Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI

APOTEKER (PKPA) DI
INSTALASI FARMASI KESEHATAN
KOTA PARE-PARE

PERIODE 23 OKTOBER 3 NOVEMBER 2017

OLEH

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI UMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI
APOTEK KIMIA FARMA AHMAD YANI
Tanggal 15 Agustus sampai 9 September

Disetujui Oleh :
Pembimbing,

Program Studi Profesi Program Studi Profesi

Dr. Hasnaeni, S. Si., M. Sc., Apt M. Tri Kurniawan, S. Si, Apt

Mengetahui,

Ketua Program Studi Proofesi Koordinator PKPA Perapotekan


Apoteker

Hendra Herman, S. Farm., M.Sc., Apt


Muzakkir Baits, S.Si., M.Si., Apt
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya yang telah memberi kami petunjuk, semangat
dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktik Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit Pelamonia periode 18 September - 11 Oktober
2017 ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada
junjungan dan teladan hidup kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, para
sahabat serta pengikut beliau.
Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
Program Studi Profesi Apoteker pada Fakultas Farmasi Universitas Muslim
Indonesia Makassar. Laporan ini dibuat berdasarkan hasil pembelajaran,
pengamatan dan informasi yang diperoleh di apotek selama kegiatan.
Penyusun laporan ini tidak lepas dari adanya bimbingan, saran, pendapat
atau perbaikan dari segala pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan
ucapan terimakasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :
1.
Terimakasih yang sebesar-besarnya dan segala hormat kepada Ayahanda
dan Ibunda tercinta beserta saudara-saudaraku yang tiada henti-hentinya
memberikan doa, kasih sayang, motivasi dan dukungan baik dalam bentuk moril
terlebih lagi dalam bentuk materil.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan. Semoga
laporan ini bermanfaat bagi penulis dan semuapihak khususnya dalam
pengembangan ilmu kefarmasian.

Makassar, Oktober 2017

Nur Chairi Ria Isnaini


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii

KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL ................................................................................................ vi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 2

1. Latar Belakang .............................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 6

1. Stroke............................................................................................. 6

1.1 Definisi Stroke........................ Error! Bookmark not defined.

1.2 Etiologi Stroke........................ Error! Bookmark not defined.

1.3 Klasifikasi Stroke ................... Error! Bookmark not defined.

1.4 Patofisiologi Stroke ................ Error! Bookmark not defined.

1.5 Manifestasi Klinik Stroke....... Error! Bookmark not defined.

1.6 Pemeriksaan Stroke ................ Error! Bookmark not defined.

1.7 Penatalaksanaan Stroke .......... Error! Bookmark not defined.

2. Parkinson ...................................... Error! Bookmark not defined.

2.1 Definisi Parkinson .................. Error! Bookmark not defined.

2.2 Etiologi Pakinson ................... Error! Bookmark not defined.

2.3 Klasifikasi Pakinson ............... Error! Bookmark not defined.

2.4 Patofisiologi Parkinson........... Error! Bookmark not defined.

2.5 Manifestasi Klinik Parkinson . Error! Bookmark not defined.

2.6 Pemeriksaan Parkinson........... Error! Bookmark not defined.

2.7 Penatalaksanaan Parkinson..... Error! Bookmark not defined.


BAB III STUDI KASUS .................................................................................... 21

1. Profil Pasien ................................................................................ 21

2. Profil Penyakit .............................. Error! Bookmark not defined.

3. Data Klinik Pasien ........................ Error! Bookmark not defined.

4. Data Laboratorium ....................... Error! Bookmark not defined.

5. Profil Pengobatan ......................... Error! Bookmark not defined.

6. Analisa Rasionalitas ..................... Error! Bookmark not defined.

7. Assesment dan Plan ...................... Error! Bookmark not defined.

8. Uraian Obat .................................. Error! Bookmark not defined.

BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................. 25

BAB V PENUTUP ............................................................................................. 31

1. Kesimpulan .................................................................................. 31

2. Saran ............................................................................................ 31

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 32


DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang PKPA


Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang
harus dapat diwujudkan melalui pembangunan yang berkesinambungan.
Pembangunan kesehatan yang merupakan salah satu upaya pembangunan
nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang optimal. Tujuan utama dalam pembangunan dibidang kesehatan
adalah peningkatan derajat kesehatan yang optimal untuk mencapai suatu
kehidupan sosial dan ekonomi yang produktif. (UU Kesehatan,2009)
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agatr terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi
bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan
ekonomis (UU Kesehatan, 2009). Salah satu sasaran strategis Kementerian
Kesehatan Tahun 2015-2019 adalah meningkatnya akses, kemandirian dan
mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan, dimana salah satu sasaran yang
akan dicapai pada tahun 2019 adalah 95% puskesmas yang memiliki
ketersediaan obat dan vaksin esensial (Kemenkes, 2016). Akses
masyarakat terhadap obat esensial dipengaruhi oleh empat faktor utama,
yaitu penggunaan obat yang rasional; harga yang terjangkau; pembiayaan
yang berkelanjutan; dan sistem pelayanan kesehatan beserta sistem suplai
obat yang dapat menjamin ketersediaan, pemerataan, keterjangkauan obat
(Konas, 2005).
Regulasi bidang obat mencakup : aspek persyaratan produk, proses
produksi, sistem suplai, sistem harga, pembiayaan, dan sebagainya.
Penerapan regulasi secara umum dapat dikatakan telah berjalan baik
terutama dalam era desentralisasi. Dari aspek sistem suplai obat hal ini
dapat dilihat dengan ketersediaan obat yang terjamin di seluruh wilayah
Indonesia melalui Gudang Farmasi Kabupaten/Kota (GFK) (Konas, 2005).
Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri
farmasi yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas, dan
obat jadi yang belum didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, gudang
juga berfungsi untuk melindungi bahan (baku dan pengemas) dan obat jadi
dari pengaruh luar dan binatang pengerat, serangga, serta melindungi obat
dari kerusakan. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut, maka harus
dilakukan pengelolaan pergudangan secara benar atau yang sering disebut
dengan manajemen pergudangan (Priyambodo, 2007). Dalam upaya
penyediaan obat yang bermutu baik, tersebar secara merata dan sesuai
dengan kebutuhan baik jenis maupun jumlahnya, maka perlu dilakukan
pengelolaan obat yang baik di tingkat Kabupaten dan Kota maupun di
Puskesmas serta Puskesmas Pembantu (Dhien, 2003).
Sistem Kesehatan Nasional tahun 2009 menetapkan bahwa tujuan
dari pelayanan kefarmasian adalah Tersedianya obat dan perbekalan
kesehatan yang bermutu, bermanfaat, terjangkau untuk meningkatkan
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Hal tersebut diwujudkan oleh
Direktorat Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan dalam sebuah Misi
yaitu Terjaminnya ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat dan
perbekalan kesehatan bagi pelayanan kesehatan (JICA, 2010). Pelayanan
Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (PP
51,2009).
Untuk mendapatkan pengalaman kemampuan dalam melakukan
praktek kefarmasian, maka hendaknya seorang mahasiswa Apoteker
mendapatkan pelatikan praktek kerja melalui kegiatan Praktek Kerja
Profesi Apoteker, salah satu kegiatan PKPA yang dilaksanakan oleh
Fakultas Farmasi UMI adalah bidang Pemerintahan yang diselenggarakan
di Gudang Farmasi Kota Makassar (UPTD Pengelolaan Obat).
Pelaksanaan PKPA tersebut berlangsung mulai dari tanggal 23 Oktober - 4
November 2016. Dengan pelaksanaan PKPA tersebut, diharapkan calon
Apoteker dapat mengetahui kegiatan perbekalan farmasi dalam lingkup
pengelolaan obat di Gudang Farmasi Kota sekaligus menambah
pengetahuan mengenai peranan dan tanggung jawab Apoteker dalam
lingkup Pemerintahan.

