Anda di halaman 1dari 18

PANDUAN PELAYANAN KEMOTERAPI

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


UPT DINAS KESEHATAN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA
LEMBAR PENGESAHAN

PENGESAHAN DOKUMEN RSP JEMBER


PANDUAN PELAYANAN KEMOTERAPI

TANDA
NAMA KETERANGAN TANGGAL
TANGAN

Ketua Komite
Medis

Pengendali
Dokumen

Direktur RSUD
BIMA
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA
UPT DINAS KESEHATAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
NOMOR : 102.6/ /PER/2017
TENTANG
PANDUAN PELAYANAN PASIEN KEMOTERAPI

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA,

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya pemberian pelayanan kemoterapi di


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA, diperlukan sebuah
Panduan Pelayanan Kemoterapi.
b. Bahwa agar kegiatan pelayanan pasien kemoterapi dapat
berjalan dengan baik, maka diperlukan Panduan Pelayanan
Kemoterapi.
c. Bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu
ditetapkan berdasarkan Peraturan Direktur rumah sakit umum
daerah bima.

Mengingat : 1. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004


tentang Praktik Kedokteran;
2. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan;
3. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah
Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1438/Menkes/Per/IX/2010 tentang Standar Pelayanan
Kedokteran;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56
Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik Kedokteran;
9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
772/Menkes/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal
Rumah Sakit (Hospital By Laws);
10. Keputusan Gubernur Jawa Tmur Nomor 26 Tahun 2002 Tentang
Tugas Pokok Fungsi Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan
Propinsi Nusa Tenggara Barat;
11. Peraturan Gubernur JawaTimur Nomor 32 Tahun 2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksanan Teknis Dinas
Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Barat.
12. Peraturan Direktur RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA
Nomor 102.6/05/PER/2017 tentang Hospital Bylaws.
13. Peraturan Direktur RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA
Nomor 102.6//PER/2017 tentang Kebijakan Pelayanan
Kemoterapi.
MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA


TENTANG PANDUAN PELAYANAN PASIEN KEMOTERAPI.
KESATU : Panduan Pelayanan Kemoterapi di Lingkungan RSUD Bima
sebagaimana terlampir dalam Peraturan ini.
KEDUA : Panduan Pelayanan Kemoterapi di lingkungan RSUD Bima
digunakan dalam pengelolaan manajerial Pasien Pro Kemoterapi
di RSUD Bima.
KETIGA : Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam Peraturan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Bima
Pada tanggal :

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


BIMA
LAMPIRAN
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA
NOMOR : 102.6/ /PER/2016
PANDUAN PELAYANAN PASIEN KEMOTERAPI

KATA PENGANTAR

Indonesia pada saat ini tengah mengalami perubahan pola penyakit, dari
penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, stroke,
hipertensi, myocard infark, kanker dan lain-lain. Data yang akurat tentang kanker di
Indonesia sampai saat ini belum ada, yang jelas menurut Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 1995 memperlihatkan 6% kematian di Indonesia diakibatkan
oleh kanker. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk terapi kanker. Dalam dunia
kesehatan, kanker umumnya diobati dengan tiga jenis (modalitas) pengobatan yaitu
operasi, radioterapi dan kemoterapi. Ada satu jenis lagi yang juga sedang
dikembangkan yaitu imunoterapi/ bioterapi.
Dalam perkembangannya, Rumah Sakit umum daerah bima diharapkan dapat
memberikan pelayanan pasien dengan pro tindakan kemoterapi dengan optimal.
Mulai adanya pasien kanker pro kemoterapi yang dirujuk balik dari tingkatan Faskes
lebih tinggi membuat RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BIMA harus bersiap
memberikan pelayanan kepada pasien-pasien tersebut. Salah satu langkah
persiapan dari Rumah Sakit Paru adalah menyusun sebuah Panduan Pelayanan
Pasien dengan kebutuhan kemoterapi. Diharapkan dengan adanya panduan
pelayanan pasien kemoterapi ini nantinya Rumah Sakit dapat memberikan
pelayanan yang baik. Degan pelayanan yang baik, diharapkan terjadi peningkatan
kualitas dan harapan hidup pasien dengan kanker, serta melindungi tenaga
kesahatan terkait dari efek obat kemoterapi tersebut.

