Anda di halaman 1dari 10

RANGKUMAN

ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN

BAYI BARU LAHIR

BOUNDING ATTACHMENT

Disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan

Persalinan dan Bayi Baru Lahir

Dosen Pembimbing :
Ibu Betty Purwaningtyas, S.SiT., M.Keb
Oleh :
Fepy Sisiliay (16.14.02.011)

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG PARE

JL. SOEKARNO HATTA NO 15 BENDO PARE KEDIRI

Telp.(0354) 393102 FAX (0354) 395480

TAHUN 2017/2018
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bounding Attachment


Bounding attachment adalah sentuhan atau kontak kulit seawal mungkin

antara bayi dengan ibu atau ayah di masa sensitif pada menit pertma dan

beberapa jam setelah kelahiran bayi. Kontak ini menentukan tumbuh

kembang bayi menjadi optimal. Pada proses ini terjadi penggabungan

berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya

dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatannya. Kebutuhan

menyentuh dan disentuh adalah kunci dari insting primata. Bayi mempelajari

lingkungan melalui membedakan sentuhan dan pengalaman antara benda

lembut dan yang keras sama halnya dengan membedakan suhu panas dan

dingin (Sulistyawati dan Nugraheny, 2013 : 216).


Pada peneliti di USA menemukan bahwa bayi prematur yang dipijat

selama 15 menit dan dilakukan tiga kali sehari dalam waktu 10 hari akan

mengalami peningkatan berat badan lebih cepat dan dapat pulang 6 hari lebih

awal. Proyek penelitian di USA dan preterm. Orang tua menyebutnya asuhan

penuh cinta; mereka merasakan kenikmatan, kebahagiaan, dan perasaan

yang sangat luar biasa. Ibu dan ayah berbisik dan bernyanyi lembut untuk

bayi mereka selama melakukan asuhan. Dilaporkan juga bahwa bayi yang

mendapatkan asuhan ini lebih sedikit menangis, mendapatka pertambahan

berat badan yang cukupbesar, lebih berhasil untuk menyusu ASI, dan

dipulangkan lebih awal (Sulistyawati dan Nugraheny, 2013 : 216).


Brazelton (1978) menyatakan, bounding merupakan suatu ketertarikan

mutual pertama antara individu, mislanya antara orang tua dan anak, saat

pertama kali mereka bertemu. Attachment adalah suatu perasaan menyayangi


atau loyalitas yang mengikat individu dengan individu yang lain. Sedangkan

Nelson dan May (1996) menuturkan, attachment merupakan ikatan antara

individu meliputi pencurahan perhatian serta adanya hubungan emosi dan

fisik yang akrab. Menurut Klaus, Kennel (1992), bounding attacment bersifat

unik, spesifik, dan bertahan lama. Mereka juga menambahkan bahwa ikatan

orang tua terhadap anaknya dapat terus berlanjut bahkan selamanya walau

dipisah oleh jarak dan waktu dan tanda-tanda keberadaan secara fisik tidak

terlihat (Rini dkk, 2016 : 57-58).


Bounding adalah suatu langkah untuk mengungkapkan perasaan areksi

(kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir sedangkan

attachment adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang

waktu (Rini dkk, 2016 : 58).


1. Beberapa Pemikiran Dasar dari Keterkaitan Ini Antara Lain :
Prakondisi yang mempengaruhi ikatan (Mercer: 1996) yaitu:
a. Kesehatan emosional orang tua
b. Sistem dukungan sosial yang meliputi pasangan hidup, teman dan

keluarga
c. Suatu tingkat keterampilan alam berkomunikasi dan dalam memberi

asuhan yang kompeten


d. Kedekatan orang tua dan bayi
e. Kecocokan orang tua-bayi (termasuk keadaan, temperamen, dan jenis

kelamin)
(Rini dkk, 2016 : 58)
2. Tujuan bounding attachment
Untuk membantu tumbuh kembang baik disik, emosi dan intelektual

seorang anak dari awal kehidupan hingga dewasa (Rukiyah, 2009).


3. Tahap-tahap bounding attachment menurut Rini dkk (2016 : 58) :
a. Perkenalan (acquiantance), dengan melakukan kontak mata,

menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal

bayinya.
b. Bounding (keterikatan)
c. Attachment, perasaan kasih sayang yang mengikat individu dengan

individu yang lain.


4. Elemen-elemen bounding attachment meliputi :
1) Sentuhan
Sentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang

tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru

lahir dengan cara mengeskplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.

