Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI 3

SIKLUS SEL DAN KANKER

DISUSUN OLEH :
KELAS D
KELOMPOK 2

ANDRI HASAN G 701 14 235


NURFAIDA G 701 15 101
MOH. RISKY ADITYA G 701 15 156
ANISA G 701 15 222

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT atas nikmatnya yang telah diberikan kepada kita
semua sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Siklus sel dan
Kanker yang merupakan tugas kami pada Semester V dalam mata kuliah
Farmakologi Toksikologi 3 guna memenuhi kegiatan belajar mengajar.
Kami ucapkan terima kasih pada dosen yang telah memberikan
bimbingannya dan teman teman yang memberikan dukungan dan masukannya
kepada kami dalam menyelesaikan tugas ini, sehingga tugas ini dapat
terselesaikan oleh kami sebagaimana mestinya.
Namun sebagai manusia biasa, kami tentunya tak luput dari kesalahan.
Oleh karena itu, saran serta kritik yang membangun senantiasa kami terima
sebagai acuan untuk tugas-tugas kami selanjutnya.

Desember, 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Data Global action against canser (2005) dari WHO(World Health
Organization) menyatakan bahwa kematian akibat kanker dapat mencapai
angka 45% dari tahun 2007 hingga 2030, yaitu sekitar 7,9 juta jiwa
menjadi 11,5 juta jiwa kematian. Di Indonesia, menurut laporan Riskesdes
(2007) prevalensi kanker mencapai 4,3 per 1000 penduduk dan menjadi
penyebab kematian nomor tujuh (5,7%) setelah sroke,
tuberkulosis,hipertensi, trauma, perinatal dan diabetes melitus.Di negara
berkembang, kanker merupakan penyebab utama kematian yang
disebabkan oleh penyakit pada anak diatas usia enam bulan. Data kanker
laporan Riskesdes tahun 2007 menyatakan bahwa Indonesia setiap
tahunnya ditemukan sekitar 4.100 pasien kanker anak yang baru. Dari
keseluruhan kasus kanker yang ditemukan, meskipun kanker masih jarang
ditemukan terjadi pada golongan usia anak
atau masih sekitar 2-6%, namun kanker merupakan penyakit degeneratif
yang menyebabkan 10% kematian pada anak.

Etiologi kanker pada anak masih belum jelas namun penyebabnya


diduga oleh karena penyimpangan pertumbuhan sel akibat defek genetik
dalam kandungan. Pemicunya diduga oleh faktor lingkungan yang tidak
sehat, makanan yang dikonsumsi secara tidak adequat, adanya radiasi,
serta infeksi virus.

Kanker merupakan penyakit dengan karakteristik adanya gangguan


atau kegagalan mekanisme pengaturan multiplikasi pada organisme
multiseluler sehingga terjadi perubahan perilaku sel yang tidak terkontrol.
Perubahan tersebut disebabkan adanya perubahan atau transformasi
genetik, terutama pada gen-gen yang mengatur pertumbuhan, yaitu
protoonkogen dan gen penekan tumor.Sel-sel yang mengalami
transformasi terus-menerus berproliferasi dan menekan pertumbuhan sel
normal. Kanker merupakan salah satu penyakit dengan angka kematian
yang tinggi.

1.1 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :

1. Apa itu siklus sel dan kanker ?

2. Apa Siklus sel spesifik ?

3. Apa Siklus sel Non spesifik ?

4. Bagaimana resistensi sitotoksik pada sel kanker ?

1.2 Tujuan Makalah

Adapun tujuan dari makalah ini adalah :

1. Dapat mengetahui siklus sel dan kanker.

2. Dapat mengetahui siklus sel spesfik

3. Dapat mengetahui siklus sel non spesifik.

4. Dapat mengetahui resistensi sitotoksi terhadap sel kanker.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Siklus Sel