Bima,
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i


PENGESAHAN DOKUMEN ................................................................................... ii
PERATURAN KEPALA RS .................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................... v
DAFTAR ISI ............................................................................................................ vi
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................1
BAB II RUANG LINGKUP .......................................................................................2
BAB III KEMOTERAPI ............................................................................................3
BAB IV TATA LAKSANA .........................................................................................4
BAB V DOKUMENTASI ..........................................................................................16
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penderita kanker di Indonesia mulai mengalami peningkatan yang cukup


tajam, hal ini dapat dilihat dari data-data tentang kasus kanker yang dipublikasikan
oleh berbagai lembaga kanker dan oleh pemerintah sendiri. WHO memprediksi
bahwa pada tahun 2030 akan terjadi peningkatan hingga mencapai tujuh kali lipat
dari kasus yang ada sekarang.
Dengan semakin meningkatnya penderita kanker juga akan meningkatkan
kasus kematian yang disebabkan oleh kanker.
Kanker adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal diubah oleh
mutasi genetik dari DNA seluler, sel kanker menginfiltrasi jaringan sekitar dan
memperoleh akses ke limfe dan pembuluh darah, melalui pembuluh darah tersebut
sel-sel kanker menyebar ke bagian tubuh yang lain (metastase). Pengobatan kanker
harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah terjadinya metastase.
Pengobatan kanker meliputi operasi, kemoterapi, radiasi dan juga hormonal
terapi. Pasien kanker biasanya enggan ketika dihadapkan pada pilihan pengobatan
dengan kemoterapi karena efek samping obat yang sangat tidak mengenakkan.
Sedangkan tindakan kemoterapi dinilai sebagai tindakan yang paling efektif dan akan
sangat membantu kenyamanan pasien bila diberikan dengan tepat (tepat indikasi,
tepat obat, tepat dosis, tepat cara pemberian dan tepat pemantauan efek obat).
Penggunaan kemoterapi secara efektif dan aman pada penderita kanker
pertama kali diterima setelah melalui clinical trial di universitas Yale pada tahun 1942.
Penelitian dilakukan pada penderita lymphoma maligna dengan menggunakan
bahan nitrogen mustard yang mengalami gangguan pada pertumbuhan bone marrow
dan adanya hipolasia sel limfoid akibat dampak dari exposed nitrogen mustard pada
perang dunia II.
Kemoterapi merupakan salah satu pengobatan kanker yang paling banyak
menunjukkan kemajuan dalam pengobatan kanker. Perkembangan kemoterapi yang
pesat dalam dekadeini tidak lepas dari hasil pengamatan empirisdi klinik, oleh karena
itu kebanyakan sitostatika yang digunakan di klinik mekanisme kerjanya belum
diketahui dengan jelas. Ini tidak mengurangi kenyataan untuk perbaikan
strategikemoterapi ke arah perkembangan baru. Pengetahuan tentang mekanisme
kerja obat-obat baru dan obat konvensional sangat penting untuk pemilihan
kombinasi yang baik, cara pemberian yang tepat dan menghindari komplikasi toksik.
Obat kemoterapi merupakan obat yang toksik untuk semua sel sehingga
selain membunuh sel kanker juga menggaggu sel-sel yang normal. Manifestasi klinis
dari kerusakan sel-sel tubuh yang normal adalah alopesia, mual dan muntah, diare,
stomatitis, perubahan status hematologi dan beberapa efek samping lainnya yang
dapat mempengaruhi kemampuan koping pasien. Asuhan keperawatan pasien
dengan terapi sitostatika (kemoterapi) merupakan suatu proses perawatan yang
mencakup seluruh kehidupan yang komplek, sehingga diperlukan pendekatan yang
holistik yaitu biopsikososial spiritual. Segala dampak menjadi tekanan pasien dan
keluarga, perubahan fisik, psikologis, serta pengeluaran yang tidak sedikit.
Sebagai perawat profesional di RSUD bima harus dapat memberikan asuhan
keperawatan pada pasien sejak sebelum, selama, dan setelah mendapatkan
kemoterapi. Asuhan keperawatan pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi
2

harus dapat mencegah dan mengenali setiap gejala yang timbul, serta melakukan
tindakan yang tepat untuk mengatasinya.
Mengingat peran perawat dalam pemberian kemoterapi sangat penting, maka
perawat yang bekerja di bangsal kanker harus mendapat pendidikan khusus tentang
kemoterapi.

