Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH PENILAIAN STATUS GIZI

PENGENALAN ALAT ANTROPOMETRI

OLEH:

FITRAH KHOIRUN NISA

NIM :1613411024

POLTEKKES KEMENKES TANJUNG KARANG

JURUSAN GIZI

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Antropometri merupakan salah satu alat ukur yang digunakan dalam


penentuan status gizi pada anak-anak maupun orang dewasa pada masyarakat.
Salah satu ukuran antropometri yang sering digunakan adalah pengukuran
berat badan serta tinggi badan. Selain itu juga sering digunakan pengukuran
tebal lemak di bawah kulit serta lingkar lengan atas. Pengukuran berat badan
pada dewasa ini merupakan sesuatu yang menjadi masalah bagi sebagian
orang, terutama pada orang dewasa (Waspadji dkk, 2010). Laporan
FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal
orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index atau yang
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Indeks Massa Tubuh (IMT).
IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang
dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat
badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang
dapat mencapai harapan hidup lebih panjang (Supariasa dkk., 2001).
Pengukuran antropometri terdiri dari body mass index (BMI), pengukuran
lingkar pinggang, rasio lingkar panggul pinggang, skinfold measurement,
waist stature rasio, percentage body fat, serta rasio lingkar pinggang terhadap
tinggi badan. Pengukuran antropometri pada umumnya dilakukan untuk
melihat prediksi gangguan metabolik.Terdapat korelasi yang kuat antara
pengukuran antropometri dengan gangguan metabolik pada seseorang.
Walaupun sebenarnya banyak hal yang mempengaruhi metabolisme
seseorang, seperti usia, jenis kelamin, ras, etnis, agama, genetik, dan lain-lain.
Selain korelasi yang kuat dengan metabolisme seseorang, pengukuran
antropometri juga sering dilakukan dengan alasan mudah dalam hal
pelaksanaannya serta lebih cepat dan murah.
Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering
digunakanadalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi
masyarakat, pemantauanstatus gizi anak balita menggunakan metode
antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping itu pula dalam
kegiatan penapisan status gizimasyarakat selalu menggunakan metode tersebut
(Supariasa, dkk., 2001).

Aplikasi antropometri sebagai metode bioantropologi ke dalam


kedokteranmanjadi bermakna apabila disertai latar belakang teori yang
adekuat tentangpertumbuhan. Berdasarkan tujuan penelitian pengukuran
antropometri, setidak-tidaknya ada lima hal penting yang mewakili tujuan
pengukuran yaitu mengetahuikekern otot, kekekaran tualng, ukuran tubuh
secara umum, panjang tungkai danlengan, serta kandungan lemak tubuh di
ekstremitas dan di torso. Dalampemakaian untuk penilaian status gizi,
antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut
umur (BB/U), tinggi badan menurut umur(TB/U) atau berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atasmenurut umur (LILA/U) dan
sebagainya . Karena antropometri sebagai indikator penilaian status gizi yang
palingmudah yang dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter,
antara lain:umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar
kepala, lingkar dada,lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Oleh
karena itu, untuk mengetahuistatus gizi seseorang, maka dilakukan
pengukuran antropometri ini

1.2 Tujuan Praktikum


A. TujuanUmum
Untuk mengetahui Penilaian status gizi secara antropometri
B. TujuanKhusus
1. Untuk mengetahui cara memasang dan menggunakan mikrotois
2. Untuk mengetahui cara memasang dan menggunakan dacin
3. Untuk mengetahui pengukuran Panjang Badan pada bayi
4. Untuk mengetahui pengukuran lingkar lengan atas (LILA).
BAB II
TINJAUAN PUSAKA

