Anda di halaman 1dari 151

STUDI GENDER DALAM PROGRAM PEMBANGKIT

LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) BAGI


RUMAHTANGGA MISKIN
(Kasus di Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang,
Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat)

Oleh:
ERNA SAFITRI PURWANINGTYAS
A 14204060

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN
ERNA SAFITRI PURWANINGTYAS. STUDI GENDER DALAM
PROGRAM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH)
BAGI RUMAHTANGGA MISKIN. Kasus di Desa Cinta Mekar, Kecamatan
Serangpanjang, Kabupaten Subang, Jawa Barat (Di bawah bimbingan SITI
SUGIAH MUGNIESYAH).

Pemerintah mengakui belum meratanya pelayanan ketenagalistrikan

seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7

Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun

(RPJMN) 2004-2009, untuk itu salah satu arah kebijakan pembangunan

ketenagalistrikan ditujukan ke arah peningkatan partisipasi investasi swasta,

pemerintah daerah, koperasi dan masyarakat dalam menyediakan sarana dan

prasarana ketenagalistrikan. Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan

(IBEKA) merespon kebijakan tersebut dengan mengintroduksikan elektrifikasi

pedesaan yang menggunakan sumber energi terbaharui yang dikenal sebagai

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro atau PLTMH (Micro Hydropower Plant

or MHP). Publikasi berkenaan keberhasilan Yayasan IBEKA dalam

pemberdayaan miskin belum didasarkan pada suatu penelitian yang bersifat

berperspektif gender. Menarik untuk mengetahui secara lebih utuh tentang

kegiatan Yayasan IBEKA khususnya dalam konteks peningkatan kualitas

sumberdaya manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dengan mengacu pada

kebijakan pemerintah melalui INPRES Nomor 9 Tahun 2000 tentang

Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam pembangunan nasional.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengenai: (1)

Penetapan target sasaran oleh Yayasan IBEKA dibanding dengan kriteria BPS, (2)
Pelaksanaan program PLTMH berdasar pada prinsip-prinsip pemberdayaan, (3)

Akses, kontrol, manfaat dan partisipasi perempuan dan laki-laki dari rumahtangga

miskin, serta efek yang ditimbulkan dari program PLTMH, (4) Pemenuhan

kebutuhan praktis dan strategis gender dalam program PLTMH, (5) Pemenuhan

level kesetaraan gender dan level isu perempuan menurut Kerangka Longwe.

Penelitian dilaksanakan di Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang,

Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat. Dengan pertimbangan bahwa di lokasi

ini terdapat program pembangunan PLTMH yang telah dilaksanakan pada periode

waktu 2004-2008 serta sebagai proyek percontohan (pilot project) pembangunan

PLTMH.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilengkapi dengan

data kualitatif. Data yang diambil mencakup data primer dan data sekunder. Data

primer diperoleh dengan metode survei. Data sekunder diperoleh melalui kegiatan

studi dokumentasi, khususnya yang menyangkut potensi desa serta laporan dan

dokumentasi, khususnya yang menyangkut potensi desa serta laporan dan

dokumentasi lain yang berkenaan dengan pelaksanaan PLTMH di Desa Cinta

Mekar. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2008.

Penelitian ini mengacu kepada beragam konsep, pendekatan, dan teori-

teori yang berkenaan dengan gender dan pembangunan, pendekatan

pemberdayaan masyarakat, evaluasi program sistem, serta aspek-aspek berkenaan

program PLTMH sebagaimana dirancang oleh Yayasan IBEKA dan PT

Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya. Dari beragam konsep tersebut dirumuskan

variabel-variabel terpengaruh yang meliputi: Tingkat Akses, Kontrol, Partisipasi

dan Manfaat yang diperoleh Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan pada
tahapan siklus Program PMLTH. Beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu

Tingkat Pendidikan Formal, Status Bekerja, Tingkat Kekayaan, Status

Rumahtangga, Tingkat Kontrol dalam Rumahtangga, Tingkat Dukungan dari

Pemerintah, Frekuensi Kunjungan Fasilitator, Jumlah Dana Program dan Tingkat

Kesesuaian Program terhadap Kebutuhan RMKL dan RMKP. Selanjutnya,

dengan menggunakan pendekatan Kerangka Pemberdayaan Longwe, berdasar

semua pencapaian pada semua variabel tidak bebas yang ditemukan dalam

penelitian dianalisis Tingkat Kesetaraan dan Tingkat Pengakuan atas isu-isu

perempuan yang diwujudkan melalui program PLTMH Desa Cinta Mekar.

Penerima program PLTMH adalah mereka yang tergolong rumahtangga

miskin sesuai dengan kriteria baik yang ditetapkan oleh Yayasan IBEKA maupun

BPS, yang meliputi rumahtangga miskin yang dikepalai laki-laki dan perempuan.

Tingkat akses RMKL baik terhadap tahap perencanaan, maupun pelaksanaan

program mayoritas lebih tinggi dari RMKP, sedangkan pada tahap pemanfaatan

program tergolong sedang. Pada RKML mayoritas pengambilan keputusan

dilakukan bersama antara suami dan istri yang salah satunya dominan. Untuk

kontrol perencanaan, pelaksanaan serta pemanfaatan program, secara umum

RMKL dan RMKP mayoritas tergolong sedang. Pada RMKP seluruhnya

tergolong rendah, karena pengambilan keputusan sepenuhnya dilakukan oleh istri

(perempuan). Untuk tingkat partisipasi program PLTMH, RMKL mayoritas lebih

tinggi/lebih berpartisipasi, karena menyangkut jenis pekerjaan fisik.

Kebutuhan praktis anggota rumahtangga miskin terbantu dengan adanya

pemasangan listrik dan bantuan beasiswa, sedangkan kebutuhan strategis terlihat


dari adanya perempuan yang akses dan kontrol terhadap kelembagaan pendukung

PLTMH

Mengacu pada Longwe, terlihat bahwa Program PLTMH tampaknya telah

memasuki area pemberdayaan pada tingkat akses terhadap sumberdaya program,

tingkat kontrol serta partisipasi. Dalam konteks pemberdayaan level isu-isu

perempuan, pembangunan PLTMH termasuk pada level negatif.

Beberapa kendala dalam Program PLTMH antara lain, adanya pergantian

operator PLTMH karena kelalaian dalam bertugas, adanya isu yang

mempertanyakan kepemilikan status bangunan sipil PLTMH, dan mengacu pada

INPRES No.9 Tahun 2000 tentang PUG, bahwa program PLTMH dinilai belum

menintegrasikan gender secara eksplisit di dalam tujuan program, untuk itu perlu

adanya saran atau masukan yakni kecermatan pihak Yayasan IBEKA dan

Koperasi Mekarsari dalam menentukan operator, perlunya pendekatan ke

masyarakat dalam rangka pembentukan rasa memiliki bersama (masalah status

bangunan sipil), serta Yayasan IBEKA lebih bisa mengintegrasikan relasi gender

pada visi dan misinya dalam program-program yang akan datang.


STUDI GENDER DALAM PROGRAM PEMBANGKIT
LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) BAGI
RUMAHTANGGA MISKIN
(Kasus di Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang,
Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat)

Oleh:
ERNA SAFITRI PURWANINGTYAS
A 14204060

Skripsi
Sebagai Bagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian
pada

Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang ditulis oleh:


Nama : Erna Safitri Purwaningtyas
Nomor Pokok : A14204060
Judul : Studi Gender Dalam Program Pembangkit Listrik Tenaga
Mikrohidro (PLTMH) Bagi Rumahtangga Miskin (Kasus di Desa
Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang,
Propinsi Jawa Barat)
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana
Pertanian pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Ir. Siti Sugiah Mugniesyah, MS.


NIP. 130 779 504

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr


NIP. 131 124 019

Tanggal Lulus Ujian:


PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

STUDI GENDER DALAM PROGRAM PEMBANGKIT LISTRIK

TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) BAGI RUMAHTANGGA MISKIN

(KASUS DI DESA CINTA MEKAR, KECAMATAN SERANGPANJANG,

KABUPATEN SUBANG, PROPINSI JAWA BARAT) BELUM PERNAH

DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA LAIN

MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK

TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-

BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG

BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH

PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG

DINYATAKAN DALAM NASKAH.

Bogor, September 2008

Erna Safitri Purwaningtyas


A14204060
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Wonogiri Propinsi Jawa Tengah pada tanggal 15 Mei


1987, sebagai anak pertama dari pasangan Bapak Widodo dan Ibu Sunarti.
Pada tahun 1995 penulis menamatkan pendidikan dasar di SDN 02
Jatinegara Pagi, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, kemudian pada tahun
yang sama penulis melanjutkan ke SLTPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran,
Kabupaten Wonogiri sampai tahun 2001. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan
pendidikan di SMUN 1 Wonogiri dan lulus pada tahun 2004.
Pada tahun yang sama penulis di terima menjadi mahasiswa Institut
Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada
Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian dengan program studi
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.
Selama menempuh kegiatan akademik, penulis pernah aktif sebagai staf
public relation Koran Kampus IPB pada tahun 2008 dan menjadi pimpinan
perusahaan Buletin DGreen Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas
Pertanian pada tahun 2007. Penulis aktif menjadi panitia kegiatan kemahasiswaan,
seperti acara Pekan Olahraga Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi. Penulis
juga pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Ilmu Penyuluhan pada tahun
2008.
UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah
Subhanallohuwataala, yang telah memberikan kekuatan, kesabaran, dan
pengetahuan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul
Studi Gender dalam Program Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)
Bagi Rumahtangga Miskin (Kasus di Desa Cinta Mekar, Kecamatan
Serangpanjang, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat).
Dengan segala ketulusan hati penulis menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi
ini, terutama kepada :
1. Ir. Siti Sugiah Mugniesyah, MS selaku dosen pembimbing dan dosen
pembimbing akademik yang telah memberikan arahan serta bimbingan
kepada penulis sejak awal penyusunan proposal hingga penulisan skripsi.

2. Dra. Winati Wigna, MDS, yang bersedia menjadi penguji utama dan
memberikan banyak masukan dalam rangka penyempurnaan skripsi ini.

3. Ir. Heru Purwandari, MSi, selaku penguji dari Departemen KPM yang
telah memberikan masukan untuk perbaikan skripsi ini.

4. Keluargaku tercinta: Bapak Widodo dan Ibu Sunarti atas segala doa dan
kasih sayangnya, Adikku Ditya yang senantiasa memberikan semangat.

5. Keluarga Paman: Om Agus dan Tante Ani serta Salsa; Om Ali atas
kesediaan memberikan fasilitas tempat tinggal dan sarana selama penulis
menempuh studi.

6. Ibu Tri Mumpuni, Bapak Iskandar, Bu Yeti, Pak Sapto, dan staf Yayasan
IBEKA, atas bantuan data selama penelitian

7. Teman satu bimbingan, Restu Diresika Kisworo atas semangat,


kebersamaan dan kerjasama dari awal Studi Pustaka hingga skripsi ini
selesai.

8. Teman-teman seangkatan KPM 41, atas pengalaman selama empat tahun


bersama- sama menyelesaikan studi dari Departemen Ilmu-ilmu Sosial dan
Ekonomi, Fakultas Pertanian, khususnya: Lutfi, Retno, Nani, Icha, Nurina,
Arta, Sani, Yuliya, Munir, dan Ilham

9. Keluarga besar Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), khususnya:


Mas Agus, Rifky, Kang Ida, Guli, Mbak Epoy, Dhika, Ninik, yang
senantiasa mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

10. Farhan Nahdiya, atas dukungan dan semangat yang diberikan kepada
penulis sejak penyusunan proposal hingga penyelesaian skripsi.

11. Bapak Wasja, Ibu Yati, Neng Dewi, Bu Yuyun, Mang Ian, Asep, Mang
Jek, Mang Upas, Mang Wahdi, Mang Kelip, Mas Anang dan segenap
masyarakat Desa Cinta Mekar atas bantuan serta dukungan selama penulis
melakukan penelitian.

12. Civitas akademis Sosial Ekonomi Institut Pertanian Bogor yang telah
memberikan pengajaran yang terbaik, juga kepada seluruh staf penunjang
khususnya Mbak Maria dan Mbak Nisa yang telah membantu segala
administrasi selama perkuliahan serta bagi semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu persatu, terima kasih atas segala bantuannya.

Bogor, Agustus 2008

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL............................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1


1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 6
1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7

BAB II PENDEKATAN TEORITIS ............................................................... 9


2.1 Tinjauan Pustaka .................................................................................. 9
2.1.1 Pengertian Konsep dan Prinsip
Pengembangan Masyarakat......................................................... 9
2.1.2 Pengertian dan Peranan Gender .................................................. 11
2.1.3 Pengertian Program dan Evaluasi Program................................. 13
2.1.4 Teknik Analisis Gender dan Evaluasi Program
Berperspektif Gender .................................................................. 15
2.1.5 Program Pembangunan Pembangkit Listrik
Tenaga Mikrohidro (PLTMH) .................................................... 18
2.2 Kerangka Pemikiran............................................................................. 19
2.3 Hipotesis Penelitian.............................................................................. 23
2.4 Definisi Operasional............................................................................. 23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN......................................................... 29


3.1 Strategi Penelitian ................................................................................ 29
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................... 30
3.3 Pemilihan Subjek Penelitian ................................................................ 30
3.4 Metode Analisis Data........................................................................... 31

BAB IV PROFIL DESA CINTA MEKAR ..................................................... 32


4.1 Lokasi dan Kondisi Geografis.............................................................. 32
4.2 Tata Guna Lahan di Desa Cinta Mekar................................................ 33
4.3 Kondisi Umum Penduduk Desa Cinta Mekar...................................... 34

BAB V PROFIL KELEMBAGAAN PROGRAM PLTMH


DESA CINTA MEKAR....................................................................... 40
5.1 Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA)............... 40
5.2 PT Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya (PT HIBS) ................................ 42
5.3 Koperasi Mekarsari .............................................................................. 44
BAB VI PROFIL RUMAHTANGGA PADA KOMUNITAS
KAMPUNG TANGKIL DI DESA CINTA MEKAR ...................... 47
6.1 Karakteristik Individu .......................................................................... 47
6.1.1 Jenis Kelamin .............................................................................. 47
6.1.2 Umur ........................................................................................... 48
6.1.3 Tingkat Pendidikan ..................................................................... 49
6.1.4 Jenis Pekerjaan ............................................................................ 51
6.1.5 Status Bekerja ............................................................................. 52
6.2 Karakteristik Rumahtangga.................................................................. 53
6.2.1 Tingkat Kekayaan ....................................................................... 53
6.2.2 Status Kategori Rumahtangga..................................................... 54
6.2.3 Tingkat Kontrol dalam Rumahtangga......................................... 56
6.3 Kesimpulan .......................................................................................... 57

BAB VII PENYELENGGARAAN PROGRAM PLTMH CINTA MEKAR . 59


7.1 Latar Belakang Program PLTMH........................................................ 59
7.2 Perencanaaan Program ......................................................................... 61
7.2.1 Persiapan Masyarakat ................................................................. 61
7.2.2 Pembentukan Kapasitas dan Kepemilikan .................................. 63
7.3 Pelaksanaan Program ........................................................................... 64
7.3.1 Pembangunan Fisik/Sipil PLTMH dan Koperasi ....................... 64
7.3.2 Operasional Pembangkit Listrik.................................................. 66
7.3.3 Operasional Koperasi Mekarsari................................................. 67
7.4 Pemanfaatan Program .......................................................................... 71
7.4.1 Pemasangan Listrik bagi Orang Kurang Mampu........................ 71
7.4.2 Kesehatan .................................................................................... 73
7.4.3 Pendidikan................................................................................... 74
7.4.4 Modal Usaha ............................................................................... 74
7.4.5 Pembangunan Infrastuktur Desa ................................................. 75
7.4.6 Biaya Operasional Desa dan Biaya Operasional Koperasi ......... 76
7.5 Kerangka Pemberdayaan...................................................................... 76
7.5.1 Level Kesetaraan......................................................................... 76
7.5.2 Level Pengakuan Atas Isu Perempuan........................................ 78
7.6 Kesimpulan .......................................................................................... 79

BAB VIII STIMULAN, PENGELOLAAN, FAKTOR LINGKUNGAN


SERTA PERMASALAHAN PADA PROGRAM PLTMH .......... 81
8.1 Stimulan Program PLTMH .................................................................. 81
8.1.1 Tingkat Bantuan Dana Program Pembangunan PLTMH............ 81
8.1.2 Tingkat Kesesuaian Program terhadap
Kebutuhan Rumahtangga Miskin................................................ 81
8.2 Pengelolaan Program PLTMH dan Faktor Lingkungan ...................... 83
8.2.1 Frekuensi Kunjungan Pendampingan oleh Fasilitator ................ 83
8.2.2 Dukungan dari Pemerintah Desa................................................. 83
8.4 Permasalahan Program PLTMH .......................................................... 84
8.5 Kesimpulan .......................................................................................... 86
BAB IX ANALISIS GENDER DALAM PROGRAM PLTMH............... 88
9.1 Tingkat Akses Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Perencanaan Program PLTMH ............................................ 88
9.2 Tingkat Kontrol Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Perencanaan Program PLTMH ............................................ 89
9.3 Tingkat Akses Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Pelaksanaan Program PLTMH............................................. 89
9.4 Tingkat Kontrol Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Pelaksanaan Program PLTMH............................................. 91
9.5 Tingkat Partisipasi Rumahtangga Miskin Laki-laki dan
Perempuan terhadap Pelaksanaan Program PLTMH.......................... 91
9.6 Tingkat Akses Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Pemanfaatan Hasil Program PLTMH................................... 93
9.7 Tingkat Kontrol Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Pemanfaatan Hasil Program PLTMH................................... 93
9.8 Tingkat Manfaat Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan
terhadap Hasil Program PLTMH ........................................................ 94
9.9 Kesimpulan .......................................................................................... 95

BAB X RELASI GENDER DALAM PROGRAM PLTMH .......................... 98


10.1 Hubungan Antara Karakteristik Rumahtangga ARL dan ARP
dengan Tingkat Akses dan Kontrol terhadap Program PLTMH....... 98
10.2 Hubungan Antara Tingkat Akses dan Kontrol Sumberdaya
Individu dan Rumahtangga ARL dan ARP dengan
Tingkat Partisipasi dalam Pelaksanaan Program PLTMH................ 103
10.3 Hubungan Antara Tingkat Partisipasi ARL dan ARP
dalam Pelaksanaan Program PLTMH dengan Tingkat Manfaat
dari Program PLTMH ....................................................................... 104
10.4 Hubungan Antara Tingkat Pendampingan Fasilitator dengan
Tingkat Akses, Kontrol, Partisipasi dan Manfaat yang diperoleh
ARL dan ARP terhadap Program PLTMH ....................................... 105
10.5 Hubungan Antara Stimulan Program PLTMH dengan
Tingkat Akses, Kontrol, Partisipasi Dan Manfaat ARL Dan
ARP terhadap dan dari Program PLTMH......................................... 106
10.6 Kesimpulan ....................................................................................... 107
BAB XI PENUTUP ......................................................................................... 108
11.1 Kesimpulan ........................................................................................ 108
11.2 Saran................................................................................................... 110

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 112


LAMPIRAN..................................................................................................... 114
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
Teks

Tabel 1. Jumlah dan Persentase Luas Wilayah Menurut Jenis


Penggunaan Lahan, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007........................ 33
Tabel 2. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2007 ........................................................ 34
Tabel 3. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur
dan Jenis Kelamin, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007......................... 35
Tabel 4. Jumlah dan Persentase Kepala Keluarga (KK) Menurut Jenis
Kelamin Kepala Keluarganya, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007....... 36
Tabel 5. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Tingkat
Kesejahteraan Keluarganya, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007 .......... 36
Tabel 6. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2007 ........................................................ 37
Tabel 7. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2007 ........................................................ 38
Tabel 8. Program Kegiatan Koperasi Mekarsari, Desa Cinta Mekar,
Tahun 2003 ....................................................................................... 45
Tabel 9. Jumlah dan Persentase Anggota Rumahtangga Miskin
Menurut Jenis Kelamin, Kampung Tangkil, Tahun 2008................. 48
Tabel 10.Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut
Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Kepala dan Anggota
Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun 2008 ................................ 48
Tabel 11.Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut
Tingkat Pendidikan serta Jenis Kelamin Kepala dan
Anggota Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun 2008 ................. 50
Tabel 12.Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Jenis
Pekerjaan, Jenis Kelamin Kepala dan Anggota
Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun 2008 ................................ 51
Tabel 13.Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Status
Pekerjaan serta Jenis Kelamin Kepala dan Anggota
Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun 2008 ................................ 52
Tabel 14.Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut
Tingkat Kekayaan Jenis Kelamin Kepala Rumahtangga,
Kampung Tangkil, Tahun 2008 ........................................................ 53
Tabel 15. Jumlah dan Persentase Status Rumahtangga Miskin Menurut
Kategori Kepala Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun 2008.....
Tabel 16.Jumlah dan Persentase Status Rumahtangga Miskin Menurut
Ukuran Lokal, Kampung Tangkil, Tahun 2008 ................................ 55
Tabel 17.Jumlah dan Persentase Tingkat Pengambilan Keputusan
dalam Penentuan Sumberdaya Program, Kampung Tangkil,
Tahun 2008 ....................................................................................... 55
Tabel.18.Persentase Pengalokasian Dana Hasil Penjualan Listrik
Tahun 2004 dan Tahun 2007, Koperasi Mekarsari,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 70
Tabel 19. Jumlah dan Persentase Tingkat Akses RML dan RMP
terhadap Tahap Perencanaan Program PLTMH,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 88
Tabel 20.Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol RML dan RMP
terhadap Tahap Perencanaan Program PLTMH,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 88
Tabel 21.Jumlah dan Persentase Tingkat Akses RML dan RMP
terhadap Tahap Pelaksanaan Program PLTMH Desa Cinta Mekar,
Tahun 2008 ....................................................................................... 90
Tabel 22.Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol RML dan RMP
terhadap Tahap Pelaksanaan Program PLTMH,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 91
Tabel 23.Jumlah dan Persentase Tingkat Partisipasi RML dan RMP
terhadap Tahap Pelaksanaan Program PLTMH Desa Cinta Mekar,
Tahun 2008 ....................................................................................... 92
Tabel 24.Jumlah dan Persentase Tingkat Akses RML dan RMP
terhadap Tahap Pemanfaatan Program PLTMH,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 93
Tabel 25.Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol RML dan RMP
terhadap Tahap Pemanfatatan Program PLTMH,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 94
Tabel 26.Jumlah RML dan RMP Penerima Program PLTMH,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 95
Tabel 27.Jumlah dan Persentase Tingkat Manfaat RML dan RMP
terhadap Hasil Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008.. 95
Tabel 28.Tingkat Akses dan Kontrol RML serta RMP
terhadap Program PLTMH Menurut Tingkat Pendidikan
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008 ........................................................ 99
Tabel 29.Tingkat Akses dan Kontrol RML serta RMP terhadap Program
PLTMH Menurut Status Bekerja, Desa Cinta Mekar Tahun 2008... 100
Tabel 30.Tingkat Akses dan Kontrol RML serta RMP Terhadap Program
PLTMH Menurut Tingkat Kekayaan, Desa Cinta Mekar
Tahun 2008 ....................................................................................... 101
Tabel 31.Tingkat Akses dan Kontrol RML serta RMP Terhadap
Program PLTMH Menurut Status Rumahtangga,
Desa Cinta Mekar Tahun 2008 ......................................................... 102
Tabel 32.Tingkat Akses dan Kontrol RML dan RMP terhadap Program
PLTMH Menurut Tingkat Partisipasi, Desa Cinta Mekar,
Tahun 2008 ....................................................................................... 104
Tabel 33.Tingkat Manfaat Program PLTMH bagi RML dan RMP
Menurut Tingkat Partisipasi pada Tahap Pelaksanaan Program
PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008......................................... 105
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
Teks

Gambar 1. Kerangka Pemberdayaan Perempuan Longwe dalam


Prasojo, dkk (2003) ........................................................................ 17
Gambar 2. Hubungan Antar Variabel dalam Studi Gender Program PLTMH 22
Gambar 3. Struktur Organisasi IBEKA ........................................................... 41
Gambar 4. Susunan Pengurus Koperasi Mekarsari Periode 2006 2009........ 46
DAFTAR SINGKATAN

5P : Pro Poor Public Private Partnership


ARML : Anggota Rumahtangga Miskin Laki-laki
ARMP : Anggota Rumahtangga Miskin Perempuan
BPS : Badan Pusat Statistik
IBEKA : Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan
OKM : Orang Kurang Mampu
PLN : Perusahaan Listrik Negara
PLTMH : Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
PUG : Pengarusutamaan Gender
RMKL : Rumahtangga Miskin yang Dikepalai Laki-laki
RMKP : Rumahtangga Miskin yang Dikepalai Perempuan
RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
UNESCAP : United Nations Economic and Social Commission for Asia and
the Pacific
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi energi

yang cukup banyak dan beragam yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan

masyarakat luas sebagaimana diamanatkan oleh pasal 33 Undang-Undang Dasar

1945. Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, pemanfaatan

sumberdaya energi -termasuk di dalamnya tenaga listrik air- berperan besar dalam

peningkatan perekonomian masyarakat, namun demikian, pemerintah mengakui

belum meratanya pelayanan ketenagalistrikan seperti yang dinyatakan dalam

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun (RPJMN) 2004-2009.

Dikemukakan pula bahwa rasio elektrifikasi nasional pada tahun 1997 baru

mencapai sekitar 50 persen. Pada tahun 1998 pertumbuhan kebutuhan tenaga

listrik mengalami penurunan, namun demikian pada periode 1999-2004

meningkat dengan rata-rata 10,5 persen untuk Jawa Madura dan Bali (Jamali) dan

8,5 persen untuk Luar Jamali. Pertumbuhan dalam kurun waktu tersebut lebih

rendah dari masa sebelum krisis yang rata-rata tumbuh sekitar 12 persen per

tahun. Sejak tahun 1997 sampai dengan tahun 2004 relatif tidak ada penambahan

kapasitas baik pada sistem Jamali maupun sistem Luar Jamali. Hal tersebut

mengakibatkan cadangan listrik yang lebih rendah dari yang seharusnya ada (25

persen).
Belum semua desa dan masyarakat di Indonesia menikmati listrik. Data

Potensi Desa tahun 2003 menyebutkan bahwa lebih dari sekitar 15.000 desa yang

telah berlangganan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Angka tersebut

hanya setengah dari jumlah rumahtangga di pedesaan. Selain itu, rasio

elektrifikasi Indonesia pada tahun 2004 baru mencapai 53,9 persen. Itu sebabnya,

salah satu arah kebijakan pembangunan ketenagalistrikan adalah peningkatan

partisipasi investasi swasta, pemerintah daerah, koperasi dan masyarakat dalam

menyediakan sarana dan prasarana ketenagalistrikan. Programnya

menitikberatkan pada peningkatan aksesibilitas pemerintah daerah, koperasi dan

masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana ketenagalistrikan.

Adapun kegiatan pokok program ini adalah mendorong swasta, koperasi,

pemerintah daerah dan masyarakat sebagai pelaku penyedia tenaga listrik

terutama di daerah yang belum terlistriki sesuai dengan peraturan yang berlaku

(RPJMN 2004-2009).

Merespon tawaran pemerintah, Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi

Kerakyatan (IBEKA) adalah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di

bidang kelistrikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa yang

berperanserta dalam mengintroduksikan elektrifikasi pedesaan yang menggunakan

sumber energi terbaharui yang dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga

Mikrohidro atau PLTMH (Micro Hydropower Plant or MHP). Sampai saat ini

yayasan ini telah berkontribusi membangun lebih dari 40 PLTMH yang tersebar

di beberapa provinsi di Jawa dan Luar Jawa (Publikasi IBEKA, 2004).

Salah satu pilot proyek PLMTH telah diintroduksikan Yayasan IBEKA

sejak tahun 2004 kepada masyarakat di Desa Cinta Mekar, Kecamatan


3

Serangpanjang, Kabupaten Subang dengan menerapkan pendekatan community

partnership (kerjasama komunitas). Pendekatan ini dilandasi oleh prinsip yang

menampung aspirasi masyarakat lokal dan diarahkan pada peningkatan

kemampuan (teknis dan manajerial), serta kepemilikan penduduk lokal atas

PLTMH yang diharapkan mampu menjamin keberlanjutan PLTMH (Kuntoadji,

2007). Yayasan IBEKA mengintroduksikan PLTMH melalui kegiatan-kegiatan

pemberdayaan kelembagaan dan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, yayasan ini

bekerjasama dengan PT Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya (PT HIBS), sebagai

pihak swasta penyedia komponen dan alat (teknologi) untuk PLMTH dan

bertanggungjawab membentuk kelembagaan (Koperasi Mekarsari) secara

partisipatif.

Telah banyak publikasi mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan

IBEKA sebagaimana dikemukakan oleh beragam media massa, bahkan

direkturnya terpilih menjadi 10 tokoh nasional oleh Majalah Tempo serta Climate

Hero oleh Worldwide Fund for Nature (WWF- International). Namun demikian,

informasi yang diperoleh dari beragam media massa tersebut belum sepenuhnya

menjelaskan keberhasilan Yayasan IBEKA dalam pemberdayaan masyarakat,

khususnya dihubungkan dengan misi Yayasan IBEKA dalam pemerataan listrik

dan peningkatan ekonomi masyarakat miskin di pedesaan. Informasi berkenaan

keberhasilan Yayasan IBEKA dalam pemberdayaan miskin tersebut belum

mencakup informasi seutuhnya, dalam pengertian belum didasarkan pada suatu

penelitian yang berperspektif gender. Hal yang terakhir ini penting, mengingat

tidak semua pendekatan partisipatif berarti mengikutsertakan setiap individu, laki-

laki dan perempuan. Selain itu, tidak semua pendekatan yang mengklaim
dilakukan secara partisipatif mempertimbangkan relasi gender dalam keluarga dan

masyarakat, padahal relasi gender merupakan salah satu aspek penting yang

menentukan keberhasilan program-program pembangunan (Cornwall, 2003).

