Anda di halaman 1dari 561

Atlas

Histologi
ffiffiWffiwww
dengan Korelasi Fungsional
Kutipan PasalT2z
Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta
(Undang-UndangNo. 19 Tahun 2OO2)
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(t) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan danlatau denda paling
sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tuluh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu
ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (t) di
pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.500.000.000,00
(lima ratus iuta rupiah).

PENTING DIKETAIIUI
Penerbit adalah rekanan pengarang untuk menerbitkan sebuah buku. Bersama pengarang, penerbit menciptakan buku
untuk diterbitkan. Penerbit mempunyai hak atas penerbitan buku tersebut serta distribusinya, sedangkan pengarang
memegang hak penuh atas karangannya dan berhak mendapatkan royalti atas penjualan bukunya dari penerbit.

Percetakan adalah perusahaan yang memiliki mesin cetak dan menjual jasa pencetakan. Percetakan tidak memiliki hak
apa pun dari buku yang dicetaknya kecuali upah. Percetakan tidak bertanggung jawab atas isi buku yang dicetaknya.

Pengarang adalah pencipta buku yang menyerahkan naskahnya untuk diterbitkan di sebuah penerbit. Pengarang
memiliki hak penuh atas karangannya, namun menyerahkan hak penerbitan dan distribusi bukunya kepada penerbit
yang ditunjuknya sesuai batas-batas yang ditentukan dalam perjanjian. Pengarang berhak mendapatkan royalti atas
karyanya dari penerbit, sesuai dengan ketentuan di dalam perjanjian Pengarang-Penerbit.

Pembaiak adalah pihak yang mengambil keuntungan dari kepakaran pengarang dan kebutuhan belajar masyarakat.
Pembaiak tidak mempunyai hak mencetak, tidak memiliki hak menggandakan, mendistribusikan, dan menjual buku
yang digandakannya karena tidak dilindungi copyright ataupun perjanjian pengarang-penerbit. Pembajak tidak peduli
atas jerih payah pengarang. Buku pembajak dapat lebih murah karena mereka tidakperlu mempersiapkan naskah mulai
dari pemilihan judul, editing sampai persiapan pracetak, tidak membayar royalti, dan tidak terikat perjanjian dengan
pihak mana pun.

PEMBAJAKAN BUKU ADALAH KRIMINAI, !

Anda jangan menggunakan buku bajakan, demi menghargai ierih payah para pengarang yang notabene adalah para
quru.
Atlas
Hlstologl
den$an Korelasi Fun$sional
(diFiore's Atlas of Histolo$y with Functional Coruelations)

Edisi II
Victor P. Eroschenko, PhD
Professor of Anatomy
WWAMI Medical Program
University of ldaho
Moscow, ldaho

Alih Bahasa:
dr. Brahm U. Pendit

Editor Edisi Bahasa lndonesia:


dr. Didiek Dharmawan
dr. Nella Yesdelita

PENERBIT BUKU KEDOKTERAN


ME
EGC 1849

This isa translation of


diFIORE'S ATLAS OF HISTOLOGY WITH FT]NCTIONAL CORRELATIONS, llfh Ed.
by Victor P. Eroschenko
Copyright O 2008 by LippincottWilliams & Wilkins.
Published by alrangement witlr Lippincott Williams & Wilkins/Wolters Kluwer Health Inc., USA.

ATLAS HISTOLOGI diFIORE: DENGAN KORELASI FUNGSIONAL, Ed. tl


Alih bahasa: dr. Brahm U. Pendit
Editor edisi bahasa Indonesia: dr. Didiek Dharmawan & dr. Nella yesdelita

Hak cipta terjemahan lndonesia


O 2008 Penerbit Buku Kedokteran EGC
P.O. Box 4276/Jakafia 10042
Telepon: 65306283

Anggota IKAPI

Desain kulit muka: Yohanes Duta Kumia Utama


Penata letak: Dhana Rizal Anggoro

Hak cipta dilindungi Undang-Undang.


Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik,
termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penerbit.

Cetakan2Ol2

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Eroschenko, Victor P.
Atlas histologi diFiore : dengan korelasi fungsional / Victor p. Eroschenko ;
alih bahasa, Brahm u. Pendit ; editor edisi bahasa Indonesia, Didiek Dharmawan.
NellaYesdelita. Ed. 11. : EGC, 2010.
- -Jakarta
xvii, 552 b1m. ; 2l x29,5 cm.
Judul asli : di Fio re's atlas of his to Io gy w ith func tiona I co r re I atio ns.
ISBN 978-979 -044-066-l
1. Histologi. I. Judul. IL Pendit, Bral.rm U. IIL Didiek Dharmawan.
IV. Nella Yesdelita.

611.018

Indikasi akurat, reaksi merugikctn, dan jadwal dosis untuk obat disajikan pada buku ini, tetnpi hal
ini dapat saja berubah. Pembaca disarankan mengacu data informasi ilari pabrik tentang ob1t
yang ditulis pada kemasannya. Penulis, edito7 penerbit, atau clistributor tidak bertanggung
jawab atas kesalahan atau kealfaan atau atas konsekuensi dari penerapan inforrnasi yang-ida ii
daLam buku ini, dan tidak memberijaminan, tersurat atau tersirat, atas isi buku. peiutii editor
penerbit, dan disilibtuor tidak bertanggung jawab atas cedera datt/atau kerusukan pada
seseorang cilau properti yang timbul d(ui buku ini.

lsi di luar tanggung iawab percetakan


Dedikasi

Dipersemb ahkan kep ada mereka y ang b egitu berarti

lan
McKenzie
Sarah
Shannon
dan
Diane
Kathryn
Tatiana
Sharon
dan
Todd
Shaun
serta khususnya dan selalu
Elke
Penerbitan edisi ke-l1 Atlas of Histolog terlaksana setelah dilakukan pengkajian ulangyang menyeluruh
oleh banyak peninjau buku dari luar. Penulis secara hati-hati mengevaluasi semua komentar dan saran
para peninjau buku. Banyak saran yang bermanfaat dan sesuai dengan desain dan tujuan atlas ini diterap-
kan dalam persiapan edisi baru ini.

Pendekatan Dasar
Meskipun riset di berbagai bidang ilmu pengetahuan terus mempersembahkan Penemuan baru yang
bermanfaat, namun histologi tetap merupakan salah satu ilmu pengetahuan dasar yang esensial untuk
memahami dan menginterpretasikan pengetahuan baru ini. Dalam menyiapkan edisi ke-t1 atlas ini,
penulis mempertahankan pendekatan tradisional dan unik yaitu memberi siswa gambaran realistis dan
berwarna serta ilustrasi berbagai struktur histologik yang baik. Ke dalam ilustrasi ditambahkan
fotomikrograf struktur serupa yang asli. Pendekatan unik ini telah menjadi ciri khas atlas ini. Selain itu,
semua struktur dikaitkan secara langsung dengan fungsi terpenting dan esensial pada struktur yang
bersangkutan. Pendekatan ini memungkinkan siswa mempelajari struktur histologik dan fungsi utama-
nya secara bersamaan, tanpa perlu menghabiskan waktu untuk melihat buku rujukan. Dalam edisi-edisi
sebelumnya, gambar dan informasi yang disajikan dalam format atlas ini dapat memenuhi kebutuhan
mahasiswa atau sarjana kedokteran, kedokteran hewan, dan biologi. Edisi sekarang terus berupaya
memenuhi kebutuhan para siswa histologi baik di masa sekarang maupun di masa depan.

Perubahan pada Edisi ke-l I


Beberapa perubahan penting yang dimasukkan ke dalam atlas ini diuraikan secara rinci di bawah ini.
o Semua bab pendahuluan dan semua bagian dengan korelasi fungsional telah diperbarui dan diperluas
untuk mencerminkan informasi dan interpretasi ilmiah baru.
o Setiap bab diikuti oleh ringkasan menyeluruh dalam bentuk yang mudah diikuti
o Semua ilustrasi lama dari edisi-edisi sebelumnya telah diganti dengan ilustrasi yang baru, asli, dan
dalam bentuk digital. Semua ilustrasi lain yang semula tidak didigitalisasi telah diperbarui warnanya
untuk meningkatkan penampilannya'
o Foto mikroskop elektron transmissionpada otot rangka telah ditambahkan ke dalam bab tentang otot
untuk menggambarkan secara terinci masing-masing serat otot dan sarkomer-sarkomernya.
o Foto mikroskop elektron scanning dan transmisslon podosit dan hubungannya yang unik dengan
kapiler di korpuskulum ginjal telah ditambahkan ke dalam bab tentang ginjal

Atlas Elektronik
Saat ini terjadi peningkatan dalam penggunaan berbagai teknologi berbasis-komputer dalam pendidikan
histologi. Karena itu, edisi ke-l1 atlas ini juga memungkinkan siswa mengakses melalui kode elektronik
ke atlas elektronik interaktif dan kepustakaan gambar histologi yang terdapat dalam buku ini. Atlas
interaktif secara khusus dirancang agar siswa dapat menguji pengetahuannya tentang ilustrasi dan
fotomikrograf histologik yang terdapat di atlas. Fitur-fitur khusus di atlas elektronik mencakup fitur label
on/of, "hot spots" yang dapat digulung, dan label yang dapat digulung. Selain itu, terdapat fitur uji-diri
yang memungkinkan siswa berlatih mengidentifikasi fitur-fitur dalam gambar. Selain atlas interaktif,
siswa akan memiliki akses ke perpustakaan histologi yang mengandung lebih dari 475 fotomikrograf
histologi digital. Semua gambar histologi telah dipisahkan ke dalam bab-bab yang sesuai dengan yang
terdapat di atlas, dengan masing-masing bab mengandung rerata 2O gambar. Gambar perpustakaan
histologi secara spesifik didesain untuk digunakan siswa agar mereka semakin memahami bahan yang

vtl
sebelumnya dipelajari di laboratorium atau kuliah. Karena itu, gambar-gambar ini tidak memiliki label
dan hanya diidentifikasi dengan nomor gambar untuk masing-masing bab.
Untuk instruktur, dipersiapkan suatu perpustakan histologi terpisah, dengan lebih dari 950 gambar
fotomikrografyang telah didigitalisasi dan disempurnakan. Gambar-gambar ini juga dipisahkan ke dalam
bab-bab yang sesuai, dengan setiap gambar hanya dinyatakan dengan singkatan. Tidak terdapat label pada
gambar dan masing-masing gambar dapat dipindahkan ke PowerPoint Microsoft dan diberi label oleh
instruktor untuk memberi informasi yang diperlukan selama kuliah atau praktek laboratorium. Karena
terdapat banyak gambaran struktur yang serupa, maka instruktor dapat menggunakan gambar yang
berbeda untuk menghindari pengulangan saat kuliah atau praktek laboratorium.
Karena itu, edisi atlas ini diharapkan menjadi tambahan yang bermanfaat di laboratorium histologi,
tempat histologi tradisional diajarkan dengan mikroskop dan sediaan kaca objek, atau gambar berbasis-
komputer digunakan sebagai pengganti mikroskop, atau digunakan kombinasi kedua cara di atas.
Seperti edisi-edisi sebelumnya dari atlas ini, saya sangat beruntung bekerja sama dengan banyak
profesional, yang sangat membantu saya dalam mempersiapkan dan memperbaiki edisi atlas ini.
Dr. E. Roland Brown (rrczfiez@yahoo.com),y'eelance artist, mempersiapkan semua ilustrasi his-
tologi yang baru dan mewarnai gambar yang sudah ada yang belum didigitalisasi.
Sonja L. Gerard dari Oei Graphics, Belleuve, Washington, memperbaiki atau menyempurnakan
karya seni untuk masing-masing bab di atlas ini.
Dr. Mark DeSantis, teman lama dan Profesor Emeritus dari WWr\MI Medical Education Program
andDepartment of Biologt,Uniuersity of Idaho,Moscow, Idaho, memberi saran-saranyangkonstruktif dan
memperbaiki bab tentang sistem saraf.
Carter Rowley, Fort Collins, Colorado, seorang teman lama dan rekan sekerja, berbaikhati memberi
fotomikrograf elektron transmisi pada otot rangka dari koleksi pribadinya.
AsistenProfesorChristineDavitt, SchoolofBiologicalSciences,WashingtonStateUniversity,Pullman,
Washington, membantu saya dalam memindai gambar-negatif korpuskulum ginjal dan isinya.
Sebagai ucapan terima kasih yang khusus, saya ingin mengungkapkan penghargaan sebesar-besar-
nya kepada dr. Sergei Yakovlevich Amtiaslavsky, Novosibirsk State University, lnstitute of Cytology and
Genetics, Russian Academy oJ Sciences, Siberian Division, Novosibirsk, Rusia. Sebagai teman baik dan
mitra riset yang sangat penting, Sergei Yakovlevich bermurah hati memberi saya gambar ovarium musang
Eropa.
Saya jugaberterima kasih atas bantuan Crystal Taylor dan Kelly Horvath dari Lippincott Williams &
Wilkins. Upaya mereka dalam memulai dan melanjutkan proses untuk persiapan edisi ini sangat
dihargai.
Yang terakhir, kepada semua yang membantu saya dalam pembuatan karya ini sebelumnya, saya
mengucapkan penghargaan setinggi-tingginya.

Victor P. Eroschenkq Ph.D.


Moscow, Idaho
Jani20O7

tx
Pendahuluan .... ''' '.. '. '... 1

GAMBAR 1.1 Bidang lrisan Suatu Benda Bulat 2


GAMBAR 1.2 Bidang lrisan Suatu Saluran 2
GAMBAR 1.3 Tubuli Testis dalam Berbagai Bidang lrisan 4

BAGIANI ffi JARINGAN 7


BAB 1 Sel dan Sitoplasma .....'."' I
GAMBAR 1.1 Permukaan Apikal Epitel Bersilia dan Tidak Bersilia 14
GAMBAR 1.2 Kompleks Taut Antara Sel-sel Epitel 14
GAMBAR 1.3 Regio Basal Sel Epitel 16
GAMBAR 1 .4 Regio Basal Sel Pengangkut-lon 16
GAMBAR 1.5 Silia dan Mikrovili 18
GAMBAR 1 .6 Selubung Nukleus dan Pori Nukleus 18
GAMBAR 1.7 Mitokondria 20
GAMBAR 1 .8 Retikulum Endoplasmik Kasar 22
GAMBAR 1.9 Retikulum Endoplasmik Halus 22
GAMBAR 1 .10 Aparatus Golgi 24

BAB 2 Jaringan Epitel ""...31


SUBBAB 1 Penggolongan Jaringan Epitel 31
GAMBAR 2.1 Epitel Selapis Gepeng: Pandangan Permukaan Mesotel Peritoneum 32
GAMBAR 2.2 Epitel Selapis Gepeng: Mesotel Peritoneum yang Mengelilingi Usus Halus
(Potongan Transversal) 33
GAMBAR 2.3 Berbagai Jenis Epitel di Korteks Ginjal 34
GAMBAR 2.4 Epitel Selapis Silindris: Permukaan Lambung 34
GAMBAR 2.5 Epitel Selapis Silindris di Vili Usus Halus: Sel dengan Limbus Striatus (Mikrovili)
dan Sel Goblet 36
GAMBAR 2.6 Epitel Bertingkat Semu Silindris Bersilia: Saluran Pernapasan-Trakea 38
GAMBAR 2.7 Epitel Transisional: Vesica Urinaria (Tidak Teregang atau Relaksasi) 38
GAMBAR 2.8 Epitel Transisional: Vesica Urinaria (Teregang) 40
GAMBAR 2.9 Epitel Berlapis Gepeng Tanpa Lapisan Tanduk: Esofagus 40
GAMBAR 2.10 Epitel Berlapis Gepeng dengan Lapisan Tanduk: Telapak Tangan 42
GAMBAR 2.11 Epitel Berlapis Kuboid: Duktus Ekskretorius Kelenjar Liur 42
SUBBAB 2
Jaringan Kelenjar 46
GAMBAR 2.12 Kelenjar Eksokrin Tubular Simpleks Tidak Bercabang: Kelenjar Usus 48
GAMBAR 2.13 Kelenjar Eksokrin Tubular Simpleks Bercabang: Kelenjar Lambung 48
GAMBAR 2.14 Kelenjar Eksokrin Tubular Bergelung : Kelenjar Keringat 50
GAMBAR 2.15 Kelenjar (Eksokrin) Asinar Kompleks: Kelenjar Mammae 50
GAMBAR 2.16 Kelenjar (Eksokrin) Tubuloasinar Kompleks: Kelenjar Liur 52
GAMBAR 2.17 Kelenjar (Eksokrin) Tubuloasinar Kompleks: Kelenjar Liur Submaksilaris 52
GAMBAR 2.18 Kelenjar Endokrin: lnsula Pancreatica 54
GAMBAR 2.19 Pankreas Endokrin dan Eksokrin 54

BAB 3 Jaringan lkat ... ...... 59


GAMBAR 3.1 Jaringan lkat Longgar (Sebaran) 61
GAMBAR 3.2 Sel Tunggal dalam Jaringan lkat 62
GAMBAR 3.3 Jaringan lkat Embrionik 64
GAMBAR 3.4 Jaringan lkat Longgar 64
GAMBAR 3.5 Jaringan lkat Longgar Tidak Teratur dan Padat Tidak Teratur 64
GAMBAR 3.6 Jaringan lkat Padat Tidak Teratur dan Longgar Tidak Teratur 66

xt
GAMBAR 3.7 Jaringan lkat Padat Tidak Teratur dan Jaringan Adiposa 66
GAMBAR 3.8 Jaringan lkat Padat Teratur: Tendon (Potongan Longitudinal) 6g
GAMBAR 3.9 Jaringan lkat Padat Teratur: Tendon (Potongan Longitudinal) 6g
GAMBAR 3.10 Jaringan lkat Padat Teratur: Tendon (Potongan Transversal) 70
GAMBAR 3.1'l Jaringan Adiposa: Usus 7O

BAB 4 Tulang Rawan dan Tulang .......7b


SUBBAB 1 Tulang Rawan 75
GAMBAR 4.1 Tulang Rawan Hialin Janin 76
GAMBAR 4.2 Tulang Rawan Hialin dan Struktur Sekitar: Trakea l6
GAMBAR 4.3 Sel dan Matriks Tulang Rawan Hialin Matur 78
GAMBAR 4.4 Tulang Rawan Hialin: Tulang yang Sedang Tumbuh 78
GAMBAR 4.5 Tulang Rawan Elastik: Epiglotis 80
GAMBAR 4.6 Tulang Rawan Elastik: Epiglotis 80
GAMBAR 4.7 Tulang Rawan Fibrosa: Diskus lntervertebralis 80
SUBBAB2 Tulang 83
GAMBAR 4.8 Osifikasi Endokondral: Pertumbuhan Tulang Panjang (Pandangan Menyeluruh,
Potongan Longitudinal) 86
GAMBAR 4.9 Osiflkasi Endokondral: Zona Osifikasi 88
GAMBAR 4.10 Osifikasi Endokondral: Zona Osifikasi 88
GAMBAR 4.11 Osifikasi Endokondral: Pembentukan Pusat Osifikasi Sekunder (Epifisis)
dan Lempeng Epifisis di Tulang Panjang (Potongan Longitudinal, Tulang
Dekalsif ikasi) 90
GAMBAR 4.12 Pembentukan Tulang: Perkembangan Osteon (Sistem Havers; potongan
Transversal, Dekalsifikasi) 92
GAMBAR 4.13 Osifikasi lntramembranosa: Mandibula yang Sedang Berkembang (Potongan
Transversal,Tulang Dekalsifikasi) 94
GAMBAR 4.14 Osifikasi lntramembranosa: Tulang Tengkorak yang Sedang Berkembang 94
GAMBAR 4.15 Tulang Kanselosa dengan Rongga Sumsum dan Trabekula: Sternum (Potongan
Transversal, Dekalsifikasi) 96
GAMBAR 4.16 Tulang Kanselosa: Sternum (Potongan Transversal, Dekalsifikasi) 96
GAMBAR 4.17 Tulang Kompak, Kering (Potongan Transversal) 98
GAMBAR 4.18 Tulang Kompak, Kering (Potongan Longitudinal) 98
GAMBAR 4.19 Tulang Kompak, Kering: Osteon (Potongan Transversal) 1OO

BAB5 Darah .1Os


GAMBAR 5.1 Sediaan Apus Darah Manusia 106
GAMBAR 5.2 Sediaan Apus Darah Manusia: Sel Darah Merah, Neutrofil, Limfosit Besar, dan
Trombosit 106
GAMBAR 5.3 Eritrosit dan Trombosit 108
GAMBAR 5.4 Neutrofil 108
GAMBAR 5.5 Eosinofil 1 10
GAMBAR 5.6 Limfosit 1 10
GAMBAR 5.7 Monosit 1 10
GAMBAR 5.8 Basofil 1 12
GAMBAR 5.9 Sediaan Apus Darah Manusia: Basofil, Neutrofil, Sel Darah Merah, dan
' Trombosit 112
GAMBAR 5.1O Sediaan Apus Darah Manusia: Monosit, Sel Darah Merah, dan Trombosit 114
GAMBAR 5.11 Perkembangan Berbagai Sel Darah di Sumsum Tulang Merah (Potongan
Dekalsif ikasi) 114
GAMBAR 5.12 Sediaan Apus Sumsum Tulang: Perkembangan Berbagai Jenis Sel 116
GAMBAR 5.13 Sediaan Apus Sumsum Tulang: Prekursor Berbagai Sel Darah 118

BAB 6 Jaringan Otot. ..... 123


GAMBAR 6.1 Potongan Longitudinal dan Transversal Otot Rangka (Lurik): Lidah 124
GAMBAR 6.2 Otot Rangka (Lurik): Lidah (Potongan Longitudinal) 124
GAMBAR 6.3 Otot Rangka, Saraf, dan Junctio Neuromuscularis 126
GAMBAR 6.4 Otot Rangka dengan Gelendong Otot (Potongan Transversal) 128
GAMBAR 6.5 Serat Otot Rangka (Potongan Longitudinal) 129
GAMBAR 6.6 Ultrastruktur Miofibril dalam Otot Rangka 130
GAMBAR 6.7 Ultrastruktur Sarkomer, Tubulus T, dan Triad dalam Otot Rangka 130
GAMBAR 6.8 Potongan Longitudinal dan Transversal Otot Jantung 132
GAMBAR 6.9 Otot Jantung (Potongan Longitudinal) 132
GAMBAR 6.10 Otot Jantung dalam Potongan Longitudinal 134
GAMBAR 6.11 Potongan Longitudinal dan Transversal Otot Polos: Dinding Usus Halus 136
GAMBAR 6.12 Otot Polos: Dinding Usus Halus (Potongan Transversal dan Longitudinal) 136
BAB 7 Jaringan Saraf .....141
SUBBAB 1 Susunan Saraf Pusat: Otak dan Medula Spinalis 141
GAMBAR 7.1 Medula Spinalis: Daerah Mid-Torakal (Potongan Transversal) 144
GAMBAR 7.2 Medula Spinalis: Kornu Anterior Grisea, Neuron Motorik, dan Substansia Alba
Anterior yang Berdekatan 144
GAMBAR 7.3 Medula Spinalis: Daerah Mid-servikal (Potongan Transversal) 146
GAMBAR 7.4 Medula Spinalis: Kornu Anterior Grisea, Neuron Motorik, dan Substansia Alba
Anterior yang Berdekatan 148
GAMBAR 7.5 Neuron Motorik: Kornu Anterior Medula Spinalis 150
GAMBAR 7.6 Neurofibril dan Neuron Motorik di Substansia Grisea Kornu Anterior Medula
Spinalis 150
GAMBAR 7.7 Kornu Anterior Grisea Medula Spinalis: Neuron Motorik Multipolar, Akson, dan
Sel Neuroglia 152
GAMBAR 7.8 Korteks Serebri: Substansia Grisea 152
GAMBAR 7.9 Lamina V Korteks Serebri 154
GAMBAR 7.10 Serebelum (PotonganTransversal) 154
GAMBAR 7.11 Korteks Serebeli: Stratum Moleculare, Stratum Purkijense, dan Stratum
Granulosum 156
GAMBAR 7.1 2 Astrosit Fibrosa Otak 1 56
GAMBAR 7.13 OligodendrositOtak 158
GAMBAR 7.14 Mikroglia Otak 158
SUBBAB 2 Susunan Saraf TePi 165
GAMBAR 7,15 Saraf Tepi dan Pembuluh Darah (Potongan Transversal) 166
GAMBAR 7.16 Serat Saraf Bermielin (Potongan Longitudinal dan Transversal) 168
GAMBAR 7.1 7 Nervus lschiadicus (Potongan Longitudinal) 17O
GAMBAR 7.1 8 Nervus lschiadicus (Potongan Longitudinal) 17O
GAMBAR 7.19 Nervus lschiadicus (PotonganTransversal) 17O
GAMBAR 7.20 Saraf Tepi: Nodus Ranvier dan Akson 172
GAMBAR 7.21 Ganglion Sensorium Nervi Spinalis dengan Radiks Posterior dan Anterior, dan
Saraf Spinalis (Potongan Longitudinal) 172
, GAMBAR 7.22 Sel dan Neuron Unipolar Ganglion Sensorium Nervi Spinalis 174
GAMBAR 7.23 Neuron Multipolar, Sel Sekitar, dan Serat Saraf Ganglion Simpatis 174
GAMBAR 7.24 Ganglion Sensorium Nervi Spinalis: Neuron Unipolar dan Sel Sekitar 174

BAGIAN II# ORGAN 177


BAB 8 Sistem Sirkulasi . 179
GAMBAR 8.1 Berbagai Pembuluh Darah dan Limfe di Jaringan lkat 182
GAMBAR 8.2 Arteri dan Vena Muskular (Potongan Transversal) 144
GAMBAR 8.3 Arteri dan Vena dalam Jaringan lkat Duktus Deferens 184
GAMBAR 8.4 Dinding Arteri Elastik: Aorta (Potongan Transversal) 186
GAMBAR 8.5 Dinding Vena Besar: Vena Porta (Potongan Transversal) 186
GAMBAR 8.6 Jantung: Atrium Kiri, Katup Atrioventrikularis, dan Ventrikel Kiri (Potongan
Longitudinal) 188
GAMBAR 8.7 Jantung: Ventrikel Kanan, Trunkus Pulmonalis, dan Katup Pulmonal (Potongan
Longitudinal) 190
GAMBAR 8.8 Jantung: Serat Otot Jantung yang Berkontraksi dan Serat Purkinje Penghantar-
lmpuls 190
GAMBAR 8.9 Dinding Jantung: Serat Purkinje 192

BAB 9 Sistem Limfoid .'.' 199


GAMBAR 9.1 Limfonodus (Pandangan Menyeluruh) 2O2
GAMBAR 9.2 Kapsul, Korteks, dan Medula Limfonodus (Pandangan Seksional) 2O4
GAMBAR 9.3 Korteks dan Medula Limfonodus 2Oo
GAMBAR 9.4 Limfonodus: Sinus Subkortikalis dan Nodulus Limfoid 2Oo
GAMBAR 9.5 Limfonodus: Venula Altoendothelialis di Parakorteks (Korteks Dalam)
Limfonodus 2O8
GAMBAR 9.6 Limfonodus: Sinus Subkapsularis, Sinus Trabekularis, dan Serat Retikular
Penunjang 2OB
GAMBAR 9.7 Kelenjar Timus (Pandangan Menyeluruh) 21O
GAMBAR 9.8 Kelenjar Timus (Pandangan Seksional) 21O
GAMBAR 9.9 Korteks dan Medula Kelenjar Timus 212
GAMBAR 9.10 Limpa (Pandangan Menyeluruh) 21 4
GAMBAR 9.11 Limpa: Pulpa Merah dan Pulpa Putih 214
GAMBAR 9.12 Pulpa Merah dan Pulpa Putih Limpa 216
GAMBAR 9.13 Tonsila Palatina 216

BAB 10 Sistem lntegumen .......223


GAMBAR 10.1 Kulit Tipis
226
GAMBAR 10.2 Kulit Kepala 228
GAMBAR 10,3 Kulit Tipis Berambut pada Kulit Kepala: Folikel Rambut dan Struktur
Sekitar 23O
GAMBAR 10.4 Sediaan Folikel Rambut dengan Struktur Sekitar 232
GAMBAR 10.5 Kulit Tebal Telapak Tangan, Lapisan Sel Superfisial, dan Pigmen Melanin 234
GAMBAR 10.6 Kulit Tebal: Epidermis dan Lapisan Sel Superfisial 234
GAMBAR 10.7 Kulit Tebal: Epidermis, Dermis, dan Hipodermis Telapak Tangan 236
GAMBAR 10.8 Kelenjar Keringat Apokrin 236
GAMBAR 10.9 Kelenjar Keringat Ekrin 238
GAMBAR 10.10 Glomus di Dermis Kulit Tebal 24O
GAMBAR 10,1,I Corpusculum Lamellosum (Pacinian Corpuscle) di Dermis Kulit Tebal (Potongan
Transversal dan Longitudinal) 24O

BAB 11
Sistem Pencernaan: Rongga Mulut dan Kelenjar Liur ........247
GAMBAR 11.1 Bibir (Potongan Longitudinal) 249
GAMBAR 1 1.2 Bagian Anterior Lidah: Apeks (Potongan Longitudinal) 2SO
GAMBAR 1 1.3 Lidah: Papila Sirkumvalata (Potongan Melintang) 25O
GAMBAR 1 1.4 Lidah: Papila Filiformis dan Fungiformis 252
GAMBAR 11.5 Lidah: Kuncup Kecap 252
GAMBAR 11.6 Lidah Posterior: Posterior dari Papila sirkumvalata dan Dekat Tonsila Lingualis
(Potongan Longitudinal) 254
GAMBAR 11.7 Tonsila Lingualis (Potongan Transversal) 254
GAMBAR 11.8 Potongan Longitudinal Gigi Kering 256
GAMBAR 11.9 Gigi Kering: Taut Dentinoemail 258
GAMBAR 1 1.10 Gigi Kering: Sementum dan Taut Dentin 258
GAMBAR 11.11 Gigi yang Sedang Tumbuh (Potongan Longitudinal) 260
GAMBAR 1 1.12 Gigi yang Sedang Tumbuh: Taut Dentinoemail secara Rinci 260
GAMBAR 11 .13 Kelenjar Liur Parotis 264
GAMBAR 1 1 .14 Kelenjar Liur Submandibularis 266
GAMBAR 11.15 Kelenjar Liur Sublingualis 268
GAMBAR 11.16 Kelenjar Liur Serosa: Kelenjar Parotis 27O
GAMBAR 11.17 Kelenjar Liur Campuran: Kelenjar Sublingualis 27O

BAB 12 Sistem Pencernaan: Esofagus dan Lambung..... ...., 275


GAMBAR 12.1 Dinding Esofagus Bagian Atas (Potongan Transversal) 276
GAMBAR 12.2 Esofagus Bagian Atas (Potongan Transversal) 278
GAMBAR 12.3 Esofagus Bagian Bawah (Potongan Transversal) 218
GAMBAR 12.4 Esofagus Bagian Atas: Mukosa dan Submukosa (Potongan Longitudinal) 2gO
GAMBAR 12.5 Dinding Esofagus Bagian Bawah (Potongan Transversal) 282
GAMBAR 12.6 Taut Esofagus-Lambung 284
GAMBAR 12.7 Taut Esofagus-Lambung (Potongan Transversal) 284
GAMBAR 12.8 Lambung: Bagian Fundus dan Korpus (Potongan Transversal) 296
GAMBAR 12.9 Lambung: Mukosa Fundus dan Korpus (Potongan Transversal) 288
GAMBAR 12.10 Lambung: Bagian Fundus dan Korpus 29O
GAMBAR 12.11 Lambung: Daerah Permukaan Mukosa Lambung (Fundus) 292
GAMBAR 12.12 Lambung: Daerah Basal Mukosa Lambung (Fundus) 294
GAMBAR 12.13 Bagian Pilorus Lambung 296
GAMBAR 12.14 Taut Pilorus-Duodenum 298
BAB 13 Sistem Pencernaan: Usus Halus dan Usus Besar "'..303
GAMBAR 13.1 Usus Halus: Duodenum (Potongan Longitudinal) 304
GAMBAR 13.2 Usus Halus: Duodenum (Potongan Transversal) 306
GAMBAR 13.3 Usus Halus: Jejunum (Potongan Transversal) 306
GAMBAR 13.4 Kelenjar lntestinal dengan Sel Paneth dan Sel Enteroendokrin 308
GAMBAR 13.5 Usus Halus: Jejunum dengan Sel Paneth 308
GAMBAR 13.6 Usus Halus: lleum dengan Nodulus Limfoid (Peyer's patch) (Potongan
Transversal) 31 0
GAMBAR 13.7 Usus Halus: Vili 312
GAMBAR 13.8 Usus Besar: Kolon dan Mesenterium (Potongan Transversal) 314
GAMBAR 13.9 Usus Besar: Dinding Kolon (Potongan Transversal) 314
GAMBAR 13.10 Usus Besar: Dinding Kolon (Potongan Transversal) 316
GAMBAR 13.11 Apendiks (Pandangan Menyeluruh, Potongan Transversal) 318
GAMBAR 13.12 Rektum (Pandangan Menyeluruh, Potongan Transversal) 32O
GAMBAR 13.13 Taut Anorektal (Potongan Longitudinal) 32O

BAB 14 Sistem Pencernaan: Hati, Kandung Empedu, dan Pankreas .'.' .' 325
GAMBAR 14.1 Hati Babi (Pandangan Menyeluruh, Potongan Transversal) 327
GAMBAR 14.2 Hati Primata (Pandangan Menyeluruh, Potongan Transversal) 328
GAMBAR 14.3 Hati Sapi: Lobulus Hati (Potongan Transversal) 330
GAMBAR 14.4 Lobulus Hati (Pandangan Seksional, Potongan Transversal) 330
GAMBAR 14.5 Kanalikulus Biliaris di Lobulus Hati (Sediaan Asam Osmium) 330
GAMBAR 14.6 Sel Kupffer di Lobulus Hati (Sediaan Tinta lndia) 332
GAMBAR 14.7 Granula Glikogen di Sel Hati (Hepatosit) 332
GAMBAR 14.8 Serat Retikular di Lobulus Hati 332
GAMBAR 14.9 Dinding Kandung Empedu 334
GAMBAR 14.10 Pankreas (Pandangan Seksional) 336
GAMBAR 14.11 lnsula Pancreatica 338
GAMBAR 14.12 lnsula Pancreatica (Sediaan Khusus) 338
GAMBAR 14.13 Pankreas: Bagian Endokrin {lnsula Pancreatica) dan Eksokrin 340

BAB 1 5 Sistem Pernapasan ..... 345


GAMBAR 15.1 Mukosa Olfaktorius dan Konka Superior (Pandangan Menyeluruh) 346
GAMBAR 15.2 Mukosa Olfaktorius: Rincian Daerah Transisi 348
GAMBAR 15.3 Mukosa Olfaktorius dalam Hidung: Daerah Transisi 348
GAMBAR 15.4 Epiglotis (Potongan Longitudinal) 350
GAMBAR 15.5 Laring (Potongan Frontal) 352
GAMBAR 15.6 Trakea (Pandangan Menyeluruh, Potongan Transversal) 354
GAMBAR 15.7 Dinding Trakea (Pandangan Seksional) 354
GAMBAR 15.8 Paru (Pandangan Menyeluruh) 356
GAMBAR 15.9 Bronkus lntrapulmonal 358
GAMBAR 15.10 Bronkiolus Terminalis (Potongan Transversal) 358
GAMBAR 15.1 1 Bronkiolus Respiratorius, Duktus Alveolaris, dan Alveoli Paru 360
GAMBAR 15.12 Dinding Alveolus dan Sel Alveolus 360
GAMBAR 15.13 Paru: Bronkiolus Terminalis, Bronkiolus Respiratorius, dan Alveoli 362

BAB 16 Sistem Urinarius "..'."' 367


GAMBAR 16.1 Ginjal: Korteks, Medula, Piramid, dan Kaliks Minor (Pandangan Menyeluruh) 370
GAMBAR 16.2 Korteks Ginjal dan Medula Bagian Atas 372
GAMBAR 16.3 Korteks Ginjal: Aparatus Jukstaglomerular 376
GAMBAR 16.4 Ginjal: Korpuskulum Ginjal, Aparatus Jukstaglomerular. dan Tubulus
Kontortus 378
GAMBAR 16.5 Ginjal: Scanning Electron Micrograph Podosit 380
GAMBAR 16.6 Ginjal: Transmission Electron Micrograph Podosit dan Kapiler Glomerulus 380
GAMBAR 16.7 Medula Ginjal: Daerah Papilaris (Potongan Transversal) 382
GAMBAR 16.8 Medula Ginjal: Ujung Terminal Papila (Potongan Longitudinal) 382
GAMBAR 16.9 Ginjal: Duktus Daerah Medula (Potongan Longitudinal) 384
GAMBAR 16.10 Ureter (Potongan Transversal) 384
GAMBAR 16.11 Potongan Dinding Ureter (Potongan Transversal) 386
GAMBAR 16.12 Ureter (Potongan Transversal) 386
GAMBAR 16.13 Vesica Urinaria: Dinding (Potongan Transversal) 388
GAMBAR 16.14 Vesica Urinaria: Mukosa Berkontraksi (Potongan Transversal) 388
GAMBAR 16.15 Vesica Urinaria: Mukosa Teregang (potongan Transversal) 3go

BAB 17 Sistem Endokrin . 397


SUBBAB 1 Sistem Endokrin dan Hormon 397
GAMBAR 17.1 Hipofisis (Pandangan Menyeluruh, potongan Sagital) 3gg
GAMBAR 17.2 Hipofisis: lrisan Pars Distalis, Pars lntermedia, dan Pars Nervosa 4OO
GAMBAR 17.3 Hipofisis: Pars Distalis (Pandangan Seksional) 4OO
GAMBAR 17.4 Jenis Sel di Hipofisis 4O2
GAMBAR 17.5 Hipofisis: Pars Distalis, Pars lntermedia, dan pars Nervosa 4o4
SUBBAB 2
Kelenjar Tiroid, Kelenjar Paratiroid, dan Kelenjar Adrenal 4Og
GAMBAR 17.6 Kelenjar Tiroid: Anjing (Pandangan Umum) 41O
GAMBAR 17.7 Folikel Kelenjar Tiroid; Sel Folikular dan Sel parafolikular
(Pandangan Seksional) 412
GAMBAR 17.8 Kelenjar Tiroid dan Paratiroid: Anjing (pandangan seksional) 414
GAMBAR 17.9 Kelenjar Tiroid dan Paratiroid 414
GAMBAR 17.10 Kelenjar Adrenal (suprarenalis\ 416
GAMBAR 17.1 1 Kelenjar Adrenal (Suprarenalis): Korteks dan Medula 41g

BAB 18 Sistem Reproduksi Pria. ....... 42g


SUBBAB 1 Sistem Reproduksi 423
GAMBAR 18.1 Testis (Pandangan Seksional) 426
GAMBAR 18.2 Tubuli Seminiferi, Tubuli Recti, Rete Testis, dan Ductuli Efferentes 428
GAMBAR 18.3 Testis Primata: spermatogenesis di rubulus seminifer
(Potongan Transversal) 430
GAMBAR 18.4 Testis Primata: Tahap-Tahap Spermatogenesis 432
GAMBAR 18.5 Testis: Tubuli Seminiferi (Potongan TransversaD 432
GAMBAR 18.6 Ductuli Efferentes dan Tubuli Duktus Epididimis 434
GAMBAR 18.7 Tubuli Duktus Epididimis (potongan Transversal) 494
GAMBAR 18.8 Duktus (Vas) Deferens (potongan Transversal) 436
GAMBAR 18.9 Ampulla Ductus Deferentis (potongan Transversal) 436
S{".!BBAB 2 Kelenjar Reproduksi Tambahan 441
GAMBAR 18.10 Kelenjar Prostat dan Uretra pars prostatika 442
GAMBAR 18.11 Kelenjar Prostat: Asini Kelenjar dan Concretio Prostatica 444
GAMBAR 18.12 Kelenjar Prostat: Kelenjar Prostat dengan Concretio Prostatica 444
GAMBAR 18.13 Vesikula Seminalis 446
GAMBAR 18.14 Kelenjar Bulbouretra 446
GAMBAR 18.15 Penis Manusia (Potongan Transversal) 449
GAMBAR 18.16 Uretra Penis (Potongan Transversal) 449

BAB 1 9 Sistem Reproduksi Wanita ... 4b3


$Lln*'q* "1 Gambaran Sistem Reproduksi Wanita 4S3
GAMBAR 19.1 Ovarium: Berbagai Tahap Perkembangan Folikel (Pandangan Menyeluruh) 45S
GAMBAR 19.2 Ovarium: Folikel Matur dan Pembentukan Awal Korpus Luteum 458
GAMBAR 19.3 Folikel Matur dan lrisan Korpus Luteum 460
GAMBAR 19.4 Ovarium: Korteks Ovarium dan Folikel Primordial dan Primer 460
GAMBAR 19.5 Ovarium: Oosit Primer dan Dinding Folikel Matur 462
GAMBAR 19.6 Ovarium: Folikel Primordial dan primer 462
GAMBAR 19.7 Korpus Luteum (Pandangan Menyeluruh) 464
GAMBAR 19.8 Korpus Luteum: Sel reka Lutein dan Sel Lutein Granulosa 466
GAMBAR 19.9 Tuba Uterina: Ampulla dengan Ligamentum Mesosalpinx (Pandangan
Menyeluruh, Potongan Transversal) 469
GAMBAR 19.10 Tuba Uterina: Plica Mucosae 468
GAMBAR 19.11 Tuba Uterina: Epitel pelapis 47O
GAMBAR 19.12 Uterus: Fase Proliferatif (Folikularl 472
GAMBAR'l 9.13 Uterus: Fase Sekretori (Luteal) 474
GAMBAR 19.14 Dinding Uterus (Endometrium): Fase Sekretori (Luteal) 476
GAMBAR 19.15 Uterus: Fase Menstruasi 478
SUBBAB 2
Serviks, Vagina, Plasenta, dan Kelenjar Mammae 483
GAMBAR 19.1 6 Serviks, Kanalis Servikalis, dan Forniks Vagina (Potongan Longitudinal) 484
GAMBAR 19.17 Vagina (Potongan Longitudinal) 486
GAMBAR 19.18 Glikogen di Epitel Vagina Manusia 486
GAMBAR 19.19 Sitologi Eksfoliasi Vagina (Apusan Vagina) pada Berbagai Fase Reproduksi 488
GAMBAR 19.20 Vagina: Epitel Permukaan 490
GAMBAR 19.21 Plasenta Manusia (Pandangan Menyeluruh) 492
GAMBAR 19.22 Vni Korionik: Plasenta Selama Kehamilan Awal 494
GAMBAR 19.23 Vili Korionik: Plasenta Aterm 494
GAMBAR 19.24 Kelenjar Mammae yang Tidak Aktif 496
GAMBAR 19.25 Kelenjar Mammae Selama Proliferasi dan Kehamilan Awal 496
GAMBAR 19.26 Kelenjar Mammae Selama Kehamilan Akhir 498
GAMBAR 19.27 Kelenjar Mammae Selama Laktasi 498
GAMBAR 19.28 Kelenjar Mammae Masa Laktasi 500

BAB 20 Organ lndra Khusus ..., ......... 505


GAMBAR 20.1 Kelopak Mata (Potongan Sagital) 507
GAMBAR 20.2 Kelenjar Lakrimal 510
GAMBAR 20.3 Kornea (Potongan Transversal) 510
GAMBAR 20.4 Bola Mata (Potongan Sagital) 512
GAMBAR 20.5 Bola Mata Posterior: Sklera, Koroid, Papilla Optik. Saraf Optik, Retina, dan Fovea
(Pandangan Menyeluruh) 512
GAMBAR 20.6 Lapisan Koroid dan Retina (Rincian) 514
GAMBAR 20.7 Mata: Lapisan Retina dan Koroid (Rincian) 514
GAMBAR 20.8 Telinga Dalam: Koklea (Potongan Vertikal) 516
GAMBAR 20.9 Telinga Dalam: Duktus Koklearis (Skala Media) dan Organ Pendengaran Corti
516
GAMBAR 20.10 Telinga Dalam: Duktus Koklearis dan Organum Spirale 518

lndeks .... 523


Pendahuluan
lnterpretasi Sediaan Histologik
Sediaan histologik adalah irisan datar yang tipis pada jaringan atau organ yang telah difiksasi dan
diwarnai di atas kaca obyek. Potongan jaringan atau organ ini biasanya terdiri dari struktur selular, fibrosa,
dan tubular. Sel-selnya memperlihatkan bentuk, ukuran, dan lapisan yang sangat beragam. Struktur
fibrosa padat dan ditemukan di jaringan ikat, otot, dan saraf. Struktur tubular berongga dan mencer-
minkan berbagai jenis pembuluh darah, duktus, dan kelenjar tubuh.
Di jaringan dan organ sel, serat, dan saluran memiliki orientasi ruang yang acak dan merupakan
bagian struktur tiga-dimensi. Selama persiapan sediaan histologi, irisan tipis tidak memiliki kedalaman.
Selain itu, bidang irisan biasanya tidak memotong struktur-struktur ini secara tepat pada potongan
melintang. Hal ini menimbulkan variasi dalam penampakan sel, serat, dan saluran, bergantung pada
sudut bidang irisan. Akibat faktor-faktor ini, kita akan sulit membayangkan struktur tiga-dimensi yang
merupakan asal dari sediaan kaca obyek yang datar. Karena itu, visualisasi dan interpretasi yang tepat
pada sediaan ini dalam perspektif tiga-dimensinya di kaca obyek menjadi kriteria penting untuk me-
nguasai histologi. Gambar I.1 dan I.2 menggambarkan bagaimana penampakan sel dan saluran yang
berubah sesuai bidang irisan.
GAMBAR 1.1 # Bidang lrisan Suatu Benda Bulat
Untuk menggambarkan bagaimana bentuk suatu sel tiga-dimensi dapat berubah dalam suatu sediaan
histologik, perhatikan sebutir telur rebus yang dipotong dalam bidang longitudinal (memanjang) dan
transversal (melintang). Komposisi telur rebus adalah contoh sel yang baik, dengan kuning telur me-
wakili nukleus dan putih telur (biru pucat) sekitarnya mewakili sitoplasma. Kedua struktur ini dibungkus
oleh membran telur lunak dan cangkang telur yang keras (merah). Pada ujung telur yang membulat
terdapat ruang udara (biru).
Potongan melalui garis-tengah telur dalam bidang longitudinal (a) dan transversal (d) mem-
perlihatkan bentuk dan ukuran yangtepat, seperti yang terlihat dalam bidang potongan ini. Selain itu,
kedua bidang potongan memperlihatkan penampakary ukuraq dan distribusi isi telur dengan tepat.
Potongan telur yang serupa tetapi lebih ke perifer dalam bidang longitudinal (b) dan transversal
(e) akan memperlihatkan bentuk eksternal telur. Namun, karena potongan dilakukan di sebelah perifer
dari garis tengah, isi bagian dalam telur tidak terlihat dalam ukuran atau distribusi yang tepat di dalam
putih telur. Selain itu, ukuran telur tampak lebih kecil.
Bidang tangensial (c dan f) potongan mengiris atau hanya melewati bagian paling perifer telur.
Potongan-potongan ini memperlihatkan bahwa telur adalah suatu benda yang oval (c) atau bulat kecil
(f). Kuning telur tidak terlihat di kedua irisan tersebut karena tidak berada dalam bidang irisan. Akibat-
nya, potongan tangensial semacam ini tidak memberikan detail yang cukup untuk interpretasi yang tepat
mengenai ukuran telur atau isinya atau distribusinya di dalam membran internal.
Karena itu, dalam suatu sediaan histologilg bentuk dan ukuran masing-masing struktur dapat
bervariasi bergantung pada bidang irisan. Sebagian sel mungkin memperlihatkan potongan melintang
nukleus secara keseluruhan, dan nukleus tampak mencolok di sel. Sel yang lain mungkin memperlihatkan
sebagian kecil nukleus, dan sitoplasma tampak besar. Sel yang lain lagi mungkin hanya tampak berupa
sitoplasma yang jernih tanpa nukleus. Semua variasi ini disebabkan oleh perbedaan bidang irisan yang
memotong nukleus. Pemahaman atas variasi-variasi dalam morfologi sel dan saluran ini akan mening-
katkan kemampuan interpretasi sediaan histologik.

GAMBAR 1.2 * Bidang lrisan Suatu Saluran


Struktur tubular sering terlihat dalam sediaan histologik. Saluran atau tabung paling mudah dikenali jika
terpotong melintang (transversal). Namun, jika saluran terpotong dalam bidang irisan lainnya, saluran
pertama-tama harus divisualisasi sebagai struktur tiga-dimensi agar dapat dikenali sebagai saluran. Untuk
menggambarkan bagaimana suatu pembuluh darah, duktus, atau kelenjar mungkin terlihat dalam sediaan
histologik, suatu saluran berkelok dengan lapisan sel epitel selapis (tunggal) terpotong dalam bidang
longitudinal, transversal, dan oblik.
Bidang irisan longitudinal (a) yang memotong saluran di garis tengah menghasilkan struktur ber-
bentuk U. Pinggir saluran dilapisi oleh satu deretan sel kuboid (bulat) mengelilingi sebuah lumen kosong
kecuali di bagian dasar, tempat saluran mulai melengkung; di bagian ini sel tampak berlapisJapis.
Bidang irisan.transversal (d dan e) pada saluran yang sama menghasilkan struktur bulat yang
dilapisi oleh satu lapisan sel. Variasi yang terlihat dalam sitoplasma berbagai sel disebabkan oleh bidang
irisan melalui masing-masing sel, seperti dijelaskan di atas. Potongan melintang sebuah saluran yang lurus
dapatmenghasilkan satugambaran (e). Gambaranganda (d) padastrukturyangsama dapatmencerminkan
dua saluran yang berjalan sejajar satu sama lain atau sebuah saluran yang telah berbelok di dalam ruang
jaringan atau organ yang dipotong.
Bidang irisan tangensial (b) melalui saluran menghasilkan struktur solid, multiselular, dan oval
yang tidak menyerupai saluran. Penyebab hal ini adalah bahwa bidang irisan hanya memotong bagrdil
paling perifer saluran ketika saluran tersebut berbelok; lumen tidak terdapat di bidang irisan. Bidang
irisan oblik (c) melalui saluran dan sel-selnya membentuk struktur oval yang terdiri dari sebuah lumen
oval dan lapisan sel multipel di bagian tepi.
Bidang irisan transversal (f) di daerah lengkungan yang tajam dalam saluran mengiris lapisan sel
terdalam dan menghasilkan dua struktur bulat yang dihubungkan cileh lapisan sel yang solid dan multipel.
Potongan saluran ini juga mengandung lumen bulat, menunjukkan bahwa bidang irisan berjalan tegak
lurus terhadap struktur.
-"L::1::1"1,

1i....:':.'.'..':i:1
t. '
'! . :'i :", i
1. ..r..-. i
i .. .' ... i'

I
""d-41!'\
y',,....'.\
it'
!l
!l l
!. ,-'
ii! I
..'.'1.:.. ..1
'.

GAMBAR 1.1 Bidang irisan suatu benda bulat.

GAMBAR 1.2 Bidang irisan suatu saluran.


GAMBAR 1.3 ffi Tubuli Testis dalam Berbagai Bidang lrisan
Organ seperti testis dan ginjal terutama terdiri dari tubulus-tubulus yang sangat berkelok-kelok. Saat
potongan organ semacam ini dilihat pada sediaan histologilg tubulus-tubulus yang terpotong tersebut
memperlihatkan beragam bentuk karena bidang irisannya. Untuk memperlihatkan bagaimana tubulus-
tubulus yang berkelok-kelok tersebut tampak dalam sediaan histologik, sediaan testis disiapkan untuk
diperiksa. Setiap testis terdiri dari banyak tubuli seminiferi yang sangat berkelok-kelok, yang dilapisi oleh
epitel bertingkat germinal.
Bidang longitudinal (f ) melalui tubulus seminifer menghasilkan tubulus memanjang dengan
lumen yang panjang. Bidang transversal (2) melalui suatu tubulus seminifer menghasilkan tubulus
yang bulat. Demikian juga, bidang transversal melalui suatu lengkungan (3, 5) tubulus seminifer
menghasilkan dua struktur oval yang dihubungkan oleh lapisan sel yang solid. Bidang obtik (a) melalui
sebuah tubulus menghasilkan struktur oval dengan lumen oval di bagian tengah dan lapisan sel multipel
di bagian perifer. Bidang tangensial (6) suatu tubulus seminifer melewati bagian perifernya. Akibatnya,
bidang ini menghasilkan struktur solid, multiselular, dan oval yang tidak menyerupai saluran karena
lumen tidak terlihat.

Interpretasi Struktur yang Disiapkan denganJenis Pulasan yang Berbeda


Interpretasi sediaan histologik sangat dibantu oleh penggunaan berbagai pulasan, yang mewarnai ciri-
ciri khusus di berbagai sel, jaringan, dan organ. Pewarnaan yang paling sering digunakan untuk persiapan
sediaan histologik adalah hematoksilin dan eosin (U*E,). Kebanyakan gambar yang disiapkan untuk
atlas ini diambll dari sediaan yang diwarnai dengan pulasan H&E. Untuk memperlihatkan gambaran
yang lain dan lebih khas dari berbagai sel, jaringan, dan organ, digunakan pulasan lain.
Di bawah ini tercantum berbagai pewarnaan yang digunakan untuk mempersiapkan sediaan dan
karakteristik pewarnaan khusus.

Pulasan Hematoksilin dan Eosin


o Nukleus berwarna biru
o Sitoplasma berwarna merah muda atau merah
o Serat kolagen berwarna merah muda
o Otot berwarna merah muda

Pulasan Trikrom Masson


o Nukleus berwarna hitam atau hitam-biru
e Otot berwarna merah
o Kolagen dan mukus berwarna hijau atau biru
o Sitoplasma sebagian besar sel berwarna merah muda

Reaksi Perio dic Acid Sch;Jf (nes)


o Glikogen berwarna merah tua atau magenta
r Isi sel goblet di organ pencernaan dan epitel pernapasan berwarna merah magenta
o Membrana basalis dan limbus penicillatus (brush border) di tubulus ginjal berwarna positi{, atau
merah muda

Pulasan Verhoeff untuk Jaringan Elastik


o Serat elastik berwarna hitam pekat
o Nukleus berwarna abu-abu
o Struktur lainnya berwarna merah muda

Pulasan Mallory-Azan
o Jaringan ikat fibrosa, mukus, dan tulang rawan hialin berwarna biru tua
o Eritrosit berwarna merah-oranye
a Sitoplasma hati dan ginjal berwarna merah muda
a Nukleus berwarna merah

Pulasan Wright atau Giemsa


o Sitoplasma eritrosit berwarna merah muda
o Nukleus limfosit berwarna ungu tua-biru dengan sitoplasma biru pucat
o Sitoplasma monosit berwarna biru pucat dan nukleus berwarna biru sedang
r Nukleus neutrofil berwarna biru tua
r Nukleus eosinofil berwarna biru tua dan granula berwarna merah muda terang
I Nukleus basofil berwarna biru tua atau ungu, sitoplasma berwarna biru pucat, dan granula berwarna
ungu tua
r Trombosit berwarna brru nrutla

Metode Caial dan Del Rio Hortega (Metode Perak dan Emas)
r Serat bermielin dan tidak bermielin dan neurotibril berwarna biru-hrtam
o Latar belakang umumnya hampir tidak berwarna
o Astrosit berwarna hitam
o Bergantung pada metode yang digunakan, produk akhir dapat berwarna hitam, coklat, atau emas

Pulasan Asam Osmat (Osmium Tetroksida)


o Lemak umumnya berwarna hitam
r Lemak di selubung saraf bermielin berwarna hitam

:f ..1 SYi:l;ii

':'-1

1 Bidang
longitudinal

5 Bidang transversal
melalui lengkungan

3 Bidang
transversal
melalui
lengkungan

4 Bidang oblik

6 Bidang tangensial
-$nri:31!fi}gd&*9.*
n-'.rirqKri',f li:,. :rt' lr lw;d:,r#l :.{ l, :' -5 ii*B

GAMBAR 1.3 Tubuli testis dalam berbagai bidang irisan. Pulasan: hematoksilin dan eosin (potongan
plastik). X 30.
Microtubulus
n
rf
Microvilli

l\4icrofilamentLrm

Cytoplasma

Peroxysoma -

Mrtochondron
Lysosome

Apparatus
golgiensis

Reticulum
Reticulum endoplasmicum
endoplasmicum non granulosum
granulosu m

Ribosoma.

/ Tegumentum
Nucleolus nucleare Chromat num

GAMBARAN UMUM 1.1 llustrasi kcmposisi suatu sei, sitoplasma, dan organel-organel.

perifer

Cytoplasma (cairan iniraselular)

GAMBARAN UMUM 1.2 Komposisi membran sel.

B
Sel dan Sitoplasma

Pendahuluan - Mikroskop Cahaya dan Elektron


Histologi, atau anatomi mikroskopik, adalah ilmu pengetahuan visual yang berwarna. Sumber cahaya
mikroskop pada mulanya adalah sinar matahari. Pada mikroskop modern, sumber cahaya utama adalah
bola lampu listrik dengan filamen tungsten.
Dengan mikroskop cahaya yang paling sederhana, pemeriksaan sel mamalia memperlihatkan se-
buah inti dan sitoplasma, dikelilingi oleh suatu batas atau membran sel. Seiring dengan perkembangan
teknik mikroskopik, penggunaan berbagai teknik histokimia, imunositokimia, dan pewarnaan me-
nunjukkan batrwa sitoplasma berbagai. sel mengandung banyak elemen subselular yaitu organel
(organella). Meskipun banyak informasi dalam histologi awalnya diperoleh dengan memeriksa sediaan
jaringan di bawah mikroskop cahaya, kekuatan pembesaran mikroskop ini sangat terbatas. Untuk mem-
peroleh informasi tambahan diperlukan peningkatan resolusi.
Dengan dikembangkannya teknik mikroskopik elektron, resolusi yang lebih superior, dan pembe-
saran sel yang lebih kuat maka kita dapat memeriksa kandungan sitoplasma. Para ahli histologi kini
mampu menjelaskan ultrastruktur sel, membran, dan berbagai organel yang terdapat di sitoplasma
berbagai sel.

Sel
Semua makhluk hidup mengandung beragam jenis sel dengan fungsi utamanya adalah mempertahankan
homeostasis tubuh, yaitu mempertahankan lingkungan internal tubuh dalam keadaan relatif konstan.
Untuk melaksanakan tugas ini, sel-sel memiliki ciri struktural tertentu di dalam sitoplasmanya yang dapat
dijumpai di dalam semua sel. Karena itu, sel dapat digambarkan dalam bentukyang lebih umum dengan
berbagai organel sitoplasma. Namun, perlu diingat bahwa jumlah, tampilan, dan distribusi organel-
organel sitoplasma di dalam suatu sel bergantung pada jenis dan fungsi sel yang bersangkutan.

Membran Sel
Kecuali sel darah merah matang, semua sel mamalia mengandung sitoplasma (cytoplasma) dan inti
(nucleus). Selain itu, semua sel dikelilingi oleh membran plasma atau sel (plasmalemma atau mem-
brana cellularis), yang membentuk sawar etau batas yang penting antara lingkungan internal dan
eksternal. Di bagian dalam membran sel terdapat sitoplasma, suatu medium padat mirip-cairan yang
mengandung banyak organel, mikrotubulus, mikrofilamen, dan material yang tertelan atau granula
sekretorik yang terbungkus-membran. Pada kebanyakan sel, inti juga terletak di dalam sitoplasma.
Membran yang mengelilingi sel terdiri dari lapis-ganda fosfolipid, suatu lapisan rangkap molekul
fosfolipid. Di dalam dan terselip di antara lapis-ganda fosfolipid membran sel adaiah protein membran
integral dan protein membran perifer, yang membentuk hampir separuh dari seluruh massa mem-
bran. Protein integral menyatu dengan lapis-ganda lemak membran sel. Sebagian protein integral
menjangkau seluruh ketebalan membran sel. Ini adalah protein transmembran dan protein ini terpajan
di permukaan dalam dan luar membran sel. Protein perifer tidak menonjol ke dalam lapis-ganda fosfo-
lipid dan tidak terbenam di dalam membran sel. Protein ini berikatan dengan membran sel baik di
permukaan ekstraselular (luar) maupun intraselular (dalam). Sebagian protein perifer terikat dengan
kuat pada anyaman mikrofilamen (microfilamentum) halus di sitoskeleton sel. Di dalam membran
plasma juga terdapat molekul lemak kolesterol. Kolesterol menstabilkan membran sel, menyebabkan
membran sel lebih kaku, dan mengatur fluiditas lapis-ganda fosfolipid.
Di permukaan eksternal membran sel terdapat suatu lapisan sel yang halus dan tidak jelas yaitu
glikokaliks (glycocalyx), terdiri dari molekul-molekul karbohidrat yang melekat pada protein integral
membran sel dan muncul dari permukaan eksternal sel. Glikokaliks terutama terlihat dengan peme-
riksaan mikroskop elektron. Glikokaliks memiliki peran penting dalam pengenalan sel, perlekatan atau
adhesi antarsel, dan sebagai reseptor atau tempat pengikatan berbagai hormon dalam darah.

Organisasi Molekular Membran Sel


Lapis-ganda lemakmembran sel memiliki konsistensi cair, dar5 akibatnya, strukturkomposisi membran
sel ditandai sebagai model mosaik cair an (fluid mosaic model) . Molekul-molekul fosfolipid membran sel
terdistribusi membentuk dua lapisan. Uiung (kepala) polar tersusun di permukaan dalam dan luar
membran sel. Uiung (ekor) nonpolar lapis-ganda lemak berhadapan satu sama lain di bagian tengah
membran. Namun, dengan mikroskop elektrory membran sel tampak sebagai tiga lapisary terdiri dari
lapisan luar dan dalam yang padat-elektron, dan lapisan tengah yang kurang padat atau lebih terang.
Perbedaan ini disebabkan oleh asam osmat (osmium tetroksida) y"rg digunakan untuk memfiksasi dan
mewarnai jaringan untuk pemeriksaan mikroskop elektron. Asam osmat berikatan dengan ujung (ke-
pala) polar molekul lemak di membran sel dan mewarnainya dengan sangat padat. Ekor nonpolar di
bagian tengah membran tetap terang dan tidak terwarnai.

Permeabilitas Membran Sel dan Transpor Membran


Lapis-ganda fosfolipid membran sel bersifat permeabel terhadap bahan tertentu dan impermeabel
terhadap yang lain. Sifat membran sel ini disebut permeabilitas selektif. Permeabilitas selektif mem-
bentuk suatu sawar penting antara lingkungan internal dan eksternal sel sehingga mempertahankan
lingkungan intraselular tetap konstan.
Lapis-ganda fosfolipid bersifat permeabel untuk molekul-molekul seperti oksigerl karbon dioksida,
air, steroid, dan bahan kimia larut-lemak lainnya. Bahan lain, misalnya glukosa, ion, atau protein, tidak
dapat menembus membran sel dan hanya dapat melewati membran dengan bantuan mekanisme
transpor spesifik. Sebagian dari bahan ini diangkut melalui protein membran integral dengan meng-
gunakan pompa molekul atau melalui kanal protein yang memungkinkan lewatnya, molekul-molekul
tertentu. Pada proses endositosis (endocposis) terjadi pengambilan dan pemindahan molekul dan
bahan padat yang menembus membran sel ke bagian dalam sel. Sebaliknya, pengeluaran bahan dari sito-
plasma sel menembus membran sel disebut eksositosis (exocytosis).
Pinositosis (pinocytosis) adalah proses yang sel-selnya menelan molekul-molekul kecil dalam
cairan ekstraselular. Fagositosis (phagocytosis) adalah proses menelan atau masuknya partikel besar ke
dalam sel, misalnya bakteri, sel tua, atau debris sel. Endositosis yang diperantarai oleh reseptor
(endocytosis a receptore effecta) adalah bentuk pinositosis atau fagositosis yang lebih selektif. Dalam
proses ini, molekul tertentu dalam cairan ekstraselular berikatan dengan reseptor di membran sel dan
kemudian dibawa ke dalam sitoplasma sel. Reseptor-reseptor berkelompok di membran, dan membran
membentuk lekukan kecil di tempat ini untuk membentukpit yang diselubungi oleh protein membran
periferyaitu klatrin (vesicula a clathrino tecta). Pif terlepas dan membentukvesikel terbungkus-klatrin
yang masukke dalam sitoplasma. Contoh endositosis yang diperantarai oleh mediator adalah penyerapan
lipoprotein berdensitas rendah dan insulin dari darah.

Organel Sel
Setiap sitoplasma sel mengandung banyak organel, masing-masing melakukan fungsi metabolik khusus
yang esensial untukmempertahankan homeostasis dan kehidupan sel. Organel-organel sitoplasma yang
penting seperti nukleus, mitokondria, retikulum endoplasmilg kompleks Golgi (complexus golgiensis) ,
lisosom, dan peroksisom juga dikelilingi oleh selaput mirip membran sel. Organel yang tidak dibungkus
oleh membran antara lain adalah ribosom, corpusculum basale (basal body) , sen:uiol, dan sentrosom.

Mitokondria
Mitokondria (mitochondria) adalah struktur bulat, oval, atau memanjang yang variabilitas dan jum-
lahnya bergantung pada fungsi sel. Setiap mitokondria (tunggaf mitochondrion) terdiri dari membran
luar dan membran dalam. Membran dalam memperlihatkan banyak lipatan yaitu krista (cristae). Pada
sel-sel penghasil-protein, krista ini menonjol ke interior organel seperti rak (shelves). Pada sel penghasil-
steroid misalnya sel korteks adrenal atau sel interstisial testis, krista mitokondria berbentuk tubulus.

Retikulum endoplasmik
Retikulum endoplasmik (reticulum endoplasmicum) di dalam sitoplasma adalah suatu jalinan luas
kantong, vesikel, dan tubulus gepeng yang saling berhubungan yaitu sisterna (cisternae). Retikulum
endoplasmik mungkin kasar atau halus. Predominasi dan distribusi organel ini bergantung pada fungsi
sel.
Retikulum endoplasmik kasar (reticulum endoplasmicum granulosum) ditandai oleh banyak
sisterna gepeng yang saling berhubungary dengan permukaan sitoplasmanya ditutupi oleh granula-
granula gelap yang disebut ribosom. Adanya ribosom membedakan retikulum endoplasmik kasar, yang
memanjang dari selubung nukleus di sekeliling inti hingga seluruh sitoplasma. Sebaliknya, retikulum
endoplasmik halus (reticulum endoplasmicum non granulosum) tidak mengandung ribosom, dan
organel ini terutama terdiri dari tubulus-tubulus yang saling berhubungan atau membentuk anastomosis.
Pada kebanyakan sel, retikulum endoplasmik halus bersambungan dengan retikulum endoplasmik
kasar.

Aparatus Golgi
Aparatus Golgi (apparatus golgiensis) juga terdiri dari suatu sistem sisterna (cisternae) yang
terbungkus-membran, halus, gepeng, bertumpulg dan sedikit melengkung. Namurl sisterna-sisterna ini
terpisah dari sisterna retikulum endoplasmik. Pada kebanyakan sel, aparatus Golgi memiliki polaritas. Di
dekat aparatus Golgr, banyak vesikel kecil dengan protein yang baru disintesis dari retikulum endoplas-
mik dan selanjutnya pindah ke aparatus Golgi untuk pemrosesan lebih lanjut. Sisterna Golgi yang terletak
paling dekat dengan vesikel yang sedang terbentuk adalah cis facies atau konveks aparatus Golgi. Sisi
aparatus Golgi yang berlawanan adalah sisi konkaf dalam yang matur atau trans facies. Vesikel dari
retikulum endoplasmik berpindah melalui sitoplasma ke sisi cis aparatus Golgi dan keluar dari sisi trans
untuk mengangkut protein ke berbagai tempat di dalam sitoplasma sel.

Ribosom
Ribosom (ribosoma) adalah granula kecil padat-elektron yang terdapat di sitoplasma sel; ribosom tidak
dibungkus oleh membran. Pada sel tertentu, terdapat ribosom bebas dan ribosom terika! seperti yang
terlihat di dalam sisterna retikulum endoplasmik. Ribosom berperan penting dalam sintesis protein
dan paling banyak di sitoplasma sel penghasil-protein. Ribosom melakukan peran penting dalam mem-
baca atau menerjemahkan pesan genetik tersandi dari nukleus untuk urutan asam amino protein yang
kemudian disintesis oleh sel. Ribosom bebas atau tidak terikat menyintesis protein untuk digunakan di
dalam sitoplasma sel. Sebaliknya, ribosom yang melekat pada membran retikulum endoplasmik mem-
bentukprotein yang dikemas dan disimpan di dalam sel sebagai lisosom, atau dilepaskan dari sel sebagai
produk sekretorik.

Lisosom
Lisosom (lysosoma) adalah organel yang dihasilkan oleh aparatus Golgi dengan bentuk d.an ukuran yang
sangat bervariasi. Organel ini mengandung berbagai enzim hidrolisis atau digestif yaitu hidrolase asam.
Untuk mencegah lisosom mencerna sitoplasma dan isi sel, suatu membran memisahkan enzim-enzim
litik di dalam lisosom dari sitoplasma. Fungsi utama lisosom adalah pencernaan intraselular atau
fagositosis bahan-bahan yang masuk ke dalam sel. Lisosom mencerna mikroorganisme, debris sel, sel,
dan organel sel yang tua, rusak, atau berlebihan, misalnya retikulum endoplasmik kasar atau mitokondria.
Sewaktu pencernaan intraselular, membran membungkus bahan-bahan yang dicerna. Membran lisosom
kemudian menyatu dengan bahan yang ditelan, dan enzim-enzim hidrolitik dikeluarkan ke dalam vakuol
yang terbentuk. Setelah isi lisosom tercerna, debris yang tidak tercerna di dalam sitoplasma ditampung
dalamvesikelbesarterbungkus-membranyang disebut corpusculumresidual e (residualbodT). Llsosom
banyak ditemukan di sel fagositik misalnya makrofag dan sel darah putih spesifik (leukosit).

Peroksisom
Peroksisom (peroxysoma) adalah organel sel yang mirip dengan lisosom, tetapi lebih kecil. Organel ini
ditemukan pada hampir semua jenis sel. Peroksisom mengandung beberapa jenis oksidase, yaitu enzim
yang mengoksidasi berbagai bahan organik untuk membentuk hidrogen peroksida, suatu produk yang
sangat sitotoksik. Peroksisom juga mengandung enzim katalase, yang mengeliminasi hidrogen peroksida
yang berlebihan dengan menguraikannya menjadi molekul air dan oksigen. Karena penguraian hidrogen
peroksida berlangsung di dalam organel yang sama, peroksisom melindungi bagian sel lainnya dari
produk sitotoksik ini. Peroksisom banyak terdapat di sel-sel hati dan ginjal, tempat sebagian besar bahan
toksik dikeluarkan dari tubuh.

Sitoskeleton Sel
Sitoskeleton (cposkeleton) sel terdiri dari suatu jaringan filamen dan tubulus protein halus yang
meluas di seluruh sitoplasma. Struktur ini berfungsi sebagai kerangka struktural sel. Sitoskeleton sel
dibentuk oleh tiga jenis protein berfilamen yaitu mikrofilamen, filamen intermediat, dan mikrotubulus.

Mikrofilamen, Filamen lntermediat, dan Mikrotubulus


Mikrofilamen (microfilamentous) adalah struktur sitoskeleton yang paling tipis. Struktur ini terdiri
dari protein aktin dan paling banyak di bagian tepi membran sel. Protein struktural ini membentuk sel,
dan berperan dalam pergerakan sel dan pergerakan organel sitoplasma. Mikrofilamen tersebar di seluruh
sel dan digunakan sebagai jangkar pada sambungan sel. Mikrofilamen aktin juga membentuk struktur
inti mikrovili dan trama cytoskeletalis terminalis (terminal web) tepat di bawah membran plasma.
Di jaringan otot, filamen aktin mengisi sel dan berikatan dengan protein miosin untuk menimbulkan
kontraksi otot.
Filamen intermediat (filamentum intermedium) lebih tebal daripada mikrofilamen, seperti yang
diisyaratkan oleh namanya. Beberapa protein sitoskeleton yang membentuk filamen intermediat telah
berhasil diidentifikasi dan ditentukan lokasinya. Filamen intermediat bervariasi di antara jenis sel dan
memiliki distribusi spesifik sesuai jenis sel. Sel epitel mengandung filamen intermediat keratin. Di sel
kulit, filamen ini berakhir di sambungan sel, tempat frlamen menstabilkan bentuk sel dan perlekatannya
dengan sel sekitar. Filamentum vimentini banyak ditemukan di sel mesenkim. Filamentum desmini
terdapat di otot polos dan otot lurik. Protein neurofilamentum ditemukan di sel saraf dan prosesus-
prosesusnya. Gliofilamentum ditemukan di sel glia astrosit sistem saraf. Filamenturn intermedium
lamini ditemukan di lapisan dalam membran nukleus.
Mikrotubulus (microtubulus) ditemukan pada hampir semua jenis sel kecuali sel darah merah.
Struktur ini adalah elemen sitoskeleton terbesar. Mikrotubulus adalah struktur tidak bercabang yang
berongga, terdiri dari dua-subunit protein, tubulin (tubulinum) cr dan B. Semua mikrotubulus berasal
dari pusat organisasi-mikrotubulus, sentrosom (centrosoma) di sitoplasma, yang mengandung se-
pasang sentriol. Di sentrosom, subunit tubulin berpolimerisasi dan menyebar dari sentriol dengan pola
mirip bintang dari bagian tengah. Mikrotubulus menentukan bentuk sel dan berfungsi dalam pergerakan
intraselular organel dan granula sekretorik serta membentuk gelendong yang menuntun pergerakan
kromosom sewaktu sel membelah atau mitosis. Tubulus ini paling mudah dilihat dan predominan di silia
(cilia) dan flagela (flagella), yang berperan dalam gerakan memecut.
Sentrosom dan Sentriol
Sentrosom adalah suatu daerah sitoplasma yang terletak dekat dengan nukleus. Di dalam sentrosom
terdapat dua struktur silindris kecil yaitu sentriol (centriolum) dan matriks di sekitarnya; sentriol
berjalan tegak lurus satu sama lain. Setiap sentriol terdiri dari sembilan kelompok dengan jarak yang sama
dari tiga mikrotubulus yang tersusun melingkar. Mikrotubulus memiliki arah longitudinal dan sejajar satu
sama lain.
Sebelum mitosis, sentriol di sentrosom bereplikasi dan membentuk dua pasangan. Selama mitosis,
masing-masing pasangan bergerak ke kutub sel yang berlawanan, tempat pasangan ini menjadi pusat
organisasi-mikrotubulus untuk gelendong mitosis yang mengatur distribusi kromosom ke sel-sel anak.

Badan Inklusi Sitoplasma


Badan inklusi sitoplasma (inclusiones cytoplasmicae) adalah struktur temporer yang terakumulasi di
sitoplasma sel tertentu. Lemalg glikogen, kristaf pigmeq atau produk sampingan metabolisme dapat
menjadi badan inklusi dan merupakan bagian sel yang tidak hidup.

Nukleus dan Selubung Nukleus


Nukleus adalah organel sel terbesar. Kebanyakan sel memiliki satu inti, tetapi sel lainnya memiliki banyak
inti. Sel otot rangka memiliki banyak inti, sedangkan sel darah merah matang mamalia tidak memiliki
inti.
Nukleus terdiri dari kromatin (chromatinum), satu atau lebih nukleoli (tunggal, nukleolus), dan
matriks nukleus. Nukleus mengandung bahan genetik selular asam deoksiribonukleat (nNA), yang
menyandi semua struktur dan fungsi sel. Nukleus dikelilingi oleh suatu membran ganda yaitu selubung
nukleus (tegumentum nucleare). Lapisan luar dan dalam selubung nukleus memiliki struktur serupa
dengan lapis-ganda lemak membran sel. Membran luar nukleus ditempeli ribosom yang terikat pada
retikulum endoplasmik kasar. Pada jarak tertentu di sekeliling tepi nukleus, membran luar dan dalam
selubung nukleus menyatu membentukbanyakpori nukleus (porus nuclearis). Pori berfungsi mengatur
perpindahan metabolit, makromolekul, dan subunit ribosom antara nukleus dan sitoplasma.
GAMBAR 1"1 ftj F*rrnukaan Apikal ffil:iiel ffiersiiia dan Tidak ffi*r*ilra
Mikrograf elektron pembesaran-lemah memperlihatkan sel bersilia dan tidak bersilia yang tersusun
bergantian di epitel ductulus efferens testis. Silia (1) dalam sel bersilia melekat pada corpusculum
basale (basal body) (z) di apeks sel dan menjulur ke dalam lumen (7) duktus. Berbeda dengan silia,
mikrovili (S)dalam sel tidak bersilia jauh lebih pendek.
Perhatikan juga struktur-struktur padat di apeks di antara sel-sel epitel yang berdekatan. ini adalah
kompleks taut (complexus junctionalis) (3) yang menyatukan sel-sel. Masing-masing sel dipisahkan
oleh membran sel ( rO). Di sitoplasma sel ini terdapat banyak mitokondria (5) memanjang atau bentuk-
batang, beberapa sisterna yang tersusun di retikulum endoplasmik kasar (tl), banyak vesikel (4)
. terpulas-terang, dan beberapa produk sekretorik dalam bentuk vinculum sarcoplasmicum (dense body)
(0). Masing-masing sel juga mengandung nukleus ( t Z) dengan bentukberagam disertai kromatin ( l3)
inti terpulas-gelap yang tersebar mengelilingi bagian perifer nukleus.

GAMBAR 1"2 ffi K*rnpieks Taut Antara $*!-$el Hpiiel


Mikrografelektronpembesaran-kuat memperlihatkankompleks taut antara dua sel epitelyangberdekatan.
Di bagian atas atau apikal sel, membran sel yang berhadapan menyatu untuk membentuk zonula
occludens (tight junction) (Za), yang memanjang di sekitar tepi sel seperti sabuk. Di sebelah inferior
zonula occludens (2a) terdapat taut lain yaitu zonula adhaerens (Zb). Taut ini ditandai oleh lapisan
protein padat di bagian dalam membran plasma pada kedua sel, yang melekat pada filamen sitoskeleton
masing-masing sel. Suatu ruang interselular kecil dengan protein-protein adhesi transmembran
memisahkan kedua membran.Jenis taut ini juga memanjang di sekitar sel seperti sabuk. Di bawah zonula
adheren yaitu desmosom (desmosoma) (zc). Desmosom (2c) tidak mengelilingi sel, tetapi merupakan
struktur berbintik yang terdistribusi acak di dalam sel. Sitoplasma masing-masing desmosom
memperlihatkan bagian padat yang terdiri dari protein-protein yang melekat. Glikoprotein transmembran
memanjang ke dalam ruang interselular di antara membran sel desmosom yang berhadapan dan
melekatkan sel ke sel lainnya.
Perhatikan juga di dalam mikrograf membran sel (3) masing-masing sel, banyak mitokondria (1)
dalam potongan melintang, dan berbagai struktur vesikular (0) di dalam sitoplasmanya. Terlihat di
apeks sel yaitu potongan silia (5) dengan inti mikrotubulus dan beberapa mikrovili (4).

Kompleks taut memiliki beragam fungsi, bergantung pada morfologi atau bentuknya. Pada epitel
yang melapisi lambung, usus, dan kandung kemih, zonula occludens (tight junction) mencegah
masuknya zat kimiawi korosif atau produk sisa di antara sel dan ke dalam aliran darah. Dengan
cara ini, sel membentuk suatu sawar epitel. Zonula occludens terdiri dari protein transmembran
yang menyatukan membran luar sel-sel yang berdekatan. Demikian juga, zonula adherens
mencegah pemisahan sel, yang melekatkan protein transmembran pada protein sitoskeleton dan
mengikat sel yang berdekatan. Desmosom (desmosoma) adalah struktur berbintik (spotlike) yang
paling sering ditemukan di epitel kulit dan serat otot jantung. Di sini, sel-sel mendapat stres
mekanis yang besar. Di organ-organ ini, desmosom mencegah sel-sel kulitterpisah satu sama lain
dan sel-sel otot jantung robek sewaktu kontraksijantung. Desmosom mem iliki protein transmembran
yang memanjang ke dalam ruang interselular di antara membran sel yang berdekatan untuk

Kompleks taut lainnya adalah hemidesn rosom (hemi desmosoma)dan nexus (gap junction).
Hemidesmosom adalah separuh desmosom dan terdapat di dasar sel epitel. Di sini, hemidesmosom
melekatkan sel epitel pada membrana basalis dan jaringan ikat di sekitar. Membrana basalis tercliri
dari lamina basalis dan serat retikular jaringan ikat (lihat Cambar 1.3).
Nexus juga merupakan struktur berbintik (spot/ike). Membran plasma di nexus terletak sdngdt
berdekatan, dln kanai cairan yang kecil yailu konekson (connexona) menghubungkan sel-sel yang
berdekatan. Kanal cairan ini penting untuk komunikasi antarsel yang sangat cepat, khususnya sel
otot jantung elan selsaraf, tempal,tr:aiismisi im$uls ying'ceijat:metitri sel atau akson agar leriadi

ir
7 Lumen

-rF 8 Mikrovili
iti, '11
i: "ft 9 Corpusculum basale
2 Corpusculum basale
(basal body)
(basal body) ;##h; 10 Membran sel
3 Kompleks taut

4 Vesikel

5 Mitokondria
11 Retikulum
endoplasmik kasar

6 Vinculum
sarcoplasmicum
(dense body)

12 Nukleus

13 Kromatin
r 1"'ri"Hiltl,ffi$#rH,{ltrll:a'ffiEiE r",l' ;1"i

GAMBAR 1.1 Permukaan apikal epitel bersilia dan tidak bersilia.'10.600 x

4 Mikrovili

5 Silia dengan
mikrotubulus

1 Mitokondria

2 Kompleks t?ut
a. Zonula occludens
b. Zonula adhaerens
c. Desmosom
+'
6 Vesikel

, ,.ift ri

3 Membran sel

GAMBAR 1.2 Kompleks taut antara sel-sel epitel, 31.200 x


GAMBAR 1.3 ffi Regio *as*i Sel Hpitei
Mikrograf elektron pembesaran-sedang memperlihatkan gambaran regio basal atau dasar sel epitel.
Perhatikan bahwa regio basal sel melekat pada lapisan tipis agak padat-elektron yang tipis yaitu lamina
basalis (:).;auh di dalam lamina basalis (3) yaitu lapisan iaringan ikat (2) serat-serat retikular halus.
Lamina basalis (3) hanya terlihat dengan mikroskop elektron. Lamina basalis (3) dan serat retikular
jaringan ikat (2) dilihat di bawah mikroskop cahaya sebagai membrana basalis.
Di sebelah inferior sel epitel terdapat fibroblas (fibroblastus) (4) bentuk-gelendong yang me-
manjang dengan nukleus (+) dan sebaran kromatin (S), dlkelilingi oleh banyak serat jaringan ikat (2)
yang dibentuk oleh libroblas. Di sitoplasma salah satu sel epitel juga terlihat nukleus (8), sebaran
kromatin (l), dan nukleolus (7) bulat yang padat. Sisterna retikulum endoplasmikkasar (tt),
mitokondria (f +) yang memanjangr dan berbagai jenis vinculum sarcoplasmicum (dense body) (6)
terlihat di berbagai sel. Di antara masing-masing sel epitel terdapat membran sel ( f , f O). Uemidesmosom
tidak terlihat (lihat Gambar 1.4), tetapi melekatkan membrana basalis sel pada lamina basalis (3).

GAMBAR 1.4 ffi Regic Basal $*l Pengangkut-lon


Mikrograf elektron pembesaran-sedang memperlihatkan regio basal sel dari tubulus kontortus distal
ginjal. Berbeda dari regio basal sel epitel, regio basal sel tubulus kontortus distal ditandai oleh banyak
pelipatan (infoldings) membran sel basal (S) ya"g kompleks. Lipatan ini kemudian membentuk
banyak interdigitasi membrana basalis ( f f ) dengan lipatan serupa sei-sel yang bersebelahan. Di antara
lipatan membran sel terdapat banyak mitokondria (+, f O) panjang dengan orientasi vertikal atau apikal-
basal. Juga ditemukan banyak hemidesmosom (6, 12) terpulas-gelap yang melekatkan membran sel
basal pada lamina basalis (2, r:) padat-elektron.
Suatu potongan nukleus (l) besar tampak dengan sebaran kromatin (l). Selubung nukleus (2),
terdiri dari membran ganda, menyelubungi nukleus. Membran dalam dan luar selubung nuldeus (2)
menyatu pada jarak tertentu di sekeliling tepi nukleus untuk membentuk banyak pori nukleus (3).

Pelipatan (infolding) membran sel basal dan lateral yang dafam hanva terlihat dengan mikrosko-p
elektron. Lipatan ini dijumpai di sel-sel tubuh tertentu, dengan fungsi utamanya adalah mengangkut
ion menembus membran sel. Sel-sel di tubulus gin.ial (tubulus kontortus proksimal dan,tubulus
kontortus distal) secara selektif mengabsorpsi komponen yang bernutrisi atau berguna dari filtrat
glomerulus dan menyimpannya di dalam tubuh. Pada saat yang sama, sel ini membuang produk
sisa metabolik yang tidak berguna atau toksik misalnya urea dan metabolit obat.
Karena sel.sel ini mengangkut banyak ion menembus membrannll4 sel*el ini memerlukan
banyak energi, yang dihasilkan oleh pompa Na*/K* ATPase yang terikat pada memb'ran sel basal
dan lateral yang berlipat. Untuk melakukan fungsi vital ini, banyak energi kimia diperlukan.
Banyak mitokondria yang terletak di lipatan basal secara terus rnenerus memasok sel dengan
sumber energi (ATP) yang menggerakkan pompa ini untuk transpor membran. Lipatan membran
sel basalyang serupa juga ditemukan diductus striatus glandulae salivarie. Kelenjar ini menghasilkan
air liur, yang kemudian dimodifikasi oleh transpor selektif berbagai ion menembus membran sel
sewaktu air Iiur mengalir mele,,r,,ati duktus ini r-nenuju duktus ekskretor:ius yang lebih besar.
6 Vinculum
sarcoplasmicum
1 Membran sel (dense body)

7 Nukleolus

2 Serat 8 Nukleus
jaringan ikat

9 Kromatin inti

3 Lamina basalis '10 Membran sel

11 Sisterna
4 Nukleus retikulum
fibroblas endoplasmik

5 Kromatim 12 Lamina basalis


nuklear
13 Seratjaringan ikat

14 Mitokondra

GAMBAR 1.3

.r! ,n,i'J"'+i!l
8 Nukleolus

1 Nukleus

2 Selubung nukleus
9 Kromatin inti

3 Pori nukleus
10 Mitokondria

4 Mitokondria
11 lnterdigitasi
membrana basalis
5 Pelipatan
membrana basalis
12 Hemidesmosom
6 Hemidesmosom

7 Lamina basalis '13 Lamina basalis

GAMBAR 1.4 Regio basal sel pengangkut-ion. 16.600 x


GAMBAR 1,5 ffi Silia dan Mikrovili
Mikrograf elektron pembesaran-kuat ini memperlihatkan perbedaan ultrastruktur antara silia (tunggal,
silium) dan mikrovili (tunggal, mikrovilus). Baik silia (t) maupun mikrovili (2) menonjol dari per-
mukaan apikal sel-sel tertentu di tubuh. Silia (1) adalah struktur motil yang panjang dengan bagian
tengah terdiri dari banyak mikrotubulus (3) ya"g tersusun rapi dalam orientasi longitudinal. Bagian
tengah setiap silium mengandung sembilan pasangan mikrotubulus yang terletak di tepi dan dua
mikrotubulus tunggal di tengah. Setiap siliurn melekat dan memanjang dari corpusculum basale (basal
body) (+) di regio apikal sel. Corpusculum basale tidak memperlihatkan sembilan pasangan mikrotu-
bulus, tetapi sembilan triplet mikrotubulus tanpa mikrotubulus di tengah.
Berbeda dari silia, mikrovili (2) adalah tonjolan mirip-jari yang lebih kecil, lebih pendek, dan
tersusun rapat yang menambah luas permukaan sel tertentu. Mikrovili (2) adalah struktur nonmotil dan
memiliki inti mikrofilamen yang tipis yaitu aktin. Filamen aktin (filamentum actini) terbentang dari
mikrovili (2) ke dalam sitoplasma apikal sel untuk membentuk trama cytoskeletalis terminalis (terminal
web), jaringan filamen aktin yang kompleks.

