Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji serta syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan
laporan praktikum eksplorasi mengenai Survei Tinjau Dan Jenis Tipe Serta
Bentuk Endapan Bahan Galian II . Tidak lupa pula saya ucapkan shalawat dan
salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing kita dari
jalan yang sesat menuju jalan yang lurus yang di ridhoi Allah SWT.
Terimakasih pula saya ucapkan pada kedua orng tua, saudara, rekan
rekan dan pihak pihak yang telah membantu dalam hal dukungan moril, maupun
materil ketika penyususan laporan ini.
Saya sangat mengharapkan agar laporan ini dapat di terima oleh Instrukur.
Saya menyadari bahwa laporan ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saya mengharapkan kritik dan saran untuk dapat lebih menyempurnakan laporan
ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Aamiin
Wassalamuallaikum Wr. Wb.

Bandung, Maret 2017

Surya Saputra

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Maksud dan Tujuan ...................................................................... 1
1.2.1 Maksud .............................................................................. 1
1.2.2 Tujuan ............................................................................... 1
BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................... 2
2.1 Pengertian Survei Tinjau ............................................................... 2
2.2 Bentuk Lahan ................................................................................ 3
2.3 Klasifikasi Bentuk Lahan ............................................................... 4
2.4 Citra Inderaja .............................................................................. 11
BAB III KESIMPULAN .............................................................................13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pertambangan merupakan suatu kegiatan yang meliputi berbagai macam
proses, secara garis besar kegiatan pertambangan dilakukan dengan tahapan
ekplorasi, kegiatan penambangan hingga penjualan bahan galian yang di dapat.
Eksplorasi merupakan kegiatan penyelidikan geologi yang bertujuan untuk
mencari, mengidentifikasi, menentukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran,
hingga kualitas dan kuantitas suatu endapan bahan galian.
Kegiatan eskplorasi terbagi oleh beberapa tahapan, salah satunya adalah
survei tinjau. Survei tinjau adalah tahap awal eksplorasi setelah studi literatur,
yang bertujuan untuk mendapatkan informasi awal mengenai bahan galian.
Kegitan survei tinjau memerlukan beberapa pengetuan guna mendukung
kebersilah kegiatan survei, diantaranya pengetahuan mengenai daerah yang
akan diteliti yang meliputi kondisi geologi regional, bentuk lahan, keadaan
morfologi dll.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Maksud dari pembuatan laporan awal ini adalah agar praktikan dapat
mengetahui dan memahami segala hal yang berkaitan dengan teknik eksplorasi
khususnya survey tinjau
1.2.2 Tujuan
1. Mengetahui apa yang di maksud kegiatan survei tinjau.
2. Mengetahui klasifikasi bentukan lahan.
3. Mengetahui interpretasi bentuk lahan dari citra inderaja

1
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Survei Tinjau


Survei tinjau adalah tahapan awal dalam kegiatan eksplorasi yang
meliputi pemetaan geologi regional, pemotretan udara, citra satelit dan metoda
survei tidak langsung lainnya untuk dapat mengetahui daerah yang berpotensi
terdapat bahan galian untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Pada kegiatan
survei tinjau dilakukan pemetaan geologi dan topografi dengan skala 1 : 25.000
sampai skala 1 : 10.000. Penyelidikan geologi yang berkatan dengan aspek
geologi meliputi pengamatan (jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur
pada singkapan) dan pengambilan conto. Peta regional sangat memudahkan
dalam kegiatan survei tinjau karena dapat menunjukan tanda-tanda endapan
yang dicari yang selanjutnya dapat diambil conto dari singkapan maupun intrusi
yang ada.
Menurut undang undang nomor 4 tahun 2009, kegiatan eksplorasi terbagi
ke dalam 3 tahapan, diantaranya
1. Penyelidikan umum
2. Kegiatan eksplorasi
3. Studi kelayakan.
Kegiatan survei tinjau merupakan kegiatan yang termasuk kedalam
tahapan penyelidikan umum bila di kategorikan dengan uu no.4 tahun 2009.