Oleh karenanya dipandang perlu untuk mengetahui kontribusi Yayasan

IBEKA dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan, khususnya peningkatan

kualitas sumberdaya manusia, baik laki-laki maupun perempuan dalam konteks

PLMTH. Hal ini penting mengingat kebijakan pemerintah melalui INPRES

Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam

pembangunan nasional dan RPJMN 2004-2009 mengamanatkan pengintegrasian

potensi, masalah, kebutuhan dan kepentingan subyek pembangunan, laki-laki dan

perempuan, ke dalam siklus program/proyek/kegiatan pembangunan sejak

perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasinya. Penelitian mengenai

kinerja Yayasan IBEKA bermanfaat untuk memperoleh pengetahuan berkenaan

model pengembangan masyarakat yang mampu memberdayakan bukan hanya

dalam hal pemerataan kelistrikan (aspek teknologi dan sumberdaya energi), tapi

juga pemberdayaan kelembagaan koperasi yang dibangun secara partisipatif

(membangun dari bawah) dan responsif gender.

1.2 Perumusan Masalah

Sebagaimana dinyatakan Yayasan IBEKA, target sasaran PLTMH adalah

individu dalam rumahtangga miskin sesuai dengan kriteria masyarakat setempat.

Itu sebabnya, pada tahapan perencanaan pembangunan PLTMH dilakukan

penentuan target sasaran rumahtangga miskin berdasar empat kriteria, yakni: tidak

mempunyai lahan, pekerjaan tetap dan modal, serta berpendidikan rendah. Di


pihak lain, BPS (2005) memiliki kriteria dalam penentuan rumahtangga miskin

berdasar pendekatan kebutuhan dasar. 1 Sehubungan dengan itu, apakah kriteria

lokal tersebut juga mencerminkan kriteria rumahtangga miskin menurut BPS

(2005)? Selain itu, fakta menunjukkan bahwa keluarga miskin di pedesaan

mencakup rumahtangga yang dikepalai laki-laki dan perempuan (BPS, 2005).

Oleh karena itu, apakah target sasaran yang telah ditetapkan oleh IBEKA

mencakup rumahtangga miskin yang dikepalai laki-laki (RML) dan rumahtangga

miskin yang dikepalai perempuan (RMP)?

Menurut Kuntoadji (2007) introduksi Program PLTMH dilandasi

pendekatan community partnership yang dilakukan melalui langkah persiapan

sosial berupa kegiatan sosial kemasyarakatan yang terbagi lagi menjadi tahap

kegiatan persiapan masyarakat (community preparation) dan tahap pembentukan

kapasitas dan kepemilikan. Di lain pihak, Ife (1995) dalam Nasdian (2003)

menyatakan bahwa pengembangan masyarakat akan berkelanjutan jika dilandasi

dua prinsip penting: pemberdayaan dan partisipasi. Sehubungan dengan itu,

apakah pemberdayaan masyarakat melalui program PLTMH itu juga dilandasi

kedua prinsip tersebut? Bagaimanakah prinsip-prinsip tersebut diwujudkan dalam

pelaksanaannya ?

Para ahli gender dan pembangunan memandang penting aplikasi Teknik

Analisis Gender (TAG) untuk menganalisis ada tidaknya ketimpangan

(ketidaksetaraan dan ketidakadilan) gender dalam penyelenggaraan program

1
Terdapat 10 indikator untuk menentukan rumahtangga itu miskin atau tidak, mencakup: (1) luas
lantai rumah per kapita, (2) jenis lantai rumah, (3) ketersediaan air bersih untuk pemenuhan
kebutuhan dasar, (4) ketersediaan jamban/WC (5) kepemilikan aset, ekonomi dan benda
berharga, (6) total pendapatan rumahtangga per bulan), (7) pengeluaran rumahtangga untuk
makanan, (8) ada tidaknya dan variasi konsumsi lauk pauk dalam menu makan, (9) aspek
sandang, dan (10) kegiatan sosial yang diikuti anggota rumahtangga (BPS, 2005)
pembangunan (Biro Perencanaan dan Keuangan Departemen Pertanian, 2004).

Sehubungan dengan itu apakah perempuan dan laki-laki pada rumahtangga

miskin, baik sebagai kepala maupun anggota rumahtangga memiliki akses,

kontrol, manfaat serta partisipasi terhadap PLTMH? Khusus berkenaan dengan

manfaat Program PLTMH, apakah Program PLTMH mampu mencapai keluaran

sesuai dengan rumusan tujuannya? Apakah ada pengaruh (effect) negatif maupun

positif yang ditimbulkan sebagai akibat tercapainya tujuan tersebut ?

Seperti yang dikutip Mugniesyah (2004), Moser (1993) menyatakan

bahwa tujuan pembangunan diharapkan mampu mencapai pemenuhan kebutuhan

praktis dan strategis gender (practical and strategical gender needs). Sehubungan

dengan itu, apakah pencapaian tujuan-tujuan program PLTMH telah mampu

memenuhi kedua kategori kebutuhan gender tersebut?

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, PLMTH di Desa Cinta Mekar

merupakan program pemberdayaan masyarakat. Mengacu pada Kerangka

Pemberdayaan Perempuan Longwe (Prasodjo, dkk, 2003) level kesetaraan

manakah yang dicapai serta level isu-isu perempuan manakah yang

diintegrasikan dalam program PLMTH di Desa Cinta Mekar?

1.3 Tujuan Penelitian

Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh penelitian ini, yakni

untuk:

1. Mengetahui ada tidaknya kesesuaian penetapan kriteria rumahtangga

miskin yang dipakai Yayasan IBEKA dengan kriteria BPS (2005),

serta ketercakupan Rumahtangga Miskin yang dikepalai Laki-laki


(RML) dan Rumahtangga Miskin yang dikepalai Perempuan (RMP)

dalam penyelenggaraan program PLTMH di Desa Cinta Mekar.

2. Mengetahui penerapan prinsip-prinsip pemberdayaan dan partisipatif

dalam pendekatan community partnership yang dikembangkan PT

Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya (PT HIBS), termasuk di dalamnya

tahap kegiatan persiapan masyarakat (community preparation) dan

tahap pembentukan kapasitas dan kepemilikan.

3. Menganalisis akses, kontrol, manfaat dan partisipasi kepala dan

anggota rumahtangga miskin, perempuan dan laki-laki, dalam

perencanaan dan pelaksanaan serta pencapaian tujuan program

PLTMH di Desa Cinta Mekar, serta pengaruh (efek) yang ditimbulkan

sebagai akibat tercapainya tujuan program.

4. Mengetahui ketercapaian pemenuhan kebutuhan praktis dan strategis

gender oleh program PLMTH di Desa Cinta Mekar, khususnya di

kalangan rumahtangga miskin yang menjadi target sasaran program.

5. Mengetahui ketercapaian level kesetaraan gender dan pengintegrasian

isu perempuan dalam pelaksanaan program PLTMH di Desa Cinta

Mekar.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi kegunaan (manfaat) baik bagi peneliti,

akademisi serta bagi penentu kebijakan dan pemangku kepentingan yang

meminati bidang Gender dan Pembangunan. Secara rinci kegunaan

penelitian tersebut sebagai berikut:


1. Bagi peneliti merupakan sarana untuk menyintesis dan menerapkan

beragam konsep, teori dan pendekatan dari beragam disiplin ilmu yang

telah diperoleh selama mengikuti kuliah, khususnya dalam pumpunan

disiplin Gender dan Pembangunan, dan Pengembangan Masyarakat ke

dalam konteks program PLTMH di Desa Cinta Mekar yang menjadi

program pengembangan masyarakat di bawah tanggung-jawab Yayasan

IBEKA.

2. Bagi kalangan akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan

masukan dan kajian lebih lanjut bagi pengembangan disiplin Gender dan

Pembangunan pada umumnya dan khususnya bagi pelaksanaan

pengembangan masyarakat melalui intervensi teknologi yang responsif

gender.

3. Bagi para penentu kebijakan, khususnya di lingkungan pemerintahan

(PLN, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan) dan juga LSM, hasil

penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan atau

pertimbangan dalam proses penyusunan kebijakan berkenaan gender

dalam penyelenggaraan PLMTH.


BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka


2.1.1 Pengertian Konsep dan Prinsip Pengembangan Masyarakat

Menurut Conyers (1996) dalam Nasdian (2003) konsep pengembangan

masyarakat (community development) sebagai proses diartikan sebagai semua

usaha swadaya masyarakat bersama dengan usaha-usaha pemerintah setempat

guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang ekonomi, sosial, dan kultural

serta untuk mengintegrasikan masyarakat yang ada ke dalam kehidupan berbangsa

dan bernegara dan memberi kesempatan yang memungkinkan masyarakat tersebut

membantu secara penuh pada kemajuan dan kemakmuran bangsa.

Menurut Blackburn (1989) dalam Mugniesyah (2006) pengembangan

masyarakat menekankan pada pengambilan keputusan dan pemecahan masalah

oleh kelompok, organisasi atau komunitas. Keputusan-keputusan bersifat publik

dan dibuat sebagian besar oleh kelompok atau masyarakat. Pengembangan

masyarakat dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar kelompok

tertentu dalam komunitas. Tujuan program menekankan pada pembentukan

infrastruktur dan organisasi sosial yang didukung keterlibatan proses legislatif,

dan mencakup perusahaan pendanaan formal dan bisnis.

Pada tahun 1962, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan dua

elemen yang harus ada dalam pengembangan masyarakat, yaitu partisipasi dan

membuat teknik yang dapat mendorong inisiatif, menolong diri sendiri, dan

membuatnya lebih efektif (Nasdian, 2003). Dalam pengembangan masyarakat


terdapat prinsip-prinsip yang merupakan penjabaran dari perspektif ekologi dan

keadilan sosial. Prinsip-prinsip ini saling terkait dalam pelaksanaannya. Sulit

sekali menjalankan satu prinsip tanpa mengaitkan dengan prinsip yang lainnya.

Pemahaman terhadap prinsip tersebut perlu dilakukan agar dalam penerapan

pengembangan masyarakat berorientasi tidak hanya bersifat pragmatis tetapi juga

mempunyai visi jangka panjang.

Di samping itu, sebagaimana dikutip Nasdian (2003), Ife mengemukakan

22 prinsip yang melandasi pelaksanaan pengembangan masyarakat. Dalam

konteks program PLTMH, ada dua prinsip yang dominan melandasi

pelaksanaannya, yaitu prinsip pemberdayaan (empowerment) dan partisipasi

(participation). Pada prinsip yang pertama, makna pemberdayaan berarti

membantu komunitas dengan sumberdaya, kesempatan, keahlian, dan

pengetahuan agar kapasitas komunitas meningkat sehingga dapat berpartisipasi

untuk menentukan masa depan warga komunitas. Adapun prinsip yang kedua,

bemakna bahwa pendekatan pengembangan masyarakat selalu mengoptimalkan

peran serta masyarakat yang maksimal, dimana semua warga ikut terlibat dalam

proses pengambilan keputusan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, pemantauan

(monitoring) serta evaluasi. Program pengembangan masyarakat yang ideal dapat

menghubungkan antara prinsip-prinsip tersebut dan tidak berpikir secara terpisah

dari struktur dan proses.

Pada tingkatan lokal, tingkat pengambilan keputusan dan aktivitas dapat

dilihat dari perspektif individu dimulai dari identifikasi individu kemudian

anggota rumahtangga atau keluarga, lingkungan, komunitas dan lokalitas. Jika

disusun ke dalam bentuk diagram maka akan didapat bentuk hierarkis yang
berbentuk sarang atau mulai dari lingkaran kecil hingga lingkaran luar yang besar.

Pengambilan keputusan tersebut dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, etnis, orang di

luar komunitas, kemanfaatan serta gender (Uphoff, 1986).

2.1.2 Pengertian dan Peranan Gender

Para ahli gender sependapat bahwa istilah seks (jenis kelamin) adalah

penandaan berdasar biologis, karenanya diklasifikasikan berdasar karakteristik

biologis. Masyarakat kita menggunakan kualitas biologis dan genetik untuk

menentukan apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan. Penandaan tersebut

biasanya didasarkan pada genital eksternal dan organ-organ seks internal.

Sebagaimana dikemukakan oleh Wood (2001) dalam Mugniesyah (2004) jenis

kelamin itu sendiri ditentukan oleh kromosom yang memprogram bagaimana

suatu janin berkembang. Dari 23 kromosom yang menentukan perkembangan

manusia, hanya satu pasangan yang menentukan jenis kelamin. Pasangan tersebut

selalu terdiri dari X, yang bisa memiliki atau tidak memiliki kromosom Y.

Kromosom XX biasanya menghasilkan jenis kelamin perempuan, dan kromosom

XY biasanya menghasilkan jenis kelamin laki-laki. Berbeda dari konsep seks atau

jenis kelamin, gender diperoleh individu melalui proses interaksi dalam dunia

sosial. Banyak ahli mengemukakan bahwa gender itu dikonstruksikan, karena

gender bukanlah suatu fakta alamiah, akan tetapi mengambil bentuk kongkrit

yang secara historis mengubah hubungan sosial.

Sebagaimana dikutip dalam Mugniesyah (2005), terdapat sejumlah definisi

gender yang dikemukakan oleh lembaga, ahli atau peminat studi

perempuan/gender. Diantaranya konsep gender diartikan sebagai suatu konstruksi


sosial yang bervariasi lintas budaya, berubah sejalan perjalanan waktu dalam

suatu kebudayaan tertentu dan bersifat relasional, karena feminitas dan

maskulinitas memperoleh maknanya dari fakta dimana masyarakatlah yang

menjadikan mereka berbeda (Wood, 2001). Sehubungan dengan itu, unsur-unsur

kebudayaan yang didalamnya mencakup adat, aturan, dan harapan untuk

berperilaku, menjadi sumber kekuasaan yang mempengaruhi persepsi tentang

gender. Ini berarti gender bukan jenis kelamin. Gender juga bukan perempuan.

Gender dikonstruksikan secara sosial-budaya. Dengan demikian, gender itu

dibentuk, sementara seks itu diberikan (gender must be enacted, while sex is

assigned). Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang

tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequality). Ketidakadilan gender

merupakan sistem dan struktur dimana baik kaum laki-laki dan atau perempuan

menjadi korban dari sistem tersebut (Fakih, 1996).

Moser (1993) dalam Mugniesyah (2004) mengemukakan bahwa dalam

perencanaan pembangunan dapat dibedakan dua tujuan pembangunan yakni

pemenuhan kebutuhan praktis dan strategis gender (practical and strategical

gender needs). Kebutuhan praktis gender mencakup kebutuhan-kebutuhan

perempuan yang diidentifikasi dari peranan perempuan secara sosial dalam

masyarakatnya. Kebutuhan praktis gender tidak menantang pembagian kerja

gender atau posisi subordinasi pembagian kerja perempuan dalam masyarakatnya.

Kebutuhan praktis gender merupakan respon terhadap kepentingan yang bersifat

segera, diidentifikasi sebagai dalam suatu konteks khusus, bersifat praktis dan

sering berkenaan dengan ketidaklayakan kondisi hidup, seperti ketersediaan air,

kesehatan dan ketenagakerjaan. Dengan perkataan lain, pemenuhan kebutuhan


praktis gender adalah pemenuhan terhadap kebutuhan yang segera dapat

meringankan beban kehidupan perempuan, namun tidak menyinggung masalah

ketimpangan yang ada antara laki-laki dan perempuan sebagai akibat pembagian

kerja seksual yang mengakar dalam masyarakat.

Kebutuhan strategis gender adalah kebutuhan-kebutuhan perempuan yang

disebabkan oleh adanya subordinasi posisi perempuan terhadap laki-laki dalam

masyarakat. Kebutuhan ini juga beragam tergantung konteksnya, tetapi umumnya

berhubungan dengan kemampuan kerja, kekuasaan, kontrol dan bisa berupa isu-

isu Hak Asasi Manusia (HAM), tindak kekerasan terhadap perempuan, upah yang

sama untuk pekerjaan dan waktu yang sama serta kontrol perempuan terhadap

tubuh mereka sendiri. Pemenuhan kebutuhan strategis gender akan membantu

perempuan kepada pencapaian keadilan dan kesetaraan gender. Diakui bahwa

kebutuhan strategis gender merupakan kebutuhan jangka panjang yang berupaya

menghilangkan ketimpangan antara perempuan dan laki-laki di dalam dan di luar

rumahtangga serta menjamin hak dan peluang perempuan untuk mengungkapkan

kebutuhan mereka (seperti undang-undang persamaan hak, persamaan upah untuk

pekerjaan yang sama).

2.1.3 Pengertian Program dan Evaluasi Program

Gunardi (n.d) dalam Lubis (2004) menyatakan bahwa program (serapan

dari bahasa Inggris dari program atau programme) adalah kegiatan-kegiatan yang

dilaksanakan dengan rencana untuk mencapai tujuan. Menurut Raudabough

dalam Mugniesyah (2006) program secara sederhana mencakup 2 komponen

utama, yaitu komponen perencanaan program dan komponen pelaksanaan


program. Perencanaan program mencakup kegiatan-kegiatan analisis situasi,

perumusan masalah, penentuan tujuan dan penyusunan rencana kerja program,

sementara pelaksanaan program mencakup pelaksanaan program sesuai dengan

rencana kerja yang sudah ditetapkan serta penetapan kemajuan program. Adapun

hasil yang ingin dicapai dari suatu program tersebut dibedakan ke dalam output

(hasil), effect (pengaruh) dan impact (dampak). Hasil yang dicapai ini sangat

dipengaruhi oleh masukan (input) program yang digunakan.

Menurut Raudabough sebagaimana dikutip oleh Maunder (1972) dalam

Mugniesyah (2006), evaluasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses pencatatan

nilai atau jumlah keberhasilan yang dicapai dari suatu tujuan program yang telah

ditetapkan. Evaluasi mencakup beberapa tahapan yaitu: formulasi tujuan,

identifikasi kriteria yang tepat untuk digunakan dalam mengukur keberhasilan.

Kunci elemen konseptual dalam evaluasi adalah nilai atau jumlah dari derajat

keberhasilan dan tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, dalam evaluasi

terkandung di dalamnya proses pemberian nilai kepada pencapaian tujuan

program dan kemudian menetapkan derajat keberhasilan pencapaian tujuan yang

dinilai tersebut. Dengan demikian, evaluasi dapat diartikan sebagai pengukuran

dari konsekuensi yang dikehendaki dan tidak dikehendaki dari suatu tindakan

yang telah dilakukan dalam rangka mencapai beberapa tujuan yang akan dinilai.

Menurut Kelsey dan Hearne (1955) dalam Mugniesyah (2006) evaluasi

program bermanfaat antara lain untuk:

1) Menguji secara berkala pelaksanaan program, yang mengarahkan perbaikan

kegiatan yang berkelanjutan


2) Membantu memperjelas manfaat yang penting dan tujuan-tujuan khusus

program serta memperjelas dan mengukur sampai seberapa jauh tujuan-tujuan

tertentu tercapai

3) Menjadi pengukur keefektivan metode

4) Menyediakan data dan informasi tentang situasi pedesaan yang penting untuk

perencanaan program selanjutnya

5) Menyediakan bukti tentang nilai atau pentingnya program

6) Menyediakan bukti-bukti tentang keberhasilan untuk memberikan rasa puas

dan kepercayaan kepada mereka yang terlibat dalam program.

2.1.4 Teknik Analisis Gender dan Evaluasi Program Berperspektif Gender

Analisis gender meliputi pemahaman mengenai pola pembagian kerja

antara perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga. Analisis gender adalah suatu

rangkaian proses kegiatan untuk mengetahui latar belakang dan penyebab

terjadinya kesenjangan peran antara laki-laki dan perempuan sampai pada upaya

pemecahan masalah dan pencapaian sasaran, langkah tindak lanjut untuk

mengatasi kesenjangan dalam rangka mencapai persamaan kedudukan dan

peranan laki-laki dan perempuan dalam kegiatan pembangunan (Rosalin dkk,

2001 dalam Biro Perencanaan Departemen Dalam Negeri, 1998).

Sebagaimana diamanatkan dalam Inpres No. 9 tahun 2000 dan RPJMN

2004-2009. Perspektif gender harus diintegrasikan ke dalam siklus program

pembangunan, sejak perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya.

Perencanaan yang responsif gender adalah perencanaan yang dilakukan dengan

memasukkan perbedaan-perbedaan pengalaman, aspirasi, permasalahan dan

kebutuhan yang dihadapi perempuan dan laki-laki dalam proses penyusunan


perencanaan program (Biro Perencanaan Departemen Dalam Negeri, 1998).

Dalam melakukan perencanaan yang responsif gender, para perencana perlu

melakukan analisis gender pada semua kebijakan dan program pembangunan.

Tujuan perencanaan yang responsif gender adalah tersusunnya rencana

kebijakan/program/ proyek/kegiatan pembangunan yang responsif gender di

berbagai bidang/sektor pembangunan. Analisis gender dilakukan dengan

memperhatikan 4 (empat) faktor utama guna mengidentifikasi ada tidaknya

kesenjangan gender. Keempat faktor tersebut adalah:

a) Faktor akses. Apakah perempuan dan laki-laki memperoleh akses yang

sama terhadap sumber-sumber daya pembangunan?

b) Faktor kontrol. Apakah perempuan dan laki-laki memiliki kontrol

(penguasaan) yang sama terhadap sumberdaya pembangunan?

c) Faktor partisipasi. Bagaimana perempuan dan laki-laki berpartisipasi

dalam program-program pembangunan?

d) Faktor manfaat. Apakah perempuan dan laki-laki menikmati manfaat yang

sama dari hasil pembangunan?

Salah satu kategori utama alat analisis gender adalah kerangka

pemberdayaan perempuan (Longwe, 1991 dalam Prasodjo, dkk., 2003; King

(n.d.) 2 . Kerangka analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah para perencana

pembangunan dalam prakteknya telah memberdayakan perempuan melalui

proyek-proyek pembangunan yang mereka laksanakan. Selain itu, juga untuk

mengetahui derajat komitmen kelembagaan/organisasi penyelenggara

pembangunan terhadap pemberdayaan dan kesetaraan perempuan. Menurut March


2
Christine King (n.d.) Gender and rural community development III: tools and frameworks for
gender analysis. Diambil dari www.regional.org.au. Diterjemahkan oleh Siti Sugiah Mugniesyah.
dkk. (1999) dalam King (n.d) terdapat dua alat utama dari Kerangka Longwe,

yaitu Tingkatan Kesetaraan (levels of equality) dan Tingkatan Pengakuan atas

isu-isu perempuan (level of recognition of womens issues).

Tingkatan Kesetaraan dalam Kerangka Pemberdayaan perempuan

digunakan untuk menganalisis tahapan perkembangan pemberdayaan perempuan

dalam suatu program/proyek pembangunan. Pemberdayaan perempuan

merupakan upaya untuk mengatasi hambatan guna mencapai

pemerataan/persamaan bagi laki-laki dan perempuan, meliputi lima

tahapan/tingkatan yang bersifat hierarkis: tingkat kesejahteraan, tingkat akses

(terhadap sumberdaya dan manfaat), tingkat penyadaran, tingkat partisipasi aktif

(dalam pengambilan keputusan), dan tingkat penguasaan (kontrol). Mekanisme

kerja level hierarkis ini berupa pemberian kesejahteraan (berupa materi sebagai

pemenuhan kebutuhan), diikuti dengan keteraksesan pada sumberdaya dan

manfaat program, baru ke tingkat penyadaran akan ketimpangan gender dalam

masyarakat. Tahap selanjutnya berupa peningkatan partisipasi dalam program

untuk mencapai tahap puncak berupa kontrol atau penguasaan dalam pelaksanaan

dan pemanfaatan program.

Pada alat analisis kedua, isu-isu perempuan didefinisikan sebagai semua

isu yang berhubungan dengan kesetaraan laki-laki dan perempuan mencakup

peranan-peranan sosial, ekonomi, serta kelima level kesetaraan; dibedakan

kedalam tiga kategori: negatif, netral dan positif. Disebut level negatif, jika

tujuan-tujuan proyek tidak merespon terhadap isu-isu perempuan, sehingga

pelaksanaan proyek pembangunan akan berdampak negatif terhadap perempuan.

Tergolong level netral, jika isu-isu perempuan diintegrasikan dalam tujuan-tujuan


proyek pembangunan, namun masih diragukan ada tidaknya dampak positif dan

negatif pada perempuan. Dikategorikan level positif, jika tujuan-tujuan proyek

pembangunan secara positif merespon isu-isu perempuan dan tujuan proyek

diarahkan untuk memperbaiki posisi perempuan relatif terhadap laki-laki.

Gambar 1.Kerangka Pemberdayaan Perempuan Longwe dalam Prasodjo, dkk

(2003)

Kriteria Pembangunan Perempuan

5. Penguasaan

4. Partisipasi aktif

3. Penyadaran

2. Akses

1. Kesejahteraan
Peningkatan Peningkatan
pemerataan empowerment

Sumber: Prasodjo, dkk; 2003

2.1.5 Program Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro


(PLTMH)

Secara umum sasaran program PLTMH adalah pelibatan private sector,

dan pemerintah dalam pembangunan sosial, terutama dalam penyediaan akses di

bidang ketenagalistrikan untuk masyarakat miskin. Sasaran khusus dari program

ini adalah sebagai model percontohan elektrifikasi pedesaan sebagai hasil

kerjasama antar berbagai pihak.

Pembangunan PLTMH di Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang,

Kabupaten Subang melibatkan berbagai pihak, yakni Koperasi Mekarsari sebagai

representasi dari warga masyarakat, Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi

Kerakyatan (IBEKA), serta PT Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya (HIBS). Setiap


pihak yang berkepentingan mempunyai andil dalam pembangunan serta

pengelolaan PLTMH ini. Adanya kegiatan pembangunan PLTMH dipandang

sebagai sebuah bentuk introduksi teknologi yang dapat membantu aktivitas sosial

ekonomi warga desa.

Menurut Kuntoadji (2007) selaku dewan pengurus di Yayasan IBEKA,

pembangunan PLTMH Cinta Mekar menggunakan cara community partnership

berupa kegiatan sosial kemasyarakatan, yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu

kegiatan sosial tahap pertama atau biasa disebut dengan kegiatan persiapan

masyarakat dan pembentukan kapasitas dan keadilan dalam kepemilikan. Tahap

pertama, meliputi dua kegiatan yaitu pencatatan data awal dan pembentukan

organisasi. Adapun pada tahap kedua meliputi empat kegiatan utama yaitu:

pelatihan dan magang, peningkatan pendapatan, pembentukan wirausaha serta

pendidikan anak dan peningkatan peran remaja.

Kegiatan pencatatan data awal dilakukan melalui diskusi pada tingkat lokal,

yang ditujukan untuk mengidentifikasi permasalahan serta alternatif pemecahan

masalah tersebut. Dalam diskusi, teridentifikasi beberapa permasalahan yang

meliputi: tingginya kebutuhan listrik di kalangan warga miskin dan tingkat

pengangguran, rendahnya kualitas sumberdaya manusia, status ekonomi dan

infrastruktur desa, dan kurangnya rasa kekeluargaan (kesatuan atau gotong

royong) dalam memecahkan permasalahan warga.

2.2 Kerangka Pemikiran

Secara umum, Studi Gender dalam Program PLTMH Bagi Rumahtangga

Miskin (Kasus PLTMH Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten


Subang, Jawa Barat) ini mengacu kepada beragam konsep, pendekatan, dan teori-

teori dalam bidang-bidang gender dan pembangunan, pendekatan pemberdayaan

masyarakat, evaluasi program dan sistem, serta beragam aspek berkenaan

Program PLTMH sebagaimana dirancang oleh Yayasan IBEKA dan PT HIBS.

Sebagaimana diketahui Program PLTMH Desa Cinta Mekar terdiri dari

tiga tahap yakni: perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan hasil program.

Tahap perencanaan terdiri dari kegiatan pencatatan data awal, penetapan tujuan

program, penetapan rencana kerja, penentuan prioritas dan aktivitas,

pengalokasian sumberdaya, diskusi untuk sosialisasi program dan pertemuan

dengan pemangku kepentingan (stakeholders). Tahap pelaksanaan program terdiri

dari kegiatan-kegiatan: pembangunan sarana fisik, gotong royong, dan

pengelolaan organisasi. Adapun pada tahap pemanfaatan hasil program mencakup

aktivitas penggunaan atau alokasi dana hasil penjualan listrik bagi masyarakat

desa, khususnya untuk: pemasangan sambungan listrik baru bagi rumahtangga

miskin, kegiatan produktif, pendidikan, kesehatan, modal usaha, pembangunan

infrastruktur desa, biaya operasional koperasi Mekarsari (selaku pengelola), biaya

operasional PLTMH, dan biaya operasional desa.

Bentuk stimulan dalam program PLTMH Desa Cinta Mekar berupa

bantuan dana operasional untuk pembangunan PLTMH. Dana ini berasal dari

hibah dari (UNESCAP), pinjaman dari PT HIBS serta dari Yayasan IBEKA.

Dengan pertimbangan bahwa penyelenggaraan PLTMH Desa Cinta Mekar

seharusnya responsif gender (mampu mewujudkan kesetaraan dan keadilan

gender), dan mengacu pada pedoman TAG tersebut di atas, variabel-variabel tidak

bebas atau variabel terpengaruh (dependent variables) pada studi gender dalam
PLTMH Desa Cinta Mekar ini meliputi empat variabel utama, yaitu: Tingkat

Akses, Tingkat Kontrol, Tingkat Partisipasi dan Tingkat Manfaat yang diperoleh

anggota Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan (selanjutnya ditulis

sebagai RMKL dan RMKP) dari Program PMLTH. Lebih lanjut, karena studi ini

menelaah tiga tahapan dalam siklus program (perencanaan, pelaksanaan dan

keluaran atau manfaat), maka dua variabel pertama dirinci kembali ke dalam

beberapa variabel, sehingga dalam studi ini variabel tidak bebasnya meliputi

delapan variabel yang meliputi: Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap

Perencanaan Program PLTMH (Y1), Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap

Pelaksanaan Program PLTMH (Y2), Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap

Pemanfaatan Hasil Program PLTMH (Y3), Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP

terhadap Perencanaan Program PLTMH (Y4), Tingkat Kontrol RMKL dan

RMKP terhadap Pelaksanaan Program PLTMH (Y5), Tingkat Kontrol RMKL dan

RMKP terhadap Pemanfaatan Hasil Program PLTMH (Y6), Tingkat Partisipasi

RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program PLTMH (Y7), dan Tingkat

Manfaat yang diperoleh RMKL dan RMKP terhadap Hasil Program PLTMH

(Y8).

