Anda di halaman 1dari 2

Makna Undang-Undang pasal 1,2,dan 3

# Ayat 1:Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

Penjelasan : Tujuan pembangunan ekonomi adalah untuk mencapai kemakmuran masyarakat.


Ketentuan dasar dalam melaksanakan kegiatan ini diatur oleh UUD 1945 pasal 33 ayat 1 yang
berbunyi, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Dalam penjelasan pasal 33 Uud 1945 ini dikatakan bahwa produksi di kerjakan oleh semua,
untuk semua, di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran
masyarakat yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Oleh sebab itu perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang
sesuai dengan itu ialah koperasi.
Penjelasan pasal 33 UUD 1945 ini menempatkan kedudukan koperasi (1) sebagai sokoguru
perekonomian nasional, dan (2) sebagai bagian integral tata perekonomian nasional. Menurut
Kamus Umum Lengkap karangan wojowasito (1982), arti dari sokoguru adalah pilar atau tiang.
Jadi, makna dari istilah koperasi sebagai sokoguru perekonomian dapat diartikan koperasi
sebagai pilar atau penyangga utama atau tulang punggung perekonomian. Dengan demikian
koperasi diperankan dan difungsikan sebagai pilar utama dalam sistem perekonomian nasional.

# Ayat 2 :Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh Negara

Penjelasan : Menteri Negara BUMN saat itu, Mustafa Abubakar, dalam keterangan tertulis di
sidang uji materi UU nomor 30/2009 menafsirkan dikuasai oleh negara berarti negara
sebagai regulator, fasilitator, dan operator yang secara dinamis menuju negara hanya sebagai
regulator dan fasilitator.Pendapat semacam itu juga diadopsi oleh Mahkamah Konstitusi.
Menurut Mahkamah Konstitusi, makna dikuasai oleh negara adalah rakyat secara kolektif
mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan
(bestuursdaad), pengaturan (regelendaad), pengelolaan (beheersdaad) dan pengawasan
(toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dengan begitu, menurut penafsiran MK, pasal Pasal 33 UUD 1945 tidaklah menolak
privatisasi, asalkan privatisasi itu tidak meniadakan penguasaan negara. MK juga mengatakan
bahwa pengusaaan negara terhadap badan usaha cabang produksi tidak harus selalu 100%.MK
berusaha menyimpulkan begini:Pemilikan saham Pemerintah dalam badan usaha yang
menyangkut cabang produksi yang penting bagi negara dan/atau yang menguasai hajat hidup
orang banyak dimaksud, dapat bersifat mayoritas mutlak (di atas 50%) atau bersifat mayoritas
relatif (di bawah 50%) sepanjang Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas relatif
tersebut secara hukum tetap memegang kedudukan menentukan dalam pengambilan keputusan
di badan usaha dimaksud. Tafsiran terhadap pasal 33 UUD 1945 itu sebetulnya tidak perlu,
jikalau semua orang bisa memahami penjelasan pasal pasal 33 UUD 1945 sebelum perubahan,
yang berbunyi: Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua
orang. Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan
orang-seorang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya. Hanya perusahaan yang
tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh di tangan orang-seorang.

Harus diingat, kata dia, Bung Karno adalah ketua Panitia Perancang Undang-Undang
Dasar. Jadi, fikiran beliau sangat banyak tercurahkan dalam penyusunan UUD 1945. Saat itu,
anggota Badan Penyelidik dipilah-pilah menjadi Panitia Perancang Undang-Undang Dasar
dengan ketua Soekarno, Panitia Pembelaan Tanah Air dengan ketua Abikoesno Tjokrosoejoso,
serta Panitia Ekonomi dan Keuangan dengan ketua Mohammad Hatta.Selain itu, untuk merekam
semangat para pendiri bangsa, maka ada baiknya membuka kembali naskah dan dokumen-
dokumen rapat Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan untuk Menyelidiki Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan.

# Ayat 3 :Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Penjelasan : Selanjutnya dikatakan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung
dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehingga, sebenarnya secara tegas
Pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam
ditangan orang- seorang. Dengan kata lain monopoli, oligopoli maupun praktek kartel dalam
bidang pengelolaan sumber dayya alam adalah bertentangan dengan prinsip pasal
33. Masalahnya ternyata sekarang sistem ekonomi yang diterapkan bersikap mendua. Karena
ternyata hak menguasai oleh Negara itu menjadi dapat didelegasikan kesektor-sektor
swasta besar atau Badan Usaha Milik Negara buatan pemerintah sendiri, tanpa konsultasi apalagi
sepersetujuan rakyat.Menduakarena dengan pendelegasian ini, peran swasta di
dalam pengelolaan sumberdaya alam yang bersemangat sosialis ini menjadi demikian besar,
dimana akumulasi modal dan kekayaan terjadi pada perusahaan- perusahaan swasta
yang mendapat hak mengelola sumberdaya alam ini.