Anda di halaman 1dari 9

Nama : Agnes Adiguna Wijaya

NIM : ST151001

Rheumatoid Arthritis (RA)


1. Pengertian
Rheumathoid Arthritis (RA) adalah penyakit inflamasi sistemik kronik
yang menyebabkan tulang sendi destruksi dan deformitas, serta mengakibatkan
ketidakmampuan (Meiner&Luekenotte, 2006). Rheumathoid Arthritis (RA)
adalah suatu penyakit autoimun dan inflamasi sistemik kronik terutama
mengenai jaringan sinovium sendi dengan manifestasi utama poliarthritis
progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh (Manjoer, 1999).
2. Penyebab
Penyebab Rheumatoid Arthritis sampai saat ini masih belum diketahui
dengan
pasti. Penyebab Rheumatoid Arthritis ini masih terus diteliti di berbagai
belahan dunia, namun agen infeksi seperti virus, bakteri, dan jamur, sering
dicurigai sebagai pencetusnya. Menurut Williams & Wilkins (1997)
berpendapat, bahwa beberapa faktor resiko seperti faktor genetic dan kondisi
lingkungan pun ikut berperan dalam timbulnya RA, seperti :
a. Genetik
Terdapat hubungan antara HLA-DW 4 dengan RA seropositif yaitu
penderita mempunyai resiko 4 kali lebih banyak terserang penyakit ini.
b. Hormon Sex
Faktor keseimbangan hormonal diduga ikut berperan karena perempuan
lebih banyak menderita penyakit ini.
c. Infeksi
Dengan adanya infeksi timbul karena permulaan sakitnya terjadi secara
mendadak dan disertai tanda-tanda peradangan. Penyebab infeksi diduga
oleh bakteri, mikroplasma atau virus.
d. Heart Shock Protein (HSP)
HSP merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk
oleh tubuh sebagai respon terhadap stres.
e. Radikal Bebas
Radikal superoksida dan lipid peroksidase yang merangsang keluarnya
prostaglandin dan pembengkakan.
Menurut Meiner&Lueckenotte (2006), penyebab RA belum diketahui
dengan jelas, namun teori yang paling banyak diterima menyebutkan bahwa
RA merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi
dan jaringan penyambung. Insiden meningkat dengan bertambahnya usia
terutama pada wanita. Insiden puncak adalah antara 40-60 tahun dan penyakit
ini menyerang orang diseluruh dunia dan berbagai suku bangsa (Price &
Wilson, 2005).
3. Patofisiologi
Pada Rheumathoid Arthritis (RA), reaksi autoimun terutama terjadi dalam
jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi.
Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen sehingga terjadi edema,
poliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan
menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah
menghilangnya permukaan sendi yang akan menganggu gerak sendi. Otot akan
turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif
dengan menghilangnya elastisitas otot dengan kekuatan kontraksi otot
(Brunner&Suddarth, 2002).
4. Manifestasi Klinis
Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada penderita
rheumatoid artritis. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat
yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat
bervariasi (Brunner&Suddarth, 2002).
a. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun
dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
b. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di
tangan,
namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalangs distal. Hampir
semua sendi diartrodial dapat terserang.
c. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam dapat bersifat generalisasi
terutama menyerang sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi
pada osteoartritis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit
dan selalu kurang dari 1 jam.
d. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik.
Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi tulang dan ini
dapat dilihat pada radiogram.
e. Deformitas. kerusakan dari struktur-struktur penunjang sendi dengan
perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi
metakarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah
beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Pada kaki
terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari
subluksasi metatarsal. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan mengalami
pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak
ekstensi.
f. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada
sekitar sepertiga orang dewasa penderita arthritis rheumatoid. Lokasi yang
paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku ) atau di
sepanjang permukaan ekstensor dari lengan, walaupun demikian nodula-
nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-
nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan
lebih berat.
g. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga dapat menyerang organ-
organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata,
dan pembuluh darah dapat rusak.
5. Pengobatan Rheumatoid Arhtritis
a. Penatalaksanaan Farmakologi
Mengkombinasikan beberapa tipe pengobatan dengan menghilangkan
nyeri. Obat anti infalamasi yang dipilih sebagai pilihan pertama adalah
aspirin dan NSAIDs dan pilihan ke dua adalah kombinasi terapi terutama