Variabel-variabel terpengaruh tersebut di atas, diduga dipengaruhi oleh

beberapa variabel pengaruh atau variabel bebas (independent variables) dari

beberapa faktor yang mencakup: karakteristik sumberdaya pribadi dan

rumahtangga, stimulan Program PLMTH, pendampingan dari fasilitator, dan

lingkungan. Pada karakteristik sumberdaya pribadi, dua variabel yang diduga

berpengaruh yaitu: Tingkat Pendidikan Formal (X1) dan Status Bekerja (X2);

sementara pada karakteristik sumberdaya rumahtangga meliputi: Tingkat


Kekayaan (X3), Status Rumahtangga (X4), dan Tingkat Kontrol dalam

Rumahtangga (X5). Pada faktor pendampingan fasilitator, variabel yang diduga

berpengaruh adalah Frekuensi Kunjungan Fasilitator (X6), sementara pada faktor

stimulan program terdiri dari variabel-variabel: Jumlah Dana Program PLMTH

(X7) dan Tingkat Kesesuaian Program dengan Kebutuhan Rumahtangga Miskin

(X8). Adapun pada faktor lingkungan yang diduga berpengaruh adalah Tingkat

Dukungan dari Aparat Pemerintah Desa (X9).

Selanjutnya, dengan menggunakan pendekatan Kerangka Pemberdayaan

Longwe, berdasar semua pencapaian pada semua variabel tidak bebas yang

ditemukan dalam penelitian (studi ini) akan dianalisis Tingkat Kesetaraan (levels

of equality) dan Tingkat Pengakuan atas isu-isu perempuan (level of recognition

of womens issues) yang diwujudkan melalui Program PLTMH Desa Cinta

Mekar. Hubungan antara variabel-variabel bebas dengan variabel tidak bebas

dalam penelitian ini selengkapnya disajikan pada Gambar 3.


Gender dalam Program PLTMH Cinta Mekar
Karakteristik Sumberdaya Y1: Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Pendampingan Fasilitator
Pribadi Perencanaan Program PLTMH
Y2: Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap X7: Frekuensi Kunjungan
X1: Tingkat Pendidikan Formal Fasilitator
Pelaksanaan Program PLTMH
X2: Status Bekerja Y3: Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap
Pemanfaatan Hasil Program PLTMH
Y4: Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap
Perencanaan Program PLTMH
Y5: Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap
Pelaksanaan Program PLTMH
Y6: Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap
Karakteristik
Pemanfaatan Hasil Program PLTMH Stimulan Program PLTMH
Sumberdaya
Y7:Tingkat Partisipasi RMKL dalam Pelaksanaan
Rumahtangga
Program PLTMH X8: Jumlah Dana Program
Y8: Tingkat Manfaat RMKL dan RMKP terhadap X9: Tingkat Kesesuaian
X3: Tingkat Kekayaan
Hasil Program PLTMH Progran terhadap
X4: Status Rumahtangga
X5: Tingkat Kontrol dalam Kebutuhan RMKL &
Rumahtangga RMKP

Faktor Lingkungan Kerangka Pemberdayaan Perempuan


Level Kesetaraan
X9: Tingkat Dukungan dari Pemerintah Level Isu Perempuan

Gambar 3. Hubungan antar variabel dalam studi gender program PLTMH Keterangan:
: Analisis kuantitatif

: Analisis kualitatif
2.3 Hipotesis Penelitian

Hipotesis Kerja:

1) Semakin rendah variabel-variabel pada karakteristik sumberdaya individu

dan sumberdaya RMKL dan RMKP, semakin tinggi akses dan kontrol

mereka terhadap Program PLTMH.

2) Semakin tinggi frekuensi kunjungan fasilitator semakin tinggi akses,

kontrol, partisipasi dan manfaat yang diperoleh RMKL dan RMKP

terhadap Program PLTMH.

3) Semakin tinggi jumlah dana Program PLMTH dan tingkat kesesuaian,

program dengan kebutuhan rumahtangga miskin semakin tinggi akses,

kontrol, partisipasi dan manfaat RMKL dan RMKP terhadap Program

PLTMH.

4) Semakin tinggi akses dan kontrol RMKL dan RMKP terhadap Program

PLTMH, semakin tinggi tingkat partisipasi mereka dalam pelaksanaan

Program PLTMH.

5) Semakin tinggi tingkat partisipasi RMKL dan RMKP dalam pelaksanaan

Program PLTMH semakin tinggi manfaat yang mereka peroleh mereka

dari Program PLMTH.

2.4 Definisi Operasional

Di bawah ini dikemukakan definisi operasional dari semua variabel tidak

bebas dan bebas pada penelitian ini.

1) Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Perencanaan Program PLTMH

(Y1) adalah jumlah total skor yang diperoleh RMKL dan RMKP dalam
mengikuti tahap persiapan, dibedakan ke dalam kategori: (a) rendah, jika

skornya antara satu sampai dengan dua, (b) sedang, jika skornya antara

tiga sampai dengan empat, dan (c) tinggi, jika skornya lima.

2) Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program PLTMH

(Y2) adalah jumlah total skor yang diperoleh RMKL dan RMKP dalam

mengikuti tahap pelaksanaan program sesuai dengan rencana kerjanya,

yang dibedakan ke dalam kategori: (a) rendah, jika skornya nol, (b)

sedang, jika skornya satu, dan (c) tinggi, jika skornya lebih dari satu.

3) Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Pemanfaatan Hasil Program

PLTMH (Y3) adalah jumlah total skor yang diperoleh RMKL dan RMKP

dalam menggunakan/menikmati hasil program PLTMH, yang dibedakan

ke dalam kategori: (a) rendah, jika skornya satu, (b) sedang, jika skornya

antara dua hingga tiga, dan (c) tinggi, jika skornya empat.

4) Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Perencanaan Program

PLTMH (Y4) adalah peranserta RMKL dan RMKP dalam pengambilan

keputusan terhadap sumberdaya program pada tahap perencanaan Program

PLTMH; dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah, jika hanya suami

atau istri sendiri yang berperanserta, (b) sedang, jika suami dan istri

berperanserta, tetapi salah seorang (suami atau isteri) dominan, dan (c)

tinggi, jika suami dan istri berperan serta, tanpa adanya dominasi salah

seorang diantara mereka.

5) Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program

PLTMH (Y5) adalah peranserta ARMKL/ARMKP dalam pengambilan

keputusan pada setiap kegiatan tahap pelaksanaan Program PLMTH,


dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah, jika hanya suami sendiri atau

istri sendiri yang berperanserta, (b) sedang, jika suami dan istri keduanya

berperan serta, namun salah seorang diantara mereka dominan, dan (c)

tinggi, jika suami dan istri berperanserta, tanpa adanya dominasi salah

seorang diantara mereka.

6) Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Pemanfaatan Hasil Program

PLTMH (Y6) adalah peranserta ARMKL/ARMKP dalam pengambilan

keputusan pada setiap kegiatan dalam pemanfaatan hasil Program

PLTMH; dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah, jika hanya suami

atau istri yang berperanserta, (b) sedang, jika suami dan istri berperanserta,

namun salah seorang diantara mereka dominan, dan (c) tinggi, jika suami

dan istri berperanserta, tanpa adanya dominasi salah seorang diantara

mereka.

7) Tingkat Partisipasi RMKL dan RMKP dalam Pelaksanaan Program

PLTMH (Y7) adalah peranserta RMKL dan RMKP dalam semua kegiatan

dalam pelaksanaan Program PLTMH, (berupa peranserta dalam

pembangunan fisik, menjadi pengurus dalam kelembagaan, dan gotong

royong) dibedakan ke dalam kategori: (a) rendah, jika skornya nol, (b)

sedang, jika skornya satu, dan (c) tinggi jika skornya lebih dari satu.

8) Tingkat Manfaat RMKL dan RMKP terhadap Hasil Program PLTMH

(Y8) adalah pola pemanfaatan hasil program PLTMH oleh anggota RMKL

dan RMKP, dibedakan ke dalam kategori: (a) rendah, jika yang

memperoleh manfaat hanya salah seorang dari anggota RMKL dan

RMKP, (b) sedang, jika yang menikmati program PLTMH dua orang
anggota RMKL dan RMKP, dan (c) tinggi, jika yang menikmati program

seluruh atau semua anggota RMKL dan RMKP.

9) Tingkat Pendidikan Formal (X1) adalah lamanya (tahun) pendidikan yang

dinikmati anggota RMKL dan RMKP di bangku sekolah; dibedakan ke

dalam tiga kategori: (a) rendah, jika tidak lulus SD atau tamat SD), (b)

sedang, jika tamat SMP dan SMA), dan (c) tinggi, jika tamat

akademi/perguruan tinggi.

10) Status Bekerja (X2) adalah kondisi bekerja yang dialami individu dalam

hubungannya dengan ada tidaknya dukungan tenaga kerja lainnya,

dibedakan ke dalam: (a) rendah, jika berstatus sebagai pekerja keluarga

atau bekerja tanpa upah, (b) sedang, jika bekerja selaku buruh tidak tetap

atau berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain/pekerja keluarga, dan (c)

tinggi, jika bekerja sebagai karyawan PNS/swasta (dengan gaji tetap)

dan/atau berusaha sendiri dengan bantuan pekerja upahan.

11) Tingkat Kekayaan (X3) adalah kumulatif dari faktor-faktor:

pendapatan/penghasilan dan pemilikan barang-barang berharga RMKL

dan RMKP yang mencakup kepemilikan perhiasan, barang elektronik, dan

kendaraan bermotor yang dinilai setara rupiah sesuai nilai pada saat

penelitian berlangsung; dibedakan kedalam tiga kategori: (a) rendah, jika

jumlah kekayaan dibawah Rp.6.722.216,0 (enam juta tujuh ratus dua

puluh dua ribu dua ratus enam belas rupiah), (b) sedang, jika jumlah

kekayaan antara Rp.6.722.216,0 sampai dengan Rp.15.532.583,0 (enam

juta tujuh ratus dua puluh dua ribu dua ratus enam belas rupiah sampai

dengan lima belas juta lima ratus tiga puluh dua ribu lima ratus delapan
puluh tiga rupiah), dan (c) tinggi, jika jumlah kekayaan diatas

Rp.37.787.383,0 (tiga puluh tujuh juta tujuh ratus delapan puluh tujuh ribu

tiga ratus delapan puluh tiga rupiah).

12) Status Rumahtangga (X4) adalah kondisi rumahtangga miskin berdasarkan

kriteria rumahtangga miskin menurut kriteria lokal yang mencakup ciri-

ciri tidak mempunyai lahan, tidak bermodal, tidak mempunyai pekerjaan

tetap, dan tidak berpendidikan tinggi. Dibedakan ke dalam tiga kategori:

(a) Kategori Miskin I: memiliki semua karakteristik kriteria lokal, (b)

Kategori Miskin II: memiliki kombinasi tiga kriteria rumahtangga miskin

lokal, (c) Kategori Miskin III: memiliki dua karakteristik kriteria

rumahtangga miskin lokal, dan (d) Kategori Miskin IV, jika hanya

memiliki salah satu karakteristik dari kriteria rumahtangga miskin secara

lokal.

Status rumahtangga miskin menurut kriteria BPS 2000/2005 dibedakan ke

dalam: (a) miskin, jika memenuhi lima atau lebih dari variabel kemiskinan

yang berskor satu dan (b) tidak miskin, jika lebih dari lima variabel

kemiskinan yang berskor satu.

13) Tingkat Kontrol dalam Rumahtangga (X5) adalah dominasi anggota

RMKL dan RMKP dalam menentukan kegiatan/penggunaan sumberdaya

dalam rumahtangga, dibedakan ke dalam tiga kategori, yakni: (a) rendah,

jika hanya suami sendiri atau istri sendiri, (b) sedang, jika suami dan istri

tapi suami dominan atau suami dan istri tapi istri dominan, dan (c) tinggi,

jika suami dan istri setara.


14) Frekuensi Kunjungan Fasilitator (X6) adalah jumlah kedatangan fasilitator

selama pelaksanaan PLTMH kepada RMKL dan RMKP sejak program

diintroduksikan sampai berjalannya program hingga penelitian dilakukan,

dibedakan ke dalam tiga kriteria: (a) rendah jika tidak ada kunjungan,(b)

sedang, jika sekali kunjungan tiap minggu, dan (c) tinggi, jika lebih dari

sekali kunjungan.

15) Jumlah Dana Program (X7) adalah total rupiah bantuan materi dari

Program PLTMH yang diperoleh RMKL dan RMKP. Dalam hal ini,

bantuan dana program dialokasikan untuk pembangunan PLTMH. Jumlah

dana program keseluruhan sebesar US$ 225.000 (dua ratus dua puluh lima

ribu dolar Amerika) atau setara dengan Rp.633.750.000,00; (enam ratus

tiga puluh tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah).

16) Tingkat Kesesuaian Program dengan Kebutuhan RMKL dan RMKP (X8)

adalah kecocokan antara pelaksanaan program dengan tujuan yang telah

ditetapkan sebelumnya.Dibedakan menjadi (a) sesuai, jika program

PLTMH dinilai sesuai dengan harapan dan mengatasi kebutuhan RMKL

dan RMKP, (b) tidak sesuai, jika program PLTMH dinilai tidak memenuhi

harapan dan tidak mengatasi kebutuhan RMKL dan RMKP

17) Tingkat Dukungan Aparat Pemerintah Desa (X9) adalah peranserta aparat

Desa Cinta Mekar dalam perencanaan dan pelaksanaan Program PLTMH,

baik peranserta dalam sosialisasi dan pengawasan kegiatan-kegiatan pada

semua tahapan pelaksanaan Program PLTMH; dibedakan ke dalam (a)

rendah, jika aparat desa tidak pernah hadir dalam rapat atau musyawarah

program, (b) sedang, jika aparat desa hanya sekali menghadiri rapat atau
musyawarah program, dan (c) tinggi, jika aparat desa lebih dari sekali

menghadiri rapat atau musyawarah program.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Strategi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi hasil (sumatif) dengan

menggunakan teknik pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Dalam

pendekatan kuantitatif digunakan metode survei dengan pengambilan sampel

secara purposif, yakni hanya meliputi rumahtangga miskin penerima Program

PLTMH. Metode survei digunakan untuk memperoleh data yang mencakup akses,

kontrol, dan partisipasi RMKL dan RMKP terhadap program PLTMH, serta

manfaat yang mereka peroleh dari program PLTMH. Pengumpulan data pada

kedua metode tersebut dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang

diadaptasi dari kuesioner Penelitian Riset Unggulan Terpadu atau RUT VIII dari

Mugniesyah dkk. (2001). Adapun pengumpulan data kualitatif menggunakan

teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi. Kuesioner

terstruktur dan pedoman wawancara mendalam selengkapnya disajikan pada

Lampiran 1 dan Lampiran 2.

Survei dilakukan untuk mengumpulkan data yang akan dapat menjelaskan

ada tidaknya hubungan antar faktor atau variabel penelitian, sementara wawancara

mendalam dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang mampu menjelaskan

peranan kelembagaan (pemerintah desa, koperasi, Yayasan IBEKA serta PT

HIBS) dalam pelaksanaan pembangunan PLTMH.

Data dalam penelitian ini mencakup data primer dan sekunder. Data

primer dalam penelitian ini meliputi: (a) semua variabel bebas dan tidak bebas
yang tercantum pada Gambar 3, dan (b) beragam informasi berkenaan

penyelenggaraan program PLTMH yang diperoleh dari informan dan hasil

observasi. Adapun data sekunder berupa data yang diperoleh melalui kegiatan

studi dokumentasi, khususnya berupa Potensi Desa Cinta Mekar serta laporan dan

dokumentasi dari: internet, Yayasan IBEKA, Koperasi Cinta Mekar dan PT HIBS

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Cinta Mekar, Kecamatan Serangpanjang,

Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian ini dipilih secara

sengaja (purposive). Dengan pertimbangan bahwa di lokasi ini terdapat program

pembangunan PLTMH yang dilaksanakan pada periode 2004-2008 dan

dinyatakan Yayasan IBEKA sebagai proyek percontohan (pilot project)

pembangunan PLTMH. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu pada

bulan Mei sampai dengan Juni 2008. Adapun jadwal penelitian dapat dilihat pada

Lampiran 3.

3.3 Pemilihan Subjek Penelitian

Populasi sampling pada penelitian ini adalah seluruh rumahtangga warga

Desa Cinta Mekar. Adapun populasi sasaran pada penelitian ini adalah seluruh

rumahtangga miskin penerima program PLTMH.yang berdomisili di Kampung

Tangkil yang berada di wilayah Dusun II, Desa Cinta Mekar. Total populasi

sampel terdiri atas 100 rumahtangga, khususnya yang berdomisili di RT 05

sampai dengan RT 08. Responden pada rumahtangga miskin pada RMKL adalah

suami dan isteri, sementara pada RMKP hanya isterinya saja, karena mereka
terdiri atas janda mati dan cerai. Responden pada koperasi Mekarsari terdiri atas

sekretaris koperasi, adapun untuk mengetahui operasional PLTMH respondennya

terdiri dari operator, andir dan penjaga taman. Adapun informan terdiri atas

pengurus koperasi lainnya (tiga orang), fasilitator (seorang), serta aparat

pemerintahan desa (dua orang).

3.4 Metode Analisis Data

Data primer yang telah terkumpul diedit, untuk kemudian di-entry ke

dalam komputer dengan menggunakan program Microsoft Excel 2003. Dengan

program yang sama, selanjutnya data diedit, diolah ke dalam bentuk tabel-tabel

frekuensi dan silang, khususnya untuk mengetahui kecenderungan diterima

tidaknya hipotesis penelitian ini. Selanjutnya, hasil pengolahan data tersebut

dianalisis dengan mengacu kepada pendekatan dan teori yang dikemukakan di

atas. Adapun proses analisis data kualitatif mencakup klasifikasi data dari catatan

lapangan dan analisis data, yang ditujukan untuk memperjelas atas ada tidaknya

hubungan antar variabel sebagaimana tertuang dalam hipotesis penelitian dan

Gambar 3.
BAB IV

PROFIL DESA CINTA MEKAR

4.1 Lokasi dan Kondisi Geografis

Desa Cinta Mekar merupakan desa hasil pemekaran Desa Leles

Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang. Sejak tanggal 15 Mei 2008, secara

administratif desa ini termasuk wilayah Kecamatan Serangpanjang, sebelumnya

termasuk wilayah Kecamatan Segalaherang. Secara geografis, desa ini berbatasan

dengan Desa Curugagung Kecamatan Kalijati di sebelah Utara dan dengan Desa

Dayeuhkolot Kecamatan Lembang di sebelah Selatan. Di sebelah Timur desa ini

berbatasan dengan Desa Leles Kecamatan Jalancagak, sementara di sebelah Barat

berbatasan dengan Desa Telagasari Kecamatan Wanayasa. Peta Desa Cinta Mekar

dapat dilihat pada Lampiran 4.

Desa Cinta Mekar terdiri dari empat dusun, delapan Rukun Warga (RW)

dan 16 Rukun Tetangga (RT) yang tersebar di lima wilayah kampung, yaitu:

Cimute, Tangkil, Malingping, Nyalindung dan Karapyak. Antara satu kampung

dengan yang lainnya dipisahkan oleh areal pertanian sawah atau oleh jalan

perkampungan yang sudah diaspal. Secara umum topografi Desa Cinta Mekar

berupa dataran tinggi atau pegunungan. Suhu rata-rata harian di Desa Cinta Mekar

sekitar 25 C, dengan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Desa Cinta Mekar berjarak sejauh lima kilometer dari ibukota Kecamatan

Serangpanjang, 28 km dari ibukota Kabupaten Subang dan 45 km dari ibukota

Propinsi Jawa Barat. Dari ibukota kabupaten, desa ini dapat dicapai selama satu

jam perjalanan jika menggunakan kendaraan bermotor (roda dua dan roda empat),
baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Kendaraan umum

yang tersedia berupa angkutan umum dengan trayek Jalancagak-Wanayasa yang

setiap harinya beroperasi sejak pukul 05.00 sampai dengan pukul 18.00 WIB.

4.2 Tataguna Lahan di Desa Cinta Mekar

Luas wilayah desa Cinta Mekar sekitar 171,12 hektar, dengan peruntukkan

lahan seperti yang tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah dan Persentase Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Lahan,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2007
Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
Persawahan 117,00 68,37
Lahan kering 34,55 20,19
Pemukiman 10,00 5,84
Kuburan 3,00 1,75
Pekarangan 3,00 1,75
Prasarana umum lainnya 2,00 1,16
Taman 1,50 0,87
Perkantoran 0,07 0,04
Total 171,12 100,00
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007

Seperti terlihat pada Tabel 1, lebih dari dua pertiga wilayah Desa Cinta

Mekar merupakan areal persawahan. Setengah wilayah persawahan di desa ini

tergolong sawah beririgasi teknis yang memanfaatkan air dari Sungai Ciasem.

Rata-rata luas lahan pertanian yang diusahakan oleh warga Desa Cinta Mekar

sekitar kurang dari satu hektar per rumahtangga. Sebagian besar warga petani di

Desa Cinta Mekar membudidayakan padi sawah. Selain itu, mereka juga

berbudidaya talas, padi ladang (tumpangsari) dan ubijalar. Terdapat beberapa

komoditi buah-buahan yang dibudidayakan oleh warga desa ini, diantaranya

pisang, rambutan, pepaya, kokosan (sejenis duku) dan nangka.


Peruntukan lahan terluas kedua di Desa Cinta Mekar yaitu sebagai lahan

kering. Warga Desa Cinta Mekar tidak membudidayakan komoditas perkebunan

besar seperti teh, kelapa, kelapa sawit, cengkeh karet dan sebagainya, melainkan

berupa tanaman buah-buahan yang dibudayakan di areal kebun dekat rumah.

Wilayah pemukiman menempati peruntukkan lahan terluas ketiga di desa Cinta

Mekar. Namun demikian, pemukiman penduduk terkonsentrasi pada wilayah-

wilayah tertentu yang dipisahkan oleh areal persawahan serta jalan desa. Pada

rumahtangga yang memiliki lahan pekarangan, ada mereka yang beternak ayam

kampung, domba dan kerbau, meskipun jumlahnya sedikir. Namun demikian, di

desa ini juga dijumpai lahan yang menjadi sarana budidaya ayam ras secara

komersil untuk memproduksi telurnya. Mengingat desa ini tergolong desa lahan

kering, di desa ini tidak dijumpai adanya warga yang berusaha di sektor

perikanan. Sebagaimana terlihat pada Tabel 1, peruntukkan lahan yang

mempunyai persentase yang tidak terlalu besar digunakan untuk kuburan,

pekarangan, perkantoran dan lain-lain.

4.3 Kondisi Umum Penduduk Desa Cinta Mekar

Sampai dengan bulan Januari 2007, jumlah penduduk Desa Cinta Mekar

tercatat sebanyak 2.313 jiwa. Dengan total Kepala Keluarga (KK) sebanyak 688

KK, kepadatan penduduk di desa ini sebesar 13,52 jiwa per hektar. Seperti terlihat

pada Tabel 2, jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki sedikit lebih tinggi

dibandingkan dengan penduduk perempuan (0,82 persen).


Tabel 2. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Desa Cinta
Mekar, Tahun 2007
Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)
Laki-laki 1166 50,41
Perempuan 1147 49,59
Total 2313 100,00
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007

Tabel 3 menyajikan data penduduk Desa Cinta Mekar menurut kelompok

umur. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas penduduk desa ini berada

pada kelompok umur muda dan produktif (15 tahun sampai dengan 54 tahun),

yakni sebesar 59,46 persen.

Tabel 3. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007
Kelompok Laki-laki Perempuan Total
Umur (tahun) Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(jiwa) (jiwa) (jiwa)
04 73 6,26 79 6,89 152 6,57
59 99 8,49 95 8,28 194 8,39
10 14 99 8,49 82 7,15 181 7,83
15 19 83 7,12 91 7,93 174 7,52
20 24 86 7,38 86 7,50 172 7,44
25 29 91 7,80 82 7,15 173 7,48
30 34 93 7,98 83 7,24 176 7,61
35 39 65 5,57 71 6,19 136 5,88
40 45 84 7,20 94 8,20 178 7,70
46 49 84 7,20 98 8,54 182 7,87
50 54 98 8,40 86 7,50 184 7,96
55 59 78 6,69 80 6,97 158 6,83
60 64 41 3,52 35 3,05 76 3,29
65 69 38 3,26 35 3,05 73 3,16
70 54 4,63 50 4,36 104 4,50
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007

Secara keseluruhan, persentase tertinggi penduduk desa, baik laki-laki

maupun perempuan berada pada kelompok umur produktif, yakni kelompok umur
antara 15-19 tahun hingga 50-54 tahun (59,46 persen) Adapun mereka yang

tergolong di bawah lima tahun hingga 14 tahun sebesar 22,79 persen Kemudian

bila dibandingkan dengan kelompok umur muda, yaitu antara 0-4 tahun hingga

10-14 tahun. Yang menarik, untuk kelompok umur tua (manula, 60 tahun ke atas)

sebagaimana terlihat pada Tabel 3, menunjukkan persentase yang lebih rendah

dari RMKL sebesar sekitar satu persen

Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa hampir semua rumahtangga di Desa

Cinta Mekar adalah rumahtangga yang dikepalai oleh laki-laki, dan sisanya adalah

rumahtangga yang dikepalai oleh perempuan.

Tabel 4. Jumlah dan Persentase Kepala Keluarga (KK) Menurut Jenis Kelamin
Kepala Keluarganya, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007
Jenis Kelamin KK Jumlah (KK) Persentase (%)
Laki-laki 662 96,22
Perempuan 26 3,78
Total 688 100,00
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007

Pada Tabel 5 disajikan data rumahtangga di Desa Cinta Mekar menurut

tingkat kesejahteraan keluarga/rumahtangga menggunakan kriteria Badan

Kesejahteraan Keluarga Berencana (BKKBN).

Tabel 5. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Tingkat Kesejahteraan


Keluarganya, Desa Cinta Mekar, Tahun 2007
Tingkat Kesejahteraan Jumlah (Rumahtangga) Persentase (%)
Keluarga Pra-sejahtera (Pra - KS) 217 31,54
Keluarga Sejahtera I (KS I) 452 65,70
Keluarga Sejahtera II (KS II) 8 1,16
Keluarga Sejahtera III (KS III) 10 1,45
Keluarga Sejahtera III Plus (KS III-Plus) 1 0,15
Total 688 100,00
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007
Pada Tabel 5 diketahui bahwa mayoritas rumahtangga Desa Cinta Mekar

tergolong Keluarga Sejahtera I (KS I), yang jumlahnya lebih tinggi sekitar 34

persen dibanding mereka yang tergolong Keluarga Pra-Sejahtera (Pra-KS).

Dengan demikian, hampir seluruh rumahtangga di desa ini tergolong keluarga

miskin (97,24 persen), karena menurut kriteria BKKBN, yang tergolong keluarga

miskin adalah mereka yang termasuk Pra-KS dan KS I.

Tabel 6 di bawah ini menyajikan data penduduk Desa Cinta Mekar

menurut tingkat pendidikan.

Tabel 6. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan, Desa


Cinta Mekar, Tahun 2007
Tingkat Laki-laki Perempuan Total
Pendidikan Jumlah % Jumlah % Jumlah %
(jiwa) (jiwa) (jiwa)
SD 280 44,23 260 43,33 540 43,79
SMP 215 33,97 216 36,00 431 34,95
SMA 120 18,96 120 20,00 240 19,46
Diploma 11 1,73 1 0,17 12 0,97
Strata 1 7 1,11 3 0,50 10 0,83
Total 633 100,00 600 100,00 1233 100,00
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007

Secara umum diketahui bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin

menurun persentase penduduk yang menikmati pendididikan tersebut. Namun

demikian, diketahui bahwa mayoritas penduduk di desa ini tamat SD, yang

jumlahnya lebih tinggi sebesar 8.8 persen dibanding mereka yang lulus SMP.

Program Wajib Belajar Wajib Belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah

tampaknya berhubungan dengan relatif tingginya persentase penduduk yang

berpendidikan SD dan SLTP. Relatif lebih rendahnya persentase penduduk desa

yang menikmati pendidikan menengah, tampaknya disebabkan oleh relatif


jauhnya lokasi gedung SLTP dan SMA, yakni berjarak sekitar 10 kilometer dari

Desa Cinta Mekar. Selain itu, juga karena masih relatif banyaknya rumahtangga

miskin di desa ini. Untuk diketahui, biaya transportasi ke sekolah (pulang-pergi)

kalau menggunakan mobil umum sebesar Rp.4.000,0 (empat ribu rupiah),

sebelum harga BBM naik sebesar Rp.3.000,0 (tiga ribu rupiah) setiap harinya,

sementara jika memanfaatkan jasa tukang ojek sebesar Rp.6.000,0 (enam ribu

rupiah) yang sebelumnya hanya Rp.4.000,0 (empat ribu rupiah).

Data penduduk Desa Cinta Mekar menurut jenis mata pencaharian mereka

disajikan pada Tabel 7 di bawah ini.

Tabel 7. Jumlah dan Persentase Penduduk Menurut Jenis Pekerjaan, Desa Cinta
Mekar, Tahun 2007
Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
Petani 702 30,35
Pedagang 25 1,08
Pegawai Negeri 11 0,48
TNI/POLRI 4 0,17
Pensiunan TNI/POLRI 8 0,35
Buruh/karyawan pabrik 30 1,30
Pengrajin/Industri Kecil 55 2,38
Tukang Bangunan 30 1,30
Supir Angkutan (Mobil) 30 1,30
Buruh Tani 687 29,70
Pengangguran 731 31,60
Total 2.313 100,00
Sumber: Laporan Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007

Seperti terlihat pada Tabel 7 persentase tertinggi penduduk Desa Cinta

Mekar ditempati oleh pengangguran. Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa mata

pencaharian penduduk di sektor formal (pegawai negeri, TNI/POLISI, dan

pensiunan TNI/POLRI) jumlahnya kurang dari satu persen. Jenis pekerjaan


pengangguran memiliki persentase sedikit lebih besar 1,3 persen dibandingkan

dengan petani.