Siklus sel merupakan proses perkembangbiakan sel yang
memperantarai pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Setiap sel
baik normal maupun kanker mengalami siklus sel. Siklus sel memiliki dua
fase utama, yakni fase S (sintesis) dan fase M (mitosis). Fase S merupakan
fase terjadinya replikasi DNA kromosom dalam sel, sedangkan pada fase
M terjadi pemisahan 2 set DNA kromosom tersebut menjadi 2 sel (Nurse,
2000).
Fase yang membatasi kedua fase utama tersebut yang dinamakan
Gap. G1(Gap-1) terdapat sebelum fase S dan setelah fase S dinamakan G2
(Gap-2). Pada fase G1, sel melakukan persiapan untuk sintesis DNA yang
merupakan fase awal siklus sel. Penanda fase ini adalah adanya ekspresi
dan sintesis protein sebagai persiapan memasuki fase S. Pada fase G2, sel
melakukan sintesis lebih lanjut untuk proses pembelahan pada fase M
(Ruddon, 2007).
Siklus sel dikontrol oleh beberapa protein yang bertindak sebagai
regulator positif dan negatif. Kelompok cyclin,khususnya cyclinD, E, A,
dan B merupakan protein yang levelnya fluktuatif selama proses siklus sel.
Cyclin bersama dengan kelompok cyclin dependent kinase (CDK),
khususnya CDK 4, 6, dan 2, bertindak sebagai regulator positif yang
memacu terjadinya siklus sel. Pada mamalia ekspresi kinase (CDK4,
CDK2, dan CDC2/CDK1) terjadi bersamaan dengan ekspresi cyclin (D, E,
A, dan B) secara berurutan seiring dengan jalannya siklus sel (G1-S-G2-
M) (Nurse, 2000). Aktivasi CDK dihambat oleh regulator negatif siklus
sel, yakni CDK inhibitor (CKI), yang terdiri dari Cip/Kip protein (meliputi
p21, p27, p57) dan keluarga INK4 (meliputi p16, p18, p19). Selain itu,
tumor suppressor protein (p53 dan pRb) juga bertindak sebagai protein
regulator negatif (Foster, et al., 2001).
Checkpoint pada fase G2 terjadi ketika ada kerusakan DNA yang
akan mengaktivasi beberapa kinase termasuk ataxia telangiectasia mutated
(ATM) kinase. Hal tersebut menginisiasi dua kaskade untuk
menginaktivasi Cdc2-CycB baik dengan jalan memutuskan kompleks
Cdc2-CycB maupun mengeluarkan kompleks Cdc-CycB dari nukleus atau
aktivasi p21. Checkpoint pada fase G1 akan dapat dilalui jika ukuran sel
memadai, ketersediaan nutrien mencukupi, dan adanya faktor
pertumbuhan (sinyal dari sel yang lain). Checkpoint pada fase G2 dapat
dilewati jika ukuran sel memadai, dan replikasi kromosom terselesaikan
dengan sempurna. Checkpoint pada metaphase (M) terpenuhi bila semua
kromosom dapat menempel pada gelendong (spindle) mitosis.Checkpoint
ini akan menghambat progresi siklus sel ke fase mitosis, sedangkan
checkpoint pada fase M (mitosis) terjadi jika benang spindle tidak
terbentuk atau jika semua kromosom tidak dalam posisi yang benar dan
tidak menempel dengan sempurna pada spindle. Kontrol checkpoint sangat
penting untuk menjaga stabilitas genomik. Kesalahan pada checkpoint
akan meloloskan sel untuk berkembang biak meskipun terdapat kerusakan
DNA atau replikasi yang tidak lengkap atau kromosom tidak terpisah
sempurna sehingga akan menghasilkan kerusakan genetik. Hal ini kritis
bagi timbulnya kanker. Oleh karena itu, proses regulasi siklus sel mampu
berperan dalam pencegahan kanker (Ruddon, 2007).

II.2 Kanker
Kanker adalah segolongan penyakityang ditandai dengan
pembelahan sel Tidak terkendali dan kemampuan sel menyerang jaringan
biologis lainnya, baik pertumbuhan langsung di jaringan tetangganya
(invasif) maupun migrasi sel ke tempat yang lebih jauh (metastasis).
Pertumbuhan yang tidak terkendali tersebut disebabkan kerusakan DNA
yang menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembelahan sel.
Sel kanker kehilangan fungsi kontrolnya terhadap regulasi daur sel
maupun fungsi homeostasis sel pada organisme multiseluler sehingga sel
tidak dapat berproliferasi secara normal. Akibatnya, sel akan berproliferasi
terus-menerus sehingga menimbulkan pertumbuhan jaringan yang
abnormal (Diandana, 2009).