B. TUJUAN

I. TUJUAN UMUM
Sebagai panduan/acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan tindakan kemoterapi yang berkualitas sesuai
standar yang berlaku di rumah sakit.

II. TUJUAN KHUSUS


Agar seluruh petugas kesehatan memiliki pengetahuan tentang sitostatika
karena penting untuk memahami potensial karsinogenik dan bahaya yang
ditimbulkan oleh obat tersebut. Antara lain pengetahuan tentang :

Pemberian kemoterapi secara aman.


Mencegah dan mengatasi ekstravasasi
Deteksi dini penyakit akibat kerja di unit kemoterapi
Penanganan tumpahan kemoterapi pada pasien atau petugas
Pengelolaan limbah kemoterapi
Proteksi petugas kemoterapi
3

BAB II
RUANG LINGKUP

Pelayanan Pasien Kemoterapi dilakukan di Ruang Rawat Inap terutama wajib


diketahui oleh dokter, perawat dan ahli farmasi yang berkompeten dalam
memberikan asuhan kepada pasien yang menjalani kemoterapi.

Panduan Ini mencakup :


1. Instalasi Rawat Inap
2. Instalasi Farmasi
3. Ruangan Kemoterapi
4. Instalasi Sanitasi dan Keindahan

A. PENGERTIAN KEMOTERAPI
Kemoterapi adalah pemberian obat anti kanker (sitostatika) yang bertujuan untuk
membunuh sel kanker.
Strategi pemberian : dapat sebagai terapi ajuvan, konsolidasi, induksi,
intensifikasi, pemeliharaan, neoadjuvan maupun paliatif.
Tujuan Pemberian Kemoterapi:
a. Kuratif : sebagai pengobatan
b. Mengurangi massa tumor selain dengan pembedahan atau radiasi.
c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan kwalitas hidup penderita.
d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.

Cara pemberian :

a.Intra vena
Pemberian intravena untuk terapi sistemik, dimana obat setelah melalui
jantung dan hati baru sampai ke tumor primer. Cara intravena ini yang
paling banyak digunakan untuk khemoterapi. Dalam pemberian intravena
usahakan jangan ada ekstravasasi obat.
b.Intra arterial
Pemberian intra arteri adalah terapi regional melalui arteri yang memasok darah
ke daerah tumor dengan cara INFUSI INTRA ARTERI menggunakan
catheter dan pompa arteri. Infus intra arteri digunakan untuk memberikan
obat selama beberapa jam atau hari.
c.Intra oral
d.Intra cavitas/intra peritoneal
Obat disuntikkan atau di instalasi ke dalam rongga tubuh, seperti intra: pleura,
peritoneum, pericardial, vesikal atau tekal.
e.Sub kutan
f.Topikal.

B. INDIKASI KEMOTERAPI
1. Ajuvan : kanker stadium awal atau stadium lanjut lokal setelah pembedahan.
2. Neo ajuvan (induction chemotherapy) : kanker stadium lanjut lokal.
3. Paliatif : kanker stadium lanjut jauh.
4. Sensitisizer : kemoterapi yang dilakukan bersama-sama radioterapi.
4

C. KONTRA INDIKASI
1. Kontra Indikasi absolut
a. Penyakit stadium terminal.
b. Hamil trimester pertama, kecuali akan digugurkan.
c. Septokemia.
d. Koma.
2. Kontra Indikasi Relatif.
a. Usia lanjut, terutama untuk tumor yang pertumbuhannya lambat dan
sensitivitasnya rendah.
b. Status performance yang jelek.
c. Gangguan fungsi organ vital yang berat, spt : hati, ginjal, jantung, sumsum
tulang, dll.
d. Dementia.
e. Penderita tidak dapat datang ke klinik secara teratur.
f. Pasien tidak kooperatif.
g. Tumor resisten terhadap obat.