Para buruh (baik tani dan non-tani) bisa bekerja seminggu penuh atau bisa

juga meliburkan diri selama satu bulan penuh dikarenakan sedang tidak ada

proyek. Dengan demikian sulit menentukan hari atau waktu kerja dalam satu

bulan. Mayoritas pemuda yang berusia produktif di desa tidak mempunyai mata

pencaharian yang jelas, terkadang hanya menghabiskan waktu bermain bersama

teman-temannya. Akan tetapi ada juga beberapa pemuda yang meninggalkan desa

untuk mencari pekerjaan, walaupun hanya sedikit jumlahnya.

Mata pencaharian petani yang merupakan dominan kedua, yang meliputi

penduduk desa yang berusia sekitar 40 tahun ke atas. Ada juga yang bermata

pencaharian sebagai sopir angkutan serta sopir pribadi. Profesi sebagai tukang

bangunan juga ditemukan di Desa Cinta Mekar dengan presentase yang kecil.

Sebagian kecil penduduk Desa Cinta Mekar lainnya bermata pencaharian sebagai

tukang bangunan dan swasta. Mata pencaharian sebagai tukang ojek menjadi

pilihan lain bagi penduduk Desa Cinta Mekar karena mudahnya proses dalam

memiliki motor dengan cara kredit dan angsuran yang tidak begitu besar.

Didukung oleh tidak adanya angkutan umum hingga ke pelosok desa, ojek

menjadi sarana utama transportasi desa.

Menurut Pendataan Profil Desa Cinta Mekar Tahun 2007, seluruh

penduduk desa memeluk agama Islam. Prasarana peribadatan yang dimiliki oleh

desa berupa lima buah masjid, serta 10 langgar/surau/mushola yang letaknya

menyebar di setiap dusun. Pada hari Jumat dan hari Minggu sering diadakan

pengajian serta majelis taklim ibu-ibu.


BAB V

PROFIL KELEMBAGAAN PROGRAM PLTMH DESA CINTA MEKAR

5.1 Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA)

Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) merupakan

lembaga non-pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (non-

government organization) yang bergerak di bidang ekonomi dan permasalahan

energi di pedesaan. Aktivitas utamanya adalah menerapkan elektrifikasi pedesaan

dengan menggunakan energi terbaharui, membangun infrastruktur untuk tujuan

pengembangan desa, riset atas sumber energi yang dapat diperbaharui,

pengembangan dan pelatihan program PLTMH serta menciptakan kegiatan

ekonomi di pedesaan. Salah satu instrumen untuk mencapai tujuan tersebut adalah

penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) / ( Micro Hydro

Power Plant or MHP) (Profil Yayasan IBEKA, 2004).

Secara hukum, Yayasan IBEKA didirikan pada 18 Maret 1993 dengan

akta notaris No.120, oleh Wiratni Ahmadi, SH. Kantor Yayasan IBEKA terletak

di Kampung Panaruban RT 023/05 Desa Cicadas Kecamatan Sagalaherang

Kabupaten Subang Jawa Barat dan Jl. Sulaiman No. 7A1,RT 02/03, Kelurahan

Sukabumi Utara, Jakarta Barat. Struktur organisasi IBEKA dapat dilihat pada

Gambar 4. Kegiatan yang telah dilaksanakan oleh IBEKA antara lain berupa

program membersihkan persediaan air mulai pada tahun 1999, dan proyek energi

alternatif lainnya. Sejak itu, lebih dari 40 sumber daya pembangkit listrik

(PLTMH) menyebar di berbagai provinsi, antara lain Aceh, Sumatera Barat,

Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat.
PLTMH di masing-masing provinsi tersebut berkapasitas di bawah 250 Watt kilo.

Masing-masing sumber daya pembangkit diatur dan dirawat oleh Koperasi Unit

Desa (KUD).

Gambar 4. Struktur Organisasi IBEKA

Executive Director
Tri Mumpuni Iskandar

Environmenta
l Division
Environmental Sumpena
Managing Division
Director Adi Laksono
S t N h
Finance
Division
Finance Division Isti
Yety Sovi Rahayu Kristianto

Engineering and
Construction
Project and Haris Y D
Planning Division Bayu Megantara K
Dede Cahyadi Cristianus Legowan

Social
Division
Social Division
Aman
Guruh Aryo

Programme
Division
Programme Oficer
Aan
Yety Sovi Rahayu
Suparmin
Soleh

Sumber: Publikasi IBEKA, 2004

Pengalaman IBEKA di bidang pelatihan meliputi pelaksanaan pelatihan

mikro hidro untuk mahasiswa dan koperasi sebanyak 23 kali, lima kali untuk staf
Kementerian Energi dari 11 provinsi di Indonesia, dua kali untuk peserta dari

India, Pakistan, Sri Lanka dan Nepal dan dua kali untuk LSM Indonesia, serta staf

pemerintah lokal dari lima provinsi. Peran IBEKA dan keterlibatannya dalam

proyek PLMTH berstatus sebagai pengembang, pelatih (trainer) pada pelatihan

PLTMH, panitia pelaksana pada seminar PLTMH dan perencana pengembangan

komunitas. Dalam merealisir Program PLMTH, yayasan ini mengalokasikan dana

sekitar 10.000 sampai dengan 655.000 dolar Amerika Dana yang dialokasikan

Yayasan IBEKA tersebut diperoleh dari beragam sumber, antara lain dari:

Pemerintah Jepang, Japan International Cooperation Agency (JICA), dan Tokyo

Electric Power Company. Pendapatan Yayasan IBEKA selama tiga tahun terakhir

berjumlah rata-rata 150.000 US$ (seratus lima puluh ribu dolar Amerika) per

tahun. Kegiatan yang dilakukan oleh IBEKA tidak hanya pada bidang teknis atau

mekanikal saja, melainkan juga di bidang sosial, seperti peningkatan usaha

produktif masyarakat melalui pembuatan gula aren.

5.2 PT Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya (PT HIBS)

Secara legal Perseroan Terbatas Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya (PT

HIBS) terbentuk pada tanggal 29 November 2005, sesuai Akta Notaris Galuh

Candrarini, SH dengan nomor C-31366 HT 01 01 TH 2006. Badan usaha ini

berkedudukan di Kampung Panaruban Desa Cicadas Kecamatan Sagalaherang,

Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tujuan pembentukan PT HIBS adalah berusaha

dalam bidang jasa, perdagangan, percetakan dan transportasi.

Kegiatan usaha yang dilakukan badan usaha ini secara umum antara lain

meliputi:
13) Menjalankan usaha-usaha dalam bidang perdagangan, termasuk

perdagangan ekspor dan impor antar pulau dan lokal, serta antar negara.

14) Menjalankan usaha-usaha dalam bidang kontraktor umum untuk segala

macam dan segala jenis komoditi, terutama bangunan, gedung, jembatan-

jembatan, jalan-jalan, bandara, dermaga, instalasi air dan listrik,

telekomunikasi, konstruksi besi dan baja, dan irigasi serta pekerjaan-

pekerjaan sipil lainnya dan bertindak sebagai pengembang.

Kegiatan PT HIBS pada awalnya ialah membina bengkel-bengkel kecil

untuk dapat mengeksploitasi kemampuan dan keahlian mereka. Kemudian

berkembang ke kegiatan pengembangan teknologi mesin untuk produksi seperti

penghasil gula dan pembuat singkong goreng. Hasilnya dijual ke luar negeri

sesuai dengan standar barang yang diminta pemesan. Kegiatannya lebih kearah

pengemasan dan pengawasan mutu. PT HIBS juga pernah mengekspor turbin ke

luar negeri.

Kepengurusan PT HIBS terdiri dari:

Direktur : Iskandar B Kuntoadji

Komisaris I : Tri Mumpuni

Komisaris II : Sapto Nugroho

Komisaris III : Yeti Sovia Rahayu

Direksi bertanggungjawab penuh dalam melaksanakan tugasnya untuk

kepentingan perseroan dalam mencapai maksud dan tujuan perseroan Direktur

berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama direksi serta mewakili

perseroan. Adapun komisaris melakukan pengawasan dan kebijaksanaan direksi

dalam menjalankan perseroan serta memberikan nasihat kepada direksi.


5.3 Koperasi Mekarsari

Pada bulan Mei 2003, Yayasan IBEKA mengadakan sosialisasi rencana

pembangunan PLTMH kepada masyarakat Cinta Mekar. Sosialisasi terkait

dengan pemberian hibah oleh UNESCAP yang akan digunakan untuk

pembangunan PLTMH di desa ini. Pada tanggal 7 Juni 2003, pihak UNESCAP,

Yayasan IBEKA, dan PT HIBS meninjau lokasi Rencana Pembangunan PLTMH

di ini sekaligus melakukan pertemuan dengan masyarakat untuk membahas

tentang prosedur dan rencana pemanfaatan hasil keuntungan dari PLTMH yang

akan dibangun. Selanjutnya, hasil musyawarah masyarakat Desa Cinta Mekar

pada tanggal 2 Agustus 2003, menyepakati pembentukan lembaga koperasi

dengan nama Koperasi Mekarsari dengan jumlah anggota pendiri sebanyak 50

orang. Pada saat musyawarah itu juga dilakukan rapat yang hasilnya berupa: (1)

Pembentukan Pengurus dan Badan Pengawas, (2) Penentuan Simpanan Pokok

sebesar Rp. 10.000,00 dan Simpanan Wajib sebesar Rp.1.000,00 per bulan, dan

(3) Penetapan Rencana Program Kerja Koperasi. Musyawarah tersebut

selanjutnya diikuti oleh kegiatan verifikasi dan peninjauan ke lokasi PLTMH yang

dilakukan Dinas Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Kabupaten Subang

pada tanggal 29 Maret 2004. Pada saat yang sama juga dilakukan

penandatanganan Anggaran Dasar Koperasi.

Terdapat sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Koperasi Mekarsari

(Tabel 8).
Tabel 8.Program Kegiatan Koperasi Mekarsari, Desa Cinta Mekar, Tahun 2003
Prioritas Program Persentase
I Listriki bagi Orang Kurang Mampu (OKM) 62,50
II Pendidikan 8,00
III Modal Usaha 8,00
IV Kesehatan 4,00
V Infrastruktur 5,00
VI Operasional Koperasi 10,00
VII Operasional Desa 2,50
Sumber: Publikasi Profil Koperasi Mekarsari Tahun 2003

Masing-masing rincian program ada rincian pengalokasian dananya. Pada

program pendidikan terbagi lagi menjadi pelatihan dan beasiswa untuk SD dan

SMP. Program kesehatan terdiri atas kartu sehat, posyandu dan pengobatan

kronis. Infrastuktur berupa pembangunan saluran air bersih di Leuwikopo,

Solokan Sado, Solokan Baru, Solokan Citatah dan Leuwi Halang; bangunan

posyandu, bangunan TK Al Quran serta jalan kampung.

Pada tanggal 30 Maret 2004, Koperasi Mekarsari resmi terdaftar di Dinas

Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Kabupaten Subang dengan Akta

Pendirian Koperasi 539/BH/KDK.10.11/III/2004. Hingga saat ini Koperasi

Mekarsari telah berganti kepengurusan sebanyak dua kali, yakni periode tahun

2003 2006 dan periode 2006 2009. Koperasi Mekarsari memiliki gedung atau

bangunan koperasi yang letaknya tidak jauh dari rumah pembangkit mikrohidro.

Kepengurusan Koperasi Mekarsari untuk periode tahun 2006 2009 dapat dilihat

pada Gambar 5.
Gambar 5. Susunan Pengurus Koperasi Mekarsari Periode 2006 - 2009

Pembina Ketua Badan Pengawas


Kepala Desa Endang S (BP)

Sekretaris Bendahara
Asep Kusnanto Entin Sutini

Bidang Bidang Bidang Modal Bidang Infrastruktur Bidang


Pendidikan Kesehatan Usaha/SP Para Kepala Urusan
Ade Saodi Bidan Yuyun Dusun Listrik
Desa Yunengsih A. Wawan

Sumber: Publikasi Profil Koperasi Mekarsari Tahun 2003


BAB VI

PROFIL RUMAHTANGGA PADA KOMUNITAS KAMPUNG TANGKIL


DI DESA CINTA MEKAR

Bab ini mendeskripsikan profil rumahtangga miskin hasil survei yang

dilakukan di Kampung Tangkil yang berada di Dusun II, khususnya di empat RT,

dari RT 05 sampai dengan RT 08. Profil rumahtangga miskin ini mencakup

karakteristik sumberdaya individu dan rumahtangga. Karakteristik individu

meliputi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status

bekerja, sementara karakteristik rumahtangganya meliputi tingkat kekayaan,

status kategori rumahtangga, dan pola pengambilan keputusan. Sebagaimana

dikemukakan sebelumnya, jumlah rumahtangga yang dicacah meliputi 100

rumahtangga, dengan jumlah anggota rumahtangga sebanyak 354 orang.

6.1 Karakteristik Individu


6.1.1 Jenis Kelamin
Dari 100 rumahtangga penerima program PLTMH, terdapat 89

Rumahtangga yang Dikepalai oleh Laki-laki (RMKL) dan 11 Rumahtangga yang

Dikepalai Perempuan (RMKP). Duapertiga dari jumlah RMKP terdiri atas janda

yang ditinggal meninggal suaminya, sedang sisanya janda cerai ditinggal suami.

Sebagaimana terlihat pada Tabel 9, berdasar jenis kelaminnya, dari

sejumlah 354 orang ART, persentase ART Perempuan (ARTP) sedikit lebih tinggi

daripada ART Laki-laki (ARTL), yakni sebesar 2,82 persen. Hal ini berbeda

dengan kondisi umum penduduk di Desa Cinta Mekar, dimana persentase

penduduk laki-laki lebih tinggi sekitar 0,82 persen dibanding penduduk

perempuan (Tabel 2).


Tabel 9. Jumlah dan Persentase Anggota Rumahtangga Miskin Menurut Jenis
Kelamin, Kampung Tangkil, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Jenis Kelamin n % n % n %
Laki-laki 165 50,30 17 65,38 182 51,41
Perempuan 163 49,70 9 34,62 172 48,59
Total 328 100,00 26 100,00 354 100,00

Dari 100 rumahtangga miskin contoh atau dari total rumahtangga miskin

contoh, terdapat 354 anggota rumahtangga. Dengan perkataan lain, rata-rata

anggota per rumahtangga sebesar 3.54 atau lebih kecil dari empat. Diduga

sebagian besar rumahtangga di Dusun Tangkil telah mengikuti Program Keluarga

Berencana (KB). Dapat dilihat pada Tabel 9 bahwa mayoritas RMKL dan RMKP

mempunyai anggota rumahtangga laki-laki lebih banyak jika dibandingkan

dengan anggota rumahtangga perempuan.

6.1.2 Umur

Tabel 10 menyajikan data kondisi rumahtangga miskin menurut kelompok

umur.

Tabel 10. Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Kelompok


Umur dan Jenis Kelamin Kepala dan Anggota Rumahtangga,
Kampung Tangkil, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Kelompok Laki- Laki- Laki-
Umur laki Perempuan laki Perempuan laki Perempuan
(Tahun) n % n % n % n % % %
14 47 28,48 54 32,73 4 57,14 3 17,65 29,65 31,31
15 - 64 98 59,39 97 58,79 3 42,86 9 52,94 58,72 58,42
65 20 12,12 14 8,48 0 0,00 5 29,41 11,63 10,45
Total 165 100,00 165 100,00 7 100,00 17 100,00 100,00 100,00
Sebagaimana terlihat pada Tabel 10, mayoritas rumahtangga miskin di

Kampung Tangkil, baik pada RMKL maupun RMKP tergolong kelompok umur

produktif. Khusus di kalangan RMKL, sebaran ARTL dan ARTP menunjukkan

kecenderungan yang sama, yakni persentase tertinggi dijumpai pada kelompok

umur produktif dan yang terendah pada kelompok umur di atas 55 tahun. Adapun

di kalangan RMKP diketahui bahwa kecenderungan tersebut hanya dijumpai pada

ARTP. Sebaliknya pada RMKL, ARTL pada kelompok umur lebih muda

menunjukkan persentase tertinggi (57 persen) dan tidak dijumpai adanya mereka

yang ada pada umur 55 tahun.

Sebagai tambahan, data pada Tabel 10 dapat digunakan untuk menghitung

analisis ketergantungan individu (dependency ratio) * , dengan cara membagi

jumlah penduduk berusia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas dibagi dengan jumlah

penduduk usia 15-64 tahun (Rusli, 1996). Berdasarkan analisis tersebut diketahui

bahwa tingkat ketergantungan anggota rumahtangga miskin di Kampung Tangkil

tergolong rendah (kurang dari satu), artinya jumlah penduduk usia kerja lebih

banyak daripada jumlah penduduk yang bukan usia kerja, yaitu penduduk usia

muda dan tua (lansia) dengan tingkat ketergantungan sebesar 0,71.

6.1.3 Tingkat Pendidikan

Seperti kondisi masyarakat pedesaan pada umumnya yang kurang akses

pada pendidikan, warga Desa Cinta Mekar mayoritas diantaranya hanya lulusan

Sekolah Dasar (SD). Kecenderungan yang sama juga dijumpai pada kedua

* Rumus untuk menghitung depedency ratio = Jumlah penduduk umur 0 14 tahun


dan 65 tahun ke atas

Jumlah penduduk umur 15 64 tahun


kategori rumahtangga miskin di Kampung Tangkil, sebagaimana terlihat pada

Tabel 11.

Tabel 11. Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Tingkat


Pendidikan serta Jenis Kelamin Kepala dan Anggota Rumahtangga,
Kampung Tangkil, Tahun 2008

RMKL RMKP Total


Laki- Perem-
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan laki puan
Tingkat Pendidikan n % n % n % n % % %
Tidak Sekolah 1 0,61 10 6,06 0 0,00 6 35,29 0,58 8,79
Belum Sekolah 19 11,52 19 11,52 1 14,29 1 5,88 11,63 10,99
Bersekolah di SD 17 10,30 26 15,76 3 42,86 1 5,88 11,63 14,84
Bersekolah di SMP 9 5,45 11 6,67 0 0,00 1 5,88 5,23 6,59
Bersekolah di SMA 0 0,00 2 1,21 0 0,00 0 0,00 0,00 1,10
Tamat SD 76 46,06 70 42,42 1 14,29 5 29,42 44,77 41,21
Tamat SMP 28 16,97 18 10,91 1 14,29 3 17,65 16,86 11,54
Tamat SMA 14 8,48 8 4,85 0 0,00 0 0,00 8,14 4,40
Tamat Akademi/
1 0,61 1 0,61 1 14,29 0 0,00 1,16 0,55
Universitas
Total 165 100,00 165 100,00 7 100,00 17 100,00 100,00 100,00

Secara umum, mayoritas ARTL dan ARTP pada kedua kategori

rumahtangga miskin, berpendidikan lulusan/tamat SD, kecuali pada ART pada

RMKL mayoritas masih bersekolah di SD. Kondisi ini dimungkinkan, mengingat

sebagian besar rumahtangga di Desa Cinta Mekar tergolong miskin (Pra KS dan

KS-1); tidak terkecuali mereka yang berdomisili di Kampung Tangkil. Selain itu,

masih dijumpai adanya sebagian warga yang masih beranggapan bahwa

pendidikan bukanlah hal yang penting dan belum tentu dapat menjamin masa

depan; bahkan ada pula yang enggan menyekolahkan anaknya, karena anggapan

bahwa lebih baik mengalokasikan uang yang dimiliki untuk modal usaha daripada

untuk sekolah.
6.1.4 Jenis Pekerjaan

Pada Tabel 12 disajikan data mengenai kondisi rumahtangga berdasarkan

jenis pekerjaannya.

Tabel 12. Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Jenis Pekerjaan,
Jenis Kelamin Kepala dan Anggota Rumahtangga, Kampung Tangkil,
Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Laki- Perem-
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan laki puan
Jenis Pekerjaan n % n % n % n % % %
Tidak Bekerja 55 33,33 41 3,03 2 28,57 10 29,41 33,13 28,02
PNS/ABRI 1 0,61 0 0,00 0 0,00 0 0,00 0,58 2,75
Petani Pemilik 11 6,67 6 3,64 0 0,00 0 0,00 6,40 3,30
Petani Penggarap 12 7,27 0 0,00 0 0,00 0 0,00 6,98 0,00
Buruh Tani 39 23,64 19 11,52 0 0,00 1 5,88 22,67 10,99
Pedagang 8 4,85 7 4,24 0 0,00 1 5,88 4,65 4,40
Warung 0 0,00 3 1,82 0 0,00 2 11,76 0,00 2,75
Kuli Bangunan 28 16,96 0 0,00 5 71,43 0 0,00 19,18 0,00
Tukang Ojek 9 5,45 0 0,00 0 0,00 0 0,00 5,23 0,00
Supir 2 1,21 0 0,00 0 0,00 0 0,00 1,16 0,00
Ibu rumahtangga 0 0,00 89 53,94 0 0,00 3 17,65 0,00 50,54
Total 165 100,00 165 100,00 7 100,00 17 100,00 100,00 100,00

Tabel 12 menunjukkan bahwa persentase tertinggi ARTL pada RMKL

ditempati tidak bekerja atau pengangguran. Ditambah lagi dengan banyaknya

anggota rumahtangga yang berusia sekolah sehingga dapat digolongkan pada

kriteria tidak bekerja. Pada RMKP, ARTL mayoritas sebagai kuli bangunan,

untuk ARTP mayoritas tidak bekerja, karena dominan anggota rumahtangga usia

sekolah, sedangkan mayoritas ARTP bekerja sebagai ibu rumahtangga, yang

menarik pada RMKP jenis pekerjaan mayoritas ARTP ialah tidak bekerja, hal ini

dikarenakan banyaknya anggota rumahtangga berusia lansia dan balita


Persentase terbesar kedua pada ARTL dalam RMKL ialah buruh tani,. Hal

ini berkaitan dengan kepemilikan lahan atau sawah untuk diolah. Pada Kampung

Tangkil hanya beberapa orang yang mempunyai lahan atau sawah pertanian, itu

pun letaknya agak jauh dari kampung. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh

anggota rumahtangga yang ingin bekerja menjadi buruh tani, dengan rata-rata

upah harian Rp.25.000,0 (dua puluh lima ribu rupiah) tanpa makan. Pekerjaan

sebagian buruh tani ini berumur 30 tahun ke atas. Penduduk yang berusia muda

kurang meminati pekerjaan ini, mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk

berkumpul dan main bersama teman-teman sebayanya.

6.1.5 Status Bekerja

Berdasarkan Tabel 13, RMKL dan RMKP, baik ARTL dan ARTP,

persentase tertinggi ditempati oleh status pekerjaan lainnya. Data selengkapnya

dapat dilihat pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Status Pekerjaan
serta Jenis Kelamin Kepala Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun
2008
RMKL RMKP Total
Status Bekerja n % n % n %
Rendah 43 48,31 8 72,73 51 51,00
Sedang 36 40,45 3 27,27 39 39,00
Tinggi 10 11,24 0 0,00 10 10,00
Total 89 100,00 11 100,00 100 100,00
Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 13, baik pada RMKL dan RMKP

termasuk kategori status pekerjaan rendah (pekerja keluarga tanpa upah). Pada

RMKP mayoritas ARTL berstatus buruh atau karyawan, sedangkan ARTP

mayoritas berstatus sebagai pekerja keluarga. Status karyawan/buruh adalah

mereka yang bekerja sebagai buruh tani, PNS, dan kuli bangunan. Mereka yang
bekerja serabutan dan tidak tetap waktunya kategorikan sebagai buruh tani/non

tani atau keduanya; dan status bekerjanya sebagai karyawan atau buruh.

6.2 Karakteristik Rumahtangga


6.2.1 Tingkat Kekayaan

Tingkat kekayaan pada rumahtangga miskin dihitung berdasarkan nilai

rupiah dari kepemilikan barang-barang berharga RMKL dan RMKP. Kepemilikan

barang-barang berharga mencakup kepemilikan perhiasan, barang elektronik, dan

kendaraan bermotor. Data tingkat kekayaan rumahtangga miskin dapat dilihat

pada Tabel 14.

Tabel 14. Jumlah dan Persentase Rumahtangga Miskin Menurut Tingkat


Kekayaan dan Jenis Kelamin Kepala Rumahtangga, Kampung
Tangkil, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Kekayaan n % n % n %
Rendah 51 57,95 11 100,00 62 62,00
Sedang 26 29,54 0 0,00 26 26,00
Tinggi 11 12,51 0 0,00 11 11,00
Total 89 100,00 11 100,00 100 100,00

Dari Tabel 14 dapat dilihat bahwa tingkat kekayaan mayoritas RMKL dan

RMKP termasuk kategori rendah. Seluruh RMKP termasuk golongan rendah.

Kondisi rumah pada rumahtangga miskin penerima Program PLTMH sebagian

besar berkeramik dan bertembok.

Meskipun sebagian besar tingkat kekayaan mereka tergolong rendah,

diketahui bahwa dari 100 KK rumahtangga miskin di Dusun Tangkil, sebagian

besar rumah mereka berstatus milik sendiri, berupa bangunan rumah tunggal,

berdinding tembok, berlantai keramik dan beratap dari genting. Yang menarik,

hampir semua rumahtangga miskin ini ternyata memiliki barang-barang elektronik


seperti televisi, Video Compact Disc (VCD) , kursi tamu dan lemari pajangan3. 3 .

Dengan demikian, meskipun secara umum tergolong miskin, namun tampaknya

gaya hidup mereka menyamai mereka yang tidak tergolong miskin. Selain sebagai

media hiburan bagi semua anggota rumahtangga, tampaknya kepemilikan barang-

barang elektronik dan rumah berlantai keramik tersebut juga dimungkinkan

karena adanya persaingan gengsi antar rumahtangga miskin.

Adanya kenyataan dimana sebagian besar jenis pekerjaan anggota

rumahtangga miskin bekerja sebagai buruh tani dan non-tani (serabutan) hanya 38

persen yang memiliki lahan dengan luas rata-rata 84,84 bata atau sekitar 350 m2 4.
4
Lahan tersebut sebagian besar milik sendiri dan diperoleh melalui warisan dan

membeli. Sebanyak 13 persen rumahtangga miskin yang memiliki ternak berupa

kambing, domba, bebek dan ayam55 . Ada persaingan gengsi antar rumahtangga

miskin dalam hal kepemilikan barang elektronik dan kondisi tempat tinggal,

seperti lantai keramik, kursi tamu dan lemari pajangan.

6.2.2 Status Kategori Rumahtangga

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kategori rumahtangga

miskin dalam studi ini menggunakan indikator yang ditetapkan BPS (Lampiran 3)

dan ukuran lokal (Yayasan IBEKA). Tabel 15 menyajikan data status

rumahtangga menggunakan indikator BPS pada kedua kategori rumahtangga,

3
Harga perhiasan rata-rata yang dimiliki anggota rumahtangga miskin sebesar Rp. 250.000,0.
Harga rata-rata untuk barang elektronik, televisi: Rp.500.000,0 VCD: Rp. 300.000,0 kursi tamu:
Rp.175.000,0 lemari pajangan: Rp.100.000,0. Untuk harga kendaraan bermotor berkisar antara
Rp.7.000.000,0 hingga Rp.10.500.000,0.
4
Untuk masyarakat Desa Cinta Mekar, 1 bata setara dengan 14 m2 dengan harga perbata rata-rata
Rp.500.000,0 sementara itu, harga tanah permeter persegi rata-rata Rp.50.000,0 harga bangunan
rumah rata-rata antara Rp.1.000.000,0 hingga Rp.3.000.000,0.
5
Harga hewan ternak (rata-rata) berukuran sedang, kambing: Rp 500.000,0/ekor;
domba:Rp 500.000,0/ekor; bebek: Rp.20.000,0/ekor; ayam: Rp.15.000,0/ekor;.
RMKL dan RMKP. Seperti terlihat pada Tabel 15, mayoritas kedua kategori

rumahtangga tergolong rumahtangga miskin menurut kriteria BPS. Meskipun

jumlah RMKP yang tergolong bukan miskin lebih rendah dibanding RMKL,

namun persentase RMKP yang tergolong bukan miskin menurut kriteria BPS

tersebut lebih tinggi dibanding RMKL (sekitar 30 persen).

Tabel 15. Jumlah dan Persentase Status Rumahtangga Miskin Menurut Kategori
Kepala Rumahtangga, Kampung Tangkil, Tahun 2008
RMKL RKMP Total
Status Kategori Rumahtangga n % n % %
Miskin 84 94,38 7 63,64 91,00
Tidak Miskin 5 5,62 4 36,36 9,00
Total 89 100,00 11 100,00 100,00

Sesuai dengan kriteria rumahtangga miskin hasil diskusi kelompok terarah

(diskorah) antara pihak penyelenggara Program PLTMH dengan masyarakat desa,

didapat empat kriteria miskin, yakni (a) Kategori Miskin I: tidak mempunyai

lahan, tidak bermodal, tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan tidak berpendidikan

tinggi, (b) Kategori Miskin II: memenuhi 3 kriteria di atas (bisa berupa

kombinasi), (c) Kategori Miskin III: memenuhi 2 kriteria di atas (bisa berupa

kombinasi) dan (d) Kategori Miskin IV: memenuhi salah satu kriteria dari empat

kriteria di atas. Tabel 16 menyajikan data status rumahtangga di Kampung

Tangkil menurut kriteria lokal.

Tabel 16. Jumlah dan Persentase Status Rumahtangga Miskin Menurut Ukuran
Lokal, Kampung Tangkil, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Kategori Rumahtangga Miskin n % n % n %
Miskin I 53 59,55 10 90,91 63 63,00
Miskin II 35 39,33 1 9,09 36 36,00
Miskin IV 1 1,12 0 0,00 1 1,00
Total 89 100,00 11 100,00 100 100,00
Berdasar data pada Tabel 15 dan Tabel 16, diketahui bahwa meskipun

mayoritas rumahtangga di Kampung Tangkil tergolong miskin, ternyata dengan

menggunakan ukuran lokal status rumahtangga miskin juga bersifat lebih

terdiferensiasi. Hal ini dimungkinkan karena dimensi yang diukur melalui ukuran

lokal lebih bersifat kualitatif, sementara pada indikator BPS cenderung kuantitatif.

Namun demikian, setidaknya indikator lokal pun tidak terlalu menyimpang dari

indikator BPS. Ini berarti penetapan partisipan program PLMTH telah memenuhi

kriteria baik indikator lokal maupun BPS.

