Anda di halaman 1dari 25

MATAKULIAH STEREOKIMIA

ENANSIOMER DAN DIASTEREOMER

Disusun Oleh:

Abdul Hadi 1406601183

Gita Rahmaningsih 1406557056

Larasati Denaputri 1406603176

Senia Budiana 1406601063

Syafira Andini 1406557176

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

2017
I. Enansiomer
I.1 Definisi Enansiomer
Secara garis besar enansiomer merupakan salah satu bagian dari
stereoisomer, dimana stereoisomer sendiri adalah salah satu bentuk dari
isomer. Isomer merupakan kondisi dimana senyawa yang berbeda namun
memiliki rumus molekul yang sama, Isomer terbagi ke dalam dia bagian :
isomer konstitusional dan stereoisomer. Senyawa yang sama ketika
mempunyai bentuk konfigurasi atom 3-Dimensi yang berbeda akan
disebut stereoisomer. Enansiomer adalah salah satu dari stereoisomer yang
merupakan cerminan dari senyawa lainnya atau juga dapat disebut not
superimposable bentuk enansiomer dari suatu senyawa biasanya terjadi
pada molekul kiral, dimana kiralitas disebabkan oleh adanya karbon
asimetris, yaitu atom karbon yang memiliki 4 substituen yang berbeda.
Ilustrasi enansiomer dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Ilustrasi Enansiomer dari senyawa CHBrCIF

Sumber : Smith, Janice Goryzonski. 2011. Organic Chemistry


Third Edition. New York : McGraw-Hills Publisher

I.2 Tahapan membuat senyawa dengan Enansiomer


Untuk menentukan suatu senyawa memiliki sifat enansiomer
adalah melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
a) Pastikan senyawa tersebut merupakan molekul kiral dan
memiliki stereogenic center
b) Apabila senyawa tersebut memiliki lebih dari satu
stereogenic center maka dapat dihitung jumlah isomernya
dengan perhitungan 2n,dengan n sebagai jumlah stereogenic
center
c) Setelah ditentukan stereogenic center maka selanjutnya
menggambar bayangan cermin dari senyawa tersebut
d) Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan
mengidentifikasi senyawa tersebut memiliki konfigurasi R
(Rectus) yang berarti searah arah jarum jam, atau konfigurasi
S (Sinister) yang berarti berlawanan arah jarum jam
e) Apabila dilakukan perbandingan antara 2 senyawa, dapat
diidentifikasi melalui konfigurasi R/Snya, apabila senyawa
tersebut tidak identic dan memiliki konfigurasi yang berbeda
(merupakan cerminan) maka senyawa tersebut merupakan
enansiomer
f) Apabila senyawa yang diidentifikasi dalam bentuk yang
berbeda (konformasi 3D/Konformasi Fischer dll) akan lebih
baik disamakan terlebih dahulu agar mempermudah dalam
identifikasi
I.3 Karakteristik senyawa Enansiomer

Hal yang mendasar ketika membedakan berbagai senyawa adalah


mengidentifikasi bahwa senyawa tersebut termasuk ke dalam enansiomer,
diastereomer atau meso-compound

Senyawa tidak identik


ENANSIOMER
Merupakan cerminan dari senyawa awal

Senyawa tidak identik


DIASTEREOMER Merupakan bukan cerminan dari senyawa
awal
Senyawa identik
MESO-COMPOUND Apabila dibagi dalam satu bidang
menghasilkan bentuk senyawa yang sama

Perbedaan dari ketiga kasus tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut :

A B C
Senyawa A dan B : Enansiomer

Senyawa C : meso-compound

Senyawa A dan B merupakan Diastereomer dari Senyawa C

II. Diastereomer
II.1 Definisi Diastereomer
Diastereomer adalah stereoisomer yang bukan cerminan satu sama
lain. Diastereomer memiliki dua atau lebih pusat stereogenik.