2.1 Status Gizi


2.1.1 Pengertian status gizi
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang
dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di
dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang,
gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2002). Menurut Hartono (2006), status
gizi adalah keadaan kesehatan yang yang ditentukan oleh nutrient yang
diterima dan dimanfaatkan oleh tubuh. Status gizi dapat dinilai melalui
wawancara gizi seperti food recall, pemeriksaan antropometrik ( berat badan,
indeks masa tubuh, lingkaran perut, dll ) dan penunjang lainnya (
laboratorium,body composition analysis ).
Status gizi seseorang secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi tiga
yaitu status gizi kurang, status gizi baik, status gizi lebih (Almatsier, 2002).
Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering
disebut reference. Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia
adalah World Health Organization National Centre for Health Statistik
(WHONCHS). Berdasarkan baku WHO - NCHS status gizi dibagi menjadi
empat : Pertama, gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan
obesitas. Kedua, Gizi baik untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk
under weight yang mencakup mild dan moderat, PCM (Protein Calori
Malnutrition). Keempat, Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus,
marasmik-kwasiorkor dan kwashiorkor (Supariasa, 2001).
2.1.2 Faktor yang mempengaruhi status gizi
2.1.2.1 Pengetahuan Gizi
Pengetahuan ( knowledge ) merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah
orang melakukan penginderaan suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, penciuman,
pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2003).
Adanya pengetahuan gizi yang baik merupakan faktor yang sangat penting
dalam menentukan sikap dan perilaku seseorang terhadap makanan.Selain itu,
pengetahuan gizi mempunyai peranan penting untuk dapat membuat manusia
hidup sejahtera dan berkualitas.Semakin banyak pengetahuan gizinya semakin
diperhitungkan jenis dan kualitas makanan yang dipilih dikonsumsinya
(Soediaoetama, 2000).
Suatu perbuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng
daripada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan orang yang
mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses
sebagai berikut :
1. Kesadaran (Awareness) dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap objek (stimulus)
2. Merasa tertarik (Interest) terhadap stimulus atau obyek tertentu. Disini
sikap subyek sudah mulai timbul.
3. Menimbang-nimbang (evaluation) terhadap baik dan tidaknya terhadap
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah tidak
baik lagi.
4. Trial, dimana subyek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
5. Adopsi (adoption), dimana subyek telah berprilaku baru sesuai
denganpengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus
(Notoatmodjo, 2007).
Tingkat pengetahuan gizi yang tinggi dapat membentuk sikap positif
terhadap masalah gizi. Pada akhirnya pengetahuan akan mendorong untuk
menyediakan makanan sehari-hari daam jumlah dan kualitas gizi yang sesuai
dengan kebutuhan. Sebagai alat memberikan penyuluhan pangan dan gizi
kepada masyarakat luas dalam rangka memasyarakatkan gizi seimbang, pada
tahun 1995 Direktorat Gizi Depkes telah mengeluarkan pedoman umum gizi
seimbang (PUGS).
Pedoman ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu rekomendasi
konferensi gizi internasional di Roma pada tahun 1992 untuk mencapai dan
memelihara kesehatan dan kesejahteraan gizi (nutritional well-being) semua
penduduk yang merupakan prasyarat untuk pembangunan sumberdaya
manusia. PUGS merupakan penjabaran lebih lanjut dari pedoman 4 sehat 5
semprna yang memuat pesan-pesan yang berkaitan dengan pencegahan
masalah gizi kurang, maupun masalah gizi lebih yang selama 20 tahun terakhir
telah mulai menampakkan diri

2.2 Pengukuran Lingkar Lengan Atas


a. Pengertian Pengukuran LILA
Pengukuran LILA adalah suatu cara untuk mengetahui resiko kekurangan
energi protein (KEP) wanita usia subur (WUS). Pengukuraan LILA dapat
digunakan untuk memantau status gizi dalam jangka pendek.Pengukuran
LILA digunakan karena pengukurannya sangat mudah dan dapat
dilakukan oleh siapa saja.
b. Tujuan Pengukuran LILA
Beberapa tujuan pengukuran LILA adalah mencakup masalah WUS
(Wanita Usia Subur) baik ibu hamil maupun calon ibu, masyarakat umum
dan peran petugas lintas sektoral. Adapun tujuan tersebut adalah
:mengetahui resiko KEK WUS, baik ibu hamil maupun calon ibu, untuk
menapis wanita yang mempunyai risiko melahirkan bayi berat lahir rendah
(BBLR), meningkatkan perhatian dan kesadaran masyarakat agar lebih
berperan dalam pencegahan dan penanggulangan KEK, mengembangkan
gagasan baru di kalangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan
kesejahteraan ibu dan anak, meningkatkan peran petugas lintas sektoral
dalam upaya perbaikan gizi WUS yang menderita KEK dan mengarahkan
pelayanan kesehatan pada kelompok sasaran WUS yang menderita
KEK.(Supariasa,2001)
2.3 Pengukuran dan Pemasangan Mikrotois
Mikrotoise adalah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi badan
seseorang. Dalam menggunakan mikrotoise seseorang perlu berhati-hati
dan teliti saat memasang alat sebelum digunakan. Selain itu perlu
diperhatikan pula prosedur pelaksanaan pengukuran tinggi bada yang tepat
untuk mendapatkan hasil yang benar.
2.4 Infantometer
Infantometer/ length board (papan pengukur panjang badan) adalah papan
yang dirancang untuk ditempatkan diatas permukaan datar dan keras untuk
mengukur panjang badan (berbaring/ telentang) untuk anak kurang dari 2
tahun.