6.2.3 Tingkat Kontrol dalam Rumahtangga

Tingkat Kontrol dalam Rumahtangga adalah dominasi anggota RMKL dan

RMKP dalam menentukan kegiatan/penggunaan sumberdaya dalam rumahtangga.

Seperti terlihat pada Tabel 16, dari 100 rumahtangga, lebih dari dua pertiganya

merupakan keluarga inti (terdiri dari suami (ayah), istri (ibu) dan anak). Dari

survei, diketahui bahwa jika anak belum menikah maka keputusan dalam

rumahtangga didapat dari kesepakatan atau hasil musyawarah antara suami dan

istri (ayah dan ibu).

Tingkat kontrol rumahtangga pada RMKL dan RMKL berbeda,

sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol Rumahtangga Miskin dalam
Penentuan Sumberdaya Program, Kampung Tangkil, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Kontrol Pengambilan Keputusan n % n % n %
Rendah 11 12,36 11 100 22 22
Sedang 43 48,31 0 0 43 43
Tinggi 35 39,33 0 0 35 35
Total 89 100 11 100 100 100
Adanya keragaman relasi gender pada RMKL menjadikan pola

pengambilan keputusannya juga beragam. Namun demikian, persentase tertinggi

rumahtangga miskin memiliki Tingkat Kontrol Rumahtangga yang tergolong

kategori sedang; sementara persentase tertinggi berikutnya tergolong kategori

tinggi. Jika dilihat menurut kategori kepala rumahtangganya, tingkat kontrol

sedang dan tinggi tersebut hanya dijumpai pada RMKL. Hal ini dimungkinkan

karena pada RMKL pengambilan keputusan dalam penentuan sumberdaya

program cenderung melibatkan kedua pihak, suami dan isteri; karena masyarakat

di Kampung Tangkil, Desa Cinta Mekar adalah masyarakat Sunda yang sistim

kekerabatannya tergolong bilateral. Adapun pada RMKP, tingkat kontrol

tergolong rendah karena semua kepala rumahtangga berstatus janda, dan tidak

memiliki anggota rumahtangga laki-laki yang tergolong dewasa yang dapat

dimintai kepala rumahtangga dalam proses pengambilan keputusan.

6.3 Kesimpulan

Pada 100 rumahtangga penerima program PLTMH yang disurvei,

mayoritas tergolong RMKL (89 persen), dimana jumlah ARTP lebih tinggi

sebesar 77 persen dibanding ARTL. Berdasar kelompok umurnya, sebagian besar

ART tergolong kelompok umur produktif dengan rasio ketergantungan individu

kurang dari satu. Mayoritas rumahtangga sampel tergolong miskin, baik itu

menurut indikator BPS maupun lokal, meskipun menurut kriteria lokal ada sedikit

diferensiasi. Fakta dimana sebagian besar rumahtangga tergolong miskin baik itu

menurut indikator lokal maupun BPS bersamaan dengan ketiadaan gedung

sekolah lanjutan (SLTP dan SMA) di desa Cinta Mekar, menyebabkan ART pada
kedua kategori rumahtangga (RMKL dan RMKP) memiliki akses yang rendah

terhadap pendidikan karena mayoritas berpendidikan tamat SD. Namun demikian,

terdapat kecenderungan dimana persentase ARTP dan ARTL pada RMKL lebih

akses terhadap pendidikan lanjutan dan tinggi daripada mereka yang tergolong

RMKP.

Sebagian besar ARTL dan ARTP pada RMKL bekerja sebagai buruh

serabutan atau buruh tidak tetap dan pengangguran, sedang pada RMKP tergolong

tidak bekerja karena berstatus sebagai ibu rumahtangga dengan ARTP yang belum

sekolah. Menurut status pekerjaannya, ART pada kedua kategori rumahtangga

miskin lebih banyak berstatus pekerja keluarga, karena terdiri dari ibu

rumahtangga, anak-anak, pengangguran, pelajar dan lanjut usia. Adanya

kecenderungan persaingan dalam hal gengsi antar rumahtangga, tingkat

kekayaan rumahtangga sampel di desa ini hampir homogen, khususnya dalam hal

kepemilikan barang-barang berharga. Yang menarik adalah bahwa karena

penduduk desa terdiri dari etnik Sunda yang bersistim kekerabatan bilateral,

terdapat kecenderungan bahwa pola pengambilan keputusan dalam rumahtangga

tergolong lebih setara karena melibatkan suami dan isteri baik setara maupun

salah seorang diantaranya dominan. Sebaliknya, pada RMKP perempuan baik itu

sebagai isteri maupun anak, dominan dalam pengambilan keputusan dalam

rumahtangga mereka.
BAB VII

PENYELENGGARAAN PROGRAM PLTMH DESA CINTA MEKAR

Pada bab ini akan diuraikan proses pembangunan PLTMH yang terdiri

dari beberapa tahapan. Dimulai dengan latar belakang adanya program PLTMH,

aspek-aspek yang menyertai konsep pembangunan PLTMH, kemudian

dilanjutkan dengan tahapan program seperti tahap perencanaan, pelaksanaan serta

pemanfaatan program.

7.1 Latar Belakang Program PLTMH

Dihadapkan pada fakta dimana sekitar 100 juta penduduk Indonesia,

khususnya di perdesaan, belum menerima aliran listrik, sementara di pihak lain

terdapat potensi sumber daya alam yang cukup besar untuk menghasilkan

pembangkit tenaga air skala mikro, Yayasan IBEKA dan PT HIBS bekerjasama

dengan UNESCAP dalam membangun pembangkit listrik skala kecil untuk

masyarakat miskin perdesaan melalui konsep kemitraan swasta untuk masyarakat

miskin yang dikenal dengan konsep Pro Poor Public Private Partnership/5P.

Konsep tersebut sebelumnya (tahun 1998) telah lama dipikirkan oleh

Iskandar Kuntoadji (PT HIBS) yang diistilahkan dengan konsep profit sharing

risk taking. Gagasan dibalik konsep ini adalah bahwa dalam pelaksanaan

program/proyek pembangunan, masyarakat mendapatkan bagian dari investasi

pendanaan atau hasil program. Selama ini pemerintah kurang memperhatikan hal

tersebut, bahkan cenderung menyingkirkan masyarakat lokal dari sumberdaya

lokal sebagai aset program. Menurut Kuntoadji, seharusnya investor sebagai


pemilik modal bersimbiosis mutualis dengan masyarakat sebagai pemilik

sumberdaya (resources), sehingga hasil pembangunan seharusnya

menguntungkan kedua belah pihak. Selanjutnya, pada tahun 2002 konsep tersebut

berubah nama menjadi public private partnership. Konsep tersebut diusulkan Tri

Mumpuni (Yayasan IBEKA) ke forum internasional dalam bentuk program

PLTMH dan mendapat perhatian dari UNESCAP Usulan Tri Mumpuni

meyakinkan UNESCAP, sehingga lembaga PBB tersebut bersedia menghibahkan

dana sebesar U$ 75.000 untuk aplikasi PLTMH yang dikembangkan melalui

konsep kemitraan swasta untuk masyarakat miskin. Berdasar prinsip 5P tersebut

terciptalah suatu model pengelolaan bersama PLTMH yang saling

menguntungkan melalui pendekatan kesejahteraan sosial masyarakat. Konsep ini

pertama kali dicanangkan melalui pertemuan dunia World Summit on Sustainable

Development di Johannesburg tahun 2002.

Sesuai kesepakatan dengan pihak UNESCAP, dalam pelaksanaan program

tersebut diharapkan bahwa pada bulan September 2003 telah ada sektor swasta

sebagai bagian dari pelaksana PLTMH. Dengan tenggat waktu yang pendek,

akhirnya PT HIBS dipaksa menjadi pihak sektor swasta tersebut. Direktur PT

HIBS adalah Iskandar Kuntoadji yang notabene adalah suami dari Tri Mumpuni.

Sementara Yayasan IBEKA menjadi lembaga swadaya masyarakat yang bertindak

sebagai fasilitator utama dalam mengembangkan kemitraan berbasis kerakyatan

tersebut atau penghubung antara masyarakat dengan pihak yang berkepentingan

(stakeholders).
7.2 Perencanaaan Program
7.2.1 Persiapan Masyarakat
Setelah matang pada tahap konseptual, program PLTMH dipandang telah

siap untuk diterapkan di lapangan. Kegiatan ini diawali dengan forum pertemuan

antara pihak Yayasan IBEKA dan PT HIBS dengan masyarakat desa Cinta Mekar,

yang dimaksudkan sebagai tahap sosialisasi awal untuk menginformasikan adanya

program PLTMH yang akan dibangun di desa tersebut.

Dalam pertemuan tersebut Yayasan IBEKA mengundang tokoh-tokoh

masyarakat sebagai perwakilan dari setiap dusun yang ada di Desa Cinta Mekar.

Menurut informan, karena mayoritas mereka berstatus pemimpin formal (kepala

desa, kepala dusun, tokoh karang taruna), tokoh agama, serta guru, karenanya

mayoritas undangan berjenis kelamin laki-laki. Namun demikian, terdapat seorang

perempuan (Ibu Mrd) yang mewakili suaminya yang berhalangan hadir dalam

pertemuan tersebut; karena masih bekerja di sawah.

Dalam pertemuan tersebut pihak Yayasan IBEKA dan PT HIBS

mengemukakan bahwa pembangunan PLTMH akan memanfaatkan air Sungai

Ciasem dengan cara membendungnya, sehingga mampu menghasilkan tenaga

listrik. Oleh karena mayoritas besar warga desa berbudidaya padi di sawah

beririgasi teknis yang juga bersumber dari Sungai Ciasem, awalnya warga Desa

Cinta Mekar tidak setuju dengan adanya program PLTMH, karena mereka

khawatir PLTMH akan mengganggu sistem pengairan bagi sawah mereka dan

berdampak pada gagal panen. Namun demikian, setelah adanya penjelasan dari

pihak IBEKA dan PT HIBS serta bantuan dari aparat desa untuk menyakinkan

warga, maka warga pun mau berbagi air untuk pembangunan PLTMH.
Setelah tahap sosialisasi awal, kemudian warga desa dipertemukan dengan

para pemangku kepentingan seperti Perusahaan Listrik Negara (PLN),

UNESCAP, dan PT HIBS untuk membicarakan kesepakatan teknis pembangunan

PLTMH, antara lain berkenaan penetapan lokasi, jalan yang akan dilalui,

interkoneksi serta bangunan fisik. Seiring dengan berjalannya tahap sosialisasi

program, IBEKA melakukan pendataan awal rumahtangga di Cinta Mekar yang

mencakup 420 rumahtangga. Metode yang digunakan berupa survei dengan

menggunakan kuesioner rumahtangga. Pewawancaranya ialah masyarakat

setempat yang mengerti mengenai kuesioner tersebut dan ingin berpartisipasi.

Untuk biaya pewawancara diberi uang insentif sebesar Rp.3.000,0 (tiga ribu

rupiah) per kuesioner. Dari data awal tersebut diketahui bahwa karakteristik

rumahtangga berdasarkan pendapatan serta pengeluaran per bulan. Dari indikator

tersebut ditetapkan rumahtangga yang kurang mampu, yang kemudian diundang

untuk berdiskusi kelompok terarah (diskorah) atau yang lebih dikenal warga

dengan istilah penggalian gagasan. Tujuan dari diskorah ini adalah menentukan

tingkat kesejahteraan, permasalahan yang dihadapi mereka serta upaya

penanggulangannya. Selain itu, dalam diskusi ini disosialisasikan kembali

program PLTMH.

Pada pelaksanaan diskorah tidak hanya dihadiri oleh laki-laki (suami) saja

melainkan istri juga hadir. Istri menghadiri diskorah dikarenakan suami

berhalangan hadir, sehingga istri mewakili. Ada beberapa istri yang membawa

anak mereka, karena usia yang masih balita. Dari diskorah ini didapat enam

permasalahan yakni: (1) kebutuhan listrik bagi warga miskin, (2) tingkat

pengangguran yang tinggi, (3) kualitas sumberdaya manusia yang rendah, (4)
status ekonomi yang rendah, (5) rendahnya infrastruktur desa, dan (6) rasa

kekeluargaan yang kurang (kesatuan) dalam memecahkan permasalahan umum.

Dalam diskorah tersebut tergali informasi tentang harapan-harapan rumahtangga

miskin untuk dapat mengatasi permasalahan lokal melalui program PLTMH.

Setelah adanya sosialisasi program, diupayakan penguatan kelembagaan

sosial dan ekonomi yang menjadi bagian dari penanggulangan permasalahan lokal

tersebut. Untuk itu diadakan musyawarah desa guna membentuk lembaga

ekonomi pengelola keuangan hasil penjualan listrik, yang hasilnya berupa

kesepakatan untuk mendirikan Koperasi Mekarsari dengan segala atribut lembaga

yang ditentukan oleh musyawarah desa yang didampingi oleh Yayasan IBEKA.

Selain itu, disepakati bahwa penguatan lembaga koperasi juga dilakukan oleh

lembaga pemerintahan desa dalam bentuk upaya sosialisasi yang ditujukan untuk

memperlancar pembangunan PLTMH.

7.2.2 Pembentukan Kapasitas dan Kepemilikan

Tahap pembentukan kapasitas dan kepemilikan dibagi menjadi empat

kegiatan utama seperti yang dijelaskan sebelumnya, yakni: (1) pelatihan dan

magang, (2) peningkatan pendapatan, (3) inisiatif wirausaha, serta (4) pendidikan

anak dan remaja. Bantuan dalam bentuk beasiswa pendidikan yang diprogramkan

oleh koperasi. ini bersifat jangka panjang. Tahap pembentukan ini merupakan

kegiatan pembangunan desa yang mengarah pada pemberdayaan dan

keberlanjutan. Kegiatan pelatihan dilakukan sebagai upaya untuk

menyebarluaskan pengetahuan mengenai PLTMH kepada pihak luar yang ingin

mengetahui lebih lanjut mengenai PLTMH. Magang biasanya diperuntukkan bagi


operator maupun pihak luar yang ingin mengetahui mengenai mekanikal dan

elektrikal pembangkit. Kegiatan pembentukan wirausaha dan peningkatan

pendapatan dapat dikategorikan sebagai bagian dari aspek modal usaha pada tahap

pemanfaatan program. Dengan adanya modal usaha maka diharapkan dapat

menumbuhkan keinginan warga untuk berwirausaha sehingga dapat

meningkatkan pendapatan. Pendidikan anak dan remaja didalamnya termasuk

memberikan bantuan dana beasiswa per tiga bulan kepada anggota rumahtangga

usia SD dan SLTP yang membutuhkan.

7.3 Pelaksanaan Program


7.3.1 Pembangunan Fisik/Sipil PLTMH dan Koperasi

Bangunan fisik PLTMH berupa bendungan, saluran pembawa/air, bak

penenang, bak pengendap, serta rumah pembangkit. Penyediaan material

difasilitasi oleh PT HIBS selaku kontraktor bangunan serta alat-alat mekanik dan

elektrik. Pihak IBEKA mengatur jadwal kerja serta sumberdaya manusia yang

akan dipergunakan. Dalam pembangunan fisik sarana PLTMH, dikerjakan oleh

tenaga ahli dari luar desa. Masyarakat desa hanya berperan sebagai tenaga kasar

dan lapangan saja. Dengan adanya tenaga ahli dari luar, maka jumlah warga desa

yang ikut berpartisipasi hanya sedikit. Hal tersebut dilakukan untuk

mengefisienkan waktu, tenaga dan biaya. Jumlah keseluruhan tenaga yang

digunakan sebanyak 40 orang, yang terdiri dari 20 orang tenaga dari luar desa

(dari Desa Curugagung, Kecamatan Kalijati) dan sisanya dari warga desa

setempat.
Kebanyakan warga yang berpartisipasi adalah mereka yang mempunyai

lahan yang dilewati saluran pembawa/air. Tanah yang digunakan untuk

membangun rumah pembangkit merupakan tanah warga yang dibeli dengan

menggunakan uang hasil hibah. Upah untuk pekerja rata-rata per hari sebesar

Rp.25.000,0;(dua puluh lima ribu rupiah), tanpa makan yang dibayarkan kepada

pekerja setiap minggu. Untuk jam kerja dimulai pada pukul 07.00 WIB dan

diakhiri pukul 16.00 WIB, istirahat pada pukul 12.00 WIB hingga 13.00 WIB.

Untuk kebutuhan konsumsi, ada pekerja yang membawa bekal, ada pula yang

makan di rumahnya sendiri karena dekatnya jarak rumah mereka dengan lokasi

pekerjaan. Dari empat dusun yang ada di desa, pekerja yang paling banyak

berpartisipasi berasal dari Dusun I dan Dusun II, sementara dari Dusun III hanya

beberapa orang, bahkan dari dusun IV tidak ada yang ikut, karena letaknya yang

jauh dari lokasi pekerjaan. Dikarenakan pekerjaan fisik yang berat dan anggapan

bahwa perempuan tidak layak untuk melakukannya, tidak ada seorangpun

perempuan yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Bangunan fisik PLTMH dapat

diselesaikan dalam waktu hampir satu tahun, dan kemudian diresmikan oleh

Menteri Sumberdaya dan Energi, Purnomo Yusgiantoro pada 17 April 2004.

Bangunan koperasi berupa rumah sebagai kantor koperasi beserta meja

dan kursi. Rumah yang digunakan berupa rumah hasil membeli dari salah seorang

warga yang menjual rumahnya. Khusus untuk bangunan kantor koperasi,

diperoleh dengan cara membeli sebuah rumah yang dijual pemiliknya. Rumah ini

kemudian menjadi kantor Koperasi Mekarsari yang diresmikan oleh Drs Eep

Hidayat, Bupati Subang pada tanggal 17 April 2004.


7.3.2 Operasional Pembangkit Listrik

Tenaga kerja yang digunakan dalam PLTMH terdiri atas dua orang

operator, dua orang andir serta satu orang penjaga taman. Tugas operator adalah

mengontrol berjalannya semua peralatan mekanik (antara lain turbin, runner, dan

bearing) dan elektrik (antara lain generator dan panel kontrol). Ada persyaratan

khusus untuk menjadi operator yakni mempunyai pengetahuan dasar mengenai

listrik, minimal STM atau SMA (IPA), dan mempunyai pengalaman sebelumnya

di bidang elektrik. Selama berjalan kurang lebih empat tahun, hanya sekali terjadi

penggantian operator. Andir bertugas menjaga saluran pembawa/air dari sampah

serta mengatur debit air dari bendungan.

Dalam pembagian kerja setiap satu operator berpasangan dengan satu

andir. Pekerjaan operator dimulai pukul 06.00 WIB dan diakhiri pukul 06.00 WIB

keesokan harinya, untuk digantikan operator lainnya. Waktu istirahat pada saat

pukul 12.00 WIB. Diperlukan stamina yang tinggi untuk menjadi operator dan

andir. Penjaga taman bertugas menata dan merawat taman yang berada di sekitar

rumah pembangkit. Dalam kondisi tertentu, seluruh pekerja PLTMH, baik

operator, andir dan penjaga taman biasa bekerja bersama untuk merawat dan

menjaga kebersihan saluran pembawa, bak, serta rumah pembangkit. Penjaga

taman ini bekerja setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Dengan demikian, operator dan andir jumlah hari kerja dalam satu bulan adalah

15 hari kerja. Untuk penjaga taman sebanyak 30 hari kerja dalam sebulan. Kepada

tenaga teknis diberikan gaji tetap bulanan. Gaji operator sebesar Rp.900.000,0

(sembilan ratus ribu rupiah) per bulan, andir sebesar Rp.550.000,0 (lima ratus
lima puluh ribu rupiah) per bulan, penjaga taman sebesar Rp.400.000,0 (empat

ratus ribu rupiah) perbulan.

Setiap harinya rata-rata dihasilkan listrik sebesar 100 kW. Pihak PLN

Purwakarta membelinya dengan harga Rp. 432,0 (empat ratus tiga puluh dua

rupiah) perkW. Tugas operator adalah mencatat kWh yang dihasilkan per harinya

serta memantau kinerja mesin. Selain itu juga melakukan perawatan instalasi yang

dilakukan secara berkala, yakni pada setiap hari Jumat. Jika ada pelatihan,

operator bertugas menerangkan kepada peserta pelatihan keseluruhan bagian dari

PLTMH, baik tentang mesin, bangunan rumah, serta saluran pembawa. Dalam

pelatihan dilakukan pendampingan oleh PT HIBS, khususnya jika ada kendala

atau kesulitan dalam hal aspek-aspek mekanik dan elektrik, seperti penyediaan

alat-alat yang telah rusak.

Kesemua tenaga kerja dalam pembangkit berjenis kelamin laki-laki. Tidak

ada perempuan satu pun. Hal ini dikarenakan adanya anggapan masyarakat lokal

yang menganggap bahwa perempuan tidak cocok dengan pekerjaan yang berbau

teknologi dan kelistrikan. Pandangan bahwa tugas perempuan hanya mengurus

rumah, suami dan anak, bersamaan anggapan bahwa untuk tugas-tugas

operator,andir dan taman membutuhkan orang dengan stamina yang kuat,

menyebabkan adanya bias gender dalam operasionalisasi PLTMH.

7.3.3 Operasional Koperasi Mekarsari

Partisipasi masyarakat dalam program ini dilakukan melalui Koperasi

Mekarsari sebagai wakil masyarakat Desa Cinta Mekar. Koperasi merupakan

pengelola sekaligus mitra swasta dalam pengoperasian PLTMH. Keberadaan


kantor koperasi dimaksudkan untuk memudahkan akses masyarakat terhadap

pelaksanaan program PLTMH. Hari kerja pengurus (seperti yang terlihat pada

Gambar 5) setiap hari Rabu dan Sabtu, dengan jam kerja dimulai pukul 09.00

WIB dan berakhir pukul 12.30 WIB. Yang menarik, mayoritas warga desa yang

mempunyai keperluan enggan datang ke kantor koperasi melainkan mendatangi

rumah pengurus koperasi. Hal ini disebabkan pada hari kerja koperasi ada saja

keperluan dari para anggota sehingga mereka berhalangan hadir ke koperasi.

Secara struktural pengurus harian koperasi terdiri dari ketua, sekretaris,

bendahara dan bidang usaha. Pengangkatan pengurus koperasi dilakukan melalui

musyawarah antara masyarakat dengan pemerintah desa. Hingga saat ini telah

berganti dua kali kepengurusan koperasi. Pada periode tahun 2006 2009, ketua

dan sekretaris berjenis kelamin laki-laki, sedangkan bendahara dan bidang usaha

berjenis kelamin perempuan. Dengan demikian, tidak ada bias gender dalam

lembaga koperasi ini. Pada pelaksanaan kesehariannya terkadang hanya sekretaris,

bendahara dan bidang usaha saja yang hadir ke kantor, ketua hadir jika kondisi

tertentu, misalnya rapat-rapat penting atau musyawarah mengenai pelaksanaan

program.

Pada periode Agustus 2003 hingga 2005, koperasi mengalami stagnasi

karena tidak memiliki biaya operasional (pembangkit belum menghasilkan listrik

untuk dijual, karena ada kerusakan mesin). Selain itu, karena koperasi harus

mengurus administrasi dengan PLN Purwakarta sebagai pihak pembeli listrik

hasil PLTMH. Baru pada Desember 2005 pembangkit listrik bisa beroperasi dan

koperasi bisa melayani kebutuhan listrik masyarakat setempat.


Ketua bertugas mengorganisir pengurus, sekretaris bertugas mewakili

ketua dan mengurus administrasi koperasi, sementara bendahara bertugas

menyelenggarakan pembukuan, mencatat angsuran dan pinjaman serta segala

sesuatu yang berhubungan dengan keuangan. Adapun bidang usaha bertugas

mengurusi pelaksanaan berjalannya program koperasi secara umum.

Penentuan AD ART pun ditentukan dalam rapat anggota dengan

pendampingan dari Yayasan IBEKA. Sampai saat ini baru dua kali Rapat Anggota

Tahunan (RAT). Syarat sebagai anggota Koperasi Mekarsari ialah tercatat sebagai

waga desa Cinta Mekar serta membayar iuran pokok dan wajib. Terdapat pro dan

kontra berkenaan iuran pokok dan wajib anggota koperasi ini, yakni adanya

anggapan bahwa seluruh masyarakat desa secara otomatis masuk menjadi anggota

koperasi tanpa harus membayar iuran pokok dan wajib, karena sudah mendapat

bantuan dari UNESCAP sebesar U$75.000 (tujuh puluh lima ribu dolar Amerika).

Akhirnya, pengurus mengantisipasinya dengan memotong uang pinjaman anggota

baru sebagai iuran wajib dan pokok koperasi.

Rapat anggota tahunan dilaksanakan pada tahun 2006 dan 2007 yang

dihadiri oleh kurang lebih dua pertiga dari anggota koperasi. RAT dilaksanakan di

Sekolah Dasar pada hari Minggu, masyarakat ada yang malas untuk datang karena

berbagai alaasan. Rapat dengan PT HIBS dan IBEKA berjalan setahun sekali.

Rapat istimewa sering diadakan untuk membahas masalah-masalah khusus seperti

pengangkatan pengurus baru. Rapat rutin anggota tidak ada. Saat ini terdapat 242

orang anggota koperasi yang terdaftar. Untuk gaji pengurus dibayarkan per tiga

bulan sebesar Rp.150.000,0.


Data hasil penjualan listrik sejak periode 2004 sampai dengan 2008

selengkapnya disajikan pada Lampiran 7. Pembayaran tunai hasil penjualan listrik

dilakukan setiap dua sampai lima bulan sekali. Rata-rata hasil penjualan listrik

tergantung dari jumlah kW yang dihasilkan oleh PLTMH. Rata-rata per bulan

sekitar Rp.12.000.000,0 (dua belas juta rupiah) dengan demikian rata-rata per

tahun sekitar Rp. 144.000.000,0 (seratus empat puluh empat juta rupiah).

Dana yang diperoleh dari hasil penjualan listrik dialokasikan untuk

beberapa kegiatan. Untuk lebih jelasnya, data pengalokasiaan dana hasil peualan

listrik Desa Cinta Mekar dapat dilihat pada Tabel. 18.

Tabel.18 Persentase Pengalokasian Dana Hasil Penjualan Listrik Tahun 2004 dan
Tahun 2007, Koperasi Mekarsari, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
Tahun 2004 (dalam Tahun 2007 (dalam
Program Koperasi persen) persen)
Pemasangan sambungan
listrik 62,50 0,00
Pendidikan 8,00 9,50
Kesehatan 4,00 5,00
Modal usaha 8,00 60,00
Infrastuktur 5,00 6,00
Biaya Operasional Desa 3,00 3,50
Biaya Operasional Koperasi 10,00 16,00
Total (persen) 100,00 100,00

Perawatan bangunan koperasi dilakukan secara bersama-sama oleh

pengurus koperasi, biasanya setiap bulan sekali. Pemeliharaan gedung beserta

isinya merupakan tugas dan tanggung jawab pengurus bersama. Ada

pengalokasian dana khusus untuk perawatan dan pemeliharaan bangunan

koperasi. Koperasi Mekarsari merupakan lembaga sosial bukan lembaga ekonomi,

karena kegiatannya mayoritas bergerak di bidang sosial, kegiatan ekonomi hanya

sedikit.
7.4 Pemanfaatan Program
7.4.1 Pemasangan Listrik bagi Orang Kurang Mampu

Dari pendataan awal diketahui ada 127 kepala keluarga kurang mampu

yang rumahnya belum terpasangi listrik. Kemudian perwakilan dari rumahtangga

kurang mampu tersebut diundang untuk menghadiri musyawarah desa guna

mendapat bantuan pemasangan listrik. Undangan dibuat oleh Yayasan IBEKA

dan para tokoh masyarakat setempat. Yang hadir dalam rapat mayoritas para

suami, kalaupun ada perempuan, maka hanya mewakili suami yang berhalangan

hadir karena kesibukan mereka. Dalam musyawarah tersebut dipertimbangkan

kemampuan rumahtangga untuk membayar tagihan bulanan selanjutnya dan

tingkat kategori rumahtangga miskin. Kategori rumahtangga miskin

mempengaruhi tingkat bantuan yang didapat, semakin tinggi kategori atau status

rumahtangga maka bantuan yang diterima akan lebih sedikit.. Adapun tingkat

bantuan pemasangan listrik bagi rumahtangga miskin dibedakan ke dalam empat

kategori, yakni:

1. Mendapat hibah 100 %, jika termasuk Rumahtangga MiskinI

2. Membayar 25 %, jika termasuk Rumahtangga Miskin II

3. Membayar 50%, jika termasuk Rumahtangga Miskin III dan

4. Membayar 75%, jika termasuk Rumahtangga Miskin IV.

Proses pemasangan listrik dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap awal

dipasang untuk sebanyak 127 rumahtangga dan tahap kedua sebanyak 29

rumahtangga. Daya yang terpasang pada setiap rumahtangga sebesar 450 W. Pada

pemasangan tahap pertama, tarif pemasangan dari PLN sebesar Rp.500.000,0

(lima ratus ribu rupiah), sedang untuk pemasangan tahap kedua sebesar
Rp.750.000,0 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah) , atau lebih mahal karena

rentang waktu dengan tahap pertama jauh, sehingga tarif telah naik. Selain itu,

juga dikarenakan terbatasnya dana untuk pemasangan atau operasional listrik.

Untuk menutup kekurangan biaya (pada pemasangan tahap pertama) pada bulan

April 2004 koperasi meminjam dana ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar 60

juta rupiah, yang harus dilunasi pada Desember 2007. Pada akhir tahun 2007 telah

terpasang listrik pada 156 rumahtangga, yang berarti melebihi target awal

pemasangan semua (122 KK rumahtangga). Pembayaran tagihan listrik bulanan

rata-rata yang dibayar per rumahtangga sebesar antara Rp.25.000,0 (dua puluh

lima ribu rupiah) hingga Rp.30.000,0 (tiga puluh ribu rupiah).

Pemanfaatan listrik digunakan untuk keperluan seluruh anggota

rumahtangga, baik anggota rumahtangga laki-laki dan perempuan, khususnya

untuk penerangan, belajar, maupun membantu pekerjaan rumahtangga. Dengan

adanya pemasangan listrik di desa, salah seorang kepala rumahtangga bekerja ke

luar kota untuk mencari nafkah, tanpa harus mengkhawatirkan istri dan anak-

anaknya, karena sudah ada listrik. Listrik pun membantu kegiatan anggota

rumahtangga lainnya seperti yang diakui oleh salah seorang responden.