GAMBAR 1.6 ffi $elubung Nukleus dan Pori Nukleus


Mikrograf elektron pembesaran-kuat memperlihatkan bagian detail nukleus (S) dan membran yang
mengelilingi, selubung nukleus (3), yang terdiri dari membran inti luar (membrana nuclearis exter-
na) (Sa) dan membran inti dalam (membrana nuclearis interna) (eU). Oi antara kedua membran inti
(ea, ab) adalah suatu ruangan. Membran inti luar (Sa) berhubungan dengan sitoplasma sel (4),
sedangkan membran inti dalam (3b) berhubungan dengan kromatin inti (7). Selubung nukleus ber-
sambungan dengan retikulum endoplasmik kasar (t), dan membran inti luar (3a) biasanya mengan-
dung ribosom. Pada jarak tertentu di sekeliling nukleus, kedua membran selubung nukleus (3) menyatu
dan membentuk banyak pori nukleus (2, e).
i' ., ;!i
2 Mikrovili dengan
mikrofilamen

3 Mikrotubulus
dalam silia

4 Corpusculum
basale (badan
basal)

GAMBAR 1.5 Silia dan Mikrovili. 20.000 x

4 Sitoplasma

5 Vesikel

6 Pori nukleus
::+.ffi
=-.=-,=

2 Pori nukleus

7 Kromatin inti

8 Nukleus

GAMBAR 1.6 Selubung nukleus dan pori nukleus. 110.000 x


GAMBAR 't.7 ffi f,rlitokandr.ia
Mikrograf elektron pembesaran-kuat memperlihatkan ultrastruktur mitokondria (1, 4) dalam po-
tongan memaniang (f ) dan potongan melintang (4). Perhatlkan bahwa mitokondria (t, +) luga
memiliki dua membran. Membran luar mitokondria (membrana mitochondrialis externa) (5, 9)
halus dan mengelilingi keseluruhan organel. Membran dalam mitokondria (membrana mitochondrialis
interna) berlipatJipat, mengelilingi matriks mitokondria, dan menonjol ke dalam organel untuk mem-
bentuk banyak krista (6) seperti rak. Sebagian matriks mitokondria mengandung granula-granula yang
berlarna gelap. Juga terlihat di sitoplasma (S) sel yaitu vakuol (Z) terpulas-terang dengan berbagai
ukuran, potongan retikulum endoplasmik kasar (z), dan ribosom (3) bebas. Jenis mitokondria ini
dengan krista (6) seperti rak biasanya ditemukan di sel otot dan sel penghasil-protein.

Silia
Silia adalah modifikasi permukaan sel yang sangat motil pada sel yang melapisi organ pernapasan,
tuba uterina, dan duktus eferen di testis. Silia masuk ke dalam corpusculum basale (basal body).
Fungsi utama silia adalah menyapu atau menggerakkan cairan, sel, atau partikel di permukaan sel.
Di paru-paru, silia membersihkan saluran napas dari partikel atau inukus. Di tuba uterina, silia
menggerakkan sel telur dan sperma di sepanjang saluran, dan di testis, silia menggerakkan sperma
matang menuju epididimis.
Motilitas yang diperlihatkan oleh silia disebabkan oleh pergeseran pasangan mikrotubulus
yang berdekatan di bagian tengah silia. Masing-masing dari sembilan pasangan di silia terdiri dari
dua jenis serat yaitu A dan B. Dua filamen mirip-jari yang menjulur dari serat A, mengandung
protein motorik dinein, yang memperlihatkan aktivitas ATPase. Protein ini menggunakan energi
dari hidrolisis ATP untuk menggerakkan silia. Penjuluran dinein dari satu pasangan yang berikatan
dengan serat B dari pasangan yang berdekatan, menimbulkan pergeseran diantara pasangan dan
menyebabkan pergerakan si lia.

Mikrovili
Berbeda dari silia, mikrovili adalah struktur nonmotil. Mikrovili sangat berkembang di permukaan
apikal selepitel usus halus dan ginjal. Disini, fungsi utama mikroviliadalah mengabsorpsi nutrien
dari saluran pencernaan usus halus atau filtrat glomerulus di ginjal.
Nukleus, Nukleolus, dan Pori Nukleus
Nukleus adalah pusat kontrol sel; nukleus menyimpan dan memroses sebagian besar informasi
genetik sel. Nukleus mengatur seluruh aktivitas sel melalui proses sintesis protein dan akhirnya
mengontrol karakteristik struktural dan fungsional masing-masing sel. Bahan genetik sel, asam
deoksiribonukleat (DNA), terlihat di dalam sel dalam bentuk kromatin. Ketika sel sedang tidak
aktif menghasilkan protein, DNA tidak padat dan tidak terwarnai.
Nukleolus adalah struktur tidak terbungkus-membran yang terpulas-gelap di dalam nukleus.
Di suatu sel mungkin terlihat satu atau lebih nukleolus. Fungsi nukleolus adalah dalam sintesis,
pemrosesan, dan pembentukan ribosom. Di nukleoli, asam ribonukleat (RNA) ribosom dihasilkan
dan,berikatan dengan protein untuk membentuk subunit ribosom. Subunit ribosom ini kemudian
diangkut ke sitoplasma sel melalui pori nukleus untuk membentuk ribosom. Karena itu, nukleoli
tampak jelas di sel-sel yang menyintesis banyak protein.
Pori nukleus mengatur transpor makromolekul masuk dan keluar nukleus. Membran pori
nukleus, seperti membran sel Iainnya, memperlihatkan permeabilitas selektif. Karena itu, sebagian
molekul yang lebih besar melewati pori melalui mekanisme transpor aktif.
Mitokondria
Organel ini menghasilkan sebagian besar molekul berenergi-tinggi adenosin trifosfat (ATP)yang
terdapat di sel sehingga dianggap sebagai sumber tenaga sel. Banyaknya krista di mitokondria
menambah luas permukaan membran dalam. Krista mengandung sebagian besar enzim rantai
pernapasan misalnya ATP sintetase, yang berperan dalam respirasi sel (fosforilasi oksidatifl dan
pembentukan ATP. Krista dikelilingi oleh matriks mitokondria (matrix mitochondrialis) amorf.
Matriks mengandung enzim; ribosom, dan suatu molekul DNA sirkular kecil yaitu DNA
mitokondr,ia
Sel+el )1ang sangat aktif melakukan metabolisme, misalnya otot rangka dan otot jantung,
mengandung banyak mitokondria. Sel-sel ini membutuhkan dan menggunakan ATP dalam jumlah
besai. Di'sel-sel berenergi-tinggi ini, mitokondria juga memiliki lebih banyak krista, sedangkan di
sel dengan metabolisme energi-rendah, jumlah mitokondria lebih sedikit dengan krista yang
kurang berkembang

5 Membran luar
1 Mitokondria mitokondria
(potongan memanjang)

6 Krista

ffiFry .; liiitr Tl'


2 Retikulum ;;i', "':4 !':i
1 7 Vakuol
endoplasmik kasar "11 ".. .1
s..d." ,._W{il B
,16Hi

'r! .:+
3 Ribosom bebas ,iil+ ' r
8 Sitoplasma

4 Mitokondria
9 Membran luar
(potongan melintang)
mitokondria

GAMBAR 1.7 Mitokondria (potongan longitudinal dan melintang).49.500 x


GAMBAR 1.8 ffi Retikulum Endoplasmik Kasar
Mikrograf elektron pembesaran-kuat memperlihatkan komponen retikulum endoplasmik kasar (3)
dalam sitoplasma sel. Struktur ini terdiri dari tumpukan lapisan rongga membranosa yaitu sisterna (3).
Di retikulum endoplasmik kasar, ribosom melekat pada permukaan luar membran. Di sitoplasma juga
terdapat ribosom bebas (4, l3), yang melekat pada ribosom lainnya dan membentuk kelompok ribo-
som yaitu poliribosom (+, f a). Di sitoplasma juga ditemukan banyak mitokondria (2, tO), dalam po-
tongan memaniang (f O) dan melintang (2), granula sekretorik padat (S), dan untaian yang sangat
tipismikrofilamen(S,ff).Disudutkananbawahmikrografterlihatsisternahalusdanvesikelaparatus
Gotgi (r+). Perhatikan membran sel (1, 9) sel yang berdekatan, selubung nukleus (6), dan bagian
nukleus (z) dankromatin (rz) mti.

GAMBAR 1.9 ffi Retikulum Endoplasmik Halus


Mikrograf elektron pembesaran-kuat ini memperlihatkan struktur retikulum endoplasmik halus (2)
pada dua sel yang berdekatan. Retikulum endoplasmik halus (2) tidak mengandung ribosom dan
terutama terdiri dari tubulus-tubulus halus yang saling berhubungan. Pada mikrograf ini, tubulus
retikulum endoplasmik halus (2) terutama terlihat pada potongan melintang. Pada potongan lainnya,
retikulum endoplasmik halus (2) dapat terlihat sebagai vesikel gepeng. Di beberapa sel, retikulum
endoplasmik halus bersambungan dengan sisterna retikulum endoplasmik kasar (7), seperti yang
terlihat dalam mikrograf ini.
Di mikrograf juga terlihat membran sel (6, f 1) kedua sel, interdigitasi membran sel (10), dan
matriks ekstraselular (l) di antara kedua membran sel. Potongan nukleus (+, S), selubung nukleus
(8), kromatin inti (a), da.t mitokondria (1) dalam potongan melintang juga terlihat di kedua sel.
Mitokondria ( 1) dalam sel-sel ini mengandung krista tubular, menunjukkan bahwa sel-sel ini menyintesis
produk selain protein.
8 Granula
sekretorik padat
flry{ffi#'Nr;;
I l\,4embran sel
1 Membran sel
ee, # i,
'10 l\,4itokondria
2 l\,4ilokondria !* i*Pifl
r,i

[,**'.'g (potongan memanjang)


T;
.rl flt, ,'
3 Sisterna retikulum ;.dfl,- 11 Mikrofilamen

12 Kromatin inti

5 Mikrofilamen
'13 Ribosom bebas

14 Aparatus Golgi
6 Selubung nukleus

7 Nukleus

GAMBAR 1.8 Retikulum endoplasmik kasar. 32.OOO x

5 Nukleus

1 Mitokondria
6 Membran sel

2 Tubulus retikulum 7 Sisterna retikulum


endoplasmik halus endoplasmik kasar

d4 8 Selubung nukleus
J ".
".,I

9 Matriks ekstraselular
r-i
t: 10 Interdigitasi
3 Kromatin inti membran sel

11 Membran sel

GAMBAR 1.9 Retikulum endoplasmik halus. 11.500 x


GAMBAR 1"10 [41

Mikrograf elektron pembesaran-kuat memperlihatkan komponen aparatus Golgi (z). Aparatus ini
terdiri dari sisterna Golgi (2) terbungkus-membran dengan banyak vesikel Golgi (vesicula golgien-
sis) ( t ) membranosa yang terletak dekat dengan ujung sisterna. Aparatus Golgi (2) biasanya memper-
Iihatkan bentuk bulan sabit. Sisi konveksnya disebut cls facies (a), dan sebaliknya, sisi konkaf, disebut
trans facies (9) aparatus Golgi (2). Mikrograf ini menggambarkan aparatus Golgi (z) di tubulus semi-
nifer testis, tempat spermatid mengalami perubahan menjadi sperma. Pada tahap transformasi ini,
aparatus Golgi (2) membungkus dan memadatkan produk sekretorik ke dalam granula akrosom (gra-
nulumacrosomaticum) (7) padat-elektron. Granulaakrosom (7) terletakdivesikelakrosom (vesicula
acrosomaticum) (S) yang melekat pada selubung nukleus (f ) di kutub anterior spermatid. Di sudut
kiri mikrograf, perhatikan sebuah sisterna pendek retikulum endoplasmik granular (kasar) (+) du"
beberapa ribosom bebas (5) di dalam sitoplasma (tt) spermatid. Membran sel (f0) mengelilingi
sel.

Retikulum Endoplasmik Kasar


Sel-sel yang menyintesis banyak protein untuk dikeluarkan, misalnya sel asinar pankreas atau sel
keleniar liur, memiliki banyak retikulum endoplasmik kasar yang sangat berkembang dengan
banyak tumpukan sisterna gepeng. Karena itu, fungsi utama retikulum endoplasmik kasar adalah
sintesis protein. Protein yang akan dipindahkan atau diangkut ke luar sel atau dikemas dalam
organel seperti lisosom disintesis oleh ribosom yang melekat pada permukaan retikulum
endoplasmik kasar. Selain itu, protein memtrran integral dan molekul fosfolipid disintesis oleh
retikulum endoplasmik kasar dan disisipkan ke dalam membran sel. Sebaliknya, protein untuk
sitoplasma, nukleus, dan mitokondria disintesis oleh ribosom bebas yang terletak di dalam
sitoplasma sel.
Retikulum Endoplasmik Halus
Meskipun retikulum endoplasmik halus bersambungan dengan retikulum endoplasmik kasar,
membrannya tidak memiliki ribosom, dan, oieh karena itu, fungsinya sama sekali berbeda dan
tidak berkaitan dengan sintesis prgtein. Retikulum endoplasmik halus banyak ditemukan di sel
yang menyintesis fosfolipid, kolesterol, dan hormon steroid, misalnya estrogen, testosteron, dan
kortikosteroid. Jika sel hati terpajan pada obat dan zat kimiawi yang berpotensi membahayakan,
retikulum endoplasmik halus berproliferasi dan menginaktifkan atau mendetoksifikasi zat kimiawi
tersebut. Serat otot rangka dan jantung juga memiliki banyak jaringan retikulum endoplasmik
halus untuk penyimpanan kalsium di antara kontraksi dan kalsium dilepaskan untuk memulai

Aparatus Golgi
Aparatus Colgi terdapat di hampir semua sel. Ukuran dan perkembangannya bervariasi, ber-
gantung pada fungsi sel; namun, aparatus golgi merupakan sel sekretori yang sangat berkembang.
Kebanyakan protein yang disintesis oleh sisterna retikulum endoplasmik kaiar diangkut di dalam
sitoplasma sel ke cis facies aparatus Colgi, yang berhadapan dengan retikulum endoplasmik kasar.
Di dalam sisterna Colgi terdapat berbagai jenis enzim yang memodifikasi, memilah, dan mengemas
protein untuk tujuan yang berbeda-beda di dalam sel. Sewaktu molekul protein bergerak melalui
berbagai sisterna Golgi, gula ditambahkan ke dalam protein dan lemak untuk membentuk
glikoprotein dan glikolipid. Protein juga ditambahkan ke dalam lemak untuk membentuk
lipoprotein. Sewaktu molekul sekretorik mendekati pintu keluar atau trans facies sisterna Colgi,
molekul ini mengalami modifikasi, pemilahan, dan pengemasan lebih lanjut sebagai vesikel
terbungkus-membran, yang kemudian terlepas dari sisterna Colgi. Sebagian vesikel sekretorik
menjadi lisosom. Yang lainnya bermigrasi ke membran sel dan menyatu dengan membran sel itu
sendiri, sehingga ikut membentuk protein dan fosfolipid membran. Cranula sekretorik lainnya
menjadi vesikel yang terisi oleh produk sekretorik untuk diangkut keluar sel.
1 Vesikel Golgi 6 Selubung nukleus
spermatid

#r*ffi
Mp,* i*

7 Granula akrosom
2 Sisterna
aparatus Golgi

8 Vesikel akrosom
3 Crs facies
aparatus Golgi

9 Irans faiies
4 Sisterna retikulum aparatus Golgi
endoplasmik kasar
10 Membran sel
5 Ribosom O"O^r4 r{' 11 Sitoplasma sel
'ilif
:1.1i4s1.

GAMBAR 1.10 Aparatus Golgi. 23.000 x


BAB 1 Ringkasan
Sel dan Sitoplasma
o Sel mempertahankan homeostasis tubuh
o Ciri struktural tertentu yang terdapat di semua sel

Membran Sel
o Terdiri dari lapis-ganda fosfolipid dan protein membran integral (transmembran)
o Protein membran perifer terletak di permukaan luar dan dalam sel
o Protein perifer melekat pada mikrofilamen sitoskeleton
o Molekul kolesterol dalam membran sel menstabilkan membran sel
e Glikokaliks karbohidrat melapisi permukaan sel
r Glikokaliks penting untuk pengenalan sel, adhesi sel, dan tempat pengikatan reseptor

Organisasi Molekular Membran Sel


o Lapis-ganda lemakberada dalam keadaan cair (model mosaik cairan)
o Fosfolipid terdistribusi dalam dua lapisan dengan ujung (kepala) polar di permukaan dalam dan luar
o Ekor nonpolar berada di tengah membran

Permeabilitas dan Transpor Memhran Sel


o Membran sel memperlihatkan permeabilitas selektif dan membentuk sawar antara lingkungan
eksternal dan internal sel
o Permeabel terhadap oksigen, karbon dioksida, air, steroid, dan bahan kimia larut-lemak
o Molekul yang lebih besar masuk ke dalam sel melalui mekanisme transpor khusus
o Endositosis adalahpenelananbahan ekstraselularke dalam sel
o Eksositosis adalah pengeluaran bahan dari sel
o Pinositosis adalah penelanan cairan ekstraselular
o Fagositosis adalah pengambilan partikel padat, besar
o Endositosis yang diperantarai oleh reseptor adalah pinositosis atau fagositosis melalui reseptor di
membran sel dan pembentukan plfs terbungkus-klatrin
r Penyerapan lipoprotein berdensitas rendah dan insulin adalah contoh endositosis yang diperantarai
oleh reseptor

Organel Sel
Mitokondria
o Dikelilingi oleh membran sel
o IGista mirip-rak di dalam sel penghasil-protein dan krista tubular di dalam sel penghasil-steroid
o Terdapat di semua sel, terutama banyak dijumpai pada sel yang tingkat metabolismenya tinggi
o MenghasilkanmolekulATP berenergitinggi
o Krista mengandung enzim rantai pernapasan untuk pembentukan AIP
o Matriks mengandung enzim, ribosom, dan DNA sirkular mitokondria

Retikulum Endoplasmik Kasar


o Memiliki sisterna yang saling berhubungan dengan ribosom
o Sel penghasil-protein yang sangat berkembang
o Sintesis protein untuk dikeluarkan atau untuk lisosom
o Sintesis protein membran integral dan fosfolipid

26
Retikulum Endoplasmik Halus
o Tidak mengandung ribosom dan terdiri dari tubulus-tubulus yang saling berhubungan
o Ditemukan dalam sel yang menyintesis fosfolipid, kolesterol, dan hormon steroid
o Di se1 hati, berproliferasi untuk menginaktifkan atau mendetoksifikasi zat kimiawi yang mem-
bahayakan
o Di serat otot rangka dan jantungr menyimpan kalsium di antara kontraksi

Aparatus Golgi
r Terdapat di semua sel, sel sekretori yang sangat berkembang
o Terdiri dari tumpukan sisterna yang melengkung dengan sisi konveks sebagai cis facies
o Sisi konkafyang matur adalah trans facies
o Enzim sisterna memodifikasi, memilah, dan mengemas protein
o Menambahkan gula ke dalam protein dan lemak untuk membentuk glikoprotein, glikolipid, dan
lipoprotein
o Granula sekretorik dimodifikasi, dipilah, dan dikemas dalam membran untuk diangkut ke luar sel
atau untuk lisosom

Ribosom
o Berada dalam keadaan bebas dan terikat (di retikulum endoplasmik)
o Paling banyak di dalam sel penghasil-protein
o Menyandikan pesan genetik dari nukleus untuk urutan asam amino dalam sintesis protein
r Ribosom bebas menyintesis protein untuk digunakan oleh sel
o Ribosom terikat menyintesis protein yang dikemas untuk diangkut atau disimpan di sel sebagai
lisosom

Lisosom
r Terisi oleh enzim hidrolisis atau digestif
o Terpisah dari sitoplasma oleh membran
o Berfungsi dalam pencernaan intraselular atau fagositosis
o Mencerna mikroorganisme, debris sel, sel tua, atau organel sel
r Corpusculum residuale (r esidual b o dy) terllhat setelah fagositosis
o Sangat banyak pada sel fagosit dan sel darah putih tertentu

Peroksisom
r Mengandung oksidase yang membentuk hidrogen peroksida sitotoksik
. Mengandung enzim katalase untuk mengeluarkan ketrebihan hidrogen peroksida
o Banyak di sel hati dan ginjal, yang mengeluarkan sebagian besar bahan toksik

Sitoskeleton Sel
Mikrofilamen
o Mikrofilamen paling tipis di sitoskeleton
o Terdiri dari protein aktin
o Tersebar di seluruh sel dan digunakan sebagai jangkar pada sambungan sel
o Membentuk inti mikrovili dan trama cytoskeletalis terminalis (terminal web) dr apeks sel

Filamen lntermediat
o Lebih tebal daripada mikrofilamen
o Sel epitel mengandung filamen keratin
o Filamentum vimentini ditemukan di sel mesenkim
o Filamentum desmini ditemukan di otot polos dan rangka
o Gliofilamentum ditemukan di sel astrosit sistem saraf
o Filamentum lamini ditemukan di membran nukleus

Mikrotubulus
o Filamen terbesar di sitoskeleton
o Terdiri dari tubulin cr dan p
o Berasal dari sentrosom
o Paling banyak ditemukan di silia dan flagela

Sentrosom dan Sentriol


o Sentrosom terletak dekat nukleus; mengandung dua sentriol
o Sentriol tegak lurus satu sama lain; mengandung sembilan kelompok yang masing-masing terdiri dari
tiga mikrotubulus
o Sebelum mitosis, sentriol bereplikasi
o Selama mitosis, sentriol membentuk gelendong mitosis

Badan lnklusl Sitoplasma


o Struktur temporer misalnya lemalg glikogen, kristal, dan pigmen

Nukleus dan Selubung Nukleus


o Nukleus mengandung kromatiry nukleoli, matriks nukleus, dan DNA selular
o Nukleus dikelilingi oleh membran ganda yaitu selubung nukleus
o Membran luar selubung nukleus mengandung ribosom
o Pori nukleus terdapat di selubung nukleus pada jarak tertentu
o Pori nukleus mengatur perpindahan bahan antara nukleus dan sitoplasma

Permukaan Sel
Kompleks Taut
o Zonulaoccludens (tight junction) membentuk sawar epitel yang efektlf
o Protein transmembran menyatukan membran luar sel yang berdekatan untuk membentuk zonula
occludens
o Di zonula adhaerens, protein transmembran melekat pada sitoskeleton dan mengikat sel yang
berdekatan
o Desmosom adalah struktur berb intlk (spotlike), sangat menonjol di dalam sel kulit dan jantung
o Desmosom melekatkanselmelaluiproteintransmembranyangmemanjangke dalamruanginterseluler
di antara sel-sel yang berdekatan
o Nexus (gap junction) adalah struktur berbintlk(spotlike) dengan kanal cairan yang disebut konekson
o Ion danzatkimia berdisfusi melalui konekson dari sel ke sel
o Nexus memungkinkan terjadinya komunikasi antarsel yang cepat untuk sinkronisasi fungsi

Regio Basal Sel


Pelipatan Regio Basal Sel
e Lipatan membran sel basal dan lateral berfungsi dalam transpor ion
r Ditemukan di sel ginjal dan kelenjar liur
o Pompa Na*/K* ATPase terikat di dalam membran yang terlipat
o Lipatan mengandung banyak mitokondria yang memasokATP untuk transpor ion
r
I

Silia
. Modifikasi permukaan apikal motil
o Melapisi sel-sel di organ pernaPasan, tuba uterina, dan duktus eferen testis
o Motilitas disebabkan oleh pergeseran pasangan mikrotubulus
o Protein motorik dinein menggunakan ATP untuk menggerakkan silia

Mikrovili
o Modifikasi permukaan apikal nonmotil
o Berkembang baik dalam usus halus dan ginjal
o Fungsi utama adalah absorpsi
(1) an
Epithelium stratificatum Trachea
Oesophagus
squamosum non
cornificatum Cilia
Membrana
Epithelium
basalis pseudostratificum
Tunica mucosa
Tela submucosa
t_
I lunrca ]
Tunica mucosa

muscularis teta srnmr"o"u


_l ]
Cartilagines tracheales
Tunica adventitia
Texius muscularis levis
Tunica adventitia

rn
v \9
Gaster i':r lntestinum tenue
viili
Epithelium
columnare
runi"" Tunica mucosa
] Tela submucosa
basalis
Tela sul
I tuni",
muscularis
_l
Tunica
Tunica serosa

Tunica
se rosa Mesothelium
(epithelium simplex squamosum)
Mesothelium
(epithelium simplex squamosum)

o
Vesica urinaria

l transi

-l
aerms otot polos
I dan jaringan ikat
I interstisial

Epithelium stratificatum
squamosum cornificatum

Membrana
basalis Glandula sudorifera
Stratum papillare

GAMBARAN UMUM 2 Berbagaijenis epitel di beberapa organ.

30
]aringan Epitel

SUBBAB 1 ffi# Penggolongan Jaringan Epitel


Lokasi Epitel
Empat jenis jaringan dasar tubuh adalah epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. Keber-
adaan dan fungsi jaringan ini mempunyai hubungan yang erat satu dengan lainnya.
Jaringan epitel, atau epithelium, terdiri atas lembaran sel yang menutupi permukaan luar tubuh,
melapisi rongga dalam, membentuk berbagai organ dan keleniar, serta melapisi duktusny-a. Sel epitel
berkontak satu sama lain, baik dalam satu lapisan maupun banyak lapisan. Namun, struktur epitel pelapis
ini berbeda dari organ ke organ, tergantung lokasi dan fungsinya. Misalnya, epitel yang menutupi
permukaan luar tubuh dan berfungsi sebagai lapisan pelindung berbeda dari epitel yang melapisi organ
dalam.
Gambaran umum melukiskan berbagai jenis epitel di organ-organ tertentu

Penggolongan Epitel
Epitel digolongkan berdasarkan jumlah lapisan sel dan morfologi atau struktur sel permukaan.
Membrana basalis adalah suatu bagian tipis nonseluler yang memisahkan epitel dari iaringan ikat di
bawahnya. Membran ini mudah dilihat dengan mikroskop cahaya. Epitel dengan satu lapisan sel disebut
selapis, dan epitel dengan banyak lapisan sel disebut bertingkat (berlapis). Epitel bertingkat semu
terdiri atas satu lapis sel yang melekat pada membrana basalis, namun tidak semua sel mencapai per-
mukaan. Epitel dengan sel-sel permukaan yang gepeng disebut skuamosa. Bila sel permukaannya bulat
atau tinggi dan lebarnya sama, epitel itu disebut kuboid. Bila selnya lebih tinggi daripada lebarnya, epitel
itu disebut kolumnar. Epitel bersifat nonvaskular; artinya tidak memiliki pembuluh darah. Akibatnya,
oksigen, nutrien, dan metabolit harus berdifusi dari pembuluh darah yang terdapat di jaringan ikat di
bawahnya ke epitel.

Modifikasi Permukaan Khtrsus pada Sel Epitel


Sel epitel pada berbagai organ memperlihatkan modifikasi membran sel khusus pada permukaan apikal
atau permukaan atas. Modifikasi ini berupa silia, stereosilia, atau mikrovili. Silia (cilia) adalah struktur
motil yang terdapat pada sel tertentu di tuba uterina, uterus, dan saluran konduksi pada sistem
pernapasan. Mikrovili (microvilli) adalah tonjolan nonmotil kecil yang melapisi semua sel absorptif
pada usus halus (intestinum tenue) dan tubulus kontortus proksimalis ginjal (tubulus proximalis pars
contorta). Stereosilia (stereocilia) adalah mikrovili nonmotil panjang, bercabang, yang melapisi sel-sel
dl dalam epididimis (epididymis) dan duktus deferens (ductus deferens). Fungsi mikrovilus dan
stereosilia adalah absorpsi.

31
fenis fipitel
Epitel Selapis
Epitel selapis gepeng (epithelium simplex squamosum) y.rg melapisi permukaan luar pada organ
pencernaan, paru-paru, dan jantung disebut mesotel (mesothelium). fpitel selapis gepeng yang mela-
pisi lumen jantungr pembuluh darah, dan pembuluh limfe disebut endotel (endothelium).
Epitel selapis kuboid (epithelium simplex cuboideum) melapisi duktus ekskretorius kecil di
berbagai organ. Pada tubulus kontortus proksimalis ginjal, permukaan apikal epitel selapis kuboid dila-
pisi oleh limbus penicillatus (brush-boriler) yangterdiri dari mikrovili.
Epitel selapis silindris melapisi organ pencernaan (lambung, usus halus dan usus besar, dan
kandung empedu). Di usus halus, sel-sel absorptif selapis silindris yang melapisi vili juga memperlihatkan
mikrovili. Vili adalah tonjolan mirip-jari yang menonjol ke dalam lumen usus halus. Pada saluran
reproduksi wanita, epitel selapis silindris dilapisi oleh silia motil.

Epitel Silindris Bertingkat Semu


Epitel silindris bertingkat semu (epithelium pseudostratificatum columnare) melapisi saluran
pernapasan, dan lumen epi{idimis serta duktus deferens. Pada trakea, bronki, dan bronkioli yang
lebih besar, sel-sel permukaan terdapat silia motil; pada epididimis dan duktus deferens, sel-sel per-
mukaan terdapat stereosilia nonmotil, yaitu mikrovili yang bercabang atau mengalami modifikasi.

Epitel Bertingkat
Epitel berlapis gepeng (epithelium stratificatum squamosum) terdiri dari banyak lapisan sel. Sel-sel
basal (cellula basalis) berbentuk kuboid atau silindris; sel-sel ini menghasilkan sel-sel yang bermigrasi ke
permukaan dan menjadi gepeng. Terdapat dua jenis epitel berlapis gepeng: tidak berkeratin dan ber-
keratin.
Epitel tidak berkeratin (epitheliurn non cornificatum) memiliki sel-sel permukaan yang hidup
dan melapisi rongga basah seperti mulut, faring, esofagus, vagina, dan kanalis analis. Epitel berkeratin
(epithelium cornificatum) melapisi permukaan eksternal tubuh. Lapisan permukaan mengandung
sel-sel mati berkeratin yang terisi oleh protein keratin. Epitel yang melapisi telapak tangan clan kaki
memiliki lapisan sel keratin yang sangat tebal.
Epitel berlapis kuboid (epithelium stratificatum cuboideum) dan epitel berlapis silindris
(epithelium stratificatum columnare) tidak banyak dijumpai. Keduanya melapisi duktus ekskreto-
rius pankreas, kelenjar liur, dan kelenjar keringat. Di duktus ini, epitel memiliki dua atau lebih lapisan
sel.
Epitel transisional (epithelium transitionale) melapisi kaliks mayor dan minor, pelvis, ureter,
dan vesica urinaria pada sistem urinarius. Epitel jenis ini dapat berubah bentuk dan dapat menyerupai
epitel berlapis gepeng atau epitel berlapis kuboid, trergantung pada keadaan teregang atau mengkerut.
Saat epitel transisional mengkerut sel-sel permukaan tampak bentuk-kubah; saat teregang epitelnya
terlihat gepeng.

GAMBAR 2.1 ffi Epitel Selapis Gepeng; Pandangan Permukaan Mesotel Peritoneum
Untuk memperlihatkan permukaan epitel selapis gepeng, potongan kecil mesenterium difiksasi dan di-
proses dengan perak nitrat lalu diberi pewarnaan kontras dengan hematoksilin. Sel epitel selapis gepeng
(mesotel) tampak gepeng, melekat erat satu sama lain, dan membentuk lembaran setebal satu lapisan
sel. Batas sel ( 1) epitel yang tidak teratur tampak gelap dan mudah dilihat karena adanya endapan perak
di antara batas-batas sel sehingga membentuk pola mozaik yang khas. Nukleus (2) kelabu-biru tampak
di bagian tengah sitoplasma (3) yang berwarna kuning-coklat.
Epitel selapis gepeng banyak terdapat di tubuh. Epitel ini melapisi permukaan yang memungkinkan
transpor gas atau cairan secara pasif, dan melapisi rongga pleura (toraks), perikardium (jantung), dan
peritoneum (abdomen).
GAMBAR 2.2ffi Hpitel $elapis Gepeng: Mesotel Periton*urn yanil M*ngeiilingi Usus
Halur* {F*t*ngan Transvernai}
Epitel selapis gepeng yang melapisi berbagai organ di rongga pleura dan peritoneum disebut mesotel.
Potongan melintang dinding usus halus memperlihatkan mesotel (l), suatu lapisan tipis sel berbentuk
gelendong dengan nukleus oval dan mencolok. Suatu membrana basalis (z) tipis berada tepat di bawah
mesotel (1). Darl pandangan permukaan, penyebaran sel-sel ini tampak serupa dengan yang ada pada
Gambar 2.1.
Mesotel (t) dan iaringan ikat (textus connectivus) (5) tidak teratur di bawahnya membentuk
serosa di ronggaperitoneum. Serosa ini melekatpada lapisan serat ototpolos (6) yang disebut muskularis
eksterna serosa (Gambaran lJmum, bagian 3 dan 4). Dalam gambar ini, berkas serat otot polos (6)
terpotong melintang. Di dalam jaringan ikat ini juga terdapat pembuluh darah (4) kecil, yang juga
dilapisi oleh epitel selapis gepeng yang disebut endotel (+), dan banyak sel lemak (adiposa) (3).

Dalam rgngga peritoneum, epitel selapis gepeng @pithelium simplex gquamosum) mengurangi
gesekan di antara organ-organ viseralis dengan menghasilkan cairan pelumas dan transpor cairan.
Pada sistem kardiovaSkular; epitel: atau endotel ini memungkinkan transpor cairan, nutrien, dan
metabolit secaaa pasif melewati dinding kapiler yang tipis. Di paru-paru, epitef selapis gepeng
memungkinkan perfukaran atau transpor gas yang efisien melalui kapiler berdinding tipis dan
alveoli.

,/
L._-r. '\t*,
t', t'

2 Nukleus

GAMBAR 2.1 Epitel selapis gepeng: pandangan permukaan mesotel peritoneum. Pulasan: perak nitrat
dengan hematoksilin. Pembesaran kuat.

1 Mesotelium 4 Endotel di pembuluh


darah

2 Membrana basalis
.;\
\! 5 Jaringan ikat

3Seladiposa , -{ 6 Serat otot polos


#
W-:----:=--- -*&ew$ (potongan melintang

GAMBAR 2.2 Epitel selapis gepeng: mesotel peritoneum yang mengelilingi usus halus (potongan trans-
versal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.
GAMBAR 2.3 ffi ffienbagai ienis [pitel di Karieks Ginjal
Fotomikrograf dengan pembesaran-kuat menunjukkan berbagai jenis epitel yang terdapat di korteks
ginjal (bagian perifer). Epitel selapis gepeng ( f ) melapisi bagian luar pada kapsul epitel berlapis-ganda
yang disebut kapsul Bowman (5). Lapisan dalam kapsul mengelilingi kapiler (S) di glomerulus (2).
Glomerulus adalah suatu kumpulan kapiler (:) yang berfungsi menyaring darah. Epitel selapis gepeng
disebut endotel (+,0) iuga^elapisi kapiler (3) dan semua pembuluh darah (S). npitel selapis kuboid
(6) melapisi lumen tubulus kontortus (7). Serat warna-biru yang mengelilingi kapsul Bowman (5),
tubulus kontortus (Z) dan pembuluh darah (S) di korteks ginjal adalah serat-serat kolagen jaringan ikat
(ro).

GAMBAR 2.4 ffi f;pit*l Selaprs Silincris: Fenmukaan Lambung


Permukaan lambung dilapisi oleh epitel selapis silindris (f ) yang tinggi. Gambar memperlihatkan
sitoplasma apikal ( f a) yang berwarna-terang dan nukleus basal ( f b) yang berwarna-gelap pada epitel
selapis silindris(t). Sel-sel epitelberkontakerat satu samalain dan tersusun dalam satubarisan. Suatu
membrana basalis (2, 9) tipls memisahkan epitel permukaan ( 1) dari serat kolagen dan sel-sel iaringan
ikat (3, f 0) di bawahnya, disebut lamina propria. Tampak pembuluh darah (5) kecil, dilapisi oleh
endotel, di dalam jaringan ikat (S, tO).
Di bagian tertentu epitel permukaan terpotong secara melintang atau oblik. Bila bidang irisan me-
lalui daerah di dekat permukaan bebas epitel, apeks (6) epitel yang terpotong menyerupai lapisan sel-sel
poligonal bertingkat tanpa nukleus. Bila bidang irisan ini melalui basis (7) sel epitel, inti menyerupai
epitel berlapis.
Sel permukaan lambung menyekresi lapisan mukus protektif. Sitoplasma tampak pucat akibat pro-
ses pembuatan sediaan histologik. Butiran musigen yang memenuhi sitoplasma apikal ( ia) larut selama
proses pembuatan sediaan. Sitoplasma yang lebih granular terletak di bagian basal ( lb) dan berwarna
lebih asidofilik.
Dalam keadaan lambung kosong, dinding lambung memperlihatkan banyak lipatan temporer (8)
yang hilang jika lambung terisi oleh bahan padat atau cair. Epitel permukaan juga meluas ke bawah untuk
membentukbanyak indentasi atau cekungan di permukaan lambung yang disebut foveola gastrica (l l),
tampakpada potongan memanjang dan melintang.

Epitel selapis kuboicl (epithelium simplex cuboideum) melapisi berbagai:.duktus di kelenjar dan
organ, tempat lapisan ini menutupi permukaan untuk memberi perlindungan dan kekuatan. Di
ginjal, epitel ini berfungsi dalam transpor dan absorpsi bahan.bahan yang terf:iltrasi, Epilel selapis
silindris (epithelium simplex columnare) melapisi permukaan lambung.'Sel-sel ini bersifat sekre.
torik dan menghasilkan mukus. Mukus ini melapisi permukaan lambung dan me-lindurrgi:lapisan-,
nya dari sekresi' lambung korosif yang biasanya terdapat di lambung saat pengolahan dan
pencernaan makanan.
6 Epitel selapis
1 Epitel selapis kuboid
gepeng

2 Glomerulus 7 Tubulus
kontortus

3 Kapiler
8 Pembuluh
darah
4 Endotel

5 Kapsul
9 Endotel
Bowman

10 Jaringan
ikat

GAMBAR 2.3 Berbagaijenis epitel di korteks ginjal. Pulasan: trikrom Masson. 12Ox

6 Apeks epitel
(sitoplasma,
potongan oblik)

7 Basis epitel
(nukleus,
!r potongan oblik)
$j
1 Epitel permukaan I 8 Lipatan temporer
selapis silindris
a. Sitoplasma apikal
b. Nukleus basal

9 Membrana basalis
2 Membrana basalis

1 0 Jaringan ikat
3 Jaringan ikat (lamina propria)
(lamina propria)

4 Sel jaringan ikal ,sjWil." j 11 Foveola gastrica


(potongan memanjan$
'l dan melintang)
5 Pembuluh Oarah ------jQ- ""

GAMBAR 2.4 Epitel selapis silindris: permukaan lambung. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesar-
an sedang.
GAMBAR 2.5 #, Hpitel $*lapis $ilindris di Vili U*us l-{alus: $el dengan Limbus $triatus
{Mikrovili} dan $el ffioblet
Vili (1) usus, digambarkan dalam potongan melintang dan potongan memanjang, dilapisi oleh epitel
selapis silindris.Di usus halus, epitel terdiri atas dua jenis sel: sel kolumnar dengan limbus striatus
(striated borilers) (S, Z) dan sel goblet (0, f a) bentuk-oval. Limbus striatus (5, 7) ta-pak sebagai
lapisan sel sebelah luar yang berwarna kemerahan dengan garis-garis (striae) vertikal halus; striae ini
mencerminkan mikrovili di apeks sel kolumnar.
Sel goblet (6, 13) yang tampak pucat tersebar di antara sel-sel kolumnar. Selama proses pembuatan
sediaan histologik rutin, mukus sel goblet tersebut larut; itulah sebabnya sitoplasma sel goblet tampak
jernih atau hanya sedikit terpulas (6, 13). Butiran musigen biasanya memenuhi apeks sel (4) dan basis
(+) inti sel.
Jika epitel di puncak vilus terpotong oblilg apeks (a) sel kolumnar tampak sebagai mozaik (Z) sel-
sel tidak berinti, sedangkan basis (a) sel tampak sebagai epitel berlapis.
Jaringan ikat tipis membrana basalis (8) berada tepat di bawah epitel.Jaringan ikat lamina propria
( tZ) mengandung suatu pembuluh limfe kosong dengan endotel yang sangat tipis yang disebut lakteal

sentralis (vas lymphaticum centrale) (2,9). Di lamina propria (tZ) luga terdapat banyak pembuluh
darah (f o) dankapiler (f+) yang dilapisi oleh endotel. Seratototpolos (S, f f ) meluas ke dalamvili.
Dalam gambar ini, serat otot polos (:, t t) terpotong melintang (:) dan memanjang (11).
Lamina propria juga mengandung banyak sel jaringan ikat lainnya, misalnya sel plasma (plasmocy-
tus), limfosit (lymphocytus), makrofag (macrophagocytus), dan fibroblas (fibroblastus). Sel-sel ini
biasanya terlihat dengan pembesaran yang lebih kuat.

f utama epitel pada usus halus adalah absorpsi. Fungsi ini ditingkatkan oleh: adanya vili
lnSsi
mirip-jari, yang menambah luas permukaan absorptif dan dilapisi oleh epitel selapis silindris
dengan limbus striatus (sfriafed borders) atau mikrovili. Mikrovili ini mengabsorpsi nutrien,dan
cairan dari isi usus. Epitel usus juga mengandung banyak sel goblet. Sel ini menghasilkan muklrsT
yang melindungi lapisan permukaan dari sekresi korosif yang masuk ke usus halus dari larnbung.
selama pencernaan.
Produksi urine oleh ginjal melibatkan filtrasi, absorpsi, dan ekskresi.,Permukaan apikal:epitel
selapis kuboid di tubulus kontortus proksimalis ginjal,juga dilapisi olelh limbus penicillatus (brush
borders) alau rnikrovili. Fungsi utama mikrovili ini adalah mengabsorpsi,,nutrien dan cair:an dari
filtratyan$.melaluitubu[us'.....
7 Limbus striatus

1 Vili (potongan
memanjang dan 8 Membrana basalis
melintang)

2 Lakteal sentralis
9 Lakteal sentralis

3 Serat otot polos 10 Pembuluh darah


(potongan melintang) 11 Serat otot polos
(potongan memanjang)

4 Potongan oblik
epitel (apikal dan .v1.lJJ-!$
,' r f I fld
12 Jaringan ikat
basal sel) r I {..$ I& (lamina propria)
'l 4;,:i$ 13 Sel goblet
5 Limbus striatus

6 Sel goblel
:.'i,&ti.'ri 14 Kapiler

ilr",\Y,:,\
GAMBAR 2.5 Epitel selapis silindris di vili usus halus: sel dengan limbus penicillatus (mikrovili) dan sel
goblet. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 2.6 ffi Hpitel *ertingkat Sernu Silindris ffierniiia: Saiurnn Fernapa*an*Trakea
Epitel bertingkat semu silindris bersilia (epithelium pseudostratificatum columnare ciliatum)
melapisi saluran pernapasan atas, misalnya trakea dan bronki. Pada jenis epitel ini, sel-sel membentuk
beberapa lapisan. Potongan serial menunjukkan bahwa semua sel berada di membrana basalis (+, tl);
namun, karena sel-sel epitel mempunyai bentuk dan ketinggian berbeda, tidak semua sel mencapai
permukaan. Oleh karena itu, epitel ini disebut bertingkat semu dan bukannya bertingkat.
Banyak silia ( f , 8) (silium, tunggal) yang tersusun rapat dan motil menutupi seluruh apeks sel pada
sel bersilia, kecuali sel goblet (:, t f ) oval berwarna-terang yang terselip di antara sel-sel bersilia. Setiap
silium berasal dari badan basal (corpusculum basale) (l), yang morfologi internalnya identik dengan
sentriol. Badan basal (9) berada tepat di bawah membran sel apikal dan berdekatan satu sama lain;
struktur ini sering memberikan gambaran membran apikal gelap yang kontinu (9).
Pada epitel bertingkat semu, inti yang lebih dalam berasal dari sel basal (12) yang pendek dan
sedang. Inti lonjong yang letaknya lebih superfisial berasal dari sel kolumnar bersilia (t, S). Inti kecil
bulat berwarna gelap, tanpa sitoplasma yang jelas di sekitarnya, adalah limfosit (2, tO). Sel-sel ini
bermigrasi dari jaringan ikat (5) di bawahnya melalui epitel.
Membrana basalis (+, ll) yang tampak jelas memisahkan epitel bertingkat semu dari jaringan ikat
(S) di bawahnya. Di dalam jaringan ikat (5) tampak fibrosit (fibrocytus) (5a), serat kolagen (fibra
collageni) (5b) padat, sebaran limfosit, dan pembuluh darah (f a) kecil. Di bagian yang lebih dalam
dari jaringan ikat terdapat kelenjar dengan asini mukosa (6) dan asini serosa (Z, tS). Kelenjar-kelenjar
ini menghasilkan sekresi yang membasahi saluran pernapasan.

Pada sebagian besar saluran pernapasan (trakea dan bronki), epitel bertingkat semu (epithelium
pseudostratificatum) mengandung sel goblet dan sel bersilia. Sel bersilia membersihkan udara
yang masuk dan mengalirkan mukus dan partikel halus melalui permukaan sel ke rongga mulut
untuk dikeluarkan.
Sel-sel pada epltel selapis silindris bersilia di tuba uterina mempermudah penyaluran oosit
dan sperma melalui permukaannya. Pada duktulus eferens (ductulus efferens) testis, sel-sel ber-
silia membantu pengangkutan sperma keluar dari testis untuk masuk ke dalam epididimis.
Epididimis dan duktus deferens dilapisi oleh epitel bertingkat semu dengan stereosilia (ste-
reocilia). Fungsi utama stereosilia di organ-organ ini adalah mengatrsorpsi cairan yang dihasilkan
oleh sel-sel di testis"

GAMBAR 2.7 ffi Epit*l Transisional: Vesi*a LJrinaria {Tidak T*r*gang atau ffielaksasi}
Epitel transisional (f) hanya ditemukan di saluran eksretorius sistern urinarius. Epitel ini melapisi
lumen kaliks ginjal, pelvis, ureter, dan vesica urinaria. Epitel bertingkat ini terdiri atas beberapa lapisan
sel yang serupa. Epitel berubah bentuknya sebagai respons terhadap peregangan, akibat akumulasi cairan,
atau mengkerut saat mengeluarkan urine.
Dalam keadaan relaksasi atau tidak teregang, sel permukaatr (Z) biasanya kuboid dan menonjol
keluar. Sering kali, sel berinti dua (cellula bicnucleata) (6) tarnpak di lapisan permukaan atau sel
permukaan (7) vesica urinaria.
Epitel transisional (1) terletak di atas lapisan iaringan ikat (3, 8), terutama terdiri atas fibroblas
(Sa) dan serat kolagen (St). Di antara jaringan ikat (3, 8) dan epitel transisional (1) terdapat mem-
brana basalis (Z) yang tipis. Dasar epitel tidak berlekuk-lekuk oleh papil jaringan ikat, dan konturnya
tampak rata.
Pernbuluh darah Lecil, venula (+, t t) dan arteriol (l) dalam berbagai ukuran terdapat di dalam
jaringan ikat (3, 8). Di jaringan ikat yang lebih dalam tampak adanya berkas-berkas serat otot polos (5,
l0), terpotong baik dalam bidang melintang (5) maupun memanjang ( 10). Laplsan otot di vesica urina-
ria terletak jauh di dalam jaringan ikat (3, S).
:::i:ar::ii-+

'1 8 Silia
Silia
9 Badan basal
2 Limfosit
10 Limfosit
3 Sel goblet
11 Sel goblet

4 Membrana basalis .ei-


12 Sel basal

13 Membrana basalis
:.. '-
5 Jaringan ikat
a.Fibrosit #
-6-tr
at
14 Pembuluh darah

1 5 Asini serosa
7 Asinus serosa

GAMBAR 2.6 Epitel bertingkat semu silindris bersilia: saluran pernapasan - trakea. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.

Cellula binucleata

Sel permukaan

1 Epitel
transisional

t 8 Jaringan ikat
a. Fibroblas
2 Membrana
b serat kolasen
basalis
*Yg ryt---'-
9 Arteriol

10 Serat otot polcs


(potongan
memanjang)

'3o-",'"ru5;'"",,",*;-M'M\-\N*"$NJ 11 Venula

GAMBAR 2.7 Epitel transisional: vesica urinaria (tidak teregang atau relaksasi). Pulasan: hematoksilin
dan eosin. Pembesaran kuat.
GAMBAR 2. 8 ffi Hpitel Transisionai: Vesica Urinaria {Teregang)
Ketika cairan mulai mengisi kandung kemih, epitel transisional (f ) berubah bentuknya. Peningkatan
volume vesica urinaria tampaknya mengurangi jumlah lapisan sel. Hal ini disebabkan oleh sel permuka-
an (S) mendatar untuk meningkatkan luas permukaan. Dalam kondisi teregang, epitel transisional (1)
menyerupai epitel berlapis gepeng yang terdapat di bagian tubuh lain. Perhatikan juga bahwa lipatah di
dinding vesica urinaria menghilang, dan membrana basalis (2) menjadi lebih halus. Saat kandung ke-
mih dalamkeadaankosong (Gambar 2.7),iaringanikat (6) dibawahnyamengandungvenula (S) dan
arteriol (Z). li bawah jaringan ikat (6) terdapat serat otot polos (4, 8) yang terpotong melintang (4)
dan memanjang (S). (Bandingkan epitel transisional dengan epitel berlapis gepeng pada esofagus,
Gambar 2.9).

Epite-l transisional (epithelium transitionale) memungkinkan peregangan organ urinarium (kaliks,


pelvis, ureter, vesica urinaria) selama penampungan urine dan pengerutan orgart-organ ini selama
ploles pengosongan tanpa memutuskan hubungan sel di epitel. Perubahan bentuk sel ini
disebabkan oleh ci'ri khas membran selepitel transisional. Di sini ditemukan bagian-bagian khusus
yang djsebut crusta urothelialis (plaques). Ketika kandung kemih kosong, crusta urothelialis ini
terlipat sehingga membentuk kontur yang tidak rata. Sewaktu kandung kemih terisi dan epitel
teregang, crusta urothelialis menghilang. Selain itu, karena crusta urothelialis tampaknya
impermdabel terhadap cairan dan garam, epitel transisional membentuk sawar osmotik protektif
di antara urin pada kandung kemih dan jaringan ikat di bawahnya.

GAMBAR 2.9 ffi Epitei Berlapis Gepeng Tanpa i*apisa* Tanduk: Fsofagus
Epitel berlapis gepeng ditandai oleh banyaknya lapisan sel, dengan lapisan terluar terdiri dari sel gepeng
atau skuamosa, yang mengandung nukleus hidup. Ketebalan epitel bervariasi di antara bagian tubuh dan,
akibatnya, komposisi epitel juga berbeda-beda. Yang terlihat dalam gambar ini adalah contoh epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk (f ) basah yang melapisi rongga mulut, esofagus, vagina, dan
kanalis analis.
Sel basal (5) kuboid atau silindris pendek terletak di dasar epitel berlapis. Sitoplasma bergranula
halus dan inti lonjong yang kaya-kromatin, menempati sebagian besar sel. Sel-sel dari lapisan tengah
epitel adalah polihedral (cellula polyhedralis) (4) dengan inti bulat atau lonjong sertas membran sel
dan sitoplasma yang terlihat lebih jelas. Pada lapisan sel yang lebih dalam dan sel-sel basal (5) sering
terlihat adanya mitosis (6). Sel dan intinya secara progresif menjadi gepeng sewaktu bermigrasi ke arah
permukaan epitel. Di atas sel polihedral (4) terdapat beberapa lapisan sel skuamosa (cellula squamosa)
(3) atau gepeng.
Membrana basalis (Z) tipis memisahkan epitel (1) dari iaringan ikat di bawahnya, yaitu lamina
propria (2).Papila (10) atautonjolan jaringanikatmenyebabkanpermukaanbawahepitel (t) melekuk,
sehingga menimbulkan gambaran bergelombang yang khas.Jaringan ikat (2) mengandung serat kolagen
(lt), fibrosit (9), kapiler (tz), dan arteriol (8).
Daerah tempat epitel berlapis gepeng sering terpapar terhadap gesekan dan tarikan, lapisan terluar,
yaitu stratum korneum, menjadi tebal dan berlapis tanduk (berkeratin), seperti halnya pada epidermis
telapaktangan dalam Gambar 2.10.
Contoh epitel berlapis gepeng tipis tanpa indentasi papila jaringan ikat adalah kornea matal
permukaan bawah epitelnya rata. Jenis epitel ini hanya setebal beberapa lapis sel, namun sudah me-
nampakkan susunan khas berupa sel kolumnar basal, sel polihedral, dan sel skuamosa superfisial.
5 Sel permukaan

1 Epitel transisional

6 Jaringan ikat
2 Membrana basalis

3 Venula 7 Arteriol

8 Otot polos
(potongan longitudinal)

GAMBAR 2.8 Epitel transisional: vesica urinaria (teregang). Pulasan: hematoksilin dan eosin. pembe-
saran kuat.

3 Sel skuamosa

1 Epitel berlapis
gepeng
4 Sel polihedral

5 Sel basal

6 Mitosis (sel basal)


F.'"
7 Membrana basalis
2 Jaringan ikat
(lamina propria)
8 Arteriol

12 Kapiler '11 Serat 10 Papila


kolagen jaringan ikal
GAMBAR 2.9 Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk: esofagus. Pulasan: Hematoksilin dan eosin.
Pembesaran sedang.
GAMBAR 2.10 ffi fpit*l Berlapis G*peng ci*ngan Lapi*an Tanduk: T*lapak Tangan
I(ulit dilapisi oleh epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk ( t ). Lapisan terluar kulit terdiri atas
sel-sel mati dan disebut stratum korneum (stratum corneum) (S). laaa telapak tangan dan kaki,
stratum korneum (S) tebal, sedangkan di bagian lain tubuh, lapisan ini lebih tipis. Di bawah stratum
korneum (5) terdapat lapisan sel lainnya yang menghasilkan stratum korneum (5).
Fotomikrograf dengan pembesaran-sedang ini menunjukkan epitel berlapis gepeng dengan lapisan
tanduk (t) pada telapak tangan dan lapisan-lapisan sel stratum granulosum (6), stratum spinosum
(Z), datr lapisan sel basal, stratum basal (stratum basale) (s). fpitel ini melekat pada iaringan ikat
(3), yang terdiri atas serat kolagen padat dan fibroblas. Papil (2) jaringan ikat yang terdapat di bawah
epitel melekuk ke dalam epitel, mengakibatan batas antara epitel ( 1) dan jaringan ikat (3) tampak khas
,
bergelombang. Duktus ekskretorius keleniar keringat (+) yang berada di bawah epitel, melewati
epitel ( I ) dan jaringan lkat (3 ).

GAMBAR 2.11 ffi fipit*l ffierlapin Kuhcid: Dr.iktus Hkskret*rius Kelenjar l*iur
Epitel berlapis kuboid memiliki distribusi yang terbatas dan hanya terdapat pada organ tertentu. Duktus
ekskretorius yang lebih besar pada kelenjar liur dan pankreas dilapisi oleh epitel berlapis kuboid. Pada
gambar ini memperlihatkan fotomikrograf dengan pembesaran-kuat suatu duktus ekskretorius besar
kelenjar liur. Lapisan lumen terdiri atas dua lapisan sel kuboid, membentuk epitel berlapis kuboid ( f ).
Di sekeliling duktus ekskretorius terdapat serat kolagen iaringan lkat (2,7) dan pembuluh darah (3,
5) yang dilapisi oleh epitel selapis gepeng disebut endotel (+, e).

Epitel berlapis gepeng (epithelium stratificatum squamosum) dikhususkan untuk perlindungan


terhadap gesekan dan tarikan pada rongga tubuh yang basah di esofagus, vagina, dan rongga
mulut. Komposisi sel yang berlapis-lapis melindungi permukaan organ-organ ini. Pada duktus
ekskretorius (ductus excretorius) yang lebih besar di ginjal, kelenjar liur, dan pankreas; terdapat
lapisan sel tambahan yang membentuk epitel berlapis kuboid atau epitel berlapis silindris se-
hingga fungsi protektif semakin besar.
Pembentukan,lapisa4 tanduk (keratin) pada permukaan kulit memberi:perlindungan tambahen
terhadap abrasi, desikasi, dan invasi bakteri.
5 Stratum
iki f
,s korneum

Epitel berlapis
gepeng dengan 6 Stratum
lapisan tanduk granulosum
7 Stratum
spinosum

8 Stratum basal

2 Papila

3 Jaringan ikat
dengan serat kolagen

GAMBAR 2.10 Epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk: telapak tangan. Pulasan: hematoksilin
dan eosin. 40 x

1 Epitel berlapis
kuboid

2 Jaringan ....--
ikat
';i
Pembuluh
darah
Endotel

s Pembuluh darah
. od'ot
Endotel

7 Jaringan ikat

GAMBAR 2.11 Epitel berlapis kuboid: duktus ekskretorius kelenjar liur. Pulasan: hematoksilin dan
eosin. 1OO x
BAB 2 Ringkasan
SUBBAB 1 ffi Klasifikasi Jaringan Epitel

faringan Epitel
Gambaran Utama
o Klasifikasi berdasarkan pada jumlah lapisan sel dan morfologi sel
o Membrana basalis memisahkan epitel dari jaringan ikat
o Semua epitel bersifat avaskular; penyaluran nutrien ke sel dan pembuangan zat sisa metabolik berlangsung melalui
difusi
o Modifikasi pada permukaan sel mencakup adanya silia motil, mikrovili, dan sterosi.lia

Jenis Epitel
Epitel Selapis Gepeng
o Satu lapisan sel gepeng atau skuamosa, termasuk mesotel dan endotel
o Mesotel melapisi permukaan eksternal organ pencernaan, paru, dan jantung
o Endotel melapisi bagian dalam rongga jantungr pembuluh darah, dan pembuluh limfe
o Berfungsi dalam filtrasi, difusi, transpor, sekresi, dan pengurangan gesekan

Epitel Selapis Kuboid


o Satulapisan selbulat
o Melapisi duktus kecil dan tubulus ginjal
o Melindungi duktus; mengangkut dan mengabsorpsi bahan yang difiltrasi di tubulus ginjal
Epitel Selapis Silindris
o Semua sel tinggi, sebagian dilapisi oleh mikrovili
o Melapisi lumen organ pencernaan
o Mengeluarkan mukus protektif untuk melindungi lambung
o Absorpsi nutrien di usus halus

Epitel Bertingkat Semu Silindris, Epitel dengan Silia atau Stereosilia


o Semua sel mencapai membrana basalis, tetapi tidak semua mencapai permukaan.
o Di antara sel-sel goblet penghasil-mukus terselip sel-sel bersilia
o Di saluran pernapasan, sel bersilia membersihkan udara yang masuk dan mengangkut partikel halus melintasi
permukaan sel
o Di saluran reproduksi wanita dan duktus eferens pria, sel bersilia mengangkut oosit dan sperma melintasi per-
mukaan sel
o Di epididimis dan duktus deferens, stereosilia mengabsorpsi cairan testis
Epitel Berlapis
o Dibentuk oleh beberapa lapisan sel, lapisan sel superfisial menentukan jenis epitel
. Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk memiliki lapisan sel permukaan yang hidup
. Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk membentuk lapisan pelindung dan lembab di esofagus, vagina, dan
rongga mulut
o Epitel dengan lapisan tanduk memiliki lapisan sel superfisial yang mati
. Epitel dengan lapisan tanduk memberi perlindungan terhadap abrasi, invasi bakteri, dan desikasi
o Epitel kuboid melapisi duktus ekskretorius besar di berbagai organ
. Epitel kuboid memberi perlindungan terhadap duktus
Epitel Transisional
o Hanya ditemukan di kaliks ginjal, pelvis ginjal, ureter, dan vesica urinaria
o Perubahan bentuk sebagai respons terhadap peregangan yang disebabkan oleh akumulasi cairan
a Selama peregangan atau pengerutan, hubungan sel tidak terputus
a Membentuk sawar protekif antara urine dan jaringan di bawahnya
SUBBAB 2 ffi Jaringan Kelenjar
Tubuh mengandung berbagar macam kelenjar. Kelenjar ini digolongkan menjadi keleniar eksokrin
(glandula exocrina) atau keleniar endokrin (glandula endocrina). Sel-sel atau parenkim kelenjar ini
berkembang dari jaringan epitel. Kelenjar eksokrin menyekresi produknya ke dalam duktus, sedangkan
kelenjar.endokrin mencurahkan produk sekretoriknya langsung ke dalam sistem sirkulasi.

Keleniar fiksokrin
I(elenjar eksokrin ada yang uniselular dan multiselular. Kelenjar uniselular (glandula exocrina uni-
cellularis) terdiri atas sel-sel tunggal. Contoh terbaik kelenjar uniselular adalah sel goblet (exocrinory-
tus caliciformis) penghasil-mukus yang ditemukan di epitel usus halus dan usus besar serta di saluran
pernapasan.
I(elenjar multiselular (glandula exocrina multicellularis) ditandai oleh adanya bagian (pars) sekretorik,
yaitu bagian ujung (terminal) yang sel epitelnya menyekresi suatu produk, dan bagian duktus berlapis-
kan epitelyang meneruskan sekret daribagian sekretorikkeluarkelenjar. Duktus yanglebihbesarbiasanya
dilapisi oleh epitel berlapis.

Kelenjar Eksokrin Simpleks dan Kompleks


Kelenjar eksokrin multiselular dibagi dalam dua kategori utama bergantung pada struktur bagian
duktusnya. Kelenjar eksokrin simpleks (glandula exocrina simplex) mempunyai duktus yang tidak
bercabang, mungkin lurus atau bergelung. Jika ujung bagian sekretorik kelenjar berbentuk tabung
(tubulus), kelenjar itu disebut kelenjar tubular (glandula tubulosa).
Kelenjar eksokrin dengan duktus bercabang yang mengalirkan sekret dari bagian sekretorik disebut
keleniar eksokrin kompleks (glandula exocrina composita). Lagi pula, jika bagian sekretorik ber-
bentuk labu atau tabung, kelenjar itu masing-masing disebut kelenjar asinar (alveolus) atau kelenjar tu-
bular. I(elenjar eksokrin tertentu memiliki bagian sekretorik tubular maupun asinar. Kelenjar demikian
disebut keleniar tubuloasinar (glandula tubuloacinosa).
Kelenjar eksokrin dapat pula digolongkan berdasarkan produk sekretorik sel-selnya. I(elenjar yang
sel-selnya menghasilkan sekret kental yang melumasi atau melindungi lapisan dalam organ disebut
keleniar mukosa (glandula mucosa). Kelenjar yang sel-selnya menghasilkan sekret encer, yang sering
kaya-enzim, adalah kelenjar serosa (glandula serosa). Kelenjar tertentu mengandung campuran sel-
sel sekretorik mukosa dan serosa; kelenjar ini disebut keleniar campuran (glandula mixta).

Kelenjar Merokrin dan Holokrin


I(elenjar eksokrin dapat pula digolongkan berdasarkan cara mengeluarkan produk sekretoriknya.
Keleniar merokrin (glandula merocrina), misalnya pankreas, mengeluarkan sekretnya melalui ekso-
sitosis tanpa kehilangan komponen selular. I(ebanyakan kelenjar eksokrin di tubuh menyekresi produk-
nya dengan cara ini. Pada keleniar holokrin (glandula holocrina), misalnya kelenjar sebasea di kulit,
sel-selnya sendiri menjadi produk sekretorik. Sel-sel kelenjar ini menimbun lipid, mati, dan berdegene-
rasi menjadi sebum, produk sekretorik. Jenis kelenjar lainnya, yang dinamai kelenlar apokrin (kelenjar
mammae), mengeluarkan sebagian dari sel sekretoriknya sebagai produk sekretorik. Namun, hampir
semua kelenjar yang awalnya digolongkan sebagai apokrin sekarang dianggap sebagai kelenjar merokrin.

Kelenjar Endokrin
Berbeda dari kelenjar eksokrin, kelenjar endokrin tidak memiliki duktus untuk produk sekretoriknya.
Kelenjar endokrin juga memiliki vaskularisasi yang sangat banyak, dan sel-sel sekretoriknya dikelilingi
oleh banyak anyaman kapiler. Dekatnya kapiler darah dengan sel-sel sekretorik kelenjar ini memudah-
kan masuknya produk sekretorik ke dalam aliran darah, dan penyebarannya ke berbagai organ melalui
sirkulasi sistemik.

46
I(elenjar endokrin dapat berupa sel-sel tunggal (kelenjar uniselular), seperti dijumpai di organ-
organ pencernaan sebagai sel enteroendokrin, jaringan endokrin di kelenjar campuran (baik eksokrin
maupun endokrin) seperti terlihat di pankreas serta organ reproduksi pria dan wanita, atau sebagai organ
endokrin tersendiri misalnya kelenjar hipofisis, kelenjar tiroid, kelenjar paratiroid, dan kelenjar adrenal.
Sel tunggal endokrin, yaitu sel enteroendokrin, ditemukan di organ pencernaan. Jaringan endokrin
dijumpai pada kelenjar campuran misalnya pankreas dan organ reproduksi pria dan wanita.
GAMBAR 2.12 ffi Kelenjar Eksokrin Tubular Simpleks Tidak Bercabang: Kelenjar Usus
Contoh terbaik kelenjar tubular simpleks (glandula tubulosa simplex) tanpa duktus ekskretorius dan
tidak bercabang adalah keleniar usus (kriptus Lieberkrihn/crypta intestinalis) di usus besar (A dan B)
dan rektum. Epitel permukaan dan sel sekretorik kelenjar usus (glandula intestinalis) dilapisi oleh
banyak sel goblet; sel ini adalah kelenjar eksokrin uniselular. I(elenjar usus serupa namun lebih pendek,
dengan sel goblet, juga terdapat di usus halus.

GAMBAR 2.13 ffi Kelenlar Eksokrin Tubular Simpleks Bercabang: Kelenjar Lambung
Kelenjar tubular simpleks atau sedikit bercabang tanpa duktus ekskretorius terdapat di lambung. Inilah
yang disebut keleniar lambung (glandula gastrica) (A dan n). Di fundus dan korpus lambung, kelenjar
ini dilapisi oleh sel-sel kolumnar yang dimodifikasi khusus untuk menyekresi HCl dan prekursor enzim
proteolitik pepsin.
Epitel
permukaan

.i{:.-

GAMBAR 2.12 Kelenjar eksokrin tubular simpleks tidak bercabang: kelenjar usus. (A) Diagram kelenjar.
(B) Potongan transversal usus besar. Pulasan:hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.

GAMBAR 2.13 Kelenjar eksokrin tubular simpleks bercabang: kelenjar lambung. (A) Diagram kelenjar.
(B) Potongan transversal lambung. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran rendah.
GAMBAR 2.14ffi Kelenjar Eksokrin Tubular Bergelung : Kelenjar Keringai
I(elenjar sebasea di kulit adalah kelenjar tubular bergelung (glandula tubulosa contorta) dengan duktus
panjang yang tidak bercabang (A dan B). Perhatikan sel sekretorik kelenjar dan duktus ekskretorius,
dilapisi oleh epitel berlapis kuboid, yang membawa produk sekretorik ke permukaan.

GAMBAR 2.15 ffi Kelenjar (Eksokrin) Asinar Kompleks: Kelenjar Mammae


I(elenjarmammae (glandulamammaria) adalah contohkeleniarasinar (alveolus) kompleks (glandula
acinosa composita) (A dan B). I(elenjar mammae dalam keadaan laktasi mengandung asini sekretorik
(alveoli) dengan lumen besar berisi air susu. Dari asini (alveoli), air susu disalurkan melalui duktus
ekskretorius, yang sebagian mengandung bahan sekretorik dan dilapisi oleh epitel berlapis.
Duktr,s
ekskretorius ---\
-------=..-.-#
Nwffi
'ffi
#, ,

GAMBAR 2.14 Kelenjar eksokrin tubular bergelung: kelenjar keringat. (A) Diagram kelenjar. (B) Potong-
an melintang dan tiga-dimensi kelenjar keringat yang bergelung. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pem-
besaran sedang

Duktus
'-#iiE" o' ; '
.' Fn G t"
J'.;tU
b.-" t*" ..,,,r,. o', *-
$ ;q\ .*$.; " ..f' . : $t
$ '.*..o- ,r, . :.:i ...1 .. t)
,-,"i ,ro r
"t 4

' 6 *-."r-c*oo"i
i, .._-9s e ,.
i
-,, .,,, :l
.Ji
,.11t'1,,1'
,-L.r,*oI
' o ",,
-.r-i t " -.o -t t
uY.'
I
(,
i
v-'
e r.
q-,u,L .-j
it, .E i ,s,,
*Q , :i',,'",j'
..1 !*:r
.*,
* i
.,'3
,,:i
rn-- *
1:, - .

S. ;.1: iy :,a
'U -' ,ls I
- r:"..-- ofl*
e, " -* ,"'o: $ r
c
GAMBAR 2.15 Kelenjar (eksokrin) asinar kompleks: kelenjar mammae. (A) Diagram kelenjar. (B dan C)
Kelenjar mammae selama laktasi. Pulasan: hematoksilin dan eosin. (B) Pembesaran lemah. (C) Pembe-
saran sedang
GAMBAR 2.16 ffi Kelenjar {Eksokrin} Tubuloasinar Kompleks: Kelenjar Liur
I(elenjar liur (parotis, submandibularis, dan sublingualis) adalah contoh yang paling baik menggam-
barkan kelenjar tubuloasinar kompleks (glandula tubuloacinosa composita) (e dan B). I(elenjar
mengandung unsur sekretorik asinar dan unsur sekretorik tubular. Selain itu, kelenjar liur sub-
mandibularis dan sublingualis mengandung baik asinus serosa maupun asinus mukosa. Rincian dan
perbandingan kedua asinus ini terdapat di Bab ll. Duktus ekskretorius dilapisi oleh epitel berlapis,
kuboid atau silindris, dan dinamai sesuai lokasinya di kelenjar.

GAMBAR 2.17 W Kelenjar iFksckrin] Tubuloasinar Kornpleks: Kelenjar Liur


Subrnaksilaris
Fotomikrograf kelenjar liur submaksilaris memperlihatkan unit-unit sekretorik sebuah kelenjar tubu-
loasinar kompleks. IJnsur sekretorik asinar (l) kelenjar mirip-anggur tampak bulat pada potongan
melintang dan dapat dibedakan dari unsur sekretorik tubular (7) kelenjar yang lebih pan;ang. Lumen
kosong dapat terlihat pada beberapa sediaan dari kedua jenis unsur sekretorik. Kelenjar liur adalah
kelenjar campuran dan mengandung sel mukosa (4),yangberwarna pucat, dan sel serosa (5), yang
terpulas gelap. Unsur sekretorik kelenjar menyalurkan sekretnya melalui duktus ekskretorius (a, 6, S).
Duktus ekskretorius kecil dilapisi oleh epitel selapis kuboid dan dikelilingi oleh iaringan ikat (Z),yang
juga mengelilingi seluruh unsur sekretorik.
GAMBAR 2.16 Kelenjar (eksokrin) tubuloasinar kompleks: kelenjar liur. (A) Diagram kelenjar. (B)
Kelenjar liur submandibularis. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah

1 Unsur sekretorik Duktus


asi nar
ekskretorius
2 Jaringan
ikat
Unsur sekretorik
lar
tu bu
3 Duktus
ekskretorius

Sel mukosa

8 Duktus
5 Sel serosa !:*,

*- ekskretorius

GAMBAR 2.17 Kelenjar (eksokrin) tubuloasinar kompleks: kelenjar liur submaksilaris. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. 64 x.
GAMBAR 2.18 ffi Kelenjar Endokrin: lnsula Pancreatica
Contoh kelenjar endokrin adalah pulau Langerhans (insula pancreatica) pankreas. Panlreas adalah
kelenjar campuran yang mengandung bagian eksokrin dan bagian endokrin. Di dalam pankreas, asini
eksokrin mengelilingi insula pancreatica (endokrin) (A dan B).
Struktur dan fungsi organ (kelenjar) endokrin lain disajikan secara lebih rinci di Bab 18.

GAMBAR 2.19 ffifi Pankreas Endakrin dan Eksokrin


Fotomikrograf pankreas memperlihatkan suatu kelenjar campuran dengan bagian endokrin dan eksokrin.
Pankreas eksokrin (3) terdiri dari banyak asinus sekretorik yang menyalurkan sekretnya ke dalam
duktus ekskretorius ( I ), yang dilapisi oleh epitel selapis kuboid dan dikelilingi oleh satu lapisan jaringan
ikat. Pankreas endokrin (5) disebut insula pancreatica (5) karena struktur ini dipisahkan dari sel-sel
pankreas eksokrin (3) oleh suatu kapsul iaringan ikat (4) tipls. tnsula pancreatica (5) tidakmengandung
duktus ekskretorius. Sebaliknya, bagian endokrin ini memiliki banyak vaskularisasi dan seluruh produk
sekretorik meninggalkan insula pancreatica melalui banyak pembuluh darah (kapiter) (2).
,,.i.i=:ii_Ei3i#

F*%%ur:ro
ffi.i "-.i'r;-"*
s
",*:
ffi J^-*i
*;.{il;;tr*sJi

GAMBAR 2.18 Kelenjar endokrin: insula pancreatica. (A) Diagram insula pancreatica. (B) Pembesaran
kuat pankreas endokrin dan eksokrin. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat

4 Kapsul jaringan
1 Duktus
ikat
ekskretorius

5 Pankreas
endokrin
2 Pembuluh
darah

3 Pankreas
eksokrin

GAMBAR 2.19 Pankreas endokrin dan eksokrin. Pulasan: Mallory-Azan. lOOx


BAB 2 Ringkasan
$U3tsAB 2ffi Jaringan Kelenjar

faringan Keleniar
Kelenjar Eksokrin
r Dapat bersifat uniselular atau multiselular
o I(elenjar multiselular mengandung bagian sekretorik dan bagian duktus
o Sekresi masuk ke sistem duktus
o I(elenjar tubular simpleks memiliki duktus yang tidak bercabang; ditemukan di kelenjar usus
o I(elenjar tubular bergelung ditemukan di kelenjar keringat
o Kelenjar kompleks memperlihatkan percabangan duktus di bagian sekretorik asinar (alveolus) atau tubular
r I(elenjar asinar kompleks ditemukan di kelenjar mammae
o I(eleniar tubuloasinar kompleks ditemukan di kelenjar liur
o I(elenjar mukosa melumasi dan melindungi lapisan dalam organ
o I(elenjar serosa menghasilkan sekresi yang cair dan mengandung enzim
o I(elenjar campuran mengandung sel serosa dan mukosa
o I(elenjar merokrin, misalnya pankreas, mengeluarkan sekretnya tanpa kehilangan sel
r Keleniar holokrin, misalnya kelenjar sebasea, mengeluarkan sekret dengan komponen selnya

Kelenjar Endokrin
o Adalah sel-sel tunggal sebagai sel enteroendokrin di organ pencernaan
o Adalah bagian endokrin organ seperti insula pancreatica di pankreas
o Adalah kelenjar endokrin seperti di kelenjar hipofisis, tiroid atau adrenal
o Tidakmemiliki duktus
o Memilikibanyakvaskularisasi
o Produk sekretoriknya masuk ke aliran darah (kapiler) untuk disebarkan ke seluruh tubuh
Macrophagocytus
Fibra reticularis
Lymphocytus
Neutrophilus

Fibrocytus

Plasmocytus

Vas capillare

Fibra elastica

Fibroblastus

Mastocytus
Adipocytus

GAMBARAN UMUM 3 llustrasi jaringan ikat longgar dengan berbagai sel dan serat yang predominan

5B
|aringan Ikat

Penggolongan f aringan lkat


Jaringan ikat (textus connectivus) terbentuk dari mesenkim, suatu jenis jaringan embrionik. Jaringan
ikat embrionik terdapat di tali pusat dan pulpa gigi yang sedang tumbuh. Kecuali darah dan limfe, ia-
ringan ikat terdiri atas sel dan bahan ekstraselular yang disebut matriks. Matriks ekstraselular (matrix
extracellularis) terdiri atas cairan iaringan, substantia fundamentalis (ground substance) tempat ter-
dapatnya berbagai serat protein (kolagen, retikular, dan elastik).Jaringan ikat mengikat, menambat, dan
menyokong berbagai sel, jaringan, dan organ tubuh. Jaringan ikat biasanya dibagi dalam jaringan ikat
longgar dan jaringan ikat padat, bergantung pada jumlah, jenis, susunan, dan banyaknya sel, serat, dan
substantia fundamentalis.

Jaringan lkat Longgar


Jaringan ikat longgar (textus connectivus laxus) lebih banyak dijumpai di tubuh daripada jaringan
ikat padat. Jaringan ini ditandai oleh adanya serat-serat jaringan ikat (fibrae textuum connectivorum)
yang susunannya tidak teratur dan longgar, dengan banyak substantia fundamentalis. Di dalam matriks
terdapat banyak sel dan serat jaringan ikat. Di jaringan ikat longgar banyak ditemukan serat kolagen,
fibroblas, sel adiposa, sel mast, dan makrofag dengan fibroblas merupakan jenis sel terbanyak.
Gambaran memperlihatkan berbagai jenis sel dan serat yang terdapat pada jaringan ikat longgar.

Jaringan lkat Padat


Sebaliknya, jaringan ikat padat (textus connectivus compactus) mengandung serat kolagen yang
lebih tebal dan tersusun rapat dengan jenis sel dan bahan dasar yang lebih sedikit. Serat kolagen di
iaringan ikat padat tidak teratur (textus connectivus typus irregularis) menampakkan orientasi
yang acak dan tidak teratur.Jaringan ikat padat terdapat di dermis kulit, kapsul berbagai organ, dan daerah
yang memerlukan penyokong yang kuat. Sebaliknya, iaringan ikat padat teratur (textus connectivus
firus regularis) terdapat serat-serat kolagen yang tersusun rapat dengan susunan teratur dan sejajar.
Jenis jaringan ini terdapat di tendon dan ligamentum. Di kedua jenis jaringan ikat ini, fibroblas adalah
sel terbanyak, yang terletak di antara berkas-berkas kolagen (fasciculus collageni).

Sel Jaringan lkat


Dua jenis sel tersering di jaringan ikat adalah fibroblas (fibroblastus) aktif dan fibroblas inaktif atau
istirahat, fibrosit (fibrocytus). Fibroblas bentuk-kumparan membentuk semua serat jaringan ikat dan
substantia fundamentalis extracellularis.
Sel adiposa (adipocflus), Iang terdapat secara tunggal atau berkelompok, sering ditemukan di
jaringan ikat; sel-sel ini menyimpan lemak. Jika sel adiposa mendominasi, jaringan itu disebut iaringan
adiposa (textus adiposus).

59
Makrofag (macrophagocytus) atau histiosit (macrophagocytus mobilis) adalah sel fagositik
dan paling banyak terdapat di jaringan ikat longgar.Sel-sel ini agak sukar dibedakan dengan fibroblas,
kecuali jika sedang melakukan aktivitas fagositik dan mengandung bahan-bahan yang tertelan di dalam
sitoplasmanya.
Sel mast (mastocytus), biasanya berdekatan dengan pernbuluh darah, banyak dijumpai di jaringan
ikat kulit dan di organ pencernaan dan pernapasan. Sel ini berbentuk bulat dan terisi oleh granula baso-
filik terpulas-gelap yang halus dan teratur.
Sel plasma (ptasmocfus) berasal dari limfosit yang bermigrasi ke dalam jaringan ikat. Sel ini
banyak dijumpai di jaringan ikat longgar dan jaringan limfe pada saluran pernapasan dan pencernaan.
Leukosit (leucocytus), atau sel darah putih, neutrofil (neutrophilus), dan eosinofil (eosinophilus)
bermigrasi dari pembuluh darah ke dalam jaringan ikat. Fungsi utama sel-sel ini adalah melindungi
organisme terhadap invasi bakteri atau benda asing.
Fibroblas dan sel adiposa merupakan sel jaringan ikat permanen atau residen. Neutrofil, eosinofil,
sel plasma, sel mast, dan makrofag bermigrasi dari pembuluh darah ke dalam jaringan ikat di berbagai
bagian tubuh.

Serat Jaringan Ikat


Terdapat tiga jenis serat jaringan ikat: kolagen, elastik, dan retikular.Jumlah dan susunan serat-serat ini
bergantung pada fungsi jaringan atau organ tempat serat ini berada. Fibroblas menyintesis semua serat
kolagen, elastik, dan retikular.

Jenis Serat Kolagen


Serat kolagen (fibra collageni) adalah protein fibrosa tebal kuat yang tidak bercabang. Kolagen adalah
serat yang paling banyak jumlahnya dan ditemukan di hampir semua jaringan ikat semua organ. Serat
yang paling banyak ditemukan dalam sediaan histologik adalah:

o Serat kolagen tipe I. Serat ini ditemukan di dermis kulit, tendon, ligamentum, dan tulang. Serat ini
sangat kuat dan memberikan tahanan besar terhadap peregangan.
o Serat kolagen tipe II. Serat ini terdapat di tulang rawan hialin dan tulang rawan elastik. Serat ini
menimbulkan tahanan terhadap tekanan.
r Serat kolagen tipe III. Serat ini adalah serat retikular tipis bercabang yang membentuk anyaman
penyokong halus di organ-organ seperti limfonodus, limpa, dan sumsum tulang.
o tipe fV. Serat ini terdapat di lamina basalis membrana basalis, yaitu tempat melekatnya
Serat kolagen
regio basalis sel.

Serat Retikular
Serat retikular (fibra reticularis), terutama terdiri dari kolagen tipe III (fibra collageni typi III), tipis
dan membentuk anyaman kerangka halus di hati, limfonodus, limpa, organ hemopoietilg dan lokasi lain
tempat terjadinya penyaringan darah dan limfe. Serat retikular juga menyokong kapiler, sel saraf, dan sel
otot. Serat-serat ini hanya tampak jika jaringan atau organ dipulas dengan pewarnaan perak.

Serat Elastik
Serat elastik (fibra elastica) adalah serat tipis, kecil, dan bercabang yang memungkinkan terjadinya
peregangan. Serat ini kurang kuat dibandingkan dengan serat kolagen, dan terdiri dari mikrofibril dan
protein elastin. Bila diregangkan kemudian dilepaskan, serat ini akan kembali ke ukuran aslinya (rekoil)
tanpa mengalami perubahan bentuk. Serat elastik ditemukan dalam jumlah besar di dalam paru-paru,
vesika urinaria, dan kulit. Di dinding aorta dan trunkus pulmonalis, serat elastik memungkinkan
peregangan dan rekoil pembuluh-pembuluh ini sewaktu memompa darah dari ventrikel jantung. Di
dinding pembuluh besar, sel otot polos menyintesis serat elastik.
GAMBAR 3.1 m .Iaringan lkat Langgar {$ebaran}
Gambar ini memperlihatkan mesenterium yang diwarnai untuk menunjukkan berbagai sel dan serat.
Mesenterium adalah lembaran tipis yang dibentuk oleh jaringan ikat longgar.
Serat kolagen (3) merah muda adalah serat yang paling tebal, paling besar, dan paling banyak.
Dalam sediaan jaringan ikat ini, serat kolagen (3) berjalan ke segala arah.
Serat elastik (S, fO) adalah serat tunggal halus tipis yang umumnya lurusl namun, setelah
pemrosesan sediaan, serat ini mungkin tampak bergelombang karena hilangnya tegangan. Serat elastik
(S, tO) membentuk anyaman yang saling beranastomosis dan bercabang. Di dalam jaringan ikat longgar
juga terdapat serat retikular halus, namun tidak tampak dalam gambar ini.
Sel permanen di jaringan ikat adalah fibroblas (Z). fibroblas (2) adalah sel gepeng dengan inti
lonjong, sedikit kromatin, dan satu atau dua nukleolus. Makrofag, atau histiosit (12) umumnya terda-
pat di jaringan ikat. Bila tidak aktif, sel ini mirip fibroblas, meskipun cabang-cabangnya lebih tidak teratur
dan intinya lebih kecil. Namun, inklusi fagositik mengubah sitoplasma makrofag. Pada gambar ini,
sitoplasma makrofag ( 12) terisi oleh partikel terpulas- gelap yang ditelan oleh sel ini.
Sel mast ( f , l) luga terdapat di jaringan ikat longgar dan terlihat tunggal atau berkelompok sepan-
jang pembuluh darah kecil (kapiler, 7). Sel mast (1, 9) umumnya lonjong, dengan inti kecil di tengah
dan sitoplasma dipenuhi oleh granula halus padat yang berwarna merah tua atau gelap dengan pulasan
merah netral.
Berbagai sel darah juga ditemukan di jaringan ikat longgar. Limfosit kecil (lymphocytus parvus)
(6) memperlihatkan inti gelap yang menempati sebagian besar sitoplasma sel. Limfosit besar (lym-
phocytus magnus) (S) yuga memperlihatkan inti gelap dengan lebih banyak sitoplasma. Jaringan ikat
longgar juga mengandung sel-sel darah misalnya eosinofil dan neutrofil, serta sel adiposa. Sel-sel ini
masing-masing digambarkan secara lebih rinci di Gambar 3,2, dan di jaringan ikat longgar di Gambar
3.4, serta mesenterium usus di Gambar 3.11.
Latar belakang yang samar-samar di sekitar serat dan sel adalah substantia fundamentalis.