B. Tujuan PKPA
1. Mahasiswa mampu membuat keputusan profesi pada pekerjaan
kefarmasian di Pemerintahan (Dinas Kesehatan Provinsi, Puskesmas,
Gudang Farmasi Kabupaten/Kota, dan BPOM) berdasarkan ilmu
pengetahuan, standar praktek kefarmasian, perundang-undangan yang
berlaku, dan etika profesi farmasi,
2. Mahasiswa mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan tenaga
kesehatan yang lain dan tenaga kerja dibidang lain,
3. Mahasiswa mampu menyusun rencana pengelolaan perbekalan farmasi
dan alat kesehatan serta pengembangan sumber daya manusia,
4. Mahasiswa mampu menyusun rencana pengembangan praktek
kefarmasian yang berorientasi pada pelayanan kefarmasian,
5. Mahasiswa mampu memahami peraturan perundang-undangan tentang
izin praktek dan izin lain yang berada di bawah tugas dan wewenang
kefarmasian di pemerintahan.

C. Manfaat PKPA
Setelah melakukan kegaiatan PKPA di Gudang Farmasi Kota
(GFK), diharapkan mahasiswa mampu ;
1. Memahami Visi dan Misi dan sasaran GFK
2. Memahami Struktur Organisasi GFK
3. Melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang Apoteker di GFK
4. Peserta mampu melakukan Pengelolaan Perbekalan Farmasi, Alat
Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai, meliputi ;
5. Perencanaan,
6. Pengadaan,
7. Penerimaan,
8. Penyimpanan,
9. Pemusnahan,
10. Pengendalian,
11. Pencatatan dan Pelaporan, dan
12. Evaluasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi industri farmasi
yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku, bahan kemas dan obat jadi
yang belum didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, gudang juga
berfungsi untuk melindungi bahan baku, bahan pengemas dan obat jadi dari
pengaruh luar, binatang pengerat dan serangga serta melindungi obat dari
kerusakan. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut, maka harus dilakukan
pengelolaan pergudangan secara benar atau yang sering disebut dengan
manajemen pergudangan (Priyambodo, 2007).
Pergudangan adalah segala upaya pengelolaan gudang yang meliputi
penerimaan, penyimpanan, pemeliharaan, pendistribusian, pengendalian dan
pemusnahan agar kualitas dan kuantitas tetap terjamin (BNPB, 2009).
B. Tugas dan Fungsi
1. Tugas Instalasi Farmasi
Instalasi farmasi mempunyai fungsi antara lain :
a. Melakukan seleksi obat publik dan perbekalan kesehatan untuk
pelayanan kesehatan dasar.
b. Melakukan perhitungan kebutuhan obat publik dan perbekalan
kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar.
c. Melakukan perencanaan dan pelaksanaan pengadaan obat serta
perbekalan kesehatan.
d. Melakukan penerimaan obat publik dan perbekalan yang berasal dari
berbagai sunber anggaran.
e. Melakukan penyimpanan obat publik dan perbekalan yang berasal dari
berbagai sumber anggaran.
f. Melakukan perencanaan pelaporan obat publik dan perbekalan
kesehatan yang menjadi tanggungjawabnya.
g. Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pengolahan obat publik
serta pembekalan kesehatan pada unit pelayanan kesehatan di wilayah
kerjanya.
h. Melakukan kegiatan pengolalaan obat publik dan perbekalan kesehatan
serta penggunaan obat rasional bagi tenaga kesehatan di unit pelayanan
kesehatan dasar.
i. Melakukan kegiatan bimbingan teknis pengelolaan obat publik dan
perbekalan kesehatan serta pengendalian penggunaan obat di unit
pelayanan dasar.
j. Melakukan kegiatan administrasi unit pengelolaan obat publik dan
perbekalan kesehatan.
k. Melaksanakan tugas lain yang di berikan unit vertikal di atasnya.
2. Fungsi instalasi farmasi
Instalasi farmasi mempunyai tugas pokok melaksanakan semua aspek
organisasi koordinasi pengelolaan, dan pendistribusian perbekalan farmasi
dan peralatan kesehatan yang berada dibawah dan bertanggungjawab
langsung kepada bidang IF kesehatan kabupaten/kota dan di teruskan oleh
kepala dinas kabupaten/kota.
a. Pengadaan obat
Merupakan proses penyedian obat yang dibutuhkan di rumah sakit
dan untuk unit pelayanan kesehatan lainnya yang diperoleh dari
pemasok eksternal melalui pembelian dari manufaktur, distributor, atau
pedagang besar Farmasi.
Pada siklus pengadaan tercakup pada keputusan-keputusan dan
tindakan dalam menentukan jumlah obat yang di peroleh, Harga yang
harus di bayar,dan kualitas obat-obat yang harus di terima. Siklus
pengadaan obat mencakup pemilihan kebutuhan,penyesuaian kebutuhan
dan dana, pemilihan metode pengadaan, penetapan atau pemilihan
pemasok, penetapan masa kontrak, pemantauan status
pemesanan,penerimaan dan pemeriksaan obat, pembayaran,
penyimpanan, pendistribusian dan pengumpulan informasi penggunaan
obat. Proses pengadaan di katakan baik apabila tersedianya obat dengan
jenis dan jumlah yang cukup sesuai dengan mutu yang terjamin serta
dapat di peroleh pada saat di perlukan.
b. Penerimaan obat
Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan
yang diserahkan dari pemenang lelang kepada panitia penerima obat
serta penyerahan obat dari panitia pemeriksa kepada instalasi farmasi.
Penerimaan obat harus dilaksanakan oleh petugas pengelola obat
atau petugas lain dalam hal ini panitia penerima obat yang merupakan
bagian dari panitia pengadaan obat.
Kegiatan Penerimaan Obat
i. Penyerahan obat oleh Dinas kesehatan kepada IFK melalui Berita
Acara penyerahan obat.
ii. Petugas penerima obat bertanggung jawab atas pemeriksaan
fisik, penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan
obat berikut kelengkapan catatan yang menyertainya.
iii. Pelaksanaan fungsi pengendalian distribusi obat UPTD Farmasi
merupakan tanggung jawab Kepala IFK.
iv. Petugas penerimaan obat wajib melakukan pengecekan terhadap
obat-obat yang diserahkan. Bila tidak memenuhi syarat petugas
penerima dapat mengajukan keberatan.
v. Jika terdapat kekurangan, penerima obat wajib menuliskan jenis
yang kurang (rusak, jumlah kurang dan lain-lain). Setiap
penambahan obat-obatan, dicatat dan dibukukan pada buku
penerimaan obat dan kartu stok.
c. Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara
dengan cara menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat yang
dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak
mutu obat.
Tujuan Penyimpanan
i. Memelihara mutu obat
ii. Menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab
iii. Menjaga kelangsungan persediaan
iv. Memudahkan pencarian dan pengawasan
Kegiatan Penyimpanan/Gudang Besar :
i. Pengaturan tata Ruang
ii. Penyusunan stok obat
iii. Pencatatan stok obat
iv. Pengamatan mutu obat
Pengaturan tata ruang
i. Rak dan Pallet
ii. Perlindungan terhadap banjir, serangan serangga
iii. Pengaruh kelembaban
iv. Efisiensi
Pengaturan Tata Ruang
i. Kemudahan bergerak, arus U, arus L dan arus lurus
ii. Sirkulasi Udara yang baik: AC, kipas angin, ventilator
Pengaturan Tata Ruang
i. Kondisi Penyimpanan khusus