Ya seneng Neng, dulu mah gelap sebelum ada listrik, sekarang jadi terang,
enak (Uce, 28tahun)
Anak-anak bisa belajar, bisa nonton tv, masak bisa pake rice cooker,
kitanya gak cape (Ela, 38tahun)
Terjadi perubahan kepemilikan barang elektronik seperti televisi dan rice cooker,

tetapi jumlahnya hanya sedikit. Ada tujuh RMKL dari 89 RMKL yang

mempunyai televisi sejak mendapat bantuan pemasangan listrik. Kepemilikan rice

cooker hanya ditemui pada tiga rumahtangga responden (RMKL). Bantuan


pemasangan lstrik dimanfaatkan oleh seluruh anggota rumahtangga baik laki-laki

dan perempuan.

7.4.2 Kesehatan

Bentuk program kesehatan berupa pemberian makanan tambahan, bantuan

biaya persalinan, hepatitis, serta kasus akut atau penyakit lainnya. Pelayanan

kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu bisa lapor ke RT kemudian

pengurus koperasi dan ke bidan. Biaya pengobatan masyarakat yang dilakukan di

bidan desa bagi masyarakat yang kurang mampu mendapat ganti dari koperasi,

jika telah terdaftar sebagai anggota koperasi. Seperti biaya persalinan bagi warga

desa, akan mendapat bantuan sebesar Rp.100.000;(seratus ribu rupiah) setiap kali

melahirkan untuk kasus akut atau penyakit yang lain akan mendapat bantuan

Rp.50.000;(lima puluh ribu rupiah) perkunjungan Pemberian makanan tambahan

ditujukan untuk balita sebesar Rp.50.000;(lima puluh ribu rupiah) perbulan.

Jumlah balita pada dusun II sejumlah 25 orang. Pemberian makanan tambahan

berupa bubur kacang hijau atau pisang goreng. Tidak ada keterbatasan penerima

makanan tambahan baik laki-laki atau perempuan, anggota atau bukan anggota

koperasi.

Alhamdulillah, dibantu koperasi pas ngalahirkeun, ongkosna te sadayana


mung sapalihna, ngabantulah Neng (Zub, 44tahun)
Pemanfaatan program kesehatan ditujukan kepada anggota rumahtangga yang

membutuhkan saja. Khusus untuk biaya persalinan hanya ditujukan untuk istri,

sehingga pemanfaat program hanya istri saja. Pemanfaatan bentuk program

kesehatan yang lainnya sebatas yang membutuhkan, baik balita, dewasa, laki-laki

dan perempuan.
7.4.3 Pendidikan

Program pendidikan berupa pemberian beasiswa untuk tingkat Sekolah

Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Besarnya bantuan program

beasiswa yaitu untuk SD sebesar Rp.30.000,0 (tiga puluh ribu rupiah) dan

Rp.60.000,0 (enam puluh ribu rupiah) untuk beasiswa SMP. Beasiswa ini

dibayarkan tiap tiga bulan sekali, sehingga setahun hanya ada empat kali

pemberian beasiswa. Pemberian beasiswa ini bergilir, sehingga tidak ada anggota

rumahtangga (usia SD dan SMP) yang mendapat beasiswa dua kali. Beasiswa

yang didapat biasanya digunakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan

sekolah.

Uangnya itu untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku tulis, tas, atau
sepatu, supaya anak tidak menangis (Ups, 50tahun)

Pemanfaat program ini adalah anggota rumahtangga usia SD dan SMP baik laki-

laki dan perempuan. Diakui dari beberapa responden bahwa beasiswa pendidikan

sangat membantu memperlancar kegiatan belajar anak-anak mereka.

7.4.4 Modal Usaha

Bantuan modal usaha berupa simpan pinjam untuk modal berusaha. Syarat

bagi anggota rumahtangga yang ingin meminjam adalah harus menjadi anggota

koperasi. Saat ini ada 90 anggota yang ikut simpan pinjam. Mayoritas berjenis

kelamin laki-laki (suami). Besarnya pinjaman pun beragam antara Rp.50.000,0

(lima puluh ribu rupiah) hingga Rp.1.000.000,0 (satu juta rupiah).

Dulu teh kurang modal, warung rek bangkrut. untung aya simpan pinjam,
jadi dilanjutkeun deui, meser deui daganganna ka pasar atawa ka mobil nu
nguriling (Ai, 30tahun)
Sistem pengembaliannya bisa perminggu atau perbulan. Bunga pengembalian

pinjaman sebesar 2 persen. Ada kendala dalam pengembalian pinjaman, beberapa

warga enggan untuk mengembalikan pinjaman tepat waktu. Ada saja alasan untuk

menghindar. Jika sudah dua bulan tidak, menyicil maka akan didatangi ke

rumahnya. Namun demikian, dapat dikatakan koperasi ini berjalan dengan baik.

Adanya simpan pinjam pun memberi keuntungan bagi penjual lotek sehingga

dapat menambah modal untuk berjualan.

Abdi mah nuhunkeun aya simpan pinjam, nu nginjeumkeun artos pikeun


modal dagang (Mak Inh, 50tahun)
Pemanfaat program ini berupa anggota rumahtangga yang menjadi anggota

koperasi, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada perbedaan dalam hal akses

untuk meminjam. Jumlah pinjaman tergantung kemampuan pengembalian uang

pinjaman. Sikap dan perilaku dalam masyarakat menjadi pertimbangan bendahara

untuk memberikan pinjaman.

7.4.5 Pembangunan Infrastuktur Desa

Pembangunan infrastruktur desa sampai saat ini belum terealisasikan.

Rencana awal, dana yang dialokasikan akan digunakan untuk air bersih di dusun

empat. Untuk merealisasikannya diperlukan waktu yang tidak sedikit serta biaya

yang sangat besar. Akhirnya dana untuk pembangunan infrastruktur desa

disimpan dalam bentuk tabungan yang jumlahnya sekitar Rp.6.000.000,0 (enam

juta rupiah).
7.4.6 Biaya Operasional Desa dan Biaya Operasional Koperasi

Untuk biaya operasional desa diberikan kepada aparat desa yang

sepenuhnya digunakan untuk keperluan operasional desa. Pembayaran dilakukan

pertiga bulan sekali. Dana program dipergunakan untuk biaya administrasi kantor

antara lain pembelian ATK, serta keperluan kantor lainnya.

Biaya operasional koperasi digunakan untuk administrasi koperasi,

penyediaan ATK, dan keperluan-keperluan kegiatan koperasi. Dana ini

dipergunakan juga untuk membayar pengurus harian serta membayar Badan

Pengawas yaitu sebesar Rp.150.000,0 (seratus lima puluh ribu rupiah) yang

dibayarkan per tiga bulan.

7.5 Kerangka Pemberdayaan


7.5.1 Level Kesetaraan

Mengacu kepada konsep Moser mengenai pemenuhan kebutuhan yang

dicapai melalui pembangunan, di bawah ini dijelaskan apa yang mampu

diwujudkan oleh program PLTMH Desa Cinta Mekar.

Kebutuhan praktis gender mencakup kebutuhan perempuan yang

diidentifikasi dari peranan perempuan secara sosial dalam masyarakat. Melalui

program PLTMH kebutuhan praktis yang dapat dipenuhi berupa listrik, bantuan

kesehatan, simpan pinjam dan beasiswa. Keempat jenis bantuan ini segera dapat

meringankan beban kehidupan dalam rumahtangga secara langsung tanpa

menyinggung masalah ketimpangan antara laki-laki dan perempuan akibat

pembagian kerja dalam masyarakat. Kebutuhan strategis yang terpenuhi dengan

adanya program PLTMH ialah kedudukan perempuan dalam kelembagaan

masyarakat. Dalam Koperasi Mekarsari ada dua perempuan yang memiliki posisi
yang sangat penting yakni bendahara dan pengelola program hasil dana penjualan

listrik (bidang usaha). Tanpa mereka operasional koperasi akan berjalan sangat

lamban. Hal ini berhubungan pula dengan kemampuan kerja yang berhubungan

dengan koperasi, misalnya kompetensi pengurus dalam bidang administrasi dan

pembukuan yang dinilai oleh perwakilan Yayasan IBEKA serta musyawarah

masyarakat Desa Cinta Mekar.

Tingkatan proses pembangunan PLTMH diawali dengan tahap: (1)

sosialisasi program, (2) peningkatan akses terhadap sumberdaya program, (3)

peningkatan kontrol terhadap sumberdaya program, (4) partisipasi warga berupa

peranserta aktif warga dalam pelaksanaan, dan (5) peningkatan kesejahteraan

melalui program-program yang dikelola oleh koperasi.

Dengan mengacu pada Kerangka Pemberdayaan Longwe, khususnya

Level Kesetaraan, tampaknya Program PLTMH tidak menempuh jenjang

kesetaraan sebagaimana dikemukakan Longwe. Hal ini disebabkan oleh

berbedanya tahapan proses pembangunan yang dilakukan oleh PLTMH dengan

yang dimaksud oleh Longwe. Seperti diketahui, program PLTMH dilaksanakan

tidak dimulai dengan pemberian kesejahteraan akan tetapi dimulai dengan tahap

sosialisasi program yang sebagaimana dijelaskan sebelumnya lebih

mengutamakan pada identifikasi rumahtangga miskin yang akan dijadikan target

program. Setelah itu memang program PLTMH ini dilakukan untuk meningkatkan

akses rumahtangga miskin terhadap sumberdaya, khususnya listrik kesehatan,

modal usaha, infrastruktur, dan biaya pendidikan. Namun demikian, proses

pengalokasiannya tidak menggunakan perspektif gender, oleh karena

menggunakan unit analisis rumahtangga. Meskipun, untuk hal-hal yang


menyangkut akses sumberdaya tersebut, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya

mengenai 11 rumahtangga RMKP, dan ada sejumlah 19 perempuan penerima

beasiswa. Level pemberdayaan tahap ketiga sebagaimana dimaksudkan oleh

Longwe juga tidak dilakukan oleh program PLTMH, oleh karena sejak semula

proyek ini netral gender dan berbasis rumahtangga.

Yang menarik, meskipun pada Longwe partisipasi aktif itu dianggap

sebagai level kesetaraan tahap keempat, namun dalam program ini partisipasi aktif

masyarakat laki-laki dan perempuan itu sudah ada, baik sejak tahap sosialisasi

maupun dalam pelaksanaannya, sebagaimana tercermin dari adanya perempuan

yang turut dalam tahap sosialisasi, kelembagaan koperasi dan sebagai target

sasaran. Diakui bahwa perempuan yang berpartisipasi aktif jumlahnya sangat

terbatas. Dalam hal level pemberdayaan berkenaan kontrol, dalam program

PLTMH Desa Cinta Mekar pengambilan keputusan telah ada sejak tahap

sosialisasi hingga pelaksanaan. Pengambilan keputusan ada jika rumahtangga

telah akses terhadap tahapan program. Dengan perkataan lain, level kesetaraan

belum terwujud sebagaimana dimaksud oleh Longwe.

7.5.2 Level Pengakuan Atas Isu Perempuan

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, menurut Longwe terdapat tiga

kategori yakni negatif, netral dan positif. Dengan mengacu pada proses

perencanaan dan pelaksanaan program PLTMH Desa Cinta Mekar, tampaknya

program ini tergolong level negatif, dalam artian bahwa program PLTMH dalam

perencanaannya tidak secara eksplisit mengakui adanya isu-isu perempuan.

Namun demikian dalam pelaksanannya, program ini sebagaimana telah dijelaskan


di atas, menangkau 11 RMKP dan sebanyak 19 anggota rumahtangga perempuan

penerima beasiswa pendidikan dan 35 anggota rumahtangga perempuan penerima

modal usaha. Dulunya perempuan hanya bekerja sebagai ibu rumahtangga,

dengan adanya program simpan pinjam hasil PLTMH, perempuan bisa berusaha

produktif seperti misalnya, berjualan gorengan, berdagang, dan membuka warung.

7.6 Kesimpulan

Pembangunan PLTMH dilandasi oleh prinsip 5P. Pihak yang terlibat yakni

Yayasan IBEKA, UNESCAP, PT HIBS, dan PLN Purwakarta. Pelaksanaan

program PLTMH terbagi atas dua aspek, yakni aspek teknis dan aspek sosial.

Program ini bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat Desa Cinta Mekar.

Tahapan pembangunan PLTMH terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan dan

pemanfaatan program, yang melibatkan anggota rumahtangga laki-laki dan

perempuan.

Tahap perencanaan berupa sosialisasi program kepada masyarakat desa

untuk mendapat dukungan serta bantuan memperlancar tercapainya tujuan

program. Peran laki-laki cenderung lebih besar daripada perempuan, hal tersebut

terlihat dari undangan rapat serta kehadiran dalam musyawarah. Pada tahap

pelaksanaan program, tenaga kerja laki-laki pada pembangunan fisik/sipil lebih

diperlukan daripada tenaga kerja perempuan karena berhubungan dengan

kemampuan fisik. Pada tahap pemanfaatan hasil, ada yang dimanfaatkan seluruh

anggota keluarga adapula yang hanya dinikmati anggota keluarga yang

membutuhkan.
Kebutuhan praktis yang terpenuhi melalui program PLTMH berupa

kebutuhan listrik, bantuan kesehatan, simpan pinjam dan beasiswa, sedangkan

kebutuhan strategisnya ialah kedudukan perempuan dalam kelembagaan

masyarakat. Pengurus koperasi ada yang berjenis kelamin perempuan dan

mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengelolaan koperasi. Mengacu

pada Kerangka Pemberdayaan Longwe, program PLTMH tidak menempuh

jenjang kesetaraan. Program PLTMH yang dilaksanakan tidak dimulai dengan

pemberian kesejahteraan akan tetapi dimulai dengan tahap sosialisasi program.

Setelah itu meningkatkan akses rumahtangga miskin terhadap sumberdaya,

khususnya listrik kesehatan, modal usaha, infrastruktur, dan biaya pendidikan.

Level pemberdayaan tahap ketiga sebagaimana dimaksudkan oleh Longwe juga

tidak dilakukan oleh program PLTMH, oleh karena sejak semula proyek ini netral

gender dan berbasis rumahtangga. Partisipasi aktif masyarakat laki-laki dan

perempuan sudah ada, baik sejak tahap sosialisasi maupun dalam pelaksanaannya.

Level pemberdayaan berkenaan kontrol, dalam program PLTMH Desa Cinta

Mekar pengambilan keputusan telah ada sejak tahap sosialisasi hingga

pelaksanaan. Program PLTMH Desa Cinta Mekar tergolong level negatif, dilihat

dari level pengakuan atas isu perempuan.


BAB VIII

STIMULAN, PENGELOLAAN, FAKTOR LINGKUNGAN


SERTA PERMASALAHAN PADA PROGRAM PLTMH

Ada beberapa aspek yang diduga mempengaruhi program PLTMH dalam

hal akses, kontrol, partisipasi dan manfaat program PLTMH. Antara lain adalah

stimulan program, pengelolaan, dan faktor lingkungan dalam program PLTMH

Stimulan program berupa rangsangan program agar program dapat berjalan lancar

dan mencapai tujuan. Pengelolaan program termasuk bagian dari pelaksanaan

program PLTMH. Faktor lingkungan berupa pengaruh dari luar sistem.

8.1 Stimulan Program PLTMH


8.1.1 Tingkat Bantuan Dana Program Pembangunan PLTMH
Seperti yang dijelaskan di awal, program pembangunan PLTMH

merupakan realisasi dari konsep 5P. Program PLTMH pun termasuk bentuk

program kemitraan yang melibatkan berbagai pihak. Sumber dana program

berasal dari UNESCAP, Yayasan IBEKA dan PT HIBS, yang besarnya masing-

masing US$ 75.000,0 (tujuh puluh lima ribu dolar Amerika). Dana yang berasal

dari UNESCAP merupakan dana hibah yang disumbangkan untuk Koperasi

Mekarsari. Dana dari IBEKA dialokasikan untuk bangunan fasilitas pelatihan dan

penyebaran pembangkit mikrohidro. PT HIBS merupakan pemilik 50 persen

saham badan usaha patungan.

Indikator dari keberhasilan program ini antara lain memberdayakan

masyarakat di bidang ekonomi (rumahtangga) dengan memanfaatkan bantuan

program PLTMH. Caranya melalui program bantuan modal usaha yang berbentuk

pinjaman modal. Dana pinjaman berasal dari simpanan anggota koperasi serta
alokasi dari penghasilan penjualan listrik ke PLN. Adanya program PLTMH ini

merupakan inisiatif dari pihak Yayasan IBEKA yang kemudian mencari mitra

kerjasama. Untuk mendukung berjalannya program, maka diperlukan dukungan

dari pihak yang bermodal, seperti lembaga donor atau fundation.

Bantuan program yang diterima masyarakat berupa bantuan dana

pendirian atau pembangunan PLTMH hingga selesai pengerjaannya. Masyarakat

Cinta Mekar hanya tinggal menikmati hasil dari program PLTMH. Hibah dari

UNESCAP yang sering disebut sebagai peranserta yang mewakili warga Cinta

Mekar dalam pembangunan PLTMH. Dapat dikatakan bahwa tingkat bantuan

dana program merata bagi seluruh warga Desa Cinta Mekar, karena pada dasarnya

hasil program PLTMH dinikmati bersama khususnya bagi rumahtangga miskin.

8.1.2 Tingkat Kesesuaian Program terhadap Kebutuhan Rumahtangga


Miskin

Pada awal tahap perencanaan telah dilaksanakan diskorah atau penggalian

gagasan oleh warga Desa Cinta Mekar. Dari hasil penggalian gagasan tersebut,

disimpulkan ada beberapa permasalahan lokal yang dianggap krusial atau penting.

Penyusunan prioritas permasalahan pun dilakukan bersama-sama, sehingga upaya

penanggulangannya dapat diprediksi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh

koperasi merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada. Misalnya

beasiswa diupayakan dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Secara

umum tingkat kesesuaian program telah tercapai, dikarenakan rumahtangga

miskin sendiri yang menilai dalam forum diskorah.


8.2 Pengelolaan Program PLTMH dan Faktor Lingkungan
8.2.1 Frekuensi Kunjungan Pendampingan oleh Fasilitator

Fasilitator merupakan pihak luar yang aktif membantu terlaksananya

program. Fasilitator yang bertugas di Cinta Mekar berjumlah satu orang.

Fasilitator yang bekerja sekarang tergolong baru, sehingga kurang mengetahui

tahap perencanaan dan pelaksanaan program. Fasilitator ini bertugas

mendampingi koperasi dan operasional PLTMH. Fasilitator tersebut

bertanggungjawab kepada pihak Yayasan IBEKA, karena merupakan karyawan

IBEKA.

Setiap minggu minimal satu kali fasilitator ini mengunjungi rumah

pembangkit (PLTMH). Biasanya setiap hari Senin dan Jumat ketika ada

perawatan berkala. Fasilitator bertugas mengecek kelengkapan administrasi untuk

penjualan listrik ke PLN. Seperti misalnya catatan kW harian. Fasilitator pun

bertugas sebagai perantara jika ada saran atau masukan dari masyarakat setempat

mengenai operasional koperasi serta PLTMH. Fasilitator sering mengikuti rapat

koperasi serta kegiatan yang diadakan oleh koperasi dan Yayasan IBEKA.

Fasilitator kurang dekat dengan penerima program, dan hanya bertugas untuk

mengantar kunjungan dari pihak luar yang ingin mengetahui mengenai program

PLTMH.

8.2.2 Dukungan dari Pemerintah Desa

Pada awalnya pembangunan PLTMH Desa Cintamekar mendapat

tentangan dari warga desa karena takut kehilangan air sebagai irigasi yang

mengaliri sawah mereka. Pemerintah desa berusaha menyakinkan warga agar


berpikir kedepan sehingga warga desa akan maju. Sosialisasi pun dilakukan

dengan cara mengumpulkan masing-masing kepala dusun atau mendatangi tiap-

tiap kampung. Pemerintah desa mendukung pembangunan PLTMH karena

berpikir jangka panjang demi kemajuan Desa Cinta Mekar.

Keterlibatan aparat desa terlihat dari hadir atau tidaknya dalam

musyawarah atau rapat yang berhubungan dengan PLTMH. Kehadiran pihak

aparat desa tentu tidak keseluruhan staf, melainkan hanya wakilnya saja. Pada

kenyataannya setiap rapat pasti selalu dihadiri pihak aparatur pemerintahan desa,

walaupun hanya seorang saja yang merangkap sebagai Badan Pengawas koperasi

(Bapak Asp). Dapat dikatakan tingkat dukungan aparat tinggi, hal ini dibuktikan

dengan kehadiran dalam rapat atau musyawarah PLTMH.

Pelibatan pemerintahan desa tidak hanya pada tahap perencanaan,

melainkan hingga tahap pelaksanaan dan pemanfaatan hasil. Dalam pemilihan

operator BPD juga turut dilibatkan. Tahap pemanfaatan program pemerintah desa

memberikan data rumahtangga yang kurang mampu sehingga dapat menerima

dana bantuan program. Pada tahun 2008 telah berganti kepemerintahan desa.

Dengan bergantinya kepala desa membuat pemerintahan desa yang sekarang

kurang memahami betul proses pembangunan PLTMH mulai dari awal program

berjalan.

8.3 Permasalahan Program PLTMH

Program berjalan kurang lebih selama empat tahun. Diakui dari pengurus

koperasi dan PLTMH hingga saat ini belum dijumpai permasalahan yang besar

dalam pelaksanaan program PLTMH. Dari segi kepengurusan PLTMH pernah ada
pergantian operator sekali, hal ini dilakukan karena kelalaian operator dalam

bertugas. Hal ini sempat membuat kondisi memanas, penyelesaian yang dilakukan

berupa musyawarah internal yang dilakukan oleh tokoh masyarakat, pihak

koperasi dan IBEKA. Hal ini berhubungan dengan seleksi operator beserta

pengurus PLTMH yang lainnya. Dalam kepengurusan koperasi, tidak ada kendala

besar. Kepengurusan koperasi telah berganti satu kali. Untuk urusan teknis

PLTMH, seperti jika ada kerusakan mesin, maka operator sendiri yang harus bisa

memperbaikinya, jika tidak bisa maka alat yang rusak tersebut dibawa ke bengkel

di luar kota untuk diperbaiki. Dalam hal ini PT HIBS juga ikut serta membantu.

Pernah juga muncul isu yang mempertanyakan kejelasan status bangunan atau

fasilitas PLTMH seperti gedung koperasi. Ada anggapan bahwa sebetulnya hibah

dari UNESCAP bisa saja dibagikan secara tunai kepada tiap-tiap kepala keluarga.

Rumahtangga yang kurang mampu sangat terbantu dengan adanya

program PLTMH ini. Diakui oleh mereka beban hidup sedikit berkurang, bahkan

terbantu dengan adanya dana simpan pinjam yang dapat merangsang anggota

rumahtangga untuk berusaha produktif. Namun demikian, ada beberapa

rumahtangga yang telat membayar pinjaman sehingga menghambat aliran dana

pinjaman walaupun setiap tiga bulan ada dana tetap. Terbatasnya jumlah bantuan

dana untuk beasiswa yang diberikan tiap tiga bulan sekali tidak menimbulkan

polemik dalam masyarakat. Walaupun dirasakan kurang, akan tetapi cukup

membantu beban orang tua yang menyekolahkan anaknya.


8.4 Kesimpulan

Tingkat bantuan dana program dan tingkat kesesuaian program terhadap

kebutuhan rumahtangga miskin merupakan bagian dari stimulan program PLTMH

yang mempengaruhi tingkat akses, kontrol, partisipasi dan manfaat program

PLTMH. Disimpulkan bahwa tingkat bantuan dana program seragam, dimana

jumlah bantuan dana yang diperoleh berupa bangunan fisik/sipil lengkap dengan

peralatan untuk PLTMH. Tingkat kesesuaian program tergolong tinggi karena

rumahtangga miskin sendiri yang menentukan sesuai tidaknya program dengan

kebutuhan atau permasalahan yang dihadapinya dalam forum penggalian gagasan.

Fasilitator rutin memeriksa PLTMH dan sering berdiskusi dengan pengurus-

pengurusnya (operator, andir dan penjaga taman), dengan demikian frekuensi

kunjungan pendampingan fasilitator pada program PLTMH tergolong tinggi.

Tingkat dukungan aparat desa tergolong tinggi, hal tersebut dibuktikan dengan

kehadiran perwakilan aparat pemerintahan desa dalam rapat atau musyawarah

mengenai PLTMH.

Permasalahan program hingga saat ini terkendali, akan tetapi pernah ada

masalah pergantian operator karena kelalain kerja, kurangnya pengintegrasian

gender pada tujuan program, walaupun pada pelaksanaannya melibatkan laki-laki

dan perempuan, akan tetapi masih terkonsentrasi pada taha-tahap tertentu

program. Munculnya isu atau gosip yang mempertanyakan status kepemilikan

bangunan sipil PLTMH dan koperasi akibat dana yang digunakan berupa dana

hibah dari UNESCAP.


BAB IX

ANALISIS GENDER DALAM PROGRAM PLTMH

Mengacu pada teknik analisis gender, indikator-indikator keberhasilan

Program PLTMH, dapat dilihat melalui akses dan kontrol rumahtangga miskin

terhadap Program PLTMH, serta partisipasi dan manfaat yang diperoleh

rumahtangga miskin (baik laki-laki maupun perempuan) dari penyelenggaraan

Program PLTMH. Khususnya dalam perencanaan dan pelaksanaan progra,

penjelasan berkenaan dengan empat aspek analisis gender dalam Program

PLTMH di Desa Cinta Mekar tersebut didasarkan pada hasil pengolahan data

survei pada 60 rumahtangga miskin yang mendapat bantuan program Koperasi

Mekarsari.

9.1 Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Perencanaan Program


PLTMH

Tahapan awal program pembangunan berupa perencanaan program. Akses

RMKL dan RMKP terhadap perencanaan program dapat dilihat dari tingkat akses

rumahtangga pada masing-masing komponen kegiatan, yakni tahap persiapan,

penetapan tujuan program, penetapan rencana kerja, penentuan prioritas dan

aktivitas, pengalokasian sumberdaya, diskusi sosialisasi program dan pertemuan

dengan stakeholders. Tabel 19 menyajikan data mengenai tingkat akses RMKL

dan RMKP terhadap tahap perencanaan program PLTMH.


Tabel 19. Jumlah dan Persentase Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Perencanaan Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun
2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Akses Perencanaan n % n % n %
Rendah 38 77,55 11 100,00 49 81,67
Sedang 4 8,16 0 0,00 4 6,67
Tinggi 7 14,29 0 0,00 7 11,66
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00
Dari Tabel 19 diketahui bahwa tingkat akses mayoritas RMKL dan RMKP

terhadap tahap perencanaan program tergolong rendah. Namun demikian, pada

RMKL ditemukan adanya mereka yang tingkat akses terhadap Tahap Perencanaan

Program PLTMH tergolong tinggi. Dikatakan tinggi karena ARTL dan ARMP

dalam RMKL mempunyai peluang yang lebih besar untuk dapat akses ke dalam

tahap perencanaan program, hal ini dikarenakan status sosial yang ada dalam

masyarakat lebih banyak ditemukan pada RMKL.

9.2 Tingkat Kontrol Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan


terhadap Perencanaan Program PLTMH
Tingkat kontrol RMKL dan RMKP terhadap perencanaan program

ditentukan dari peranserta RMKL dan RMKP dalam pengambilan keputusan pada

sumberdaya pada tahap perencanaan Program PLTMH. Termasuk didalamnya

siapa yang harus hadir musyawarah atau rapat dan mengeluarkan pendapat atau

tanggapan dalam diskusi. Untuk data yang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel

20.

Tabel 20. Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Perencanaan Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Kontrol Perencanaan n % n % n %
Rendah 2 4,08 11 100,00 13 21,67
Sedang 36 73,47 0 0,00 36 60,00
Tinggi 11 22,45 0 0,00 11 18,33
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00
Terlihat dari Tabel 20, pada RKML mayoritas pengambilan keputusan

dilakukan bersama antara suami dan istri yang salah satunya dominan. Pada

dasarnya untuk tingkat kontrol dan sedang termasuk pada tingkat bersama, yakni

adanya keikutsertaan laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Pada RMKP seluruhnya tergolong rendah, karena pengambilan keputusan

sepenuhnya dilakukan oleh istri (perempuan). Hal tersebut dimungkinkan, karena

pada RMKP, mayoritas ARTnya terdiri dari anak balita dan remaja yang dianggap

belum dewasa dan belum bisa mengambil keputusan sendiri tanpa campurtangan

orang tua (ibu).

9.3 Tingkat Akses Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan


terhadap Pelaksanaan Program PLTMH
Tahap pelaksanaan antara lain berupa kegiatan operasional PLTMH dan

operasional koperasi. Operasional PLTMH dimaksudkan berupa kegiatan harian

PLTMH dalam upaya menghasilkan listrik yang akan dijual. Dalam

pelaksanaannya dilakukan oleh pengurus PLTMH yang terdiri dari operator, andir

dan penjaga taman, koperasi sebagai pengelola keuangan hasi penjualan listrik.

Bentuk kegiatan pada tahap pelaksanaan berupa peluang atau kesempatan untuk

menjadi operator, andir, penjaga taman, pengurus koperasi dan kegiatan gotong

royong.

Kegiatan-kegiatan pada tahap pelaksanaan lebih terbatas dibandingkan

kegiatan-kegiatan pada tahap perencanaan. Diketahui, tidak ada pengurus PLTMH

maupun koperasi merangkap jabatan kepengurusan ..


Tabel 21. Jumlah dan Persentase Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Pelaksanaan Program PLTMH Desa Cinta Mekar, Tahun
2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Akses Pelaksanaan n % n % n %
Rendah 16 32,65 11 100,00 27 45,00
Sedang 31 63,27 0 0,00 31 51,67
Tinggi 2 4,08 0 0,00 2 3,33
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00

Pada Tabel 21 secara umum dapat diketahui bahwa dari total rumahtangga

contoh, mayoritas diantara mereka memiliki tingkat akses terhadap tahap

pelaksanaan Program PLTMH yang tergolong sedang. Namun demikian, jika

dilihat menurut kategori jenis kelamin kepala rumahtangganya diketahui bahwa

mereka yang memiliki tingkat akses terhadap tahap pelaksanaan Program PLTMH

yang tergolong sedang tersebut hanya dijumpai pada RMKL dengan persentase

sebanyak 63,27 persen atau sekitar 31 persen lebih tinggi dari RMKL yang

memiliki akses terhadap pelaksanaan program yang tergolong kategori rendah.

