Anda di halaman 1dari 29

LATAR BELAKANG

Pada saat ini angka kematian ibu dan angka kematian perinatal di
Indonesia masih sangat tinggi. Menusut survei demografi dan kesehatan indonesia
(SDKI) tahun 2012. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) di Indonesia masih tinggi. AKI mencapi 359 per 100.000 kelahiran hidup
dan AKB mencapai 32 per 1000 kelahiran hidup.
Penyebab kematian yang paling cepat pada kasus obstetri adalah asfiksia
dan perdarahan. Perdarahan setelah melahirkan adalah konsekuensi perdarahan
berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan traktus
di sekitarnya, atau keduanya. Dengan demikian perdarahan postpartum
merupakan penjelasan suatu kejadian dan bukkan diagnosis. Di inggris, separuh
kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh proses postpartum (Bonnar
2000). Apabila terjadi perdarahan berlebihan, harus dicari etiologi yang spesifik.
Atonia uteri, retensi plasenta-termasuk plasenta akreta dan variannya, serta
laserasi traktus genitalia merupakan penyebab sebagian besar kasusu perdarahan
postpartum. Dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta telah mengalahkan atonia
uteri sebagai penyebab tersering perdarahan postpartum yang keparahanya
mengharuskan dilakukannya histerektomi(Chestnul dkk, 1985; Clark dkk., 1984;
Zelop dkk., 1993 ).
Secara tradisional, perdarahan pascapartum didefinisikan sebagai
kehilangan 500 ml atau lebih darah setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml
atau lebih setelah sectio caesarea. Wanita dengan hipervolemia normal akibat
kehamilan biasanya mengalami peningkatan volume darah sebesar 30 hingga 60
persen yang bagi kebanyakan wanita, berarti 1 sampai 2 liter. Oleh karena itu,
wanita yang bersangkutan akan menoleransi pengeluaran darah, tanpa mengalami
penurunan yang nyata dalam hematokrit yang mendekati volum darah yang ia
tambahkan selama hamil. Meskipun pengeluaran darah yang melebihi 500 ml
beluum pasti merupakan suatu kejadian abnormal untuk persalinan pervaginam,
namun kehilangan darah yang sebenarnya biasanya dua kali lipat dari pada yang
diperkirakan. Oleh karena itu, perkiraan kehilangan darah yang lebih dari 500 ml
seyogyanya menimbulkan peringatan bahwa wanita yang bersangkutan sedang
mengalami perdarahan hebat.

1
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN MASALAH SISTEM
REPRODUKSI SECARA UMUM

1. Konsep kegawatdaruratan
A. Pengertian
Kegawatdaruratan dapat didefinisikan sebagai situasi serius dan kadang
kala berbahaya yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga dan
membutuhkan tindakan segera guna menyelamtkan jiwa/nyawa (Campbell
S, Lee C, 2000).
Kasus gawat darurat obstetri adalah kasus obstetri yang apabila tidak
segera ditangani akan berakibat kematian ibu dan janinnya. Kasus ini
menjadi penyebab utama kematian ibu janin dan bayi baru lahir. (Saifuddin,
2002).
Kasus gawat darurat neonatus ialah kasus bayi baru lahir yang apabila
tidak segara ditangani akan berakibat pada kematian bayi.
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi
dan manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( usia 28
hari) membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali perubahan
psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang bisa saja
timbul sewaktu-waktu (Sharieff, Brousseau, 2006).
Kegawatdaruratan maternal perdarahan yang mengancam nyawa selama
kehamilan dan dekat cukup bulan meliputi perdarahan yang terjadi pada
minggu awal kehamilan, persalinan, postpartum, hematoma, dan
koagulopati obstetric.

2. Penilaian Awal
Dalam menentukan kondisi kasus obstetri yang dihadapi apakah dalam
keadaan gawat darurat atau tidak harus dilakukan pemeriksaan secara
sistematis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan
obstetrik.

2
Penilaian awal adalah langkah pertama untuk menentukan dengan cepat
kasus obstetri yang membutuhkan pertolongan segera dan mengidentifikasi
penyulit (komplikasi) yang dihadapi.
Pemeriksaan yang dilakukan dalam penilaian awal ialah sebagai berikut :
A. Periksa Pandang
a. Menilai kesadaran penderita : pingsan/koma, kejang-kejang, gelisah,
tampak kesakitan.
b. Menilai wajah penderita : pucat, kemerahan, banyak berkeringat.
c. Menilai pernapasan : cepat, sesak napas.
d. Menilai perdarahan dalam kemaluan.
B. Periksa Raba
a. Kulit : dingin, demam.
b. Nadi : lemah/kuat, cepat/normal.
c. Kaki/tungkai bawah : bengkak.
C. Tanda vital
a. Tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan.

3. Penilaian Klinik Lengkap


Pemeriksaan klinik lengkap secara sistematis meliputi sebagai berikut :
A. Anamnesis
Diajukan pertanyaan kepada pasien atau keluarganya beberapa hal
berikut dan jawabannya dicatat dalam data medik.
a. Masalah/keluahan utama yang menjadi alasan pasien datang ke klinik.
b. Riwayat penyakit/masalah tersebut.
c. Tanggal hari pertama haid yang terakhir dan riwayat haid.
d. Riwayat kehamilan sekarang.
e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu termasuk kondisi
anaknya.
f. Riwayat penyakit yang pernah diderita dan penyakit dalam keluarga.
g. Riwayat alergi terhadap obat.

3
B. Pemariksaan fisik umum :
a. Pemeriksaan keadaan umum dan kesadaran penderita.
b. Penilaian tanda vital (td, nadi, suhu, pernapasan).
c. Pemeriksaan tubuh secara sistematis.
d. Pemeriksaan kepala dan leher.
e. Pemeriksaan dada.
f. Pemeriksaan perut (tanda abdomen akut, cairan bebas dalam rongga
perut).
g. Pemeriksaan anggota gerak (edema tungkai bawah dan kaki).