Chold Chain : vaksin, serum
Lemari khusus : narkotika
Ruangan khusus : alkohol, eter
ii. Pencatatan kartu stok untuk per item obat
iii. Pencatatan Kartu Stok Induk untuk satu item obat dari berbagai
sumber anggaran
Pengamatan mutu obat
i. Organoleptis
ii. Meragukan rujuk ke Lab
iii. Obat Rusak : Kumpulkan dan catat serahkan ke Dinkes
Kabupaten Kota
Fungsi Kartu Stok
i. Kartu stok digunakan untuk mencatat mutasi obat
ii. Tiap lembar kartu stok hanya mencatat data mutasi 1 (satu) jenis
obat 1 (satu) anggaran.
iii. Tiap baris data hanya mencatat 1 (satu) kejadian mutasi obat.
iv. Data pada kartu stok untuk menyusun laporan, perencanaan
pengadaan distribusi dan sebagai pembanding terhadap keadaan
fisik obat dalam tempat penyimpanannya.
d. Distribusi
Distribusi adalah suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
pengeluaran dan pengiriman obat, terjamin keabsahan, tepat jenis dan
jumlah secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan unit-unit
pelayanan kesehatan. Distribusi obat dilakukan agar persediaan jenis
dan jumlah yang cukup sekaligus menghindari kekosongan dan
menumpuknya persediaan serta mempertahankan tingkat persediaan
obat.
Tujuan Distribusi
i. Terlaksananya pengiriman obat secara merata dan teratur
sehingga dapat diperoleh pada saat dibutuhkan.
ii. Terjaminnya mutu obat dan perbekalan kesehatan pada saat
pendistribusian
iii. Terjaminnya kecukupan dan terpeliharanya penggunaan obat di
unit pelayanan kesehatan.
iv. Terlaksananya pemerataan kecukupan obat sesuai kebutuhan
pelayanan dan program kesehatan.
v. Efisiensi pengeluaran dana di unit pelayanan kesehatan.
Kegiatan Distribusi
Kegiatan distribusi obat di kabupaten / Kota terdiri dari :
i. Kegiatan distribusi rutin yang mencakup distribusi untuk
kebutuhan pelayanan umum di unit pelayanan kesehatan.
ii. Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi
iii. Kegiatan Distribusi Rutin
Perencanaan Distribusi
Instalasi Farmasi kabupaten pare - pare merencanakan dan
melaksanakan pendistribusian obat ke unit pelayanan kesehatan di
wilayah kerjanya serta sesuai kebutuhan.
Perumusan stok optimum
Stok optimum persediaan dilakukan dengan memperhitungkan
siklus distribusi rata-rata pemakaian, waktu tunggu serta ketentuan
mengenai stok pengaman. Rencana distribusi obat ke setiap unit
pelayanan kesehatan termasuk rencana tingkat persediaan,
didasarkan kepada besarnya stok optimum setiap jenis obat di setiap
unit pelayanan kesehatan. Penghitungan stok optimum dilakukan
oleh Instalasi Farmasi Kabupaten parepare. Pada akhir periode
distribusi akan diperoleh persediaan sebesar stok pengaman di setiap
unit pelayanan kesehatan. Rencana tingkat persediaan di IFK adalah
rencana distribusi untuk memastikan bahwa persediaan obat di IFK
cukup untuk melayani kebutuhan obat selama periode distribusi
berikutnya. Posisi persediaan yang direncanakan tersebut di
harapkan dapat mengatasi keterlambatan permintaan obat oleh unit
pelayanan kesehatan atau pengiriman obat oleh IFK Kabupaten
pare-pare.
Penyusunan peta lokasi jalur dan jumlah pengiriman
Agar alokasi biaya pengiriman dapat dipergunakan secara efektif
dan efisien maka IFK perlu membuat peta lokasi dari unit-unit
pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya. Hal ini sangat diperlukan
terutama untuk pelaksanaan distribusi aktif dari IFK. Jarak (km)
antara IFK dengan setiap unit pelayanan kesehatan dicantumkan
pada peta lokasi. Dengan mempertimbangkan jarak, biaya
transportasi atau kemudahan fasilitas yang tersedia, dapat ditetapkan
rayonisasi dari wilayah pelayanan distribusi.
Disamping itu dilakukan pula upaya untuk memanfaatkan
kegiatan-kegiatan tertentu yang dapat membantu pengangkutan obat
ke UPK misalnya kunjungan rutin petugas Kabupaten ke UPK,
pertemuan dokter Puskesmas yang diselenggarakan di provinsi dan
sebagainya.
Atas dasar ini dapat ditetapkan jadwal pengiriman untuk setiap
rayon distribusi misalnya ada rayon distribusi yang dapat dilayani
sebulan sekali, ada rayon distribusi yang dapat dilayani triwulan dan
ada yang hanya dapat dilayani tiap enam bulan disesuaikan dengan
anggaran yang tersedia. Membuat daftar rayon dan jadwal distribusi
tiap rayon berikut dengan nama unit pelayanan kesehatan di rayon
tersebut lengkap dengan nama dokter Kepala UPK serta penanggung
jawab pengelola obatnya
Tata Cara Pendistribusian Obat
i. IFK melaksanakan distribusi obat ke Puskesmas dan di
wilayah kerjanya sesuai kebutuhan masing-masing Unit
Pelayanan Kesehatan.
ii. Puskesmas Induk mendistribusikan kebutuhan obat untuk
Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling dan Unit-unit
Pelayanan Kesehatan lainnya yang ada di wilayah
binaannya.
iii. Distribusi obat-obatan dapat pula dilaksanakan langsung
dari IFK ke Puskesmas Pembantu sesuai dengan situasi dan
kondisi wilayah atas persetujuan Kepala Puskesmas yang
membawahinya. Tata cara distribusi obat ke Unit Pelayanan
Kesehatan dapat dilakukan dengan cara penyerahan oleh
IFK ke Unit Pelayanan Kesehatan, pengambilan sendiri
oleh UPK di IFK, atau cara lain yang ditetapkan oleh
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pare-pare.
iv. Tata cara pengiriman obat ke unit pelayanan kesehatan
dapat dilakukan dengan cara penyerahan yaitu pengiriman
dan pengawasan. Pengiriman obat dilakukan oleh farrnasi.
Cara lain adalah dengan pengambilan bila puskesmas/
rumah sakit mengatur sendiri pengambilan obat dari
gudang farmasi.
v. Obat-obat yang akan dikirim ke puskesmas atau rumah
sakit harus disertai dengan dokumen penyerahan atau
pengiriman obat.
vi. Sebelum dilakukan pengepakan atas obat yang akan dikirim
maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap,
Jenis dan jumlah obat
Kualitas atau kondisi obat
Isi kemasan, kekuatan sediaan
Kelengkapan dan kebenaran dokumen obat
vii. Tiap pengeluaran obat dari gudang farmasi harus segera
dicatat pada kartu stock dan kartu stock induk obat serta
buku harian pengeluaran obat.
viii. Pencatatan Harian Pengeluaran Obat, Obat yang telah
dikeluarkan harus segera dicatat dan dibukukan pada Buku
Harian Pengeluaran Obat sesuai data obat dan dilakukan
dokumentasi. Fungsinya Sebagai dokumen yang memuat
semua catatan pengeluaran, baik mengenai data obat
maupun dokumen yang menyertai pengeluaran obat
tersebut.
ix. Kartu Rencana Distribusi
Fungsi :
Sebagai lembar kerja bagi penyusunan rencana
distribusi dan pengendalian distribusi
Sebagai sumber data dalam melakukan kegiatan
distribusi ke unit pelayanan.
Kartu Rencana Distribusi terdiri dari
i. Bagian A Ekspedisi.
ii. Bagian B Kartu/Buku monitoring distribusi per UPK.
iii. Pencatatan Harian Pengeluaran Obata
Laporan Pengelolaan Obat
i. Laporan Mutasi Obat
ii. Laporan Kegiatan distribusi
iii. Laporan Pencacahan persediaan akhir tahun anggaran