Hal ini dimungkinkan karena keterlibatan ART dalam RMKL lebih banyak jika

dibandingkan dengan keterlibatan ART dalam RMKP mengingat komposisi

anggota rumahtangga pada RMKL lebih banyak jika dibandingkan dengan

RMKP.

Lebih lanjut, adanya RMKL dengan tingkat akses terhadap tahap

pelaksanaan Program PLTMH yang tergolong tinggi dimungkinkan karena

adanya dua orang RMKL yang bertugas menjadi pengurus operasional PLTMH.

Berbeda halnya dengan RMKP yang seluruhnya tergolong rendah. Hal ini terjadi

karena jenis kegiatan dalam tahap pelaksanaan lebih banyak menggunakan, tenaga

laki-laki daripada perempuan.


9.4 Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program
PLTMH
Sama halnya dengan tingkat kontrol ARTL dan ARTP terhadap

perencanaan program, tingkat kontrol RML dan RMP terhadap Pelaksanaan

Program PLTMH ditentukan oleh pengambilan keputusan dalam rumahtangga

terhadap kegiatan pada tahap pelaksanaan. Sehubungan dengan total skor akses

yang relatif kecil, pada tingkat kontrol pun ikut terpengaruh dengan tingkat akses.

Tabel 22. Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Pelaksanaan Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008

RMKL RMKP Total


Tingkat Kontrol Pelaksanaan n % n % n %
Rendah 48 97,96 11 100,00 59 98,33
Sedang 1 2,04 0 0,00 1 1,67
Tinggi 0 0,00 0 0,00 0 0,00
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00

Dari Tabel 22 dapat dilihat bahwa baik pada RKML dan RKMP,

mayoritas kontrol pelaksanaan program tergolong rendah. Hal ini dikarenakan

anggota rumahtangga yang terlibat dalam tahap pelaksanaan (mayoritas suami

saja) memutuskan sendiri mengenai aktivitas yang akan diikuti pada tahap

pelaksanaan, seperti ikut menjadi buruh dalam pembangunan PLTMH. Namun

demikian gaji yang diperoleh dari buruh tersebut dipergunakan untuk membiayai

seluruh anggota keluarga.

9.5 Tingkat Partisipasi Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan


terhadap Pelaksanaan Program PLTMH

Tingkat partisipasi diukur dari peranserta aktif anggota rumahtangga, baik

laki-laki maupun perempuan dalam kegiatan pelaksanaan program. Partipasi

RMKL dan RMKP dilihat dari kepengurusan PLTMH serta Koperasi Mekarsari,
dan turut ikut gotong royong dalam kegiatan PLTMH. Partisipasi warga desa

Cinta Mekar juga ditunjukkan dengan menjadi anggota Koperasi Mekarsari. Hal

tersebut tidak menjadi ukuran dalam tahap ini, karena secara langsung anggota

rumahtangga miskin yang menerima bantuan program merupakan anggota

koperasi Mekarsari. Pada awalnya ada persyaratan bahwa jika ingin mendapat

bantuan program, harus menjadi anggota koperasi terlebih dahulu. Hal ini menjadi

polemik warga, sehingga disiasati dengan cara memberikan bantuan program

tanpa syarat, akan tetapi ada potongan untuk membayar iuran wajib dan pokok

sebagai anggota koperasi.

Tabel 23 menyajikan data mengenai tingkat partisipasi RMKL dan RMKP

terhadap tahap pelaksanaan program PLTMH.

Tabel 23. Jumlah dan Persentase Tingkat Partisipasi RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Pelaksanaan Program PLTMH Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Partisipasi n % n % n %
Rendah 20 40,82 10 90,91 30 50,00
Sedang 27 55,10 1 9,09 28 46,67
Tinggi 2 4,08 0 0,00 2 3,33
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00

Dari Tabel 23 dapat disimpulkan bahwa partisipasi RMKL terhadap

pelaksanaan program PLTMH mayoritas tergolong sedang, sedangkan pada

RMKP tergolong rendah. Pada RMKL ditemukan adanya 4,08 persen yang

tergolong tinggi karena ikut serta dalam kepengurusan operasional PLTMH.

Partisipasi pada RMKL dan RMKP berbeda karena pada tahap pelaksanaan

program, khususnya gotong royong, lebih banyak pekerjaan fisik daripada

nonfisik, sehingga anggota RMKL lebih berperanserta dibanding dengan anggota


RMKP yang dominan terdiri dari anggota rumahtangga berjenis kelamin

perempuan dan balita.

9.6 Tingkat Akses Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan


terhadap Pemanfaatan Hasil Program PLTMH

Tingkat akses pada pemanfaatan program berupa peluang anggota RMKL

dan RMKL untuk mendapat bantuan program. Bantuan program yang

dilaksanakan meliputi bantuan pemasangan listrik, bantuan kesehatan, bantuan

beasiswa pendidikan serta bantuan simpan pinjam.

Tabel 24. Jumlah dan Persentase Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Pemanfaatan Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008

RMKL RMKP Total


Tingkat Akses Pemanfaatan n % n % n %
Rendah 13 26,53 5 45,45 18 30,00
Sedang 34 69,39 6 54,55 40 66,67
Tinggi 2 4,08 0 0,00 2 3,33
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00

Dari Tabel 24 dapat diketahui bahwa baik RMKL dan RMKP mayoritas

tergolong sedang dalam akses pemanfaatan program. Hal ini dikarenakan setiap

rumahtangga miskin terdiri dari anggota rumahtangga yang heterogen, sehingga

akan mempengaruhi akses terhadap program yang dinilai sesuai untuk pemenuhan

kebutuhannya.

9.7 Tingkat Kontrol Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan


terhadap Pemanfaatan Hasil Program PLTMH
Tingkat kontrol ARTL dan ARTP terhadap pemanfaatan program

ditentukan dari peranserta ARML/ARMP dalam pengambilan keputusan pada


setiap kegiatan dalam tahap memanfatkan hasil Program PLTMH. Pemanfaatan

program terdiri dari bantuan pemasangan listrik, beasiswa, kesehatan serta simpan

pinjam.

Tabel 25. Jumlah dan Persentase Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap
Tahap Pemanfatatan Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun
2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Kontrol Pemanfaatan n % n % n %
Rendah 4 8,16 11 100,00 15 25,00
Sedang 29 59,18 0 0,00 29 48,33
Tinggi 16 32,65 0 0,00 16 26,67
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00

Tabel 25 memperlihatkan data mengenai pola pengambilan keputusan

dalam pemanfaatan program. Dapat diketahui bahwa kontrol RMKL dalam tahap

pemanfaatan program mayoritas tergolong sedang. Berbeda halnya dengan RMKP

yang seluruhnya tergolong rendah. Hal ini terjadi karena pada RMKL terdiri dari

suami dan istri, sedang pada RMKP mayoritas terdiri dari istri saja dengan anak-

anak yang berusia balita dan remaja, sehingga peranserta laki-laki dalam RMKL

cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan RMKP yang pengambilan

keputusan masih ditentukan oleh istri (ibu) seorang.

9.8 Tingkat Manfaat Rumahtangga Miskin Laki-laki dan Perempuan


terhadap Hasil Program PLTMH
Tingkat manfaat ARTL dan ARTP terhadap hasil program PLTMH

ditentukan dari pola pemanfaatan hasil program PLTMH oleh ARTL dan ARTP.

Penerima manfaat program dapat dilihat pada Tabel 26.


Tabel 26. Jumlah RMKL dan RMKP Penerima Program PLTMH, Desa Cinta
Mekar, Tahun 2008
Bantuan Program RMKL RMKP Total
Listrik 25 5 30
Beasiswa 26 4 30
Simpan pinjam 32 3 35
Kesehatan 11 3 14

Pada Tabel 26 dapat dilihat jumlah RMKL dan RMKP penerima program

PLTMH. Bantuan terbanyak diperoleh dari bantuan simpan pinjam dengan jumlah

total penerima RMKL dan RMKP sebesar 36 rumahtangga. Masing-masing

rumahtangga bisa mendapatkan lebih dari satu bantuan program PLTMH. Tabel

27 menyajikan data mengenai tingkat manfaat RMKL dan RMKP terhadap hasil

Program PLTMH.

Tabel 27. Jumlah dan Persentase Tingkat Manfaat RMKL dan RMKP terhadap
Hasil Program PLTMH, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
RMKL RMKP Total
Tingkat Manfaat n % n % n %
Rendah 4 8,16 0 0,00 4 6,67
Sedang 5 10,20 5 45,45 10 16,67
Tinggi 40 81,63 6 54,55 46 76,66
Total 49 100,00 11 100,00 60 100,00

Dari Tabel 27 dapat diketahui bahwa tingkat pemanfaatan program baik

pada RMKL maupun RMKP mayoritas tergolong tinggi. Namun demikian,

RMKP yang tingkat manfaat dari hasil program PLTMH-nya tergolong tinggi

menunjukkan persentase yang lebih rendah dibanding RMKL (sebanyak sekitar

27 persen). Sebaliknya, pada RMKP, mereka yang memiliki tingkat manfaat yang

tergolong sedang lebih tinggi 35 persen dibandingkan dengan RMKL. Hal ini

dimungkinkan karena pada umumnya bantuan yang diperoleh oleh RMKL dan
RMKP dimanfaatkan untuk kebutuhan seluruh keluarga kecuali untuk bantuan

beasiswa dan kesehatan.

9.9 Kesimpulan

Meskipun tingkat akses mayoritas RMKL dan RMKP terhadap tahap

perencanaan program tergolong rendah, namun persentase RMKL yang akses

pada tahap perencanaan lebih besar. Sebaliknya, tidak adanya RMKP yang akses

dimungkinkan karena tidak satu pun diantara mereka berstatus sebagai tokoh

desa. Pada RKML mayoritas pengambilan keputusan tergolong sedang,

sementara. pada RMKP seluruhnya tergolong rendah, karena pengambilan

keputusan sepenuhnya dilakukan oleh istri (perempuan). Mayoritas akses RMKL

dalam tahap pelaksanaan tergolong sedang. Berbeda halnya dengan RMKP yang

seluruhnya tergolong rendah. Hal ini terjadi karena jenis kegiatan dalam tahap

pelaksanaan lebih banyak menggunakan tenaga laki-laki daripada perempuan.

Baik pada RKML dan RKMP, mayoritas kontrol pelaksanaan program

tergolong rendah. Tingkat partisipasi pada RMKL terhadap pelaksanaan program

mayoritas tergolong rendah. Pada kategori RMKL dan RMKP mayoritas

tergolong sedang dalam akses pemanfaatan program. Kontrol RMKL dalam tahap

pemanfaatan program mayoritas tergolong sedang. Berbeda halnya dengan RMKP

yang seluruhnya tergolong rendah. Tingkat pemanfaatan program baik pada kedua

kategori rumahtangga contoh mayoritas tergolong tinggi. Sebaliknya, pada RMKP

yang tergolong sedang lebih tinggi 35 persen dibandingkan dengan RMKL pada

kategori yang sama.


Secara umum, disimpulkan bahwa tingkat akses tergolong rendah, tingkat

kontrol sedang dan tingkat partisipasi bervariasi antara RMKL dan RMKP, namun

demikian pada tingkat manfaat tinggi, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan

antar tahapan program. Keterlibatan masyarakat hanya pada beberapa tahap

tertentu saja.
BAB X

RELASI GENDER DALAM PROGRAM PLTMH

Relasi gender dalam program PLTMH mencakup semua variabel yaitu

Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Perencanaan Program PLTMH,

Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program PLTMH,

Tingkat Akses RMKL dan RMKP terhadap Pemanfaatan Hasil Program PLTMH,

Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Perencanaan Program PLTMH ,

Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program PLTMH,

Tingkat Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Pemanfaatan Hasil Program

PLTMH, Tingkat Partisipasi RMKL dan RMKP terhadap Pelaksanaan Program

PLTMH , dan Tingkat Manfaat yang diperoleh RMKL dan RMKP terhadap Hasil

Program PLTMH, serta variabel-varabel yang mempengaruhinya dari setiap

faktor yang diduga berhubungan dengan relasi gender dalam proram PLTMH

tersebut yakni Karakteristik Sumberdaya Individu dan Sumberdaya RMKL dan

RMKP, Frekuensi Kunjungan Fasilitator, Jumlah Dana Program PLMTH dan

Tingkat Kesesuaian Program dengan Kebutuhan Rumahtangga Miskin

10.1 Hubungan Antara Karakteristik Individu dan Rumahtangga (ARML


dan ARMP) dengan Tingkat Akses dan Kontrol terhadap Program
PLTMH

Sub-bab ini akan menyajikan data dan informasi berkenaan dengan

hubungan antara peubah tingkat pendidikan dan status bekerja dari individu-

individu ART pada kedua kategori rumahtangga contoh dengan enam variabel

yang menunjukkan Tingkat Akses dan Tingkat Kontrol mereka terhadap


perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan Program PLTMH. Selengkapnya data

tersebut disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28. Tingkat Akses dan Kontrol RMKL serta RMKP terhadap Program
PLTMH Menurut Tingkat Pendidikan, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
RMKL RMKP
Tingkat Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
Akses terhadap Perencanaan Program
Rendah 8,16 44,89 24,49 90,90 0,00 0,00
Sedang 0,00 12,24 8,16 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Perencanaan Program
Rendah 2,04 57,14 18,37 90,90 0,00 0,00
Sedang 2,04 14,29 4,08 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 26,53 46,94 4,08 90,90 0,00 0,00
Sedang 4,08 16,33 0,00 9,10 0,00 0,00
Tinggi 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 77,56 0,00 0,00 90,90 0,00 0,00
Sedang 20,40 0,00 0,00 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 18,36 55,10 4,08 36,36 54,54 0,00
Sedang 6,12 14,28 0,00 9,10 0,00 0,00
Tinggi 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 8,16 44,89 24,48 90,90 0,00 0,00
Sedang 0,00 12,24 12,24 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Pada Tabel 28, dapat terlihat ada beberapa rumahtangga pada RMKL yang

memiliki tingkat pendidikan rendah justru memiliki tingkat akses dan kontrol

terhadap program PLTMH cenderung tinggi. Namun demikian, secara umum

tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan tingkat akses dan kontrol, karena

tingkat pendidikan RMKL dan RMKP secara umum homogen sehingga tidak

dapat dilakukan analisis hubungan.

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin rumahtangga, tingkat akses dan

kontrol pada RMKL lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat akses dan kontrol
pada RMKP. Dapat dikatakan tingkat akses dan kontrol RMKL dan RMKP

terhadap program PLTMH lebih dipengaruhi oleh jenis kelamin kepala

rumahtangga penerima program PLTMH, dimana rumahtangga yang dikepalai

laki-laki lebih akses dan kontrol terhadap program PLTMH jika dibandingkan

dengan rumahtangga yang dikepalai perempuan.

Tabel 29. Tingkat Akses dan Kontrol RMKL serta RMKP terhadap Program
PLTMH Menurut Status Bekerja, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
RMKL RMKP
Status Bekerja Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
Akses terhadap Perencanaan Program
Rendah 6,12 0,00 0,00 54,54 0,00 0,00
Sedang 69,38 8,16 12,24 45,46 0,00 0,00
Tinggi 2,04 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Perencanaan Program
Rendah 0,00 4,08 2,04 54,54 0,00 0,00
Sedang 4,08 65,31 20,41 45,46 0,00 0,00
Tinggi 0,00 4,08 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 0,00 6,12 0,00 54,54 0,00 0,00
Sedang 30,61 57,14 2,04 45,46 0,00 0,00
Tinggi 2,04 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 6,12 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Sedang 89,79 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Tinggi 2,04 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 0,00 6,12 0,00 36,36 18,20 0,00
Sedang 24,49 63,27 2,04 9,10 36,36 0,00
Tinggi 2,04 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 2,04 2,04 2,04 54,54 0,00 0,00
Sedang 6,12 55,10 28,57 45,46 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 2,04 0,00 0,00 0,00
Pada Tabel 29 dapat dilihat hubungan tingkat akses dan kontrol RMKL

dan RMKL berdasarkan status pekerjaan. Berdasarkan status pekerjaan, diketahui

bahwa sebagian besar dari RMKL dan RMKP penerima program PLTMH

memiliki status pekerjaan tergolong sedang. Diantaranya bekerja sebagai buruh

tani dan pekerja tak tetap atau buruh serabutan. Secara umum disimpulkan bahwa

tingkat akses dan kontrol RMKL dan RMKP terhadap program PLTMH tidak
dipengaruhi oleh status pekerjaan pada RMKL dan RMKP. Tidak ada hubungan

antara status dengan akses dan kontrol program PLTMH.

Informasi yang berkenaan dengan hubungan antara peubah tingkat

kekayaan dan status rumahtangga dari rumahtangga miskin pada kedua kategori

rumahtangga contoh dengan enam variabel yang menunjukkan Tingkat Akses dan

Tingkat Kontrol mereka terhadap perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan

Program PLTMH.Selengkapnya data tersebut disajikan pada Tabel 30.

Tabel 30. Tingkat Akses dan Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Program
PLTMH Menurut Tingkat Kekayaan, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
Tingkat RMKL RMKP
Kekayaan Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
Akses terhadap Perencanaan Program
Rendah 38,78 6,12 10,20 100,00 0,00 0,00
Sedang 28,56 2,04 2,04 0,00 0,00 0,00
Tinggi 10,20 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Perencanaan Program
Rendah 2,04 42,86 10,20 100,00 0,00 0,00
Sedang 0,00 22,45 10,20 0,00 0,00 0,00
Tinggi 2,04 8,16 2,04 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 24,49 30,61 0,00 100,00 0,00 0,00
Sedang 6,12 24,49 2,04 0,00 0,00 0,00
Tinggi 2,04 8,16 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 55,10 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Sedang 32,65 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Tinggi 10,20 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 12,24 40,80 2,04 45,54 64,46 0,00
Sedang 10,20 22,45 0,00 0,00 0,00 0,00
Tinggi 4,08 6,12 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 2,04 32,65 20,41 100,00 0,00 0,00
Sedang 6,12 22,45 4,08 0,00 0,00 0,00
Tinggi 0,00 4,08 8,16 0,00 0,00 0,00
Dari Tabel 30 dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan yang nyata

antara tingkat kekayaan dengan tingkat akses dan kontrol terhadap program

PLTMH. Hal tersebut dikarenakan tingkat kepemilikan kekayaan hampir seragam

pada seluruh rumahtangga miskin penerima program PLTMH.

Status rumahtangga yang digunakan untuk menentukan hubungan atau

pengaruh menggunakan status rumahtangga berdasarkan hasil diskorah. Terlihat

pada Tabel 31 bahwa tingkat akses dan kontrol RKML dan RKMP terhadap

PLTMH tidak dipengaruhi oleh status rumahtangga tersebut. Hal ini dikarenakan

baik RMKL dan RMKP secara umum tergolong miskin, walaupun berbeda

tingkatan.

Tabel 31. Tingkat Akses dan Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Program
PLTMH Menurut Status Rumahtangga, Desa Cinta Mekar, Tahun
2008
Status RMKL RMKP
Rumahtangga Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
Akses terhadap Perencanaan Program
Rendah 51,02 6,12 6,12 90,90 0,00 0,00
Sedang 24,49 2,04 8,16 9,10 0,00 0,00
Tinggi 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Perencanaan Program
Rendah 2,04 48,98 12,24 90,90 0,00 0,00
Sedang 2,04 22,45 10,20 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 20,41 42,86 0,00 90,90 0,00 0,00
Sedang 10,20 20,41 4,08 9,10 0,00 0,00
Tinggi 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 63,27 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Sedang 34,69 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 14,29 46,94 2,04 45,45 45,45 0,00
Sedang 10,20 22,45 2,04 0,00 9,10 0,00
Tinggi 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 4,08 38,78 20,41 90,90 0,00 0,00
Sedang 4,08 18,37 12,24 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 0,00 0,00 0,00 0,00
Dengan demikian dari tabulasi silang yang menunjukkan bahwa baik

karakteristik individu dan karakteristik rumahtangga tidak berpengaruh terhadap

tingkat akses dan kontrol terhadap program PLTMH.

10.2 Hubungan Antara Tingkat Akses dan Kontrol Sumberdaya Individu


dan Rumahtangga ARML dan ARMP dengan Tingkat Partisipasi
dalam Pelaksanaan Program PLTMH
Tingkat partisipasi berupa peranserta aktif anggota RMKL dan RMKP

pada pelaksanaan program PLTMH. Tingkat partisipasi pada RMKL cenderung

lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat partisipasi RMKP. Hal ini karena

jumlah anggota RMKL lebih banyak berjenis kelamin laki-laki bila dibandingkan

dengan anggota rumahtangga yang berjenis kelamin perempuan. Pada tahap

pelaksanaan program kegiatannya lebih ke arah pekerjaan fisik, sehingga anggota

rumahtangga berjenis kelamin laki-laki lebih akses bila dibandingkan dengan

perempuan.

Dari Tabel 32 diketahui bahwa tingkat partisipasi pada RMKL tergolong

sedang, sedangkan pada RMKP tergolong rendah. Disimpulkan pula bahwa

tingkat akses dan kontrol RMKL dan RMKP tidak berpengaruh terhadap tingkat

partisipasi pada pelaksanaan program. Hal ini disebabkan anggota rumahtangga

yang berpartisipasi dalam tahap pelaksanaan lebih banyak anggota rumahtangga

di luar penerima program.


Tabel 32. Tingkat Akses dan Kontrol RMKL dan RMKP terhadap Program
PLTMH Menurut Tingkat Partisipasi, Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
RMKL RMKP
Tingkat Partisipasi Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
Akses terhadap Perencanaan Program
Rendah 32,65 0,00 8,16 90,90 0,00 0,00
Sedang 44,89 8,16 2,04 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 0,00 2,00 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Perencanaan Program
Rendah 4,08 30,61 6,12 90,90 0,00 0,00
Sedang 0,00 38,78 16,33 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 4,08 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 22,45 18,37 0,00 90,91 0,00 0,00
Sedang 10,20 44,89 0,00 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 0,00 4,08 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pelaksanaan Program
Rendah 38,78 2,04 0,00 90,90 0,00 0,00
Sedang 55,10 0,00 0,00 9,10 0,00 0,00
Tinggi 4,08 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Akses terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 2,04 36,73 2,04 45,45 45,46 0,00
Sedang 24,49 30,16 0,00 0,00 9,10 0,00
Tinggi 0,00 2,04 2,04 0,00 0,00 0,00
Kontrol terhadap Pemanfaatan Program
Rendah 4,08 24,49 12,24 90,90 0,00 0,00
Sedang 4,08 32,65 18,37 9,10 0,00 0,00
Tinggi 0,00 2,04 2,04 0,00 0,00 0,00

10.3 Hubungan Antara Tingkat Partisipasi ARML dan ARMP dalam


Pelaksanaan Program PLTMH dengan Tingkat Manfaat dari
Program PLTMH
Tingkat pemanfaatan program ditentukan dari pola pemanfaatan program

hasil PLTMH bagi anggota rumahtangga miskin. Program hasil PLTMH yang

sedang berjalan yaitu pemasangan listrik, bantuan beasiswa, bantuan kesehatan

dan simpan pinjam. Untuk tingkat partisipasi ditentukan dari keterlibatan anggota

rumahtangga pada tahap pelaksanaan program.


Tabel 33. Tingkat Manfaat Program PLTMH bagi RMKL dan RMKP Menurut
Tingkat Partisipasi pada Tahap Pelaksanaan Program PLTMH, Desa
Cinta Mekar, Tahun 2008
Tingkat Partisipasi
RMKL RMKP
Tingkat Manfaat Rendah Sedang Tinggi Rendah Sedang Tinggi
Rendah 2,04 6,12 0,00 0,00 0,00 0,00
Sedang 4,08 6,12 0,00 36,360 9,10 0,00
Tinggi 34,69 42,86 4,08 54,54 0,00 0,00
Pada Tabel 33 terlihat bahwa tidak ada hubungan antara tingkat partisipasi

dengan tingkat manfaat program. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa anggota

rumahtangga yang berpartisipasi dalam tahap pelaksanaan program berjumlah

sangat sedikit (hanya 10 orang anggota rumahtangga laki-laki) sedangkan

pemanfaat program hampir seluruh anggota rumahtangga miskin di Kampung

Tangkil.

10.4 Hubungan Antara Tingkat Pendampingan Fasilitator dengan Tingkat


Akses, Kontrol, Partisipasi dan Manfaat yang diperoleh ARML dan
ARMP terhadap Program PLTMH

Fasilitator yang sedang bekerja sekarang merupakan fasilitator baru,

sehingga tidak mengerti tahap perencanaan. Frekuensi kunjungan dilakukan

minimal seminggu sekali untuk mengecek opersional PLTMH, seperti

pengecekan laporan harian hasil kW serta kinerja pengurus PLTMH. Fasilitator

juga menghadiri rapat-rapat yang dilakukan oleh koperasi.

Dapat dikatakan bahwa frekuensi kunjungan fasilitator tergolong tinggi,

karena fasilitator karena dilakukan rutin. Namun demikian, seperti hasil

wawancara dengan Bapak Ups, Bapak Whd, dan Bapak Ujg, mereka menyatakan

bahwa pendampingan fasilitator tidak berhubungan dengan akses, kontrol,

partisipasi dan manfaat yang diperoleh dari program PLTMH, karena fasilitator
hanya berperan sebagai pendamping pada kegiatan operasional pembangkit saja

tidak menyangkut kepada penerima program bantuan. Dengan demikian

pengelolaan program PLTMH tidak berhubungan dengan tingkat akses, kontrol,

partisipasi dan manfaat program PLTMH.

10.5 Hubungan Antara Stimulan Program PLTMH dengan Tingkat Akses,


Kontrol, Partisipasi dan Manfaat ARML dan ARMP terhadap dan
dari Program PLTMH

Stimulan program PLTMH terdiri atas tingkat bantuan dana program serta

tingkat kesesuaian program terhadap kebutuhan rumahtangga miskin. Tingkat

bantuan dana secara langsung telah dialokasikan seluruhnya dalam proses

pembangunan PLTMH, sehingga dana bantuan tidak secara individu dibagikan

langsung kepada rumahtangga miskin. Kesepakatan ini terbentuk setelah adanya

musyawarah dengan Yayasan IBEKA dengan masyarakat Desa Cinta Mekar.

Karakteristik stimulan program PLTMH yang kedua yaitu tingkat

kesesuaian program terhadap kebutuhan rumatangga miskin. Diketahui bahwa

tingkat kesesuaian program terhadap kebutuhan rumahtangga miskin tergolong

tinggi, karena program dibentuk berdasarkan keinginan masyarakat sendiri hasil

penggalian gagasan. Seperti yang didapat dari wawancara peneliti dengan

respoden Ibu Yun bahwa masyarakat Kampung Tangki, khususnya rumahtangga

miskin yang mendapat bantuan program merasa terbantu. Dengan demikian,

terdapat hubungan antara tingkat kesesuaian program dengan tingkat akses,

kontrol, partisipasi dan manfaat terhadap dan dari program PLTMH.


10.6 Kesimpulan

Pelaksanaan program PLTMH yang dilandasi nilai kesetaraan gender

dilihat dari tingkat akses, kontrol, partisipasi dan manfaat terhadap dan dari

program PLTMH. Karakteristik individu dan karakteristik rumahtangga tidak

berpengaruh terhadap tingkat akses dan kontrol terhadap program PLTMH.

Tingkat akses dan kontrol RMKL dan RMKP tidak berpengaruh terhadap tingkat

partisipasi pada pelaksanaan program. Hal ini karena anggota rumahtangga yang

berpartisipasi dalam tahap pelaksanaan program berjumlah sangat sedikit. Tidak

ada hubungan antara tingkat partisipasi dengan tingkat manfaat program.

Pengelolaan program PLTMH tidak berhubungan dengan tingkat akses, kontrol,

partisipasi dan manfaat program PLTMH. Terdapat hubungan antara tingkat

kesesuaian program dengan tingkat akses, kontrol, partisipasi dan manfaat dan

dari program PLTMH.


BAB XI

PENUTUP

11.1 Kesimpulan

Hampir semua rumahtangga penerima program PLTMH adalah mereka

yang tergolong rumahtangga miskin sesuai dengan kriteria baik yang ditetapkan

oleh Yayasan IBEKA maupun BPS. Rumahtangga penerima program sudah

mencakup rumahtangga miskin yang dikepalai laki-laki maupun perempuan.

Yayasan IBEKA bergerak di bidang elektrifikasi pedesaan serta

pemberdayaan ekonomi pedesaan. Yayasan IBEKA merupakan lembaga pionir

dalam pembangunan PLTMH. Sampai saat ini, lebih dari 40 sumber daya

pembangkit listrik (PLTMH) menyebar di berbagai provinsi, antara lain Aceh,

Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, dan

Jawa Barat. PLTMH di masing-masing provinsi tersebut berkapasitas di bawah

250 Watt kilo.

Kelembagaan Koperasi Mekarsari merupakan kelembagaan yang

terbentuk untuk memperkuat operasional PLTMH Desa Cinta Mekar. Sejak awal

pembentukannya (tahun 2003), kepengurusan koperasi telah berganti dua kali.

Kepengurusan koperasi melibatkan perempuan sebagai pengurus harian.

Dalam pelaksanaan pembangunan fisik PLTMH, khususnya yang

berhubungan dengan teknologi elektrik dan mekanik, sepenuhnya menjadi

tanggung jawab PT HIBS, sementara bertindak Yayasan IBEKA berperan

sebagai fasilitator utama. Adapun Koperasi Mekarsari bertindak sebagai


representasi atau perwakilan masyarakat Desa Cinta Mekar dan PT HIBS sebagai

private sector yang mendukung pembangunan PLTMH Cinta Mekar.

Tingkat akses RMKL baik terhadap tahap perencanaan, maupun

pelaksanaan program mayoritas lebih tinggi dari RMKP, sedangkan pada tahap

pemanfaatan program tergolong sedang. Pada RKML mayoritas pengambilan

keputusan dilakukan bersama antara suami dan istri yang salah satunya dominan.