7 Kapiler dengan
1 Sel mast
eritrosit

2 Fibroblas
8 Limfosit besar

3 Serat kolagen 9 Sel mast

4 Sel plasma ------@rl


5 Serat elastik
10 Serat elastik

:gyrt{ffigss*
W,-'j ir
11 Sel plasma

12 Makrofag dengan
6 Limfosit kecil partikel yang tertelan

GAMBAR 3.1 Jaringan ikat longgar (sebaran). Diwarnai untuk sel dan serat. Pembesaran kuat.
GAMBAR 3.2.m *ef Tr:nggal cialai'cr Jaringan ikat
Sel utama di jaringan ikat adalah fibroblas dan fibrosit. Fibroblas (r) adalah sel memanjang dengan
juluran sitoplasma, inti lonjong dengan sedikit kromatin, dan satu atau dua nukleolus. ribrosii(O)
ada-
lah sel bentuk-kumparan kecil yang lebih matang tanpa juluran sitoplasma; intinya serupa tetapi lebih
kecil daripada inti fibroblas.
Sel plasma (z) memperlihatkan inti yang lebih kecil dan terletak eksentrik disertai gumpalan
kromatin padat kasar yang tersebar di pinggir dengan pola radial (roda pedati) dan suatu massa sentral.
Daerah jernih yang menyolok di sitoplasma berdekatan dengan inti.
Sel adiposa (3) besar memiliki lingkaran sitoplasma yang sempit dan inti gepeng di pinggir. pada
sediaan histologik, butir lemak besar di dalam sel adiposa telah larut oleh berbagai zat kimia, meninggal-
kan ruang kosong besar yang sangat khas.
Limfosit besar (4) dan limfosit kecil ( l0) adalah sel bulat yang terutama berbeda pada banyaknya
sitoplasma; limfosit besar (4) memiliki sitoplasma yang lebih banyak. Inti gelap semua limfosit memiliki
kromatin padat tanpa nukleoli.
Makrofag (5) bebas biasanya tampak buiat dengan pinggir sel yang tidak teratur, tetapi menunjuk-
kan gambaran yang bervariasi. Dalam gambar, makrofag memperlihatkan inti kecil yang kaya kromatin
dan sitoplasma yang terisi oleh partikel padat yang tertelan.
Eosinofil (7) adalah sel darah besar dengan inti bilobus dan granula sitoplasnia eosinofilik yang
besar.
Neutrofil (s) luga adalah sel darah besar, ditandai oleh nukleus berlobus banyak dan sedikit granula
berwarna dalam sitoplasmanya.
Sel dengan granula berpigmett (l) mungkin terlihat di jaringan ikat. Sel epitel basal (epitheliocytus
basalis) kulit juga mengandung pigmen warna-coklat atau granulamelanin.
Sel mast ( r t ) biasanya lonjong dengan inti kecil di tengah. Sitoplasma umumnya terisi oleh
granula
gelap halus yang padat.

Fibroblas (fibroblastus) adalah sel dominan dalam jaringan ikat. sel ini sdngat aktif, dengan
sitoplasma bercabang yang tidak teratur, dan menyint"rir rl"rut Loiig"n, serat retikulur, d".;;i
elastik, serta karbohidrat misalnya glikosaminoglikan, proteoglikan, dan glikoprotein matriks
ekstraselular. Fibrosit (fibrocytus) bentuk-kumparan berukuran lebih kecil daiipada fibroblas dan
merupakan sel matang yang:kurang aktif dari turunan fibroblas.
Makrofag (macrophagocylus) atau hisriosit (macrophagocytus mobilig adalah fagosit yang
memakan bakteri, sel mati, deLrris sel, dan benda asing lain dalam jaringan ikat. Sel ini jugi
meningkatkan aktivitas imunologi limfosit. Makrofag adalah sel penyaji-antigen bagi limfosit dan
melakukan fungsi penting dalam respons imun.:Sel ini berasal dari monosit Jarah,ylng pindah
ke
jaringan ikal Makrofag memiliki sebutan khusus di ber,bagai organ. Di hati,
makrofagiJisebut sel
Kupfer.,ditulang:.osteoklas,dandisi5tem:sar.afpusat,mikroglia.'':
Lim{osit (lymphocytus) adalah sel yang paling banyak dijumpai di jaringan ikat longgar,saluran
pernapasan dan saluran pencernaan. Limfosit memerantarai respons imuir terhadup
uit-igan yung
masuk ke organ ini dengan menghasilkan antibodi dan mematikan sel yang terinfeksi-viroi
d"ngun,
memicu kematian sel atau apoptosis.
5e! plasma(plasmocytus) ber.asal dari limfosit yang telah terpajan antigen. Sel ini menyint*ri,
dan menyekresi antibodi yang menghancurkan antigen spesifik dan melindungi tubuh terhadap
infeksi
Sel adiposa(adlpocytus) menimbun lemak (llpid) dan merupakan bahan pembungkus protektif
di dalam dan di sekeliling berbagai organ. i'
Neutrofil (neutrophilus) adaiah fagosit aktif dan kuat; sel ini menelan dan menghancurkan
bakteri pada tempat infeksi. : l
Eosinofil (eosinophilus) menjadi aktif dan bertambah jumlahnya setelah ,infeksi parasit atau
reaksi alergi. Sel ini memfagositosis kompleks antigen-antibodi yang terbentuk seiama reaksi
alergi.
,.,,{ t
,ii
!i $
:] '.\
i$ ,\-\ d*\
1 Fibrobtas
#l
s {,
i
q#
ti''l$'t"i)
Wii.. \"/\'*
'-l
4 Limfosit
rt { u { besar 5 Makrofag
iiii
,.f'
rr / 2 Sel plasma 3 Sel adiposa
,f .f

s
6 Fibrosit

I
l.
it
ll
iii

w W* &
kf'\' 1o Limfosit
7 Eosinofil B Neutrofil S kecil
\
9 Sel dengan
granula berpigmen

GAMBAR 3.2 Sel-sel dalam jaringan ikat. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat atau
imersi minyak.
GAMBAR 3.3 ffi Jaringan lkat ilrnbrionik
Jaringan ikat embrionik menyerupai mesenkim atau jaringan ikat mukosa; jaringan ini adalah jaringan
ikat longgar dan tidak teratur. Perbedaan pada substantia fundamentalis (setengah-cair vs mlrip-yell)
tidak terlihat pada sediaan ini.
Fibroblas (4) banyak ditemukan, dan di antaranya terdapat serat kolagen (l) halus, sebagian
berhubungan erat dengan fibroblas. Jaringan ikat embrionik bersifat vaskular. Di dalam substantia
fundamentalis dapat ditemukan kapiler (a) yang dilapisi oleh endotel dan terisi oleh sel darah merah
(z).
Dengan pembesaran yang lebih kuat, fibroblas(S) primitif tampak berupa sel besar bercabang
dengan juluran sitoplasma yang nyata, sebuah inti lonjong dengan kromatin halus, dan satu atau lebih
nukleolus. Serat kolagen (6) yang terpisah-pisah tampak lebih jelas dengan pembesaran ini.

GAMBAR 3.4 ffi Jaringan lkat Langgar


Serat kolagen (9) mendominasi di dalam jaringan ikat longgar, berjalan ke segala arah, dan membentuk
anyaman serat longgar. Dalam gambar, serat kolagen (9) terpotong dalam berbagai bidang, dan ujung-
ujung melintang mungkin terlihat. Serat-serat ini asidofilik dan berwarna merah muda dengan eosin. Di
jaringan ikat longgar juga terdapat serat elastik tipis, namun sukar dibedakan dengan pewarnaan dan pada
pembesaran ini.
Fibroblas (2) adalah sel yang paling banyak di jaringan ikat longgar dan mungkin terpotong dalam
berbagai bidang, sehingga hanya sebagian sel yang mungkin terlihat. Selama pembuatan sediaan,
sitoplasma sel ini dapat menyusut. Fibroblas (Z) yangkhas memiliki inti lonjong dengan kromatin halus
dan sitoplasma sedikit asidofilik, dengan beberapa cabang yang pendek.
Di dalam jaringan ikat longgar juga terdapat bermacam-macam sel darah seperti neutrofil (6)
dengan inti berlobus, eosinofil (3) dengan granula berwarna merah, dan limfosit (7) kecil dengan inti
gelap dan sedikit sitoplasma. Sel adiposa atau lernak (5) tampak khas, yaitu terlihat kosong dengan
lingkaran sitoplasma yang tipis dan inti (+) yang terdesak ke tepi.
Jaringan ikat sangat vaskular; kapiler (8) terpotong dalam berbagai bidang irisan (t.s, transversal;
l.s, longitudinai). Pembuluh darah yang lebih besar, seperti arteriol (f dengan sel darah, juga tampak
)
dalam jaringan ikat longgar.

GAMBAR 3.5 ffi Jaringan lkat Longgar Tidak Teratur dan Padat Tidak Teratur iPulasan
f;lastin)
Gambar ini menunjukkan suatu potongan jaringan ikat yang memperlihatkan zona transisi antara ja-
ringan ikat longgar tidak teratur di bagian atas gambar dan jaringan ikat padat tidak teratur di bagian
bawah gambar. Selain itu, potongan jaringan secara khusus dipersiapkan untuk memperlihatkan keber-
adaan dan distribusi serat elastik di jaringan ikat.
Serat elastik (lr 7) secara khusus diberi pewarnaan biru tua menggunakan metode Verhoef F.
Dengan menggunakan pewarnaan V-an Gieson sebagai counterstain,fuksin asam mewarnai serat kolagen
menjadi merah (2, e). Rincian sel fibroblas tidak tampak jelas, namun inti fibroblas (S, S) berwarna
biru tua. Pembuluh darah (4) juga terlihat.
Ciri khas jaringan ikat longgar dan padat tidak teratur menjadi jelas dengan teknik pewarnaan ini.
Pada jaringan ikat padat tidak teratur, serat kolagen (6) lebih besar, lebih banyalg dan lebih padat. Serat
elastik (Z) i"glebih besar dan lebih banyak. Sebaliknya, di jaringan ikat longgar, kedua jenis serat lebih
kecil ( 1, 2) dan tersusun lebih longgar. Anyaman elastik halus terlihat pada kedua jenis jaringan ikat.
q\-
s
1 Serat kolagen
s" --
2 Sel darah
'6 #s:> 5 Nukleus dan
merah di kapiler sitoplasma fibroblas

3 Kapiler Citapisi
rv\ ,\
oleh endotel kr- ...i '!A- l$t \ 6 Serat kolagen

4 Nukleus fibroblas
\.-.
'_
u\
# .,.
$

GAMBAR 3.3 Jaringan ikat embrionik. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Kiri, pembesaran lemah;
kanan, pembesaran kuat.

tE: E " e ** 6 Neutrofil


1"mf r 6 .
'__'_g_-*ff"Fen+-*6 4q$!'. *
l Arteriol dengan f4-.--.i;F'-firj * "'
r "-^ss i" @, *
.*' &-
&, .*;
sel darah merah ffi{-7, r _* _
"r *r@
2 Nukleus fibroblas
,: \ry'b
* s s *6
*' .* " roL&-x
7 Limfosit
---a' *\es^
^.r+*s **
3Eosinofil d*, * @ * B Kapiler
(potongan
4 Nukleus
melintang
dan potongan

I \ .l *.*- memanjang
q! s
Sser adiposa
ff*.1. 3" ."'"',i \ \d *.
6/ 9 Serat kolagen
\s*,,:@&q'= 3
d'4t
-rlo@qc+&&
GAMBAR 3.4 Jaringan ikat longgar dengan pembuluh darah dan sel adiposa. Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran kuat.

1 Serat elastik tipis


.f*,rr-
\
l.
- tat1-
-''r !
t, ,.

4 Pembuluh darah

2 Serat kolagen
5 Nukleus fibrosit
3 Nukleus fibrosil

6 Serat kolagen

7 Serat elastik

GAMBAR 3.5 Jaringan ikat longgar tidak teratur dan padat tidak teratur. Pulasan: pulasan elastin
Verhoeff dan Van Gieson. Pembesaran sedang.
GAMBAR 3.6 ffi Jaringan ik.at Fa-d*r Tidak T*ratui"**n Longgar T!*ak T*rat*r
Gambar ini menunjukkan transisi bertahap dari iaringan ikat longgar tidak teratur (5) menjadi
iaringan ikat padat tidak teratur (t).;ika dibutuhkan penyokong dan kekuatan yang lebih besar,
jaringan ikat padat tidak teratur menggantikan jaringan longgar.
Serat kolagen (2, l) di kedua jaringan berukuran besar, biasanya terdapat dalam bentuk berkas
serat (fasciculus collageni), dan terpotong dalam berbagai bidang irisan karena serat tersebut berjalan ke
segala arah. Di sini juga terdapat serat elastik tipis berombak yang membentuk anyaman halus. Namun,
serat-serat ini tidak tampak jelas pada sediaan histologik rutin.
Di jaringan ikat padat ( t ), fibroblas (3) sering ditemukan terjepit di antara serat-serat kolagen (2).
Di jaringanikatlonggar (5), seratkolagen (l) tidakterlalutertekan, danfibroblas (ro) lebihyelasierlihat.
Juga tampak di jaringan ikat adalah kapiler (4), venula ( r r ) kecil, eosinofil (6) dengan inti berlobus,
limfosit (7) dengan inti bulat besar tanpa sitoplasma yang jelas, sel plasma (S), dan banyak sel adiposa
(rz).

GAMBAR 3.7 m jaringan fkat Fadat Tidak T*ratur dan .3aringnn Adipnsaa
Gambaran dalam fotomikrograf ini adalah suatu potongan kulit bagian dalam yang disebut dermis.
Daerah ini mengandung jaringan ikat padat tidak teratur ( r ) dan fibroblas (3) pembentuk-kolagen.
Pada jaringan ikat ini, serat kolagen (Z) menunjukkan orientasi acak dan tidak teratur. Berbatasan
denganjaringan ikat padat tidak teratur (1) adalah iaringan adiposa (4) dengan banyak sel adiposa (S).
Akibat proses pembuatan sediaan dengan berbagai bahan kimia, sel adiposa tampak kosong, dan hanya
tampak inti gepeng yang terpulas-gelap. Di bagian dalam kulit juga terdapat banyak kelenjar keringat.
Bagian yang lebih pucat adalah sel sekretorik kelenjar keringat (Z). Sel-sel berwarna gelap merupakan
epitel berlapis kuboid duktus ekskretorius keleniar keringat (0, S). Duktus ekskretorius (6, g)
berjalan melewati jaringan ikat dan epitel berlapis gepeng dan bermuara di permukaan kullt (Lihat
Gambar 3.9).

Substantia fundamentalis @round substance) pada laringan ikat terutama terdiri dari matriks
ekstraselular (matrix extracJllularis) amorf, trunipurrn, OaiiiO"[n";;;;;;;;rrr"nliliIi ffi;;
setengah-cair dan banyak kandungan air. Matriks menyokong, mengelilingi, dan mengikat semua
sel dan serat jaringan ikat. Su.bstantia fundamentalis mengandung berbagaijenis rantai
[olisakarida
campuran tidak bercabang dari glikosaminoglikan, proteoglikan, dan glikoprotein ad'hesif. Asam
hialuronat adalah glikosaminoglikan jaringun ikut yung ut;ru. Kecualiasam nirLrr"".r, U"rU"s;i
glikosaminoglikan berikatan dengan suatu protein inti untuk membentuk molekul yang jauh lebih
besar disebut agregat proteoglikan. Proteoglikan ini menarik sejumlah beru.air,
fang ;;;;";;"k
gelterhidrasi.
Konsistensi substantia fundamentalis setengah-cair di jaringan ikat mempermudah difusi
oksigen, elektrolit, nutrien, cairan, metabolit, dan molekui lurr"t-uir. lainnya ji Au"
pembuluh darah. Demikian juga, produk sisa dari sel berdifusi melalui subitantia ""tui"'r"f
fundamentalis
untuk kembali ke dalam pembuluh darah. Karena viskositasnya, substantia i";";";i;f rt
;rs"
bekerja sebagai sawar dengan r"n.ugut p"rsurukun *li"r."inltlr;;;;;;;J;rli'pltdun auri
jaringan ikat ke dalam aliran clarah. Namun,-bakteri tertentu dapat menghurilkun friuf rrJ"ia6",
suatu enzim yang menghidrolisis asam hialuronat dan menurunkaln viskositas substantia
fundamentalis mirip- gel, sehingga memungkinkan patogen melakukan invasi ke jaringan sekitar.
Densitas substantia fundamentalis bergantung pada banyaknya cairan jaring"n eikrtrur"lriu;.
atau kand,ungan airnya..Mlneralisasi substantia fundamentalis, akibat penimbunaribanyak kalsium,
mengubah kepadatan, kekakuan, dan kemampuan difusi, yang biasanya terlihat pada tulang dan
tulang rawan yang sedang berkembang
Selain proteoglikan, jaringan ikat juga mengandung beberapa glikoprotein adhesif, yang
melekatkan sel pada serat. Salah satu glikoprotein, fibronektin, adalah*protein adhesi. protei; in;
mengikat seljaringan ikat, serat kolagen, dan proteoglikan sehingga ketiga komponen jaringan
ikat:ri:iling'berkaitan,,i Proteirl integial membran plasma, disebut integrin, berikatan'dengan':s;ei:it
.kolagen:ekstiase,lulai:dan:filamen, aktin,di'sitqskeleton sehingga:terbentuk hubungaR, struktural
a,ntatat:sitoskelelonr,dan matr,iks: ekstiaseluliir. Lamin:in adalah,'suatu: glikoprotein ,besar,,idan
meirupqkan komponen'utama niembrana basalis. Protein: ini mengikal sel'epitel pada lamina
basalis.

1 Jaringan ikat padat tidak teratur 5 Jaringan ikat longgar


tidak teratur

0, j
t

2 Serat kolagen
'd,ffi' ! !:.--
6 Eosinofil

7 Limfosit
P ','d ',
t fl td 8 Sel plasma
r' ,rrY I

3 Nukleus ,J'$$ 9 Serat kolagen


fibroblas \{f
$;
10 Fibroblas
,f
*r
$$ .ls 11 Venula dengan
sel darah
4 Kapiler
f

dt,
,q
GAMBAR 3.6 Jaringan ikat padat tidak teratur dan longgar tidak teratur. Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran kuat.

E ,' o5
","1
* r ,"fS-
r P 4 Jaringan adiposa
E
{..S\
-a nf,
rli
ll !\:
a
Jaringan ikal ,. ,a8. *
padat tidak teratur _:: .&",..
t

(I
a-*
2 Serat kolagen

3 Fibroblas

rl -'
*"$i

GAMBAR 3.7
64x
GAMBAR 3.8 ltr "iarinsan ikat Padat Teratur: T*ndon (Poiongan fi**ngitudinai)
Jaringan ikat padat teratur terdapat di ligamentum dan tendon. Di sini diperlihatkan potongan tendon
pada irisan memanjang yang sebagian serat kolagennya teregang dan sebagian lagi mengendur.
Serat kolagen (2, 5,8) tersusun dalam berkas yang padat dan sejajar. Di antara fasciculus collageni
(2, S, e) terdapat sekat tipis jaringan ikat longgar yang mengandung fibroblas (1, 3) dalam deretan
paralel. Fibroblas (1, 3) memlliki cabang-cabang pendek (tldak tampak) dan inti yang lonjong pada
pandangan permukaan (3) atau gepeng atau mirip-batang pada pandangan lateral (f ).1ika tendon
teregang, fasciculus collageni terlihat lurus. Jika tendon relaksasi, fasciculus collageni (8) akan terlihat
berombak.
Jaringan ikat padat tidak teratur dengan susunan serat yang kurang teratur daripada tendon juga
mengelilingi dan memisahkan fasciculus collageni, disebut jaringan ikat interfasikularis (textus
connectivus interfascicularis) (a). Di sini juga ditemukan fibroblas (6) dan banyak pembuluh darah,
seperti arteriol (7), yang -"ndarahi sel-sel jaringan ikat.

GAMBAR 3.9 ffi Jarir-rgan lk*t Fad*t Teratur: Tendsn (Fr:t*ngan LonEitudinal)
Fotomikrograf jaringan ikat padat teratur tendon menunjukkan bahwa jaringan ini memiliki serat
kolagen (f) yang tersusun padat, teratur, dan sejajar. Di antara serat-serat kolagen yang padat terlihat
inti-inti gepeng fibroblas (2). Suatu pembuluh darah (3) kecil dengan sel-sel darah berjalan di antara
berkas serat kolagen padat untuk mendarahi sel-sel jaringan ikat tendon.

Jaringan ikat padat tidak teratur (textus connectivus compactus typus irregularis) terutama
mengandung serat kolagen (fibra collageni) dengan substantia fundamentalis yang minimal. Selain
fibroblas (fibroblastus), sel-sel dalam jaringan ikat ini jarang ditemukan. Seiat kllagen memiliki
daya regangyang besar, dan fungsi utamanya adalah penyokong. Serat kolagen juga menunjukkan
orientasi acak dan paling banyak terdapat di bagian tubuh yang memerlukan penyokong kuat
untuk menahan daya tarikan dari segala arah.

Jaringan ikat padat teratur (textus connectivus cornpactus typus regularis) adalah jaringan yang
memiliki daya regang yang besar, seperti ligamentum dan tendon. Serat kolagen yang tersusun
padat dan sejajar memberikan tahanan yang kuat terhadap daya tarikan padl satu irah atau
sumbu.
Tendon dan ligamentum melekat pada tulang dan mengalami daya tarikan yang kuat secara
terus-menerus. Karena susunan serat kolagen padat maka terdapat substantia fundamentalis yang
sedikit, dan jenis sel yang predominan adalah fibroblas, yang terletak di antara deretan serat
kolagen.
1 Nukleus fibroblas
(pandangan lateral)
5 Fasciculus
collageni
2 Fasciculus collageni .

(kondisi teregang)

3 Nukleus fibroblas 6 Fibroblas


(pandangan
permukaan)

4 Jaringan ikat - 7 Arteriol


interfasikular
8 Fasciculus
collageni
(kondisi
mengendur)

GAMBAR 3.8 Jaringan ikat padat teratur: tendon (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran sedang.

Serat kolagen

2 Fibroblas
3 Pembuluh darah

GAMBAR 3.9 Jaringan ikat padat teratur: tendon (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. 64 x
GAMBAR 3.10 tr Jaringan lkat Paeiat Teratur: T*ndan {Potongan Transversai)
Potongan melintang tendon diperlihatkan dengan pembesaran lemah (sisi kiri) dan pembesaran kuat
(sisi kanan). Di dalam setiap berkas serat kolage n (l,Z) terdapat fibroblas (inti) ( t, 8) yang terpotong
melintang. Fibroblas terdapat di antara berkas serat kolagen (:, Z). fibroblas (S) int lebih jelas terlihat
dengan pembesaran kuat di sisi kanan, yang memperlihatkan berkas serat kolagen (Z) dan fibroblas (8)
bercabang pada potongan melintang.
Di antara berkas kolagen terdapat sekat iaringan ikat (2) interfasikularis. Sekat ini mengandung
pembuluh darah, arteriol dan venula (6), saraf, dan adakalanya, reseptor sensitif terhadap tekanan
badan Pacini (corpusculum lamellosu-) (9).
Di sisi kiri gambar juga tampak potongan melintang beberapa serat otot rangka (4). Serat-serat ini
berdekatan dengan tendon, namun terpisah oleh sekat jaringan ikat. Perhatikan bahwa inti (5) serat otot
rangka (4) terletak di pinggir serat, sementara fibroblas (1, 8) terletak di antara berkas serat kolagen (3,
7).

GAMBAR 3.11 ffi Jaringan Adiposa; lJsus


Potongan kecil mesenterium usus diperlihatkan dengan banyaknya timbunan sel adiposa (lemak) (4,
8) yang tersusun membentuk jaringan adiposa. Jaringan ikat (9) yang mengelilingi jaringan adiposa
dilapisi oleh epitel selapis gepeng yang disebut mesotel (10).
Sel-sel adiposa (4, 8) saling berhimpitan dan dipisahkan oleh pita-pita tipis sekat ikat (3)
iaringan
yang terdapat fibroblas (7),arteriol ( I ), venula (2, A) , saraf, dan kapiler (5).
Suatu sel adiposa tampak sebagai sel kosong (4) karena lemaknya larut oleh berbagai zat kimia
selama Proses pembuatan sediaan histologik Inti sel adiposa (8) terdesak ke bagian pinggir sitoplasma,
dan pada potongan tertentu, inti fibroblas (7) dan inti sel lemak (8) sukar dibedakan.

Dua jenis jaringan adiposa di tubuh adalah jaringan lemak putih (textus adiposus albus) dan
jaringan lemak coklat (textus adiposus fuscus). Kedua jaringan adiposa ini merupakan tempat
utama pcnyimpanan dan metabolisme lemak di tubuh.
Sel-sel jaringan lemak putih berukuran besar dan menyimpan lemak dalam satu butiran besar.
Lemak yang terutama disimpan di dalam sel adiposa adalah trigliserida. Jaringan lemak putih
memperlihatkan distribusi yang lebih luas daripada jaringan lemak coklat. Jaringan lemak putih
tersebar di seluruh tubuh, dengan pola distribusi memperlihatkan variasi y.ng b"rguntung pada
jenis kelamin dan usia individu. Selain berfungsi sebagai sumber energi, jaringan lemak putih
menghasilkan insulasi di bawah kulit dan membentuk dantalan lemak d"i'r"kituiorgun. J;ri";;;
lemak juga memiliki banyak pembuluh darah karena tinggrnya aktivitas metabolik. Sel adip-osa
juga memiliki reseptor untuk insulin, glukokortikoid, hormon perlumbuhan, dan faktor lain yang
memengaruhi jaringan lemak untuk menimbun dan melepaskan lemak. Selain itu, jaringan lema[
putih juga mengeluarkan hormon yangdisebut leptin, yang meningkatkan metabolisme ki'rbohidrat
dan lemakdi sel sambil menghambatatau menekan nafsu makan dan asupan makanan.
Sel-sel jaringan lemak coklat berukuran lebih kecil daripada jaringan lemak putih dan
menyimpan lemik dalam bentuk butiran-butiran kecil. Jarrngan temat< cilta, ai,"*,if.* pra"
semua mamalia, tetapi berkembang paling sempurna pada hewan yang melakukan hibernasi.
Fungsi utama jaringan lemak coklat adalah menghangatkan tubuh. Pada bayi baru lahir yang
terpajan udara dingin alau pada hewan berbulu yang muncul dari hibernasinya, jaringan lema[
coklat terutama digunakan untuk menghasilkan dan meningkatkan suhu tubuh selama periode
kritis ini. Pembentukan panas oleh jaringan lemak coklat diitur oleh sistem saraf simpatis, yang
mengeluarkan norepinefrin untuk menimbulkan hidrolisis lemak. Jumlah jaringan lemak coklai
secara bertahap berkurang seiring pertambahan usia, dan terutama ditemulan d"i sekitar kelenjar
adrenal, pembuluh besar, dan daerah leher.
'1
Fibroblas

2 Jaringan ikat
interfasikularis l

7 Serat kolaqen

3 Berkas
serat kolagen

4 Serat otot rangka


8 Nukleus fibroblas

5 Nukleus otol
rangka
9 Corpusculum
lamellosum
6 Arteriol dan venula
(Badan Pacini)

GAMBAR 3.10 Jaringan ikat padat teratur: tendon (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Kiri: pembesaran lemah; kanan: pembesaran kuat.

t {.,. :{i
\
c. ...\
,{T
{'sL. 6 Venula
j"i. f
'1 Arteriol ,ji
7 Fibroblas
3
$.
2 Venula
{ B Nukleus
3 Sekat
Iti ,*i*. * ji sel adiposa
jaringan ikat
t t'a ?*
t'r _
9 Jaringan ikat
a
4 Sel adiposa ','--.t"$ !. 10 lvlesotel

5 Kapiler r:':{

GAMBAR 3.11 Jaringan adiposa di usus. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.
BAB 3 Ringkasan
Jaringan lkat

Klasifikasi
o Berkembang dari mesenkim dan terdiri dari sel dan substantia fundamentalis
o Jaringan ikat embrionik terdapat di tali pusat dan gigi yang sedang tumbuh
o Diklasifikasikan sebagai jaringan ikat longgar atau padat

Jaringan lkat Longgar


o Lebih banyak di tubuh dan memperlihatkan susunan sel dan serat yang longgar dan tidak teratur
o Mengandung banyak substantia fundamentalis
o Sel yang predominan adalah serat kolagen, fibroblas, sel adiposa, sel mast, dan makrofag

Jaringan lkat Padat Tidak teratur


o Terutama terdiri dari fibroblas, dan serat kolagen yang tebal dan padat
o Jenis sel lainnya lebih sedikit dan substantia fundamentalis minimal
r Serat kolagen memperlihatkan orientasi acak dan memberikan penyokong jaringan yang kuat
o Terutama terdapat pada bagian yang memerlukan tahanan terhadap gaya dari berbagai arah

Jaringan lkat Padat Teratur


o Serat-seratnya tersusun padat dengan orientasi teratur dan sejajar
o Terdapat di tendon dan ligamentum yang melekat pada tulang
o Tahanan yang besar terhadap daya tarikan pada satu sumbu atau arah
o Substantia fundamentalis minimal; sel predominan adalah fibroblas

Scl faringan lkat


Fibroblas
o Adalah sel aktif permanen yang menyintesis semua serat kolagen, retikular, dan elastik
o Menyintesis glikosaminoglikan, proteoglikan, dan glikoprotein substantia fundamentalis

Fibrosit
o Lebih kecil daripada fibroblas
o Sel jaringan ikat yang inaktifatau beristirahat

Sel Lemak (Adiposa) Putih


r Terdapat tunggal atau berkelompok
o Jika sel adiposa mendominasi, jaringan ikatnya adalah jaringan adiposa
o Menyimpan lemak (lipid), terutama trigliserida, sebagai butiran tunggal yang besar
o Tampak sebagai sel kosong karena lemaknya larut sewaktu pembuatan sediaan
o Tersebar di seluruh tubuh; berfungsi sebagai insulator, dan membentuk bantalan lemak untuk melindungi organ
o Memiliki banyak pembuluh darah karena aktivitas metabolik yang tinggi
o Memiliki banyak reseptor untuk berbagai hormon yang memengaruhi penimbunan dan pelepasan lemak
o Mengeluarkan hormon leptin untuk meningkatkan metabolisme lemak dan menghambat nafsu makan

Sel Lemak Coklat


o Selnya lebih kecil daripada sel lemak putih; menyimpan lemak sebagai butiran multipel
o Berkembang sempurna pada hewan yang melakukan hibernasi

72
a Pada bayi baru lahir atau hewan yang muncul dari hibernasi, menghasilkan panas tubuh
a Norepinefrin dari sistem saraf simpatis menimbulkan hidrolisis lemak

Makrofag
o Paling banyak di jaringan ikat longgar
o Menelan bakteri, sel mati, debris sel, dan benda asing
o Adalah sel penyaji-antigen bagi limfosit untuk respons imunologi
o Berasal dari monosit darah yang beredar
o Dinamai sel I(upfer di hati, osteoklas di tulang, dan mikroglia di susunan saraf pusat

Limfosit
o Paling banyak di jaringan ikat longgar saluran pernapasan dan pencernaan
o Menghasilkan antibodi dan mematikan sel yang terinfeksi-virus

Sel Plasma
o Ditandai oleh kromatin yang tersebar dalam pola radial
o Berasal dari limfosit yang terpajan antigen
o Menghasilkan antibodi untuk menghancurkan antigen spesifik

Sel Mast
o Berkaitan erat dengan pembuluh darah
o Ditemukan di jaringan ikat sistem pencernaan, pernapasan, dan kulit
o Sel bulat dengan granula basofilikhalus regular
o Mengeluarkan histamin jika terpajan alergen, menyebabkan reaksi alergi

Neutrofil
r Mengaktifkan fagosit; menelan dan menghancurkan bakteri

Eosinofil
o Meningkat setelah infestasi parasit
o Memfagosit kompleks antigen-antibodi selama reaksi alergi

Serat Kolagen
o Tipe I ditemukan di kulit, tendon, ligamentum, dan tulang
o Tipe II ditemukan di tulang rawan elastik dan hialin
o Tipe III membentuk anyaman di hati, limfonodus, limpa, dan organ hemopoietik
o Tipe IV ditemukan di lamina basalis membrana basalis

Substantia Fundamentalis
o Terdiri dari matriks ekstraselular, suatu gel setengah-cair dengan kandungan airyang tinggi
o Mengandung rantai polisakarida glikosaminoglikan, proteoglikan, dan glikoprotein adhesif
o Asam hialuronat adalah glikosaminoglikan utama
o Glikosaminoglikan lainnya membentuk agregat proteoglikan, yang menarik air
o Mempermudah difusi antara sel dan pembuluh darah
o Sawarpenyebaranpatogen
o Bakteri dapat menghidrolisis asam hialuronat dan mengurangi viskositas sawar
o Mengandung beberapa glikoprotein adhesif, misalnya fibronektin, yang mengikatkan sel pada serat
Cartilago

Cartilago
non calcificata d.
I$aing.ijanjAlg

cartirago @ru1Epiph,,ss
K
catcificati.n
periosteum;effim
*ql
I ^
w
3"lli::?" ffiluapnvss @

terbuka
#p :i:,n:,".".n, ^/*ffi Ep phvs s

Textus osseus spongiosus @


Periosteum
ffi-$il centrum
Rongga |
hgiTi#11
ossificationis
Prrmarrum
sangurneum
Textus
Wp,'_i
OSSEUS g,l,K."n,,n"
spongrosus
sanguineum k=:,# non calcificata

Kerah tulanq
(bone collar) Vas
sanguineum

'lo*"u'T,ffi Lamella
circumferentialis
externa
Canaliculi

Cartilago
Kanal Havers
articularis

G)
Osteonum
Textus osseus
spongiosus

Periosteum
Periosteum

.$.,"
Vas
sanguineum Textus osseus dT
spongiosus
Cadilago 'sf
epiphysialis
Textus osseus {,4
/: t
.9*

compactus a-''\
Cavitas Pembuluh darah Lamella circumfe-
medullaris dalam kanal Volkman rentialis interna

@ Textus osseus compactus Textus osseus spongiosus

GAMBARAN UMUM 4 Osifikasi endokondral menggambarkan tahap-tahap progresif pembentukan


tulang, dari model tulang rawan menjadi tulang, termasuk histologi potongan tulang kompak yang
terbentu k.

74
li

Ttrlang Rawan dan Tulang

SUBBABl ffi TulangRawan


Karakteristik Tulang Rawan
Tulang rawan (cartilago) adalah bentuk khusus jaringan ikat yang juga berasal dari mesenkim. Serupa
dengan jaringan ikat, tulang rawan terdiri atas sel dan matriks ekstraselular (matrix extracellularis)
yang terdiri dari serat jaringan ikat (fibrae textuum connectivorum) dan substantia fundamentalis
(ground substance). Berbeda dari jaringan ikat, tulang rawan bersifat nonvaskular (avaskular) dan
menerima makanan dengan difusi melalui matriks ekstraselular.
Tulang rawan memperlihatkan kekuatan regangr membentuk penyokong struktural yang kuat bagi
jaringan lunak, memberikan kelenturan tanpa distorsi, dan tahan terhadap tekanan. Tulang rawan ter-
utama terdiri dari sel yang disebut kondrosit (chondrocytus) dan kondroblas (chondroblastus) yang
menyintesis matriks ekstraselular. Terdapat tiga jenis tulang rawan dalam tubuh: hialin, elastik, dan
fibrokartilago. Penggolongannya didasarkan pada jumlah dan jenis serat jaringan ikat di dalam matriks
ekstraselular.

Jenis Tulang Rawan


Tulang Rawan Hialin
Tulang rawan hialin (cartilago hyalina) adalah jenis yang paling banyak ditemukan. Pada embrio,
tulang rawan hialin berfungsi sebagai model kerangka bagi kebanyakan tulang. Seiring dengan per-
tumbuhan, model tulang rawan secara bertahap diganti dengan tulang melalui proses yang disebut
osifikasi endokondral (ossificatio endochondralis). Pada orang dewasa, kebanyakan model tulang
rawan hialin telah diganti dengan tulang, kecuali tulang rawan permukaan sendi, ujung iga (tulang rawan
lga), hidung, laring, trakea, serta di bronki. Di sini, tulang rawan hialin menetap seumur hidup dan tidak
mengalami penulangan.

Tulang Rawah Elastik


Tulang rawan elastik (cartilago elastica) serupa dengan tulang rawan hialin, namun memiliki lebih
banyak serat elastik (fibra elastica) bercabang di dalam matriksnya. Tulang rawan elastik bersifat sangat
lentur dan terdapat di telinga luar, dinding tuba auditorius, epigiotis, <ian laring.

Fibrokartilago
Fibrokartilago (cartilago fibrosa) ditandai oleh adanya berkas-berkas serat kolagen kasar yang padat
dan tidak teratur dalam jumlah besar. Berbeda dari tulang rawan hialin dan elastilg fibrokartilago terdiri
atas lapisan matriks tulang rawan diselingi lapisan serat kolagen tipe I padat. Serat kolagen ini berorien-
tasi sesuai arah tegangan fungsional. Distribusi fibrokartilago di tubuh terbatas dan ditemukan di diskus
intervertebralis, simfisis pubis, dan sendi tertentu.

/5
Perikondriurn
Kebanyakan tulang rawan hialin dan elastik dikelilingi oleh selapis jaringan ikat padat, tidak teratur, dan
memiliki vaskularisasi, disebut perikondrium (perichondrium). Lapisan fibrosa luarnya mengandung
serat kolagen tipe I dan fibroblas. Lapisan dalam perikondrium bersifat selular dan kondrogenik. Sel-sel
kondrogenik membentuk kondroblas yang mengeluarkan matriks tulang rawan. Tulang rawan hialin di
permukaan sendi tulang tidak dilapisi oleh perikondrium. Demikian juga, fibrokartilago juga tidak
memiliki perikondrium karena selalu berhubungan dengan serat jaringan ikat padat.

Matriks Tulang Rawan


Matriks tulang rawan (matrix cartilaginea) dihasilkan dan dipelihara oleh kondrosit dan kondroblas.
Serat kolagen atau elastik memberi kekuatan dan ketahanan pada matriks tulang rawan. Serupa dengan
jaringan ikat longgar, substantia fundamentalis ekstraselular tulang rawan mengandung glikosami-
noglikan sulfat dan asam hialuronat yang berkaitan erat dengan serat elastik dan kolagen di dalam
substantia fundamentalis. Matriks tulang rawan juga banyak mengandung air sehingga molekul-molekul
dapat berdifusi keluar-masuk kondrosit. Tulang rawan adalah suatu jaringan setengah-kaku dan dapat
berfungsi sebagai shock absorber. Di dalam matriks terbenam serat kolagen dan elastik dengan proporsi
bervariasi. Adanya serat-serat ini menggolongkan tulang rawan sebagai tulang rawan hialin, tulang rawan
elastik, atau fibrokartilago.
Matriks tulang rawan hialin terdiri dari serabut halus kolagen tipe II yang terbenam di dalam
matriks terhidrasi amorf padat yang kaya proteoglikan dan glikoprotein struktural. Kebanyakan pro-
teoglikan dalam matriks tulang rawan berupa agregat proteoglikan besar, yang mengandung gli-
kosaminoglikan sulfat yang terikat pada protein inti dan molekul asam hialuronat glikosaminoglikan
tidakbersulfat. Agregat proteoglikan berikatan dengan serabut-serabut halus matriks kolagen.
Selain serabut kolagen tipe II dan proteoglikan, matriks tulang rawan juga mengandung glikoprotein
adhesif yaitu kondronektin. Makromolekul ini berikatan dengan glikosaminoglikan dan serat kolagen,
melekatkan kondroblas dan kondrosit pada serat kolagen matriks sekitar.

GAMBAR 4.1 g Tulang Rawan Hialin Janin


Gambar ini memperlihatkan tulang rawan hialin dalam tahap awal perkembangan. Tulang rawan hialin
janin yang tidak mengandung pembuluh darah dikelilingi oleh mesenkim (l) superfisial dengan pem-
buluh darah (vas sanguineum) (S). pada tahap ini, lakuna di sekitar kondroblas (4, z) tidak
ianin
terlihat, dan kondroblas (+, Z) menyerupai sel mesenkim superfisial ( t). t<ondroblas janin (4,7) tersebar
acak tanpa membentuk kelompok isogen dan menyekresi matriks interselular tulang rawan (S).
Selama perkembangan, sel mesenkim (t) terkonsentrasi di bagian pinggir tulang rawan dan intinya
mulai memanjang. Bagian ini berkembang menjadi perikondriun (2,6), suatu selubung jaringan ikat
padat tidak teratur dengan fibroblas (2,6) yang mengelilingi tulang rawan hialin dan elastik. Lapisan
dalam perikondrium (2, 6) berubah menjadi lapisan kondrogenik (stratum chondrogenicum) (3)
yang menghasilkan kondroblas (+, Z ).

GAMBAR 4.2 ffi Tulang Rawan Hialin dan $truktur $ekitar: Trakea
Sediaan ini memperlihatkan potongan lempeng tulang rawan hialin trakea. Perikondrium (5) dengan
fibroblas (7) mengelilingi tulang rawan. Lapisan kondrogenik (+) di sebelah dalam menghasilkan
kondroblas (S) yang berdiferensiasi menjadi kondrosit. Kondrosit di lakuna tampak sendiri-sendiri
atau dalam aggregatio isogenica (a). lakuna dan kondrosit (3) di bagian tengah lempeng tulang rawan
terlihat besar dan bulat, tetapi sel ini menjadi semakin gepeng ke arah tepi, tempat sel tersebut menjadi
kondroblas yang berdiferensiasi (A). Uatriks interteritorial (matrix interterritorialis) ( t ) (interselu-
lar) berwarna terang, sedangkan matriks teritorial (matrix territorialis) (z) di sekitar lakuna berwarna
lebih gelap.
Di dekat tulang rawan tampak iaringan ikat (f O) vaskular (q) dan kelenjar trakea dengan unit
sekretorik bentuk-anggur yang disebut asini. Asini serosa (acini serosa) (tt) menghasilkan sekresi
encer, sedangkan asini mukosa (acini mucosa) (tz) mengeluarkan mukus pelumas. Duktus eks-
kretorius (ductus excretorius) (6) menyalurkan sekresi ini ke dalam lumen trakea.

Tulang rawan berkembang dari sel mesenkim primitif yang berdiferensiasi menjadi kondroblas.
Sel-sel ini membelah secara mitosis dan menyintesis matriks tulang rawan dan bahan ekstraselulei.
Seiring dengan pertumbuhan model tulang rawan, setiap konlroblas dikelilingi oleh matriks
ekstraselular dan terperangkap dalam kompartemen yang disebut lacunae (tunggal, Iacuna). Sel-
sel di dalam lakuna ini adalah sel tulang rawan matuf yang disebut kondrosit. Fungsi utama
kondrosit adalah memelihara matriks tulang rawan.Beberapa lakuna mungkin ber"isi lebih dari satu
kondrosit;kelompokkondrositinidisebutkelompokisogen(aggregatioisogenica).
Sel mesenkim juga dapat berdiferensiasi menjadi fibroblas yang membentuk perikondrium,
yaitu jaringan ikat padat tidak teratur yang membungkus tulang rawan. Lapisan sel di sebelah
dalam periLondrium mengandung sel kondrogenik, yang dapat beidiferensiasi menjadi kondroblas,
menyekresi matriks tulang rawan, dan terperangkap di lakuna sebagai kondrosit.

1 Mesenkim superfisial .-\ f- q


4!J ,*l----
dengansel -'\ ' - & di , _. f
"'\F. 5 Pembuluh darah
n \- o.'
.;fi d.**^--.--i
j.,;
2perikondrium l";****; *:;:-*-Jo 6Perikondrium
denganfibroblasl -*f *."iF'tH":-"F
;:qryTl*&KN'$ i denganfibroblas
-f" * *.t* * *
o.u r
"' *" * ,o'*t*,
3Lapisankondrogenik-;-.;:";,;-.J'**w7Kondroblasjanin
F *
..t-o *!. r cc- -
,o n r,
o .-,+41* i *{, *5,
,)<? t .' u o"o- .-"-, t-'-+jrj-t----sMatriksinterselular
. .., .
4Kondroblasjanin, *r,i r*' a ", . r'
r *-* a *
" !r*r,'.,-&
n, !
tulangrawan
-
u n . t i loll.t &

?noj *,*' "."i *osf,'n.t*'1_


o** ; : o.*o * * **t***f*,
GAMBAR 4.1 Tulang rawan hialin janin yang sedang tumbuh. Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran sedang.

B Kondroblas
yang berdiferensiasi

9 Pembuluh darah

10 Jaringan ikat

-dl.!ir:Y "; d 11 Asini serosa


{rt &!* a 12 Asini mukosa
6 Duktus ekskretorius
kelenjar trakea

GAMBAR 4.2 fulang rawan hialin dan struktur sekitar: trakea. Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran sedang.
GAMBAR 4.3 ffi $ei dan Matriks Tulang Rawar": Hialin Matur
Gambar dengan pembesaran kuat memperlihatkan bagian dalam atau tengah tulang rawan hialin matur.
Lakuna (3), suatu ruang ovoid yang mengandung sel-sel tulang rawan matur, kondrosit ( l, 2), tersebar
di seluruh substantia fundamentalis homogen, matriks (+, S). Pada tulang rawan yang utuh, kondrosit
mengisi lakuna. Masing-masing kondrosit memiliki sitoplasma granular dan nukleus (l). Sewaktu pem-
buatan sediaan, kondrosit (1, 2) menciut, dan lakuna (3) tampak sebagai ruang kosong. Sel tulang rawan
di matriks terlihat tunggal atau dalam aggregatio isogenica.
Matriks tulang rawan hialin (4, 5) tampak homogen dan biasanya basofilik. Matriks terpulas-lebih
terang di antara kondrosit-kondrosit (2) disebut matriks interteritorial (S). Matriks yang lebih gelap
atau basofilik yang berdekatan dengan kondrosit disebut matriks teritorial (4).

GAMBAR 4.4 W Tuiang Rawan Fiiaiin: Tulang yans Sedang Tumbr.rh


Fotomikrograf potongan tulang yang sedang tumbuh memperlihatkan bagian tulang rawan hialin dan
matriks (f) homogennya yang khas. Di dalam matriks (1) terdapat sel tulang rawan hialin matur
kondrosit (3) yaitu di dalam lakuna (Z). li sekeliling tulang rawan hialin terdapat jaringan ikat padat
tidak teratur perikondriu- (5). Pada permukaan dalam perikondrium ini terdapat lapisan kondro-
genik (a).

Tulang rawan bersifat nonvaskular, namun dikelilingi oleh jaringan ikat vaskular perikondrium
(perichondrium). Karena tingginya kandungan air dalam tulang rawan, semua nutrien masuk dan
metabolit keluar dari tulang rawan secard difusi melalui matriks. Matriks tulang rawan juga bersifat
lunak dan lentur, tidak sekeras tulang. Karena itu, tulang rawan tumbuh secara simultan melalui

Pertumbuhan interstisial terjadi melalui mitosis kondrosit di dalam matriks disertai pengen-
dapan matriks baru di antara dan di sekeliling sel. Proses ini menambah ukuran tulang rawan dari
dalam. Pertumbuhan aposisional terjadi di tepi tulang rawan. Di sini, kondroblas beidiferensiasi
dari lapisan sel di sebelah dalam perikondrium dan mengendapkan selapis matriks tulang rawan
pada lapisan tulang rawan yang sudah ada. Proses pertumbuhan ini meningkatkan lebar tulang
rawan.
Tulang rawan hialin merupakan struktur yang kuat dan penyangga yang fleksibel. Tulang
rawan elastik, karena banyak serat elastik bercabang di dalam matriksnya, memberikan penyokong
struktural dan juga meningkatkan kelenturan. Berbeda dari tulang rawan hialin, yang mengalamr:
kalsifikasi seiring dengan penuaan, matriks tulang rawan elastik tidak mengalami kalsifikasi. Fungsi
utama fibrokartilago adalah memberikan daya regang, menahan beban, dan ketahanan terhadap
regangan atau kompresi.
1 Nukleus
kondrosit

2 Kondrosit

3 Lakuna

GAMBAR 4.3 Sel dan matriks tulang rawan hialin matur. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
kuat.

.*

,*; ffi {,&

1 Matriks

2 Lakuna . . ,J" ;r'


kondrogenik
3 Kondrosit
w,"/.-"
5 Perikondriuin

S,*xu
GAMBAR 4.4 Tulang rawan hialin: tulang yang sedang tumbuh. Pulasan: hematoksilin dan eosin. 80 x
GAMBAR 4.5 # Tulang Rawan Elastik: Epigletis
Tulang rawan elastikberbeda dari tulang rawan hialin terutama oleh banyaknya serat elastik (+) fi dalam
matriks (7). Pewarnaan tulang rawan epig.lotis dengan perak memperlihatkan adanya serat elastik (4)
tipis. Serat elastik (4) masuk ke matriks tulang rawan dari perikondrium (f ) yaringan ikat sekitar dan
menyebar membentuk serat-serat yang bercabang dan beranastomosis dalam berbagai ukuran. Densitas
serat bervariasi di antara tulang rawan elastik dan juga di antara bagian lain pada tulang rawan yang
sama.
Seperti pada tulang rawan hialin, kondrosit besar di dalam lakuna (S, S) lebih banyak ditemukan
di bagian dalam lempeng. Kondrosit kecil dan gepeng terletak di pinggir pada lapisan kondrogenik
perikondrium (2) sebelah dalam, tempat kondroblas terbentuk untuk menyintesis matriks tulang
rawan. Di perikondrium (1) juga terlihat fibrosit (5) jaringan ikat dan venula (6).

GAMBAR 4.6 ffi Trilang Rawan Elastik: Epiglotis


Suatu fotomikrograf potongan epiglotis menunjukkan bahwa struktur jenis ini ditandai oleh adanya
tulang rawan dengan serat elastik (2) halus bercabang di dalam matriks (S) tulang rawannya, selain
kondrosit (3) dan lakuna (+). Adanya serat elastik (2) menyebabkan kelenturan tulang rawan ini, selain
sebagai penyokong. Di sekeliling tulang rawan elastik terdapat lapisan jaringan ikat padat tidak teratur,
yaitu perikondrium (f ).

GAMBAR 4.7 ffi Tulang Rawan Fibrosa: Diskus lntervertebralis


Pada tulang rawan fibrosa, matriks (5) terlsi oleh serat kolagen (2,6) padat, yang sering tersusun se-
jajar, terlihat pada tendon. Kondrosit (f , 4) kecll di dalam lakuna (3) umu-nya tersebar berderet (4)
di dalam matriks tulang rawan fibrosa (5), bukan tersebar acak atau dalam aggregatio isogenica, seperti
pada tulang rawan hialin atau elastik. Semua kondrosit dan lakuna (t, Z, +) mempunyai ukuran serupa;
tidak ada gradasi dari kondrosit sentral yang lebih besar menjadi sel-sel perifer yang lebih kecil dan
gepeng.
Perikondrium yang biasanya terdapat di sekitar tulang rawan hialin dan elastik, tidak ada karena
tulang rawan fibrosa umumnya membentuk daerah peralihan antara tulang rawan hialin dan tendon atau
ligamentum.
Proporsi serat kolagen (2,6) terhadap matriks tulang rawan (5), jumlah kondrosit, dan susunannya
di dalam matriks bervariasi. Serat kolagen (2, 6) mungkln sangat padat sehingga matriks (S) tidak tam-
pak. Dalam hal ini, kondrosit dan lakuna tampak menggepeng. Serat-serat kolagen di dalam satu berkas
(fasciculus) biasanya sejajar, namun arah berkasnya dapat berjalan ke segala arah.
5 Fibrosit
perikondrium
1 Perikondrium

6 Venula

2 Lapisan kondrogenik
perikondrium

7 Matriks tulang rawan


3 Lakuna dengan serat elastik
dengan kondrosit

4 Serat elastik 8 Nukleus


kondrosit

GAMBAR 4.5 Tulang rawan elastik: epiglotis. Pulasan: perak. Pembesaran kuat.

3 Kondrosit
Perikondrium

4 Lakuna

5 Matriks
2 Serat elastik

GAMBAR 4.6 Tulang rawan elastik: epiglotis. Pulasan: perak. 80 x

Nukleus
kondrosit

2 Serat kolagen

3 Lakuna
6 Serat kolagen

GAMBAR 4.7 Tulang rawan fibrosa: diskus intervertebralis. Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran kuat.
BAB 4 Ringkasan
SUBBAB 1 Tulang Rawan

Karakteristik Tulang Rawan


o Terbentuk dari mesenkim dan terdiri dari sel, serat jaringan ikat, dan substantia fundamentalis
r Nonvaskular, mendapat nutrien dengan difusi melalui substantia fundamentalis
r Melakukan berbagai fungsi suportif
r Sel berupa kondrosit dan kondroblas
o Tiga jenis tulang rawan adalah hialin, elastik, dan fibrokartilago

Tulang Rawan Hialin


o Paling banyak di tubuh dan berfungsi sebagai model kerangka bagi kebanyakan tulang
r Diganti oleh tulang sewaktu osifi.kasi endokondral
r Mengandung serabut kolagen tipe II
r Pada dewasa, terdapat di permukaan sendi tulang, ujung iga, hidung, laring, trakea, dan bronki

Tulang Rawan Elastik


r Mengandung serat - serat elastikyang bercabang di dalam matriks dan sangat lentur
r Ditemukan di telinga luar, tuba auditorius, epiglotis, dan laring

Fibrokartilago
o Terisi oleh berkas-berkas padat serat kolagen tipe I yang berselang seling dengan matriks tulang rawan
o Memberikan daya regang, menahan beban, dan ketahanan terhadap kompresi
o Ditemukan pada diskus intervertebralis, simfisis pubis, dan sendi-sendi tertentu

Perikondrium
o Terdapat di pinggir tulang rawan hialin dan elastik
o Lapisan perifer adalah jaringan ikat padat vaskular dengan kolagen tipe I
r Lapisan dalam adalah lapisan kondrogenik dan menghasilkan kondroblas yang menyekresi matriks tulang rawan
o Tulang rawan hialin sendi tulang dan fibrokartilago tidak dilapisi oleh perikondrium

Matriks Tulang Rawan


o Dihasilkan dan dipertahankan oleh kondrosit dan kondroblas
o Mengandung agregat proteoglikan besar dan tingginya kandungan air
o Memungkinkan difusi dan merupakan shock absorber setengah kaku
r Glikoprotein adhesif kondronektin mengikatkan sel dan serabut pada matriks sekitar
o Tulang rawan elastik memberi penyokong struktural dan meningkatkan kelenturan

Sel Tulang Rawan


o Sel mesenkim primitifberdiferensiasi menjadi kondroblas yang menyintesis matriks
r Sel tulang rawan matur, kondrosit, terdapat dalam lakuna.
o Lapisan sebelah dalam jaringan ikat sekitar perikondrium adalah lapisan kondrogenik
o Kondroblas memperbesar tulang rawan melalui proses pertumbuhan interstisial dan aposisional

82
SUBBAB 2 ffi Tulang
Karakteristik Tulang
Serupa dengan tulang rawan, tulang juga merupakan bentuk khusus jaringan ikat dan terdiri dari sel,
serat, dan matriks ekstraselular. Karena pengendapan mineral dalam matriks, tulang mengalami klasi-
fikasi. Akibatnya, tulang menjadi keras dan dapat menahan beban lebih besar dibandingkan dengan
tulang rawan, berfungsi sebagai kerangka tubuh yang kaku, dan memberikan tempat perlekatan bagi otot
dan organ.
Tulang juga melindungi otak di dalam tengkoralg jantung dan paru di dalam toraks, dan organ
urinarium dan reproduksi di antara tulang-tulang pelvis. Selain itu, tulang berfungsi dalam hemopoiesis
(pembentukan sel darah), dan sebagai tempat penyimpanan (reservoir) kalsium, fosfat, dan mineral
lainnya. Hampir seluruh (9q"2) kalsium tubuh disimpan di dalam tulang, dan kebutuhan harian tubuh
akan kalsium berasal dari tulang.

Proses Pembentukan Tulang {Osifikasi}


Pertumbuhan tulang dimulai dl dalam embrio melalui dua proses: osifikasi endokondral (ossificatio
endochondralis) dan osifikasi intramembranosa (ossificatio demalis). Meskipun dihasilkan melalui dua
proses yang berbeda, tulang memiliki struktur histologik yang sama (Gambaran Umum 4).

Osifikasi Endokondral
Sebagian besar tulang di tubuh berkembang melalui proses osifikasi endokondral (ossificatio endo-
chondralis), yaitu proses pembentukan tulang yang didahului oleh suatu model tulang rawan hialin
sementara. Model tulang rawan ini terus tumbuh melalui cara interstisial dan aposisional, dan terutama
digunakan untuk membentuk tulang panjang dan tulang pendek. Seiring dengan pertumbuhan, kon-
drosit membelah, membesar (hipertrofi), matur, dan model tulang rawan hialin mulai mengalami kalsifi-
kasi. Difusi nutrien dan gas melalui matriks berkurang seiring dengan proses kalsifikasi tulang rawan.
Akibatnya kondrosit mati, dan matriks yang mengalami fragmentasi dan kalsifikasi berfungsi sebagai
kerangka struktural untuk pengendapan material tulang.
Segera setelah terjadi pengendapan suatu lapisan material tulang di sekitar tulang rawan yang
terkalsifikasi, sel-sel perikondrialis bagian dalam memperlihatkan potensi osteogeniknya, dan terbentuk
suatu kerah periosteal (periosteal collar of bone) tipls di sekeliling bagian tengah batang tulang. Jaringan
ikat eksternal ini disebut periosteum. Sel-sel mesenkim dari lapisan dalam periosteum berdiferensiasi
menjadi sel osteoprogenitor, dan pembuluh darah dari periosteum menginvasi model tulang rawan
yang telah mengalami kalsifikasi dan degenerasi. Sel osteoprogenitor berproliferasi dan berdiferensiasi
menjadi osteoblas (osteoblastus) yang menyekresi matriks osteoid, suatu jaringan lunak yang semula
kolagenosa dan tidak mengandung mineral namun cepat mengalami mineralisasi menjadi tulang.
Osteoblas kemudian dikelilingi oleh tulang dalam lakuna (lacunae) miripJubang dan sekarang disebut
osteosit (osteocytus); terdapat satu osteosit per lakuna. Osteosit membentuk suatu hubungan antarsel
yang kompleks melalui saluran-saluran halus di tulang disebut kanalikuli (canaliculi); saluran-saluran
ini akhirnya membuka ke saluran yang mengandung pembuluh darah. Sel osteoprogenitor juga berasal
dari permukaan dalam tulang disebut endosteum. Endosteum melapisi semua rongga dalam di tulang
dan terdiri dari satu lapisan sel osteoprogenitor.
Jaringan mesenkim, osteoblas, dan pembuluh darah membentuk pusat osifikasi primer (centrum
ossificationis primarium) di tulang yang sedang tumbuh yang bermula di diafisis (diaphysis) atau
batang tulang panjang, diikuti oleh pusat osifikasi sekunder (centrum ossificationis secundarium) di
epifisis (epiphysis) atau permukaan sendi ujung yang memanjang. Di semua tulang panjang yang se-
dang tumbuh, tulang rawan di diafisis dan epifisis diganti oleh tulang, kecuali di daerah lempeng epifisis
(cartilago epiphysialis), yang terletak di antara diafisis dan epifisis. Pertumbuhan di daerah ini berlanjut
dan berfungsi untuk memanjangkan tulang sampai pertumbuhan tulang berhenti. Perluasan kedua pusat
osifikasi pada akhirnya menggantikan seluruh model tulang rawan dengan tulang, termasuk lempeng

B3
epifisis. Satu-satunya pengecualian adalah ujung bebas atau persendian tulang panjang. Di sini, selapis
tulang rawan hialin permanen menutupi tulang dan disebut tulang rawan sendi (cartilago articu-
laris).

Osif i kasi I ntramem branosa


Pada osifikasi intramembranosa (ossificatio demalis), pertumbuhan tulang tidak didahului oleh mo-
del tulang rawan, tetapi dari mesenkim jaringan ikat. Sebagian sel mesenkim berdiferensiasi secara
langsung menjadi osteoblas yang menghasilkan matriks osteoid, yang cepat mengalami kalsifikasi.
Banyak pusat osifikasi yang terbentuk, beranastomosis dan menghasilkan anyaman tulang spongiosa
yang terdiri dari batang, lempeng, dan duri yang tipis disebut trabekulae (trabeculae). Osteoblas di
lakuna kemudian dikelilingi oleh tulang dan menjadi osteosit. Seperti pada osifikasi endokondral, saat
osteosit berada di dalam lakuna, osteosit membentuk hubungan antarsel yang kompleks melalui
kanalikuli.
Mandibula, maksila, klavikula, dan hampir seluruh tulang pipih tengkorak dibentuk melalui
metode intramembranosa. Pada tengkorak yang sedang berkembang, pusat-pusat osifikasi tumbuh se-
cara radial, menggantikan jaringan ikat, dan kemudian menyatu. Pada bayi baru lahir, ubun-ubun
(fonticuli)pada tengkorak adalah daerah berselaput lunak tempat osifikasi intramembranosa di tulang
tengkorak sedang mengalami proses osifikasi.

fenis Tulang
Pemeriksaan tulang pada potongan melintang memperlihatkan dua jenis tulang, tulang kompak (textus
osseus compactus) dan tulang spongiosa/kanselosa (textus osseus spongiosus) (lihat Gambaran
Umum +). Pada tulang panjang, bagian silindris luar adalah tulang kompak padat. permukaan dalam
tulang kompak di dekat rongga sumsum (cavitas medullaris) adalah tulang spongiosa (kanselosa). Tulang
kanselosa mengandung banyak daerah yang saling berhubungan dan tidak padat; namun, kedua jenis
tulang memiliki gambaran mikroskopik serupa. Pada bayi baru lahir, rongga sumsum tulang panjang
tampak merah dan menghasilkan sel darah. Pada orang dewasa, rongga sumsum tulang panjang biasanya
tampak kuning dan terisi oleh sel adiposa (lemak).
Pada tulang kompak, serat kolagen tersusun dalam lapisanJapisan tulang yang tipis disebut lamela
(lamella ossea) yang saling sejajar di bagian tepi tulangr atau tersusun konsentris mengelilingi suatu
pembuluh darah. Di tulang panjang, lamela sirkumferensial luar (lamella circumferentialis externa)
terletak di bagian dalam periosteum. Lamela sirkumferensial dalam (lamella circumferentialis
interna) mengelilingi rongga sumsum tulang. Lamela konsentrik (lamella osteoni) mengelilingi
saluran-saluran dengan pembuluh darah, saraf; dan jaringan ikat longgar yang disebut osteon (sistem
Havers). Ruang di osteon yang mengandung pembuluh darah dan saraf adalah kanalis sentralis
(Havers). Sebagian besar tulang kompak terdiri dari osteon (osteonum). Lakuna dengan osteosit dan
terhubung melalui kanalikuli ditemukan di antara lamela pada setiap osteon (lihat Gambar Umum 4).

Matriks Tulang
Matriks tulang terdiri dari sel hidup dan material ekstraselular. Karena matriks tulang mengalami
kalsifikasi atau mineralisasi, matriks tulang jauh lebih keras daripada tulang rawan. Nutrien dan metabolit
tidak mudah berdifusi melalui matriks terkalsifikasi; oleh karena itu, matriks tulang sangat vaskular.
Matriks tulang mengandung komponen organik dan inorganik. Komponen organik memungkinkan
tulang untukmenahan tegangan, sedangkan komponen mineral menahan tekanan.
Komponen organik utama matriks tulang adalah serat kolagen tipe I, yang terutama mengandung
protein. Komponen organik lain adalah glikosaminoglikan sulfat dan asam hialuronat yang membentuk
agregat proteoglikan besar. Glikoprotein osteokalsin dan osteopontin berikatan erat dengan kristal
kalsium selama mineralisasi tulang. Protein matriks lainnya, sialoprotein, mengikat osteoblas pada
matriks ekstraselular melalui integrin protein membran plasma.
Komponen inorganik matriks tulang terdiri dari mineral kalsium dan fosfat dalam bentuk kristal
hidroksiapatit (cyrstallum hydroxyapatiti). Ikatan serat kolagen kasar dengan kristal hidroksiapatit me-
nyebabkan tulang menjadi keras, tahan-lama, dan kuat. Selain itu, seiring dengan meningkatnya kebu-
tuhan, hormon seperti hormon paratiroid dari kelenjar paratiroid dan kalsitonin dari kelenjar tiroid ikut
mempertahankan kadar normal mineral dalam darah.
GAMBAR 4.8 ffi Osifikasi Endokondral: Periumbuhan Tulang Panjang (Pandangan
Menyeluruh, Fotongan Longitudinal)
Pada proses osifikasi endokondral, tulang mula-mula dibentuk sebagai model tulang rawan hialin em-
brionik. Seiring dengan pertumbuhan tulang, model tulang rawan digantikan oleh tulang. Proses osifikasi
endokondral dapat diikuti dengan mengamati bagian atas gambar dan berlanjut ke arah bawah.
Pada bagian atas, tulang rawan hialin dikelilingi oleh jaringan ikat perikondrium (fa). Zona
cadangan tulang rawan (zona quiescens) (t) memperlihatkan kondrosit di lakuna yang tersebar se-
cara tunggal atau dalam kelompok kecil. Di bawah bagian ini terdapat zona proliferasi kondrosit (zona
proliferationis) (Z) tempat kondrosit membelah dan tersusun dalam kolom vertikal. Kondrosit dalam
lakuna (4) bertambah ukurannya di zona hipertrofi kondrosit (zona hypertrophica) (3) akibat
pembengkakan inti dan sitoplasma. Kondrosit yang mengalami hipertrofi kemudian berdegenerasi,
membentuk lempeng tipis matriks tulang rawan terkalsifikasi (15). Di bawah bagian ini terdapat
zona osifikasi (zona ossificationir) (4), tempat material tulang diendapkan di lempeng matriks tulang
rawan terkalsifikasi ( 15).
Sinusoid darah (20) atau kapiler menginvasi tulang rawan yang terkalsifikasi. Dinding lakuna dan
tulang rawan terkalsifikasi (cartilago calcificata) (t5) mengalami erosi, dan terbentuklah rongga sum-
sum tulang merah (medulla ossium rubra) (16). Jaringan ikat di sekitar tulang yang baru terbentuk
disebut periosteum (5,6, t7), dan daerah ini sekarang disebut zona osifikasi (+). Dalam gambar ini,
tulang berwarna merah tua. Sel osteoprogenitor dari periosteum dalam (6) terus berdiferensiasi men-
jadi osteoblas, mengendapkan osteoid dan tulang (S) d sekitar sisa lempeng tulang rawan (15), dan
membentuk kerah tulang periosteum (7).
Pembentukan tulang periosteum baru (7) setara dengan pembentukan tulang endokondral baru.
I(erah tulang (7) meningkat ketebalan dan kepadatannya seiring dengan pertumbuhan tulang. Bagian
paling tebal dari kerah tulang (7) tampak di bagian tengah tulang yang sedang tumbuh yang disebut
diafisis. Pusat osifikasi primer terletak di diafisis, tempat kerah tulang periosteum (7) terbentuk.
Sumsum tulang merah (16) mengisi rongga pada tulang yang baru terbentuk dengan sel-sel hemo-
poietik (pembentuk-darah). Serat jaringan ikat retikular halus di sumsum tulang (16) ditutupi oleh
massa sel-sel yang sedangberkembang seperti eritrosit, granulosit, megakarioslt (12),spikulum tulang
(tt, zz), banyak sinusoid (20), kapiler, dan pembuluh darah sehingga tidak tampak jelas.
Jaringan lunak mengelilingi diafisis yang sedang tumbuh. Epidermis (f S) kulit dilapisi oleh epitel
berlapis gepeng. Di bawah epidermis (tS) terdapat iaringan ikat subkutaneus dermis (19), tempat
ditemukannya folikel rambut (9), pembuluh darah (tO), sel adiposa (zr), dan keleniar keringat
(zt).
1 Zona cadangan
tulang rawan

'13 Perikondrium
2 Zona proliferasi
kondrosit

'14 Kondrosit
3 Zona hipertrofi kondrosit di lakuna
dan kalsifikasi tulang
rawan

15 Lempeng matriks
4 Zona osiflkasi tulang rawan
terkalsifikasi

16 Rongga sumsum
5 Periosteum luar tulang merah
6 Periosteum dalam

7 Kerah tulang periosteum 17 Periosteum

8 Osteoid dan tulang


18 Epidermis

I Folikel rambut
19 Jaringan
ikat dermis

20 Sinusoid darah
10 Pembuluh darah

21 Sel adiposa

22 Spikulum tulang
11 Spikulum tulang

12 Megakariosit
23 Kelenjar keringat
di dermis

GAMBAR 4.8
Osifikasi endokondral: pertumbuhan tulang panjang (pandangan menyeluruh, potongan
longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.
GAMBAR 4.9 ffi Osifikasi Endokondral: Zona Osifikasi
Gambar ini menunjukkan osifikasi endokondral dengan pembesaran kuat dan sangat detail serta sesuai
dengan bagian atas Gambar 4.8.
Kondrosit (t, t+) yang berproliferasi tersusun dalam kolom vertikal yang jelas. Di bawah terdapat
zona hipertrofi kondrosit (2, 15). Kondrosit dan lakuna mengalami hipertrofi karena bertambahnya
timbunan glikogen dan lipid di dalam sitoplasma dan pembengkakan inti. Sitoplasma kondrosit yang
hipertrofi (2, tS) membentuk vakuola (t6), intinya menjadi piknoti( dan lempeng tulang rawan tipis
dikelilingi oleh matriks terkalsifikasi (5, f 7).
Osteoblas (e,ZO)berderetdisepanjangsisalempengtulangrawanterkalsifikasi(5,17)danterletak
pada lapisan osteoid (U) dan tulang. Osteoblas yang terperangkap dalam osteoid atau tulang menjadi
osteosit (l,zt).Kapiler (S, rS) darironggasumsum (10) menginvasitulangyangbaruterbentuk.
Rongga sumsum (t0) mengandung banyak megakariosit (13, 24) dan sel induk pluripoten yang
menghasilkan sel darah (23) eritrositik dan granulositik. Osteoklas (tl, Zl,) multinukleus terletak di
dalam lekukan yang disebut lakuna Howship (tt, ZZ) dan berdekatan dengan tulang yang sedang
diresorpsi.
Di sebelah kiri gambar terdapat tulangperiosteal (7) dengan osteosit (l) di dalam lakuna. Tulang
baru bertambah di bagian tepi oleh osteoblas (6), yang berkembang dari sel osteoprogenitor periosteum
bagian dalam (f Z). Lapisan luar periosteum berlanjut menjadi jaringan ikat perikondrium (3).

GAMBAR 4.10 Osifikasi Endokondral: Zona Osifikasi


Fotomikrograf ini menggambarkan transformasi tulang rawan hialin menjadi tulang melalui osifikasi
endokondral. Di dalam matriks tulang rawan hialin (6) terdapat kondrosit yang berproliferasi (7)
dan kondrosit yang hipertrofi (f ) dengan sitoplasma bervakuola (z).Oi bawah sel-sel ini terdapat
lempeng atau spikulum tulang rawan terkalsifikasi (3), yang dikelilingi oleh osteoblas (+). Seiring
kalsifikasi tulang rawan, terbentuklah rongga sumsum (5) dengan pembuluh darah, iaringan hemo-
poietik (f O), sel osteoprogenitor, dan osteoblas (+). tulang rawan hialin dikelilingi oleh jaringan ikat
perikondriu^ (S). Rongga sumsum dalam tulang baru dikelilingi oleh jaringan ikat periosteum (9).
s, 1;

1 Kondrosit
14 Kondrosit
yang berproliferasi $ t1 yang berproliferasi
d 1, 15 Kondrosit
2 Kondrosit
H
yang hipertrofi yang hipertrofi
i*,r 16 Sitoplasma
3 Perikondrium
bervakuola
4 Kondrosit
yang berdegenerasi *i 17 Matriks
sif terkalsifikasi
i,$
5 Matriks
18 Kapiler
terkalsifikasi
tt
6 Osteoblas 19 Osteoid

7 Tulang periosteal
s 20 Osteoblas

8 Kapiler T 2'1 Osteosit


s
9 Osteosit
22 Osteoklas
(dalam lakuna
10 Rongga sumsum Howship)

23 Sel-sel darah yang


11 Osteoklas
.i .{.':' '\ sedang berkembang
12 Periosteum
dalam
l1s*ig; 24 Megakariosit
is.r.$-"
13 Megakariosit

GAMBAR 4.9 Osifikasi endokondral: zona osifikasi. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
sedang.

.*'t %
.F !{

+ .-'::-
-*.*f_--.

" '*
l :=-:: -1i:- $iis: *;r
6 Matriks tulang
Kondrosit
yang hipertrofi
. .r-l-'1i
-l
* )' i-.;i-:#"$ff
a*
:- i.il 7
rawan hialin

ffi
\ d ! Kondrosit yang
*' {,,
f -rn-
'

;'= ,- \:,1 berproliferasi


2
\ r..,{' ;i - .::eS..
{ ."*,
8
Sitoplasma
i t# Perikondrium

*"''*
bervakuola ^*r-,
,="ii.'s
3 Spikulum
tulang rawan
terkalsifikasi

I Periosteum

4 Osteoblas

5 Rongga 10 Jaringan
sumsum hemopoietik

K;5
GAMBAR 4.10 Osifikasi endokondral: zona osifikasi. Pulasan: hematoksilin dan eosin. SOx
GAMBAR 4.11 ffi Osifikasi Endokondral: Pembentukan Pusat Osifikasi $ekunder
(Epifisis) dan Lempeng Epifisis di Tulang Panjang (Potongan
Longitudinal, Tulang Dekalsifikasi)
Dalam gambar diperlihatkan tulang rawan hialin di ujung-ujung epifisis dua tulang yang sedang tumbuh.
Kedua tulang memperlihatkan pusat osifikasi sekunder (S, rr). Meskipun tulang rawan bersifat non-
vaskular, namun terlihat banyak pembuluh darah (1, 6), yangterpotong dalam berbagai bidang, ber-
jalan melalui matriks tulang rawan untuk mendarahi osteoblas dan osteosit di pusat osifikasi sekunder
(S, tt).
Tulang rawan sendi (4, 12) melapisi kedua ujung sendi bakal tulang. Junturas synoviales
atau rongga sendi (3) memisahkan kedua model tulang rawan. Membran sinovial (membrana syno-
vialis) dalam yang berupasel gepeng melapisi rongga sinovial (3), kecuali di atas tulang rawan sendi (4,
12). Membran sinovial, bersama dengan jaringan ikat, meluas ke dalam rongga sendisebagai lipatan
sinovial (plica synovialis) (2, l3). Rongga sinovial (3) dltutupi oleh kapsul jaringan ikat.
Ditulangsebelahbawatr, tampaklempengepifisis (t6) aktif diantarapusatosifikasisekunder (5)
dan diafisis yang sedang tumbuh. Di lempeng epifisis (t0) lelas terlihat zona proliferasi kondrosit (7)
dan zona hipertrofi kondrosit serta kalsifikasi tulang rawan (S). Oi diafisis dan pusat osifikasi se-
kunder (5) tampak spikulum kecil tulang rawan terkalsifikasi (9, f S) yang dikelilingi oleh material
tulang berwarna-merah dan rongga sumsum tulang primitif dengan hemopoiesis (14, l7). Sebuah
megakariosit (18);uga terlihat di rongga sumsum tulang (17) bawah.Jaringan ikat periosteum (ff)
mengelilingi tulang (f O) kompak.
1'1 Pusat osifikasi
1 Pembuluh darah
sekunder

2 Lipatan sinovial

3 Rongga sinovial
12 Tulang rawan sendi

'13 Lipatan sinovial

4 Tulang rawan sendi

5 Pusat osifikasi sekunder


14 Sumsum tulang primitif
dengan hemopoiesis

15 Spikulum tulang
rawan terkalsifikasi
6 Pembuluh darah

7 Zona proliferasi kondrosit ----tj" S


I:
16 Lempeng epifisis

8 Zona hipertrofi kondrosit dan


kalsifikasi tulang rawan

17 Sumsum tulang primitil


dengan hemopoiesis
I Spikulum tulang rawan 18 Megakariosit
terkalsifikasi
19 Periosteum
10 Tulang .n;,i
GAMBAR 4.11 osifikasi endokondral: pembentukan pusat osifikasi sekunder (epifisis) dan lempeng
epifisis di tulang panjang (tulang dekalsifikasi, potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.
GAMBAR 4.12 w Pembentukan Tulang: Perken'rbangan Osteon {$istern Havers;
Fotongan Transversal, Dekalsifikasi]
Gambar ini memperlihatkan sumsum tulang primitif (f S) dan osteon yang sedang berkembang di
tulang kompak. Berkas vaskular dari jaringan ikat periosteum atau endosteum masuk dan mengikis tu-
lang dan membentuk osteon primitif. Rekonstruksi atau remodelingtulang akan berlanjut seiring dengan
diuraikannya atau terkikisnya osteon yang sudah ada diikuti oleh pembentukan osteon baru.
Matriks tulang (rr) dan spikulum tulang (rz) baru pada suatu tulang kompak imatur terpulas
merah gelap dengan eosin karena adanya serat kolagen dalam matriks. Banyak osteon primitif tampak
dalam potongan melintang, dengan kanalis sentralis (uavers) (2, 9) besar dikelilingi oleh beberapa
lamela (9) konsentrik tulang dan osteosit di lakuna (r0). Kanalis (Havers) sentralis (2,"f
) -.rrg"rrdurrg
jaringan ikat osteogenik primitif ( r:) dan pembuluh darah (2). Pengendapan tulang berlanjut pada
beberapa osteon primitif (2, 9), seperti terlihat oleh adanya osteoblas (t, t+) di sekitartanalis sentralis
(Havers) (2, O) dan pinggir lamela tulang paling dalam. Pada beberapa osteon, terbentuk osteoklas (6)
multinukleus dan cekungan dangkal yang disebut lakuna Howship (5) di tulang. Osteoklas (6) terus
meresorpsi dan melakukan remodelingpada tulang.
Jaringan ikat osteogenik primitif (13) berlalan melalui tulangr menyebabkan munculnya berkas-
berkas jaringan ikat vaskular yang membentuk kanalis sentralis (Havers) (2,9) baru. Osteoblas (t, t+)
terdapat di sepanjang tepi kanalis sentralis yang sedang terbentuk.
Di sudut kiri bawah gambar terdapat sumsum tulang primitif (15), tempat berlangsungnya proses
hemopoiesis (pembentukan sel darah); inilah sumsum merah. Di dalam rongga sumsum t"t""g (ti) yuga
terdapat eritrosit dan granulosit yang sedang berkembang, megakariosit (4, S), sinusoid
1p"-U"i"t ;
darah (3, 7), dan osteoklas (6) di dalam lakuna Howship (5). Sebagtan megakariosit (d g) terletak di
dekat sinusoid darah.Juluran sitoplasmanya menonjolke dalam sinusoid darah, tempat juluran sitoplasma
akhirnya mengalami fragmentasi dan masuk ke aliran darah sebagai trombosit.

Tulang dewasa dan yang sedang berkembang mengandung empat jenis sel berbeda: sel
osteoprogenitor, osteoblas, osteosit, dan osteoklas.
.. Sel osteoprogenitor adalah sel induk pluripoten tidak berdiferensiasi yang berasal dari jaringan
ikat mesenkim. Sel-sel in.i terletak di lapisan dalam jaringan ikat p"riorLrr dan di f"pfr""
endosteum dalam melapisi rongga sumsum, osteon (sistem Havers), dan kanalis p"rforun,
perforans) tulang (lihat Cambaran Umum 4). Fungsi utama periosteum dan endosteum adalah
t*""iit
nutrisi tulang dan memberikan suplai bagi osteoblas baru untuk pertumbuhan, remodeling, dan
perbaikan tulang. Selama pembentukan tulang, sel osteoprogenitor berproliferasi dengun mitosis
dan berdiferensiasi menjadi osteoblas, yang kemudian menyekresi serat kolagen dan matriks
tulang.
Osteoblas (osteoblastus) terdapat pada permukaan tulang. Osteoblas menyintesis, menyekresi,
dan mengendapkan osteoid (osteoideum), komponen organik matriks tulang baru. Osteoidadalah
matriks tulang yang tidak terkalsifikasi dan tidak *"ng"ndrng mineral; nu,riun, tidak lama setelah
diendapkan, osteoid segera mengalami mineralisasi d"an menladi turang.
Osteosit (osteocytus) adalah bentuk matur osteoblas dan merupakan sel utama tulang; sel ini
juga lebih kecil daripada osteoblas. Seperti kondrosit pada tulang rawan, osteosit terpeiangkap
dalam matriks tulangyang diproduksi oieh osteoblas. osteosit beri'da di dalam lakuni J"n ,ungu,
dekat dengan pembuluh darah. Berbeda dengan tulang rawan, hanya terdapat satu osteosit dalim
satu lakuna. Juga, karena matriks tulang ying telah mengalami mineralisasi
irJ t"Uin furu,
daripada tulang rawan, nutrien dan metabolit tidak dapat bebas berdifusi menuju osteosit. Karena
itu, tulang sangat vaskular dan memiliki sistem saluran khusus atau kanal halus yang disebut
kanalikuli (canaliculi), yang bermuara ke dalam osteon.
Osteosit adalah t"r vJne n"tlrUt"g.lriurun ,itoilasmanya masuk ke kanalikuli, menyebar
ke segala arah dari masing-masing lakuna, dan berhubungan dengan sel-sel sekitar melalui taut
celah (nexus). Hubungan ini memungkinkan ion dan molekul kecil mengalir dari sel ke sel.
Kanalikuli mengandung cairan ekstraselular, dan taut celah di juluran sitoplasma memudahkan
masing-masing oiteosit berhubungan dengan osteosit sekitar dan material di pembuluh darah di
dekatnya. Dengan cara ini, kanalikuli membentuk hubungan kompleks di sekitar pembuluh darah
di osteon dan terjadi mekanisme pertukaran yang efisienl nutrien dibawa ke osteosit, pertukaran
ga9 terjadi di antara darah dan sel, dan produk sisa metabolisme dikeluarkan dari osteosit.
Kanalikuli menjaga osteosit tetap hidup, dan osteosit, sebaliknya, mempertahankan homeostasis
matriks tulang sekitar dan kadar kalsium dan fosfat dalam darah. Jika osteosit mati, matriks tulang
di sekitarnya direabsorpsi oleh osteoklas.
Osteoklas (osteoclastus) adalah sel multinukleus besar yang terdapat di sepanjang permukaan
tulang tempat terjadinya resorpsi, remadeling, dan perbaikan tulang. Sel ini tidak termasuk turunan
sel osteoprogenitor. Osteoklas berasal dari penyatuan sel-sel progenitor hemopoietik atau darah
yang termasuk turunan sel makrofag mononuklearis*monosit di sumsum tulang. Fungsi utama
osteoklas adalah resorpsi tulang selima remadeling (pembaruan atau restrukturisasi). Osteoklas
sering terdapat di dalam lekuk dangkal pada matriks tulang yang disebut lakuna Howship. Enzim-
enzim lisosom yang dikeluarkan oleh osteoklas mengikis cekungan ini.

1 Osteoblas
9 Lamela konsentrik
di sekitar kanalis
sentralis (Havers)
primitif
2 Kanalis sentralis
(Havers) primitif dengan
pembuluh darah
"5W
r..Sl"";S

3 Sinusoid darah
*-H 10 Osteoklas dalam lakuna

11 Matriks tulang

L-lsK
rbf
4 Megakariosit di dekat 12 Spikulum tulang
sinusoid darah

t,!'
sI
5 Lakuna Howship
ffi rr\
':i isl 1 3 Jaringan ikat
osteogenik prrmitif
?.\
s
L\
6 Osteoklas 1's \1\t
cl 14 Osteoblas
7 Sinusoid darah q
UR \
15 Sumsum tulang primitif
t {'\i *u&
8 Megakariosit di dekat frr0 \'{q
$r* ld o '::*.
sinusoid darah
ffiq:\1
GAMBAR 4.12 Pembentukan tulang: sumsum tulang primitif dan perkembangan osteon (sistem
Havers; tulang dekalsifikasi, potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
sedang.
GAMBAR 4.13 ffi Osifikasi lntramembranosa: Mandibula yang Sedang Berkembang
{Potongan Transversal, Tulang Dekalsifikasi)
Gambar ini menunjukkan potongan mandibula yang sedang mengalami osifikasi intramembranosa
(ossificatio desmalis). Di sebelah luar dari tulang yang sedang tumbuh terdapat epitel berlapis gepeng
dengan lapisan tanduk kutit ( f ). Di sebelah inferior dari kulit ( I ), terdapat mesenkim embrionik yang
berdiferensiasi menjadi jaringan ikat (2) primitif yang sangat vaskular dengan saraf dan pembuluh
darah (9), serta jaringan ikat yang lebih padat periosteum (S, fO).
Di bawah periosteum (:, tO) terdapat tulang yang sedang tumbuh. Sel-sel dalam periosteum (3, l0)
telah berdiferensiasi menjadi osteoblas (0, tO) dan membentuk banyak trabekula tulang (trabecula
ossea) (2, tt) yang beranastomosis. Trabekula ini mengelilingi rongga sumsum (S, tS) primitif. Di
dalam rongga sumsum (S, f S) terdapat sel dan serat jaringan ikat embrionik, pembuluh darah (4),
arteriol (fZ), dan saraf. Di bagian tepi, serat kolagen periosteum (:, tO) menyatu dengan serat jaringan
ikat embrionik di rongga sumsum yang berdekatan (3) dan dengan serat kolagen di dalam trabekula
tulang (Z,l,l).
Osteoblas (0, tO) secara aktif mengendapkan matriks tulang dan tampak tersusun linear sepanjang
trabekula tulang(7,11) yang sedangtumbuh. Osteoid (14), matriks tulangyangbaru terbentulg tampak
di tepi trabekula tulang tertentu. Osteosit (5) berada di lakuna trabekula (7, 11). Osteoklas (f l) adalah
sel multinukleus besar yang berhubungan dengan resorpsi tulang dan remodelirag sclama perrrbentukan
tulang.
Meskipun serat kolagen yang terbenam di dalam matriks tulang tidak terlihar ielas, n.rrnun konti-
nuitas dengan serat jaringan ikat embrionik di dalam rongga sumsum dapat dilihar ,1i pinggrr trabekula
(g).
Pembentukan tulang baru bukan merupakan proses berkelanjutan. Daerah-daerah inaktif tampak,
tempat osifikasi berhenti sementara. Di daerah ini tidak terdapat osteoid dan osteoblas. Pada beberapa
rongga sumsum primitif, fibroblas berdiferensiasi menjadi osteoblas (:, t 0;.

GAMBAR 4.14 ffi Osifikasi lntramembrano$a: Tulang Tenl;korah yang Sedang


Berkembang
Fotomikrograf dengan pembesaran-lebih kuat menunjukkan perkembangan tulang tengkorak melalui
proses osifikasi intramembranosa. Jaringan ikat periosteum (5) mengelilingi tulang yang sedang ber-
kembang dan menghasilkan osteoblas ( t, 6) yang membentuk tulang (Z). Osteoblas ( 1, 6) terdapat di
sepanjang trabekula tulang (S) yang sedang berkembang. Osteosit (z) pada lakuna terperangkap di
dalam tulang (7) yangsedang terbentuk dan trabekula tulang (A). lada trabekula tulang (3), terdapat
juga sel multinuklearis osteoklas (s) yang mengubah bentuk (remodeling) tulang yang sedang ber-
kembang. Suatu rongga sumsum (4) primitif dengan pembuluh darah (9), sel darah (9), dan jaringan
hemopoietik terletak di antara trabekula tulang (3) yang terbentuk.
1 Kulil

rT
I 9 Saraf dan venula
2Jarinoan ikat --------------{ .:
"t- t": 10 Osteoblas yang sedang
3 Kontrnuitas periosteum terbentuk dari periosteum
dengan rongga sumsum
11 Trabekula tulang
4 Pembuluh darah
12 Arteriol
5 Osteosit

6 Osteoblas 13 Osteoklas

7 Trabekula tulang 14 Osteoid

15 Rongga sumsum
8 Rongga sumsum

GAMBAR 4.13 Osifikasi intramembranosa: mandibula yang sedang berkembang (tulang dekalsifikasi;
potongan transversal). Pulasan: Mallory-Azan. Pembesaran lemah.