Penelitian telah menemukan suatu pola sentuhan yang hampir sama

yakni pengasuh memulai eksplorasi jari tengah ke bagian kepala dan

tungkai kaki. Tidak lama kemudian pengasuh memakai telapak

tangannya untuk mengelus badan bayi dan akhirnya memeluk dengan

tangannya. Gerakan ini digunakan untuk menenangkan bayi (Rini dkk,

2016 : 59).
2) Kontak mata
Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan

kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak

waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan

melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya

(Rini dkk, 2016 : 59).


3) Suara
Saling mendengar dan merespon suara antara orang tua dan

bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya

dengan tegang. Sedangkan bayinya akan menjadi tenang dan berpaling

ke arah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara dengan suara

bernada tinggi (Rini dkk, 2016 : 59).


4) Aroma
Perilaku lain yang terjalani antara orang tua dan bayi ialah

respons terhadap aroma/bau masing-masing. Ibu mengetahui setiap


anak memiliki aroma yang unik. Sedangkan bayi belajar dengan cepat

untuk membedakan aroma susu ibunya (Rini dkk, 2016 : 59).


5) Entrainment
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktut

pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat

kepala. Menendang-nendang kaki, seperti sedang berdansa mengikuti

nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai

berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada

orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif

(Nurasiah, 2014).
6) Bioritme
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada

dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru

lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat

membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten

dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembang perilaku yang

responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan

bayi untuk belajar (Nurasiah, 2014).


7) Kontak dini
Saat ini, tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa

kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubunngan

orang tua dan anak. Ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat

diperoleh dari kontak dini yaitu kada oksitosin dan prolaktin

meningkat, refleks menghisap dilakukan dini, pembentuk kekebalan

aktif diulai dan mempercepat proses ikaan antara orang tua dan anak

(Nurasiah, 2014).
5. Bentuk Interaksi dalam bounding attachment
Beberapa interaksi yang menyenangkan dalam rangka bounding

attachment menurut Wulandari dan Handayani (2010), antara lain

adalah :
a. Sentuhan pada tungkai dan muka bayi secara halus dengan tangan

ibu.
b. Sentuhan pada pipi
Sentuhan ini dapat menstimulasi respon yang menyebabkan

terjadinya gerakan muka bayi ke arah muka ibu atau ke arah

payudara sehingga bayi akan mengusap-usap menggunakan hidung

serta menjilati putingnya dan terjadilah rangsangan untuk sekresi

prolaktin.
c. Tatap mata bayi dan ibu
Ketika mata bayi dan ibu saling tatap pandang, menimbulkan

perasaan saling memiliki antara ibu dan bayi


d. Tangis bayi
Saat bayi menangis, ibu dapat memberikan respon berupa

sentuhan dan suatu yang lembut serta menyenangkan.


6. Prinsip-prinsip dan upaya meningkatkan bounding attachment
Nurasiah (2014) menyatakan beberapa prinsip dan uaya dalam

rangka meningkatkan bounding attachment, antara lain sebagai berikut :


a. Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
b. Sentuhan orang tua pertama kali.
c. Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua

ke anak.
d. Kesehatan emosional orang tua.
e. Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
f. Persiapan PNC (Perinatal Care) sebelumnya.
g. Adaptasi.
h. Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat

anak.
i. Kontak sedini mungkin sehigga dapat membantu dalam memberi

kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa

nyaman.
j. Fasilitas untuk kontak lebih lama.
k. Penekanan pada hal-hal positif.
l. Perawat maternitas khusus (bidan).
m. Libatkan anggota eluarga lainnya.
n. Informasikan bertahap mengenai bounding attachment.
7. Keuntungan bounding attachment
Keuntungan bounding attachment menurut Lusa (2010), antara lain :
a. Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan

sikap sosial.
b. Bayi merasa aman, berani mengadakan ekplorasi.
8. Hambatan bounding attachment
Wulandari dan Handayani (2010), menyatakan bahwa ikatan antara

ibu dan bayi bisa tertunda karena :


a. Prematuritas
Bayi yang baru dilahirkan dalam keadaan prematur, kurang

mendapat kasih sayang dari ibunya karena kondisi belum cukup


viable (kelangsungan hidup terus) dan belum cukup untuk

menyesuaikan dengan extrauterine, bahkan bayi diletakkan dalam

inkubator sampai bayi dapat hidup sebagai individu yang mandiri.


b. Bayi dan ibu sakit
Pada keadaan ibu atau bayi salah satu menderita sakit, dan harus

mendapat perawatan khusus, maka ikatan ibu dan bayi akan tertunda.
c. Cacat fisik
Bayi lahir cacat fisik atau cacat bawaan, atau kelainan lainnya

dapat menimbulkan stress pada keluarga utamanya ibu. Ibu merasa

malu dan kurang menyukainya.