Kortikosteroid (Bruke&Laramie, 2000). Pada beberapa kasus pengobatan
bertujuan untuk memperlambat proses dan mengubah perjalanan penyakit
dan obat-obatan yang digunakan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
(Williams&Wilkins, 1997).
Pengobatan dengan Aspirin dan Asetaminofen diberikan untuk
menghindari
terjadinya infalamasi pada sendi dan menggunakan obat NSAIDs untuk
menekan prostaglandin yang menyebabkan timbulnya peradangan dan efek
samping obat ini adalah iritasi pada lambung (Meiner&Leuckenotte, 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Gotzsche & Johansen (1998), penggunaan
obat ini dapat menurunkan ambang nyeri mencapai 0.25% sampai dengan
2.24%, tetapi obat ini mempunyai suatu efek lebih besar dibanding anti
inflamatori selama penggunaan jangka panjang.
Pemberian kortikosteroid digunakan untuk mengobati gejala
Rheumatoid Arthritis saja seperti nyeri pada sendi, kaku sendi pada pagi
hari, lemas, dan tidak nafsu makan. Cara kerja obat Kortokosteroid dengan
menekan sistem kekebalan tubuh sehingga reaksi radang pada penderita
berkurang (Handono&Isbagyo, 2005). Efek samping jangka pendek
menggunakan Kortikosteroid adalah pembengkakan, emosi menjadi labil,
efek jangka panjang tulang menjadi keropos, tekanan darah menjadi tinggi,
kerusakan arteri pada pembuluh darah, infeksi, dan katarak. Penghentian
pemberian obat ini harus dilakukan secara bertahap dan tidak boleh secara
mendadak (Bruke & Laramie, 2000).
Bagi penderita RA erosif, persisten, bedah rekonstruksi merupakan
indikasi jika rasa nyeri tidak dapat diredakan dengan tindakan konservatif.
Prosedur bedah mencangkup tindakan Sinovektomi (eksisi membran
sinovial), Tenorafi (penjahitan tendon), Atrodesis (operasi untuk
menyatukan sendi), dan Artroplasti (operasi untuk memperbaiki sendi).
Namun operasi tidak dilakukan pada saat penyakit masih berada dalam
stadium akut (Brunner&Suddarth, 2002).
b. Pengobatan Non Farmakologis
Tindakan non farmakologi mencangkup intervensi perilaku-kognitif dan
penggunaan agen-agen fisik. Tujuannya adalah mengubah persepsi penderita
tentang penyakit, mengubah perilaku, dan memberikan rasa pengendalian
yang lebih besar (Perry&Potter, 2006). Menggunakan terapi modalitas
maupun terapi komplementer yang digunakan pada kasus dengan
Rheumatoid Arhtritis pada lansia mencangkup :
1. Terapi Modalitas
Diit makanan merupakan alternatif pengobatan non farmakologi untuk
penderita Rheumatoid Arhtritis (Burke&Laramie, 2000). Diit dan
terapi yang berfungsi sebagai pengobatan bagi penderita Rheumatoid
Arhtritis seperti mengkonsumsi jus seledri dan daun salada, kubis,
bawang putih, bawang merah, dan wortel (Nainggolan, 2006).
Kompres panas dan dingin serta massase. Penelitian membuktikan
bahwa kompres panas sama efektifnya dalam mengurangi nyeri
(Brunner&Suddarth, 2002).
Olah raga dan istirahat. Penderita Rheumatoid Arhtritis harus
menyeimbangkan kehidupannya dengan istirahat dan beraktivitas. Saat
lansia merasa nyeri atau pegal maka harus beristirahat
(Brunner&Suddarth, 2002).
Sinar Inframerah. Cara yang lebih modern untuk menhilangkan rasa
saklit akibat rematik adalah penyinaran menggunakan sinar
inframerah. Meskipun umumnya dilakukan di tempat-tempat
fisioterapi, penyinaran tidak boleh melampaui 15 menit dengan jarak
lampu dan bagian tubuh yang disinari sekitar 1 meter. Harus
diperhatikan juga agar kulit di tempat rasa sakit tadi tidak sampai
terbakar (Syamsul, 2007).
2. Terapi Komplementer
Menggunakan obat-obatan dari herbal. Brithis Journal of Clinical
Pharmacology melaporkan hasil penelitian menyatakan bahwa 82 %
lansia dengan Rheumatoid Arhtritis mengalami perbedaan nyeri dan
pembengkakan dengan menggunakan obat-obatan dari herbal
(Eliopoulus, 2005). Beberapa jenis herbal yang bisa membuat
mengurangi dan menghilangkan nyeri pada Rheumatoid Arhtritis
misalnya jahe dan kunyit, biji seledri, daun lidah buaya, aroma terapi,
rosemary, atau minyak juniper yang bisa menghilangkan bengkak pada
sendi (Syamsul, 2007).
Accupresure. merupakan latihan untuk mengurangi nyeri pada
Rheumatoid Arthritis. Accrupresure memberikan tekanan pada alur
energi disepanjang jalur tubuh. Tekanan yang diberikan pada alur
energi yang terkongesti untuk memberikan kondisi yang sehat pada
penderita ketika titik tekanan di sentuh, maka dirasakan sensasi ringan
dengan denyutan di bawah jari-jari. Mula-mula nadi dibeberapa titik
akan terasa berbeda, tetapi karena terus-menerus dipegang nadi akan
menjadi seimbang, setelah titik tersebut seimbang dilanjutkan dengan
menggerakan nadi-nadi tersebut dengan lembut (Syamsul, 2007).
Relaxasi Progresive. Dapat diberikan dengan pergerakan yang
dilakukan pada keseluruhan otot, trauma otot extrim secara berurutan
dengan gerakan peregangan dan pelemasan. Realaxasi progresiv
dilakukan secara berganitan. Terapi ini memilki tujuan untuk
mengurangi ketegangan pada otot khususnya otot-otot extremitas atas,
bawah, pernapasan, dan perut serta melancarkan sistem pembuluh
darah dan mengurangi kecemasan penderita (Syamsul, 2007).