D. SYARAT PASIEN KEMOTERAPI PERTAMA


Pasien dengan keganasan memiliki kondisi dan kelemahan, yang apabila
diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan
kemoterapi perlu pertimbangan sebagai berikut:
1. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status
penampilan 2 atau karnoffsky 60.
2. Jumlah lekosit 4000/ml.
3. Jumlah trombosit 100.000/ul.
4. Cadangan sumsum tulang masih adekuat, misal HB 10ml/dl.
5. Creatinin Clearence diatas 60ml/menit (dalam 24 jam) test faal ginjal
6. Bilirubin < 2 mg/dl, SGOT dan SGPT dalam batas normal (test faal hepar).
7. Elektrolit dalam batas normal.
8. Tidak diberikan pada usia diatas 70 tahun.

Skala Karnofsky

Kemampuan Fungsional Derajat Aktifitas


Mampu melaksanakan 100% normal tanpa keluhan
aktivitas normal tidak ada kelainan
Tidak perlu 90% keluhan gejala minimal
Perawatan khusus 80% normal dengan beberapa
keluhan gejala
Tidak mampu bekerja 70% mampu merawat diri
Bisa tinggal di rumah tak mampu melakukan aktivitas
Perlu bantuan dalam banyak hal normal atau bekerja
60% kadang kadang perlu bantuan
tetapi umumnya dapat melakukan
untuk keperluan sendiri
50% perlu bantuan dan umumnya
perlu obat-obatan
Tak mampu merawat diri 40% perlu bantuan dan perawatan
Perlu perawatan di rumah khusus
Sakit atau lembaga lain
5

30% perlu pertimbangan-


pertimbangan masuk rumah sakit
20% sakit berat, perawatan rumah
sakit, pengobatan aktif supportif
sangat perlu
10% mendeteksi ajal
0% meninggal

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Diagnosis dan Stadium
a. Diagnosis keganasan harus sudah confirmed (tripple diagnostic) yang
terdiri dari : pemeriksaan fisik, imaging dan patologi atau sitologi.
b. Penentuan stadium : foto thorax, USG abdomen, mamografi kontra lateral,
bone scan dan lain-lain sesuai dengan jenis kankernya.
c. Laboratorium dasar : Darah Lengkap (DL), SGOT,SGPT, BUN.
d. Tinggi badan dan berat badan : mengukur luas permukaan tubuh untuk
menentukan dosis obat.
2. Pemeriksaan Tambahan
Creatinin Clearence, EKG ataupun Echocardiografi, asam urat, serum elektrolit,
tumor marker.

F. STANDAR KETENAGAAN
1. Syarat petugas
a. Staf harus sudah mendapatkan pendidikan kemoterapi.
b. Staf harus mengetahui cara persiapan, pemberian dan pencegahan resiko
obat.
c. Staf harus mengikuti perkembangan onkologi.
2. Staf yang tidak diperbolehkan menangani obat sitostatika
a. Wanita hamil
b. Wanita/ibu yang sedang menyusui.
c. Wanita yang sedang merencanakan kehamilan.
d. Staf yang belum terlatih.
e. Staf yang belum dewasa.
f. Siswa perawat yang sedang praktek.
g. Pegawai/staf yang tidak memakai APD.

3. Hak petugas
a. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap dan fungsi ginjal.
b. Gejala-gejala yang dirasakan staf harus diketahui oleh Penanggung Jawab
Ruangan dan medis.
c. Rotasi petugas minimal dua tahun sekali untuk meminimalkan resiko.

G. STANDAR RUANGAN PENANGANAN OBAT SITOSTATIKA


a. Persyaratan ruang aseptik
1) Permukaan dinding dilapisi dari bahan yang mudah dibersihkan, licin
(lapisan epoksi/vinyl) dan sudut melengkung
2) Permukaan lantai dilapisi dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak
boleh pakai nat
3) Ruang pencampuran sitostatika di usahakan dekat dengan ruangan
kemoterapi
6