iv. Laporan tahunan/Profil
Laporan Kegiatan Distribusi
Digunakan kartu per-PKM yang berfungsi :
i. Laporan PKM atas mutasi obat dan kunjungan resep
ii. Lembar permintaan obat puskesmas (LPLPO)
iii. Surat Pengiriman Obat.
Laporan Pencacahan Adalah laporan yang dibuat setiap akhir tahun
anggaran yang memuat jumlah penerimaan dan pengeluaran selama
1 tahun anggaran dan sisa persediaan pada akhir tahun anggaran
yang bersangkutan.
Kegunaan :
- Mengetahui jumlah penerimaan dan pengeluaran obat
selama 1 tahun anggaran
- Mengetahui sisa persediaan obat pada akhir tahun anggaran
- Pertanggung jawaban kepala IFK/ bendahara barang
Fungsi laporan tahunan
Mengukur tingkat kinerja pengelolaan obat di Kabupaten/Kota
selama satu an Informasi yang didapat dari laporan tahunan :
- Jumlah dan nilai persediaan per 31 Desember
- Jumlah dan nilai persediaan di Puskesmas per 31 Desember
- Pemakaian rata-rata perbulan untuk tiap jenis obat
- Tingkat kecukupan setiap jenis obat
- Rencana kebutuhan untu tahun anggaran berikutnya
- Rencana pengadaan obat menurut sumber
- Biaya obat per kunjungan kasus.
C. Ketentuan Umum dan Peraturan Perundang-undangan
Ketentuan umum dan peraturan Perundang-undagan mengacu pada :
1. Undang-undang RI No. 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika.
2. Undang-undang RI No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen.
3. Undang-undang RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
4. Undang-undang RI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
5. Undang-undang RI No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan.
6. Peraturan Pemerintah RI No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan
Kefarmasian.
7. Keputusan Kepala Badan POM RI No.HK.04.1.35.07.12.4394 Tahun
2012 Tentang Pedoman Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Narkotika,
Psikotropika dan Prekursor.
8. Peraturan Kepala BPOM RI No.HK.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012
Tentang Pedoman Teknis CDOB.
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 3 Tahun 2015 Tentang
Peredaran, Penyempanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika,
Psikotropika, dan Prekursor Farmasi.
10. Peraturan Kepala BPOM RI No. 7 Tahun 2016 Tentang Pedomen
Pengelolaan Obat-obat Tertentu Yang Sering Disalahgunakan.
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.9 tahun 2017 Tentang Apotek.
D. Tugas dan Tanggung Jawab Apoteker
Pekerjaan kefarmasian menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51
tahun 2009 adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran
obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atau resep dokter, pelayanan informasi
obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sedangkan
pelayanan kefarmasian merupakan suatu pelayanan langsung dan
bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu
kehidupan pasien.
Pelayanan kefarmasian ini tidak lepas dari tanggung jawab profesi
kefarmasian (Pharmaceutical care). Peran Apoteker dalam pelayanan
kefarmasian di Puskesmas meliputi administratif perbekalan farmasi dan alat
kesehatan serta pelayanan farmasi klinis. Pelayanan farmasi klinis ini
meliputi pelayanan resep obat, informasi obat, konseling, visite mandiri
ataupun bersama tim medis, pembuatan sarana informasi seperti brosur,
leaflet, poster, newsletter, promosi kesehatan, home care. Jenis pelayanan
kefarmasian juga merupakan jasa profesional yang dapat diukur dengan
melihat dan mempertimbangkan tingkat kepuasan pasien.
Implementasi peran dan fungsi Apoteker dalam pelayanan
kefarmasian di Pusksemas perlu didukung dan diupayakan semaksimal
mungkin dalam upaya pencapaian akreditasi Puskesmas yang optimal. Hal ini
tercermin mulai dari aspek kebijkan, manjerial maupun teknis yang sinergi
dari hulu ke hilir. Namun yang paling penting adalah komitmen kuat dari
insan profesi untuk bekerja keras dan berkarya tanpa pamrih untuk
mewujudkan tanggung jawab profesi sebagai upaya dan peran nyata dalam
pembangunan kesehatan secara umum melalui kinerja yang prima dalam
pelayanan kefarmasian di Puskesmas.
Secara umum Peran apoteker melipusti aspek:
1. Manajerial
Fungsi manajerial merupakan kemampuan untuk mengelola kegiatan
pelayanan kefarmasian secara menyelutuh sehingga dapat berjalan secara
feisien dan efektif sesuai keweangan porofesi yang melekat. Standar
pelayanan kefarmasian diasarkan pada acuan/pedoman pelayanan
kefarmasian menurut Dirjen Bina Farmasi dan alat Kesehatan Kementerian
Kesehatan Nomor HK.00.DJ.II.924 tahun 2006. Prosedur tahapan teknis
yang harus dilaksanakan secara konsisten dan tepat agar pencapaian target
kinerja dapat dicapai secara optimal sesuai standar prosedur. Standar
prosedur opersional adalah prosedur tertulis berupa petunjuk operasional
tentang pekerjaan kefarmasian yang mengacu kepada standar kefarmasian
meliputi fasilitas produksi, ditribusi atau penyaluran dan pelayan
kefarmasian.
Dalam aspek manajerial meliputi administrasi sediaan farmasi dan
perbekalan kesehatan perencenaan kebutuhan obat, permintaan obat ke
Gudang Farmasi, peyimpanan dan pendistribusian ke sub unit dan kegiatan
luar gedung. Sedangkan adminsitrasi resep meliputi pencattan jumlah
resep berdasarkan umlah status pasien, penyimpanan bundel resep selama
3 tahun dan pemusnahan obat rusak, palsu dan kadaluarsa.
2. Fungsional
Peran fungsional Apoteker merupakan tugas pokok tentang farmasi
klinis. Kegiatan ini terdiri dari pelayanan resep, pemberian informasi obat,
konseling, visite baik mandiri maupun bersama tim, pembuatan sarana
informasi, penyuluhan dalam upaya promosi kesehatan dan home
pharmacy care. Tugas lain sebagai peran yang melekat adalah pencatatan
dan pelaporan, monitoring penggunaan obat rasional dan obat generik,
adminsitrasi kesalahan penggunaan obat (medication errors), monitoring
efek samping obat, pharmacy record, monitoring, evaluasi dan tindak
lanjut.
Kompetensi Apoteker yang dapat dilaksanakan di gudang farmasi
adalah:
1. Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian yang
bermutu.
2. Mampu mengambil keputusan secara professional.
3. Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi
kesehatan lainnya dengan menggunakan bahasna verbal, nonverbal
maupun bahasa lokal.
4. Selalu belajar sepanjang karier (long life education) baik pada jalur
formal maupun informal, sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki
selalu baru (up to date).
Menurut Permenkes No. 30 tahun 2014, standar pelayanan
kefarmasian di Puskesmas memiliki tujuan:
1. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian
2. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian
3. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak
rasional dalam rangka keselamatan pasien (patient safety)

Standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi


pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai serta pelayanan farmasi
klinis. Pelayanan farmasi klinis meliputi
pengkajian resep, penyerahan dan pemberian infromasi obat,
Pelayanan Informasi Obat (PIO), konseling, ronde/visite pasien pada
Puskesmas rawat inap, pemantauan dan pelaporan efek samping obat,
pemantauan terapi obat dan evaluasi penggunaan obat. Dalam rangka
akreditasi, telusur pengelolaan dan penggunaan obat dilaksanakan
berdasarkan telusur berbasis individual. Hal ini merupakan eksplorasi
terhadap proses pengelolaan dan penggunaan obat. fokus diarahkan
pada kemungkinan timbulnya resiko. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah evaluasi terhadap kesinambungan pengelolaan dan
penggunaan obat mulai dari proses pengadaan sampai monitoring efek
samping obat pada pasien. Upaya yang perlu dipersiapkan untuk
mewujudkan pelayanan farmasi sesuai standar. Segala upaya dilakukan
semaksimal mungkin dengan senantiasa mengedepankan tanggung
jawab profesi (pharmaceutical care) dalam upaya peningkatan kualitas
hidup pasien dalam era ini. Harapan ke depan adalah mari kita bahu
membahu, membangun pelayanan kefarmasian yang lebih dapat
dirasakan oleh masyarakat secara umum, karena kualitas layanan adalah
hak mutlak yang harus diperoleh oleh segenap masyarakat Indonesia
tidak pandang bulu. Untuk mewujudkan sistem dan prosedur dapat
berjalan maka perlu dituangkan suatu pedoman mutu, ketentuan dan
standar prosedur operasional (SPO) yang baku mengacu pada Pedoman
dan instrumen akreditasi Puskesmas sebagai Fasilitas Pelayaan
Kesehatan Tingkat Primer. Menurut UU No. 29 tahun 2004, SPO
merupakan suatu perangkat instruksi/langkah-langkah yang dibakukan
untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. Pedoman pelayanan
farmasi meliputi pengorganisasian, standar SDM, fasilitas, tata laksana
pelayanan farmasi, logistik pelayanan farmasi, kendali mutu dan
keselamatan pasien, keselamatan karyawan farmasi. Sedangkan SPO
pelayanan kefarmasian yang disusun meliputi peresepan obat,
pelayanan rawat inap dan rawat jalan, penyediaan dan penggunaan obat,
pengendalian dan penilaian penyediaan dan penggunaan obat,
pelayanan obat untuk 7 hari 24 jam pada Puskesmas dengan rawat
darurat, monitoring peresepan sesuai formularium. Selain itu juga SPO
efek samping obat, riwayat alergi, obat yang dibawa pasien rawat inap,
MESO, pelayanan obat psikotropik dan narkotik, pengedalian dan
pengawasan penggunaan psikotropik dan narkotik serta pelaporan
kesalahan pemberian obat dan pelaporannya (Kejadian Tidak
Diharapkan, Kejadian Nyaris Cidera).
Adapun Tugas dan tanggung jawab Apoteker Di gudang farmasi
adalah :
a. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi
dan tanggung jawab apoteker dalam praktek kefarmasian di
pemerintahan (Gudang Farmasi)
b. Meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan dan pengalaman
praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di
pemerintahan(Gudang Farmasi)
c. Meningkatkan kemampuan menyelesaikan permasalahan tentang
pekerjaan kefarmasian di pemerintahan(Gudang Farmasi)
d. Meningkatkan kemampuan mengembangkan praktek kefarmasian di
pemerintahan(Gudang Farmasi)
e. Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai
tenaga farmasi yang profesional di pemerintahan(Gudang Farmasi)
BAB III
TINJAUAN UMUM TEMPAT PKPA

