Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH DISCHARGE PLANNING

PADA PASIEN HIPERTENSI

Oleh :

KELOMPOK 4 B
S1 KEPERAWATAN NERS A

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2017
PENYUSUN

No. Nama NPM


1. Ahmad Faisal 1614201120383
2. Annisa Fajriana 1614201120417
3. Farida Hariani 1614201120409
4. Fauzah Rahimi 1614201120401
5. Fransisca Lasnia Intani 1614201120408
6. Indah Rahmawati 1614201120374
7. M. Hajeriadi 1614201120391
8. M. Khairifannur Ridha 1614201120375
9. M. Khairil Ansari 1614201120418
10. Murni Linda Sari 1614201120382
11. Mutia Amalia Mawaddah 1614201120392
12. Yulma Fadliatun Nisa 1614201120400
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena
atas karunia-Nya lah makalah ini dapat diselesaikan guna memenuhi tugas
Discharge Planning Pada Pasien Hipertensi.

Makalah ini adalah satu pendukung untuk memenuhi kebutuhan Mahasiswa dan
Mahasiswi yang aktif, terampil, dan berani menyampaikan pendapat, dan mampu
bekerja sama dengan rekan-rekannya. Kami menyadari keterbatasan dalam
menyusun makalah ini, untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak, terutama
kepada Dosen pembimbing yang kami harapkan.

Kami menyadari tanpa kerjasama antar anggota kelompok makalah ini tidak dapat
terselesaikan. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat, memberi motivasi serta semangat dalam hal
pembelajaran dari berbagai pihak.

Banjarmasin, Maret 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................ 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................... 2
1.3 Tujuan dan Manfaat ................................................................ 2

BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................... 3


2.1 Definisi Discharge Planning ................................................... 3
2.2 Tujuan Discharge Planning .................................................... 3
2.3 Manfaat Discharge Planning .................................................. 4
2.4 Prinsip Discaharge Planning ................................................... 4
2.5 Jenis Discaharge Planning ...................................................... 5
2.6 Komponen Discaharge Planning ............................................ 5
2.7 Mekanisme Discaharge Planning ........................................... 6
2.8 Pengkajian .............................................................................. 6
2.9 Diagnosa ................................................................................. 10
2.10 Intervensi .............................................................................. 10
2.11 Implementasi ........................................................................ 12
2.12 Evaluasi ................................................................................ 12

BAB 3 PENUTUP .................................................................................... 13


3.1 Kesimpulan ............................................................................. 13

DAFTAR RUJUKAN ................................................................................... 14


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit darah tinggi yang lebih dikenal sebagai hipertensi merupakan penyakit
yang mendapat perhatian dari semua kalangan masyarakat, mengingat dampak
yang ditimbulkannya baik jangka pendek maupun jangka panjang sehingga
membutuhkan penanggulangan jangka panjang yang menyeluruh dan terpadu.
Penyakit hipertensi menimbulkan angka morbiditas (kesakitan) dan mortalitasnya
(kematian) yang tinggi. Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang timbul
akibat adanya interaksi dari berbagai faktor resiko yang dimiliki seseorang.
Berbagai penelitian telah menghubungkan antara berbagai faktor resiko terhadap
timbulnya hipertensi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tenyata
prevalensi (angka kejadian) hipertensi meningkat dengan bertambahnya usia. Dari
berbagai penelitian epidemiologis yang dilakukan di Indonesia menunjukan 1,8-
28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi.