C. Pemeriksaan obstetri :
a. Pemeriksaan vulva dan perineum.
b. Pemeriksaan vagina.
c. Pemeriksaan serviks.
d. Pemeriksaan rahim (besarnya, kelainan bentuk, tumor dan sebagainya).
e. Pemeriksaan adneksa.
f. Pemeriksaan his (frekuensi, lama, kekuatan, relaksasi, simetri dan
dominasi fundus).
g. Pemeriksaan janin.
- Didalam atau diluar rahim.
- Jumlah janin.
- Letak janin.
- Presentasi janin dan turunnya presentasi seberapa jauh.
- Posisi janin, moulage, dan kaput suksedaneum.
- Bagian kecil janin disamping presentasi (tangan, tali pusat dan lain-
lain).
- Anomali kongenital pada janin.
- Taksiran berat janin.
- Janin mati atau hidup, gawat janin atau tidak.

4
D. Pemeriksaan Panggul
a. Penilaian pintu atas panggul
- Promontorium teraba atau tidak
- Ukuran konjungata diagonalis dan konjungata vera
- Penilaian linea innominata
b. Penilaian ruang tengah panggul
- Penilaian tulang sakrum
- Penilaian dinding samping
- Penilaian spina askiadika (runcing atau tumpul)
- Ukuran jarak antar spina iskiadika
c. Penilaian pintu bawah panggul
- Arkus pubis
- Penilaian tulang koksigis (ke depan atau tidak)
d. Penilaian adanya tumor jalan lahir yang menghalangi persalinan
pervaginam
e. Penilaian panggul patologik
f. Penilaian ambang feto-pelvik
Pemeriksaan his, pemeriksaan janin, dan pemeriksaan panggul sangat
menentukan untuk rencana persalinan pervaginam. Kesalahan dalam
penilaian ini dapat berakibat fatal. Kasus persalinan yang seharusnya
dilahirkan perabdominam dan keliru direncanakan pervaginam akan
membuang-buang waktu yang tidak perlu dan barakibat buruk bagi ibu dan
terutama bagi janin. Kondisi klinik kasus gawat darurat kebidanan yang
sering dijumpai dan perlu pertolongan cepat, tepat, dan benar ialah kondisi
syok perdarahan selain syok septik, kejang-kejang dan koma.
Memperhatikan itu, kondisi klinik tersebut perlu dibahas secara khusus.

5
ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN MASALAH SISTEM
REPRODUKSI ATONIA UTERI

1. LAPORAN PENDAHULUAN ATONIA UTERI

A. Definisi
Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi
dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah
lahir). (JNPKR, Asuhan Persalinan Normal, Depkes Jakarta ; 2002).
Setelah plasenta lahir, fundus harus selalu di palpasi untuk memastikan
bahwa uterus berkontraksi dengan baik. Kegagalan uterus untuk
berkontraksi setelah melahiirkan sering menjadi penyebab perdarahan
obstetris.
Pembedahan antara perdarahan akibat atonia uterus dan akibat laserasi
secara tentatif di dasarkan pada kondisi uterus. Uterus yang atoniik akan
lembek dan tidak keras pada palpasi. Jika tetap terjadi perdarahan
meskipun uterus berkontraksi dengan kuat, kausa perdarahanya
kemungkinan besar adalah laserasi. Darah yang merah segar juga
mengisyaratkan laserasi. Untuk memastikan peran laserasi sebagai kausa
perdarahan, harus dillakukan pemeriksaan yang cermat terhadap vagina,
serviks dan uterus.
Kadang-kadang perdarahan disebabkan oleh atonia dan trauma,
terutama setelah pelahiran operatif mayor. Secara umum, setelah setiap
kelahiran harus dilakukan inspeksi terhadap inspeksi terhadap serviks dan
vagina untuk mengidentifkasi perdarahan akibat laserasi. Anestesi harus
adekuat untuk mencegah rasa tidak nyaman selama pemeriksaan ini.
Pemeriksaan hingga uterus, serviks dan seluruh vagina merupakan hal
yang esensial setelah ekstraksi bokong, setelah versi podalik iinterna, dan
setelah persalinan pervaginam pada seorang wanita dengan riwayat sectio
caesarea. (Leveno, Kennethj. 2009).

6
B. Fisiologi
Menjelang aterm, diperkirakan bahwa sekitar 600 ml/menit darah
mengalir melalui ruang antarvilus. Saat plasenta terlepas, banyak arteri dan
vena yang menyalurkan darah menuju dan dari plasenta terputus secara
mendadak. Di tempat implantasi plasenta, diperlukan kontraksi dan
retraksi miometrium untuk menekan pembuluh-pembuluh tersebut dan
menyebabkan obliterasi lumen agar perdarahan dapat dikendalikan.
Potongan plasenta atau bekuan darah yang melekat akan menghambat
kontraksi dan retraksi efektif miometrium sehingga hemostasis di tempat
implantasi tersebut terganggu. Jika miometrium di tempat implantasi
plasenta dan disekitarnya berkontraksi dan beretraksi dengan kuat, kecil
kemungkinan terjadi perdarahan yang fatal meskipun terjadi gangguan
mekanisme pembekuan yang hebat.
Selama kala tiga persalinan, akan terjadi perdarahan tak-terhindarkan
yang disebabkan oleh pemisahan parsial sementara plasenta. Sewaktu
plasenta terlepas, darah dari tempat implantasi dapat cepat lolos kedalam
vagina (pemisahan duncan) atau tersembunyi di balik plasenta dan
membran (pemisahan schultze) sampai plasenta lahir. Pengeluaran
plasenta harus diupayakan melalui tekanan manual di fundus seperti di
jelaskan di Bab 19. Turunnya plasenta ditandai oleh kendurnya tali pusat.
Jika perdarahan menetap, diindikasikan pengeluaran plasenta secara
manual. Uteus harus di pijat jika tidak berkontraksi dengan kuat. (Leveno,
Kennethj 2009).