2.5 Timbangan Dacin

Timbangan Dacin adalah alat untuk menimbang sesuatu berupa tongkat yg


diberi skala yg dilengkapi dng anak timbangan dan tempat untuk meletakkan
barang (yg ditimbang, digantungkan pd tongkat tsb)

Spesifikasi:

Timbangan bayi kapasitas 25 Kg

Dilengkapi celana timbang dari bahan kain drill

Bahan utama timbangan terbuat dari kuningan dengan berat sendiri 5


kg

Panjang batang timbangan 90 cm.

Graduasi 0,1 Kg.

Gelang gatung diganti dengan kain gantungan yang bentuknya tidak


runcing, supaya aman bagi bayi.

Ada cap TERA ,

Tertulis KHUSUS BALITA pada lengan timbangan.


BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Rabu/ 18 Oktober 2017
Waktu : pukul 09.00 s.d. 11.50
Tempat :Laboratorium PKG dan PSG

3.2 Alat dan Bahan


Alat
- Pita LILA
- Mikrotois
- Dacin
- Infantometer
Bahan
- Seseorang yang akan diukur

3.3 Prosedur Kerja

1. Pengukuran berat badan dengan menggunakan dacin


a. Identifikasi kebutuhan peralatan
A. Periksa kelengkapan peralatan yang dibutuhkan yaitu
Dacin dengan kapasitas 25 Kg
Sarung timbang/kotak timbang
Tempat untuk menggantung dacin:tripod,dll
Alat tulis
B. Periksa kondisi peralatan : cek fungsi,kalibrasi,keadaan
alat(rusak/layak/baik)
b. Persiapan peralatan
1) Gantung dacin pada tempat yang kokoh seperti tripod, kusen pintu,
dahan pohon yang kuat dan atur batang dacin sejajar dengan mata
penimbang
2) Periksa apakah dacin sudah tergantung dengan kuat
3) Pastikan bandul geser terletak pada angka nol
4) Pasang sarung timbang pada dacin
5) Seimbangkan dacin dengan cara menambahkan kantong plastik
pada ujung batang dacin kemudian diisi pasir secukupnya sampai
kedua ujung jarum dacin menjadi tegak lurus
c. Pelaksanaan penimbangan
1) Masukkan balita kedalam sarung timbang dalam keadaan pakaian
seminimal mungkin
2) Baca berat badan Balita dengan cara melihat angka pada ujung
bandul geser
3) Catat hasil penimbangan berat badan dengan benar dalam satuan
kilogram dan ons(satu desimal)
4) Kembalikan bandul geser keangka nol dan turunkan Balita dari
sarung timbang
2. Pengukuran panjang badan bayi dengan infantometer
a. Persiapan
1) Letakkan alat pengukur pada permukaan yang keras dan rata,
misalnya meja panjang atau lantai
2) Letakkan alat ukur dengan posisi panel kepala disebelah kiri dan
panel penggeser disebelah kanan pengukur. Panel kepala adalah
bagian yang tidak bisa digeser(statis)
3) Untuk alat ukur yang menggunakan skla ukur mikrotois lakukan
kalibrasi alat dengan cara menggeser panel geser sampai menempel
pada bagian statis kemudian pastikan ukuran menunjukan angka
nol.jika belum tepat putar sekrup kalibrasi sampai ukuran tepat
menunjukan angka nol.
4) Tarik panel geser menjauhi bagian statis untuk memberi ruang
yang cukup untuk membaringkan anak.
b. Pengukuran
1) Lepas semua asesoris yang menempel dikepala anak seperti topi,
bando, jepit rambut dan alas kaki seperti sepatu, sandal, kaus kaki
tebal, agar tidak mempengaruhi hasil pengukuran .
2) Dengan bantuan asisten pengukur, anak dibaringkan dipermukaan
alat ukur dengan posisi bagian kepala anak menempel pada panel
statis.
3) Asisten pengukur membantu memegang kepala anak dengan
nyaman sehingga posisi Frankfurt Plane tegak lurus bidang
horisontal(garis pandang si anak harus tegak lurus dengan
permukaan alat ukur dan kepala asisten pengukur harus lurus
dengan kepala anak, pandangan asisten pegukur langsung ke mata
anak)
4) Mintalah ibu si anak untuk berada disebelah alat ukur menghadap
alat ukur untuk menenangkan anak.
5) Tangan kiri pengukur merapatkan kaki anak dan memegang kedua
bagian lutut atau diujung tulang kering anak(sedikit diatas sendi
mata kaki) agar posisi kaki anak menempel lurus pada alas ukur.
Jika anak tidak dapat tenang ketika diukur maka hanya kaki kiri
anak saja yang diposisikan untuk pengukuran.
6) Tangan kanan pengukur memegang telapak kaki sampai tegak
lurus, kemudian geser panel geser sampai menempel rapat pada
telapak kaki anak. Apabila telapak kaki anak sulit untuk tegak
lurus maka usap/gelitik dengan lembut telapak kaki anak hingga
mudah diatur pada posisi tegak lurus.
7) Bacalah hasil ukur panjang badan anak pada skala kearah yang
lebih besar dalam satuan cm dengan ketelitian 1 mm kemudian
catat dengan format 1 angka dibelakang koma misalnya 80,5
8) Setelah pengukuran selesai, kemudian anak diangkat dari alat ukur