Hipertensi, saat ini terdapat adanya kecenderungan bahwa masyarakat


perkotaan lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat pedesaan.
Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya hidup masyarakat kota yang
berhubungan dengan resiko penyakit hipertensi seperti stress, obesitas
(kegemukan), kurangnya olahraga, merokok, alkohol, dan makan makanan yang
tinggi kadar lemaknya. Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang
mengalami kenaikan tekanan darah, tekanan sistolik terus meningkat sampai usia
80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun,
kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Maka dari penjelasan diatas sebaiknya dapat diberikan discharge planning karena
merupakan suatu komponen sistem perawatan yang berkelanjutan, pelayanan
yang diperlukan secara berlanjut dan bantuan untuk perawatan pada klien dan
membantu keluarga menemukan jalan pemecahan masalah dengan baik, pada saat
tepat dan sumber yang tepat dengan harga yang terjangkau. Discharge palnning
dilakukan sejak pasien diterima disuatu pelayanan kesehatan di rumah sakit
dimana rentang waktu pasien untuk menginap semakin diperpendek. Namun tidak
semua pasien harus dilakukan discharge planning sejak diterima masuk sampai
pasien pulang. Pada pasien hipertensi perlu dilakukan discharge planning sejak
pasien diterima di rumah sakit sampai pada pasien pulang.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Menjelaskan tentang discharge secara umum?
1.2.2 Menjelaskan tentang pengkajian pada pasien hipertensi?
1.2.3 Menjelaskan tentang diagnosa pada pasien hipertensi?
1.2.4 Menjelaskan tentang perencanaan pada pasien hipertensi?
1.2.5 Menjelaskan tentang implementasi pada pasien hipertensi?
1.2.6 Menjelaskan tentang evaluasi pada pasien hipertensi?
1.2.7 Menjelaskan bagaimana discharge planning pada pasien hipertensi?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.3.1 Untuk mengetahui discharge secara umum.
1.3.2 Untuk mengetahui pengkajian pada pasien hipertensi.
1.3.3 Untuk mengetahui diagnosa pada pasien hipertensi.
1.3.4 Untuk mengetahui perencanaan pada pasien hipertensi.
1.3.5 Untuk mengetahui implementasi pada pasien hipertensi.
1.3.6 Untuk mengetahui evaluasi pada pasien hipertensi.
1.3.7 Untuk mengetahui discharge planning pada pasien hipertensi.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Discharge Planning


Discharge planning adalah suatu proses yang digunakan untuk memutuskan apa
yang perlu pasien lakukan untuk dapat meningkatkan kesehatannya. Dahulu,
disharge planning sebagai suatu layanan untuk membantu pasien dalam mengatur
perawatan yang diperlukan setelah tinggal di rumah sakit. Ini termasuk layanan
untuk perawatan di rumah, perawatan rehabilitatif, perawatan medis rawat jalan,
dan bantuan lainnya. Sekarang discharge planning dianggap sebagai proses yang
dimulai saat pasien masuk dan tidak berakhir sampai pasien dipulangkan. Keluar
dari rumah sakit tidak berarti bahwa pasien telah sembuh total. Ini hanya berarti
bahwa dokter telah menetapkan bahwa kondisi pasien cukup stabil untuk
melakukan perawatan dirumah (Birjandi, 2008).

2.2 Tujuan Discahrge Planning


Tujuan dari dilakukannya discharge planning sangat baik untuk kesembuhan dan
pemulihan pasien pasca pulang dari rumah sakit. Menurut Nursalam (2011)
tujuan discharge planning/perencanaan pulang antara lain sebagai berikut :
2.2.1 Menyiapkan pasien dan keluarga secara fisik, psikologis, dan sosial.
2.2.2 Meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga.
2.2.3 Meningkatkan keperawatan yang berkelanjutan pada pasien.
2.2.4 Membantu rujukan pasien pada sistem pelayanan yang lain
2.2.5 Membantu pasien dan keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan
serta sikap dalam memperbaiki serta mempertahankan status kesehatan
pasien
2.2.6 Melaksanakan rentang keperawatan antara rumah sakit dan masyarakat.
2.3 Manfaat Discahrge Planning
Menurut Nursalam (2011) Perencanaan pulang mempunyai manfaat antara lain :
2.3.1 Memberi kesempatan kepada pasien untuk mendapat pelajaran selama di
rumah sakit sehingga bisa dimanfaatkan sewaktu di rumah.
2.3.2 Tindak lanjut yang sistematis yang digunakan untuk menjamin kontinutas
keperawatan pasien.
2.3.3 Mengevaluasi pengaruh dari intervensi yang terencana pada penyembuhan
pasien dan mengidentifikasi kekambuhan atau kebutuhan keperawatan
baru.
2.3.4 Membantu kemandirian pasien dalam kesiapan melakukan keperawatan
rumah.