C. Patofisiologi
Perdarahan obstetri sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk
berkontraksi secara memadai setelah pelahiran. Pada banyak kasus,
perdarahan postpartum dapat diperkirakan jauh sebelum pelahiran.
Contoh-contoh ketika trauma dapat menyebabkan perdarahan postpartum
anatara lain pelahiran janin besar, pelahiran dengan forseps tengah, rotasi
forseps, setiap manipulasi intrauterus, dan mungkin persalinan pervaginam
setelah seksio sectio caesareaea (VBAC) atau insisi uterus lainnya. Atonia

7
uteri yang menyebabkan perdarahan dapat diperkirakan apabila digunakan
zat-zat anestetik berhalogen dalam konsentrasi tinggi yang menyebabkan
relaksasi uterus (Gilstrap dkk, 1987).
Uterus yang mengalami overdistensi besar kemungkinan besar
mengalami hipotonia setelah persalinan. Dengan demikian, wanita dengan
janin besar, janin multipel, atau hidramnion rentan terhadap perdarahan
akibat atonia uteri. Kehilangan darah pada persalinan kembar, sebagai
contoh, rata-rata hampir 1000 ml dan mungkin jauh lebih banyak
(pritchard, 1965). Wanita yang persalinannya ditandai dengan his yang
terlalu kuat atau tidak efektif juga dengan kemuungkinan mengalami
perdarahan berlebihan akibat atonia uteri setelah melahirkan.
Demikian juga, persalinan yang dipicu atau dipacu dengan oksitosin
lebih rentan mengalami atonia uteri dan perdarahan postpartum. Wanita
dengan paritas tinggi mungkin berisiko besar mengalami atonia uteri. Fucs
dkk. (1985) melaporkan hasil akhir pada hampir 5800 wanita para 7 atau
lebih. Mereka melaporkan bahwa insiden perdarahan postpartum sebesar
2,7 persen pada para wanita ini meningkat empat kali lipat dibandingkan
dengan populasi obstetri umum. Babinszki dkk. (1999) melaporkan
insiden perdarahan postpartum sebesar 0,3 persen pada wanita dengan
paritas rendah, tetapi 1,9 persen pada mereka dengan para 4 atau lebih.
Risiko lain adalah wanita yang bersangkutan perbah mengalami
perdarahan postpartum. Akhirnya, kesalahan penatalaksanaan persalinan
kala tiga berupa upaya untuk mempercepat pelahiran plasenta selain dari
pada mengeluarkannya secara manual. Pemijatan dan penekanan secara
terus menerus terhadap uterus yang sudah berkontraksi dapat mengganggu
mekanisme fisiologis pelepasan plasenta sehingga pemisahan plasenta
tidak sempurna dan pengeluaran darah meningkat.

D. Etiologi
Overdistensi uterus,baik absolut maupuun relatif, merupakan faktor
resiko mayor terjadinya atonia uteri. Overdistensi uterus dapat disebabkan
oleh kehamilan ganda, janin makrosomia, polihidramnion atau

8
abnormalitas janin (misal hidrosefalus berat), kelainan struktur uterus atau
kegagalan untuk melahirkan plasenta atau distensi akibat akumulasi darah
di uterus baik sebelum maupun plasenta lahir. Lemahnya kontraksi
moimetrium merupakan akibat dari kelelahan karena persalinan lama atau
persalinan dengan tenaga besar, terutama biila mendapatkan stimmulasi.
Hal ini dapat pula terjadi sebagai akibat dari iinhibisi kontraksi yang
disebabkan oleh obat-obatan, seperti agen anestesi terhalogenisasi, nitrat,
obat-obat antiinflamasi nonsteroid, magnesium sulfat, beta
simpatomimetik dan nifedipin.
Penyebab lain yaitu plasenta letak rendah, toksin bakteri
(korioamnionitis, endomiometritis, septikemia), hipoksia akibat
hipoperfusi atau uterus couvelaire pada abruptio plasenta dan hipotermia
akibat resusitasi masif.
Data terbaru menyebutkan bahwa grandemultiparitas bukan
merupakan faktor resiko independen untuk terjadinya perdarahan
postpartum.(Buku Ajar Obstetri, 2010).
Faktor penyebab terjadinya atonia uteri adalah :
a. Atonia Uteri
- Umur : Umur yang terlalu muda atau tua
- Paritas : Sering dijumpai para multipara dan grandemultipara
- Partus lama dan partus terlantar
- Obstein operatif dan narkosa
- Uterus terlalu tegang dan besar, misalnya pada gemeli, hidramnion,
atau janin besar
- Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri, uterus cauvelair pada
solusio plasenta.
- Faktor sosio ekonomi
b. Sisa plasenta dan selaput ketuban
c. Jalan lahir : robekan perineum, vagina serviks, famiks dan rahim.
d. Penyakit darah
e. Kelainan pembekuan darah misalnya hipofibrinogenemia
f. Perdarahan yang banyak

9
g. Solusio plasenta
h. Kematian janin yang lama dalam kandungan
i. Pre-eklamsi dan eklamsi
j. Infeksi, hepatitis dan septik syok

E. Faktor Predisposisi
Perdarahan oleh karena atonia uteri dapat dicegah dengan:
a. Melakukan secara rutin manajemen aktif kala III pada semua wanita
yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insidens perdarahan
yang pasca persalinan akibat atonia uteri.
b. Pemberian misoprostol peroral 2-3 tablet (400-600 g) segera setelah
bayi lahir.
Beberapa faktor predisposisi terjadinya atonia uteri adalah:
a. Regangan rahim yang berlebihan karena kehamilan gemeli,
polihidramnion, atau anak teralu besar.
b. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep.
c. Persalinan grande-multipara.
d. Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis atau menderita
penyakit menahun.
e. Mioma uteri yangmenggangu kontraksi rahim.
f. Infeksi intrauterin (korioamnionitis).
g. Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya.

F. Tanda dan Gejala Atonia Uteri


a. Perdarahan pervaginam
Perdarahan yang sangat banyak dan darah tidak merembes.
Peristiwa sering terjadi pada kondisi ini adalah darah keluar disertai
gumpalan disebabkan tromboplastin sudah tidak mampu lagi sebagai
anti pembeku darah.
b. Konsistensi rahim lunak
Gejala ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang
membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya.