Sel kanker timbul dari sel normal tubuh yang mengalami


transformasi atau perubahan menjadi ganas oleh karsinogen atau karena
mutasi spontan. Transformasi sejumlahgen yang menyebabkan gen
tersebut termutasi disebut neoplasma atau tumor. Neoplasma merupakan
jaringan abnormal yang terbentuk akibat aktivitas proliferasi yang
tidakterkontrol (neoplasia). Pada tahap awal, neoplasma berkembang
menjadi karsinoma in situ di mana sel pada jaringan tersebut masih
terlokalisasi dan mungkin memiliki kesamaaan fungsional dengan sel
normal (King, 2000).
Sel neoplasma mengalami perubahan morfologi, fungsi, dan
sikluspertumbuhan yang akhirnya menimbulkan disintegrasi dan hilangnya
komunikasi antarsel. Tumor diklasifikasikan sebagai benigna, yaitu
kejadian neoplasma yang bersifat jinak dan tidakmenyebar ke jaringan di
sekitarnya. Sebaliknya, maligna disinonimkan sebagai tumor yang
melakukan metastasis, yaitu menyebar dan menyerang jaringan lain
sehingga maligna sering disebut sebagai kanker. Kanker sering dikenal
sebagai tumor, tetapi tidak semua tumor disebut kanker Sel kanker
memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan sel normal. Sel kanker
tidak mengenal apoptosis dan akan terus hidup meski seharusnya mati
(bersifat immortal) (Sofyan, 2000).
Sel kanker tidak mengenal komunikasi ekstraseluler atau asosial
yang diperlukan untuk menjalin koordinasi antar sel sehingga dapat saling
menunjang fungsi masing-masing. Dengan sifatnya yang asosial, sel
kanker bertindak semaunya sendiri tanpa peduli apa yang dibutuhkan oleh
lingkungannya. Sel kanker dapat memproduksi growth factorsendiri
sehingga tidak bergantung pada rangsangan sinyal pertumbuhan dari luar
untukmelakukan proliferasi sehingga dapat tumbuh menjadi tak terkendali.
Sel kanker juga tidak sensitif terhadap sinyal yang dapat menghentikan
pertumbuhan dan pembelahan sel. Sel kanker mampu menghindar dari
sinyal antipertumbuhan yang berhubungan dengan siklus sel (Kumar, et
al., 2005).

Sel kanker mampu menyerang jaringan lain (invasif), merusak


jaringan tersebut dan tumbuh subur di atas jaringan lain (metastasis).
Semakin jangkauan metastasis tumor, akan semakin sulit disembuhkan.
Kanker pada stadium metastasis merupakan penyebab 90% kematian
penderita kanker (Pecorino, 2005).Untuk mencukupi kebutuhan pangan
dirinya sendiri, sel kanker mampu membentuk pembuluh darah baru
(neoangiogenesis) meski dapat mengganggu kestabilan jaringan tempat ia
tumbuh. Sinyal inisiasi pada proses neoangiogenesis diantaranya adalah
Vascular Endothelial Growth Factor(VEGF) dan Fibroblast Growth Factor
(FGF). Selain itu, regulator yang lain adalah angiopoietin-1, angiotropin,
angiogenin, epidermal growth factor, granulocytecolony-stimulating
factor, interleukin-1 (IL-1), IL-6, IL-8, PDGF, TNF-, kolagen, cathepsin.
Sel kanker memiliki kemampuan yang tidak terbatas dalam
memperbanyak dirinya sendiri (proliferasi) meski sudah tidak dibutuhkan
dan jumlahnya sudah melebihi kebutuhan yang seharusnya (Kumar, et al.,
2005).