Periosteum
1 Osteoblas
t) Osteoblas
2 Osteosit

3 Trabekula tulang
7 Tulang

k;
4 Rongga sumsum
8 Osteoklas

?
9 Pembuluh darah
dengan sel darah
.. ' .+:

GAMBAR 4.14 Osifikasi intramembranosa: tulang tengkorak yang sedang berkembang. Pulasan: Mallory Azan.
64 x.
GAMBAR 4.15 ffi Tulang Kansclcsa d*ngan Rongga Sumsum dan Trahekula: $tcrnum
{Potongan Tnansversal, Dekalsifikasi}
Tulang kanselosa terutama terdiri atas trabekula (S) tulang tipis yang bercabang, beranastomosis, dan
melingkupi rongga sumsum ireguler dengan pembuluh darah (4). Periosteum (1,, Z) yangmenge-
lilingi trabekula (5) tulang kanselosa menyatu dengan jaringan ikat padat tidak teratur dengan pem-
buluh darah ( f ) sekitar. Di sebelah bawah periosteum (2,7) , trabekula tulang (5 ) menyatu dengan suatu
lapisan tipis tulang kompak (9) yang mengandung osteon primitif (6) atau baru terbentuk dan osteon
(sistem Havers) (8) matur dengan lamela konsentrik.
Kecuali lamela konsentrik di osteon primitif (e ) dan osteon matur (8), tulang di sebelah inferior
periosteum (Z,Z) dan trabekula tulang (5) memperlihatkan lamela yang sejajar. Osteosit (S) dalam
lakuna terlihat di trabekula (S) da" tulang kompak (9).
Di antara trabekula tulang (5) terdapat rongga sumsum dengan pembuluh darah (4) dan jaringan
hemopoietik (ll) yang menghasilkan sel darah baru. I(arena pembesaran lemah, masing-masing sel
darah merah dan putih tidak terlihat jelas. Suatu lapisan tipis sel yang disebut endosteum (10) melapisi
trabekula tulang (5) dirongga sumsum (4). Sel-sel diperiosteum (2,7) danendosteum ( 10) menghasilkan
osteoblas pembentuk-tulang.

GAMBAR 4.16 ff Tl:lang Kanselc*a; $tennum iPot*ngan Transversal, Dekalsifikasi)


Fotomikrograf ini menunjukkan potongan tulang kanselosa dari sternum. Tulang kanselosa terdiri atas
banyak trabekula tulang ( f ) dipisahkan oleh rongga sumsum (5) yang mengandung pembuluh darah
(Z) dan berbagai jenis sel darah (8). Trabekula tulang (1) dllapisi oleh selapis tipis sel yang disebut
endosteum (+,A). Sel osteoprogenitor di endosteum (4,6) menghasilkan osteoblas. Matriks tulang
yang terbentuk mengandung banyak osteosit dalam lakuna (z). Sel multinuklearis besar osteoklas (3)
mengikis dan mengubah bentuk (remodeling) matriks tulang yang terbentuk. Osteoklas (3) mengikis
sebagian tulang melalui proses enzimatik dan berada di lekukan terkikis yang disebut lakuna Howship.

Tulang adalah struktur dinamis yang secara terus menerus diperbarui atau mengal ami remodeling
sebagai respons atas kebutuhan mineral tubuh, stres mekani,k, penipisan tulang akibat penuaan
atau penyakit, atau penyembuhan fraktur. Kalsium dan fosfat disimpan di dalam matriks tulang
atau dibebaskan ke dalam darah untuk mempertahankan kadar yang sesuai. Pemeliharaan kadai
normal kalsium darah penting bagi kehidupan karena kalsium berguna untuk kontraksi otot,
pembekuan darah, permeabilitas membran sel, transmisi impuls saraf, dan fungsi lain.
Berbagai hormon mengatur pelepasan kalsium fe Uufar arr.f' Ju" pengendapannya di tulang.
Jika kadar kalsium turun di bawah normal, hormon paratiroid, dilepaskan oleh kelenjar paratiroid,
merangsang osteoklas untuk meresorpsi matriks tulang. Efek ini menyebabkan pembebasan lebih
banyak kalsium ke dalam darah. Jika kadar kalsium di atas normal, suatu hormon yang disebut
kalsitonin, dikeluarkan oleh sel parafolikel di kelenjar tiroid, menghambat aktivitas osteJklas dan
menurunkan resorpsi tulang. Berbagai kelenjar dan hormon ini akan dibahas lebih rinci dalam Bab
I7, Sistem Endokrin.
1 Jaringan ikat {'Al{,l.S$rc 6 Osteon primitif
dengan pembuluh darah
7 Periosteum
2 Periosteum
8 Osteon
3 Osteosit dalam lakuna
i.-"--';
",",S
r i:g
$---" I Tulang kompak
't:"" !(
4 Rongga sumsum
dengan pembuluh darah
10 Endosteum

5 Trabekula tulang

11 Jaringan
hemopoietik

,ffi
GAMBAR 4.15 Tulang kanselosa dengan trabekula dan rongga sumsum tulang: sternum (tulang
dekalsifikasi, potongan transversal). Pewarnaan: hematoksilin eosin. Pembesaran lemah.

1 Trabekula tulang

2 Osteosit di
dalam lakuna
,:'": li:l l'.Ji: Rongga
sumsum

Endosteum

3 Osteoklas
Pembuluh
darah
4 Endosteum Sel-sel darah

GAMBAR 4.16 Tulang kanselosa: sternum (tulang dekalsifikasi, potongan transversal). Pulasan:
hematoksilin dan eosin. 64 x
GAMBAR 4.17 ffi Tulang Kompak, Kering (Potongan Transversal)
Gambar ini memperlihatkan suatu potongan melintang tulangkompakkering. Tulang disiapkan dengan
menggosok sepotong kecil tulang sampai menjadi sediaan tipis untuk memperlihatkan saluran-saluran
kosong bagi pembuluh darah, lakuna untuk osteosit, dan kanalikuli yang berhubungan.
Unit struktural suatu matriks tulang kompak adalah osteon (sistem Havers) (3, f 0). Setiap osteon
(f, tO) terdiri dari lapisan-lapisan lamela (3b) konsentrik yang tersusun mengelilingi suatu kanalis
sentralis (ttavers) (3a). Kanalis sentralis tampak pada potongan melintang (aa) dan oblik ( t0, tengah).
Lamela adalah lempengan tulang tipis yang mengandung osteosit dalam rongga bentuk-kenari yang
disebutlakuna (3c,9). Tersebar dari masing-masinglakunake segala arah terdapatkanalhalus, kanalikuli
(2). Kanalikuli (2) menembus lamela (:b S), beranastomosis dengan kanalikuli (2) dari lakuna lain (3c,
9), dan membentuk jalinan saluran komunikasi dengan osteosit lainnya. Beberapa kanalikuli (Z) tang-
sung bermuara ke dalam kanalis sentralis (Havers) (3a) osteon (g) dan rongga sumsum tulang. Daerah-
daerah kecil tidak teratur tulang di antara osteon (3,10) adalah lamela interstisial (lamella intersti-
tialis) (5, f 2) yang mencerminkan sisa osteon yang telah mengalami erosi atau remodeling.
Dinding luar tulang kompak (& bawah periosteum jaringan ikat) dibentuk oleh lamela sirkum-
ferensial tuar (7) yang berjalan sejajar satu sama lain dan terhadap sumbu panjang tulang. Dinding
dalam tulang (endosteum sepanjang rongga sumsum) dilapisi oleh lamela sirkumferensiat dalam (l).
Di antara lamela sirkumferensial luar (7) dan dalam ( t ) terdapat osteon (;, t O).
Pada tulang hidup, lakuna setiap osteon (lc, O) berisi osteosit. Kanalis sentralis (3a) mengandung
jaringan ikat retikular, pembuluh darah, dan saraf. Batas antara setiap osteon (a, tO) ditandai oleh garis
bias matriks tulang modifikasi yang disebut linea cementalis (4, ll). Anastomosis di antara kanalis
sentralis (3a) dlsebut kanalis (volkmann) perforans (6).

GAMBAR 4.18 ffi Tulang Kompak, Kering (Potongan Longitudinal)


Gambar ini menunjukkan daerah kecil tulang kompak kering dalam potongan longitudinal. Karena
kanalis sentralis Havers ( l, 9) berjalan secara memanjang, setiap kanalis sentralis tampak sebagai pipa
vertikal yang memperlihatkan percabangan. Kanalis sentralis ( t, l) dikelilingi oleh lam ela (2,6) dengan
lakuna (4) dan kanalikuli (5) yang memancar keluar. Lamela (2, 6), lakuna (4), dan batas osteon, linea
cementalis (9, S), berjalan sejajar terhadap kanalis sentralis (I, 9).
Saluran lainnya yang berjalan secara melintang atau oblik disebut kanalis perforans (Volkmann)
(7). Kanalis perforans (7) menghubungkan kanalis sentralis (1,9) osteon dengan rongga sumsum.
Kanalis perforans (Z) tidak memiliki lamela konsentrik; kanal ini menembus lamela (2, 6) secara
langsung.
1 Lamela sirkumferensial dalam 6 Kanal (Volkmann) perforans 7 Lamela sirkumferensial luar

/,..\ \ Lt.i .. I
n;'-#+*t
2 Kanalikuli 8 Lamela

3 Osteon :*! 9 Lakuna


(sistem
Havers) ,.rS
a. 10 Osteon
(Havers) (sistem
sentralis Havers)
b lamela
c lakuna
11 Linea
4 Linea cementalis cementalis
12 Lamela
5 Lamela
interstisialis
interstisialis

,sffi s,
GAMBAR 4.17 Tulang kompak, kering (potongan transversal). Pembesaran lemah.

rt i
1 Kanalis
sentralis
(Havers)
.l
t-
:hl
1,
,'{
I
Fjrf$$fr
f-;1+, | 't 1t
ffi
l
6 Lamela

2 Lamela
r# r.
f',
'-'1
t
I,rJ+
7 Kanalis
perforans
(Volkmann)

3 Linea ft;:ri
Hi.# ffi
cementalis fr IY'l
4 Lakuna
,ti. *'
I ,{.\'l
'e, (t
# *tF.*
-,
8 Linea cementalis
"-t 9 Kanalis

{+-t+1" tri
tit'l,ri * rTE' sentralis
^c\tt:- (Havers)
GAMBAR 4.18 Tulang kompak, kering (potongan longitudinal). Pembesaran lemah.
GAMBAR 4.19 ffi Tulang Kompak, Kering: Osteon (Potongan Transversal)
Pembesaran lebih kuat menunjukkan detail suatu osteon dan bagian-bagian osteon di dekatnya. Di
bagian tengah osteon terdapat kanalis sentralis (Havers) (A) yang terpulas-gelap dikelilingi oleh la-
mela (4) konsentrik. Di antara osteon yang berdekatan terdapat lamela interstisial (5). Struktur gelap
bentuk-kenari di antara lamel adalah lakuna (t,l) yangberisi osteosit di tulang hidup.
Banyak kanalikuli (2) halus memancar keluar dari masing-masing lakuna (t, Z) ke lakuna yang
berdekatan dan membentuk sistem saluran komunikasi (2) di seluruh matriks tulang dan di dalam kana-
lis sentralis (3). Kanalikuli (2) mengandung juluran sitoplasma osteosit yang halus. Dengan cara ini,
osteosit di sekitar osteon berhubungan dengan yang lain dan dengan pembuluh darah di kanalis sentralis.
Batas luar osteon dipisahkan oleh linea cementalis (6).
:-q+.nr ...-
,.' 'A*v

t, '*;*.4"t'flx
;k:r,;{4
1 Lakuna
4 Lamela

2 Kanali
*$
{1
fu:------ 5 Lamela
5... interstisialis
3 Kanalis F\
sentralis
(Havers) 6 Linea
cementalis
7 Lakuna

:;.*,
-Jl

GAMBAR 4.19 Tulang kompak, kering: sebuah osteon (potongan transversal). Pembesaran kuat.
BAB 4 Ringkasan
SUBBAB 2 ffi Tulang

Karakteristik Tulang
o Terdiri dari sel, serat, danbahan ekstraselular
o Endapan mineral di matriks tulang menghasilkan struktur keras untuk melindungi berbagai organ
o Berfungsi dalam hemopoiesis dan sebagai tempat penyimpanan kalsium dan mineral

Proses Pembentukan Tulang


Osifikasi Endokondral
o Pada osifikasi endokondral, model tulang rawan hialin mengalami kalsifikasi dan sel-selnya mati
r Sel mesenkim di periosteum berdiferensiasi menjadi sel osteoprogenitor dan membentuk osteoblas
o Osteoblas menyintesis matriks osteoid, yang mengalami kalsifikasi dan menyebabkan osteoblas terperangkap dalam
lakuna sebagai osteosit
o Osteosit mengadakan hubungan antarsel melalui kanalikuli
o Pusat osifikasi primer terbentuk di diafisis dan pusat osifikasi sekunder di epifisis
o Lempeng epifisis antara diafisis dan epifisis memungkinkan penambahan panjang tulang
o Semua tulang rawan diganti kecuali tulang rawan sendi

Osifikasi lntramembranosa
o Tulang terbentuk secara langsung dari osteoblas yang menghasilkan matriks osteoid
o Pada awalnya membentuk tulang spongiosa yang terdiri dari trabekula
o Mandibula, maksila, klavikula, dan tulang pipih tengkorak terbentuk melalui proses ini
o Fontanel pada tengkorak bayi baru lahir menunjukkan daerah yang sedang terjadi osifikasi intramembranosa

fenis Tulang
o Pada tulang panjang, bagian luar adalah tulang kompak dan permukaan dalam adalah tulang kanselosa
o l(edua ienis tulang memiliki gambaran mikroskopik serupa
o Pada tulang kompak, serat kolagen tersusun dalam lamela
o Lamela yang terletak jauh di dalam periosteum adalah lamela sirkumferensial luar
o Lamela yang mengelilingi sumsum tulang adalah lamela sirkumferensial dalam
o Lamela yang mengelilingi pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat longgar adalah osteon
o Di dalam osteon terdapat kanalis sentralis, yang ditemukan di sebagian besar tulang kompak

Matriks Tulang
o Memiliki banyak pembuluh darah untuk membantu difusi dalam matriks terkalsifikasi
o l(omponen organik tulang menahan tegangan, sedangkan komponen mineral menahan iekanan
o Komponen utama adalah serat kolagen tipe I kasar
o Komponen glikoprotein berikatan dengan kristal kalsium selama mineralisasi
o Hormon dari kelenjar paratiroid dan tiroid berperan mengatur kandungan mineral dalam darah

Sel Tulang
o Sel osteoprogenitor terletak di periosteum, endosteum, osteon, dan kanalis perforans
r Osteoblas berada di permukaan tulang dan menyintesis matriks osteoid
o Osteosit adalah osteoblas matur, bercabang, terletak di lakuna, dan menggunakan kanalikuli untuk komunikasi dan
melakukan pertukaran

102
r

o Osteosit mempertahankan keseimbangan kadar kalsium dan fosfat dalam tulang dan darah
r Osteoklas adalah sel multinukleus yang berperan dalam resorpsi, remodeling, dan perbaikan tulang
o Osteoklas termasuk dalam turunan sel makrofag mononukleus-monosit dan ditemukan di cekungan-cekungan yang
terkikis akibat proses enzimatik (lakuna Howship)

Karakteristik Tulang
o Mengalamiremodelingsebagai respons terhadap kebutuhan mineral, stres mekanis, penipisan, atau penyakit
. Mempertahankan kadar normal kalsium darah, yang sangat penting untuk fungsi banyak organ dan kehidupan
. Hormon paratiroid merangsang osteoklas untuk meresorpsi tulang dan membebaskan kalsium ke dalam darah
. Hormon dari kelenjar tiroid menghambat kerja osteoklas dan menurunkan resorpsi tulang
Cellula
haemato-
poietica
precu rsoria
Cellula myeloideus pluripotens Cellula lymphoideus
precursoria precursoria

ffiffi l*"1
I

J""la

'ffi1
i.s:1

Proerythroblastus Myeloblastus Monoblastus


r#*
Megakaryoblastu Lymphoblastus
ttt I I

i"*&
a{a'Ysx
I.ffi\
$,'*
r:*S't*{ttjl..'rr3
iu"fh

Erythroblastus
basophilus
Promyelocytus promonocytus
*'&?
Promegakaryocytus
ffi
Prolymphocytus

@lr.wWW
Erythroblastus Myelocytus Myelocytus
polychromatophilus acidophilus neutrophilus
Myelocytus
basophilus

o\tttt '',.i ,q}


l5r" .:b Meta mega ka ryocytus

';$ r.$ ... ',i",r-.t


Erythroblastus Metamyelocytus Metamyelocytus Metamyelocytus
I

W
ymphocytus magnus
acidophilus acidophilus neutrophilus basophilus
tttt
\k -T, "\-
*:,i F;,
Granulocytus Granulocytus Granulocytus
Reticulocytus acidophilus
non neutrophi us
basophilus non
s
I segmento- non segmento- segmento- w
I nuclearis nuclearis nuclearis
_t_t_t_

'#'l-a "l I

0qso\
ww,. l="w*-"*,. ffi ,ew
Basophilus
llw Monocytus
%$**
Trombocytus
w
*Lymphocvtus T

Lymphocytus B

Leukosit Granular Leukosit Agranular

Textus Textus
-W,
ffi
connectivus connectivus

-.;
""
"l.r ;
Macrophagocytus Plasmocytus

GAMBARAN UMUM 5 Diferensiasi sel induk mieloid dan limfoid menjadi bentuk matangnya dan
distribusinya dalam darah dan jaringan ikat.

104
Darah

Darah adalah bentuk khusus jaringan ikat yang terdiri atas tiga jenis sel utama: eritrosit (sel darah
merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit. Sel-sel ini, juga disebut unsur bentukan (formed
elements) darah, beredar di dalam medium cair yaitu plasma. Sel darah mengangkut gas, nutrien, produk
'
sisa, hormon, antibodi, berbagai zat kimiawi, ion, dan substansi lain di dalam plasma dari dan ke sel-sel
tubuh.

Hemopoiesis
Sel darah memiliki rentang usia terbatas, dan, sebagai akibatnya, mereka secara terus menerus diganti di
tubuh oleh proses yang disebut hemopoiesis. Pada proses ini, semua sel darah berasal dari sel induk di
sumsum tulang merah (medulla ossium rubra). Karena sel induk dapat menghasilkan semua jenis sel
darah, sel ini disebut sel induk hemopoietik pluripoten (cellula haematopoietica precursoria
pluripotens). Sel induk pluripoten selanjutnya menghasilkan dua turunan yang membentuk sel induk
mieloid pluripoten dan sel induk limfoid pluripoten. Sebelum pematangan dan pelepasan ke dalam aliran
dara[ sel induk dari masing-masing garis keturunan mengalami beberapa kali pembelahan dan tahap
intermedia diferensiasi (Gambaran Umum 5).
Sel induk mieloid (cellula myeloideus precursoria) berkembang di sumsum tulang merah dan
menghasilkan eritrosit (erythrocfius), eosinofil (eosinophilus), neutrofil (neutrophilus), basofil
(basophilus), monosit (monocytus), dan megakariosit (megakaryocytus). Sel induk limfoid
(cellula lymphoideus precursoria) luga berkembang di sumsum tulang merah. Sebagian sel limfoid
tetap berada di sumsum tulang, berproliferasi, mengalami pematangan, dan menjadi limfosit B
(lymphocytus n). Sel limfoid lainnya meninggalkan sumsum tulang dan bermigrasi melalui aliran darah
ke limfonodus dan limpa, tempat sel-sel ini berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi limfosit B.
Sel limfoid tidak berdiferensiasi lainnya bermigrasi ke kelenjar timus, tempat sel-sel berproliferasi
dan berdiferensiasi menjadi Iimfosit T (lymphocytus T) imunokompeten. Setelah itu, limfosit T masuk
ke aliran darah dan bermigrasi ke daerah-daerah spesifik di organ limfoid perifer. Limfosit B dan T terletak
di banyak jaringan limfoid perifer, limfonodus, dan limpa. Di sini, sel-sel memulai respons imun jika
terpajan antigen.
Karena semua sel darah memiliki rentang usia terbatas, sel induk hemopoietik pluripoten secara
terus menerus membelah dan berdiferensiasi untuk menghasilkan keturunan baru. Ketika sel-sel darah
menjadi tua dan mati, sel-sel ini dihancurkan di berbagai organ limfoid misalnya limpa (lihat Bab 9).

Tempat Henropoiesis
Hemopoiesis terjadi di berbagai organ tubuh, bergantung pada tahap perkembangan. Pada embrio,
hemopoiesis mula-mula terjadi di dalam kantung kuning telur (yolk sac) dan kemudian di hati, limpa,
dan limfonodus. Setelah lahir, hemopoiesis hampir seluruhnya berlangsung di dalam sumsum merah
pada berbagai tulang (pada bayi baru lahir, semua sumsum tulang adalah merah).

105
Sumsum tulang merah mengandung banyak sel dan terdiri dari sel induk hemopoietik dan prekursor
berbagai sel darah. Sumsum merah juga mengandung susunan longgar serat retikular halus. Pada orang
dewasa, sumsum merah terutama ditemukan pada tulang pipih tengkorak, sternum dan iga, vertebra, dan
tulang panggul. Tulang lainnya, biasanya tulang panjang, secara berangsur menimbun lemak, sumsumnya
menjadi kuning, dan tidak dapat lagi melakukan fungsi hemopoiesis.

fenis Sel Darah Utama


Pemeriksaan mikroskopik sediaan apus darah memperlihatkan jenis-jenis sel darah utama. Eritrosit atau
sel darah merah adalah sel tidak berinti dan jumlahnya paling banyak. Selama proses pematangan, eritro-
sit mengeluarkan intinya, dan sel darah matang masuk ke pembuluh darah tanpa inti sel. Eritrosit tetap
berada di dalam darah dan melakukan fungsi utamanya di dalam pembuluh darah.
Sebaliknya, leukosit, atau sel darah putih, mempunyai inti dan terbagi menjadi granulosit dan
agranulosi! bergantung pada ada atau tidak adanya granula di dalam sitoplasmanya. Granulosit adalah
neutrofil, eosinofil, dan basofil. Agranulosit adalah monosit dan limfosit. Leukosit melakukan fungsi
utamanya di luar pembuluh darah. Sel ini bermigrasi keluar pembuluh darah melalui dinding kapiler dan
masukke jaringan ikat, jaringan limfoid, dan sumsum tulang.
Fungsi utama leukosit adalah pertahanan tubuh terhadap invasi bakteri atau adanya benda asing.
Akibatnya, leukosit paling banyak terkonsentrasi di dalam jaringan ikat.

Trombosit
Trombosit (thrombocytas) atauplatelef bukanlah sel darah, namun merupakan unsurbentukan darah
yang paling kecil dan tidak berinti serta ditemukan di dalam darah semua mamalia. Trombosit merupa-
kan fragmen atau sisa sitoplasma megakariosit, sel terbesar di sumsum tulang. Trombosit terbentuk
melalui pelepasan sebagian sitoplasma atau fragmen dari tepi megakariosit yang kemudian disalurkan ke
dalam aliran darah. Seperti eritrosit, trombosit melakukan fungsi utamanya di dalam pembuluh darah.
Fungsi utama trombosit adalah memantau secara terus menerus sistem vaskular dan mendeteksi setiap
kerusakan di lapisan endotel pembuluh darah. Bila lapisan endotel rusak, trombosit menempel pada
tempat yang cedera dan memulai proses kimiawi yang sangat kompleks yang menghasilkan bekuan
darah.

GAMBAR 5.1 W Sediaan Apus Darah Manusia


Sediaan apus darah manusia yang diperiksa dengan pembesaran lemah memperlihatkan banyak unsur
bentukan. Unsur darah yang paling banyak dan paling mudah diidentifikasi adalah eritrosit atau sel
darah merah ( t ). Eritroslt tidak berinti dan terpulas merah muda dengan eosin. Ukurannya sama besar
dan berdiameter kira-kira 7,5 ym, yaitu seukuran dengan kapiler. Eritrosit dapat digunakan sebagai
patokan ukuran untukjenis sel lainnya.
Sejumlah leukosit atau sel darah putih terlihat di dalam sediaan apus darah. Leukosit dibagi menjadi
beberapa kelompok berdasarkan bentuk inti, ada tidaknya granula sitoplasma, dan afinitas pulasan
granula. Tampak dua neutrofil (2,4), satueosinofil (7) terisi oleh granula merah-merah muda, dan satu
limfosit (5) kecil dengan sitoplasmatipis kebiruan. Di antara sel-sel darahtersebarfragmenkecilterpulas-
biru yaitu trombosit (S, 0).

GAMBAR 5.2 H* Sediaan Apus Darah Manusia: Sel Darah Merah, Neutrofil, Limfosit
Besar, dan Trombosit
Fotomikrograf sediaan apus darah manusia memperlihatkan berbagai jenis sel darah. Sel darah yang
paling banyak adalah eritrosit (sel darah merah) ( f ).;uga tampak dua neutrofil (2, 4), sebuah limfosit
besar (lymphocytus magnus) (S), dan banyaktrombosit (3).
1 Eritrosit

2 Neutrofil
5 Limfosit

3 Trombosit : .
6 Trombosit

4 Neutrofil
7 Eosinofil

t:

GAMBAR 5.1 Sediaan apus darah manusia: eritrosit, neutrofil, eosinofil, limfosit, dan trombosit.
Pulasan: Wright. Pembesaran kuat.

{'WnW:WW,effiffigW
;; WffiSw%ffiW*,$.'*W
W& 4 Neutrofil

1 Eritrosil

2 Neutrofil

5 Limfosil
besar

3 Trombosit

GAMBAR 5,2 Sediaan apus darah manusia: sel darah merah, neutrofil, limfosit besar, dan trombosit.
Pulasan: Wright. 2O5 x
GAMBAR 5.3 # Hritrnsit dan Tncrnbssii
Gambar ini menunjukkan banyak eritrosit ( I ) dan trombosit (2) yang biasanya terlihat di dalam sediaan
apus darah. Trombosit (2) adalah unsur bentukan terkecil; trombosit merupakan sisa sitoplasma sel-
besar megakariosit tidak berinti, yang hanya terdapat di dalam sumsum tulang merah. Trombosit (2)
terlihat berupa massa sitoplasma basofillk (biru) tidak teratur, dan cenderung berkelompok dalam
sediaan apus darah. Masing-masing trombosit memperlihatkan zona perifer berwarna biru muda dan
zona sentral padat yang mengandung granula ungu.

GAMBAR 5,4 ffi Neutroiil


Leukosit yang memiliki granula sitoplasma dan inti berlobus adalah granulosit polimorfonuklear, dengan
neutrofil (r) paling banyak ditemukan. Sitoplasma neutrofil (1) mengandung granula halus berwarna
ungu atau merah muda yang sukar dilihat dengan mikroskop cahaya. Akibatnya, sitoplasma ( 1) tampak
jernih atau netral. Inti (1) terdiri atas beberapa lobus yang dihubungkan oleh benang kromatin halus.
Neutrofil ( 1) imatur mengandung lobus yang lebih sedikit. Neutrofil ( 1) membentuk kira-kira 60-
70 % Ieukosit darah.

Eritrosit matang dikhususkan untuk mengangkut oksigen dan karbondioksida. Kekhususan ini
diakibatkan oleh adanya protein hemoglobin di dalam sitoplasmanya. Molekul besi dalam
hemoglobin mengikat molekul oksigen. Krr"nu itu, kebanyakan oksigen dalam darah diangkut
dalam bentuk campuran oksihemoglobin, yang menyebabkan warna darah arteri merah terang.
Karbondioksida berdifusi dari sel dan jaringan ke dalam pembuluh darah. Karbondioksida dibawa
ke paru-paru dalam keadan sebagian larut dalam darah dan sebagian terikat pada hemoglobin di
eritrosit berupa karbaminohemoglobin, yang menyebabkan darah vena berwarna kebiruan.
Selama diferensiasi dan pematangan di sumsum tulang, eritrosit menyintesis banyak
hemoglobin. Sebelum eritrosit dibebaskan ke dalam sirkulasi sistemik, intinya dikeluarkan dari
sitoplasma, dan eritrosit matang berbentuk bikonkaf. Bentuk ini menyediakan luas permukaan
yang lebih besar untuk mengangkut gas pernapasan. Karena itu, eritrosit mamalia matang di dalam
sirkulasi adalah cakram bikonkaf tidak berinti yang dibungkus oleh membran dan mengandung
hemoglobin dan beberapa enzim.
Rentang usia eritrosit sekitar 120 hari, sehingga sel yang sudah tua disingkirkan dari darah dan
difagositosis oleh makrotag di lirnpa, hati, dan sumsum tulang.

Fungsi utama trombosit adalah membantu pembekuan darah. Bila dinding dan endotel pembuluh
darah pecah atau cedera, trombosit mengadakan agregasi dan melekat pada dinding pembuluh
darah yang cedera itu. Trombosit teraktivasi dan membentuk sumbat untuk menambal tempat
yrng ."aia. Trombosit dalam sumbat mengeluark* U"rnugui sflk"pr",li" lJfi"rii-vJ"g
meningkatkan ukuran sumbat, yang kemudian diperkuat oleh polimer fibrin yang terbentuk dari
banyak protein plasma. Fibrin menrbentuk anyaman di sekitar sumbat, menangkap trombosit dan
sel darah lainnya untuk membentuk bekuan darah. Setelah bekuan darah terbeniuk dan perdarahan
berhenti, agregat trombosit membantu retraksi bekuan, yang kemudian dibersihkan melalui kerja
enzim.
s;r
=%ffi
r"y
&"p
\
ilS**
' Re@k#
ffih*
,{i${1@r
S*, :iii
'xubx$r
kd
drl.@ "

GAMBAR 5.3
#,3 ffi}* ww
Eritrosit dan trombosit dalam sediaan apus darah. Pulasan: Wright. lmersi minyak.

d%
%ld*gry yry,
L # l
o

GAMBAR 5.4 Neutrofil dan eritrosit. Pulasan: Wright. lmersi minyak.


GAMBAR 5.5 ffi Eosinofil
Eosinofil (f ) dildentifikasi dalam sediaan apus darah dari sitoplasmanya, yang terisi oleh granula
eosinofilik (merah muda terang) besar. Inti eosinofil (1) biasanya bilobus, namun kadang-kadang ada
lobus ketiga yang kecil.
Eosinofil ( 1) membentuk sekitar 2 sampai 4% leukosit darah.

GAMBAR 5.6 ffi Limfosit


Leukosit agranular sedikit atau tidak memiliki granula sitoplasma, dan memperlihatkan inti bulat sampai
bentuk-tapal kuda. Limfosit ( f , Z) memiliki ukuran bervariasi dari sel yang lebih kecil daripada eritrosit
sampai dua kali besarnya. Untuk membandingkan ukuran antara limfosit dan eritrosit, gambar sediaan
apus darah manusia ini memperlihatkan sebuah limfosit besar (f ) dan limfosit kecil (z) dikelilingi
oleh eritrosit berwarna merah. Pada limfosit kecil (2), inti yang berwarna lebih gelap mengisi hampir
seluruh sitoplasma, yang terlihat berupa daerah basofilik yang tipis di sekitar inti. Sitoplasma limfosit
biasanya agranular, namun dapat mengandung beberapa granula. Pada limfosit besar (1), sitoplasma
basofilik lebih banyak, dan inti lebih besar dan lebih pucat yang mengandung satu atau dua nukleolus.
Limfosit ( 1, 2) membentuk sekitar 20 sampai 30% leukosit darah. Kebanyakan limfosit dalam darah,
s ekitar 9 0%, adalah limfosit kecil.

GAMBAR 5.7 ffi Mionosit


Monosit (f ) adalah leukosit agranular terbesar. Intinya (1) bervariasi dari bulat atau lonjong sampai
berlekuk atau bentuk-tapal kuda dan berwarna lebih muda daripada inti limfosit. Kromatin inti tersebar
halus di dalam monosit (1); sitoplasmanya banyak dan sedikit basofilik dengan sedikit granula halus.
Monosit membentukkira-kira 3-8 % leukosit darah.
'q"W.,'rc *T
, tl:: ;,:::}..\
r*{.:t\
\'::''l

r'w:
S,ryh
$
,..i!:r: .i!:}i:
# '[
S::'
\;i*1:
r'rrrnL\r
^t&
&r:iia.r.': .:raarli
'Wiii:r! $lr.rrl::.:*,t!. r.. i
tk# iji:

-'.$ - l'J\
ii!

'{;l!l$'t '..:.
". N#
&. u :"f'\
&

GAMBAR 5.5 Eosinofil. Pulasan: Wright. lmersi minyak.

w$
-ffi&
s- )i /r\
ti!r{.rrii$

kw Yu:;*{*ffi 1 Limfosit

,'\ fl.ffi
i" *{
besar

\J fu...:&
2 Limfosit
kecil

"
s:1. .l
'( '

P;\

GAMBAR 5.6 Limfosit. Pulasan: Wright. lmersi minyak.

l*;:'", 'tt;$,g.ryi

1 Monosii
k, 's
.
,}* .,,{ts
iiil..
'li':iit$''

rqil. .$W t$

I 1*$.$: . ai,
"s.#
;:lii:\,
'i:
\"6{;:\ .,w,,r
k# a:
r::r"_firl' '
i:' .r:$
*
lri.

.,lr '!:..;.,i ,r,1i.:li\

GAMBAR 5.7 Monosit. Pulasan: Wright. lmersi minyak.


GAMBAR 5.8 w ffia*rfil
Granula dalam basofil (1) tidak sebanyak pada eosinofil (Gambar 5.5); namun, ukuran granula lebih
bervariasi, tidak terlalu padat, dan berwarna biru tua atau coklat. Meskipun inti tidak berlobus dan
terpulas basofilik pucat, inti biasanya terhalang oleh densitas dan jumlah granula.
Basofil membentuk kurang dari I o/o leukosit darah dan itulah sebabnya paling sulit ditemukan dan
dikenali dalam sediaan apus darah.

Neutrolri/ memiliki rentang usia pendek. Sel ini beredar dalam darah selama sekitar 10 jam dan
kemudian masuk ke dalam jaringan ikat, tempat sel ini bertahan hidup selama 2 sampai 3 hari.
Neutrofil adalah fagosit aktif. Sel ini tertarik oleh faktor kemotaktik (zat kimiawi) yang dikbluarkan
oleh sel, iaringan yang cedera atau mdti, atau mikroorganisme, terutdma bakteri, yang dimakan
(fagositosis) dan cepat dihancurkan oleh enzim lisosom.
Eosinofiljuga memiliki rentang usia pendek. Sel initetap berada didalam darah selama hampir
10 jam dan kemudian masuk ke dalam jaringan ikat, tempat sel ini berdiam selama 10 hari.
Eosinofil juga merupakan sel fagositik dengan afinitas khusus terhadap kompleks antigen-antibodi
yang terbentuk di jaringan pada kondisi alergi. Sel ini juga mengeluarkan zaI-zat kimiawi yang
menetralkan histamin dan mediator lain akibat reaksi alergi inflamitorik. Eosinofiljuga bertamba[
banyak selama infestasi parasit dan melawan parasit cacing dengan menghancurkannya.
Limfosit memiliki rentang usia bervariasi, dari hitungan hari hingga bulan, dan menunjukkan
berbagai ukuran. Perbedaan antara limfosit kecil (lymphocytus parvus) dan linrfosit besar
(lymphocytus magnus) memiliki makna fungsional. Limiorit desul,.n""r"tr[[";i
n;;;;;;rr.i""li
oleh antigen spesifik. Limfosit penting untuk pertahanan imunologik organisme. Bila dirangsang
oleh antigen spesifik, sebagian limfosit (limfosit B) berdiferensiasi menjadiiel plasma lplasmoJytus)
di jaringan ikat dan menghasilkan antibodi untuk melawdn atau menghancurkan organi.me
invasif.
Monositdapat hidup di dalam darah selama 2 sampai 3 hari dan kemudian masuk ke dalam
jaringan ikat, tempat sel ini menetap selama beberapa bulan atau lebih. Monosit darah adalah
prekursor sistem fagosit mononuklear. Setelah masuk ke jaringan ikat, monosit berubah meniadi
fagosit kuat. Di tempat infeksi, monosit berdiferensiasi menjadi makrofag jaringan
(macrophagocytus) dan kemudian menghancurkan bakteri, benda asing, dan debris sel.
Basofil memiliki rentang usia pendek dan fungsinya mirip dengan sel mast. Granulanya
mengandung histamin dan heparin. Pajanan terhadap alergen menyebabkan pembebasan histamin
dan zat kimiawi lainnya yang memerantarai dan meningkatkan respons peradangan. Reaksi-reaksi
ini menimbulkan reaksi alergi berat, perubahan vaskular yang menyebabian p"ningtui"n
kebocoran cairan dari pembulu'h darah,j"n ,"rpon, hipersensitivitit a""
""rnir'f.rit.'"'

GAMBAR 5.9 ffi Scldi#an Apr:* ilai"nh Manu*ia; lila*ic-:fil. frl*r-.:trr:fif. S*i ffiarafi Merah"
d*n "il.*n'ih*:sit
Fotomikrografpembesaran-kuat sediaan apus darah manusia memperlihatkan eritrosit (3), basofl (f
),
neutrofil (5) dan trombosit (+). Sitoplasma basofil (1) terisi oleh granula basofilik (2) padat yang
menutupi inti. Sebaliknya, sitoplasma neutrofil (5) tldak terdapat granula dan intinya multilobus (6).
fl

ffi %o,) ffi ffi


ffiffi {s ffiffi*
W .ls.\h'

ffi
&*.,$w w
$ffi
p. wmw

GAMBAR 5.8
*%ffiW; W
Basofil. Pulasan: Wright. lmersi minyak.

GAMBAR 5.9 Sediaan apus darah manusia: basofil, neutrofil, sel darah merah, dan trombosit. Pulasan:
Wright. 32O x
GAMBAR 5.10 m $ediaan Apus Darah Manu*ia: Mcnosit, $el Darah Merah, dan
Trombnrit
Fotomikrograf pembesaran-kuat memperlihatkan banyak eritrosit (t), trombosit (2), dan sebuah
monosit besar (3) dengan inti khas berbentuk ginjal dan sitoplasma nongranular.

GAMBAR 5.11 ffi Perkembangen *erbagai $el Oarah di $umsurn Tulang Merah
{Fctongan Snkalsifikasi}
Pada potongan sumsum tulang merah, semua jenis sel darah yang sedang berkembang sulit dibedakan.
Sel-sel tersusun padat, dan berbagai jenis sel saling bercampur. Selama proses pematangary sel-sel
hemopoietik menjadi lebih kecil dan kromatin intinya lebih padat. Saat sel darah melewati rangkaian
tahapan perkembangan, sel darah memperlihatkan perubahan morfologi dan dapat diidentifikasi secara
mikroskopik.
Potongan sumsum tulang ini diwarnai dengan pulasan hematoksilin dan eosin. Pada pembesaran ini,
tidak banyak diferensiasi sitoplasma yang terlihat. Pada turunan eritrositik, eritroblas basofilik
(erythroblastus basophilus) (7, 2t) muda dikenali oleh inti yang besar namun tidak padat dan
sitoplasma yang basofilik. Sel-sel ini menghasilkan eritroblas polikromatofilik (erythroblastus
polychromatophilus) (t, zz) yang lebih kecil dengan kromatin lebih padat dan warna sitoplasma lebih
bervariasi. Sel turunan eritrositikyang paling mudah dikenal adalah normoblas (2, 23). Sel ini memiliki
inti kecil berwarna gelap dan sitoplasma kemerahan atau eosinofilik. Normobl as (Z,ZZ) memperlihatkan
aktivitas nnitosis (6) d sumsum tulang. Saat normoblas (2, Zl) matang, sel ini mengeluarkan intinya
dan menjadi eritrosit (g). Sel-sel turunan eritrositik tidak memperlihatkan adanya granula di dalam
sitoplasmanya. Eritrosit (3) banyak ditemukan di sumsum tulang merah dan dijumpai dalam banyak
sinusoid (t,tz),venula (f+), dan arteriol (15).
Granulosit muda pada awalnya memperlihatkan banyak granula primer atau azurofilik (granulum
azurophilum) di dalam sitoplasmanya. Akibatnya, bentuk imatur neutrofil, eosinofil, dan basofil secara
morfologis tidak dapat dibedakan dan hanya dapat dikenali pada tahap mielosit, saat granula spesifik
mulai muncul di dalam sitoplasmanya. Pada sel neutrofilik, granula spesifik hanya sedikit terwarnai dan
sitoplasma tampak jernih. Pada turunan eosinofilik, granula spesifikberwarna merah tua atau eosinofilik.
Granulosit basofilik jarang ditemukan di sumsum tulang karena jumlahnya sedikit. Sitoplasma basofil
matang memperlihatkan inti bilobus dan granula biru tua atau basofilik.
Mielosit (f S, ff) granulositik memperlihatkan sebuah inti bulat besar dan sitoplasma dengan
banyak granula azurofilik. Mielosit (t:, tl) menghasilkan metamielosit (4, ll, 20) yang intinya
berbentuk kacang atau tapal kuda. Metamielosit neutrofilik (metamyelocytus neutrophilus) (fZ)
memperlihatkan inti yang memiliki cekungan dalam dan sitoplasma dengan granula azurofilik dan gra-
nula spesifik yang sedikit terwarnai. Sebaliknya, sel dengan granula eosinofilik atau merah terang di
sitoplasma adalah mielosit eosinofilik (myelocytus acidophilus) ( t S).
Stroma jaringan ikat retikular di sumsum tulang hampir tertutup oleh sel-sel hemopoietik. Di bagian
yang kurang padat, tampak jaringan ikat retikular dengan sel retikular (cellula reticularis) (16)
memanjang. Banyak sinusoid (t, tZ) berdinding tipis dan berbagai jenis pembuluh darah ( 14, l5) berisi
eritrosit dan leukosit juga terdapat di sumsum tulang. Yang mencolok di sumsum tulang adalah sel
adiposa (5) besar, masing-masing memperlihatkan vakuola besar (karena larutnya lemak saat persiapan
preparat) dan sitoplasma tipis di perifer yang mengelilingi inti (5). Sel lain yang dapat diidentifikasi di
sumsum tulang adalah megakariosit (9, 10) yang sangat besar dengan lobulasi inti yang bervariasi. Salah
satu dari megakariosit (f, tO) ini terletak dekat dengan sinusoid darah, sehingga fragmen dari juluran
sitoplasma dilepaskan ke dalam sinusoid darah sebagai trombosit.
Beberapa sel darah dari sumsum tulang merah diperlihatkan di gambar bawah pada pembesaran
yang lebih kuat.
.t\ri
rl
,, ".'i{r
rS$l
ts )s '
1 Eritrosil
":."-.X1
*'o :.d.t
.:.\1 -til(
._ \u.$N.."
-i
riiliLr.*ri.,,lr$:' ..ilL,,

3 Monosit

2 Trombosil
i{L'}i'.\Sr

. !r\\;tid

' ,, ,, itiil$liLlf
**$f
* . ri iii
',i rl$li\ ':,r,.
:i
titl.

GAMBAR 5.10 Sediaan apus darah manusia: monosit, sel darah merah, dan trombosit. Pulasan
Wright. 32O x

'l Sinusoid
,t\wgY6>-qo JW.#$-dT
F-fSa! iqb*&r,n, 10 Megakariosit

2 Normoblas
d%i,s"-,.*
11 Metamielosit
,w *$
3 Eritrosit &
12 Sinusoid
,-&t
4 Metamielosit
13 Mielosit

5 lnti dan sitoplasma


sel adiposa 14 Venula

6 Mitosis normoblas 15 Arteriol

7 Eritroblas Oasofiiit<

16 Sel retikular

B Eritroblas 17 Metamielosit
polikromatofilik neutrofil

1B Mielosit
9 Megakariosil eosinofilik

dffi\
Flr.frn*'l
t#ss$u
r{h*tr
,w {w}
22 Eritroblas
polikromatofilik
19 Mielosil 20 Metamielosit 21 Eritroblas 23 Normoblas
basofilik

GAMBAR 5.11 Perkembangan berbagai sel darah di sumsum tulang merah (dekalsifikasi)' Pulasan:
hematoksilin dan eosin. Gambar atas: pembesaran kuat; gambar bawah: imersi minyak.
GAMBAR 5.12 ffi Sediaan Apus Sumsum Tulang: Perkembangan Berbagai ienis Sel
Sediaan apus sumsum tulang menunjukkan beberapa sel darah yang khas dalam berbagai tahap
perkembangan. Pada turunan eritrositik, sel prekursor proeritroblas (proerythroblastus) (3)
memperlihatkan sitoplasma basofilik tipis dan inti lonjong besar yang menempati sebagian besar sel.
Kromatin tersebar secara merata, dan mungkin terdapat dua atau lebih inti. Granula azurofilik tidak
terdapat di sitoplasma semua sel turunan eritrositik. Proeritroblas (3) membelah untuk membentuk
eritroblas basofilik (4, t0) yang lebih kecil.
Eritroblas basofilik (4, te ) ditandai oleh suatu cincin sitoplasma basofilik dan ukuran sel dan inti
yang kecil. Kromatin inti kasar dan memperlihatkan pola "papan catur" khas. Nukleolus tidak jelas atau
tidak ada. Eritroblas basofilik (S, t0) menghasilkan eritroblas polikromatofilik (f 2), yang ukurannya
serupa dengan eritroblas basofilik (S, te). Sitoplasma eritroblas polikromatofilik (12) menjadi agak
basofilik dan lebih asidofilik akibat meningkatnya jumlah hemoglobin. Inti eritroblas polikromatofilik
(tZ) lebih kecildan memperlihatkan pola "papan catur" yang lebih kasar.
Saat sel polikromatofilik (12) memiliki sitoplasma yang lebih asidofilik (merah muda) akibat
penimbunan hemoglobin, ukuran sel berkurang dan sel menjadi eritroblas ortokromatofilik
(normoblas) (t). Set ini mampu melakukan mitosis (z).Vadaawalnya, inti eritroblas ortokromatofilik
(1) memperlihatkan pola kromatin "papan catur'l Selanjutnya ukuran inti berkurang, menjadi piknotik,
dan dikeluarkan dari sitoplasma sehingga terbentuklah sel bentuk-bikonkaf dengan sitoplasma merah
muda-kebiruan yang disebut retikulosit (reticulocytus) atau eritrosit muda. Dengan pulasan supravital
khusus, retikulum halus terlihat di dalam sitoplasma retikulosit akibat masih adanya sisa poliribosom
(llhat Gambar 5.13). Setelah poliribosom tidak terdapat di dalam sitoplasma, sel menjadi eritrosit (9)
matang. Eritrosit (9) adalah sel kecil dengan sitoplasma merah muda atau asidofilik homogen.
Berbagai jenis mielosit dan metamielosit turunan sel granulositik juga terlihat di dalam sediaan apus
sumsum tulang. Mielosit memperlihatkan inti eksentrik dengan kromatin padat dan sitoplasma agak
basofilik dengan sedikit granula azurofilik. Berbagai jenis mielosit memperlihatkan jumlah granula yang
bervariasi. Mielosit yang lebih matang, misalnya mielosit neutrofitik (myelocytus neutrophilus) ( r+),
mielosit eosinofilik (fS), dan mielosit basofilik (myelocytus basophilus) (tf) yang jarang
ditemukan, memperlihatkan banyak granula spesifik di dalam sitoplasmanya yang agak asidofilik. Mie-
losit adalah sel terakhir turunan granulositik yang dapat bermitosis, yang selanjutnya mengalami
pematangan menj adi metamielosit.
Bentuk inti turunan neutrofilik berubah dari lonjong menjadi inti dengan cekungan, seperti yang
terlihat pada metamielosit neutrofilik (+). Sebelum proses pematangan selesai dan segmentasi inti
menjadi lobus-lobus, neutrofil melewati tahapan granulocytus neutrophilus non segmentonuclearis
(band cell) (to), yaitu inti memiliki bentuk pita atau batang melengkung yang seragam.
Neutrofil matang ( f 3) dengan inti tersegmentasi juga terdapat di sediaan apus sumsum tulang, dan
juga eosinofil matang (7) dengan granula merah muda spesifikmengisi sitoplasmanya.
Tampak sebagian sel raksasa megakariosit (17). Sel ini berdiameter sekitar 80 sampai 100 pm dan
memiliki sitoplasma besar agak asidofilik yang terisi oleh granula halus azurofilik. Fragmen-fragmen
sitoplasma yang berasal dari megakariosit terlepas sebagai trombosit (18).
1 Eritroblas ortokro-
,iil:lall
tiiirr:irtr W ""w{ *1"$
matofilik (normoblas) 10 Neutrofil (batang sel)
2 Mitosis eritroblas ortokroma-
tofilik (normoblas) 1

3 Proeritroblas
tsTs 'l'l Mielosit basofilik

$ ffi*
',,

4 Metamielosit neutrofilik
w wtr r{s

\,i:$
q$$' x*
12 Eritroblas
polikromatofilik

'13 Neutrofil matang


5 Metamielosit eosinofilik
,n
6 Trombosil
w*s ${ri$W
!uq;*Y
,

4 Mielosit neutrofilik
, \t$ nr.ll **u
::tr
T'$.-\.\ 1

7 Eosinofil matang
$li:.l.ii.ilit
{"$ {ts- s
15 Mielosit eosinofilik
8 Eritroblas basofilik 'l,'.-ew
_i
*pw

Sl$ {[$
l$is
&P .':],irr
r{.r}&
1 6 Eritroblas basofilik
9 Eritrosit matang
ffimuts $
17 Megakariosit
!\s
18 Trombosit berasal
dari megakariosit

GAMBAR 5.12 Sediaan apus sumsum tulang: perkembangan berbagai jenis sel darah. Pulasan:
Giemsa. Pembesaran kuat.
GAMBAR 5.13 ffi $ediaan Apus $umsum Tulang: Prekursor Berbagai Sel Darah
Gambar ini memperlihatkan sel prekursor berbagai sel darah yang berkembang dan matang di sumsum
tulang merah pada pembesaran yang lebih kuat.
Sel induk menghasilkan berbagai turunan sel hemopoietik, yang menghasilkan eritrosit, granulosit,
limfosit, dan megakariosit. Karena kemampuannya berdiferensiasi menjadi semua sel dara[ sel ini
disebut sel induk hemopoietik pluripoten. Meskipun sel ini tidak dapat dibedakan secara mikroskopis, sel
ini menyerupailimfositbesar. Pada orang dewasa, jumlah terbesar sel indukpluripoten (cellulaprecursoria
pluripotens) terdapat di sumsum tulang merah.

Pembentukan Eritrosit
Pada turunan sel eritrositik, sel induk pluripoten berdiferensiasi menjadi proeritroblas (l), sel besar
dengan kromatin iarangt satu atau dua nukleolus, dan sitoplasma basofilik. Proeritroblas (l) membelah
untuk menghasilkan sel yang lebih kecil yaitu eritroblas basofilik (2) dengan cincin sitoplasma basofilik
dan inti yang lebih padat tanpa nukleolus yang jelas. Pada tahap selanjutnya, sel yang lebih kecil disebut
eritroblas polikromatofilik (3) terbentuk. Sel ini memperlihatkan berkurangnya ribosom basofilik dan
peningkatan kadar hemoglobin asidofilik di dalam sitoplasmanya. Akibatnya, sel ini memiliki beragam
warna di dalam sitoplasmanya. Seiring dengan berlanjutnya diferensiasi, ukuran sel semakin mengecil,
pemadatan material inti, dan sitoplasma eosinofilik yang lebih seragam. Pada tahap ini, sel disebut
eritroblas ortokromatofilik (normoblas) (+). Setelah mengeluarkan intinya, eritroblas ortokromato-
filik (4) berubah menjadi retikulosit (5) karena sejumlah kecil ribosom yang dapat diwarnai di dalam
sitoplasmanya. Setelah kehilangan ribosom, retikulosit berubah menjadi eritrosit (6) matang.

Pembentukan Granulosit
Mieloblas (myeloblastus) (7) adalah prekursor yang pertama kali mudah dikenali pada turunan sel
granulositik. Mieloblas (7) adalah sel kecil dengan inti besar, kromatin tersebar, tiga atau lebih nukleolus,
dan cincin sitoplasmabasofilikyangtidakmemiliki granula spesifik. Seiring denganprosesperkembangan,
sel membesar, mengandung granula azurofilik, dan menjadi promielosit (promyelocytus) (S, f).
Kromatin di dalam intiyanglonjongtampaktersebar, danbanyaknukleolus terlihat jelas. padapromielosit
yang lebih tua, sel menjadi lebih kecil, nukleolus menjadi tidak jelas, jumlah granula azurofi.likmeningkat,
dan granula spesifik dengan sifat pewarnaan berbeda mulai tampak di daerah perinukleus. promielosii (g,
9) membelah menjadi mielosit (t0, t3, 14) yanglebih kecil. Sitoplasma-mielosit (10, 13, 14) agak
basofilik dan mengandungbanyakgranula azurofilik. Mielosit berdiferensiasi menjadi tiga jenis gr".rrrlorit,
yang hanya dapat dikenali dari peningkatan akumulasi dan pewarnaan granula spesifik di dalam
sitoplasmanya, sepertiyang terlihat pada mielosit eosinofilik ( l3) dengan granula merah atau eosinofilik
dan mielosit basofilik (t+) yang jarang ditemukan dengan granula biru atau basofillk. Mielosit
berkembang menjadi metamielosit.
Sitoplasma metamielosit neutrofilik ( t t ) mengandung granula azurofilik terpulas-gelap, granula
spesifik terpulas lebih terang, dan inti yang cekung bentuk-ginjal. Metamielosit eosinofilik
(metamyelocytus acidophilus) (r5)'adalah sel yang lebih besar, dan granula sitoplasma spesifiknya
berwarna eosinofilik.
Megakarioblas (megakaryoblastus) (12) adalah sel besar dengan sitoplasma homogen basofilik
yang tidak mengandung granula spesifik. Inti yang sangat besar berbentuk lonjonq atau ginjal,
mengandung banyak nukleolus, dan memperlihatkan pola kromatin yang jarang. Trombosit tidak
terbentuk pada tahap ini.
Selama diferensiasi, megakarioblas(tZ) menjadi sangat besar. Intinya berlipatJipat, dengan lobus-
lobus tidak teratur yang dihubungkan oleh bagian yang menyempit. Kromatin tampak padat dan kasar,
dan nukleolus tidak terlihat. Pada megakariosit (17) matang, membran plasma melakukan invaginasi
sitoplasma dan membentuk membran demarkasi. Hal ini membatasi daerah sitoplasma megakariosit
yang kemudian terlepas ke dalam darah berupa fragmen kecil sel dalam bentuk trombosit (f 6).
4 Eritroblas
ortokromatofilik
(normoblas)

'.#Wf,*
'&[S*'r
\" &
'twl ww{w !.litiiY
i\&xas
=*e*.",.-.d

1 Proeritroblas 2 Eritroblas 3 Eritroblas 5 Retikulosit 6 Eritrosit matang


basofilik polikromatofilik
&
w w.i
r 'ii:;:
9 Promielosit
w
10 Mielosil
7 Mieloblas 8 Promielosit neutrofilik neutrofilik

,ffi
'*C'*ii''
.*:.'.:n-
,li.:iffii
r"":.-W'.:r'
.-,;;pg':i$

13 Mielosit 15 Metamielosit
eosinofilik eosinofilik
;"3lhr
$s*'
.Jq:$,*"

14 Mielosit
basofilik
12 Megakarioblas 16 Trombosit 17 Megakariosit

Gambar 5.13 Sediaan apus sumsum tulang: prekursor berbagai sel darah. Pulasan: Giemsa.
Pembesaran kuat atau imersi minyak.
BAB 5 Ringkasan
Darah
o Terdiri dari unsur bentukan, eritrosit, leukosit, dan trombosit yang beredar di dalam plasma

Hemopoiesis
o Sel darah secara terus menerus diganti di sumsum merah karena terbatasnya rentang usia
o Sel induk pluripoten membentuk sel induk mieloid dan limfoid pluripoten
r Sel induk mieloid menghasilkan eritrosit, eosinofil, neutrofil, basofil, monosit, dan megakariosit
o Sel induk limfoid menghasilkan limfosit B dan limfosit T
o Limfosit B dan T ditemukan di jaringan limfoid perifer, limfonodus, dan limpa

Tempat Hemopoiesis
r Pada embrio, hemopoiesis berlangsung di kantung kuning teluE hati, limpa, dan limfonodus
o Pada orang dewasa, hemopoiesis terbatas di sumsum tulang merah (tengkorak, sternum, iga, vertebra, panggul)

Unsur Eentukan: lenis Sel Darah Utama


Eritrosit
o Sel paling banyak di dalam darah
r Eritrosit adalah sel tidak berinti yang tetap berada di dalam darah
r Mengandung hemoglobin dengan molekulbesi di dalam sitoplasma
o Mengangkut oksigen sebagai oksihemoglobin dan karbon dioksida sebagai karbaminohemoglobin
o Bentuk bikonkaf meningkatkan luas permukaan untuk mengangkut gas pernapasan
o Rentang usia sekitar 120 hari, yang selanjutnya difagositosis di limpa, hati, dan sumsum tulang

Trombosit
o Adalah fragmen megakariosit sumsum tulang dan tidak termasuk sel darah
o Berfungsi di pembuluh darah untuk memulai pembekuan darah jika terjadi kerusakan dinding pembuluh darah
o Pada pembuluh darah yang cedera membentuk sumbat; meningkatkan ukuran sumbat melalui glikoprotein adhesif
dan fibrin
o Fibrin menangkap trombosit dan sel darah, dan membentuk bekuan darah
o Menyebabkan retraksi dan pembersihan bekuan melalui proses enzimatik

Leukosit
o Granulosit yang mengandung granula sitoplasma; mencakup neutrofil, eosinofil, dan basofil
' Agranulosit adalahsel yang tidak memiliki granula sitoplasma; mencakup monosit dan limfosit

Granulosit
Neutrofil
r Sitoplasma tampak jernih di bawah mikroskop
o Inti mengandung beberapa lobus yang dihubungkan oleh benang kromatin halus
r Memiliki rentang usia pendek di dalam darah atau jaringan ikat, dari beberapa jam hingga hari
o Fagosit yang sangat aktif tertarik ke benda asing oleh faktor kemotaktik
o Menghancurkan material yang ditelan (difagosit) dengan enzim lisosom
o Membentuk sekitar 60 sampai 70% leukosit darah

120
Eosinofil
o Sitoplasma terisi oleh granula besar merah muda atau eosinofilik
o Inti biasanya berlobus dua
o Memiliki rentang usia pendek, di dalam darah atau jaringan ikat
o Merupakan sel fagositik dengan afinitas terhadap kompleks antigen-antibodi
o Mengeluarkan zat kimiawi yang menetralkan histamin dan mediator lain reaksi peradangan
o Meningkat selama infestasi parasit untuk menghancurkan parasit cacing
o Membentuk sekitar 2 sampai 4% leukosit darah

Basofil
o Sitoplasma mengandung granula biru tua atau coklat
o Memiliki rentang usia pendek
o Inti berwarna basofilik pucat, tetapi biasanya terhalang oleh adanya granula sitoplasma yang padat
o Granula mengandung histamin dan heparin
o Pajanan terhadap alergen menyebabkan pengeluaran histamin yang menyebabkan respons peradangan hebat pada
reaksi alergi berat
o Membentuk kurang dari lo/o leukosit darah

Agranulosit
Limfosit
o Tidak memiliki granula di dalam sitoplasma dan ukurannya bervariasi dari kecil hingga besar
o Inti terpulas-gelap dikelilingi oleh cincin sitoplasma yang sempit
o Rentang usia dari beberapa hari hingga beberapa bulan
o Penting untuk pertahanan imunologik terhadap organisme
o Jika terpajan antigen spesifik, Iimfosit B membentuk sel plasma di jaringan ikat
o Sel plasma mengeluarkan antibodi untuk melawan atau menghancurkan organisme yang masuk
o Membentuk sekitar 20 sampai 30% leukosit darah

Monosit
a Leukosit agranular terbesar terutama ditandai oleh inti bentuk-tapal kuda
a Hidup dalam jaringan ikat selama berbulan-bulan tempat sel ini menjadi fagosit kuat
a Merupakan bagian sistem fagosit mononuklear
a Membentuk sekitar 3 sampai 8% leukosit darah
Textus muscularis
striatus skeletalis Epimysium

Perimysium
Vas
sa

Endomysium

Epimysium

Fasciculus
muscularis
Musculus Myofibra

Textus muscularis
striatus cardiacus Discus intercalaris

sangurneum

Endomrrsium

Sarcoplasma
Myofibrilla

Textus muscularis levis

Myofibra

GAMBARAN UMUM 6 Representasi diagram gambaran mikroskopik tiga jenis otot: rangka, jantung,
dan polos.

'122
|aringan Otot
Terdapat tiga jenis jaringan otot dalam tubuh: otot rangka (textus muscularis striatus skeletalis),
otot polos (textus muscularis levis), dan otot iantung (textus muscularis striatus cardiacus) ' Setiap
jenis otot memiliki kemiripan struktur dan fungsi, dan juga perbedaan. Semua jaringan otot terdiri atas
sel-sel memanjang yang disebut serat. Sitoplasma sel otot disebut sarkoplasma (sarcoplasma) dan
membran sel sekitar atau plasmalema disebut sarkolema (sarcolemma). Setlap sarkoplasma serat otot
(myofibra) mengandung banyak miofibril (myofibrilla), Iang mengandung dua jenis filamen protein
kontraktil, aktin (actinum) dan miosin (myosinum).

Otot Rangkn
Serat otot rangka adalah sel multinukleus silindris panjang, dengan inti-inti tersebar di perifer. Otot ini
memiliki banyak nukleus karena penyatuan prekursor sel otot mioblas (myoblastus) selama perkem-
bangan embrionik. Setiap serat otot terdiri dari subunit-subunit yang disebut miofibrilyang terentang di
sepanjangserat. Miofibril, selanjutnya, terdiri daribanyakmiofilamen (myofilamentum) yang dibentuk
oleh protein kontraktil tipis, aktin, dan protein kontraktil tebal, miosin.
Di dalam sarkoplasma, susunan fi.lamen aktin dan miosin sangat teratur, membentuk pola cross-
striation,yang dilihat di bawah mikroskop cahaya berupa stria I (discus isotropicus) terang dan stria
A (discus anisotropicus) gelap di setiap serat otot. I(arena cross-striation ini, otot rangka disebut juga
textus muscularis striatus (striated muscle). Pemeriksaan dengan mikroskop elektron memperlihat-
kan susunan internal protein kontraktil di setiap miofibril. Gambaran resolusi-tinggi ini menunjukkan
bahwa setiap stria I terang terpisah menjadi dua oleh linea Z (diskus atau pita) padat melintang. Di antara
dua linea Zyangberdekatan terdapat unit kontraktil otot terkecif sarkomer (sarcomerum). Sarkomer
adalah unit kontraktil berulang yang terlihat di sepanjang setiap miofibril dan merupakan ciri khas
sarkoplasma serat otot rangka dan jantung'
Otot rangka dikelilingi oleh lapisan jaringan ikat padat tidak teratur yang disebut epimisium (epi-
mysium). Dari epimisium, lapisan jaringan ikat kurang padat tidak teratur, disebut perimisium (peri-
mysium), masuk dan memisahkan bagian dalam otot menjadi berkas-berkas yang lebih kecil yaitu
fasikulus (fasciculus muscularis); setiap fasikulus dikelilingi oleh perimisium. Selapis tipis serat ja-
ringan ikat retikular, endomisium (endomysium), membungkus setiap serat otot. Di selubung jaringan
ikai terdapat pembuluh darah (vas sanguineum), saraf, dan pembuluh limfe (lihat Gambaran Umum 6).
Hampir semua otot rangka terdapat reseptor regang sensitif, yaitu gelendong neuromuskular
(iunctio neuromuscularis fusi). Gelendong ini terdiri atas kapsul jaringan ikat, tempat ditemukannya
serat otot modifikasi yaitu serat intrafusal (myofibra intrafusalis) dan banyak ujung saraf (terminatio-
nes neurales), dlkelilingl oleh ruang berisi-cairan. Gelendong neuromuskular memantau perubahan
(peregangan) panjang otot dan mengaktifkan refleks kompleks untuk mengatur aktivitas otot.

fftct fantung
Serat otot jantung (cardiomyofibra) luga silindris. Serat ini terutama terdapat di dinding dan sekat
iantung, dan dlnding pembuluh darah besar yang melekat pada jantung
(aorta dan trunkus pulmonalis).

123
Seperti otot rangka, serat otot jantung memperlihatkan cross-sfriation yangjelas karena filamen aktin
dan miosin tersusun teratur. Pemeriksaan dengan mikroskop elektron memperlihatkan adanya stria A,
stria I, linea Z (telophragma), dan unit sarkomer berulang. Namun, berbeda dari otot rangka, otot jan-
tung hanya memperlihatkan satu atau dua inti di tengah, yang lebih pendek dan bercabang.
Ujung terminal serat otot jantung yang berdekatan membentuk complexus junction alis " end-to-
end" tetpulas-gelap yang disebut diskus interkalaris (discus intercalaris). Diskus ini adalah tempat
perlekatan khusus yang menyilang sel-sel jantung pada interval yang tidak teratur dengan pola seperti
tangga. Di diskus ini terdapat nexus (gap junction) yang memungkinkan komunikasi ionik dan konti-
nuitas antara serat-serat otot jantung yang berdekatan (lihat Gambaran Umum 6).

Otot Polos
Otot polos memiliki distribusi yang luas dan ditemukan di banyak organ berongga. Serat otot polos juga
mengandung filamen kontraktil aktin dan miosin; namun, filamen-filamen ini tidak tersusun dalam pola
cross-striation teratur seperti pada otot rangka dan otot jantung. Akibatnya, serat otot ini tampak polos
atau tidak berserat. Serat otot polos adalah otot involunter dan, karenanya, berada di bawah kontrol
sistem saraf otonom dan hormon. Serat-seratnya kecil dan berbentuk fusiformis atau kumparan, dan
mengandung satu inti di tengah.
Di bawah mikroskop cahaya, otot polos tampak sebagai serat tunggal atau berkas tipis yaitu fasiku-
Ius' Otot polos banyak dijumpai melapisi organ visera berongga dan pembuluh darah. Di organ salur-
an Pencernaan, uterus, ureter, dan organ berongga lainnya, otot polos terdapat dalam bentuk lembaran
atau lapisan. Jaringan ikat membungkus masing-masing serat otot dan lapisan otot. Di pembuluh darah,
serat otot tersusun dengan pola melingkar, tempat otot ini mengendalikan tekanan darah dengan
mengubah diameter lumen pembuluh (lihat Gambaran Umum 6).

GAMBAR 6.1 ffi Potongan Longitudinal dan Transversal Otot Rangka {Lurik): Lidah
Di lidah, serat otot rangka tersusun dalam berkas-berkas dan memiliki arah berbeda-beda. Gambar ini
memperlihatkan serat otot lidah yang terpotong memanjang (daerah atas) dan melintang (daerah
bawah).
Setiap serat otot rangka (9, potongan melintang; I l, potongan memaniang) memiliki banyak
inti. Nukleus (r, 0) terletak
di pinggir,dan tepat di bawah sarkolema setiap serat otot. (Sarkolema tidak
tampak pada gambar). Setiap serat otot rangka juga memperlihatkan cross-striation (3), yangtampak
sebagai stria A (Sa) gelap yang berselang seling dengan stria I (ab) terang. Dengan pembesaran lebih
kuat dan pemeriksaan mikroskop elektron, cross-striation dapat dilihat secara detail (Gambar 6.5-6.7).
Serat otot rangka bergabung menjadi berkas atau fasikulus ( tS), yang dikelilingi oleh seratiaringan
ikat (5). Selubung jaringan ikat (5) yang mengelilingi setiap fasikulus disebut p""i-i.io- (iz). irri
setiap perimisium (12), muncul lembaran tipis jaringan ikat ke dalam setiap fasikulus otot (15) dan
membungkus masing-masing serat otot (9, l1) dengan lapisan jaringan ikat yang disebut endomisium
(+, z).Pembuluh darah (s) kecil dan kapiler (2, t+) terdapar di dalam
ftringan ikat (5) yang
mengelilingi setiap serat otot (9, 11).
Serat otot rangka yang terpotong memanjang ( t t ) menampakka n cross-striation terang dan gelap
(ea, :b). Serat otot yang terpotong melintang (9) menampakkan potongan melintang
-ionUm a)
jf
dan inti di pinggir (6).

GAMBAR 6.2 ffi otot Rangka (Lurik): Lidah (Potongan Longitudinal)


Fotomikrograf lidah dengan pembesaran-kuat memperlihatkan serat otot rangka (l) dan cross-
striation (2). Perhatikan. nukleus (3) yang terletak di tepi dan miofibril (6) halus. Selapis tipis jaringan
ikat yaitu endomisium (5) mengelilingi setiap serat otot. Gabungan serat otot atau fasikulus dibunglus
oleh lapisan jaringan ikat yang lebih tebal yaitu perimisium (4). Berhubungan dengan perimtsium (4)
jaringan ikat terdapat sel adiposa (7).
10 Fibroblas di
2 Kapiler ------C dalam
3 Seran-lintang
endomisiur
( Cross-sfrlaflon)

(a) stria A 11 Serat otot


(b) stria I
(terang)

4 Endomisium

12 Perimisium
5 Jaringan
ikat

6 lntr serat
13 Miofibril
otot

7 Endomisium
14 Kapiler
8 Pembuluh
darah

I Serat otot 15 Fasikulus otot

GAMBAR 6.1 Potongan longitudinal dan transversal otot rangka (lurik) lidah. Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran kuat.

4 Perimisium

1 Serat otot
angka

5 Endomisium
2 Seran-lintang
(Cross-striatlon)

3 Nukleus
6 Miofibril

7 Sel adiposa

GAMBAR 6.2 Otot rangka (lurik) lidah (potongan longitudinal). Pulasan: Trikrom Masson. 130 x.
GAMBAR 6.3 ffi fftat Rangka, $anaf, dan.{r.:netir: Neuramu*cularis
Sekelompok serat otot rangka (6,2) telahterurai dan diwarnai untuk memperlihatkan ujung saraf atau
junctio neuromuscularis di setiap serat otot. Perhatikan karakteristik cross-sfriation (2,8) pada serat
otot rangka (6,7). Struktur mirip-benangyang terpulas-gelap di antara serat otot (6, l) yangterurai
adalah saraf (3) motorikbermielin dan cabangnya, akson (f , S, rO). Sarafmotorik (3) berjalan di dalam
otot, bercabang-cabang, dan mendistribusikan akson-aksonnya (1, 5, 10) ke dalam setiap serat otot (7).
Akson berakhir pada masing-masing serat otot di daerah pertautan khusus yaitu iunctio neuromuscu-
laris (motor endplate) (+, l). Struktur-struktur bulat gelap yang kecil di setiap junctio neuromuscularis
adalah pelebaran terminal akson ( 1, 5, 10). Beberapa akson ( 1) juga terlihat tanpa junctio neuromuscu-
laris akibat proses pembuatan sediaan.

Otot rangka (textus muscularis striatus skeletalis) bersifat volunter karena rangsangarr untuk
kontraksi dan relaksasinya berada di bawah kontrol kesadaran. Otot rangka dipersarafi oleh akson
atau saraf motorik besar. Di dekat otot rangka, saraf motorik bercabang-iabang, dan cabang akson
yang lebih kecil mempersarafi satu serat otot. Akibatnya, serat otot rangka hanya berkontra"ksi jika
dirangsang oleh akson. Setiap serat otot rangka juga memperlihatkan suatu tempat khusus tempat
akson berakhir. Junctio neuromuscularis atau motor endplate ini adalah tempat yang mengirimkan
impuls dari akson ke serat otot rangka.
U jung terminal setiap akson eferen (motorik) memiliki banyak vesikel kecil yang mengandung
neurotransmiter asetilkolin. Timbulnya impuls saraf atau potensiat aksi di terminal akson
menyebabkan vesikel
1i1aps menyatu dengan membran plasma akson dan membebaskan
asetilkolin ke dalam celah sinaps (fissura synaptica), celah kecil di antara terminal akson dan
membran sel serat otot- Selanjutnyd neurotransmiter berdifusi melalui celah sinaps dan berikatan
dengan reseptor asetilkolin di membran sel serat otot dan merangsang otot untuk berkontraksi.
Suatu enzim, asetilkolinesterase, yang terdapat di celah sinaps dekat p"rrnrkaan membran sel
serat otot, menginaktifkan atau menetralkan asetilkolin yang dilepaskan. Inaktivasi asetilkolin
mencegah stimulasi dan kontraksi otot lebih lanjut, hingga timbul impuls baru di terminal akson.
1 Terminal akson

2 Seran-lintang li+''i:t
7 Serat otot
(Cross-sfriallon) 1i:'l:,.tii rangka

3 Saraf
bermielin

4 Junctio neuro- 8 Seran-lintang


muscularis (Cross-sfriallon)
(motor end plate\
5 Akson 9 Junctio
neuromuscularis
(motor end plate)

10 Akson
6 Serat otol
rangka
i,\il&{.

GAMBAR 6.3 Otot rangka, saraf, akson, dan junctio neuromuscularis. Pulasan: perak. Pembesaran
ku at.
GAMBAR 6.4 ffi Ctat Rangka dengan Gelendcng Otct iPotongan Transversal)
Potongan melintang otot rangka ekstraokular menunjukkan serat otot (2) dikelilingi oleh jaringan ikat,
endomisium (6). Serat otot (2) berkelompok membentuk fasikulus (f ) dan dikellingi oleh jaringan
ikat interfasikularis yaitu perimisium (4). Di dalam fasikulus otot (1) terdapat potongan melintang
sebuah gelendong otot (fusus neuromuscularis) (3). Di sekeliling serat otot rangka (2) dan gelen-
dong otot (3) terdapat banyak arteriol (S) di dalam perimisium (4).
Gelendong otot (3) adalah suatu organ sensorik berkapsul. Kapsul (8) jaringan ikat di sekeliling
gelendong otot berasal dari perimisium ( f f ) yang berdekatan dan membungkus beberapa komponen
gelendong. Serat otot khusus di dalam gelendong dan dikelilingi oleh kapsul (8) disebut serat intrafusal
(tO) fberbeda dengan serat otot rangka (7) ekstrafusal yang terletak di luar kapsul gelendong (S)].
Serat sarafkecil yang berhubungan dengan gelendong otot (3) adalah serat saraf (akson) (9) bermielin
dan tidak bermielin yang dikelilingi oleh sel Schwann (Schwannocytus). Di dalam dan sekeliling kapsul
gelendong otot (3) ditemukan pembuluh darah kecil dan arteriol (f Z) darl perimisium.

Gelendong otot (fusus neuromuscularis) adalah reseptor regang sangat khusus yang terletak
sejajar dengan serat otot di hampir semua otot rangka. Fungsi utamanya adalah untuk mendeteksi
perubahan panjang serat otot. Pertambahan panjang serat otot merangsang gelendong otot dan
mengirimkan impuls melalui akson aferen (sensorik) ke medula spinalis. lmpuls ini menghasilkan
refleks regang yang segera memicu kontraksi serat otot ekstrafusal, sehingga otot yang teregang
memendekdan menghasilkan gerakan. Pemendekan panjang otot rangka menghentikan tingtung"n
serat gelendong otot dan hantaran impuls ke medula spinalis.
Lengkung refleks regang sederhana menggambarkan fungsi reseptor ini. Ketukan pada tendon
patela di lutut dengan palu karet akan meregangkan otot rangka dan merangsang gelendong otot.
Tindakan ini menyebabkan kontraksi cepat otot yang teregang dan menimbulkan respons
involunter, atau refleks regang.

GAMBAR 6.5 ru $erat Ctot Rangka {Fatangan l-ongitudinai]


Ilustrasi dengan pembesaran-kuat memperlihatkan setiap serat otot rangka secara detail. Setiap serat
otot (2) rangka dikelilingi oleh membran sel atau sarkolema (4). Perhatikan nukleus (r, rS) serat otot
yang terletak di tepi dan tampak gepeng. Di dekat nukleus (t, tS) tampak sitoplasma tipis atau sar-
koplasma (5) dengan organelnya. Setiap serat otot (2) terdiri dari banyak miofibril ( f 3) yang tersusun
memanjang. Miofibril ( 13) paling jelas terlihat pada potongan melintang serat otot rangka pada Gambar
6.3, nomor 13. Setiap serat otot rangka (Z) dikelilingi oleh jaringan ikat tipis endomisium (f+) yang
mengandung sel jaringan ikat yaitu fibrosit (S, f f ). Di endomisium ( t+) dijumpai pembuluh darah dan
kapiler (r2) dengan sel-sel darah.
Pada pembesaran yang lebih kuat, cross-striation pada serat otot rangka terlihat berupa stria I (6)
berwarna-terang dan stria A (7) berwarna-gelap. Setiap stria A (Z) dibagi dua oleh stria H yang lebih
terang dan linea M (mesophragma) (S) yang lebih gelap. Linea Z (9) sempit melintasi bagian sentral
setiap stria I. Segmen-segmen selular di antara linea Z (9) menggambarkan sarkomer ( l0), unit struk-
tural dan fungsional textus muscrllaris striatus (otot rangka dan jantung).Jika miofibril (13) dipisahkan
dari serat otot (2), stria A, stria I, dan hneaZ tetap terlihat. Susunan memanjang miofibril yang sejajar
menyebabkan serat otot rangka b ergaris - garis.
1 Fasikulus

7 Serat ekstrafusal

2 Serat otot
rangka

8 Kapsul gelendong
otot
3 Gelendong otot
I Serat saraf dengan
sel Schwann

10 Serat intrafusal

11 Perimisium

12 Arteriol

GAMBAR 6.4 Otot rangka dengan gelendong otot (potongan transversal). Sediaan beku yang dipulas
dengan metode Van Gieson modifikasi (hematoksilin, pulasan asam pikrat - ponceau). Kiri: pembesaran
sedang; kanan, pembesaran kuat. (Contoh jaringan diberikan oleh Dr. Mark De Santis, WWAMI Medical
Program, University of ldaho, Moscow, ldaho).

11 Fibrosit

12 Eritrosit dalam kapiler


1 lnti serat otot

N
ti
2Seratotot _l trt

n)
W^ 13 Miofibril
3 Fibrosit di endomisium
14 Endomisium
4 Sarkolema
5 Sarkoplasma 15 lnti serat otol

6Strial TStriaA 8LineaM9LineaZ lOSarkomer

GAMBAR 6.5 Serat otot rangka (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Potongan
plastik. Pembesaran kuat.
GAMBAR 6.6 ffi LJltrastruktur fu4infibrii daiam fitat Ranaka
Mikrograf elektron memperlihatkan susunan miofibril dalam otot rangka yang sebagian berkontraksi.
Setiap miofibril terdiri dari unit berulang yang disebut sarkomer, elemen kontraktil otot rangka. Sarko-

-er (9) terletak di antara dua linea Z (8) padat-elektron. Di setiap sarkomer (9) terdapat miofilamen
aktin yang tipis dan miosin yang tebal. Filamen aktin tipis memanjang dari linea Z (8) dan membentuk
stria I (2) terpulas-terang. Di bagian tengah setiap sarkomer (9) terdapat striaA (5) terpulas-gelap, yang
terutama terdiri dari filamen miosin tebal yang bertumpang-tindih dengan filamen aktin tipis. Setiap stria
A (5) dibagi menjadi dua oleh stria M (7) yang lebih padat tempat filamen-filamen miosin berkaitan. Di
masing-masing sisi stria M (7) terdapat stria H (+, 6) leblh terang yang hanya terdiri dari filamen miosin.
Setiap sarkomer dikelilingi oleh tubulus retikulum sarkoplasma (reticulum sarcoplasmicum) (S)
dan mitokondria ( f ). Sewaktu kontraksi otot, panjang filamen tebal dan tipis tidak berubah, sementara
ukuran setiap sarkomer (9) berkurang (lihat Gambar 6.7).

GAMBAR 6.7 ffi tlltrastri"rktur $ar[<*mer, Tubulu* T, dan Triad clalanr #tot Rangka
Mikrograf elektron dengan pembesaran lebih kuat memperlihatkan sarkomer pada otot rangka yang
berkontraksi. Perhatikan bahwa sewaktu otot berkontrasi dan sarkomer memendek, lineaZ (2, 6) sallng
mendekat dan filamen tebal dan tipis bergeser saling melewati. Gerakan ini mempersempit stria I (7)
dan stria H (S), sedangkan stria A (t) tldak berubah. Di tengah sarkomer juga terlihat stria M (4)
terpulas-gelap. Tubulus retikulum sarkoplasma mengelilingi setiap sarkomer dari setiap miofibril (lihat
Gambar 6.6).Di pertautan antara stria A (1) dan stria I (7) (taut A-I), tubulus retikulum sarkoplasma
meluas ke dalam sisterna terminalis (cisterna terminalis). Agar stimulasi dan kontraksi sarkomer sinkron,
setiap miofibril ditembus oleh invaginasi sarkolema tubularis halus yang disebut tubulus t (a). tubulus
ini terletak di taut A-I (1,7). Di sini, satu tubulus T (3) dikelilingi oleh sisterna terminalis retikulum
sarkoplasma dan membentuk triad (trias) (S). lada otot rangka mamalia, triad (5) terletak di taut A-I.
Rangsangan untuk kontraksi otot kemudian menyebar ke setiap sarkomer melalui tubulus T (:) di triad
(s)

Sebelum rangsangan saraf sampai di otot, otot mengalami relaksasi dan ion kalsium disimpan
dalam sisterna retikulum sarkoplasma. Setelah rangsangan saraf tiba dan pelepasan neurotransmiter
di junctio neuromuscularis, sarkolema mengalami depolarisasi atau altivasi. Sinyal rangsangan
atau potensial aksi menjalar di sepanjang sarkolema dan ditransmisikan jauh ke dalam ke setiap
serat otot oleh jaringan tubulus T. Di setiap triad (trias), potensial aksi disalurkan dari tubulus T ke
membran retikulum sarkoplasma. Setelah stimulasi, sisterna retikulum sarkoplasma membebaskan
ion kalsium ke dalam masing-masing sarkomer dan miofilamen tipis dan tebal yang saling
bertumpang-tindih. lon kalsium mengaktifkan pengikatan antara aktin dan miosin menyebabkan
keduanya bergeser melewati satu sama lain dan kontraksi otot. J ika rangsangan hilang dan membran
tidak lagi terangsang, ion kalsium dikembalikan secara aktif dan disimpan dalam sisterna retikulum
sarkoplasma, menyebabkan otot relaksasi.
5 Stria A
.
6 Stria H

1 Mitokondria

7 Stria M

2 Stria I

B Linea Z

W :,tu;ti!ffi
4 Stria H
ti

GAMBAR 6.6 Ultrastruktur miofibril dalam otot rangka. 33.500 x. Gambar disajikan oleh Carter
Rowley, Fort Collins, CO.

5 Triad

1 Stria A

6 Linea Z

7 Stria I

B Stria H

GAMBAR 6.7 Ultrastruktur sarkomer, tubulus T, dan triad dalam otot rangka. 50.000 x. Gambar
disajikan oleh Carter Rowley, Fort Collins, CO.
GAMBAR 6.8 m Potongan Longitudinal dan Transversal Otot jantung
Serat otot jantung memiliki beberapa ciri yang terlihat pada serat otot rangka. Gambar ini memperli-
hatkan otot iantung yang terpotong memanjang (bagian atas) dan melintang (bagian bawah). Cross-
striation (Z) pada serat otot jantung sangat mirip dengan yang terlihat pada otot rangka. Meskipun
begitu, serat otot jantung memperlihatkan percabangan (5, lO) tanpa banyak perubahan pada diame-
ternya. Serat otot jantung juga lebih pendek daripada serat otot rangka dan memiliki satu nukleus (3, 7)
yang terletak di tengah. Serat otot binukleus (berinti dua) (S) juga dapat terlihat. Letak intinya (7)
yang di tengah jelas terlihat pada serat yang terpotong melintang. Di sekitar inti (3, 7, 8) terdapat daerah
jernih yaitu sarcoplasma perinucleare (f, f a) nonfibrillare. Pada potongan melintang, sarcoplasma
perinucleare ( f f ) tampak sebagai rongga kosong jika irisan tidak melalui inti. Pada potongan melintang
juga terlihat miofibril (f +) sel otot jantung.
Salah satu ciri khas untuk membedakan serat otot jantung adalah diskus interkalaris (+, g). Struk-
tur terpulas-gelap ini ditemukan pada interval tidak teratur di otot jantung dan merupakan kompleks
taut khusus antara serat-serat otot jantung.
Otot jantung memiliki suplai darah yang sangat banyak. Banyak pembuluh darah kecil dan kapiler
(6) ditemukan di sekat iaringan ikat (f t) dan endomisium (f Z) di antara masing-masing serat otot.
Contoh lain otot jantung dapat dilihat di Bab 8, Sistem Sirkulasi.

GAMBAR 6.9 ffi Otot Jantung {Potongan Longitudinal)


Fotomikrograf dengan pembesaran-kuat menggambarkan otot jantung yang terpotong memanjang.
Serat otot iantung (2) memiliki cross-striation (4), percabangan (a), dan inti (5) tunggal di tengah.
Diskus interkalaris (l) terpulas-gelap menghubungkan setiap serat otot jantung (Z). Oi dalam setiap
serat otot jantung terlihat miofibril (6) halus. Serat iaringan ikat (7) halus mengelilingi masing-masing
serat otot jantung.
1 Sarcoplasma 8 Serat
perinucleare binukleus

2 Seran-lintang 9 Diskus
(Cross interkalaris

3 Nukleus sentral
10 Seratjantung
bercabang

4 Diskus
interkalaris
#
,.jJ o.
11 Jaringan
ikat

5 Seratjantung :_11{
bercabang 12 Endomisium

6 Kapiler '13 Sarcoplasma


perinukleare

Z Nukleus
sentral 14 Miofibril

GAMBAR 6.8 Potongan longitudinal dan transversal otot jantung. Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran kuat.

1 Diskus Seran-lintang
rnterkalaris ( Cross-sfrlafion)

2 Serat otot
jantung lnti

Miofibril

Serat otot
jantung
bercabang

&;,6*

GAMBAR 6.9 Otot jantung (potongan longitudinal). Pulasan: Trikrom Masson. 130 x
GAMBAR 6.10 ffi fitCIt Jantung dalam Fotcngan L*ngitudinal
Perbandingan otot jantung dan otot rangka pada pembesaran lebih kuat dan pewarnaan yang sama
(Gambar 6.5) memperlihatkan kesamaan dan perbedaan kedua jenis jaringan otot.
Cross-striation (t) serupa baik di otot rangka maupun otot jantung tetapi kurang menonjol di serat
otot jantung. Serat otot iantung (9) ya"g bercabang jelas berbeda dari serat otot rangka yang tidak
bercabang dan memanjang. Adanya diskus interkalaris (5, 7) di serat otot jantung dan strukturnyayang
tidak teratur tampak lebih jelas pada pembesaran yang lebih kuat. Diskus interkalaris (5, Z) tampak
sebagai pita lurus (5) atau terputus-putus memotong setiap serat.
Inti (3)
besar lonjong, biasanya satu dalam satu sel, terletak di bagian tengah serat otot jantung,
berbeda dengan inti serat otot rangka yang gepeng dan terletak di tepi. Inti serat otot jantung dikelilingi
oleh sarcoplasma perinucleare (2, tO) yang menyolok dan tidak memperlihatkan cross-striation dan
miofibril.
Fibrosit (6, 8) laringan ikat dan serat jaringan ikat endomisium (4) yang halus mengelilingi serat
otot jantung. Dalam keadaan normal terdapat kapiler yang mengandung eritrosit ( I I ) di endomisium
(4, 6,8).