10
c. Fundus uteri naik.
d. Terdapat tanda-tanda syok
e. Nadi cepat dan lemah (110 kali/ menit atau lebih)
f. Tekanan darah sangat rendah : tekanan sistolik < 90 mmHg
g. Pucat
h. Keringat/ kulit terasa dingin dan lembap
i. Pernafasan cepat frekuensi30 kali/ menit atau lebih
j. Gelisah, binggung atau kehilangan kesadaran
k. Urine yang sedikit ( < 30 cc/ jam)

G. Manifestasi Klinis
a. Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
b. Perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer)
Gejala klinis umum yang terjadi ialah kehhilangan darah dalam
jumlah banyak > 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah,
haus, pusing, gelisah, letih dan dapat terjadi syok hipovolemik,
tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual.
Gejala klinis berdasarkan penyebab :
- Atonia Uteri
Gejala yang selalu ada : uterus tidak berkontraksi dan lembek
dan perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan post partum
primer).
Perdarahan postpartum dapat terjadi karena terleppasnya
sebagian plasenta dari rahim dan sebagian lagi belum karena
perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia uteri. Atonia uteri
merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum.
Atonia uteri dapat terjadi karena proses persalinan yang lama,
pembesaran rahim yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada
hamil kembar atau janin besar, persalinan yang sering (multiparitas)
atau anestesi yang dalam. Atonia uteri juga dapat terjadi bila ada
usaha mengeluarkan plasenta dan mendorng rahim ke bawah
sementara plasenta belum lepas dari rahim.

11
Perdarahan yang banyak dalam waktu pendek dapat segera
diketahui. Tapi bila ada perdarahan sedikit dalam waktu lama tanpa
disadari penderita telah kehilangan banyak darah sebelum tampak
pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan atonia uteri, rahim
membesar dan lembek.
Terapi terbaik adalah pencegahan. Anemia pada kehamilan
harus diobati karena perdarahan yang normal pun dapat
membahayakan seorang ibu yang telah mengalami anemia. Bila
sebelumnya pernah mengalami perdarahan postpartum, persalinan
berikutnya harus di rumah sakit. Pada persalinan yang lama
diupayakan agar jangan sampai terlalu lelah. Rahim jangan dipijat
dan didorong kebawah sebelum plasenta lepas dari dinding rahim.
Pada perdarahan yang timbul setelah janin lahir dilakukan supaya
penghentian perdarahan sepecap mungkin dan mengatasi akibat
perdarahan. Pada perdarahan yang disebabkan atonia uteri dilakukan
massage rahim dan suntikan ergometrin ke dalam pembuluh balik. Bila
tidak memberi hasil yang diharapkan dalam waktu singkat dilakukan
kompresi baimanual pada rahim, bila perlu dilakukan tamponade utero
vaginal, yaitu dimasukkan tampon kasa ke dalam rahim sampai rongga
rahim terisi penuh. Pada perdarahan postpartum ada kemungkinan
dilakukan pengikatan pembuluh nadi yang mensuplai darah ke rahim atau
pengangkatan rahim.

H. Penatalaksanaan
a. Kenali dan tegakan diagnosis kerja atonia uteri.
b. Masase uterus, berikan oksitosin dan ergometrin intravena, bila ada
perbaikan dan perdarahan berhenti, oksitosin dilanjutkan perinfus.
c. Bila tidak ada perbaikan dilakukan kompresi bimanual, dan kemudian
dipasang tampon uterovaginal padat. Kalau cara ini berhasil,
dipertahankan selama 24 jam.
d. Kompresi bimanual eksternal, menekan uterus melalui dinding
abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan

12
yang melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila
perdarahan berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus
dapat kembali berkontraksi. Bila belum berhasil dilakukan kompresi
bimanual internal.
e. Kompresi bimanual internal, uterus ditekan diantara telapak tangan
pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit
pembuluh darah didalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme
kontraksi). Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini
bla perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus
berkontraksi kembali. Apabia perdarahan tetap terjadi, coba kompresi
aorta abdominalis.
f. Kompresi aorta abdominalis, raba arteri femoralis dengan ujung jari
tangan kiri, pertahankan posisi tersebut, genggam tangan kanan
kemuadian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu
badan, hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat
akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri femoralis.
Lihat hasil kompresi dengan memperhatikan perdarahan yang terjadi.
g. Dalam keadaan uterus tidak respon terhadap oksitosin/ergometrin, bisa
dicoba prostaglandin F2a (250 mg) secara intramuskular atau langsung
pada miometrium (transabdominal). Bila perlu pemberiannya dapat
diulang dalam 5 menit dan tiap 2 atau 3 jam sesudahnya.
h. Laparotomi dilakukan bila uterus tapi lembek dan perdarahan yang
terjadi tetap>200 ml/jam. Tujuan laparotomi adalah meligasi arteri
uterina atau hipogastrik (khusus untuk penderita yang belum punya
anak atau muda sekali).
i. Bila tidak berhasil, histerektomi adalah langkah terakhir.

I. Pencegahan Atonia Uteri


Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko
perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi
kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat

13
mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan
transfusi darah.
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu
onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau
kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat
untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III harus dilakukan
pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10
unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.
Analog sintetik oksitosin, yaitu karbetosin, saat ini sedang diteliti
sebagai uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pospartum
dini. Karbetosin merupakan obat long-acting dan onset kerjanya cepat,
mempunyai waktu paruh 40 menit dibandingkan oksitosin 4-10 menit.
Penelitian di Canada membandingkan antara pemberian karbetosin bolus
IV dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi sectio
caesarea. Karbetosin ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.
a. Oksitosin
Jika uterus tidak keras, diindikasikan pemijatan fundus kuat-kuat.
Dua puluh unit (2 ampul) oksitosin dalam 1000 ml ringer laktat atau
salin normal umumnya efektif jika diberikan secara intravena
dengankecepatan sekitar 10 ml/menit (200 Mu oksitosin per menit)
dibarengi dengan pemijatan uterus.
b. Turunan Ergot
Jika oksitosin yang disalurkan secara cepat melalui infus terbukti
tidak efektif, sebagian dokter memberikan metilergonovin
(Mathergine) 0,2 mg, secara intramuskulus atau intravena. Obat ini
dapat merangsang uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan.
Jika diberikan secara intravena, metilergonovin dapat menyebabkan
hipertensi yang berbahaya, teutama pada wanita preeklamsia.
c. Prostaglandin
Turunan 15 methyl dari prostaglandin F2 (Hemabate) juga dapat
digunakan untuk mengatasi atonia uterus. Dosis awal yang dianjurkan
adalah 250 g (0,25 mg) secara intramuskulus, dan hal ini diulangi jika