Secara umum, penyebab kanker dapat dibagi dalam 3 kategori,


yaitu karsinogen fisik (radiasi sinar UV dan radiasi ionisasi), karsinogen
kimiawi (asap tembakau dan asbestos), dan karsinogen biologis (virus,
bakteri, dan parasit) (PCC, 2013). Selain itu, kanker dapat timbul karena
pola hidup yang tidak sehat. Hampir separuh dari kanker yang terdiagnosis
setiap tahun disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Pencetus kanker
dapat berasal dari makanan yang kaya akan gula buatan, karbohidrat
olahan, pengawet, produk sampingan dari hasil penggorengan (minyak
jelantah), mengandung banyak lemak, asupan antioksidan yang kurang,
dan minuman yang mengandung bahan kimia (minuman beralkohol)
(Mueller, et al., 2010). Penyebab kanker juga bisa timbul karena kondisi
kejiwaan yang tidak stabil dan faktor keturunan. Orang tua yang mengidap
kanker sangat mungkin menurunkan pada anaknya (Magdalena, 2014).
Sejalan dengan hal tersebut, abnormalitas sel kanker umumnya
terjadi karena adanya mutasi pada gen-gen yang mengkode protein yang
berperan meregulasi pembelahan sel. Gen-gen yang mengalami malfungsi
dan terlibat dengan kanker ini diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok.
Pertama, proto-onkogen yaitu gen yang mengkode protein yang secara
normal memicu pembelahan sel dan menghambat kematian sel yang
terprogram (apoptosis). Mutasi pada gen-gen ini disebut sebagai onkogen.
Kelompok kedua adalah tumor supressor genes yang mengkode protein
yang secara normal menghambat pembelahan sel dan memicu apoptosis.
Kelompok ketiga merupakan gen-gen yang berperan pada proses DNA
repair yang akan meminimalisasi mutasi-mutasi yang bisa berakibat
sebagai kanker (Cell Biology and Cancer, 2012).
Mekanisme terjadinya kanker :
Tahap inisiasi sel normal berubah menjadi sel kanker akibat
rangsangan karsinogen sebagai inisiator. Inisiator ini (melalui
metabolisme) langsung mengubah DNA hingga pecah (bersifat
ireversibel)
Tahap promotor karsinogen mengubah sel terinisiasi menjadi sel
kanker (bersifat reversibel)
Tahap progres (perubahan menetap) terjadi perubahan sel yang
tidak terkendali tanpa memerlukan inisiator/promoter.

II.3 Cell cycle spesific ( CCS) dan Cell cycle nonspesific ( CCNS )

1. Cell cycle spesific ( CCS) atau obat siklus sel spesifik bersifat toksik
secara selektif, yaitu pada sel yang sedang berproliferasi. Mekanisme kerja
obat golongan ini hanya bekerja terhadap fase tertentu, artinya hanya
bekerja pada fase siklus sel khusus saja. Obat-obat golongan ini ialah anti
metabolit ( sitarabin, florourasil, azositidin, merkaptopurin, tioguanin,
metotreksat ), bleomisin, alkaloid podofilin dan alkaloid vinca.
2. Cell cycle nonspesific ( CCNS ) atau obat siklus sel non spesifik efektif
terhadap tumor dengan proliferasi tinggi, pada semua tingkat proliferasi
sel, kecuali G-0. Mekanisme kerja golongan obat Cell cycle non specific
(CCNS) yaitu bekerja pada keseluruhan siklus sel. Obat-obat golongan ini
ialah golongan aliklator ( busulfan, siklofosfamit, mekloretamin, melfalan,
dan tiotepa ), antibiotika ( daktinomisin, daunorubisin, doksarubisin,
metramisin, dan mitomisin ), sisplatin, dan nitrosourea ( BCNU, CCNU,
metil CCNU).

Agen spesifik siklus sel (CCS) Agen nonspesifik siklus sel (CCNS)

Antimetabolit Agen alkilasi


Capecitabine Busulfan
Cladribine Carmustine
Cytarabine Cyclophosphamide
Fludarabine Lomustine
5-Fluorouracil Mechlorethamine
Gemcitabine Melphalan
6-Mercaptopurine Thiotepa
Methotrexate
6-Thioguanine
Antibiotik antitumor Antracycline
Bleomycin Daunorubicin
Doxorubicin
Epirubicin
Idarubicin
Mitoxantrone
Epipodofilotoksin Antibiotik antitumor
Etoposide Dactinomycin
Teniposide Mitomycin
Taxane Camptothecin
Paclitaxel terikat albumin Irinotecan
Docetaxel Topotecan
Paclitaxel
Alkaloid vinca Analog platinum
Vinblastine Carboplatin
Vincristine Cisplatin
Vinorelbine Oxalipatin