2.4 Prinsip Discahrge Planning


Menurut Liz Lees (2012) disebutkan ada beberapa prinsip dalam discharge
planning, diantaranya adalah :
2.4.1 Mempunyai pengetahuan yang spesifik terhadap suatu proses penyakit dan
kondisinya
2.4.2 Dapat memperkirakan berapa lama recovery pasien, serta perbaikan
kondisi yang muncul dari proses penyembuhan tersebut
2.4.3 Melibatkan serta selalu berkomunikasi dengan pasien, keluarga atau
pengasuh dalam proses discharge planning
2.4.4 Turut serta dalam menangani masalah dan kesulitan yang mungkin akan
muncul terhadap pasien
2.4.5 Membuat suatu arahan yang tepat dan tindak lanjut yang sesuai dengan
hasil
2.4.6 Disiplin, tegas serta selalu melaksanakan aktivitas dari discharge planning
2.4.7 Meninjau dan selalu memperbarui rencana untuk progress yang lebih baik
2.4.8 Selalu memberikan informasi yang akurat terhadap semua yang terlibat.
2.5 Jenis Discharge planning
Menurut Nursalam (2011) mengklasifikasikan jenis pemulangan pasien sebagai
berikut :
2.5.1 Conditioning discharge (pulang sementara atau cuti), keadaan pulang ini
dilakukan apabila kondisi pasien baik dan tidak terdapat komplikasi.
Pasien untuk sementara dirawat di rumah namun harus ada pengawasan
dari pihak rumah sakit atau puskesmas terdekat.
2.5.2 Absolute discharge (pulang mutlak atau selamanya), cara ini merupakan
akhir dari hubungan pasien dengan rumah sakit. Namun apabila pasien
perlu dirawat kembali, maka prosedur perawatan dapat dilakukan kembali.
2.5.3 Judicial discharge (pulang paksa), kondisi ini pasien diperbolehkan
pulang walaupun kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk pulang,
tetapi pasien harus dipantau dengan melakukan kerja sama dengan
perawat puskesmas terdekat.

2.6 Komponen Disharge Planning


Menurut Riri (2015) ada beberapa komponen sebelum dilakukannya discharge
planning, yaitu:
2.6.1 Identifikasi dan kaji apa yang kebutuhan pasien yang harus dibantu pada
discharge planning.
2.6.2 Kolaborasikan bersama pasien, keluarga dan tim kesehatan lainnya
untuk memfasilitasi dilakukannya discharge planning.
2.6.3 Mengajarkan kepada pasien dan keluarga tentang strategi pencegahan
agar tidak terjadi kekambuhan atau komplikasi.
2.6.4 Rekomendasikan beberapa pelayanan rawat jalan atau rehabilitasi pada
pasien dengan penyakit kronis.
2.6.5 Komunikasi dan koordinasikan dengan tim kesehatan lainnya tentang
langkah atau rencana dari discharge planning yang akan dilakukan.
2.7 Mekanisme Discharge planning
Discharge Planning mencakup kebutuhan seluruh pasien, mulai dari fisik,
psikologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Proses ini tiga fase, yaitu akut,
transisional, dan pelayanan berkelanjutan. Pada fase akut, diutamakan upaya
medis untuk segera melaksanakan discharge planning. Pada fase transisional,
ditahap ini semua cangkupan pada fase akut dilaksankan tetapi urgensinya
berkurang. Dan pada fase pelayanan berkelanjutan, pasien mampu untuk
berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas perawatan
berkelanjutan yang dibutuhkan setelah pemulangan. (Perry & Potter, 2005).

2.8 Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Diagnosa Penyakit Hipertensi


2.8.1 Pengkajian
Identitas Klien
Nama : Ny. N
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 40 Tahun
Alamat : Jl. N. R
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku/bangsa : Banjar/Indonesia
Tanggal Masuk RS : 15 Maret 2017
Diagnosa Medis : Hipertensi
No. RM : 24.73.xx
Tanggal Pengkajian : 15 Maret 2017
2.8.2 Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. A
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 45 Tahun
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. N. R
Hubungan dengan Klien : Suami Klien