Untuk kontrol perencanaan, pelaksanaan serta pemanfaatan program, secara

umum RMKL dan RMKP mayoritas tergolong sedang, dalam artian ada

keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam menentukan pengambilan keputusan.

Namun demikian, dijumpai pada tahap pemanfaatan dalam RMKL yang lebih

dominan adalah laki-laki karena status laki-laki dalam RMKL sebagian besar

sebagai kepala keluarga, sehingga lebih berhak untuk mengambil keputusan. Pada

RMKP seluruhnya tergolong rendah, karena pengambilan keputusan sepenuhnya

dilakukan oleh istri (perempuan). Untuk tingkat partisipasi program PLTMH,

RMKL mayoritas lebih tinggi/ lebih berpartisipasi, karena menyangkut jenis

pekerjaan yang dilaksanakan ada tahap ini berupa pekerjaan fisik. Pada tingkat

manfaat program, ditemukan bahwa RMKL lebih tinggi 27 persen jika

dibandingkan dengan RMKP, hal ini karena pengaruh jumlah anggota keluarga

yang turut memanfaatkan hasil program.

Mengacu pada pelaksanaan program, tingkat manfaat pada sebagian

kebutuhan rumahtangga miskin yang terpenuhi. Pada kebutuhan praktis, anggota

rumahtangga miskin terbantu dengan adanya pemasangan listrik, sehingga mereka

dapat mengerjakan tugas rumah dengan cepat, misalnya dengan menggunakan

rice cooker. Bantuan beasiswa pun dapat membantu orang tua yang kurang
mampu dalam memenuhi kebutuhan peralatan sekolah anaknya. Untuk kebutuhan

strategis terlihat dari adanya perempuan yang akses dan kontrol terhadap

kelembagaan pendukung PLTMH

Mengacu pada Longwe serta INPRES No.9 Tahun 2000, Yayasan IBEKA

lebih menekankan pada introduksi teknologi tanpa mempertimbangkan relasi

gender pada visi dan misinya. Tanpa mengecilkan kontribusi Yayasan IBEKA,

dalam penelitian ini terlihat bahwa Program PLTMH tampaknya telah memasuki

area pemberdayaan pada tingkat akses terhadap sumberdaya program, tingkat

kontrol serta partisipasi. Dalam konteks pemberdayaan level isu-isu perempuan,

pembangunan PLTMH termasuk pada level negatif, dalam arti Program PLTMH

dalam perencanaannya tidak secara eksplisit mengakui adanya isu-isu perempuan.

Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa meskipun Program PLTMH

pada awalnya tidak menyatakan secara eksplisit sebagai responsif terhadap isu-isu

perempuan, dalam pelaksanaannya dimungkinkan menjadi lebih merespon kepada

isu perempuan.

11.2 Saran

Program PLTMH telah berjalan selama kurang lebih empat tahun,

beberapa kendala dalam pelaksanaannya antara lain, adanya pergantian operator

PLTMH karena kelalaian dalam bertugas, adanya isu yang mempertanyakan

kepemilikan status bangunan sipil PLTMH, mengacu pada tinjauan teoritis dari

Longwe, program ini termasuk pada level negatif, dalam arti tidak secara eksplisit

menyertakan isu perempuan dalam pelaksanaannya (walaupun kenyataan dalam

tahap pelaksanaan berbeda).


. Beberapa hal yang dapat menjadi masukan atau saran dalam pelaksanaan

program PLTMH ini menyangkut pemanfaatan program yakni kecermatan pihak

Yayasan IBEKA dan Koperasi Mekarsari dalam menentukan operator, perlunya

pendekatan ke masyarakat dalam rangka pembentukan rasa memiliki bersama

(masalah status bangunan sipil), serta Yayasan IBEKA lebih bisa

mengintegrasikan relasi gender pada visi dan misinya dalam program-program

yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

Biro Perencanaan dan Keuangan Departemen Pertanian 2004. Pedoman Umum


Pengarusutamaan Gender Dalam Penyusunan Rencana Aksi Pembangunan
Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Biro Perencanaan Departemen Dalam Negeri 1998. Perencanaan Pembangunan


Berwawasan Jender (P2BJ). Prepared by Project Gender Responsive
Development Planning.

Biro Pusat Statistik 2005. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun
2005. Katalog BPS; 2320. Jakarta.

Cornwall, Andrea 2003. Whose Voices? Reflections on Gender and Participatory


Development. World Development Vol. 31 No.8, pp.1325-1342.
http://www.elsevier.com/locate/worlddev. Diakses Sugiah Mugniesyah

Christine King (n.d.) Gender and rural community development III: tools and
frameworks for gender analysis. Dalam www.regional.org.au Diterjemahkan
oleh Siti Sugiah Mugniesyah

Directorate General for Internacional Co-operation. Netherlands Ministry of


Foreign Affaire February, 1994. Gender Assesment Study. A Guide for Policy
Staff. Special Programme Women and Development.

Fakih, Mansour 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Pustaka Belajar.
Yogyakarta.

Hartini, Titi 2005. Input Teknologi Tepat Guna dan Perempuan Usaha Kecil,
Memarginalkan / Membebaskan? dalam www.PenulisLepas.com. Diakses
tanggal 27 Februari 2008.

Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2000 Tentang


Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional 2007. Diambil dari
http://www.menegpp.go.id/. Diakses tanggal 15 November 2007.

Koperasi Mekarsari 2003. Publikasi Profil Koperasi Mekarsari. Desa Cinta


Mekar, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang.

Kuntoadji, Iskandar 2007. PLTMH Berbasis Masyarakat dalam Pikiran Rakyat,


Senin 21 Mei 2007. Bandung.

Lubis, Djuara P dan Sarwiti S. Agung 2004. Bahan Kuliah Perencanaan dan
Evaluasi Partisipatif. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.
Mies Grijns, Ines Smyth, Anita van Velzen, Sugiah Machfud, Pudjiwati Sajogyo
1991. Different Women Different Work. Gender and Industrialisation in
Indonesia. Averbury Ashgate Publishing Group. Gower House, Croft
Road, Aldershot Hampshire GU 17 3HR, England.

Mugniesyah, Siti Sugiah M. 2004. Gender, Lingkungan dan Pembangunan


Berkelanjutan dalam Adiwibowo, dkk. Ekologi Manusia. Fakultas Ekologi
Manusia. Institut Pertanian Bogor.

____________ 2006. Diktat Mata Kuliah Ilmu Penyuluhan. Institut Pertanian


Bogor. Tidak dipublikasikan.

____________ 2005. Teks Kuliah Komunikasi Gender. Program Studi


Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Departemen Sosial Ekonomi
Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Nasdian, Fredian Tonny 2003. Diktat Mata Kuliah Pengembangan Masyarakat


(Community Development). Bagian Ilmu-ilmu Sosial Komunikasi Dan
Ekologi Manusia Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi. Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 2009. Republik
Indonesia.

Prasojo, dkk 2003. Modul Mata Kuliah Gender dan Pembangunan. Jurusan Ilmu-
ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Tidak dipublikasikan.

Said, Rusli 1996. Pengantar Ilmu Kependudukan. LP3ES. Jakarta.

Singarimbun, Masri & Effendi, Sofian (Editor) 1990. Metode Penelitian Survai.
LP3ES. Jakarta.

United Nations Development Programme January, 2001. Gender in Development


Programme Learning and Information Pack. Gender Analysis.

Uphoff, Norman 1986. Local Institutional Development: An Analytical


Sourcebook with cases. Kumarian Press.

Yayasan IBEKA 2004. Publikasi Program PLTMH. Kabupaten Subang.


LAMPIRAN
Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian 6

6
Sebelumnya Desa Cinta Mekar termasuk Kecamatan Segalagerang, sejak 15 Mei 2008 termasuk
Kecataman Serangpanjang.
Lampiran 2. Rencana Kegiatan Penelitian

Maret April Mei Juni Juli Agustus


Kegiatan I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III
I. Proposal Dan Kolokium
Penyusunan Draft dan Revisi
Konsultasi Proposal
Kolokium dan Perbaikan

II. Penelitian Lapang


Pengumpulan Data
Pengolahan dan Analisis Data

III. Penulisan Laporan


Penyusunan Draft dan Revisi
Konsultasi Laporan

IV. Ujian Sripsi


Ujian
Perbaikan Laporan
Lampiran 3. Kriteria Rumahtangga Miskin BPS

Dibawah ini adalah daftar variabel terpilih menurut kelompok, klasifikasi dengan penentuan skor 1
yang mengacu pada sifat-sifat kemiskinan dan skor 0 mengacu pada sifat-sifat yang mencirikan
ketidakmiskinan. Skor maksimum delapan untuk yang paling miskin dan skor minimum yaitu nol
untuk yang paling tidak miskin. Skor batas kemiskinan adalah lima.
I. Ciri tempat tinggal
1) Luas lantai per kapita: 8m2 (skor 1) dan > 8 m2 (skor 0)
2) Jenis lantai: Tanah (skor 1) dan bukan tanah (skor 0)
3) Air minum/ketersediaan air bersih: air hujan.sumur tidak terlindung (skor 1) dan
ledeng/PAM/sumur terlindung (skor 0)
4) Jamban/WC: tidak ada (skor 1) dan bersama/sendiri (skor 0)

II Kepemilikan Aset
1) Kepemilikan aset: tidak punya aset (skor 1) dan punya aset (skor 0)
Kepemilikan aset meliputi: aset produktif (sawah, kebun, ternak, ojek, angkutan), dan aset non
produktif (TV, radio, perhiasan, mebel, sepeda, kendaraan bermotor bukan untuk usaha)

III. Aspek Pangan (makanan)


1) Konsumsi lauk pauk (daging, ikan, telur, ayam) tidak ada/ada, tapi tidak bervariasi (skor 1)
dan ada, bervariasi (skor 0)

IV. Aspek sandang


1) Aspek sandang: dalam satu tahun membeli pakaian minimal satu stel pakaian: ya (skor 0) dan
tidak (skor 1)

V. Kegiatan sosial
1) Kegiatan sosial: pernah hadir dalam acara arisan, rapat RT, rapat sekolah/BP3, undangan
perkawinan dalam tiga bulan terakhir: ya (skor 0) dan tidak (skor 1)

STUDI GENDER DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT )
(Kasus Evaluasi Pelaksanaan Program PLTMH di Desa Cinta Mekar, Sagala Herang, Subang)

A KUESIONER PROFIL RUMAHTANGGA Rahasia

I. Keterangan Tempat Tinggal Responden


Propinsi/Kabupaten : Jawa Barat/Subang
Kecamatan/Desa : Segala herang/Cinta Mekar
Dusun : I / II / III / IV
Kampung / RT /RW :
Nama Responden :
Nomor Responden :
Nama Kepala Keluarga (KK) :
Jumlah Anggota Rumahtangga : Pria Wanita

II. Kunjungan Pewawancara


Tanggal Wawancara :
Nama Pewawancara :
Nama Pemeriksa :

I. PROFIL RUMAHTANGGA RESPONDEN


1. Karakteristik Anggota Rumahtangga
Hub.
Jenis dgn Status Tgkt Jenis Status
Kelamin KK Perkawinan Umur Pend Pek Pek
Nama 1) 2) 3) (thn) 4) 5) 6)
A. SERUMAH TANGGUNGAN KK

1...........................

2..........................

3.........................

4............................

5.........................

6......................

7......................
1) Isikan: 1. Laki-laki 2. Perempuan
2) Isikan: 1. KK 2.Isteri/Suami 3. Anak 4. Menantu 5.Ayah/Ibunya Isteri
6. Ayah/Ibunya Suami 7. Lainnya, sebutkan..

) Kuesioner ini diambil dari Kuesioner Riset Unggulan Terpadu (RUT). Mugniesyah dkk.,
2001. Pusat Studi Wanita, Lembaga Penelitian, IPB
Hub.
dgn Status Tgkt Jenis Status
Jenis KK Perkawinan Umur Pend Pek Pek
Nama Kelamin 1) 2) 3) (thn) 4) 5) 6)
B. TIDAK SERUMAH TANGGUNGAN KK

1...................

2...............................
C. TIDAK SERUMAH MANDIRI

1..........................

2............................
3) Isikan: 1. Kawin 2. Belum Kawin 3. Janda/Duda Cerai 4. Janda/Duda Mati
4) Isikan: 1. Tak Sekolah 2. Belum Sekolah 3. Bersekolah di SD kelas 4. Bersekolah di SLTP kelas....
5. Bersekolah di SMU/K kelas... 6. Tamat SD 7. Tamat SLTP 8. Tamat SMU
9. Akademi/Universitas tak tamat 10. Tamat Akademi/Univ. 11. Sedangmesantren tingkat.....di..........(...tahun)
12. Tamat pesantren tingkat.......di ....... 13. Lainnya, sebutkan...........................
5)Isikan: 0.Tidak bekerja, karena...................
1. PNS/ABRI 2. Pensiunan PNS/ABRI 3. Petani Pemilik 4. Petani Penggarap 5.Buruh Tani
6. Pedagang 7. Industri RMT 8. Dagang. 9. Warung.. 10. Buruh Angkut..
11. Kombinasi, sebutkan 12. Lainnya, sebutkan
6) Isikan: 1. Berusaha Sendiri 2. Berusaha+TK.Keluarga 3. Berusaha+TK Upahan
4. Karyawan/Buruh 5. Pekerja Keluarga 6.Lainnya, sebutkan

II. PENGUASAAN LAHAN


Tahun Luas Pemilik Harga
Nama Blok Lokasi Dimiliki (Are) 1) Cara 2) Taksiran

1. Sawah
2. Kebun
Desa

3. Pekarangan

4. Kolam
1) Isikan: 1. Milik Sendiri 2. Gaduhan, dari.. 3. Lainnya, sebutkan.
2) Isikan: 1. Jual Beli 2. Warisan 3. Milik Orang Lain 4. Lainnya, sebutkan..

III. KEPEMILIKAN TERNAK


Jumlah Sumber Tahun Harga
Ternak DJ DB Anak 1) Pemeliharaan Saat Beli Sekarang
1.Kerbau
2. Kambing
3. Domba
4. Ayam
5.Bebek/Angsa
1) Isikan: 1. Milik Sendiri 2. Gaduhan dari penduduk desa 3. Gaduhan IDT 4. Lainnya, sebutkan.......
IV. PEMILIKAN BENDA BERHARGA
Harga Taksiran
Pemilikan Benda Jumlah Tahun Memiliki Harga Pembelian sekarang
1. Motor
2. Sepeda
3. TV Berwarna
4. Handphone (HP)
4. Radio / Kaset
5. Mobil
6. Lemari Pajangan
7. Kursi Tamu
8. Lemari Pakaian
9. Perhiasan

V. KETERANGAN UMUM RUMAHTANGGA


1. Pemilikan rumah:
1. Milik Sendiri 2. Sewa 3. Lainnya, sebutkan.................
2. Jenis atap rumah:
1. Asbes/beton 2. Genting 3. Kayu 4. Ijuk 5. Daun-daunan
6. Lainnya,sebutkan...............
3. Jenis dinding rumah:
1. Tembok 2. Bambu 3. Kayu 4. Lainnya, sebutkan..
4. Jenis lantai rumah terluas:
1. Keramik/teraso 2. Ubin/semen 3. Kayu/papan 4. Bambu/tanah
5. Lainnya, sebutkan................
5. Penerangan:
1. Listrik 2. Petromak 3. Lampu tempel 4. Lainnya, sebutkan...............
6. Jenis bangunan fisik:
1. Bangunan tunggal 2. Bangunan gandeng 2/kopel 3. Bangunan gandeng banyak
4. Bangunan bertingkat 5. Bangunan tak bertingkat
7. Jumlah ruangan dalam rumah ini (isikan angka menurut keadaan)
8. Jumlah rumahtangga di dalam bangunan ini (isikan angka keadaannya)
9. Luas lantai bangunan :......................m2
10. Rata-rata luas hunian per kapita:.............
11. Bahan bakar untuk masak:
1. Listrik 2. Gas 3. Minyak tanah 4. Kayu bakar 5. Lainnya, sebutkan......
12. Sumber air minum:
1. Ledeng 2. Air pompa 3. Sumur 4. Mata air 5. Sungai 6. Air hujan
13. Sumber air untuk mandi/cuci:
1. Ledeng 2. Air pompa 3. Sumur 4. Mata air 5. Sungai 6. Air hujan
14. Tempat mandi:
1. Kamar mandi sendiri 2. Kamar mandi bersama 3. Kamar mandi utama
4. Lainnya, sebutkan..
15. Tempat buang air besar:
1.Tengki septik 2. Kolam/Sawah 3. Sungai/danau 4. Lubang tanah
5. Pantai/tanah terbuka 6. Lainnya, sebutkan.........................
STUDI GENDER DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT
(Kasus Evaluasi Pelaksanaan Program PLTMH di Desa Cinta Mekar, Serangpanjang, Subang)

B KUESIONER AKSES, KONTROL, MANFAAT DAN PARTISIPASI


RUMAHTANGGA MISKIN TERHADAP PROGRAM PLTMH

Pertanyaan:
Akses (A): Apakah dalam keluarga ini/anggota keluarga (Suami/Istri/Anak Laki-
laki (AL)/Anak Perempuan (AP)) yang memperoleh/mempunyai
kesempatan dalam mengikuti............... (Isikan: 1. Ya; 2. Tidak)
Kontrol (K): Siapakah anggota keluarga (Suami/Istri/Anak Laki-laki (AL)/Anak
Perempuan (AP)) turut mengambil keputusan untuk menentukan atas
komponen/kegiatan......(Isikan: 1.Ya; 2. IBEKA; 3. Kepala Desa; 4.
PLN; 5..PT. HIBS; 6.Lainnya, sebutkan...........)
PERENCANAAN PROGRAM
Suami Istri AL AP
Kegiatan A K A K A K A K Keterangan
A. Persiapan Masyarakat
A.1 Pencatatan data awal:
-Identifikasi Rumahtangga Miskin
A.2 Pembentukan Organisasi:
Koperasi Mekarsari
- Pertemuan 1
- Pertemuan 2
- Pertemuan 3
- Pertemuan 4
B. Penetapan Tujuan Program
C. Penetapan Rencana Kerja
D. Penentuan Prioritas dan Aktivitas
E. Pengalokasian Sumberdaya
F. Diskusi untuk Sosialisasi Program
- Pertemuan 1
- Pertemuan 2
- Pertemuan 3
- Pertemuan 4
- Pertemuan 5
G. Pertemuan dengan Stakeholders (PLN, DGEEU, IBEKA, HIBS)
- Pertemuan 1
- Pertemuan 2
- Pertemuan 3

Partisipasi (P) : Apakah dalam keluarga ini/anggota keluarga (Suami/Istri/Anak


Laki-laki (AL)/Anak Perempuan (AP)) yang turut berperan serta dalam
kegiatan..(Isikan: 1. Ya; 2. Tidak)
Pelaksanaan Program
Suami Istri AL AD Keterangan
Kegiatan A K P A K P A K P A K P
A. Pembangunan fisik/sipil PLTMH
B.Operasional PLTMH
Operator PLTMH
Andir
Penjaga Taman
C. Kegiatan Gotong Royong
Kolom keterangan pada isikan jumlah jam atau hari kerja (dalam jama/hari) serta upah yang
didapat (dalam rupiah)

Manfaat (M): Siapakah dalam keluarga ini/anggota keluarga (Suami/Istri/Anak


Laki-laki (AL)/Anak Perempuan (AP)) yang turut menikmati/menggunakan hasil
dari(Isikan: 1. Suami saja; 2. Istri saja; 3. Anak Laki-laki; 4. Anak
Perempuan; 5. Keluarga (seluruh anggota); 6. Lainnya,
sebutkan..................

PEMANFAATAN PROGRAM
Suami Istri AL AD Keterangan
Kegiatan A K M A K M A K M A K M
1. Pemasangan sambungan listrik untuk
rumahtangga yang kurang mampu
2. Kegiatan Produktif
Kredit usaha
Kewirausahaan
3. Pendidikan
a. Beasiswa
- Sekolah Dasar, Rp............./bulan
- Sekolah Menengah Pertama, Rp............./bulan
b. Pelatihan........
Pelatihan 1
Pelatihan 2
Pelatihan 3
4. Kesehatan
a. Biaya ganti persalinan, Rp................
b. Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
c. Vaksinasi Hepatitis B
d. Kasus akut
5. Modal (dalam bentuk simpan pinjam dari
koperasi)
Kolom keterangan isikan jumlah uang (Rupiah) yang diterima dari program
PELAKSANAAN PROGRAM
C KUESIONER PENGURUS LEMBAGA/ORGANISASI
Suami Istri AL AD Keterangan
Kegiatan A K P A K P A K P A K P
A. Pengelolaan Organisasi
A.1 PLTMH
Operator/Kepala Turbin
Andir
Penjaga taman
A.2 Koperasi
Pengurus Harian
Anggota Koperasi
Mengadiri rapat koperasi............kali
B. Perawatan Bangunan/Komponen
B.1 PLTMH
Generator
Turbin
Pipa Saluran
Bendungan/dam
Rumah pembangkit
B.2 Koperasi

Gedung Koperasi
* Kolom keterangan isikan jam kerja,hari kerja (dalam jam/hari) serta upah pekerja (dalam rupiah)

PEMANFAATAN PROGRAM
Suami Istri AL AD Keterangan
Kegiatan A K M A K M A K M A K M
1. Biaya Operasional Koperasi
a. Biaya administrasi
b. Gaji pengurus
c. Simpanan untuk anggota
2. Biaya Operasional PLTMH
a. Gaji operator
b. Gaji teknisi
Kolom keterangan isikan besarnya biaya iuran dan biaya yang diterima (dalam
rupiah)
Lampiran 5: Dokumentasi Program PLTMH

1.a* b.
c. d.

2.a b.

Keterangan Foto :
1. Tahap perencanaan program 2. Bagian Pelaksanaan Program
a. Sosialisasi kepada tokoh masyarakat a. Pembangunan fisik
b. Rapat di kantor desa b. Bangunan PLTMH (dari depan)
c. Focus Group Discussion (FGD) 1
d. Penggalian gagasan (FGD) 2

* Foto 1a hingga 2a merupakan dokumentasi dari pihak IBEKA, selebihnya dokumentasi penulis.
c. d.

3.a b.

c.

Keterangan Foto:
2. Bagian Pelaksanaan Program:
c. Bangunan PLTMH (dari belakang)
d. Gedung/bangunan koperasi
3. Bagian Pemanfaatan Hasil:
a. Pemberian Makanan Tambahan (bubur kacang hijau)
b. Simpan Pinjam
c. Penerima Pemasangan Listrik pada Orang Kurang Mampu (OKM)

Lampiran 6 : Usaha Produktif

Usaha Warung (Teh Ai, 30thn)


Warung Teh Ai terletak tidak jauh dari koperasi, barang yang dijual berupa
kopi, mie instan, roti, rokok serta makanan kecil lainnya. Teh Ai ke pasar
membeli dagangan setiap dua kali seminggu, pada hari Senin dan Kamis,
akan tetapi terkadang membeli di mobil yang keliling ke desa. Modal
dagang (pinjam dari koperasi Rp.500.000;) Siklus usaha produktif dapat
diketahui dengan melihat hasil pembelian barang dagangan terakhir. Berikut
nama barang yang dibeli terakhir:

Tabel 1. Barang dagangan yang dibeli terakhir Teh Ai, Desa Cinta Mekar,
Tahun 2008
Nama Item Jumlah (buah) Harga Beli (Rp) Harga Jual (Rp)
Kopi
ABC 10 7500 10000
Opelet 10 6000 7000
Liong 10 8000 10000
Mie
Indomie 10 10000 15000
Sakura 10 8000 10000
Sedap 10 12000 14000
Rokok
Djinggo 3 9300 10500
Djarum 3 16200 18000
Sampurna 2 10800 12000
Chiki 10 9000 1000
Roti 10 4000 5000
Jumlah 100800 112500
Sumber : Dikumpulkan oleh penulis berdasarkan survei tahun 2008
Tidak selalu barang dagangan habis langsung pada satu minggu,
akan tetapi setidaknya ada uang yang berputar (siklus berjalan). Ada
beberapa tetangga yang berhutang, mulanya hanya Rp.500; akan tetapi terus
bertumpuk, sehingga akan menjadi banyak. Tak jarang ada yang pura-
pura lupa jika berhutang. Setiap kali Teh Ai ke pasar, keuntungan bersih
yang diperolehnya perminggu sebesar Rp.25.100; dengan demikian
keuntungan perbulan sebesar Rp.100.400; (rata-rata). Jika membeli di mobil
keliling, maka tidak mengeluarkan untuk ongkos ojek.Ongkos ojek sebesar
Rp.10.000; untuk pulang dan pergi. Sebelum ada kenaikan BBM hanya
Rp.6.000; untuk pulang dan pergi. Setiap kali ke pasar atau berbelanja Ibu
membawa uang sebesar Rp.100.000; hingga Rp.200.000; dan selalu habis.
Keuntungan perbulan yang didapat sebesar Rp.150.000; ditambah dengan
jika keuntungan membeli dari mobil keliling.

Usaha Dagang Pisang dan Kelapa (Mang Snb, 55thn)


Mang Snb telah berjualan pisang dan selama kurang lebih 3 tahun. Mang
Snb membeli pisang dan kelapa dari warga desa kemudian menjualnya lagi
ke pasar setiap hari Senin dan Kamis. Jenis pisang yang dijual berupa pisang
nangka dan ambon. Seminggu dua kali berdagang. Modal awal Mang Snb
Rp.150.000; hasil pinjaman dari koperasi. Rincian pembelian pisang dan
kelapa dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nama dan Harga Barang Dagangan Mang Snb, Desa Cinta Mekar,
Tahun 2008
Nama Item Harga Beli (Rp) Harga Jual (Rp) Ongkos (Rp)
Pisang 1 kg 500 700
Kelapa 1 gedeng (2 buah) 1000 3000 7000
Sumber : Dikumpulkan oleh penulis berdasarkan survei tahun 2008
Untuk kelapa Mang Snb memanjat sendiri pohon kelapa yang akan
dibelinya. Setiap kali hari pasar, Mang Snb biasanya membawa 70 kg
pisang.
Dengan demikian perhitungan untuk penjualan pisang sebagai berikut:
Pembelian : 70kg x Rp.500; = Rp.35.000;
Penjualan : 70kg x Rp.700; = Rp.49.000;
Ongkos angkot : Rp. 7.000;
Untung : Rp. 7.000;
Keuntungan perbulan sebesar Rp. 56.000;
Untuk kelapa terkadang hanya membawa 5 gedeng (10 buah), sehingga
keuntungannya:
Pembelian : 5 x Rp.1.000; = Rp.5.000;
Penjualan : 5 x Rp.3.000; = Rp.15.000;
Ongkos : Rp.7.000;
Untung : Rp.3.000;
Kentungan perbulan sekitar Rp. 24.000;
Tidak ada perubahan harga pisang dan kelapa ketika BBM naik, hanya
ongkos angkot yang naik. Sebelum BBM naik ongkosnya Rp.6.000; untuk
pulang dan pergi, setelah BBM naik menjadi Rp.7.000;.

Pedagang Gorengan (Bu Han, 30thn)


Jenis gorengan yang dijual berupa bala-bala, combro, peuyeum goreng dan
pisang goreng. Bu Han membeli bahan-bahan seminggu dua kali (pada hari
pasar). Rincian bahan-bahan serta harga dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Bahan dan harga pembuatan gorengan (sekali goreng) Bu Han,
Desa Cinta Mekar, Tahun 2008
Nama Bahan Jumlah Harga Beli (Rp)
Terigu 4 kg 28000
Pisang 5kg 5000
Wortel 0,5 kg 2500
Kol 1,5 kg 5000
Tape 2,5 kg 5000
Singkong 5 kg 2500
Oncom + bumbu - 2000
Minyak 2 kg 24000
Total 74000
Sumber : Dikumpulkan oleh penulis berdasarkan survei tahun 2008
Dari bahan di atas dihasilkan:
Bala-bala : 200 buah
Pisang goreng : 100 buah
Tape : 50 buah
Combro : 70 buah
Setiap buah dijual dengan harga Rp.250; untuk penjual keliling dihargai
Rp.200; sisanya Rp.50; untuk penjual tersebut. Bu Han berjualan setiap hari.
Sehari dua kali goreng. Setelah BBM naik harga ongkos angkot pun naik
yang semula berharga Rp. 6.000; menjadi Rp.8.000;. Dengan demikian
keuntungan persekali goreng sebesar:
Harga beli : Rp. 74.000; Harga jual : Rp.
105.000;
Keuntungan persekali goreng sebesar Rp. 31.000;
Seminggu penuh bekerja tanpa ada hari libur. Keuntungan perminggu :
Rp.217.000; - Rp. 18.000; = Rp.199.000; jika dihitung keuntungan
perbulan : Rp. 796.000;.

Pedagang Lotek (Mak Inh, 50thn)


Mak Inh telah berjualan lotek lebih dari tiga tahun. Selain berkeliling, Mak
Inh pun berjualan di rumahnya. Bahan-bahan yang dipergunakan terlihat
pada Tabel 4.

Tabel 4. Bahan dalam pembuatan lotek (sekali keliling) Mak Inh, Desa
Cinta Mekar, Tahun 2008
Nama Bahan Jumlah Harga
Kacang 0,5 kg 8000
Gula Jawa 0,5 kg 4000
Cabe & garam 1000
Lalap 5000
Total 18000
Sumber : Dikumpulkan oleh penulis berdasarkan survei tahun 2008

Bahan Tambahan :
Lepet : Rp.5.000;
Krupuk : Rp. 12.500;
Mak Inh berjualan setiap hari, dari bahan-bahan di atas dapat dibuat
sebanyak 15 piring lotek dengan harga loteknya sebesar Rp. 3.000;.
Keuntungan Mak Inh perhari sebesar : Rp. 45.000; - Rp. 18.000; = Rp.
27.000;. Keuntungan perminggu sebesar Rp.171.000;. Sama halnya dengan
pedagang kelapa dan pisang, kenaikan BBM hanya berdampak pada
naiknya ongkos angkot ke pasar.

Dokumentasi usaha produktif

Foto : Usaha Warung Teh Ai Foto: Usaha Gorengan Bu Han

Foto: Usaha Dagang Pisang Mang Snb Foto : Usaha Lotek Mak Inh