4) Kondisi ruang terkontrol : suhu 18-22 C, kelembabab 35-50%, tekanan


udara (negative pressure), suplai udara ke dalam clean room melalui
hepa filter
5) Desinfeksi clean room dilakukan 1x/minggu dengan membersihkan
dinding dan lantai dengan lap yang dibasahi Clorin 0,5% tablet 2,5 gram
diencerkan dengan 1000cc air hangat
b. Ruang antara / Antee Room
Ruang ini terletak antara ruang cuci tangan dan ruang aseptik
c. Ruang Cuci Tangan
Ruangan ini digunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah
melakukan penanganan obat sitostatika
d. Ruang Transfer
Ruang yang dipakai untuk persiapan sebelum pencampuran sitostatika.
Kegiatan yang dilakukan meliputi :
1) Pencatatan jenis dan volume pelarut
2) Pencatat etiket dan tanggal kadaluwarsa
3) Dimasukkan ke dalam transfer box
e. Ruang Produksi
Ruang yang digunakan untuk tempat penyimpanan obat-obat sitostatika.
Diusahakan ruang produksi dekat dengan ruang kemoterapi

H. STANDAR ALAT PENANGANAN OBAT SITOSTATIKA


a. Pass Box
Jendela antara ruang transfer dan ruang aseptic yang berfungsi untuk
keluar masuknya obat ke dalam ruang aseptic, pakai interlock untuk
mencegah aliran udara antara 2 ruang
b. LAF (Laminary Air Flow)
LAF yang digunakan untuk pencampuran obat sitostatika adalah tipe
BSC (Biological Safety Cabinet). Validasi hepafilter dilakukan setiap 6
bulan dengan melakukan kalibrasi. Hepafilter diganti setiap 4 tahun sekali.
Aliran udara yang masuk kedalam LAF harus konstan
c. BSC (Biological Safety Cabinet)
Alat yang digunakan untuk pencampuran sitostatika yang berfungsi
untuk melindung petugas, materi yang dikerjakan dan lingkungan sekitar.
Prinsip kerja alat ini adalah tekanan udara di dalam lebuh negative dari
tekanan di luar sehungga aliran udara bergerak dari luar ke dalam BSC. Di
dalam BSC udara bergerak vertikalmembentuk barier, sehingga jika ada
perciakn obat sitostatika tidak terkena petugas. Untuk validasi alat ini
harus dikalibrasi setiap 6 bulan. BSC dibersihkan setiap hari dengan
alcohol 70%
d. Kelengkapan APD
APD yang digunakan untuk menangani obat sitistatika meliputi:
1) Topi
Tutup kepala harus menutupi rambutsekeliling agar tidak ada partikel
yang dapat mengkontaminasi sediaan. Tutp kepala harus menutupi
kepala dan leher yang terbuat dari kain.
2) Kacamata plastik/ google (untuk melindungi dari percikan atau
pelindung muka)
3) Pakaian pelindung dibuat lengan panjang yang terbuat dari kain,
denganbagian dalam disposable, bagian luar steril
4) Sepatu
7

Sepatu terbuat dari bahan yang tidak tembus benda tajam, petugas
farmasi yang bertugas dalam pencampuran obat sitostatika
menggunakan sepatu boot.

I. RUANG PERAWAATAN KEMOTERAPI


Ruang kemoterapi dilakukan di unit rawat inap tersendiri, dan ada
tempat sendiri untuk pasien menular. Bila pasien muntah, BAK, BAB di
haruskan ke toilet karena ekskresi yang keluar dari tubuh pasien baik
keringat, urine, tinja muntahan selama 2x24 jam masih mengandung obat
sitostatika. Karena itu linen bekas pasien harus dipisahkan untuk
mencegah terjadinya paparan