penyelidikan kegiatan studi


umum eksplorasi kelayakan

Sumber : :academia.edu/surya
Diagram alir
Menurut UU no4 tahun 2009

2
3

2.2 Bentuk Lahan


Bentuk lahan adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk
topografiskhas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis
pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu. Dari pengertian
ini, faktor-faktor penentu bentuk lahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
B = f (T, P, S, M, K)
Notasi dalam rumus tersebut adalah :
B = bentuk lahan,
T = topografi
P = proses alam
S = struktur geologis
M = material batuan
K = ruang dan waktu kronologis.
Oleh karena itu untuk menganalisis bentuk lahan lebih sesuai dengan
berdasarkan unit bentuk lahan,

Www.Academia.Edu
Gambar 2.1
Bentuk Lahan
Bentuk lahan dikaji secara kuantitatif maupun kualitatif (morfometri)
dimana tujuannya mendiskripsikan relief bumi. Bentuk lahan konstruksional
misalnya gunung api, patahan, lipatan, dataran, plato, dome dan pegunungan
kompleks. Sedangkan bentuk lahan distruksional meliputi bentuk lahan erosional,
residual dan deposisional. Cabang yang mengkaji tentang bentuk lahan disebut
Geomorfologi Statis.
4

2.3 Klasifikasi Bentuk Lahan


Bentuk lahan berdasarkan genesisnya terbagi menjadi sepuluh kelas
utama ( Verstappen, 1983), yaitu:
1. Bentuk Lahan Asal Struktural
Bentuk lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau
proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Gaya
(tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya hampir semua
bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural.
Bentukan ini dihasilkan dari struktur geologi. Terdapat dua tipe utama
struktur geologi yang memberikan kontrol terhadap geomorfologi yaitu, struktur
aktif yang menghasilkan bentukan baru, dan struktur tidak aktif yang merupakan
bentuk lahan yang dihasilkan oleh perbedaan erosi masa lalu. Satuan
geomorfologi dari bentukan ini ada 13 macam, yaitu blok pegunungan patahan,
blok perbukitan patahan, pegunungan antiklinal, perbukitan antiklinal,
pegunungan sinklinal, perbukitan sinklinal, pegunungan monoklinal, perbukitan
monoklinal, pegunungan kubah, perbukitan kubah, dataran tinggi, lembah
sinklinal, dan sembul.

Www.Academia.Edu
Foto 2.1
Bentuk Lahan Struktural

2. Bentuk Lahan Asal Vulkanik


Volkanisme adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan
magma yang bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini terjadi
berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan gunungapi atau
vulkanik.
5

Satuan geomorfologi dari bentukan ini ada 10 macam, yaitu kerucut


vulkanik, lereng vulkanik, kaki vulkanik, dataran vulkanik, padang lava, padang
lahar, dataran antar vulkanik, bukit vulkanik terdenudasi, boka, dan kerucut
parasiter.

Www.Academia.Edu
Foto 2.2
Bentuk Lahan Vulkanik

3. Bentuk lahan asal denudasi,


Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses
pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri prosespengendapan.
Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga
batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil
yang berupa fragmen, kemudian oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke
daerah yang lebih landai menuju lereng yang kemudian terendapkan.

Www.Academia.Edu
Foto 2.3
Bentuk Lahan Denudasional
6

Pada bentuk lahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah


erosi. Derajat erosi ditentukan oleh, jenis batuannya, vegetasi, dan relief.
Bentukan ini terbentuk oleh proses gradasi yang di dalamnya terdapat dua
proses yaitu, proses agradasi, dan proses degradasi.
Proses agradasi adalah berbagai proses sedimentasi dan pembentukan
lahan baru sebagai material endapan dari proses degradasi. Sedangkan proses
degradasi adalah proses hilangnya lapisan-lapisan dari permukaan bumi. Psoses
degradasi adalah proses yang paling dominan yang terjadi. Satuan geomorfologi
dari bentukan ini ada 8 macam, yaitu pegunungan terkikis, perbukitan terkikis,
bukit sisa, bukit terisolasi, dataran nyaris, lereng kaki, pegunungan/ perbukitan
dengan gerakan masa batuan, dan lahan rusak.
Faktor Faktor Pembentuknya
Pengendapan (sedimentation)
Proses-proses pelapukan (weathering)
Erosi /pengikisan dan gerak masa batuan (erosion and mass movement)