14
diperlukan dengan interval 15 hingga 90 menit hingga maksimum 8
dosis. Selain kontriksi vaskuler dan saluran napas paru, efek samping
lain adalah diare, hipertensi, muntah, demam, flushing dan takikardi.
d. Perdarahan yang tidak responsif terhadap oksitosik
Perdarahan yang berlanjut setelah beberapa kali pemberian obat
oksitosik mungkin berasal dari laserasi jalan lahir, termasuk dari pada
beberapa kasus ruptur uterus. Karena itu, jika perdarahan menetap,
jangan membuang-buang waktu dengnan melakukan upaya-upaya acak
untk menghentikan perdarahan, tetapi harus segera dimulai suatu
penatalaksanaan seperti yang tertera dalam table dibawah ini. Dengan
transfusi dan kompresi uterus dengan tangan serta oksitosin intravena,
jarang diperlukan tindakan tambahan. Bila atonia tidak teratasi,
mungkin diperlukan histerektomi sebagai tindakan untuk
menyelamatkan nyawa. Cara lain yang mungkin berhasil adalah ligasi
arteri uterina, ligasi arteri illiaka interna, atau embolisasi angiografik.
Penatalaksanaan perdarahan yang tidak responsif terhadap oksitosik
1) Lakukan penekanan uterus bimanual dengan cara melakukan pemijatan
aspek posterior uterus dengan tangan di abdominal dan pemijatan bagian
depan uterus melalui vagina dengan kepalan yang lain. Tindakan ini akan
mengatasi sebagian besar perdarahan.
2) Minta bantuan!
3) Mulai transfusi darah. Golongan darah semua pasien obstetris harus
diketahui, jika mungkin, sebelum persalinan, serta lakukan uji coombs
indirek untuk mendeteksi antibodi eritrosit. Jika yang terakhir iini negatif,
tidak diperlukan pencocokan-silang darah. Pada kedaruratan yang ekstrem,
pasien diberi packed red blood cells golongan O negatif D (donor
universal).
4) Lakukan eksplorasi uterus dengan tangan untuk mencari potongan plasenta
yang tertinggal atau laserasi.
5) Dengan cermat lakukan inspeksi atau serviks dan vagina setelah kedua
struktur ini dipajankan.
6) Pasang kateter intravena kaliber besar yang kedua sehingga pasien dapat

15
diberi
7) Kristaloid bolus oksitosin bersamaan dengan transfusi darah.
8) Dipasang kateter foley untuk memantau haluaran urine yang merupakan
indikator yang baik untuk menilai perfusi ginjal.

2. ASUHAN KEPERAWATAN ATONIA UTERI

Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari proses keperawatan. Pengkajian
yang benar dan terarah akan mempermudah dalam merencanakan tindakan
dan evaluasi dari tindakan yang dilaksanakan. Pengkajian dilakukan secara
sistematis, berisikan informasi subjektif dan objektif dari klien yang diperoleh
dari wawancara dan pemeriksaan fisik. Pengkajian terhadap klien postpartum
meliputi:
A. Anamnesa
a. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan,
alamat, medical record dan lain lain.
B. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal kronik,
hemofilia, riwayat pre eklampsia, trauma jalan lahir, kegagalan
kompresi pembuluh darah, tempat implantasi plasenta, retensi sisa
plasenta.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan saat ini yaitu: kehilangan darah dalam
jumlah banyak (>500ml), Nadi lemah, pucat, lokea berwarna
merah, haus, pusing, gelisah, letih, tekanan darah rendah,
ekstremitas dingin, dan mual.

16
c. Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat keluarga yang pernah atau sedang menderita
hipertensi, penyakit jantung, dan pre eklampsia, penyakit
keturunan hemopilia dan penyakit menular.
C. Riwayat Obstetric
a. Riwayat menstruasi meliputi: Menarche, lamanya siklus,
banyaknya, baunya , keluhan waktu haid, HPHT.
b. Riwayat perkawinan meliputi : Usia kawin, kawin yang keberapa,
Usia mulai hamil.
c. Riwayat hamil, persalinan dan nifas yang lalu :
- Riwayat hamil meliputi: Waktu hamil muda, hamil tua, apakah
ada abortus, retensi plasenta.
- Riwayat persalinan meliputi: Tua kehamilan, cara persalinan,
penolong, tempat bersalin, apakah ada kesulitan dalam
persalinan anak lahir atau mati, berat badan anak waktu lahir,
panjang waktu lahir.
- Riwayat nifas meliputi: Keadaan lochea, apakah ada
pendarahan, ASI cukup atau tidak dan kondisi ibu saat nifas,
tinggi fundus uteri dan kontraksi.
d. Riwayat Kehamilan sekarang
- Hamil muda dengan keluhan selama hamil muda
- Hamil tua dengan keluhan selama hamil tua, peningkatan berat
badan, tinggi badan, suhu, nadi, pernafasan, peningkatan
tekanan darah, keadaan gizi akibat mual, keluhan lain.
- Riwayat antenatal care meliputi : Dimana tempat pelayanan,
beberapa kali, perawatan serta pengobatannya yang didapat,
dan pola aktifitas sehari-hari seperti:
Makan dan minum, meliputi komposisi makanan, frekuensi,
baik sebelum dirawat maupun selama dirawat. Adapun
makan dan minum pada masa nifas harus bermutu dan
bergizi, cukup kalori, makanan yang mengandung protein,
banyak cairan, sayur-sayuran dan buah buahan.

17
Eliminasi, meliputi pola dan defekasi, jumlah warna,
konsistensi. Adanya perubahan pola miksi dan defeksi. BAB
harus ada 3-4 hari post partum sedangkan miksi hendaklah
secepatnya dilakukan sendiri (Rustam Mukthar, 1995).
Istirahat atau tidur meliputi gangguan pola tidur karena
perubahan peran dan melaporkan kelelahan yang berlebihan.
Personal Hygiene meliputi : Pola atau frekuensi mandi,
menggosok gigi, keramas, baik sebelum dan selama dirawat
serta perawatan mengganti balutan atau duk.

Pemeriksaan Fisik
A. Inspeksi
a. Mulut : bibir pucat
b. Payudara : hyperpigmentasi, hipervaskularisasi, simetris
c. Abdomen : terdapat pembesaran abdomen
d. Genetalia : terdapat perdarahan pervaginam
e. Ekstremitas : dingin
B. Palpasi
a. Abdomen : Uterus teraba lembek, TFU lebih kecil daripada UK, `
nyeri tekan, perut teraba tegang, messa pada adnexa.
b. Genetalia : Nyeri goyang porsio, kavum douglas menonjol.
C. Auskultasi
a. Abdomen : bising usus (+), DJJ (-)
D. Perkusi
a. Ekstremitas : reflek patella + / +
- Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
a. Rambut dan kulit
- Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea
nigra.
- Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
- Laju pertumbuhan rambut berkurang.