3. Pengukuran tinggi badan menggunakan mikrotois


a. Persiapan
1) Gantungkan bandul dengan benang untuk penanda dalam
membantu memasang mikrotois didinding agar tegak lurus.
2) Letakkan dan tahan alat pengukur dilantai yang datar tidak jauh
dari bandul tersebut dan menempel pada dinding. Dinding jangan
ada lekukan atau tonjolan.
3) Tarik ujung meteran tegak lurus keatas, sejajar dengan benang
berbandul yang tergantung sampai angka pada jendela baca
menunjukan angka 0(nol).
4) Ujung meteran kemudian dipaku atau direkatkan dengan kuat
mengguanakan lakban kedinding.
5) Untuk menghindari terjadi perubahan posisi mikrotois dapat
ditambahkan lagi perekat pada posisi sekitar 10 cm dari bagian atas
ujung meteran.
6) Geser ke atas mikrotois sehingga memberikan ruang yang cukup
untuk subjek yang akan diukur.
b. Pengukuran
1) Minta subjek yang akan diukr untuk melepaskan alas
kaki(sepatu/sandal), topi (penutup kepala) dan asesori lain yang
bisa mempengaruhi hasil pengukuran.
2) Subjek diminta berdiri tegak, persis tepat dibawah alat geser
mikrotois.
3) Pastikan posisi kepala, punggung, pantat, betis, dan tumit
menempel pada dinding tempat mikrotois dipasang.
4) Pandangan subjek lurus kedepan, dan tangan dalam posisi
tergantung bebas.
5) Turunkan alat geser mikrotois sampai menyentuh bagian atas
kepala subjek dan pastikan alat geser berada tepat ditengah kepala
subjek. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap
menempel pada dinding.
6) Baca hasil ukur tinggi badan pada jendela baca kearah yang lebih
besar(kebawah). Pembacaan dilakukan tepat didepan angka(skala)
pada garis merah, sejajar dengan mata pengukur. Apabila pengukur
lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri diatas
bangku agar hasil pembacaannya benar.
7) Pencatatan dilakukan dengan keteltian sampai satu angka
dibelakang koma (0,1 cm). Contoh 157,3 cm
4. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
a. Persiapan
1) Pastikan pita LILA tidak kusut, tidak terlipat-lipat atau tidak sobek
2) Jika lengan subjek >33cm, gunakan meteran kain
3) Lengan yang akan diukur adalah lengan sebelah kiri (lengan yang
kurang dominan) tidak tertutup kain atau pakaian. Jika lengan kiri
lumpuh, yang diukur adalah lengan kanan (beri keterangan pada
kolom catatan pengumpul data).
4) Sebelum pengukuran, dengan sopan minta izin kepada subjek
bahwa petugas akan menyingsingkan baju lengan kiri pasien
sampai pangkal bahu. Bila pasien keberatan, minta izin pengukuran
dilakukan didalam ruangan yang tertutup.
5) Subjek diminta berdiri dengan tegak tetapi rileks, tidak memegang
apapun serta otot lengan tidak tegang.
b. Pengukuran
1) Tentukan posisi pangkal bahu.
2) Tentukan posisi ujung siku dengan cara siku dilipat dengan telapak
tangan kearah perut.
3) Tentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan
menggunakan pita LILA atau meteran dan beri tanda dengan
pulpen/spidol (sebelumnya dengan sopan minta izin kepada
subjek). Bila menggunakan pita LILA perhatikan titik nolnya.
4) Lingkarkan pita LILA sesuai tanda pulpen disekeliling lengan
subjek sesuai tanda(dipertengahan antara pangkal bahu dan siku).
5) Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LILA.
6) Pita ditarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau longgar.
7) Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada pita LILA
(kearah angka yang lebih besar).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
No Nama Alat Kegunaan
1. Dacin Dacin digunakan untuk
menimbang berat badan
pada balita