A. Sejarah
Gudang Farmasi pertama kali dibangun pada tahun 1993 di
Kelurahan Lapadde, satu atap Puskesmas Lapadde. Setelah itu
dipindahkan pada tahun 2006 ke Puskesmas Lompoe kemudian
dipindahkan ke Puskesmas Lumpue pada tahun 2010 sampai sekarang.
B. Visi dan Misi
1. Visi
Merupakan pandangan jauh kedepan, karena dan bagaimana
instansi pemerintah harus dibawah dan berkarya agar konsisten dan
dapat eksis, antisipatif, inovatif, serta produktif. Visi tidak lain adalah
suatu gambaran tentang keadaan masa depan berisikan cita dan
citrayang ingin di wujudkan oleh instansi pemerintah. Dengan
mengacu pada batasan tersebut, visi dinas kesehatan di jabarkan
sebagai berikut :
Terdepan Dalam Pelayanan Kesehatan Prima
Makna pokok yang terkandung adalah :
a) Terdepan : secara harfiah mengandung makna kemampuan
sumberdaya aparatur dalam merumuskan kebijakan pelaksanaan
tugas secara professional.
b) Pelayanan Kesehatan Prima : adanya pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan dengan baik dan memenuhi standar serta merupakan
suatu syarat mutlak untuk dapat mencapai syarat pembangunan
yang telah di tetapkan termasuk pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.
2. Misi
Untuk memenuhi visi tersebut, Dinas kesehatan kabupaten Pare-
pare mencanangkan misi
Misi adalah suatu suatu yang harus dilaksanakan oleh
organisasi (Instansi Pemerintah) agar tujuan organisasi dapat tercapai
dan berhasil dengan baik.
Dalam pernyataan misi yang di tetapkan ini, diharapkan
seluruh pegawai dan pihak yang berkepentingan dapat mengenal dinas
kesehatan kabupaten pare-pare dan mengetahui alas an keberadaan dan
perannya lebih dalam.
Misi yang di tetapkan adalah sebagai berikut :
a) Meningkatkan menejemen penatalaksanaan melalui pemberdayaan
sumber daya kesehatan (Tenaga Dan Sarana) secara efektif dan
efesien.
Tujuan : meningkatkan kualitas system kepengelolaan
ketenagaan, keuangan dan investarisasi sarana kesehatan.
Sasaran : meningkatkan kinerja pejabat structural, pejabat
fungsional dan seluruh staf dinas kesehatan termasuk kualitas
seluruh sarana dan prasarana kesehatan.
b) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan
terjangkau.
Tujuan : Meningkatkan kualitas upaya pelayanan kesehatan.
Sasaran : meningkatkan jenis dan mutu pelayanan kesehatan
yang berkualitas termasuk bimbingan dan pengendalian,
pengawasan obat, makanan, bahan medis habis pakai dan
farmasi.
Program :
Peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan
dasar.
Peningkatan upaya kasehatan khusus.
Peningkatan menejemen obat, makanan alat kesehatan, dan
farmasi termasuk Batra.
Peningkatan pencatatan dan pelaporan program pelayanan
kesehatan (SP2TP).
c) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan
melalui advokasi, social support, empowermen.
Tujuan : meningkatkan kesadaran, kemauan, serta kemampuan
masyarakat untuk berprilaku hidup bersih dan sehat.
Sasaran : meningkatkan jenis dan mutu pelayanan kesehatan
yang berkualitas termasuk bimbingan dan pengendalian,
pengawasan obat, makanan, alat kesehatan dan farmasi.
C. Lokasi, Sarana dan Prasarana
Gudang Farmasi berada di Kecamatan Lumpue dijalan Bau Massepe
Kota Parepare Sulawesi Selatan dimana kecamatan ini merupakan
kecamatan yang ada di wilayah Kota Parepare. Dengan luas Bangunan 476
m2 dimana luas tanah 600 m2 jarak dari kelurahan ke pusat Kecamatan
Takalar maupun ke Kota Takalar relatif dekat yang dibangun pada tahun
2009.
Instalasi Farmasi Kesehatan adalah satu-satunya gudang instalasi
farmasi yang terletak di Kota Parepare yang memberikan pelayanan
kesehatan terutaman dalam obat, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
ke Puskesmas dan Rumah Sakit Kusta. Gudang Farmasi bekerja sama
dengan 6 puskesmas dan 1 Rumah Sakit Kusta. Gudang Farmasi berdiri
tahun 1993, Namun saja pada tahun 1994 Gudang farmasi mulai berjalan
dengan efektif.
Adapun Sarana dan Prasarana yang ada pada Instalasi Farmasi
Kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Sarana Distribusi : Kendaraan roda dua (2), Kendaraan roda empat (1)
2. Sarana Penyimpanan : Rak (15), Pallet (33), Lemari Obat (6), Lemari
narkotik (1), Lemari Psikotropik (1), Lemari Vaksin (1), Kulkas (2)
3. Sarana Pemngamanan : Teralis, Pagar
4. Sarana Penunjang : Kereta dorong (11), AC (8), Exhause fan (4), Kipas
angin (1), Pompa air dan sarana lainnya (Hidrolic Stacker dan Tangga)
5. Sarana Administrasi : Komputer (4), Laptop (1), Printer (4)
D. Struktur Organisasi
BAB IV
KEGIATAN PKPA DAN PEMBAHASAN