B. Bentuk Bounding Attachment : Pemberian ASI Awal
Langkah ini disebut Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Beberapa penelitian

membuktikan bahwa IMD membawa banyak sekali keuntungan untuk ibu dan

bayi (Sulistyawati dan Nugraheny, 2013 : 216).


1. Mendekatkan hubugan batin ibu-bayi, karena pada IMD terjadi

komunikasi batin secara sangat pribadi dan intensif.


2. Bayi akan mengenal ibunya lebih dini sehingga akan memperlancar

proses laktasi.
3. Suhu tubuh bayi stabil karean hipotermi telah dikoreksi panas tubuh

ibunya.
4. Refleks oksitosin ibu akan berfungsi maksimal.
5. Mempercepat produksi ASI, karena sudah mendapat rangsangan isapan

dari bayi lebih awal.


Prosedur dan gambaran proses IMD menurut Sulistyawati dan Nugraheny

(2013 : 216-217), yaitu :


1. Tempatkan bayi diatas perut ibunya dalam 2 jam pertama tanpa

pembatas kain di antara keduanya (skin to skin contact), lalu selimuti

ibu dan bayi dengan selimut hangat. Posisikan bayi dalam keadaan

tengkurap.
2. Setelah bayi stabil dan mulai beradaptasi dengan lingkungan luar

uterus, ia akan mulai mencari puting susu ibunya.


3. Hembusan angin dan panas tubuh ibu akan memancarkan bau payudara

ibu, secara insting bayi akan mencari sumber bau tersebut.


4. Dalam beberapa menit bayi akan merangkak ke atas dan mencari serta

memegang puting susu ibunya, selanjutnya ia akan mulai menghisap.


5. Selama periode ini tangan bayi akan merangsang payudara ibunya dan

selama itu pula refleks pelepasan hormon oksitosin ibu akan terjadi.
6. Ingat, selama proses ini bidan tidak boleh meninggalkan ibu dan bayi

sendirian. Tahap ini sangat penting karena bayi dalam kondisi siaga

penuh.bidan harus menunda untuk memandikan bayi, melakukan

pemeriksaan fisik, maupun prosedur lain.


C. Bentuk Bounding Attachment : Pijat Bayi Baru Lahir
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari dkk (2013) memberikan pijat

bayi maka akan dapat meningkatkan bounding attachment ibu terhadap

bayinya. Hal ini sesuai dengan teori Subakti dan Anggraini (2008) uang

menyebutkan manfaat dari pijat bayi adalah salah satunya dapat membina

ikatan yang kuat antara orangtua dan anak (Sari dkk, 2013).
Sentuhan dan pandangan kasih sayang orantua pada bayinya akan

mengalirkan kekuatan jalinan kasih diantara keduanya. Pada perkembangan

anak, sentuhan orangtua adalah dasar perkembangan komunikasi yang akan

memupuk cinta kasih secara timbal balik. Semua ini akan menjadi penentu

bagi anak untuk secara potensial menjadi anak berbudi aik dan percaya diri

(Sari dkk, 2013).


Bounding attachment sangat memberikan keuntungan bagi bayi. Bayi

merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial,

merasa aman, dan berani mengadakan eksplorasi. Kontak dini merupakan

bagian dari elemen-elemen bounding attachment. Kontak dini setelah lahir

merupakan hal yang penting untuk hubungan orangtua anak (Sari dkk, 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Nurasiah. 2014. Asuhan Persalinan Normal bagi Bidan. Jakarta : Aditama.
Rini, Susilo, dkk. 2016. Paduan Asuhan Nifas dan Evidance Based Practice.

Yogyakarta : Deepublich.
Sari, dkk. 2013. Pengaruh Pijat Bayi Baru Lahir terhadap Bounding Attachment.

http://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/1954/JURNA

L%20DEWI%20AFRITA%20SARI.pdf?sequence=1 (Diakses pada tanggal

27 Oktober 2017 pukul 15.51)

Sulistyawati, Ari dan Nugraheny, Esti. 2013. Asuhan Kebidanan Pada Ibu

Bersalin. Jakarta : Salemba Medika.

Wulandari dan Handayani. 2010. Asuhan Kebidanan Ibu Masa Nifas. Yogyakarta :

Goysen Publishing.