4. Bentuk Lahan Asal Fluvial


Bentuk lahan asal proses fluvial terbentuk akibat aktivitas aliran sungai
yang berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi)
membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan dataran
aluvial (Fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh material
sedimen berbutir halus.

Www.Academia.Edu
Foto 2.4
Bentuk Lahan Aluvial
7

5. Bentuk Lahan Asal Marine


Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut,
dan pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas
marine berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh
marine dapat mencapai puluhan kilometer ke arah darat, tetapi terkadang hanya
beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi,
dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya.
Proses lain yang sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya,

Www.Academia.Edu
Foto 2.5
Bentuk Lahan Marine
6. Bentuk lahan asal glasial
Bentukan ini tidak berkembang di Indonesia yang beriklim tropis ini,
kecuali sedikit di puncak Gunung Jaya Wijaya, Papua. Bentuk lahan asal glasial
dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu bentang alam.

Www.Academia.Edu
Foto 2.6
Bentuk Lahan Glasial
8

7. Bentuk lahan asal aeolin,


Endapan oleh angin terbentuk oleh adanya pengikisan,pengangkutan dan
pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. Endapan karena angin
yang paling utama adalah gumuk pasir(sandunes),dan endapan debu(loose).
Kegiatan angin mempunyai dua aspek utama,yaitu bersifat erosif dan deposisi.
Bentuk lahan yang berkembang terdahulu mungkin akan berkembang dengan
baik apabila di padang pasir terdapat batuan. Pada hakekatnya bentuk lahan
asal proses eolin dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
Erosional, contohnya : lubang angin dan lubang ombak
Deposisional, contohnya : gumuk pasir (sandunes)
Residual , contohnya : lag deposit, deflation hollow , dan pans
Bentuk lahan asal proses eolin dapat terbentuk dengan baik jika memiliki
persyaratan sebagai berikut :
Tersedia material berukuran pasir halus hingga pasir kasar dengan
jumlah yang banyak,
Adanya periode kering yang panjang dan tegas
Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir
tersebut
Gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi maupun objek yang
lain.

Www.Academia.Edu
Foto 2.7
Bentuk Lahan aeolin
9

8. Bentuk Lahan Asal Solusional (Karst)


Bentuk lahan asal solusional atau pelarutan dikenal juga dengan istilah
karst. Bentuk lahan karst termasuk bentuk lahan banyak pula ditemukan di
Indonesia. Bentuk ini sangat erat berhubungan dengan batuan endapan yang
mudah melarut. Oleh karena itu dengan mengetahui bentuk bentang alamnya,
pada umumnya orang dapat mengetahui jenis batuannya, terutama juga karena
bentuk bentang alam karst yang sangat karakteristik dan mempunyai tanda-
tanda yang mudah dikenal baik di lapangan, pada peta topografi maupun pada
potret udara dan citra satelit.
Bentang alam ini terutama memperlihatkan lubang-lubang, membulat
atau memanjang, gua-gua dan bukit- bukit yang berbentuk kerucut. Di dunia,
daerah yang ditutupi bentang alam karsttersebar di Perancis Selatan, Spanyol
Utara, Belgia, Yunani, Jamaika, beberapa negara Amerika Selatan, dan
beberapa negara bagian di Amerika Serikat(Tenesse, Indiana, Kentucky).
Sebenarnya kata karst berasal dari nama suatu pegunungan di Yugoslavia yang
berbentang alam spesifik ini.