Nyeri Poliartikular
Nyeri poliartikular pada Rheumatoid Arthritis merupakan tanda dan gejala
yang timbul dari Reumatoid Arthritis dimana nyeri yang dirasakan mempengaruhi
lebih dari 4 sendi pada tubuh.

Malalignment pada Jari-Jari


Malalignment adalah ketidaksejajaran sendi sebagai faktor resiko dari
Reumatoid Artritis sehingga mengakibatkan deformitas yaitu kerusakan dari
struktur-struktur penunjang sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar
atau deviasi jari, subluksasi sendi metakarpofalangeal, deformitas boutonniere dan
leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada
penderita. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul
sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan
mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak
ekstensi

Obat Herbal untuk Rheumatoid Arthritis


Brithis Journal of Clinical Pharmacology melaporkan hasil penelitian
menyatakan bahwa 82% lansia dengan Rheumatoid Arhtritis mengalami
perbedaan nyeri dan pembengkakan dengan menggunakan obat-obatan dari herbal
(Eliopoulus, 2005). Beberapa jenis herbal yang bisa membuat mengurangi dan
menghilangkan nyeri pada Rheumatoid Arhtritis misalnya jahe dan kunyit, biji
seledri, daun lidah buaya, aroma terapi, rosemary, atau minyak juniper yang bisa
menghilangkan bengkak pada sendi (Syamsul, 2007).