2. Infantometer Infantometer merupakan


alat untuk mengukur
panjang badan baduta.

3. Mikrotois Digunakan untuk


mengukur tinggi badan

4. Pita LILA Untuk mengukur lingkar


lengan atas
4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengenalan terhadap alat-alat antropometri
yaitu Pita LILA, Mikrotois, Dacin, dan Infantometer.
Pengukuran LILA
LILA merupakan salah satu cara untuk mengetahui keadaan gizi Wanita
Usia Subur (WUS) yang paling sederhana dengan cara melingkarkan pita
lila di bagian lengan kiri ibu. Dalam pengamatan dengan menggunakan
parameter LILA (lingkar lengan atas) menunjukkan ukuran LILA saya
yang berada di bawah ukuran normal yaitu 22,5cm sedangkan angka atau
batas normal untuk LILA yaitu 23,5 cm dan ini membuktikan
bahwa saya termasuk dalam keadaan KEK (kekurangan energ kronik).

LILA menurut Afif dan ardiani (2012) menunjukkan adanya


fenomena yaitu terdapat 3 responden dengan status KEK tetapi bayinya
lahir normal dan responden yang normal tetapi bayinya lahir BBLR. Hal
ini dikarenakan tidak hanya LILA yang mempengaruhi terjadinya BBLR.
BBLR juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti kesehatan ibu dan gizi
saat hamil. Berat badan lahir dipengaruhi oleh berbagai faktor salah
satunya Hemoglobin. Anemia gizi akibat kekurangan zat besi sering
terjadi karena meningkatnya volume darah selama hamil, di samping zat
besi diperlukan untuk pembentukan darah dalam tubuh janin. Anemia
pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko berat bayi lahir menjadi
rendah.

Menurut Nega Assefa1,dkk (2012), menyatakan bahwa LLA pada


ibu yang kurang dari 23cm dianggap menjadi tanda miskin nutrisi. LLA
tidak berbeda jauh selama kehamilan dan karena itu merupakan langkah
yang tepat status gizi daripada BMI atau berat badan. Bayi yang lahir dari
ibu yang miskin, gizi, kekerasan fisik dialami selama kehamilan akan
mengalami BBLR. Dalam komunitas ini sebagian besar miskin di mana
cakupan ANC rendah, untuk mengurangi kejadian BBLR, adalah penting
untuk meningkatkan akses untuk perawatan kesehatan ibu.

