Anda di halaman 1dari 4

Melakukan percobaan di laboratorium, praktikan harus mengenal alat-

alat yang akan dipergunakan. Peralatan yang digunakan untuk praktikum


pengukuran dalam laboratorium kimia ini berupa peralatan gelas dan juga
peralatan non gelas. Peralatan gelas yang digunakan berupa gelas ukur,
erlemeyer, gelas kimia, buret, dan tabung reaksi, sedangkan peralatan
non gelas yang digunakan yaitu neraca dan botol plastik. Pengukuran
volume dalam laboratorium kimia dapat menggunakan gelas ukur,
erlemeyer, dan gelas kimia. Pengukuran volume pada percobaan
digunakan untuk mengetahui tingkat ketelitian suatu alat ukur. Erlemeyer
yang mula-mula ditambahkan dengan 100ml akuades, ketika dipindahkan
ke dalam gelas ukur volume akuades menjadi 103ml. Terdapat selisih
3ml antara volume akuades pada erlemeyer dan volume akuades pada
gelas ukur, sehingga error dalam volume labu erlemeyer sebesar 3% .
Ketika 100ml akuades dalam gelas kimia dipindahkan ke dalam gelas
ukur, volume akuades berubah menjadi 102ml. Terdapat selisih 2ml
antara volume akuades dalam gelas kimia dan volume akuades dalam
gelas ukur, sehingga terjadi error dalam volume gelas kimia sebesar 2%.
Hal ini menunjukkan bahwa gelas ukur lebih teliti dibandingkan dengan
erlemeyer dan gelas kimia. Sehingga, untuk mengukur volume suatu
larutan sebaiknya menggunakan gelas ukur karena memiliki tingkat
ketelitian yang tinggi.
Pengukuran massa menggunakan timbangan triple beam dan
timbangan digital terdapat perbedaan hasil pengukuran. Tingkat
ketelitian timbangan triple beam yang digunakan 0,01g sedangkan
timbangan digital 0,1g. Pengukuran massa dilakukan sebanyak 3 kali
pengulangan, hal ini bertujuan untuk mengetahui kepresisian dan standar
deviasi dari suatu pengukuran. Objek yang ditimbang yaitu batu, gelas
kimia 100ml, gelas ukur 100ml, tabung reaksi dan erlemeyer.
Pengukuran menggunakan timbangan triple beam, massa yang
didapatkan pada pengukuran batu yaitu (7,680)g, standar deviasinya 0
karena setiap pengulangan hasil yang didapatkan sama, ralat nisbi (I) 0%,
keseksamaan (K) 100% yang menunjukkan ketelitian ketika pengukuran,
dan angka pentingnya 1. Pengukuran gelas kimia 100ml didapatkan
massa (63,00), standar deviasinya 0, ralat nisbi (I) 0%, keseksamaan
(K) 100%, dan angka pentingnya 1. Pengukuran tabung reaksi didapatkan
hasil yang berbeda setiap pengulangan, yaitu 19,16g, 19,19g, dan 19,22g.
Sehingga didapatkan massa (19,193,000x10-2)g, standar deviasinya
3,000x10-2, ralat nisbi (I) 0,2%, keseksamaan (K) 99,8%, dan angka
pentingnya 4. Pengukuran erlemeyer didapatkan hasil yang sama setiap
pengulangan, sehingga didapatkan massa (68,20), standar deviasinya 0,
ralat nisbi (I) 0%, kesesamaan (K) 100%, dan angka pentingnya 1.
Sedangkan pengukuran massa dengan menggunakan timbangan digital,
pada batu didapatkan hasil (7,70,071)g, standar deviasinya 0,071, ralat
nisbi (I) 0,9%, keseksamaan (K) 99,1%, dan angka pentingnya 2.
Pengukuran gelas kimia 100ml didapatkan massa (52,000,07071)g,
standar deviasinya 0,07071, ralat nisbi(I) 0,1%, keseksamaan (K) 99,9%,
dan angka pentingnya 4. Pengukuran gelas ukur 100ml didapatkan massa
(119,50)g, standar deviasinya 0, ralat nisbi(I) 0%, keseksamaan 100%,
dan angka pentingnya 1. Pengukuran tabung reaksi didapatkan massa
(19,40)g, standar deviasinya 0, ralat nisbi(I) 0%, keseksamaan 100%,
dan angka pentingnya 1. Pengukuran erlemeyer didapatkan massa
(68,300,07071)g, standar deviasinya 0,07071, ralat nisbi(I) 0,1%,
keseksamaan (K) 99,9%, dan angka pentingnya 4. Berdasarkan
pengukuran tersebut, semakin kecil hasil ralat nisbi (I), maka semakin
tinggi tingkat ketelitian pengukuran tersebut. Pengukuran menggunakan