enantiomers enantiomers

A dan B diastereomers dengan C dan D

II.2 Karakteristik senyawa Diastereomer


Diastereomer adalah jika senyawa dengan dua pusat stereogenik
memiliki konfigurasi R, R dan senyawa lainnya memiliki konfigurasi R, S
atau S, R; yaitu dua pusat stereogenik memiliki konfigurasi berlawanan
dan pusat stereogenik yang lain memiliki konfigurasi yang sama. Sebagai
contoh:

dan

Kedua senyawa tersebut adalah diastereomers, dimana senyawa pertama


memiliki dua pusat stereogenik dengan konfigurasi S, S dan senyawa
kedua memiliki konfigurasi R, S. Hal itu menunjukkan bahwa pada kedua
senyawa, dua pusat stereogenik memiliki konfigurasi berlawanan dan
pusat stereogenik yang lain memiliki konfigurasi yang sama.

Pada isomer cis dan trans, senyawa dengan isomer cis dan senyawa
isomer trans selalu diastereomer, tidak ada hubungan dengan konfigurasi
pusat stereogenik. Contoh disajikan sebagai berikut:

dan

Kedua senyawa tersebut adalah diastereomers, dimana senyawa


pertama adalah senyawa dengan isomer cis dan senyawa kedua adalah
senyawa dengan isomer trans.

Pada proyeksi Fischer, pertama yang dilakukan adalah menentukan


prioritas, kemudian menentukan konfigurasi pusat stereogenik (R atau S)
dengan cara biasa. Kemudian, membalikkan konfigurasi pusat stereogenik
(R atau S) jika kelompok prioritas berada di depan (pada wedge).
dan

Pada proyeksi Fischer senyawa pertama, senyawa memiliki dua pusat


stereogenik dengan konfigurasi S, S; namun karena kelompok prioritas
berada di depan (pada wedge) maka konfigurasi pusat stereogenik dibalik
menjadi R, R. Sama halnya dengan proyeksi Fischer senyawa kedua.
Sehingga kedua senyawa tersebut adalah diastereomers, dimana senyawa
pertama memiliki dua pusat stereogenik dengan konfigurasi R, R dan
senyawa kedua memiliki konfigurasi S, R.

III. Perbedaan Enantiomer, Diastereomer, dan Meso Compound


III.1 Enantiomer (Optical Isomer) merupakan stereoisomer yang
memiliki bayangan cermin nonsuperimposable yakni senyawa
bayangan cermin yang tidak saling menutup.
Contoh:

III.2 Diastereomer merupakan stereoisomer yang bukan bayangan


cermin dan tidak saling menutup (nonsuperimposable, nonmirror
image). Isomer cis dan trans termasuk ke dalam golongan
diastereomer.
Contoh:
III.3 Meso compound merupakan suatu molekul dengan stereogenik
yang superimposable pada bayangan cermin.

IV. Optic Aktif

Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya


putaran optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat
dalam larutan. Jadi polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk
mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif. Senyawa optis aktif adalah
senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi, sedangkan yang dimaksud
dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran (vibrasi) dalam sinar atau
radiasi elektromagnetik yang lain. Untuk mengetahui besarnya polarisasi cahaya
oleh suatu senyawa optis aktif, maka besarnya perputaran itu bergantung pada
beberapa faktor yakni : struktur molekul, temperatur, panjang gelombang,
banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat, ketebalan, konsentrasi dan juga
pelarut. Polarisasi bidang dilakukan dengan melewatkan cahaya biasa menembus
sepasang kristal kalsit atau menembus suatu lensa polarisasi. Jika cahaya
terpolarisasi-bidang dilewatkan suatu larutan yang mengandung suatu enantiomer
tunggal maka bidang polarisasi itu diputar kekanan atau kekiri. Perputaran cahaya
terpolarisasi-bidang ini disebut rotasi optis. Suatu senyawa yang memutar bidang
polarisasi suatu senyawa terpolarisasi-bidang dikatakan bersifat aktif optis.Karena
inilah maka enantimer-enantiomer kadang-kadang disebut isomer optis.

Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut, sinar yang datang
dari sumber cahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma
terpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan.
Dan akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua(analizer). Polarizer tidak dapat
diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di putar sesuai keinginan. Bila
polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga tegak lurus),
maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium diantara prisma
polarisasi. Peristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifat optis aktif
ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prisma terpolarisasi maka
sinar akan ditransmisikan. Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer ketika
diputar dari posisi silang ke posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang
hingga nol. Untuk menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu
digunakan apa yang disebut setengah bayangan (bayangan

redup). Untuk mancapai kondisi ini, polarizer diatur sedemikian rupa, sehingga
setengah bidang polarisasi membentuk sudut sekecil mungkin dengan setengah
bidang polarisasi lainnya. Akibatnya memberikan pemadaman pada kedua
sisi lain, sedangkan ditengah terang.Bila analyzer diputar terus setengah dari
medan menjadi lebih terang dan yang lainnya redup.Posisi putaran diantara
terjadinya pemadaman dan terang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada
saat itu intensitas kedua medan sama. Jika zat yang bersifat optis
aktif ditempatkan diantara polarizer dan analizer maka bidang polarisasi akan
berputar sehingga posisi menjadi berubah. Untuk mengembalikan ke posisi
semula, analizer dapat diputar sebesar sudut putaran dari sampel. Sudut putar jenis
ialah besarnya perputaran oleh 1,00 gram zat dalam 1,00 mL larutan yang barada
dalam tabung dengan panjang jalan cahaya 1,00 dm,pada temperatur dan panjang
gelombang tertentu. Panjang gelombang yang lazim digunakan ialah 589,3 nm,
dimana 1 nm = 10-9m.
Macam macam polarisasi antara lain, polarisasi dengan absorpsi selektif,
polarisasiakibat pemantulan, dan polarisasi akibat pembiasan ganda.

1. Polarisasi dengan absorpsi selektif, dengan menggunakan bahan yang


akan melewatkan (meneruskan) gelombang yang vektor medan
listriknya sejajar dengan arah tertentu dan menyerap hampir semua
arah polarisasi yang lain.
2. Polarisasi akibat pemantulan, yaitu jika berkas cahaya tak
terpolarisasi dipantulkan olehsuatu permukaan, berkas cahya terpanyul
dapat berupa cahaya tak terpolarisasi, terpolarisasisebagian, atau
bahkan terpolarisasi sempurna.
3. Polarisasi akibat pembiasan ganda, yaitu dimana cahaya yang
melintasi medium isotropik (misalnya air). Mempunyai kecepatan
rambat sama kesegala arah. Sifat bahan isotropik yangdemikian
dinyatakan oleh indeks biasnya yang berharga tunggal untuk panjang
gelombang tertentu.

Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis suatu zat
yangmenimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir. Pemutaran
bidang getar sinar terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam, yaitu :
1. Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum
jam.
2. Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan putaran
jarum jam

V. Enantiomer excess

Enantiomer Excess (ee) dikenal juga sebagai kemurnian Optic yang


menjelaskan lebih dari satu enantiomer.

Enantiomer excess = ee= % dari satu enantiomer - % dari enantiomer yang lain.

Enantiomer excess itu menunjukkan berapa banyak enantiomer yang


terdapat pada campuran rasemat. Mengetahui ee pada campuran membuat
kemungkinan untuk menghitung jumlah dari setiap enantiomer yang ada.
Enantiomer excess juga dapat dihitung jika diketahui 2 kuantitas, rotation specific
() pada campuran dan specific rotation () pada enantiomer murni.
VI. Contoh Soal

Pilihan Ganda

1. Manakah hubungan antara dua senyawa berikut ini yang merupakan


diastereomers?

