Anda di halaman 1dari 2

LAPORAN REFLEKSI KASUS

KOMPREHENSIF

Nama : Siti Novita Kuman


NIM : 20110310223
RS : RS PKU Muhammadiyah Pakem

1. Pengalaman :
Seorang anak laki laki usia 2 tahun dengan berat badan 13 kg diantar oleh orang tua nya ke
RS PKU Muh Pakem oleh karena kejang. Kejang dirasakan pertama kali dirumah selama tiga menit
dan pasien masih kejang selama perjalanan kurang lebih selama lima menit. Menurut orang tua
pasien, saat kejang mata pasien melihat keatas dan seluruh badan tampak kaku. Setelah di rumah
sakit anak tampak menangis dan terlihat mengantuk. Sejak tiga hari yang lalu pasien batuk dan
pilek lalu sejak tadi badan terasa panas, keluhan kejang ini baru pertama kali terjadi. Oleh dokter
pasien di diagnosis kejang demam sederhana lalu diberikan Paracetamol supp 125 mg serta
diazepam rektal 5 mg

2. Masalah yang dikaji :


Apakah sudah tepat penanganan yang diberikan kepada pasien tersebut?

3. Analisa Kritis :
a. Penatalaksanaan saat kejang
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang sudah
berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan
kejang adalah diazepam intravena adalah 0,3 -0,5 mg/kg perlahan lahan dengan kecepatan 1-2
mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan
dapat diberikan oleh orang tua atau dirumah adalah diazepam rektal. Diazepam rektal adalah 0,5-
0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10
mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau Diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak
dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun.
Bila setelah pemberian Diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara
dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian Diazepam
rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan Diazepam
intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara
intravena dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari
50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam
setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di
ruang rawat intensif. Bila kejang berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis
kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.

b. Pemberian obat pada saat demam


Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang
demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Dosis
Paracetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari
5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat
menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga penggunaan
asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.
Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan resiko
berulangnya kejang pada 30% -60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg
setiap 8 jam pada suhu > 38,5oC. Dosis tersebut cukup tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel
dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus. Fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin pada
saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam.

4. Dokumentasi
Nama Pasien : An. Adybrata
Usia : 2 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Gejala / Keluhan : Kejang 8 menit seluruh tubuh , sadar setelah kejang , demam
Keadaan Umum : - Compos Mentis
- Lemah
Vital Sign : - Suhu : 38,7 C
- Nadi (HR) : 124 kali/menit
- Nafas (RR) : 25kali/menit
- SpO2 : 98%
PemeriksaanFisik :
- Thorax dan abdomen dalam batas normal
- Meningeal Sign (-)
- Reflek Patologis (-)
- Refleks Fisiologis (+)

5. Referensi
- Hardiono D. Pusponegoro, Dwi Putro Widodo dan Sofwan Ismail. 2016. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Badan Penerbit IDAI. Jakarta

Dokter Pembimbing Lapangan Dokter Pembimbing FKIK UMY

(dr Luthfan Zaky) (dr. Alfun Dyah Sp.OG)