Pengukuran tinggi badan menggunakan Mikrotois


Pengukuran tinggi badan bermaksud untuk menjadikanya sebagai
bahan menentukan status gizi.Status gizi yang ditentukan dengan
tinggi badan tergolong untuk mengukur pertumbuhan linier.
Pertumbuhan linier adalah pertumbuhan tulang rangka, terutama
rangka extrimitas (tungai dna lengan). Untuk tinggi badan peranan
tungkai yang dominan. Pengukuran tinggu badan orang dewasa, atau
yang sudah bisa berdiri digunakan alat microtoise (baca: mikrotoa)
dengan skala maksimal 2 meter dengan ketelitian 0,1 cm. Persyaratan
tempat pemasangan alat adalah didinding harus datar dan rata dan
tegak lurus dengan lantai. Dinding yang memiliki banduk di bagian
bawah (bisanya pada lantai keramik) tidak bisa digunakan. Hal yang
harus diperhatikan saat pemasangan mikrotoise adalah saat sudah
terpasang dan direntang maksimal ke lantai harus terbaca pada skala 0
cm.
Pengukuran panjang badan pada bayi
Kriteria utama untuk menentukan status gizi pada bayi dibawah usia 2
tahun adalah dengan menggunakan indeks antropometri. Ada 3 indeks
yang dipakai yaitu berat badan untuk umur, panjang badan untuk
umur dan berat badan untuk panjang badan. Status gizi dapat
diklasifikasikan status gizi baik, kurang, buruk atau lebih. Pengukuran
anthropometri dibutuhkan untuk mengetahui status gizi
seseorang. Pengukuran panjang badan dimaksudkan untuk
mendapatkan data panjang badananak yang belum bisa berdiri agar
dapat diketahui status gizi anak. Untuk mengukur panjang badan bayi
digunakan alat ukur yang disebut Length Board atau Infantometer.
Pengukuran berat badan bayi dengan dacin
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan
paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan
digunakan untuk mendiagnosis bayi normal atau BBLR. Dikatakan
BBLR apabila berat bayi-balita, berat bayi lahir di bawah 2500 gram
atau di bawah 2,5 kg. Pada masa bayi-balita, berat badan dapat
dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status
gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperti dehidrasi, asites, edema,
dan adanya tumor. Di samping itu pula berat badan dapat
dipergunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan
(Hartono, 2008).
Berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air dan
mineral pada tulang. Pada remaja, lemak tubuh cenderung meningkat,
dan protein otot menurun. Pada orang yang edema dan asites terjadi
penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan
jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi
(Supariasa, 2002).
Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan
dianjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak balita adalah
dacin :
1. Dacin sudah dikenal umum sampai di pelosok pedesaan
2. Dibuat di Indonesia, bukan impor, dan mudah didapat
3. Ketelitian dan ketetapan cukup baik
Dacin yang digunakan sebaiknya minimum 20 kg dan maksimum 25
kg. Bila digunakan dacin berkapasitas 50 kg dapat juga, tetapi
hasilnya agak kasar, karena angka ketelitiannya 0,25 kg.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pengukuran Antropometri adalah pengukuran pada diri pasien/klien
tentang dimensi, komposisi dan/atau pembangkakan tubuh, termasuk :
berat badan, tinggi badan, lingkar tubuh, panjang anggota, tebal
lemak, indeks masa tubuh, oedem.
mikrotois adalah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi badan.
Memiliki ketelitian 0,1 cm.
Dacin adalah alat yang digunakan untuk menimbang berat badan
dengan kapasitas 25 kg.
Pita LILA adalah alat yang digunakan untuk mengukur lingkar lengan
atas untuk mendeteksi masalah gizi ynag terkait.
Infantometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur panjang
badan pada baduta.
DAFTAR PUSTAKA

Supariasa, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Afif maulidiyah & adiani sulistiani. 2012. Jurnal kebidanan, vol. IV. No.01, Juni
2012. Hungan lingkar lengan atas (LILA) dan kadar hemoglobin dengan berat
lahir.

Assefa, N,. Berhane, Y. & Worku, A. (2012). Wealth Status, Mid Upper Arm
Circumference (MUAC) and Antenatal Care (ANC) Are Determinants for Low
Birth Weight in Kersa, Ethiopia. PLoS ONE www.plosone.org June 2012, Vol.
7 Issue 6 e39957.
LAMPIRAN

Pengukuran LILA

Pemasangan dan penimbangan dengan dacin


Penggunaan dan pengukuran dengan mikrotois

Penggunaan dan pengukuran dengan infantometer