Www.Academia.Edu
Foto 2.8
Bentuk Lahan Solusional (karst)

Beberapa syarat untuk dapat berkembangnya topografi karst sebagai


akibat dari proses pelarutan adalah sebagai berikut :
Terdapat batuan yang mudah larut (batu gamping dan dolomit)
Batu gamping dengan kemurnian tinggi,
Mempunyai lapisan batuan yang tebal,
Terdapat banyak diaklas (retakan),
Pada daerah tropis basah,
Vegetasi penutup yang lebat
10

Bentangalam ini terutama terjadi pada wilayah yang tersusun oleh batu
gamping yang mudah larut, dan batuan dolomit atau gamping dolomitan Ciri-ciri
umum daerah karst antara lain :
Daerahnya berupa cekungan-cekungan
Terdapat bukit-bukit kecil
Sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
Adanya endapan sedimen lempung berwarma kemerahan hasil dari
pelapukan batu gamping.
Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.
Di Indonesia bentang alam karst dapat ditemukan di beberapa daerah di
pulau Jawa, yaituJampang di Selatan Jawa Barat, pegunungan Sewu di Kulon
Progo Jawa Tengah, daerah perbukitan Rembang di Jawa Timur, dan beberapa
daerah di SulawesiTengah. Di Irian Barat bentangalam karst ditemukan di Kepala
Burung pada formasi Klasafet, sedangkan di Sumatera ditemukan, terutama di
Sumatera Selatan dan Aceh.
9. Bentuk Lahan Asal Organik,
Yakni suatu bentukan yang terjadi di dalam lingkungan laut oleh aktivitas
organisme endapan batugamping cangkang dengan struktur tegar yang tahan
terhadap pengaruh gelombang laut pada ekosistem bahari

Www.Academia.Edu
Gambar 2.2
Bentuk Lahan Organik
11

10. Bentuk Lahan Asal Antropogenik


Antropogenik merupakan proses atau akibat yang berkaitan dengan
dengan aktivitas manusia. Sehingga bentuk lahan antropogenik dapat disebut
sebagai bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Aktivitas tersebut
dapat berupa aktivitas yang telah disengaja dan direncanakan untuk membuat
bentuk lahan yang baru dari bentuk lahan yang telah ada maupun aktivitas oleh
manusia yang secara tidak sengaja telah merubah bentuk lahan yang telah ada.
Bentuk lahan antropogenik dapat dibentuk dari bentuk-bentuk lahan yang telah
ada. Misalnya bentuk lahan marin yang dapat berubah menjadi pelabuhan dan
pantai reklamasi seperti yang terdapat pada pantai Marina Semarang

2.4 Citra Inderaja


Penginderaan jauh atau inderaja dalam geografi adalah ilmu serta
teknologi untuk mendapatkan informasi tentang suatu objek, daerah, atau gejala
di permukaan bumi. istilah penginderaan jauh (remote sensing) pertama kali
diperkenalkan oleh parker di Amerika Serikat pada akhir tahun 1950-an.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa penginderaan
jauh geografi adalah ilmu dan seni untuk mendapat informasi permukaan bumi
dengan menganalisis gambaran permukaan bumi tanpa kontak langsung dengan
objek permukaan bumi tersebut. Pemakaian Penginderaan jauh antara lain untuk
mendapatkan informasi yang tepat untuk berbagai keperluan, seperti mendeteksi
sumber daya alam, daerah banjir, kebakaran hutan, dan sebaran ikan di laut.