18
b. Mata : pucat, anemis
c. Hidung
d. Gigi dan mulut
e. Leher
f. Buah dada / payudara
- Peningkatan pigmentasi areola putting susu
- Bertambahnya ukuran dan noduler
g. Jantung dan paru
- Volume darah meningkat
- Peningkatan frekuensi nadi
- Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah
pulmonal.
- Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
- Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
- Diafragma meninggi.
- Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
h. Abdomen
- Menentukan letak janin
- Menentukan tinggi fundus uteri
i. Vagina
- Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan (tanda
Chandwick)
- Hipertropi epithelium
j. System musculoskeletal
- Persendian tulang pinggul yang mengendur
- Gaya berjalan yang canggung
- Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis
rectal.
- Pemeriksaan Khusus
Observasi setiap 8 jam untuk mendeteksi adanya tanda-tanda komplikasi
dengan mengevaluasi sistem dalam tubuh. Pengkajian ini meliputi :

19
a. Ketidaknyamanan atau nyeri tekan uterus (fragmen-fragmen plasenta
tertahan) dan ketidaknyamanan vagina/pelvis, sakit punggung
(hematoma).
b. Sistem vaskuler
- Perdarahan di observasi tiap 2 jam selama 8 jam 1, kemudian tiap 8 jam
berikutnya.
- Tensi diawasi tiap 8 jam.
- Apakah ada tanda-tanda trombosis, kaki sakit, bengkak dan merah.
- Haemorroid diobservasi tiap 8 jam terhadap besar dan kekenyalan.
- Riwayat anemia kronis, konjungtiva anemis/sub anemis, defek koagulasi
kongenital, idiopatik trombositopeni purpura.
c. Sistem Reproduksi
- Uterus diobservasi tiap 30 menit selama empat hari post partum,
kemudian tiap 8 jam selama 3 hari meliputi tinggi fundus uteri dan
posisinya serta konsistensinya.
- Lochea diobservasi setiap 8 jam selama 3 hari terhadap warna, banyak
dan bau.
- Perineum diobservasi tiap 8 jam untuk melihat tanda-tanda infeksi, luka
jahitan dan apakah ada jahitannya yang lepas.
- Vulva dilihat apakah ada edema atau tidak.
- Payudara dilihat kondisi areola, konsistensi dan kolostrum.
- Tinggi fundus atau badan terus gagal kembali pada ukuran dan fungsi
sebelum kehamilan (sub involusi).
d. Traktus urinarius
Diobservasi tiap 2 jam selama 2 hari pertama. Meliputi miksi lancar
atau tidak, spontan dan lain-lain.
e. Traktur gastro intestinal
Observasi terhadap nafsu makan dan obstipasi.
f. Integritas Ego : Mungkin cemas, ketakutan dan khawatir.

Pemeriksaan Penunjang
A. Golongan darah : menentukan Rh, ABO dan percocokan silang.

20
B. Jumlah darah lengkap : menunjukkan penurunan Hb/Ht dan peningkatan
jumlah sel darah putuih (SDP). (Hb saat tidak hamil:12-16gr/dl, saat
hamil: 10-14gr/dl. Ht saat tidak hamil:37%-47%, saat hamil:32%-42%.
Total SDP saat tidak hamil 4.500-10.000/mm3. saat hamil 5.000-15.000).
C. Kultur uterus dan vagina : mengesampingkan infeksi pasca partum.
D. Urinalisis : memastikan kerusakan kandung kemih.
E. Profil koagulasi : peningkatan degradasi, kadar produk fibrin/produk split
fibrin (FDP/FSP), penurunan kadar fibrinogen : masa tromboplastin partial
diaktivasi, masa tromboplastin partial (APT / PTT), masa protrombin
memanjang pada KID. Sonografi : menentukan adanya jaringan plasenta
yang tertahan.

Analisis Masalah
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah :
A. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang
berlebihan.
B. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovelemia.
C. Ansietas berhungan dengan krisis situasi, ancaman perubahan pada status
kesehatan atau kematian, respon fisiologis.
D. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, Stasis
cairan tubuh, penurunan Hb.
E. Resiko tinggi terhadap nyeri berhubungan dengan trauma/ distensi
jaringan.
F. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan atau tidak
mengenal sumber informasi.

Diagnosa dan Rencana Tindakan Keperawatan


A. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler yang
berlebihan
Intervensi :
a. Tinjau ulang catatan kehamilan dan persalinan/kelahiran, perhatikan
faktor-faktor penyebab atau pemberat pada situasi hemoragi (misalnya

21
laserasi, fragmen plasenta tertahan, sepsis, abrupsio plasenta, emboli
cairan amnion atau retensi janin mati selama lebih dari 5 minggu)
Rasional : Membantu dalam membuat rencana perawatan yang
tepat dan memberikan kesempatan untuk mencegah dan membatasi
terjadinya komplikasi.
b. Kaji dan catat jumlah, tipe dan sisi perdarahan; timbang dan hitung
pembalut, simpan bekuan dan jaringan untuk dievaluasi oleh perawat.
Rasional : Perkiraan kehilangan darah, arteial versus vena, dan
adanya bekuan-bekuan membantu membuat diagnosa banding dan
menentukan kebutuhan penggantian.
c. Kaji lokasi uterus dan derajat kontraksilitas uterus. Dengan perlahan
masase penonjolan uterus dengan satu tangan sambil menempatkan
tangan kedua diatas simpisis pubis.
Rasional : Derajat kontraktilitas uterus membantu dalam diagnosa
banding. Peningkatan kontraktilitas miometrium dapat menurunkan
kehilangan darah. Penempatan satu tangan diatas simphisis pubis
mencegah kemungkinan inversi uterus selama masase.
d. Perhatikan hipotensi atau takikardi, perlambatan pengisian kapiler atau
sianosis dasar kuku, membran mukosa dan bibir.
Rasional : Tanda-tanda ini menunjukan hipovolemi dan
terjadinya syok. Perubahan pada tekanan darah tidak dapat dideteksi
sampai volume cairan telah menurun sampai 30 - 50%. Sianosis adalah
tanda akhir dari hipoksia.
e. Pantau parameter hemodinamik seperti tekanan vena sentral atau
tekanan baji arteri pulmonal bila ada.
Rasional : Memberikan pengukuran lebih langsung dari volume
sirkulasi dan kebutuhan penggantian.
f. Lakukan tirah baring dengan kaki ditinggikan 20-30 derajat dan tubuh
horizontal.
Rasional : Perdarahan dapat menurunkan atau menghentikan
reduksi aktivitas. Pengubahan posisi yang tepat meningkatkan aliran