Obat Tylenol atau Acetaminophen


Acetaminophen (Tylenol) merupakan kelas obat yang disebut analgesik
(penghilang rasa sakit) dan antipiretik (pereda demam). Obat ini dapat
mengurangi produksi prostaglandin dalam otak.
a. Cara kerja dari obat Acetaminophen atau Tylenol
Prostaglandin melayani sejumlah fungsi pelindung dalam tubuh, tetapi
juga dapat menghasilkan nyeri, peradangan dan demam. Prostaglandin
menyebabkan rasa sakit dan peradangan setelah cedera sel oleh sejumlah
mekanisme, terutama di lokasi cedera dalam sistem saraf perifer, yaitu saraf
di luar otak dan sumsum tulang belakang, juga dalam sistem saraf
pusat. Prostaglandin juga meningkatkan suhu tubuh dengan mempengaruhi
panas pengatur pusat suatu wilayah otak yang dikenal sebagai hipotalamus.
Acetaminophen mengurangi rasa sakit dengan meninggikan ambang nyeri.
Ini mengurangi demam melalui aksinya pada panas yang mengatur pusat
otak. Secara khusus, Acetaminophen memberitahu pusat untuk menurunkan
suhu tubuh ketika suhu meningkat. FDA menyetujui acetaminophen pada
tahun 1951.
Nyeri berhubungan dengan sakit punggung, kram menstruasi, sakit
kepala, arthritis dan sering dapat diobati dengan acetaminophen. Hal ini juga
dapat digunakan untuk mengurangi demam. Bentuk-bentuk tertentu dari
acetaminophen disetujui untuk mengobati demam dan sakit ringan dan nyeri
pada anak-anak dan bayi. Kadang-kadang, penyedia layanan kesehatan dapat
merekomendasikan penggunaan acetaminophen, seperti untuk pengobatan
migraine.
b. Efek Samping
Ketika digunakan secara tepat, efek samping dengan acetaminophen tidak
umum. Efek samping yang paling serius adalah kerusakan hati karena dosis
besar, penggunaan kronis atau penggunaan bersamaan dengan alkohol atau
obat-obatan lain juga merusak hati. Penggunaan alkohol kronis juga dapat
meningkatkan resiko pendarahan perut.
Tylenol dan obat penghilang rasa sakit lainnya yang mengandung bahan
acetaminophen dapat menyebabkan ruam yang berpotensi mematikan dan
melepuhkan kulit, regulator kesehatan Amerika Serikat memperingatkan
pada hari Kamis kemarin.
Dua kondisi kulit tersebut, Stevens-Johnson Syndrome dan TEN (toxic
epidermal necrolysis), bisa berakibat fatal. Mereka biasanya diawali dengan
gejala seperti flu, diikuti dengan ruam, melepuh, dan terlepasnya bagian atas
permukaan kulit, kata FDA.
Suatu kondisi yang terpisah, acute generalized exanthematous pustulosis,
biasanya tidak mengancam jiwa dan ditandai oleh kemunculan tiba-tiba kulit
merah dengan puluhan atau ratusan lepuhan kecil berisi cairan putih atau
kuning.
Peringatan itu didasarkan pada informasi baru yang diperoleh dari
database efek samping FDA yang dilaporkan dan literatur medis. Badan itu
mengatakan sulit untuk menentukan seberapa sering reaksi kulit tersebut
terjadi akibat meluasnya penggunaan obat, tetapi kemungkinan kejadian
tersebut jarang terjadi.

Obat Vioxx 25 mg
Vioxx (rofecoxib) merupakan suatu senyawa antiinflamasi non steroid yang
memiliki efek anti inflamasi, analgetik dan antipiretik.
a. Indikasi
Rofecoxib (Vioxx) digunakan untuk osteoartritis,rheumatoid artritis dan
menghilangkan nyeri akut.
b. Kontraindikas
Pada pasien yang hypersensitif rofecoxib dan penurunan fungsi ginjal dan
gangguan pada kardiovaskuler
c. Dosis dan sediaan
Tiap tablet rofecoxib (Vioxx) berisi 12,5 mg atau 25 mg, dapat diberikan
sehari sekali untuk anti-inflammatory. Sedangkan suspensi oral tiap 5 mL
mengandung 12,5 mg atau 25 mg. Dosis untuk obat analgesik mengandung
50 mg yang diberikan sekali per hari.
d. Efek samping
Rofecoxib (Vioxx) yaitu nyeri dada, kram otot, diare, sakit kepala, mual,
infeksi saluran pernapasan atas, hipertensi, iskemia, dispepsia,muntah,
sinusitis, sakit perut, bronchitis, dan infeksi saluran kencing