Www.Academia.Edu
Foto 2.9
Citra satelit
12

Kaitanya dalam ilmu pertambangan adalah guna mengindentifikasi bentuk


lahan, dengan mengetahui bentukan lahan maka dapat menganalisis dan
memperkirakan bahan galian apa yang terdapat pada daerah tersebut. Sehingga
mempermudah kegiatan pertambangan khususnya kegitan eksplorasi.
Lintz dan Simonett menjelaskan bahwa setidaknya ada 3 tahapan
proses interpretasi citra inderaja yaitu deteksi, indentifikasi dan analisa
kesimpulan. Sebelum menganalisa foto udara maka seorang interpreter harus
menguasai dulu unsur-unsur spasial foto udara.
1. Deteksi
Tahapan ini merupakan tahap pengenalan objek-objek yang nampak
pada foto udara menggunakan alat stereoskop. Tahapan pertama ini merupakan
langkah paling dasar dan paling mudah diantara tahapan selanjutnya. Seorang
interpreter pasti akan melihat berbagai macam objek dalam foto udara seperti
bentuk memanjang, lurus, permukaan halus, kasar dan berbagai macam lainnya.
Jadi pada saat ia melihat foto, ia sudah bisa mengenali objek tersebut namun
belum bisa diklasifikasikan dan disimpulkan.
2. Identifikasi
Tahap ini merupakan tahap pengelompokkan objek-objek yang memiliki
ciri-ciri yang sama. Tahapan ini sudah mulai memerlukan kejelian dan lebih rumit
dibanding deteksi. Contohnya saat seseorang melihat pola garis di foto maka
berbagai kemungkinan muncul seperti jalan raya, rel, sungai, saluran irigasi atau
lainnya. Maka pengelompokkan objek dilakukan pada tahap ini.
3. Analisis
Tahap ini merupakan fase akhir dari interpretasi citra inderaja yaitu
penarikan kesimpulan atas pengelompokkan objek-objek yang sudah
diidentifikasi. Tahapan ini sering disebut jug sebagai konvergensi bukti.
Contohnya saat anda melihat kenampakan garis lurus maka setelah dilakukan
kecocokan asosiasi, situs dan lainnya maka akan dihasilkan kesimpulan objek
tersebut adalah sungai. Faktor kuncinya adalah pola garis itu berada di
pegunungan dengan fitur kasar di sisi kanan kiri nya.
13

BAB III
KESIMPULAN

Kegiatan survey tinjau merupakan salah satu tahapan kegiatan


eksplorasi, dalam undang-undang no.4 tahun 2009 ada 3 tahapan eksplorasi
yaitu penyelidikan umum, kegitan eksplorasi awal dan studi kelayakan, urvey
tinjau masuk kedalam kategori penyelidikan umum. Dalam kegiatan survei tinjau
meliputi pemetaan geologi regional dan pemetaan topografi local dengan skala
1:25.000 - 1:10.000 hingga citra inderaja/ landsat.
Dalam melakukan survey tinjau perlu dilakukan indentifikasi awal
mengenai bentu lahan, karena hal tersebut akan berpengaruh pada bahan galian
yang akan di cari. Bentuk lahan dapat diindentifikasikan pada peta citra lansat (
citra inderaja). Menurut verstrappen bentuk lahan secara genesanya terbagi atas
sepuluh kelas utama, yaitu:
1. Bentuk lahan asal struktural
2. Bentuk lahan asal vulkanik
3. Bentuk lahan asal denudasi
4. Bentuk lahan asal fluvial
5. Bentuk lahan asal marine
6. Bentuk lahan asal glasial
7. Bentuk lahan asal aeolin
8. Bentuk lahan asal solusional (Karst)
9. Bentuk lahan asal organik
10. Bentuk lahan asal antropogenik
Citra inderaja, diperlukan guna menganaslisis bentuk lahan awal
sebelum dilakukannya survey tinjau, ada 3 hal yang perlu di lakukan
deteksi, indentifikasi, dan analisis

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Ayu, dewi 2013 Klasifikasi Bentuk Lahan academia.edu diakses pada


3 maret 2017

2. Anonymous, 2011. Tahapan Eksplorasi. Scribd.com. diakses pada 3


maret 2017

3. Baldin, 2013 Geomorfologi www.slideshare.com diakses pada 3 maret


2017

4. Dona. 2014. Makalah Geomorfologi Bentuk Lahan . www.


Academia.edu. diakses pada 3 maret 2017

5. fasya. 2012. klasifiskasi bentuk lahan. Slideshare.com diakses pada 3


maret 2017
LAMPIRAN