Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Laporan Tuberkulosis dunia oleh World Health Organization (WHO)

pada tahun 2014, masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang

TB terbesar nomor tiga di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah

kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian sekitar 100.000 pertahun.

Terdapat 244 penderita kasus TB aktif per 100.000 penduduk. (AT

Wibowo,2016).

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronis yang

disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat

disembuhkan. Tuberkulosis dapat menyebar dari satu orang ke orang lain

melalui transmisi udara (droplet dahak pasien tuberkulosis). Pasien yang

terinfeksi Tuberkulosis akan memproduksi droplet yang mengandung

sejumlah basil kuman TB ketika mereka batuk, bersin, atau berbicara.

Orang yang menghirup basil kuman TB tersebut dapat menjadi terinfeksi

Tuberkulosis. (AT Wibowo,2016). Tuberkulosis dapat menyerang berbagai

organ terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau

pengobatannya tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya

hingga kematian.(InfoDatin,2016).

Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri intraseluler yaitu

tumbuhnya bakteri didalam sel khususnya didalam sitoplasma fagosit


sehingga menghindar dari respon imun inang. Lapisan luar bakteri

dinamakan selubung pelindung mengandung bahan protein dan

polisakarida yang merupakan sasaran dari respon imun. Dinding bakteri

dan substansi bakteri disebut adjuvan. Adjuvan adalah bahan yang

mendorong secara non spesifik berlangsungnya respon imun terhadap

antigen tertentu. Efek non spesifik yaitu pemicuan mekanisme inflamasi,

aktivasi jalur alternatif sistem komplemen, aktivasi sel makrofag, dan

aktivasi sel B secara monoklonal.(Imunologi klinik)

Mycrobacterium tuberculosis masuk ke dalam tubuh kemudian

menyebabkan inflamasi. Inflamasi merupakan mekanisme tubuh untuk

mempertahankan diri dari benda asing yang masuk, misalnya invasi

mikroorganisme, trauma, bahan kimia, faktor fisik dan alergi. Pelepasan

berbagai sitokin pro-inflamasi terjadi invasi bakteri yang selanjutnya

menginduksi sel hati untuk mensintesis protein fase akut seperti C-

Reactive Protein (CRP) dan CRP akan meningkat tajam beberapa saat

terjadinya inflamasi dan selama proses inflamasi sistemik berlangsung.

(Jurnal kedokteran klinik, 2017)

C-Reactive Protein (CRP) merupakan salah satu protein fase akut

termasuk golongan protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada

infeksi akut sebagai respon imunitas nonspesifik. Sebagai opsonin, CRP

mengikat berbagai mikroorganisme, protein C pneumokok yang

membentuk kompleks dan mengaktifkan komplemen jalur klasik.

Pengukuran CRP digunakan untuk menilai aktifitas penyakit inflamasi.


CRP dapat meningkat sampai 100 kali atau lebih dan berperan pada

imunitas nonspesifik yang dengan bantuan Ca 2+ dapat mengikat berbagai

molekul antara lain fosforilkolin yang ditemukan pada permukaan

bakteri/jamur, sintesis CRP yang meningkat meninggikan viskositas

plasma dan laju endap darah. (Hendra U, 2014)

Salah satu pemeriksaan Tuberkulosis yaitu pemeriksaan Laju Endap

Darah (LED). LED pada umumnya digunakan untuk mendeteksi dan

memantau adanya kerusakan jaringan, inflamasi dan menunjukan adanya

penyakit (bukan tingkat keparahan) baik akut maupun kronis, sehingga

pemeriksaan LED bersifat tidak spesifik. (Gilang N,2015)

Pemeriksaan CRP dapat mendeteksi adanya inflamasi lebih cepat

dibandingkan pemeriksaan Laju Endap Darah (LED). Terutama pada

pasien anak-anak yang sulit untuk mendapatkan jumlah sampel darah

yang cukup untuk pemeriksaan LED.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

terkait Korelasi dan Regresi antara Kadar Laju Endap Darah dengan C-

Reaktive Protein pada pasien Tuberkulosis Paru di

B. Rumusan masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah penelitian

sebagai berikut:
1. Bagaimana Hubungan antara kadar Laju Endap Darah dengan C-Reaktive

Protein pada pasien Tuberkulosis Paru di


2. Seberapa besar hubungan antara kadar Laju Endap Darah dengan C-

Reaktive Protein pada pasien Tuberkulosis Paru di


C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui adanya hubungan antara antara kadar Laju Endap Darah

dengan C-Reaktive Protein pada pasien Tuberkulosis Paru di


2. Tujuan khusus
Untuk menentukan besarnya Hubungan antara kadar Laju Endap Darah

dengan C-Reaktive Protein pada pasien Tuberkulosis Paru di


D. Manfaat penelitian
1. Bagi masyarakat
Sebagai sumber informasi kepada masyarakat bahwa untuk pemeriksaan

penunjang penyakit Tuberkulosis Paru selain Laju Endap Darah dapat juga

pemeriksaan C-Reaktive Protein.


2. Bagi institusi akademik
Sebagai sumbangsih keilmuan bagi almamater Program Studi Diploma IV

Analis Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar.


3. Bagi peneliti
Sebagai pengalaman berharga yang dapat menambah wawasan serta

pengetahuan baru tentang penelitian ini dan mengaplikasikan ilmu yang telah

diperoleh selama dibangku perkuliahan.