a. A dan B
b. A dan C
c. A dan D
d. A dan E
Jawab:

a. A dan B

dan

A dan B adalah senyawa identik, dikarenakan dua senyawa memiliki pusat


stereogenik dengan konfigurasi yang sama (R), kedua senyawa memiliki
rumus molekul yang sama, dan kedua senyawa memiliki isomer trans.

b. A dan C
dan

A dan C adalah enantiomers, dikarenakan dua senyawa memiliki pusat


stereogenik dengan konfigurasi berlawanan (R dan S) dan kedua senyawa
memiliki isomer trans.

c. A dan D

dan

A dan D adalah diastereomers, dikarenakan pada senyawa A adalah


senyawa dengan isomer trans dan pada senyawa D adalah senyawa dengan
isomer cis.

d. A dan E

dan

A dan E adalah isomer konstitusi, dikarenakan kedua senyawa memiliki


rumus molekul yang sama, namun atom-atom dihubungkan dalam
kerangka kerangka yang berbeda dan senyawa yang berbeda.
2. Manakah pasangan senyawa berikut yang merupakan diastereomers?
Identifikasikan terlebih dahulu konfigurasi (R/S) dari setiap pusat stereogenik.

a. dan

b. dan

c. dan

d. dan

Jawab:

a. Pasangan a

dan

Kedua senyawa adalah senyawa identik, dikarenakan dua senyawa


memiliki pusat stereogenik dengan konfigurasi yang sama (S) dan kedua
senyawa memiliki rumus molekul yang sama.
b. Pasangan b
dan

Kedua senyawa adalah enantiomers, dikarenakan dua senyawa memiliki


rumus molekul yang sama, namun pusat stereogenik dengan konfigurasi
berlawanan (R dan S).
c. Pasangan c

dan

Kedua senyawa adalah isomer konstitusi, dikarenakan kedua senyawa


memiliki rumus molekul yang sama, namun atom-atom dihubungkan
dalam kerangka kerangka yang berbeda dan senyawa yang berbeda.
d. Pasangan d

dan

Kedua senyawa adalah diastereomers, dikarenakan pada senyawa pertama


adalah senyawa dengan isomer trans dan pada senyawa kedua adalah
senyawa dengan isomer cis.
3. Manakah hubungan antara dua senyawa berikut ini yang merupakan
enantiomers?

a. A dan C
b. B dan C
c. A dan D
d. E dan F
Jawab:

a. A dan C
dan

A dan C adalah diastereomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki


empat pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan dan juga
konfigurasi yang sama, pada senyawa A memiliki empat pusat stereogenik
dengan konfigurasi S, R, R, R dan senyawa C memiliki konfigurasi R, S,
S, R.

b. B dan C

dan

B dan C adalah enantiomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki empat


pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan, pada senyawa B
memiliki empat pusat stereogenik dengan konfigurasi S, R, R, S dan
senyawa C memiliki konfigurasi R, S, S, R.

c. A dan D
dan

A dan D adalah isomer konstitusi, dikarenakan kedua senyawa memiliki


rumus molekul yang sama, namun atom-atom dihubungkan dalam
kerangka kerangka yang berbeda dan senyawa yang berbeda.

d. E dan F
E dan F adalah diastereomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki empat
pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan dan juga konfigurasi
yang sama, pada senyawa E memiliki empat pusat stereogenik dengan
konfigurasi S, R, R, R dan senyawa F memiliki konfigurasi S, S, S, R.
4. Manakah hubungan antara dua senyawa berikut ini yang merupakan
enantiomers?

a. A dan B
b. A dan C
c. A dan D
d. B dan C
Jawab:

a. A dan B

dan

A dan B adalah diastereomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki tiga


pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan dan juga konfigurasi
yang sama, pada senyawa A memiliki tiga pusat stereogenik dengan
konfigurasi R, R, S dan senyawa B memiliki konfigurasi S, R, S.

b. A dan C
dan

A dan C adalah enantiomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki tiga


pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan, pada senyawa A
memiliki tiga pusat stereogenik dengan konfigurasi R, R, S dan senyawa C
memiliki konfigurasi S, S, R.