22
balik vena, menjamin persediaan darah keotak dan organ vital lainnya
lebih besar.
g. Pertahankan aturan puasa saat menentuka status/kebutuhan klien.
Rasional : Mencegah aspirasi isi lambung dalam kejadian dimana
sensorium berubah dan/atau intervensi pembedahan diperlukan.
h. Pantau masukan dan keluaran, perhatikan berat jenis urin.
Rasional : Bermanfaat dalam memperkirakan luas/signifikansi
kehilangan cairan. Volume perfusi/sirkulasi adekuat ditunjukan dengan
keluaran 30 50 ml/jam atau lebih besar.
i. Hindari pengulangan/gunakan kewaspadaan bila melakukan
pemeriksaan vagina dan/atau rektal
Rasional : Dapat meningkatkan hemoragi bila laserasi servikal,
vaginal atau perineal atau hematoma terjadi.
j. Berikan lingkungan yang tenang dan dukungan psikologis
Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan ancietas dan
kebutuhan metabolik.
k. Kaji nyeri perineal menetap atau perasaan penuh pada vagina. Berikan
tekanan balik pada laserasi labial atau perineal.
Rasional : Haematoma sering merupakan akibat dari perdarahan
lanjut pada laserasi jalan lahir.
l. Pantau klien dengan plasenta acreta (penetrasi sedikit dari myometrium
dengan jaringan plasenta), HKK atau abrupsio placenta terhadap tanda-
tanda KID.
Rasional : Tromboplastin dilepaskan selama upaya pengangkatan
placenta secara manual yang dapat mengakibatkan koagulopati.
m. Mulai Infus I atau 2 i.v dari cairan isotonik atau elektrolit dengan
kateter 18 G atau melalui jalur vena sentral. Berikan darah lengkap atau
produk darah (plasma, kriopresipitat, trombosit) sesuai indikasi.
Rasional : Perlu untuk infus cepat atau multipel dari cairan atau
produk darah untuk meningkatkan volume sirkulasi dan mencegah
pembekuan.
n. Berikan obat-obatan sesuai indikasi :

23
- Oksitoksin, Metilergononovin maleat, Prostaglandin F2 alfa.
Rasional : Meningkatkan kontraktilitas dari uterus yang menonjol
dan miometrium, menutup sinus vena yang terpajan, dan menghentikan
hemoragi pada adanya atonia.
- Magnesium sulfat
Rasional : Beberapa penelitian melaporkan penggunaan MGSO4
memudahkan relaksasi uterus selama pemeriksaan manual.
- Terapi Antibiotik.
Rasional : Antibiotok bertindak secara profilaktik untuk mencegah
infeksi atau mungkin perlu diperlukan untuk infeksi yang disebabkan
atau diperberat pada subinvolusi uterus atau hemoragi.
o. Pantau pemeriksaan laboratotium sesuai indikasi : Hb dan Ht.
Rasional : Membantu dalam menentukan kehilangan darah. Setiap
ml darah membawa 0,5 mg Hb.

B. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovalemia


Intervensi :
a. Perhatikan Hb/Ht sebelum dan sesudah kehilangan darah. Kaji status
nutrisi, tinggi dan berat badan.
Rasional : Nilai bandingan membantu menentukan beratnya
kehilangan darah. Status yang ada sebelumnya dari kesehatan yang
buruk meningkatkan luasnya cedera dari kekurangan oksigen.
b. Pantau tanda vital; catat derajat dan durasi episode hipovolemik.
Rasional : Luasnya keterlibatan hipofisis dapat dihubungkan
dengan derajat dan durasi hipotensi. Peningkatan frekuensi pernapasan
dapat menunjukan upaya untuk mengatasi asidosis metabolik.
c. Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan perilaku.
Rasional : Perubahan sensorium adalah indikator dini dari
hipoksia, sianosis, tanda lanjut dan mungkin tidak tampak sampai kadar
PO2 turun dibawah 50 mmHg.
d. Kaji warna dasar kuku, mukosa mulut, gusi dan lidah, perhatikan suhu
kulit.

24
Rasional : Pada kompensasi vasokontriksi dan pirau organ vital,
sirkulasii pada pembuluh darah perifer diperlukan yang mengakibatkan
sianosis dan suhu kulit dingin.
e. Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan
Rasional : Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk transpor
sirkulasi kejaringan.
f. Pasang jalan napas; penghisap sesuai indikasi
Rasional : Memudahkan pemberian oksigen.

C. Ancietas berhubungan dengan ancaman perubahan pada status kesehatan


atau kematian.
Intervensi :
a. Evaluasi respon psikologis serta persepsi klien terhadap kejadian
hemoragi pasca partum.
Rasional : Membantu dalam menentukan rencana perawatan.
Persepsi klien tentang kejadian mungkin menyimpang, memperberat
ancietasnya.
b. Evaluasi respon fisiologis pada hemoragik pasca partum; misalnya
tachikardi, tachipnea, gelisah atau iritabilitas.
Rasional : Meskipun perubahan pada tanda vital mungkin karena
respon fisiologis, ini dapat diperberat atau dikomplikasi oleh faktor-
faktor psikologis.
c. Sampaikan sikap tenang, empati dan mendukung.
Rasional : Dapat membantu klien mempertahankan kontrol
emosional dalam berespon terhadap perubahan status fisiologis.
Membantu dalam menurunkan tranmisi ansietas antar pribadi.
d. Bantu klien dalam mengidentifikasi perasaan ancietas, berikan
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.
Rasional : Pengungkapan memberikan kesempatan untuk
memperjelas informasi, memperbaiki kesalahan konsep, dan
meningkatkan perspektif, memudahkan proses pemecahan masalah.