J. ALAT DAN BAHAN DI RUANG PERAWATAN KEMOTERAPI


1) Box tertutup, terkunci yang diberi label sitostatika (untuk tempat
sediaan obat kemoterapi yang dikemas dalam kantong hitam/parafilm)
2) Papan kecil yang bertuliskan chemotherapy drug spill untuk
mengisolasi daerah tumpahan obat kemoterapi
3) Spill kit/ kit tumpahan kemo
Tempat berisi alat-alat yang digunakan bila terjadi tumpahan obat
kemoterapi yang berisi gaun 1 set, tali raria, tissue, celemek plastic,
kain bekas disposable, sarung tangan hand seal dan sarung tangan
disposible, masker N 95, plastic kuning, plastik hitam, plastik ungu,
skop kecil, pinset, air detergen, air bersih.
4) Kotak tertutup
Tempat yang digunakan untuk tempat obat kemoterapi yang siap di
berikan kepada pasien.
5) Sampah
Sampah kemoterapi dimasukkan ke dalam plastic warna ungu, dan
diberi label sampah kemoterapi, untuk spuit dan jarum dimasukkan
pada box khusus yang tidak tembus benda tajam
6) Troli linen tertutup
Tempat yang digunakan untuk mengangkut linen kotor yang
dimasukkan pada pkastik warna hitam yang diberi tanda linen
kemoterapi, diikat dengan tali raffia, di laundry di rendam dengan
deterjen 0,5 -1 jam lalu dibilas dengan air bersih
7) Label
Digunakan untuk memberi tanda yang ditempelkan pada obat
sitostatika yang sudah dicampur yang meliputi tanggal, nama pasien,
nomor rekam medis, ruangan, sediaan obat mg dalam ml, volume akhir
penyimpanan, suhu kamar/ lemari es, tanggal kadaluwarsa obat
sitostatika
8) Dokumentasi
Ada format pelayanan pencampuran sitostatika, format kecelakaan
kerja obat sitostatika, format penanganan ekstravasasi, format
asesmen harian nyeri kanker.
8

BAB III
TATALAKSANA

A. TATA LAKSANA PERSIAPAN PASIEN KEMOTERAPI


1. Aspek penderita dan keluarga, meliputi :
a. Penjelasan tentang tujuan dan perlunya kemoterapi sehubungan dengan
penyakitnya.
b. Penjelasan mengenai macam dan jenis obatnya, jadwal pemberian dan
persiapan setiap siklus obat kemoterapi.
c. Penjelasan mengenai efek samping yang mungkin terjadi pada
penderita.
d. Pejelasan mengenai harga obat kemoterapi (kalau perlu)
e. Informed consent.
2. Aspek Onkologis, meliputi:
a. Diagnosa keganasan telah confirmed baik secara klinis (besarnya tumor
diukur dengan kaliper atau penggaris), radiologis dan patologis (triple
diagnostic), kalau memungkinkan diperiksa juga tumor marker.
b. Tentukan stadium (klinis, imaging) dengan sistem TNM.
c. Tentukan tujuan terapi (neoajuvan, ajuvan, terapeutik atau paliatif).
d. Tentukan regimen kombinasi terapi, dosis dan prosedur pemberianya.
3. Aspek Medis
a. Anamnesa yang cermat mengenai adanya komorbiditas yang mungkin
ada yang dapat mempengaruhi pemberian kemoterapi seperti usia,
penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kelainan fungsi ginjal atau hati,
kehamilan dan lain-lain.
b. Pemeriksaan secara menyeluruh semua keadaan yang berhubungan
dengan penyakit tersebut di atas ( klinis, imaging dan laboratorium ).
Pemeriksaan laboratorium terdiri dari darah lengkap, fungsi hati, fungsi
ginjal, gula darah puasa dan 2 jam pp (sesuai indikasi), pemeriksaan
jantung (EKG) atau kalau perlu Echocardiography (EF).
Pada pemberian kemoterapi siklus berikutnya bila tidak ada kelainan
pada pemeriksaan fisik cukup diperiksa darah lengkap saja (HB, lekosit,
trombosit, netrofil).
c. Penentuan status performance (karnoffsky atau ECOG).

B. PERSIAPAN PEMBERIAN OBAT (DRUG ADMINISTRATION)


Keamanan penanganan obat sitostatika merupakan hal yang penting
yang harus diperhatikan oleh dokter, perawat, farmasi, penderita,
gudang/distribusi. Oleh karena itu persiapannya harus sesuai prosedur.
1. Persiapan Obat
a. Dosis : ditentukan dengan menggunakan luas permukaan tubuh (body
surface area /BSA) yang diketahiu dengan mengukur TB dan BB.
b. Storage dan Stability
Baca petunjuk mengenai storage dan stability masing-masing obat
sehingga tetap dalam keadaan baik. Obat yang tidak mengandung
preservasi setelah dibuka/dilarutkan (oplos) harus segera dibuang dalam
waktu 8-24 jam.
9