2.8.3 Riwayat Kesehatan


1) Keluhan Utama
Sakit kepala pada bagian tengguk, klien cemas akan penyakit, sulit
tidur..
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Tadi malam tanggal 14 Maret 2017 Ny. N mengeluh tidak bisa tidur,
sakit kepala pada daerah tengkuk, klien takut jika menderita stroke, dan
pagi pagi tanggal 15 Maret 2017 Ny. N dibawa oleh suaminya berobat
ke RS. Damai di daerah Banjarmasin, dengan keluhan yang sama. Ny.
N napak kelihatan lelah.
3) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada tahun 2016 Ny. N pernah menderita penyakit Hypertensi, setelah
diberi pengobatan Ny. N sembuh. Setelah itu tidak pernah periksa. Pada
tanggal 15 Maret 2017 Ny. N berobat ke RS Damai Banjarmasin
dengan penyakit yang sama (TD 180/110 mmhg).
4) Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga Ny. N yaitu Ayah nya juga memiliki riwayat penyakit
Hipertensi, sama seperti yang diderita klien.
2.8.4 Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
TTV :
TD : 160/100 mmHg, Nadi : 72/menit RR : 20/menit Suhu : 36,30C
Tingkat kesadaran : Compos Mentis
2) Kulit
Terlihat kulit pasien normal, kulit bersih, integritas kulit baik, tekstur
lembab, turgor kulit baik kembali dalam < 2 detik dan kuku pendek.
3) Kepala dan Leher
Rambut berwarna hitam keputihan, kulit kepala bersih, tidak terdapat
adanya luka di kulit kepala, pada leher tidak ada pembesaran kelenjar
tyroid tidak ada nyeri tekan.
4) Penglihatan dan Mata
Posisi mata simetris, tidak terdapat peradangan, tidak menggunakan
alat bantu, tidak terjadi penurunan penglihatan.
5) Penciuman dan Hidung
Tidak terdapat penurunan penciuman, tidak ada sumbatan atau secret,
tidak ada peradangan, tidak ada keluar darah dan tidak ada bentuk
kelainan hidung.
6) Pendengaran dan Telinga
Keadaan telinga secara umum bersih, terjadi gangguan saat
mendengar, tidak menggunakan alat bantu, tidak ada kelainan bentuk
telinga.
7) Mulut dan Gigi
Terlihat mukosa bibir lembab, jumlah gigi tidak lengkap, kebersihan
mulut secara umum cukup baik.
8) Dada
Pergerakan dada terlihat saat inspirasi, Suara jantung S1 dan S2
tunggal, tidak terdapat palpitasi, suara mur mur tidak ada ronchi(-),
wheezing (-), nafas cuping hidung (-). Pada pemeriksaan abdomen
tidak didapatkan adanya pembesaran hepar, tidak kembung,
pergerakan peristaltik usus baik.
9) Abdomen
Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya pembesaran
hepar, tidak kembung, pergerakan peristaltik usus baik.
10) Ekstremitas Atas dan Bawah
Pada ektrimitas atas dan bawah tidak terdapat udema, tidak terjadi
kelumpuhan, dari ke-4 ektrimitas mampu menggerakan persendian,
mampu mengangkat dan melipat persendian secara sempurna.

3.1.5 Kebutuhan Fisik, Psikologi, Sosial, Spiritual dan Konseling


1) Aktivitas dan latihan (di Rumah dan di RS)
Di rumah : Bisa melakukan aktifitas sendiri tanpa bantuan orang lain
Di RS : Melakukan aktifitas dibantu oleh keluarga
2) Istirahat dan tidur (di Rumah dan di RS)
Di rumah : Tidur 5-6 jam pada malam hari
Di RS : Tidur kurang dari 5 jam karna merasa nyeri tengkuk.
3) Personal Hygiene
Di rumah : kebiasaan mandi 2 kali sehari pagi dan sore hari,
keramas 1 kali/2 hari.
Di RS : kebiasaan mandi 2 kali sehari pagi dan sore hari,
keramas 1 kali/2 hari.
4) Nutrisi
Di rumah : makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) dan tetapi
ada beberapa makanan yang dihindari oleh klien terkait
dengan pantangan makanan pada penderita hipertensi.
Di RS : makan 3 kali sehari namun tidak sampai habis dari
makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
5) Eliminasi
Di rumah : BAB 1 kali sehari
Di RS : BAB 2 kali sehari, BAK 3-4 kali sehari.
6) Seksualitas
Tidak dilakukan pengkajian.
7) Psikologis
Pasien merasa kurang nyaman akibat nyeri yang di rasakannya, tetapi
dapat menerima penyakitnya dengan ikhlas dan harapan pasien tentang
penyakitnya adalah ingin cepat sembuh dan cepat pulang kerumah.
8) Sosial
Hubungan pasien dengan keluarga cukup baik, sangat ramah terhadap
tetangga dan sangat ramah terhadap tenaga kesehatan.
9) Spiritual
Pasien merasa yakin terhadap Tuhan bahwa penyakit yang dideritanya
berasal dari tuhan dan hanya tuhan yang dapat mengangkat
penyakitnya.
10) Konseling
Disesuaikan dengan penyakit yang diderita klien yaitu hipertensi,
perawat memberi edukasi seputar makanan yang baik untuk
dikonsumsi klien tersebut.