Tabel 1. Jenis obat kemoterapi berdasarkan kinetika siklus sel

II.4 Resistensi Terhadap Obat sitotoksik

Kemoterapi dengan menggunakan obat-obat sitotoksik umum


diterapkan pada penanganan berbagai jenis kanker, seperti kanker payudara
(Skeel,2003; Tack, et al., 2004). Di antara obat sitotoksik saat ini,doxorubicin
dianggap sebagai agen yang paling aktif dalam menghambat kanker payudara
(Paridaens, 2000). Namun, sel kanker menjadi resisten terhadap obat-obat
kemoterapi dan hal ini menyebabkan kegagalan pengobatan (Liu, 2008).
Meskipun pada pengobatan kanker payudara yang baru didiagnosis awalnya
memberikan respons terhadap kemoterapi, namun ketahanan hidup pasien
dalam jangka waktu 5 tahun kurang dari 20% (Boring, 1994). Respon terapi
yang kurang optimal terkait dengan multidrug resistensi (MDR) sering terjadi
(Longley dan Johnston, 2005).
Suatu masalah mendasar dalam kemoterapi kanker adalah timbulnya
resistensi sel terhadap obat. Beberapa jenis tumor, misalnya melanoma
maligna, kanker sel ginjal, dan kanker otak, memperlihatkan resistensi primer
tidak adanya respons pada pajanan pertama, terhadap obat-obat yang
sekarang tersedia. Adanya resistensi obat inheren pertama kali diajukan dan
diduga disebabkan oleh goldie dan coleman pada awal tahun 1980-an dan
diduga disebabkan oleh instabilitas genom yang berkaitan dengan terjadinya
sebagian besar kanker. Sebagai contoh, mutasi di gen penekan tumor terjadi
pada hampir 50% tumor manusia. Studi-studi pra klinis dan klinis
memperlihatkan bahwa hilangnya fungsi sel menyebabkan resistensi terhadap
beragam obat antikanker. Defek pada famili enzim yang memperbaiki ketidak
cocokan DNA, yang berkaitan erat dengan pembentukan kanker
kolorektumfamilial dan sporadik, menyebabkan resistensi terhadap beberapa
obat antikanker yang berlainan, termasuk fluoropirimidin, golongan tiopurin,
dan sisplatin/karboplatin. Berbeda dari resistensi primer, resistensi didapat
terbentuk sebagai respon terhadap pajanan ke suatu obat antikanker. Secara
eksperimental, resistensi obat dapat bersifat sangat speesifik terhadap satu
obat tertentu dan biasanya didasarkan pada perubahan spesifik pada perangkat
genetik suatu sel tumor disertai amplifikasi dan peningkatan ekspresi satu
atau lebih gen.Pada kasus lain, terbentuk fenotipe resistensi multiobat, yang
berkaitan dengan peningkatan ekspresi gen MDRI, yang menyandingkan
glikoprotein pengangkut di permukaan sel.
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

1. Siklus sel merupakan proses perkembangbiakan sel yang memperantarai


pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup.
2. Kanker adalah segolongan penyakityang ditandai dengan pembelahan sel
Tidak terkendali dan kemampuan sel menyerang jaringan biologis lainnya,
baik pertumbuhan langsung di jaringan tetangganya (invasif) maupun
migrasi sel ke tempat yang lebih jauh (metastasis).
3. Cell cycle spesific ( CCS) atau obat siklus sel spesifik bersifat toksik
secara selektif, yaitu pada sel yang sedang berproliferasi.
4. Cell cycle nonspesific ( CCNS ) atau obat siklus sel non spesifik efektif
terhadap tumor dengan proliferasi tinggi, pada semua tingkat proliferasi
sel, kecuali G-0.
Daftar Pustaka

Staf pengajar farmakologi UNSRI, 2008, kumpulan kuliah farmakologi edisi 2,


EGC, Jakarta.

King RJ, Robins MW. Cancer Biology, 3rded. England, Pearson Education
Limited, 2006 : 209-29

Anonim, 2012, Cell Biology and Cancer, Colorado Springs : The BSCS and
Videodiscovery, Inc.

Kumar, E.K., Ramesh, A. & Kasiviswanath, R., 2005, Hypoglicemic and


Antihyperglicemic Effect of Gmelina asiatica Linn. In normal and in alloxan
Induced Diabetic Rats, Andhra Pradesh, Departement of Pharmaceutical Sciences.