Meskipun susunan protein kontraktil di serat otot jantung (cardiomyofibra) dan sarkomer pada
dasarnya sama dengan yang terdapat di otot rangka, namun terdapat perbedaan yang penting.
Tubulus T terletak di linea Z, lebih besar daripada di otot rangka, dan retikulum saikoplasma
kurang berkembang. Mitokondria di sel jantung lebih banyak, yang mencerminkan tingginya
kebutuhan metabolik serat otot jantung untuk aktivitas yang berkelanjutan.
Sel-sel jantung dihubungkan ujung-ke-ujung oleh kompleks taut interdigitasi khusus yang
disebut diskus interkalaris (discus intercalaris). Selain fasia adheren (fascia adhaerens) dan
desmosom (desmosoma), diskus ini mengandung nexus yang secara fungsional menggabungkan
semua serat otot jantung sehingga memungkinkan penyebaran cepat stimulus untuk kontraksl otot
jantung. Hantaran impuls eksitatorik ke sarkomer jantung berlangsung melalui tubulus T dan
retikulum sarkoplasma. Difusi ion-ion melalui pori di nexus antara serat-serat otot jantung
mengoordinasikan fungsi jantung dan otot jantung yang bekerla sebagai sinsitium funlsional
memungkinkan rangsangan untuk kontraksi melalui seluruh otot jantung.
Serat otot jantung memperlihatkan otoritmisitas, suatu kemampuan untuk menghasilkan
impuls secara spontan. Jantung dipersarafi baik oleh divisi parasimpatis maupun simpatis sistem
saraf otonom. Serat saraf dari divisi parasimpatis, melalui saraf vagus, memperlambat denyut
jantung dan menurunkan tekanan darah. Serat saraf dari divisi simpatis meninrbulkan efek yang
berlawanan dan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
lnformasi tambahan tentdng histologi jantung, pemacu jantung, serat Purkinje, dan hormon
jantung disajikan secara lebih rinci di Bab 8. Sistem Sirkulasi.
$n$$Ms
7 Diskus interkalaris
1 Seran-lintang
(Cross-sfrlaflon)
2 Sarcoplasma
perinucleare
8 Fibrosit di endomisium

3 Nukleus sentralis
1&1 u"*
4 Endomisium 9 Serat otot jantung
bercabang

5 Diskus interkalaris
10 Sarcoplasma
perinucleare
6 Fibrosit di endomisium
11 Eritrosit dalam
kapiler

GAMBAR 6.10 Otot jantung dalam potongan longitudinal. Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran kuat.
GAMBAR 6.11 tr ilotnngan Lnngrtudinal dan Transversal fttnt Fok:s: ilinding LjsLrs
Halus
Di bagian otot usus halus, serat otot polos tersusun dalam dua lapisan konsentrik: lapisan sirkularis da-
lam dan lapisan longitudinal luar. Di sini, serat-serat otot sangat rapat dan serat-serat otot dari satu lapisan
tersusun tegak lurus terhadap serat dari lapisan yang berdekatan.
Di bagian atas gambar terlihat serat otot polos di lapisan sirkularis dalam yang terpotong meman-
jang. Serat otot polos (f ) adalah sel bentuk-kumparan dengan kedua ujung meruncing. Sitoplasma
(sarkoplasma) setiap otot terpulas gelap, dengan inti (7) lonjong atau memanjang di bagian tengah serat
otot.
Bagian bawah gambar memperlihatkan otot di lapisan longitudinal yang terpotong melintang.
I(arena sel bentuk-kumparan terpotong dalam berbagai bidang irisan sepanjang seratnya, sel-sel itu
memperlihatkan berbagai ukuran dan bentuk. Inti (5) besar hanya tampak pada serat otot polos (5)
yang terpotong di tengah. Serat otot yang tidak terpotong di tengah hanya tampak daerah sitoplasma
(sarkoplasma) (3, yang bawah; 9, yang bawah) jernih yang berwarna gelap atau sebagian inti sel.
Di usus halus, lapisan-lapisan otot polos terletakberdekatan dan hanya dipisahkan oleh sedikit serat
jaringan ikat dan fibroblas (2, 4, 8, l0) yang terdapat di antara kedua lapisan. Otot polos juga
mengandung banyak kapiler (6, t t ) di antara serat dan lapisan ototnya.

GAMBAR 6.12 Hi *tct Fclo*t: Einrding {Jsr:* L**i,;s {Fn?*ng*n"!"ran*qversal dan


L*nGitudinal)
Fotomikrograf usus halus memperlihatkan dinding muskular luarnya. Serat-serat otot polos tersusun
dalam dua lapisan, lapisan sirkularis dalam (Z) da" lapisan longitudinal luar (S). Pada lapisan
sirkularis dalam (7) tampak sebuah inti (1) di bagian tengah sitoplasma (Z). lada lapisan longitudinal
luar (8), terpotong melintang, sitoplasma (5) tampak kosong dan sebuah inti (6) serat otot hanya
terlihat jika bidang irisan melaluinya. Di antara kedua lapisan otot polos usus halus terdapat sekelompok
neuron otonom pleksus saraf mienterikus (3). Tampak pembuluh darah (4) kecil di antara serat-
serat otot dan lapisan otot.

Di otot polos (textus muscularis levis), miofilamen aktin dan miosin tidak memperlihatkan susunan
teratur seperti dijumpai di textus muscularis striatus. Miofilamentum intermeclium, aktin dan
miosin, membentuk suatu anyaman kisi-kisi di sarkoplasma. Filamentum intermedium yang tipis
menyisip ke dalam vinculum sarcoplasmicum (dense bodyl di sarkoplasma yang sepadan dengan
linea Z textus muscularis striatus. Sebagai respons terhadap rangsangan, terjadi peningkatan
kalsium yang menyebabkan kontraksi otot polos. Filamentum intermedium dan aktin menyisip ke
dalam vinculum sarcoplasmicum. Baik aktin maupun miosin berkontraksi melalui mekanisme
pergeseran filamen yangtimbul serupa pada otot rangka. Ketika kompleks aktin-miosin berkontraksi,
perlekatan filamen pada vinculum sarcoplasmicum menyebabkan sel memendek.
Otot polos biasanya menampakkan aktivitas spontan bergelombang berupa kontraksi lambat
terus-menerus di seluruh otot. Dengan cara ini, otot polos menghasilkan kontraksi kontinu dengan
kekuatan rendah dan mempertahankan tonus di struktur berongga. Di ureter, tuba uterina, dan
organ pencernaan, kontraksi otot polos menimbulkan kontraksi peristaltik, yang mendorong isi di
sepanjang organ ini. Di arteri dan pembuluh darah lainnya, otot polos mengatur diameter lumen.
Otot polos juga saling berkontak melalui nexus khusus. Nexus ini memungkinkan komunikasi
ionik yang cepat di antara serat otot polos sehingga terjadi aktivitas terkoordinasi di lapisan otot
polos. Otot polos adalah otot involunter. Otot ini dipersarafi dan diatur oleh saraf-saraf dari neuron
pascaganglionik yang badan selnya terletak di divisi simpatis dan parasimpatis susunan saraf
otonom. Persarafan ini mempengaruhi kecepatan dan kekuatan kontraksi. Selain itu, serat otot
polos mengalami kontraksi dan relaksasi sebagai respons terhadap rangsangan nonsaraf, misalnya
peregangan atau pajanan terhadap hormon.
1 Serat otot
polos

6 Kapiler

7 Inti serat
otot polos

2 Jaringan
ikat 8 Jaringan ikat
dan
N fibroblas
3 Serat otot
polos 9 lnti dan
sitoplasma
serat otot
4 Fibroblas polos

10 Jaringan
5 lnti serat
ikat
otot polos
11 Kaniler
ffi
GAMBAR 6.11 Potongan longitudinal dan transversal otot polos di dinding usus halus. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.

7 Lapisan
sirkular
2 Sitoplasma
dalam

3 Neuron
pleksus
mienterikus
4 Pembuluh
darah
l
5 Sitoplasma ! a rupi."n
I longitudinal
6 lnti uar
flr. l
,$r ii ,lx{
tt f ,ti, )
GAMBAR 6.12 Otot polos: dinding usus halus (potongan transversal dan longitudinal). Pu lasan:
hematoksilin dan eosin. 80 x.
BAB 6 Ringkasan
farlngan #tot
o Tiga ienis jaringan otot: otot rangka, otot jantung dan otot polos
o Semua otot terdiri dari sel memanjang yaitu serat
o Sitoplasma otot adalah sarkoplasma dan membran sel otot adalah sarkolema
o Serat otot mengandung miofibril, terbentuk dari protein kontraktil aktin dan miosin

fitnt Rangka
o Serat multinukleus dengan nukleus terletak di tepi
o Filamen aktin dan miosin membentuk p ola cross-striationyangnyata
o Otot dikelilingi oleh jaringan ikat epimisium
o Fasikulus otot dikelilingi oleh jaringan ikat perimisium
. Setiap serat otot dikelilingi oleh jaringan ikat endomisium
o Otot volunter berada di bawah kontrol kesadaran
o Junctio neuromuscularis adalah tempat persarafan dan transmisi rangsangan ke otot
o Terminal akson mengandung neurotransmiter asetilkolin
o Potensial aksi menyebabkan pembebasan asetilkolin di celah sinaps
r Asetilkolin berikatan dengan reseptornya di membran otot
o Asetilkolinesterase di celah sinaps menetralkan asetilkolin dan mencegah kontraksi lebih lanjut
o Gelendong neuromuskularis adalah reseptor regang khusus di hampir semua otot rangka
o Peregangan otot menyebabkan refleks regang dan gerakan untuk memperpendek otot

fiamharan Mikreiskop f;lektrsn $tst Rangka


o Pita terang adalah stria I dan dibentuk oleh filamen tipis aktin
o Stria I dipotong oleh linea Z
o Di antara lineaZ terdapat unit kontraktil terkecil otot yaitu sarkomer
o Pita gelap adalah stria A dan terletak di bagian tengah sarkomer
o Stria A dibentuk oleh filamen aktin dan miosin yang tumpang-tindih
r Stria M di bagian tengah stria A memperlihatkan ikatan filamen-filamen miosin
o Stria H di setiap sisi stria M hanya mengandung filamen miosin
. Setiap sarkomer dikelilingi oleh retikulum sarkoplasma dan mitokondria
o Ketika otot berkontraksi, stria I dan H memendek, sementara stria A tidak berubah
r Invaginasi sarkolema ke dalam masing-masing serat otot membentuk tubulus T
o Sisterna terminalis retikulum sarkoplasma dan tubulus T membentuk triad
e Pada otot rangka mamalia, triad terletak di taut A-I
o Rangsangan untuk kontraksi otot dibawa oleh tubulus T ke setiap serat otot
o Setelah stimulasi, retikulum sarkoplasma membebaskan ion kalsium ke dalam sarkomer
r I(alsium mengaktifkan pengikatan aktin dan miosin, menyebabkan kontraksi otot
o Pada akhir kontraksi, kalsium secara aktif diangkut ke dan disimpan di dalam retikulum sarkoplasma

fftst famtung
o Terletak di jantung dan pembuluh besar yang melekat pada jantung
o Cross-striqtion aktin dan miosin membentuk stria I, stria A, dan linea Z yang serupa dengan otot rangka
o Mengandung satu atau dua nukleus di sentral; serat bercabang
o Ditandai oleh kompleks taut padat yaitu diskus interkalaris yang mengandung nexus
o Tubulus T terletak di linea Z; lebih besar daripada di otot rangka
o Retikulum sarkoplasma kurang berkembang
o Nexus menyatukan semua serat untuk kontraksi ritmik

138
a Memperlihatkan otoritmisitas dan menghasilkan rangsangan secara spontan
a Sistem saraf otonom mempersarafi jantung dan mempengaruhi kecepatan deny'ut jantung dan tekanan darah

Otnt Pnlos
o Ditemukan di organ berongga dan pembuluh darah
o Mengindung filamen aktin dan miosin tanpa pola cross-striation
o Serat berbentuk fusiformis dan mengandung satu nukleus
o Di ususr otot tersusun dalam lapisan konsentrik
o Filamen aktin dan miosin tidak memperlihatkan susunan teratur dan tidak terdapat serat-melintang
o Aktin dan miosin membentuk anyaman kisi-kisi dan menyisip ke dalam vinculum sarcoplasmicum di
sarkoplasma
o Aktin dan miosin berkontraksi dan memperpendek otot dengan mekanisme pergeseran yang mirip dengan otot
rangka
o Memperlihatkan aktivitas spontan dan mempertahankan tonus di organ berongga
o Nexus menggabungkan otot dan memungkinkan komunikasi ionik di antara semua serat
. Otot involunter diatur oleh sistem saraf otonom, hormon, dan peregangan.
Kulit kepala

Encephalon

Cranium
l-p"r" o"r;o"1ss Lr. 11

,--'lL,/R"r" meningea 4
Ruang subdural -rc
Vas sanguineum
Pia mater
Cortex cerebri
Granulatio arachnoidea
Sinus sagittalis superior
Substantia alba cerebri

Trabecula arachnoidea
Arachnoidea mater
Spatium subarachnoideum

Substantia alba
Substantia grisea
Canalis centralis
Pars Medulla spinalis
peripherica

Vas sanguineum

Arachnoidea
mater

GAMBARAN UMUM 7.1 Susunan saraf pusat. Susunan saraf pusat terdiri dari otak dan medula
spinalis. Dalam gambar diperlihatkan otak dan medula spinalis dengan lapisan-lapisan jaringan ikat
pelindung yaitu meningen (dura mater, araknoid mater, dan pia mater) .

140
|aringan Saraf
SUBBAB :1 ffi Susunan Saraf Pusat: Otak
dan Medula Spinalis
Pendahuluan
Sistem saraf mamalia dibagi menjadi dua bagian besar, susunan saraf pusat (SSP) dan susunan saraf
tepi (SSf). SSP terdiri atas otak (encephalon) dan medula spinalis. Komponen SST-saraf kranialis
dan spinalis-terletak di luar SSP.

l-apisan Pe|indung Susunan Saraf Pusat {SSP)


I(arena jaringan saraf sangat halus, tulang, jaringan ikat, dan cairan serebrospinalis mengelilingi dan
melindungi otak dan medula spinalis.Jauh di dalam tulang tengkorak (cranium) dan foramen vertebrale
terdapat meninges, suatu jaringan ikat yang terdiri dari tiga lapisan: dura mater, araknoid mater, dan pia
mater (Gambaran Umum 7.1 Susunan Saraf Pusat).
Lapisan meningeal paling luar adalah dura mater, suatu lapisan serat jaringan ikat padat yang kuat
dan tebal.Jauh di dalam dura materterdapat jaringanikatyanglebihhalus,
araknoidmater (arachnoidea
mater). Dura mater dan araknoid mater mengelilingi otak dan medula spinalis di bagian permukaan
luarnya. Lapisan meningeal paling dalam adalah jaringan ikat halus pia mater. Lapisan ini mengandung
banyak pembuluh darah (vas sanguineum) dan melekat langsung pada permukaan otak dan medula
spinalis.
Di antara araknoid mater dan pia mater terdapat spatium subarachnoideum. Araknoid mater
melekat pada pia mater melalui anyaman seperti jaring (weblike) dari serat kolagen dan elastin yang halus,
Di spatium subarachnoideum beredar cairan serebrospinalis (CSS) yang membasahi dan melindungi
otak dan medula spinalis.

Cairan Serebrospinalis
Cairan serebrospinalis (CSS) adalah cairan jernih tidakberwarna yang menjadi bantalan bagi otak dan
medula spinalis, dan menyebabkan kedua organ ini mengapung sebagai alat proteksi terhadap cedera
fisik. CSS terus menerus diproduksi oleh pleksus koroideus (plexus choroideus) di ventrikel lateral,
ketiga, dan keempat, atau rongga otak. Pleksus koroideus adalah perluasan kapiler-kapiler kecil berpori
dan melebar yang menembus bagian dalam ventrikel otak. CSS beredar melalui ventrikel dan di
permukaan luar otak dan medula spinalis dalam ruang subaraknoid (spatium subarachnoideum). CSS
juga mengisi kanalis sentralis medula spinalis.
CSS penting untuk homeostasis dan metabolisme otak. Cairan ini mengangkut nutrien untuk
memberi makan sel otak, membersihkan metabolit yang masuk ke CSS dari sel otak, dan membentuk
lingkungan kimiawi optimal bagi fungsi saraf dan hantaran impuls. Setelah beredar, CSS direabsorpsi dari

141
ruang araknoid melalui vilus araknoid (villus arachnoideus) ke dalam darah vena, terutama di sinus
sagittalis superior yang mengalirkan darah dari otak. Vilus araknoid adalah tonjolan-tonjolan halus
araknoid berdinding-tipis yang menjorok ke dalam sinus venosus di antara lapisan periosteal (pars
periostea) dan lapisan meningeal (pars meningea) dura mater.

Morfologi Neuron
Sistem saraf terdiri dari jalinan komunikasi sel-sel saraf yang sangat rumit, yang menerima dan
menghantarkan impuls di sepanjang akson atau jalur saraf ke SSP untuk dianalisis, diintegrasikan,
diterjemahkan, dan ditanggapi. Pada akhirnya, respons yang sesuai terhadap suatu rangsangan dari
neuron SSP adalah aktivasi otot (rangka, polos, jantung) atau kelenjar (endokrin atau eksokrin).
Sel struktural dan fungsional jaringan saraf adalah neuron. (Struktur umum suatu neuron dan
contoh berbagai jenis neuron disajikan di Gambaran lJmum 7.2,Bagtan 2 : Susunan Saraf Tepi). Meski-
pun memiliki bentuk dan ukuran bervariasi, namun neuron memiliki struktur umum yang sama. Setiap
neuron terdiri dari soma atau badan sel (corpus neuronis), banyak dendrit (dendritum), dan satu
akson (axon). Badan sel atau soma mengandung nukleus, nukleolus, berbagai organel, dan sitoplasma
atau perikaryon. Dari badan sel muncul tonjolan-tonjolan sitoplasma yang disebut dendrit yang
membentuk percabangan dendritik.
Neuron dikelilingi oleh sel penunjang yang lebih kecil dan lebih banyak yaitu neuroglia. Sel-sel ini
membentuk komponen nonneural dalam SSP.

lenis Neuron di SSP


Tiga kelompok utama neuron dalam sistem saraf adalah multipolar, bipolar, dan unipolar Klasifikasi
anatomiknya berdasarkan pada jumlah dendrit dan akson yang keluar dari badan sel.

Neuron multipolar (neuron multipolare).Ini adalah jenis yang paling banyak terdapat di dalam SSP dan
mencakup semua neuron motorik (motoneuron) dan interneuron otak, serebelum, dan medula
spinalis. Banyak dendrit bercabang terjulur dari badan sel neuron multipolar. Di sisi lain yang
berlawanan dari neuron terdapat satu cabang, yaitu akson.
Neuron bipolar (neuron bipolare). Sel ini lebih sedikit dan merupakan neuron sensorik (neuron
sensorium) murni. Pada neuron bipolar, terdapat satu dendrit dan satu akson yang keluar dari
badan sel. Neuron bipolar ditemukan di retina mata, organ pendengaran dan keseimbangan di telinga
dalam, dan epitel olfaktorius di bagian atas hidung (dua yang terakhir ditemukan di SST).
Neuron unipolar (neuron unipolare). Sebagian besar neuron pada dewasa memperlihatkan hanya satu
tonjolan keluar dari badan sel yang pada awalnya adalah neuron bipolar selama masa perkembangan
mudigah. Kedua tonjolan neuron kemudian menyatu dan membentuk satu tonjolan. Neuron
unipolar (dahulu disebut neuron pseudounipolar) juga bersifat sensorik. Neuron unipolar
terdapat di banyak ganglion sensorik sarafkranialis dan spinalis.

Selubung Mielin dan Mielinasi Akson


Di SSP dan SST terdapat sel-sel sangat khusus yang membungkus akson berkali-kali untuk membentuk
lapisan-lapisan membran sel modifikasi dan selubung insulasi kayalemak mengelilingi akson yang
dinamai selubung mielin (stratum myelini). Selubung berjalan dari segmen awai akson ke cabang-
cabang terminal. Di sepanjang akson bermielin terdapat banyak celah atau ruang sempit di selubung
mielin di antara sel-sel yang membungkus akson tersebut. Celah ini dinamai nodus Ranvier (nodus
interruptionis myelini). Akson di SSP dan SST dapat bermielin atau tetap tidakbermielin.
Di SSI semua akson dikelilingi oleh sel Schwann (Schwannocytus) yang memielinasi akson atau
membungkus akson tidak bermielin. Sel Schwann memielinasi akson perifer dan mengikuti seluruh
panjang akson, dari pangkalnya ke ujung di otot atau kelenjar. Setiap sel Schwann dapat membungkus
banyak akson tidak bermielin; akson tidak bermielin tidak memiliki nodus Ranvier karena sel Schwann
membentuk suatu selubung kontinu. Akson yang lebih kecil di saraf tepi (pars peripherica), misalnya
akson susunan saraf otonom (SSO), tidakbermielin dan hanya dikelilingi oleh sitoplasma sel Schwann.
Tidak terdapat sel Schwann di SSP. Akson-akson di SSP mengalami mielinasi oleh sel neuroglia
yang disebut oligodendrosit (oligodendrocytus). Oligodendrosit berbeda dari sel Schwann yaitu
bahwa juluran sitoplasma satu oligodendrosit dapat membungkus dan memielinasi banyak akson.

Substansia Alba dan Crisga


Otak dan medula spinalis mengandung substansia grisea dan substansia alba. Substansia grisea SSP
terdiri dari neuron-neuron, dendrit-dendritnya, dan sel penunjang yang disebut neuroglia. Bagian ini
mencerminkan tempat koneksi atau sinaps antara berbagai neuron dan dendrit. Substansia grisea
melapisi permukaan otak (serebrum) dan serebelum. Ukuran, bentuk, dan cara pembentukan cabang
berbagai neuron ini sangat bervariasi dan bergantung pada bagian SSP yang diteliti.
Substansia alba di SSP tidak mengandung badan sel neuron dan terutama terdiri dari akson
bermielin, sebagian akson tidak bermielin, dan oligodendrosit penunjang. Selubung mielin di sekitar
akson menimbulkan warna putih di bagian SSP ini.

Sel Penuniang dalam SSP: Neuroglia


Neuroglia adalah sel penunjang nonneural yang memiliki banyak percabangan di SSP dan mengelilingi
neuron, akson, d?rn dendrit. Sel ini tidak terangsang atau menghantarkan impuls, tetapi secara morfologis
dan fungsional berbeda dari neuron. Sel neuroglia dapat dibedakan dari ukurannya yang jauh lebih kecil
dan nukleus yang berwarna-gelap. SSP mengandung neuroglia sekitar sepuluh kali lebih banyak daripada
neuron. Empat jenis sel neuroglia adalah astrosit (astrocytus), oligodendrosit (oligodendrocytus),
mikroglia (microgliocytus), dan sel ependimat (ependymocytus).
GAMBAR 7.1 # Medula $pinalis: Daerah Mid-Torakal (Potongan Transversal)
Dalam gambar tampak potongan melintang medula spinalis bagian mid-torakal yang dipulas dengan
hematoksilin dan eosin. Meskipun pola struktur dasar tampak di seluruh medula spinalis, namun bentuk
dan struktur medula bervariasi pada setiap tingkat (servikal, torakal, lumbal, dan sakrum).
Di daerah torakal medula spinalis berbeda dari daerah servikal seperti diperlihatkan di Gambar 7.2.
Medula spinalis torakal mempunyai kornu posterior (cornu posterius) grisea (6) yang lebih tipis dan
kornu anterior (cornu anterius) grisea ( tO, ZO) yang lebih kecil dengan neuron motorik yang lebih
sedikit (f o, zo). Sebaliknya, kornu lateral (cornu laterale) grisea (s, U) berkembang baik di daerah
torakal. Daerah torakal ini mengandung neuron motorik (S, U) dari divisi simpatis susunan saraf
otonom.
Struktur lain di daerah mid-torakal medula spinalis mirip dengan yang terdapat di daerah servikal
pada Gambar 7.3. Struktur ini adalah sulcus medianus posterior ( t5), fissura mediana ant erior (22),
fasciculus gracilis (f6) dan fasciculus cuneatus (17) (terlihat di bagian tengah sampai bagian atas
torakal medula spinalis) di kolumna posterior alba (t6, l7), kolumna lateral alba (7), kanalis
sentralis (l), dan commisura grisea (18). Pada kornu posterior grisea (6) terdapat akson-akson radiks
posterior (5), sementara keluar dari kornu anterior grisea (10, 20) adalah akson (t1,, zt) radiks
anterior (11).
Di sekitar medula spinalis terdapat lapisan jaringan ikat meninges. Jaringan ikat ini adalah dura
mater (Z) di sebelah luar yang merupakan jaringan fibrosa tebal, araknoid mater (3) yaitu lapisan
tengah yang lebih tipis, dan pia mater (a) yang merupakan lapisan dalam yang tipis dan melekat erat
pada permukaan medula spinalis. Di dalam pia mater terdapat banyak pembuluh darah spinal (t, tZ)
anterior dan posterior dengan berbagai ukuran. Di antara araknoid mater dan pia mater terdapat spatium
subarachnoideum (t+). Trabekula halus berada di dalam spatium subarachnoideum (t+) menghu-
bungkan pia mater (4) dengan araknoid mater (3). Semasa hidup, spatium subarachnoideum ( 14) terlsl
oleh cairan serebrospinalis. Di antara araknoid mater (3) dan dura mater (2) terdapat ruang subdural
(f S). nada sediaan ini, ruang subdural (f a) tampak besar karena retraksi artefaktual araknoid selama
pembuatan sediaan.

GAMBAR 7.2 # Medula Spinalis: Kornu Anterior Grisea, Neuron Motarik, dan
Substansia Alba Anterior yang Berdekatan
Pada pembesaran lebih kuat potongan kecil medula spinalis memperlihatkan substansia grisea, substan-
sia alba, neuron, neuroglia, dan akson yang dipulas dengan hematoksilin dan eosin. Sel,sel pada kornu
anterior grisea di medula spinalis daerah torakal adalah neuron motorik multipolar (2,6). Sitoplasma-
nya memiliki inti (7) vesikular, nukleolus (7) yang jelas terlihat, dan gumpalan kasar material basofilik
yang disebut substansi (badan) Nissl (3). Substansi Nissl meluas ke dalam dendrit (5) namun tidak ke
dalam akson. Pada satu neuron terlihat akar suatu akson dan colliculus axonalis (axonhillock) (+),
yang tidak mengandung substansi Nissl dan merupakan ciri khas colliculus axonalis.
Sel nonneural neuroglia (S) di sinl hanya tampakberupa nukleus basofilik, berukuran lebih kecil
dibandingkan dengan neuron multipolar (2, +) yangmencolok. Neuroglia (S) menempati celah-celah di
antara neuron. Substansia alba anterior medula spinalis mengandung akson bermielin dengan berbagai
ukuran. Akibat zat kimia pada proses pembuatan sediaan, selubung mielin tampak sebagai ruang kosong
di sekitar akson (f) yang terpulas-geiap.
Di neuron (2) tertentu, bidang irisan tidak mengenai inti, dan sitoplasma tampak tanpa inti.
1 Vena spinalis posterior Ruang subdural
Spatium
2 Dura mater subarachnoideum
3 Araknoid mater
15 Sulcus medianus
4 Pia mater posterior
5 Radiks posterior 16 Fasciculus
gracilis Kolumna
6 Kornu posterior grisea posterior
7 Kolumna 17 Fasciculus alba
lateral alba cuneatus
8 Kornu lateral grisea
dengan neuron motorik 18 Commisura grisea

I Kanalis sentralis 19 Kornu lateral grisea


dengan neuron
10 Kornu anterior grisea moiorik
dengan neuron motorik 20 Kornu anterior grisea
'11 Radiks anterior
2'1 Akson radiks
anterior
12 Yena dan arteri 22 Fissura mediana anterior
spinalis anterior

GAMBAR 7.1 Medula spinalis: daerah mid-torakal (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran lemah.

Substansia grisea Substansia grisea kornu anterior

s ,. is
i)

{)
5 Dendrit
1 Akson
O,' -".' .lp
6 Neuron motorik
multipolar
multipolar (bidang irisan (,
tidak mengenai inti) 7 Nukleus dan nukleolus
neuron multipolar

3 Substansi Nissl 8 Neuroglia


4 Akson dan s r:ru.i -i
colliculus axonalis i:f.,li l{$ lr'','.
(axon hillock) i$ :$ i,: :1.':1| "il
'r't ti-i $ i.;'r''.u r

GAMBAR 7.2 Medula spinalis: kornu anterior grisea, neuron motorik, dan substansia alba yang
berdekatan. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 7.3 ffi Medula Spinalis: Daerah Mid-servikal {Potongan Transversal)
Untuk memperlihatkan substansia alba dan grisea medula spinalis, potongan melintang medula dipulas
dengan teknik impregnasi perak. Setelah dipulas, tampak jelas substansia alba (3) yang berwarna coklat
tua dan substansia grisea (+, t+) yang berwarna-terang. Substansia alba (3) terutama terdiri atas akson
atau serabut saraf bermielin asendens dan desendens. Sebaliknya, substansia grisea mengandung badan
sel neuron dan interneuron. Substansia grisea memperlihatkan bentuk H simetris, dengan kedua sisinya
dihubungkan tepat di tengah medula oleh commisura grisea (rS). Bagian tengah commisura grisea
terdapat kanalis sentralis (f 6) medula spinalis.
Kornu anterior (6) substansia grisea meluas ke depan medula dan lebih menonjol daripada kornu
posterior (Z' tl). Kornu anterior mengandung badan sel neuron motorik (Z , tZ) yang besar. Sebagian
akson (S, ZO) dari neuron motorik kornu anterior melintasi substansia alba dan keluar dari medula
spinalis sebagai komponen radiks anterior (0, Zt) saraf tepi. Kornu posterior (2, tZ) adalah daerah
sensorik dan mengandung badan-badan sel neuron yang lebih kecil.
Medula spinalis dikelilingi jaringan ikat meninges, yang terdiri atas dura mater di sebelah luar,
araknoid mater (S) di tengah, dan pia mater (tS) ai sebelah dalam. Medula spinalis dibagi menjadi
belahan kiri dan kanan oleh sebuah alur posterior (dorsal) yang sempit, yaitu sulcus medianus poste-
rior (tO), dan sebuah celah yang dalam di anterior, yaitu fissura mediana anterior (f e). laaa gambar
ini, pia mater ( I 8) terlihat paling jelas di fissura mediana anterior ( 19).
Di antara sulcus medianus posterior (10) dan kornu posterior (2, 13) substansia grisea terdapat
kolumna posterior substansia alba yang jelas terlihat. Di daerah servikal medula spinalis, setiap kolumna
dorsaiis dibagi dua menjadi dua fasikulus, kolumna posteromedial, fasciculus gracilis ( f f ) dan kolum-
na posterolateralis, fasciculus cuneatus (t, tZ).
10 Sulcus medianus
posterior

Fasciculus
1 Fasciculus
gracilis

12 Fasciculus
cuneatus
Kornu posterior
13 Kornu posterior

14 Substansia
3 Substansia alba grisea

4 Substansia grisea

5 Araknoid
15 Commisura
grisea
16 Kanalis
sentralrs
17 Neuron motorik
6 Kornu anterior

'18 Pia mater


7 Neuron motorik
'19 Fissura mediana
anterior
8 Akson neuron
motorik yang membentuk 20 Akson yang
radiks anterior membentuk
radiks anterior

9 Radiks anterior 21 Radiks anterior

GAMBAR 7.3 Medula Spinalis: mid-servikal (potongan transversal). Pulasan: impregnasi perak
(cara Cajal). Pembesaran lemah.
GAMBAR 7.4 w lV'ledula $pinaii*: Kcrnu Ai:teri*r Gri**a, Neuncn ftdnt*rik, cian
$ubstansia Alba AnteriCIr yang ffierdekatan
Dalam gambar tampak potongan kecil substansia alba dan grisea kornu anterior medula spinalis dengan
pembesaran lebih kuat. Substansia grisea kornu anterior mengandung neuron motorik multipolar (2,
3) besar. Neuron ini ditandai oleh banyaknya dendrit (S, O) ya.tg terjulur ke berbagai arah dari peri-
karyon (badan sel). Pada potongan neuron tertentu, tampak inti (S) dengan nukleolus (s) yang
mencolok. Pada neuron lain, bidang irisan tidak melalui inti dan perikaryonnya tampak kosong (Z). Dr
sekitar neuron motorik, terdapat sel-sel penunjang yang kecil, terpulas-terang, yaitu neuroglia (Z).
Substansia alba mengandung kelompok akson bermielin yang tersusun rapat. Pada potongan
melintang, akson (r) tampak berwarna-gelap dan dikelilingi oleh ruang kosong, yang merupakan sisa
selubung mielin. Akson substansia alba memperlihatkan traktus asendens dan desendens medula spina-
lis. Sebaliknya, akson (4) neuron motorik kornu anterior bergabung dalam kelompok, melintasi sub-
stansia alba dan keluar dari medula spinalis sebagai serat radiks anterior (ventral) (lihat Gambar 7.3).

Secara fungsional, neuron digolongkan sebagai aferen (sensorik), eferen (motorik), atau inter-
neuron. Neuron sensorik atau aferen (neuron afferens) menghantarkan impuls dari reseptor di
organ dalam atau dari lingkungan eksternal ke ssP. Neuron motorik atau eferen (neuron efferens)
meneruskan impuls dari SSP ke otot atau kelenjar efektor di perifer. lnterneuron membentuk
sebagian besar neuron di SSP. Neuron ini berfungsi sebagai perantara atau integrator impuls saraf
dan menghubungkan berbagai sirkuit saraf antara neuron sensorik, neuron motorik, dan interneuron
lain di dalam SSP.
Neuron memiliki fungsi khusus yang berkaitan dengan iritabilitas, konduktivitas, dan sintesis
bahan-bahan neuroaktif seperti neurotransmiter dan neurohormon. Setelah stimulus mekanik
atau kimiawi, neuron-neuron bereaksi (iritabilitas) terhadap stimulus dan menghantarkan
(konduktivitas) informasi melalui akson ke neuron lainnya. Rangsangan yang kuat me"nghasilkan
gelombang eksitasi, atau impuls saraf (potensial aksi), yang kemudian merambat di sepanjang
akson (serat sarafl.
Akson timbul dari bagian berbentuk-corong di badan sel (soma) yang disebut colliculus
axonalis (axon hillock). Sigmen awal akson terletak diantar ."rri."rrr u'-;;il;;;;o;;
mielinasi bermula. Di.segmen awal inilah berbagai rangsangan, baik yang bersifat inhibitorik
maupun stimulatorik, digabungkan dan rangsangan saraf terbentuk. Kecepatan hantaran rangsang-
an bergantung pada ukuran akson dan mielinasi. Akson berrnielin menghantarkan impuls dengan
kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada akson tidak bermielin dengan ukuran sama. SeLin
menghantarkan impuls, akson juga mengangkut bahan kimia atau neurotransmiter. Bahan ini
mula-mula disintesis di badan sel dan diangkut di tubulus-tubulus kecil yaitu mikrotubulus ke
bagian tempat akson berakhir atau bersinaps dengan dendrit lain, badan sel, atau akson lain.
Selama rangsdngan saraf, terjadi pelepasan neurotransmiter.
Permukaan dendrit dilapisi oleh.gemmula dendritica (dendritic spine) yang berhubungan
(bersinaps) dengan terminal akson dari neuron lainnya. Membran permukaan soma dan dendrit
memiliki sifat khusus untuk menerima dan mengintegrasikan informasi dari dendrit lain, akson,
atau neuron. Akson, pada gilirannya, menghantarkan informasi yang diterima menjauhi neuron
menuju ke interneuron, neuron lain, atau organ efektor misalnya otoiatau kelenlar.
Substansia alba Substansia grisea kornu anterior

5 Dendrit

1 Akson
2 Neuron motorik
multipolar (bidang 6 Dendrit
irisan tidak
mengenai 7 Neuroglia
nukleus)

3 Neuron motorik ' .#bq**


multipolar

4 Akson neuron
motorik memasuki
@ 8 Nukleus dan nukleolus
sel kornu anterior

substansia alba

GAMBAR 7.4 Medula spinalis: kornu anterior grisea, neuron motorik, dan substansia alba anterior yang
berdekatan. Pulasan: impregnasi perak (cara Cajal). Pembesaran sedang.
GAMBAR 7.5 ffi Neuron Motorik: Kornu Anterior Medula Spinalis
Neuron motorik (Z) multipolar besar SSP memiliki inti (f f ) besar di tengah, sebuah nukleolus (tZ)
yang jelas, dan sejumlah cabang sel, yaitu dendrit (f O, f f ). Satu akson (S, f +) tipis muncul dari ruang
kosong bentuk-kerucut di neuron; inilah colliculus axonalis (6, f S). Akson (S, t+) yang meninggalkan
neuron motorik (7) lebih tipis dan jauh lebih panjang daripada dendrit (tO, te ) yang lebih tebal namun
lebih pendek.
Sitoplasma atau perikaryon neuron memiliki barryak gumpalan granula kasar (massa basofilik).
Gumpalan ini adalah badan Nissl (substantia chromatophilica) (+, S), dan merupakan retikulum
endoplasma kasar neuron. Bila bidang irisan tidak melalui inti (4) maka hanya tampak badan Nissl yang
terpulas-gelap di dalam perikaryon neuron. Badan Nissl (4, 8) meluas ke dalam dendrit (tO, tO) namun
tidakmasukkedalamcolliculusaxonalis (6,8) ataukedalamakson (S, t+). Ciriinimembedakanakson
(S, t+) dari dendrit ( 10, 16).Inti neuron ( 11) tampakjelas danterpulas terangkarena sebarankromatinnya
merata. Sebaliknya, nukleolus (t.Z) tampakterpulas gelap, padat, dan jelas. Inti neuroglia (Z,g) terpulas
secara jelas, sedangkan sitoplasmanya yang kecil tidak terwarnai. Neuroglia (2,9) adalahsel nonneural di
susunan sarafpusat; sel ini adalah penyokong struktural dan metabolik bagi neuron (7).
Di sekeliling neuron (Z) dan neuroglia (2,9) terdapat banyak pembuluh darah (1, 3, 15) dalam
berbagai ukuran.

GAMBAR 7.6 # Neurofibril dan Neuron Motorik di Substansia Grisea Kornu Anterior
Medula Spinalis
Bagian kornu anterior medula spinalis diwarnai dengan impregnasi perak (metode Cajal) untuk
memperlihatkan distribusi neurofibril (neurofibrilla) di substansia grisea dan neuron motorik.
Neurofibril (2, +) halus tersebar di seluruh sitoplasma (perikaryon) (+) dan dendrit (2, 9) neuron
motorik (t, tO, rr).
Karena teknik impregnasi perak, akson dan detail neuron motorik yang lain tidak terlihat. Inti
neuron motorik (t, f t) tampakberwarna kuning dengan nukleoli (S, fO) berwarna gelap. Tidak
semua neuron motorik terpotong melalui bagian tengahnya. Karena itu, sebagian neuron motorik hanya
memperlihatkan nukleus (r) tanpa nukleolus, sementara yang lain hanya memperlihatkan sitoplasma
perifer (S) tanpa nukleus.
Di substansia grisea (a) Fga terdapat banyak neurofibril. Sebagian dari neurofibril (3) ini berasal
dari akson neuron kornu anterior (t, ft) atau neuroglia (Z) yangberdekatan, dengan nukleusnya (7)
dijumpai di seluruh substansia grisea (3) (lihat ;uga Gambar 7 .7).
Ruang kosong di sekitar neuron dan prosesusnya adalah artefakyang disebabkan oleh proses kimiawi
dalam pembuatan sediaan jaringan saraf.
1 Arteriol I lnti neuroglia
2 lnti neuroglia
10 Dendrit

3 Kapiler 11 Nukleus
12 Nukleolus
4 Badan Nissl 13 Colliculus axonalis

14 Akson
5 Akson
* ...1.'. .'L
t:;'jl.ri"
6 Colliculu s axonalis 15 Venula

7 Neuron motorik

8 Badan Nissl '16 Dendrit

GAMBAR 7.5 Neuron motorik: kornu anterior medula spinalis. atoksilin dan eosin.
Pembesaran kuat.

. {E0 7 lnti neuroglia


l{/ a

: r:q

rffi
F4,. ,:'l N,'

1 Nukleus neuron motorik v);


,i
2 Neurofibril di dendrit
t*iffi
vh'r*p'" .{

3 Substansia grisea

4 Neurofibril di sitoplasma
ffiffi
5 Nukleolus
9 Dendrit
: l ti-l'

10 Nukleolus neuron motorik

.r^:|4.) 11 Nukleus neuron motorik


*t.1r

GAMBAR 7.6 Neurofibril dan neuron motorik di substansia grisea kornu anterior medula spinalis.
Pulasan: impregnasi perak (metode Cajal). Pembesaran kuat.
GAMBAR 7.7 ffi Kornu Anterior Grisea Medula Spinalis: Neuron h/otorik Multipolar,
Akson, dan Sel lrleuroglia
Fotomikrograf pembedaran-sedang kornu anterior medula spinalis diwarnai dengan pulasan perak untuk
memperlihatkan morfologi neuron dan akson susunan saraf pusat. Neuron motorik (l) multipolar
besar memiliki banyak dendrit (+). Setiap neuron motorik (1) mengandung inti (5) yang jelas terlihat
dan sebuah nukleolus (6) yang mencolok. Di dalam sitoplasma neuron motorik terdapat sitoskeletory
yang terdiri dari banyak neurofibril (3) yang berjalan di seluruh badan sel dan meluas ke dalam dendrit
(+) dan akson (S). Banyak akson dalam berbagai ukuran (S) dari sel saraf lain melintasi neuron motorik
di dalammedula spinalis. Di sekitarneuronmotorikterdapatbanyakinti selneuroglia (2) dan pembuluh
darah (7) dengan sel darah.
Serupa dengan Gambar 7.6, ruang kosong di sekitar neuron dan prosesusnya adalah artefak yang
disebabkan oleh penciutan jaringan selama pembuatan sediaan medula spinalis.

GAMBAR 7.8 ffi Kartsks Serebri; $ubstansia Grisea


Berbagai jenis sel yang membentuk substansia grisea korteks serebri tersebar di enam lamina, dengan satu
atau lebih jenis sel mendominasi di masing-masing lamina. Meskipun terdapat variasi susunan sel di
bagian korteks serebri yang berbeda, namun lamina tersebut dapat dikenali secara jelas. Akson horizontal
dan radial berkaitan dengan sel neuronal di berbagai lamina menyebabkan korteks serebri tampak
berlapisJapis. Berbagai lamina tersebut dinamai dengan angka Romawi di sisi kanan gambar.
Yang paling superfisial adalah lamina molecularis (I). Lamina.molecularis (I) dilapisi oleh jaringan
ikat otak yang halus, pia mater ( I ) . Bagian tepi lamina molecularis (I) terutama terdiri dari sel neuroglia
(Z) dan sel horizontal Cajal. Akson-aksonnya membentuk serat horizontal yang tampak di lamina
molecularis (I).
Lamina granularis externa (II) terutama mengandungberbagai jenis sel neuroglia dan sel piramid
kecil (neuron pyramidale parvum) (3). Perhatikan bahwa sel piramid semakin membesar di lapisan
korteks yang lebih dalam. Dendrit apikal sel piramid (4,7) mengarah ke bagian tepi korteks sedangkan
aksonnya berasal dari basal sel [lihat Gambar 7.9 (4,10) bawah]. Di lamina pyramidalis externa (III),
sel piramid ukuran-sedang (5) mendominasi. Lamina granularis interna (IV) adalah suatu lapisan
tipis yang mengandung banyak sel granular (neuron granulare) (6) kecil, beberapa sel piramid, dan
berbagai neuroglia yang membentuk hubungan yang kompleks dengan sel piramid. Lamina p;'ramidalis
interna (V) mengandung banyak sel neuroglia dan sel piramid (s) terbesar, terutama di daerah motorik
korteks serebri. Lamina terdalam adalah lamina multiformis (VI). Lamina ini berdekatan dengan
substansia alba (f ) korteks serebri. Lamina multiformis (VI) mengandung campuran sel dalam ber-
bagai bentuk dan ukuran, misalnya sel fusiform (neuron fusiforme), sel granula, sel stelata (neuron
stellatum), dan sel Martinotti. Berkas akson (9) masuk dan keluar substansia alba ( tO).
..- .4 '1.^ 'r -
i..!
+ iri i\'t''i
Neuron motorik r.l"rd\ r: ', r: ,. :
5 Nukleus

6 Nukleolus

2 lnti sel
neuroglia
7 Pembuluh darah
3 Neurofibril

4 Dendrit B Akson

ttr;tl''{
{fi ri

ft*:

GAMBAR 7.7 Kornu anterior grisea medula spinalis: neuron multipolar, akson, dan sel neuroglia.
Pulasan: impregnasi perak (metode cajal). 80 x.

1 Pia mater dengan


pembuluh darah

2 Sel neuroglia

3 Sel piramid kecil

4 Dendrit apikal sel


piramid

5 Sel piramid ukuran-sedang

hltg. q,

6 Sel granula

7 Dendrit sel piramid

V Lamina piramidalis interna


8 Sel piramid besar -

9 Berkas akson
ffiw
.-.:.t:.|\il
-
Vl Lamina multiformis

+s.a -i*+,
!{":
..:.l]\:i
tr:. l!
10 Substansia alba l.-",art idl$+
"i "tt!{i t! 'St'ii{l
GAMBAR 7.8 Korteks serebri: substansia grisea.
Pembesaran lemah.
GAMBAR 7,9 ffi Lamina V Korteks $erebri.
Pembesaranyanglebihkuat dari laminaVkoit"k, ser"bri memperlihatkan selpiramid (3) besar (neuron
pyramidale magnum). Perhatikan nukleus (3) vesikular besar khas dengan nukleolus (3) yang jelas.
Pulasan perak juga memperlihatkan banyak neurofibril (9) di sel piramid (3). Tonjolan sel yang paling
mencolok adalah dendrit apikal (f , Z) sel piramid (3), yang mengarah ke permukaan korteks. ekson
. (+,10) sel piramid (3) berasal dari basal badan sel dan masuk ke dalam substansia alba
[lihat Gambar 7.8
(t0) atasl.
Daerah interselular ditempati oleh sel neuroglia (2, S) & korteks, astrosit kecil, dan pembuluh
darah, venula (5) dan kapiler (6).

GAMBAR 7.10 $erebelum (Potongan Transversal)


Korteks serebeli (cortex cerebelli) ( f , l0) memperlihatkan banyak lipatan berkelok yang dalam yaitu
folia serebeli (6) (tunggal, folium) yang dipisahkan oleh sulci (9). Folia serebeli (6) dilapisi oleh
jaringan ikat tipis, pia mater (Z), yang mengikuti permukaan setiap folium (6) ke dalam zulci (9).
Terlepasnya pia mater (7) dankorteks serebeli (t, to) adalah suatu artefak akibat fiksasi dan persiapan
jaringan.
Serebelum ( t, t O) terdiri dari korteks atau substansia grisea ( r, r o) di bagian luar dan substansia
alba (5, 8) di bagian dalam. Di korteks serebeli (t, tO) dapat dikenali tiga lapisan secara jelas: stratum
moleculare (2) di sebelah luar dengan badan sel sarafyang relatif lebih sedikit dan kecil serta banyak
serat yang berjalan sejajar dengan panjang folium; stratum Purkiniense (3) d tengah atau sentral; dan
stratum granulosum (4) di sebelah dalam dengan banyak neuron kecil yang menunjukkan nukleus yang
terwarnai secara kuat. Sel Purkinje (neuron Purkijense) (3) memiliki bentuk piriform atau piramid
dengan dendrit bercabang-cabang yang masuk ke dalam stratum moleculare (2).
Substansia alba (5, 8) membentuk bagian tengah dari setiap folium (6) dan terdiri dari akson atau
serat sarafbermielin. Akson sarafadalah serat aferen dan eferen korteks serebeli.
6 Kapiler

7 Dendrit apikal
sel piramidal
2 Sel neuroglia

3 Sel piramidal deng- B Sel neuroglia


an nukleus dan
nukleolus

4 Akson sel piramidal

9 Neurofibril

N
llx
5 Venula :s
1 0 Akson sel
piramidal

GAMBAR 7.9 Lamina V korteks serebri. Pulasan: impregnasi perak (metode Cajal). Pembesaran kuat.

6 Folium serebeli

7 Pia mater
1 Korteks serebeli:
substansia grisea

2 Korteks serebeli:
stratum moleculare 8 Substansia alba

3 Stratum purkijense

4 Korteks serebeli:
stratum granulosum

ffi
5 Substansia alba 10 Korteks serebeli:
,.u"wry- substansia grisea

tr.l .,',",:,,19#"#i
GAMBAR 7.10 Serebelum (potongan transversal). Pulasan: impregnasi perak (metode cajal).
Pembesaran lemah.
GAMBAR 7.11 # Korteks Serebeli: Stratum Moleculare, Stratum purkijense, dan
Stratum Granulosum
Gambar ini menunjukkan potongan kecil korteks serebeli di atas substansia
alba dengan pembesaran
kuat' sel Purkinje (3) membentuk stratum purkijense (7), dengan nukleus
dan nukleolus yang
mencolok, tersusun dalam satu deretan di antara stratum moleculaie (o)
dan stratum granulosum
(+)'Badan sel Purkinje (3,7) yangbesar dan berbentuk-botol
memperlihatkan banyak dendrit (z) tebal
yang bercabang-cabang melalui stratum moleculare (6) hngga ke
permukaan serebelum. Akson tipis
(tidak tampak) meninggalkan dasar sel Purkinje, ber;aian melewati
stratum granulosum (4), mengalami
mielinasi, dan masuk ke substansia alba (S, f f
).
Stratum moleculare (6) mengandung neuron corbiforme (basket
cell) (t) yang tersebar dengan
akson tidak bermielin yang biasanya berjalan horizontal. Kolateral
dese.rdens neuron corbiforme (l)
yang terletak lebih dalam membentuk percabangan di sekitar sel purkinje (2,
(neuron granulosum) (9) di stratum g."rr,rlo.,rri (4) memanjang
z).Akson ,"1 g;"";i;
ke dalam stratum moleculare (6) dan
juga berjalan horizontal sebagai akson tidak bermielin.
Di stratum granulosum (+) terdapat banyak sel granula (9) kecll dengan
nukleus terpulas-gelap dan
sedikit sitoplasma. Di stratum granulosum (+) juga tersebar sel Golgi
tipJI (s) yang lebih ber"'," a"rrg".,
nukleus vesikular khas dan sitoplasma lebih banyak. Di seluruh ,t."io-
gr".rrrloJo- terdapat ruing
kosong kecil yang tersebar acak yaitu glomeruli (ro). Bagian ini hanya rneniandrrrrg kompleks ,irr"pr. "

GAMBAR 7.12ffi Astrosit Fibrosa Otak


Potongan otak yang dipersiapkan dengan metode cajal untuk memperlihatkan
sel neuroglia penunjang
yang disebut astrosit. Astrositfibrosa (astrocytus fibrosus) (2,
s) memperlihatkan
kecil, nukleus (5) oval besar, dan nukleolus terpulas-gelap (s). Dari
baau.,."t sl
f y""i
badan sel menjulur banyak
prosesus (4, 6) panlang, tipis, dan halus yang ditemukan diantara neuron
dan pembuluh darah. Astroslt
fibrosa perivaskular (z) mengelilingi kapiler (8) dengan sel darah
*"."h (eritrosit).
Dari astrosit
fibrosa (2, 5) lainnya, muncul
Prosesus (4,6) panjangyang melebar dan berakhir di kapiler (g) sebagai
p eriv as cul ar en il-feet (3,7 ) .
Dalam gambar ini juga terlihat inti dari berbagai sel neurogria (r) otak.
f!8 *i
$
** d.

*"iar
;

rj
i

;4* - 6 Stratum moleculare


$: .

u:q*
ex"3$
$

b3fii3
6alff
ra t -.a
4 Stratum granulosum
."bf 8 Sel Golgi tipe ll

- hf
f##.
5 Substansia alba afltrSffii.Y:-tp
'd$_ww,
WllAkson
GAMBAR 7.11 - Korteks serebeli: stratum moleculare, stratum Purkinjense, dan stratum granulosum.
Pulasan: impregnasi perak (metode Cajal). Pembesaran kuat

1 lnti neuroglia

5 Astrosit fibrosa: badan sel,


nukleus, dan nukleolus
2 Astrosit fibrosa
perivaskular
T-r
6 Prosesus astrosit fibrosa
3 Perivascular
end-feet astrosit
fibrosa

7 Perivascular end-feet
astrosit fibrosa

4 Prosesus astrosit
fibrosa B Kapiler dengan
sel darah merah

GAMBAR 7.12 Astrosit fibrosa dan kapiler di otak. Pulasan: impregnasi perak (metode Cajal).
Pembesaran sedang
GAMBAR 7.13 ffi Otigodendrasit Otak
Potongan otak ini juga dipersiapkan dengan metode Cajal untuk menunjukkan sel neuroglia penunjang
yaitu oligodendrosit (t, +, Z) . Dibandingkan dengan astrosit fibrosa (3), oligodendrosit ( 1, 4,7) ber-
ukuran lebih kecil dan memiliki sedikit prosesus yang tipis dan pendek tanpa banyak percabangan.
Oligodendrosit (1,4,7) ditemukan di substansia grisea dan alba SSP. Di substansia alba, oligo-
dendrosit membentuk selubung mielin yang mengelilingi banyak akson dan merupakan analog sel
Schwann yang memielinasi akson saraf SST.
Juga diperlihatkan dua neuron (2, 6) untuk membandingkan ukurannya dengan ukuran astrosit
fibrosa (3) dan oligodendrosit (1,4,7). Di antara sel terdapat sebuah kapiler (5).

GAMBAR 7.14 n Mikroglia Otak


Potongan otak ini dipersiapkan dengan metode Hortega untuk memperlihatkan sel neuroglia terkecil
yang disebut mikroglia (2, g). Mikroglia (2, 3) memiliki bentuk bervariasi dan sering menunjukkan
kontur yang tidak teratur, dan nukleus kecil dan gelap yang mengisi keseluruhan sel. Prosesus mikroglia
(2, 3) sedikit, pendek, dan langsing. Baik badan sel maupun prosesus mikroglia (2, :) dilapisi oleh duri-
duri kecil. Dua neuron (f ) dan sebuah kapiler dengan sel darah merah (eritrosit) (4) berguna untuk
perbandingan ukuran dengan mikroglia (2, 3).
Mikroglia ditemukan di substansia grisea dan alba SSP dan merupakan fagosit utama SSP.

Terdapat empat jenis sel neuroglia di SSP: astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependimal.
Astrosit (astrocytus) adalah sel neuroglia terbesar dan paling banyak ditemukan di substansia
grisea serta terdiri dari dua jenis: astrosit fibrosa (astrocytus fibrosus) dan astrosit protoplasmik
(astrocytus protoplasmicus). Di SSP, kedua jenis astrosit melekat pada permukaan kapiler dan
neuron. Perivascular feet astrosit menutupi membran basal kapiler dan membentuk sawar darah-
otak, yang membatasi perpindahan molekul dari darah ke dalam interstisium SSP. Prosesus astrosit
juga meluas ke lamina basalis pia mater untuk membentuk suatu sawar impermeabel, glia limitans
atau membrana limitans glialis, yang mengelilingi otak dan medula spinalis. Sel-sel ini juga
membantu pertukaran metabolik antara neuron dan kapiler SSP. Selain itu, astrosit mengontrol
lingkungan kimiawi di sekitar neuron dengan membersihkan ruang interselular dari peningkatan
ion kalium dan neurotransmiter, misalnya glutamat, di tempat sinaps aktif untuk mempeftahankan
lingkungan ionik yang sesuai. Jika bahan kimia metabolik ini tidak cepat dibersihkan daritempat
ini, fungsi neuron dapat terganggu. Astrosit membersihkan glutamat dan mengubahnya menjadi
glutamin, yang kemudian dikembalikan ke neuron. Astrosit juga mengandung cadangan glikogen,
yang dikeluarkan sebagai glukosa, dan dengan cara ini, sel ini ikut berperan dalam metabolisme
energi SSP.
Oligodendrosit (oligodendrocytusl lebih kecil daripada astrosit dengan cabang sitoplasma
yang lebih sedikit. Oligodendrosit membentuk selubung mielin akson di SSP. Karena oligodendro-
iit memllikl banyak pror*uur, satu oligodendrosit dapat mengelilingi dan membentuk selubung
mielin banyak akson. Pada SST, jenis sel penunjang, disebut sel Schwann (Schwannocytus),
memielinasi akson. Berbeda dengan oligodendrosit, sel Schwann hanya membentuk selubung
mielin mengelilingi internodus satu akson bermielin.
Mikrctglia (micogliocytus) adalah sel neuroglia terkecil. Mikroglia terpulas-gelap dianggap
merupakan bagian dari sistem fagosit mononuklear SSP yang berasal dari sel prekursor di sumsum
tulang. Mikroglia ditemukan di seluruh SSP, dan fungsi utamanya mirip dengan makrofag jaringan
ikat. gila jaringan saraf cedera atau rusak, mikroglia bermigrasi, berproliferasi, menjadi fagositik
dan membersihkan jaringan mati atau sel asing.
Sel ependima! (ependymocytus) adalah sel epitel kolumnar pendek atau selapis kuboid yang
melapisiventrikelotakdan kanalis sentralis medula spinalis. Bagian apeks mengandung silia dan
mikrovili. Silia mempermudah aliran serebrospinal melalui kanalis sentralis medula spinalis,
sedangkan mikrovili memiliki fungsi penyerapan.
1 Oligodendrosit 4 Oligodendrosit

2 Neuron
5 Kapiler

3 Astrosit fibrosa

GAMBAR 7.13

1 Neuron

3 Mikroglia

)--
1

4 Kapiler dengan
sel darah merah
BAB 7 Ringkasan
SUBBAB 1 ffi Susunan Saraf Pusat: Otak dan Medula Spinalis

Sistem Saraf Mamalia


o Susunan saraf pusat (SSP) terdiri dari otak dan medula spinalis
o Susunan saraftepi (SST) terdirl dari sarafkranialis dan spinalis

Susunan Saraf Pusat


o Dikelilingi oleh tulang dan cairan serebrospinalis
o Dura mater adalah lapisan jaringan ikat terluar yang kuat melapisi SSP
o Araknoid mater yang halus dan dura menutupi SSP di permukaan luar
o Pia mater melekat pada permukaan otak dan medula spinalis
o Di antara pia mater dan araknoid mater terdapat spatium subarachnoideum
o Cairan serebrospinalis beredar di spatium subarachnoideum.

Cairan Serebrospinalis
r Cairan jernih tidakberwarna yang berfungsi sebagai bantalan dan melindungi otak dan medula spinalis
o Secara terus menerus diproduksi oleh pleksus koroideus di ventrikel otak
o Penting dalam homeostasis dan metabolisme otak
o Direabsorpsi ke dalam darah vena (sinus sagittalis superior) melalui vilus araknoid

Morfologi dan fenis Neuron SSP


o Unit struktural dan fungsional SSP
o Terdiri dari soma atau badan sel, dendrit, dan akson
. Tiga jenis utama adalah multipolar, bipolar, dan unipolar
o Multipolar adalah jenis yang terbanyak dan mencakup semua neuron motorik dan interneuron
o Neuron multipolar mengandung banyak dendrit dan satu akson
o Neuron bipolar adalah neuron sensorik dan ditentukan di mata, hidung, dan telinga
o Neuron bipolar mengandung satu dendrit dan satu akson
o Neuron unipolar ditemukan di ganglion sensorik dan saraf spinalis
o Neuron unipolar memiliki satu prosesus dari badan sel dan bersifat sensorik
o Interneuron yang terdapat di SSP mengintegrasikan dan mengoordinasikan rangsangan antara neuron sensorik
neuron motorik, dan interneuron lainnya.

Selubung Mielin dan Mielinasi Akson


r Terdapat sel khusus yang membungkus akson untuk membentuk selubung mielin kaya-lemak yang bersifat sebagai
insulator
o Selubung mielin berjalan di sepanjang akson hingga cabang-cabang terminalnya
o Celah di antara selubung mielin yaitu nodus Ranvier
o Di SST, sel Schwann memielinasi akson dan membungkus akson tidakbermielin
o Akson yang tidak bermielin tidak memiliki nodus Ranvier
o Di SSP, sel neuroglia oligodendrosit memielinasi banyak akson

Substansia Alba dan Crisea


o Substansia grisea mengandung neurory dendrit, dan neuroglia
o Tempat sinaps antara neuron dan dendrit di substansia grisea

160
. Kornu posterior medula spinalis berhubungan dengan akson radiks posterior
o Kornu anterior medula spinalis berhubungan dengan akson radiks anterior
o Substansia alba hanya mengandung akson bermielin, akson tidakbermielin, dan neuroglia

Medula Spinalis
o Daerah torakal medula spinalis mengandung kornu anterior, posterior, dan lateral
o Kornu lateral mengandung neuron motorik divisi simpatis susunan saraf otonom
o Kornu anterior substansia grisea mengandung neuron motorik
o Akson dari kornu anterior membentuk radiks anterior saraf spinalis
o Substansia alba mengandung akson asendens dan desendens yang tersusun rapat
o Kolumna posterior substansia alba mengandung fasciculus gracillis dan fasciculus cuneatus
o Substansia grisea di dalam medula spinalis memiliki bentuk H dan mengandung neuron dan interneuron
o Commisura grisea menghubungkan dua sisi substansia grisea dan mengandung kanalis sentralis

Neuron, Aksonn dan Dendrit


. Digolongkan menjadi aferen (sensorik), eferen (motorik), atau interneuron
o Badan sel neuron dan dendrit mengandung substansi Nissl (retikulum endoplasma kasar)
o Neurofibril di badan sel neuron meluas ke dalam dendrit dan akson
r Akson berasal dari bagian yang berbentuk-corong yaitu colliculus axonalis
o Akson dan colliculus axonalis tidak mengandung substansi Nissl
o Neuron aferen menghantarkan impuls melalui akson dari reseptor internal atau eksternal ke SSP
r Neuron eferen menghantarkan impuls melalui akson dari SSP ke otot atau kelenjar
r Neuron menyintesis neurotransmiter di badan sel
o Akson mengangkut neurotransmiter dalam mikrotubulus ke sinaps
o Rangsangan menyebabkan terbentuknya impuls saraf (potensial aksi) yang menjalar di sepanjang akson
o Segmen awal akson adalah tempat rangsangan digabungkan dan impuls saraf dihasilkan
. Kecepatan hantaran impuls bergantung pada ukuran akson dan mielinasi
o Dendrit dilapisi oleh gemmula dendritica untuk hubungan (sinaps) dengan neuron lain
e Dendrit menerima dan mengintegrasikan informasi dari dendrit, neuron, atau akson

Sel Fenuniang dalam SSP; Neuroglia


o Selpenunjangr nonneural yang mengelilingi neuron, aksory dan dendrit
o Selkecil yang tidak menghantarkan impuls
o Sepuluh kali lebih banyak daripada neuron
o Empat jenis: astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependimal

Astrosit
o Adalah sel terbesar dan paling banyak di substansia grisea
e Terdiri dari dua jenis, astrosit fibrosa dan astrosit protoplasmik
o I(edua jenis terletak berdekatan dengan kapiler dan neuron, membentuk sawar darah-otak
o Membentuk membrana limitans glialis yang mengelilingi otak dan medula spinalis
o Membantu pertukaran metabolik dan ikut berperan dalam metabolisme energi SSP
o Mengontrol lingkungan kimiawi di sekitar neuron dengan membersihkan neurotransmiter

Oligodendrosit
o Mengelilingi dan memielinasi banyak akson, berbeda dengan sel Schwann

Mikroglia
o Bagian dari sistem fagosit mononuklear dan ditemukan di seluruh SSP
o Sel fagositik di SSq serupa dengan makrofag jaringan ikat
Sel Ependimal
o Melapisi ventrikel di otak dan kanalis sentralis di medula spinalis
o Sel bersilia mengalirkan CSS melintasi kanalis sentralis medula spinalis

Korteks serebri: Substansia Crisea (Lamina I - Vl)


o Lamina molecularis (I): paling luar dan dilapisi oleh pia mater; mengandung sel neuroglia dan sel horizontal Cajal
o Lamina granularis externa (II) mengandung sel neuroglia dan sel piramid kecil
'
o Lamina pyramidalis externa (III): tipe predominan adalah sel piramid ukuran-sedang
o Lamina granularis interna (IV): lapisan tipis dengan sel granula kecil, sel piramid dan neuroglia
o Lamina pyramidalis interna (V), mengandung sel neuroglia dan sel piramid terbesar
o Lamina multiformis (VI): lapisan terdalam, dekat dengan substansia alba dengan berbagai jenis sel

Korteks Serebeli
r Lipatanlipatan dalam di korteks disebut folia serebeli yang dipisahkan oleh sulci
o Stratum moleculare di sebelah luar mengandung neuron kecil dan serat saraf
o Stratum purkinjense di tengah mengandung sel Purkinje besar yang dendritnya bercabang di stratum moleculare
o Stratum granulosum mengandung sel granula kecil, sel Golgi tipe II, dan ruang kosong yaitu glomeruli
Kornu Kornu posterior Substantia Neuron
posterior nervus Nervus spinalis
\\
,il j:;
f;l,'-+
Substantia
grisea Nervus spinalis

Neuron multipolare Fasciculus

Vas sanguineum

Epineurium
Endoneuriun

Perineurium

&
Substantia chromatop
hilica (Badan Nissl)

oenoritum{
Nucleolus

Motoneuron

Colliculus axonalis Corpus


neuronis
Schwannocytus
Nucleus

**ii,r""F
Axon
Nodus
Neuron multipolare
W
Neuron multipolare
(cortex cerebri, medulla spinalis) (cortex cerebe li)

Axon

Stratum
Bulbulus myelini Neuron multipolare Neuron unipolare
terminalis (ganglion autonomicum) (ganglion cerebrospinali

Neuron bipolare (retina)

GAMBARAN UMUM 7.2 Susunan saraf tepi. Susunan saraf tepi terdiri dari saraf kranialis dan saraf
spinalis. Potongan melintang medula spinalis memperlihatkan gambaran khas neuron motorik dan
potongan melintang sebuah saraf tepi. Juga diperlihatkan jenis-jenis neuron yang terletak di berbagai
ganglia dan organ di luar susunan saraf pusat.
SUBBAB 2 ffi Susunan Saraf Tepi
Susunan saraf tepi (systema nervosum periphericum) terdiri dari neuron, sel penunjang, saraf, dan
akson yang terletak di luar susunan sarafpusat (SSP). Susunan ini mencakup sarafkranialis dari otak
dan saraf spinalis dari medula spinalis dengan gangliayangberkaitan. Ganglia (tunggal, ganglion) adalah
kelompok kecil sel neuron dan sel glia penunjang yang dikelilingi oleh suatu kapsul jaringan ikat. Saraf di
SST mengandung akson sensorik dan motorik. Akson-akson ini menyalurkan informasi antara organ dan
SSP. Neuron saraftepi terletak di dalam SSP atau di luar SSP dalam berbagai ganglion.

Lapisan jaringan lkat di 5ST


Suatu saraftepi terdiri dari banyak akson dalam berbagai ukuran yang dikelilingi oleh beberapa lapisan
jaringan ikat, yang memisahkan saraf menjadi beberapa berkas saraf (akson) atau fasikulus (fasciculus).
Lapisan jaringan ikat paling luar adalah selubung kuat epineurium yang menyatukan semua fasikulus.
Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat padat tidak teratur yang membungkus saraf tepi secara keseluruhan.
Suatu lapisan jaringan ikat yang lebih tipis yaitu perineurium maluk ke dalam saraf dan membungkus
satu atau lebih fasikulus saraf. Di dalam setiap fasikulus terdapat akson-akson dan sel penunjangnya, sel
Schwann (Schwannocytus). Setiap akson bermielin atau kelompok akson tidak bermielin yang
berkaitan dengan sel Schwann dibungkus oleh suatu lapisan jaringan ikat vaskular longgar berupa serat-
serat retikular halus yang disebut endoneurium.
tuiii+

GAMBAR 7.15 ffi Saraf Tepi dan Pembuluh Darah {Potongan Transversal)
Pada potongan melintang memperlihatkan sejumlah berkas akson saraf (serat) atau fasikulus saraf (l)
dan pembuluh darah di dekatnya. Setiap fasikulus saraf (t)
ditcetitingi oleh selubung jaringan ikat
perineurium (5) yang menyatu dengan iaringan ikat interfasikularis (S). Oari perineurium (S) ter-
bentuk jaringan ikat halus yang membungkus masing-masing serabut saraf dalam fasikulus dan mem-
bentuk lapisan paling dalam yaitu endoneurium (tidak terlihat dalam gambar ini dan pada pembesaran
rnr).
Banyak nukleus terlihat di antara akson (serat) sarafdi fasikulus saraf (1). Kebanyakan adalah inti
sel Schwann (z). Sel Schwann (2) membungkus dan memielinasi akson. Selubung mielin yang menge-
lilingi akson (3) tampak berupa ruang kosong akibat zat kimia yang digunakan dalam pembuatan sedia-
fibrosit (4) endoneurium (lihat gambar 7.18).
an. Inti lainnya di fasikulus ( 1) saraf adalah
Pembuluh darah arteri di jaringan ikat interfasikularis (9) membentuk percabangan ke dalam
masing-masing fasikulus saraf ( 1) tempat cabang-cabang tersebut membentuk kapiler di endoneurium.
Di jaringan ikat interfasikularis (9) yang membungkus fasikulus saraf ( 1) terdapat arteriola (Z , tZ) dan
venula ( f f ) dalam berbagai ukuran. Di arteriola (7) besar terlihat sel darah, membrana elastica interna
(S), dan tunica media (6) yang mengandung otot. Berbagai ukuran sel adiposa (fO) pga tampak di
jaringan ikat interfasikularis (9).
1 Fasikulus saraf
6 Arteriola,
&; tunica media

7 Arieriola

B Membrana
2 lnti sel Schwann
elastica interna

9 Jaringan ikat
inte rfas iku la ris
3 Akson bermielin

10 Sel adiposa
4 Fibrosit 11 Venula

5 Perineurium 12 Arteriol
dengan fibrosit

GAMBAR 7.15 Saraf tepi dan pembuluh darah (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 7.16 ffi Serat $araf Bermieiir-r
Sel Schwann membungkus akson di saraf tepi dan membentuk selubung mielin. Untuk memperlihatkan
selubung mielin, serat saraf difiksasi dengan asam osmatl preparat ini mewarnai lemak di selubung mielin
berwarna hitam. Dalam gambar ini, dibuat sediaan saraf tepi yang dipotong memanjang (gambar atas)
dan melintang (gambar bawah).
Pada potongan memanjang, selubung mielin (r) tampak sebagai pita hitam tebal yang membung-
kus akson (Z) di bagian tengah yang lebih terang. Pada interval beberapa milimeter, selubung mielin
tampak terputus di antara sel-sel Schwann yang berdekatan. Bagian yang terputus ini adalah nodus
Ranvier (nodus interruptionis myelini) (4).
Itumpulan serat saraf atau fasikulus juga terlihat. Setiap fasikulus dibungkus oleh lapisan jaringan
ikat berwarna-terang yaitu perineurium (a, S, S). Sebaliknya, setiap serat saraf atau akson dibungkus
oleh suatu lapisan tipis jaringan ikat, yang disebut endoneurium (2, fO). Pada potongan melintang
(gambar bawah), tampak akson-akson bermielin dengan diameter yang berlainan. Selubung mielin (9)
tampak sebagai cincin tebal hitam mengelilingi akson ( l2) yang terang tidak terwarnai, yang kebanyakan
berada di bagian tengah.
Jaringan ikat yang membungkus masing-masing serat saraf atau fasikulus mengandung banyak
pembuluh darah (6, 1l ) dengan ukuran beragam.

Sel penunjang dalam SST adalah sel Schwann (Schwannocytus). Fungsi utamanya adalah mem-
bungkus dan membentuk selubung mielin (stratum myetini) kaya-lemak (insulator) di sekeliling
akson besar. Setiap sel Schwann memielinasi satu akson. Satu sel Schwann dapat membungkus
beberapa akson tidak bermelin. Fungsi sel Schwann di SST mirip dengan fungsi oligodendrosit
(oligodendrocytus) di SSP, kecuali prosesus dari satu oligodendrosit dapat membentuk selubung
mielin yang membungkus banyak akson. Selubung mielin bukanlah suatu lembaran solid kontinu
di sepanjang akson; melainkan ditandai oleh celah-celah yang disebut nodus Ranvier (nodus
interruptionis myelini). Nodus ini mempercepat hantaran impuls saraf (potensial aksi) di sepan-
jang akson. Pada akson bermielin yang besar, impuls saraf atau potensial aksi melompat dari satu
nodus ke nodus berikutnya, sehingga hantaran impuls lebih efisien dan lebih cepat. Jenis hantaran
impuls ini pada akson bermielin disebut hantaran saltatorik.
Akson kecil tanpa mielin menghantarkan impuls saraf lebih lambat daripada akson yang lebih
besar dan bermielin. Pada akson tanpa mielin, meskipun dibungkus oleh sitoplasma sel Schwann,
namun impuls melintasi seluruh panjang akson; akibatnya, efisiensi hantaran impuls dan kecepat-
an berkurang. Jadi, akson bermielin yang lebih besar memiliki kecepatan hantaran impuls paling
cepat. Kecepatan hantaran impuls juga bergantung secara langsung pada ukuran akson dan
selubung mielin.
Gliocytus ganglionicus (satellite cell) adalah sel gepeng kecil yang membungkus neuron-
neuron di ganglia SST. Canglia adalah kumpulan neuron yang terletak di luar SSP. Canglia perifer
terletak sefajar dengan kolumna vertebralis dekat pertemuan radiks posterior dan anterior saraf
spinalis dan di dekat berbagai organ visera. Gliocytus ganglionicus merupakan penunjang
struktural badan saraf, menginsulasinya, dan mengatur pertukaran berbagai bahan metabolik
antara neuron dan cairan inteistisial.
'1 Selubung mielin

4 Nodus Ranvier

5 Perineurium

3 Perineurium

6 Pembuluh darah
7 Endoneurium

'10 Endoneurium
8 Perineurium
11 Pembuluh darah

9 Selubung mielin
1 2 Akson

GAMBAR 7.16 Serat saraf bermielin (potongan longitudinal dan transversal). Pulasan: asam osmat.
Pembesaran kuat.
GAMBAR 7.17 ffi Nervus lschiadicus {Potongan l*ongitudinal)
Dalam gambar diperlihatkan potongan memanjang nervus ischiadicus dengan pembesaran lemah. Tam-
pak sebagian kecil dari lapisan luar jaringan ikat padat epineurium (f ) yang membungkus keseluruhan
saraf. Lapisan dalam epineurium (1) mengandung banyakpembuluh darah (5) dan sel adiposa(6).
Selubung jaringan ikat yang berada tepat di bawah epineurium (1), yang membungkus berkas serat
' saraf atau fasikulus saraf (3) adalah perineurium (z). Perluasan epineurium (1) dengan pembuluh
darah (4) di antara fasikulus saraf (3) membentuk iaringan ikat interfasikularis (7).
Pada potongan memanjang, masing-masing akson biasanya mengikuti pola bergelombang yang
khas. Di sepanjang akson yang bergelombang di fasikulus saraf (3) tampak banyak nukleus (s) sel
Schwann dan fibrosit jaringan ikat endoneurium. Pada pembesaran ini, sel Schwann dan fibrosit tidak
dapat dibedakan.

GAMBAR 7.18 ffi Nervus lschiadicus (Potongan Longitudinali


Potongan kecil nervus ischiadicus, yang tampak pada Gambar 7.17, diperlihatkan dengan pembesaran
lebih kuat. Akson ( 1) sentral terlihat sebagai benang tipis yang terpulas terang dengan hematoksilin dan
eosin. Selubung mielin di sekitarnya telah larut oleh zat kimiawi selama proses pembuatan sediaary
meninggalkan anyaman neurokeratin (6) protein. Selubung atau membran sel Schwann (+) tidak
selalu dapat dibedakan dari jaringan ikat endoneurium (5) yang membungkus setiap akson. Di nodus
Ranvier (2), membran sel Schwann (4) tampak berupa batas perifer tipis yang turun ke arah akson.
Dua inti sel Schwann (5), terpotong dalam berbagai bidang, terlihat di sekitar tepi akson (1)
bermielin. Fibrosit di jaringan ikat endoneurium (ta) dan perineurium (:b) j"ga terlihat dalam
gambar ini. Fibrosit endoneurium (3a) terletak di luar selubung mielin, berbeda dari sel Schwann (4)
yang memielinasi atau membungkus akson (1). Namun, inti sel Schwann (a) dan fibrosit (3) endoneu-
rium sering sulit dibedakan.

GAMBAR 7.19 ffi Nervus lschiadicus (Potongan Transversal)


Pembesaran yang lebih kuat pada potongan melintang nervus ischiadicus diperlihatkan di Gambar 7.17
menunjukkan serat-serat saraf bermielin. Akson (S) tampak sebagai struktur tipis sentral gelap yang
dibungkus oleh sisa mielin yang terlarut, anyaman neurokeratin (2) protein dengan garis-garis radial di
perifer. Nukleus dan membran sel Schwann (f ) terletak perifer dari akson (5) bermielin. Bentuk sel
Schwann ( 1) seperti bulan sabit, yang tampak mengelilingi akson, memudahkan identifikasinya.
Serat kolagen jaringan ikat endoneurium hanya terlihat sarnar, sedangkan fibrosit (aa) ai jaringan
ikat endoneurium dan perineurium (St, 0; terlihat jelas. Sebuah venula (7) kecil yang mendarahi
fasikulus sarafterletak di iaringan ikat interfasikularis (4).
5 Pembuluh darah

6 Sel adiposa

2 Perineurium

7 Jaringan ikat
interfasikular

3 Fasikulus B Nukleus
- sel Schwann
atau fibrosit

4 Pembuluh
darah

GAMBAR 7.17 Nervus ischiadicus (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.

4 lnti sel Schwann

2 Nodus Ranvier

5 Endoneurium
3 Fibrosit di:
6 Anyaman
a. Endoneurium
neurokeratin dari
b. Perineurium
mielin yang terlarut

GAMBAR 7.18 Nervus ischiadicus (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran kuat (imersi minyak).

:"St- {$" *i.-'

q':
,Sn.-;
Y$* s
'.;'-!{'.*
1"
4 Jaringan ikat
interfasikular
1 Sel Schwann *.i..$ -

5 Akson
2 Anyaman neuroker
dari mielin yang terlarul

6 Fibrosit di
perineurium
3 Fibrosit di:
a. Endoneurium
b. Perineurium

xrl
GAMBAR 7.19 Nervus ischiadicus (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran kuat (imersi minyak) .
GAMBAR 7.20 ffi $araf Tepi: Nodus Ranvier dan Akscn
Fotomikrograf pembesaran sedang memperlihatkan sebuah saraf tepi yang terpotong memanjang.
Selubung mielin yang biasanya membungkus akson telah larut pada sediaan ini dan hanya ruang mielin
(7) yang tampak. Akson (2, 8) yang terletak di tengah terlihat pada sejumlah serat saraf dengan selubung
mielin. Di sepanjang akson terlihat indentasi di selubung mielin pada jarak yang sama. Ini adalah nodus
Ranvier (nodus interruptionis myelini) (1,9), yang menandakan ujung dari dua selubung mielin
berlainan yang membungkus akson. Suatu inti sel Schwahn (3) terlihat pada salah satu akson (2, S) dan
lapisan tipis jaringan ikat berwarna biru endoneurium (6) yang mengelilingi beberapa akson (2, S). Di
luar akson (2, 8) terlihat kapiler (+) de.rgan sel-sel darah dan fibrosit (5) jaringan ikat sekitarnya.

GAMBAR 7.21W Ganglion $ensorium Nervi Spinalis dengan Radik* Posterior dan
Anterior, dan Saraf Spinalis (Poiongan Longitudinal)
Ganglion sensorium nervi spinalis (dorsal root ganglion) adalah kumpulan badan sel neuron yang terletak
di luar Ganglion sensorium nervi spinalis (7) terletak di radiks posterior (dorsal) (9), y.trg
SSP.
berhubungan dengan medula spinalis. Sebagian besar ganglion dibentuk oleh banyak neuron (pseudo)
unipolar (2) bulat atau neuron sensorik. Banyak fasikulus serat saraf (3) lewat diantara neuron-neuron
unipolar (2) dan berjalan di radiks posterior (9) atau saraf spinalis (5). Serat saraf (3) menggambarkan
prosesus perifer yang dibentuk oleh bifurkasi suatu akson yang keluar dari masing-masing neuron
unipolar (2).
Setiap ganglion sensorium nervi spinalis (7) dibungkus oleh lapisan iaringan ikat (l) tidakteratur
yang mengandung sel adiposa, saraf (6), dan pembuluh darah (6). Jaringan ikat ( 1, 6) di sekitar gang-
lion (7) menyatu dengan jaringan ikat epineurium (4) saraf spinalis (S). S.."t saraf di radiks anterior
(ventral) (ll) menyatukanseratsarafyangkeluardariganglion (7) untukmembentuksarafspinalis (5).
(5) terbentukketika radiks posterior (9) dan radiks anterior (11) menyatu.
Saraf spinalis
' Ketika keluar dari medula spinalis, radiks posterlor (9) dan anterior ( t t ) dlbungkus oleh pia mater
dan selubung araknoid (s, tO). I(edua lapisan ini bersambungan dengan epineurium (4) saraf spinalis
(5). Jaringan ikat perineurium membungkus fasikulus saraf (:) d"" endoneurium membungkus serat
sarafdi sarafspinalis (5) atau ganglion (7), tidak dapat dibedakan pada pembesaran ini.
1 Nodus Ranvier

2 Akson

5 Fibrosit

6 Endoneurium

3 lnti sel Schwann

7 Ruang mielin
4 Kapiler
B Akson
9 Nodus Ranvier

GAMBAR 7.2O Saraf tepi: nodus Ranvier dan akson. Pulasan: Trikrom Masson. 100x

7 Ganglion sensorium
nervi spinalis
1 Lapisan jaringan ikat
8 Selubung araknoid
dengan pembuluh darah
radiks posterior

2 Neuron unipolar di
ganglion sensorium
nervi spinalis
9 Radiks posterior
3 Fasikulus saraf

4 Epineurium
saraf spinalis **di 10 Selubung araknoid
y, radiks anterior
ts
5 Saraf
spinalis
11 Radiks anterior
6 Saraf dan
pembuluh darah
di lapisan jaringan ikal
_-; :..;
GAMBAR 7.21 Ganglion sensorium nervi spinalis dengan radiks posterior dan anterior, dan saraf
spinalis (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.
GAMBAR 7.22ffi Sel dan Neuron Unipolar Ganglion Sensorium Nervi Spinalis
Neuron unipolar ( l, 6) ganglion sensorium nervi spinalis diperlihatkan dengan pembesaran kuat.
Jika
bidang irisan melewati bagian tengah neuron (t, 6) maka tampak sitoplasma (*, +) berwarna merah
muda dan nukleus (ra) bulat dengan nukleolus (tb) berwarna gelap yang khas. Sebagian neuron
unipolar ( 1, 6) mengandung gumpalan-gumpalan kecil pigmen lipofusin (9) kecoklatan disitoplasma-
nya (Juga Gambar 7).
Badan sel setiap neuron unipolar (t, 6) dikelillngi oleh dua kapsul selular. Lapisan sel dalam berada
di dalam ruang perineuron dan membungkus neuron unipolar (1, 6) dengan rapat. Ini adalah glioqtus
ganglionicus (satellite cell) (3,8) kecil, mirip-epitel gepeng. Gliocytus ganglionicus (3, 8) memllikl
nukleus bulat, berasal dari neuroektodermal, dan bersambungan dengan sel Schwann ( r r) yang mem-
bungkus akson bermielin (S, ro) dan tidak bermielin. Gliocytus ganglionicus (:, s) dlketitingi oleh
lapisan luar sel kapsul (7) jaringan ikat. Di antara neuron-neuron unipolar (t, 6) terdapat banyak
fibrosit (z) yangtersusun acak di jaringan ikat sekitar dan berlanjut ke dalam endoneurium di antara
akson-akson (3).
Dengan pulasan hematoksilin dan eosin, akson kecil dan serat jaringan ikat tidak jelas terlihat.
Akson (5) besar bermielin terlihat jika terpotong memanjang.

GAMBAR 7.23 ffi Neursn Multipolar, Sel Sekitar, dan Serat Saraf Ganglion Simpatis
Berbeda dari neuron ganglion sensorium nervi spinalis (Gambar 7.22), nearotr (S, e) trunkus simpati-
kus merupakan neuron multipolar, lebih kecil, dan berukuran lebih seragam. Akibatnya, garis batas
neuron (3, l) dan prosesus dendritik (2, tt) sering tampak tidak teratur. Jika bidang potongan tidak
melewati bagian tengah sel, hanya sitoplasma neuron (f, f O) yang terlihat. Neuron simpatis (:, l) yug.
sering memperlihatkan nukleus eksentrik (9), dan tidak jarang ditemukan sel binukleus. pada usia
lanjut, terjadi akumulasipigmen lipofusin (rz) kecoklatan di sitoplasma sebagian besar neuron (3, 9).
Gliocytus ganglionicus (S) mengelilingi neuron multipolar (1, g), tetapi biasanya lebih sedikit
daripada sel di ganglion sensorium nervi spinalis. Kapsul jaringan ikat dengan sel-sel kapsulnya juga tidak
jelas terlihat. Fibrosit (5) jaringan ikat interselular dan pembuluh darah dalam berbagai ukuran, misal-
nya venula dengan sel darah (6), mengelilingi neuron (3, 9). ekson (4, Z) sataf bermielin dan tidak
bermielin menyatu membentuk berkas dan berjalan melalui ganglion simpatis. Inti gepeng di bagian tepi
akson (4, 7) bermielin adalah sel Schwann (4, Z). Serat-serat saraf ini mencerminkan akson pregangllo-
nik, akson eferen visera pascaganglionik, dan akson aferen visera.

GAMBAR 7.24 ffi Ganglion Sensorium Nervi Spinalis: Neuron Unlpolar.


dan Sel Sekitar
Fotomikrograf pembesaran-sedang ganglion sensorium nervi spinalis menggambarkan bentuk bulat
neuron unipolar sensorik (Z). Sitoplasma neuron ini mengandung nukleus (6) di tengah dan sebuah
nukleolus (5) padat yang mencolok. Di sekitar neuron unipolar (2) terdapat gliocytus ganglionicus
(f) yang lebih kecil. Sel-sel lain di luar gliocytus ganglionicus adalah fibrosit (3) jaringan ikat. Terdapat
banyakberkas akson sensorik (4) dari tepi melintasi ganglion sensorium nervi spinalis di antara neuron
unipolar ini.
Ruang kosong disekeliiing neuron dan sei sekitar merupakan artefak yang ciisebabkan oleh men-
ciutnya jaringan selama pembuatan sediaaan ganglion sensorium nervi spinalis.
1 Neuron unipolar 6 Neuron unipolar
a. Nukleus dan nukleolus
b. Sitoplasma
7 Sel kapsul
2 Fibrosit

B Gliocytus
ganglionicus
3 Gliocytus
ganglionicus
9 Pigmen lipofusin
dD 0
4 Sitoplasma neuron
"st'-'. .
10 Akson bermielin
,.3.Si
5 Akson bermielin 11 Sel Schwann

GAMBAR 7.22 Sel dan neuron unipolar ganglion sensorium nervi spinalis. Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran kuat.

7 Akson dan sel


gs
1 Sitoplasma neuron Schwann

2 Prosesus -i-
.:
dendritik neuron B Sel satelit
3 Nukleus dan
nukleolus neuron
I Nukleus eksentrik
neuron
4 Akson dan
sel Schwann g 10 Sitoplasma neuron

11 Prosesus dendritik
5 Fibrosit
neuron
jaringan ikat x
12 Pigmen lipofusin
6 Venula dengan
sel darah merah
t0,
p
p, \
GAMBAR 7.23 Neuron multipolar, sel sekitar, dan serat saraf ganglion simpatis. Pulasan: hematoksilin
dan eosin. Pembesaran kuat.