25
D. Nyeri berhubungan dengan trauma atau distensi jaringan.
Intervensi :
a. Tentukan karakteristik, tipe, lokasi, dan durasi nyeri. Kaji klien
terhadap nyeri perineal yang menetap, perasaan penuh pada vagina,
kontraksi uterus atau nyeri tekan abdomen.
Rasional : Membantu dalam diagnosa banding dan pemilihan
metode tindakan. Ketidaknyamanan berkenaan dengan hematoma,
karena tekanan dari hemaoragik tersembunyi kevagina atau jaringan
perineal. Nyeri tekan abdominal mungkin sebagai akibat dari atonia
uterus atau tertahannya bagian-bagian placenta. Nyeri berat, baik pada
uterus dan abdomen, dapat terjadi dengan inversio uterus.
b. Kaji kemungkinan penyebab psikologis dari ketidaknyamanan.
Rasional : Situasi darurat dapat mencetuskan rasa takut dan
ansietas, yang memperberat persepsi ketidaknyamanan.
c. Berikan tindakan kenyamanan seperti pemberian kompres es pada
perineum atau lampu pemanas pada penyembungan episiotomi.
Rasional : Kompres dingan meminimalkan edema, dan
menurunkan hematoma serta sensasi nyeri, panas meningkatkan
vasodilatasi yang memudahkan resorbsi hematoma.
d. Berikan analgesik, narkotik, atau sedativa sesuai indikasi
Rasional : Menurunkan nyeri dan ancietas, meningkatkan
relaksasi.

E. Resiko tinggi terjadi Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.


Intervensi :
a. Demonstrasikan mencuci tangan yang tepat dan teknik perawatan diri.
Tinjau ulang cara yang tepat untuk menangani dan membuang material
yang terkontaminasi misalnya pembalut, tissue, dan balutan.
Rasional : Mencegah kontaminasi silang / penyebaran
organinisme infeksious.
b. Perhatikan perubahan pada tanda vital atau jumlah SDP

26
Rasional : Peningkatan suhu dari 100,4 F (38C) pada dua hari
beturut-turut (tidak menghitung 24 jam pertama pasca partum),
tachikardia, atau leukositosis dengan perpindahan kekiri menandakan
infeksi.
c. Perhatikan gejala malaise, mengigil, anoreksia, nyeri tekan uterus atau
nyeri pelvis.
Rasional : Gejala-gejala ini menandakan keterlibatan sistemik,
kemungkinan menimbulkan bakterimia, shock, dan kematian bila tidak
teratasi.
d. Selidiki sumber potensial lain dari infeksi, seperti pernapasan
(perubahan pada bunyi napas, batuk produktif, sputum purulent),
mastitis (bengkak, eritema, nyeri), atau infeksi saluran kemih (urine
keruh, bau busuk, dorongan, frekuensi, nyeri).
Rasional : Diagnosa banding adalah penting untuk pengobatan
yang efektif.
e. Kaji keadaan Hb atau Ht. Berikan suplemen zat besi sesuai indikasi.
Rasional : Anemia sering menyertai infeksi, memperlambat
pemulihan dan merusak sistem imun.

F. Kurang Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.


Intervensi :
a. Jelaskan faktor predisposisi atau penyebab dan tindakan khusus
terhadap penyebab hemoragi.
Rasional : Memberikan informasi untuk membantu klien/pasangan
memahami dan mengatasi situasi.
b. Kaji tingkat pengetahuan klien, kesiapan dan kemampuan klien untuk
belajar. Dengarkan, bicarakan dengan tenang, dan berikan waktu untuk
bertanya dan meninjau materi.
Rasional : Memberikan informasi yang perlu untuk
mengembangkan rencana perawatan individu. Menurunkan stress dan
ancietas, yang menghambat pembelajaran, dan memberikan klarifikasi
dan pengulangan untuk meningkatkan pemahaman.

27
c. Diskusikan implikasi jangka pendek dari hemoragi pasca partum,
seperti perlambatan atau intrupsi pada proses kedekatan ibu-bayi (klien
tidak mampu melakukan perawatan terhadap diri dan bayinya segera
sesuai keinginannya).
Rasional : Menurunkan ansietas dan memberikan kerangka waktu
yang realistis untuk melakukan ikatan serta aktivitas-aktivitas
perawatan bayi.
d. Diskusikan implikasi jangka panjang hemoragi pasca partum dengan
tepat, misalnya resiko hemoragi pasca partum pada kehamilan
selanjutnya, atonia uterus, atau ketidakmampuan untuk melahirkan anak
pada masa datang bila histerektomie dilakukan.
Rasional : Memungkinan klien untuk membuat keputusan
berdasarkan informasi dan mulai mengatasi perasaan tentang kejadian-
kejadian masa lalu dan sekarang.

Implementasi
Setelah rencana tindakan perawatan tersusun, selanjutnya rencana tindakan
tersebut dilaksanakan sesuai dengan situasi yang nyata untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Dalam pelaksanaan tindakan, perawat dapat langsung
melaksanakan kepada orang lain yang dipercaya di bawah pengawasan orang
yang masih seprofesi dengan perawat. (Nursalam, 2001 : 63)

Evaluasi
Evaluasi dari proses keperawatan adalah nilai hasil yang diharapkan
dimasukkan kedalam SOAP terhadap perubahan perilaku pasien. Untuk
mengetahui sejauh mana masalah pasien dapat diatasi, disamping itu perawat
juga melakukan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yang telah
ditetapkan telah tercapai (Nursalam, 2001 : 71).

28
DAFTAR PUSTAKA

Baskett TF, Sternadel J. 1998. Maternal Intensive Care and Near-Miss


Mortality in Obstetrics. British Journal of Obstet and Gynaecol.

JPNK-KR/POGI.2000. Asuhan Persalinan Normal: Asuhan Essensial


Persalinan. Jakarta: JNPK-KR.

Leveno, Kenneth J dkk. 2009. Obstetri Williams: Panduan Ringkas Edisi


21. Jakarta: EGC.

Marquette General Health. 2008. Hyperbarics. Emergency Department at


Marquette General Health System.

Pitchard, D. 1965. Observation of Circulation In Coastal Plain Estuaries.


Washington D. C.: American Association for Advance of Science Pubish.

29