c. Preparasi (pelarutan)
Pelarut untuk masing-masing obat biasanya disebutkan dalam
penjelasan pemakaian masing-masing obat. Kadang ada pelarut yang
incompatible terhadap obat-obat tertentu.
Secara umum pelarut yang biasa dipakai adalah Dextrose 5% atau NaCl
fisiologis.
Pelarutan/ preparation dilakukan dalam tempat tertentu (BSC) dan
dilakukan oleh petugas atau pharmacist yang terlatih.
2. Persiapan provider
a. Memakai gaun yang khusus atau schort.
b. Memakai masker yang dispossible.
c. Memakai handscoon karet.
d. Memakai topi pelindung kepala.
e. Memakai kacamata pelindung terhadap percikan obat, tanpa
menghalangi lapangan penglihatan (kaca goggle).
f. Well trained.
3. Persiapan peralatan dan cairan
a. Jarum suntik yang kecil, abocath no 20 atau 24 (disesuaikan dengan
ukuran vena).
b. Spuit disposibel 3cc, 5cc, 20cc.
c. Infus set, pada obat golongan taxan telah disediakan infus set khusus.
d. Larutan NaCl 0,9% 100 cc, NaCl 0,9% 500 cc dan aquadest 25 cc.
e. Syringe pump/infuse pump kalau ada.
f. Alas penyuntikan, untuk menghindari kontak obat dengan laken.
4. Pemberian obat kemoterapi di ruangan
a. Serah terima obat dengan petugas farmasi meliputi nama pasien, nomer
register, dan jenis obat.
b. Teliti protokol pemberian obat kemoterapi yang akan diberikan.
c. Cek apakah informed consent sudah ada.
d. Pakai proteksi, gaun lengan panjang, topi, masker, kacamata, dan
sarung tangan
e. Pilih vena yang paling distal dan lurus (biasanya metacarpal bagian
distal) dan kontralateral dengan kankernya. Dipastikan tidak terjadi
ekstravasasi yaitu dengan memasang infus dan drip cepat.
f. Berikan anti emetik dan anti histamin sesuai protokol
g. Berikan antineoplastik secara perlahan-lahan sesuai protokol.
h. Setelah penyuntikan selesai, alat-alat atau botol bekas dan obat
sitostatika dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diikat serta
dimasukkan dalam wadah sampah medis khusus.
i. Buka gaun, topi, masker, kacamata, direndam dengan deterjen, bila
disposable masukkan ke kantung plastik, ikat dan beri stiker, kirim ke
incenerator.
j. Catat semua tindakan ke dalam rekam medik elektronik

C. TATA LAKSANA PENANGANAN OBAT TUMPAH


1. Penanganan tumpahan sitostatika di dalam BSC :
a. Memastikan blower / exhaust ban tetap dalam keadaan menyala
b. Mengganti sarung tangan atau baju yang terkena tumpahan dan
memasukkan dalam kontainer khusus
c. Menggunakan APD lengkap (baju, masker, topi, kacamata, handschoen,
sepatu)
10

d. Mengangkat pecahan benda tajam dengan pinset dan memasukkan dalam


kantong buangan sitostatika
e. Menghisap dengan kain flanel kering jika tumpahan berupa liquid atau
menghisap dengan kain flanel basah jika tumpahan berupa serbuk
f. Mencuci dasar Biological Safety Cabinet (BSC) dengan detergen dan
membilas dengan aquadest
g. Membuang sarung tangan dan kain lap yang terkena kontaminasi ke
kantong buangan sitostatika

2. Penanganan tumpahan sitostatika di ruangan atau di luar Biological Safety


Cabinet (BSC)
a. Mengisolasi daerah yang terkontaminasi agar jangan di lewati orang
b. Mengambil Spill Kit ( Kit Tumpahan)
c. Mengguakan APD lengkap
d. Mengangkat pecahan benda tajam dengan pinset dan memasukkan ke
dalam kantong khusus
e. Menghisap dengan kain flanel kering jika tumpahan berupa likuid atau
menghisap dengan lap basah jika tumpahan berupa serbuk
f. Mengelap lantai /tempat yang terpapar dengan detergen dan membilas
dengan aquadest
g. Membuang sarung tangan dan kain lap yang terkena kontaminasi ke
kantong buangan sitostatika dan diikat