c. A dan D

dan

A dan D adalah diastereomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki tiga


pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan dan juga konfigurasi
yang sama, pada senyawa A memiliki tiga pusat stereogenik dengan
konfigurasi R, R, S dan senyawa D memiliki konfigurasi S, S, S.

d. B dan C
dan

B dan C adalah diastereomers, dikarenakan kedua senyawa memiliki tiga


pusat stereogenik dengan konfigurasi berlawanan dan juga konfigurasi
yang sama, pada senyawa B memiliki tiga pusat stereogenik dengan
konfigurasi S, R, S dan senyawa C memiliki konfigurasi S, S, R.

5. Manakah pasangan senyawa berikut yang merupakan diastereomers?


Identifikasikan terlebih dahulu konfigurasi (R/S) dari setiap pusat stereogenik.

a. dan

b. dan

c. dan
d. dan

Jawab:

a. Pasangan a

dan

Kedua senyawa adalah isomer konstitusi, dikarenakan kedua senyawa


memiliki rumus molekul yang sama, namun atom-atom dihubungkan
dalam kerangka kerangka yang berbeda dan senyawa yang berbeda.

b. Pasangan b

dan

Kedua senyawa adalah enantiomers, dikarenakan dua senyawa memiliki


rumus molekul yang sama, namun pusat stereogenik dengan konfigurasi
berlawanan (R dan S).

c. Pasangan c

dan

Kedua senyawa adalah diastereomers, dikarenakan pada senyawa pertama


adalah senyawa dengan isomer 1,3-cis dan pada senyawa kedua adalah
senyawa dengan isomer 1,3-trans.
d. Pasangan d

dan

Kedua senyawa adalah isomer konstitusi, dikarenakan kedua senyawa


memiliki rumus molekul yang sama, namun atom-atom dihubungkan
dalam kerangka kerangka yang berbeda dan senyawa yang berbeda.

6. Dibawah ini pernyataan yang tepat mengenai pemutaran bidang getar sinar
terpolarisasi oleh senyawa aktif yaitu
a. D (-) arah putar ke kanan atau searah jarum jam
b. D (-) Jika arah putarnya ke kanan atau berlawanan arah jarum jam
c. L (-) Jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan arah jarum jam
d. L (+) Jika arah putarnya ke kanan atau searah jarum jam
e. L (-) Jika arah putarnya ke kiri atau searah jarum jam

7. Yang bukan merupakan factor untuk mengetahui besarnya polarisasi cahaya


oleh suatu senyawa optic yaitu
a. struktur molekul, temperatur
b. panjang gelombang,
c. banyaknya molekul pada jalan cahaya,
d. jenis zat, ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut.
e. Frekuensi

8. Jika diketahui enantiomer excess 95% maka berapa banyak pada masing-
masing enansiomer yang ada?
a. Jumlah total A 97.5% dan B 2.5%
b. Jumlah total A 5% dan B 2.5%
c. Jumlah total A 2.5% dan B 2.5%
d. Jumlah total A 97,5% dan B 5%
e. Jumlah total A 5% dan B 97.5%
Essay

1. Tentukan konfigurasi absolut (R/S) dari setiap pusat stereogenik yang terdapat
pada dua molekul dibawah ini dan apa hubungan antara dua molekul berikut
ini? Jelaskan.

dan

Jawab:

dan

Kedua senyawa tersebut adalah diastereomers, dimana senyawa pertama


memiliki empat pusat stereogenik dengan konfigurasi R, R, R, S dan
senyawa kedua memiliki konfigurasi R, R, S, S.
DAFTAR PUSTAKA

Graham Solomons. 1994. Organic Chemistry 6th edition. New York. John Wiley &
Sons Inc
Smith, Janice Gorzynski. 2011. Organic Chemistry 3rd edition. New York:
McGraw-Hill