standar deviasi digunakan untuk mengetahui ketidakpastian dari suatu
pengukuran yang dilakukan secara berulang. Melalui perhitungan standar
deviasi, dapat diketahui keakuratan dan kepresisian suatu pengukuran.
Pengukuran yang telah dilakukan tidak terdapat keakuratan, karena
dalam pengukuran tidak diketahui angka yang sebenarnya. Namun,
kepresisian pengukuran tersebut tinggi, karena setiap pengulangan yang
dilakukan memiliki hasil yang sama. Setiap pengukuran harus
memerhatikan Angka penting, angka penting menunjukkan presentase
ralat dari suatu pengukuran, jadi semakin banyak angka penting, semakin
tepat hasil suatu pengukuran. Pengukuran menggunakan timbangan
digital lebih akurat dan lebih presisi dibandingkan dengan timbangan
triple beam, karena timbangan triple beam pembacaan skalanya
tergantung dari ketelitian pembaca. Apabila pembacaan skala pada
timbangan triple beam tidak teliti, maka akan didapatkan hasil
pengukuran yang berbeda.
Menghitung densitas benda yang tidak beraturan digunakan lempengan
logam. Pengukuran massa logam dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan,
hasil pengukuran massa logam yang diperoleh dari 3 pengulangan sama
yaitu 1,6g. Volume akuades awal (Vo) digunakan 50ml setiap
pengulangan. Volume akuades setelah ditambahkan dengan lempengan
logam (Vf) menjadi 50,1ml, sehingga volume logam didapatkan 0,1ml.
Densitas logam didapatkan 16g/ml. Setiap pengulangan didapatkan
densitas yang sama, sehingga standar deviasinya 0, ralat nisbi (I) 0%,
keseksamaan (K) 100%, dan angka pentingnya 1. Hal itu menunjukkan
kepresisian pengukuran yang tinggi, karena setiap pengulangan
didapatkan hasil yang sama.
Menghitung densitas air dalam percobaan dilakukan dengan
menggunakan gelas kimia 100ml dan buret. Suhu air ketika percobaan
sekitar 27oC. Suhu berpengaruh terhadap densitas, Jika densitas tinggi
maka suhu rendah. Selain suhu, tekanan juga berpengaruh terhadap
densitas. Densitas berbanding terbalik dengan suhu tetapi berbanding
lurus dengan tekanan. Densitas maksimal terjadi pada suhu antara 39,80C
- 400C. Menghitung densitas air dengan menggunakan gelas kimia 100ml
dan volume air yang digunakan sebanyak 10,00ml dilakukan sebanyak 3
kali pengulangan. Setiap pengulangan terdapat perbedaan densitas,
sehingga didapatkan densitas rata-rata 0,810g/ml. Sedangkan menghitung
densitas air menggunakan buret dengan botol plastik volume air yang
digunakan sebesar 5,00ml, Setiap pengulangan didapatkan densitas yang
sama, yaitu 0,97g/ml. Densitas air dalam literatur sebesar 1g/ml.
Perbedaan hasil yang diperoleh dalam percobaan dengan literatur dapat
disebabkan oleh perbedaan atau perubahan suhu ketika melakukan
percobaan. Menghitung densitas air lebih teliti menggunakan buret
dibandingkan dengan gelas kimia, karena menghitung densitas air
menggunakan buret hasil yang didapatkan lebih mendekati pada literatur
daripada dengan menggunakan gelas kimia.

Kesimpulan
Massa jenis suatu benda dapat berubah apabila benda tersebut mengalami perubahan
suhu, karena semakin besar suhu suatu benda maka massa jenisnya semakin kecil
karena volumenya menjadi lebih kecil akibat pemanasan dan sebaliknya. Dari
percobaan yang telah dilakukan, diperoleh massa jenis malam sebesar (1,250 0,012)
gram/cm3 dengan taraf ketelitian 99,12% dan massa jenis spirtus sebesar (0,868
0,020) gram/cm3 dengan taraf ketelitian 97,8%.

Saran
Disarankan agar praktikan menguasai penggunaan neraca-neraca di
laboratorium secara tepat, serta dapat menjaga kebersihan neraca agar
neraca dapat tahan lama. Pahami faktor-faktor kesalahan yang dapat
terjadi saat penggunaan neraca agar pada praktikum selanjutnya,
praktikan tidak melakukan kesalahan.