A. Kegiatan yang dilakukan


Adapun kegiatan yang dilakukan selama PKPA adalah, sebagai
berikut:
1. Melakukan stock opname Alat Kesehatan dan kebutuhan pada
Puskesmas.
2. Melakukan verifikasi kebutuhan Obat dan BMHP pada Puskesmas
3. Melakukan stock opname obat, Bahan Medis Habis Pakai dan Alat
Kesehatan pada Instalasi Farmasi Kesehatan.
4. Melakukan kunjungan studi kelayakan pendirian apotek terkait
pengurusan SIA kota Parepare.

B. Pembahasan
1. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah
kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi,
bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan
memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan
memperbaharui standar obat. Penentuan seleksi obat merupakan peran
aktif apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi untuk menetapkan
kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi pembelian.
2. Perencanaan
Dalam Instalasi Farmasi Dan Bahan Medis Habis Pakai
pedoman perencanaan menggunakan data LPLPO (Lembar Pemakaian
dan Penerimaan Obat) dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota
Parepare yang telah di serahkan ke IFK Parepare setiap akhir bulan.
Setelah menerima LPLPO di awal bulan dari Puskesmas atau Rumah
Sakit milik pemerintah, Instalasi Farmasi Kesehatan melakukan
perencanaan menurut obat apa saja yang sering di pakai oleh
Puskesmas / Rumah Sakit yang telah menyerahkan lembar LPLPO-nya
ke IFK, kemudian IFK akan melakukan Pengadaan sediaan. Dalam
melaukan perencanaan dilihat dari metode konsumsi, mordibilitas,
metode VEN dan obat program.
3. Pengadaan
Pedoman untuk melakukan Pengadaan yang akan di lakukan
oleh IFK adalah data Perencanaan yang di ambil dari data LPLPO.
Pengadaan obat di Instalasi Farmasi dan Alat kesehatan Kota Parepare
di lakukan oleh tim pengadaan, dimana tim pengadaan mendapat
sumber dana dari :
a. APBD Tim penerima menyerahkan data perencanaan yang
berpedoman dari LPLPO Puskesmas dan Rumah sakit ke Dinas
Kesehatan Pusat kemudian tim pengadaan menerima dana APBN
yang langsung di alokasikan untuk pengadaan sediaan di IFK.
Lembar pengadaan obat dikirim / di serahkan ke KEMENKES
pusat mengirimkan perbekalan Farmasi yang di butuhkan ke IFK.
b. DAK Tim penerima menyerahkan data perencanaan yang
berpedoman dari LPLPO Puskesmas dan Rumah sakit ke Dinas
Kesehatan Daerah kemudian tim pengadaan mendapat dana
langsung dari kabupaten untuk mengadakan sediaan Farmasi dan
dan Obat obatan yang di butuhkan. Dinas Kesehatan kabupaten
akan menyediakan perbekalan kesehatan yang di butuhkan oleh
IFK setelah dikirim dan diterima oleh IFK barang harus di
cocokkan dengan jumlah barang, kondisi barang dan tanggal
Expired Date-nya.
4. Penerimaan
Dalam hal penerimaan barang hal-hal yang harus di perhatikan
adalah:
a. Sumber barang. Perbekalan kesehatan di dapat dari : DAK, dan
Program program DinKes.
b. Kondisi barang.
c. Tanggal kadaluarsa (Expired date).
d. Jumlah barang.
5. Penyimpanan
Setelah sediaan farmasi diterima oleh IFK maka, sediaan
farmasi akan di simpan di dalam gudang. Tujuan penyimpanan adalah
untuk memelihara mutu obat dan memudahkan dalam pengawasan.
Tata cara penyimpanan obat di Gudang farmasi :
a. Berdasarkan Alphabetis bentuk sedian, stabilitas obat dan sifat-sifat
obat.
b. Menerapkan sistem FIFO (First In first Out) yakni barang yang
masuk pertama dikelurkan terlebih dahulu), dan FEFO (first
Expired date First Out) yakni obat yang waktu kadaluarsanya
mendekati dikeluarkan lebih dahulu.
c. Untuk sediaan narkotik dan psikotropik dan prekursor lainnya
disimpan pada tempat khusus.
d. Cairan diletakkan di rak bagian bawah, obat tidak boleh terkena
sinar matahari langsung terutama antibiotik dan injeksi.
e. BMHP di letakkan di lemari khusus.
6. Distribusi
Tujuan dari distribusi IFK adalah memenuhi kebutuhan obat
yang di butuhkan oleh puskesmas dan rumah sakit. Tata cara
pendistribusian :
a. Pihak puskesmas / rumah sakit datang ke IFK dengan membawa
LPLPO yang sudah di tanda tangani oleh kepala masing masing
penangung jawab obat dan kepala puskesmas/ rumh sakit yang
bersangkutan.
b. Pihak akan menyediakan obat obat yang di butuhkan oleh pihak
Puskesmas yang bersangkutan pada saat itu. Kemudian
mendistribusikannya.
c. IFK akan memberikan tanda terima kepada pihak instansi yang
bersangkutan dan pihak instansti tersebut harus menandatangani
bukti tanda terima tersebut.
Sistem pendistribusiaan menggunakan sistem FIFO (First In first
Out) dimana barang yang datang terlebih dahulu akan di
distribusikan terlebih dahulu, dan sitem FEFO (First Expired Date
First out) yaitu barang yang memiliki Expired Date pendek /
mendekati tanggal Expired Date akan di keluarkan terlebih dahulu.
Selama satu bulan, dilakukan satu kali distribusi ke puskesmas dan
rumah sakit Kusta, yakni setiap awal. Dan juga secara insidentil
BON), yaitu kebutuhan barang mendadak dari puskesmas dan
rumah sakit, selama persediaan masih ada, pihak infalkes harus
menyediakannya. Setelah Infalkes mendistribusikan sediaan
farmasi kepada puskesmas dan rumahsakit, pihak infalkes akan
memasukkan jumlah barang yang keluar ke dalam kartu stok dan
menghitung sisa yang ada di gudang.
7. Pemusnahan
Pemusnahaan akan dilakukan jika ada sediaan farmasi yang
rusak atau sudah kadaluarsa. Dengan cara memisahkan sediaan yang
rusak dengan sediaan yang masih baik, kemudian mengeluarkan obat
dari kemasannya setelah itu obat dapat dihancurkan kemudian di
timbun dalam tanah, atau bisa dilakukan dengan dibakar dilahan yang
jauh dari pemukiman warga.
Merupakan kegiatan penyelesaian terhadap perbekalan farmasi
yang tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, mutu tidak memenuhi
standar dengan cara membuat usulan penghapusan perbekaan farmasi
kepada pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Cara memusnahkan resep dan obat kadaluarsa atau rusak :