2.9 Diagnosis Keperawatan Yang Muncul


2.9.1 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya keinginan untuk
mencari informasi.
2.10 Intervensi
2.10.1 Dx. Kep : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
keinginan untuk mencari informasi.
Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien
menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dengan kriteria:
a. Klien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,
kondisi, prognosis dan program pengobatan.
b. Klien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar.
2.10.2 Perencanaan melalui METHOD
Medication : Menjelaskan kepada klien dan keluarga tentang jenis obat
hipertensi dan manfaatnya, dosis yang diminum, waktu pemberian dan
efek samping yang uncul pada obat tersebut.

Environtment : Jelaskan kepada klien dan keluarga bahwa tidak ada


pembatasan lingkungan pada penderita penyakit hipertensi dan
jelaskan kepada keluarga untuk selalu memberikan dukungan kepada
klien untuk pemulihan kesehatan, seperti menjaga pola makan,
menghindari stress, istirahat yang cukup dan tidak terlalu kelelahan.

Treatment : Jelaskan kepada klien dan keluarga untuk jadwal kontrol


pengobatan dan pengelolaan obat dirumah

Health Teaching : Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang penyakit


hipertensi seperti tanda dan gejala hipertensi, faktor predisposisi
penyakit hipertensi dan presipitasi serta bagaimana perawatan
penderita hipertensi dirumah.

Outpatient referral : Jelaskan kepada klien dan keluarga bahwa untuk


kontrol penyakit hipertensi bisa dilakukan ditempat layanan kesehatan
seperti puskesmas dan rumah sakit.
Diet : jelaskan pada klien dan keluarga untuk mengontrol makanan
yang dimakan seperti jangan makan yang mengandung banyak garam,
lemak dan kolesterol.

2.11 Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang sudah di tentukan.

2.12 Evaluasi
Keberhasilan discharge planning didasarkan pada :
Derajat penyakit pada saat kontrol
2.12.1 Keteraturan kontrol dan kepatuhan minum obat pasien hipertensi serta
kepatuhan pada kebiasaan makan pasien seperti menghindari
pantangan makanan.
2.12.2 Efek samping obat sedikit yang timbul pada saat konsumsi.
2.12.3 Kemampuan aktivitas harian klien bisa dilakukan secara mandiri.
2.12.4 Tersedianya support sistem dari keluarga maupun lingkungan dan
tersedianya fasilitas kesehatan.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Discharge planning merupakan suatu komponen sistem perawatan berkelanjutan,
pelayanan yang diperlukan secara berkelanjutan dan bantuan untuk perawatan
berlanjut pada klien dan membantu keluarga menemukan jalan pemecahan
masalah dengan baik, pada saat tepat dan sumber yang tepat dengan harga yang
terjangkau. Discharge palnning dilakukan sejak pasien diterima disuatu pelayanan
kesehatan di rumah sakit dimana rentang waktu pasien untuk menginap semakin
diperpendek. Namun tidak semua pasien harus dilakukan discharge planning
sejak diterima masuk sampai pasien pulang. Pada pasien hipertensi perlu
dilakukan discharge planning sejak pasien diterima di rumah sakit sampai pasien
pulang.
DAFTAR RUJUKAN

Birjandi, Ali & Lisa M. Bragg. (2008) . Discharge planning Handbook for
Healthcare: Top 10 Secrets to Unlocking a New Revenue Pipeline . London:
CRC Press.
Ernita, Dewi, Rahmalia & Riri. 2015. Pengaruh Perencanaan Pasien Pulang
(Discharge planning) yang dilakukan oleh Perawat terhadap Kesiapan Pasien
TB Paru Menghadapi Pemulangan. JOM Vol 2 No 1, Februari 2015. Riau.
Lees, Liz. (2012). Timely Discharge from Hospital. m&k publishing: England NHS
Foundation Trust, Birmingham.
Nursalam. (2011). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktek Keperawatan
Profesional . Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika
Potter P.A & Perry A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep,
Proses, dan Praktik Volume 1. Alih bahasa: Yasmin Asih et al. Edisi 4. Jakarta:
EGC.