D. TATA LAKSANA PERESEPAN KEMOTERAPI


1. Resep ditulis oleh dokter
2. Resep ditulis menggunakan format khusus ( seperti terlampir)
3. Resep seluruh pasien kemoterapi disiapkan oleh instalasi farmasi

E. TATA LAKSANA IDENTIFIKASI, PENCEGAHAN, DAN PENANGANAN


RISIKO/EFEK SAMPING PADA PASIEN
1. Efek samping pada gastrointestinal:
a. Stomatitis , disfagia dan anoreksia
Penanganannya dengan:
1) Jagalah mulut agar tidak kering dengan menggunakan mouthwash yang
non alkoholik
2) Hindari makanan dan minuman yang tinggi kadar asamnya dan makanan
yang terlalu dingin atau panas
b. Nausea dan vomiting
Penanganannya dengan :
1) Hindari makanan terlalu manis, asin, berlemak dan beraroma kuat
2) Makan dalam porsi kecil tapi sering
3) Ciptakan situasi yang menyenangkan pada waktu pemberian kemoterapi
4) Berikan obat anti emetic sebelum dan sesudah pemberian kemoterapi
c. Diare
Penanganannya dengan cara:
1) Diit rendah residu/sisa, tinggi kalori dan protein
2) Hindari makanan yang mengiritasi mukosa
3) Minum sedikitnya 3 liter sehari
4) Bila diare segera konsultasikan dengan dokter
d. Konstipasi
11

Penanganannya dengan cara:


1) Minum jus atau makan buah setiap kali makan
2) Minum minuman hangat sebelum BAB
3) Minum 3 liter sehari bila tidk ada kontraindikasi
4) Makan tinggi serat

2. Efek samping pada sel darah


a. Anemia
Penanganannya dengan cara:
1) Catat dan laporkan gejala anemia, periksakan kadar Hemoglobin dan
hematokrit pasien.
2) Tambahkan suplemen zat besi
3) Terapi medikamentosa jika perlu berikan transfuse
b. Leucopenia
Keadaan imunosupressed ditandai dengan neutropenia akibat penyakit atau
pengobatannya. Pada pasien dengan leucopenia dapat diberikan pengobatan
dengan Leucogen sebelum dilanjutkan kemoterapi
c. Trombositopenia
Penanganannya dengan cara:
1) Istirahat cukup
2) Jaga status gizi yang optimal terutama protein
3) Bila perlu transfuse platelet
3. Efek samping pada kulit dan jaringan lainnya
Reaksi pada kulit biasanya berupa urticaria, erytema, hyperpigmentasi,
folikulitis. Penanganannya pemberian kemoterapi sementara dihentikan,
berikan obat anti alergi.
12

BAB IV
DOKUMENTASI

A. PENCATATAN PENGELOLAAN KEMOTERAPI


1. Kewenangan dan kewajiban pencatatan oleh petugas yang melakukan
tindakan kemoterapi sebagai data untuk memantau pasien
2. Setiap professional pemberi asuhan wajib mendokumentasikan hasil
skrining dan assessment kemoterapi serta mencatat pengelolaan
pelayanan kemoterapi yang dilakukan kepada pasien pada acatatan rekam
medis pasien.
3. Dengan diberikannya informasi dan edukasi pasien, diharapkan komunikasi
yang disampaikan dapat di mengerti dan diterapkan oleh pasien. Dengan
pasien mengikuti arahan dari rumah sakit, diharapkan mempercepat proses
penyembuhan pasien.
4. Setiap petugas dalam memberikan informasi dan edukasi pasien, wajib
mengisi formulir edukasi dan informasi, dan ditanda tangani kedua belah
pihak antara dokter dan pasien maupun keluarga pasien.Hal ini dilakukan
sebagai bukti bahwa pasien dan keluarga pasien telah diberikan edukasi
dan informasi yang benar.

B. PENCATATAN PEMBERIAN INFORMASI DAN EDUKASI


1. Hal-hal yang perlu disampaikan kepada pasien dan keluarga
2. Tips penanganan pasien sebelum melakukan kemoterapi dan sesudahnya.
3. Tips penanganan dan pencegahan jika terjadi efek samping

C. FORM REKAM MEDIS


Dibuatkan buku catatan laporan pasien yang melakukan kemoterapi tiap bulan.

DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


BIMA