a. Obat yang kadaluarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan
jenis dan bentuk sediaan.
b. Pemusnahan obat yang kadaluarsa atau rusak yang mengandung
narkotika dan psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
c. Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh
Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki
surat izin praktek dan surat izin kerja.
d. Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara pemusnahan.
e. Resep yang yang telah disimpan melebihi jangka waktu lima tahun
dapat dimusnahkan.
f. Pemusnahan resep dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh
sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakat atau
dengan cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan berita acara
pemusnahan resep dan selanjutnya dilaporkan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Untuk pemusnahan yang dilkukan di IFK Parepare yaitu obat
yang expire dipuskesmas dibawa ke IFK dengan melampirkan daftar
obat Expire untuk tip-tiap puskesmas yang ditandatangani oleh
penanggung jawab obat dipuskesmas dan Kepala Puskesmas.
Kemudian IFK merekap seluruh obat yang expire baik yang ada di
IFK maupun yang berasal dari puskesmas. Rekapan yang dilakukan
berupa jumlah obat dan harga. Pemusnahan dilakukan setiap akhir
Tahun dengan melibatkan lintas sektor yang terkait (Bagian Aset Kota
Parepare).
8. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk
memonitor transaksi perbekalan farmasi yang keluar dan masuk
lingkungan instalasi farmasi rumah sakit. Adanya pencatatan akan
memudahkan petugas untuk melakukan penelusuran bila terjadi adanya
mutu obat yang sub standar dan harus ditarik dari peredaran. Pencatatan
dapat dilakukan dengan menggunakan bentuk digital maupun manual.
Kartu yang umum digunakan untuk melakukan pencatatan adalah kartu
stok dan kartu stok induk.
Pelaporan adalah kumpulan catatan dan pendataan kegiatan
administrasi perbekalan farmasi, tenaga dan perlengkapan kesehatan
yang disajikan kepada pihak yang berkepentingan. Tujuannya adalah
agar tersedianya data yang akurat sebagai bahan evaluasi, informasi yang
akurat, arsip yang memudahkan penelusuran surat dan laporan serta
tersedianya data yang lengkap untuk membuat perencanaan.
Pencatatan dan pelaporan dalam kegiatan pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, meliputi
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian,
pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan penarikan.
Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan dalam periode waktu
tertentu (bulanan, triwulan, semester atau pertahun).
9. Monitoring dan Evaluasi
Salah satu upaya untuk terus mempertahankan mutu pengelolaan
perbekalan farmasi di rumah sakit adalah dengan melakukan kegiatan
monitoring dan evaluasi.Kegiatan ini juga bermanfaat sebagai masukan
guna penyusunan perencanaan dan pengambilan keputusan. Pelaksanaan
monitoring dan evaluasi dapat dilakukan secara periodik dan berjenjang.
1. Monitoring
Monitoring adalah proses rutin pengumpulan data dan
pengukuran kemajuan atas objektif program/memantau perubahan
yang fokus pada proses masuk dan keluar. Adapun monitoring
yang dilakukan melibatkan perhitungan atas apa yang kita
lakukan dan monitoring melibatkan pengamatan atas kualitas dari
layanan yang kita berikan.
2. Evaluasi
Evaluasi merupakan penggunaan metode penelitian sosial
secara sistematis menginvestigasi efektifitas program dan menilai
kontribusi program terhadap perubahan (Goal/objektif) dan
menilai kebutuhan perbaikan, kelanjutan atau perluasan program
(rekomendasi).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Instalasi Farmasi Kesehatan (IFK) adalah tempat yang di gunakan
untuk menyimpan, mendistribusakan sediaan Farmasi ke Instansi
instansi Kesehatan milik pemerintah di Kota Pare-pare, guna memenuhi
pelayanan kesehatan masyarakat yang maksimal. Infalkes memperoleh
dana dari pemerintah Kota. Infalkes ditunjuk langsung oleh DINKES Pare-
pare untuk melayani permintaan dari Puskesmas dan Rumah Sakit Kota
Pare-pare milik Pemerintah Kota Pare-pare. Tugas pokok Instalasi Farmasi
dan alat kesehatan yaitu melaksanakan pengelolaan, penerimaan,
penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi dan peralatan
kesehatan yang di perlukan dalam rangka pelayanan kesehatan,
pencegahan dan pemberantasan penyakit, di Puskesmas / Rumah Sakit
Kota Pare-pare sesuai dengan petunjuk Kepala Dinas Kesehatan Kota
Pare-pare.
B. Saran
Sebaiknya penataan atau penyusunan sediaan di Infalkes Kota
Pare-pare perlu di perhatikan baik kebersihan dan kerapihannya serta
pengaturan suhu agar memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh
pemerintah pusat.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2005. Kebijakan Obat Nasional. Departemen Kesehatan RI


Japan International Coorporation Agency dan Direktur Bina Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan, 2010. Materi Pelatihan Manajemen Di Instalasi
Farmasi Kabupaten/Kota. Dirjen Binfar dan Alkes. Kemenkes RI
Kemenkes RI, 2016. Panduan Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Logistik
di Instalasi Farmasi Pemerintahan. Direktur Jenderal Kefaramasian dan
Alat Kesehatan RI
Priyambodo, B., (2007). Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global
Pustaka Utama.
Presiden, RI. 2009, Undang-Undang Nomor 36 Tentang Kesehatan. Negara
Republik Indonesia
Presden RI. 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 51 tentang Pekerjaan
Kefarmasian. Negara Republik Indonesia
Setyowati, Dhien Juningtyas. 2003. Tesis : Analisis Kebutuhan Obat dengan
Metode Konsumsi dalam Rangka Memenuhi Kecukupan Obat di Kota
Kediri. Program Pasca Sarjana. Universitas Erlangga. Surabaya
LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Parepare PP Nomor 18


Tahun 2016
Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi Kesehatan Kota Parepare