4 Berkas akson
sensorik

5 Nukleolus

6 lnti
Gliocytus
ganglionicus

2 Neuron unipolar

3 Fibrosit
$$*T' -Jr" ; ;;isx,,s;S-':p*
GAMBAR 7.24 Ganglion sensorium nervi spinalis: neuron unipolar dan sel sekitar. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. 100 x.
BAB 7 Ringkasan
SUBBAB ? ffi Susunan Saraf Tepi

Susunan Saraf Tepi


o Terdiri dari neuron, neuroglia, saraf, dan akson di luar SSP
o Saraf kranialis berasal dari otak dan saraf spinalis dari medula spinalis
r Ganglia adalah kumpulan neuron dan ganglia dibungkus oleh jaringan ikat
. Mengandung saraf sensorik dan motorik
o Neuron saraftepi dapat terletak di SSP atau ganglion

Lapisan fmringan lkat di Saraf Tepi


'. Saraf tepi dipisahkan oleh lapisan jaringan ikat menjadi fasikulus-fasikulus
o Jaringan ikat terluar di sekitar saraf adalah epineurium
o Jaringan ikat perineurium mengelilingi satu atau lebih fasikulus saraf
r Lapisan jaringan ikat vaskular endoneurium mengelilingi masing-masing akson

Saraf Tepi
o Inti yang terlihat di antara masing-masing akson adalah sel Schwann dan fibrosit
o Sel Schwann memielinasi dan mengelilingi masing-masing akson, atau membungkus akson tidakbermielin
o Di antara masing-masing sel Schwann pada akson bermielin terdapat nodus Ranvier
o Hantaran di sepanjang akson bermielin disebut hantaran saltatorik
o Gliocytus ganglionicus mengelilingi neuron di ganglion SST
o Gliocytus ganglionicus merupakan sel penunjang struktural, menghasilkan insulasi, dan mengatur pertukaran
metabolik

Sanglion Sensorium Nervi Spinalis dan Neuron Unipalar SST


o Terletak di radiks posterior yang berhubungan.dengan medula spinalis
o Ganglia dibentuk oleh neuron sensorik atau neuron unipolar bulat
o Di antara neuron-neuron unipolar terdapat berkas akson atau serat sarafsensorik
o Kapsul jaringan ikat membungkus ganglia dan menyatu dengan epineurium saraf tepi
o Neuron unipolar dikelilingi oleh gliocytus ganglionicus, yang dibungkus oleh sel kapsul jaringan ikat

176
Valva

ARTERI MYOTYPIGA

Tunica media

Vasa vasorum Vasa vasorum

Vas capillare sinusoideum Vas capillare fenestratum Vas capillare continuum


(disjunctum)

Fenestrae

GAMBARAN UMUM 8 Perbandingan suatu arteri muskular, vena besar, dan tiga jenis kapiler (potongan
melintang).

178
Sistem Sirkulasi

Sistem Pembuluh Darah


Sistem pembuluh darah mamalia terdiri atas jantung, arteri besar, arteriol, kapiler, venula, dan vena.
Fungsi utama sistem ini adalah menyalurkan darah yang mengandung oksigen ke sel dan jaringan dan
mengembaiikan darah vena ke paru-paru untuk pertukaran gas. Histologi otot iantung telah dibahas
secara detail di Bab 6 sebagai salah satu dari empat jaringan dasar. Dalam bab ini, histologi jantung hanya
digambarkan sebagai bagian dari sistem kardiovaskular.

Jenis Arteri
Terdapat tiga jenis arteri di tubuh: arteri elastik (arteria elastotypica), arteri muskular (arteria myotypica),
dan arteriol (arteriola). Arteri yang keluar dari jantung untuk menyalurkan darah yang mengandung
oksigen membentuk percabangan yang progresif. Diameter lumen arteri secara berangsur mengecil setiap
kali bercabang, sampai terbentuk pembuluh terkecil, yaitu kapiler (vas capillare).
Arteri elastik (arteria elastotlpica) adalah pembuluh paling besar di dalam tubuh dan mencakup
trunkus pulmonalis dan aorta serta cabang-cabang utamanya, arteri brakiosefalika, karotis komunis,
subklavia, vertebralis, pulmonalis, dan iliaka komunis. Dinding pembuluh.ini terutama terdiri atas serat
jaringan ikat elastik. Serat ini memberi kelenturan dan daya regang sewaktu darah mengalir. Arteri elastik
besar bercabang-cabang dan menjadi arteri berukuran-sedang, arteri muskular (arteria myotypica),
pembuluh darah terbanyak di tubuh. Berbeda dari dinding arteri elastik, dinding arteri muskular
mengandung lebih banyak serat otot polos. Arteriol (arteriola) adalah cabang terkecil pada sistem
arteri. Dindingnya terdiri atas satu sampai lima lapisan serat otot polos. Arteriol menyalurkan darah ke
. pembuluh darah terkecil, kapiler. Kapiler menghubungkan arteriol dengan vena terkecil atau venula.

Pola Struktural Arteri


Dinding arteri biasanya mengandung tiga lapisan konsentrik atau tunika. Lapisan terdalam adalah tunika
intima. Lapisan ini terdiri dari epitel selapiS gepeng, disebut endotel (endothelium), dan iaringan ikat
subendotel (stratum subendothetiale) di bawahnya. Lapisan tengah adalah tunika media, terutama
terdiri atas serat otot polos. Di antara sel-sel otot polos terdapat serat elastik dan retikular dengan jumlah
bervariasi. Di arteri ini, otot polos menghasilkan matriks ekstraselular. Lapisan terluar adalah tunika
adventisia, terutama terdiri atas serat jaringan ikat kolagen dan elastik; tunika adventisia terutama terdiri
dari kolagen tpe I.
Dinding sebagian arteri muskular juga memperlihatkan dua pita serat elastik bergelombang dan
tipis. Lamina elastika interna terletak di antara tunika intima dan tunika media; lapisan ini tidakterlihat
pada arteri kecil. Lamina elastika eksterna terletak di pinggir tunika media muskular dan terutama
dijumpai di arteri muskular besar.

179
Pola Struktural Vena
Kapiler-kapiler menyatu untuk membentuk pembuluh darah yang lebih besar yaitu venula; venula
biasanya menyertai arteriol. Darah vena mula-mula mengalir ke dalam venula postcapillaris kemudian
ke dalam vena yang semakin besar. Vena digolongkan sebagai vena kecil, sedang, dan besar. Dibanding-
kan arteri, vena biasanya lebih banyak dan berdinding tipis, diameter lebih besar, dan memiliki banyak
variasi struktural.
Vena ukuran-kecil dan ukuran-sedang, terutama di ekstremitas, memiliki katup (valva). Karena
rendahnya tekanan darah di vena, aliran darah ke jantung di vena berjalan lambat dan bahkan dapat
mengalir balik. Adanya katup di vena membantu aliran darah vena dengan mencegah aliran balik darah.
Ketika darah mengalir menuju iantung, tekanan di vena mendorong katup terbuka. I(etika darah mulai
mengalir balik, daun katup menutup lumen dan mencegah aliran balik darah. Darah vena di antara katup
di ekstremitas mengalir ke arah jantung akibat kontraksi otot yang mengelilingi vena. Katup tidak ter-
dapat pada vena di SSI vena kava inferior dan superior, dan vena visera.
Dinding vena, seperti dindlng arteri, juga terdiri atas tiga lapisan atau tunika. Namun, lapisan otot-
nya jauh lebih tipls. Tunika intima pada vena besar terdiri atas endotel dan stratum subendotheliale. Di
vena besar, tunika media tipis, dan otot polosnya bercampur dengan serat jaringan ikat. Di vena besar,
tunika adventisia adalah lapisan paling tebal dan paling berkembang di antara ketiga tunika. Berkas
longitudinal serat otot polos sering ditemukan di lapisan jaringan ikat ini (lihat Gambaran Umum 8).

Vasa Vasorum
Dinding arteri dan vena yang besar terlalu tebal untuk menerima nutrien melalui difusi langsung dari
lumennya. Akibatnya, dinding ini dipasok oleh pembuluh darahnya sendiri yang kecil yaitu vasa vaso-
rum (vas sanguineum vasis sanguinei). Vasa vasorum memungkinkan terjadinya pertukaran nutrien dan
metabolit dengan sel-sel di tunika adventisia dan tunika media.

Jenis Kapiler
Kapiler adalah pembuluh darah terkecil, dengan diameter rerata 8 pm, hampir sama dengan ukuran
eritrosit (sel darah merah). Terdapat tiga jenis kapiler: vas capillare continuum, vas capillare fenestra-
tum, vas capillare sinusoideum. Variasi struktural kapiler ini memungkinkan berlangsungnya berbagai
jenis pertukaran metabolik antara darah dan jaringan di sekitarnya.
Vas capillare continuum (continuous capillary) adalah jenis yang paling banyak. Kapiler ini dite-
mukan di otot, jaringan ikat, jaringan saraf, kulit, organ pernapasary dan kelenjar eksokrin. pada kapiler
ini, sel-sel endotel disatukan dan membentuk lapisan endotel solid yang tidak terputus.
Vas capillare fenestratu m (fenestrated capillary) ditandai oleh lubangJubang besar atau fenestra
(pori) pada sitoplasma sel endotel yang dirancang untuk pertukaran cepat molekul antara darah dan
iaringan. Vas capillare fenestratum ditemukan di kelenjar dan jaringan endokrin, usus halus, dan glome-
ruli ginjal.
Vas capillare sinusoideum (disjunctum) adalah pembuluh darah yang berjalan berkelok-kelok
tidak teratur. Diameternya yang jauh lebih besar memperlambat aliran darah. Pada vas capillare sinu-
soideum jarang dijumpai taut sel endotel, dan terdapat celah-celah lebar di antara masing-masing sel
endotel. I(arena membrana basalis di bawah endotel tidak ada atau kurang sempurnaj terjadi pertukaran
langsung molekul antara darah dan sel. Vas capillare sinusoideum ditemukan di hati, limpa, dan sumsum
tulang (lihat Gambaran Umum 8).
Sistem Pembuluh Limfe
Sistem limfe terdiri atas kapiler limfe (vas lymphocapillare) dan pembuluh limfe (vasa lymphatica).
Sistem ini mulanya berupa saluran buntu atau kapiler limfe di dalam jaringan ikat berbagai organ.
Pembuluh ini menampung kelebihan cairan interstisial (fimfe) dari jaringan dan mengembalikannya
ke darah vena melalui pembuluh limfe besar, duktus torasikus (ductus thoracicus) dan duktus limfatikus
. (ductus lymphaticus) kanan. Endotel pada kapiler dan pembuluh limfe sangat tipis agar lebih permeabel.
Struktur pembuluh limfe besar mirip vena namun dindingnya lebih tipis.
Aliran limfe di dalam pembuluh limfe mirip dengan aliran darah; yaitu, kontraksi otot rangka
mendorong limfe bergerak maju. Pembuluh limfe juga mengandung lebih banyak katup (valva lym-
phatica) untuk mencegah aliran balik limfe. Pembuluh limfe ditemukan di semua jaringan kecuali di SSq
tulang rawan, tulang dan sumsum tulang, timus, plasenta, dan gigi.
.tt,j.,1,.t, , . ,

GAMBAR 8.1 ffi Berbagai Pembuluh Darah dan Limfe di Jaringan lkat
Gambar ini memperlihatkan potongan jaringan ikat tidak teratur dengan serat saraf, pembuluh darah dan
limfe, dan jaringan adiposa. Untuk memperlihatkan perbedaan struktural, pembuluh dipotong dalam
bidang transversal, longitudinal, dan oblik.
Sebuah arteri kecil (3) dengan struktur dindingnya tampak di sudut kiri bawah gambar. Berbeda
dengan vena (tt), arteri memiliki dinding relatif tebal dan lumen kecil. Pada potongan melintang,
dinding sebuah arteri kecil (3) memiliki lapisan sebagai berikut:
a. Tunika intima (4) adalah lapisan terdalam. Lapisan ini terdiri atas endotel (4a), stratum sub-
endotheliale (+b), dan lamina (membran) elastika interna (+c) yangmemisahkan tunika intima
(4) dari lapisan berikutnya, tunika media.
b. Tunika media (5) terutama terdiri atas serat otot polos sirkular. Anyaman longgar serat elastik halus
terdapat di antara sel-sel otot polos.
c. Tunika adventisia (6) adalah lapisan jaringan ikat yang mengelilingi pembuluh. Lapisan ini
mengandung saraf kecil dan pembuluh darah. Pembuluh darah di dalam tunika adventisia (6) secara
kolektifdisebut vasa vasorum (7), atau vas sanguineum vasis sanguinei (pembuluh darah yang
mendarahi pembuluh darah).
Bila sebuah arteri memiliki 25 atau lebih lapisan otot polos di dalam tunika media, arteri ini disebut
arteri muskular (arteria myotypica) atau arteri distribusi. Serat elastik menjadi lebih banyak di tunika
media namun masih berupa serat dan anyaman halus.
Sebuah venula (q) d"tt vena kecil ( t t ) luga terlihat di gambar. Perhatikan dindingnya yang tipis
dan lumen yang besar. Namun, dinding yang tipis tampaknya memiliki banyak lapisan sel jika vena
terpotong dalam bidang oblik (q). paaa potongan melintang, dinding vena memiliki lapisan sebagai
berikut:
a' Tunika intima terdiri atas endotel ( f f a) dan selapis serat kolagen dan elastik halus yang sangat tipis,
yang menyatu dengan jaringan ikat tunika media
b. Tunika media (t lb) terdiri atas selapis tipis otot polos melingkar yang secara longgar terbenam di
dalam jaringan ikat. Pada vena, lapisan ini jauh lebih tipis ( 1lb) daripada tunika media arteri (5).
c' Tunika adventisia ( I lc) yang terdiri atas suatu lapisan jaringan ikat yang luas. Pada vena, lapisan ini
jauh lebih tebal ( 1lc) daripada tunika media ( 1tb).
Di sini juga terlihat dua arteriol yang terpotong dalam berbagai bidang. Arteriol (2, 8) memiliki
lamina elastika interna tipis dan satu lapisan serat otot polos di tunika media. Satu arteriol (S) dengan
kapiler (to) bercabang terpotong memanjang. Jika sebuah arteriol (8) terpotong obli( hanya lapiian
otot polos sirkular tunika media yang terlihat. Juga tampak dalam gambar yaitu kapiler (tO) yang
terpotong memanjang dan oblilg dan saraf (l) kecil dalam potongan melintang.
Pembuluh limfe (12, 13) dapat dikenali dari dindingnya yang sangat tipis.
Jika pembuluh limfe
terpotong memanjang, daun katup (f 3) terlihat di lumennya. Banyak vena di lengan dan tungkai
memiliki katup serupa di dalam lumennya.
Di jaringan ikat ditemukan banyak sel adiposa (14).
#rJ
1 Saraf (potongan ,l; 8 Arteriol (potongan oblik
melintang) dan memanjang)
r &-a rl
s r r'r, i t 9 Venula (potongan oblik)
"u
2 Arteriol
,.f
/ l_
10 Kapiler (potongan
!' *r ;!o * longitudinal dan melintang)

11 Vena kecil
a. Endotel
3 Arteri kecil b. Tunika media
c. Tunika adventisia
4 Tunika intima :
12 Pembuluh limfe
a. Endotel
(potongan melintang
b. Stratum
subendotheliale
rt. dan memanjang)

s.\i \
c. Lamina $N"*

interna
5 Tunika media
\sls
d \.-' * 13 Katup pembuluh
limfe
6 Tunika adventisia

7 Vasa vasorum
*1, l )T
14 Sel adiposa

tnlP
GAMBAR 8.1 Pembuluh darah dan limfe dijaringan ikat. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
lemah.
GAMBAR 8.2 ffi Arteri dan Vena Muskular (Potongan Transversal)
Dinding pembuluh darah mengandung jaringan elastik agar dapat mengembang dan mengerut. pada
gambar ini, sebuah arteri (l) dan vena (4) muskular terpotong melintang dan sediaan dibuat dengan
pulasan plastik untuk memperlihatkan distribusi serat elastik di dindingnya. Serat elastikberwarna hitam
dan serat kolagen berwarna kuning muda.
Dinding arteri ( 1) jauh lebih tebal dan mengandung lebih banyak serat otot polos daripada dinding
vena (4). Lapisan terdalam, tunika intima arteri (1), terpulas gelap karena lamina elastikainterna (f a)
yang tebal. Lapisan tengah arteri muskular yang tebal, tunika media ( f b), mengandung beberapa lapisan
serat otot polos, tersusun dengan pola sirkular, dan berkas tipis serat elastik (fb) yang gelap. Di bagian
perifer dari tunika medla (lb) terdapat lamina elastika eksterna (f c) yang tidak begitujelas. Di sekitar
arteri terdapat jaringan ikat tunika adventisia (rd), yang mengandung serat kolagen (z) terpulas-
terang dan serat elastik (3) terpulas-gelap.
Dinding nena (+) juga mengandung lapisan tunika intima (4a), tunika media (+b), dan tunika
adventisia (4c). Namun, ketiga lapisan vena (+) ini lauh lebih tipis daripada dinding arteri.
Di sekitar kedua pembuluh itu terdapat kapiler (5), arteriol (7), venula (6), dan sel jaringan
adiposa (s). ni dalam lumen kedua pembuluh ( 1, 4) terdapat banyak eritrosit dan leukosit.

GAMBAR 8.3 ffi Arteri dan Vena dalam Jaringan lkat Duktus Deferens
Fotomikrograf ini menggambarkan perbedaan struktural antara arteri kecil ( t dan vena (6) kecil dalam
)
jaringan ikat (5) padat tidak teratur. Arteri kecil (1) memiliki dinding yang relatif tebal dengan lumen
kecil. Dinding arteri terdiri atas tunika intima (2), disusun oleh lapisan endotel (2a), stratum
subendotheliate (zb), dan lamina (membran) elastika interna (zc). Membran ini (2c) memisahkan
tunika intima (Z) dari tunika media (e), yang terutama terdiri dari serat otot polos melingkar. Tunika
media (3) dikelilingi oleh lapisan jaringan ikat tunika adventisia (4).
Di sekitar arteri kecil (1) terdapat vena kecil (6) dengan lumen jauh lebih besar yang berisi sel-sel
darah. Dinding vena lebih tipis jika dibandingkan dengan dinding arteri tetapi juga terdiri dari tunika
intima (l) yangdisusun oleh endotel (7a), selapls tipis otot polos melingk", y"ng membentuk tunika
media (S), dan lapisan jaringan ikat tunika adventisia (9).
t'\SF"\ ir*:}
1,.,. '*a
.:

a. Tunika intima
b. Tunika media
c. Tunika adventisia

l
a Lamina (membran)
elastika rnterna
i
b Tunika media
dengan serat
elastik

Kapiler
c Lamina
ek

d Tunika 6 Venula
adventisia
7 Arteriol

2 Serat kolagen 8 Jaringan


adiposa
3 Serat elastik

GAMBAR 8.2 Arteri dan vena muskular (potongan transversal). Pulasan: pulasan elastik. Pembesaran
lemah.

1 Arteri kecil

2 Tunika intima
a. Endotel
b. Stratum
subendotheliale 6 Vena kecil
c. Lamina
(membran)
elastika interna
7 Tunika intima :

a. Endotel
8 Tunika media
3 Tunika media
9 Tunika adventisia

4 Tunika adventisia

'1*.
u; "t
5 Jaringan ikat

GAMBAR 8.3 Arteri dan vena dalam jaringan ikat padat tidak teratur di duktus deferens. Pulasan:
hematoksilin besi dan biru Alcian. 64 x.
GAMBAR 8.4 ffi Dinding Arteri Elastik: Aorta (Potongan Transversal)
Struktur dinding aorta mirip dengan struktur dinding arteri pada Gambar 8.3. Namun serat elastik (4)
merupakan bagian terbesar tunika media, dengan serat otot polos (3) tidak sebanyak pada arteri
muskular. Ukuran dan susunan serat elastik (4) di tunlka media (6) terlihat dengan prrl"r"r, elastik.
Jaringan lainnya di dinding aorta, misalnya serat elastik halus dan serat otot polos (t0), hanya sedikit
terwarnai atau tidak terwarnai.
Dalam gambar ini diperlihatkan endotel (l) selapis gepeng dan stratum subendotheliale (Z) di
tunika intima (5) namun tidak terwarnai. Membran elastik yang terlihat pertama kali adalah lamina
(membran) elastika interna (3).
Tunika adventisia (Z), yang kurang terwarnai dengan pulasan elastik, adalah jaringan ikat tipis
bagian perifer. Tunika adventisia (7) mendapat pasokan dari venula (la) dan arteriol (ft) .1rur"
vasorum (f ). Oi pembuluh besar seperti aorta dan arteri pulmonalis, tunika media (6) mengisi sebagian
besar dinding pembuluh, sedangkan tunika adventisia (7) menipis, seperti tampak dalam g"-b"r.

GAMBAR 8'5 ffi Dinding Vena Besar: Vena Porta (Potongan Transversal)
Berbeda dengan dinding arteri besar (atas, Gambar 8.4), dinding vena besar ditandai oleh tunika
adventisia (0) tebal berotot dengan serat otot polos (7) memperlihatkan orientasi longitudinal. pada
potongan melintang vena porta, serat otot polos (7) terpisah-pisah membentuk berkas-berkas dan
terutamaterlihatpadapotongan melintang, dikelilingi oleh jaringan ikat tunika adventisia (6). Diyarlngan
ikat tunika adventisia (6) tampak sebuah arteriol (sa), dua venula (Sb), dan satu kapiler (sc) daLm
potongan memanjang vasa vasorum (8).
Berbeda dengan tunika adventisia (6) yang tebal, tunika media (S) lebih tipis. Serat otot polos (3)
memperlihatkan orientasi sirkular. Di vena besar lainnya, tunika media (5) mungkin sangat tipis dan
rapat.
Tunika intima (a) adalah bagian dari endotel (r) dan ditunjang oleh sejumlah kecil stratum
subendotheliale (2). Selain itu, vena-vena besar juga memperlihatkan lamina elastika interna yang
kurang berkembang dibandingkan arteri.
tiiiijgt

Jaringan ikat

$'l$Kqt Vasa vasorum


a. Venula
b. Arteriol

;;]fipffN
subendothelial"
:t 0 Serat otot polos
(melingkar)

3Lamnaifi'ffi
n".ffiill., ij
4 Serat elastik
r )'l ,t
rll' t
5 Tunrka 6 Tunika 7 Tunika
intima media adventisia

GAMBAR 8.4 Dinding arteri elastik besar: aorta (potongan transversal). Pulasan: pulasan elastik.
Pembesaran lemah.

B Vasa vasorum :

2 Stratum a. Arteriol
subendotheliale b. Venula
c. Kapiler

3 Serat otot
polos (sirkular) i:.
, ,
4s

TT
4Tunika 5 Tunika 6 Tunika
intima media adventisia

GAMBAR 8.5 Dinding vena besar: vena porta (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.
GAMBAR 8.6 ffi Jantung: Atrium Kiri, Katup Atrioventrikularis, dan Ventrikel Kiri
(Potongan Longitudinal)
Dinding jantung terdiri dari tiga lapisan: endokardium di sebelah dalam, miokardium di tengah, dan
epikardium di sebelah luar. Endokardium terdiri dari endotel selapis gepeng dan stratum subendotheliale
yang tiPis' Di sebelah dalam endokardium terdapat lamina subendocardiaca jaringan ikat. Di sini di-
temukan pembuluh darah kecil dan serat Purkinje. Lamina subendocardiaca melekat pada endomisium
serat otot jantung. Miokardium adalah lapisan paling tebal dan terdiri dari serat otot jantung. Epikardium
terdiri dari mesotel selapis gepeng dan lamina subepicardiaca jaringan ikat di b"r"ahnya. Lamina
subepicardiaca mengandung pembuluh darah koronaria, saraf, dan jaringan adiposa.
Potongan memanjang pada sisi kiri jantung memperlihatkan bagian atrium (l), kuspis katup
atrioventrikularis (mitral) (S), dan ventrikel (l). fndot<ardium (r, l) melapisi rongga atrium dan
ventrikel. Di bawah endokardium (1, 9) terdapat jaringan ikat subendokardium (tela subendocar-
diaca) (z). uiokardium (3, 19) di atrium (3) dan ventrikel (19) terdiri dari serat otot jantung.
Epikardium (rf, t0) atrium dan ventrikel (16) bersambungan dan melapisi jantung dengan me-
sotel di sebelah luar. Lamina subepicardiaca (f Z) mengandung jaringan ikat,
iaringa" "aip"* (tS),
dan banyak pembuluh darah koronaria (t5), yang jumlahnya bervariasi di berbagai bagian jantung.
Epikardium (tz' rc) juga meluas ke dalam sulkus koronarius (atrioventrikularis) darr r.rlf,o, interven-
trikularis jantung.
Diantaraatrium (1) danventrikel (19) terdapatsatulapisan jaringanikatfibrosapadatyaituanulus
fibrosus (+). fatup atrioventrikularis (mitral) bikuspid memisahkan atrium (r) dari ventrikel (19).
Kuspis katup atrioventrikularis (mitral) (S) dibentuk oleh membran ganda endokardium (6) dan inti
jaringan ikat (7) padat yang bersambungan dengan anulus fibrosus (+). li permukaan ventral setiap
kuspis (5) terdapat insersi tali jaringan ikat, chorda tendineae (s), yang ber;alan dari kuspis t atop (S)
dan melekat pada otot papilaris ( t I ), yang menonjol dari dinding ventrikel. Permukaan dJam ventrikel
juga mengandung rigi otot (miokardium) yang menonjol yaitu trabeculae carneae (rO) yang mem-
bentuk otot papilaris (t t). Otot papilaris (11) melalui chorda tendineae (8) menahan dan menstabilkan
kuspis di katup atrioventrikularis ventrikel kanan dan kiri sewaktu kontraksi ventrikel.
Serat Purkinle (tS), atau serat penghantar-impuls, terletak di jaringan ikat subendokardium (2).
Serat ini dibedakan karena ukurannya yang lebih besar dan pewarnaannya yang lebih terang. Serat
Purkinje diperlihatkan dalam detail yang lebih besar dan pembesaran yang lebih kuat di Gambar g.g dan
8.9.
Sebuah pembuluh darah besar jantung, arteri koronaria (tz,), ditemukan di jaringan ikat
subepikardium (tZ). Di bawah arteri koronaria terdapat sinus koronarius (14), suatu pembuluh darah
yang mengalirkan darah dari jantung. Vena koronaria ( t+) dengan katupnya masuk ke sinus koronarius
( t+). nembuluh darah koronaria ( 15) yang lebih kecil terlihat di jaringanikat
subepikardium ( t7) dan di
septum jaringan ikat yang ditemukan di miokardium (tf ).
1 Endokardium atrium

2 Jaringan ikat subendokardium

3 Miokardium atrium 14 Sinus koronarius dan


katup vena koronaria
4 Anulus fibrosus
15 Jaringan adiposa
5 Kuspis katup atrioventrikularis dan vena koronaria
(mitral)
16 Epikardium
ventrikel

6 Endokardium 17 Jaringan ikat


7 lnti jaringan subepikardium
ikat
B Chorda tendineae
18 Serat Purkinje
9 Endokardium ventrikel

1 0 Trabeculae carneae 19 Miokardium


ventrikel

11 Otot papilaris

GAMBAR 8.6 Jantung: atrium kiri, katup atrioventrikularis, dan ventrikel kiri (potongan longitudinal).
Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.
GAMBAR 8.7 ffi Jantung: Ventrikel Kanan, Trunkus Pulmonalis, dan Katup Pulmonal
(Potongan Longitudinal)
Dalam gambar diperlihatkan,potongan ventrikel kanan dan bagian bawah trunkus pulmonalis (S).
Seperti pembuluh darah lainnya, trunkus pulmonalis (5) dilapisi oleh endotel pada tunika intima (5a).
Tunika media (Sb) membentuk bagian paling tebal dinding trunkus pulmonalis (5); namun, lamina
elastik yang tebal tidak terlihat pada pembesaran ini. Jaringan ikat tipis tunika adventisia (Sc) menyatu
dengan iaringan ikat subepikardium (z),yangmengandung jaringan lemak dan arteriol dan venula
koronaria (z,Z).
Trunkus pulmonalis (5) berasal dari anulus fibrosus (s). Dalam gambar terlihat suatu kuspis katup
semilunaris (pulmonal) (6). Serupa dengan katup atrioventrikularis (lihat Gambar 8.6), kaiup semi-
lunaris (6) trunkus pulmonalis (5) dilapisi oleh endokardium (o). Inti
iaringan ikat (7) darianulus
fibrosus (8) meluas ke dalam bagian basal katup semilunaris (6) dan membentukbagian sentralnya.
Miokardium (4) ventrikel kanan yang tebal dilapisi di bagian dalamnya oleh endokardium (9).
Endokardium (9) meluas melewati katup pulmonal (6) dan anulus fibrosus (8), dan menyatu dengan
tunika intima (5a) trunkus pulmonalis (5).
Trunkus pulmonalis (6) dilaplsl oleh iaringan ikat subendokardium dan
iaringan adiposa (z),
yang selanjutnya dilapisi oleh epikardium (f ). Kedua lapisan ini menutupi permukaan luar ventrikel
kanan. Arteriol dan venula (3) koronaria terlihat di jaringan ikat subepikardium (2).

GAMBAR 8.8 ffi Jantung: Serat Otot Jantung yang Berkontraksi dan $erat Purkinje
Penghantar-lmpuls
Gambar ini memperlihatkan potongan jantung yang dipulas dengan pewarnaan Mallory-Azan. pada
sediaanini, seratkolagenwarna-birumenunjukkaniaringanikatsubendokardium (9) yangmengelilingi
serat Purkin;e (6, f O). Gambaran khas serat Purkinje (6,10) terlihat pada potongan memanlang atau
melintang. Padabidang melintang (6), serat Purkinje memperlihatkan lebih sedikit r-niofibrilyang terletak
di pinggir sehingga zona sarkoplasma perinuklear relatif jernih. Pada beberapa potongan melintang
tampak nukleus; yang lain, tampak daerah sentral sarkoplasma yang jernih dengan bldang potongan
melewati nukleus.
SeratPurkinje (0, tO) terletakdibawahendokardium (Z), endotelyangterdapatdironggajantung.
Serat Purkinje (6, to) berbeda dengan serat otot iantung (r, S).;ika dibandingkar d"rrgan r".at otot
jantung (1, 3), serat Purkinje (0, to) berukuran lebih besar dan berwarna lebih muda.
Seratotot jantung (1,3) berhubungansatusamalainmelalui diskusinterkalaris (4) yangmenonjol.
Diskus interkalaris (+) tidak ditemukan di serat Purkinje (O tO). Serat purkinje (6, iO) berhubungan
satu sama lain melalui desmosom dan nexus (gap junction), dan akhirnya menyatu dengan serat otot
jantung (1,3).
Otot jantung memiliki banyak pembuluh darah. Dalam gambar ini terlihat sebuah kapiler (g),
arteriol (5), dan venula (Z).
5 Trunkus pulmonalis :

1 Epikardium a. Tunika intima


b. Tunika media
c. Tunika adventisia

2 Jaringan ikat subepi-


kardium dan jaringan
adiposa
6 Endokardium katup
semilunaris (pulmonal)

7 lnti jaringan ikat

B Anulus fibrosus

9 Endokardium
ventrikel kanan

4 Miokardium

GAMBAR 8.7 Jantung: ventrikel kanan, trunkus pulmonalis, dan katup pulmonal (potongan
longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.

1 Serat ototjantung
(potongan melintang) 6 Serat Purkinje
(potongan melintang)

7 Endokardium

2 Venula
8 Kapiler
3 Serat otot jantung
(potongan memanjang)
9 Jaringan ikat
subendokardium
GAMBAR 8.9 ffi Dinding Jantung: Serat Purkinje
Fotomikrograf dinding ventrikel jantung memperlihatkan endokardium (3) rongga jantung,
iaringan
ikat subendokardium (4), dan serat Purkin;e (s) di bawahnya. Dibandingkan deng"r, serat otot
jantung (r) yang berwarna mera[ serat Purkinje (5) berukuran lebih besar dan ber*a.rr" lebih muda.
Serat Purkinje (S) luga memperlihatkan lebih sedikit miofibril, yang tersebar di perifer dan meninggal-
kan zona sarkoplasma perinuklear jernih. Serat Purkinje (5) secara bertahap menyatu dengan serat otot
jantung (t). nerkas serat iaringan ikat (z) mengelilingi baik serat Purkinj" (S) m"upirn serat otot
jantung (1).

3 Endokardium

4 Jaringan ikat
subendokardium

5 Serat Purkinje
1 Serat otot
jantung

2 Serat
jaringan ikal

GAMBAR 8.9 lrisan dinding jantung: serat Purkinje. Pulasan: Mallory-azan. 64 x


Femhuluh Darah
Arteri elastik (arteria elastotypica) mengangkut darah dari jantung dan menyalurkannya ke
sirkulasi sistemik. Adanya serat elastik (fibra elastica) dalam jumlah besar pada dindingnya
memungkinkan arteri elastik untuk menambah diameternya selama sistol (kontraksi jantung), saat
sejumlah besar darah diejeksikan dari ventrikel ke dalam lumennya. Selama diastol (relaksasi
jantung), dinding elastik yang teregang oleh darah di dalam lumennya akan kembali mengerut dan
mendorong darah bergerak maju melalui saluran-saluran darah. Akibatnya, tekanan darah sistemik
tidak banyak variasinya, dan darah mengalir lebih merata selama siklus iantung.
Berbeda dengan arteri elastik, arteri muskular (arteria myotypica) mengendalikan aliran dan
tekanan darah melalui vasokonstriksi atau vasodilatasi lumennya. Vasokonstriksi dan vasodilatasi,
yang disebabkan oleh banyaknya serat otot polos di dinding arteri, dikontrol oleh akson tidak
bermielin divisi simpatis susunan saraf otonom. Demikian juga, melalui konstriksi atau dilatasi
otonom lumennya, serat otot polos di arteri muskular kecil atau arteriol mengatur aliran darah ke
anyaman kapiler.
Arteriol terminal membentuk pembuluh darah paling kecil, yaitu kapiler (vas capillare).
Karena dindingnya yang sangat tipis, kapiler merupakan tempat utama untuk pertukaran gas,
metabolit, nutrien, dan produk sisa antara darah dan jaringan interstisial.
Pada vena, tekanan darah lebih rendah daripada arteri. Akibatnya, aliran darah vena bersifat
pasif. Aliran darah vena di kepala dan batang tubuh terutama disebabkan oleh adanya tekanan
negatif di dalam rongga toraks dan abdomen akibat gerakan pernapasan. Darah vena kembali dari
ekstremitas dengan bantuan kontraksiotot dan aliran baliknya dicegah oleh katup-katup di vena
besar ekstremitas.

Endotel
Endotel (endothelium) yang melapisi lumen pembuluh darah memiliki fungsi penting dalam
homeostasis darah. Sel endotel membentuk sawar permeabilitas antara darah dan jaringan
interstisial. Endotel juga membentuk permukaan Iicin yang memungkinkan sel darah dan trombosit
melewati pembuluh tanpa mengalami cedera. Lapisan pembuluh darah yang licin dan sekresi
antikoagulan oleh sel endotel mencegah pembekuan darah. Endotel juga menghasilkan bahan
kimiawi vasoaktif yang merangsang dilatasi atau konstriksi pembuluh darah. Jika endotel
mengalami kerusakan, trombosit akan menempel di tempat cedera dan membentuk bekuan darah.
Selama peradangan jaringan di sekitar pembuluh, endotel menghasilkan molekuladhesi sel yang
merangsang leukosit melekat dan berkumpul di tempat yang fungsi pertahanannya dapat digunakan.
Fungsi endotel lainnya adalah mengubah angiotensin I menjadi angiotensin ll, yaitu vasokonstriktor
kuaiyang menyebatkan peningkatan tekJnan darah. Endotel juga mengubah senyawa seperti
prostaglandin, bradikinin, serotonin, dan bahan lain menjadi senyawa inaktif secara biologis,
menguraikan lipoprotein, dan menghasilkan faktor pertumbuhan bagi fibroblas, koloni sel darah,
dan trombosit, serta fungsi lain.
Perntruluh I lnrfe
Fungsi utama sistem pembuluh limfe adalah secara pasif mengumpulkan cairan jaringan dan
protein berlebihan, yaitu limfe, dari ruang interselular jaringan ikat dan mengembalikannya ke
dalam pembuluh darah vena. Limfe adalah cairan bening dan merupakan ultrafiltrasi plasma
darah. Di sepanjang rute pembuluh limfe, ditemukan banyak kelenjar limfe. Di saluran kelenjar
limfe, limfe yang terkumpul dibersihkan dari sel dan partikel. Limfe yang mengalir melaiui
limfonodus juga terpajan oleh banyak makrofag yang berdiam di tempat ini. Makrofag menelan
mikroorganisme asing serta bahan-bahan lain yang tersuspensi. Pembuluh limfe juga membawa
limfosit, asam lemak yang diabsorpsi melalui kapiler limfe yaitu lakteal di usus halus, dan
imunoglobulin (antibodi) yang dihasilkan di limfonodus. Karena itu, pembuluh limfe adalah bagian
integral dari sistem kekebalan tubuh.

ilinding fantung
Pemacu fantung
Otot jantung adalah otot involunter dan berkontraksi secara ritmis dan otomatis. Bagian jantung
yang menghasilkan impuls dan menghantarkan impuls adalah serat otot jantung yang telah
mengalami modifikasi atau memiliki kekhususan, terletak di nodus sinuatrialis (SA) dan
atrioventricularis (AV) di dinding atrium kanan. Serat otot jantung modifikasi di nodus ini
memperlihatkan hantaran impuls atau depolarisasi ritmik spontan, yang mengirim gelombang
stimulasi ke seluruh miokardium jantung. Karena serat di nodus SA mengalami depoLrisasi dan
repolarisasi lebih cepat daripada serat di nodus AV, nodus SA menentukan kecepatan denyut
jantung dan, karenanya, disebut pemacu .lantung (pacemaker).
Diskus interkalaris menghubungkan semua serat otot jantung sehingga impuls dari nodus SA
dapat dihantarkan melalui nexus tgap junction) ke otot atrium, menyebabkan penyebaran
rangsangan yang cepat dan kontraksinya, Impuls dari nodus SA merambat ke otot jantung melalui
ialur internodus untuk merangsang nodus AV yang terletak di septum interatrialis. Dari nodus AV,
impuls menyebardi sepanjang berkas serat jantung penghantar khusus yaitu berkas His (fasciculus
atrioventricularis) yang terletak di septum interventrikularis. Berkas His terbagi menjadi cabang
berkas kanan dan kiri (ramus cruris dextri et sinistri). Kira-kira setengah bawah septum
interventrikularis, cabang berkas atrioventrikularis menjadi serat Purkinje, yang bercabang-cabang
dan menghantarkan rangsangan ke seluruh ventrikel.
Aktivitas pemacu jantung dipengaruhi oleh akson dari sistem saraf otonom dan hormon
tertentu. Akson dari divisi parasimpatis dan simpatis mempersarafijantung dan membentuk pleksus
di dasarnya. Meskipun akson ini mempersarafi miokardium, namun akson tersebut tidak mem-
pengaruhi permulaan aktivitas ritmik nodus. Akson tersebut mempengaruhi kecepatan denyut
jantung. Stimulasi oleh saraf simpatis mempercepat denyut jantung, sedangkan stimulasi oleh saraf
parasimpatis menimbulkan efek berlawanan dan menurunkan kecepatan denyut jantung.
r:
BAB B Ringkasan
Sistem Pembuluh Darah
r Terdiri dari jantung, arteri utama, arteriol, kapiler, vena, dan venula

Jenis Arteri
Arteri Elastik
o Adalah pembuluh terbesar di tubuh
o Mencakup aorta, trunkus pulmonalis, dan cabang-cabang utamanya
o Dinding terutama terdiri dari jaringan ikat elastik
o Memperlihatkan daya tahan dan kelenturan sewaktu darah mengalir
o Dinding sangat melebar selama sistol (kontraksi jantung)
o Sewaktu diastol (relaksasi jantung), dinding kembali mengerut (recoil) dan mendorong darah maju

Arteri Muskular, Arteriol, dan Kapiler


o Dinding mengandung banyak otot polos
o Mengontrol aliran darah melalui vasokonstriksi atau vasodilatasi
o Otot polos di dinding arteri diatur oleh sistem saraf otonom
o Arteriol adalah pembuluh darah kecil dengan satu sampai lima lapisan otot polos
o Arteriol terminal menyalurkan darah ke pembuluh darah paling kecil, kapiler
o Kapiler adalah tempat pertukaran metabolik antara darah dan jaringan
o Kapiler menghubungkan arteriol dengan venula

Struktur Arteri
r Dinding terdiri dari tiga lapisan: tunika intima di sebelah dalam, tunika media di tengah, dan tunika adventisia di
sebelah luar
o Tunika intima terdiri dari endotel dan stratum subendotheliale
o Tunika media terutama terdiri dari serat otot polos
r Tunika adventisia terutama mengandung serat kolagen dan elastik
r Matriks ekstraselular dihasilkan oleh otot polos
o Lamina elastika interna memisahkan tunika intima dari tunika media
o Lamina elastika eksterna memisahkan tunika media dari tunika adventisia

Struktur Vena
o Kapiler bersatu membentuk pembuluh yang lebih besar yaitu venula dan venula postcapillaris
o Dinding lebih tipis, diameter lebih besar, dan struktur lebih bervariasi dibandingkan dengan arteri
r Pada vena ekstremitas, terdapat katup untuk mencegah aliran balik darah
r Darah mengalir ke jantung akibat kontraksi otot di sekitar vena
o Dinding terdiri dari tiga lapisan: tunika intima di sebelah dalam, tunika media di tengah, dan tunika adventisia di
sebelah luar
e Tunika intima terdiri dari endotel dan stratum subendotheliale
o Tunika media tipis, dan otot polos bercampur dengan serat jaringan ikat
o Tunika adventisia adalah lapisan paling tebal dengan serat otot polos memanjang

Vasa Vasorum
o Ditemukan di dinding arteri dan vena besar
o Pembuluh darah kecil memperdarahi tunika media dan tunika adventisia

Jenis Kapiler
o Diameter rerata adalah seukuran sel darah merah

196
o Vas capillare continuum adalah jenis yang paling banyak; endotel membentuk lapisan utuh
o Vas capillare continuum ditemukan di kebanyakan organ
o Vas capillare fenestratum mengandung pori atau fenestra di endotel
r Vas capillare fenestratum ditemukan di kelenjar endokriry usus halus, dan glomerulus ginjal
o Vas capillare sinusoideum memperlihatkan diameter yang lebar dengan celah lebar di antara sel-sel endotel
o Di vas capillare sinusoideum, membrana basalis tidak terbentuk atau tidak sempurna
o I(apiler sinusoid ditemukan di hati, limpa, dan sumsum tulang

Sistem Fembuluh Limfe


o Terdiri dari kapiler dan pembuluh limfe (getah bening)
o Berawal sebagai kapiler limfe yang buntu
o Mengumpulkan kelebihan cairan interstisial dan mengembalikannya ke darah vena
o Pembuluh sangat tipis agar permeabilitas lebih besar
o Pembuluh limfe memiliki katup
o Limfe mengalir melalui limfonodus dan terpajan makrofag
o Limfe mengandung limfosit, asam lemak, dan imunoglobulin (antibodi)

Endotel
a Membentuk sawar permeabilitas antara darah dan jaringan interstisial
a Membentuk permukaan yang licin untuk aliran darah dan menghasilkan antikoagulan untuk mencegah pembekuan
darah
r Menyebabkan dilatasi dan konstriksi pembuluh darah
o Menghasilkan molekul adhesi sel untuk merangsang perlekatan dan akumulasi leukosit.
o Mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II untuk meningkatkan tekanan darah
o Mengubah bahan kimiawi tertentu menjadi senyawa inaktif, menguraikan lipoprotein, dan menghasilkan faktor
pertumbuhan

Dinding fantung - Endokardium, Miokardiumf dan Epikardium


Pemacu
o Impuls dihantarkan oleh sel jantung khusus yang terletak di nodus SA dan AV
o Nodus SA dan AV terletak di dinding atrium kanan
o Nodus SA menentukan kecepatan denyut jantung dan merupakan pemacu (pacemaker) jantung
o Impuls dari nodus SA dihantarkan melalui nexus ke semua otot jantung
o Fasciculus atrioventricularis terletak di sisi kanan dan kiri septum interventricularis
o Fasciculus atrioventricularis membentukseratPurkinje
o Aktivitas pemacu dipengaruhi oleh sistem saraf otonom dan hormon

Serat Purkinje
o Lebih besar daripada serat jantung dengan lebih banyak glikogen dan warna lebih terang
o Bagiansistemkonduksijantung
o Terletak di bawah endokardium di kedua sisi septum interventricularis
r Bercabang-cabang ke seluruh miokardium dan menyalurkan rangsangan melalui nexus ke seluruh jantung

Hormon Natriuretik Atrial


o Sel atrium tertentu mengandung granula yang berisi hormon natriuretik atrial
o Dilepaskan jika atrium teregang
o Menurunkan tekanan darah dengan menghambat pelepasan renin dan aldosteron
o Ginjal mengeluarkan lebih banyak natrium dan air sehingga volume dan tekanan darah menurun.
Pulpa alba
Trabecula splenica
Arteria centralis

Vena

Pulpa rubra

Ductus

Cisterna
Cortex
chyli

Nodus Pars diffusa


iliaca Sinus lymphaticus
Centrum
Vas -----_,;i$*. germinativum
lymphaticum .;tii+"

'
afferens
e|;*-'W Nodulus
lymphoideus

Chorda medullaris
Trabecuta

Vasa lymphatica

Lymphonodus

w
lymphaticum
efferens

Arteria Vena

GAMBARAN UMUM 9 Lokasi dan distribusi organ limfoid dan pembuluh limfe di tubuh. lsi kelenjar
limfe dan limpa diperlihatkan lebih detail.

198
Sistem Limfoid

Sistem limfoid mengumpulkan kelebihan cairan interstisial ke dalam kapiler limfe, mengangkut lemak
yang diserap dari usus halus, dan berespons secara imunologis terhadap benda asing yang masuk. Fungsi
utama organ limfold adalah melindungi organisme terhadap patogen atau antigen (bakteri, parasit, dan
virus) yang masuk. Respons imun timbul jika organisme mendeteksi adanya patogen, yang dapat masuk
ke dalam organisme dari mana saja. Karena itu, sel, jaringan, dan organ limfe terdistribusi luas di tubuh.
Sistem limfoid mencakup semua sel, jaringan, dan organ yang mengandung kumpulan sel imun
yaitu limfosit. Sel sistem imun, terutama limfosit, tersebar di seluruh tubuh berupa sel tunggal, kumpul-
an sel terisolasi, nodulus limfoid tidak berkapsul di jaringan ikat longgar sistem pencernaan, perna-
pasan, dan reproduksi, atau sebagai organ limfoid berkapsul. Organ limfoid utama adalah limfonodus,
tonsil, timus, dan limpa. Karena sumsum tulang menghasilkan limfosit, sumsum tulang dianggap sebagai
organ limfoid dan bagian sistem limfoid.

Organ Limfoid: Limfonodus, Limpa, dan Timus


Gambaran umum memperlihatkan distribusi sistem limfoid di tubuh dan struktur umum dua organ
limfoid berkapsul, limfonodus (lymphonodus) dan limpa (lien). Kapsul jaringan ikat membungkus
limfonodus dan membentuk trabekula ke dalam nodus. Setiap limfonodus mengandung korteks di
bagian luar dan medula di bagian dalam. Korteks ditandai oleh anyaman serat retikular dan agregasi
limfositbulattidakberkapsulyangdisebut noduluslimfoid (noduluslymphoideus). Beberapanodulus
limfoid memperlihatkan daerah sentral terpulas-lebih terang yaitu pusat germinal (centrum germi-
nativum). Medula mengandung korda medularis (chorda medullaris) dan sinus medularis (sinus
lymphaticus medullaris). Korda medularis adalah anyaman serat retikular yang terisi oleh sel plasma,
makrofag, dan limfosit yang dipisahkan oleh saluran mirip-kapiler yaitu sinus medularis. Limfe masuk ke
limfonodus melalui pembuluh limfe aferen (vas lymphaticurn afferens) yang menembus kapsul di
permukaan konveks. Limfe mengalir melalui sinus medularis dan keluar dari limfonodus di sisi ber-
lawanan melalui pembuluh limfe eferen (vas lymphaticum efferens) (lihat Gambaran Umum 9).
Lirnpa (lien) adalah suatu organ limfoid besar dengan banyak pembuluh darah. Limpa dibungkus
oleh kapsul jaringan ikat yang membagi bagian dalamnya menjadi kompartemen-kompartemen tidak
sempurna yaitu pulpa limpa (pulpa lienalis). Pulpa putih (pulpa alba) terdiri dari agregasi limfoid
berwarna gelap atau nodulus limfoid yang mengelilingi pembuluh darah yaitu arteri sentralis (arteria
centralis). Pulpa putih terletak di dalam pulpa merah yang kaya darah. Pulpa merah (pulpa rubra)
terdiri dari korda limpa dan sinusoid limpa (darah). Korda limpa (chorda splenica) mengandung
anyaman serat retikular yang ditemukan makrofag, limfosit, sel plasma, dan berbagai sel darah. Sinus
limpa (vas sinusoideum splenicum) adalah saluran darah saling berhubungan yang mengalirkan darah
limpa ke dalam sinus yang lebih besar dan akhirnya meninggalkan limpa melalui vena lienalis (lihat
Gambaran Umum 9).
Keleniar timus (thymus) adalah organ limfoepitelial lunakberlobus yang terletak di mediastinum
anterior bagian atas dan bagian bawah leher. Kelenjar ini paling aktif pada masa anak-anak, dan setelah

199
itu mengalami involusi secara perlahan; pada orang dewasa, organ ini terisi oleh jaringan lemak. I(elenjar
timus dibungkus oleh kapsul jaringan ikat, dan di bawahnya terdapat korteks berwarna-gelap dengan
banyaknya anyaman ruang yang saling berhubungan. Ruang-ruang ini kemudian ditempati oleh limfosit
imatur yang pindah ke tempat ini dari jaringan hemopoietik untuk mengalami pematangan dan
diferensiasi. Sel epitel kelenjar timus membentuk jaringan penunjang struktural untuk limfosit yang
populasinya terus bertambah. Pada medula yang berwarnalebih muda, sel epitel membentuk kerangka
' kasar yang mengandung sedikit limfosit dan gelungan sel epitel yang bergabung untuk membentuk
corpusculum thymicum (Hassall).

Sel Limfoid: Limfosit T dan Limfosit B


Semua komponen sistem limfoid adalah bagian penting dari sistem kekebalan. Limfosit adalah sel
yang melakukan respons imun. Macam-macam limfosit terdapat di berbagai organ tubuh. Secara mor-
fologis, semua jenis limfosit tampak serupa, namun secara fungsional, sel-sel tersebut sangat berbeda.
Jika limfosit mendapat rangsangan yang sesuai, akan terbentuk limfosit B (lymphocytus B) atau sel B
dan limfosit T (lyrnphocytus T) atau sel T. I(edua subkelas limfosit ini dibedakan berdasarkan tempat
diferensiasi dan pematangan menjadi sel imunokompeten, dan jenis reseptor permukaan yang ada di
membran sel. Kedua jenis limfosit yang secara fungsional berbeda ini ditemukan di darah, limfe, jaringan
limfoid, dan organ limfoid. Seperti semua sel darah lainnya, kedua jenis limfosit berasal dari prekursor
sel induk hemopoietik di dalam sumsum tulang dan kemudian masuk ke dalam aliran darah.
Limfosit T berkembang dari limfosit yang dibawa dari sumsum tulang ke kelenjar timus. Di sini,
limfosit T mengalami pematangan, berdiferensiasi, dan mendapat reseptor permukaan dan imuno-
kompetensi sebelum bermigrasi ke jaringan dan organ limfoid perifer. Kelenjar timus menghasilkan
limfosit T matang pada awal kehidupan. Setelah menetap di kelenjar timus, limfosit T didistribusikan ke
seluruh tubuh dalam darah dan menempati limfonodus, limpa, dan agregat atau nodulus limfoid di
jaringan ikat. Di tempat-tempat ini, limfosit T melakukan respons imunologik bila dirangsang. Jika
bertemu dengan antigen, sel T menghancurkan antigen melalui efek sitotoksik atau dengan mengaktifkan
sel B. Terdapat empat jenis sel T: sel T penolong, sel T sitotoksilg sel T pengingat, dan sel T
penekan.
Jika bertemu dengan antigen, sel T penolong (cellula T adiuvans) membantu limfosit lainnya
dengan menyekresi zat kimiawi imun yaitu sitokin, juga disebut interleukin. Sitokin adalah hormon
protein yang merangsang proliferasi, sekresi, diferensiasi, dan pematangan sel B menjadi sel plasma, yang
kemudian menghasilkan protein imun yang disebut antibodi atau imunoglobulin.
Sel T sitotoksik (cellula T cytotoxica) secara spesifik mengenali sel yang antigennya berbeda
misalnya sel yang terinfeksi-virus, sel asing, atau sel ganas dan menghancurkannya. Limfosit ini menjadi
aktifjika berikatan dengan antigen yang bereaksi dengan reseptornya.
Sel T pengingat (cellula T memoriae) adalah turunan sel T yang berumur panjang. Sel ini
berespons cepat terhadap antigen yang sama di tubuh dan segera merangsang pembentukan sel T
sitotoksik. Sel T pengingat adalah padanan sel B pengingat.
Sel T penekan (cellula T supprimens) menurunkan atau menghambat fungsi sel T penolong dan
sel T sitotoksik sehingga respons imun dapat dimodulasi.
Limfosit B mengalami pematangan dan menjadi imunokompeten di sumsum tulang. Setelah
matang, Iimfosit B dibawa aliran darah ke jaringan limfoid bukan-timus, seperti limfonodus, limpa, dan
jaringan ikat. Sel B mampu mengenali jenis antigen tertentu karena adanya reseptor antigen di permuka-
an membran selnya. Sel B imunokompeten menjadi aktif bila bertemu dengan antigen spesifik yang
berikatan dengan reseptor antigen di permukaan selnya. Namun, respons sel B terhadap antigen lebih
kuat jika antigen disampaikan oleh sel penyaji-antigen, misalnya sel T penolong. Sel T penolong me-
nyekresikan suatu sitokin (interleukin 2) yang memicu proliferasi dan diferensiasi sel B teraktivasi-
antigen. Banyak turunan sel B teraktivasi membesar, membela[ berproliferasi dan berdiferensiasi men-
jadi sel plasma. Sel plasma kemudian menyekresikan sejumlah besar antibodi spesifik terhadap antigen
yang memicu pembentukan sel plasma. Antibodi bereaksi dengan antigen dan memicu proses kompleks
yang akhirnya menghancurkan bahan asing yang mengaktifkan respons imun tersebut. Sel B teraktivasi
lainnya tidak menjadi sel plasma, namun menetap di organ limfoid sebagai sel B pengingat (cellula B
memoriae) . Sel pengingat ini menghasilkan respons imunologik yang lebih cepat jika antigen yang sama
munculkembali.
Selain sel T dan sel B, sel-sel yaitu makrofag, lymphocytus K (natural killer cell), dan sel penyaji
antigen melakukan fungsi penting dalam respons imun. Lymphocytus K menyerang sel yang terinfeksi
oleh virus dan sel kanker. Sel penyaii-antigen terdapat paling banyak di jaringan. Sel ini memfagosit dan
memproses antigen, dan kemudian menyajikan antigen ke sel I memicu aktivasinya. Sebagian besar sel
_
penyajiantigen termasuk dalam sistem fagositik mononuklear. Yang tercakup dalam kelompok ini adalah
makrofag jaringan ikat, makrofag perisinusoidalis di hati (sel Kupffer), sel Langerhans di kulit, dan
makrofag di dalam organ limfoid.

Tipe Dasar Respons lmun


Adanya sel asing atau antigen di tubuh merangsang suatu rangkaian reaksi yang sangat kompleks.
Rangkaian ini menyebabkan pembentukan antibodi, yang berikatan dengan antigen, atau stimulasi sel-
sel yang menghancurkan sel asing tersebut. Sel B dan sel T berespons terhadap antigen dengan cara
berbeda. Di dalam tubuh terdapat dua jenis respons imunologikyang saling berkaitaq dimana keduanya
dipicu oleh antigen.
Pada respons imun selular (diperantarai-sel), sel T terangsang oleh keberadaan antigen di per-
mukaan sel penyajiantigen. Limfosit T berproliferasi dan mengeluarkan sitokin. Sinyal kimiawi ini me-
rangsang sel T lainnya, sel B, dan sel T sitotoksik. Dengan aktivasi dan pengikatan pada sel sasaran, sel T
sitotoksik menghasilkan molekul-molekul protein yaitu perforin, yang melubangi membran sel sasaran
sehingga sel tersebut mati. Sel T sitotoksik juga menghancurkan sel asing dengan melekat pada sel dan
memicu apoptosis atau kematian sel terprogram. Limfosit aktif kemudian menghancurkan milno-
organisme asing, parasit, sel tumor, atau sel yang terinfeksi-virus. Sel T juga dapat menyerang secara tidak
langsung dengan mengaktifkan sel B atau makrofag sistem imun. Sel T menimbulkan proteksi imun
spesifik tanpa mengeluarkan antibodi.
Pada respons imun humoraf terpajannya sel B terhadap antigen memicu proliferasi dan transfor-
masi beberapa sel B menjadi selplasma (plasmocytus). Sel plasma, selanjutnya, mengeluarkan antibodi
spesifik ke dalam darah dan limfe yang mengikat, menginaktifkan, dan menghancurkan bahan asing atau
antigeir spesifik. Aktivasi dan proliferasi sel B terhadap sebagian besar antigen memerlukan bantuan sel T
penolong yang berespons terhadap antigen yang sama dan pembentukan sitokin tertentu. Adanya sel B,
sel plasma, dan antibodi di dalam darah dan limfe adalah dasar respons imun humoral.
GAMBAR 9,1 ffi Limfonodus {Pandangan Menyeluruh)
Limfonodus terdiri dari massa agregasi limfosit padat yang terdapat bersama-sama dengan sinus limfe
yang berdilatasi, yang mengandung limfe dan ditunjang oleh kerangka serat retikular halus. Sebuah lim-
fonodus terbagi menjadi Zbagian untuk memperlihatkan korteks (4) sebelah luar berwarna-gelap dan
medula (tO) di sebelah dalam berwarna-terang. Limfonodus dikelilingi oleh jaringan lemak peri-
kapsularis (r) yang mengandung banyak pembuluh darah, tampak di sini adalah arteriol dan venula
(9). Kapsul (2) jaringan ikat padat membungkus limfonodus. Dari kapsul (2), iaringan ikat trabekula
(6) masuk ke dalam nodus, awalnya berada di antara nodulus limfoid, dan kemudian bercabang-cabang
ke seluruh medula ( tO) dengan jarak bervariasi.Jaringan ikat trabekula (6) juga mengandung pembuluh
darah (5, 8) utama limfonodus.
Di kapsul (2) jaringan ikat limfonodus terdapat pembuluh limfe aferen dengan katup (7) dan,
pada interval tertentu, menembus kapsul untuk masuk ke ruangan sempit yaitu sinus subkapsularis (3,
f 5). Dari sini, sinus (sinus kortikalis) berjalan di sepanjang trabekula (6) untuk masuk ke dalam sinus
medularis (ll).
I(orteks (+) limfonodus mengandung banyak agregasi limfosit yang disebut nodulus limfoid ( f 6).
Bila nodulus limfoid (16) terpotong melalui bagian tengah maka akan terlihat bagian yang berwarna-
lebih terang. Bagian berwarna-lebih terang ini adalah pusat germinal (tZ) nodulus limfoid (t6) dan
menunjukkan bagian aktif proliferasi limfosit.
Di medula (tO) limfonodus, limfosit tersusun dalam untaian jaringan limfe yang tidak teratur yaitu
korda medularis (r+). Korda medularis (t4) mengandung makrofag, sel plasma, dan limfosit kecil.
Sinus medularis ( 11) yang berdilatasi mengalirkan limfe dari bagian korteks limfonodus dan berjalan di
antara korda medula ( 14) menuju hilus organ.
Bagian cekung pada limfonodus menunjukkan hilus ( f Z). Saraf, pembuluh darah, dan vena menyu-
plai dan mengaliri limfonodus yang terletak di hilus (tZ). nembuluh limfe eferen (13) mengalirkan
limfe dari sinus medularis (11) dan keluar dari limfonodus di hilus (12).
1 Jaringan lemak
perikapsularis
10 Medula
2 Kapsul

3 Sinus subkapsularis ili'


it
11 Sinus medularis
4 Korteks

12 Hilus

5 Pembuluh
darah trabekula
13 Pembuluh limfe
6 Jaringan ikat eferen
trabekula

14 Korda medularis

7 Pembuluh limfe
aferen dengan
15 Sinus subkapsularis

8 Pembuluh darah
trabekula 16 Nodulus limfoideus

17 Pusat germinal
,".\ nodulus limfoideus
:" t'ii:
9 Arteriol dan venula

GAMBAR 9.1 Limfonodus (pandangan menyeluruh). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
sedang.
GAMBAR 9.2 ffi Kapsurl, Kori*ks, dan Medula Limf*necius iFandanga* Seksinnai)
Dalam gambar ini diperlihatkan sebagian kecil daerah korteks limfonodus dengan pembesaran yang lebih
kuat.
Kapsul (a) [mfonodus dikelilingi oleh iaringan ikat (1) dengan venula dan arteriol (ll). Di
jaringan ikat (1) terlihat pembuluh limfe (2) aferen yang dilapisi endotel dan mengandung katup (2).
Dari permukaan dalam kapsul (3), trabekula (S, f +) jaringan ikat masuk ke dalam korteks dan medula.
Pembuluh darah trabekula (f 0) ikut masukbersama dengan jaringan ikat trabekula (S, t+).
Korteks limfonodus dipisahkan dari kapsul (3) jaringan ikat oleh sinus subkapsularis (margina-
lis) (+,f Z). I(orteks terdiri atas banyak nodulus limfoid (f a) yang saling berdekatan tetapi dipisahkan
secara tidak utuh oleh jaringan ikat trabekula antarnodulus (S, t+) dan sinus trabekularis (kortikalis)
(e). lada gambar ini terlihat dua nodulus limfoid (13) utuh. Jika terpotong melalui bagian tengah,
nodulus limfoid memperlihatkan pusat germinal (2, tS) di tengah berwarna-terang dikelilingi oleh
bagian perifer nodulus ( ta) yang berwarna-lebih gelap. Di pusat germin al (Z , tsl nodulus limfoid ( 13),
sel-sel tersusun lebih longgar dan limfosit yang sedang berkembang memiliki nukleus lebih besar dan
berwarna-lebih terang dengan sitoplasma lebih banyak.
Di bagian korteks limfonodus yang lebih dalam terdapat parakorteks (paracortex) (S, fZ).
Daerah ini adalah zona thymodependens (thymus dependent zone) dan terutama ditempati oleh limfosit
T. Ini juga merupakan daerah peralihan dari nodulus limfoid (l, tZ) ke korda medularis (1, f l). Ue-
dula terdiri dari untaian anastomosis jaringan limfe, korda medularis (0, lV), diselingi dengan sinus
medularis (f O, f S), yang mengalirkan limfe dari nodus ke dalam pembuluh limfe eferen di hilus (lftat
Gambar 9.1).
Jaringan ikat retikular halus merupakan jaringan penunjang struktural utama limfonodus dan mem-
bentukpusat nodulus limfoid (ta) di korteks, korda medularis (9, 19), dan seluruh sinus medularis (10,
18) di medula. Di sinus medularis (tO, tS) hanya sedikit terlihat limfosit; karena itu, kerangka retikular
nodus di nodulus limfoid (t:) dan korda medularis (9, 19) dapat dibedakan. Limfosit sedemikian
banyak sehingga retikulum halus tidak terlihat jelas, kecuali jika digunakan pulasan khusus, seperti di-
perlihatkan di Gambar 9.5. Sebagian besar limfosit berukuran kecil dengan nukleus besar berwarna-gelap
dan kromatin padat, serta sitoplasma sedikit atau tidak ada sama sekali.

timfono-dris (lymphonodus) merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang


di selur,uh tubuh di sepanjang jalur pembuluh limfe. Limfonadus pallng banyak dijumpai
ter:sebar
di daelah inguinal'dan aksila.'Fungsi utamaRya adalah filtrasi limfe dan fagositosis bakteri atau
substansi asing dqri limte, nrencegahnya masuk ke dalam sirkulasi umum. Makrofag terfiksasi atau
bebqs yang menghancurkan substansi.asing, terperangkap di dalam anyaman serat retikular setiap
nodus.lKarena itu.sewaktu Jimfe disaring, nodus berperan melokalisasi dan mencegph penyebaran
infeksi ke dalam sirkulasi umum dan organ lainnya.
Limfonodus .iuga membuaf menyimpanf dan menyalurkan sel, B dan sel T. Di sini lirnfosit
dapat berptoliferasi dan sel B dapat berubah meniadi sel plasma.Akibatnya, limfe yang'keluat dari
lirnfonijdus mengandung banyak antibodi yang dapat didistribusikan ke seluruh tubuh. Lirnfosit B
berkumpul dalam:nodulus lirnfoid {nodulus lymphoideus), sedangkan limfosit T terkonsentrasi cli
bawah:nodulusrdi paldkorteks (paracortex) atau kortikalis dalam. Limfonodus juga merupakan
ternpat.pengenalan antigsn,dari aktivasi antigenik limfosit B, yang,menghasilkan:sel'plasma
bIasmocytus)danse[Bpengingat.:(celIulaBmemoriae)'.'
: 'Semuaiimfe.yangterbentuk ditubuh akhirnya mencapai da'rah, dan limfosityang meninggalkan
limtonodus:melalui pembuluh limfe eferen juga kembali ke aliran darah.,Arteri yang menyuplai
lirnfonodus dan bercabang menjadi kapiler di daerah kortikalis dan parakofteks jugri nieriiddi,,,ji
lan bagi f imfosit untuk masuk ke dalam limfonodus. Sebagian besar limfosit masuk ke limfo-n-odus
melalui venula pascakapiler (venula postcapillaris) yang terletak jauh di dalam ko*eks. Di'5i,ni,
venula pascakapiler memperlihatkan endotel kolumnar atau kuboid tinggi yang mengar:idung
Iymphocyte-homing receptors khusus. Karena venula dilapisi oleh endotel yang'leb,ih:tingg1,
venula ini disebut venula altoendothelialis (fiigfi endathelial venule). Limfosit:vang:beiedar:
mengenali reseptor di sel endotel dan meninggalkan aliran darah untuk masuk ke limfonodus. Sel
B dan sel T meninggalkan aliran dar.ah melalui venula altoendothelialis. Venula khusus:riniriuga
terdapat di organ lfrnfoid lain, misalnya nodulus lymphoideus aggregatus submucosus tfuirerli,
p.ateh) di,usus halus, tonsi[, apendiks, dan korteks timus; venula altoendothelialistidakterdaBa!.d.i
limpa.

. :* *S--.
-.i. a&qtt
1 Jaringan it<at
--==-;i ;*S;!g& \\:.1i',.rri: 11 Venula dan arteriol
2 Pembuluh limfe
aferen dengan katup 12 Sinus
subkapsularis
3 Kapsul

4 Sinus subkapsularis 13 Nodulus limfoid


(marginalis) -r

5 Jaringan ikat rl
trabekula :t 14 Jaringan ikat
trabekula
6 Sinus trabekularis
(kortikalis) 15 Pusat germinal
nodulus lrmfoid
7 Pusat germinal
nodulus limfoid

16 Pembuluh darah
trabekula
8 Parakorteks
(korteks dalam)

1 7 Parakorteks
(korteks dalam)
9 Korda medularis

18 Sinus medularis

'10 Sinus medularis


r #m#;
',':'i *"""'.
rii*"'-
19 Korda medularis

GAMBAR 9.2 Limfonodus: kapsul, korteks, dan medula (pandangan seksional). Pulasan: hematoksilin
dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 9.3 ffi Karteks dan Medula Limfonodus
Fotomikrograf pembesaran-lemah ini menggambarkan korteks dan medula limfonodus. Sebuah kapsul
(4) jaringan ikat longgar dengan pembuluh darah dan sel adiposa (7) membungkus limfonodus. Di
bawah kapsul (4) terdapat sinus subkapsularis (marginalis) (5) menutupi korteks (3) limfonodus
bagian tepi yang terpulas-lebih gelap. Di dalam korteks (3) ditemukan banyak nodulus limfoid (t, 6),
beberapa di antaranya memiliki pusat germinal (2) yang terpulas-lebih terang.
Di bagian tengah limfonodus terdapat medula (9) yang terpulas-lebih terang. Daerah ini ditandai
oleh korda medularis ( t2) terpulas-gelap dan saluran limfe sinus medularis ( t t) terpulas-terang. Sinus
medularis ( t t ) mengalirkan limfe yang masuk ke limfonodus melalui pembuluh limfe aferen di kapsul
(lihat Gambar 9.2) dan berkonvergensi ke arah hilum limfonodus (lihat Gambar 9.1). Di hilum terdapat
banyak arteri (8) dan vena. Limfe keluar dari limfonodus melalui pembuluh limfe eferen dengan katup
(to) arhilum.

GAMBAR 9.4 ffi Limfonodus: $inus $ubkortikalis dan Nodulus Limfoid


Gambar ini memperlihatkan, pada pembesaran lebih kuat dan detail lebih jelas, sebagian limfonodus
dengan kapsul (3) jaringan ikat, trabekula (+), dan sinus subkapsularis (f) yang berlanjut di kedua
sisi trabekula (4) sebagai sinus trabekularis (rz) ke dalam limfonodus.
Jaringan ikat retikular limfonodus, sel retikular (S, f f ), tampak di berbagai bagian nodus. Sel reti-
kular (8, 11) terlihat di sinus subkapsularis (l), sinus trabekularis (t2), dan pusat germinal (9) nodulus
limfoid (t+). U slnus subkapsularis (1), sinus trabekularis (tZ), danpusat germinal (9) nodulus limfoid
(t+) luga terlihat banyakmakrofag(2,6, l6) bebas.
Suatu nodulus limfoid dengan irisan kecil pada zona perifer (f+) dan suatu pusat germinal (9)
dengan limfosit yang sedang berkembang iuga terlihat. Sel endotel (S, f a) melapisi sinus ( 1, 12) dan
membentuk lapisan yang tidak utuh di permukaan nodulus llmfoid ( la).
Zonaperifer nodulus limfoid(14) berwarna gelap karena akumulasi limfosit kecit (7). Limfosit
kecil (7) ditandai oleh nukleus berwarna-gelap, kromatin padat, dan sitoplasma sedikit atau tidak ada.
Limfosit kecil (7) juga terdapat di sinus subkapsularis ( 1) dan sinus trabekularis ( 12).
Pusat germinal (9) nodulus limfoid (14) mengandung limfosit ukuran-sedang (fO). Sel ini di-
tandai oleh nukleus yang lebih besar terpulas-terang dan lebih banyak sitoplasma dibandingkan limfosit
kecil (7). Inti limfosit ukuran-sedang (10) memperlihatkan variasi ukuran dan kepadatan kromatin. Sel
terbesar dengan kromatin yang kurang padat, berasal dari limfoblas ( f Z). Limfoblas ( l7) terlihat dalam
jumlah kecil di pusat germinal (9) nodulus limfoid ( f +) berupa sel bulat besar dengan sitoplasma tebal
dan nukleus vesikular besar dengan satu atau dua nukleolus. Limfoblas yang mengalami mitosis (15)
menghasilkan limfoblas baru dan limfosit ukuran-sedang ( l0). Setelah mengalami beberapa kali mitosis,
kromatin (15) memadat dan ukuran sel mengecil sehingga terbentuklimfosit kecil (7).
Nodulus
iimfoid

2 Pusat germinal 8 Arteri

3 Korteks
9 Medula
4 Kapsul
5 Sinus
subKapsularis t' 10 Pembuluh limfe
(marginalis) eferen dgn katup

11 Sinus medularis

6 Nodulus
12 Korda medularis
limfoid

7 Sel adiposa

GAMBAR 9.3 Mallory-azan. 25 x

1 Sinus
subkapsularis
2 Makrofag ".:..h*. {lf Yfi 11 Sel retikular

3 Kapsul '-Srl
kaqt
12 Sinus
trabekularis
4 Trabekula
(:a 1,:.- o,.-@ 1to 7-:,o.ts
{ ".' g 6a 6-o &
5 Sel endotel *j:..l:'o
& n.."
"' * .,
"-: o5eks 13 Sel endotel

6 Makrofag
@ 14 Nodulus limfoideus
7 Limfosit kecil (zona perifer)

8 Sel retikular '15 Limfoblas yang


mengalami
9 Pusat germinal mitosis
16 Makrofag
10 Limfosit
ukuran-sedang 17 Limfoblas

GAMBAR 9.4 Limfonodus: sinus subkortikalis, sinus trabekularis, sel retikular, dan nodulus limfoid.
Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.
GAMBAR 9.5 ffi Limfonrodus: Venula Altoendothelialis di Parakorteks iKorteks Daiam)
Limfonodus
Daerah parakorteks limfonodus mengandung venula pascakapiler. Venula ini memiliki morfologi yang
tidak lazim untuk mempermudah migrasi limfosit dari darah ke dalam limfonodus. Gambar ini mem-
perlihatkan venula altoendothelialis (2) yang dilapisi oleh endotel kuboid tinggi, bukan endotel selapis
. gepeng. Beberapa migratinglymphocytes (3) terlihat bergerak melalui dinding venula di antara endotel
tinggi (2) ke dalam parakorteks limfonodus. Limfosit di parakorteks (5), sinus medularis (1), dan
venula (4) dengan sel darah mengelilingi venula altoendothelialis (2).

GAMBAR 9.6 ffi Limfonodus: $inus $ubkapsularis, $inu* Trabekularis, dan Serat
Retikular P*nurnjang
Potongan limfonodus yang dipulas dengan metode perak untuk memperlihatkan susunan kompleks
serat retikular (e,9) penunjang di limfonodus. Serat kolagen yang lebih tebal dan padat di kapsul (3)
jaringan ikat berwarna merah muda. Kapsul dan bagian limfonodus lainnya ditunjang oleh serat retikular
(6, 9) halus yang berwarna hitam dan membentuk anyaman halus di seluruh organ.
Berbagai zona yang diperlihatkan di Gambar 9.2 dengan pulasan hematoksilin dan eosin mudah
dikenali dengan pulasan perak. Trabekula (a) jaringan ikat dari kapsul (3) menembus bagian dalam
limfonodus diantara dua nodulus limfoid (S, fZ). Di sebelah bawah dari kapsul (3) terdapat sinus
subkapsularis (marginalis) (f, 7) yangberlanjut di masing-masing sisi trabekula (4) sebagai sinus
trabekularis (2, S) ke dalam medula dan akhirnya keluar melalui pembuluh limfe eferen di hilum.Juga
terlihat korda medularis ( r0) dan sinus medularis ( I I ).
1 Sinus medularis
4 Venula

2 Venula altoendothelialis
5 Limfosit di
parakorteks

3 Migrating lymphocytes

GAMBAR 9.5 Limfonodus; venula altoendothelialis di parakorteks (korteks dalam) limfonodus. Pulasan:
hematoksilin dan'eosin. Pembesaran kuat

1 Sinus
subkapsularis ld 8 Nodulus limfoideus
(marginalis)

2 Sinus trabekularis 9 Serat retikular

3 Kapsul
10 Korda medularis
4 Trabekula

5 Sinus trabekularis
11 Sinus medularis
6 Serat retikular

7 Sinus sub- 12 Nodulus limfoideus


s I "-\ac
kapsularis (marginalis) frr:n \'.r'/r:
GAMBAR 9.6 Limfonodus: sinus subkapsularis, sinus trabekularis, dan serat retikular penunjang.
Pulasan: perak. Pembesaran sedang
GAMBAR 9.7 # Kelenlar Tirnus iPandangan Menyeluruh)
Kelenjar timus adalah organ limfoid berlobus yang dibungkus oleh suatu kapsul ( l) jaringan ikat tempat
trabekula (2, f O) berasal. Trabekula (2, tO) masuk ke dalam organ dan membagi kelenjar timus menjadi
banyak lobulus (A) yang tidak utuh. Setiap lobulus terdiri dari korteks (4, fS) yang terpulas-gelap dan
medula (+, tZ) yang terpulas-terang. Karena lobulus tidak utut5 medula memperlihatkan kontinuitas di
antaralobulus (+, tZ) yangberdekatan. Pembuluh darah (S, f +) masukke dalam kelenjartimus melalui
kapsuljaringan ikat (l) dan trabekula (2, tO).
Korteks (:, t:) setiap lobulus mengandung limfosit yang tersusun padat yang tidak membentuk
nodulus limfoid. Sebaliknya, medula (+, tZ) mengandung limfosit lebih sedikit tetapi mempunyai
epitheliocytus reticularis (epithelial reticular cell) yang lebih banyak (lihat Gambar 9.7). Medula juga
mengandung banyak corpusculum thymicum (Hassall) (A, O) yang merupakan ciri khas kelenjar
timus.
Histologi kelenjar timus bervariasi bergantung pada usia individu. Kelenjar timus berkembang
mencapai puncaknya segera setelah lahir. Pada saat pubertas, kelenjar timus mulai mengalami involusi
atau menunjukkan tanda-tanda regresi dan degenerasi secara bertahap. Akibatnya, produksi limfosit
menurun, dan corpusculum thymicum (Hassall) (6, 9) menladi lebih menonjol. Selain itu, parenkim
atau bagian selular kelenjar secara bertahap digantikan oleh iaringan ikat (fO) longgar dan sel adiposa
(Z , tt).I(elenjar timus yang terlihat dalam gambar ini memperlihatkan akumulasi jaringan adiposa dan
tanda involusi dini sesuai dengan pertambahan usia.

GAMBAR 9.8 m Kelenjar Timus {Pandangan Seksional)


Irisan kecil korteks dan medula suatu lobulus kelenjar timus diperlihatkan dengan pembesaran yang lebih
kuat. Limfosit-limfosit timus di korteks (t,5) membentuk agregasi padat. Sebaliknya, medula (3)
mengandung lebih sedikit limfosit tetapi lebih banyak epitheliocytus reticularis (2, f O).
Corpusculum thymicum (Hassall) (S, l) adalah struktur lonjong yang terdiri dari agregasi sferis
atau bulat sel-sel epitel gepeng. Corpusculum thymicum juga memperlihatkan pusat kalsifikasi atau pusat
degenerasi (9) yang berwarna merah muda atau eosinofilik. Tidak diketahui fungsi corpusculum ini.
Pembuluh darah (6) dan sel adiposa (4) terlihat di lobulus thymicus dan trabekula (2) jaringan
ikat.
1 Kapsul
ili'r"..

2 Trabekula 8 Lobulus

3 Korteks

9 Corpusculum
thymicum
(Hassall)
10 Jaringan
ikat
trabekula
11 Sel adiposa

12 Medula
(menyatu
di antara
lobulus)

Corpusculum
thymicum 13 Korteks
(Hassall)

Sel adiposa

14 Pembuluh
darah
GAMBAR 9,7 hematoksilin dan eosin Pembesaran
lemah.

5 Korteks (dengan
limfosit timus)

Pembuluh darah
1 Korteks (dengan
limfosit timus) )"'"ii'asj
.3
Epitheliocytus reticularis
2Tr
Corpusculum
3 Medula
4 Sel adiposa i' i!o ot9
l.{z thymicum (Hassall)
Pusat degenerasi
et. corpusculum
*w*t thymicum (Hassall)
10 Epitheliocytus
retrcularis
GAMBAR 9.8 Kelenjar timus (pandangan seksional). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
kuat.
GAMBAR 9.9 ffi Korteks dan Fdedula Kelenjar Tim*s
Fotomikrograf pembesaran lemah memperlihatkan sebagian lobulus kelenjar timus. Jaringan ikat
trabekula (f ) membagi kelenjar menjadi lobuluslobulus tidak utuh. Lobulus terdiri atas korteks (2)
terpulas-lebih gelap dan medula (3) terpulas-lebih terang. Suatu corpusculum thymicum (Hassall)
(+) khas terdapat di bagian tengah medula salah satu lobulus.

Kelenjar timus memiliki peran penting pada masa dini anak-anak dalam perkembangan sistem
imun. Limfosit yang belum berdiferensiasi dibawa dari sumsum tulang oleh aliran darah ke kelenjar
timus. Di sebagian besar kofteks timus, epitheliocytus reticularis (epithelial reticular cell), yang
juga disebut cellula nutricia thymocytorum (thymic nurse cell), mengelilingi limfosit dan men-
dorong diferensiasi, proliferasi, dan pematangannya. Di sini, limfosit mengalami proses pematang-
an menjadi sel T imunokompeten, sel T penolong, dan sel T sitotoksik, sehingga limfosit mem-
peroleh reseptor permukaan untuk mengenali antigen. Selanjutnya, limfosit yang sedang
berkembang dicegah dari pajanan terhadap antigen darah oleh sawar darah-timus (ctaustrum
haematothymicum), yang dibentuk oleh sel endotel, epitheliocytus reticularis, dan makrofag.
Makrofag di luar kapiler memastikan bahwa bahan-bahan yang diangkut di dalam pembuluh darah
tidak berinteraksi dengan sel T yang sedang berkembang di korteks dan memicu respons otoimun
terhadap sel atau jaringan tubuh sendiri. Setelah matang, sel T meninggalkan kelenjar timus mela-
Iui aliran darah dan menempati limfonodus, limpa, dan jaringan limfe dependen-timus lainnya.
Pematangan dan pemilihan sel T di dalam kelenjar timus adalah suatu proses yang sangat
rumit yang mencakup seleksi positif dan negatif sel T. Hanya sebagian kecil limfosit yang dihasilkan
di kelenjar timus mengalami pematangan. Seiring dengan proses pematangan di korteks, sel-sel
dihadapkan pada antigen-diri dan asing oleh sel penya.ii-antigen. Limfosit yang tidak mampu
mengenali atau mengenali antigen-diri akan mati dan dieliminasi oleh makrofag (seleksi negatifl,
yaitu sekitar 95% dari limfosit total. Limfosit yang mengenali antigen asing (seleksi positifl meng-
alami pematangan, masuk ke medula dari kofteks, dan kemudian disebarkan ke aliran darah.
Selain membentuk sawar darah-timus, epitheliocytus reticularis menyekresi hormon yang
berguna untuk proliferasi, diferensiasi, dan pematangan sel T dan ekspresi penanda permukaan-
nya. Hormon-hormon tersebut adalah timulin, timopoietin, timosin, thymic humoral factor,
interleukin, dan interferon. Epitheliocytus reticularis juga membentuk gelungan yaitu corpuscu-
lum thymicum (Hassall) di medula kelen.iar, yang merupakan ciri khas dalam mengidentifikasi
timus.
Kelenjar timus mengalami involusi setelah pubeftas, menjadi terisi oleh jaringan adiposa, dan
produksi sel T berkurang. Namun, karena turunan sel T telah terbentuk, imunitas dapat
dipertahankan tanpa membutuhkan pembentukan sel T baru. Jika kelenjar timus diangkat sejak
bayi baru lahir, organ-organ limfoid tidak menerima sel T imunokompeten dan yang bersangkutan
tidak mendapatkan kemampuan imunologik untuk melawan patogen. Kematian dini dapatterjadi
akibat penyulit infeksi dan ketiadaan sitem imun fungsional.
Jaririgan
ikat trabekula

GAMBAR 9.9 Korteks dan medula kelenjar timus. Pulasan: hematoksilin dan eosin. 30 x.
GAMBAR 9.10 ffi Limpa {Pandangan lVtenyeluruh)
Limpa dibungkus oleh sebuah kapsul (l) jaringan ikat padat, yang menjulurkan jaringan ikat trabekula
(S, S, r r ) ke bagian dalam limpa. Trabekula utama memasuki limpa di hilus dan meluas ke seluruh organ.
Padatrabekula (3,5, 11) terdapatarteritrabekularis (5b) danvenatrabekularis (Sa). Trabekulayang
terpotong melintang ( t t ) tampak bulat atau nodular dan mengandung pembuluh darah.
Limpa ditandai oleh adanya agregasi nodulus limfoid (+,6) yangbanyak. Nodulus ini membentuk
pulpa putih (+' A). Nodulus limfoid (+, 6) iuga mengandung pusat germinal (8, 9) yang jumlahnya
berkurang seiring bertambahnya umur. Arteri sentralis (2, Z, to) yang berada di pinggir nodulus lim-
foid melewati setiap nodulus limfoid (+, 6). Arteri sentralis (2, Z, tO) adalah cabang arteri trabekularis
(Sb) yang diselubungi oleh jaringan limfe saat meninggalkan jaringan ikat trabekula (3, S, 11). Selubung
limfe periarterial ini juga membentuk nodulus limfoid (+,6) yangmembentuk pulpa putih limpa.
Di sekitar nodulus limfoid (+, 6) danbercampur dengan jaringan ikat trabekula (3, S, l l) terdapat
anyaman selular difus yang membentuk bagian terbesar organ. Anyaman secara kolektif ini membentuk
pulpa merah (tz, tZ) atau pulpa limpa. Pada sediaan baru, pulpa merah berwarna merah karena banyak
jaringan vaskular. Pulpa merah (tz, tZ) juga mengandung arteri pulpa (r4), sinus venosus (r3) dan
korda limpa (Billroth) ( rz). Korda limpa ( 12) ini tampak sebagai untaian difus jaringan limfe di antara
sinus venosus ( tA) dan membentuk anyaman longgar jaringan ikat retikular, yang biasanya tertutup oleh
densitas jaringan lainnya.
Limpa tidak memperlihatkan adanya korteks dan medula yang jelas, seperti pada limfonodus.
Namun, nodulus limfoid (4,6) terdapat di seluruh bagian limpa. Selain itu, limpa mengandung sinus
venosus (13), berbeda dari sinus limfatikus di limfonodus. Pada limpa juga tidak ditemukan sinus
subkapsularis maupun sinus trabekularis. Kapsul (t) dan trabekula (3, S, tt) pada limpa lebih tebal
daripada yang ada di limfonodus dan mengandung sedikit sel otot polos.

GAMBAR 9.11 ffi Lirnpa: Pulpa Merah dan Pulpa Putih


Pembesaran lebih kuat sebagian limpa ini memperlihatkan pulpa merah dan putih dengan struktur terkait
yaitu jaringan ikat trabekula, pembuluh darah, sinus venosus, dan korda limpa.
Nodulus limfoid (3) besar merupakan bagian pulpa putih limpa (pulpa alba). Setiap nodulus
umumnya memiliki zona perifer, selubung limfe periarterial, dengan limfosit kecil yang tersusun padat.
Arteri sentralis (4) di nodulus limfoid (3) terletak di pinggir atau eksentrik. Karena arteri menempati
bagian tengah selubunglimfe periarterial, arteri ini disebut arteri sentralis. Sel-sel di dalam selubunglimfe
periarterial terutama adalah limfosit T. Pusat germinal (S) tidak selalu ada. Pada pusat germinal (5)
yang terpulas lebih pucat ditemukan limfosit B, banyaklimfosit ukuran-sedang, sedikit limfosit kecil, dan
limfoblas.
Pulpa merah (pulpa rubra) mengandung korda limpa (nilroth) (r, s) dan sinus venosu s (z,l)
yang terdapat di antara korda. Korda limpa (1, 8) adalah agregasi tipis jaringan limfe yang mengandung
limfosit kecil, sel terkait, dan macam-macam sel darah. Sinus venosus (2,9) adalahpembuluh melebar
yang dilapisi oleh endotel modifikasi pada sel-sel memanjang yang terlihat kuboid pada potongan
melintang.
Di dalam pulpa merah juga terdapat arteri pulpa (f O) yang merupakan cabang arteri sentralis (4)
setelah keluar dari nodulus limfoid (a).;uga terdapat kapiler dan vena (venula) pulpa.
Jaringan ikat trabekula dengar. arteri trabekutaris (6) dan vena trabekularis (7) tampak jeias.
Pembuluh ini memiliki tunika intima endotelial, dan tunika media muskular. Tunika adventisia jaringan
ikat tidak jelas karena jaringan ikat trabekula mengelilingi tunika media.
1 Kapsul

2 Arteri sentralis

3 Trabekula
4 Nodulus limfoideus
(pulpa putih) 9 Pusat germinal

10 Arteri sentralis

11 Trabekula
12 Korda limpa
(di dalam pulpa
merah)
13 Sinus venosus
(di dalam pulpa
6 Nodulus limfoideus merah)
(pulpa putih)

14 Arteri pulpa
7 Arteri sentralis
8 Pusat germinal
j.'lr:itl-
f.d#
'{#;i;'1":
GAMBAR 9.10 Limpa (pandangan menyeluruh). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.

