningitis
Prognosis meningitis tergantung kepada umur, mikroorganisme spesifik yang
menimbulkan penyakit, banyaknya organisme dalam selaput otak, jenis meningitis
dan lama penyakit sebelum diberikan antibiotik. Penderita usia neonatus, anak-anak
dan dewasa tua mempunyai prognosis yang semakin jelek, yaitu dapat menimbulkan
cacat berat dan kematian.9
Pengobatan antibiotika yang adekuat dapat menurunkan mortalitas meningitis
purulenta, tetapi 50% dari penderita yang selamat akan mengalami sequelle (akibat
sisa). Lima puluh persen meningitis purulenta mengakibatkan kecacatan seperti
ketulian, keterlambatan berbicara dan gangguan perkembangan mental, dan 5 10%
penderita mengalami kematian. 9
Pada meningitis Tuberkulosa, angka kecacatan dan kematian pada umumnya
tinggi. Prognosa jelek pada bayi dan orang tua. Angka kematian meningitis TBC
dipengaruhi oleh umur dan pada stadium berapa penderita mencari pengobatan.
Penderita dapat meninggal dalam waktu 6-8 minggu. 9
Penderita meningitis karena virus biasanya menunjukkan gejala klinis yang
lebih ringan,penurunan kesadaran jarang ditemukan. Meningitis viral memiliki
prognosis yang jauh lebih baik. Sebagian penderita sembuh dalam 1 2 minggu dan
dengan pengobatan yang tepat penyembuhan total bisa terjadi.9

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Harsono, 2003. Kapita Selekta Neurologi, Edisi Kedua. Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta.
2. Markam, S., 1992. Penuntun Neurologi, Cetakan Pertama. Binarupa Aksara,
Jakarta.
3. Mansjoer, A.,dkk., 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga. Media
Aesculapius, Jakarta.
4. Lewis, R., dkk.,2008. Action for Child Survival Elimination of Haemophilus
Influenzae Type b Meningitis in Uganda. Bulletin of the World Health
Organization,Vol.86,No.4 :292-301,Uganda
5. Devarajan, V ., 2008. Haemophilus Influenzae Infection.
http://www.meningitisemedicine.com
6. Nelson, 1996. Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2. Kedokteran EGC, Jakarta.
7. Suwono, W., 1996. Diagnosis Topik Neurologi, Edisi Kedua. Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
8. Harsono, 1996. Buku Ajar Neurologi Klinis, Edisi Pertama. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
9. Juwono, T., 1993. Penatalaksanaan Kasus-kasus Darurat Neurologi. Widya
Medika, Jakarta.

23