'l Korda limpa


7 Vena trabekularis

2 Sinus venosus 8 Korda limpa


3 Nodulus limfoideus

4 Arteri sentralis

5 Pusat germinal

9 Sinus venosus

10 Arteri pulpa
b,s i-il
i.:ii,Sri
r\' '
6 Arteri trabekularis i{.:
GAMBAR 9.11 Limpa: pulpa merah dan pulpa putih. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
sedang.
GAMBAR 9"12 # Pulpa Fd*rah dan Fufpa Fi"rtih Limpa
Fotomikrograf pembesaranlemah memperlihatkan potongan limpa. Sebuah kapsul jaringan ikat (l)
padat tidakteratur membungkus limpa. Dari kapsul (1), iaringan ikat trabekula (3) dengan pembuluh
darah meluas ke dalam organ. Limpa terdiri atas pulpa putih dan pulpa merah. Pulpa putih (2) terdiri
atas limfosit dan agregasi nodulus limfoid (Za). Ol dalam nodulus limfoid terdapat pusat germinal
(2b) dan sebuah arteri sentralis (2c) yang tidakterletak di tengah. Di sekelilingpulpaputih (2) terdapat
pulpa merah (+) yang terutama terdiri atas sinus venosus (+a) dan korda limpa (4b).

l-impa (lien) adalah organ limfoid terbesar dengan pembuluh darah ekstensif. Limpa menyaring
darah dan merupakan tempat respons imun terhadap antigen-antigen di darah. Limpa terdiri dari
pulpa merah dan pulpa putih. Pulpa merah (pulpa rubra) terdiri dari anyaman padat serat retikular
yang mengandung banyak eritrosit, limfosit, sel plasma, makrofag, dan granulosit lainnya. Fungsi
utama pulpa merah adalah menyaring darah. Bagian ini membersihkan antigen, mikroorganisme,
trombo.sit, dan.eritrosit tua atau abnormal dari darah.
Pulpa putih (putpa alba) adalah komponen imun Iimpa dan terutama terdiri dari jalngan
limfe. Sel-sel limfe yang mengelilingiarterisentralis pulpa putih terutama adalah selT, seiangfan
nodulus limfoid terutama mengandung sel B. Sel penyajl-antigen dan makrofag terdapat di diam
pulpa putih. Sel-sel ini mendeteksi bakteri dan antigen yang terperangkap dan memicu respons
imun untuk melawannya. Akibatnya, sel T dan sel B berinteraksi, menjadi aktif, berproliferasi, dan
melakukan respons imunnya.
Makrofag di limpa juga menguraikan hemoglobin dari eritrosit tua. Besi dari hemoglobin
didaur ulang.dan djkembalikan.ke sumsum tulang, tempat besi tersebut digunakan lagi untuk
menyintesis hemoglobin baru oleh eritrosit yang sedang berkembang. Heme dari hemoglobin
diuraikan lebih lanjut dan diekskresikan ke dalam empedu oleh sel hati.
Semasa kehidupan janin, limpa adalah organ hemopoietik, menghasilkan granulosit dan
eritrosit. Namun, kemampuan hemopoietik ini menurun setelah lahir. Limpa juga berfungsi
sebagai reservoir darah yang penting. Karena mikrostrukturnya mirip-spons, banyak darah dapat
ditampung di dalamnya. Bila diperlukan, darah simpanan itu dikembalikan dari limpa ke sirkuiasi
umum. Meski melaksanakan berbagai fungsi penting tubuh, namun limpa tidak penting untuk
kehidupan.

GAMBAR 9.13 m Torisila Faiatina


Tonsila palatina yang berpasangan merupakan agregat nodulus limfoid yang terletak di rongga mulut.
Tonsila palatina tidak dibungkus oleh kapsul jaringan ikat. Akibatnya, permukaan tonsila palatina dilapisi
oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk (f, 6) yang juga melapisi bagian mulut lainnya.
Masing-masing tonsila memiliki alur-alur yang dalam yaitu kriptus tonsil (crlpta tonsillae) (3, 9) yang
juga dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk ( 1, 6).
Di bawah epitel (1, 6) dalam jaringan ikat terdapat banyak nodulus limfoid (1,) yangtersebar di
sepanjang kriptus tonsil (3, 9). Nodulus hmfoid (2) sering menyatu dengan yang lain dan biasanya
memperlihatkan pusat germinal (7) yang berwarna-lebih muda.
Di bawah tonsila palatina terdapat jaringan ikat padat dan membentuk kapsul (+, tO). Dari kapsul
terbentuk jaringan ikat trabekula dengan pembuluh darah (S). Jaringan ikat ini meluas ke arah
permukaan tonsil di antara nodulus-nodulus limfoid (2).
Di bawah kapsul jaringan ikat ( tO) terdapat potongan serat otot rangka (S).
Jaringan ikat
trabekula

2 Pulpa putih :
a Nodulus Pulpa merah :
Iimfoideus a. Sinus venosus

b Pusat germinal b. Korda limpa

c Arteri sentralis

GAMBAR 9.12 Pulpa merah dan pulpa putih limpa. Pulasan: Mallory-Azan.21x.

1 Epitel berlapis 6 Epitel berlapis gepeng


gepeng tanpa tanpa lapisan tanduk
lapisan tanduk
7 Pusat germinal

2 Nodulus limfoideus

8 Trabekula dengan
pembuluh darah

3 Kriptus tonsil 9 Kriptus tonsil

4 Kapsul

1 0 Kapsul

5 Otot rangka

GAMBAR 9.13 Tonsila palatina. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.
BAB I Ringkasan
Sistem Limfe
o Mengumpulkan kelebihan cairan interstisial
o Melindungi organisme dari patogen atau antigen dengan menghasilkan respons imun
o Mencakup semua sel, jaringan, dan organ yang mengandung limfosit
o Organ utama adalah limfonodus, limpa, timus, dan tonsil.

Organ Limfoid
Limfonodus
r Terdistribusi di sepanjang pembuluh limfe
. paling menonjol di daerah inguinal dan aksila
r Dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat yang membentuk trabekula ke bagian dalam
o Pembuluh limfe aferen dengan katup menembus kapsul dan masuk ke sinus subkapsularis
o Pembuluh darah utama terdapat di jaringan ikat trabekula
o Memperlihatkan korteks yang terpulas-gelap dan medula yang terpulas-terang
r Korda medularis di medula mengandung sel plasma, makrofag, dan limfosit
o Sinus medularis adalah saluran kapiler yang mengalirkan limfe dari daerah kortikalis
r Pembuluh limfe eferen mengalirkan limfe dari sinus medularis keluar melalui hilus
o Bagian yang lebih dalam di korteks adalah parakorteks, yang ditempati oleh sel T
o Fungsi utama adalah filtrasi limfe dan fagositosis benda asing dari limfe
o Menghasilkan, menyimpan, dan mengedarkan sel B dan sel T
o Sel B terakumulasi di nodulus limfoid
o Sel T terkonsentrasi di daerah korteks dalam dan parakorteks
r Aktivasi sel B menghasilkan sel plasma dan sel B pengingat
r Sel B dan T masuk ke limfonodus melalui venula pascakapiler
o Venula pascakapiler mengandung lymphocyte-homingreceptor dan altoendothelialis.

Nodulus limfoid
o Mengandung limfosit tidak berkapsul yang terkumpul di korteks
o Zonaperifer berwarna gelap karena akumulasi limfosit kecil
o Bagian tengah lebih terang adalah pusat germinal dengan limfosit ukuran-sedang

Sel Limfoid
o Berasal dari sel induk hematopoietik di sumsum tulang

Limfosit T (sel T)
o Limfosit yang terstimulasi menghasilkan sel B dan sel T
r Sel T berasal dari limfosit yang meninggalkan sumsum tulang dan mengalami proses pematangan di keleniar timus
o Setelah matang, sel T terdistribusi ke semua jaringan dan organ limfoid
o Jika bertemu dengan antigen, sel T menghancurkannya dengan efek sitotoksik atau deqgan mengaktifkan sel B
o Empat jenis sel T yang telah berdiferensiasi: sel T penolongr sel T sitotoksilg sel T pengingat, dan sel T penekan
o Sel T penolong mengeluarkan sitokin atau interleukin jika bertemu dengan antigen
. Sitokin merangsang sel B untukberdiferensiasi menjadi sel plasma dan menyekresi antibodi
o Sel T sitotoksik menyerang dan menghancurkan sel yang terinfeksi-virus, sel asing, atau sel ganas
r Sel T pengingat adalah turunan sel T yang berumur panjang dan berespons terhadap antigen yang sama
r Sel T penekan menghambat fungsi sel T penolong
o Pematangan sel T merupakan proses yang sangat rumit, melibatkan seleksi positif dan negatif

218
o Sebagian besar sel T mengenali antigen-diri dan mati (seleksi negatif)
o Sel T yang mengenali antigen asing mengalami pematangan dan masuk ke aliran darah (seleksi positif)

Limfosit B (Sel B)
o Sel B mengalami pematangan dan tetap berada di sumsum tulang, kemudian berpindah ke jaringan dan organ
limfoid
o Mengenali antigen karena memiliki reseptor antigen di membran sel dan menjadi aktif
o Berespons lebih kuat jika antigen disajikan oleh sel T penolong ke sel B
o Sitokin yang disekresikan oleh sel T penolong meningkatkan proliferasi sel B teraktivasi
o Sel B mengeluarkan antibodi dan menghancurkan bahan asing
o Sel B aktif lainnya tetap sebagai sel B pengingat untuk pertahanan di masa mendatang terhadap.antigen yang sama

Sel Lainnya dalam Respons lmun


. LymPhocytus K menyerang sel yang terinfeksi oleh virus dan sel kanker
. Sel penyaji-antigen memfagositosis dan menyajikan antigen ke sel T untuk respons imun
o Makrofag jaringan ikat misalnya sel perisinusoidalis di hati, sel Langerhans di kulit, dan organ lainnya

fenis Respons lmun


Respons lmun yang Diperantarai-Sel
r Sel T yang dirangsang oleh antigen mengeluarkan berbagai sitokin yang merangsang limfosit lainnya
o Sel T sitotoksik menghasilkan protein perforin yang melubangi sel sasaran atau memicu apoptosis

Respons lmun Humoral


r Terpajannya sel B pada antigen memicu proliferasi dan pembentukan sel plasma
o Sel plasma menghasilkan antibodi untuk menghancurkan bahan asing spesifik
o Sel T penolong bekerja sama dan menghasilkan sitokin

Limpa
o Organ limfoid terbesar dengan pembuluh darah ekstensif; menyaring darah dan berfungsi sebagai reservoir darah
o Dikelilingi oleh kapsul jaringan ikat yang membagi menjadi kompartemen-kompartemen yaitu pulpa limpa
o Pulpa putih terdiri dari nodulus limfoid dengan pusat germinal di sekitar arteri sentralis
o Pulpa merah terdiri dari korda limpa dan sinusoid (darah) limpa
o Korda limpa mengandung makrofag, limfosit, sel plasma, dan macam-macam sel darah
o Tidak memperlihatkan korteks dan medula, tetapi mengandung nodulus limfoid
o Pulpa putih adalah tempat respons imun terhadap antigen di dalam darah
o Sel T mengelilingi arteri sentralis, sedangkan sel B terutama di nodulus limfoid
. Sel penyaji-antigen dan makrofag ditemukan di pulpa putih
o Memecah hemoglobin dari eritrosit tua dan mendaur ulang besi ke sumsum tulang
o Menguraikan heme dari hemoglobin, yang kemudian diekskresikan di empedu
o Semasa kehidupan janin berperan penting sebagai organ hemopoietik

Kelenjar Timu*
o Organ limfoepitelial berlobus dengan korteks terpulas-gelap dan medula terpulas-terang
. Paling aktif pada masa anak-anak dan berperan penting dalam perkembangan sistem imun
o Tempat limfosit tidak matang dari sumsum tulang menjalani proses pematangan menjadi sel I sel T penolong, dan
sel T sitotoksik
o Cellula nutricia thymocytorum (thymic nurse ceII ) mendorong diferensiasi, proliferasi, dan pematangan limfosit
n

a Sawar darah-timus mencegah limfosit yang sedang berkembang terpajan terhadap antigen dalam darah
a Mengeluarkan sel T matang untuk mendiami limfonodus, limpa, dan jaringan limfe
a Epitheliocytus reticularis menyekresi hormon yang diperlukan untukpematangan limfosit
a Epitheliocytus reticularis membentuk corpusculum thymicum (Hassall) di medula
a Mengalami involusi dan terisi oleh jaringan lemak seiring dengan pertambahan usia
a Pengangkatan pada usia dini mengakibatkan hilangnya kemampuan imunologik.
Porus sudorifer

Glandula sudorifera eccrina

Glandula sudorifera apocrina


Vena
Neruus
Arteria -

Folliculus pili

Tela
subcutanea
Kulit tipis

Adipocytus

l\4usculus
Glandula
arrector pili
sebacea

Stratum Porus
corneum sudorifer Corpusculum tactile
(Badan N,/leissner)
Kulit tebal

Stratum basale

l\,4embrana
basalis

Papillae
Cristae cutis

Glandula sudorifera eccrina

Vena

Nervus
Arteria -

Corpusculum
lamellosum
ff Ji|x,,""""

Adipocytus
(Badan
Pacini)

GAMBARAN UMUM 1O Perbandingan antara kulit tipis di lengan dan kulit tebal di telapak tangan,
termasuk isi jaringan ikat dermis.

222
Sistem Integumen
Kulit dan derivatif serta apendiksnya (adneksa) membentuk sistem integumen. Pada manusia, derivatif
kulit mencakup kuku, rambut, dan beberapa jenis kelenjar keringat dan sebasea. Kulit, atau integumen,
terdiri atas dua daerah berbeda, yaitu epidermis di sebelah luar dan dermis di sebelah dalam. Epidermis
adalah lapisan nonvaskular yang dilapisi epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk dengan jenis
dan lapisan sel berbeda-beda. Dermis terletak tepat di bawah epidermis dan ditandai oleh jaringan ikat
padat tidak teratur. Di bawah dermis terdapat hipodermis atau lapisan subkutis (tela subcutanea)
jaringan ikat dan jaringan adiposa yang membentuk fasia superfisial yang tampak secara anatomis.

Epidermis; Kulit Tebal vs Tipis


Histologi dasar kulit di berbagai bagian tubuh serupa, kecuali ketebalan epidermis. Telapak tangan dan
kaki secara terus menerus terpapar terhadap gesekan, tarikan, dan abrasi. Akibatnya, epidermis di daerah
ini tebal, terutama lapisan terluar yaitu lapisan bertingkat keratin. Kulit di daerah ini disebut kulit tebal.
Kulit tebal juga mengandung banyak keleniar keringat (glandula sudorifera), namun tanpa folikel
rambut, kelenjar sebasea, atau serat otot polos.
Sisa permukaan tubuh lainnya ditutupi oleh kulit tipis. Di daerah ini, epidermis lebih tipis, dan
komposisi selnya lebih sederhana daripada kulit tebal. Pada kulit tipis terdapat folikel rambut (folliculus
pili), keleniar sebasea (glandula sebacea), dan keleniar keringat. Pada selubung jaringan ikat folikel
rambut dan jaringan ikat dermis melekat serat otot polos, disebut arrector pili. Yang juga melekat pada
folikel rambut adalah kelenjar sebasea (Gambaran Umum 10).
Selain keratinosit yang mengalami keratinisasi di epitel epidermis juga mengandung tiga jenis sel
yang jumlahnya lebih sedikit. Sel-sel ini adalah melanosit (melanocytus), sel Langerhans, dan sel
Merkel.

Dermis: Stratum Papillare dan Reticulare


Dermis adalah lapisan jaringan ikat yang mengikat epidermis. Epidermis dan dermis dipisahkan oleh
membrana basalis yang jelas. Selain itu, dermis juga mengandung derivatif epidermal misalnya kelenjar
, keringat, kelenjar sebasea, dan folikel rambut.
Pertemuan epidermis dan dermis merupakan lapisan yang tidak rata. Lapisan superfisial di dermis
membentuk banyak tonjolan ke atas yaitu papillae, yang saling menjalin dengan evaginasi epidermis,
disebut cristae catis (epidermal ridges). Bagian kulit inl adalah stratum papillare dermis. Lapisan ini
terdiri atas jaringan ikat longgar tidak teratur, kapiler, pembuluh darah, fibroblas, makrofag, dan sel
jaringan ikat longgar lainnya.
Lapisan dermis yang lebih dalam adalah stratum reticulare. Lapisan ini lebih tebal dan ditandai
oleh serat jaringan ikat padat tidak teratur (terutama kolagen tipe I), dan kurang selular dibandingkan
dengan stratum papillare. Tidak terdapat batas yang jelas antara kedua lapisan dermis, dan stratum
papillare menyatu dengan stratum reticulare. Dermis juga menyatu di sebelah inferior dengan hipo-
dermis atau lapisan subkutis, yang terdapat fasia superfisial dan jaringan adiposa.

223
Sel fplil*rn.lis
Terdapat empat jenis sel di epidermis kulit, dengan keratinosit sebagai sel dominan. Keratinosit
membelah, tumbuh, brergerak k:.u,i:,dan mengalami keratinisasiatau kornifikasi, dan membentuk
lapisan epidermis protektif bagi kulit. Epidermis terdiri dari epitel berlapis gepeng dengan lapisan
tanduk. Terdapat jenis sel lainnya yang lebih sedikitdiepidermis. Sel-sel iniadalah melanosit, sel
Langerhans, dan sel Merkel, yang terselip di antara keratinosit di epidermis. Di kulit tebal, dapat
dikenali adanya lima lapisan sel.

Lapisan Sei fpiiler"nri-.


Stratum Basal (Germinativum)
Stratum basal (stratum basale) adalah lapisan paling dalam atau dasar di epidermis. Lapisan ini
terdiri dari satu lapisan sel kolumnar hingga kuboid yang terletak pada membrana basalis yang
memisahkan dermis dari epidermis. Sel-sel melekat satu sama lain melalui taut sel yang disebut
desmosom, dan pada membrana basalis di bawahnya melalui hemidesmosom. Sel di stratum
basal berfungsi sebagai sel induk bagi epidermis; karena itu, di lapisan ini banyak ditemukan
aktivitas mitosis. Sel membelah dan mengalami pematangan sewaktu bermigrasi ke atas menuju
lapisan superfisial. Semua sel di stratum basal menghasilkan dan mengandung filamen keratin
intermediat (filamentum keratini) yang meningkat jumlahnya sewaktu sel bergerak ke atas.
Stratum Spinosum
Sewaktu keratinosit bergerak ke atas di epidermis, terbentuk lapisan sel kedua atau stratum
spinosum. Lapisan ini terdiri dari empat sampai enam tumpukan sel. Pada sediaan histologik rutin,
sel di lapisan ini menciut. Akibatnya, ruang interselular memperlihatkan banyak lonjolan
sitoplasma, atau spina tduri), yang keluardari permukdannya. Duri-duri ini mencerminkan tempat
desmosom melekat pada berkas filamen keratin intermediat, atau tonofilamen, dan sel sekitar.
Pemtrentukan filamen keratin berlanjut di lapisan ini yang kemudian tersusun membentuk berkas
tonofilamen (tonofilamentum). Tonofilamen mempertahankan kohesi di antara sel dan
menghasilkan resistensi terhadap abrasi epidermis.
Stratum Granulosum
Sel-sel di atas stratum spinosum kemudian terisi oleh granula keratohialin (granula keratohyalini)
basofilik dan membentuk lapisan ketiga, stratum granulosum. Lapisan ini dibentuk oleh tiga
sampai lima lapisan sel gepeng. Cranula tidak dibungkus oleh membran dan berkaitan dengan
berkas tonofilamen keratin. Kombinasi tonofilamen keratin dengan granula keratohialin di sel ini
menghasilkan keratin. Keratin yang dibentuk dengan cara ini aditah keratin lunak kulit. Selain itu,
sitoplasma sel mengandung granula lamellosum terbungkus-membran yang dibentuk oleh lapis-
ganda lemak. Cranula lamellosum dikeluarkan ke dalam ruang interselulai stratum granulosum
sebagai lapisan lemak dan menutupi kulit. Proses ini menyebabkan kulit relatif impermeabel
terhadap air.
Stratum Lusidum
Stratum lusidum (stratum lucidum) yang translusen dan kurang jelas hanya dapat ditemukan di
kulit tebal; Iapisan ini terletak tepat di dtas strdtum granulosum dan di bawah stratum korneum.
Sel-selnya tersusun rapat dan tidak memiliki nukleui atau organel dan telah mati. Sel-sel gepeng
ini mengandung filamen keratin yang padat.
Stratum Korneum
Stratum korneum (stratum corneum) adalah lapisan kulit kelima dan paling luar. Semua nukleus
dan organel telah lenyap dari sel. Stratum korneum terutama terdiri dari sel mati yang gepeng
berisifilamen keratin lunak. Sel superfisial berkeratin di lapisan ini secara terus menerus dilepaskan
atau mengalami deskuamasi serta diganti oleh sel baru yang muncul dari stratum basal di sebelah
dalam. Selama proses keratinisasi, enzim-enzim hidrolitik merusak nukleus dan organel sitoplasma,
yang kemudian lenyap ketika sel terisi oleh keratin.
Jaringan ikat dermis mengandung banyak pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Bagian kulit
tertentu menunjukkan anastomosis arteriovenosa yang digunakan untuk pengaturan suhu. Di sini,
darah mengalir langsung dari arteri ke dalam vena. Selain itu, dermis mengandung banyak reseptor
sensorik. Corpusculum tactile (Meissner) berada di dekat permukaan kulit di papillae, sementara
corpusculum lamellosum (Pacinian corpuscle) ditemukan lebih dalam di jaringan ikat dermis
(GambaranUmum 10).

$el Kulit !-ainnya


Selain keratinosit, epidermis mengandung tiga jenis sel lain: melanosit, sel Langerhans, dan sel Merkel.
Sel-sel ini biasanya tidak dapat dibedakan pada preparat hematoksilin dan eosin kecuali jika dipersiapkan
dengan pewarnaan khusus.
Melanosit berasal dari sel krista saraf. Sel ini memiliki juluran sitoplasma yang tidak teratur dan
bercabang ke dalam epidermis. Melanosit terletak antara stratum basal dan stratum spinosum epidermis
dan menyintesis pigmen coklat tua melanin. Melanin dibentuk dari asam amino tirosin oleh melanosit.
Granula melanin di melanositbermigrasike tonjolan-tonjolan sitoplasmanya, dan kemudian dipindahkan
ke dalam keratinosit di lapisan basal epidermis. Melanin memberi warna gelap pada kulit, dan pemaparan
kulit terhadap sinar matahari merangsang pembentukan melanin. Fungsi melanin adalah melindungi
kulit dari efek radiasi ultraviolet yang merusak.
Sel Langerhans terutama ditemukan di stratum spinosum. Sel ini berperan dalam respons imun
tubuh. Sel Langerhans mengenal, memfagosit, dan memproses antigen asing dan menyajikannya pada
limfosit T untuk memicu respons imun. Karena itu, sel ini berfungsi sebagai sel penyaji-antigen kulit.
Sel Merkel ditemukan di lapisan basal epidermis dan paling banyak di ujung jari. Karena sel ini
berhubungan erat dengan akson aferen (sensorik) tidak bermielin, sel ini diduga berfungsi sebagai
. mekanoreseptor untuk mendeteksi tekanan.

Fungsi l-Jtama K:rlit


Kulit berkontak langsung dengan lingkungan luar. Akibatnya, kulit melakukan banyak fungsi penting,
yang sebagian besar bersifat protektif.

f-re,r i i nr! i, r, :;ar-t

Epitel berlapis dengan lapisan tanduk melindungi permukaan tubuh terhadap abrasi mekanik dan
membentuk sawar fisik terhadap patogen atau mikroorganisme asing. Karena adanya lapisan glikolipid
di antara sel-sel stratum granulosum, epidermis juga tidak permeabel terhadap air. Lapisan ini juga
mencegah hilangnya cairan tubuh melalui dehidrasi. Peningkatan sintesis pigmen melanin melindungi
kulit dari radiasi ultraviolet.

,'* .1..,'-;' - .l r

Latihan fisik atau lingkungan yang panas meningkatkan proses berkeringat. Mekanisme ini memung-
kinkan hilangnya sebagian panas tubuh melalui penguapan keringat dari permukaan kulit. Selain
berkeringat, termoregulasi juga melibatkan dilatasi pembuluh darah untuk memungkinkan aliran darah
maksimum ke kulit. Fungsi ini juga meningkatkan pengeluaran panas. Sebaliknya, di daerah dingin, panas
tubuh dipertahankan dengan konstriksi pembuluh darah dan penurunan aliran darah ke kulit.

f-r+:r,s*psr Scrrse.r ri k
Kulit adalah organ sensorikbagi lingkungan luar. Banyak uiung sarafsensorik terbungkus dan bebas
di dalam kulit berespons terhadap suhu (panas dan dingin), sentuhan, nyeri, dan tekanan.

Ikskresi
Melalui pembentukan keringat oleh kelenfar keringat, air, larutan garam, urea dan produk sisa ber-
nitrogen dapat diekskresikan melalui permukaan kulit.
Pembentukan Vitamin D
Bila kulit terpapar sinar ultraviolet dari matahari, akan terbentuk vitamin D dari molekul prekursor
yang disintesis di dalam epidermis. Vitamin D diperlukan untuk absorpsi kalsium dari mukosa usus dan
metabolisme mineral yang memadai.

GAMBAR 10.1 ffi Kulit Tipis


Gambar ini memperlihatkan irisan kulit tipis dari permukaan tubu[ tempat gesekan dan tarikan mini-
mal. Untuk membedakan antara komponen selular dan jaringan ikat kulit, digunakan pulasan khusus.
Dengan pulasan ini, serat kolagen komponen jaringan ikat berwarna biru dan komponen selular ber-
warna merah terang.
Kulitterdiriatasdualapisanutama:epidermis(rO)dandermis(f4).Epidermis(10) adalahlapis-
an sel superfisial dengan beragam jenis sel. Dermis (t+),
yang terletak tepat di bawah epidermis ( 10),
mengandung serat jaringan ikat dan komponen selular yang berasal dari epidermis.
Pada kulit tipis, epidermis (tO) memperlihatkan epitel berlapis gepeng dan selapis tipis sel ber-
keratin yaitu stratum korneum (f ). Sel paling superfisial di stratum korrieum (1) secara terus menerus
terlepas atau mengalami deskuamasi dari permukaan. Stratum korneum (1) kulit tipis juga jauh lebih
tipis dibandingkan yang terdapat di kulit tebal, yang stratum korneumnya jauh lebih tebal. Dalam gambar
ini, beberapa barisan sel poligonal terlihat di epidermis (tO). Sel-sel ini membentuk stratum spinosum
(2).
Daerah yang sempit di jaringan ikat padat tidak teratur dan terpulas-lebih terang tepat di bawah
epidermis (10) adalahstratumpapillare (f f ) dermis. Stratumpapillare (tt) menimbulkanindentasidi
dasar epidermis untuk membentuk papillae (3). Stratum reticulare (fZ) yang terletak lebih dalam
membentuk bagian terbesar dermis ( t+) dan terdiri dari jaringan ikat padat tidak teratur. Sebagian kecil
hipodermis (t3), daerah superfisial jaringan lemak (9) subkutis di bawahnya, juga tampak di sini.
Adneksa kulit, misalnya keleniar keringat (7) dan folikel rambut (8), berkembang dari epidermis
(tO) dan terletak di dermis (t+). Kelenlar keringat dijelaskan secara lebih rinci di Gambar 10.3. Bagian
ujung folikel rambut (S) yang tampak melebar pada potongan memanjang adalah bulbus rambut
(bulbus pili) (8a). Dasar bulbus rambut (8a) terindentasi oleh jaringan ikat untuk membentuk papilla
dermalis pili (Sb). Di dalam setiap papilla dermalis pili (Sb) terdapat anyaman kapiler yang berguna
untuk mempertahankan folikel rambut. Seberkas tipis otot polos, musculus arrector pili (5), melekat
pada folikel rambut (a). fontet rambut (8) luga berkaitan dengan banyak keleniar sebasea (6).
Di stratum reticulare dermis ( t+) dltemukan contoh potongan melintang kelenjar keringat (Z) yang
bergelung. Bagian memanjang kelenjar keringat (Z) yangberlanjut ke permukaan kulit adalah bagian
duktusekskretorikkeleniarkeringat (+,la).Bagiankelenjarkeringatyanglebihsirkulardanterletak
lebih dalam adalah bagian sekretorik (Zb) kelenlar keringat.
1 Stratum korneum
2 Stratum spinosum 10 Epidermis

3 Papilla 11 Stratum
dermalis pili papillare
4 Duktus kelenjar
keringat
5 Musculus arrector pili

6 Kelenjar sebasea

7 Kelenjar keringat : 14 Dermis


a. Bagian duktus
12 Stratum
b. Bagian sekretorik
reticulare
u:$
tr,

8 Folikel rambut :

a. Bulbus
b. Papilla dermalis pili

9 Jaringan adiposa
13 Hipodermis

GAMBAR 10.'l Kulit tipis: epidermis dan isi dermis. Pulasan: trikrom Masson (pulasan biru).
Pembesaran lemah.
GAMBAR 10.2 ffi Kulit Kepala
Irisan kulit tipis kepala dengan pembesaran-lemah ini diproses dengan pulasan histologik rutin. Sediaan
ini memperlihatkan epidermis dan dermis, dan sejumlah derivatif kulit di jaringan ikat yang lebih dalam.
Epidermis terpulas lebih gelap daripada jaringan ikat dermis di bawahnya. Di epidermis tampak lapisan
sel stratum korneum (1) dengan pengelupasan sel-sel superfisial; stratum spinosum (2); danlapisan
sel basal, stratum basal (3) dengan granula (pigmen) melanin (3) coklat.

Jaringan ikat papillae (4) membentuk indentasi di bagian bawah epidermis. Stratum papillare yang
tipis berada tepat di bawah epidermis. Stratum reticulare (rz) yang lebih tebal, berada sediklt di bawah
epidermis s)mpal lapisan subkutis (8), dengan iaringan adiposa (S). Oi bawah lapisan subkutis (8)
terdapat serat otot rangka (9) yang terpotong dalam bidang transversal dan longitudinal.
Folikel rambut (te) di kullt kepala sangat banyak, berhimpitan, dan terletak miring terhadap
permukaan kulit. Pada gambar tampak potongan memanjang sebuah folikel rambut lengkap.Juga tampak
bagian folikel rambut lainnya, terpotong menurut berbagai bidang irisan (13). Folikel rambut yang
terpotong melintang terdiri atas struktur sebagai berikut: kutikula (cuticula), selubung akar dalam
(vagina radicularis epithelialis interna) ( f la), selubung akar luar (vagina radicularis epithelialis
externa) ( f at), selubung iaringan ikat (vagina radicularis dermalis) ( f lc), bulbus rambut ( f f a),
dan papilla (t3e) dermalis pili jaringan ikat. Rambut berjalan ke atas melalui folikel (ta) ke permukaan
kulit. Banyak keleniar sebasea (ll) mengelilingi setiap folikel rambut. Kelenjar sebasea adalah kum-
pulan sel jernih yang berhubungan dengan sebuah duktus yang bermuara ke dalam folikel rambut (lihat
Gambar 10.5).
Musculus arrector pili (S, f O) adalah otot polos yang terletak miring terhadap folikel rambut ( 13).
Musculus arrector pili (S, tO) melekat di stratum papillare dermis dan selubung jaringan ikat ( t:c) folikel
rambut. Kontraksi musculus arrector pili (5, 10) menyebabkan batang rambut (stipes pili) bergerak ke
posisi yang lebih vertikal.
Di dermis bagian dalam atau lapisan subkutis (8) terdapat bagian basal keleniar keringat (6) yang
sangat bergelung. Bagian kelenjar keringat (6) yang menunjukkan epitel silindris terpulas terang adalah
bagian sekretorik (6b) kelenjariyangberbeda dari duktus ekskretorius (6a) kelenlar keringat (6).
Duktus ekskretorius kelenjar keringat dilapisi oleh epitel berlapis kuboid dengan sel berukuran leblh
kecil dan terpulas-lebih gelap. Setiap duktus kelenjar keringat (6a) bergelung di dermis bagian dalam
tetapi menjadi lurus di dermis bagian atas dan berpilin melalui epidermis ke permukaan kullt (lihat
Gambarl0.3).
Kulit mengandung banyak pembuluh darah (14) dan banyak serabut saraf sensorik. Reseptor
sensorik untuk tekanan dan getaran adalah corpusculum lamellosum (Pacinian corpuscle) (Z), yang
terletak di jaringan subkutis (S). Corpusculum lamellosum (7) digambarkan lebih detail dan pembesar-
an yang lebih kuat di Gambar 10.10.
'l Stratum korneum ---.{
.k '.i."**'r4 l:*,q

2 Stratum spinosum
3 Stratum basal
dengan granula
(pigmen) melanin
10 Musculus
arrector pili
4 Papillae dermalis
pili 11 Kelenjar sebasea

5 Musculus
arrector pili 12 Stratum reticulare

13 Folikel rambut :

6 Kelenjar keringat
a. Duktus
ekskretorius
b. Bagian sekretorik -
a. Selubung akar
rambut dalam
b. Selubung akar
rambut luar
c. Selubung
-i.l'&ii:' jaringan ikat
. /: l!c:!.
d. Bulbus rambut
7 Corpusculum *\
tN$'i ,\.
'
e. Papilla
lamellosum
(Pacinian corpuscle)

8 Lapisan subkutis
dengan jaringan
adiposa

14 Pembuluh darah

9 Otot rangka

GAMBAR 10.2 Kulit: epidermis, dermis, dan hipodermis kulit kepala. Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.
GAMBAR 10.3 # Kulit Tipis Berambut pada Kulit Kepala: Folikel Rambut dan Struktur
Sekitar
Fotomikrograf pembesaran-lemah memperlihatkan irisan kulit tipis di kulit kepala. Di dalam epidermis
(l) kulit tipis, stratum korneum (la), stratum granulosum (fb), dan stratum spinosum (fc) teUifi
tipis daripada lapisan serupa di kulit tebal. Di jaringan ikat padat tidak teratur dermis (4) terdapat folikel
rambut (f ) dankeleniarsebasea (Z,S).Musculusarrectorpili (6) terbentangdari jaringanikatyang
dalam di sekitar folikel rambut (3) hingga ke jaringan ikat di stratum papillare (4) dermis.
Epidermis . I
a. slralum Korneum
b. Stratum granulosum
- .;;\
{
c. Stratum spinosum

Kelenjar 4 Dermis
sebasea

Kelenjar
sebasea
3 Folikel rambut
Musculus
arrector pil

W
: $v, ''
"
r,xi;l
t
'.l,tr;&
.$;fti.
&iaU"ixs-$
GAMBAR 1O.3 Kulit tipis berambut pada kulit kepala: folikel rambut dan struktur sekitar. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. 4OX
GAMBAR 10.4 # $ediaan Folikel Rambut dengan Struktur Sekitar
Gambar ini memperlihatkan potongan memanjang sebuah folikel rambut serta kelenjar dan struktur di
sekitarnya. Di sisi kanan diperlihatkan berbagai lapisan folikel rambut. Folikel rambut dibungkus oleh
selubung iaringan ikat ( f S) dermis (7) di sebelah luar. Di bawah selubung jaringan ikat (15) terdapat
selubung akar luar (f +) yang terdiri dari beberapa lapisan sel. Lapisan-lapisan sel ini bersambungan
dengan lapisan epitel epidermis. Selubung akar dalam (f 3) terdiri dari stratum epitelial tipis pucat
(lapisan Henle) dan stratum epitelial tipis granular (lapisan Hudey). Kedua lapisan ini menjadi sulit
dibedakan ketika keduanya menyatu dengan sel-sel di bagian folikel rambut yang melebar yaitu bulbus
rambut (Zt). U sebelah dalam dari lapisan sel selubung akar dalam (13) terdapat sel-sel yang mem-
bentuk kutikula (12) rambut dan korteks ( t t) berkeratin folikel rambut, yang tampak sebagai lapisan
kuning pucat. Akar rambut (radix pili) ( f 6) dan papilla dermalis pili ( l8) membentuk bulbus ram-
but (zt). Di bulbus rambut (21), selubung akar luar (t+) dan selubung akar dalam (13) menyatu men-
jadi sekelompok sel tidakberdiferensiasi yang disebut matriks rambut (f Z), yang terletak di atas papilla
dermalis pili (1S). Mitosis sel dan pigmen melanin (f9) dapat ditemukan di sel-sel matriks. Banyak
kapiler (ZO) memperdarahi jaringan ikat papilla dermalis pili (18).
Di jaringan ikat dermis (7) dan di dekat folikel rambut terlihat potongan melintang bagian basal
keleniar keringat (S, 9) bergelung. Sel sekretorik (9) kelenjar keringat tinggi dan terpulas terang. Di
sepanjang bagian basal sel sekretorik (9) terlihat nukleus gepeng sel mioepitel (f 0) kontraktil. Duktus
ekskretorius (8) kelenjar keringat memiliki diameteryanglebihkecil, dilapisi oleh epitelberlapis kuboid,
dan berwarna lebih gelap daripada sel sekretorik (9).
Suatu keleniar sebasea (+) yang berhubungan dengan folikel rambut terpotong melalui bagian
tengahnya. Kelenjar sebasea (4) dilapisl oleh epitel berlapis yang bersambungan dengan selubung akar
luar (t+) folikel rambut. Epitel kelenjar sebasea telah mengalami modifikasi, dan di sepanjang bagian
basalnya terdapat deretan sel kolumnar atau kuboid, sel basal (cellula basalis) (3), yang nukleusnya
mungkin menggepeng. Sel-sel ini terletak di atas membrana basalis, yang dikelilingi oleh jaringan ikat
dermis (Z). Set basal (3) kelenjar sebasea membelah dan mengisi asinus kelenjar dengan sel sekretorik
(5) polihedral besar yang membesar, mengumpulkan bahan sekretorik, dan menjadi bulat. Sel sekretorik
(5) di bagian dalam asinus mengalami degenerasi (2), suatu proses yang mengubah sel menjadi produk
sekretorik kelenjar berminyak yang disebut sebum. Sebum mengalir melalui duktus pendek kelenjar
sebasea (f ) ke dalam lumen folikel rambut.
Setiap folikel rambut dikelilingi oleh banyak kelenjar sebasea (4). Ketenlar sebasea terletak di
jaringan ikat dermis (7) dan sudut di antara folikel rambut dan berkas otot polos yaitu musculus arrector
pili (6).Jika musculus arrector pili berkontraksi, rambut menjadi tegak, membentuk tonjolan atau" goose
bump" (merinding) di kulit serta memaksa sebum keluar dari kelenjar sebasea ke dalam lumen folikel
rambut.
:!$S x,..,
i-r") i "' i p.,x
)t 'tlii
1 Duktus kelenjar sebasea 1l' l

.r,,* .r$ ';+- 11 Korteks


2 Sel sekretorik mengalami l,l
degenerasi ;l',i.'1' :j,
l't.
I r\
ttt\:
3 Sel basal s. 12 Kutikula
o
o .r ,t
o
{l .:l-
4 Kelenjar sebasea
.s '/ f
;- cyo )
5 Nukleus sel sekretorik 13 Selubung akar dalam
6 i.q
;.,'\.;1 .{ 'a

14 Selubung akar luar


ffilt*P'
Y.dtt , ... ,trt:
'J ,"

6 Musculus arrector pili ,4l: 'u.,$ .A


ll
b

rcj
15 Selubung jaringan ikat

7 Jaringan ikat dermis \


; i$;
16 Akar rambul

i,
.t '17 Matriks rambut
B Duktus ekskretorius
kelenjar keringat ]$
9.
1B Papilla
dermalis pili
21 Bulbus
'19 Pigmen melanin
rambut

9 Sel sekretorik 20 Kapiler papilla


kelenjar keringat dermalis pili

10 Sel mioepitel

GAMBAR 10.4 Folikel rambut: bulbus folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, dan musculus
arrector pili. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 10.5 ffi Kulit Tebal Telapak Tangan, Lapisan $el Superfi*ial, dan Pigmen
Melanin
Kulit tebal paling baik digambarkan dengan memeriksa sediaan kulit telapak tangan. Epidermis kulit tebal
memperlihatkan lima lapisan sel yang jelas dan jauh lebih tebal daripada yang dijumpai di kulit tipis
(Gambar 10.1-10.3). Berbagai lapisan sel epidermis diperlihatkan secara lebih detail dan pembesaran
yang lebih kuat di sebelah kiri.
Lapisan terluar kulit tebal adalah stratum korneum (t, g), suatu lapisan tebal sel-sel gepeng mati
atau berkeratin yang secara terus-menerus dilepaskan atau mengalami deskuamasi (S) dari permukaan
kulit. Di bawah stratum korneum (1, 9) terdapat stratum lusidum (Z) yang tipis dan terpulas pucat.
Lapisan tipis ini sulit dilihat di sebagian besar preparat. Pada pembesaran lebih kuat, garis batas sel-sel
gepeng dan butiran eleidin dalam lapisan ini kadang-kadang terlihat.
Di bawah stratum lusidum (2) terdapat stratum granulosum (1, f f ), yang sel-selnya mengandung
granula keratohialin (3) terpulas-gelap. Tepat di bawah stratum granulosum (:, t t) terdapat stratum
spinosum (+, tZ) tebal yang terdiri dari beberapa lapisan sel bentuk-polihedral. Sel-sel ini saling
berhubungan melalui prosesus spinosus atau jembatan interselular yang menunjukkan tempat perlekatan
desmosom (makula adherens).
Lapisan sel terdalam di kulit adalah stratum basal (5, 13) kolumnar yang terletak di membrana
basalis (0, tS) jaringan ikat. Aktivitas mitosis dan pigmen melanin (S, t:) coklat biasanya tampak di
lapisan yang leblh dalam stratum spinosum (+, tZ) dan stratum basal (5, I 3).
Duktus ekskretorius keleniar keringat (fO) yang terletak jauh di dalam dermis menembus
epidermis, kehilangan dinding epitelnya, dan berpilin melalui lapisan sel epidermis ( t -S ) ke permukaan
kulit berupa saluran kecil dengan dinding tipis.
Papillae (7) terlihat menonjol di kulit tebal. Beberapa papillae mengandung corpusculum tactile
(Meissner) (r+) dan ansa capillaris (capillary loop) (t6).

GAMBAR 10.6 # Kulit Tebal: Hpidermis dan Lapisan $el Superfisial


Fotomikrograf pembesaran-lebih kuat menunjukkan perbedaan nyata antara berbagai lapisan sel di
epidermis ( t ) kulit tebal telapak tangan. Lapisan paling luar dan paling tebal adalah stratum korneum
(ta). Oi bawah stratum korneum (1a), terdapat dua sampai tiga lapisan sel gelap terisi dengan granula.
Lapisan ini adalah stratum granulosum (tt). Oi bawah stratum granulosum terdapat stratum spino-
sum (lc), lapisan sel polihedral yang lebih tebal. Lapisan sel paling dalam di epidermis adalah stratum
basal ( f d). Sel di lapisan ini mengandung granula melanin (6) coklat. Stratum basal ( ld) melekat pada
jaringan ikat tipis membrana basalis (+) yang memisahkan epidermis dari dermis (2). Jaringan ikat
dermis (2) menyebabkan lekukan di epidermis (1) untuk membentuk papillae (S). Ouktus ekskre-
torius (3) kelenjar keringat yang terletak jauh di dalam dermis berjalan melewati dermis (Z) dan lapisan
sel epidermis (l).
B Sel yang mengalami
deskuamasi

1 Stratum.."rr -l 9 Stratum korneum

10 Duktus ekskretorius
kelenjar keringat
2 Stratum lusidum
3 Stratum granulosum 11 Stratum granulosum
dengan granula
keratohialin
12 Stratum spinosum
4 Stratum spinosum 13 Stratum basal dengan
pigmen melanin
5 Stratum basal dengan 14 Corpusculum tactile
pigmen melanin (Meissner)
15 Membrana basalis
6 Membrana basalis
7 Papilla dermalis 16 Ansa capillaris
pili

GAMBAR 10.5 Kulit tebal telapak tangan, lapisan sel superfisial, dan pigmen melanin. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.

Epidermis :

a. Stratum
korneum

b. Stratum
granulosum Duktus
ekskretorius
c. Stratum kelenjar keringal
sprnosum Membrana
basails
d. Stratum
basal
Papilla dermalis
pili

2 Dermis li$xii$ 6 Granula melanin

${ws:${ft
GAMBAR 10.6 Kulit tebal: epidermis dan lapisan sel superfisial. Pulasan: hematoksilin dan eosin. 4OX
GAMBAR 10.7 ffi Kulit Tebai: Epidermis, Dermis, dan Hipodermis Telapak Tangan
Fotomikrograf pembesaran-lemah memperlihatkan struktur dalam dan superfisial di kulit tebal telapak
tangan. Lapisan-lapisan berikut dapat ditemukan di epidermis (6): stratum korneum (7), stratum
granulosum (s), dan stratum basal (9). Di bawah epidermis (6) terdapat jaringan ikat padat tidak
teratur dermis (5). Papillae (f f ) dari dermis (5) membentuk indentasi di dasar epidermis (6). Di
dermis (5) bagian dalam dan hipodermis (4) terdapat potongan melintang keleniar keringat (3)
tubular simpleks bergelung dan duktus ekskretorius kelenjar keringat (f O). Lapisan tebal iaringan
adiposa (r) ;auh di dalam dermis (5) adalah hipodermis (4) atau fasia superfisial. Hipodermis (4)
bukan bagian integumen. Dua reseptor sensorik yang disebut corpusculum lamellosum (Pacinian
corpuscle) (2) terlihat di sebelah inferior jaringan adiposa (1) hipodermis (4).

GAMBAR 10.8 ffi Keienjar Keringat Apokrin


I(elenjar apokrin (glandula sudorifera apocrina) adalah kelenjar keringat bergelung yang besar, yang
menyalurkan sekresinya ke dalam folikel rambut (Z) yang berdekatan. Gambar ini memperlihatkan
potongan melintang sebuah kelenjar keringat apokrin dan beberapa unit sekretorik kelenjar keringat
ekrin sebagai perbandingan. Bagian sekretorik keleniar keringat apokrin (3) terdiri dari lumen yang
melebar. Kelenjar terletak di iaringan ikat dermis (5) atau hipodermis dengan sel adiposa (+) dan
banyak pembuluh darah (S). Sebagai perbandingan, bagian sekretorik keleniar keringat ekrin (6)
berukuran lebih kecil dan memperlihatkan lumen yang jauh lebih kecil. Sel sekretorik kuboid kelenjar
keringat apokrin (A) dit<etitingi oleh banyak sel mioepitel (myoepitheliocytus fusiformis) (Z) yang
terletak di dasar sel sekretorik. Jika terpotong oblik, sel mioepitel (2) menutupi sel sekretorik. Bagian
ekskretorik keleniar keringat (f) dilapisi oleh sel kuboid berlapis ganda terpulas-gelap, yang serupa
dengan duktus ekskretorius kelenjar keringat ekrin.
1 Jaringan adiposa
7 Stratum korneum

8 Stratum granulosum
9 Stratum basal
2 Corpusclilum
lamellosum
(Badan paccini)

3 Kelenjar
10 Duktus
keringat
ekskretorius
kelenjar keringat

11 Papilla dermalis
pili

q*

4 Hipodermis 5 Dermis 6 Epidermis

GAMBAR 10.7 Kulit tebal: epidermis, dermis, dan hipodermis telapak tangan. Pulasan: hematoksilin
dan eosin. 17x.

4
;ffi,
It n
v \r
\&
{

I
1 Bagian ekskretorik {
kelenjar keringat
# t
,t 5 Jaringan ikat dermis
{t
'&
t';
t)
2 Sel mioepitel U
mengelilingi bagian
sekretorik 6 Bagian sekretorik
t kelenjar keringat ekrin

7 Folikel rambut

3 Bagian sekretorik
kelenjar keringat apokrin

4 Sel adiposa di 8 Pembuluh darah


hipodermis

GAMBAR 10.8 Kelenjar keringat apokrin: bagian sekretorik dan ekskretorik kelenjar keringat. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 10.9 ffi Kelenjar Keringat Ekrin
I(elenjar keringat ekrin (glandula sudorifera eccrina) adalah kelenjar tubular simpleks sangat bergelung,
yang terdapat di dermis bagian dalam atau bagian atas hipodermis. Untuk menunjukkan perluasan ini,
kelenjar keringat diperlihatkan dalam potongan melintang (sebelah kiri) dan pandangan tiga-dimensi
(sebelah kanan).
Bagian bergelung kelenjar keringat di dermis adalah bagian sekretorik (S). Set sekretorit< (3,,t)
adalah sel besar dan kolumnar, dan terpulas eosinofilik iemah. Di sekeliling sel sekretorik (3, 4) terdapat
sel mioepitel (5) bentuk-kumparan yang tipis, terletak di antara dasar sel sekretorik (3, 4) dan mem-
brana basalis (tidak tampak) yang mengelilingi sel.
Duktus ekskretorius (2, Z) yang lebih tipis dan terpulas-lebih gelap meninggalkan bagian sekre-
torik. Sel-sel duktus ekskretorius lebih kecil daripada sel-sel sekretorik (3, 4). Diameter duktus ekskreto-
rius (2, 7) jugalebih kecil dan dilapisi oleh sel kuboid berlapis terpulas-gelap. Tidak ada sel mioepitel di
sekeliling duktus ekskretorius. Sewaktu duktus ekskretorius menuju permukaan, duktus ini lurus dan
menembus lapisan sel epidermis ( l, 6), tempat duktus kehilangan dinding epitelnya. Di dalam epidermis
( t, 6), duktus berpilin melalui sel menuju ke permukaan kulit.

Kuku'(unguis); rrambtrt (pilus), dan kelenjar keringat.{Blandula sudorlfera)'adalah derivatif:kul*',


yang berkembang langsung dari permukaan epitel epidermis. Selanra perkemliangan.. afibi|dilis..
(adneksa) ini tumbuh ke dalam dan menetap di jaringan ikat dermis sebelah dalam: rKelenjar:
keringat juga dapat,rnasuk lebih ddlam lagi sappai,lapisan qubkutis atau hipodermis. . .,
Rambut adafah struktur,silindris,.bertanduk; keraq, yang,rnuncul dar! folikel rambut di':kuJit...
Satu bagian rambut menon.iol melalui'epitel kqlit ke per:mullaan,,eksier,ior; bagian,lainnya,tettp,.
berada di dalam dermis. Rambuttumbuh di bagian dasar:folikel rambutyang melebar:yaitlr,,b'ulbus,,
rambut (bulbus pili)- Dasar bulbus rambut terindentasi oleh,papilla jaringan ikat (papilla.:deriiiali's,,.
pili). Papilla ini sangat vaskular dan membawa nutrien penting untuk sel-sel folikel'ranb,ui.,D.it'ii ;,r:
sel-sel rambut membelah, tumbuh, mengalami kornifikasi, dan membentuk rarnbr.itr-.,..',,,....,
Di setiap fotikel rambut terdapat satu atau lebih kelenjar sebasea ;rangrrlrenghiiljjkdn::siktei,.
berminyak'yaitu sebsm. Sebum terbentuk ketika sel-sel di kelenjar sebasea:mati,.S.g. jn,iru;,:Ie]it:.
dapat berkas otot polos yailu musculus arrector pili yalg terbentane darl jaiingan iikaldiS-'keliling
folikel, tambw--hing.gq:.s;lr.al,um,.papil,lare',dermis.' Kelenjar: sCbasea. rtetletak-di,.dnfaia,:m,0.iarfui
arreclor pili.dan:fc.il&el rartbul'Mqscu'l'us arrectorpili dlke-ndetikaln:olehtlstemSaraf,.otortom,i:deri::l
betkontraksi -saat:emo-si,::betarr:r-ketakutani dan.,ke nginan;: i<ttnitikii$ujcllirs:iei,igtto'i,f,lpill,
melregakka!:]iatdpg .r,atTrbut,:{st!pes' pili}, :rnenarik kuljt,:rke :ijelan pada tempat inserSi],;tdifr.t:
meng;ikib.atkarl,penonjofan kecil pada:permukaan,,ky]it..fang diie-but goose bump. (me!..indin$. .
Selain :itu, kontr:aftsi inimemaksa sebrum'keluar dari:k6teniar::seb'asea.k ,dalairj:lollkii]:l'r;iin.tili'ldary,
kulit. Sebum mQminyaki dan' rnemelihara kulit agar: letap ]lein.,kedap air, mencegah k-uli1ker!ng,
dan memberikan proteksi antibakterial
, : Kelenja keriogat,,b?nyak:telsebar di kulit; rlan':terdiri,::dari,:'duqrjenit:.etrin,:dal'.l;,po,&iln:t.:
Kelenjar: keringqt,ekrin (glandVla:sqdorifbra ecerina) adalah:keled:ei.i'ubuler,dnit]d&s:ber'..gd[lr-jEr:.'.
Bagian:sekretoriklerdapal,jauh.di dalam.der:niig,.{anrduktus.ekskietorius bergelung menuju ke
permukaan kut!t.1Kelenjal kqlingat lskqi.n rrengqndung.:dua jenisseJl :q{ig-inih.,.taniiE:rbi:.enu1
,ie\reforik dan:sl:gelap dengan,lgranula skrelorik :Sektqsi. glqplgrqtqllrarmukl:s;}qdtng&6dr,
sekres:i: sel:jernih adalahtencer,,,,Sel",ilrioepftel msngelj{ingi d?e,Ah b.?sel$!g r$.qb.$$,,.!
'keJenjqr, keringat, Kontiaksi:'se-1 :rnioepitel, rnengeluarkan ,sekrgt,,.{keiingait},iiari ,kelbljrii.i.ke.ijhg4{.:,
Kelenjarke,ringat ekrin paling Lianyak dijumpai d:i,tdlapak tangan;dan,liaki;rKe{6'njai,rkerinfer'-.k'-'.
ikut:berpera,n dalam regulasi suhu tubuh. Kelenjar keringat,juga,rneRgqllt,arkanrait;.1g4r:dnr,,,natrium,.
amonia, asdrn:Urat, dan urea.i r ' ,. .:'1:1.,,,' i':]' r."rr:.t,r:, ;:rir:..:,:i..::::
,,...,,.l.;(leqjr:&lfne;i apo-lirin:iglaiiidu,la!{rdo.rileralpocrittdjuga.terdqpat,'d,i.{erryi3'.diiartefutama
r.!gr l+lqjrt&!i.!$:4llu!l.das, ar,eota'nram$ae.:.,&lenja{'kgringat.i.nr,leb,jh,,becariaripada:,lig,lgni'ar.
:k6:iin$irle.k'fil rdanjuktiii.nir,,,ber,muara,:ke dalam fqlikel rambut. Bagian sekrelorik kelC.r{.et
membentuk gelungan dan tubular. Berbeda dari kelenjar keringatekrin, lumen bagian sekretorik
kelenjar melebar, dan sel sekretoriknya berbentuk kuboid rendah. Serupa dengan kelenjar keringat
.plitlntFdeiA{'r.,3!,'!.$ ik k-"]gniar,,ip-9k1i1 !ikel!{fngi1{ph.to.l-rnioep,it4y$e,:d.ailai:$crk$ntiakti:i
tjci!e....diiiiidkin:,muidi 1fungs.i,::gdai:pube,itas;:&eli,ka:$oinroii,iqks mulai dih.asilkarr.,Ke&njA,l
lU*i,inctt:tbitEil kintal.V.ang,beibarr kha's.oan:tidiihennklb:i .diluraibni'a.ldi'
ba,tiBr,i.', r.,:lr,.1.....,.:r.,:|...r

Duktus
ekskretorius Duktus
(di epidermis) ekskretorius
(di epidermis)

Duktus
Duktus
ekskretorius
ekskretorius
(di dermis)
(di dermis)

Sel sekretorik

Bagian
sekretorik

4 Sel sekretorik _-S*',, qffi


----_-i*,:
/-_-- -{i"ffiffib
4;''*!it ^ii:i-"1;**
5 Sel mioepitel

GAMBAR 10.9 Potongan melintang dan gambaran tiga-dimensi suatu kelenjar keringat ekrin. Pulasan:
hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.
GAMBAR 10,10 # Glnmus di *ermi* Kulit Tebal
Anastomosis arteriovenosa banyak dijumpai di kulit tebal jari tangan dan kaki. Pada beberapa anasto-
mosis arteriovenosa, terdapat hubungan langsung antara arteri dan vena. Selain itu, bagian arterial
anastomosis membentuk struktur khusus berdinding-tebal yang disebut glomus (2). Pembuluh darah
di glomus (2) sangat bergelung atau kontortus dan akibatnya, dapat terlihat lebih dari satu lumen
pembuluh pada potongan melintang glomus (2).
Sel otot polos di tunika media arteri glomus (2) membesar dan menjadi sel epitelioid (6). Tunika
media arteri glomus (2) menjadi tipis kembali sebelum berlanjut menjadi venula di sambungan
arteriovenosa (S).
Semua anastomosis arteriovenosa memiliki banyak persarafan dan pembuluh darah. Selubung
iaringan ikat (7) membungkus glomus (2). Dermis (4) yang mengelilingi glomus mengandung banyak
pembuluh darah (8), sarafperifer (f) , dan duktus ekskretorius keleniar keringat (3).

Di banyak jaringan, hubungan langsung antara arteri dan vena yang disebut anastomosisarterio-
venosa memintas kapiler. Fungsi utama struktur ini adalah mengatur tekanan,darah, aliran darah,
dan suhu, serta pemeliharuun p"nu, tubuh. Suatu struktur yangiebih kompleks juga mernbentuk
pirau yaitu glomus. Clomus terdiri dari pirau arteriovenosa bergef ung yung Oik.tllingi oleh jaring-
an ikat kolagenosa. Fungsi glomus adalah juga mengatur aliran dqrah dan memeliharalpanJs
tubuh. Struktur ini ditemukan di ujung jari, telinga hiai, dan bagian perifer lainnya vang terpaian
suhu yang sangat dingin dan tempat pirau afteriovena '
dibutuhkin.

GAMBAR 10.11 ffi C*rpuscuiurn Larncii*sum {F**ru":ran #+rpus*le} di *ermls Kuiit


Tebal iPator:gan Transver*al dan l-ongitudinal]
Corpusculum lamellosum (2, O) di kulit tebal terdapat di dermis (S) dan jaringan subkutis. Dalam
gambar ini diperlihatkan satu corpusculum lamellosum terpotong memanjang (Z) dan satu terpotong
melintang (9).
Corpusculum lamellosum adalah struktur lonjong dengan akson (zb, gb) bermielin memanjang
di tengah. Akson (zA, Oa) di corpusculum dikelilingi oleh lamela konsentrik (za,9a) serat kolagenosa
kompak yang menjadi lebih padat di perifer untuk membentuk kapsul jaringan ikat (2c, 9c). Di antara
lamela jaringan ikat (Zc,9c) terdapat sejumlah kecil cairan mirip-limfe. Pada potongan melintang, lapisan
lamela jaringan ikat (9a) mengelilingi akson sentral (9b) corpusculum lamellosum (9) menyerupai
bawang terpotong.
Di jaringan ikat dermis (3) dan di sekitar corpusculum lamellosum (2,9) terdapat banyak sel adi-
posa (5)' pembuluh darah misalnya venula (t0), saraf (4,6) perlfer, dan potongan melintang duktus
ekskretorius (f ) dan bagian sekretorik kelenjar keringat (s). Sel mioepitel (7) kontraktii menge-
Iilingi bagian sekretorik kelenj ar keringat ( 8 ).
Corpusculum lamellosum (2, 9) adalah reseptor sensorik penting untuk tekanan, getaran, dan
sentuhan.
#*** '8?
e; "F
d, dq"'.'i{,

5 Sambungan
2 Glomus arteriovenosa

6 Sel epitelioid glomus

3 Duktus kelenjar 7 Selubung jaringan


keringat ikat membungkus
glomus

4 Dermis B Venula

GAMBAR 10.10 Glomus di dermis kulit tebal. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.

I i*,'! ..:f,
-*.ii' '\'J:.{
1 Duktus ekskretorius
',..)
i9 it.'; 1"9.

6 Saraf
kelenjar keringat
7 Sel mioepitel
8 Bagian sekretorik
kelenjar keringat
2 Corpusculum
lamellosum:
a. Lamela konsentrik
b. Akson
c. Kapsul jaringan
ikat Corpusculum lamellosum
a. Lamela konsentrik
b. Akson
3 Dermis c. Kapsul jaringan ikat

4 Saraf

5 Sel adiposa 10 Venula

GAMBAR 10.11 Corpusculum lamellosum (Pacinian corpusclel di dermis kulit tebal (potongan
transversal dan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran kuat.
BAB 10 Ringkasan
Sistem lntegumen
o Kulit dan derivatif membentuk sistem integumen
o Terdiri dari epidermis di sebelah luar dan dermis di sebelah dalam
. Epidermis nonvaskular dilapisi oleh epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk
o Dermis vaskular terdiri dari jaringan ikat tidak teratur

Epidermis: Kulit Tebal vs Kulit Tipis


o Telapak tangan dan kaki, karena gesekan dan tarikan, dilapisi oleh kulit tebal
o Kulit tebal memiliki kelenjar keringat, tetapi tidak memiliki rambut, kelenjar sebasea, dan otot polos
o Kulit tipis mengandung kelenjar sebasea, rambut, kelenjar keringat, dan otot polos arrector pili
o Keratinosit adalah jenis sel predominan di epidermis
o Sel epidermis yang lebih sedikit jumlahnya adalah melanosit, sel Langerhans, dan sel Merkel
o Membrana basalis memisahkan dermis dari epidermis

Dermis
Stratum papillare
o Adalah lapisan superfisial di dermis dan mengandung jaringan ikat longgar tidak teratur
o Papillae dan cristae cutis (epidermal ridges) membentuk evaginasi dan interdigitasi
o Jaringan ikat terisi oleh serat, sel, dan pembuluh darah
. Reseptor sensorik corpusculum tactile (Meissner) ditemukan di papillae

Stratum reticulare
o Adalah lapisan yang lebih dalam dan tebal di dermis, terisi oleh jaringan ikat padat tidak teratur
o Jumlah sel sedikit dan kolagennya adalah kolagen tipe I
o Tidak terdapat batas yang jelas antara stratum papillare dan stratum reticulare
. Menyatu di sebelah inferior dengan hipodermis atau lapisan subkutis (hipodermis) fasia superfisial
. Mengandung anastomosis arteriovenosa dan reseptor sensorik corpusculum lamellosum (Pacinian corpuscle)
o Akson bermielin di corpusculum lamellosum dikelilingi oleh lamela konsentrik serat kolagen

Lapisan Sel Epidermis


Stratum Basal (Germinativum)
o Lapisan sel terdalam atau lapisan sel basal yang terletak di atas membrana basalis
o Sel melekat satu sama lain melalui desmosom dan pada membrana basalis melalui hemidesmosom
o Sel berfungsi sebagai sel indukbagi epidermis dan memperlihatkan mitosis
o Sel bermigrasi ke atas di epidermis dan menghasilkan filamen keratin intermediat

Stratum Spinosum
o Adalah lapisan kedua di atas stratum basal yang terdiri dari empat sampai enam tumpukan sel.
o Selama pembuatan sediaan histologik, sel menciut dan ruang interselular tampak seperti duri
o Sel menyintesis filamen keratin yang tersusun menjadi tonofilamen
. Spina (duri) mencerminkan tempat perlekatan desmosom pada tonofilamen keratin

Stratum Granulosum
o Sel terletak di atas stratum spinosum dan terdiri dari tiga sampai lima lapisan sel gepeng
o Sel terisi oleh granula keratohialin padat dan granula lamellosum terbungkus-membran

242
a Granula keratohialin berikatan dengan tonofilamen keratin untuk membentuk keratin lunak
a Granula lamellosum rnengeluarkan material lemak di antara sel-sel dan menyebabkan kulit kedap air

Stratum Lusidum
o Terletak di atas stratum granulosum, hanya ditemukan di kulit tebal, translusen dan sulit dilihat
r Sel tidak memiliki nukleus atau organel dan dipenuhi oleh filamen keratin

Stratum Korneum
o Lapisan paling luar dan terdiri dari sel gepeng mati yang berisi keratin lunak
o Sel yang mengalami keratinisasi terus menerus terlepas atau mengalami deskuamasi dan digantikan oleh sel baru
o Selama keratinisasi, enzim hidrolitik mengeliminasi nukleus dan organel

Sel Kulit Lain


Melanosit
o Berasal dari sel krista sarafdan terletak antara stratum basal dan stratum spinosum
o Memiliki juluran panjang sitoplasma yang tidak teratur dan bercabang ke dalam epidermis
r Menyintesis pigmen coklat tua, melanin, dari asam amino tirosin
o Melanin diangkut ke keratinosit di lapisan sel basal
o Melanin menyebabkan warna kulit lebih gelap dan melindungi kulit dari radiasi ultraviolet

Sel Langerhans
o Terutama dijumpai di stratum spinosum; bagian dari sistem imun tubuh
o Adalah sel penyaji-antigen di kulit

Sel Merkel
o Terdapat di lapisan basal epidermis dan berfungsi sebagai mekanoreseptor untuk tekanan

Fungsi Utama Kulit


o Memberi perlindungan melalui keratinisasi epidermis terhadap gesekan dan masuknya patogen
o Impermeabel terhadap air karena adanya lapisan lemak di epidermis
o Pengaturan suhu tubuh melalui proses berkeringat dan perubahan diameter pembuluh darah
o Persepsi sensorik sentuhan, nyeri, tekanan, dan perubahan suhu karena adanya ujung saraf
o Ekskresi air, garam natrium, urea, dan produk sisa bernitrogen melalui keringat
. Membentuk vitamin D dari molekul prekursor yang dihasilkan di epidermis jika terpajan matahari

Derivatif Kulit
Rambut
o Tumbuh dari epitel permukaan epidermis dan terletak;auh di dalam dermis
o Adalah struktur silindris keras yang tumbuh dari folikel rambut
o Dikelilingi oleh selubung akar luar dan dalam
o Tumbuh dari bulbus folikel rambut yang melebar
o Bulbus rambut mengalami indentasi oleh papilla dermalis pili jaringan ikat yang mengandung banyak pembuluh
darah
o Matriks rambut yang terletak di atas papilla mengandung sel mitotik dan melanosit

Kelenjar Sebasea
o Setiap folikel rambut berhubungan dengan banyak kelenjar sebasea
o Sel di kelenjar sebasea tumbuh, mengumpulkan sekresi, mati, dan menjadi sekresi sebum yang berminyak
. Otot polos arrector pili melekat pada stratum papillare dermis dan selubung folikel rambut
o Kontraksi musculus arrector pili menyebabkan rambut tegak dan mendorong sebum ke dalam lumen folikel
rambut

Kelenjar Keringat
o Banyak tersebar di kulit dan terdiri dari dua jenis: ekrin dan apokrin
o Membantu pengaturan suhu dan ekskresi air, garam, dan beberapa produk sisa bernitrogen

Keleniar Keringat Ekrin


o Kelenjar simpleks bergelung yang terletak di dermis sebelah dalam di kulit telapak tangan dan kaki
o Terdiri dari sel sekretorikgelap danjernih, dan duktus ekskretorius
o Sel jernih menyekresi produk encer, sedangkan sel gelap terutama menyekresi mukus
o Sel mioepitel kontraktil hanya mengelilingi sel sekretorik
r Duktus ekskretorius tipis, terpulas-gelap, dan dilapisi oleh sel berlapis kuboid
o Duktus ekskretorius nailg melurus, dan menembus epidermis untuk mencapai permukaan kulit

Kelenjar Keringat Apokrin


o Ditemukan bergelung di dermis sebelah dalam di aksila, anus, dan areola mammae
r Duktus kelenjar bermuara ke dalam folikel rambut
o Lumen lebar dan dilapisi oleh epitel kuboid rendah
o Sel mioepitel kontraktil mengelilingi bagian sekretorik kelenjar
o Menjadi aktif pada masa pubertas, ketika hormon seks mulai terbentuk
o Sekresi menimbulkan bau tidak enak jika diuraikan oleh bakteri
Tonsilla palatina
Tonsilla lingualis
Papillae circumvallaiae

Papillae fungiformes
Sulcus medianus

Papillae filiformes

Papillae
Papillae
circumvallatae Papillae
Epithelium stratificatum fungiformes
filiformes
squamosum

Gemma
gustatoria

Glandula
serosa

Textus connectivus
Otot intrinsik

Epithelium stratificatum

Gemma
gustatoria

Epitheliocytus
gustatorius

Epitheliocytus Porus
Microvilli gustatorius
sustenans

GAMBARAN UMUM 11.1 Rongga mulut. Tampak kelenjar liur dan hubungannya dengan rongga mulut,
morfologi lidah dalam potongan melintang, dan gambaran kuncup kecap secara detail.

246
Sistem Pencernaan: Rongga
Mulut dan Kelenjar Liur
Sistem pencernaan merupakan suatu tabung atau saluran panjang yang berawal di rongga mulut dan
berakhir di anus. Sistem terdiri atas rongga mulut (cavitas oris), esofagus (oesophagus), lambung
(gaster), usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum), rektum (rectum), dan
kanalis analis (canalis analis). Saluran pencernaan berhubungan dengan organ-organ pencernaan
tambahan yaitu keleniar liur (glandulae salivarie), hati (hepar), dan pankreas (pancreas). Organ
tambahan terletak di luar saluran pencernaan. Produk sekretoriknya dicurahkan ke dalam saluran pen-
cernaan melalui duktus ekskretorius yang menembus dinding saluran pencernaan (Gambaran Umum
11.12 RonggaMulut).

Rongga Mulut
Di dalam rongga mulut, makanan ditampung, dikunyah, dan dilumasi oleh liur agar lebih mudah ditelan.
Karena makanan diuraikan secara fisik di dalam rongga mulut, daerah ini dilapisi oleh epitel berlapis
gepeng tanpa lapisan tanduk sebagai pelindung,'yang juga melapisi permukaan dalam atau labial bibir.

Bibir
Rongga mulut sebagian dibentuk oleh bibir (labia oris) dan pipi. Bibir dilapisi oleh kulit yang sangat tipis
yang ditutupi oleh epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk. Pembuluh darah terletak dekat dengan
permukaan bibir sehingga bibir berwarna merah. Permukaan luar bibir mengandung folikel rambut,
kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat. Bibir juga mengandung otot rangka yang disebut orbicularis
oris. Di sebelah dalam batas bebas bibir, lapisan luar berubah menjadi epitel berlapis gepeng tanpa lapis-
an tanduk yang lebih tebal. Di bawah epitel mulut terdapat keleniar labialis (glandula labialis) penghasil-
mukus.

[idah
Lidah adalah organ berotot di rongga mulut. Bagian tengah lidah terdiri atas jaringan ikat dan berkas-
berkas serat otot rangka. Penyebaran dan orientasi masing-masing serat otot rangka lidah yang acak
memungkinkan lidah bergerakbebas selama mengunyah, menelan, dan berbicara.

Papila
Epitel permukaan dorsal lidah tidak teratur dan kasar karena adanya banyak tonjolan atau proyeksi yang
disebut papila. Papila ini terindentasi oleh jaringan ikat di bawahnya yaitu lamina propria. Semua papila
lidah dilapisi oleh epitel berlapis gepeng yang memperlihatkan keratinisasi parsial atau inkomplit.
Sebaliknya, epitel permukaan ventral lidah tampaklicin.
Ada empat jenis papila di lidah yaitu: filiformis, fungiformis, sirkumvalata, dan foliata.

247
r

Papila terbanyak dan terkecil pada permukaan lidah adalah papila filiformis (papillae fiIiformes)
bentuk-kerucut lancip. Papila ini menutupi seluruh permukaan dorsal lidah.

Yanglebih sedikit namunlebihbesar, tinggi, danlebar daripadapapila filiformis adalahpapilafungiformis


(papillae fungiformes). Papila ini berbentuk seperti jamur dan lebih banyah di bagian anterior lidah.
Papila fungiformis terselip di antara papila filiformis.

I,,

Papila sirkumvalata (papillae circumvallatae) jauh lebih besar daripada papila fungiformis atau
filiformis dan berjumlah 8 sampai l2btah, terletak di daerah posterior lidah. Papila ini memiliki ciri khas
yaitu dikelilingi secara sempurna oleh sulkus dalam. Banyak duktus ekskretorius dari keleniar serosa
(von Ebner) di bawahnya, terletak di dalam jaringan ikat, bermuara ke dalam dasar sulkus.

Papila foliate (papilla foliatae) berkembang baik pada hewan tertentu, tetapi rudimenter atau kurang
berkembang pada man usia.

Kuncup Kecap
Di epitel papila fungiformis dan foliata, serta di sisi lateral papila sirkumvalata, terdapat struktur berbentuk
tong yang disebut kuncup kecap (gemma gustatoria). Selaln itu, kuncup kecap ditemukan di epitel
palatum molle, faring, dan epiglotis. Pada permukaan bebas setiap kuncup kecap terdapat lubang yang
disebut porus gustatoriu s (taste pore) . Setiap kuncup kecap menempati seluruh ketebalan epitel.
Di dalam setiap kuncup kecap terdapat sel neuroepitelial (kecap) memanjang yang terentang dari
dasar kuncup kecap hingga porus gustatorius. Apeks setiap sel kecap (epitheliocytus gustatorius)
memperlihatkan banyak mikrovili yang menonjol melalui porus gustatorius. Sel-sel yang merupakan
reseptor untuk pengecapan berkaitan erat dengan serat sarafaferen yang kecil. Di dalam lingkup kuncup
kecap juga terdapat sel sustentakular (epitheliocytus sustenans) penunjang yang memanjang. Sel ini
bukan sel sensorik. Di dasar setiap kuncup kecap terdapat sel basal (epitheliocytus basalis). Sel-sel ini
belum berdiferensiasi dan dianggap sebagai sel induk bagi sel-sel khusus di kuncup kecap (Gambaran
Umum 1 1.1, Rongga Mulut)

Agregasi Limfoid: Tonsil (Palatina, Faringealis, dan Lingualis)


Tonsila adalah kumpulan jaringan limfoid difus dan nodulus limfoid yang terletak di faring mulut.
Tonsila palatina terletak di dinding lateral orofaring. Tonsila ini dilapisi oleh epitel berlapis gepeng
tanpa lapisan tanduk dan memperlihatkan banyak kriptus (cryptae tonsillae). Kapsul jaringan ikat me-
misahkan tonsila dari jaringan sekitar. Tonsila faringealis adalah suatu struktur tunggal yang terletak di
bagian superior dan posterior faring. Tonsila ini dilapisi oleh epitel bertingkat semu bersilia. Tonsila
lingualis terletak di permukaan dorsal sepertiga belakang lidah. Tonsila ini jumlahnya beberapa dan
tampak sebagai tonjolan kecil yang terdiri dari massa agregasi limfoid. Tonsila lingualis ini dilapisi oleh
epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Setiap tonsila lingualis mengalami invaginasi oleh epitel
sehingga terbentuk banyak kriptus, yang ditemukan agregasi nodulus limfoid.
GAMBAR 11.1 ffi Bibir {Potsngan Longitudinai}
Kulitatauepidermis (f f ) tipismelapisipermukaanluarbibir.Epidermls (tt) terdiridariepitelberlapis
gepeng dengan lapisan tanduk dengan sel permukaan mengalami deskuamasi (fO). Di bawah epi-
dermis ( t t ) adalah dermis ( f +) dengan keleniar sebasea (2, tZ) yang berhubungan dengan folikel
rambut (+, f S), dan kelenjar keringat ( t6) tubolar simpleks yang terletak di dermis ( 14) bagian dalam.
Derrnis (t+) luga mengandung musculus arrector pili (3, l3), otot polos yang melekat pada folikel
rambut (+, tS).;uga terlihat di bagian tepi bibir adalah pembuluh darah, sebuah arteri (6a) dan venula
(6b). Bagian tengah bibir mengandung satu lapisan otot lurik, orbicularis oris (5, tZ).
Zonatransisi (f ) epidermis (tt) kulit menjadi epitel mulut menggambarkan taut mukokutaneus.
Permukaan oral atau internal bibir dilapisi oleh epitel mulut (8) berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
yang basah, yang lebih tebal daripada epitel epidermis (tt). Sel-sel permukaan epitel mulut (S), tanpa
mengalami kornifikasi, terlepas (deskuamasi) ke daiam cairan mulut ( f O). Dl laringan ikat sebelah dalam
bibir terdapat keleniar labialis (9, l8) tubuloasinar penghasil-mukus. Sekresi kelenjar ini melembabkan
mukosa mulut. Duktus ekskretorius kecil kelenjar labialis (9, t S) bermuara ke dalam rongga mulut.
Di jaringanikatbibir jugaterdapatbanyakseladiposa (7),pembuluhdarah (6), danbanyakkapiler.
I(arena pembuluh darah (6) terletak sangat dekat dengan permukaan, warna darah terlihat melalui epitel
di atasnya, memberi warna bibir merah khas.

'1 Zona transisi '10 Sel permukaan


mengalami
2 Kelenjar sebasea deskuamasi
11 Epidermis

12 Kelenjar sebasea
3 Musculus arrector pili
13 Musculus arrector pili
4 Folikel rambut
14 Dermis
5 Orbicularis oris
15 Folikel rambut

'16 Kelenjar keringat


6 Pembuluh darah :

a. Arteri
b. Vena
7 Sel adiposa
17 Orbicularis oris
B Epitel mulut

9 Kelenjar labialis
penghasil-mukus
18 Kelenjar labialis
penghasil-mukus

GAMBAR 11.1 Bibir (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.
GAMBAR 11.2 ffi Bagian Anterior Lidah: Apeks {Potongan Longiiudinal)
Gambar ini menunjukkan potongan memanjang bagian anterior lidah. Rongga mulut dilapisi oleh
mukosa (5) protektif yang terdiri dari lapisan epitel luar (epitel) (Sa) dan lapisan jaringan ikat di
bawahnya yang disebut lamina propria (Sb).
Permukaan dorsal lidah kasar dan ditandai oleh banyak tonjolan mukosa yang disebut papila (1,2,
6). Sebaliknya, mukosa (5) permukaan ventral lidah licin. Papila filiformis (2, 6) bentuk-kerucutyang
kecil adalah papila paling banyak ditemukan dan menutupi seluruh permukaan dorsal lidah. Ujung
papila fi liform is (2, 6) memperlihatkan keratinisasi parsial.
Yang jumlahnya lebih sedikit adalah papila fungiformis (1) dengan permukaan epitel tidak ber-
keratin yang bulat dan lebar dan lamina propria (Sb) yang menonjol.
Bagian tengah lidah terdiri dari berkas-berkas otot rangka (l,Z) yangsaling menyilang. Akibatnya,
otot rangka lidah dapat terlihat pada potongan longitudinal, transversal, atau oblik. Di jaringan ikat (9)
di sekitar berkas otot mungkin dijumpai pembuluh darah (4, 8) misalnya arteri (4a, sa) dan vena (4b,
8b), serta serat saraf ( I I ).
Di separuh bawah lidah dan dikelilingi oleh serat otot rangka (3, 7) terllhat sebagian dari keleniar
lingualis anterior (ro). Kelenlar ini adalah kelenjar campuran dan mengandung baik asinus mukosa
( rob) maupun asinus serosa ( rOc), serta asinus campuran. Duktus intirlobularis ( roa) dari kelenjar
lingualis anterior (10) berjalan ke dalam duktus ekskretorius besar kelenjar lingualis (fZ) yang
bermuara ke rongga mulut di permukaan ventral lidah.

GAMBAR 11.3 ffi Lidah: Papila Sirkumvalata (Potongan Melintang)


Pada gambar ini tampak potongan melintang papila sirkumvalata. Epitel lingualis (Z) tldah yang mela-
pisi papila sirkumvalata adalah epitel berlapis gepeng (f ). Jaringan ikat di bawahnya, lamina propria
(3), memperlihatkan banyak papilla sekunder (Z) yang menonjol ke dalam epitel berlapis gepeng
papila. Sulkus (S, f O) dalam mengelilingi dasar setiap papila sirkumvalata.
Banyak kuncup kecap (4, 9) lon;ong berada di epitel permukaan lateral papila sirkumvalata dan di
epitel dinding luar sulkus (S, tO). (Gambar 11.4 memperlihatkan kuncup kecap (4, 9) dalam detail yang
lebih jelas dengan pembesaran lebih kuat).
Di lamina propria bagian dalam (3) dan bagian tengah lidah terdapat banyak kelenjar serosa
tubuloasinar (von Ebner) (e, n), dengan duktus ekskretorius (6a, lla) bermuara di dasar sulkus
sirkular (S, tO) papila sirkumvalata. Produk sekresi yang dihasilkan oleh asinus sekretorik serosa (6b,
I lb) berfungsi sebagai pelarut bagi substansi pemicu-rasa.
Kebanyakan bagian tengah lidah terdiri atas berkas otot rangka (f Z) yang saling menyilang. Tam-
pak banyak serat otot rangka yang terpotong memanjang (f Za) dan melintang (f Zb). Susunan otot
tersebut memungkinkan gerak bebas lidah, yang berguna untuk membentuk suara, mengunyah, dan
menelan makanan. Lamina propria (a) & sekltar keleniar serosa (6, 11) dan otot juga mengandung
banyak pembuluh darah (8).
6 Papila filiformis

1 Papila fungiformis
7 Otot rangka

2 Papila filiformis

8 Pembuluh darah :

3 Otot rangka a. Arteri


b. Vena

9 Jaringan ikat

4 Pembuluh darah 10 Kelenjar lingualis anterior :

a. Arteri a. Duktus interlobularis


b. Vena b. Asinus mukosa
c. Asinus serosa
5 Mukosa :
1 1 Serat saraf
a. Epitel
b. Lamina propria
12 Duktus ekskretorius
kelenjar lingualis

GAMBAR 11.2 Bagian anterior lidah (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.

1 Epitel
berlapis
gepeng
7 Papilla
sekunder
2 Epitel
lingual
B Pembuluh
3 Lamina darah
propria
9 Kuncup kecap
Kuncup kecap
10 Sulkus
5 Sulkus
&,
&{
Kelenjar serosa
6 Kelenjar
gEJ

(von Ebner) :
serosa
(von Ebner) a. Dukius
a. Duktus ekskretorius
ekskretorius b. Asinus
b. Asinus sekretorik
sekretorik serosa
serosa

Otot rangka :

a. Memanjang
b. Melintang

GAMBAR 1 1 .3 Lidah posterior: papila sirkumvalata, sulkus sekitar, dan kelenjar serosa (von Ebner)
(potongan melintang). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 11.4 ffi Lidah; Papila Filiformis dan Fungif*rmis
Fotomikrograf pembesaran-lemah menunjukkan irisan permukaaan dorsal lidah. Di bagian tengah gam-
bar terdapat sebuah papila fungiformis (2) besar. Permukaan papila fungiformis (z) dilapisi oleh epitel
berlapis gepeng (a) tanpa lapisan tanduk. Pada papila fungiformis (Z) iuga terdapat banyak kuncup
kecap (4) yang terletak di epitel permukaan apikal papila, berbeda dari papila sirkumvalata, yang kuncup
kecapnya terletak di epitel bagian perifer (lihat Gambar 11.3 atas).
Pusat jaringan ikat di bawahnya, lamina propria (5), menonlol ke dalam epitel permukaan papila
fungiformis (2) untuk membentuk banyak indentasi. Di sekitar papila fungiformis terdapat papila
filiformis ( f ) kecil, yang ujung kerucutnya dilapisi oleh epitel berlapis gepeng yang mengalami keratini-
sasi parsial.

GAMBAR 11.5 ffi LiCah: Kuncup Keeap


Kuncup kecap (S, rz) di dasar sulkus ( 14) papila sirkumvalata digambarkan lebih detail. I(uncup kecap
(S, tz) terbenam di dalam dan mencakup seluruh ketebalan epitel lingualis berlapis (l) papila sir-
kumvalata. I(uncup kecap (5, 12) dibedakan dari epitel berlapis (1) dl sekitarnya melalui bentuk selnya
yang lonjong dan memanjang (modifikasi silindris) yang tersusun tegak lurus terhadap permukaan epitel
( r).
Beberapa jenis sel ditemukan di kuncup kecap (5, 12). Tiga jenis sel berbeda dapat diidentifikasi
dalam gambar ini. Sel sustentakular (epitheliocltus sustenans) (3, 8) atau penunjang memanjang
dan menunjukkan sitoplasma yang lebih gelap dan inti yang gelap dan kecil. Sel gustatorius atau kecap
(epitheliocflus gustatorius) (2, 1l) menunjukkan sitoplasma yang lebih terang dan inti yang lebih
Ionjong dan terang. Sel basal (epitheliocfus basalis) (13) terdapat pada tepi kuncup kecap (S, tZ) di
dekat membrana basalis.
I(arena serat saraftidak bermielin berhubungan dengan sel sustentakular (:, S) dan sel gustatorius
(1, tt), kedua jenis sel agaknya berperan dalam fungsi pengecapan. Sel basal (r:)
-enghusilkan sel
sustentakular (:, S) dan sel gustatorius (2, t t ).
Setiap kuncup kecap (S, lZ) memperlihatkan sebuah lubang kecil ke permukaan epitel yang disebut
porus gustatorius (l). Permukaan apikal sei sustentakular (:, S) maupun sel gustatorius (7, tt) me-
miliki mikrovlli (taste hair) (a) panjang yang masuk ke dalam dan terjulur keluar melalui porus
gustatorius (9) ke dalam sulkus ( 14) yang mengelilingi papila sirkumvalata.
Lamina propria (z) yang berbatasan dengan epitel dan kuncup kecap (5, 12) terdiri atas jaringan
ikat longgar dengan banyakpembuluh darah (0, fO) dan serat saraf.

Fungsi utama lidah selama pengolahan makanan adalah menerima kecapan/rasa dan membantu
pengunyahan dan penelanan massa makanan, yang disebut bolus. Di dalam rongga mulut, sensasi
pengecapan dideteksi oleh sel reseptor kecap yang terdapat di kuncup kecap (geinma gustatoria;
di papila fungiformis dan sirkumvalata lidah. Selain lidah, tempat kuncup kecap ditemukan paling
banyak, kuncup juga terdapat di membran mukosa palatum molle, faring, dan epiglotis.
Substansi yang dikecap dilarutkan terlebih dahulu di dalam liur yang terdapat di rongga mulut
sewaktu makan. Bahan yang larut kemudian berkontak dengan sel gustatorius melalui porus
gustatorius. Selain liur, kuncup kecap di epitel papila sirkumvalata juga dibilas oleh sekret encer
yang dihasilkan oleh kelenjar serosa (von Ebner). Sekret ini masuk ke dalam sulkus (furrow) di
dasar papila, dan selanjutnya melarutkan pelbagai substansi, yang masuk ke dalam porus
gustatorius di kuncup kecap. Sel reseptor kecap kemudian dirangsang oleh kontak langsung
dengan bahan terlarut dan menghasilkan impuls yang dihantarkan oleh serat saraf aferen.
Ada empat sensasi pengecapan dasar: asam, asin, pahit, cian manis. Semua sensasi yang lain
adalah kombinasi dari keempat rasa dasar. Ujung lidah paling peka terhadap manis dan asin,
bagian posterior Iidah peka terhadap pahit, dan tepi lateral peka terhadap sensasi asam.
3 Epitel berlapis
gepeng

4 Kuncup kecap

1 Papila
filiformis

*
2 Papila
fungiformis
5 Lamina propria

GAMBAR 11.4 Papila filiformis dan fungiformis lidah. Pulasan: hematoksilin dan eosin. 25 x.

* ql) qs oa.i1
4'\ 1 \'
$"r!' :
8
kry *'! Sel sustentakular

.r1 c -l''"s
3
+j-
'8- 9 Pori kecap

l.-
Sel sustentakular pd):
i,'" "t
['r e: 3 !'u ', '" \
;'
s

t
& ei
*
10 Pembuluh darah
4 Mikrovili (taste hair)
,* j fi
G.
'b.
C'a r
'I

'.;$r!t l 11 Sel gustatorius


5 Kuncup kecap s{- i,t ;

#s
d
;'"S:\s ffi .*..",-, I Srr
J_S
t 12 Kuncup kecap
6 Pemburuh aaran ---iJl
.\--; l{il
t't
*u'".' -'
&w-
7 Sel gustatorius
;sf,r! , ..i
es 7'g!o
13 Sel basal

!.. g,.f si.*


14 Sulkus
tt,
i. d
'"t,f g

GAIVIBAR 11.5 Lidah posterior: kuncup kecap dalam sulkus papila sirkumvalata. Pulasan: hematoksilin
dan eosin. Pembesaran kuat.
GAMBAR 11.6 ffi Lidah Posterior: Posterior dari Papila Sirkumvalata dan Dekat
Tonsila Lingualis (Potongan Longitudinal)
Dua pertiga anterior lidah dipisahkan dari sepertiga posterior lidah oleh suatu lekukan atau sulkus
terminalis. Bagian posterior lidah terletak di belakang papila sirkumvalata dan dekat tonsila lingualis.
Permukaan dorsal bagian posterior biasanya memperlihatkan toniolan mukosa (mucosal ridge) (t)
besar dan peninggian atau lipatan (7) yang menyerupai papila fungiformis di lidah bagian anterior.
Tonjolan mukosa (1) dan lipatan (7) dilaplsi oleh epitel berlapis gepeng (6) tanpa lapisan tanduk.
Papila filiformis dan fungiformis, yang biasanya terdapat di bagian anterior lida[ tidak terdapat di lidah
bagian posterior. Nodulus limfoid tonsila lingualis dapat ditemukan di lipatan (Z) mi.
Lamina propria (7) mukosa lebih lebar tetapi mirip dengan yang terdapat di dua pertiga anterior
lidah. Di bawah epitel berlapis gepeng (6) terlihat agregasi iaringan limfoid (z) difus, akumulasi
jaringan adiposa (4), serat saraf (3) (potongan memanjang), dan pembuluh darah, sebuah arteri (8)
dan vena (9).
Jauh di dalam jaringan ikat lamina propria (7) dan di antara serat otot rangka (5) yang sallng
menyilang terdapat asinus mukosa keleniar lingualis posterior (f f). luktus ekskretorius (fO)
kelenjar lingualis posterior (t 1) bermuara di permukaan dorsal lidah, biasanya di antara dasar tonjolan
dan lipatan mukosa (l,Z). Kelenjar lingualis posterior (1r) berkontak dengan kelenjar serosa (von
Ebner) papila sirkumvalata di bagian anterior lidah. Di bagian posterior lidah, kelenjar lingualis posterior
(t i) meluas melewati pangkal lidah (radix linguae).

GAMBAR 11.7 ffi$ Tonsila Lingualis (Potongan Transversal)


Tonsila lingualis nierupakan agregasi beberapa kelompok kecil tonsila, masing-masing dengan kriptus
tonsil (2, 8). Tonsila lingualis terdapat di permukaan dorsal bagian posterior atau pangkal lidah. Epitel
berlapis gepeng (f) tanpa lapisan tanduk melapisi tonsila dan kriptusnya. Kriptus tonsil (2, 8)
membentuk invaginasi dalam di permukaan lidah dan meluas jauh ke dalam lamina propria (5).
Banyak nodulus limfoid (1, g), sebagian memperlihatkan pusat germinal (g, g), terdapat di
lamina propria (S) di bawah epitel berlapis gepeng (r). Infiltrasi limfatik (+, to) mengelilingi nodulus
limfoid (3,9) tonslla.
Di bagian dalam lamina propria terdapat sel lemak di iaringan adiposa (Z) dan asinus rnukosa
keleniar lingualis posterior (r r). Ouktus eksretorius kecil dari kelenjar lingualis ( l1) menyatu mem-
bentuk duktus ekskretorius (6) yang lebih besar. Sebagian besar duktus ekskretorius (6) bermuara ke
kriptus tonsil (2, 8), meskipun sebagian langsung bermuara ke permukaan lidah. Di antara jaringan ikat
lamina propria (5), jaringan adiposa (Z), dan asinus sekretorik mukosa kelenjar lingualis posterior (11)
tersebar serat otot rangka (fZ) hdah.
1 Tonjolan mukosa 6 Epitel berlapis
gepeng

7 Lamina propria
lipatan mukosa
8 Arteri

9 Vena

3 Serat saraf
10 Duktus ekskretorius
kelenjar lingualis
4 Jaringan adiposa posterior
11 Asinus mukosa
kelenjar lingualis
5 Serat otot rangka posterior
(potongan melintang
dan memanjang)

GAMBAR 1 1 "6 Lidah posterior: posterior dari papila sirkumvalata dan dekat tonsila lingualis (potongan
longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah.

Epitel berlapis
gepeng

2 Crypla tonsillae

B Crypta tonsillae
3 Nodulus limfoid
dengan pusat
germinal
9 Nodulus limfoid
dengan pusat
4lnfiltrasi germinal
limfatik
10 lnfiltrasi
5 Lamina propria limfatik

11 Asinus mukosa
Duktus keienjar lingualis
ekskretori us posterior

Jaringan 12 Otot rangka


adiposa
I'ifYxxW'\$S
GAMBAR 11.7 Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran
lemah.
GAMBAR 11.8 ffi Potongan Longitudinal Gigi Kering
Gambar ini menunjukkan potongan memanjang sebuah gigi kering, nondekalsifikasi, dan tidak terwar-
nai. Bagian gigi yang mengalami mineralisasi adalah email, dentin, dan sementum. Dentin (dentinum)
(3) dilapisi oleh email (enamelum) (r) d bagian yang menonjol di atas gusi. Email tidak terdapat di
akar gigi (radix dentis), dan di sini dentin dilapisi oleh sementum (cementum) (6). Sementum (6)
mengandung lakuna dengan sel penghasil-sementum yang disebut sementosit (cementocytus) dan kana-
likuli penghubungnya. Dentin (3) mengelilingi rongga [rulpa (cavitas dentis) (S) dan perluasannya ke
dalam akar gigi berupa saluran akar (canalis radicis dentis) ( r r ). lada orang hidup, rongga pulpa dan
saluran akar terisi oleh jaringan ikat halus, fibroblas, histiosit, dan sel pembentuk-dentin, odontoblas.
I(apiler darah dan saraf masuk ke rongga pulpa (5) melalui foramen apikal (foramen apicis dentis)
(ta) ai ujung masing-masing akar.
Dentin (3) memperlihatkan tubulus-tubulus dentin yang sejajar dan bergelombang. Dentin muda
atau primer (dentinum primarium) terletak di perifer gigi. Dentin lanjut atau ,"k rnd", (dentinum
secundarium) terletak di sepanjang rongga pulpa, tempat struktur ini dibentuk seumur hidup oleh
odontoblas. Di mahkota gigi kering di taut dentinoemait (junctio dentinoenameli) (2) terdapat
banyak rongga ireguler berisi udara yang tampak hitam pada sediaan. Pada orang hidup, spatium
interglobulare (+, ro) ini terisi oleh dentin yang kalsifikasinya tidak sempurna (dentinum interglo-
bulare). Daerah serupa, tetapi lebih.kecil dan tersusun lebih rapat, terdapat di akar, dekat dengan taut
dentin-sementum (junctio dentinocementalis), tempat mereka membentuk stratum granulosum
(romes) (tz).
Dentin di mahkota gigi dilapisi oleh lapisan email (1) yang lebih tebal, terdiri dari prisma atau ba-
tang email (prisma enameli) yang disatukan oleh bahan semen antarprisma. Linea Retzius (Z) meng-
gambarkan variasi dalam laiu pengendapan email. Berkas sinar yang melewati potongan kering gigi
dibiaskan oleh puntiran yang terjadi di batang email sewaktu batang berjalan ke arah permukaan gigi. Ini
adalah linea Schreger (s). Kalsifikasi batang email yang kurang baik selama pembentuka.r d.pat
menyebabkan terbentuknya enameltufts (9) yang berjalan dari taut dentinoemail ke dalam "-ail emall (lihat
Gambar 11.9).
r

7 Linea Retzius

1 Email

2 Taut dentinoemail

3 Dentin
10 Spatium
4 Spatium interglobulare
interglobulare

5 Rongga
pulpa

;., i
",rj:iitl
lii,lll
,,::1:l,fi
.tr:t:r l{
"ii
;."1--
rra-r'_l 11 Saluran akar
'r',}ii'J
',.I '
6 Sementum
l.li 12 Stratum
ll' granulosum
(Tomes)

13 Foramen apikal

GAMBAR 11.8 Potongan longitudinal gigi kering. Tidak dipulas. Pembesaran lemah.
GAMBAR 11.9 ffi$ Gigi Kering: Taut Dentinoemail
Potongan matriks dentin (a) dan email (5) di taut dentinoemail (r) digambarkan pada pembesaran
yang lebih kuat. Email dihasilkan oleh sel yang disebut ameloblas (ameloblastus) berupa segmen ber-
turutan yang membentuk prisma atau batang email (7) memanjang. Enamel tuft (6), yang kurang
mengalami kalsifikasi, memuntir prisma atau batang email, berjalan dari taut dentinoemail ( 1) ke dalam
. email (5). Matriks dentin (+) dlhasllkan oleh sel yang disebut odontoblas. Processus odontoblasti me-
nempati ruangan mirip-terowongan di dentirl membentuk tubulus dentin (tubulus dentini) (3) yang
mudah terlihat dan spatium interglobulare (2) berisi udara, hitam.

GAMBAR 11.10 ffi Gigi Kering: Sementum dan Taut Dentin


Taut antara matriks dentin (5) dan sementum (Z) digambarkan pada pembesaran yang lebih kuat di
akar gigi. Di taut sementum (2) dengan matriks dentin (5) terdapat suatu lapisan spatium interglobulare
kecil yang disebut stratum granulosum (tomes) (Z). Oi sebelah dalam lapisan ini di matriks dentin
(5) terdapat spatium interglobulare (+, S) besar tidak teratur yang sering ditemukan di mahkota gigi,
tetapi juga dapat dijumpai di akar gigi.
Sementum (2) adalah suatu lapisan tipis material tulang yang dikeluarkan oleh sel yang disebut
sementoblas (bentuk matang, sementosit). Sementum mirip-tulang memperlihatkan lakuna (f ) yang
ditempati oleh sementosit dan banyak kanalikuli (3) untuk prosesus sitoplasmik sementosit.
1 Taut
dentinoemail

ir: r.,

6 Enamel tufts

1 Spatium
interglobulare

3 Tubulus
7 Batang email

4 Matriks dentin

GAMBAR 11.9 Gigi kering. Taut dentinoemail. Tidak dipulas. Pembesaran sedang.

jf
t: j l

,rt k
't*r.
*f-, 4 Spatium
1 LaKuna ,14'
+l*'*1 interglobulare
'l' t-
, '.'
ilF
t:
5 Matriks dentin

2 Sementum
\.i
6 Tubulus dentin

7 Stratum
granulosum
(Tomes)
3 Kanalikuli

B Spatium
interglobulare

GAMBAR 11.10 Gigi kering. Sementum dan taut dentin. Tidak dipulas. Pembesaran sedang.
GAMBAR 11.11 ffi Gigi yang Sedang Tumbuh (Potongan Longitudinai)
Suatu gigi yang sedang tumbuh diperlihatkan tertanam di dalam rongga, alveolus dentalis (ZS) ai
tulang (9) rahang. Gigi yang sedang tumbuh dilapisi oleh epitel oral (1, ll) berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk. Jaringan ikat di saluran pencernaan disebut lamina propria (2, tZ). Pertumbuhan ke
bawah dari epitel mulut ( 1, I 1) yang masuk ke dalam lamina propria (2, tZ) dan jaringan ikat primitif
sebagai lamina dentalis (3). Suatu lapisan iaringan ikat (8, 17) primitif mengelilingi gigi yang sedang
tumbuh dan membentuk lapisan padat di sekitar gigi, saccus dentalis (S, f Z).
Lamina dentalis (3) dari epitel mulut (t, tt) berproliferasi dan membentuk organ email bentuk-
topi yang terdiri dari epithelium enameleum externum (4), reticulum stellatum (S, f +) ekstraselular,
dan ameloblas pembentuk-email di epithelium enameleum internum (0). ameloblas di epithelium
enameleuminternum (6) menyekresiemail (Z,tl) yangkeras disekelilingdentin (16).email (l,tZ)
tampak sebagai pita sempit material berwarna merah tua.
Di permukaan konkaf atau berlawanan dari organ email terdapat papilla dentalis (21) yang berasal
dari jaringan ikat primitif mesenkim (Zf ) dan membentuk pulpa gigi atau bagian tengah gigi yang se-
dang tumbuh. Pembuluh darah (20) dan saraf masuk ke dalam dan mempersarafi papilla dentalis (21)
dari bawah. Sel mesenkim di papilla dentalis (21) berdiferensiasi menjadi odontoblas (f S, f l) dan
membentukbatasluarpapilladentalis (2f ). Odontoblas (tS) menyekresidentintidakterkalsifikasiyang
disebut predentin (f s). Sewaktu mengalami kalsifikasi, predentin (t8) membentuk suatu lapisan den-
tin (16) berwarna merah muda yang terletakberbatasan dengan email (7, 13) terpulas- gelap.
Di dasar gigi, epithelium enameleum externum (+) dan ameloblas di epithelium enameleum inter-
num (6) terus tumbuh ke bawah dan membentuk selubung akar epitelial (Hertwig) (tO,ZZ) berlapis-
ganda. Sel-sel di selubung akar epitelial (vagina epithelialis radicis dentis) (1,0, ZZ) merangsang sel
mesenkim (21) untukberdiferensiasimenjadiodontoblas (tS, tf) danmembentukdentin (16).

GAMBAR 11.12 # Gigi yang Sedang Tumbuh: Taut Dentinoemail secara Rinci
Potongan taut dentinoemail dari gigi yang sedang tumbuh digambarkan pada pembesaran kuat. Di
bagian kiri gambar terlihat suatu daerah kecil reticulum stellatum (f ) email yang berbatasan dengan
ameloblas (2) kolumnar tinggi yang menyekresi email (a). Selama pembentukan email (3), yuluran
apikal ameloblas berubah menjadi processus enameloblasti (Tomes). Email (3) matur terdiri dari prisma
atau batang email (4) terkalsifi.kasi dan memanjang yang sulit dilihat di dalam email (3) yang terpulas-
gelap. Batang email (4) meluas menembus ketebalan email (3).
Sisi kanan gambar menunjukkan inti sel mesenkim di papilla dentalis (S). Odontoblas (6) ter-
letak berbatasan dengan papilla dentalis (5). Odontoblas (6) menyekresi matriks organik yang tidak
terkalsifikasi predentin (8), yang kemudian mengalami kalsifikasi menjadi dentin (l). Odontoblas (6)
memperlihatkan juluran apikal yang tipis yaitu processus odontoblasti (Tomes) (7). Predentin (S)
dan dentin (9) ditembus oleh processus ini.
1 Epitel mulut
11 Epitel mulut

2 Lamina propria
12 Lamina propria

*,1
.1,r.

3 Lamina dentalis 13 Email

'..'r: 14 Reticulum stellatum


4 Epithelium
enameleum externum 15 Odontoblas

5 Reticulum stellatum
16 Dentin
6 Ameloblas di epithelium
enameleum internum 17 Jaringan ikat
saccus dentalis

7 Email 18 Predentin

'19 Odontoblas
B Jaringan ikat
saccus dentalis

9 Tulang
20 Pembuluh darah

1 0 Selubung akar 21 Mesenkim papilla


epitelial (Hertwig) dentalis

22 Selubung akar
epitelial (Hertwig)

23 Alveolus dentalis

GAMBAR 11.11 Gigi yang sedang tumbuh (potongan longitudinal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.

\td
5 Sel mesenkim
EL di papilla dentalis
1 Reticulum
stellatum s
6 Odontoblas

2 Ameloblas

7 Processus
.f* odontoblasti (Tomes)
3 Email
$'$ 8 Predentin

4 Batang $$r:\i
email
is *:$i$
wk ',Plli\
llli
t,&
:,.&
9 Dentin

GAMBAR 11.12 Gigi yang sedang tumbuh: taut dentinoemail secara rinci. Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran ki.rat.
Duktus excretorius
intralobularis

Myoe p itheliocytu s
Textus connectivus
:a.

.\
\,v
)itt-:
Ductus stnatus
I

Ductus intercalatus

l\,4yoepitheliocytus
l\,4 yoepithe liocytus

s
o G
o a
o
O
f, l
c E
o
f
C
'6

Semiluna serosa

GAMBARAN UMUM 11.2 Kelenjar liur. Diperlihatkan berbagai jenis asinus (serosa, mukosa, dan
semiluna serosa), berbagai jenis duktus (interkalaris, striata, dan interlobularis), dan sel mioepitel
kelenjar liur.

262
Kelenjar Liur Utama
Ada tiga keleniar liur (glandulae salivariae) utama: parotis, submandibularis, dan sublingualis. Kelen-
jar liur terdapat di luar rongga mulut dan mencurahkan sekretnya ke dalam mulut melalui duktus
ekskretorius (ductus excretorius) besar. Sepasang keleniar parotis (glandula parotidea) adalah
kelenjar liur terbesar. Kelenjar ini terdapat di depan dan bawah telinga luar. Sepasang kelenjar
submandibularis (submaksilaris) yang lebih kecil terdapat di bawah mandibula pada dasar mulut.
Kelenjar liur terkecil adalah keleniar sublingualis (glandula sublingualis), yang merupakan kumpulan
kelenjar-kelenjar kecil di bawah lidah.
Kelenjar liur terdiri atas unit sekretorik selular yang disebut asini (tunggal, asinus) dan banyak
duktus ekskretorius. Unit sekretorik adalah pelebaran mirip-kantong yang kecil di ujung segmen
pertama sistem duktus ekskretorius, yaitu duktus interkalaris (ductus intercalatus).

Sel Asinus Kelenjar Liur


Sel-sel yang membentuk asini sekretorik kelenjar liur terdiri dari dua jenis: serosa dan mukosa. (Gam-
baran Umum I 1.2, Kelenjar Liur).
Sel serosa (serocytus) di asini memiliki bentuk piramid. Intinya yang bulat atau lonjong tergeser
ke basal oleh granula sekretorik yang menumpuk di bagian atas atau apikal sitoplasma.
Sel mukosa (mucocytus) memiliki bentuk serupa dengan sel serosa, kecuali sitoplasmanya terisi
oleh produk sekretorik terpulas-terang yang disebut mukus. Akibatnya, timbunan granula sekretorik
menyebabkan inti menggepeng dan terdesak ke dasar sitoplasma.
Di sebagian kelenjar liur, baik sel mukosa maupun sel serosa terdapat di asinus sekretorik yang
sama. Di asini campuran ini, tempat sel mukosa predominan, sel serosa bentuk-bulan sabit terdapat di
atas sel mukosa yang disebut semiluna serosa (serous demilune). Sekresi dari semiluna serosa masuk
ke dalam lumen asinus melalui kanalikuli interselular kecil di antara sel-sel mukosa.
Sel mioepitel (myoepitheliocytus) adalah sel gepeng yang mengelilingi baik asini serosa maupun
mukosa. Sel mioepitel memiliki banyak cabang dan kontraktil. Sel ini kadang-kadang disebut sel basket
karena mengelilingi asini dengan cabang-cabangnya seperti keranjang. Sel mioepitel terletak di antara
membran sel sekretorik di asini dan membrana basalis sekitar.

Duktus Kelenjar Liur


Serat iaringan ikat membagi kelenjar liur menjadi banyak lobulus, tempat ditemukannya unit sekretorik
dan duktus ekskretoriusnya.

.{")uri fu.,:, r/'jI{irh;ii irr,.}


Baik asinus serosa dan mukosa, serta asinus sekretorik campuran, pada awalnya mengalirkan sekresinya
ke dalam duktus interkalaris. Ini adalah duktus terkecil di kelenjar liur dengan lumen kecil yang dilapisi
oleh epitel kuboid rendah. Sebagian dari duktus interkalaris dikelilingi oleh sel mioepitel kontraktil

#u&fr;s $frr-.*f*
Beberapa duktus interkalaris menyatu membentuk duktus striata (ductus striatus) yang lebih besar.
Duktus ini dilapisi oleh epitel silindris dan, dengan pewarnaan yang sesuai, memperlihatkan stria basalis
yang halus. Stria ini adalah pelipatan ke dalam (infolding) membran sel basal dan interdigitasi selular.
Ditemukan banyak rnitokondria memanjang di pelipatan membran sel basal ini.

d.")*q l *s l* f-r*t l*:* * l* ri,$ $:tr"s&'r iri rt r* s


f

Duktus striata selanjutnya menyatu untuk membentuk duktus intralobularis yang ukurannya semakin
besar, dikelilingi oleh lapisan serat jaringan ikat.
,il; ; q; i ; +; iy r i{r ilr I ir
",'-* i,t.q ij#"' ; j,": ict iiir"=,:I.' :
Duktus intralobularis menyatu untuk membentuk duktus interlobularis yang lebih besar dan duktus
interlobaris. Bagian terminal duktus besar ini menyalurkan air liur dari kelenjar liur ke rongga mulut.
Duktus interlobularis yang lebih besar mungkin dilapisi oleh epitel berlapis, baik kuboid rendah atau
silindris (Gambaran Umum 11.2: Kelenjar Liur).

GAMBAR 11.13 ffi Kelenjar Liur Parotis


Kelenjar liur parotis adalah kelenjar serosa besar yang digolongkan sebagai kelenjar tubuloasinar kom-
pleks (glandula tubuloacinosa composita). Pada gambar ini, sebagian kelenjar parotis diperlihatkan
dengan pembesaran lemah, sedangkan ciri spesifik kelenjar ini diperlihatkan dengan pembesaran lebih
kuat dalam kotak terpisah di bagian bawah.
Kelenjar parotis dikelilingi oleh kapsul yang membentuk banyak septum iaringan ikat interlo-
bularis (6) yang membagibagi kelenjar menjadi lobus dan lobulus. Di dalam septum jaringan ikat (6) di
antaralobulus terdapat arteriol (9), venula (f), dan duktus ekskretorius interlobularis (2,3, IV).
Setiap lobulus kelenjar liur mengandung sel sekretorik yang membentuk asini serosa (S, g, t) dan
sel-selnya berbentuk piramid tersusun mengelilingi lumen. Inti bulat sel serosa (I) terletak di bagian basal
sitoplasma yang agak basofilik. Pada potongan tertentu, lumen asini serosa (S, a, t) tidak selalu terlihat.
Dengan pembesaran lebih kuat, tampak granula sekretorik (I) halus di apeks sel asini serosa (S, 8, I).
Jumlah granula sekretorik di dalam sel ini bervariasi sesuai aktivitas fungsional kelenjar. Semua asini
serosa (5, 8,I) dikelilingi oleh sel mioepitel (7 ,l) kontraktil yang tipis, yang terletak di antara membrana
basalis dan sel serosa (5, 8, I). I(arena ukurannya kecil, hanya nukleus yang terlihat di sel mioepitel (7,I)
pada beberapa potongan. Sebagian lobulus kelenjar parotis mengandung banyak sel adiposa (S) yang
tampak sebagai struktur lonjong jernih dikelilingi oleh asini serosa (5, 8, I) yang terpulas lebih gelap.
Asini serosa (S, S, f) sekretorik mencurahkan produknya ke dalam saluran sempit, duktus
interkalaris (tO,l2,II). Duktus ini memiliki lumen sempit, dilapisi epitel selapis gepeng atau kuboid
rendah, dan sering dikelilingi oleh sel mioepitel (lihat Gambar 11.14). Produk sekretorik dari duktus
interkalaris (I0, I2,II) mengalir ke dalam duktus striata ( r r, ilr) yang leblh besar. Duktus ini memiliki
lumen lebih besar dan dilapisi oleh sel selapis silindris dengan stria basalis (tt, fU). Stria (11, III) ini
dibentuk oleh pelipatan membran sel basal yang dalam.
Duktus striata (11, III), selanjutnya, mencurahkan isinya ke dalam duktus ekskretorius intralo-
bularis (+) yangterdapat di dalam lobulus kelenjar. Duktus-duktus ini bersatu dengan duktus ekskreto-
rius interlobularis (2, 13, IV) yang lebih besar di septum jaringan lkat (6) yang mengelilingi lobulus
kelenjar liur. Lumen duktus ekskretorius interlobularis (2,3,IV) secara progresif melebar dan epitelnya
makin tinggi seiring dengan makin besarnya duktus. Epitel duktus ekskretorius dapat meningkat dari
silindris sampai bertingkat semu atau bahkan berlapis silindris pada duktus ekskretorius besar (lobus),
yang mendrainase lobus kelenjar parotis.
1 Venula
8 Asini serosa
2 Duktus
ekskretorius
interlobularis

3 Sel adiposa
9 Arteriol

1 0 Duktus
interkalatus

#f ,t 11 Duktus striati

" r l r.'
1

.: r i i,
ui gtj r
o'

'ffi.1, 12 Duktus
interkalaius
5 Asini serosa

6 Septum
jaringan 13 Duktus
ikat ekskretorius
interlobularis interlobularis

Tse,mioepite,

ffi lll
Asinus serosa Duktus interkalatus
ilt
Duktus striatus
IV
Duktus eksretorius
interlobularis

GAMBAR 11.13 Kelenjar liur parotis. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Atas: pembesaran sedang.
Bawah: pembesaran kuat.
GAMBAR 11.14 ffi Kelenjar Liur Submandibularis
I(elenjar submandibularis juga merupakan kelenjar tubuloasinar kompleks. Namun, kelenjar subman-
dibularis adalah kelenjar campuran, mengandung baik asini serosa maupun mukosa, dengan asini serosa
mendominasi. Adanya asini serosa dan mukosa membedakan kelenjar submandibularis dari kelenjar
parotis, yang merupakan kelenjar serosa murni.
Ilustrasi ini menunjukkan beberapa lobulus kelenjar submandibularis dengan beberapa asini
mukosa (5, t t, f 3, II) terselip di antara asini serosa (6, I). Rincian berbagai asini dan duktus kelenjar
digambarkan dengan pembesaran yang lebih kuat pada kotak terpisah di bawah.
Asini serosa (6, I) serupa dengan yang terlihat di kelenjar parotis (Gambar 11.13). Asini ini ditandai
oleh sel piramid yang lebih gelap dan lebih kecil, inti bulat di bagian basal, dan granula sekretorik di
bagian apikal. Asini mukosa (5, 11, 13, II) lebih besar daripada asini serosa (6, I), mempunyai lumen
yang lebih besar dan menunjukkan ukuran dan bentuk yang bervariasi. Sel mukosa (5, t 1, 13, II) me-
rupakan sel silindris dengan sitoplasma pucat atau hampir tidak berwarna setelah pewarnaan. Inti sel
mukosa (5, 1 l, i 3, II) gepeng dan terdesak pada bagian basal membran sel.
Pada asini campuran (serosa dan mukosa), asini mukosa biasanya dikelilingi atau ditutupi oleh satu
atau lebih sel serosa, membentuk semiluna serosa (Z, tO) bentuk-bulan sabit. Sel mioepitel (S) kon-
traktil yang tipis mengelilingi asini serosa (I) dan mukosa (II) serta duktus interkalaris (III).
Sistem duktus kelenjar submandibularis serupa dengan yang ada di kelenjar parotis. Duktus
interkalaris (tZ, t4, 17,lll) intralobularis memiliki lumen kecil dan lebih pendek, sedangkan duktus
striata (4, tS, fV) dengan stria basalis ( f S) yang lebih panjang daripada kelenjar parotis. Tampak juga
sebuah asinus mukosa (t:) bermuara ke dalam duktus interkalaris (t+),yangkemudian mencurahkan
isinya ke dalam duktus striata (tS) yang lebih besar. Duktus ekskretorius interlobularis (16) terletak dl
septum iaringan ikat interlobularis (f ) yang membagi kelenjar menjadi lobulus dan lobus. Di septum
jaringan lkat (3) juga terdapat saraf, arteriol (l), venula (Z), dan sel adiposa (9).
-.Y;W
....1
9 Sel adiposa

't
10 Semiluna serosa
r*
-. y'
b*.*4d t ll Asinus mukosa

=.-=--#
re
esl $.,^
r'$r
$
3 Septum
jaringan ikat rtw.'". ;1.{r
interlobularis 12 Duktus
cai, interkalatus
df{
4 Duktus striati !t:l .. r';i;'.
lf ,,*\S I
13 Asinus mukosa
,

14 Duktus
interkalatus
5 Asini mukosa

15 Duktus striatus

6 Asini serosa

1 6 Duktus
Fl ekskretori us
I rnterlobularis
;,. {l l

7 Semiluna serosa

:w
di

tl 17 Duktus
interkalatus
t;
I ri t,
*1'
\
- ::.

18 Stria
basalis
B Sel mioepitel

it

I ililt tv
Asinus serosa Asinus mukosa Duktus interkalatus Duktus striatus

GAMBAR 11.14 Kelenjar liur submandibularis. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Atas: pembesaran
sedang. Bawah: pembesaran kuat.
GAMBAR 11.15 ffi Kelenjar Liur $ublingualis
Kelenjar liur sublingualis juga merupakan kelenjar tubuloasinar campuran yang mirip dengan kelenjar
submandibularis karena terdiri atas asini serosa (f f ) dan mukosa (e, f, ff). Namun, sebagian besar
asini adalah asini mukosa (9, t, U) yang ditutupi oleh semiluna serosa (t, t3, II). Asini mukosa (9, I)
yang terpulas terang tampak mencolok dalam sediaan ini. Asini serosa (11) murni jarang terlihat di
kelenjar sublinguahl; namun, komposisi setiap kelenjar bervariasi. Ilustrasi dengan p"-b"r"i"r-sedang,
asini serosa ( I 1) serlng terlihat, sementara pada sediaan kelenjar sublingualis lainnya, asini serosa ( 1 1)
mungkin tidak terlihat. Dengan pembesaran lebih kuat, tampak sel mioepitel (tl, t) kontraktil di sekitar
asini serosa dan mukosa (I).
Dibandingkan dengan kelenjar liur lainnya, sistem duktus kelenjar sublingualis agak berbeda.
Duktus interkalaris (z,llI) pendek atau tidak ada, dan tidak mudah ditemukan dalam suatu sediaan.
Sebaliknya, duktus ekskretorius intralobularis (6, 8, fV) non-striata lebih banyak di kelenjar sub-
lingualis. Duktus ekskretorius (6, S, w) ini mirip dengan duktus striata kelenjar submandibularis dan
parotis tetapi tidak mempunyai stria basalis dan pelipatan membran yang ekstensif.
Septum iaringan ikat interlobularis (4) juga tebih banyak di kelenjar sublingualis daripada di
kelenjar parotis dan submandibularis. Arteriol (3), venula (5), serat saraf, dan duktus ekskretorius
interlobularis (f Z) dapat dijumpai di septum. Epitel duktus ekskretorius interlobularis (tZ) bervariasi
dari silindris rendah pada duktus yang lebih kecil sampai bertingkat semu atdu berlapis silindris pada
duktus yang lebih besar. Selain itu, sel adiposa (10) berbentuk lonjong tampak menyebar di jaringan
ikat kelenjar.
'r:n*$dl,
"'l
:l\,

I Duktus
ekskretorius
intralobularis
1 Semiluna serosa

9 Asini mukosa
2 Duktus interkalatus

3 Arteriol
10 Sel adiposa

.-..
4 Septum
jaringan
'-.1.' '
ikat interlobularis 11 Asini serosa
. i"n{

5 Venula

12 Duktus ekskretorius
interlobularis

13 Semiluna serosa

7 Sel mioepitel

mukosa
Asinus mukosa Asinus mukosa dengan Duktus interkalatus Duktus ekskretorius
semiluna serosa intralobularis

GAMBAR 11.15 Kelenjar liur sublingualis. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Atas: pembesaran sedang.
Bawah: pembesaran kuat
GAMBAR 11,16 ffi Kelenjan Lir:r Sernsa: Kelenjar Fancti*
Fotomikrograf ini menggambarkan potongan kelenjar liur parotis. Pada manusia, kelenjar parotis
seluruhnya terdiri atas asini serosa (f ) dan duktus ekskretorius. Pada gambar ini, sitoplasma sel serosa
di asini serosa (1) dipenuhi oleh granula sekretorik halus. Suatu duktus interkalaris (z) kecil dengan
epitel kuboid dikelilingi oleh asini serosa (1). Di sisi kanan gambar juga tampak sebuah duktus ekskre-
torius yang lebih besar dan pucat, yaitu duktus striata (3).

GAMBAR 11 .17,ffi Keien i*r l-i i: r' *an"r pu r"er-: : Kei*njar S u bi i n g i.rnl i*
I(elenjar liur sublingualis adalah kelenjar yang memiliki asini mukosa (2) maupun serosa (S). Asml
mukosa (2) lebih besar dan lebih pucat daripada asini serosa (:), dan sitoplasmanya dipenuhi mukus
(f). Asinl serosa (3) terpulas lebih gelap dengan granula sekretorikyang halus di sitoplasma apikal.
Asini serosa (3) yang mengelilingi asini mukosa (2) membentuk bangunan berbentuk bulan sabit yang
disebut semiluna serosa (+). luktus interkalaris (5) ekskretorius kecil, yang dilapisi epitel kuboid,
dan duktus striata (6) yang lebih besar dengan epitel silindris, juga tampak di dalam kelenjar.

Kelenjar liur menghasilkan sekitar 1 Uhari sekret cair yaitu liur (saliva), yang memasuki rongga
mulut melalui berbagai duktus ekskretorius yang besar. Sel mioepitel (myoepitheliocytus) yang
mengelilingi asini sekretorius dan duktus interkalaris di kelenjar liur. Selama kontraksi, sel ini
mengeluarkan produk sekretorik dari berbagai asinus.
iiur adalah campuran sekret yang dihasilkan oleh sel di berbagai kelenjar liur. Meskipun
komposisi utamanya adalah air, liur juga mengandung ion, mukus, enzim, dan antibodi
(imunoglobulin). Penglihalan, penghiduan, pikiran, pengecapan, atau adanya makanan di dalam
mulutakan menyebabkan stimulasi otonom terhadap kelenlar liuryang meningkatkan pembentukan
dan pengeluaran sekresi liur ke dalam mulut.
Liur melakukan banyak fungsi penting di dalam rongga mulut, yaitu membrasahi makanan
yang dikunyah dan memberikan pelarut sehingga makanan dapat dirasakan. Liur melumasi bolus
makanan agar mudah ditelan dan melewati esofagus ke lambung. Liur juga mengandung banyak
elektrolit (kalsium, kalium, natrium, klorida, ion bikarbonat, dan lainnya). Enzim pencernaan,
amilase, terdapat di liur. Enzim ini terutama dihasilkan oleh asini serosa kelenjar liur. Enzim ini
mengawali penguraian zat tepung menjadi karbohidrat yang lebih kecil sewaktu makanan berada
di dalam rongga mulut. Setelah berada di lambung, makanan diasamkan oleh getah lambung,
suatu tindakan yang mengurangi aktivitas amilase dan pencernaan karbohidrat.
Liur juga berfungsi mengendalikan flora bakteri di dalam mulut dan melindungi rongga mulut
dari patogen. Enzim liur lainnya, lisozim, juga dihasilkan oleh sel serosa, menghidrolisis dinding
sel bakteri dan menghambat pertumbuhannya di dalam rongga mulut. Selain itu, liur mengandung
antibodi. Antibodi, terutama imunglobulin A (lgA), dihasilkan oleh sel plasma di jaringan ikat
kelenjar Iiur. Antibodi membentuk.kompleks dengan antigen dan membantu pertahanan imu-
nologis terhadap bakteri di dalam mulut. Cellula acinosa mengeluarkan suatu komponen yang
mengikat dan mengangkut imunoglobulin dari sel plasma di jaringan ikat ke dalam liur.
Saat liur mengalir melalui sistem duktus kelenjar liur, berbagai duktus memodifikasi kandungan
ionnya melalui transpor selekiif, resoipsi, atau sekresi ion. Duktus interkalaris mengeluarkan ion
-mereabsorpsi
bikaibonat ke dalam duktus dan mengabsorpsi klorida. Duktus striata secara aktif
natrium dari liur, sementara ion kaliumian bikarbonat ditambahkan ke dalam sekret liur. Pelipatan
membran sel basal atau striata yang banyak dijumpai di duktus striata mengandung banyak
mitokondria memanjang. Struktur ini khas bagi sel yang mengangkut cairan dan elektrolit
menembus membran sel.
Duktus striata masing-masing lobulus mengalirkan rsinya ke duktus interlobularis atau
ekskretorius yang akhirnya membentuk saluran utama hagi setiap kelenjar, yang kemudian
bermuara ke dalam rongga mulut.
2 Duktus
interkalatus

1 Asini serosa 3 Duktus striatus

GAMBAR 11.16 Kelenjar liur serosa: kelenjar parotis. Pulasan: hematoksilin dan eosin. 165 x.

4 Semiluna
serosa
1 Mukus
#
,x;

I
!l
5 Duktus
interkalatus

6 Duktus
striatus
3 Asini f
serosa

i.,tfjh',i
GAMBAR 11.17 Kelenjar liur campuran: kelenjar sublingualis. Pulasan: hematoksilin dan eosin, 165 x.
BAB 1 1 Ringkasan
Sistem Pencernaan
o Saluran berongga dari rongga mulut hingga kanalis analis
o I(elenjar liur, hati, dan pankreas adalah organ tambahan yang terletak di luar saluran
o Produk-produk sekretorik dari organ tambahan disalurkan ke dalam saluran melalui duktus ekskretorius

Rongga Mulut
o Dilapisi oleh epitel berlapis gepeng untuk perlindungan
r Makanan dikunyah di sini; dan liur melumasi makanan agar mudah ditelan

Bibir
o Dilapisi oleh kulit tipis yang ditutupi oleh epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk
o Pembuluh darah yang terletak dekat dengan permukaan menyebabkan warna merah
o Mengandung rambut, kelenjar keringat dan sebasea, dan kelenjar labialis penghasil-mukus
o Bagian tengah mengandung otot rangka orbicularis oris

Lidah
o Terdiri dari serat otot rangka yang menyilang
o Permukaan dilapisi oleh elevasi permukaan, yang disebut papila filiformis, fungiformis, dan sirkumvalata
o Papila filiformis adalah papila terbanyak dan terkecil yang menutupi lidah; tidak memiliki kuncup kecap
e Papila fungiformis jumlahnya lebih sedikit, lebih besar dengan bentuk mirip-jamur, dan mengandung kuncup
kecap
o Papila sirkumvalata adalah papila terbesar, terletak di bagian belakang lidah, dan memiliki sulkus, kelenjar serosa di
bawahnya, dan kuncup kecap
o Papila foliata rudimenter pada manusia
o l(elenjar lingualis posterior di jaringan ikat bermuara di permukaan dorsal lidah

Kuncup Kecap
o Terletak di papila foliata, fungiformis, sirkumvalata , faring, palatum, dan epiglotis
o Mengandung porus gustatorius dan menempati seluruh ketebalan epitel
o Sel neuroepitelial yang berhubungan dengan akson aferen adalah reseptor untuk pengecapan
o Juga mengandung sel sustentakular penunjang, sementara sel basal dapat berfungsi sebagai sel induk
o Substansi yang dikecap mula-mula dilarutkan dalam liur dan kemudian masuk ke porus gustatorius
o I(elenjar serosa membasahi kuncup kecap bagian perifer di sulkus papila sirkumvalata
o Empat sensasi pengecapan dasar adalah asam, asin, pahit, dan manis
o Ujung lidah peka terhadap asin dan manis; lidah posterior terhadap pahit, dan lateral terhadap asam

Agregasi Limfoid: Tonsil


r Jaringan dan nodulus limfoid difus di faring mulut
o Tonsila palatina dan lingualis dilapisi oleh epitel berlapis gepeng dan menunjukkan kriptus
c Tonsila faringealis jumlahnya satu dan dilapisi oleh epitel bertingkat semu bersilia
r Sebagian nodulus limfe mengandung pusat germinal

Gigi
o Gigi yang sedang tumbuh ditemukan di alveolus dentalis di tulang rahang
o Pertumbuhan ke arah bawah dari epitel mulut menghasilkan lamina dentalis, yang membentuk ameloblas

272
r

a Mesenkim menghasilkan papilla dentalis dan odontobias


a Odontoblas menyekresi dentin, sedangkan ameloblas menghasiikan email gigi

Kelenjar Liur Utama


o Parotis, submandibularis, dan sublingualis adalah kelenjar liur utama yang menghasilkan liur
o Terdiri dari duktus ekskretorius dan asini sekretorius yang membawa liur dari luar ke dalam rongga mulut
o Sel bersifat serosa atau mukosa; sel serosa membentuk semiluna serosa di sekitar asini mukosa
o Sel mioepitel kontraktil mengelilingi asini serosa dan mukosa serta duktus interkalaris
r Asini sekretorius serosa, mukosa, dan campuran mengalirkan sekresi ke dalam duktus interkalaris
o Duktus interkalaris menyatu menjadi duktus striata yang lebih besar dengan pelipatan membran basal
o Duktus striata membentuk duktus interlobularis yang lebih besar dan mengalirkan isinya ke dalam duktus
ekskretorius interlobaris
o l(elenjar menghasilkan sekitar I L air liur per hari, yang kebanyakan mengandung air
o Liur terbentuk setelah stimulasi otonom
o Liur mengandung elektrolit dan enzim pencerna-karbohidrat amilase
o Liur mengandung antibodi yang dihasilkan oleh sel plasma jaringan ikat dan lisozim untuk mengontrol bakteri di
dalam mulut
o Liur mengalami modifikasi oleh transpor selektif ion di duktus interkalaris dan duktus striata
o Natrium direabsorpsi dari liur, dan ion kalium dan ion bikarbonat ditambahkan ke dalam liur
Epithelium
stratificatum
Lamina
squamosum
propfla
Lamina
muscularis
mucosae
Lamina
Vas muscularis
sangurneum mucosae

Ductus,
Tela submuct
submucosa
glandula
submucosa
Tunica
Plexus - muscula
muscularis
myentericus stratum
circulare o
o
d
o
I rrni",
=.
o
x
IL muscularis o
I stratum
!t
I lonoitudinale
l"_
j Tunica
adventitia

Stomach Textus muscularis Textus muscularis levis


striatus skeletalis

ffi Mucocytus
superficiei
ffiExocrino-
cervicalis
'i
i
'!:.:.Lytus
Exocnno-
parietalis
i a.: l:l Exocrino-
''._6.ytus
p ri n ci pal is
- Tunica mucosa
cytus

Lamina
propria
Vas
sangurn-
eum

Textus connectivus

Peritoneum

GAMBARAN lflinllUl l? llustrasi secara rinci yang membandingkan perbedaan struktural empat
lapisan (mukosa, submukosa, muskularis eksterna, dan adventisia atau serosa) di dinding esofagus dan
lambung.

274
Sistem Pencernaan:
Esofagus dan Lambung

Garnharan Urnum Sistem Pencernaan


Saluran pencernaan (gastrointestinal) adalah suatu tabung berongga panjang yang berjalan dari esofagus
sampai ke rektum. Saluran ini mencakup esofagus, lambung, usus halus (duodenum, jejunum, ileum),
usus besar (kolon), dan rektum. Dinding saluran pencernaan terdiri atas empat lapisan yang memper-
lihatkan organisasi histologik dasar. Lapisan-lapisan tersebut adalah mukosa, submukosa, muskularis
eksterna, dan serosa atau adventisia. I(arena fungsi organ pencernaan dalam proses pencernaan berbeda-
beda, morfologi lapisan ini juga memperlihatkan variasi.
Mukosa (tunica mucosa) adalah lapisan paling dalam saluran pencernaan. Lapisan ini terdiri dari
epitel sebagai penutup dan kelenjar yang meluas ke lapisan jaringan ikat longgar di bawahnya yang di-
sebut lamina propria. Batas luar mukosa adalah muskularis mukosa (lamina muscularis mucosae)
yang berupa lapisan otot polos sirkular di sebelah dalam dan longitudinal di sebelah luar.
Submukosa (tela submucosa) terletak di bawah mukosa. Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat pa-
dat tidak teratur dengan banyak pembuluh darah dan limfe serta pleksus saraf submukosa (Meissner).
Pleksus saraf ini mengandung neuron-neuron parasimpatis pascaganglionik. Neuron dan akson pleksus
saraf submukosa mengontrol motilitas mukosa dan aktivitas sekretorikkelenjar mukosa terkait. Dibagian
awal usus halus, duodenum, submukosa mengandung banyak kelenjar mukosa yang bercabang-cabang.
Muskularis eksterna (tunica muscularis) adalah lapisan otot polos yang tebal yang terletak
inferior dari submukosa. Kecuali di usus besar, lapisan ini terdiri dari lapisan otot polos sirkular (tunica
muscularis stratum circulare) di sebelah dalam dan lapisan otot polos longitudinal (tunica muscularis
stratum longitudinale) di sebelah luar. Di antara kedua lapisan otot polos muskularis eksterna terdapat
jaringan ikat dan pleksus saraf lain yang disebut pleksus saraf mienterikus (Auerbach). Pleksus ini juga
mengandung beberapa neuron parasimpatis pascaganglionik dan mengontrol motilitas otot polos di
muskularis eksterna.
Serosa (tunica serosa) adalah lapisan tipis jaringan ikat longgar yang membungkus organ viseral.
Organ viseral mungkin atau tidak dibungkus oleh selapis tipis epitel gepeng yarrg disebut mesotelium
(mesothelium). ;ika suatu organ dilapisi oleh mesotelium, organ tersebut berada di dalam rongga
abdomen atau pelvis (intraperitoneal) dan lapisan luarnya disebut serosa. Serosa menutupi permukaan
luar bagian abdominal di esofagus, lambung, dan usus halus. Lapisan ini juga menutupi bagian kolon
(kolon asendens dan desendens) hanya di permukaan anterior dan lateral karena permukaan posterior
terikat pada dinding posterior abdomen dan tidak dilapisi oleh mesotelium (Gambaran Umum 12).
Jika saluran pencernaan tidak dilapisi oleh mesotelium, saluran tersebut terletak di luar rongga
peritoneal dan disebut retroperitoneal. Dalam hal ini, lapisan terluar melekat pada dinding tubuh dan
hanya berupa suatu lapisan jaringan ikat yang disebut adventisia (tunica adventitia).
Ciri khas masing-masing lapisan sahrran pencernaan dan fungsinya dibahas secara rinci dengan
ilustrasi berbagai organ.

275
Esofagus
Esofagus (oesophagus) adalah suatu saluran lunak dengan panjang kira-kira 10 inci yang berjalan dari
faring sampai ke lambung. Saluran ini terletak di belakang trakea dan di mediastinum rongga toraks.
Setelah turun di rongga toraks, esofagus menembus diafragma muskular. Bagian esofagus yang pendek
terdapat di rongga abdomen sebelum berakhir di lambung.
Di rongga toraks, esofagus hanya dikelilingi oleh jaringan ikat, yang disebut adventisia. Di rongga
abdomen, dinding terluar segmen pendek esofagus dilapisi oleh mesotelium (epitel selapis gepeng)
untuk membentuk serosa.
Di sebelah dalam, lumen esofagus dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
(epithelium stratificatum squamosum non cornificatum) yang basah.Jika esofagus kosong, lumen-
nya memperlihatkan banyak lipatan longitudinal temporer di mukosa. Di lamina propria esofagus
dekat lambung terdapat kelenjar kardia esofagus (glandula cardialis oesophagi). Di submukosa terdapat
kelenjar esofagus kecil. Kedua kelenjar mengeluarkan mukus untuk melindungi mukosa dan mem-
permudah lewatnya bahan makanan melalui esofagus. Dinding luar esofagus, muskularis eksterna,
mengandung campuran berbagai jenis serat otot. Di sepertiga atas esofagus, muskularis eksterna
mengandung serat otot rangka. Di sepertiga tengah esofagus, muskularis eksterna mengandung baik
serat otot rangka maupun otot polos, sementara sepertiga bawah esofagus terutama terdiri dari serat
otot polos (llhat Gambaran Umum l2).

Lambung
Lambung (gaster) adalah organ berongga luas yang terletak di antara esofagus dan usus halus. Pada taut
esofagus-lambung, terdapat perubahan mendadak dari epitel berlapis gepeng esofagus menjadi epitel
selapis silindris lambung. Pada permukaan luminal lambung terlihat banyak lubang kecil yang disebut
foveola gastrica (gastric pit). Lubang ini dibentuk oleh epitel luminal yang berinvaginasi ke lamina
propria jaringan ikat mukosa di bawahnya. Keleniar gastrika (glandula gastrica) tubular terletak di
bawah epitel luminal dan langsung bermuara ke foveola gastrica untuk mengalirkan isinya ke lumen
lambung. Kelenjar gastrika turun melalui lamina propria ke muskularis mukosa.
Submukosa jaringan ikat padat yang terdapat di bawah mukosa lambung, mengandung banyak
pembuluh darah dan saraf. Dinding otot tebal lambung, yaitu muskularis eksterna, terdiri atas tiga
lapisan, bukan dua lapisan seperti yang terlihat di esofagus dan usus halus. Lapisan luar lambung dilapisi
oleh serosa atau peritoneum viscerale.
Secara anatomis, lambung dibagi menjadi bagian kardia (cardia) yang sempit, tempat berakhirnya
esofagus, bagian atas yangberbentuk kubah yaitu fundus, korpus (corpus), dan bagian terminal bentuk-
corong yaitu pilorus (pylorus).
Fundus dan korpus membentuk sekitar dua pertiga lambung dan memiliki histologi yang identik.
Akibatnya, lambung hanya mempunyai tiga daerah histologis yang berbeda. Fundus dan korpus mem-
bentuk bagian utama lambung. Mukosanya terdiri atas berbagai jenis sel dan keleniar gastrika (terletak
di dalam) yang menghasilkan sebagian besar getah atau sekresi lambung untuk pencernaan. Seluruh
bagian lambung memperlihatkan rugae, yaitu lipatan longitudinal mukosa dan submukosa. Lipatan ini
hanya terdapat sementara dan menghilang pada saat lambung teregang oleh cairan atau bahan padat
(Gambaran Umum 12).

GAMBAR 12.1 # Dinding Fsofagus Bagian Atas {Potongan Transversal}


Esofagus adalah suatu tabung bercingga panjang yang dindingnya terdiri atas mukosa, submukosa,
muskularis eksterna, dan adventisia. Dalam gambar ini, bagian atas esofagus dipotong dalam bidang
melintang.
Mukosa (1) esofagus terdiri atas tiga bagian: epitel berlapis gepeng (ta) tanpa lapisan tanduk di
sebelah dalam; selapis tipis jaringan ikat di bawahnya, lamina propria (f b); dan selapis serat otot polos
memanjang, yaitu muskularis mukosa ( tc), ditun;ukkan di gambar ini dalam bidang melintang. Papila
iaringan ikat (9) Iamina propria membentuk indentasi di epitel ( ta). Lamina propria (2) mengandung
pembuluh darah (S) kecil, jaringan limfoid difus, dan nodulus limfoid (7) kecil.
Submukosa (3) esofagus adalah lapisan luas jaringan ikat tidak teratur agak padat yang sering
mengandung jaringan adiposa (fZ). esini mukosa keleniar esofagus propria (2) terdapat di
submukosa (3) dengan interval di sepanjang esofagus. Duktus ekskretorius (f0) kelenjar esofagus (2)
berjalan menembus muskularis mukosa (tc) dan lamina propria (tb) dan bermuara ke dalam lumen
esofagus. Epitel duktus kelenjar yang terpulas-gelap menyatu dengan epitel pbrmukaan berlapis gepeng
(1a) esofagus (llhat Gambar lZ.2). Di dalam jaringanikat submukosaterdapatbanyakpembuiuh darah,
misalnya vena dan arteri ( I l).
Di bawah submukosa (3) terdapat muskularis eksterna (+), yang terdiri atas dua lapisan otot yang
berbatas tegas, lapisan otot sirkular di sebelah dalam (+a) dan lapisan otot longitudinal di sebelah
luar (4b), yang serat ototnya tampak terpotong melintang. Suatu lapisan tipis jaringan ikat ( l3) terletak
di antara lapisan otot sirkular (+a) dan lapisan otot longitudlnal (4b).
Muskularis eksterna (4) esofagus sangat bervariasi pada spesies yang berbeda. Pada manusia, mus-
kularis eksterna (4) di sepertiga atas esofagus terutama terdiri atas otot rangka. Di sepertiga tengah
esofagus, lapisan sirkular dalam (4a) dan lapisan longitudinal luar (+b) memperlihatkan campuran serat
otot polos dan otot rangka. Di sepertiga bagian bawah esofagus, hanya terdapat otot polos.
Adventisia (5) esofagus terdiri atas lapisan jaringan ikat longgar yang menyatu dengan adventisia
trakea dan struktur sekitarnya.Jaringan adiposa (t+), pembuluh darah besar, arteri dan vena (15),
serta serabut saraf (6) banyak ditemukan di jaringan ikat adventisia (5).

j: t-v
.*t..:r
;liP#,
ii:,W
1 l\4ukosa .

a. Epitel berlapis
gepeng
it'
7 Nodulus limfoideus

8 Pembuluh darah
di lamina propria

9 Papila jaringan ikat

b. Lamina propria
1 0 Duktus ekskretorius
c. lVuskularis mukosa kelenlar esofagus
propria

1'1 Vena dan arleri


2 Asini mukosa
kelenjar esofagus
propria

3 Submukosa 1 2 Jarrngan adiposa

4 l\,4uskularis eksterna
a. Lapisan otot
sirkular dalam

13 Jaringan ikal

b. Lapisan otot
longitudinal luar

5 Adventisia Y$r 14 Jaringan adiposa

6 Serat saraf
1 5 Vena dan arteri

GAMBAR 12.1 Dinding esofagus bagian atas (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.
I

GAMBAR 12.2 ffi Esofagus Bagian Atas (Potongan Transversal)


Dua sediaan histologik berikut ini menggambarkan perbedaan antara dinding esofagus bagian atas dan
bawah.
Lapisan-lapisan esofagus mudah dikenali. Mukosa esofagus bagian atas (Gambar I2.I) terdiri dari
epitel ( f ) berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, jaringan ikat lamina propria (2), dan lapisan otot polos
muskularis. mukosa (3) (potongan melintang). Sebuah nodulus limfoid (4) kecil terlihat di lamina
propria (Z). ni submukosa (7) terdapat sel jaringan adiposa dan asini mukosa keleniar esofagus
propria (6) dengan duktus ekskretorius (S) nya. Muskularis eksterna esofagus bagian atas terdiri dari
lapisan sirkular dalam (fO) dan lapisan longitudinal luar (f+) otot rangka, dipisahkan oleh suatu
lapisan iaringan ikat (ff). Lapisan paling luar di sekitar esofagus adalah jaringan ikat adventisia (8)
dengan jaringan adiposa, saraf (13), vena (9), dan arteri (12).

GAMBAR 12.3 ffi Esofagus Bagian Bawah (Potongan Transversal)


Gambar ini menunjukkan bagian akhir esofagus setelah organ ini menembus diafragma dan masuk ke
rongga peritoneum dekat lambung.
Lapisan-lapisan di dinding esofagus bagian bawah serupa dengan yang terdapat di bagian atas ke-
cuali adanya modifikasi regional (lihat Gambar 12.2). Seperti di esofagus bagian atas, mukosa (f ) eso-
fagus bagian bawah terdiri dari epitel (la) berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, jaringan ikat lamina
propria (fb), dan lapisan otot polos muskularis mukosa (fc) (potongan melintang).Juga terlihat
papila iaringan ikat (2) lamina propria (tb) yang menyebabkan indentasi di epitel (ta) dan sebuah
nodulus limfoid (3).
Jaringan ikat submukosa (6) juga mengandung asini mukosa keleniar esofagus propria (5),
duktus ekskretorius (4) ttya, dan iaringan adiposa (Z). li beberapa bagian esofagus, kelenjar-kelenjar
ini mungkin tidak ditemukan.
Perbedaan utama antara esofagus bagian atas dan bawah tampak di dua lapisan berikutnya.
Muskularis eksterna (tO) di esofagus bagian bawah seluruhnya terdiri dari lapisan otot polos, lapisan
otot sirkular dalam (fOa) dan lapisan otot longitudinal luar (tOt). Lapisan terluar esofagus bagian
bawah adalah serosa (S) atau peritoneum viscerale. Serosa (8) terdiri dari lapisan jaringan ikat yang
dilapisi oleh mesotel selapis gepeng. Sebaliknya, adventisia yang mengelilingi esofagus di daerah toraks
hanya terdiri dari lapisan jaringan ikat.
Di esofagus bagian atas, lebih sedikit terdapat jaringan ikat di lamina propria (1b), di sekitar serat
otot polos muskularis eksterna (tO), dan di serosa (8).
7 Submukosa

1 Epitel B Adventisia

9 Vena
2 Lamina propria
10 Lapisan otot sirkular
dalam (otot rangka)
3 Muskularis mukosa

11 Jaringan ikat
4 Nodulus limfoideus

12 Aderi

13 Saraf

14 Lapisan otot
longitudinal luar
(otot rangka)

GAMBAR 12.2 Esotagus bagian atas (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.

1 Mukosa 6 Submukosa
a. Epitel \i
b. Lamina propria
c. Muskularis mukosa
- 7 Jaringan adiposa

\ 8 Serosa (mesotel)
2 Papila jaringan L 9 Vena dan arteri
ikat

10 Muskularis eksterna :
3 Nodulus limfoideus a. Lapisan otot sirkular
dalam (polos)
4 Duktus ekskretorius
b. Lapisan otot
kelenjar esofagus propria
longitudinal luar
(polos)
5 Kelenjar esofagus propria

GAMBAR 12.3 Esofagus bagian bawah (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan eosin.
Pembesaran lemah.
r

GAMBAR 12.4 ffi Hsefagus Hagian Atas: Mukosa dan Submuk*sa


(Patongan Longitudinal)
Gambar esofagus bagian atas dengan pembesaran-kuat ini terpotong memanjang. Serat otot polos mus-
kularis mukosa (9) menunjukkan orientasi longitudinal, dan serat lapisan otot sirkular dalam terpotong
melintang.
Esofagus dilapisi oleh epitel (7) berlapis gepeng. Sel skuamosa membentuk lapisan terluar epitel,
banyak sel polihedral membentuk stratum intermedium, dan sel kolumnar rendah membentuk stratum
basalis. Aktivitas mitosis dapat ditemukan di lapisan epitel yang lebih dalam. Jaringan ikat lamina pro-
pria (S) mengandung banyak pembuluh darah, agregat limfosit, dan nodulus limfoid (2) kecil. Papila
iaringan ikat (l) dari lamina propria (8) membentuk indentasi di epitel permukaan (7). Muskularis
mukosa (9) dlgambarkan sebagai berkas serat otot polos yang terpotong memanjang.
Submukosa (4, f O) di bawahnya mengandung asini mukosa keleniar esofagus propria (4).
Duktus ekskretorius (f r) kecil dari kelenjar (+) tri, yang dilapisi oleh epitel selapis, menyatu dengan
duktus ekskretorius besar yang dilapisi oleh epitel berlapis. Salah satu duktus ekskretorius menyatu
dengan epitel berlapis gepeng (7) lumen esofagus. Di submukosa (:, tO) juga terdapat pembuluh darah
( tz), saraf (5), dan sel adiposa (6).
Di esofagus bagian atas, lapisan otot sirkular dalam (f 3) muskularis eksterna terdiri dari otot
rangka. Sebagian dari lapisan ini digambarkan dalam bidang melintang di bagian bawah gambar.
7 Epitel

1 Papila Janngan
krttd"\ "'.':*'.' i 8 Lamina proprra
ikat r. {;.

2 Nodu us limfordeus *""*tk;*---- 'l-*St.*.=--' .';


ut'.#*
t *.
.:ffiY*3.: : 'i
a

9 Muskularrs mukosa
(potongan memanjang)
.*.{, l. .'*." iry
$Ss;' li.flB
NS{i: r I
S'- :t
3 Submukosa n'"' \ ii]i
; ''n'r'N
f,s .

,"a, , t
.lii!.-ttf :ll

4Asnmukosa ';il:"J::F"0,"
kelenjar esofagus

,"&.6 ** |lfl':; t1:

'=' t_- *.o


a
'.f
\-+i

l'".l,ffi;S
6 Jarnsan adiposa

}fr, ii"'_ ;:*ffiftv".*j. .$Sffihffi


t#F#
GAMBAR'12.4 Esofagus bagian atas: mukosa dan submukosa {pandangan longitudinal}. Pulasan:
"g;nihiliffx"'

hematoksilin dan eosin. Pembesaran sedang.


GAMBAR 12.5 ffi Dinding Esofagus Bagian Bawah {P*tnnEan Transversal}
Fotomikrograf dengan pembesaran-lemah memperlihatkan bagian bawah esofagus dan semua lapisan
mukosa. Mukosa terdiri darr epitel berlapis gepeng (f ) yang tebal tetapi tidak berkeratin, jaringan ikat
lamina prop ria (2) , dan selapis tipis otot polos muskularis mukosa ( 3 ).

Fungsi utama esofagus adalah untuk'mengalirkan cairan dan/atau makanan:yang sudah dikunyah
atau bolus da.ri,longga mulut masuk ke lamkiung, Untuk melaksanakan fungsi ini, lumen esofagus
dilapisioleh epitel berlapisgepertg tanpa lapisan tanduk sebagai pelindung. Yang juga membantu
fungsi tersebut,adalah kelenja'r esofagus yang'terdapat di jaringan ikat dindingnya,,Terdap5t dua
jenis,kelenjar di dinding esofagus, Kelenjar kardia esofagus (glandula cardiilis.oesophag$ terdapat
di,lamina propria bagian atas dan bawah esofagus. Kelenjar ini memiliki mor"fologi:ser,upq dengan
,ke-lenjar yang terdapat di kardia lambung, tempat esofagus berakhir, Keleniar egofagus,propria
(glandula ogsophagea propria) terletak di jaringan ikat submukosa. Kedua'keteniar menghas,ilkan
ptoduksekretorik yaitu mukus, yang disalurkan di dalam dulrtus ekskretorius melalui epitel untuk
mel,umasi'lumen esofagus. B,ahan makanan yang ditelan didorong dari satu ujung ke,ujung,lainnya
oleh,kontraksi kuat:otot yang dlsgbut peristaltik Di ujung bawah esofagus, teldapat3ebruah otot
ltaitu.sfingter lgastroesofageat ,yang,menutup lumen dan mencegah regurgitasi lmakanan yang
sudah ditelan ke dalam esofagus. :, - : l
1 Epitel
berlapis gepeng

2 Lamina propria

3 Muskularis
mukosa

GAMBAR 12.5 Dinding esofagus bagian bawah (potongan transversal). Pulasan: Mallory-azan.30 x
r

GAMBAR 12.6 ffi Taut EsofaEus-Lambung


Ujung akhir esofagus menyatu dengan lambung dan membentuk taut esofagus-lambung. Epitel berlapis
gepeng (f ) tanpa lapisan tanduk esofagus langsung berubah menjadi epitel larnbung (tO) selapis
silindris penghasil-mukus di bagian kardia lambung.
Di taut esofagus-lambung, keleniar esofagus propria (Z) dapat ditemukan di submukosa (S).
Duktus ekskretorius (+, O) dari kelenjar ini berjalan menembus muskularis mukosa (5) dan lamina
propria (2) esofagus ke dalam lumen. Di lamina propria (2) esofagus dekat lambung terdapat keleniar
kardia esofagus (S). naik kelenjar esofagus propria (7) maupun kardia (3) menyekresi mukus.
Lamina propria esofagus (2) berlanjut menjadi lamina propria lambung (f z) yang mengandung
keleniar (rc, V) dan jaringan limfoid difus. Lamina propria lambung (tZ) ditembus oleh foveola
gastrica (f f ) yang dangkal, tempat bermuaranya kelenjar gastrika 1rc, V1.
Di bagian atas lambung terdapat dua jenis keienjar. Keleniar kardia (glandula cardialis) (f7)
tubular simpleks hanya terdapat di daerah peralihan, kardia lambung. Kelenjar ini dilapisi oleh sel silin-
dris penghasil-mukus yang terpulas-pucat. Di bawah bagian kardia lambung terdapat keleniar gastrika
(glandula gastrica) (t6) tubular simpleks, yang sebagian di antaranya memperlihatkan percabangan di
basal.
Berbeda dari kelenjar kardia ( t7), kelenjar gastrika (16) mengandung empat jenis sel berbeda: sel
leher mukosa (exocrinocl'tus cervicalis) (f:) yang terpulas-pucat, sel parietal (exocrinocltus
parietalis) (14) eosinofilikyangbesar, selzimogenikatau chief cell (exocrinocltusprincipalis) (tS)
basofilik, dan beberapa jenis sel endokrin (tidak tampak), yang secara keseluruhan disebut sel entero-
endokrin.
Muskularis mukosa lambung (t S) juga menyatu dengan muskularis mukosa esofagus (S). ni eso-
fagus, muskularis mukosa (5) biasanya merupakan selapis serat otot polos memanjang, sedangkan di
lambung, terdapat lapisan kedua otot polos, yaitu lapisan sirkular dalam.
Submukosa(S, tf) danmuskulariseksterna (S,Zt) esofagusmenyatudengan jaringandanotot
lambung. Pembuluh darah (20) ditemukan di submukosa (a, l). Dari sini, pembuluh darah yang lebih
kecil terdistribusi ke bagian lambung lainnya.

GAMBAR 12.7 fr Taut Esofagus'Lambung (Potongan Transversal)


Fotomikrograf dengan pembesaran-lemah menunjukkan taut esofagus-lambung. Esofagus ditandai oleh
epitel berlapis gepeng (f ) tanpa lapisan tanduk protektif yang tebal. Di bawah epitel (1) terdapat
lamina propria (z), dan di bawahnya lagi terdapat lapisan otot polos muskularis mukosa (3). Lamina
propria (2) membentuk indentasi di permukaan bawah epitel esofagus untuk membentuk papila jaringan
ikat. Taut esofagus-lambung ditandai oleh perubahan mendadak dari epitel berlapis ( 1) esofagus meniadi
epitel selapis silindris (4) lambung. Permukaan lambung juga memperlihatkan banyak foveola gas-
trica (5), tempat keleniar gastrika (6) bermuara ke dalamnya. Lamina propria (7) lambung, berbeda
dengan esofagus, terlihat berupa lapisan tipis jaringan ikat di antara kelenjar gastrika (6) yang tersusun
rapat.
Esofagus Lambung (Gaster)
10 Epitel
lambung

11 Foveola gastrica

12 Lamina propria
(lambung)

13 Sel leher
mukosa

14 Sel parietal

15 Sel zimogenik
(chief cell)
4 Duktus
ekskretorius 16 Kelenjar
gastrika
5 Muskularis
17 Kelenjar
kardra

::ffi'">Si:*,,;il
'3ffH;a "*" '","tffi, ,
(lambung)

18 Muskularis
mukosa
(lambung)

Kelenjar
7 Kelenjar \-;-- '- ' ,
esofagus propria t\ - "
19 Submukosa

20 Pembuluh
9 Muskularis
eksterna
ffi 4n
darah
(venula dan
(esofagus) arteriol)
21 Muskularis
eksterna
(lambung)

GAMBAR 12.6 Taut esofagus-lambung. Pulasan: hematoksilin dan eosin. Pembesaran lemah"

Lambung
4 Epitel selapis
silindris
5 Foveola gastrica
Esofagus

1 Epitel
berlapis
gepeng
6 Keleniar gastrika

2 Lamina propria

3 Muskularis 7 Lamina propria


mukosa

GAMBAR 12.7 Taut esofagus-lambung. Pulasan: Mallory-azan. 3Ox


r

GAMBAR 12.8 ffi Lambung: Bagian Fundus dan Korpus (Potongan Transversal)
Lambung dibagi dalam 3 bagian histologik: kardia, fundus dan korpus, dan pilorus. Fundus dan korpus
adalah bagian lambung yang terluas. Dinding lambung terdiri atas empat lapisan : mukosa (t,2,3),
submukosa (4), muskularis eksterna (5,6, Z), dan serosa (8).
Mukosa terdiri atas epitel permukaan (l), lamina propria (z), dan muskularis mukosa (3).
Permukaan lambung dilapisi oleh epitel selapis silindris (f, f f ) yang meluas ke dalam dan melapisi
foveola gastrica (10), yaitu invaginasi tubular epitel permukaan (tl). Di fundus, foveola gastrica (10)
terletak tidak dalam dan masuk ke dalam mukosa kira-kira seperempat ketebalannya. Di bawah epitel
terdapatjaringanikatlonggarlaminapropria (Z,tz)yangmengisicelah-celahdiantarakelenjargastrika.
Batas luar mukosa dibentuk oleh selapis tipis otot polos muskularis mukosa (S, f S) yang terdiri atas
lapisan sirkular dalam dan longitudinal luar. Berkas tipis otot polos muskularis mukosa (a, f S) meluas ke
dalamlaminapropria (z,tz) diantarakeleniargastrika (f S, r+) kearahepitelpermukaan (1, 1l),yang
terlihat pada pembesaran lebih kuat di Gambar 12.9, nomor 8.
Kelenjar gastrika ( 13, 14) berhimpitan di dalam lamina propri a (2, tZ) dan menempati keseluruhan
mukosa (t, z, l). Kelenjar gastrika bermuara ke dalam dasar foveola gastrica (tO). fpitel permukaan
mukosa lambung mengandung jenis sel yang sama, dari daerah kardia sampai pilorus. Namun, terdapat
perbedaan regional pada jenis sel yang menyusun kelenjar gastrika. Dua jenis sel dapat diidentifikasi di
kelenjar gastrika. Sel parietal (f3) asidofilik terletak di bagian atas kelenjar, sedangkan sel zimogenik
(chief cell) (r+) basofillk menempati bagian bawah. Daerah di bawah kelenjar pada lamina propria (2,
12) mengandung jaringan limfoid atau nodulus limfoid (f 6) kecil.
Mukosa lambung yang kosong memperlihatkan banyak lipatan temporer yaitu rugae (e). Rugae
terbentuk akibat kontraksi lapisan otot polos, muskularis mukosa (a, tS). Saat lambung terisi, rugae
menghilang dan mukosa tampak licin.
Submukosa (4) terletak di bawah muskularis mukosa (:, tS). Pada lambung kosong, submukosa
(+) dapat meluas ke dalam rugae (9). Submukosa (4) mengandung jaringan ikat padat tidak teratur dan
lebihbanyakseratkolagen (rZ) daripadalaminapropria (z,lz).Selainitu, submukosa (4) mengandung
banyakpembuluhlimfe, kapiler (21), arteriol (18) besar, danvenula (f f).libagianyanglebih dalam
pada submukosa terlihat kelompok ganglion parasimpatis pleksus saraf submukosa (Meissner) (ZO)
yang terisolasi.
Muskularis eksterna (5, e ,Z) terdiri dari tiga lapisan otot polos, masing-masing terorientasi dalam
bidang berbeda: lapisan oblik (5) di sebelah dalam, sirkular (6) di tengah, dan longitudinal (7) di
sebelah luar. Lapisan oblik tidak utuh dan tidak selalu tampak pada irisan dinding lambung. Pada gambar
ini, lapisan sirkular terpotong memanjang dan lapisan longitudinal terpotong melintang. Di antara lapisan
otot polos sirkular dan longitudinal terdapat pleksus saraf mienterikus (Auerb ach) (zZ) ganglion
parasimpatis dan serat saraf.
Serosa (8) terdiri dari lapisan tipis jaringan ikat yang menutupi muskularis eksterna (5, 6,7) dan
dilapisi oleh mesotel selapis gepeng peritoneurn viscerale (8). Serosa dapat mengandung banyak sel
adiposa (23).
I

9 Rugae

10 Foveola gastrica
11 Epitel
permukaan
I mukosa 12 Lamina propria

15 Muskularis
mukosa
4 Submukosa
16 Nodulus
iimfoideus
17 Serat
kolagen
18 Arteriol
'19 Venula

20 Pleksus
saraf
submukosa
(Meissner)
Lapisan 21 Kapiler
Muskularis otot sirkular
eksterna
22 Pleksus
saraf
mienterikus
TLapisan l$.ffii (Auerbach)

l"tlln,o,"",l
8 Serosa-------4,
ffit
:i.--'
23 Sel adiposa

(peritoneum
viscerale)

GAMBAR 12.8 Lambung: bagian fundus dan korpus (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran lemah.
r

GAMBAR 12.9 ffi Lannbung; Mukosa Fundus dan Korpus (Potangan Transversai)
Mukosa dan submukosa daerah fundus lambung digambarkan pada pembesaran yang lebih kuat. Epitel
permukaan (r, rS) selapis silindris meluas ke dalam foveola gastrica (ll), yaitu tempat bermuaranya
keleniar gastrika (5) tubular. Lamina propria (6) mengisi celah di antara kelenjar gastrika (S) dan
meluas dari epitel permukaan ( 1) ke muskularis mukosa (9).
Lamina propria (6), yang terdiri dari serat kolagen dan retikular halus, lebih jelas terlihat di toniolan
mukosa (Z). Oi lamina propria (6) tersebar inti fibroblas, akumulasi jaringan limfoid dalam bentuk
nodulus limfoid ( tZ), limfosit, dan sel jaringan ikat longgar lainnya.
Kelenjar gastrika (5) terletak di sepanjang mukosa. Di bagian mukosa yang lebih dalam, kelenjar
gastrika bercabang. Akibatnya, kelenjar gastrika tampak berupa potongan melintang dan oblik. Setiap
kelenjar gastrika terdiri dari tiga bagian. Di taut foveola gastrica dengan kelenjar gastrica yaitu isthmus
(f+), dilaplsi oleh sel epitel permukaan (1, l3) dan sel parietal (+). li bagian bawah kelenjar yaitu
cervix (neck) (15), terutama mengandung sel leher mukosa (3) dan beberapa sel parietal (4). lasut
atau fundus ( f 6) adalah bagian kelenjar yang dalam, terutama terdiri dari sel zimogenik(chief cell) (7)
dan sedikit sel parietal (4). I(elenlar fundus juga mengandung sel yang belum berdiferensiasi dan sel
enteroendokrin (tidak tampak dalam gambar) yang mengeluarkan berbagai hormon untuk mengatur
sistem pencernaan.
Tiga jenis sel dapat ditemukan di kelenjar lambung fundus. Sel leher mukosa (3) terletak tepat di
bawah foveola gastrica (tt) dan terselip di antara sel parietal (4) dalam cervix. Sel parietal (4) terpulas
asidofilik (merah muda) secara keseluruhan, yang membedakannya dari sel lainnya di kelenjar fundus.
Sebaliknya, sel zimogenik (chief cell) (7) basofilik dan dapat dibedakan dari sel parietal (4) asidofilik.
Muskularis mukosa (l) di lambung terdiri dari dua lapisan tipis otot polos, lapisan sirkular dalam
(la) datr lapisan longitudinat tuar (bb). Dalam gambar ini, lapisan sirkular ala- (la) terpotong
memanjang dan lapisan luar (lb) terpotong melintang. Dari muskularis mukosa (l) y""g meluas ke atas
ke epitel permukaan ( t, t:) terdapat berkas otot polos (S, fZ).
Di bawah muskularis mukosa (9) adalah submukosa ( rO) dengan jaringan ikat yang lebih padat.
Serat kolagen (rs) dan inti fibroblas (19) terlihat di submukosa (to). Submukosa (rO) ;uga
mengandung arteriol (20), venula (Zt), pembuluh limfe, dan kapiler, selain sel adiposa.
r

1 Epitel
:i .\:
t: 11 Foveola gastrica
permukan 1 2 Berkas otot polos
ii
2 Tonlolan 13 Epitel permukaan
mukosa

3 Sel leher
mukosa 14 lsthmus

4 Sel
parietal
15 Cervix
5 Kelen.jar
gastrika

6 Lamina
propria
Kelenjar
7 Sel gastrika
zimogeniK
(chief cell)

I Berkas otot
polos
9 Muskularis mukosa:
16 Dasar (fundus)
a. Lapisan sirkular
*"_o_ I
dalam '
bL ,,,1wa'
F C-
longitudinal i G tt
s e@ ?-.":
5. ct r
uar I
.'"'J
*Ys 17 Nodulus limfoideus
1 8 Serat kolagen

1 0 Submukosa
#:..;
19 Fibroblas
20 Arteriol
2'1 Venula

GAMBAR 12.9 Lambung: mukosa fundus dan korpus (potongan transversal). Pulasan: hematoksilin
dan eosin. Pembesaran sedang.
GAMBAR 12.10 ffi Lambung: Bagian Fundus dan Korpus
Fotomikrograf dengan pembesaran-lemah ini menggambarkan mukosa dinding lambung. Daerah fun-
dus dan korpus lambung memiliki histologi yang identik. Permukaan lambung dilapisi oleh epitel se-
lapis silindris (r) penghasil-mukus yang meluas ke dalam foveola gastrica (z). u fundus dan korpus,
foveola gastrica (2) dangkal. Kelenjar gastrika (s), dengan berbagai jenis sel, bermuara ke dalam fo-
veola gastrica (Z). Sel-sel kelenjar gastrika (5) tersusun rapat, dan lumennya tidakjelas terlihat. Sel besar
berwarna-pucat di kelenjar gastrika (5) adalah sel parietal (3) penghasil-asam, yang lebih banyak di
bagian atas kelenjar gastrika (s). set yang lebih gelap adalah sel zimogenik (chief cell) (6), dan paling
banyak terdapat di daerah basal kelenjar gastrika (S). ni antara kelenjar gastrika (5) yaitu jaringan ikat
lamina propria (Z). Seberkas tipis otot polos, muskularis mukosa (8), memisahkan mukosa dari
submukosa (4) lambung.

Kardia dan pilorus terletak di ujung lambung yang berlawanan. Kardia mengelilingi pintu masuk
esofagus ke dalam lambung, Di taut esofagus-lambung terdapat kelenjar kardia (glandula cardialis).
Pilorus adalah daerah yang paling bawah pada lambung dan berakhir di perbatasan bagian awal
usus halus yaitu duodenum. Di kardia, foveola gastrica dangkal, sedangkan di pilorus, {.oveqla
gastrica dalam. Namun, kelenjar gastrika di kedua daerah ini mempunyai garnbaran ,histo,logi
yang sama dan selnya terutama penghasil-mukus. , ,

Sebaliknya, kelenjar gastrika di fundus dan korpus lambung berisi tiga jenis sel:utama. Sel
leher mukosa (exocrinocytus cervicalis) terletak di bagian atas kelenjar gastrika dekat foveola
'besar
gastrica. Sel parietal (exocrinocytus parietatis) adalah sel poligonal dengani sitoplaSmi
eosinofilik yang jelas. Sel ini terutama terletak di setengah bagian atas kelenjar gastrika dan terselip
di antara sel klienlar gastrika lainnya. Sel zimogenili"tr" iA;"f *ll (exocrinocytu, p.incpiriit
kuboid basofilik terutama terletak di bagian bawah kelenjar gastrika.
Selain sel-sel yang terdapat di kelenjar gastrika, mukosa ,"lurun pencernaan juga mengandgng
sel endokrin gastrointestinal atau enteroendokrin (endocrinocyti gastroenteropun.r*utiti; y"n!
tersebar luas. Sel-sel ini banyak tersebar di berbagai organ pencernaan dan terletak di antara,,sel,sel
eksokrin yang ada. Sel-sel ini terlihat kurang jelas pada sediaan histologik normal jika, sediaan
organ pencernaan tidak dipulas dengan teknik pewarnaan khusus. .'
r

2 Foveola
gastrica

5 Kelenjar gastrika

3 Sel parieial

6 Sel zimogenik
(chief cell)

7 Lamina propria

8 Muskularis mukosa

4 Submukosa '- -...,,,..1.,.:;

GAMBAR'12.10 Pulasan: hematoksilin dan


eosin. 50 x
r

GAMBAR 12.11ffi Larnbung: Daerah Fermukaan Mukasa Lambung {Fundusi


Pembesaran yang lebih kuat di daerah permukaan lambung memperlihatkan sel yang membentuk
mukosa fundus dan korpus.
Epitel permukaan (l)silindris memperlihatkan inti lonjong di basal dan sitoplasma terpulas te-
rang karena adanya butiran musigen. Epitel permukaan (1) dipisahkan dari lamina propria (1, Z, t)
olehmembranabasalis(Z)yangtipis.Laminapropria (3,2,5) mengandungbanyakpembuluhdarah
(f ). fpltet permukaan (t) luga meluas ke dalam foveola gastrica (4).
Keleniargastrika(5)terletakdilaminapropria (l,Z,S) dibawahfoveolagastrica(4).Bagian
cervix kelenjar gastrika (5) dilapisi oleh sel leher mukosa (f O) yang memiliki inti bulat di basal. Cervix
kelenjar gastrika (5) yang menyempit terbuka oleh suatu daerah transisi singkat ke dalam dasar foveola
gastrica (4).
Sel parietal (0, f t) adalah sel besar dengan inti bulat berbentuk piramid dan sitoplasma yang
sangat asidofilik, yang terselip di antara sel leher mukosa (tO). Sebagian sel piramid (0, tt) mungkin
memiliki dua inti (binukleus). Permukaan bebas sel parietal (0, tl) menghadap ke lumen kelenjar
gastrika (S). Set parietal (0, tt) adalah sel yang paling jelas terlihat di mukosa lambung dan terutama
ditemukan di sepertiga sampai separuh bagian atas kelenjar gastrika (5).
Diseparuhbagianbawahkelenjargastrika (5) terdapatselzimogenikatau chief cell (f Z) basofilik,
yang juga berbatasan dengan lumen kelenjar. Sel parietal (6,11) luga terlihat di sini.
I

1 Epitel permukaan
8 Lamina propria

2 Membrana basalis

3 Lamina propria 9 Pembuluh darah

4 Foveola
gastrica

10 Sel leher mukosa

11 Sel parietal
5 Kelenjar
gastrika ii :i
(daerah cervix) i$
|*,
6 Sel parietal ro{

12 Sel zimogenik
(chief cell)
7 Lamina propria

GAMBAR 12.11 Lambung: daerah permukaan mukosa lambung (fundus). Pulasan: hematoksilin dan
eosin. Pembesaran kuat
GAMBAR 12,12 ffi tan:hunn: []:eerer-: ffi*=*qal Frdi.;k-u:*s l..*mh*mm iilui-:#i;si
Kelenjar gastrika ( l, 9) di korpus dan fundus lambung menunjukkan percabangan basal (9). Di bagian
atas kelenjar gastrika, sel zimogenik atau chief cell (0, f O) berbatasan dengan lumen kelenjar gastrika
( t, l). ni daerah basal mukosa lambung, sel parietal (2) tertanam di membrana basalis dan tidak selalu
berkontak langsung dengan lumen.
Jaringan ikat lamina propria (3, 7) m"trgelilingi kelenjar gastrika (1). Suatu nodulus limfoid (4)
kecil terletak di lamina propria (:) di dekat kelenjar lambung (t, l). Oua iapisan muskularis mukosa
(5), lapisan sirkular dalam dan lapisan longitudinal luar, terlihat di bawah kelenjar gastrika ( t, 9). eerkas
otot polos (8) berjalan ke atas dari muskularis mukosa (5) ke dalam lamina propria (3, 7) dl antara
kelenjar gastrika ( l, 9).
Berbatasan dengan muskularis mukosa (5) adalah laringan ikat submukosa ( f f
).

il*ne$-.alng
Lambung memiliki banyak fungsi. Lambung menerima, menyimpan, mencampur, dan mencerna
produk makanan dan mengeluarkan berbagai hormon yang mengatur fungsi pencernaan. Sebagian
fungsi dirancang khusus baik secara mekanis maupun kimiawi untuk mengurangi massa bahan
makanan yang tertelan, atau bolus, menjadi massa setengah cair yang disebut iimus. Reduksi
bolus secara mekanis dilakukan oleh kontraksi peristaltik kuat dinding lambung ketika makanan
masuk lambung. Dengan pilorus tertutup, kontraksi otot menggiling din rn"n.ui pw isi lambung
dengan getah lamtrung yang dihasilkan oleh kelenjar gastrika. Neuron dan akson yang terletak dl
pleksus saraf submukosa (plexus nervosus submucosus) dan pleksus saraf mienterikus (plexus
nervosus myentericus) dinding lambung mengatur aktivitas peristaltik. Lambung juga melakukan
sebagian fungsi penyerapan; namun, fungsi ini terbatas pada penyerapan air, alkohol, garam, dan
obat tertentu.

Sel Kelenjar Castrika di K+rpus cian F*andus *-anv:*:ung


Reduksi kimiawi atau pencernaan makanan di lambung adalah fungsi utama sekresi lambung yang
dihasilkan oleh berbagai sel di kelenjar gastrika, khususnya sel-sel yang terletak di daerah fundus
dan korpus lambung. Komponen utama sekresi lambung adalah pepsin, asam hidroklorida,
mukus, faktor intrinsik, air, lisozim, cian berbagai elektrolit.
Sel permukaan atau Iuminal (mucocytus superficiei) yang melapisi lambung mengeluarkan
lapisan tebal mukus, yang fungsi utamanya adalah melapisi, melumasi, dan melindungi permukaan
Iambung dari efek korosif getah asam lambung yang dikeluarkan oleh berbagai sel di kelenlar
gastrika.
Komponen utama getah lambung adalah asam hidroklorida, dihasilkan oleh sel parietal
(exocrinocytus parietalis) yang terletak di bagian atas kelenjar gastrika. Pada manusia, sel parietal
juga menghasilkan faktor intrinsik lambung, suatu glikoprotein yang penting untuk absorpsi
vitamin 8', dari usus halus. Vitamin 812 dibutuhkan untuk pembentukan eritrosit (sel darah
merah) (eritropoiesis) di sumsum tulang merah. Defisiensi vitamin ini menyebabkan anemia
pernisiosa, suatu gangguan pembentukan eritrosit.
Sel zimogenik atau chief cell(exocrinocytus principalis) terisi oleh granula sekretorik yang
mengandung proenzim pepsinogen, suatu prekursor inaktif pepsin. Pelepasan pepsinogen saat
sekresi lambung ke dalam lingkungan lambung yang asam mengubah pepsinogen inaktif menjadi
enzim proteolitik yang sangat aktif, pepsin. Enzim ini mqncerna molekul protein yang besar
menjadi peptida yang lebih kecil, mengubah hampir semua protein menjadi molekul yang lebih
kecil. Pepsin terutama berperan mengubah bahan makanan padat menjadi kimus cair. Aktivitas
sekretorik sel parietal dan